Aku rapatkan gorden kamar
VIP tempat inu dirawat. Ia mulai tertidur kini, setelah tadi selesai dari
keadaan pingsannya. Dengkuran halus
terdengar dari balik masker oksigen yang melindungi mulutnya. Dan dibalik kelopak matanya yang tertutup
rapat, aku sangat merindukan setiap tatapan matanya yang tajam.
Ku tarik selimut sehingga
menutupi sebagian tubuhnya, bintik – bintik merah di sekujur tubuhnya mulai
menghilang. Alerginya terhadap makanan
laut rupanya tidak kunjung membaik, bahkan sampai membuatnya pingsan seperti
ini.
Meski dokter mengatakan
keadaanya sudah mulai membaik, namun di dalam kepalaku bertalu – talu berbagai
kekhawatiran dan ketakutan yang sama malah semakin membesar selama tujuh bulan
ini.
Tadi pagi aku sempat
bertemu salah satu teman inu, indra, ia teman ku juga sebenarnya. Ia mengajakku
ke acara traktiran teman kampus inu, sudah beberapa hari di sukabumi namun
nyaliku belum terkumpul seratus persen untuk menemui inu lagi, meskipun rindu
di hatiku kebalikan dari itu.
Sepanjang waktu, selama aku
mampu, aku selalu berusaha menyempatkan waktu untuk mengingat inu. Salah,
setiap waktu ku hampir dipenuhi oleh apapun tentangnya.
Inu kurusan, dibandingkan
waktu terakhir kami bertemu. Kedua pipinya benar – benar tirus. Pergelengan
tangannya pun kini semakin kecil.
Wajahnya pucat da nada bulatan hitam di sekitar kedua matanya. Mungkin
ia sedang sakit, atau mungkin seperti ku, hari – hari yang kami jalani tidak
begitu baik.
Ku matikan tv yang masih
menyala di dalam ruangan, ketika tadi inu siuman ia meminta nonton tv
sebentar.
Ku kecilkan ac, menurutku
yang orang awam tidak baik orang sakit kedinginan. Walau inu sangat membenci hal itu – aku
mematikan ac -.
Inu sudah agak pulas, mungkin
saat yang tepat untuk meninggalkannya sekarang. Ku letakan remote ac di meja
sebelah tempat tidur.
“jangan kemana – mana” tiba
– tiba kata inu, matanya tidak terbuka sedikitpun mulutnya saja yang bicara.
Aku akhirnya memutar arah,
ketika hampir saja sampai di pintu.
kemudian tanganku jadinya mengunci pintu dari dalam. Mungkin inu masih berusaha terlelap, aku
tidak bisa menolak apapun permintaannya.
Akhirnya tubuhku berputar menuju sofa, ku rebahkan kepala di sana,
semoga aku pun bisa terlelap malam ini. Namun sampai pagi, mataku tidak bisa
berhenti mengawasi.
…
Hari ini inu sudah boleh
pulang, mamanya menahan semua sim, bahkan kunci motor dan mobilnya. Dan menyuruhku menjemput mereka dari rumah
sakit. Ia masih agak tampak pucat, ketika memasuki mobil. Mama, begitu biasa aku memanggil mamanya inu,
memapah anak kesayangannya itu menuju lobi depan rumah sakit.
Aku membukakan pintu
belakang mobilku.
“mobil inu mana sih ma?
Padahal inu masih bisa nyetir..” inu tampak menggerutu.
“kamu masih sakit..” kata
mama.
Inu masuk ke jok belakang
mobilku.
“nu di depan..” kata mama
tiba – tiba.
Inu menatap mama sebentar,
namun mata mama mengkomando inu untuk keluar lagi.
“lah emang ada siapa lagi
yang naek? Mama aja yang di depan..”
“nu….” Kata mama lagi agak
sedikit menggeram.
“arggghhhhh iya iya inu di
depan..” sambil misuh – misuh inu pindah ke jok depan mobilku. Tanganku hendak membukakan pintu. “gak usah,
bisa sendiri..” katanya sambil membuka pintu kemudian duduk di jok depan
mobilku.
Mama tersenyum ke arahku.
Mama sudah duduk di
belakang, aku memutar kemudian masuk ke dalam mobil. Duduk di belakang kemudi, dengan inu di
sampingku.
“mama gak apa – apa nih,
duduk di belakang?” Tanya ku pada mama, melongokan kepala ke belakang.
“gak apa – apa a, udah
jalan yok..” jawab mama sambil tersenyum lagi, ia memasangkan kacamata hitam
besarnya.
Ku lihat inu di sampingku,
ia asyik sendiri dengan ipadnya. Ku
ambil bagian ujung dari sabuk pengaman, di sebelah kiri tubuh inu, ia masih tak
bergeming dengan ipadnya. Kemudian ku pasangkan pada tuas di sebelah kanannya.
“dasar lebay, polisi di
sini gak bakalan nilang sabuk doang mah…” ia cemberut ke arahku.
“bukan masalah ditilang
atau tidaknya nu, tapi keamanannya kan?” jelasku, sambil menyalakan mobil.
Kemudian meninggalkan halaman rumah sakit.
Ia tidak menyaut lagi.
Asyik dengan game plant vs zombie di ipadnya. Buatku ini adalah sebagian kecil
dari dukungan mama lagi, ia pasti tahu kalau aku sangat ingin kembali ke
samping inu. Hingga ia menyuruh inu
duduk di depan bersamaku.
Mungkin ini, tidak bisa menjamin
sedikitpun aku bisa kembali ke inu, namun setidaknya, aku sudah memiliki satu
dukungan. Karena aku tahu, hidupku
sepenuhnya adalah untuk inu, bukan orang lain.
…
Waktu sudah hampir sore,
orang dari manajemen pusat baru saja meninggalkan ruangan kantor ku. Aku yang
memilih berkantor di sukabumi akhirnya membuat mereka yang mengalah jika ada
rapat penting, harus datang ke sukabumi. Menghalau macet dan perjalanan
panjang.
Semua ku lakukan adalah
agar bisa kembali dekat dengan inu, kembali hidup untuknya. Bagaimana tidak
hampir setengah tahun ini aku bagai mayat berjalan.
Pagi tadi aku tahu kalau
inu futsal sore ini, aku sudah berencana untuk menjemputnya. Motornya sedang di bengkel, dan aku tahu ia
sedang tidak menggunakan mobilnya.
Akhirnya dengan kecepatan kencang aku bergegas ke tempat futsal,
menembus hujan yang sedang mengguyur kota kecil ini.
Jarak dari kantor ku ke
tempat biasa inu futsal tidak jauh, cukup dua menit dengan kecepatan tinggi.
Ku ambil sebuah paying
besar di jok belakang mobilku, aku keluar menembus hujan menuju pintu tempat
futsal. Ku lihat beberapa teman inu yang
ku kenal berkumpul di dekat parkiran, sedang berteduh. Aku sepertinya tepat
waktu, mereka baru selesai.
“hay pak boss..” jali,
salah satu teman setim futsal inu. Teman kampusnya juga.
“inu dimana?” tanyaku pada
dia.
“weyy si inu di mana?”
Tanya jali pada teman – teman di belakangnya.
“tuh di mobil jazz metalik
yang itu, sama si melman..”
Aku memutar tubuh, melihat
ke arah mobil yang ditunjuk takdir. Teman inu juga. Yang melaju pelan baru saja keluar dari
parkiran. Mobil sama yang tadi pagi
datang ke rumah inu.
Aku tidak tahu siapa melman
ini, yang pasti ia seorang polisi. Ada
perasaan kalah di sini, ketika ada orang lain yang bisa mengantarkannya pulang,
menjemputnya lebih cepat dariku.
Mungkin aku terlambat untuk
kembali pada inu, mungkin ini bukan saat yang tepat bertemu dengannya.
…
“inu udah ada yang jagain
ma..” aku masih mendempetkan hp dengan bahuku, mama inu menelpon, aku sendiri
baru hendak menutup showroom, sudah malam sekali karyawanku bahkan sudah pulang
semua.
“kalau bukan aa, mama gak
percaya a, coba mala mini temenin inu di rumah ya..” ada nada khawatir di dalam
suara mama.
“kalau nanti inu nelpon
atau sms iras ke sana ma, iras masih di showroom soalnya, belum mandi, mama
tahu sendiri kan kalau inu gak suka sama siapapun yang gak mandi..”
“mama yang nelpon si
bungsu, biar dia mau ditemenin aa di sana..” mama memaksa lagi.
“gak usah ma, iras nya yang
gak enak sama inu ntar…”
“repeh a, tadi malam aa
nginep pan di rumah si bungsu?” inu memang anak bungsunya mama, ia sangat over
protektif terhadapnya.
“iya mah nginep..”
“ya udah, ntar sama mama di
telpon si bungsunya, aa awas mun te ka rumah..”
“inysaallah ma..” jawabku.
Mama menutup telponnya,.
Setelah file – file di dalam map ku rapi di di sudut meja, aku bangkit dari
kursiku. Kemudian mematikan lampu ruangan.
Setelah mengunci pintu
ruangan kerjaku, aku berjalan menuju tangga. Kantor ku di lantai dua, di bawah
ruangan untuk showroom kecilku. Sebuah
alasan yang cukup kuat untuk ku berkantor di sukabumi.
Begitu kaki ku menginjak
anak tangga yang paling tengah, aku melihat seseorang berdiri di tengah
showroom. Inu yang memakai kaos putih,
jeans dan snickernya berdiri di sana menatapku.
Ingin sekali aku menyapanya
dan menanyakan hendak apa ia malam – malam di sini. Kaki ku berjalan pelan, ragu – ragu.
Namun begitu sampai di
tengah ruangan, tubuh ku diburu olehnya. Keduaa tangannya merangkul bahuku.
Sambil kepalanya menelusup masuk ke bahu sebelah kananku.
“I miss you..” katanya
pelan. Tanganku ragu – ragu sekali
mengusap punggungnya, hembusan nafasnya yang tarik, degupan jantungnya yang
kencang, membuat ku tahu kalau ia tidak mudah melakukan ini., seorang inu
adalah orang yang kuat dan pantang menyerah.
Aku tahu untuk datang ke sini ia harus menaklukan keteguhannya yang
tidak bisa siapapun kalahkan.
““seandainya inu tahu, selama ini, hampir setiap
detik iras habiskan hanya untuk mengucapkan kalimat yang sama..”
Aku semakin memeluk erat
aroma tubuh yang selama ini terus menggerayangiku, menghantuiku, mengganggu
setiap waktuku.
…
Aku menyetir mobil inu,
mobilku ku tinggalkan di showroom. Tubuh licin jalan seusai dibasahi hujan,
memantulkan cahaya kuning dari lampu mobilnya. Inu duduk di sampingku,
kepalanya menyandar pada bahu jok menatap ke luar jendela mobil. Entah apa yang mengambang di matanya.
“lain kali kalau mau jemput
bilang..” suara lemahnya akhirnya keluar setelah hampir sepuluh menit kami sama
– sama diam.
“emhhh..” hanya itu yang
bisa aku keluarkan, sambil mengangguk – angguk sebentar. Aku menatapnya
sekilas.
“iras pikir, mungkin ada
yang lain yang sudah janji jemput inu duluan…” kataku, dengan setengah mati
tidak rela.
“kamu bukan orang lain,
sejak kapan kamu mau peduli ada orang lain? Atau kamu sudah tidak sepeduli dulu
lagi.. mereka bukan kamu, banyak kepentingan mereka yang harus aku kalahkan”
Inu menutup wajahnya dengan
kedua telapak tangannya. Di dalam hati, bergejolak berbagai hal. Bukan, bukan karena aku merasa menang. Namun yang tidak bisa ku bayangkan adalah ketidaknyamanan
nya dengan mereka yang ia sebut orang lain.
“maafkan iras…”
“dasar bodoh, kamu minta
maaf untuk apa..”
“untuk waktu yang iras
lewatkan tanpa menjaga inu lagi…”
“kamu tidak perlu minta
maaf untuk itu, bukan salah kamu. Sudahlah lupakan saja…”
“kamu itu pemaaf yang
paling aku cari, aku bisa salah dan dilupakan, tapi tidak bisa bila tidak kamu
maafkan…”
Inu mendengus lemah.
Matanya kembali terpejam lagi. Ingin sekali menghiburnya atau sekedar
menyatakan bahwa aku ada di sini.
“kamu tidak sedang ingin
membahas masa lalu kan? Kalau hal itu sampai kapanpun tidak bisa inu lupakan
atau inu maafkan….”
“kalau begitu, iras tidak
akan berhenti meminta maaf..”
“itu karena sebagai manusia
hidup kita tidak bisa menghindari hal itu, orang yang menganggap masa lalu sebagai
bencana akan tinggal di masa depan sebagai pengungsi…”
“apa kita berdua sekarang
pengungsi? Kamu pengungsi di tempat lain, iras juga pengungsi di tempat lain,
tempat kita berdua tidak pernah saling ditemukan padahal iras rasa kita sedang
sama – sama mencari satu sama lain..”
“inu tidak menganggapnya
bencana…”
“lalu apa? Masa lalu
sebagai bar? Sehingga sekarang kamu begini?” aku sampai sekarang pun tidak
pernah pandai menebak perasaan inu, pola pikirnya.
“apakah kamu pernah
berpikir bahwa kita berdua telah berhasil mengambil ilmu penting yang sudah
diajarkan masa lalu? Atau kah seperti biasa kamu menyerahkan segalanya pada
inu? Kamu tidak berubah ras..”
“aku tidak akan berubah,
sampai kapanpun tidak akan, agar kamu mudah mengenali ku…”
“kamu, bayangan kamu,
bahkan senyuman kamu masih terlihat jelas di mimpi tadi malam..” inu memijit
dahinya lagi. “sulit untuk tidak mengenali kamu…”
“seandainya saja kamu mau
berkeliling sekali lagi di hatiku, kamu Cuma akan menemukan kamu di sana…”
…
Inu duduk di atas tempat
tidurku, ia menyaksikan tayangan televisi yang sepertinya tidak benar – benar
menarik untuknya. Ku seduhkan secangkir coklat hangat. Lalu ku letakan di atas kotak – kotak rak
televisi.
“jadi kapan kamu
berangkat?” kata inu tanpa menatapku.
“desember, sudah pernah
iras bilang kan?” aku duduk di sampingnya.
“oke, mulai sekarang kamu
tahu apa yang harus kamu lakukan..”
Ia meneguk coklat hangat di
depannya.
“maksud inu apa?”
Aku benar – benar tidak
mengerti dengan apa yang ia katakana berkaitan dengan apa yang harus aku
lakukan.
“persiapkan diri dengan
baik, mungkin masih lama, tapi tidak salahnya jika kamu mulai berkemas,
tinggalkan sukabumi dari sekarang, bantu aku buat tidak menjadikan apa yang
sebenarnya hampir berhasil aku kubur malah bangkit lagi, pergilah…”
Kaki ku bergetar, lidahku
tercekat, tenggorokanku kering. Aku
kehabisan suara untuk membantah dan bilang ini tidak akan bagus.
“bukan itu yang iras
harapkan..” kataku, selain mengiba padanya, dari dulu pun aku tidak bisa melakukan
apa – apa.
“lalu kamu juga ingin aku
mengalami hal yang tidak ingin aku harapkan dua kali?” matanya menerkam ke
dasar sanubariku, aku terkoyak dahsyat “aku harus pura – pura kuat lagi tanpa
kamu di sini?”
Pandangan matanya benar –
benar mendarat telak di hatiku, ia seperti berteriak kencang dari dasar jurang
pada ku yang berada di ketinggian, sedang mencarinya.
“pergilah..” kemudian kata
inu lagi. Meruntuhkan seluruh
pertahananku.
“tidak begitu nu, walaupun
iras pergi, iras ingin terlebih dahulu memperbaiki hal ini, yang ada di antara
kita berdua, kesempatan memiliki inu lagi…”
“lalu kita berjauhan lagi?
Apa bedanya ras? Kalau kali ini yang aku dengar hanya voice note kamu? Sms –
sms panjang yang isinya hanya bualan? Malam – malam menunggu balasan email dari
kamu? Itu yang kamu harapkan? Kurang buruk apa hari yang sudah aku jalani, lalu
kini kamu akan memperparahnya, sebelum semuanya semakin tidak karuan pergilah,
lebih cepat lebih baik..”
“buatku yang tidak baik
sama sekali…”
“terserah..” inu mengambil
kunci mobilnya yang ku letakan di dekat televisi. Tanpa pamitan sedikitpun, ia
pergi keluar menuju mobilnya. Dalam
hitungan satu sampai sepuluh ia sudah berlalu meninggalkan kostan ku.
Ada rasa sedih melihat
kenyataan ini. Tinggal di luar negeri
yang tadinya bisa ku anggap obat, menyibukan diri hingga bisa membuat ku lupa
pada apa yang sedang kami derita. Namun
bagian dariku berkata tidak salah juga kalau kembali dulu ke sukabumi dan
memperbaiki segalanya agar aku bisa semakin tenang di amerika.
Namun kini semua tidak
semudah kelihatannya. Aku mencari – cari
surat beasiswaku. Aku tahu apa yang harus aku lakukan.
Tidak mungkin bisa
kehilangannya untuk kedua kali.
…
Aku sudah membatalkan
beasiswaku, dan panitiapun sudah menemukan kandidat lain. Aku samasekali tidak
peduli. Kedua orang tua ku? Sudah lama aku tidak pernah menghubungi mereka
lagi. Namun, inu pun tidak bisa dihubungi, hampir seminggu kami tidak bertemu.
Apalagi beberapa hari ini aku ke Jakarta, ada beberapa urusan yang perlu ku
selesai kan.
Tidak mungkin kalau kali
ini aku tidak berjuang lagi untuknya, ia satu – satunya dan harta berharga yang
ku miliki. Ia nyawa hidupku yang
menentukan bahagia atau tidaknya hidupku.
“itu inu ya?” kata arin,
sekeretaris showroom.
“rin tolong bilang kalau
aku lagi di Singapore dan di sini aka nada manajer baru, aku akan sembunyi di
belakang..”
Arin mengangguk mengerti.
Aku cepat berlalu ke belakang showroom, sebelum mata inu menatap bayanganku. Ia
melesat menembus para karyawanku, mungkin tujuannya kantorku di atas.
Aku tahu matanya, di sana
kata lebih terbaca banyak daripada yang inu ucapkan. Aku tahu rindu itu pun tumbuh di otaknya yang
perkasa itu. Di hatinya yang keras bagai batu, yang hanya bisa dikalahkan oleh
kebimbingan dirinya sendiri, bukan orang lain.
Arin sudah menyusul ke
atas, akhirnya dengan langkah pelan aku mengikuti langkah arin.
“pak iras sudah seminggu di
Singapore, mungkin tidak akan kembali lagi ke sini, karena mulai besok kami
juga akan kedatangan manajer baru..”
Mungkin inu lupa kalau aku
di sini hanya numpang ngantor dan manajer showroom ini beda lagi, bukan aku.
Aku mengulum senyumku.
Ku dengarkan percakapan
mereka berdua dari tengah tangga. Sebelum akhirnya membawa kakiku menginjak
anak tangga lebih tinggi. Lalu muncul di hadapan inu.
“dasar bodoh, bebal,
bajingan, brengsek kamu ras…” cercanya
sambil lari ke pelukanku.
Aku tersenyum. Bukan tersenyum menang, tidak juga karena
senang. Tapi Cuma itu satu – satunya
cara mengembalikannya.
…
Inu baru selesai mandi, ia
berdiri di depan cermin lebar yang menjadi dinding salah satu tembok
kamarnya. Sebagai seorang model ia
memang cowok metroseksual murni, aku dari dulu suka menghitung mulai dari mandi
sampai ia benar – benar siap untuk berangkat itu bisa memakan waktu sampai
empat puluh menit. Sekarang masih seperti itu, inu ku yang memang pandai dalam
menjaga penampilannya.
Kami hendak menghadiri
acara peresmian sebuah cabang bank malam ini, aku mengajak inu ikut serta.
Mengingat bank ini pun adalah salah satu dari anak perusahaan kakeknya.
Ku buka lemari pakaian inu,
lemari besar yang kebanyakan bajunya digantung.
Aku mencarikan kemeja yang memiliki motif hampir sama dengan motif
kemeja yang ku pakai.
“kemeja ketiga dari kiri,
di dalamnya udah ada celananya..” ia mengkomando tanpa melihat sedikitpun.
Aku pun mengambil kemeja
berwarna biru cerah itu, tidak berbeda cukup jauh dengan yang ku pakai. Ku
letakan di atas tempat tidur.
Pintu lemari yang di pojok
terbuka, inu lebih suka menggantung semua pakaiannya di bandingkan
melipatnya. Aku pun menghampiri lemari
tersebut, bermaksud hendak menutupnya.
Inu sedang menyemprotkan
parfum ke seluruh permukaan tubuhnya, parfum favorit papa nya yang ia sukai
juga, sejak SMA ia tidak pernah mengganti parfumnya. Aku juga sangat menggilai
aromanya, yang membuat istimewa parfum tersebut tidak dijual di Indonesia,
setiap bulan inu akan memesannya dari tokonya langsung di paris.
Ketika hendak menutup pintu
lemari, mataku ditarik sesuatu yang berada di dalam lemari itu, dua buah baju yang
dilipat rapi di sana. Sebuah jersey
Barcelona dan real Madrid.
Inu madridista sejati, dia
tidak mungkin memiliki jersey Barcelona.
Aku mengambil jersey
tersebut, aku mengenalinya, sangat mengenalinya, itu adalah baju terakhir yang
ku pakai sebelum berpisah dengan inu tujuh bulan lalu. Mungkin masih banyak bajuku yang lain di
sini, tapi baju ini tampak berbeda, agak sedikit lusuh.
Aku membaliknya, di sana
ada tertulis “inuku” dan pasti di jersey real Madrid inu akan ada tulisan
“irasku”. Ini memang baju terakhir yang
kami pakai di ujung kebersamaan kami pakai tujuh bulan yang lalu, sewaktu
bermain futsal sebelum berangkat ke pesta ulang tahun ku.
“ini baju iras bukan?” aku
menunjukan baju tersebut pada inu.
Memastikan bahwa ini memang bajuku.
Inu mengangguk.
“aromanya…” kataku sambil
menciumnya sesekali.
“ya betul, itu baju kamu,
bau keringat ya? Memang..” inu berjalan mendekat “selama tujuh bulan inu
sengaja tidak mencucinya, inu tidak peduli, padahal sore itu keringat kamu
banyak dan baju itu juga basah, tapi inu sengaja tidak mencucinya…”
Inu memotong sejenak kata –
katanya.
“inu tidak pernah mau
kehilangan moment terakhir kita ras, saat inu sadar Cuma baju itu, Cuma bau
keringat iras yang terakhir yang inu punya, inu tidak mau lupa pada aroma tubuh
iras, mungkin terlihat bodoh, tapi tidak ada sedikitpun yang tersisa dari kamu
itu bahkan akan lebih parah.. Cuma aroma tubuh iras yang bisa menenangkan
pikiran kalut inu selama ini, Cuma aroma tubuh iras yang mampu mengingatkan inu
bagaimana nyamannya tidur di dalam pelukan kamu”
Aku tertohok tidak mampu
bicara sedikitpun.
“Cuma baju itu yang bisa
menjawab setiap kali inu merasa kangen setiap kali inu bertanya – Tanya pada
sendiri, iras sedang ada di mana., Cuma baju itu yang inu cium saat inu kangen
sama semua kebawelan kamu, Cuma baju itu ras yang bisa jadi sapu tangan saat
inu sedih yang inu anggap tangan kamu yang mengusap pelan pipi inu atau
mencubitnya, inu tidak pernah mau mencucinya, inu tidak pernah mau kamu
tinggalkan sedetikpun… meskipun kamu tidak di sini, inu tidak pernah mau
kehilangan kamu secara keseluruhan, waktu itu Cuma ini satu – satunya
peninggalan kamu, Cuma ini yang inu punya kalau kangen sama kamu sedang benar –
benar menyiksa, kamu harus tahu rasanya, sakitnya, sesaknya itu seperti apa…”
kepala inu jatuh di pundakku, bajuku basah oleh hujan yang berguguran dari kedua
sudut matanya. Tangannya memeluk ku kuat.
Air mataku menetes satu –
satu. Membayangkan semua hal berat yang ia lewati sendirian selama ini.
Kami yang berdiri di tengah
– tengah kamar saling bertatapan, menyaksikan penayangan semua hal berat yang
terjadi selama tujuh bulan ini. Aku
memeluk tubuh inu kuat, menyumpahi setiap kejadian pahit yang menerpa kami
berdua.
“jangan pernah pergi lagi
ras, inu tidak pernah sekuat yang kamu kira…”
Katanya pelan di telingaku.
….
Kami berdua pulang hampir
tengah malam, begitu pulang inu langsung tertidur. Tubuhnya tergeletak di atas karpet depan
televisi, ia memintaku memasakan mie instan, Cuma beberapa menit di dapur namun
inu sudah benar – benar pulas. Tadinya
ingin sekali memindahkannya ke kamar, namun aku tidak yakin cukup kuat
menggendongnya melalui tangga.
Akhirnya aku mengambil
selimut dari kamarnya. Ku bayangkan
tidak cukup nyaman tidur dengan baju kemeja seperti itu, namun menggantikan
pakaiannya juga tidak mungkin. Inu pasti marah.
Akhirnya ku tutup tubuh inu dengan selimut besarnya.
“Nu… katanya lapar, ini mie
nya udah matang, mau dimakan gak?” aku membelai pipinya sebentar, takut
menganggu kelelapannya.
Inu diam tak bergeming.
“ya udah iras pulang dulu
ya..” ku cium sebentar kening inu. Ia sudah benar – benar lelap.
Ku pastikan rumah dalam
keadaan aman, kami sudah sepakat untuk tidak tinggal serumah, jadi artinya aku
harus pulang. kunci mobilku tergeletak
di atas meja ruang tamu. Aku berjalan
mengambilnya.
“kamu mau kemana?”
Inu berdiri di tengah ruangan
televisi. Menatap ke arahku. Selimut
yang tadi menutupi tubuhnya langsung menumpuk di lantai.
“pulang..” kataku bingung.
Soalnya inu yang membuat keputusan agar kami tetap tinggal terpisah “ingat tadi
siang soal kita tidak tinggal bareng?”
“itu artinya kita gak tidur
bareng?” wajah khasnya memelas, aku paling tidak bisa menolak kalau ia sudah
memasang tampang seperti itu, seakan segala pertahananku kalah begitu saja.
“jadi inu tidur sendirian mala mini?”
Aku berjalan
menghampirinya.
“dasar anak kecil..” aku
mengucek rambutnya sebentar.
Ia memeluk ku. Kemudian
kami sama – sama duduk di sofa.
“inu kan tadi bilang
lapar…”
“tuh udah iras masakin,
tadi iras bangunin gak bangun – bangun, makanya iras tinggal…”
Aku mengambil mangkuk
berisi mie instan yang tadi ku buat.
Menggulungnya beberapa kali.
“lah kan inu bilang tadi
pasta, kok mie instan…” tiba – tiba dahinya berkerut lagi.
Aku mengingat – ingat.
“ah bener tadi mintanya
mie…” aku tidak mungkin salah dengar.
“ih tuh kuping gak bener,
inu minta pasta…”
“ya udah sekarang iras
masak pasta…”
“saus spaghetinya gak ada
di kulkas, kamu mau nyuruh inu makan pasta pake kecap?” semua adegan ini
dilakukan dengan posisi kami tetap berpelukan.
“tuh kan, inu tau sendiri,
spaghetinya udah abis, berarti tadi emang minta mie..” aku sebenarnya ingin
sekali tertawa.
“itu mie nya udah segede
cacing gitu, masa inu makan?”
Aku melihat mie yang ada di
mangkuk di tanganku, memang sudah mulai begah.
Aku menatap orang yang diam di pelukanku, bibirnya mengkerucut, matanya
tampak kesal, dan keningnya mengkerut.
“iras sebenarnya kangen
banget sama kelakuan kamu yang ini, yang iras gak pernah bener, gak pernah
cukup dan kamu walau sudah salah, walau ketauan Cuma mau ngerjain iras tetep
kekeh…”
Inu diam, bibirnya terus
mengkerucut.
“tapi inu gak mau makan
mie…”
“ya udah inu jadinya mau
makan apa?”
“ambilin jeruk di kulkas,
kupasin, gak boleh ada bijinya..”
Aku beranjak dari tempatku,
menuju kulkas di dapur. Kulkas inu
memang selalu penuh, setelah ku temukan jeruk pesanan inu aku kembali ke ruang
tamu. Inu tidak akan pernah cukup dengan
satu butir saja, aku bawa semua yang ada di dalam keranjang nya.
Aku duduk di sampingnya
lagi sambil mengupas jeruk di tanganku. Sambil mengeluarkan biji – biji dari
dalam tiap kangkot jeruknya.
“iras harus ngapain lagi
sekarang? Ayok suruh iras lagi, udah lama iras gak kamu siksa…” aku menyuapi
inu jeruk yang telah ku kupas dan ku buang bijinya.
Ia meringsut memeluk
tubuhku lagi.
“kamu yang nyiksa inu terus
selama tujuh bulan…”
“sorry for that” kataku.
“Pengen soya…” katanya tiba
– tiba.
“ada di kulkas? Ya udah
iras ambilin…”
“gak ada..” inu menggeleng.
“jangan yang ada bahan pengawetnya…”
“lah kalau gak ada iras
nyari di mana? Ini udah jam dua belas lebih, kalau tanpa pengawet berarti langsung
kedelainya donk? Di jus gitu?”
Inu mengangguk cepat. Itu
berarti yang ku ungkapkan sesuai dengan kemauannya.
“iras nyari di mana jam
segini nu…” salahku sendiri sudah menantangnya.
“inu kan gak minta tempat
belinya, inu minta soya nya…”
Aku memutar otak. Ini dini hari, dimana harus beli kedali untuk
membuat soya.
“campurnya sama srikaya ya,
biar gak enek…”
Aku menepuk kening lagi, dimana mencari srikaya.
“bisa diganti gak sama yang
lain? Jangan soya sama srikaya deh…”
Inu tidak menjawab, ia
tampak berpikir, matanya menatap ke depan, namun cukup sayu untuk mencari –
cari bahan untuk mengerjai ku lagi.
Sekitar lima menit ia berpikir, sebelum akhirnya jatuh terlelap. Kali ini ia benar – benar tidur, aku bahkan
sampai mencubitnya namun ia hanya menggeliat sedikit.
Udara sukabumi memang
sangat dingin dan tidak mungkin
membiarkan inu tidur di atas karpet. Akhrinya aku memutuskan untuk
menggendongnya ke kamar. Ini dulu sering ku lakukan. Semoga aku masih cukup
kuat untuk mengangkat tubuhnya lagi.
Dengan cukup kepayahan aku
menggendong inu ke kamar, setelah sampai di tempat tidur aku langsung mebawanya
terlentang di sana. Melepaskan kaos kaki dan kemeja yang dipakainya. Rasanya aku saja yang melihat tidak cukup
nyaman tidur menggunakan kemeja.
Aku menyusul selimut di
bawah, untuk menutupi tubuh inu. Sebelum
kembali ke kamar, ku pastikan lagi rumah sudah aman, pintu dan jendela sudah
terkunci semua, motor dan kami berdua semuanya ada.
Aku kembali ke kamar inu,
ia sudah benar – benar pulas. Ku tutupi tubuhnya dengan selimut sambil
berbaring di sampingnya.
…
Kini, dua tahun lebih kami
kembali bersama. Bersatu tanpa lelucon apapun yang bisa memisahkan kami berdua.
Seperti waktu itu inu datang ke rumah, menemui papa lalu dia bilang
“om, kalau misalkan om
tetap ingin iras hidup normal, saya saat ini juga akan pergi dari rumah ini dan
tidak akan pernah menemui iras lagi seumur hidup saya. Tapi jika om ingin iras
bahagia, saya janji om lebih – lebih saya janji pada diri sendiri iras akan jadi
orang paling bahagia…”
Waktu itu kedua orang tua
ku tidak menjawab sama sekali, namun mereka memeluknya. Inu sungguh sudah di
terima oleh keluargaku, bahkan sejak pertamakali ia datang ke rumah. Namun
kesalah fahaman papa, yang menganggap bahwa cintaku pada inu, cinta kami berdua
adalah cinta semusim yang bisa menguap.
Tanpa mereka tahu, cinta di
antara kami berdua terlalu kuat untuk dikalahkan apapun.
Sore ini, di bawah pohon
maple di halaman rumah kami, dua anjing kami jac dan hook sedang berlariian mengejar
– ngejar bola yang banyak tergeletak di sana sini. Inu janji akan menemaniku
menyelesaikan pekerjaanku. Ia malah pelan – pelan tertidur.
Kedua tangannya telungkup
di atas meja, menyangga kepalanya, ku betulkan syal yang melingkari
lehernya. Betapa hal ini terasa seperti
bernostalgia, dulu di awal pertemuan kami, aku sering mengendap – endap
mengintipnya di perpustakaan, memperhatikannya dari balik rak – rak buku atau
dari beberapa meja yang ia duduki.
Ia selalu begitu, usai
membaca beberapa buku, ia akan pulas di atasnya, biasanya ia lakukan di sela –
sela pelajaran kosong atau sedang tidak ada guru.
Itu salah satu hobinya yang
ku tahu semenjak SMA, selain main bola atau main basket. Ia akan pergi ke
perpusatakaan, mengambil beberapa buku, selesai membacanya, ia akan melihat jam
tangannya begitu mengetahui waktu kosong masih lama ia akan tidur di atas buku
– buku itu sampai bel sekolah atau bu ani penunggu perpustakaan itu
membangunkannya.
Di atas buku ia memang
gampang sekali tertidur, sementara selama dua tahun tinggal serumah dengannya,
di tempat tidur ia akan sulit sekali memejamkan mata. Aku harus menggosok
lembut punggungnya sambil memutarkan music klasik di dalam kami.
Inu semakin lelap,
membuatku diam – diam menciumnya.
…
Tidak ada komentar:
Posting Komentar