Awal November menjadi hal yang menyenangkan
buatku, buat rumah, buat iras, buat jac dan hook, mereka sudah tambah besar
selama dua bulan ini. Aku dan iras mati
– matian melatih keduaanya agar semakin pintar dan tentu saja dapat diandalkan
menjaga rumah selama kami tidak ada. Hahaha sebuah eksploitasi terhadap hewan,
bukan?
Namun yang paling membuatku senang adalah,
iras seperti kembali menemukan dunianya.
Sejak dua mingggu yang lalu, setelah upaya akuisisi kami terhadap sebuah
perusahaan berhasil, akhirnya mulai pekan depan iras akan kembali ngantor. Harusnya aku juga ikut, namun kalian semua
tahu itu bukan duniaku.
Sejak awal dari rencana kepindahan kami ke
paris adalah untuk mengembalikan waktu kami berdua yang selama dua tahun lalu
terampok. Oleh pekerjaan iras, oleh
kuliahku, kemudian oleh pekerjaanku juga.
Sehingga menurut kami berdua ada baiknya jika selama dua tahun pertama
kami di paris, akan kami gunakan untuk beristirahat sebentar. Namun, aku sendiri tidak bisa, melihat iras
yang tampak kehilangan banyak hal setelah kami pindah.
Tentu kesibukannya selama ini telah menjadi
sesuatu yang mendarah daging di tubuhnya.
Ia tetap tunanganku yang hobi kerja, lobi di sana sini, memimpin rapat,
punya karir dan bisnis. Lalu aku hanya
bisa jadi penghambatnya saja? Sehingga ku munculkan sendiri ide untuk akuisisi,
agar iras bisa meraih kehidupannya lagi.
Aku tahu, ada ekspresi berbeda dari wajahnya
ketika ia mengetahui bahwa senin depan ia akan kembali ke kantor. Dan buatku
tidak ada yang lebih menyenangkan dari kebahagiaannya.
…
Aku duduk sendirian di depan perapian,
menunggu iras yang katanya sedang memasak sesuatu untukku. Aku cium aroma saus barbeque dan macaroni
dari dapur. Sekarang malam minggu dan udara di luar sangat dingin sekali. Sehingga kami tidak kemana – mana, lagipula
selama di paris, rumah adalah tempat favoritku, di banding restoran, café
pinggir jalan, bahkan mall di kota.
“libur musim dingin kita mau kemana?” kata
iras sambil duduk di sebelahku, ia menyendoki macaroni di piringnya, kemudian
menyuapiku makan.
“lah emang kita ada rencana liburan?” tanyaku
balik pada iras.
“kayaknya kapal layar kita, sayang kalau
dianggurin…”
“emang iras ada rencana kemana?”
Iras tampak berpikir, namun kemudian ia
seperti mempertimbangkan sesuatu.
“ke New York yuk…” ia menyodorkan satu sendok
berikutnya.
“pake kapal layar? Becandanya kebagusan
sayang…” aku menyuruh iras menyuapi dirinya sendiri dulu. Kalau dibandingkan, aku lima suap dia paling
baru makan dua suap.
“ya udah kita pakai pesawat aja..”
“kenapa gak ke Alexandria aja, atau ke
Gibraltar…”
“enggak dulu, mau musim dingin laut lagi
bahaya…”
“bukannya tadi yang ngusulin pake kapal layar
tuh iras ya…” aku menatapnya, ada sesuatu tersimpan dalam pandangan matanya.
Aku tahu, ada yang ia ingin ia bicarakan namun segan. “ada yang mau iras
obrolin?”
Iras tidak segera menjawab, ia malah sibuk
mengaduk – aduk piring berisi macaroni di tangannya.
“mengenai bisnis kita..” ku rasakan sesuatu
masih sangat berat untuk dikatakan di dalam obrolan iras. “tidak bisa kalau
dijalankan di paris saja, kita harus pindah, kita tidak bisa di sini saja..”
“bukannya ini baru permulaan? Bisnis kita baru
akan kita mulai minggu depan..”
Iras mengangguk – angguk ragu.
“kalau bisnis ini berjalan dimulai dari
amerika, pasti di paris juga jalan, tapi kalau kita jalankan di paris, sulit
nantinya untuk menembus pasar amerika, bahkan global…”
Aku menarik nafas. Kami baru beberapa bulan saja di sini,
beberapa hal sudah terjadi di luar rencana dan aku tidak ingin menambah
daftarnya lagi.
“kuliah kita baru mulai ras..”
“kuliah kita tinggal empat bulan lagi, setelah
itu kita bahkan tidak perlu ke kampus dan bisa menyelesaikan thesis kita di
mana saja..”
“inu benci perkotaan…”
“iya, tapi di new york kita tetap bisa
menikah…”
“selain itu, sebut alasan lain kenapa kita
bisa pindah ke new york..”
“bisnis kita, mimpi kamu sayang ku…” iras
mengelus ujung kepalaku lembut “soal pembuktikan kita terhadap keluarga?
Terhadap orang – orang yang meragukan takdir mu sebagai orang berhasil, remember?”
“its too fast and kita melanggar aturan yang
kita buat sendiri…” aku menatap matanya yang sedikit ketakutan “kita baru saja
memulai hidup baru kita di paris, jangan mengacaukannya..”
“kita tidak mengacaukannya sayangku, kita baru
saja menambah satu langkah lagi dalam proses kita menuju sukses…”
Aku membuang nafas. Kemudian tangan iras menyodorkan lagi sendok
berisi macaroninya.
“kapan waktu paling lambat kita harus pindah?”
aku tidak ingin bilang bahwa aku bisa baik – baik saja, kalau ia di new york dan
aku tetap di paris hanya karena aku menginginkan kehidupan paris. Itu merupakan hal bagus sebagai bibit yang
bisa menumbuhkan perpecahan.
“secepatnya…” jawab iras singkat.
“I can’t… banyak hal di paris yang masih layak
kita nikmati..”
“ya tapi kamu sendiri tahu bagaimana jadinya
kalau perusahaan tanpa kita berdua, okey iras bisa menjalankan, tapi kebijakan,
pengambilan keputusan yang tepat, ahli strategi, itu semua Cuma kamu yang
punya, dan iras selalu butuh itu…”
“itu bukan bujukan yang bagus…”
“iras sedang membicarakan kamu, bukan membujuk
kamu sayangku…”
Aku menarik pantatku, dan membetulkan posisi
dudukku. Sambil memandangi orang di sebelahku, dalam beberapa hal ia memang
tidak cukup sabaran. Meskipun pantang
bagiku untuk mengecewakannya.
“apakah paris, kehidupan yang sudah kita
rencanakan dengan baik selama ini? Waktu yang terus tercuri, ketika kita bisa
memulai hidup dengan tenang di sini, apa itu semua tidak cukup menarik buat
iras? Inu sama sekali tidak melarang iras kembali ngantor, tidak sama sekali. Tapi tolong temani inu selama beberapa waktu
di paris, sampai rencana kita selesai.
Ingatkah, betapa banyak hal sudah merenggut kamu dari inu selama ini?”
“maafkan iras sayang, kalau tiba – tiba
rencana ini muncul begitu saja kali ini… tapi bisnis kita butuh tangan kita..”
“cari orang ras, kamu bisa membayar orang
untuk diam di new york selama dua tahun, kamu bisa mencari orang yang kamu
percaya untuk melakukan itu semua….”
“tidak baik sayang, memulai sebuah rencana
besar dengan menitipkannya kepada orang lain..”
“bukan orang lain, tapi orang yang kamu
percaya..”
“tidak ada orang yang iras percaya..”
Meyakinkan iras, adalah sebuah pekerjaan
sulit. Ia terlalu mempertimbangkan
segala sesuatunya dengan baik.
“kalau sama orang yang inu percaya, kamu juga
akan percaya?”
Iras mengalihkan tatapannya. Kemudian ia menatap sebentar ke arahku. Namun matanya jatuh ke piring, mengiringi
tangannya yang menyendoki beberapa macaroni terakhir yang bercampur dengan saus
barbequenya.
“jangan membuat pilihan sulit…”
“sayang, yang sedang membuat pilihan sulit,
iras tahu sendiri, paris adalah kota yang benar – benar inu inginkan selama
ini, dan new york mungkin impian iras sejak lama, dan kita berdua ingin tetap
sama – sama dimanapun kita berada, lalu tidak mungkin juga kalau setiap awal
minggu kita di new york dan pulang kemari setiap akhir pekan, tidak mungkin
ras, kehidupan seperti itu selama ada di sukabumi dan Jakarta sudah membuat inu
pusing…”
Iras agak kaget dengan nada suaraku yang agak
meninggi. Ia meletakan piring yang sudah kosong di atas meja. Kemudian tangannya mengusap lembut wajahku.
“maaf, maafkan iras, iras hanya agak sedikit
bersemangat dengan rencana ini tanpa ingat bahwa kita memiliki rencana yang
sudah sangat penting, baiklah, kita akan di paris sampai musim gugur tahun
depan, kemudian kita pindah ke new york…”
“rencana keliling eropanya kapan?”
“emhhh…” iras mengangguk – angguk ia seperti
mempertimbangkan “bukankah kuliah kita bisa selesai enam bulan ini? Enam bulan
berikutnya kita bisa keliling eropa sebelum pindah ke new york…”
Aku menjatuhkan kepalaku di pundakknya. Iras
memijit keningku.
“perjalanan kita semakin jauh dari arah
pulang, bukan?”
Iras tidak menjawab.
“maafkan kalau iras membawa kamu sampai sejauh
ini…”
“tidak, kehidupan yang sedang membawa kita
jalan – jalan, yang inu syukuri adalah, melewatkannya berdua dengan kamu…”
“semoga sayang, semenjak mengenal kamu iras
Cuma tahu hidup hanya untuk satu hal. Membahagiakan kamu. Kalau sekarang iras
meraih segalanya, mendapatkan uang semudah mengedipkan mata, namun jika kamu
tidak bahagia, apa gunanya hidup iras? Iras diberi nyawa hanya untuk hal itu…”
“itu kelemahan kamu ras, menjadikan inu
sebagai pusat hidup iras, padahal iras sendiri punya mimpi, punya teman, punya
keluarga…” ku genggam kuat tangan iras “kamu punya kehidupan sendiri, banyak
hal yang layak kamu dapatkan, tidak melulu soal inu, tapi rencana kamu kali ini
begitu tiba – tiba…”
“maaf sayang, kalau sayang direpotkan dengan
hal itu, maafkan kali ini iras tidak bisa berpikir dari sudut sayang, jadinya
iras egois dan mengusulkan untuk pindah ke new york begitu saja, padahal hidup
kita berdua di sini..”
“bukan itu ras, inu sedang merasa bersalah sendiri, karena sikap inu
pada iras kali ini, inu yang tidak bisa mewujudkan mimpi iras, padahal iras
sendiri sedang berusaha membuat inu untuk tidak marah, iras selalu mengalah
dalam setiap diskusi kita, setiap rencana kita, iras terlalu mementingkan inu…
sementara hidup iras sendiri…”
“hidup iras itu inu..” potong iras cepat,
bahkan ia rada menyentak membuat perkataanku berhenti seketika “semua hal dalam
hidup iras adalah tentang inu, kalau inu Tanya tentang mimpi iras, tentang
siapa teman iras, siapa keluarga iras, semua jawabannya selalu kamu, berakhir
di kamu, sayangku… kamu mimpi yang terwujud, kamu teman hidup yang sudah iras
pilih, kamu keluarga iras tentunya, kamu tunanganku… tidak usah tanyakan soal
itu lagi, dan soal pindah ke new york, obrolan kita cukup sampai di sini, iras
tidak suka membuat kamu beragumen macam – macam dan kita terlibat dalam sebuah
perdebatan…”
Aku diam.
Tidak dapat bicara apa – apa lagi. Aku memeluk iras. Ia menciumku. Ku pejamkan mata, sedang
meresapi hadiah yang tuhan berikan untukku.
Memiliki seseorang seperti iras.
Aku memeluknya semakin kuat, kehilangannya sedetik saja itu berarti
kerugian besar. Iras sudah benar – benar
melakukan segala hal untukku. Bahkan untuk mendengar aku bahagia saja, ia rela
kehilangan segala hal dalam hidupnya.
…
Hari ini di kampus, aku bertemu dengan
beberapa orang yang sedang sibuk dengan urusan mereka dengan UNESCO dan
WHO. Mereka terlibat diskusi soal anak –
anak yang kelaparan dan kesehatan wanita. Tiga orang dari kelasku ikut
terlibat, mereka yang biasanya duduknya tidak jauh dariku.
Lucyana, Danish dan Thomas. Yang lainnya aku belum tahu dan belum
kenalan, hanya saja orang dari UNESCO ku ketahui namanya Leo dan dari WHO
Silvia.
“Nu.. kalau boleh tahu bagaimana kondisi anak
– anak kelaparan di Negara kamu…” Tanya leo dalam bahasa inggris amerika yang
ku kenali dari aksennya.
“aku pikir negaraku bukan salah satu Negara
dengan permasalahan tersebut kami Negara agraris dan hampir setiap tanah di
sana bisa ditanami, yang bisa membuat setiap keluarga berkebun…”
“tapi setiap tahun angka kematian anak karena
kekurangan gizi, marasmus bahkan kwashiorkor terus meningkat di Negara nasi
itu..” tambah leo lagi.
“itu tidak menunjukan satupun bahwa anak –
anak di Negara kami kelaparan, masalah pemberian gizi dan nutrisi yang baik itu
terkait dengan pengetahuannya, bukan dengan ketidaktersediaannya pangan di
Negara kami…”
“masalahnya pendidikan? Tapi Negara kalian
masih memberlakukan Ujian Nasional bukan? Kenapa pendidikan masih jadi
masalah?”
“apa? Ujian nasional?” Danish yang dari
Finlandia terdengar kaget mendengar ujian nasional di Negara ku “Negara kami
yang memiliki predikat pendidikan terbaik di dunia saja sudah tidak ada ujian
nasional? Aku pikir Negara kamu sudah selevel jepang dengan ujian negaranya…”
Aku tersenyum menanggapi perkataan Danish.
Kemudian beberapa dari mereka terlibat dalam diskusi panjang lagi, namun aku
jadi enggan terlibat, walau tetap memperhatikan. Dalam beberapa menit lagi iras akan
menjemputku..
“nu, aku tertarik dengan cerita kamu dan
iras…” tiba – tiba kata lucy. “aku sering melihat kalian berdua makan malam di
restoran di paris, kalian berbincang, kalian saling bertatapan, menyuapi makan,
kalian benar – benar pasangan yang sangat dimabuk cinta…”
“kau bukan orang pertama yang seperti itu,
Lu…” kataku sambil bercanda. Di paris aku dan iras malah semakin tidak bisa
untuk tidak menunjukan kemesraan, bagaimana tepat waktunya ia menjemputku,
menggandeng tanganku, membawa semua barang – barangku.
“tidak, aku sungguh – sungguh tertarik,
bagaimana mungkin orang – orang di Negara kamu sangat terbuka dengan hal itu, apakah
keluarga kalian sudah mengetahuinya..” Lu semakin duduk mendekat, aku tahu, hal
seperti ini selalu dipertanyakan, mereka tahu kepanatikan umat beragam di
Negara asal kami.
“enam tahun tentu bukan waktu yang singkat,
keluarga kami sudah menerima dengan baik dan mendukung apapun yang kami berdua
lakukan, bahkan mereka sudah saling mengenal juga sangat dekat seperti aku dan
iras…”
“wow, aku cukup terkejut dengan itu,
seandainya aku lahir di keluarga kamu…”
Aku tersenyum, ada kisah yang berusaha lucy
bagi. Namun aku tidak pernah mau
mencampuri urusan orang lain, lucy menceritakan kisahnya dengan Andrea, mereka
sama – sama orang prancis. Bagaimana mereka bertemu dan menjalin asmara selama
setahun ini, aku memberikan masukan dan bertukar pandangan dengannya. Sampai aku menceritakan bahwa aku dan iras
sudah tunangan.
“apakah kalian sudah merencanakan pernikahan
dan memiliki anak?”
“tentu lu…” aku mengangguk cepat menanggapi
lucy “ku pikir dua hal itu puncak dari impian setiap pasangan, walau kami masih
belum tahu bagaimana kami akan menemukan perempuan yang rela menjadi ibu bagi
anak – anak kami…”
“ya sama, aku dan andrea, ketika kami
membicarakan pernikahan dan memiliki keturunan, kami juga tidak tahu siapa pria
yang mau mendonorkan milik mereka untuk melakukan inseminasi buatan…”
Aku menangkap sesuatu yang tersirat dalam
pembicaraan lucy. Kemudian pikiranku
menerawang jauh ke luar dari jendela gedung menuju gedung – gedung tempat
perkuliahan lainnya.
Kemudian ku lihat ke arah pintu, iras berdiri
di sana sambil melambaikan tangannya. Aku berpamitan pada forum yang ada, lalu
bergegas keluar ruangan. Ku peluk iras yang berdiri menunggu di depan pintu.
“home?” kata iras.
Aku mengangguk, tangan iras memegang tanganku
kuat. Kami berjalan menelusuri lorong tinggi
yang ramai juga. Iras berjalan agak
cepat sehingga membuatku terseok – seok.
“kamu jalan terlalu cepat, memangnya kita mau
kemana? Kita tidak sedang hampir ketinggalan pesawat bukan?”
Kepala iras berputar, kemudian ia
melengkungkan senyum ke arahku. Ia akhirnya melambatkan langkah kakinya malah
berusaha untuk berjalan di sampingku.
“iras lupa, kalau tempat terbaik berada di
samping kamu…” ia memperbaiki genggaman tangannya. Kemudian menuntunku lagi.
Senyumku di sampingnya menerobos beberapa tubuh yang sebagian lebih tinggi dari
kami.
Juga beberapa yang memperhatikan bagaimana
mesranya tangan kami berdua bergelayutan berpegangan tidak mau lepas.
“ras, apakah kita sudah siap untuk menikah dan
memiliki anak?” tanyaku pada iras.
Iras menghentikan langkahnya sambil menatapku,
ku lihat ia menahan nafas namun menelan ludahnya berkali – kali. Aku tidak lepas menatap matanya.
“berapa? Sepuluh? Sebelas?”
Kami berdua kemudian tertawa lepas.
…
Beberapa hari ini, iras tidak hentinya
membicarakan rencana bagaimana kami akan memiliki anak, membesarkannya,
memberikan pendidikan yang layak, bahkan kalau diperlukan ia ingin dari
sekarang memesan kursi di Harvard atau oxford untuk kuliah anak kami nanti.
Memang bukan iras kalau tidak begitu, matanya
terus memancarkan keantusiasan ia akan memiliki teman untuk memancing ikan di
danaunya keluarga florian, bagaimana nanti anak – anak kami akan berlarian di
garasi ketika kami mencuci atau memperbaiki mesin mobil, atau mengajari mereka
main basket ataupun sepakbola.
“sini mantel sama syalnya iras benerin..”
tangan iras hendak membetulkan letak mantelku, padahal aku sendiri bermaksud
ingin membukanya.
“di dalam sini sudah hangat ras, inu malah
pengen buka mantelnya…” mendengar itu dengan cekatan ia membantuku melepaskan
mantel dan syal di tubuhku, kemudian ia melipatnya dengan rapi.
Kami berdua berada di dalam pesawat yang akan
membawa kami ke new york. Kami harus
hadir di dalam acara peluncuran saham IPO perusahaan kami di wall street. Hanya
beberapa hari di sana, kami tidak berharap banyak, walaupun perusahaan yang baru
kami rintis berdua ini nantinya tidak berhasil, setidaknya kami sudah mencoba
dan gagal itu hanya sebuah resiko.
Iras tidak pernah membicarkan lagi soal
kepindahan kami ke new york, aku tahu ia sangat tidak ingin memiliki perbedaan
pendapat denganku. Ia selalu menjadi penjaga perasaan yang baik.
Aku tidak pernah menyangka bahwa hidup
bergulir secepat ini, bahkan pertemuan yang melibatkan aku beberapa hari yang
lalu, akhirnya sepakat untuk membuat sebuah yayasan, yang bergerak di bidang
kemanusiaan. Terutama anak dan wanita.
Yang berkumpul hari itu semuanya menjadi
pengurus, karena beberapa dari yang hadir merupakan pengusaha juga akhirnya
beberapa dari kami menjadi pemberi dana. Termasuk aku, lalu siapapun yang
memberikan dana berhak memberikan suaranya untuk menggunakan uangnya dalam hal
apa.
Lalu salah seorang pengurus mengajukan soal
kebebasan kamu homoseksual, lesbian dan transgender. Aku dan Thomas langsung
mengajukan keberatan. Kalau aku karena berkaitan dengan prinsipku dari dulu,
bahwa sama sepertiku dan iras, kami memperjuangkan hak kami sendiri, yang ku
rasa itu tidak memerlukan uang sama sekali. Bukan karena aku tidak ingin
membantu mereka, namun berdiri di sanapun tidak bisa memaksakan setiap orang di
seluruh dunia dengan tangan terbuka menerimanya.
Kalau Thomas, karena ternyata ia merupakan
bagian dari kaum radikal prancis yang memang dari awal menentang kongres
menyetujui undang – undang pernikahan sejenis.
Namun ternyata kami berdua menemukan sebuah kesepakatan, bahwa meskipun
yayasan yang kami dirikan tidak memberikan dukungan sama sekali bagi kaum
homoseksual, namun kami memperbolehkan mereka untuk bergabung atau menjadi
pengurus dalam yayasan ini.
Aku menginginkan uangku, bisa berguna untuk
anak – anak di pesisir pulau jawa, anak – anak di nusa tenggara, sekolah –
sekolah rimba di pedalaman Kalimantan dan papua, namun tidak untuk rehabilitasi
anak jalanan. Mereka sepakat dan
akhirnya mau pada awal tahun depan terbang ke Indonesia. Uangku mungkin tidak
seberapa namun aku ingin anak – anak di sana, bisa sekolah, bisa panjang umur
dan tahu bule itu makhluk apa. Mengingat yang akan bekerja dan masuk ke
pedalaman adalah mahasiswa – mahasiswa kedokteran sorbone. Ketika ku kemukakan
gagasan ini pada iras ia hanya tertawa lebar.
Di kedalaman, sebenarnya aku ingin sekali aku
yang turun langsung ke sana, menyambangi setiap rumah, setiap anak – anak yang
kesakitan, remaja – remaja yang masih tidak bisa menulis dan membaca,
mengenalkan pada mereka apa itu googel, apa itu pubertas dan berbagai hal
lainnya dari dunia yang seharusnya sudah sangat biasa mereka gunakan.
Lalu apa yang sedang ku jalani sekarang
membuatku sadar. Membuatku berdoa banyak
sekali, semoga apapun yang ku lakukan, pemberianku yang tidak seberapa bisa
bermanfaat bagi mereka semua. Lalu, tidak hanya di Indonesia, di setiap Negara
yang dikunjungi oleh yayasan kami, akan banyak anak dan wanita yang bisa
diselamatkan.
Aku menatap iras di sebelahku, ia yang sangat
antusias dengan perjalanan kami ini.
Dengan langkah awal kami pada bisnis baru yang kami berdua tekuni. Bahkan ia sudah siap dengan pidatonya di
bursa saham minggu depan. Beberapa
minggu ini aku masih belum bisa melupakan apa yang ditulis rere di blog kami,
diam – diam, jika iras sudah pergi tidur aku menyelinap membaca sendirian
tulisan rere tersebut.
“Ras, seandainya kita gak sama – sama lagi,
seandainya waktu itu iras gak balik ke sukabumi sedang ada dimana ya kira –
kira kita sekarang…” aku memegang tangan iras, tatap matanya membuka lebar
mendengarkanku berbicara.
“apakah kita akan benar – benar membahas hal
ini?”
Aku mengangguk.
“mungkin saat ini, bisa saja inu lagi sibuk –
sibuknya pemotretan atau bahkan shooting film baru..” tampak air muka becanda.
Aku menanggapinya dengan tersenyum.
“atau bisa jadi inu sudah karatan di rumah
sakit, mengurus banyak pasien dan…” ku tahan kata – kata ku sebentar “patah
hati..” aku terus menatap mata iras, mata yang selalu membuatku percaya sekali
lagi pada kehidupan, ketika ia datang kembali. “iras kira – kira akan seperti
apa, kalau seandainya kita gak sama – sama lagi dari waktu itu…”
Iras menarik nafas sebentar.
“kalau saja mama waktu itu tidak datang
berkunjung, kalau saja rere atau yang lain tidak memberikan dukungan lagi,
nyaris, sebelum mama datang, rencana lompat dari jendela apartemenpun hampir
akan iras lakukan…” kini tatapan matanya berubah sungguh – sungguh, bahwa yang
kali ini ia katakana bukan sesuatu yang hanya untuk membesarkan hatiku saja
“karena waktu itu rasanya sangat sulit hidup tanpa inu, bukan, bukan karena inu
sudah jadi milik orang lain, melainkan iras yang tidak bisa memaafkan diri
sendiri karena sudah gagal menjaga janji untuk membahagiakan inu..”
“kenapa iras harus mikir seperti itu?” ini
bagian yang ternyata tidak aku fahami selama ini, karena aku sudah merasa amat
senang dengan iras begitu memberikan seluruh hidupnya untukku. Bahkan ia sudah
tidak pernah memperdulikan kebahagiaannya lagi.
Aku masih tidak menerima cukup alasan darinya. “padahal waktu itu, kita
sudah dua orang yang berlainan dan sudah sangat berjauhan…”
“kalau saja bisa iras jawab, iras sudah
membicarakan itu semua pada inu, inu harus terima satu kenyataan bahwa orang
paling brengsek seperti iras bisa beruntung dicintai orang seperti inu…”
“nah itu dia, apa yang membuat iras merasa
beruntung? Apa yang membedakan inu dari orang lain? Apakah sebegitu inginnya
iras memiliki inu?”
“iras tidak sepicik dan sedangkal itu sayang,
menjadikan kamu sebagai sesuatu yang diinginkan, kamu lebih dari itu, kamu
hidup iras…”
Aku diam.
Iras tidak memberikan jawaban yang aku inginkan. Ketika begitu banyak orang yang tidak
menyukaiku, semua hal sifat jelek yang ku miliki tidakkah membuat iras membuat keputusan
untuk berhenti dan memikirkan lagi kenapa harus aku, orang yang dicintainya.
“kalau saja urusan mencintai itu ada
alasannya, berarti itu tidak lebih dengan kenapa kita makan karena kita harus
kenyang, kenapa kita tidur karena kita harus beristirahat…”
“oke begini..” aku memutuskan pembicaraan iras
“apa yang membuat iras merasa tertarik begitu melihat inu pertamakali., waktu
pertamakali inu masuk SMA, atau sebelumnya..”
Iras menatapku beberapa saat, aku memperkuat
genggaman tanganku, meyakinkannya bahwa aku akan baik – baik saja dengan
alasannya yang paling buruk sekalipun.
“baiklah, kalau setiap orang di sekolah
ditanya kenapa suka sama inu ketika pertama kali melihat inu, you’re really
handsome my love..” aku agak menjauhkan kepalaku dan tubuhku bergerak, bereaksi
atas apa yang ia katakana “dengarkan, jangan dulu ngambek, bukankah itu sesuatu
yang wajar sayang? Itu pandangan pertama kita, pandangan pertama iras tepatnya,
karena ketika kejadian di ruang osis, yang kamu dengan congkaknya malah
nangtangin iras, iras juga hampir merasa muak dengan sikap kamu…”
“muak, bukan hampir…” aku mengkoreksi
“okelah, apapun itu, namun setelah itu,
setelah iras melihat kemampuan basket kamu, kemampuan kamu untuk selalu
memenangkan argument, dan bahkan ketika mengetahui hasil psikotest kamu dengan
IQ 165, iras pikir kamu seksi, orang pintar itu seksi…” iras tampak belum
berhenti bercerita “namun, setelah mengenal kamu lebih dekat, mengetahui lebih
banyak soal kamu, perasaan iras di awal ternyata hanya sekedar kekaguman
belaka, kekaguman yang berubah menjadi keinginan memiliki, dan berubah lagi
menjadi sesuatu yang tidak bisa iras lepaskan, kamu hidup dan mati iras,
bagaimana mungkin iras bisa tetap melanjutkan hidup tanpa ada kamu di hidup
iras…”
“wow inu tidak menyangka bahwa kamu bisa
sejatuh cinta itu…” aku berusaha menggodanya.
“makanya iras selalu merasa geram pada orang –
orang yang deketin kamu sama seperti dengan alasan iras yang pertama, betapa
mereka belum tahu banyak soal kamu…”
Pramugari dan kru pesawat yang lainnya mulai
memberikan arahan kepada kami, tentang pentingnya menjaga keselamatan dan
berbagai cara juga perlengkapan keselamatan di sekitar kami. iras membantuku mengenakan sabuk pengaman.
“kalau boleh inu tahu, dimana letak paling
penting yang iras rasakan ketika mencintai inu, siapa tahu dengan inu
mengetahui itu juga inu bisa membantu iras…”
Iras tampak berpikir beberapa saat sebelum ia
melanjutkan perkataannya.
“mendapat kepercayaan mama untuk menjaga inu,
iras pikir itu penting buat iras, iras tau banyak yang datang ke rumah, ke
hidup inu, tapi menjadi satu – satunya yang disayangi mama, yang mendapatkan
kunjungannya bahkan ketika kita hanya berstatus sebagai mantan, benar – benar
membuat iras merasa penting, baik itu mama ataupun keluarga inu, kita sama –
sama tahu kan bagaimana sulitnya menaklukan apih, amih bahkan yang lain…”
Pesawat mulai melaju mungkin hendak tinggal
landas, mataku masih melekat memperhatikan iras. Mendengarkan kata – katanya dengan seksama,
alasannya satu – satu yang muncul ke permukaan kali ini.
“bahkan sejatinya, menaklukan mereka tidak
lebih sulit dari menaklukan inu sendiri, ketika hampir satu bulan iras di
sukabumi, mencoba memperbaiki keadaan, namun kamu acuhkan, ketika dengan
tegasnya kamu mengusir iras dari sukabumi dan menyuruh untuk segera berangkat
ke amerika, untung saja iras waktu itu tidak ingin menuruti kamu, sampai kamu
datang sendiri ke showroom mencari iras, walau iras tidak menyangka bahwa kamu
akan ke showroom waktu itu, padahal iras hanya mencari waktu yang tepat sebelum
melancarkan serangan berikutnya, untuk merebut hati kamu lagi…”
“kamu menyebutnya seakan itu perang padahal
kamu tahu sendiri bahwa inu paling tidak bisa kalau gak ada kamu…”
“inu nggak bilang soal itu waktu itu, waktu
tujuh bulan yang memisahkan kita setidaknya membuat iras melupakan banyak hal,
salah satunya bahwa satu – satunya tempat yang paling tepat buat iras di dunia
ini adalah di samping kamu…”
Pesawat sudah kembali ke keadaan datar,
tanganku dan iras masih terus berpegangan.
“apakah yang inu lakukan selama ini, sudah
cukup buat iras?” mengingat aku rasanya belum sempat memberikan kebahagiaan
yang benar benar buatnya. Kebanyakan
selama ini adalah soal kebahagiaanku, soal aku. Padahal aku sangat tidak ingin
hubungan kami berdua hanya ia perjuangkan sendirian.
“kepindahan kita ke paris, pertunangan kita,
lamaran kamu, dukungan kamu untuk bisnis baru kita, kamu yang sudah mulai
dewasa, yang mulai tidak mau membuat iras khawatir…”
“apakah inu banyak berubah? Apakah kamu tidak
menyukainya?”
“ini bukan soal iras suka atau tidak, semuanya
sudah membuat iras terbiasa, kamu berubah semakin lebih baik, semoga itu karena
ada iras..”
“tentu…” jawabku lirih “tentu saja, semua ini
karena kamu…” diam – diam aku menyimpan kepalaku di pundak iras, tangannya
mengelus permukaan wajahku. Bahkan ia berbalik dan menciumnya.
Aku membayangkan bentangan masa depan yang
luas, yang di sana ku lihat hanya ada iras dan aku. Hanya ada tangannya yang selalu menuntunku.
Yang memperlambat jalannya ketika aku berjalan sangat lambat dan menunggui
langkah – langkahku, ketika kaki ku tidak sanggup mengejarnya.
Ia yang setia, yang menyimpan cintanya tanpa
satupun alasan.