Aku melangkah pelan – pelan keluar dari kamar, tak ingin derap kaki ku menimbulkan suara ribut dan membangunkan iras yang masih tertidur. Pukul lima sore lewat, rumah dalam keadaan sepi. Mama dan dua keponakanku sedang jalan – jalan dengan mama, entah kemana. Mama pamitan ketika aku masih berusaha sadar dari tidur siangku.
Kami, aku dan iras. Sudah berada di bandung sejak hari jumat lalu, pekerjaan di kantor yang selalu aku ingatkan pada iras agar selalu selesai di hari kamis, mau ia terima dengan baik. Sehingga hari jumaat pagi kami sudah bisa pulang ke bandung. Sering juga kami pulang di kamis petang, memburu udara malam dan lampu – lampu jalan di bandung yang akan tampak berbeda ketika malam datang.
Sepanjang hari sabtu, thanael dan thalia yang sekolahnya sudah libur meminta jatah ditemani jalan – jalan. Untungnya iras tak pernah keberatan soal akhir pekan yang dihabiskan untuk ‘ngasuh’ dua anak kakak perempuanku itu. Malahan sepertinya ia mulai ketagihan untuk mengajak mereka makan di luar, nonton, bahkan nongkrong di kafe donat dengan kami berdua.
Seharian kami habiskan waktu di taman bermain, aku tidak cukup faham bagaimana mungkin anak kelas dua SD itu mampu menaiki semua wahana untuk orang dewasa. Tidak ada takutnya sama sekali. Bahkan ketika di bioskop aku tawari menonton film Home, keduanya setuju untuk menonton film Furious 7. Iras hanya geleng – geleng menanggapinya.
jam sepuluh malam lewat, kami baru sampai di rumah. Setelah mama hampir saja menelpon polisi, karena tak ada satupun dari kami yang bisa dihubungi. Aku dan iras sama – sama kena marah, sewaktu menggendong dua segala biang kekacauan di rumah itu yang ketiduran dari dalam mobil.
Tadi pagi, dua telapak tangan kecil itu menggedor pintu kamar. Aku dan iras hanya menahan tawa saja dari dalam, pura – pura tidur dengan tidak menjawab setiap teriakan yang mengajak pergi lagi itu. Seharian mengikuti langkah – langkah keduanya bukan pekerjaan gampang, lebih melelahkan dari mengejar copet yang dulu sering sekali aku temui di jalanan paris. Sehingga, hari minggu ini aku dan iras hanya menghabiskannya di tempat tidur. Di kamar kami, di lantai dua rumah mama.
“sebenarnya kalau mau lihat gimana kelakuan kamu sama kakak kamu sewaktu kecil ya lihat saja mereka berdua..” kata mama tadi malam, ketika aku membaringkan nhael di tempat tidur. “nhael persis kamu banget kalau lagi marah, pasti mogok makan...”
“tapi aku gak pernah minta soft drink sampe harus dibeli sama kulkasnya ma..”
“pernah...” mata mama menatap tajam ke arahku. “di bandara internasional Rusia, kamu baru tujuh tahun dan waktu itu kita mau main ke sini..” mama merapihkan selimut yang menutupi tubuh nhael. “papa sampe kleyengan sama kemauan kamu itu...”
Aku hanya tersenyum lebar menanggapi mama, tanganku merangkul pinggangnya sambil menggiringnya keluar dari kamar nhael.
“iya dia itu mirip kamu banget, pokoknya kalau lagi pengen apapun pasti kukuh, gak ada acara tawar menawar, dikejar sampe dapat..”
“emang ini gitu banget?” kataku, balik bertanya.
Mama mengangguk. “tapi kamu pernah menyerah pada satu hal yang sebenarnya kamu inginkan dan waktu itu kamu berhenti berjuang dan nyaris kehilangannya..”
Ku hentikan langkahku, sambil menatap mama. Kami berdua berdiri di depan pintu kamar lia. Ku ikuti pandangan mama yang sedang memperhatikan iras di dalam, ia yang menggendong lia hingga ke tempat tidurnya.
“kamu pernah berhenti mengharapkan dia, orang yang sampai saat ini selalu jadi yang paling depan buat ngasih semua yang kamu mau..” mata kami berdua memperhatikan ia yang tengah sibuk dengan selimut dan beberapa boneka yang ia letakan di sekeliling tubuh lia.
Iras menatap tersenyum ke arah kami, begitu menyadari kehadiran kami berdua di sana. Aku mengangguk pada mama, membetulkan ceritanya.
“untunglah keadaan waktu itu berpihak dengan baik pada inu ma..” tanganku masih tak melepaskan pelukanku di pinggang wanita yang kecantikannya tak kunjung sirna di usianya yang hampir setengah abad itu.
“bukan..” mama menggeleng. “waktu yang berpihak padanya..” mata mama masih menatap iras yang sedang mematikan lampu kamar lia dan menggantinya dengan lampu tidur yang lebih redup. “berjanjilah, untuk selalu membahagiakan dia, membahagiakan orang yang tak pernah berhenti berupaya agar kamu bahagia..”
Aku mengangguk kemudian sedikit merunduk ketika menerima kecupan dari mama.
...
Aku mengambil satu buah gelas besar dan mengisinya dengan air putih penuh. Kemudian ku tarik satu buah kursi tinggi di depan mini bar dapur mama. Aku duduk di atasnya. Ku eratkan kimono dari bahan woll tipis yang membalut tubuhku, udara sore ini agak dingin dan rumah benar – benar sepi.
Dua orang pengasuh lia dan nhael, yang biasa merawat mereka ketika berada di rumah pasti dibawa jalan – jalan keluar oleh mama. Sementara hampir selusin lagi asisten rumah tangga yang lainnya pasti tengah menikmati waktu senggang mereka di lantai bawah. Aku benar – benar menikmati waktu – waktu seperti ini, di mana hanya ada aku dan iras di rumah. Kami bisa melakukan banyak hal. Banyak sekali.
Ku tarik sebuah apel besar dari keranjang di depanku. Aku menggigitnya.
“cup...” sebuah ciuman mendarat di tengkuk. Disusul dengan sebuah pelukan dari belakang. Iras menyandarkan dagunya di bahuku. “what are you doing?”
Aku mengangkat apel di tanganku ke udara. Memberikan kepadanya, siapa tau ia juga ingin memakannya. Kelaparan setelah hampir seharian ini hanya kami habiskan berdua di dalam kamar.
“no..” ia menggeleng. “iras lapar, ada makanan apa di pantry?”
Aku melihat pantry kosong dan di atas meja makan tidak ada apa – apa. meski aku yakin kulkas mama penuh dengan segala jenis bahan makanan. Aku bisa saja menyuruh ART dibelakang memasak makanan untuk kami, tapi urung ku lakukan. Aku punya ide lain..
Aku turun dari kursiku. Membiarkan iras yang ganti duduk di sana. Aku berjalan ke dapur, mencari pisau dan keranjang.
“sayang, mau kemana?” iras agak kaget melihatku dengan pisau dan sebuah keranjang besar di tanganku. “kok bawa keranjang pasar gitu...”
“kamu mau ikut gak?” ku buka pintu belakang. Tanpa mempedulikannya aku melanjutkan langkah – langkahku menuju pekarangan belakang rumah yang telah mama jadikan kebun mininya ini. “lets go shopiiiiing..”
Kataku, ketika melihat iras berdiri dengan mimik kebingungan di depan pintu.
“aaaaah i see..” ia yang masih mengenakan kimono woll juga berjalan menghampiriku. Ia ikut memperhatikan apa saja bahan makanan yang mungkin bisa kami ambil di sini.
Mama benar – benar ahli berkebun yang hebat, dulu sewaktu aku dan kakakku masih kecil ia senang sekali menanam berbagai bunga. Mawar, tulip, anggrek, melati, aster sampai ia pernah berminat membeli raflesia arnoldi dari seorang penyelundup. Aku dan kakakku jelas tidak setuju, pertama siapa yang akan membelikan ku tamiya jika mama di penjara. Kedua, kalian juga tidak mungkin kan akan membiarkan bau bangkai di belakang rumah kalian?
Meski bunga – bunga mama masih terpelihara dengan baik di halaman belakang ini, tapi kini tanaman yang tumbuh di sini tidak hanya bunga. Mama mengikuti sebuah kampanye yang diserukan wali kota soal bandung berkebun, hingga akhirnya mama menanam berbagai jenis buah dan sayuran yang cepat di panen di sini.
Di kebun seluas rumah kami ini, tumbuh berbagai macam sayuran dan buah. Sawi, bit, wortel, kentang, pare, timun, strawberry, cabai, tomat, lobak, selada hingga brokoli semuanya ada. Bahkan di ujung kebun aku melihat, semangka, melon, dan labu sudah mulai berbuah. Aku mengambil beberapa biji buah-buahan dan beberapa daun sayur – sayuran.
“perasaan baru kemaren kita ikutan sama mama tabur benih eh sekarang udah banyak yang bisa dipanen ya yank..” kata iras, ia memetik satu buah lemon dari pohonnya yang ditanam di dalam pot. “kamu mau masak apa?”
“gak mau nunggu aja, sambil nebak inu masak apa?” aku menggodanya.
Jarak kami yang hanya beberapa senti memudahkannya untuk segera mencium pipiku ketika aku enggan menjawab pertanyaannya.
“mama, nhael sama lia kemana?” iras celingukan. Apa ia baru sadar bahwa sejak tadi rumah begitu sepi.
“kayanya nonton, atau nemenin mama yoga atau aerobik...” iras mengangguk – angguk.
“tadi iras salah denger gak ya, kaya ada yang gedar gedorin pintu, minta jalan – jalan.. apa Cuma mimpi?”
“gak kok, kamu gak mimpi, mereka kaya mahasiswa lagi demo minta bbm turun tadi di depan kamar..” aku melanjutkan memetik beberapa biji strawberry dan memasukannya ke dalam keranjang di tanganku.
“hahaha padahal tadi malem, bilangnya sudah puas banget jalan – jalannya..” iras berjalan menuju deretan pohon timun yang dirembetkan ke dinding pagar rumah. “mereka persis kaya kamu banget kan..”
Aku menatap iras, ia dengan tangannya masih sibuk memakan buah timun yang ditemukannya, tanpa dicuci.
“apanya yang persis?” tanyaku pada iras. “soalnya tadi malam mama juga bilang gitu kok..”
Iras menatapku sebentar, kemudian ia beralih pada timun – timun lagi. “nhael itu kaya kamu banget kok... gak pernah puas, gak pernah bisa berhenti ketika mengejar sesuatu yang dipengen..” iras mengangguk mantap, seakan begitu yakin yang tadi ia katakan adalah bagaimana aku di matanya.
Aku tidak menanggapi perkataan iras, malah melanjutkan memetik beberapa butir cabe yang masih hijau.
“memangnya mama bilang apa?” tanya iras.
Aku menggeleng. Dalam hati aku ragu sendiri, apakah dulu iras pernah merasa kecewa. Jika pandangannya soalku pernah sama dengan mama, apakah ia dulu pernah menyesalkan ketika aku hampir menyerah untuknya.
Ada angin yang mulai berhembus agak dingin, diikuti oleh rintik hujan yang jatuh satu – satu. Iras berlari ke arahku, membuka kimononya kemudian menelungkupkannya di kepalaku.
“yok masuk, hujan nih..” kami berdua berlari kecil di atas pijakan batu berbentuk bulat dengan tekstur menyerupai belahan kayu yang ditanam di antara rumput – rumput hijau pekarangan. Tak ingin tubuh kami kebasahan oleh air hujan.
...
Iras selesai dengan smoothie nya, ia mencampur wortel, strawberry, apel dan bit dengan juicer mama. Ia memasukannya ke dalam dua buah gelas besar dan menyimpannya di dalam kulkas. Itu untuk desert kami, karena makan malam kami kali ini tidak terlalu banyak mengandung nutrisi.
Aroma wangi dari serai dan daun salam mulai tercium dari dalam panci. Aku membuka tutupnya, kemudian mengangkat pucuk daun labu yang aku kukus dari sana. Iras berdiri di sebelahku dengan wajah kurang sabarnya, aku senang sudah setahun ini nafsu makannya kembali. Walau belum sepenuhnya, sejak aku berusaha belajar menggunakan sendok dan garpu sendiri. Sehingga tak perlu lagi memintanya untuk menyuapiku makan lagi.
Hidung iras megap – megap, menangkap aroma yang mengepul dari nasi di dalam panci. Aku tersenyum melihatnya.
“duh siga na bakalan edun yeuh liwet na yank..”
Aku mengambil sendok, dan mengambil sedikit dari nasi di dalam panci hendak mencicipinya. Aku menawarkan pada iras, ia mencomot sedikit nasi yang ada di sana.
“tuh kan, mantaaaaap...” bisa ditebak, usai bilang demikian ia langsung mencium pipiku.
“bantuin bikin sambel, sementara inu goreng peda nya..”
“bumbuin yank, iras yang ludeknya aja..”
Aku mengangguk, memasukan tomat, cabai, bawang merah, sedikit serai, dan jeruk nipis. Tidak lupa garam dan sedikit gula. Kemudian ku biarkan iras meludek sambelnya.
Ya, kami sedang memasak nasi liwet. Ngaliwet, dalam bahasa sunda. Sebuah resep yang aku dapatkan dari teman-teman semasa kuliahku di sukabumi. Selama di bandung aku tidak pernah menemukannya, begitu menemukan menu ini di kostan salah satu teman sekelasku. Aku langsung menuntutnya menjelaskan resepnya padaku. Benar – benar bumbu yang sederhana. Dan waktu pertama kali membuatnya, iras yang mencicipi waktu itu, sepakat bahwa ia juga menyukainya.
Jangan pernah masukan daging, sosis, ikan atau makanan berat lainnya ke dalam menu ini. Cukup sambal cabai dan ikan asin saja, meski untuk menghadapinya aku harus minum antihistamin sebelum dan sesudahnya. Alergi seafood.
Aku memasukan dua ikan peda besar ke dalam wajan panas, kemudian apinya aku kecilkan. Agar matang sempurna. Sementara ku perhatikan iras membuat sambal. Ia masih berusaha melumatkan semuanya, dengan alu di tangannya.
“itu sambelnya, pedesnya, inu yakin bakalan maknyus jika ditutup dengan ciuman yang pake lidah..”
Iras menghentikan ludekannya. “apa?” aku tahu kalau iras hanya berpura – pura tidak mendengarkan apa yang barusan aku katakan.
Aku tidak menjawab malah tertawa padanya.
“apaaaaa?” iras mendekatkan permukaan alunya ke dekat bibirku, tak mau kalah, ku sodorkan wajan panas kepadanya. Membuatnya lompat beberapa langkah dariku.
Kami sudah sering melakukan hal ini, hampir setiap pagi dan malam hari. Sarapan dan makan malam selalu kami buat berdua, dengan memasaknya di dapur apartemen ataupun rumah kami sendiri. Apalagi, aku atau iras tidak pernah mau mempekerjakan orang di rumah atau apartemen kami. Selama kami masih bisa masak sendiri dan mengantarkan baju kami ke laundry.
Menjelang matang, aku menambahkan potongan bawang merah dan tomat ke dalam gorengan ikan peda ku. Kalian yang baca tidak perlu banyak tanya, kalau sempat dapat menangkap, cobain saja menu sederhana ini. Kalian bisa berterimakasih lain kali padaku.
...
Menjelang adzan isya, kami selesai makan. Jika dulu aku pernah bilang kalau makanan yang paling enak itu adalah makanan yang makannya disuapin pacar, kali ini aku akan bilang jika makanan yang dimasak berdua sama pacar itu jauh lebih enak.
Kami berdua merapihkan dapur dan semua bekas makan kami. Iras membawa dua buah gelas berisi smoothie yang tadi dibuatnya. Aku menunggunya di sofa di ruang televisi. Tidak ada rokok, mama bisa – bisa keluar tanduknya kalau mencium ada bau asap rokok di rumahnya.
“tengkyu..” aku menerima salah satu gelas dari tangannya.
Iras duduk di sampingku, menelusupkan tangannya di antara pundak dan bahuku. Aku menyandarkan kepala di lengannya.
“makan malam nya benar – benar mantap sayang..” ia mencium ujung kepalaku. “untung ada mama nyediain pedanya nya..”
“hahaha... tadikan sebelumnya inu ubek – ubek dulu, jadi tau apa yang mau dimasak, eh nemu peda..”
Iras tersenyum mendengarku. “besok mau ikut ketemu yang jual tanah tea yank?”
Aku mendongak menatap wajah iras, mengingat-ingat apa kami ada janji dengan makelar tanah atau tidak.
“yang jual tanah apaan?” aku sepertinya lupa kalau kami mau beli tanah.
“yang di kalimantan..” jawab iras sambil meletakan gelasnya di atas meja.
“lah kita mau bikin rumah di kalimantan? Sejak kapan?” aku masih berusaha mengingat. “inu gak tahu kalau kamu pengen punya rumah tengah hutan..”
“bukan buat bikin rumah sayang” iras meraih bahuku lagi. “kebun sawit... investasi...”
Aku ingat, akhirnya. “tidak, inu bilang nggak ya enggak...” seharusnya ia tahu apa jawabanku untuk yang satu ini.
“kenapa enggak? Kan bagus buat investasi kita, lagian suatu saat kita bisa jual lagi..”
Aku menggeleng.
“dipertimbangkan lagi yank, harga minyak sawit masih tinggi dan ini bukan energi fosil, ramah lingkungan kan?”
“ramah lingkungan?” aku bertanya balik pada iras, meski tak sepenuhnya hal itu berupa pertanyaan. Kami sudah membahas hal ini beberapa hari yang lalu. Saat seorang pengusaha yang terlilit hutang dari kalimantan menawari kami perkebunan sawitnya. “apanya yang ramah lingkungan...”
“kita tidak mengeskploitasi apapun” jawab iras. “sawit itu murni hasil tanam yang dipanen, tidak ada satupun dari alam yang kita ambil, setidaknya tidak terlalu berbahaya, kita tidak mengebor laut atau tanah demi mengambil minyak fosil...”
“tapi kita mengambil rumah...”
“orang utan?” tebak iras. Aku mengangguk. Tebakannya benar. Tidak hanya orang utan, tapi habitat hewan – hewan endemik pulau borneo. “tapi yank...”
“tapi apa?” aku mengambil gelasnya yang sudah kosong di atas meja dan milikku kemudian membawanya ke wastafel dapur.
“kita kan gak membuka hutan lagi, kita Cuma lanjutin apa yang sudah orang kerjain selama ini..”
“iya hal itu memang benar..” aku menatapnya dari balik meja bar. “tapi itu juga tetap salah, lagian kenapa gak sekalian beli kilang minyak yang di Abu Dhabi?” aku menantangnya.
“habis lah uang kita..” iras mengedikan bahu.
“uang mati kita, aset, aset bergerak dan tidak bergerak masih ada,. Begitu kita membeli kilang minyaknya, keesokan harinya uang kita udah balik kok..”
Iras memijat keningnya, aku tahu ia tidak sakit kepala sama sekali.
“tapi yank, stop dulu soal abu dhabi, kita yang pasti – pasti aja, iras yakin kalau perkebunan itu sudah beroperasi sejak lama, jadi mungkin udah gak ada gangguan dari orang utan lagi...”
“Ada.. inu baca beberapa artikel lusa kemarin, di dekat perkebunan itu beberapa karyawan perkebunan membakar dua ekor orang utan..” aku duduk di dekat iras lagi, sambil menatapnya lekat. “sepasang ibu dan anak...”
“mereka orang awam, tidak mengerti soal apa itu menjaga kelestarian, yang mereka tahu itu hanya hama, kaya orang – orang di jawa yang memburu babi hutan..”
“ya dan itu yang akan dilakukan karyawan – karyawan kamu suatu hari” aku mengambil remote tv, mencari acara yang mudah diterima oleh akal. “lagian populasi babi hutan di jawa meningkat karena orang – orang di jawa lebih dulu memburu harimau jawa yang jadi konsumen babi hutan sampai akhirnya punah..”
“yank, kita Cuma ngomongin investasi yank, buat nyimpen uang kita kenapa harus nyasar ke babi hutan sampai harimau jawa...”
“karena kamu tunangan denganku orang yang tidak akan melakukan segalanya Cuma demi uang..”
Iras terdiam, ia mengelus – elus lembut tanganku. “mungkin inu akan pertimbangkan..”
Mata iras berbinar.
“dengan syarat tentunya...”
“apaan?”
“beli itu kebon, babat habis sawit – sawitnya, kita tanami pohon lagi, jati, mahoni, damar, semua pohon – pohon hutan..”
Iras membuang nafas. “tidak mungkin sayang, meski iras inget dulu kamu pernah ngelepasin semua burung di pasar hewan..”
Aku tidak menanggapi iras, masih menyandarkan kepalaku di bahunya sambil menonton sebuah acara di televisi.
“tapi apa gak sayang yank, lumayan juga hasilnya, dan kenapa kita harus seaware itu? Itu Cuma orang utan dan mereka pasti sudah punya habitatnya sendiri..”
Aku menatap mata iras lagi, aku sebenarnya ingin sekali marah, tapi marah pada iras hanya akan memancing emosinya saja.
“iya betul, karena mereka Cuma orang utan yank.. karena mereka Cuma orang utan yang gak bisa ngelawan kita sebagai manusia, mereka gak punya otak buat ngasih perlawanan sama kita yang sudah ngerebut habitat mereka, rumah mereka, kita sebagai manusia yang mengaku punya otak dan hati tega ngambil itu dari mereka?”
Iras tak bergeming.
“orang sudah salah dengan membuka hutan demi kepentingan mereka, mereka sudah diteriak – diteriaki goblog oleh semua manusia dimuka bumi, mau kamu jadi kaya mereka? Kita ikut berdosa jika pada akhirnya mengambil alih perkebunan itu dan melanjutkannya... betul orang sudah kepalang dengan membuka hutan lebih dulu, tapi kita gak usah ikutan salah dengan jadi bagian dari mereka...”
“tadinya iras Cuma mau niru sifat kamu, sifat nhael yang selalu kukuh kalau udah punya kemauan...”
Aku bangkit, sambil tersenyum. “hahaha malah harusnya kamu inget, saking kukuhnya, susah buat ngerubah pendapat inu kan?”
Ia mengangguk, tak banyak berkata lagi. Aku memeluknya lebih dulu, aku sangat tahu bahwa iras selalu menggebu – gebu soal semua investasi dan menghasilkan lebih banyak uang lagi. Meski kadang ia tak pernah memikirkan hal lain, sekitarnya, ketika membuat keputusan. Aku mencium bibir iras, menenangkannya di penghujung akhir pekan di pertengahan bulan ini.
...
Selasa, 14 April 2015
Nasi Liwet
Langganan:
Postingan (Atom)