Kamis, 12 September 2013

Still The Same Love



Aku rapatkan gorden kamar VIP tempat inu dirawat. Ia mulai tertidur kini, setelah tadi selesai dari keadaan pingsannya.  Dengkuran halus terdengar dari balik masker oksigen yang melindungi mulutnya.  Dan dibalik kelopak matanya yang tertutup rapat, aku sangat merindukan setiap tatapan matanya yang tajam.
Ku tarik selimut sehingga menutupi sebagian tubuhnya, bintik – bintik merah di sekujur tubuhnya mulai menghilang.  Alerginya terhadap makanan laut rupanya tidak kunjung membaik, bahkan sampai membuatnya pingsan seperti ini.
Meski dokter mengatakan keadaanya sudah mulai membaik, namun di dalam kepalaku bertalu – talu berbagai kekhawatiran dan ketakutan yang sama malah semakin membesar selama tujuh bulan ini.
Tadi pagi aku sempat bertemu salah satu teman inu, indra, ia teman ku juga sebenarnya. Ia mengajakku ke acara traktiran teman kampus inu, sudah beberapa hari di sukabumi namun nyaliku belum terkumpul seratus persen untuk menemui inu lagi, meskipun rindu di hatiku kebalikan dari itu.
Sepanjang waktu, selama aku mampu, aku selalu berusaha menyempatkan waktu untuk mengingat inu. Salah, setiap waktu ku hampir dipenuhi oleh apapun tentangnya.
Inu kurusan, dibandingkan waktu terakhir kami bertemu. Kedua pipinya benar – benar tirus. Pergelengan tangannya pun kini semakin kecil.  Wajahnya pucat da nada bulatan hitam di sekitar kedua matanya. Mungkin ia sedang sakit, atau mungkin seperti ku, hari – hari yang kami jalani tidak begitu baik.
Ku matikan tv yang masih menyala di dalam ruangan, ketika tadi inu siuman ia meminta nonton tv sebentar. 
Ku kecilkan ac, menurutku yang orang awam tidak baik orang sakit kedinginan.  Walau inu sangat membenci hal itu – aku mematikan ac -.
Inu sudah agak pulas, mungkin saat yang tepat untuk meninggalkannya sekarang. Ku letakan remote ac di meja sebelah tempat tidur.
“jangan kemana – mana” tiba – tiba kata inu, matanya tidak terbuka sedikitpun mulutnya saja yang bicara.
Aku akhirnya memutar arah, ketika hampir saja sampai di pintu.  kemudian tanganku jadinya mengunci pintu dari dalam.  Mungkin inu masih berusaha terlelap, aku tidak bisa menolak apapun permintaannya.  Akhirnya tubuhku berputar menuju sofa, ku rebahkan kepala di sana, semoga aku pun bisa terlelap malam ini. Namun sampai pagi, mataku tidak bisa berhenti mengawasi.
Hari ini inu sudah boleh pulang, mamanya menahan semua sim, bahkan kunci motor dan mobilnya.  Dan menyuruhku menjemput mereka dari rumah sakit. Ia masih agak tampak pucat, ketika memasuki mobil.  Mama, begitu biasa aku memanggil mamanya inu, memapah anak kesayangannya itu menuju lobi depan rumah sakit.
Aku membukakan pintu belakang mobilku.
“mobil inu mana sih ma? Padahal inu masih bisa nyetir..” inu tampak menggerutu.
“kamu masih sakit..” kata mama.
Inu masuk ke jok belakang mobilku.
“nu di depan..” kata mama tiba – tiba. 
Inu menatap mama sebentar, namun mata mama mengkomando inu untuk keluar lagi.
“lah emang ada siapa lagi yang naek? Mama aja yang di depan..”
“nu….” Kata mama lagi agak sedikit menggeram.
“arggghhhhh iya iya inu di depan..” sambil misuh – misuh inu pindah ke jok depan mobilku.  Tanganku hendak membukakan pintu. “gak usah, bisa sendiri..” katanya sambil membuka pintu kemudian duduk di jok depan mobilku.
Mama tersenyum ke arahku.
Mama sudah duduk di belakang, aku memutar kemudian masuk ke dalam mobil.  Duduk di belakang kemudi, dengan inu di sampingku.
“mama gak apa – apa nih, duduk di belakang?” Tanya ku pada mama, melongokan kepala ke belakang.
“gak apa – apa a, udah jalan yok..” jawab mama sambil tersenyum lagi, ia memasangkan kacamata hitam besarnya.
Ku lihat inu di sampingku, ia asyik sendiri dengan ipadnya.  Ku ambil bagian ujung dari sabuk pengaman, di sebelah kiri tubuh inu, ia masih tak bergeming dengan ipadnya. Kemudian ku pasangkan pada tuas di sebelah kanannya.
“dasar lebay, polisi di sini gak bakalan nilang sabuk doang mah…” ia cemberut ke arahku.
“bukan masalah ditilang atau tidaknya nu, tapi keamanannya kan?” jelasku, sambil menyalakan mobil. Kemudian meninggalkan halaman rumah sakit.
Ia tidak menyaut lagi. Asyik dengan game plant vs zombie di ipadnya. Buatku ini adalah sebagian kecil dari dukungan mama lagi, ia pasti tahu kalau aku sangat ingin kembali ke samping inu.  Hingga ia menyuruh inu duduk di depan bersamaku.
Mungkin ini, tidak bisa menjamin sedikitpun aku bisa kembali ke inu, namun setidaknya, aku sudah memiliki satu dukungan.  Karena aku tahu, hidupku sepenuhnya adalah untuk inu, bukan orang lain.
Waktu sudah hampir sore, orang dari manajemen pusat baru saja meninggalkan ruangan kantor ku. Aku yang memilih berkantor di sukabumi akhirnya membuat mereka yang mengalah jika ada rapat penting, harus datang ke sukabumi. Menghalau macet dan perjalanan panjang.
Semua ku lakukan adalah agar bisa kembali dekat dengan inu, kembali hidup untuknya. Bagaimana tidak hampir setengah tahun ini aku bagai mayat berjalan.
Pagi tadi aku tahu kalau inu futsal sore ini, aku sudah berencana untuk menjemputnya.  Motornya sedang di bengkel, dan aku tahu ia sedang tidak menggunakan mobilnya.   Akhirnya dengan kecepatan kencang aku bergegas ke tempat futsal, menembus hujan yang sedang mengguyur kota kecil ini.
Jarak dari kantor ku ke tempat biasa inu futsal tidak jauh, cukup dua menit dengan kecepatan tinggi.
Ku ambil sebuah paying besar di jok belakang mobilku, aku keluar menembus hujan menuju pintu tempat futsal.  Ku lihat beberapa teman inu yang ku kenal berkumpul di dekat parkiran, sedang berteduh. Aku sepertinya tepat waktu, mereka baru selesai.
“hay pak boss..” jali, salah satu teman setim futsal inu. Teman kampusnya juga.
“inu dimana?” tanyaku pada dia.
“weyy si inu di mana?” Tanya jali pada teman – teman di belakangnya.
“tuh di mobil jazz metalik yang itu, sama si melman..”
Aku memutar tubuh, melihat ke arah mobil yang ditunjuk takdir. Teman inu juga.  Yang melaju pelan baru saja keluar dari parkiran.  Mobil sama yang tadi pagi datang ke rumah inu.
Aku tidak tahu siapa melman ini, yang pasti ia seorang polisi.  Ada perasaan kalah di sini, ketika ada orang lain yang bisa mengantarkannya pulang, menjemputnya lebih cepat dariku.
Mungkin aku terlambat untuk kembali pada inu, mungkin ini bukan saat yang tepat bertemu dengannya.
“inu udah ada yang jagain ma..” aku masih mendempetkan hp dengan bahuku, mama inu menelpon, aku sendiri baru hendak menutup showroom, sudah malam sekali karyawanku bahkan sudah pulang semua.
“kalau bukan aa, mama gak percaya a, coba mala mini temenin inu di rumah ya..” ada nada khawatir di dalam suara mama.
“kalau nanti inu nelpon atau sms iras ke sana ma, iras masih di showroom soalnya, belum mandi, mama tahu sendiri kan kalau inu gak suka sama siapapun yang gak mandi..”
“mama yang nelpon si bungsu, biar dia mau ditemenin aa di sana..” mama memaksa lagi.
“gak usah ma, iras nya yang gak enak sama inu ntar…”
“repeh a, tadi malam aa nginep pan di rumah si bungsu?” inu memang anak bungsunya mama, ia sangat over protektif terhadapnya.
“iya mah nginep..”
“ya udah, ntar sama mama di telpon si bungsunya, aa awas mun te ka rumah..”
“inysaallah ma..” jawabku.
Mama menutup telponnya,. Setelah file – file di dalam map ku rapi di di sudut meja, aku bangkit dari kursiku. Kemudian mematikan lampu ruangan.
Setelah mengunci pintu ruangan kerjaku, aku berjalan menuju tangga. Kantor ku di lantai dua, di bawah ruangan untuk showroom kecilku.  Sebuah alasan yang cukup kuat untuk ku berkantor di sukabumi.
Begitu kaki ku menginjak anak tangga yang paling tengah, aku melihat seseorang berdiri di tengah showroom.  Inu yang memakai kaos putih, jeans dan snickernya berdiri di sana menatapku.
Ingin sekali aku menyapanya dan menanyakan hendak apa ia malam – malam di sini.  Kaki ku berjalan pelan, ragu – ragu.
Namun begitu sampai di tengah ruangan, tubuh ku diburu olehnya. Keduaa tangannya merangkul bahuku. Sambil kepalanya menelusup masuk ke bahu sebelah kananku.
“I miss you..” katanya pelan.  Tanganku ragu – ragu sekali mengusap punggungnya, hembusan nafasnya yang tarik, degupan jantungnya yang kencang, membuat ku tahu kalau ia tidak mudah melakukan ini., seorang inu adalah orang yang kuat dan pantang menyerah.  Aku tahu untuk datang ke sini ia harus menaklukan keteguhannya yang tidak bisa siapapun kalahkan.
“seandainya inu tahu, selama ini, hampir setiap detik iras habiskan hanya untuk mengucapkan kalimat yang sama..”
Aku semakin memeluk erat aroma tubuh yang selama ini terus menggerayangiku, menghantuiku, mengganggu setiap waktuku.
Aku menyetir mobil inu, mobilku ku tinggalkan di showroom. Tubuh licin jalan seusai dibasahi hujan, memantulkan cahaya kuning dari lampu mobilnya. Inu duduk di sampingku, kepalanya menyandar pada bahu jok menatap ke luar jendela mobil.  Entah apa yang mengambang di matanya.
“lain kali kalau mau jemput bilang..” suara lemahnya akhirnya keluar setelah hampir sepuluh menit kami sama – sama diam.
“emhhh..” hanya itu yang bisa aku keluarkan, sambil mengangguk – angguk sebentar. Aku menatapnya sekilas.
“iras pikir, mungkin ada yang lain yang sudah janji jemput inu duluan…” kataku, dengan setengah mati tidak rela.
“kamu bukan orang lain, sejak kapan kamu mau peduli ada orang lain? Atau kamu sudah tidak sepeduli dulu lagi.. mereka bukan kamu, banyak kepentingan mereka yang harus aku kalahkan”
Inu menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Di dalam hati, bergejolak berbagai hal.  Bukan, bukan karena aku merasa menang.  Namun yang tidak bisa ku bayangkan adalah ketidaknyamanan nya dengan mereka yang ia sebut orang lain.
“maafkan iras…”
“dasar bodoh, kamu minta maaf untuk apa..”
“untuk waktu yang iras lewatkan tanpa menjaga inu lagi…”
“kamu tidak perlu minta maaf untuk itu, bukan salah kamu. Sudahlah lupakan saja…”
“kamu itu pemaaf yang paling aku cari, aku bisa salah dan dilupakan, tapi tidak bisa bila tidak kamu maafkan…”
Inu mendengus lemah. Matanya kembali terpejam lagi. Ingin sekali menghiburnya atau sekedar menyatakan bahwa aku ada di sini.
“kamu tidak sedang ingin membahas masa lalu kan? Kalau hal itu sampai kapanpun tidak bisa inu lupakan atau inu maafkan….”
“kalau begitu, iras tidak akan berhenti meminta maaf..”
“itu karena sebagai manusia hidup kita tidak bisa menghindari hal itu, orang yang menganggap masa lalu sebagai bencana akan tinggal di masa depan sebagai pengungsi…”
“apa kita berdua sekarang pengungsi? Kamu pengungsi di tempat lain, iras juga pengungsi di tempat lain, tempat kita berdua tidak pernah saling ditemukan padahal iras rasa kita sedang sama – sama mencari satu sama lain..”
“inu tidak menganggapnya bencana…”
“lalu apa? Masa lalu sebagai bar? Sehingga sekarang kamu begini?” aku sampai sekarang pun tidak pernah pandai menebak perasaan inu, pola pikirnya.
“apakah kamu pernah berpikir bahwa kita berdua telah berhasil mengambil ilmu penting yang sudah diajarkan masa lalu? Atau kah seperti biasa kamu menyerahkan segalanya pada inu? Kamu tidak berubah ras..”
“aku tidak akan berubah, sampai kapanpun tidak akan, agar kamu mudah mengenali ku…”
“kamu, bayangan kamu, bahkan senyuman kamu masih terlihat jelas di mimpi tadi malam..” inu memijit dahinya lagi. “sulit untuk tidak mengenali kamu…”
“seandainya saja kamu mau berkeliling sekali lagi di hatiku, kamu Cuma akan menemukan kamu di sana…”
Inu duduk di atas tempat tidurku, ia menyaksikan tayangan televisi yang sepertinya tidak benar – benar menarik untuknya. Ku seduhkan secangkir coklat hangat.  Lalu ku letakan di atas kotak – kotak rak televisi.
“jadi kapan kamu berangkat?” kata inu tanpa menatapku.
“desember, sudah pernah iras bilang kan?” aku duduk di sampingnya.
“oke, mulai sekarang kamu tahu apa yang harus kamu lakukan..”
Ia meneguk coklat hangat di depannya.
“maksud inu apa?”
Aku benar – benar tidak mengerti dengan apa yang ia katakana berkaitan dengan apa yang harus aku lakukan.
“persiapkan diri dengan baik, mungkin masih lama, tapi tidak salahnya jika kamu mulai berkemas, tinggalkan sukabumi dari sekarang, bantu aku buat tidak menjadikan apa yang sebenarnya hampir berhasil aku kubur malah bangkit lagi, pergilah…”
Kaki ku bergetar, lidahku tercekat, tenggorokanku kering.  Aku kehabisan suara untuk membantah dan bilang ini tidak akan bagus.
“bukan itu yang iras harapkan..” kataku, selain mengiba padanya, dari dulu pun aku tidak bisa melakukan apa – apa.
“lalu kamu juga ingin aku mengalami hal yang tidak ingin aku harapkan dua kali?” matanya menerkam ke dasar sanubariku, aku terkoyak dahsyat “aku harus pura – pura kuat lagi tanpa kamu di sini?”
Pandangan matanya benar – benar mendarat telak di hatiku, ia seperti berteriak kencang dari dasar jurang pada ku yang berada di ketinggian, sedang mencarinya.
“pergilah..” kemudian kata inu lagi.  Meruntuhkan seluruh pertahananku.
“tidak begitu nu, walaupun iras pergi, iras ingin terlebih dahulu memperbaiki hal ini, yang ada di antara kita berdua, kesempatan memiliki inu lagi…”
“lalu kita berjauhan lagi? Apa bedanya ras? Kalau kali ini yang aku dengar hanya voice note kamu? Sms – sms panjang yang isinya hanya bualan? Malam – malam menunggu balasan email dari kamu? Itu yang kamu harapkan? Kurang buruk apa hari yang sudah aku jalani, lalu kini kamu akan memperparahnya, sebelum semuanya semakin tidak karuan pergilah, lebih cepat lebih baik..”
“buatku yang tidak baik sama sekali…”
“terserah..” inu mengambil kunci mobilnya yang ku letakan di dekat televisi. Tanpa pamitan sedikitpun, ia pergi keluar menuju mobilnya.  Dalam hitungan satu sampai sepuluh ia sudah berlalu meninggalkan kostan ku.
Ada rasa sedih melihat kenyataan ini.  Tinggal di luar negeri yang tadinya bisa ku anggap obat, menyibukan diri hingga bisa membuat ku lupa pada apa yang sedang kami derita.  Namun bagian dariku berkata tidak salah juga kalau kembali dulu ke sukabumi dan memperbaiki segalanya agar aku bisa semakin tenang di amerika.
Namun kini semua tidak semudah kelihatannya.  Aku mencari – cari surat beasiswaku. Aku tahu apa yang harus aku lakukan.
Tidak mungkin bisa kehilangannya untuk kedua kali.
Aku sudah membatalkan beasiswaku, dan panitiapun sudah menemukan kandidat lain. Aku samasekali tidak peduli. Kedua orang tua ku? Sudah lama aku tidak pernah menghubungi mereka lagi. Namun, inu pun tidak bisa dihubungi, hampir seminggu kami tidak bertemu. Apalagi beberapa hari ini aku ke Jakarta, ada beberapa urusan yang perlu ku selesai kan.
Tidak mungkin kalau kali ini aku tidak berjuang lagi untuknya, ia satu – satunya dan harta berharga yang ku miliki.  Ia nyawa hidupku yang menentukan bahagia atau tidaknya hidupku.
“itu inu ya?” kata arin, sekeretaris showroom.
“rin tolong bilang kalau aku lagi di Singapore dan di sini aka nada manajer baru, aku akan sembunyi di belakang..”
Arin mengangguk mengerti. Aku cepat berlalu ke belakang showroom, sebelum mata inu menatap bayanganku. Ia melesat menembus para karyawanku, mungkin tujuannya kantorku di atas.
Aku tahu matanya, di sana kata lebih terbaca banyak daripada yang inu ucapkan.  Aku tahu rindu itu pun tumbuh di otaknya yang perkasa itu. Di hatinya yang keras bagai batu, yang hanya bisa dikalahkan oleh kebimbingan dirinya sendiri, bukan orang lain.
Arin sudah menyusul ke atas, akhirnya dengan langkah pelan aku mengikuti langkah arin.
“pak iras sudah seminggu di Singapore, mungkin tidak akan kembali lagi ke sini, karena mulai besok kami juga akan kedatangan manajer baru..”
Mungkin inu lupa kalau aku di sini hanya numpang ngantor dan manajer showroom ini beda lagi, bukan aku. Aku mengulum senyumku.
Ku dengarkan percakapan mereka berdua dari tengah tangga. Sebelum akhirnya membawa kakiku menginjak anak tangga lebih tinggi. Lalu muncul di hadapan inu.
“dasar bodoh, bebal, bajingan, brengsek kamu ras…”  cercanya sambil lari ke pelukanku.
Aku tersenyum.  Bukan tersenyum menang, tidak juga karena senang.  Tapi Cuma itu satu – satunya cara mengembalikannya.
Inu baru selesai mandi, ia berdiri di depan cermin lebar yang menjadi dinding salah satu tembok kamarnya.  Sebagai seorang model ia memang cowok metroseksual murni, aku dari dulu suka menghitung mulai dari mandi sampai ia benar – benar siap untuk berangkat itu bisa memakan waktu sampai empat puluh menit. Sekarang masih seperti itu, inu ku yang memang pandai dalam menjaga penampilannya.
Kami hendak menghadiri acara peresmian sebuah cabang bank malam ini, aku mengajak inu ikut serta. Mengingat bank ini pun adalah salah satu dari anak perusahaan kakeknya.
Ku buka lemari pakaian inu, lemari besar yang kebanyakan bajunya digantung.  Aku mencarikan kemeja yang memiliki motif hampir sama dengan motif kemeja yang ku pakai.
“kemeja ketiga dari kiri, di dalamnya udah ada celananya..” ia mengkomando tanpa melihat sedikitpun.
Aku pun mengambil kemeja berwarna biru cerah itu, tidak berbeda cukup jauh dengan yang ku pakai. Ku letakan di atas tempat tidur.
Pintu lemari yang di pojok terbuka, inu lebih suka menggantung semua pakaiannya di bandingkan melipatnya.   Aku pun menghampiri lemari tersebut, bermaksud hendak menutupnya.
Inu sedang menyemprotkan parfum ke seluruh permukaan tubuhnya, parfum favorit papa nya yang ia sukai juga, sejak SMA ia tidak pernah mengganti parfumnya. Aku juga sangat menggilai aromanya, yang membuat istimewa parfum tersebut tidak dijual di Indonesia, setiap bulan inu akan memesannya dari tokonya langsung di paris.
Ketika hendak menutup pintu lemari, mataku ditarik sesuatu yang berada di dalam lemari itu, dua buah baju yang dilipat rapi di sana.  Sebuah jersey Barcelona dan real Madrid.
Inu madridista sejati, dia tidak mungkin memiliki jersey Barcelona.
Aku mengambil jersey tersebut, aku mengenalinya, sangat mengenalinya, itu adalah baju terakhir yang ku pakai sebelum berpisah dengan inu tujuh bulan lalu.  Mungkin masih banyak bajuku yang lain di sini, tapi baju ini tampak berbeda, agak sedikit lusuh.
Aku membaliknya, di sana ada tertulis “inuku” dan pasti di jersey real Madrid inu akan ada tulisan “irasku”.  Ini memang baju terakhir yang kami pakai di ujung kebersamaan kami pakai tujuh bulan yang lalu, sewaktu bermain futsal sebelum berangkat ke pesta ulang tahun ku.
“ini baju iras bukan?” aku menunjukan baju tersebut pada inu.   Memastikan bahwa ini memang bajuku.
Inu mengangguk.
“aromanya…” kataku sambil menciumnya sesekali.
“ya betul, itu baju kamu, bau keringat ya? Memang..” inu berjalan mendekat “selama tujuh bulan inu sengaja tidak mencucinya, inu tidak peduli, padahal sore itu keringat kamu banyak dan baju itu juga basah, tapi inu sengaja tidak mencucinya…”
Inu memotong sejenak kata – katanya.
“inu tidak pernah mau kehilangan moment terakhir kita ras, saat inu sadar Cuma baju itu, Cuma bau keringat iras yang terakhir yang inu punya, inu tidak mau lupa pada aroma tubuh iras, mungkin terlihat bodoh, tapi tidak ada sedikitpun yang tersisa dari kamu itu bahkan akan lebih parah.. Cuma aroma tubuh iras yang bisa menenangkan pikiran kalut inu selama ini, Cuma aroma tubuh iras yang mampu mengingatkan inu bagaimana nyamannya tidur di dalam pelukan kamu”
Aku tertohok tidak mampu bicara sedikitpun.
“Cuma baju itu yang bisa menjawab setiap kali inu merasa kangen setiap kali inu bertanya – Tanya pada sendiri, iras sedang ada di mana., Cuma baju itu yang inu cium saat inu kangen sama semua kebawelan kamu, Cuma baju itu ras yang bisa jadi sapu tangan saat inu sedih yang inu anggap tangan kamu yang mengusap pelan pipi inu atau mencubitnya, inu tidak pernah mau mencucinya, inu tidak pernah mau kamu tinggalkan sedetikpun… meskipun kamu tidak di sini, inu tidak pernah mau kehilangan kamu secara keseluruhan, waktu itu Cuma ini satu – satunya peninggalan kamu, Cuma ini yang inu punya kalau kangen sama kamu sedang benar – benar menyiksa, kamu harus tahu rasanya, sakitnya, sesaknya itu seperti apa…” kepala inu jatuh di pundakku, bajuku basah oleh hujan yang berguguran dari kedua sudut matanya. Tangannya memeluk ku kuat.
Air mataku menetes satu – satu. Membayangkan semua hal berat yang ia lewati sendirian selama ini.
Kami yang berdiri di tengah – tengah kamar saling bertatapan, menyaksikan penayangan semua hal berat yang terjadi selama tujuh bulan ini.  Aku memeluk tubuh inu kuat, menyumpahi setiap kejadian pahit yang menerpa kami berdua. 
“jangan pernah pergi lagi ras, inu tidak pernah sekuat yang kamu kira…”
Katanya pelan di telingaku.
….
Kami berdua pulang hampir tengah malam, begitu pulang inu langsung tertidur.  Tubuhnya tergeletak di atas karpet depan televisi, ia memintaku memasakan mie instan, Cuma beberapa menit di dapur namun inu sudah benar – benar pulas.  Tadinya ingin sekali memindahkannya ke kamar, namun aku tidak yakin cukup kuat menggendongnya melalui tangga.
Akhirnya aku mengambil selimut dari kamarnya.  Ku bayangkan tidak cukup nyaman tidur dengan baju kemeja seperti itu, namun menggantikan pakaiannya juga tidak mungkin. Inu pasti marah.  Akhirnya ku tutup tubuh inu dengan selimut besarnya.
“Nu… katanya lapar, ini mie nya udah matang, mau dimakan gak?” aku membelai pipinya sebentar, takut menganggu kelelapannya.
Inu diam tak bergeming.
“ya udah iras pulang dulu ya..” ku cium sebentar kening inu. Ia sudah benar – benar lelap.
Ku pastikan rumah dalam keadaan aman, kami sudah sepakat untuk tidak tinggal serumah, jadi artinya aku harus pulang.  kunci mobilku tergeletak di atas meja ruang tamu.  Aku berjalan mengambilnya.
“kamu mau kemana?”
Inu berdiri di tengah ruangan televisi. Menatap ke arahku.  Selimut yang tadi menutupi tubuhnya langsung menumpuk di lantai.
“pulang..” kataku bingung. Soalnya inu yang membuat keputusan agar kami tetap tinggal terpisah “ingat tadi siang soal kita tidak tinggal bareng?”
“itu artinya kita gak tidur bareng?” wajah khasnya memelas, aku paling tidak bisa menolak kalau ia sudah memasang tampang seperti itu, seakan segala pertahananku kalah begitu saja. “jadi inu tidur sendirian mala mini?”
Aku berjalan menghampirinya.
“dasar anak kecil..” aku mengucek rambutnya sebentar.
Ia memeluk ku. Kemudian kami sama – sama duduk di sofa.
“inu kan tadi bilang lapar…”
“tuh udah iras masakin, tadi iras bangunin gak bangun – bangun, makanya iras tinggal…”
Aku mengambil mangkuk berisi mie instan yang tadi ku buat.  Menggulungnya beberapa kali.
“lah kan inu bilang tadi pasta, kok mie instan…” tiba – tiba dahinya berkerut lagi.
Aku mengingat – ingat.
“ah bener tadi mintanya mie…” aku tidak mungkin salah dengar.
“ih tuh kuping gak bener, inu minta pasta…”
“ya udah sekarang iras masak pasta…”
“saus spaghetinya gak ada di kulkas, kamu mau nyuruh inu makan pasta pake kecap?” semua adegan ini dilakukan dengan posisi kami tetap berpelukan.
“tuh kan, inu tau sendiri, spaghetinya udah abis, berarti tadi emang minta mie..” aku sebenarnya ingin sekali tertawa.
“itu mie nya udah segede cacing gitu, masa inu makan?”
Aku melihat mie yang ada di mangkuk di tanganku, memang sudah mulai begah.  Aku menatap orang yang diam di pelukanku, bibirnya mengkerucut, matanya tampak kesal, dan keningnya mengkerut.
“iras sebenarnya kangen banget sama kelakuan kamu yang ini, yang iras gak pernah bener, gak pernah cukup dan kamu walau sudah salah, walau ketauan Cuma mau ngerjain iras tetep kekeh…”
Inu diam, bibirnya terus mengkerucut.
“tapi inu gak mau makan mie…”
“ya udah inu jadinya mau makan apa?”
“ambilin jeruk di kulkas, kupasin, gak boleh ada bijinya..”
Aku beranjak dari tempatku, menuju kulkas di dapur.  Kulkas inu memang selalu penuh, setelah ku temukan jeruk pesanan inu aku kembali ke ruang tamu.  Inu tidak akan pernah cukup dengan satu butir saja, aku bawa semua yang ada di dalam keranjang nya.
Aku duduk di sampingnya lagi sambil mengupas jeruk di tanganku. Sambil mengeluarkan biji – biji dari dalam tiap kangkot jeruknya.
“iras harus ngapain lagi sekarang? Ayok suruh iras lagi, udah lama iras gak kamu siksa…” aku menyuapi inu jeruk yang telah ku kupas dan ku buang bijinya.
Ia meringsut memeluk tubuhku lagi.
“kamu yang nyiksa inu terus selama tujuh bulan…”
“sorry for that” kataku.
“Pengen soya…” katanya tiba – tiba.
“ada di kulkas? Ya udah iras ambilin…”
“gak ada..” inu menggeleng. “jangan yang ada bahan pengawetnya…”
“lah kalau gak ada iras nyari di mana? Ini udah jam dua belas lebih, kalau tanpa pengawet berarti langsung kedelainya donk? Di jus gitu?”
Inu mengangguk cepat. Itu berarti yang ku ungkapkan sesuai dengan kemauannya.
“iras nyari di mana jam segini nu…” salahku sendiri sudah menantangnya.
“inu kan gak minta tempat belinya, inu minta soya nya…”
Aku memutar otak. Ini  dini hari, dimana harus beli kedali untuk membuat soya.
“campurnya sama srikaya ya, biar gak enek…”
Aku menepuk  kening lagi, dimana mencari srikaya.
“bisa diganti gak sama yang lain? Jangan soya sama srikaya deh…”
Inu tidak menjawab, ia tampak berpikir, matanya menatap ke depan, namun cukup sayu untuk mencari – cari bahan untuk mengerjai ku lagi.  Sekitar lima menit ia berpikir, sebelum akhirnya jatuh terlelap.  Kali ini ia benar – benar tidur, aku bahkan sampai mencubitnya namun ia hanya menggeliat sedikit.
Udara sukabumi memang sangat dingin dan  tidak mungkin membiarkan inu tidur di atas karpet. Akhrinya aku memutuskan untuk menggendongnya ke kamar. Ini dulu sering ku lakukan. Semoga aku masih cukup kuat untuk mengangkat tubuhnya lagi.
Dengan cukup kepayahan aku menggendong inu ke kamar, setelah sampai di tempat tidur aku langsung mebawanya terlentang di sana. Melepaskan kaos kaki dan kemeja yang dipakainya.  Rasanya aku saja yang melihat tidak cukup nyaman tidur menggunakan kemeja.
Aku menyusul selimut di bawah, untuk menutupi tubuh inu.  Sebelum kembali ke kamar, ku pastikan lagi rumah sudah aman, pintu dan jendela sudah terkunci semua, motor dan kami berdua semuanya ada.
Aku kembali ke kamar inu, ia sudah benar – benar pulas. Ku tutupi tubuhnya dengan selimut sambil berbaring di sampingnya.
Kini, dua tahun lebih kami kembali bersama. Bersatu tanpa lelucon apapun yang bisa memisahkan kami berdua. Seperti waktu itu inu datang ke rumah, menemui papa lalu dia bilang
“om, kalau misalkan om tetap ingin iras hidup normal, saya saat ini juga akan pergi dari rumah ini dan tidak akan pernah menemui iras lagi seumur hidup saya. Tapi jika om ingin iras bahagia, saya janji om lebih – lebih saya janji pada diri sendiri iras akan jadi orang paling bahagia…”
Waktu itu kedua orang tua ku tidak menjawab sama sekali, namun mereka memeluknya. Inu sungguh sudah di terima oleh keluargaku, bahkan sejak pertamakali ia datang ke rumah. Namun kesalah fahaman papa, yang menganggap bahwa cintaku pada inu, cinta kami berdua adalah cinta semusim yang bisa menguap.
Tanpa mereka tahu, cinta di antara kami berdua terlalu kuat untuk dikalahkan apapun.
Sore ini, di bawah pohon maple di halaman rumah kami, dua anjing kami jac dan hook sedang berlariian mengejar – ngejar bola yang banyak tergeletak di sana sini. Inu janji akan menemaniku menyelesaikan pekerjaanku. Ia malah pelan – pelan tertidur.
Kedua tangannya telungkup di atas meja, menyangga kepalanya, ku betulkan syal yang melingkari lehernya.  Betapa hal ini terasa seperti bernostalgia, dulu di awal pertemuan kami, aku sering mengendap – endap mengintipnya di perpustakaan, memperhatikannya dari balik rak – rak buku atau dari beberapa meja yang ia duduki.
Ia selalu begitu, usai membaca beberapa buku, ia akan pulas di atasnya, biasanya ia lakukan di sela – sela pelajaran kosong atau sedang tidak ada guru.
Itu salah satu hobinya yang ku tahu semenjak SMA, selain main bola atau main basket. Ia akan pergi ke perpusatakaan, mengambil beberapa buku, selesai membacanya, ia akan melihat jam tangannya begitu mengetahui waktu kosong masih lama ia akan tidur di atas buku – buku itu sampai bel sekolah atau bu ani penunggu perpustakaan itu membangunkannya.
Di atas buku ia memang gampang sekali tertidur, sementara selama dua tahun tinggal serumah dengannya, di tempat tidur ia akan sulit sekali memejamkan mata. Aku harus menggosok lembut punggungnya sambil memutarkan music klasik di dalam kami.
Inu semakin lelap, membuatku diam – diam menciumnya.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar