Tanganku reflek membetulkan letak kaca mata minus nol koma lima yang merosot dari tempatnya di pangkal hidungku, aku masih asyik dengan laptop dan segelas smoothie mama yang aku curi dari dalam kulkas. Bukan mengerjakan pekerjaan dari kantor, bukan sibuk dengan media sosial, juga tidak sedang menyelesaikan tugas kuliah. Kuliahku hanya tinggal menunggu wisuda, sore ini aku hanya sedang sibuk dengan....
Online shop!
Kebiasaan ku membeli segala hal lewat online shop, belakangan ini sepertinya memasuki keadaan darurat. Gawat, karena aku mulai membeli barang – barang yang tidak aku butuhkan. Seperti tadi pagi, tiba – tiba ada kurir yang mengantarkan paket berisi kostum zebra. Mama, ponakan-ponakanku, bahkan iras sampai keheranan. Untuk apa aku membeli baju belang – belang itu.
Jangankan mereka, aku sendiripun tidak tahu.
“jadi kapan?” pertanyaan mama yang tiba – tiba mengagetkanku, ketika dia bertanya disertai dengan tangannya yang meletakan sebuah cangkir besar berisi jus pome pesananku. Yang membuat kaget tidak hanya suaranya yang muncul tiba – tiba, tapi ia seperti sengaja menjatuhkan gelas ke atas meja makan tempat aku duduk, hingga menimbulkan suara bruk yang agak kasar.
Aku mengedikan bahu, ku buat mukaku seekspersip mungkin bertanya balik. Tidak mengerti apa yang sedang ia tanyakan. “apanya yang kapan?”
Mama mendelik sebal, ia menyeruput teh camomile yang ada di tangannya. Ia berdiri menyender pada meja makan. “kalian...”
“me and who?” aku masih bertanya balik pada mama, otakku benar – benar butuh sinyal penuh untuk sikapnya yang mengejutkan sekali sore ini.
“you and him...” mama menunjuk iras yang sedang tertawa – tawa dengan dua keponakan kami di pinggir kolam renang.
“yes, me and him and what, girls?”
Mama meletakan cangkir di tangannya ke atas meja. Ia kemudian melipat kedua tangannya di dadanya. “nikah...” mama menghela nafas. “tepatnya, menikah...” mama kini membuang nafasnya.
Aku hampir menyemburkan kopi yang baru saja aku teguk. Antara kaget dan ingin tertawa, pacaran hampir delapan tahun rasanya aku tidak pernah mendapati mama seserius ini menanyakan soal itu.
“kamu jangan ketawa, pertanyaan mama ini serius, bukan lawakan, Mochammad Rifnu Prihata..” mama memalingkan mukanya, sambil ngeloyor pergi ke ruangan di dekat televisi.
“aku ketawa bukan karena soal pertanyaannya mah.. tapi selama delapan tahun kenapa sekarang mama kaya yang kesel gitu nanyanya..”
Mama duduk di atas bantal meditasinya, ia sepertinya hendak memulai sesi pemanasan yoganya.
“ya emang nunggu apalagi Nu?” mama bertanya lagi tanpa membuka matanya. Ia sudah duduk khusuk di atas bantal berwarna kelabu itu. “kuliah udah beres, kerjaan, bisnis kalian udah jalan, uang tiap hari lancar, taun kemarin kalian ngeles karena kuliah belum beres oke mama bisa terima, tapi jangan harap mama ngasih kelonggaran yang sama taun ini..”
Mama tampak tenang, meskipun mulutnya tidak berhenti mengeluarkan kata – kata. Nafasnya teratur, meski ia masih bicara panjang lebar kenapa aku dan iras masih menunda hari besar itu.
“tapi kan nikah tidak hanya soal itu mama sayang..” aku kembali ke layar laptopku.
“terus apalagi?” mama melototkan matanya.
“we are young, masih banyak yang belum kita capai, masih banyak tempat yang belum kami datangi..” kataku sambil tetap sibuk dengan laptopku.
Mama tidak menjawab, ia mulai dengan beberapa pose yoganya. Di luar rumah, iras masih asyik berenang bersama lia dan nhael.
“a, sarapannya sudah siap..” kata salah satu ART mama.
“oh iya bawa sini aja bik..” ku lipat laptopku, kemudian menyimpannya di meja yang lain. Sementara itu para ART menyiapkan, roti bakar, berbagai macam selai, buah, jus orange dan susu di atas meja makan. Aku berjalan menuju bagian sisi lain dari rumah.
Tanganku menggeser pintu kaca yang membatasi ruangan keluarga dengan halaman samping, iras dengan kedua keponakan kami tengah asyik berenang. “guys breakfast time..” kataku, sambil menyender pada muka pintu.
“coming sugar..” ia mulai berenang ke pinggir kolam, sambil mencoba meraih tangan lia dan nhael yang juga mulai menepi. Lia yang pertama keluar dari air berlari-lari kecil ke arahku, ku ambil salah satu handuk yang menumpuk di atas meja tidak jauh dariku. Kemudian menelungkupkannya di tubuh lia untuk mengeringkan badannya.
“cepat masuk sana, sudah ditunggu nana di meja makan..” ku ambil sebuah kimono berbahan wol untuk melindungi tubuh lia dari dingin. Begitu selesai, ia pun berlari ke dalam rumah.
Iras dan nhael berjalan menghampiriku, ku ambil handuk yang lain dan mengeringkan tubuh nhael. Ia menyusul adiknya, ketika aku selesai memakaikan kimono lainnya di tubuhnya. Kemudian, aku mengambil handuk yang berukuran lebih besar. Iras berdiri tidak jauh, dengan tubuhnya yang masih sangat basah.
Ku berikan handuk di tanganku kepadanya.
“kirain mau dikeringin kaya nhael...” ucap iras begitu menerima handuk dari tanganku. Aku menatapnya dengan tatapan geli.
“kamu masih tujuh tahun?” kataku sambil tersenyum.
“am i your baby right?” ia mendekatkan tubuhnya kepadaku. Aku mengambil kaos berwarna mysty grey yang tadi ia kenakan sebelum nyebur ke kolam renang.
“right, tapi bukan berarti harus diperlakukan sama kaya bayi kan?” aku mendorong tubuhnya, ketika aku tahu bahwa ia hendak menciumku. Ini di rumah mama dan masih banyak orang yang ada di sini.
“no kiss morning?” matanya merajuk, manja sekali.
Ku lemparkan kimono besar di dekatku ke arah wajahnya, ia hanya tergelak sambil menerima kimono tersebut.
...
Aku dan iras duduk bersebelahan di meja makan, di depan iras ada lia yang sedang mengoleskan selai strawberry di atas roti bakarnya sendiri. Di samping kiriku, ada mama yang sedang membantu nhael. Ia selalu belepotan dan piringnya tidak akan pernah rapi.
“nana, aku boleh nanya?” kata nhael tangannya sudah memegang garpu dan pisau untuk memotong – motong roti yang masih mama olesi dengan selai coklat.
“nanya apa sayang?” jawab mama.
“aku sama lia kok bobo nya misah, kamarnya juga misah?” nhael menatap mama sambil memanyunkan bibirnya, mata mama menatapnya tidak mengerti. “tapi om inu sama om iras satu kamar dan bobonya bareng?”
“uhuuukk..” di sebelahku, iras tersedak. Aku hampir saja tertawa mendengarkan pertanyaan nhael barusan dan mama memukul keningnya dengan tangannya, pelan.
Aku memberikan satu gelas air putih pada iras, ia masih belum bisa menyembunyikan senyumnya. Sementara mama menatapku tajam.
“you see?” kata mama padaku, aku mengangguk tanpa berhenti tersenyum. “karena nhael sama lia, gak boleh satu kamar, nanti kalau udah gede, masa nhael mau ngajak temen – temen cowok ael yang cowok main di kamar yang ada lia nya juga, apalagi kalau lia bawa temen juga..”
“tapi kan nana, temen ael temennya lia juga..”
Mama menghembuskan nafas panjang. Sama sepertiku, mama pasti kesulitan menemukan jawaban untuk pertanyaan nhael. “i can handle it mom..” kataku sambil tersenyum pada mama. “emang ael gak mau punya kamar sendiri? Dulu aja waktu di jogja bunda selalu misahin kamar tidurnya ael sama lia kan?”
“iya sih om, tapi kan aku bobonya pengen ada temennya, kalau bobo sama om inu dan om iras, pasti pagi nya aku udah ada di kamar aku lagi..”
Iras menahan tawa lagi. Aku sampai mencubit pahanya. Mama yang duduk di sebelah lia sudah tidak ingin menghiraukan pertanyaan nhael lagi. Pagi sudah semakin siang, ia pasti sudah harus ke rumah sakit.
“karena tempat tidur di kamar om inu kan gak muat buat pertiga...”
“bohong, bilang aja om inu pengennya meluk om iras aja kalau bobo, bukan meluk aku..” aku benar – benar kehabisan kata menghadapi nhael. Apalagi, memang selalu aku yang memindahkan nhael ke kamarnya kalau dia tidak sengaja tertidur di kamarku.
“nah itu ael tahu, karena orang dewasa membutuhkan waktu untuk sesama orang dewasa el, yang di mana anak kecil gak boleh ikutan..” nhael agak mengerungkan keningnya. “nanti, sepuluh tahun dari sekarang, pas ael udah dewasa, ael pasti ngerti deh..”
Nhael tampak menghitung di kelima jarinya. “berarti pas aku umur tujuh belas aku udah tahu ya kenapa om iras sama om inu bobo nya harus bareng..”
Aku mengangguk, nhael tidak bertanya lagi. Ia lalu sibuk dengan roti dan susunya sendiri.
...
Iras duduk di sebelahku, menyetir. Kami menelusuri jalan setiabudi, sore ini ardan mengundang kami ke rumahnya. Ia sudah ada di bandung sejak dua hari yang lalu, membawa perusahaanya di Konfrensi Asia Afrika yang sedang berlangsung. Rupanya ia kemari dengan membawa serta jezz dan astro –anaknya- yang belum sempat aku jenguk sejak kelahirannya beberapa bulan lalu.
Jarak paris – california kan tidak dekat. begitu beberapa hari lalu aku mendapatkan info kalau ia pulang ke bandung, maka aku pastikan kalau aku akan menemuinya.
Iras menghentikan mobilnya di depan sebuah rumah dengan pagarnya yang berwarna kelabu. Masih rumah tua yang tidak akan pernah direnovasi. Menurut penuturan ardan dulu, rumah ini adalah warisan dari kakek pihak ibunya. Diwariskan kepada ibunya sewaktu kakek ardan meninggal. Mungkin karena terlalu menyimpan banyak kenangan sehingga rumah ini tidak pernah direnovasi. Hanya sekedar diganti saja semua yang lapuk atau dinding – dinding berjamur yang dicat ulang.
Aku turun dari mobil dengan satu buah kado besar yang tadi siang sengaja aku beli dari gift store. Iras menyusul di belakangku. Pintu depan rumah terbuka. Hari yang menjelang malam, justru menghidupkan suasana sekitar rumah yang temaram oleh lampu taman. Menyinari semua jenis bunga yang terawat sempurna. Tidak mungkin pekerjaan ardan atau orang tuanya, mereka sudah lama tinggal di amerika.
“tok tok tok..” aku mengetuk pintu. Namun tak urung, kaki ku melenggang masuk ke dalam ruang tamu yang seisinya, bahkan pada ruangan – ruangan selanjutnya, selalu membuatku jatuh cinta, Thema shaby chic yang menghias seisi rumah. Mengingatkanku pada London di era victoria. Lembut dan menyiratkan sisi romantis dari dalam rumah.
“hai uncle inu and his husband..” ardan muncul sambil menggendong bayi bule di tangannya. Ia masih mengenakan kolor dan t-shirt lusuh. Tidak tampak, sebagai seorang CEO yang akan mempromosikan perusahaannya pada semua kepala negara di KAA.
“hai boys..” tanganku langsung tertuju pada bayi gempal di tangan ardan, ia mewarisi mata hitam bapaknya, namun rambut, kulit, hidung semuanya ia dapatkan dari gen jezz. Setelah ku letakan kado di tanganku ke atas meja ruang tamu, aku mengambil astro dari tangan ardan. “dia bisa ngomong basa sunda gak?”
“hahaha udah gue ajarin yang kasar – kasarnya, meungpeung indung na teu ngartien..” kata ardan, sambil menyinggung jezz yang belum keliatan dari tadi.
Iras muncul di pintu, ia dan ardan saling berjabat tangan sebelum akhirnya saling merangkul satu sama lain. “hai dan..” sapa iras.
“sehat lu bos..” tanya ardan “dari mukanya kayaknya makin sabar aja nih ngadepin torantula satu ini..”
Aku tidak mengubris perkataan ardan, aku sedang khusyuk selfie dengan kamera ponselku bersama astro yang duduk anteung di pangkuanku.
“bukan torantula, tapi patrick the staaar..” kata iras sambil duduk di sampingku.
Aku baru saja memposting foto selfieku dengan astro ke path, dengan mentag enam temanku yang lain.
“hai mr. Crub si penggila kerja, liatkan dia punya cakar kaya kepiting..” kataku menggoda astro sambil memperolok iras balik. Bayi berumur tujuh bulan itu anteng bermain di pangkuanku.
“acaranya gimana dan?” iras bertanya pada ardan, setelah ia barusan sempat menjawil pipi gempal astro.
“so far.. lancar – lancar aja sih, hari gini gak ada negara yang bakalan nolak investasi, dan keuntungan buat kita ya asia – afrika ini gaji tenaga – tenaga buruhnya lumayan murah, kan?” jelas ardan pada iras “perusahaan kalian? Gimana?”
“ngapain dipikirin? Ngapain lu gaji orang kalau lu harus campur tangan soal ginian doang?” aku ikut menyela. “jadi bos cemen banget sih...”
Tampang wajah ardan yang mendadak berubah, aku tahu kalau ia kesal. “setan lu nu ah..” ia kemudian tertawa. Diantara kami tidak ada yang namanya benar – benar ledakan untuk menjatuhkan. “ya sekalian balik aja sih, jezz sama astro kan belum tahu bandung...”
“eh iya mana jezz, kok gue gak liat?” semenjak kami tiba beberapa menit yang lalu, aku memang tidak melihat si pirang satu itu.
“jezzy, come here sweaty, youve get guests..” teriak ardan ke arah dalam rumahnya. “dia lagi nyiapin makan malam, lu berdua makan malam di sini ya..”
“kalau gitu jezz gak usah disuruh ke sini, biar dia masak yang enak aja..”
“sayaaang..” iras menggelengkan kepalanya, ketika mendengarku barusan. Aku mengedikan bahu kepadanya.
“hahaha otak lu ya nu isinya Cuma makanan doang..” ardan mengambil astro dari pangkuanku. Terdengar derap langkah kaki dari dalam rumah, jezz sepertinya.
Benar saja, seorang perempuan berambut pirang panjang yang diikat ke belakang dengan apron yang masih melekat di tubuhnya muncul di ruang tamu. Ia tersenyum ramah menyapa aku dan iras. “hi guys.. whats up?”
Ia duduk pada lengan kursi di sebelah ardan.
“horrible great” jawabku.
“anyway congratulation for yours seven years relation’s...” kata jezz lagi sambil membelalakan mata, sebuah ekspresi yang nyaris tidak percaya. “cant believe both of you can survive as long as that years..”
Iras mencium keningku, aku menatapnya sambil membalas senyum yang ia lengkungkan pada kedua bibirnya. Satu lagi orang yang rela memberikan penghargaan pada perjuangan kami berdua.
“thanks jezz..” jawab iras. “congrat for Astro and your home: family..” iras tahu sekali dari ceritaku kalau jezz adalah satu dari sedikit perempuan amerika yang mendambakan sebuah keluarga yang benar – benar keluarga, dengan sebuah landasan bernama pernikahan atas nama cinta. Itulah, mengapa ia dulu tidak menganggap lamaran ardan padanya, mungkin ia sudah terlalu sering bertemu lelaki macam ardan. Hingga membuatnya tak begitu percaya pada janji membahagiakannya. Tapi hari ini aku dan iras melihat rumah ini, keluarga ini, jauh sekali dari apa yang jezz bayangkan setahun yang lalu.
“yeah i know, i was wrong with him, but now i’m a lucky girl with a great husband and a little angel..” kata jezz, sambil memekikan suaranya di ujung kalimat. Sebuah tanda jika ia sangat bahagia berada di sini dengan ardan dan malaikatnya itu.
“i love you honey..” ardan menatap lembut perempuan di sampingnya, membuat pipi jezz bersemu merah mudah.
“i love you too..” balas jezz, dalam lima detik adegan penuh kemesraan itu terpampang di depan wajahku dan iras. Membuat iras mengeratkan pelukannya, aku pun menatapnya dengan penuh senyum. Aroma bahagia, menyebar keseisi ruangan dengan dinding yang dipenuhi warna – warna lembut ini.
“selesaikan masakanmu dan bawa astro tidur, ini sudah malam..” komando ardan berikutnya, jezz menurutinya. Ia mengambil alih astro dan kembali ke dalam rumah. Ardan kembali beralih padaku yang larut dalam dekapan iras, jujur saja ada iri melihat kehangatan yang dimiliki ardan dan keluarganya.
“lu bener – bener udah jadi laki-laki sekarang..” kataku. Tanpa sedikitpun melepaskan pelukan iras di tubuhku.
“hahaha..” ardan tertawa pelan. “bukan nu, inget obrolan kita di parkiran bar waktu di paris?”
Aku mengangguk, mengiyakannya.
“inilah titik merasa cukup itu, merasa lelah itu, sejauh apapun kita bertualang ya kita butuh seseorang yang kita jadikan rumah, buat gue ya jezz orangnya..”
“bahkan yang gemar bertualang sekalipun butuh tempat untuk pulang..” iras menimpali. Aku mengangguk, iras benar. Seorang seperti ardan yang dulu tidak pernah ku pikirkan akan menikah dan mempunyai sebuah komitmen, kini menjadi orang yang paling berbahagia dengan pernikahnnya. Pernikahan pertama astroboy.
“hehehe seharusnya gue gak sok retoris gini di depan sejoli yang paling tau apa itu pulang, dan menjadikan seseorang sebagai rumah bukan?”
“gue ngiri lagi sama rumah dan komitmen lu dan..” kataku memotongnya.
Ia menggeleng. “gue, juga anak – anak yang lain, belajar dari lu berdua kali..”
Ardan menutup pembicaraan kami, ketika jezz memberitahu kalau makan malam sudah siap. Kami bertiga berjalan menuju ruang makan dan melihat iga sapi bergeletakan di atas meja. Iga bakar dengan saus barbeque, tomat dan mayonaise, amerika sekali.
...
Selesai makan malam, aku menemani iras duduk di halaman belakang. Ia membakar dan menghisap sebatang rokok. Aku lagi – lagi dibuat kaget, ardan mulai berhenti merokok demi anaknya yang harus tumbuh sehat. Aku tahu jezz adalah perempuan amerika kebanyakan, dia juga pasti berhenti merokok demi anaknya. Anak yang sampai – sampai mendapat komen “si ardan bener – bener perbaikan keturunan” dari feddy di path.
“eh mama lu apa kabar nu? Kangen gue sama masakan atau kue – kue nya..” kata ardan membuka obrolan lagi.
“baik, dia lagi sibuk ngurus dua ponakan gue yang bandel – bandel..” aku duduk di pangkuan iras.
“satu lagi, dia lagi pusing mikirin anaknya yang gak kawin – kawin..” tambah iras, selepas kejadian tadi pagi aku memberitahunya kalau mama sempat menanyakan soal pernikahan padaku.
Aku tertawa mendengarnya, tentu saja untuk sekarang ini pernikahan masih tak jadi sesuatu yang ada di bagian paling atas dalam list kehidupan kami berdua.
“Tuhan memang selalu ngajarin kita banyak hal dalam setiap kejadian, tapi kalau lu berdua mau belajar dari kejadian yang gue alamin, jangan sampai buru – buru memutuskan sesuatu tanpa alasan yang bisa kalian terima..” ardan mulai memasang wajah serius “untuk pernikahan misalnya..”
Aku dan iras tidak langsung menanggapi perkataan ardan, aku membiarkan ia melanjutkan pembicaraannya dulu.
“gue tahu, salah satu alasan gue nikah adalah jezz sudah hamil dan kalau kalian mau nikah siapa diantara kalian yang mau hamilnya?” mata ardan menatap kami bergiliran. “nikmati masa – masa ini, masa – masa pacaran sebelum hidup membawa kalian pada hal yang lebih serius, aku mengenal jezz hanya beberapa minggu saja sebelum akhirnya ia mengandung astro dan hingga kini kami belum benar – benar bisa menghabiskan waktu hanya berdua, setiap kali mau jalan keluar rumah, ngabisin waktu buat pacaran yang belum sempat kita lakukan dulu, setiap beberapa meter kita selalu balik lagi, gak pernah bisa ninggalin astro sendirian di rumah..”
Aku menatap iras sebentar, ia tampak sedang berpikir. Mencerna baik – baik apa yang sedang ardan bicarakan.
“gue tahu, lu berdua tipe manusia yang seperti apa, lewat apapun caranya nanti, si inu pasti mendesak buat punya anak dengan gen kalian sendiri..” ardan meneguk orange jus di tangannya sebelum melanjutkan pembicaraannya lagi. “di luar dari itu semua, kehidupan setelah pernikahan memang akan berbeda dari masa sebelum kita melakukannya, dibutuhkan lebih dari sekedar dewasa untuk menjalaninya...”
“gue gak nikah – nikah apa karena gue belum siap ya dan sama semua yang udah lu sebutin tadi..”
“bisa jadi, tapi suatu hari nanti, saat hati lu bilang ini saatnya, maka lu akan nikah juga, mungkin dengan iras mungkin juga dengan orang lain..” iras agak mengeratkan pelukannya ketika mendengar hal itu. “ya tapi kalau dilihat, lu emang bakalan kawin sama iras, gue yakin..” kata ardan sambil tertawa lebar. Ia juga pasti melihat reaksi di wajah iras.
...
Kami sampai di rumah hampir tengah malam, lampu kamar mama sudah mati mungkin ia sudah tidur. Nhael dan lia juga sepertinya sudah lelap di kamarnya masing – masing. Kami berdua langsung masuk kamar dan mandi. Aku tidak mungkin bisa tidur jika tidak mandi.
Aku selesai mandi lebih dulu, iras memintaku membuatnya segelas susu hangat. Aku turun lagi ke dapur dan menghangatkan sebotol susu dari kulkas, meminum segelas susu hangat sebelum tidur selalu berhasil membuat tidur iras lebih nyenyak dan mengurangi kebiasaan mengoroknya. Aku pernah mengikuti kebiasaannya, namun setelah tiga hari aku menghentikanya. Ketika melihat timbangan, berat badanku naik satu kilo.
Ku tuangkan susu hangat dari panci ke dalam sebuah gelas. Kemudian membawanya kembali ke kamar.
“Inu..” suara nhael menghentikan langkahku ketika hendak menginjak anak tangga menuju kamarku, ia berdiri di depan pintu kamarnya dengan baju tidur yang bergambar ultraman sambil menggosok kelopak matanya. “aku gak bisa tidur, boleh ya tidurnya di kamar om inu..”
“ayo...”
Ia berjalan menghampirku, mengambil tanganku untuk ia genggam dan ikut berjalan menelusuri tangga menuju kamarku.
“itu susunya buat siapa?” tanya nhael di ujung anak tangga, melihat susu di tanganku.
“buat om iras..” kataku, aku menggiringnya masuk ke dalam kamar yang sudah temaram, iras rupanya sudah menggantinya dengan lampu tidur.
“aku boleh minta?” tanya nhael lagi, sambil naik ke tempat tidur.
Ku berikan gelas di tanganku kepadanya, aku membiarkannya merapikan dirinya sendiri di tempat tidur. Sementara itu ku kunci semua jendela dan menutupkan gordennya. Nhael meletakan gelas kosong di tangannya ke atas meja.
“loh kok susu om irasnya di abisin?” tanyaku, sambil duduk di sebelahnya.
“aku gak sengaja Inu, susunya masuk semuanya ke mulut ael..” aku tergelak mendengar jawabannya. Sambil ku usap ujung kepalanya, kemudian ku acak – acak rambutnya.
“nanti minta maaf ya sama om iras, karena susunya udah kamu abisin..”
Ia mengangguk lembut, iras masih di kamar mandi. Ia tentu tidak akan marah, jika tahu susunya dihabiskan nhael.
“om Inu, mau mendongeng buat aku?” tiba – tiba mata penuh rayuan dan rajukan itu mengajukan permintaan ajaibnya lagi. Ia malah menyandarkan kepalanya di lenganku, sambil memelukku. Benar – benar posisi yang siap mendengarkan sebuah dongeng.
“dongeng apa el?” beberapa kali memang aku sempat membacakan atau mengarang dongeng sebelum nhael tidur, cerita yang biasanya aku sadur dari cerita nabi atau dongeng – dongeng disney.
“apa saja, tapi jangan soal kancil, buaya, panda, atau nabi yang ditelan paus lagi..” ia mulai memanyunkan bibirnya.
Aku berpikir sejenak, aku kehabisan stok cerita. Sosok, kancil, buaya, panda, itu adalah tokoh – tokoh yang memang paling sering aku dongengkan. Dan protes nhael soal cerita nabi yunus jelas – jelas menunjukan kalau ia juga bosan dengan cerita nabi.
“emmm om inu pernah cerita soal anak harimau yang berani tidur sendirian?” aku mendapatkan sebuah ide.
Nhael tidak segera menjawab, ia berpikir sebentar. Kemudian menggelengkan kepala “belum, gimana ceritanya, kok dia berani tidur sendirian?”
“awalnya anak harimau juga tidak pernah berani tidur sendirian, selalu tidur dengan ayah ibunya”
“jadi gini..” nhael merapatkan tubuhnya, kepala kecilnya ia sandarkan di dadaku. “di sebuah savana yang luas bernama padang savana baluran di ujung jawa tinggallah satu keluarga harimau, ayah harimau, ibu harimau dan anak harimau mereka tinggal di dalam goa yang ditutupi oleh satu batang pohon yang rindang, pohon trembesi namanya. Mereka hidup bahagia, rumah yang nyaman, hutan yang menyediakan banyak makanan dan keluarga yang menyayangi satu sama lain juga seekor gagak yang biasa mengasuh anak mereka sampai suatu hari malapetaka itu datang”
Mata nhael mengarah kepadaku, ia benar – benar serius kali ini mendengarkan ceritaku. “hah? Malapetakan om? Malapetaka apa?”
“ael tahu, harimau itu hewan carnivora yang memakan apa?”
“daging kan?” jawab nhael, sambil meyakinkan dirinya sendiri. “terus malapetakanya apa om inu?” tanya dia lagi.
Aku mengangguk. “ya betul, tiba – tiba saja di hutan yang lebat itu tidak ada daging sama sekali” aku menatap mata nhael tajam, ingin meyakinkannya jika di hutan sudah tidak ada daging berarti itu merupakan sebuah masalah yang besar.
“pedagang daging di hutan emang pada kemana om?” pertanyaan lugu lagi muncul.
Aku membuang tawa dengan menahan nafas kemudian menghembuskannya. “di hutan tidak ada pedagang daging el, di hutan tidak ada pasar, ayah dan ibu harimau mendapatkan daging dengan berburu hewan yang lebih kecil, seperti kancil, rusa, kelinci, bahkan ayam hutan.. Nhael mengangguk – angguk dia mengerti.
“tapi masalahnya adalah, di hutan sudah tidak ada daging, itu artinya sudah tidak ada hewan yang bisa diburu, hanya tinggal mereka yang tersisa kecuali satu, seekor buaya besar yang tinggal di sungai tidak jauh dari rumah mereka dan gagak yang biasa mengasuh anak harimau juga menghilang. sementara itu, ayah dan ibu harimau tau kalau keluarga mereka harus makan, apalagi anak mereka yang sedang dalam masa pertumbuhan, anak – anak harus banyak makan bukan supaya bisa tumbuh besar?”
Kini nhael diam, ia mulai serius mendengarkan.
“dan masalah lainnya adalah, ayah dan ibu harimau tidak bisa pergi berburu sendirian, mereka berdua bisa jadi sepasang pemburu yang hebat jika mereka berburu berdua, mereka kebingungan tidak mungkin membawa anak mereka yang masih untuk berburu atau meninggalkannya di rumah sendirian. Ayah dan ibu harimau masih curiga pada buaya yang tinggal di sungai, soal menghilangnya banyak hewan dan gagak pengasuh.. sementara daging hanya terdapat di sebrang savana baluran yang luas, jika mereka berangkat sore hari, mereka pasti akan kembali pada tengah malam ke rumah”
“apakah gagak dimakan buaya om inu?” tanya nhael.
Aku menggeleng. “entahlah, ayah dan ibu harimau tidak pernah tahu apa yang terjadi pada gagak sebenarnya.. om inu boleh lanjut cerita?”
Nhael mengangguk.
“di tengah kebingungan itu, orang tua harimau sadar bahwa mereka harus bergegas, hari semakin siang dan mereka bertiga semakin kelaparan, akhirnya ibu harimau itu berbicara pada anaknya sambil memangkunya..” aku melingkarkan tangan di tubuh nhael sambil memeluknya lebih erat lagi.
“nak, apakah kamu lapar? Kamu ingin makan steak atau iga bakar lagi seperti kemarin malam?” nhael mengangguk – angguk, membayangkan seakan – akan ia anak harimaunya. “iya ibu, jawab anak harimaunya. Kemudian ibu harimau melanjutkan, tapi untuk mendapatkan daging kami harus berburu yang jauh, melintasi pada savana baluran, kau tahukan savana itu luasnya seperti apa? anak harimau mengangguk. Sore ini ibu dan ayah akan pergi berburu, dan pulangnya menjelang tengah malam atau kalau buruan kami ternyata lari agak jauh, kemungkinan kami akan pulang pagi. Itu artinya kau harus siap tidur sendiri di rumah..”
“Anak harimau menggeleng, selama ini ia tidak pernah tidur sendirian. Setidaknya ia selalu di temani si bibi gagak, tapi sekarang bibi gagak juga menghilang dari rumah. Kemudian ibu harimau melanjutkan, kamu itu anak yang kuat nak, kamu pasti akan berani tidur sendiri, tidak ada bahaya yang akan berani mendekatimu bahkan buaya yang tinggal di sungai. Rumah ini adalah rumah teraman di dunia, dinding gua ini terbuat dari tanah dan batu, unsur alam paling kuat di bumi. Dengan pintunya yang tertutup oleh beraneka jenis tanaman rambat, yang bisa dengan rapi menyembunyikan tubuhmu dari ancaman yang datang dari luar.. tapi jika ancaman itu semakin dekat dan kau merasa dinding batu ini tak cukup lagi melindungimu, naiklah ke batang paling tinggi dari pohon trembesi, kau yang telah bersahabat dengannya dari kecil pasti tahu ia akan jadi tameng paling kuat yang melindungimu ketika kau terancam bahaya, tidurlah di antara dahan-dahan dan daunya yang bisa kamu jadikan selimut malam ini, menggantikan bulu – bulu milik ibu. Kalau ada angin, anggap saja itu nyanyian nina bobo ibu yang biasa ibu nyanyikan sebelum kau tertidur... tapi jika matamu tak kunjung tertidur lihatlah ke langit, kau pasti akan menemukannya.. menemukan apa ibu? Tanya anak harimau penasaran, namun sang ibu tidak menjawab ia menyuruh anaknya menemukan sendiri jawabannya, dan anaknya pun mengangguk setuju. Selesai memberikan perintah apa yang harus dilakukan anaknya, ayah dan ibu harimaupun lekas pergi berburu. Meninggalkan anak harimau sendirian di rumah..”
Aku menarik dan menghembuskan nafas berkali – kali, mata nhael masih menatap ke arah wajahku. Ia masih menungguku melanjutkan bercerita.
“kemudian malampun tiba, dan sebentar lagi jam tidur juga tiba, anak harimau mendekat ke arah pintu yang terbuat dari tanaman rambat dan mengintip keadaan di luar, ternyata ia melihat sesuatu di sebrang halaman rumahnya, bahaya!”
Nhael agak kaget, ketika aku menyebutkan kata bahaya. “ada apa om inu?”
“ia melihat ujung ekor buaya melambai – lambai di atas pagar halaman rumahnya...”
“lari harimau lari..” tiba – tiba nhael ribut sendiri.
“anak harimaupun lari ke dalam rumah, ia ingat apa kata ibunya jika ada bahaya, ia keluar dari rumah lewat pintu belakang dan mulai naik ke atas pohon trembesi tapi..” aku menahan kata – kataku. “ternyata buaya melihat kalau anak harimau sedang berusaha naik ke pohon trembesi..”
“anak harimaunya bisa naik pohon kan om?”
“tentu saja, dia punya kuku yang tajam dan empat kaki yang panjang... ia mulai menapaki satu persatu dahan pohon trembesi dengan kukunya. Sementara buaya semakin mendekat, sedangkan dahan terkahir masih jauh, tapi anak harimau tidak pernah menyerah, ia terus naik tidak kenal putus asa, ia tahu meski masih kecil ia bisa, akhirnya anak harimau tiba di dahan terakhir yang nyaris menyentuh awan sedangkan buaya memutuskan menunggu di bawah, karena ia tidak bisa memanjat pohon. Malam semakin larut, anak harimau mulai mengantuk tapi ia tetap tidak bisa tidur. Pelan – pelan diingatnya lagi apa yang tadi sore diajarkan ibunya, ia mulai mendengarkan angin yang ia anggap sebagai nyanyian nina bobo ibunya, tapi ia gagal lagi, ia masih tidak bisa tidur meskipun ia mengantuk. Anak harimau ingat pesan ibunya yang terakhir, ia harus melihat ke atas, ke langit, ke sesuatu yang membuatnya penasaran sejak tadi sore. Akhirnya kepala harimau kecil melihat ke atas, ia menemukan ribuan benda seperti lampu yang suka dinyalakan ayahnya ketika malam di sekelilingnya. Ia ternyata melihat bintang – bintang. Bintang – bintang yang membentuk senyum dan wajah ayah dan ibunya, ayah dan ibunya yang dirindukannya yang membuatnya tidak bisa tidur. Anak harimau membalas senyum ayah dan ibunya yang dikirim lewat bintang – bintang... yang membuatnya tertidur pulas hingga pagi hari, hingga ayah dan ibunya pulang dengan buruannya yang banyak.. banyaaaak sekali, termasuk daging buaya...”
Tidak ada respon apa – apa, aku melihat nhael lagi. Ia sudah lelap di pangkuanku. “oh little monster..”
Ku ambil salah satu bantal, kemudian memindahkannya. “good night my tiger baby..” ku kecup pelan keningnya, ia melenguh sebentar sebelum kembali nyenyak di atas bental tebal itu.
Iras muncul dari pintu kamar mandi “sejak kapan dia masuk ke sini?”
“sejak tadi..” jawabku pelan, tidak ingin membangunkanya. Iras sudah mengganti pakaiannya dengan kaos dan celana boxernya. “bahkan inu sampai mendongeng satu cerita sampai selesai..” ku tarik selimut untuk menutup tubuh nhael “susunya diabisin nhael..”
Ia mengangguk sambil mendekat ke tempat tidur “tidak apa – apa nanti iras bikin lagi..” iras naik ke tempat tidur dan berbaring di sebelah nhael.
“inu pindahin nhael ke kamarnya dulu..” kataku. Ketika hendak mengambil tubuh nhael, aku tercenung pada sesuatu. Pada perkataan ardan tadi di rumahnya.
“are you okay Sugar?” tanya iras, ketika melihatku tiba – tiba berhenti dan malah menyelimuti tubuh nhael lagi dengan selimut kami.
“gak, gak ada apa – apa, Cuma inu kepikiran sesuatu aja..” aku membaringkan tubuhku di samping nhael sambil memperhatikannya, dari sini aku masih bisa melihat iras yang juga berbaring di sebrang ku.
“apa sayang?” tanyanya lembut.
“kita ternyata belum siap menikah, dari hal ini saja, kita ketahuan belum siap, kita bahkan belum rela berbagi tempat tidur dengan anak sekecil ini..” iras menyangga kepalanya dengan satu tangannya dan melihat ke arahku. Aku tersenyum kepadanya.
“memangnya kita akan nikah sekarang – sekarang yank?”
“enggak” jawabku cepat. “tapi mama, yang lainnya juga, mulai penasaran kapan kita akan mulai membicarakan serius tanggal itu..” aku mengingatkan. “tapi inu yakin, pernikahan tidak hanya soal itu, tidak juga karena sudah lamanya masa pacaran kita...”
“iras kaget, sayang mau dengerin omongan orang, biasanya juga gak pernah dengerin mama..”
Aku mengangguk menyetujuinya. Kami sudah sepakat soal pernikahan, dan itu bukan sebuah rencana yang harus kami lakukan dalam tahun – tahun ini.
“lagian, kalau kita nikah terus nyari ibu pengganti buat hamil, kemudian punya anak, nikah – bikin anak – nikah – bikin anak masalah populasi manusia gak bakalan berkurang sampai air laut gak asin lagi juga..”
Aku tertawa pelan mendengar jawaban iras.
“iya kan, kita nikah ya karena kita ingin nikah, bukan karena ingin orang lain mendapatkan jawaban ketika mereka bertanya kepada kita kapan nikah?”
Iras mengangguk setuju. “here give me a kiss..” aku mendekat kepadanya.
Ia menciumku di bibir, diselingi ucapan selamat malam darinya. Kami berdua jatuh tertidur, dengan tubuh nhael yang berbaring di antara peluk kami berdua. Peluk orang yang mencintaiku, karena dia mencintaiku, bukan karena ingin menikahiku atau sah secara hukum memilikiku. Dia mencintaiku.
...
Minggu, 19 April 2015
Pernikahan
Langganan:
Postingan (Atom)