Kamis, 25 Juli 2013

14 : roller coaster

dari sini kita akan memulai sebuah babak baru, seharusnya memang tidak perlu kita ungkit, namun harus kita percaya bahwa kenangan juga memang memiliki rasa sakit.

...


Pesta mulai beranjak ke penghujung nampaknya.  Aku masih belum bisa menghabiskan satu gelaspun minuman yang ku ambil dari meja di belakang.  Aku mengecek ponsel ku lagi.  dan memastikan bahwa iras sebentar lagi akan menghampiriku.
Dia mungkin lupa dengan ‘gampang bosan’ ku.  Sebentar lagi jam sepuluh.  Mama pasti tidak suka kalau aku harus pulang lebih dari jam dua belas malam.    Ulang tahun iras kali ini cukup menyebalkan.  Setahuku, iras tidak neko-neko.  Ulang tahun-ulang tahun nya sebelumnya biasanya cukup dirayakan oleh kami berdua.  Atau paling dengan teman-teman satu genk nya.
Tapi tahun ini, iras diberikan pesta mewah oleh papa nya.  Tidak tanggung-tanggung ia menyewa sebuah ballroom hotel.  Tamu-tamu yang datang pun semuanya dari kalangan bisnis dan kolega-kolega kelas atas.  Hanya segelintir saja teman-teman iras yang diundang.  Itupun aku tidak dapat bergabung karena tidak cukup akrab.
Sehingga, aku hanya duduk di sebuah kursi paling belakang.  Namun cukup terlihat sampai ke panggung hiburan.  Sekilas aku melihat senyum iras dari balik panggung.  Aku kembali kepada gelasku. Mungkin sebentar lagi aku harus pulang.
“hadirin sekalian, tibalah kita pada acara puncak..” kata pembawa acara yang kemudian disahuti oleh riuh tepuk tangan dari semua tamu undangan.
“baiklah, kepada iras dan bapak dharma dipersilahkan untuk maju ke panggung..” dari meja yang paling depan ku lihat pak dharma menggandeng tangan iras ke panggung.  Aku hanya tersenyum melihatnya mengenakan stelan tuksedo putih yang mengkilat dilingkari dasi kupu-kupu berwarna hitam.
Iras dan papanya sudah ada di atas panggung.  Di depan sebuah kue tart yang berukuran tidak terlalu besar.  Dihiasi beberapa lilin dan krim-krim berwarna putih. Seperti kue pesta pernikahan sekilas.
Iras berkali-kali tersenyum ke arahku.  Aku hanya membalasnya dan mengangguk kecil berkali-kali.
“oh iya.. ada yang hampir lupa, bahwa sebelum acara puncak dimulai.  Ada sesuatu yang ingin disampaikan oleh bapak dharma kepada kita semua..” tiba-tiba pembawa acara mencegat ritual tiup lilin dan potong kue iras. “silahkan kepada bapak, untuk menyampaikan pengumuman pentingnya..”
Pak dharma maju beberapa langkah mendekati mikrophone.  Setelah mengecek beberapa kali, ia tersenyum membuka pembicaraannya.
“sebenarnya, iras terlalu tua untuk dibuatkan sebuah pesta ulang tahun.  Saya yang membesarkannya sampai tidak sadar kalau tahun  ini dia sudah dua puluh tahun lebih..” kata pak dharma sambil mengacungkan dua jarinya tinggi-tinggi ke udara disambut tawa semua yang hadir.
Iras yang berada di sampingnya hanya senyum-senyum kecil saja.  Aku sudah menyiapkan banyak lelucon untuknya besok.  Pasti akan sangat menyenangkan, memperoloknya.
“terakhir saya merayakan ulang tahun iras kalau tidak salah delapan tahun yang lalu, itupun hasil maksa..” pak dharma meringis lagi. “dan sejak saat itu saya rasa sudah tidak perlu membuatkan pesta ulang tahun untuknya, tapi malam ini karena ada sesuatu yang penting sehingga pesta inipun diadakan..”
Ia berhenti sejenak dan memberikan sebuah senyum misterius ke arah iras.
“ya.. sesuatu yang sangat penting..” riak wajah pak dharma seakan melemparkan sebuah pertanyaan kuis pada semua orang. Dan semua orang penasaran terhadapnya. “yaa... karena malam ini, iras, anak sulung saya akan bertunangan dengan seorang gadis yang sangat cantik...”
Tangan pak dharma menunjuk sebuah meja paling depan di sebrang meja tempat ia duduk tadi bersama keluarganya.  Seorang gadis mengenakan gaun berwarna merah berdiri sambil tersenyum dan membungkukan badan tanda memberi hormat.
Lalu tanpa komando, langkah kaki gadis tersebut maju ke depan panggung.  Dan tangan pak dharma menyambutnya untuk naik beberapa pijakan ke atas panggung.
Beberapa detik kemudian, gadis tersebut sudah berdiri persis di samping tubuh iras.
Aku tahu apa yang terjadi, sejak awal sudah ku bilang aku tidak pantas di sini.  Langkah kakiku bergerak mundur, meninggalkan pesta itu.  bersama beberapa lembar air mata yang jatuh ke dekat belahan pipi ku.
....
Malam berjalan kian lambat, aku menyimpan jas ku di jok sebelahku.  Kepalaku menyandar pada jendela bus yang mulai berkabut, di sentuh udara dini hari.   terlihat uap dari udara yang ku hembuskan meninggalkan noda-noda basah di sana.
Apakah duniaku runtuh kali ini?? satu persatu dinding yang mengokohkan langit ku berjatuhan.  Semuanya luluh lantah, hancur seperti ledakan bom atom hirosima dan nagasaki atau hantaman keras badai tsunami. tidak ada sisa, aku merasakan semuanya hanya kehancuran.  Aku bahkan sudah lupa bentuk utuhnya seperti apa.
Iras.  Kenapa menyebut namanya sekarang begitu menyesakan. Aku seperti baru kehilangan sesuatu dari hidupku secara tiba-tiba.  Seperti sebuah tanaman yang selama ini ditanam di hatiku, dan akarnya sudah tertancap begitu kuat.  Tapi malam ini tanaman tersebut dicabut secara paksa dan aku tidak bisa berbuat apa-apa.
“ckrung” suara ponsel ku dari balik saku jas.  Aku mengambilnya dengan cukup malas.
Sebuah pesan masuk. “momow, di mana?” sebuah pesan dari iras dengan tambahan ikon smiley yang bertampang cemas.
Aku mengabaikannya, dan meletakan ponsel itu di atas lipatan jasku.  Namun tiba-tiba ponsel itu berdering karena sebuah panggilan masuk.  Tentu saja nomor iras yang memanggil.
Tidak ingin semakin memperburuk suasana, aku mengangkatnya.
“nu... inu...” suaranya memanggil dari sana.
“yaa...” sahutku nyaris tanpa suara.
“inu di mana?? Maaf iras baru bisa keluar, pestanya belum selesai... inu gak kenapa-kenapa??” suaranya cukup bernada cemas.
“inu gak apa-apa ras, iras lanjutin aja dulu pestanya, inu pulang duluan maaf ya gak pamit sama iras..” lanjutku berusaha sejelas mungkin.  Sambil menyembunyikan suara haruku.
“inu di mana?? Iras nyusul ya, iras ini udah di mobil, inu di mana??”
“inu udah deket rumah ko ras.. inu naik bis..” aku melihat sekeliling.  Parahnya aku tidak mengenali tempat yang kini ku lewati.
“naik bis... bahaya nu, ini udah malem, pokonya iras susul...”  nada suara iras semakin cemas.  Sementara aku semakin tidak bisa menyembunyikan tangisan ku.
“srkk srkk srkk” suaraku menahan air mata. “gak apa-apa ko iras, beneran gak apa-apa..” sebenarnya aku sudah tidak cukup kuat melanjutkan pembicaraan.
“ya tuhan... inu nangis, maafin iras nu, iras gak tahu kalau kejadiannya bisa seperti ini... inu di mana??” suara iras pun kini berubah pecah oleh suara tangis juga.
Aku tidak menjawab kali ini.  udara semakin sedikit rasanya di sekitarku.
“nuu......” suara panjang iras memanggilku.  Membangkitkan beberapa neutron di otakku, susunan sel-sel syaraf yang membangun keadaan sadarku.  Mungkin inilah titik terang yang selama ini kami cari.  Sebuah kesimpulan yang selama ini selalu kamu rencanakan.
Aku sudah tidak sanggup.  Ponsel ku meluncur entah kemana.  Beberapa penumpang di sekitarku memperhatikan sekilas.  Bahkan salah seorangnya ada yang mengangsurkan tisu.  Namun aku menolaknya.
Aku menatap keluar, lampu-lampu kota yang mulai redup dan nampak malas menyala seakan tersenyum kepadaku.  Daun-daun pohon trembesi seperti berbisik, bahwa kisahku berakhir di sini.  Perjalanan bersama iras, selama bertahun-tahun harus memiliki akhir yang tragis begini.  Bahkan kami tidak sempat membicarakannya berdua bersama-sama.
Kernet menyebutkan halte berikutnya, halte tempatku hendak turun.  Akupun berdiri, setelah menyeka pipiku yang basah aku berjalan mendekati pintu keluar.  Begitu bis berhenti akupun turun dan segera menuju lantai dingin halte.
Dari sini, kompleks perumahanku tinggal beberapa meter lagi.  hanya dua menit untuk jalan kaki.  Paling aku hanya akan ditegur security.  Karena masih kelayaban jam segini.  Namun diujung halte, sebuah mobil terpakir ditunggui seseorang di depannya.
Dari bayangan hitamnya saja aku tahu, iras menunggu di sana.  aku mencoba mengabaikannya. Dan berjalan lurus menuju arah pintu gerbang perum ku.
“Nu.... iras boleh ngomong...” suaranya terdengar cukup jelas di telingaku.  Sepertinya ia menyusul beberapa langkah di belakangku.
Aku hanya memperlambat langkah kakiku, tidak berusaha berhenti.
“Nu....” jari-jari tangan iras mencengkram pergelangan tanganku dan itu tentu saja menghentikan langkah-langkahku.
“ini bukan akhirnya, iras pastikan ini bukan akhirnya...”
Aku menatap laki-laki yang hampir empat tahun ini bergelayutan di dalam hidupku, bahkan rasanya sebagian dariku sudah berada dengannya.  Tapi, melihat sesuatu mengkilat dari jari manisnya.  Aku sadar lagi.
“ras, iras udah tunangan, sebuah jalan bagus kan untuk hubungan kita..?”
Dia tergeragap beberapa saat, kemudian membuka cincin dari jari tangannya.
“kenangan kita nu, kenangan kita yang bicara.  Bukan cincin ini..” ia menunjukannya kepadaku.
“kenangan yang mana ras? Pahit manis semuanya sama saja, suatu saat kita pasti meninggalkannya...”
Aku melihat air mata mulai keluar dari kedua sudut mata iras.  Ia menatapku dalam gelap. 
“Nu, tidak cukup mudah nu...” ia menggeleng beberapa kali.
“inu yang akan membantu iras, kita pelan-pelan akan saling berjalan mundur dan....” rasanya cukup berat mengucapkan satu kata itu. “dan kita saling melupakan...”
Iras terbelalak.  Namun aku menyibakan tanganku dan melanjutkan langkah-langkahku.  Hidup harus terus berjalan.  Jika cinta sebuah perjalanan.  Mungkin iras adalah bagian dari proses jalan itu, bukan tujuan yang dijalani.
“Nu....” suara iras memanggil dari kejauhan. Ya, suatu saat suara-suara itu akan memanggil kembali.  saat hatiku merindukannya lagi.
...
Aku dan kelima temanku keluar dari tempat futsal, Ardan, Feddy dan Nollan berjalan ke arah mobil Ardan.  Sementara aku dan teman-temanku yang lain bergegas menuju mobilku.  Parkirannya cukup lenggang, mungkin misi ku agak berhasil.  Waktu seminggu untuk menghabiskan sisa liburan di Bandung ku penuhi dengan memenuhi semua ajakan teman-temanku.
Kiki, dan bebe masuk ke bagian belakang mobilku.  Sementara dodo duduk di depan di sampingku.  Tiba-tiba beberapa mobil masuk ke parkiran tempat futsal itu.  Salah satunya sangat aku kenali.  Mereka memarkirkan mobilnya tidak jauh dari depan mobilku.
Aku lihat, iras dan teman-temannya keluar dari dalam mobil mereka masing-masing.  Mereka menggunakan jersey tottenham hotspur club favorit mereka.   Mungkin mobil apih yang ku pakai tidak terlalu iras kenali.  Beberapa detik aku memperhatikannya, sambil menunggu Ardan yang belum kembali dari toilet.
Iras berdiri di depan mobilnya, sambil mengobrol dengan teman-temannya.  Dimas, danang, dan rizki.  Aku mengenalnya juga.
Tidak lama, sebuah city car, honda jazz berwarna putih masuk ke parkiran.  Aku mulai menyalakan mobil, mungkin ardan sebentar lagi kembali.  Dan aku pun tidak ingin ketauan iras, kalau aku sedang ada di sini.
Mobil honda jazz yang baru datang itu parkir tidak jauh dari mobil-mobil iras, kemudian seseorang keluar dari sana.  Gadis itu...
Tidak sampai satu menit, serangkaian kejadian yang tayang di hadapanku tersebut, saat gadis itu meluncur, berjalan menghampiri iras, mencium pipi kanan dan kirinya,  bergelayutan di tangan iras, membelai pipi iras berkali-kali...
Wajarkah jika semua bangunan kertas dan rumah-rumah kayu di hati ku terbakar?  Semua perkampungan, desa penuh kedamaian yang selama ini kami bangun bersama, habis dilalap monster bernama cemburu?
Aku sudah lelah marah, aku sudah bosan, menerima kenyataan bahwa sudah seminggu ini, iras beralih. Dimiliki orang lain.
Ardan keluar dari toilet,  ia berjalan ke tengah-tengah parkiran.  Iras melihatnya,  terlihat ardan menyapa iras dan mereka semua yang ada di sana.  Iras nampak kaget,  matanya mengikuti ardan begitu ardan berlalu menuju mobilnya.
Ardan masuk ke mobil, aku segera menginjak kopling dan memasukan gigi.  Menginjak gas.  Meninggalkan tempat futsal, meninggalkan parkiran.
Mobilku, melaju melewati iras dan teman-temannya.  Juga perempuan beruntung itu.   Aku merasakan tatapan mata iras membidik ke arahku, namun aku tahu, aku lagi-lagi akan takluk pada mata itu,  akhirnya aku membuang muka.  Berpura-pura tidak terluka.
...
 “mau sampai kapan lari terus nu..” suara kiki menegurku menegurku.  Aku menoleh sebentar sambil terus membawa mobilku berlari.
Aku terus melanjutkan langkah dan menerobos jalanan setia budi, kenapa aku tidak bisa berpikir kalau iras dan teman-temannya juga akan futsal di tempat tadi.
“kamu tidak apa-apa..” kata dodo yang duduk di sebelahku.
dia mengusap punggungku pelan.  Aku seperti tuli, tidak mendengar sedikitpun perkataan ketiga temanku.
“jalannya ya mungkin harus seperti ini Nu, kan dari dulu kalian selalu bilang kalau ini pasti akan berakhir..” suara kiki berada tepat di dekat telingaku.  Dia salah satu teman terbaiku, dan yang paling detail mengetahui hubunganku dengan iras. 
Aku sudah menceritakan kepadanya tentang pertunangan iras dan hari-hari berat yang ku jalani selama seminggu ini.
“aku sudah berusaha Ki, aku sudah coba sekuat mungkin dan ini tidak mudah..”  kataku sambil tetap nyetir.
Kami semua kemudian sama-sama diam.  Seperti sebuah sel sperma yang gagal membuahi akhirnya ia kebingungan hendak pergi kemana lagi.  sudah tidak ada yang dapat ia kerjakan, hanya menunggu nasib membawanya.  Apakah daun yang jatuh selalu menyalahkan angin?
...
Atas inisiatif Ardan, akhirnya setelah kami selesai futsal kami pergi ke situ patenggang bermain-main di sana, bernostalgia dengan masa-masa SMA kami. Menjelang malam kami baru kembali ke Bandung, kami memutuskan untuk pergi ke chef square, karena rasanya sudah lama sekali kami tidak makan dan nongkrong di tempat itu.
Cukup seru, akhir-akhir ini menjelang selesainya masa libur semeter kami, kami jadi lebih sering bersama lagi.  Padahal biasanya sibuk dengan urusaan masing-masing.  Sekedar rindu saja dengan sahabat-sahabat dekat.  Kami kuliah berlainan jurusan, berlainan kota.  Ardan dan nollan bahkan di luar negeri. Sejak SMA kami sering berkeliling di Bandung seperti ini, seharian bertujuh melakukan banyak hal. 
Kami sudah sampai di chef square, secara beriringan kami masuk lewat pintu samping.
Kebiasaan kami yang memang bisa mengobrol di mana saja, dan dengan cara yang keras menarik perhatian pengunjung lain.  Aku sendiri asyik-asyik saja memperhatikan kebawelan dodo yang menceramahi bebe masalah behel gigi yang dipakainya.
“be.. pakai behel itu bagus tauk, bisa bikin gigi dono jadi rata, tuh gigi kamu yang ilang satu juga bisa jadi bagus..” kata dodo berargumen.
“yeee situ ngaco, gigi ompong ditambal lah masa dipakai behel, yang ada ngangkang tuh behel..” sahut Nollan.
Sebenarnya bebe paling malas kalau membahas gigi hilangnya itu. tapi memang perkataan dodo yang polos sering kali tidak masuk hitungan untuk dimasukan ke dalam hati.
“ah lu bedua kacau...” kata bebe.
Kami hanya tertawa saja melihat tampang kesalnya.
Ardan masih sibuk mencari-cari tempat duduk yang kosong.  Lima detik kemudian ia berbalik ke arah kami.
“pindah aja yuuk, cari tempat makan yang lain...” kata Ardan memberi komando untuk pindah.
“ah mau ngapain, udah di sini aja panas ah bawa motornya...”  kata dodo sewot melanjutkan langkahnya.
Kamipun mengikuti dodo, sebuah meja makan berukuran besar yang dikelilingi delapan buah kursi menjadi sasarannya. dodo langsung melempar tasnya ke atas meja begitu sampai.  Kamipun duduk melingkar.
ardan dan kiki duduk di samping kiriku, diikuti nollan, dodo, feddy,  dan bebe. Tangan dodo langsung menyergap buku menu.
“jangan melihat ke samping Nu..” kata feddy tiba-tiba.
Aku memandang tak mengerti.  Namun karena penasaran, langsung saja aku melanggar perintahnya.
Mataku sampai di meja paling ujung dari tempat kami berkumpul sekarang, sebuah meja yang hanya memiliki dua kursi dan berada persis di samping jendela.
Iras dan tunangannya.
Ada adegan film romantik yang sedang aku saksikan, tangan lentik gadis itu sedang mengangsurkan sesendok lasagna ke mulut iras.  Pelan-pelan iras menerimanya.  Sebelum akhirnya ia sadar sedang diperhatikan.
Aku membuang muka menatap ke arah lain, tangan yeni menyentuh ujung bahuku.  Kenapa aku masih harus tidak rela?  Aku sadar badai sedang terjadi di dalam dadaku kemudian isi dari sungai di mataku sedang berlomba hendak keluar.
Teman-temanku yang menyadarinya segera merapat.
“ya udah pindah aja yuk...” kata dodo kemudian, ia segera mengambil tasnya.
Teman-temanku yang lain ikut bersiap juga.
“gak usah, kita makan di sini aja..” kataku jelas. “aku kangen suasana di sini...”
“Nu....” suara feddy pelan sambil menatapku.
“tidak apa-apa fed, kita makan di sini saja...”
Akhirnya semua teman-temanku mengikuti apa kataku.  Mungkin itu alasan ardan mengajak kami mencari tempat yang lain tadi. Kenapa aku bisa sampai tidak melihat mobil iras terparkir di luar.
Kepalaku menunduk, kenapa hari ini harus sampai dua kali aku melihatnya??
Karena jujur saja, semuanya masih terlalu berat.  Untung saja ada teman-temanku.  Kalau mereka mau meluangkan banyak waktu untukku, kenapa aku harus jadi pengacaunya? Dengan pergi dari sini.
Beberapa detik kemudian, aku melihat iras bangkit dari tempat duduknya. Dan pergi meninggalkan gadis itu sendirian.
...
Aku menjalani beberapa hari terberatku, kiki dan astroboy yang lainnya sudah mencoba meluangkan banyak waktu buatku.  Hanya mereka kini yang aku punya, bahkan untuk merasa lebih baik aku memilih menginap di rumah feddy.  Ia hanya tinggal sendirian di sini.
Masalah iras, aku semakin malas membahasnya.  Bukan ia tidak mencoba menghubungiku tapi aku yang menutup semua akses darinya yang bisa menghubungiku.  Aku kini  menghormati semua keinginan keluarganya.  Keluarganya ingin iras bertunangan dan menikah dengan gadis pilihan mereka.
Apa yang bisa aku lakukan selain mendukungnya? Membiarkan orang yang kita cintai agar bahagia bukankah itu juga merupakan sebuah cara kita mencintainya? Aku mencoba faham akhirnya dengan keadaan ini.  dan menyerah.
Mungkin tiba waktunya untuk ku melepaskan semua tentang iras, semua yang berjalan hampir lima tahun ini akan ku biarkan berlalu.  Tanpa menyesalinya sedikitpun.  Aku pasti akan menyimpan iras di tempat yang teduh dihatiku.  Sehingga cukup banyak waktu jika saat berjalan kepanasan aku dapat mengingatnya di sana.
Hari semakin beranjak sore, ada sebuah ketukan di pintu.  Mungkin feddy baru saja kembali dari mini market.  Aku beranjak dari ruang tengah meninggalkan laptop dan tumpukan-tumpukan kertas berisi beberapa laporan.
Aku membuka grendel pintu secepatnya. feddy lari ke mini market karena ia sudah tidak punya apa-apa untuk dimasak.  Kedua orangtuanya lama tinggal di luar kota.
Pintu terbuka, namun bukan feddy yang ku dapati di sana.  tapi sebuah wajah dan tatapan sendu yang lama sekali aku rindukan.
“Nu...” ia langsung menyergap lenganku dan berjalan kian mendekat.
“eh ras.. kok bisa ada di sini...?” aku kaget sendiri, usaha pelarianku masa harus ketahuan lagi.
“inu mau sembunyi kemana lagi dari iras?? Mau nyiksa iras dengan cara apalagi??” tatapan mata sendunya menghujam beberapa kali di ujung tumpul jantungku. Ahh.. terang, kenapa tidak pernah mau menyinggahi hidup ku lagi.
“semuanya sudah selesai kan ras...” gugup.  Sangat gugup sekali aku mengatakan itu. seolah tak pernah rela, bahwa kisah ini benar-benar harus selesai kali ini.
Iras menggeleng beberapa kali.  Sebelum akhirnya aku sadar, feddy sudah berdiri di belakang iras.
“eh ada iras, masuk yuk ke dalam ko ngobrolnya di luar gini..”
Feddy akhirnya menggiring kami kedua ke dalam rumah.  Aku sendir berjalan menuju halaman belakang.  Iras berjalan mengikutiku, sementara feddy menghilang ke dapur.
Aku berdiri di atas teras, memandangi halaman belakang rumah feddy yang mulai redup didekap senja.  Sementara beberapa ikan masih terus asyik berenang di kolam yang berada tepat di bawah tempatku berdiri.
“kita sering melewati bagian yang hampir akhir seperti ini Nu, dan kita sukses melewatinya, iras ingin kita melewati ini juga...”  iras berdiri di sampingku.
“ras... tidak fair jika akhirnya kita kalah hanya oleh ego..”  aku berusaha berpikir sedewasa mungkin menggiring hubungan ini ke sebuah awal baru bukan akhir dari cerita yang selama ini diam-diam kami idamkan.
“Nu, jika kisah kita salah, iras tidak akan pernah mencari sebuah kebenaran...” tiba-tiba tangannya menyergap tubuhku dari belakang. “inu tahu seperti apa hidup iras hampir seminggu ini?? semuanya kacau...”
“iras pikir inu enggak seperti itu, hah??” tanpa sadar air mataku jatuh lagi kini.
Terlalu banyak adegan menyedihkan dalam hubungan kami berdua, mungkin tangan tuhan sedang bicara.  Mungkin ia juga tengah bicara, agar kami tahu makna hidup sebagai manusia normal.  Tapi bukankah ia tahu, bahwa itu tak mudah?
“terus, kenapa inu selalu menghindar??” tanya nya tak mengerti.
Aku diam beberapa saat.
“karena takdir ras, tangan tuhan sedang bicara pada kita berdua.  Sudah saatnya kita memperbaiki semuanya...”
“memperbaiki?? Memangnya di mana yang salahnya??”
“semuanya?? Semuanya salah ras, laki-laki tidak mungkin pacaran dengan laki-laki lagi.  tidak mungkin juga kita akan bersama-sama selamanya...”
“Nu.. di mana keyakinan inu yang selalu menguatkan iras saat iras ragu juga terhadap hubungan kita, dimana inu yang selalu mengatakan bahwa cinta kita tidak pernah salah, bukan inu yang putus asa seperti ini..”
“kalau tidak putus asa inu bisa apalagi????” aku berteriak membentaknya.  Apakah dia tidak cukup mengerti.  Pesta ulang tahunnya yang harusnya meriah akhirnya menjadi sebuah bencana bagiku.  Kini ia meminta aku kuat, seakan aku patung besi yang juga tebuat dari bahan baja.
Kami menutup senja itu dengan sama-sama diam.  Aku meninggalkannya menuju kamar.  Mungkin ia mengobrol dengan feddy.  Menjelang dini hari iras baru pulang.  Dan aku tidak keluar sekalipun.
Begitu ia tidak ada, akupun berusaha tidur.  Dan ingat, besok aku harus segera kembali ke sukabumi.
Semoga mentari cerah bersinar cerah esok hari.
...
Satu bulan setelah hari itu, iras menghilang.  Aku tidak pernah berusaha mencari tahu, namun ada yang menyampaikan bahwa ia pindah ke jakarta.  Aku tidak akan mencari.  Inu tidak akan pernah mencari iras.
Mama iras akhirnya datang ke rumah, ia meminta maaf.  Meminta maaf untuk kejadian yang sebenarnya tidak perlu dipermasalahkan.  Aku menyanyanginya, dan ikut menyeka air mata ketika menyampaikan kalimat demi kalimat permintaan maafnya.
Kata mama juga, akhirnya pertunangan itu gagal.  Keluarga si gadis yang akhirnya beranjak menjauh, menyadari penolakan iras.  Aku tidak merasa menang, iras sudah pergi, aku menghindar, jadi tidak ada yang perlu kita perbincangkan lagi.
Aku semakin sibuk akhir-akhir ini.
 Akhirnya kotak pandora kita terbuka Ras. Ini semua memang bagai badai, setelah berlalu pantai kembali tenang, dan anak-anak bisa kembali berenang.  Atau mungkin kita bagai hendak menaiki roller coaster ras, setelah permainan berhenti, kita baru bisa menyimpulkan itu petualangan atau sebuah penderitaan.
Kita akan naik roller coaster.
Tapi ini selalu berharap iras bahagia.  Suatu pelajaraan yang selalu inu ambil dari iras, membahagiakan seseorang tidak selalu saat ia bersama kita.  Tapi setelah ia pergi, membiarkannya bahagia dengan pilihannya sendiri adalah salah satu jalan membahagiakannya juga.
Iras harus bahagia, kita terlanjur terjebak dalam keadaan tanpa kata ini.  Kita mungkin sama-sama lelah hingga akhirnya memutuskan mundur.  Cinta kite berdua mungkin keburu dehidrasi berat, atau sedang dirawat di ruangan ICU. Cinta. Cinta kita ras...
Cinta kita mungkin masih perlu banyak belajar, perlu banyak mengerjakan pekerjaan rumah, atau mungkin ia perlu magang.  Atau mungkin ia perlu naik roller coaster atau main-main ke pantai, aku tidak punya banyak kata.  Karena semakin dibicarakan, semakin menguat dan nyala-nyala kecil itu bisa menyentuhh ujung sumbu kembang api.  Dan memecahkan cahaya di langit gelap kita.
Hati yang terluka itu ada ras, tapi ribuan rindu juga masih terus tumbuh untuk iras.  Ditempeli parasit dan beberapa benalu dari rasa dendam.  Karena nyatanya bukan hal mudah, saat ada orang lain yang berkesempatan memiliki iras.  inu tidak bisa bagai begitu, inu tidak pernah kuat.  Karena saat iras dengan orang lain, iras pikir ada yang bisa membuat inu kuat??
Aku hanya berhenti menangis, bukan menyudahi semua kesedihan yang sudah ku buat melarut dan mengendap.  Biar dia jadi daratan baru di dasar sana.  Bersama semua batu nisan dari kenangan kita yang mungkin suatu hari akan bangkit lagi menjadi mayat hidup atau bayi-bayi lucu lagi.
Inu harap,  suatu saat mulut kita bisa sama-sama mengatakan bahagia lagi...
Menikahlah dengannya, aku bersumpah bayangku akan selalu hadir di setiap kau membuka dan memejamkan mata.  Aku berjanji akan jadi orang yang kamu rindukan di titik jenuh mu pada sikapnya yang membosankan.  Menikahlah, kelak kau akan merindukanku sebagai sosok yang tak kau temukan pada siapapun.
Setengah mati melupakanmu adalah hukuman serapahku…

13 : ke sidney jadi?



Ada kalanya, kita tak perlu mengatakan apa yang harus orang lain mengerti.  Semuanya hanya perlu kita tunjukan pada mereka.  Tapi kadang, kepala manusia terlalu picik sehingga apa yang mereka lihat itulah yang mereka hakimi.  Bayangkan betapa tidak adilnya hidup di dunia.
Aku berjalan di antara riuhnya teman-temanku, aku sudah mencoba datang satu jam lebih telat.  Untuk memberuntungkan suasana, agar aku bisa sedikit bernegosiasi dengan keadaan, dengan semua pelajaran dalam kehidupan.
Aku di tengah-tengah pesta dansa kelulusan SMA ku....
Dirayakan dan disponsori seratus persen oleh siswa kelas tiga yang lulus tahun ini.  Teman-temanku tentunya.  Sebagai kaum kelas atas di sekolah tentu mereka memiliki pengaru besar, sehingga mudah bagi kami semua mengadakan pesta semacam ini.  Dengan dana yang kami todong dari orang tua, dan tempat yang kami dapatkan secara Cuma-Cuma hanya karena hotel mewah ini milik paman seorang sahabat baik ku. Ardan.
Teman-teman ku satu angkatan semuanya hadir. Tanpa terkecuali, tidak perduli kutu buku.  Olahragawan. Si juara umum. Mantan ketua osis.  Bahkan si cupu penghuni meja paling depan. Semuanya kami wajibkan hadir malam ini.  Dengan ketentuan datang dengan pasangan masing-masing.
Sebuah aturan yang melenceng dari yang aku tetapkan, di malam terakhir kebersamaan kami, and the gank ku menginginkan memamerkan semua pacar-pacar terbaik mereka.  Oh tidak, bukan maksud kami semua wanita dan pria player.  Dalam artian di sini, teman-temanku di sini ingin menunjukan ‘who are they’
Aku terima, dengan konsekuensi aku adalah salah satu yang tidak akan membawa pasangan ke sana.
Ya akhirnya malam ini....
Dan malam kemarin...
“Iras, besok ada seminar public, kemudian deadline ngumpulin tugas manajemen perdagangan dasar, sore nya harus studi kasus....”
“SHIIIIITTTT...” aku melolong dari balkon kamar.  Ini jam satu malam, sekalipun kompleks mewah ini semuanya sedang di penuhi oleh penghuninya aku tidak perduli.
“maaf... tapi ini saatnya inu faham, kehidupan mahasiswa seperti ini....” jelas suaranya lagi di ujung sana.
“tahun depan gak ada malam prom lagi...” ucap bibirku sambil agak bergetar.
“ya tapi kan setidaknya inu bisa pergi sama rere, atau dengan teman-teman yang lain...”
“sialan, rere baru kelas dua SMP, dan teman-teman gua besok bawa pacarnya masing-masing bodoh...” aku berteriak lagi, seandainya dia ada di hadapanku sudah habis aku memukulinya.
“ya maafin iras sayang, tertinggal di tiga mata kuliah ini sama saja dengan tanda tangan buat cuti akademik...”
“Cuma sehari ras, dan itu hanya dari sore....” aku mencoba memberikannya toleransi.
Sesaat hening, mungkin ia sedang mempertimbangkan.  Tapi aku tahu jawaban apa yang akan dia berikan.
“sayang, kalaupun kita pergi ke sana, apa yakin kita berdua akan berdansa seperti yang lain? Saling memeluk atau mencium seperti mereka? Apakah kiat benar-benar siap saat ini?”
“oh lihat, siapa yang jadi pecundang kali ini...”
“tapi...”
Aku mendesah kecewa kemudian menutup telpon, memasukannya ke dalam kantong celana piyamaku.
Iras sudah setahun hidup di luar kota, melanjutkan kuliahnya.  Seminggu yang lalu ia baru saja selesai UTS dan sekarang tentu jadi minggu-minggu yang menyibukannya.  Aku tidak menyalahkanya, setidaknya tidak terlalu menyalahkannya.  Hanya saja seharusnya ia mengerti.
Hampir tiga bulan kami tidak bertemu dan ia hanya memberikan kekacauan seperti ini.  Yang paling tidak ku sukai adalah, bahwa besok malam sebagai ketua angkatan aku harus memberikan sambutan di malam perpisahan kami.
Tentu saja, aku yang akan mendapatkan cemoohan paling luar biasa. Setelah tiga tahun, aku lah makhluk pria yang tidak pernah mendapatkan satupun pacar.  Tentu saja, aku merahasiakan hubungan ku dengan iras.  Seindah apapun itu, mata banyak manusia menganggapnya bukan sesuatu yang pantas.
Telpon berdering lagi berkali-kali.  Aku tidak memperdulikan malah terlelap hingga baru ku sadari malam sudah berganti pagi.
....
Sekarang di sini lah aku, sendirian di tengah meja yang dikelilingi teman-teman ku dengan pacar mereka yang tampak seksi dan menor sekali malam ini.  Ah seandainya iras ada, tentu saja dia yang akan jadi yang terbaik di sini.
SO DAMM
Aku bukan tidak siap, hanya saja keberadaan gadis-gadis mereka membuatku risih.  Kenapa aku tidak mampu bagai mereka. Bahkan si sialan ribki seakan tidak mau tahu dengan masalahku.
Theo, seorang penyiar radio terkenal yang kami sewa menjadi MC kami malam ini akhirnya meminta ku untuk maju ke depan.  Ini sudah sampai di pertengahan acara.  Semua orang sudah melakukan dansa pembuka sebelum makan malam.
Aku bangkit, saat lampu semuanya telah dimatikan. Dan lightning focus, berjalan fokus ke arahku.  Akhirnya dengan langkah tegap aku berjalan menuju panggung.
Theo minggir beberapa langkah tanda mempersilahkanku.  Akhirnya akupun berjalan menghampiri standing mic.
“cek cek..” aku mengetuk kepala mic beberapa kali, hanya trik untuk menghilangkan gugup saja sebenarnya.
“selamat malam kumpulan orang-orang gila...” kata sambutan pertamaku, disaut dengan teriakan dan nada tertawa dari arah gelap yang tidak bisa ku lihat.
“haa... akhirnya setelah tiga tahun, gue ngasih sesuatu yang mungkin akan sedikit berkesan buat kalian semua..”
Aku menarik nafas terlebih dahulu, menunggu suara tertawa dari arah meja teman-temanku mereda.
“oke oke, tiga tahun bersama kalian bisa dibilang indah, segala sesuatunya terjadi dengan luar biasa, tidak ada yang bisa mengulangnya, akan sangat sulit menemukan orang-orang bajingan seperti kalian semua...”
What the hell” teriak ardan dari balik meja nya.
“lu yang bener-bener hell, dan” teriak ku dari panggung di sambut teriakan lagi.
“tapi yang terburuk selama tiga tahun ini tentu saja tidak memiliki satupun gadis yang kamu sukai, atau berusaha kamu pacari, dan akhirnya tidak pernah berhasil membawanya ke prom malam ini, tenang kawan aku pun mengalaminya..”
“ooo cmon mannn.... seorang rifnu, kapten tim basket, ketua redaksi majalah sekolah, tidak pernah punya pacar???” feddy berteriak sambil berdiri dari kursinya.
“tenang, the gank kalian harus tenang, jauhkan sifat barbar kalian di sini...”
Beberapa orang masih tertawa, dan aku dengar dari kerumunan gadis-gadis itu seperti menemukan sesuatu yang melegakan tenggorokan mereka, sehingga mereka sedikit gaduh membicarakanku.
“aku tidak berpikir banyak, tapi menurutku...”
Aku merasakan seseorang mendekat ke arah panggung, namun karena cukup gelap aku tidak terlalu menyadarinya,  sampai ia sudah menabrak tubuhku.  Dari cahay fokus yang mengarah ke arah ku aku melihatnya sekilas.
“iras...” kataku sebelum aku tidak mampu mengucapkan kata-kata lain lagi...
Ia menciumku, bibirnya menutup hampir seluruh bagian mulutku.  Keduan tangannya mengunci rapat hampir seluruh tubuhku.  Aku berusaha menolak, namun lidah iras yang masuk ke dalam rongga mulutku membuat ku tidak mampu berbuat banyak.  Dan di detik ketiga keempat hingga terkumpul waktu lima menit aku sangat menikmati bibir iras yang sudah hampir tiga bulan ini aku rindukan.
Aku menyadari, ruangan sangat bisu sekali.  Dari sudut manapun tidak terdengar suara, sampai iras berhenti dan menatap wajahku.  Ia tersenyum sekilas.  Kemudian berbalik sambil terus menggenggam tanganku.
“halo adik kelas, kalian tentu kenal siapa gua? Mantan ketua osis, ketua tim basket dan futsal, kakak kelas kalian tentunya, gue iras ya bener banget, gue udah macarin ketua angkatan kalian ini, ketua tim basket angkatan kalian, ketua redaksi majalah sekolah juga, selama hampir tiga tahun ini, kata siapa dia gak punya pacar, tiga tahun dia sudah jadi pacar termanis gua... okeh itu saja sambutan sambungan dari pacar gua, silahkan lanjutkan pestanya, karena gue kangen bener sama pacar gue ini...”
Iras menarik tubuhku lagi sebelum akhirnya mencium bibirku kembali.  Aku hanya tersenyum mendapati kegilaannya.
Beberapa orang gadis berteriak menyesal, namun enam orang teman-teman ku mala berteriak dan tertawa-tawaa.  Aku tahu mereka pasti sudah menebaknya sejak lama.
“dasar sialan, bener kan tuduhan gue....” salah seorang dari enam orang bebal itu meneriaki ku sambil menghampiriku ke panggung.
Sementara aku, masih tidak dapat jauh dari orang yang berhasil membuat ku jatuh cinta ini.
...
Pesta masih berlanjut, menurut adrian bahkan kalau perlu kita berpesta sampai pagi.  Terserah.  Ini puncak dari penantian kami selama tiga tahun di SMA. Mungkin suatu saat, ada kalanya kami akan sangat merindukan masa-masa itu.
Tanganku semakin kuat menggenggam jari-jari tangan iras.  Ia semakin mendekatkan tubuhnya.  Kepalaku seperti biasa tersandar di bahunya.
“i can’t exfect with my feeling now...”  kataku pelan.  Menatap lampu halaman hotel yang mulai redup.
“no, you dont need, im very apologiez about....”
“yang penting iras udah ada di sini” kataku memotong.  Betapa tidak.  Tiga bulan aku tidak melihatnya.  Tiba-tiba ia datang dengan kejutan luar biasanya.
“ke sidney jadi Nu...”
Tiba-tiba suara iras berubah berat.
Aku bangkit dari bahunya, sambil melirik sebentar ke arah wajah yang dibalut kegelapan dan rintik-rintik embun subuh ini.
“ini mimpi inu ras...” tanganku meremas kuat lagi jari-jari iras.  Ia membalasnya.
“apa yang inu rasain setahun lalu, sekarang iras rasain juga..”
Aku menggenggam tangan iras.  Aku tidak berpikir banyak, tapi bukankah hidup adalah gudangnya misteri?