Paris malam ini, sedikit cerah,
karena tidak ada hujan yang turun mendadak di pertengahan musim semi seperti
ini. Aku keluar dari dalam mobil,
setelah berpamitan pada iras, ia kembali lagi ke rumah. Tentu saja, akhir – akhir ini dia sangat
banyak pekerjaan. Aku membiarkannya
menua sendirian di rumah, ketika tadi aku mengajaknya untuk ikut datang ke
malam pertunangan maria, kakak perempuan ardan, ia mengatakan tidak bisa dan
akupun tidak ingin memaksanya.
Ia sudah menginjikan aku pergi saja
sudah sebuah keajaiban untukku. Apalagi, ia selalu khawatir saat aku bersama
the genk ku, astroboy. Memang reputasi kami, jika kebetulan lagi sama – sama
selalu saja berakhir buruk. Aku pikir
menceritakan semua hal soal hidup kami berdua saat ini sudah bisa ku lakukan
dengan baik, ketika aku sadar bahwa waktu membawa kami menjadi lebih dewasa.
Aku memasuki halaman rumah yang disewa oleh
keluarga ardan, aku tidak tahu kalau kakak perempuannya selama ini tinggal di
paris, apalagi kami tidak pernah bertemu atau saling kenal. Ku pikir keluarga ardan semuanya di amerika,
sepertinya. Tapi ternyata kakaknya ada
di sini. Ia malam ini bertunangan, ardan hadir dan mengundang kami semua ke
sini.
Tidak bisa ku bayangkan tujuh orang bebal itu
memaksakan hadir ke sini demi orang yang belum kami kenal, bukan itu memang
yang kami inginkan, tapi kami selalu
menikmati setiap kebersamaan kami, setiap kesempatan yang bisa saja
mempersatukan kegilaan kami.
Ardan bilang bahwa acara ini tidak terlalu
formal, namun ia meminta kami semua memakai setelan jas. Aku sebenarnya agak membencinya, kalau saja
pacarku bukan seorang boss, mungkin aku tidak akan bisa menemukan setelan jas
bahkan tuksedo di rumah. Juga akhirnya karena ukuran baju kami yang sama, itu
membuat ku bisa memakai setelan jasnya yang mana saja.
Aku datang ketika acara sudah mulai beberapa
menit, di tengah – tengah ruangan kedua orang tua ardan sedang memberikan
sambutan. Aku salah, acara sudah sampai di tengah, sepertinya aku melewatkan
bagian di mana kedua pasangan yang bertunangan saling bertukar cincin dan
berciuman.
Semua anggota genk ku berada di sudut, nolan,
feddy, daris, kiki, dheka, jordan dan ardan duduk berhimpitan di sofa. Aku menghampiri mereka semua, namun aku pikir ada yang aneh dengan ardan,
ia memegang satu botol besar sampanye dan aku tahu ia sedikit teler. Teman – temanku menyambutku mereka memberikan
tempat untukku duduk, ardan sampai menepuk bahuku, untuk bilang terimakasih
karena aku sudah datang.
Aku memberinya isyarat minta maaf karena
datang terlambat, ia memaklumi dengan menganggukan kepala yang aku tahu kalau
itu adalah anggukan “ya gue bentar lagi mabok” aku dan teman – temanku yang
lain hanya tersenyum sambil sedikit cekikan menahan tawa, tidak bisa
membayangkan kalau kami memang tidak pernah beres, bahkan kini ardan dia mabuk
di acara pertunangan kakaknya sendiri.
“dan, baiklah untuk sambutan terakhir sebelum
kita memulai pesta ini, kita biarkan sang adik laki – laki maria untuk mengajak
kita semua bersulang...” kata mama ardan mempersilahkannya sambil memandang ke
sudut tempat kami berdelapan berkumpul.
Kami bertujuh menatap ke satu arah tempat
dimana satu tubuh berlumuk karena hampir setengah mabuk. Aku tersenyum melihat
ekspresinya yang sedikit agak kesal karena dipaksa berpidato oleh mamanya. Aku
dan yang lain tahu bahwa kami akan melihat aksi stand up comedy paling
menyebalkan malam ini. Aku, daris, kiki,
nolan dan dheka berdiri. Fedy dan jo
tetap di sofa, mereka masih asyik dengan gelas sampanye mereka.
“well well well..” ardan menyeruak ke tengah,
tetap dengan botol sampanyenya, matanya terpicing berusaha melihat semua tamu
undangan yang hadir.
“gue video ah, ini pasti bakalan
mengagumkan..” nolan mengeluarkan ponselnya, sambil bersiap merekam. Aku dan yang lain tertawa pelan, karena
memang sudah tahu apa yang pasti akan terjadi.
“beberapa minggu yang lalu, gue cukup kaget
karena kakak gue yang galak bahkan lebih laki – laki daripada halle barry,
bilang ke gue “dek teteh pengen kawin”.. hahahahaha” ia tertawa lebar
sendirian, ketika para tamu menatap aneh karena tidak mengerti dengan bahasa
yang keluar dari mulut ardan. Kecuali
kami bertujuh.
“who? I asked her?” ardan menunjuk ke arah
kakanya yang mulai geleng – geleng dan menutup wajah. “jammie.. he say.. oohh
god, that son orang menyebalkan yang pernah lu bawa ke bandung dan dia muntah
di rumah? Aku hampir tidak mempercayainya kecuali bahwa dia masih jammie yang
sama, untuk kakakku dan tunangan gemuknya..” ardan mengangkat botol sampanyenya
tinggi mengajak kami bersulang.
“for your sister and her fat beyonce...”
teriak kami bertujuh yang diakhiri dengan tawa menggelegar.
...
“Dan, lu pernah nonton what your number? Tadi
kekonyolan lu mirip banget sama Ally di film itu..” kata nollan. Selesai acara kami mencari sebuah club, dan
kini kami berada di club yang berada di tengah – tengah kota paris. Berbaur dengan berbagai jenis bule yang tidak
kami kenal. Untunglah di antara kami ada
jo dan ardan yang tampangnya tidak jauh dengan mereka.
“gue gak pernah nonton film cewek, baby..”
jawab ardan, dari mata sayunya jelas ia masih teler.
“tapi emang lu persis cewek itu tadi, datang
dan mengacaukan acara tunangan sodara lu..” kini daris ikut menambahkan
pendapat, aku pun sebenarnya pernah nonton film itu. Memang tingkah ardan tadi mirip seperti
akting anna faris di film tersebut.
“lu berdua pernah nonton film yang sama?”
ardan menunjuk nolan dan daris “jangan – jangan di balik kita semua lu berdua
pacaran ya..”
Kami semua tertawa. Apalagi melihat ekspresi
nolan dan daris yang saling bergidik ketika menatap satu sama lain.
“gue liat kakak lu itu bukan tipe cewek yang
buru – buru pengen kawin dan pengen cepat punya anak, kenapa dia pengen
tunangan sekarang..” tanya kiki.
“itu karena cewek si ardan sudah bunting...”
jawab feddy cepat, kami semua diam dan langsung menatap feddy, tidak percaya
pada apa yang kami dengar “beneran.. bunting..” feddy membuat bulatan di atas
perutnya.
“selamaaaaatttt....” aku dan semua teman –
temanku langsung mengeroyok ardan dengan tinju, tamparan hingga pelukan hampir
tidak percaya bahwa dia sudah hampir jadi calon ayah.
“lu tau kan kalo ibu gue orang jawa asli?”
ardan mengingatkan kami. Kami semua mengangguk padanya “dan dia gak mau kakak
gue dilangkahin ama gue, dan dia juga gak mau dalam satu tahun ada dua anaknya
yang kawin, makanya dia nyuruh kakak gue kawin duluan, gue baru taun depan, pas
anak gue udah bisa maen bola ama gue.. hehehehe...”
Kami semua tertawa, rupanya itulah alasan
kenapa dia mabuk malam ini. Beberapa bulan lalu memang kami pernah mendengarnya
akan menikah, tapi aku tidak tahu kalau kejadiannya seperti ini.
“hebat, ada juga cewek yang bisa hamil sama
sperma lu brad..” jo meninju pangkal lengan ardan.
Ardan hanya tersenyum sambil mengedikan bahu,
sebuah ekspresi bangga.
“ngomong – ngomong soal tidur sama cewek, gue
mau ngadain game nih, lu semua harus ikut..” kami semua menegapkan badan
mendengarkan dheka. “jadi gini, terinspirasi dari film yang tadi diceritain si
nolan sama si daris, iya game ini gue contek dari film itu..”
“ceilaaah lu nonton juga..” jo mencolek
punggung dheka yang duduk di sampingnya “lu pasti ngeliatin tubuhnya chris evan
kan bukan anna faris...”
“lah ko lu tau kalau chris evan maen di film
itu, lu berarti nonton juga kan?” dheka menunjuk wajah jo, dan dia ketahuan.
“hahahaha...” nolan dan daris jadi yang
tertawa paling keras karena senang bisa memperoloknya.
“game apaan kek?” tanya kiki
“lu semua tulis berapa jumlah cewek yang
pernah lu tidurin, di kertas, tapi jangan di liatin, kita masukin gelas dan
nanti giliran kita ngambil terus tebak itu punya siapa, ngerti?”
“si inu ikutan game ini gak?” tanya nolan
“remember dia vegetarian...”
Aku dan yang lain tertawa, vegetarian memang
julukan yang diberikan teman – teman untukku.
Aku tidak tersinggung sama sekali, karena sejak lama mereka memanggil ku
begitu.
“ikutan, si inu ikutan..” kata feddy, sebelum
aku angkat bicara “pas mabok berat, gue pernah ngerjain cowok, dan sampe
ketiduran, itu diitung, karena gue tau si inu itu tipe ngerjain kok..”
“iiiiiii......” nolan dan daris bergidik
mendengarkan feddy, namun ia malah mengajakku tos.
“oke buat game ini kita butuh gelas, kertas
dan pulpen.. ntar gue minta sama pelayannya” dheka berjalan menuju meja
kasir.
Tidak berapa lama ia muncul membawa gelas,
pulpen dan kertas. Aku tadinya merasa lega karena tidak harus menyebutkan
angkaku berapa, tapi karena feddy memberikan aturan tambahan akhirnya akupun
mulai menulis angka di kertas yang dibagikan dheka. Kami melipatnya dan memasukan ke dalam gelas
yang di letakan di tengah meja.
Ardan jadi yang terakhir memasukan kertasnya.
Sepertinya ia membutuhkan waktu lama untuk mengingat seluruh angkanya ada
berapa.
“oke, sekarang lu jo yang pertama ngambil..”
dheka memberikan gelas pada jo.
Jo mengambil salah satu dari kertas yang
terlipat itu.
“kalian tahu, kalau angka kalian melebihi dua
puluh, lu gak bakalan kawin..” dheka menambahkan, sontak beberapa mata dan
wajah menimbulkan ekspresi terkejut luar biasa.
“dua puluh tiga..” kata jo “ini gue, gue tidur
dan ngewe sama dua puluh tiga cewek..”
“no, no, bukan gitu, pas angka keluar kita
semua harus nebak itu punya siapa..” dheka agak sedikit ngotot, beberapa
makhluk bebal di komplotan ini memang sulit faham. Sehingga ia tampak kesal.
“anjir, pisang ambon lu masuk dua puluh tiga
vagina berbeda? Kereen...” nolan mengangkat jempolnya.
Jo dan nolan tertawa, kini dheka memberikan
gelas kepadaku. Akupun mengambil satu dari kertas – kertas tersebut.
“tiga sembilan..” angka yang tertulis di
kertas begitu aku membukanya. Kami sudah tahu itu angka siapa, semua telunjuk
mengarah pada satu orang yang tadi menulis paling lama. Tentu ardan.
“thanks thanks thanks tuan – tuan...” ardan
berdiri sambil membungkukan badan. Memberi hormat, kami semua bertepuk tangan
dan tertawa pada angkanya.
“sekarang giliran elu dan..” dheka memberikan
gelas pada ardan. “gue agak kaget sebenarnya, angka lu Cuma segitu, soalnya
seinget gue lu ngasih nomor buat cewek – cewek yang lu kencanin”
Dengan cukup malas ardan mengambil salah satu
kertas, beberapa dari kami terlihat gusar karena angka kami tidak sebanyak itu.
“gak semua cewek yang gue bawa, buat gue ewe juga geblek”
“gue tau ini angka siapa” kata ardan sebelum
menyebutkan angka yang ada di kertasnya “dua delapan, my brother feddy..” ardan
ngajak feddy tos. Ternyata feddy membalas tos ardan, rupanya itu benar
miliknya.
“itu yang cowok dua diitung gak fed?” tanya
daris “tiga puluh dong..”
“itu udah diitung..” jawab feddy. Kami semua
masih tertawa – tawa dengan game ini.
“anjis lu bertiga, gue heran kok gak pernah
kena herpes..” kata nolan, ia membantu dheka memberikan gelas pada feddy.
Feddy mengambil satu kertas kemudian
membukanya. Ia mengingat sebentar,
kemudian dengan jarinya ia seperti menghitung “dokter, polisi, pilot... dan si
bos, empat..” ia mengangkat kertas di tangannya “mochammad rifnu prihata..” aku
mengacungkan jempol pada tebakan feddy.
“beneran Cuma empat orang lu koh?” kiki
menyenggolku.
“beneran anjis, yang lain paling maen PS
doang..”
“itu diitung inu..” kata nollan.
“enggak lah..” aku tidak ingin angkaku
bertambah.
“PS itu phone sex kan?”
Beberapa bantal melayang ke arah wajahnya
“play station goblog...” aku melemparkan bantal paling besar kepadanya.
“delapan..” kata kiki, sudah gilirannya
mengambil “ada yang tau ini angka siapa?”
“ah geblek kalian juga gigolo ternyata gue
pikir selain kita bertiga gak bakal ada yang ngelebihin angka si inu..” ardan
tampak merendahkan orang – orang di depannya.
“daris..” tebak dheka. “tapi gue gak yakin
angka lu sebanyak itu..”
“thats right itu angka gue, sini giliran gue
yang ngambil...” daris tampak semangat mengambil satu dari tiga kertas yang
tersisa, itu berarti tinggal punya nolan, kiki dan dheka. “son of bitch...
delapan belas...”
Aku, ardan, jo, feddy, agak kaget mendengar
angka sebanyak itu untuk tiga orang terakhir. Aku tahu reputasi setiap
orangnya.
“kiki?” tebakku. Dan ia langsung nyengir
lebar. “pelacuurrrrr....” aku hampir menoyor kepalanya, teman sebangkuku tiga
tahun di SMA rupanya punya rekor sebanyak itu.
“haii friends...” jo, feddy dan ardan
mengarahkan gelas anggurnya pada kiki.
“i love sex, i love love love sex so much..”
kiki dengan bangganya menggosok – gosok bagian tengah selangkangannya.
Daris memberikan gelas kepadanya. Kiki
mengambil salah satu dari dua kertas yang ada di sana. “duaaaaa.....” teriak
kiki sambil tertawa lepas. Tidak mungkin dheka, aku tahu dia bahkan tidak akan
punya angka sama sekali.
“elu ya kek..” nolan menunjuk wajah dheka.
“sorry brother, gue baru ketemu ferica bulan
lalu dan angka gue nambah” tangan dheka mengambil satu kertas tersisa kemudian
membukanya lebar – lebar kepada kami “empat..” dia mengajakku tos, aku pun
mengepalkan tanganku dan meninjukannya pada tinju dheka.
“oke lah gue Cuma dua, karena gue anak baik –
baik yang tidak mungkin melakukan aksi sembarangan...”
“gak gak, dua dari mana lu, gue tau yang satu
Cuma hand job yang satu lagi lu keburu ejakulasi.. itu gak masuk dan gak
diitung” kata ardan. Kami terbelalak hampir tak percaya, semua tatapan tertuju
pada nolan.
“itu masuk kok, kepala gue masuk kok, berarti
satu kan dan kalian harus tahu handjob kala dilakukan sama lawan jenis itu
sexual activity kan?”
“enggak gembel, gue tahu kepala lu seukuran
apa, Kalaupun masuk gue tahu ada sebarapa banyak ruangan tersisa di dalam
vaginanya, jadi gak diitung”
Nolan yang awalnya berdiri kini terkulai lemah
lagi di kursi, aku dan teman – temanku tertawa, melihat ekspresinya yang miris
begitu.
“hand job itu Cuma tangan yang bekerja, dan
game ini adalah siapa yang udah tidur sama lu, bukan siapa yang pernah grapa
grepe gak jelas..” aku menjelaskan, sekaligus ingin ikut memojokan nolan.
“itu berarti kalau diitung, angka lu semua
bisa lebih gembel dari itu..” desis nolan pelan, dan kami masih tertawa. Bahkan
ku lihat daris sampai menahan perut karena geli.
...
Malam semakin larut, ardan sudah berhenti
mabuk, ia mengajakku keluar dari dalam club.
Kami memang dari dulu biasa seperti ini, ketika enam orang gila lainnya
semakin liar kami adalah yang akan keluar menuju garasi atau bahkan lantai
paling atas dari club dan ngobrol berdua.
Memang di antara tujuh orang ini, Cuma ardan yang bisa aku ajak ngobrol
mulai dari bahasan paling santai hingga serius sekalipun.
Kalau ada masalah dengan iras, dialah yang
akan aku telpon paling dulu, pengalamannya menghadapi berbagai macam manusia
dan cinta sudah sangat kental. Semua hal
pernah ia cicipi, bertepuk sebelah tangan, ditinggal tanpa alasan apapun,
diberikan harapan sudah ia lahap semua.
Ia memang tidak benar – benar mabuk dari tadi,
ia yang paling tangguh diantara kami, mau satu ember sekalipun minuman yang dia
minum itu tidak akan benar – benar membuatnya teler. Ia menewariku sebatang rokok, aku mengambil
satu kemudian meminjam rokoknya yang sudah menyala, aku membutuhkan baranya untuk
menyalakan rokok di tanganku.
“suatu saat lu bakal sampai di titik yang gue
alami juga kok nu..” beberapa kepulan asap rokok melayang – layang keluar dari
mulut ardan. Ia menatap lurus ke depan.
Kedua tangan kami bertumpu pada pagar tempat
parkir, kami berdua berdiri menghadap ke jalanan. Aku memandangi ardan sebentar, mungkin ia
ingin melanjutkan perkataannya. Namun ia malah berkali – kali lagi menghisap
rokoknya.
“titik mana?” kataku, kemudian menghisap rokok
di jari tanganku. Terasa hangat melalui
kerongkongan kemudian mengepul ke seluruh rongga dada.
“ya.. titik dimana, lu mutusin berhenti ‘udah
stop’ sampai di sini saja” ardan lebih seperti bicara pada dirinya sendiri “lu
merasa kalau lu udah terlalu dewasa buat semua petualangan lu, atau lu udah
terlalu lelah buat melanjutkannya lagi...”
“gue gak bertualang dan, hidup gue dan iras
itu sebuah perjalanan..” jawabku.
“terserah lu menyebutnya apa” ia membuang
nafas lagi, kemudian melirik ke arahku “tapi memang, di antara kita semua, gue
sama yang lain sudah banyak belajar dari lu berdua..”
“sorry dan, kalau misalkan gue sama iras sudah
menyulitkan lu semua, lu tau iras kaya gimana..”
“gak, buat gue ketika ada orang yang sayang
sama sahabat gue itu bagus, tapi kalau sampai ia Cuma jadi beban buat lu lu
juga kudu mikir nu, tapi antara geng kita sama pacaran lu berdua kita kan punya
umur yang sama, lu berhak bahagia dan berhak menentukan jalan lu sendiri...”
Aku memikirkan setiap kata yang ardan
ucapkan. Mungkin benar kalau selama ini
sifat iras memang sudah banyak merepotkan mereka. Iras terlalu pencemburu untuk setiap
kedekatanku bersama teman – temanku. Aku
mengerti, banyak sekali yang ia cemaskan kalau kami sedang bersama. Beberapa kebiasaan di kelompok ini memang
tidak cukup bisa iras terima untukku.
Tapi aku sendiri faham, bahwa di usia kami
sekarang kami sedang melakukan berbagai petualangan. Banyak hal baru dan menyenangkan yang layak
kami coba. Seharusnya iras terlibat
dengan petualangan kami, namun ia memang tidak pernah memiliki pemikiran yang
sejalan.
Walau begitu, aku tetap menyayangi mereka
semua. Tidak ada alasan apapun untuk meninggalkan salah satupun dari mereka.
Baik iras, atau ketujuh temanku punya ruang dan tempat tersendiri.
“eh iya, gimana rasanya mau jadi bapak dan?”
ku jentikan jari membuang abu rokok yang mulai memanjang di ujung
batangnya. Kemudian abu tersebut
berhamburan ke udara di bawa angin.
“nothing..” jawabnya agak lemah, namun
kemudian ia menatapku lekat “tapi saat ini, gue jadi semakin sayang sama jezz,
dia jadi semakin lembut dan aku merasa cukup nyaman dengannya, kalau perasaan
jadi seorang ayah, gue juga sebenarnya udah gak sabar buat liat tuh anak lahir
ke dunia dan gue bilang “hey dude, I’m your jerk father” tapi gue yakin akan
ada banyak kata lagi yang keluar nanti..”
Aku mengangguk, memahami apa yang dirasakan
ardan.
“inilah yang gue bilang titik memutuskan,
ketika jezz datang dan bilang dia hamil, gue bahkan meresponnya dengan biasa
sekali, gue pikir dia juga bakal sama
dengan cewek lainnya yang pernah gue temuin, toh gue udah biasa kebobolan kaya
gini tapi Cuma dia yang nggak mau aborsi dan bilang tanpa gue pun dia bisa
ngurus tuh anak, tapi gue mikir nu, dia aja yang cewek punya tekad segede itu
buat anaknya, kenapa gue bapaknya malah menyepelekan hal ini, dan saat itulah
gue pikir buat berhenti..”
“dia bakalan bangga punya bapak kaya lu dan..”
“oh iya, kalau dia cowok gue mohon ijin buat
ngasih nama dia Astro, entahlah gue seneng banget ngucapin nama itu..”
“tentu saja silahkan, toh dulu nama kita lu
juga kan yang ngusulin ke panitia MOS, lu udah berbuat banyak dan memimpin
kelompok ini dengan sangat baik Dan..”
“dan lu, udah ngasih banyak perhatian, kasih
sayang, buat mereka, buat gue, buat orang – orang bebal di kelompok ini..”
Ia merangkul bahuku, aku membiarkannya sambil
menikmati hisapan – hisapan terakhir rokok di tanganku.
“lu semua udah kaya sodara Dan..” beberapa abu
dari rokokku terbang dan berjatuhan di jas dan sepatu yang ku kenakan “kalau
gue lagi bingung, atau iras lagi kambuh penyakitnya, gue jadi tahu kemana gue
harus lari..”
“be calm, lu punya tempat paling aman, karena
lu tau sendirikan gimana galaknya anak – anak kalau iras udah nyakitin lu..”
Aku mengangguk, ketika ingatanku membawa
beberapa kejadian dimana ketujuh temanku malah memaki bahkan tidak segan untuk
memukul iras, ketika kesal kepadanya. Sesuatu yang membuatku tidak berhenti
bersyukur pada tuhan, bahwa dia sudah mengirimkan banyak orang yang
menyayangiku sangat tulus untuk hidup yang kadang masih aku sesali di sana
sini.
“o iya, kapan lu balik ke bandung? Gue pengen
banget balik ke sana, tapi susah nyari waktunya, apalagi sekarang” ardan
membuang puntung rokoknya, matanya menerawang jauh, ternyata rindu itu bukan
hanya milikku, yang baru beberapa bulan saja meninggalkan kota tersebut, tapi
sepertinya jadi milik kami semua di sini.
“tau deh..” jawabku sambil sedikit tersenyum
“lucu ya, dulu pas masih di bandung, kita masih SMA, yang kita bicarain pasti
soal eropa, amerika, lah sekarang pas kita semua udah ada di sini, yang kita
bicarain, yang kita kangenin malah bandung..”
Ardan ikut menyunggingkan senyumnya “iya bener
juga, gue kangen kita masih kelayaban jam sebelas malem, bingung mau tidur
dimana, padahal itu baru jam sebelas malem, dasar cupu..”
“hahaha inget waktu kita terakhir di tahan di
polda? Gara – gara balapan liar, terus ardan sama daris pada mewek gara – gara
takut diomelin emaknya mereka?”
“hahaha gue inget, gue inget, abis itu subuh –
subuh di halaman polda, kita semua di suruh push up sama apih lu, seratus kali
kan?”
Kami berdua tergelak, mengingat apih yang
memang selalu jadi yang paling kesal pada kenakalan kami semua. Ia pasti akan terkejut kalau bertemu dengan
teman – temanku sekarang, mereka sudah bukan anak – anak SMA yang sama, mereka
sekarang sudah punya kehidupan masing – masing dengan pencapaian yang luar
biasa.
“barangkali semua hal gila, konyol, aneh itu
tidak bisa kita ulang lagi, tapi sama kalian semua gue yakin bisa ngelakuin hal
gila seumur hidup gue...”
“yoha nu..” ardan berdiri tegap, ia
membersihkan bajunya dari debu – debu yang tadi menempel dari pagar “udah mau
pagi, ayo jemput orang – orang bebal di dalam, gue takut mereka keburu
overdosis”
Aku mengikuti langkah – langkah ardan kembali
ke dalam club.
...
Aku memapah tubuh jangkung jordan masuk ke dalam
rumah apartemen ardan, jordan mabuk berat, kini ia sudah tidur. Memapah tubuh
jangkung dan berat itu dari lift sampai ke dalam apartemen bukan pekerjaan
mudah, kiki dan ardan sudah membawa deka dan nolan, oleh kiki tubuh deka
diletakan di sofa dan nolan di karpet.
Di samping kiri deka masih ada sebuah sofa, aku telentangkan tubuh
jordan di sana, ia melenguh sebentar ketika aku agak sedikit keras ketika
menjatuhkan tubuhnya di sana.
“tinggal daris sama feddy, gue aja yang
ngangkut si feddy dari mobil, lu tidur duluan aja nu” kata ardan, kiki sudah
terlebih dahulu kembali lagi ke tempat parkir menjemput tepatnya menggotong
tubuh daris.
Aku mengangguk, ku lemparkan jasku ke atas rak
majalah dan kumpulan piringan hitam ardan, beberapa benda jatuh di sana. Ketiga
temanku yang sudah bergelimpangan, langsung mengorok lagi. Mereka benar – benar sudah tidak sadarkan
diri. Kemudian ku jatuhkan tubuhku
sendiri pada sebuah single sofa yang berada tepat di samping kanan sofa deka.
Agak lumayan pening, semalaman tidak tidur,
apalagi ini hampir pagi. Ku pijat keningku sendiri. Pintu apartemen terbuka,
kiki muncul sambil membopong daris, yang tidak berhenti meracau sejak dari club
bahkan di dalam mobil. Ia memang yang
paling kacau kalau lagi mabuk, bisa – bisa sampai segala isi macam kitab suci
dia sebutkan.
“heh lu sape? Lu sape?” tangannya menunjuk –
nunjuk wajah kiki “hihihi liat muka lu lucu, kayak barong..”
“terserah elu jaka..” tampak kekesalan di
wajah kiki.
“eh siapa jaka?” daris meracau lagi “elu kan
temen gue kiki, kok nama lu jadi jaka, eh jak anterin gue ke toilet dong, gue
subuh – subuh gini suka pengen beol..”
Belum habis kekesalan kiki, ia kini membawa
tubuh daris ke kamar mandi, aku sedang mencoba memejamkan mata, aku benar –
benar mengantuk.
Tidak lama kiki sudah kembali, ia tampak misuh
– misuh. “si daris kenapa ki?”
“gak tau, dia dari dulu gitu, kalau mabok
minta digebukin banget, masa tadi turun dari mobil gue diludahin..”
Aku tersenyum, kiki memang yang paling tulus
ikhlas untuk urusan menangani daris, semejak dulu, sejak tahu bagaimana
kelakuan daris kalau lagi mabuk aku dan ardan tidak pernah mau untuk
mengurusnya, itu benar – benar pekerjaan kiki.
“hahaha bukannya udah biasa tuh anak
kelakuannya gitu..”
“yoi, lu mau tidur di sini? Kalau lu mau tidur
di sini gue yang tidur di kamar tamu, biar si ardan tidur di kamarnya
sendiri..”
“iya gak apa – apa, gue tidur di sini aja, lu
tidur sana..”
Kiki menurut, tanpa banyak kata ia masuk ke
dalam kamar. Dalam sekejap aku tidak
mendengar suaranya lagi, mungkin ia langsung terlelap. Pintu terbuka lagi, kini ardan membawa tubuh
mabuk terakhir, tapi tampak feddy meracau dan marah – marah pada ardan.
“anjing lu dan, anjing. Katanya lu temen gue tapi kelakuan lu kaya
taek..”
“elu yang taek, taek..” ardan menjatuhkan
tubuh feddy di sebelah nolan. Ia tampak menghitung “semuanya ada..” ia melihat
ke arahku “eh nu barusan gue liat iras di parkiran, dia kayanya ngikutin gue
dari belakang..”
“iras?” ia menyusulku rupanya “oke oke dia
udah tahukan gue di sini..”
“kayanya gitu..” pintu yang memang belum
dikunci terbuka lagi, kini muncul iras di sana. “hai ras..” sapa ardan pada
iras, ia kemudian pergi ke kamar tamu.
“ki, kiki, bangun setan pindah sono, biar si
inu sama iras yang tidur di sini..”
Iras menghampiriku. Kedua tanganku terangkat
minta di peluk. Ia memburuku, sambil berusaha duduk dan memeluk tubuhku.
“kamu mabuk?” tanyanya sedikit khawatir, ia
mengusap kepalaku berkali – kali, sambil mencium keningku.
Aku menggeleng “inu sadar, benar – benar
sadar, tenang saja, iras ngapain ke sini kan inu bilang inu pasti nginep..”
walau sebenarnya aku senang juga ia ada di sini.
“abis nomor kamu mati, yang lain gak ada yang
bisa dihubungi, ini sudah subuh apalagi, iras gak tidur semalaman gara – gara
mikirin kamu tau gak, reputasi kalian di club gak ada yang bagus..”
Ardan dan kiki yang muncul dari pintu kamar
tamu mengacungkan jari salam damai pada iras “inu sama pak bos tidur di kamar
tamu aja ya..” ardan mengangguk – angguk permisi pada iras, takut kena semprot.
“iya dan..” ku tarik tangan iras, aku benar –
benar mengantuk dan ingin mengajaknya tidur.
Karena aku yakin ia juga belum tidur.
Iras mengikutiku, begitu sampai di kamar, aku
mendorong tubuhnya hingga jatuh di tempat tidur kamar tamu. Kemudian, ku jatuhkan juga tubuhku, di atas
tubuhnya, aku menelungkup di atas tubuh iras.
“aw... ingat kamu itu tujuh puluh kilo
sekarang..”
Aku mengabaikan perkataan iras “good night
ras, i love you..” kataku sambil perlahan – lahan mulai tidak sadarkan diri.
“good night, sugar..” ia mencium kening
kemudian memelukku.
...
Aku dan iras dalam perjalanan pulang, iras
yang menyetir, sementara kepalaku masih terus terasa berat. Efek begadang dan iras yang pagi – pagi sudah
menyeretku pulang. Ku turunkan kaca
jendela mobil, tubuhku menggeliat, ada pegal dan nyaman sekaligus setelah tidur
beberapa menit yang lalu.
Satu yang pasti, berapapun jumlah nomormu,
yang paling penting adalah ketangguhan komitmenmu pada ia yang layak kamu pertahankan.