31 juli 2013…
Memiliki iras bagiku
merupakan keberuntungan hidup yang tidak mungkin akan aku dapatkan lagi. Dibalik semua sifat menyebalkannya, aku malah
habis – habisan menyayanginya. Bukan
karena kami pernah mengalami hal – hal yang sulit bersama. Tapi aku tau dengan berada di sampingnya masa
depan yang seperti apapun akan berhasil kami lewati.
Memiliki iras membuat
segalanya jadi terlihat begitu mudah, semua jalan terlihat terang. Bahkan melihatnya berbicara aku bisa melihat
masa depan terbentang di depan mataku. Luas, sangat luas sekali.
Memiliki iras adalah segala
hal yang membuatku tertawa, marah, menangis, ketakutan, gila dan mabuk yang
tidak berhenti. Ia menyayangiku dengan
keseluruhan, tanpa pernah mengharapkan balasan apapun dariku, sulit menemukan
orang yang sejatuh cinta itu di abad dua puluh satu ini.
Aku masih menggegam
tangannya kuat, seharian aku tidak mengijinkannya pergi kemanapun. Tanggal 31 juli, selama enam tahun terakhir
selalu ia buat untuk membuat kejutan untuk ku dengan menghilang. Kali ini aku tidak membiarkan hal itu
terjadi, kelakuannya yang begitu tidak pernah ku sukai sejak dulu.
Jam 6 sore lewat…
Kami keluar dari arus macet
jalan asia afrika di bandung, tujuan kami sebuah tempat makan di braga. Aku sudah ijin kepada mama untuk buka puasa
di luar. Di dago memang banyak sekali
tempat makan bagus, namun braga lebih banyak menyimpan kenangan bagi kami. Setiap sudutnya bahkan.
Aku melirik sebentar pada
orang di sampingku, ia yang sabar pada semua kelakuan nakal ku, selama hampir
enam tahun ini ia yang lebih sering memarahiku gara – gara tindakan di luar
batasku. Seperti ketika aku mengempesi
semua ban mobil anak kelas satu dulu waktu masih SMA.
Atau ketika aku berantem
dengan geng lain di jalan. Ia yang akan
habis – habisan memarahiku sesudahnya meskipun tidak segan ia juga ikut turun
tangan menyelesaikan masalah kami yang sebenarnya sepele.
Sekarang, aku bahkan tidak
bisa makan kalau dia tidak ada. Tidak
bisa tidur jika tangannya tidak menggosok punggungku. Tidak bisa keluar dari kamar mandi jika ia
tidak mengantarkan anduk. Aku tidak bisa
hidup tanpa iras.
Tidak, aku sedang tidak
ingin membahas sifat jeleknya. Aku
terlalu mencintainya bahkan setiap kekurangan yang ia miliki. Bukankah itu sebuah keindahan yang bisa kita
miliki, mencintai seseorang lengkap dengan segala kekurangannya. Bahkan saat kita berusaha mati – matian
menutupi hal itu dengan apa yang kita punya..
Iras manusia biasa, maka
dari itu aku sangat mencintainya.
“iras pasti makan steak,
sayang mau makan apa?” ia memberhentikan mobil di depan sebuah rumah
steak. Tanpa perlu aku jawab ia tahu
kalau aku hanya akan memakan apa yang ia makan.
“kamu selama puasa ini
hampir tiap buka puasa atau sahur pasti makan steak..” aku keluar dari dalam
mobil kemudian memburu tangannya lagi.
Ia tidak boleh pergi jauh – jauh.
Ia tersenyum sambil
mengedikan bahu.
“abis kok ada makanan yang
seenak itu..” jari – jari tangannya balas menggenggam tanganku kuat.
Kami berdua berjalan masuk
ke dalam restoran, sudah penuh namun iras sudah booking sejak tadi. Jadi kami tetap dapat kursi, apalagi di sini
orang yang sudah langganan diutamakan.
Iras menjadi pelanggan tetap restoran ini bahkan sejak ia SMP.
Kami tidak melihat buku
menu sama sekali, pelayan di restoran ini bahkan tau sendiri apa yang akan kami
pesan. Sehingga sepuluh menit kami duduk, satu bongkah steak sirloin besar
lengkap dengan es kelapa terhidang di meja kami.
Tangan iras dengan cekatan
memotong - motong daging tersebut,
kemudian menyuapi ku makan.
“mungkin harus habis dulu
batre hp kamu itu baru bisa memperhatikan iras..” iras melirik ke arah hp ku
yang sedang asyik ku mainkan sambil makan.
Aku nyengir lebar. Sambil mematikan hp ku dan meletakannya
berjejar bersama dompet kami berdua.
Kalau lagi jalan berdua begini iras tidak akan membawa hp, sudah hampir seminggu ini hpnya hanya di
simpan di dalam mobil.
Baginya, hp adalah pihak
ketiga yang sangat nyata di dalam hubungan kami berdua.
“inu pengen nonton..”
kataku pada iras.
“nonton apa?” Tanya iras.
“La Tahzan..”
Iras mengerenyitkan kening.
“itu film dari arab?”
Aku hampir tergelak.
“bukan film Indonesia, tapi
baru akan tayang dua hari lagi, gimana pun caranya inu harus nonton film itu
malam ini..”
Iras mengangguk, ia selalu
tahu bagaimana caranya menyenangkanku menyanggupi setiap keinginanku. Ia terus menyuapi ku makan. Sebenarnya, ketika dulu terpisah jauh dari
iras aku sudah belajar memakai sendok dan lancar. Tapi kini iras kembali, tangan yang bertugas
menyuapi ku makan sudah ada lagi.
…
Jam 9 malam lewat…
Tangan hangat iras terus
menuntunku masuk ke dalam sebuah bioskop di tengah kota bandung. Pemilik bioskop ini temannya sewaktu kuliah,
mereka kenal baik. Jadinya film yang
baru akan tayang dua hari lagi bisa kami tonton malam ini.
Sebuah room bioskop, khusus
ia bayar hanya untuk kami berdua. Tidak
ada penonton lain, aku bahkan bisa duduk di kursi manapun yang aku suka.
Aku memilih deretan kursi
ketiga dari atas. Di tempat ini kepalaku
tidak akan mendongak terlalu tinggi. Di
tangannya iras membawa sekeranjang penuh pop corn. Ia tahu selama nonton aku tidak akan berhenti
makan.
“you doing everything for
me..” kataku sambil tersenyum padanya.
Ia membalas senyumku. Sambil membetulkan letak kacamatnya. Aku mencari – cari tangannya lagi.
“kamu borgol seharian
membuat iras tidak bisa bikin kejutan buat kamu, tidak bisa menyiapkan apa –
apa..” ia seperti setengah mengeluh.
Aku menggeleng.
“cukup kamu, tidak usah
repot – repot..” film sudah dimulai, aku tahu kami berdua bukan penonton yang
baik. Sering di tengah – tengah film aku
harus membungkam mulut iras yang mulai mengorok.
Atau kami berdua membuat
jengkel orang lain karena ribut mendebatkan bagaimana ujung dari filmnya. Tidak jarang kami akhirnya bertengkar kemudian
saling berkejaran karena keluar dari dalam bioskop di tengah – tengah film.
“pengen hadiah apa tahun
ini?” Tanya iras lagi.
Bahkan untuk pertanyaan ini
aku tidak mempersiapkan jawaban apapun.
Aku sudah kehabisan akal. Makanya aku meminta nonton film ini tadinya
aku anggap sebagai kado. Namun iras
menganggapnya hal biasa yang sudah sering ia lakukan.
Meminta dibelikan sesuatu
berupa barang, aku sudah kehabisan ide pula ingin meminta apa. Mobil, aku baru ganti mobil beberapa hari
yang lalu. Motor, dua motor yang aku beli sebulan lalu belum sempat kami
coba. Apartemen, rumah, kami tinggal
tiga minggu lagi di Indonesia siapa yang akan menempatinya.
Aku menggelengkan kepala
kepada iras.
“maksudnya? Tumben sekali
kalau gak minta apa – apa..” kata iras setengah terkejut.
“tidak perlu, otak inu lagi
habis batre kayanya buat ngerjain kamu atau ngerjain dompet kamu..”
Ia tiba – tiba mencium
bibirku.
“pacar iras udah makin
gede..”
Aku mengabaikannya namun
terus memegang tangannya. Berpegangan
tangan sejak tadi membuat tangan kami berdua basah karena keringat, namun aku
tidak perduli. Dari pada harus
membiarkannya menghilang.
…
Film sudah sampai di
ujung, aku melirik sebelahku, tumben
sekali ia tidak tidur menonton film Indonesia.
“Hayu pulang..”
Hampir tengah malam. Kami tidak bisa masuk rumah kalau satpam sudah tidur.
“wait..” kata iras. Ia bangkit dari tempat duduknya, mengambil
sesuatu dari kursi di belakang kami.
Lampu bioskop menyala. Tidak ada orang lain, namun iras nampaknya
sudah mempersiapkan ini dengan baik.
Di tangannya ia memikul
sebuah kue black forest besar dengan lilin – lilin kecil yang menyala. Aku tersenyum ke arahnya, di antara tidak ada
satupun celah ia menyiapkan hal ini.
Pantas tadi ketika ia bilang akan ngobrol dengan temannya yang pemilik
bioskop ini ia pergi lama sekali.
Ia sudah ada di depanku,
sambil menyimpan kue besar itu. Aku
ingat tahun lalu, ketika kami merayakannya di apartemen kami di Singapore. Ia muncul tengah malam dari pantry dengan
seluruh tubuhnya dibalut cream putih.
Namun yang ku sukai adalah ketika menghabiskan cream tersebut.
“selamat ulang tahun
pacarku yang belum berhenti bandel…”
Lilin – lilin di atas kue
nya menggoyangkan api yang menyala lucu.
Aku melihat wajah iras lagi, tampak ia senang dengan hal ini.
“inu tiup nih..” kataku.
“engga, make a wish, tapi
teriakin kenceng – kenceng biar iras tahu keinginan inu apa..”
Aku tidak berpikir panjang.
“for longlast life with
you..”
Kemudian ku tiup lilin –
lilin itu. Ia tersenyum, aku mendekatkan wajah kami, seperti biasa aku
mengadukan hidung kami berdua. Tampak
ingin sekali iras menciumku, namun aku menghindar sambil tertawa.
Kami berdua keluar dari
dalam bioskop, sudah mulai sepi, kami membeagikan kue yang di tangan iras
kepada para karyawan yang masih bertugas.
Aku tidak meminta hadiah
apapun pada iras tahun ini, biarlah ku simpan untuk puluhan tahun berikutnya di
mana aku akan terus merayakan setiap ulang tahunku dengannya.
For longlast life with you,
for our love, for our wish to forever and everlast…”
Happy bday Inu....
BalasHapusawesome..!!
BalasHapuscerita cinta yg begitu menginspirasi, salut buat inu sama iras, diterusin yach ceritanya.. ga bisa berhenti bacanya..