Kamis, 12 September 2013

Titik Nol



Apapun yang saya tulis di sini, tidak sama sekali bermaksud membicarakan hal buruk dari orang lain, bahkan teman saya sendiri. melainkan kita berharap dapat memetik pelajaran dari berbagai kisah, cerita dan cuplikan hidup orang lain.
Iras berlalu ke arah kerumunan bapak – bapak yang duduk – duduk santai memakai kaos polo. Ia berpamitan untuk ngobrol dengan mereka, biasalah lobi – lobi soal bisnis. Mereka pemilik beberapa tempat basah lahan bisnis di sukabumi.  Aku sendiri tidak bisa lepas dari aroma sosis bakar berukuran besar dari arah rest area.
Aku tidak bilang pada iras aku hendak ke mana, sehingga matanya begitu memata – matai gerak gerikku.  aku tersenyum kepadanya, sambil menunjuk kubikel sosis bakar, ia mengangguk, tanda memperbolehkan.
“rasa sapi, lima…” tapi aku mengangkat dua jariku.
Ibu penjual di depanku tampak kebingungan.
“jadinya bikin berapa pak?” katanya, dengan raut muka sangat bingung.
“hahahaha..” aku mentertawakan kebingungannya “jadinya bikin lima yang pedes ya, cabe nya dua…”
Kini ibu penjual sosinya tertawa lebar.
“ah si bapak ini, pinter bener becandanya, nya atos ku ibu di pang bakarken lima, pedes nya pak..”
Aku tersenyum melihat kegesitan si ibu penjual sosis. Ku edarkan pandangan ke sekitar, banyak sekali pengunjung yang tampak mulai menikmati waterpark yang baru kami buka ini.  Sayang si kecil rizzy sedang sakit, padahal aku ingin sekali membawanya kemari hari ini.
Beberapa menit kemudian ketika kelima sosis berukuran besar itu selesai di panggang, tanganku langsung menyambarnya ketika si ibu penjual menyerahkan kemasannya.  Ia sendiri tampak kaget melihatku yang langsung menghabiskan satu buah sosis bakar ukuran raksasa itu Cuma satu menit selama masih ada di sana.
Aku berjalan, hendak kembali ke tempat iras berada. Matanya dari tadi terus memperhatikanku, aku tahu ia tidak bisa lama – lama ditinggal.
Tiba – tiba saja, dari satu arah, aku berpapasan dengan seorang teman ku di kampus, tian. Aku mengenalnya, aku juga kenal rico pacarnya, ia teman dekat iras.
“hey Nu..” tian duluan menyapaku.
“wey, lagi ngapain?” aku mengulurkan tangan, menyalaminya.
“rekreasi lah nu, sama iras?” tanyanya.
Aku mengangguk, tiba – tiba, seorang laki – laki yang usianya sepertinya sepuluh tahun lebih tua dari kami berdua menghampiri tian.
“aku duluan, aku tungguin di loker room..” ia bilang pada tian. Aku pikir mungkin om nya dan begitulah cara berkomunikasi di keluarganya menggunakan aku dan kamu. Sama kaya gue Lah, sama kakek sendiri aja suka nyapanya lu gueh.
Tian mengangguk sambil tersenyum lebar. Aku mendekat pada tian. Penasaran benarkah di keluarganya saling menyapa dengan menggunakan aku dan kamu.
“siapa, dot?” maksudnya dongdot, atau dodot, itu panggilan tian di kampus.
“om gue..” jawab tian sambil tersenyum. Aku curiga dengan maksud dari senyum dan ekspresi wajahnya. Seperti ada oncom di balik comro.
“om lu? Di rumah kalian nyapa pake aku kamu?” kataku menyelesaikan penasaranku.
“yaelah nu, lu sok lugu bener, lu ngerti lah maksud gue, om nu om..” tian membelalakan matanya.
Memang ini tujuanku, aku kenal betul siapa rico pacar tian, dan bagaimana sayangnya rico padanya lalu dia sekarang di sini bersama orang yang tidak sepantasnya, seorang lelaki yang kadaluarsa.
“terus rico apa kabarnya dot?”
“dia pasti lagi kerja jam segini..”
“dan lu di sini sama cowok yang kadaluarsa begitu..” aku menunjuk pada orang yang bayangannya belum hilang dari pandangan kami ini. “kurang apa rico dot?”
Ku gigit besar – besar sosis di genggamanku. Aku bahkan rasanya selalu ingin membunuh siapapun yang bermain – main dengan komitmennya, mengingat yang ku alami dengan iras demi mempertahankan itu sangat tidak mudah.
“ya cowok kadaluarsa itu, bisa ngasih ya gak bisa rico kasih, gue sayang rico, gue sayang banget sama dia, tapi ya lu tau rico lah…”
“maksud lu? Karena dia Cuma seorang teller bank gitu?” beberapa temen cewek di kampus malah pengen banget punya pacar teller bank.
“bukan nu, gini deh, singkatnya, lu tau sendiri, kelas nya temen – temen gue kaya gimana, termasuk lu sama iras, gue mahasiswa yang gak mungkin datang ke kampus dengan pakaian yang sama setiap hari, ketika ada gadget keluaran baru masa gue gak ganti, seenggaknya ada lah yang nganterin gue ke kampus…”
Aku menggeleng sambil tersenyum nyinyir.
“lu pikir pacaran itu apaan dot?”
“gak usah bilang yang aneh – aneh deh nu, gue yakin lu juga ngelakuin hal yang sama ke iras, gue tau kok apalagi yang lu minta sama iras suka aneh – aneh dan harus hari itu juga ada, seenggaknya gue gak gitu sama tuh cowok kadaluarsa..”
Aku berpikir apakah benar begitu, terakhir aku minta gehu isi buncis gak iras laksanain perasaan.
“lu gak bisa ngebandingin hidup lu sama orang lain…”
“diem nu, kan gue udah mutusin buat hidup di kelas mana dengan gaya yang seperti apa, silahkan protes, tapi gue juga kaya lu gak akan denger komen orang tentang hidup gue..”
Tian berjalan meninggalkanku kea rah loker room. Yang dapat aku lihat dari tempat ku berdiri sekarang, ia menghampiri cowok kadaluarsa itu mereka tampak bicara akrab dengan sedikit aksen mesra dalam ekspresi mereka. Aku bergidik, bagaimana mungkin tian bisa menikmati sebuah makanan a lot.
Tanpa ku duga iras sudah berdiri di sampingku.
“hey dicari – cari juga…” katanya ia ingin merebut salah satu sosis besar itu dari tanganku.
Lalu aku langsung saja berusaha memasukan seluruh sosis besar itu ke mulut iras.  Menyiksanya memang salah satu hobiku.
“emhhh emhh..” ia berusaha mengunyah semua sosis yang masuk ke dalam mulutnya. “itu bukannya tian ya sama siapa? Tampangnya kaya bandot tua gitu”
Aku mengangguk, menggigit sosis lain yang tinggal satu lagi itu.
“kamu gak usah bilangin soal ini sama rico, kasian dia, ingat soal prinsip kita buat gak ikut campur sama urusan orang lain..”
Iras mengangguk walau aku sadar dengan tadi sedikit menceramahi tian berarti aku sudah sedikit ikut campur.
Aku menggenggam tangan iras, kemudian mengajaknya pulang. aku tidak suka panas.
aku mulai berpikir bahwa setiap orang memiliki kecenderungan untuk mendua. Seperti dalam puisi presiden habibie untuk istrinya.  Semua orang adalah tukang serong yang ulung, namun ada yang menanganinya dengan baik dan tidak. Maka dari itu muncullah istilah pacar setia. Awalnya ku pikir bahwa setia adalah tidak pernah tertarik pada orang lain selain pacarku, tapi setia adalah saat kita merasa tertarik pada orang lain lalu pikiran alam sadar kita ingat bahwa pacar kita lebih baik dari siapapun. Tidak ada yang lebih baik darinya.
Contoh kasusnya seperti sekarang ini, aku jalan – jalan sendirian di pusat perbelanjaan dan melihat banyak pemandangan menarik. Kasir, SPB, orang lain yang sedang belanja, bahkan satpam berbadan tegap dengan matanya yang sejuk itu. Tapi kemudian di pikiranku, wajah iras muncul, tingkah lakunya, sifat pencemburunya, sifat possesif nya, semua hal yang ia lakukan untuk menunjukan rasa sayangnya yang besar, atau bahkan ketika ia mengecup bibirku hanya untuk membersihkan sisa es krim di dekat mulutku.
Tidak ada yang sebaik dan sesabar iras yang tuhan ciptakan untuk keburukan dan segala kecerobohanku. Ia yang paling pas yang sudah tuhan buat untukku, menggantinya dengan yang lain, mengatakan ada yang bisa sebaik atau bahkan lebih itu adalah cara bagus untuk membohongi diri sendiri.
Aku melihat rico, ia sedang melihat – lihat beberapa pakaian di toko three second.  Aku menghampirinya, ia berada di sini di jam kerja kantor.
“hay co..” aku menyapa rico.
Rico memutar badannya kemudian ia tersenyum begitu melihatku “hay nu, lagi ngapain?”
“mau beli baju juga di sini..” jawabku “lagi ngapain?”
“aku lagi nyari sesuatu yang mungkin akan disukai tian, besok kami merayakan anniv bulanan kami yang kelima, yaa konsepnya sih nyontek – nyontek acara anniv kamu sama iras, aku pikir mungkin tian akan suka dengan kaos atau topi yang ku beli, selama lima bulan pacaran aku belum ngasih dia apa – apa…”
Aku pikir, sudah menjadi naluri setiap orang ingin memberikan apapun buat pacarnya.  Lalu aku tersenyum, ketika kemarin tian bilang bahwa rico tidak bisa memberikannya apa – apa. Lalu sekarang, rico berpikir sebaliknya dan tian bukan seorang penerima yang baik. Lalu ku pikir mungkin itu yang membuat mereka cocok.
“jadi lu mau ngasih apa?” aku mulai penasaran dengan apa yang akan ia berikan.
“menurut kamu tian kira – kira bakalan suka topi ini gak?” rico menunjukan satu buah topi berwarna biru muda padaku.
“dia pasti suka co..” aku mengangguk berusaha meyakinkan rico “ingat yang penting itu anniv kalian, masalah hadiah itu bonus, masalah suka atau tidak resiko, tapi kalau gue jadi tian apapun yang lu kasih bakal gue suka lah, lu pacar gue..”
Rico menyunggingkan senyumnya.
“aku tau, iras selalu cerita banyak soal sifat kamu yang itu, dia memang sangat beruntung punya kamu..”
“sama seperti tian yang punya lu lah..”
“semoga memang seperti itu..” kata rico, ia memandangi topi di tangannya, dipikirannya mungkin sedang berenang bagaimana ekspresi tian saat melihatnya.
Aku tidak ingin bicara banyak lagi dengan rico ketika ia larut dengan hadiah untuk tian di tangannya.  Sementara deretan baju – baju di depan ku langsung menarik ku seketika.
Iras memberikan potongan roti bakar terakhir di atas piring kepadaku, roti yang tertusuk di ujung garpu langsung ku santap.  Ia mengambil tisu, membersihkan sisa selai nanas di dekat bibirku.
“hari ini di kampus sampe jam berapa?” ia mengamati bagian lain wajahku.
“gak tau, yang pasti kalau jam sebelas kosong inu pasti ke showroom..” ku lihat jam di tanganku jam delapan kurang lima belas cukup untuk berangkat sekarang “oya udah dapat manager baru buat showroom?”
Iras menggelengkan kepala. Ia tuangkan orange jus dari box nya ke dalam gelas yang ada di depannya.
“agak menarik kalau iras dapat manajer yang seumuran atau kenal sama kita, jadi di kantor bisa agak nyaman..”
Aku mengangguk mengiyakan.  Manajer showroom beberapa minggu yang lalu memutuskan resign, gara – gara jarak yang cukup jauh dengan rumahnya.  Tidak bisa jauh dengan keluarga, iras memakluminya.  Ia selalu bisa menghargai setiap orang yang mementingkan kehidupan keluarganya.
 Kami berdua sarapan di halaman belakang rumah kami.  Kami punya taman dengan sebuah kolam yang kecil.  Yang iras masukan banyak ikan – ikan yang kecil pula di sana, setidaknya suara gemericik air memberikan ketenangan dan menghilangkan stress kami sebelum beraktivitas.
“inu gak ngerti sama orang – orang yang sepertinya tidak mengerti apa itu komitmen…” mataku memandang jauh pada beberapa daun bunga kamboja yang jatuh di permukaan air kolam. “kenapa ya begitu mudahnya mereka buat selingkuh, main mata di belakang pasangannya, berperan sebagai jomblo di saat jauh…”
“kamu tidak akan mendapatkan hal seperti itu dari iras sayaang…” iras memegang tanganku. Ia memotong bicaraku dengan tatapan matanya yang tidak pernah bisa ku hindari menancap – nancap di sekitar jiwaku.
“inu bunuh kamu kalau sampai kaya gitu…” ku acak rambut iras, ia merapihkannya lagi sambil tersenyum lebar.
“apa kita gak sebaiknya bilang soal tian ke rico?”
Aku berpikir sebentar.
“jangan lah biar inu yang coba bicara lagi sama tian, semoga dia sadar…”
“ya semoga rico juga sabar kalau tahu soal ini..”
Kami berdua bangkit dari kursi dan berjalan keluar rumah. Menuju mobil iras, mobil dan motorku mungkin akan giliran menunggui rumah hari ini.  Lagipula aku lagi malas nyetir.
Beberapa menit kemudian, kami sudah ada di dalam mobil menuju kampusku. Meskipun kami memakai mobil iras, aku yang menyetir.  Pagi – pagi seperti ini iras harus membaca Koran, memantau harga saham, laju inflasi dan berbagai hal lainnya.
Juga semua berita mengenai bisnisnya.  Walau begitu, ia akan sangat hafal kalau aku menaikan kecepatan.
“turunkan ke enam puluh…”
Betul saja, padahal baru saja aku menaikan kecepatan di 100KM/jam. Aku menurut sebelum iras menjadi lebih berisik.
“kamu bisa loh baca berita di ipad…” ku lihat ipadnya masih tergeletak di jok belakang, merasa ngeri melihatnya membuka lembar demi lembar besar Koran di dalam mobil seperti ini.
“kamu pernah bilang kalau kamu suka aku yang sedang baca Koran, jadi ya selamat menikmati…” katanya masih tetap larut dengan korannya.
Aku mencium pipinya. Membuatnya agak terbelalak karena aku masih sedang menyetir.
“semua hal tentang kamu, meskipun kamu lagi ngeden di toilet tetep aku suka…”
Iras menyunggingkan senyum lebar.
“okeh kalau begitu iras gak bakalan tutup pintu toilet kalau lagi ngeden…”
Ku lemparkan sebuah Koran bekas dari atas dek mobil. Iras tergelak, jarak kampus ku tinggal beberapa meter lagi.  Begitu gerbangnya tampak aku langsung banting stir dan masuk ke halamannya.
“inu sampai…”  aku mematikan mesin mobil.
“hey sini dulu, ada apa itu di bibir kamu…” kata iras, ia agak menarik paksa wajahku.
“mana????” aku melirik kaca spion.
“muachh muaaacchh muacccchhh” ternyata itu hanya alasannya untuk menciumku.
“cukupkan itu buat tiga jam? ntar jemput inu ke sini”
Iras mengangguk sambil melipat korannya, aku turun dan iras mengikutiku, beberapa mahasiswa lain yang melewati parkiran memperhatikan kami berdua.
“jangan nakal, jangan bandel, jaga baik – baik matanya, jangan ngelakuin hal yang macem – macem..” dan deretan kata jangan berikutnya.
“iya iya bawel, jaga baik – baik diri kamu, ingat di sana..” aku menekan letak jantung iras “di salah satu di sudut kiri ini, ada tempat untuk aku berumah…”
“arggghhhhh…. Pengen nyium…”
Ku geplok kepala iras sambil meninggalkannya. Menuju kerumunan teman – temanku yang masih sibuk dengan jurnal dan laptop mereka.
Beberapa anggota kelompokku berpamitan, dosen mata kuliah keperawatan anak kami meminta membuat sebuah resume soal penyakit – penyakit di system syaraf.  Kami memilih syndrome guillan bare yang belum banyak dipelajari.  Resume kami selesai sehingga teman – temanku yang lain meminta segera meninggalkan perpustakaan.
Tinggal beberapa saja yang masih asyik dengan laptop mereka gara – gara free wifi di perpustakaan.  Termasuk salah satunya tian, ia memegang sebuah tablet yang baru hari ini aku lihat.
“dot, lu besok yang presentasi ya…” kata pada tian, kelompokku memintaku yang besok presentasi mengenai kasus yang baru saja kami selesaikan, namun aku sedang malas. Walau tepatnya aku memang selalu malas.
“ah enggak ah, mana bisa gue…” tian menolak.
“lu gak pernah nyobain presentasi, gimana lu bakal bisa…” tian tidak menghiraukan kata – kataku, aku tutup laptopku dan mulai merapihkannya “tablet baru? Ada game serunya? Nyobain gue…”
“halah tablet lu kan lebih bagus dari punya gue nu, lu ngeledeknya berlebihan.. gimana bagus gak? Dikasih cowok kadaluarsa yang kemarin itu…”
Aku jadi ingat dengan orang yang bersama tian di waterpark.
“jadi lu masih jalan ama tuh orang? Gue penasaran kok lu bisa ngelakuin hal kaya gitu sama rico, gue salut sama lu dot, bertahun – tahun dan gue gak bisa kaya gitu sama sekali ke iras…”
“hahaha cara licik buat muji diri sendiri lu nu..” tian meletakan tabletnya “ya gue sih jalan sama tuh orang Cuma buat dapat gadget baru, gue bisa ganti baju dan lu tau lah biar dompet gue gak tipis – tipis amat…”
“kenapa lu gak pacaran ama mesin atm dot?”
“kalau mesin atm hidup udah gue pacarin semuanya nu…”
Aku tidak tertawa aku hanya menggeleng.
“gue pengen nanya dot, kalau lu lagi sama tuh bandot, lu suka kepikiran rico gak? Pas lu dipegang – pegang sama tuh orang, di….” Aku bergidik, kadang saat mengendarai motor dan iras aku bonceng kemudian tangannya masuk ke dalam boxer ku rasanya ingin sekali melemparkannya ke jurang terdekat.
“gue sayang sama rico kaya lu sayang sama iras nu…” jawab tian tampak tegas kali ini. “sama kaya lu yang setia damping iras dari nol gue juga pengen jadi titik nol buat rico, mungkin sekarang belum nasibnya saja jadi lebih baik, bisa ngasih gue segala hal yang gue butuh…”
“kita tidak bisa memaksa seseorang untuk memberikan segala hal yang kita minta, kita itu orang – orang yang sama – sama berusaha membahagiakan satu sama lain…”
“gue sangat ngerti itu nu, tapi ya mungkin gue sekarang lagi berpetualang saja…”
“okeh mungkin konsep kita berdua berbeda, tapi menurut gue lu sih udah melakukan hal bodoh…”
“makasih nu, makasih juga lu udah kasih saran soal topi buat rico…”
Aku tidak ingin membahas lebih lanjut masalah ini dengan tian, sudah jam sebelas, sopir dari showroom sudah menjemputku untuk makan siang dengan iras.
Aku dan iras sama – sama menundukan kepala begitu melihat tian dan pacar barunya masuk ke dalam café tempat kami makan siang.  Iras tertawa, ia menyayangkan usia tian dan tampangnya yang lumayan jika harus bermesraan dengan sandal jepit seperti itu.
Aku tertawa sendiri menanggapi celotehan iras. Apa demikian aku juga. Hahahaa.
“kamu keterlaluan kalau terus ngebiarin hal ini yank…” kata iras kemudian. Ia mengaduk kopi di depannya kemudian meneguknya beberapa kali.
  “inu gak mau kita ikut campur sama masalah mereka…” aku tetap pada keyakinanku.
“bukan ikut campur sayang, tapi baik tian atau rico kali ini mereka sedang punya masalah, dengan kita memberitahu hal ini sama rico kita bisa membantu mereka menyelesaikan masalahnya…”
“itu artinya ikut campur tapi diperhalus..”
“bukan sayang, okelah, jangan bohong sama iras kalau inu gak mau ikut campur karena si tian temennya inu, tapi si rico juga teman iras, iras harus bantu juga teman iras sendiri…”
Aku diam, sebenarnya ini memang bukan tipeku. Ikut campur urusan orang lain demi alasan apapun, aku tidak ingin terlibat sama sekali kalau sampai mereka memiliki masalah.
Iras mengambil teleponnya.
“jangan langsung bilang kalau tian ada di sini, biairin saja kejadiannya terlihat alami…” kataku pada iras.
Ia mengangguk.
“hallo co… gue ada perlu nih sama lu, bisa ke salabintana bentar, gue lagi makan sama inu, lu ke sini ya..” iras menutup telpon begitu mengakhiri percakapannya dengan rico.
Aku melihat sendiri bagaimana tian mengobrol dengan lelaki yang wajarnya ia panggil om ataupun seumuran dengan omnya di rumah.  Aku tidak sama sekali memberikan batasan kepada siapapun dalam hal mencintai atau memberikan kasih sayang, tapi di sini tian sudah salah, mungkin apa yang aku lakukan dan iras lakukan hanya sebagian kecil dari cara mengingatkannya.
Karena kebetulan rico juga yang berada di sekitar tempat kami makan ia tidak membutuhkan waktu lama untuk datang kemari.  Aku dan iras menyaksikan bagaimana terkejutnya rico begitu melihat tian sedang bercengkrama begitu mesranya dengan seseorang yang bukan dia. Bukan rico.
Rico terbelalak, sementara tian tidak menunjukan penyesalan sama sekali. Aku dan iras tidak tahu jelas apa yang mereka bicarakan di antara kami ada sebuah dinding kaca yang membuat ku tidak bisa mendengar mereka. Akhirnya aku menghampiri mereka bertiga.
“begini saja, sekarang kita biarkan tian yang memilih dia memilih siapa?” kata orang kadaluarsa itu pada mereka berdua.
Iras berdiri di sampingku, aku hanya beberapa meter dari tempat rico berdiri.
“aku benar – benar gak ngerti sama semua ini, kenapa harus memilih kamu pacar aku bey..” kata rico pada tian.
Tian tak bergeming, aku bahkan tidak melihat raut penyesalan di wajahnya.
“mungkin kita harus break…” tiba – tiba tian mengangkat wajahnya dan menatap rico.
Entah kekuatan dari mana, tanganku langsung melayang, meninjukan sebuah pukulan tepat di wajah tian.
Iras menahanku, rico terbelalak, dan aku hampir saja meloncati meja ingin memakan bulat – bulat sandal jepit swallow itu.
“sayang!!!!” iras membentakku, kedua tangannya memeluk ku kuat, ia menahanku agar tidak menyerang lagi.
Aku benar – benar tidak bisa menahan amarahku.
“lu bahkan gak pantes buat jadi angka nol buat rico, lu gak pantes sama sekali dapet hal baik di dunia ini…” aku menunjuk wajah tian bahkan sampai tiga kali. Tangan iras terus menahan tubuhku.
Aku hanya mengingat bagaimana renyahnya tian mengatakan bahwa ia ingin sekali menjadi angka nol bagi rico dimana ia adalah titik awal buat rico memulai segalanya.
Seluruh café memperhatikan kami, aku beranjak dari tempatku. Iras mengajak rico berlalu, kami menuju mobil iras kemudian meninggalkan tempat itu.
Iras memesan tiga Loyang pizza dan aku hampir menghabiskan dua di antaranya, iras masih mencoba menenangkan rico, ia lebih banyak diam dari tadi. Sementara aku selain makan tentu menyumpah – nyumpahi si tian di sini.
“tuhan lagi pengen lu naik kelas co, lu berhak dapat yang terbaik, lu ataupun tian perlu mendapatkan ini, biar kalian sama – sama belajar…” kata iras.
Aku menarik piring spaghetti yang di depan rico, kemudian melahapnya lagi. Iras menggelengkan kepalanya sambil tersenyum lebar. Mubajir, daripada rico tidak memakannya.
“tian berhak kok melakukan itu, tapi aku harap mungkin dia sedang khilaf kali ini..” rico tentu saja dia tidak siap atau hampir tidak percaya kalau tian bisa melakukan ini padanya.  Aku bahkan sudah ceritakan bagaimana kelakuan tian selama ini pada rico namun ia tetap menganggap bahwa tian khilaf.
“lu berhak kok, bilang bahwa tian khilaf dan lu juga berhak kok ngasih maaf, tapi itu menunjukan kalau lu gak naik kelas…”
“sayang bukan itu maksud iras..” iras memiringkan kepalanya, tanda tidak setuju dengan apa yang barusan aku katakan.
Aku beralih pada spaghetti di depanku lagi. Aroma barbeque nya sangat menggoda. Iras dan rico itu tipe orang yang sama, itu yang mungkin membuat mereka bisa jadi sahabat karib.  Keduanya sama – sama hobi mengalah, tipe orang berhati lembut namun perkasa. Seperti iras yang banyak mengalah untukku, yang banyak memberikan maaf pada setiap sikap menjengkelkanku.
“aku gak nyangka kalau apa yang aku kasih selama ini ternyata tidak cukup untuk tian…”
“bukan, lu pasti udah ngasih yang terbaik, dia yang gak tau diri…” kataku lagi.
Iras melotot lagi. Aku mengabaikannya sambil menjulurkan lidah.
“kalau menurut lu, membelikan apapun kemauan tian, membelikan semuanya. Kurang lebih lu seperti begini, kakak ku lagi ke kondangan dan lu di rumah ketitipan anaknya yang lagi tidur, gak lama keponakan lu bangun, nangis kenceng. Jalan satu – satunya, supaya ponakan lu gak nangis ya di bawa ke warung, dia seenggaknya harus lu beliin premen, minuman, atau mainan…” aku menatap mata rico “lu gak lebih kaya gitu co, lu selama ini Cuma berusaha supaya tian gak nangis, bukan membahagiakan dia dengan cara yang benar…”
Iras melenguh, ia membuang nafas. Aku mengerti mungkin aku terlalu kasar dalam memberikan pengertian kepada rico.  Namun pasti iras juga faham, hanya tamparan yang paling keras lah yang paling bisa menyadarkan seseorang.
Aku dan iras keluar dari halaman parkir kampus, ia memintaku menemaninya di showroom.  Sampai sore ada yang harus ia kerjakan di sana.  Kebetulan kuliahku selesai, teman – teman futsalku juga sepertinya sedang menyimpan cadangan energy untuk akhir pekan. Kami sudah punya rencana pertandingan dengan tim futsal senior kami.
Kami baru saja selesai membahas tian, ia terlihat juga di parkiran, sedang memarkirkan motornya, beberapa hari ini kami tidak saling bicara.  Namun aku tahu kalau sekarang tian sudah tidak jalan dengan sandal jepit itu lagi.
Setidaknya kini ia sadar, lalu muncul sebuah ide di kepalaku.
“bukannya kamu lagi nyari manajer buat di showroom ya?”
Iras mengangguk.
“kenapa gak rico saja? Dia masih muda, dia tahu soal kita, dia belum menikah dan dia teman kamu…”
Mata iras berlarian kea rah depan, ia menatap lurus, tanda ia sedang berpikir.
“kenapa harus rico? Dia baru saja lulus, dia sekarang teller, pengalamannya tidak ada, tapi….”
“kamu bilang dia dapat A di kuliah marketing, itu artinya dia seorang ahli strategi yang bagus kan? Ayolah kamu lebih mengenal dia daripada inu…”
Iras kini memegang dagunya.  Sok keren.  Sok pura – pura mikir.
“sebutkan tujuan lain kenapa harus rico yang kamu pilih jadi manajer showroom? Ini showroom yank, kita gak bisa main – main, ini ujung tombak perusahaan kita….”
“ya betul, karena itulah kamu harus mempercayakannya pada orang yang sangat kamu kenal, beri rico gaji yang besar, usahakan supaya dia bisa membeli sebuah mobil bagus dengan gaji pertamanya, apa kamu lupa? Kalau ini salah satu cara kita membantu menyelesaikan masalah mereka? Inu Cuma pengen membuat si tian sadar, bahwa keadaan bisa berubah terbalik walau hanya dalam satu detik…”
Iras akhirnya setuju dengan ide dariku.  Di minggu berikutnya ia mulai mempekerjakan rico di showroom, showroom kecil itu di bulan pertamanya di pimpin bos baru mengalami peningkatan penjualan.
Tiga bulan kemudian…
Iras tadi pagi bilang bahwa dia akan bertanding basket dengan semua karyawan showroomnya, ini hari jum’at dan ia sengaja tutup sampai waktu solat jum’at tiba. Main basket memang sudah jadi kegemara iras sejak lama, bahkan sepanjang aku mengenalnya Cuma basket satu – satunya olah raga yang dia suka.
Dia memang bisa futsal, tapi hanya untuk melengkapi kekurangan pemain. Itu makanya kalau aku sedang main futsal ia hanya akan duduk di pinggir lapang, menyiapkan handuk dan air minum.
Itu juga yang ku lakukan kalau ia sedang bermain basket.
“heh nu, boleh minjem tablet lu bentar? Gue pengen chek email gue, ada revisian askep dari dosen…”
Aku memberikan tasku yang berisi ipad ku pada tian. Ia duduk hanya terhalang beberapa kursi dariku.
“tablet lu kemana?” sudah beberapa hari ini memang aku tidak melihat tabletnya itu.
“diambil sama yang punya nya…” jawab tian tanpa melihat ke arahku. “ternyata dia Cuma minjemin…”
“hah? Who dot?” aku sibuk merapihkan jurnal kuliahku dan tasku.
“yang lu bilang sandal jepit…”
Aku hampir tergelak.
“gue pikir kalian masih pacaran….”
Tian menggeleng. “udah enggak nu, sebenarnya pas kejadian di café juga kita udah gak ada apa – apa, sejak itu kita gak ada komunikasi, tapi minggu kemarin dia ke kostan dan minta gue balikin tabletnya…”
Aku terkekeh membayangkan buruknya nasib tian. Ia kini memang masih berhubungan baik dengan rico walau kini hanya sekedar menjadi teman.
“kenapa lu gak balikan aja sama rico…”
“gue gak yakin dia mau..” tian menatap layar tablet ku, ia seperti sedang membaca. “lagian gue udah cukup malu sama dia, bener kata lu dia berhak dapat yang lebih baik dari gue…”
Aku mengangguk, ingin sekali memperoloknya.
“akhirnya lu sadar juga….” Aku memang daredevil sejati, gaya becandaku yang seperti itu memang tidak disukai banyak orang “iras sama orang showroom lagi tanding basket di gor, lu mau nonton?”
“ada rico juga berarti kan? Enggak ah…”
“udah lu ikut, lu temenin gue ngobrol di pinggir, gue gak bakal ikutan maen soalnya…”
Akhirnya tian setuju dan mengikutiku.
Aku dan tian duduk di bangku yang harusnya jadi tempat duduk buat pemain cadangan.  Iras masih berlari – lari di tengah lapangan, memperebutkan bola orange dengan karyawan – karyawannya.  Ia tampak bersemangat sekali.
Rico menjadi lawannya kali ini, beberapa kali mereka saling berebut bola dan saling menghadang.  Aku turut senang, iras memang sangat butuh olah raga, seminggu penuh ia habiskan hanya untuk mengurus segala urusan bisnisnya yang menumpuk itu.
“lu beruntung ya Nu, dapatin iras, dapatin segalanya dan kayanya gak ada alasan apapun lagi buat lu gak bahagia…” tian memainkan sedotan di tangannya, ia mungkin mendapatiku sedang saling tersenyum dengan iras barusan.
“gue bukan beruntung, gue Cuma ngerasa cukup dengan dapetin iras doang, bertahun – tahun sebelumnya, iras juga kan Cuma anak ingusan kaya gue…”
Tian menatap lurus ke tengah lapangan.
“mungkin itu yang gak coba gue terapin pas nemu pacar sebaik rico…” tampak raut penyesalan dari wajah tian “eh nu, boleh kasih tahu resep lu apa biar bisa awet sama iras…”
Aku tersenyum mendengar pertanyaan tian, pertanyaan yang sebenarnya sudah terlampau sering muncul.
“gue gak pernah punya cara yang benar – benar jitu kenapa gue bisa menaklukan iras atau iras yang cinta setengah mati sama gue, bahkan bisa sampe punya resep segala, gue kan bukan koki…”
Kataku sambil terus memperhatikan iras, yang masih berlarian ke sana kemari, memburu bola.
“tapi gue selalu pengen buat gak lupa, buat gak ngasih atau memperhatikan hal – hal kecil buat iras, kaya nyuruh dia makan, nyuruh dia mandi, nyuruh dia sarapan, atau seperti sekarang, gue di sini nemenin dia, senyum pas dia liat gue…”
“kenapa nu? Apa iras gak pernah protes? Yang dia kasih kan banyak, kok lu Cuma ngasih perhatian biasa yang siapapun juga bisa ngelakuin itu…”
“karena gue ngerasain sendiri, pas gue dibentak – bentak sama iras gara – gara gak makan, gue ngerasa perhatian dia sudah lebih dari cukup. Walau Cuma hal sepele kaya diingetin makan, kebiasaan yang seharusnya gak usah diingetin buat dilakuin tapi menurut gue itu penting itu berarti, hal – hal kecil itu berarti.  Lu bayangin, kalau duit sejuta kurang seratus perak, itu duit gak bakalan pernah jadi sejuta sampai kapanpun tetap akan jadi Sembilan ratus Sembilan puluh Sembilan ribu Sembilan ratus rupiah…”
Aku memutar kepalaku dan menatap tian.
“gue selama ini mungkin Cuma jadi uang cepe buat iras, tapi dia sudah jadi uang Sembilan ratus itu buat gue. Menurut gue itu cukup. Dari pada lu, yang terus pengen rico jadi uang Sembilan ratus ribu buat lu tapi lu bahkan gak bisa jadi duit seratus perak buat dia…”
Tian diam mematung.  Aku tidak ingin kami sebenarnya lewat dari perbincangan santai ini, namun aku juga khawatir kalau tian sampai tersinggung.
“jadi point pentingnya hal – hal kecil itu ya nu…”
“bukan, hal itu Cuma berlaku buat gue sama iras, yang paling penting itu balas budi dot. Lu harus jadi pemberi dan pembalas budi yang baik. Lu harus jadi pemberi yang tanpa perlu diminta. Lu harus jadi bagian dari timbal balik yang baik di dalam hubungan lu sendiri.  Gue sadar, gue memang terlalu banyak menuntut pada iras, tapi gue juga melakukan usaha kecil – kecilan untuk membalas ia dengan baik. Contohnya sekarang gue di sini, nungguin dia main, nyediain dia minum sama handuk, pas nanti istirahat gue bisa ngasih dia minum dan ngelapin keringatnya dia, mungkin hal ini sepele, tapi iras sering ngelakuin hal ini ke gue dan gue seneng kalau dia lagi ngelakuin hal itu, gue juga pengen dia ngerasain hal seneng kaya yang selalu gue rasain kalau gue lagi futsal, jadi dalam sekali geprakan, gue seenggaknya udah ngelakuin dua hal sekaligus, jadi pemberi dan pembalas budi kan?”
Tian mengangguk, ia mungkin sedikit faham.
“udah telat gak ya nu kalau sekarang gue pengen jadi pemberi yang baik buat rico?”
Aku tersenyum, seperti mengingatkan aku pada sesuatu.
“kita semua pernah telat buat orang yang kita sayang, lu tahu sendiri gimana cerita gue sama iras, itu lah kita memang harus datang terlambat untuk orang yang kita sayang, agar ia juga bisa sabar menunggu orang yang tepat untuk dirinya sendiri…”
Tian mengangguk – angguk lagi.
“lu punya saran gak buat gue sekarang?”
“ke penjual minuman sana, lu beli mizone atau apa lah buat rico, terus ntar lu kasih ke rico pas dia istirahat…”
Tian diam, mungkin ia sedang mempertimbangkan. Aku lihat iras berhenti dan ia berjalan menghampiriku.
“kapan ya gue kaya lu sama iras, gue Cuma bisa ngasih minum doang, itu juga gue belum apa – apa, lah iras sampai ngasih waterpark sama lu…”
Aku terkekeh mendengar gerutu tian, ia akhirnya berjalan juga menuju tempat penjual minuman. Iras sudah ada di depanku.
“drink…” ku berikan satu buah botol susu murni dari sebuah penelitian, sehabis olah raga seorang atlit lebih butuh susu ketimbang minuman ion atau energy. “sini handukannya sama inu…”
Ku telungkupkan handuk di kepala iras, ia berjongkok di depanku yang duduk di atas bangku. Setengah tubuhnya memeluk pinggangku, matanya menatap ke arahku.
“bau lu ras…”
Ia hanya nyengir lebar. Rico menghampiri kami berdua. Ia menuju tasnya, mengambil air minumnya sendiri dan aku lihat tian sudah kembali ia juga membawa satu botol minuman.
“yah kamu, udah aku beliin juga…” kata tian pada rico.
“aku gak tau, kalau ada yang mau beliin minum..” jawab rico ia menggeser duduknya, mengharapkan tian duduk di sampingnya. Sambil membantu mengeringkan rambut iras, aku memperhatikan mereka berdua.
Tangan rico mengambil botol minuman dari tangan tian, ia membuka penutup kemasannya kemudian minum dari sana.
“kata si randi, kamu udah ngsms dia lagi, kamu sebenarnya pengen yang kaya gimana lagi sih? Kemarin katanya pengen yang baik, dikasih si randi yang anak rumahan, yang soleh dan alim ulama gitu malah kamu gak prospek…”
Iras mengangkat kepalanya mungkin ia juga tertarik dengan apa yang kami dengar dari mulut tian.
“aku tidak ingin yang baik, aku ingin kamu…” kata rico sambil menutup lagi botol minuman yang tadi di beli tian.
Tian menatapnya sebentar sebelum membuang muka lagi.
“aku yang belum pede buat balik lagi ke kamu, aku yang masih malu sama kamu gara – gara pernah bikin kamu kecewa…”
“kan sudah aku bilang, yang terbaik itu yang kita perbaiki berdua, tidak salah kan kalau aku ingin mengajak kamu memulainya lagi, dengan upaya saling memperbaiki, memang harus ada upaya memaafkan untuk orang yang kita sayangi, kita kan sudah belajar dari dua orang ini, mereka juga pernah saling memaafkan sebelum akhirnya mereka berdua saling memperbaiki diri…”
Aku dan iras yang sedang berpelukan tersenyum mendengarkan obrolan mereka berdua.
“hey, kan yang satu udah jujur kenapa yang satu masih gengsi gitu? Udah jelas kalian ini jadian lagi…” iras mendadak menjadi komentator untuk adegan tersebut.
“bos gue harus ngomong apalagi nih? Kasih masukan dong?” Tanya rico pada iras.
“say I love you PEAK”
“I Love You…” kata rico sebelum akhirnya tian memeluknya erat.
Kami akhirnya pulang berempat, aku bersama iras duduk di depan sementara rico dan tian di belakang.  Kami sudah membahas banyak hal dan memutuskan untuk bersantai sejenak di waterpark kami, aku ingat sosis raksasa di sana.
“kalian seharusnya jangan membatasi ruang social kalian, biar lebih banyak lagi pasangan yang belajar dari kalian berdua…” kata tian.
“iras yang larang dot..” jawabku “gue gak mungkin ngecewain orang keras kepala dan arogan ini, setelah semua yang dia kasih…” aku memperkuat genggaman tanganku dan iras sambil menatap kedua matanya.
Iras tersenyum mendengar perkataanku.
“termasuk waterpark ini? Bener dah lu ngeluarin duit gak tanggung – tanggung…” kata tian lagi.
“hah siapa bilang gue ngasih waterpark ini?” iras berbalik ke belakang padahal ia sedang menyetir “waterpark ini dibuat khusus sama inu, ini pakai uangnya inu full, dibuat buat ponakannya dia, Rizzy sama Zahra gara – gara di sukabumi gak ada tempat maen, waktu itu keponakannya ngamuk pengen ke bogor Cuma buat maen air…”
Gerbang waterpark sudah terlihat, satpam yang sudah mengenali mobil iras langsung membukakan pintu aku cepat – cepat masuk ke dalam. Kedua keponakanku juga sudah janjian untuk ketemu di sini sore ini. Yang pasti aku sudah tidak sabar bertemu dua hal itu, sosis raksasa dan dua keponakan ku yang luar biasa.







Still The Same Love



Aku rapatkan gorden kamar VIP tempat inu dirawat. Ia mulai tertidur kini, setelah tadi selesai dari keadaan pingsannya.  Dengkuran halus terdengar dari balik masker oksigen yang melindungi mulutnya.  Dan dibalik kelopak matanya yang tertutup rapat, aku sangat merindukan setiap tatapan matanya yang tajam.
Ku tarik selimut sehingga menutupi sebagian tubuhnya, bintik – bintik merah di sekujur tubuhnya mulai menghilang.  Alerginya terhadap makanan laut rupanya tidak kunjung membaik, bahkan sampai membuatnya pingsan seperti ini.
Meski dokter mengatakan keadaanya sudah mulai membaik, namun di dalam kepalaku bertalu – talu berbagai kekhawatiran dan ketakutan yang sama malah semakin membesar selama tujuh bulan ini.
Tadi pagi aku sempat bertemu salah satu teman inu, indra, ia teman ku juga sebenarnya. Ia mengajakku ke acara traktiran teman kampus inu, sudah beberapa hari di sukabumi namun nyaliku belum terkumpul seratus persen untuk menemui inu lagi, meskipun rindu di hatiku kebalikan dari itu.
Sepanjang waktu, selama aku mampu, aku selalu berusaha menyempatkan waktu untuk mengingat inu. Salah, setiap waktu ku hampir dipenuhi oleh apapun tentangnya.
Inu kurusan, dibandingkan waktu terakhir kami bertemu. Kedua pipinya benar – benar tirus. Pergelengan tangannya pun kini semakin kecil.  Wajahnya pucat da nada bulatan hitam di sekitar kedua matanya. Mungkin ia sedang sakit, atau mungkin seperti ku, hari – hari yang kami jalani tidak begitu baik.
Ku matikan tv yang masih menyala di dalam ruangan, ketika tadi inu siuman ia meminta nonton tv sebentar. 
Ku kecilkan ac, menurutku yang orang awam tidak baik orang sakit kedinginan.  Walau inu sangat membenci hal itu – aku mematikan ac -.
Inu sudah agak pulas, mungkin saat yang tepat untuk meninggalkannya sekarang. Ku letakan remote ac di meja sebelah tempat tidur.
“jangan kemana – mana” tiba – tiba kata inu, matanya tidak terbuka sedikitpun mulutnya saja yang bicara.
Aku akhirnya memutar arah, ketika hampir saja sampai di pintu.  kemudian tanganku jadinya mengunci pintu dari dalam.  Mungkin inu masih berusaha terlelap, aku tidak bisa menolak apapun permintaannya.  Akhirnya tubuhku berputar menuju sofa, ku rebahkan kepala di sana, semoga aku pun bisa terlelap malam ini. Namun sampai pagi, mataku tidak bisa berhenti mengawasi.
Hari ini inu sudah boleh pulang, mamanya menahan semua sim, bahkan kunci motor dan mobilnya.  Dan menyuruhku menjemput mereka dari rumah sakit. Ia masih agak tampak pucat, ketika memasuki mobil.  Mama, begitu biasa aku memanggil mamanya inu, memapah anak kesayangannya itu menuju lobi depan rumah sakit.
Aku membukakan pintu belakang mobilku.
“mobil inu mana sih ma? Padahal inu masih bisa nyetir..” inu tampak menggerutu.
“kamu masih sakit..” kata mama.
Inu masuk ke jok belakang mobilku.
“nu di depan..” kata mama tiba – tiba. 
Inu menatap mama sebentar, namun mata mama mengkomando inu untuk keluar lagi.
“lah emang ada siapa lagi yang naek? Mama aja yang di depan..”
“nu….” Kata mama lagi agak sedikit menggeram.
“arggghhhhh iya iya inu di depan..” sambil misuh – misuh inu pindah ke jok depan mobilku.  Tanganku hendak membukakan pintu. “gak usah, bisa sendiri..” katanya sambil membuka pintu kemudian duduk di jok depan mobilku.
Mama tersenyum ke arahku.
Mama sudah duduk di belakang, aku memutar kemudian masuk ke dalam mobil.  Duduk di belakang kemudi, dengan inu di sampingku.
“mama gak apa – apa nih, duduk di belakang?” Tanya ku pada mama, melongokan kepala ke belakang.
“gak apa – apa a, udah jalan yok..” jawab mama sambil tersenyum lagi, ia memasangkan kacamata hitam besarnya.
Ku lihat inu di sampingku, ia asyik sendiri dengan ipadnya.  Ku ambil bagian ujung dari sabuk pengaman, di sebelah kiri tubuh inu, ia masih tak bergeming dengan ipadnya. Kemudian ku pasangkan pada tuas di sebelah kanannya.
“dasar lebay, polisi di sini gak bakalan nilang sabuk doang mah…” ia cemberut ke arahku.
“bukan masalah ditilang atau tidaknya nu, tapi keamanannya kan?” jelasku, sambil menyalakan mobil. Kemudian meninggalkan halaman rumah sakit.
Ia tidak menyaut lagi. Asyik dengan game plant vs zombie di ipadnya. Buatku ini adalah sebagian kecil dari dukungan mama lagi, ia pasti tahu kalau aku sangat ingin kembali ke samping inu.  Hingga ia menyuruh inu duduk di depan bersamaku.
Mungkin ini, tidak bisa menjamin sedikitpun aku bisa kembali ke inu, namun setidaknya, aku sudah memiliki satu dukungan.  Karena aku tahu, hidupku sepenuhnya adalah untuk inu, bukan orang lain.
Waktu sudah hampir sore, orang dari manajemen pusat baru saja meninggalkan ruangan kantor ku. Aku yang memilih berkantor di sukabumi akhirnya membuat mereka yang mengalah jika ada rapat penting, harus datang ke sukabumi. Menghalau macet dan perjalanan panjang.
Semua ku lakukan adalah agar bisa kembali dekat dengan inu, kembali hidup untuknya. Bagaimana tidak hampir setengah tahun ini aku bagai mayat berjalan.
Pagi tadi aku tahu kalau inu futsal sore ini, aku sudah berencana untuk menjemputnya.  Motornya sedang di bengkel, dan aku tahu ia sedang tidak menggunakan mobilnya.   Akhirnya dengan kecepatan kencang aku bergegas ke tempat futsal, menembus hujan yang sedang mengguyur kota kecil ini.
Jarak dari kantor ku ke tempat biasa inu futsal tidak jauh, cukup dua menit dengan kecepatan tinggi.
Ku ambil sebuah paying besar di jok belakang mobilku, aku keluar menembus hujan menuju pintu tempat futsal.  Ku lihat beberapa teman inu yang ku kenal berkumpul di dekat parkiran, sedang berteduh. Aku sepertinya tepat waktu, mereka baru selesai.
“hay pak boss..” jali, salah satu teman setim futsal inu. Teman kampusnya juga.
“inu dimana?” tanyaku pada dia.
“weyy si inu di mana?” Tanya jali pada teman – teman di belakangnya.
“tuh di mobil jazz metalik yang itu, sama si melman..”
Aku memutar tubuh, melihat ke arah mobil yang ditunjuk takdir. Teman inu juga.  Yang melaju pelan baru saja keluar dari parkiran.  Mobil sama yang tadi pagi datang ke rumah inu.
Aku tidak tahu siapa melman ini, yang pasti ia seorang polisi.  Ada perasaan kalah di sini, ketika ada orang lain yang bisa mengantarkannya pulang, menjemputnya lebih cepat dariku.
Mungkin aku terlambat untuk kembali pada inu, mungkin ini bukan saat yang tepat bertemu dengannya.
“inu udah ada yang jagain ma..” aku masih mendempetkan hp dengan bahuku, mama inu menelpon, aku sendiri baru hendak menutup showroom, sudah malam sekali karyawanku bahkan sudah pulang semua.
“kalau bukan aa, mama gak percaya a, coba mala mini temenin inu di rumah ya..” ada nada khawatir di dalam suara mama.
“kalau nanti inu nelpon atau sms iras ke sana ma, iras masih di showroom soalnya, belum mandi, mama tahu sendiri kan kalau inu gak suka sama siapapun yang gak mandi..”
“mama yang nelpon si bungsu, biar dia mau ditemenin aa di sana..” mama memaksa lagi.
“gak usah ma, iras nya yang gak enak sama inu ntar…”
“repeh a, tadi malam aa nginep pan di rumah si bungsu?” inu memang anak bungsunya mama, ia sangat over protektif terhadapnya.
“iya mah nginep..”
“ya udah, ntar sama mama di telpon si bungsunya, aa awas mun te ka rumah..”
“inysaallah ma..” jawabku.
Mama menutup telponnya,. Setelah file – file di dalam map ku rapi di di sudut meja, aku bangkit dari kursiku. Kemudian mematikan lampu ruangan.
Setelah mengunci pintu ruangan kerjaku, aku berjalan menuju tangga. Kantor ku di lantai dua, di bawah ruangan untuk showroom kecilku.  Sebuah alasan yang cukup kuat untuk ku berkantor di sukabumi.
Begitu kaki ku menginjak anak tangga yang paling tengah, aku melihat seseorang berdiri di tengah showroom.  Inu yang memakai kaos putih, jeans dan snickernya berdiri di sana menatapku.
Ingin sekali aku menyapanya dan menanyakan hendak apa ia malam – malam di sini.  Kaki ku berjalan pelan, ragu – ragu.
Namun begitu sampai di tengah ruangan, tubuh ku diburu olehnya. Keduaa tangannya merangkul bahuku. Sambil kepalanya menelusup masuk ke bahu sebelah kananku.
“I miss you..” katanya pelan.  Tanganku ragu – ragu sekali mengusap punggungnya, hembusan nafasnya yang tarik, degupan jantungnya yang kencang, membuat ku tahu kalau ia tidak mudah melakukan ini., seorang inu adalah orang yang kuat dan pantang menyerah.  Aku tahu untuk datang ke sini ia harus menaklukan keteguhannya yang tidak bisa siapapun kalahkan.
“seandainya inu tahu, selama ini, hampir setiap detik iras habiskan hanya untuk mengucapkan kalimat yang sama..”
Aku semakin memeluk erat aroma tubuh yang selama ini terus menggerayangiku, menghantuiku, mengganggu setiap waktuku.
Aku menyetir mobil inu, mobilku ku tinggalkan di showroom. Tubuh licin jalan seusai dibasahi hujan, memantulkan cahaya kuning dari lampu mobilnya. Inu duduk di sampingku, kepalanya menyandar pada bahu jok menatap ke luar jendela mobil.  Entah apa yang mengambang di matanya.
“lain kali kalau mau jemput bilang..” suara lemahnya akhirnya keluar setelah hampir sepuluh menit kami sama – sama diam.
“emhhh..” hanya itu yang bisa aku keluarkan, sambil mengangguk – angguk sebentar. Aku menatapnya sekilas.
“iras pikir, mungkin ada yang lain yang sudah janji jemput inu duluan…” kataku, dengan setengah mati tidak rela.
“kamu bukan orang lain, sejak kapan kamu mau peduli ada orang lain? Atau kamu sudah tidak sepeduli dulu lagi.. mereka bukan kamu, banyak kepentingan mereka yang harus aku kalahkan”
Inu menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Di dalam hati, bergejolak berbagai hal.  Bukan, bukan karena aku merasa menang.  Namun yang tidak bisa ku bayangkan adalah ketidaknyamanan nya dengan mereka yang ia sebut orang lain.
“maafkan iras…”
“dasar bodoh, kamu minta maaf untuk apa..”
“untuk waktu yang iras lewatkan tanpa menjaga inu lagi…”
“kamu tidak perlu minta maaf untuk itu, bukan salah kamu. Sudahlah lupakan saja…”
“kamu itu pemaaf yang paling aku cari, aku bisa salah dan dilupakan, tapi tidak bisa bila tidak kamu maafkan…”
Inu mendengus lemah. Matanya kembali terpejam lagi. Ingin sekali menghiburnya atau sekedar menyatakan bahwa aku ada di sini.
“kamu tidak sedang ingin membahas masa lalu kan? Kalau hal itu sampai kapanpun tidak bisa inu lupakan atau inu maafkan….”
“kalau begitu, iras tidak akan berhenti meminta maaf..”
“itu karena sebagai manusia hidup kita tidak bisa menghindari hal itu, orang yang menganggap masa lalu sebagai bencana akan tinggal di masa depan sebagai pengungsi…”
“apa kita berdua sekarang pengungsi? Kamu pengungsi di tempat lain, iras juga pengungsi di tempat lain, tempat kita berdua tidak pernah saling ditemukan padahal iras rasa kita sedang sama – sama mencari satu sama lain..”
“inu tidak menganggapnya bencana…”
“lalu apa? Masa lalu sebagai bar? Sehingga sekarang kamu begini?” aku sampai sekarang pun tidak pernah pandai menebak perasaan inu, pola pikirnya.
“apakah kamu pernah berpikir bahwa kita berdua telah berhasil mengambil ilmu penting yang sudah diajarkan masa lalu? Atau kah seperti biasa kamu menyerahkan segalanya pada inu? Kamu tidak berubah ras..”
“aku tidak akan berubah, sampai kapanpun tidak akan, agar kamu mudah mengenali ku…”
“kamu, bayangan kamu, bahkan senyuman kamu masih terlihat jelas di mimpi tadi malam..” inu memijit dahinya lagi. “sulit untuk tidak mengenali kamu…”
“seandainya saja kamu mau berkeliling sekali lagi di hatiku, kamu Cuma akan menemukan kamu di sana…”
Inu duduk di atas tempat tidurku, ia menyaksikan tayangan televisi yang sepertinya tidak benar – benar menarik untuknya. Ku seduhkan secangkir coklat hangat.  Lalu ku letakan di atas kotak – kotak rak televisi.
“jadi kapan kamu berangkat?” kata inu tanpa menatapku.
“desember, sudah pernah iras bilang kan?” aku duduk di sampingnya.
“oke, mulai sekarang kamu tahu apa yang harus kamu lakukan..”
Ia meneguk coklat hangat di depannya.
“maksud inu apa?”
Aku benar – benar tidak mengerti dengan apa yang ia katakana berkaitan dengan apa yang harus aku lakukan.
“persiapkan diri dengan baik, mungkin masih lama, tapi tidak salahnya jika kamu mulai berkemas, tinggalkan sukabumi dari sekarang, bantu aku buat tidak menjadikan apa yang sebenarnya hampir berhasil aku kubur malah bangkit lagi, pergilah…”
Kaki ku bergetar, lidahku tercekat, tenggorokanku kering.  Aku kehabisan suara untuk membantah dan bilang ini tidak akan bagus.
“bukan itu yang iras harapkan..” kataku, selain mengiba padanya, dari dulu pun aku tidak bisa melakukan apa – apa.
“lalu kamu juga ingin aku mengalami hal yang tidak ingin aku harapkan dua kali?” matanya menerkam ke dasar sanubariku, aku terkoyak dahsyat “aku harus pura – pura kuat lagi tanpa kamu di sini?”
Pandangan matanya benar – benar mendarat telak di hatiku, ia seperti berteriak kencang dari dasar jurang pada ku yang berada di ketinggian, sedang mencarinya.
“pergilah..” kemudian kata inu lagi.  Meruntuhkan seluruh pertahananku.
“tidak begitu nu, walaupun iras pergi, iras ingin terlebih dahulu memperbaiki hal ini, yang ada di antara kita berdua, kesempatan memiliki inu lagi…”
“lalu kita berjauhan lagi? Apa bedanya ras? Kalau kali ini yang aku dengar hanya voice note kamu? Sms – sms panjang yang isinya hanya bualan? Malam – malam menunggu balasan email dari kamu? Itu yang kamu harapkan? Kurang buruk apa hari yang sudah aku jalani, lalu kini kamu akan memperparahnya, sebelum semuanya semakin tidak karuan pergilah, lebih cepat lebih baik..”
“buatku yang tidak baik sama sekali…”
“terserah..” inu mengambil kunci mobilnya yang ku letakan di dekat televisi. Tanpa pamitan sedikitpun, ia pergi keluar menuju mobilnya.  Dalam hitungan satu sampai sepuluh ia sudah berlalu meninggalkan kostan ku.
Ada rasa sedih melihat kenyataan ini.  Tinggal di luar negeri yang tadinya bisa ku anggap obat, menyibukan diri hingga bisa membuat ku lupa pada apa yang sedang kami derita.  Namun bagian dariku berkata tidak salah juga kalau kembali dulu ke sukabumi dan memperbaiki segalanya agar aku bisa semakin tenang di amerika.
Namun kini semua tidak semudah kelihatannya.  Aku mencari – cari surat beasiswaku. Aku tahu apa yang harus aku lakukan.
Tidak mungkin bisa kehilangannya untuk kedua kali.
Aku sudah membatalkan beasiswaku, dan panitiapun sudah menemukan kandidat lain. Aku samasekali tidak peduli. Kedua orang tua ku? Sudah lama aku tidak pernah menghubungi mereka lagi. Namun, inu pun tidak bisa dihubungi, hampir seminggu kami tidak bertemu. Apalagi beberapa hari ini aku ke Jakarta, ada beberapa urusan yang perlu ku selesai kan.
Tidak mungkin kalau kali ini aku tidak berjuang lagi untuknya, ia satu – satunya dan harta berharga yang ku miliki.  Ia nyawa hidupku yang menentukan bahagia atau tidaknya hidupku.
“itu inu ya?” kata arin, sekeretaris showroom.
“rin tolong bilang kalau aku lagi di Singapore dan di sini aka nada manajer baru, aku akan sembunyi di belakang..”
Arin mengangguk mengerti. Aku cepat berlalu ke belakang showroom, sebelum mata inu menatap bayanganku. Ia melesat menembus para karyawanku, mungkin tujuannya kantorku di atas.
Aku tahu matanya, di sana kata lebih terbaca banyak daripada yang inu ucapkan.  Aku tahu rindu itu pun tumbuh di otaknya yang perkasa itu. Di hatinya yang keras bagai batu, yang hanya bisa dikalahkan oleh kebimbingan dirinya sendiri, bukan orang lain.
Arin sudah menyusul ke atas, akhirnya dengan langkah pelan aku mengikuti langkah arin.
“pak iras sudah seminggu di Singapore, mungkin tidak akan kembali lagi ke sini, karena mulai besok kami juga akan kedatangan manajer baru..”
Mungkin inu lupa kalau aku di sini hanya numpang ngantor dan manajer showroom ini beda lagi, bukan aku. Aku mengulum senyumku.
Ku dengarkan percakapan mereka berdua dari tengah tangga. Sebelum akhirnya membawa kakiku menginjak anak tangga lebih tinggi. Lalu muncul di hadapan inu.
“dasar bodoh, bebal, bajingan, brengsek kamu ras…”  cercanya sambil lari ke pelukanku.
Aku tersenyum.  Bukan tersenyum menang, tidak juga karena senang.  Tapi Cuma itu satu – satunya cara mengembalikannya.
Inu baru selesai mandi, ia berdiri di depan cermin lebar yang menjadi dinding salah satu tembok kamarnya.  Sebagai seorang model ia memang cowok metroseksual murni, aku dari dulu suka menghitung mulai dari mandi sampai ia benar – benar siap untuk berangkat itu bisa memakan waktu sampai empat puluh menit. Sekarang masih seperti itu, inu ku yang memang pandai dalam menjaga penampilannya.
Kami hendak menghadiri acara peresmian sebuah cabang bank malam ini, aku mengajak inu ikut serta. Mengingat bank ini pun adalah salah satu dari anak perusahaan kakeknya.
Ku buka lemari pakaian inu, lemari besar yang kebanyakan bajunya digantung.  Aku mencarikan kemeja yang memiliki motif hampir sama dengan motif kemeja yang ku pakai.
“kemeja ketiga dari kiri, di dalamnya udah ada celananya..” ia mengkomando tanpa melihat sedikitpun.
Aku pun mengambil kemeja berwarna biru cerah itu, tidak berbeda cukup jauh dengan yang ku pakai. Ku letakan di atas tempat tidur.
Pintu lemari yang di pojok terbuka, inu lebih suka menggantung semua pakaiannya di bandingkan melipatnya.   Aku pun menghampiri lemari tersebut, bermaksud hendak menutupnya.
Inu sedang menyemprotkan parfum ke seluruh permukaan tubuhnya, parfum favorit papa nya yang ia sukai juga, sejak SMA ia tidak pernah mengganti parfumnya. Aku juga sangat menggilai aromanya, yang membuat istimewa parfum tersebut tidak dijual di Indonesia, setiap bulan inu akan memesannya dari tokonya langsung di paris.
Ketika hendak menutup pintu lemari, mataku ditarik sesuatu yang berada di dalam lemari itu, dua buah baju yang dilipat rapi di sana.  Sebuah jersey Barcelona dan real Madrid.
Inu madridista sejati, dia tidak mungkin memiliki jersey Barcelona.
Aku mengambil jersey tersebut, aku mengenalinya, sangat mengenalinya, itu adalah baju terakhir yang ku pakai sebelum berpisah dengan inu tujuh bulan lalu.  Mungkin masih banyak bajuku yang lain di sini, tapi baju ini tampak berbeda, agak sedikit lusuh.
Aku membaliknya, di sana ada tertulis “inuku” dan pasti di jersey real Madrid inu akan ada tulisan “irasku”.  Ini memang baju terakhir yang kami pakai di ujung kebersamaan kami pakai tujuh bulan yang lalu, sewaktu bermain futsal sebelum berangkat ke pesta ulang tahun ku.
“ini baju iras bukan?” aku menunjukan baju tersebut pada inu.   Memastikan bahwa ini memang bajuku.
Inu mengangguk.
“aromanya…” kataku sambil menciumnya sesekali.
“ya betul, itu baju kamu, bau keringat ya? Memang..” inu berjalan mendekat “selama tujuh bulan inu sengaja tidak mencucinya, inu tidak peduli, padahal sore itu keringat kamu banyak dan baju itu juga basah, tapi inu sengaja tidak mencucinya…”
Inu memotong sejenak kata – katanya.
“inu tidak pernah mau kehilangan moment terakhir kita ras, saat inu sadar Cuma baju itu, Cuma bau keringat iras yang terakhir yang inu punya, inu tidak mau lupa pada aroma tubuh iras, mungkin terlihat bodoh, tapi tidak ada sedikitpun yang tersisa dari kamu itu bahkan akan lebih parah.. Cuma aroma tubuh iras yang bisa menenangkan pikiran kalut inu selama ini, Cuma aroma tubuh iras yang mampu mengingatkan inu bagaimana nyamannya tidur di dalam pelukan kamu”
Aku tertohok tidak mampu bicara sedikitpun.
“Cuma baju itu yang bisa menjawab setiap kali inu merasa kangen setiap kali inu bertanya – Tanya pada sendiri, iras sedang ada di mana., Cuma baju itu yang inu cium saat inu kangen sama semua kebawelan kamu, Cuma baju itu ras yang bisa jadi sapu tangan saat inu sedih yang inu anggap tangan kamu yang mengusap pelan pipi inu atau mencubitnya, inu tidak pernah mau mencucinya, inu tidak pernah mau kamu tinggalkan sedetikpun… meskipun kamu tidak di sini, inu tidak pernah mau kehilangan kamu secara keseluruhan, waktu itu Cuma ini satu – satunya peninggalan kamu, Cuma ini yang inu punya kalau kangen sama kamu sedang benar – benar menyiksa, kamu harus tahu rasanya, sakitnya, sesaknya itu seperti apa…” kepala inu jatuh di pundakku, bajuku basah oleh hujan yang berguguran dari kedua sudut matanya. Tangannya memeluk ku kuat.
Air mataku menetes satu – satu. Membayangkan semua hal berat yang ia lewati sendirian selama ini.
Kami yang berdiri di tengah – tengah kamar saling bertatapan, menyaksikan penayangan semua hal berat yang terjadi selama tujuh bulan ini.  Aku memeluk tubuh inu kuat, menyumpahi setiap kejadian pahit yang menerpa kami berdua. 
“jangan pernah pergi lagi ras, inu tidak pernah sekuat yang kamu kira…”
Katanya pelan di telingaku.
….
Kami berdua pulang hampir tengah malam, begitu pulang inu langsung tertidur.  Tubuhnya tergeletak di atas karpet depan televisi, ia memintaku memasakan mie instan, Cuma beberapa menit di dapur namun inu sudah benar – benar pulas.  Tadinya ingin sekali memindahkannya ke kamar, namun aku tidak yakin cukup kuat menggendongnya melalui tangga.
Akhirnya aku mengambil selimut dari kamarnya.  Ku bayangkan tidak cukup nyaman tidur dengan baju kemeja seperti itu, namun menggantikan pakaiannya juga tidak mungkin. Inu pasti marah.  Akhirnya ku tutup tubuh inu dengan selimut besarnya.
“Nu… katanya lapar, ini mie nya udah matang, mau dimakan gak?” aku membelai pipinya sebentar, takut menganggu kelelapannya.
Inu diam tak bergeming.
“ya udah iras pulang dulu ya..” ku cium sebentar kening inu. Ia sudah benar – benar lelap.
Ku pastikan rumah dalam keadaan aman, kami sudah sepakat untuk tidak tinggal serumah, jadi artinya aku harus pulang.  kunci mobilku tergeletak di atas meja ruang tamu.  Aku berjalan mengambilnya.
“kamu mau kemana?”
Inu berdiri di tengah ruangan televisi. Menatap ke arahku.  Selimut yang tadi menutupi tubuhnya langsung menumpuk di lantai.
“pulang..” kataku bingung. Soalnya inu yang membuat keputusan agar kami tetap tinggal terpisah “ingat tadi siang soal kita tidak tinggal bareng?”
“itu artinya kita gak tidur bareng?” wajah khasnya memelas, aku paling tidak bisa menolak kalau ia sudah memasang tampang seperti itu, seakan segala pertahananku kalah begitu saja. “jadi inu tidur sendirian mala mini?”
Aku berjalan menghampirinya.
“dasar anak kecil..” aku mengucek rambutnya sebentar.
Ia memeluk ku. Kemudian kami sama – sama duduk di sofa.
“inu kan tadi bilang lapar…”
“tuh udah iras masakin, tadi iras bangunin gak bangun – bangun, makanya iras tinggal…”
Aku mengambil mangkuk berisi mie instan yang tadi ku buat.  Menggulungnya beberapa kali.
“lah kan inu bilang tadi pasta, kok mie instan…” tiba – tiba dahinya berkerut lagi.
Aku mengingat – ingat.
“ah bener tadi mintanya mie…” aku tidak mungkin salah dengar.
“ih tuh kuping gak bener, inu minta pasta…”
“ya udah sekarang iras masak pasta…”
“saus spaghetinya gak ada di kulkas, kamu mau nyuruh inu makan pasta pake kecap?” semua adegan ini dilakukan dengan posisi kami tetap berpelukan.
“tuh kan, inu tau sendiri, spaghetinya udah abis, berarti tadi emang minta mie..” aku sebenarnya ingin sekali tertawa.
“itu mie nya udah segede cacing gitu, masa inu makan?”
Aku melihat mie yang ada di mangkuk di tanganku, memang sudah mulai begah.  Aku menatap orang yang diam di pelukanku, bibirnya mengkerucut, matanya tampak kesal, dan keningnya mengkerut.
“iras sebenarnya kangen banget sama kelakuan kamu yang ini, yang iras gak pernah bener, gak pernah cukup dan kamu walau sudah salah, walau ketauan Cuma mau ngerjain iras tetep kekeh…”
Inu diam, bibirnya terus mengkerucut.
“tapi inu gak mau makan mie…”
“ya udah inu jadinya mau makan apa?”
“ambilin jeruk di kulkas, kupasin, gak boleh ada bijinya..”
Aku beranjak dari tempatku, menuju kulkas di dapur.  Kulkas inu memang selalu penuh, setelah ku temukan jeruk pesanan inu aku kembali ke ruang tamu.  Inu tidak akan pernah cukup dengan satu butir saja, aku bawa semua yang ada di dalam keranjang nya.
Aku duduk di sampingnya lagi sambil mengupas jeruk di tanganku. Sambil mengeluarkan biji – biji dari dalam tiap kangkot jeruknya.
“iras harus ngapain lagi sekarang? Ayok suruh iras lagi, udah lama iras gak kamu siksa…” aku menyuapi inu jeruk yang telah ku kupas dan ku buang bijinya.
Ia meringsut memeluk tubuhku lagi.
“kamu yang nyiksa inu terus selama tujuh bulan…”
“sorry for that” kataku.
“Pengen soya…” katanya tiba – tiba.
“ada di kulkas? Ya udah iras ambilin…”
“gak ada..” inu menggeleng. “jangan yang ada bahan pengawetnya…”
“lah kalau gak ada iras nyari di mana? Ini udah jam dua belas lebih, kalau tanpa pengawet berarti langsung kedelainya donk? Di jus gitu?”
Inu mengangguk cepat. Itu berarti yang ku ungkapkan sesuai dengan kemauannya.
“iras nyari di mana jam segini nu…” salahku sendiri sudah menantangnya.
“inu kan gak minta tempat belinya, inu minta soya nya…”
Aku memutar otak. Ini  dini hari, dimana harus beli kedali untuk membuat soya.
“campurnya sama srikaya ya, biar gak enek…”
Aku menepuk  kening lagi, dimana mencari srikaya.
“bisa diganti gak sama yang lain? Jangan soya sama srikaya deh…”
Inu tidak menjawab, ia tampak berpikir, matanya menatap ke depan, namun cukup sayu untuk mencari – cari bahan untuk mengerjai ku lagi.  Sekitar lima menit ia berpikir, sebelum akhirnya jatuh terlelap.  Kali ini ia benar – benar tidur, aku bahkan sampai mencubitnya namun ia hanya menggeliat sedikit.
Udara sukabumi memang sangat dingin dan  tidak mungkin membiarkan inu tidur di atas karpet. Akhrinya aku memutuskan untuk menggendongnya ke kamar. Ini dulu sering ku lakukan. Semoga aku masih cukup kuat untuk mengangkat tubuhnya lagi.
Dengan cukup kepayahan aku menggendong inu ke kamar, setelah sampai di tempat tidur aku langsung mebawanya terlentang di sana. Melepaskan kaos kaki dan kemeja yang dipakainya.  Rasanya aku saja yang melihat tidak cukup nyaman tidur menggunakan kemeja.
Aku menyusul selimut di bawah, untuk menutupi tubuh inu.  Sebelum kembali ke kamar, ku pastikan lagi rumah sudah aman, pintu dan jendela sudah terkunci semua, motor dan kami berdua semuanya ada.
Aku kembali ke kamar inu, ia sudah benar – benar pulas. Ku tutupi tubuhnya dengan selimut sambil berbaring di sampingnya.
Kini, dua tahun lebih kami kembali bersama. Bersatu tanpa lelucon apapun yang bisa memisahkan kami berdua. Seperti waktu itu inu datang ke rumah, menemui papa lalu dia bilang
“om, kalau misalkan om tetap ingin iras hidup normal, saya saat ini juga akan pergi dari rumah ini dan tidak akan pernah menemui iras lagi seumur hidup saya. Tapi jika om ingin iras bahagia, saya janji om lebih – lebih saya janji pada diri sendiri iras akan jadi orang paling bahagia…”
Waktu itu kedua orang tua ku tidak menjawab sama sekali, namun mereka memeluknya. Inu sungguh sudah di terima oleh keluargaku, bahkan sejak pertamakali ia datang ke rumah. Namun kesalah fahaman papa, yang menganggap bahwa cintaku pada inu, cinta kami berdua adalah cinta semusim yang bisa menguap.
Tanpa mereka tahu, cinta di antara kami berdua terlalu kuat untuk dikalahkan apapun.
Sore ini, di bawah pohon maple di halaman rumah kami, dua anjing kami jac dan hook sedang berlariian mengejar – ngejar bola yang banyak tergeletak di sana sini. Inu janji akan menemaniku menyelesaikan pekerjaanku. Ia malah pelan – pelan tertidur.
Kedua tangannya telungkup di atas meja, menyangga kepalanya, ku betulkan syal yang melingkari lehernya.  Betapa hal ini terasa seperti bernostalgia, dulu di awal pertemuan kami, aku sering mengendap – endap mengintipnya di perpustakaan, memperhatikannya dari balik rak – rak buku atau dari beberapa meja yang ia duduki.
Ia selalu begitu, usai membaca beberapa buku, ia akan pulas di atasnya, biasanya ia lakukan di sela – sela pelajaran kosong atau sedang tidak ada guru.
Itu salah satu hobinya yang ku tahu semenjak SMA, selain main bola atau main basket. Ia akan pergi ke perpusatakaan, mengambil beberapa buku, selesai membacanya, ia akan melihat jam tangannya begitu mengetahui waktu kosong masih lama ia akan tidur di atas buku – buku itu sampai bel sekolah atau bu ani penunggu perpustakaan itu membangunkannya.
Di atas buku ia memang gampang sekali tertidur, sementara selama dua tahun tinggal serumah dengannya, di tempat tidur ia akan sulit sekali memejamkan mata. Aku harus menggosok lembut punggungnya sambil memutarkan music klasik di dalam kami.
Inu semakin lelap, membuatku diam – diam menciumnya.