Rabu, 02 Oktober 2013

Kebun Belakang Keluarga Florian



Musim gugur masih memeluk dingin paris, ku rentangkan kedua tanganku.  Sambil wajahku menengadah pada langit yang Nampak kelabu siang ini. Kami seharian ini berada di rumah, akhir pekan memang tidak menyisakan satupun jadwal kuliah, tadinya kami hendak ke spanyol sebelum akhirnya memutuskan untuk tetap berada di paris.
Iras sedang tidur siang, aku ke sini, ke tepi danau keluarga florian. Tetangga kami.Di ujung bukit kebun anggur mereka, mereka memiliki sebuah danau yang berfungsi untuk mengairi seluruh kebun.Ku yakin, dulu Adrian ataupun ariana ketika kecil sering main ke sini sebelum mereka sibuk menjadi petani anggur seperti sekarang ini.
Kami memiliki tetangga yang benar – benar ramah, kami tinggal di sebuah distrik kecil, distrik para petani prancis.Rumah yang ada di sekitarku tidak lebih dari sepuluh.Mereka semua petani, termasuk keluarga florian yang rumahnya hanya berjarak sepuluh meter dari rumahku dan iras.
Awal kedatangan kami kemari, mereka menyambut kami dengan sukacita, bagaimana tidak malamnya kami disambut dengan pesta barbeque yang cukup meriah di halaman depan rumah keluarga florian.  Semua tetangga berkumpul, malam itu aku bahkan tidak berhasil mengingat semua nama mereka, aku mengenal Adrian dan ariana setelah dua hari diam – diam pergi ke kebun anggur mereka. Dan mereka memergokiku.
Rumah ku dan iras mungkin memang jauh dari pusat kota, namun memang itu yang aku inginkan selama ini.  Mengingat dulu sewaktu kuliah, aku pernah memiliki teman yang bernama ikhsan.Dia berasal dari sebuah desa terpencil sebelum palabuhan ratu, perkampungannya berada di tepian sungai besar cimandiri.Ia memiliki sawah dan kebun sawo yang lebat. Beberapa hari menginap di sana, membuatku sempat berpikir kalau aku bisa dilahirkan lagi aku akan memilih menjadi anak petani. Hidup sebagai petani, dan jadi petani di kemudian hari.
Waktu itu aku sedang dipisahkan dengan iras, hingga ia hanya mendengar hal itu sebagai cerita. Ia mungkin menyimak dan menyimpan baik harapan itu, hingga ia kini mewujudkannya, kami tinggal di sini sekarang, di sebuah distrik kecil pertanian.  Setengah diriku sudah merasa menjadi seorang petani.
Betul kata apih dulu, bahwa setiap dari kita adalah keturunan petani, kita adalah petani di ladang bakti kita masing – masing.Buah apapun yang kita panen tergantung dari setiap benih yang kita semai.  Seperti balas budi dan bentuk lainnya dari penghargaan orang lain terhadap kita.
Apakah ada yang sadar bahwa cinta adalah lahan sederhana namun cukup untuk dijadikan tempat menanam amal yang baik?
Tidak, aku tidak akan menerima jika ada yang merendahkanku dan iras hanya karena cinta kami sejenis.  Kami sama – sama laki – laki, lalu setiap dari kalian bertanya dimana letak ladang amalnya? Bukankah itu hanya sebuah tempat panen permanen dari dosa?
Tidak, cinta tidak pernah salah, cinta tidak pernah berdosa.Ia perasaan paling bersih dari hal apapun, hanya manusianya yang berdosa. Bukan cinta yang dimilikinya.
Lalu, tau apa manusia urusan dosa?
Aku membuka mata, ketika ku rasakan iras rebahan di sampingku.Akhirnya ia datang menyusul. Ia tersenyum senang, mungkin lega bisa menemukanku di sini.
“where have you been?” Tanya nya.
“di sini pemandangannya bagus..” kataku lurus – lurus saja.  Semoga saja keluarga florian tidak keberatan kami berdua pacaran di sini.
“sudah sebulan kita di sini, bagaimana, semuanya berjalan? Masih baik – baik saja kan?”
Aku menatap iras. “sayang, bukannya inu pernah bilang ya, kemanapun, sejauh apapun, asal dengan kamu inu ikut, semua pasti baik – baik saja…”
“tanggung jawab iras sekarang, ternyata tidak soal kebahagiaan inu saja, tapi hidup inu sudah jadi tanggungjawab seumur hidup mendengar pernyataan barusan…”
Punya rumah sendiri, tinggal jauh dari orang tua, melanjutkan pendidikan, mungkin adalah sebuah tahapan baru yang bagus bagi pasangan seperti kami.  Di sini kami benar – benar memiliki kehidupan sendiri, yang tentunya menjadi tanggungjawab untuk satu sama lain, tidak hanya soal iras kepadaku.
“menyenangkan ya di sini, banyak hal yang selama ini tertunda dalam hidup kita berdua akhirnya terlaksana, rumah berdua, tanpa pembantu, tanpa orang dari kantor yang mengganggu, kita berangkat kuliah sama – sama, inu nunggu di taman buat kamu jemput, kita hunting foto, kita ngopi dan duduk berjam – jam di cafĂ©…”
“anak – anak di rumah sakit, bayi – bayi yang baru lahir, oma opa yang butuh perawatan, ibu – ibu yang akan segera melahirkan anaknya, sayang tidak kangen mereka?”
Aku menatap mata iras, tidak menyangka ia akan mengatakan hal itu. Tubuhku berbalik berbaring miring ke arah iras, ia pun membalikan badannya sehingga kami berhadapan.
“I dunno..” aku menghembuskan nafas “aku gak tau mana yang lebih membuatku bahagia melihat senyum anak – anak atau melihat bangun tidur setiap pagi di sampingku..”
“tapi kadang iras bangun belakangan bukan?”
“tapi kamu lebih sering bangun lebih pagi…”
Iras tersenyum, kali ini dia benar – benar telah meyakinkanku bahwa dia benar – benar orang yang sudah dikirim ke dalam hidupku.
“iras Cuma takut, suatu saat kamu mulai bosan dengan ini semua, lalu segalanya menjadi terbalik dari hal yang sekarang kita alami…”
“seperti biasa, itu Cuma ketakutan iras saja, kita hanya dua tahun di sini, hidup kita selanjutnya? Siapa yang bisa menebak? Kita akan ikuti alur tuhan kemana dia mau membawa, terserah…”
“termasuk kembali ke Indonesia?”
Aku diam sejenak, menimbang bagaimana jadinya kami di masa depan kalau harus kembali ke sana.
“ya, walaupun kembali ke Indonesia, asal dengan iras…”
“tapi di sana banyak mantan – mantan kamu…” tiba – tiba iras merengut, kulit di permukaan dahinya mengkerut.
Aku tertawa melihat ekspresi iras.Tanganku mengucek mukanya yang cemberut, tadi pagi kami hampir berantem gara – gara ada sebuah kiriman paket dari tham-tham.
“kalau saja mereka melakukan berbagai hal sebaik kamu mungkin inu pertimbangkan, tapi apakah perjalanan kita sejauh ini gak membuat iras mikir kalau inu sudah benar – benar Cuma buat iras?”
“bukan itu sayang bukan itu…” iras menggeleng sambil menunjukan riak khawatir “iras tau itu, iras hafal betul kamu, tapi iras ingat dulu sewaktu iras datang yang kedua kali buat inu, dan inu memberikan kesempatan kedua itu, ya wajar kalau iras khawatir merekapun demikian…”
“mereka bukan kamu…” ku belai lembut wajah iras. “itu yang membedakannya, mereka bukan kamu, kamu tahu apa masalah inu dengan mereka sampai mereka Cuma berlalu jadi mantan seperti itu? Itu karena inu selalu maksa mereka buat seperti kamu, semirip mungkin, mereka menolak, keberatan yang akhirnya mereka pun berlalu…”
Iras menghembuskan nafasnya yang terdengar berat.
“kita sudah enam tahun, dua tahun juga dari kejadian itu…”
“banyak orang yang kalah oleh masa lalu…”
“ya, inu tahu, inu salah satu buktinya, beberapa tahun ke belakang inu tidak bisa hidup tanpa orang dari masa lalu, tanpa kamu waktu itu, lalu kamu datang, dan benar bukan inu dikalahkan masa lalu…” aku mencengkram kuat wajah iras, ingin bicara meyakinkannya “kalau ada bagian dari masa lalu inu yang penting, itu semua Cuma soal kamu…”
Iras diam, kedua matanya menyempit, kegalauan masih menyelimuti kedua permukaannya. Aku mendekat, tanganku mengusap lembut kedua belah pipinya lembut.Sampai aku mengalihkan tubuhku ke atas dada iras.
Mata iras terpejam, sambil ia membuka sedikit mulutnya. Kedua bibirku seakan tahu dimana pasangannya, ia meluncur mendarat di permukaan bibir iras yang meminta kemesraannya.  Tanganku beralih memutari tubuhnya.
Langit yang mendung, angin yang bertiup pelan – pelan.Juga di atas rumput – rumput yang tumbuh malu – malu menyaksikan dua manusia bergulat hebat, aku mencium iras.Menciumnya lebih dahsyat, untuk menyatakan bahwa benar aku untuknya.Bahwa benar tak ada satupun pengecualian yang bisa menghalanginya untuk memilikiku sepenuhnya.
Aku membiarkan iras membawaku ke dalam peluknya yang erat, membawaku kemanapun ia pergi. Karena tulang rusuk tidak bisa jauh dari tubuh yang harus menguatkannya.
Aku jadi berpikir, selama satu bulan kami di sini, iras selalu bertanya apakah ada yang aku rindukan dari Indonesia. Ia selalu bertanya makanan Indonesia apa yang ingin aku makan, kebiasaan mana di Indonesia yang aku rindukan. Pertanyaan pertanyaan darinya membuaku berpikir jangan – jangan ia yang sedang merindukan Indonesia.
Dari banyak perbincangan kami di rumah, di jalan menuju kampus, yang iras bahas lebih banyak tentang Indonesia. Meskipun aku tidak tahu betul apa yang ia rindukan, adik iras rere, ia baru masuk kuliah juga di jerman, kedua orang tuanya di Singapore, di Indonesia dia Cuma punya sanak family yang sebenarnya tidak terlalu dekat.  Yang lainnya mungkin teman – teman lamanya di bandung dan Jakarta.
Jac dan Hook berlarian di dekat kakiku, mungkin keduanya lapar. Ku tuangkan susu di masing – masiang tempat minum keduanya.  Mereka berlarian memperebutkan itu.
Iras turun dari tangga, ia baru selesai, pakaiannya sudah rapi. Kami berdua sama – sama ada jadwal kuliah pagi ini.
“emhh pancakenya mengunggah selera..” kata irass, sambil duduk di salah satu kursi di depan meja makan.Ia memperhatikan Jac dan Hook yang kelihatan rakus sekali dengan susu mereka.
Aku meletakan pancake yang baru saja matang ke atas piring di depan iras. Aku membuat yang agak besar setiap pagi, karena kami hanya akan memakan satu pancake berdua.
“iras gak lagi kangen Indonesia kan?” kataku, sambil meletakan celemek yang ku pakai pada kursi di sebelahku.
Iras mengangkat wajahnya, ia Nampak kaget dengan pertanyaannyaku, setidaknya pertanyaanku membuat tangannya berhenti memotong pancake di depan kami.
Ia menggeleng. Sambil menatapku.
“enggak… kok nanya gitu..” suara iras nyaris datar.
“seenggaknya, banyak sekali pertanyaan iras “kamu kangen Indonesia gak” yang ditujukan ke inu, bahasan iras juga hampir selalu soal Indonesia, sementara gak ada alasan apapun buat iras buat kangen Indonesia, rere di jerman, papa mama di Singapore, tapi ini membuat inu sedikit khawatir, yang kangen Indonesia itu iras bukan inu…”
Kini iras tersenyum mendengarkanku, ia mengangguk – angguk sambil melanjutkan memotong motong lagi pancake di depannya.
“aaaaaaa….” Ia menyodorkan pancake yang sudah tertancap di garpu kepadaku “ini semua soal kamu yank, iras khawatir kalau ada banyak yang inu rindukan dari Indonesia di sini, iras nyoba aja mengerti kalau ada yang inu kangenin dari Indonesia..ini semua soal kamu, iras mencoba jadi pembaca pikiran, perasaan, kamu… karena kalau kamu merasa banyak yang dirindukan dari Indonesia, itu berarti tugas iras juga buat bikin kamu supaya gak kangen Indonesia”
Aku menghembuskan nafas lega.Ada orang yang iri atau yang ingin punya pacar seperti iras di sini???
Sayang, iras Cuma ada satu.
Aku kembali larut dalam perlakuan iras, ia sangat mengharapkan ia bisa berarti buatku. Ia adalah pemaham paling mengerti soalku. Ia sibuk bertanya apakah aku kangen Indonesia, hanya untuk meyakinnya kalau aku baik – baik saja. Hal sekecil itupun tak luput dari perhatiannya.
“percuma inu ke Indonesia juga kalau kamu di sini, inu bakal bisa apa?” aku menggenggam kedua sisi wajah iras. Lalu mendekatkan kedua wajah kami.Sambil menempelken setiap ujung hidung kami berdua. “ini rumah kita sekarang, ini tempat tinggal kita sekarang, jadi jangan mikir – mikir lagi tentang Indonesia, soal apa yang inu makan, kebiasaan yang inu lakukan, kayanya makanan di sini mulai bisa bersahabat sama lidah inu, kalau kebiasaan, semua nya sudah sering sama – sama kita lakukan, jadi jangan khawatir, inu adalah orang yang gampang beraadabtasi..”
Iras memejamkan mata kemudian membukanya, memejamkan kemudian ia buka lagi. Tanda ia mengerti.
Ku cium bibir iras sebentar.Nafasnya yang masih wangi pasta gigi tercium hingga ke dasar saluran pernafasanku.
“ini waktunya buat kita berkembang bukan? Untuk memiliki hidup sendiri kan?” Tanya iras.
Aku mengangguk.
“mari kumpulkan niat dan mental, kita akuisisi beberapa perusahaan, kembangkan, kuasai dunia, lalu baru kembali ke Indonesia…”
Aku memeluknya kali ini.  Rencana iras memang begitu, untuk membangun sebuah perusahaan baru di eropa tidak mudah. Maka jalan pintas paling mudah adalah, membeli perusahaan – perusahaan yang hampir colaps kemudian mengembangkannya.
“resiko?” Tanya iras.
“jangan jadi pengusaha kalau tidak mau ambil resiko..” selogan kakek yang cukup ampuh. Bukankah biasa bagi siapapun untuk gagal, mengambil pelajaran, mencoba lagi, dan terus belajar sampai ia mati. Kesuksesan bukan kita yang mengukur, biar orang lain yang membicarakan.
Kini iras yang menciumku terlebih dahulu. Aku larut lagi di matanya.Ia seakan ingin bicara banyak, seperti aku yang ingin sekali saat ini membuatkan banyak puisi untuknya.
Aku menggosok ujung lenganku pada kaos yang berada di balik jaket tebalku.Aku agak kedinginan.Musim gugur sudah memasuki penghujung dan keadaan sudah semakin dingin.Masalah besar bagi makhluk Negara tropis seperti ku dan iras.Mungkin kalau saja ada libur musim dingin, ingin sekali menghabiskannya di karibia atau mediterania.Tapi kuliah kami baru saja dimulai.
Sudah jam tujuh malam lewat, kuliah ku hari ini baru selesai, professor tua yang menerangkan sejarah bedah dunia sudah bosa sepertinya berada di dalam kelasku. Kelas yang sama sekali tidak ku kenal.
Orang – orangnya maksudku, iras melarangku untuk kenal dengan siapapun di sini. Mungkin kami memang semacam enemy public di Sorbonne, tapi buatku mengikuti aturan iras adalah sebaik – baiknya hidup. Kami di sini memang mencari di kelas mana professor hari ini mengajar, untuk itu kenal dengan orang lain tidak terlalu penting. Dalam satu bulan sudah sudah tiga kali aku dan iras sekelas.
Aku memang sangat menikmati dunia pendidikan.  Aku menggilai larut dalam banyak buku, memburunya di perpustakaan atau memperbincangkan soal penemuan baru dengan mahasiswa yang lain.  Apalagi soal medis, yang memang sangat ku kuasai saat ini.Namun di balik itu, kejenuhan juga menyentuhku.
Aku di sini tidak punya teman satu tim ataupun orang yang bisa ku jadikan lawan untuk futsal. Prancis tidak mengenal futsal, Cuma sebagian masyrakatnya yang menyukai sepakbola.  Basket apalagi, orang – orang di Negara ini, paris terutama adalah orang – orang penuh cinta yang memang gombal semua.  Sehingga tidak punya waktu buat olah raga.
Iras beberapa kali mengajakku bermain basket, ia menyarankan juga agar aku ikut pada salah satu tim basket kampus.  Namun aku urung, basket sudah tidak semenarik dulu.Mungkin aku memang menyukai apabila iras sedang main basket, melihatnya berkeringat, memperebutkan bola, aku sangat menggilai pemandangan itu.
Olah raga beregu yang mungkin bisa ku lakukan adalah sepakbola di lapang besar.  Namun untuk itu minimal aku harus terdaftar pada sebuah akademi sepakbola di tim local. Sulit buatku menerima jika suatu hari aku menjadi pemain sepakbola professional eropa. Hahaha
Ku simpan ballpoint ke saku mantel, beserta tiga lembar kertas yang ku bawa dari rumah.Aku memang tidak membawa buku seperti dulu sewaktu kuliah di sukabumi.Aku hanya ingin mencatat bagian yang tidak ku mengerti, untuk ku bahas, untuk ku tanyakan pada professor atau kalau tidak sempat nantinya untuk ku cari sendiri.
Sehingga, pergi ke kampus aku tidak pernah apa – apa, kecuali ballpoint dan kertas yang bersembunyi di balik jaketku.
Aku menelusuri track di pinggir taman kampusku, di jalanan besar paris. Beberapa mobil terparkir di sana.   Udara semakin dingin, sehingga akupun memasukan kedua tanganku ke dalam saku jaket.
“eheemmm…” seseorang mendehem ketika aku lewat di depannya.
Aku melirik ke arah orang yang sedang menyandarkan tubuhnya ke badan mobilnya.Mobil yang seharusnya aku hafal, bagaimana tidak mobil tersebut terparkir setiap hari di garasi rumahku.
Iras berdiri di sana, ia memakai jas, dengan rompi berwarna abu tua, dan jasnya yang berwarna senada dengan dasinya yang berwarna merah.  Sebuah mantel tebal membungkus tubuhnya, juga yang tidak kalah menyita perhatian, rambut klimisnya yang seperti orang baru saja ketumpahan selai nanas yang mengkilap.
Aku hampir tidak mengenalinya, kalau saja ia tidak mendehem barusan.
“hahahaa look at you…” aku menghampirinya.  Kedua tanganku melingkari pinggangnya.Kemudian menciumnya.
“you like this?” katanya sambil tersenyum lebar.
“of course..” jawabku, meskipun tidak tahu entah dalam rangka apa sehingga ia memutuskan berpakaian rapi begini. “lihat kamu begitu berbeda mala mini, inu sampai hampir gak kenal…”
“you’ll take me to home…” kata iras semakin nakal.
“hahaha.. ayopergi, sebelum pacarku mengetahui ini, bisa bahaya…” kataku sambil meremas tangannya, berpura – pura seakan iras ini orang lain yang hendak ku ajak kencan, dan takut ketahuan oleh iras sendiri.
Karena malam ini iras begitu berbeda, apalagi aroma parfumnya yang menggodaku.  Membuatku hampir sepanjang jalan tidak melepaskan ciumanku sama sekali padanya.