Musim
gugur masih memeluk dingin paris, ku rentangkan kedua tanganku. Sambil wajahku menengadah pada langit yang
Nampak kelabu siang ini. Kami seharian ini berada di rumah, akhir pekan memang
tidak menyisakan satupun jadwal kuliah, tadinya kami hendak ke spanyol sebelum
akhirnya memutuskan untuk tetap berada di paris.
Iras
sedang tidur siang, aku ke sini, ke tepi danau keluarga florian. Tetangga
kami.Di ujung bukit kebun anggur mereka, mereka memiliki sebuah danau yang
berfungsi untuk mengairi seluruh kebun.Ku yakin, dulu Adrian ataupun ariana
ketika kecil sering main ke sini sebelum mereka sibuk menjadi petani anggur
seperti sekarang ini.
Kami
memiliki tetangga yang benar – benar ramah, kami tinggal di sebuah distrik
kecil, distrik para petani prancis.Rumah yang ada di sekitarku tidak lebih dari
sepuluh.Mereka semua petani, termasuk keluarga florian yang rumahnya hanya
berjarak sepuluh meter dari rumahku dan iras.
Awal
kedatangan kami kemari, mereka menyambut kami dengan sukacita, bagaimana tidak
malamnya kami disambut dengan pesta barbeque yang cukup meriah di halaman depan
rumah keluarga florian. Semua tetangga
berkumpul, malam itu aku bahkan tidak berhasil mengingat semua nama mereka, aku
mengenal Adrian dan ariana setelah dua hari diam – diam pergi ke kebun anggur
mereka. Dan mereka memergokiku.
Rumah
ku dan iras mungkin memang jauh dari pusat kota, namun memang itu yang aku
inginkan selama ini. Mengingat dulu
sewaktu kuliah, aku pernah memiliki teman yang bernama ikhsan.Dia berasal dari
sebuah desa terpencil sebelum palabuhan ratu, perkampungannya berada di tepian
sungai besar cimandiri.Ia memiliki sawah dan kebun sawo yang lebat. Beberapa
hari menginap di sana, membuatku sempat berpikir kalau aku bisa dilahirkan lagi
aku akan memilih menjadi anak petani. Hidup sebagai petani, dan jadi petani di
kemudian hari.
Waktu
itu aku sedang dipisahkan dengan iras, hingga ia hanya mendengar hal itu sebagai
cerita. Ia mungkin menyimak dan menyimpan baik harapan itu, hingga ia kini
mewujudkannya, kami tinggal di sini sekarang, di sebuah distrik kecil
pertanian. Setengah diriku sudah merasa
menjadi seorang petani.
Betul
kata apih dulu, bahwa setiap dari kita adalah keturunan petani, kita adalah
petani di ladang bakti kita masing – masing.Buah apapun yang kita panen
tergantung dari setiap benih yang kita semai.
Seperti balas budi dan bentuk lainnya dari penghargaan orang lain
terhadap kita.
Apakah
ada yang sadar bahwa cinta adalah lahan sederhana namun cukup untuk dijadikan
tempat menanam amal yang baik?
Tidak,
aku tidak akan menerima jika ada yang merendahkanku dan iras hanya karena cinta
kami sejenis. Kami sama – sama laki –
laki, lalu setiap dari kalian bertanya dimana letak ladang amalnya? Bukankah
itu hanya sebuah tempat panen permanen dari dosa?
Tidak,
cinta tidak pernah salah, cinta tidak pernah berdosa.Ia perasaan paling bersih
dari hal apapun, hanya manusianya yang berdosa. Bukan cinta yang dimilikinya.
Lalu,
tau apa manusia urusan dosa?
Aku
membuka mata, ketika ku rasakan iras rebahan di sampingku.Akhirnya ia datang
menyusul. Ia tersenyum senang, mungkin lega bisa menemukanku di sini.
“where
have you been?” Tanya nya.
“di
sini pemandangannya bagus..” kataku lurus – lurus saja. Semoga saja keluarga florian tidak keberatan
kami berdua pacaran di sini.
“sudah
sebulan kita di sini, bagaimana, semuanya berjalan? Masih baik – baik saja
kan?”
Aku
menatap iras. “sayang, bukannya inu pernah bilang ya, kemanapun, sejauh apapun,
asal dengan kamu inu ikut, semua pasti baik – baik saja…”
“tanggung
jawab iras sekarang, ternyata tidak soal kebahagiaan inu saja, tapi hidup inu
sudah jadi tanggungjawab seumur hidup mendengar pernyataan barusan…”
Punya
rumah sendiri, tinggal jauh dari orang tua, melanjutkan pendidikan, mungkin
adalah sebuah tahapan baru yang bagus bagi pasangan seperti kami. Di sini kami benar – benar memiliki kehidupan
sendiri, yang tentunya menjadi tanggungjawab untuk satu sama lain, tidak hanya
soal iras kepadaku.
“menyenangkan
ya di sini, banyak hal yang selama ini tertunda dalam hidup kita berdua
akhirnya terlaksana, rumah berdua, tanpa pembantu, tanpa orang dari kantor yang
mengganggu, kita berangkat kuliah sama – sama, inu nunggu di taman buat kamu
jemput, kita hunting foto, kita ngopi dan duduk berjam – jam di cafĂ©…”
“anak
– anak di rumah sakit, bayi – bayi yang baru lahir, oma opa yang butuh
perawatan, ibu – ibu yang akan segera melahirkan anaknya, sayang tidak kangen
mereka?”
Aku
menatap mata iras, tidak menyangka ia akan mengatakan hal itu. Tubuhku berbalik
berbaring miring ke arah iras, ia pun membalikan badannya sehingga kami
berhadapan.
“I
dunno..” aku menghembuskan nafas “aku gak tau mana yang lebih membuatku bahagia
melihat senyum anak – anak atau melihat bangun tidur setiap pagi di
sampingku..”
“tapi
kadang iras bangun belakangan bukan?”
“tapi
kamu lebih sering bangun lebih pagi…”
Iras
tersenyum, kali ini dia benar – benar telah meyakinkanku bahwa dia benar –
benar orang yang sudah dikirim ke dalam hidupku.
“iras
Cuma takut, suatu saat kamu mulai bosan dengan ini semua, lalu segalanya
menjadi terbalik dari hal yang sekarang kita alami…”
“seperti
biasa, itu Cuma ketakutan iras saja, kita hanya dua tahun di sini, hidup kita
selanjutnya? Siapa yang bisa menebak? Kita akan ikuti alur tuhan kemana dia mau
membawa, terserah…”
“termasuk
kembali ke Indonesia?”
Aku
diam sejenak, menimbang bagaimana jadinya kami di masa depan kalau harus
kembali ke sana.
“ya,
walaupun kembali ke Indonesia, asal dengan iras…”
“tapi
di sana banyak mantan – mantan kamu…” tiba – tiba iras merengut, kulit di
permukaan dahinya mengkerut.
Aku
tertawa melihat ekspresi iras.Tanganku mengucek mukanya yang cemberut, tadi
pagi kami hampir berantem gara – gara ada sebuah kiriman paket dari tham-tham.
“kalau
saja mereka melakukan berbagai hal sebaik kamu mungkin inu pertimbangkan, tapi
apakah perjalanan kita sejauh ini gak membuat iras mikir kalau inu sudah benar
– benar Cuma buat iras?”
“bukan
itu sayang bukan itu…” iras menggeleng sambil menunjukan riak khawatir “iras
tau itu, iras hafal betul kamu, tapi iras ingat dulu sewaktu iras datang yang
kedua kali buat inu, dan inu memberikan kesempatan kedua itu, ya wajar kalau
iras khawatir merekapun demikian…”
“mereka
bukan kamu…” ku belai lembut wajah iras. “itu yang membedakannya, mereka bukan
kamu, kamu tahu apa masalah inu dengan mereka sampai mereka Cuma berlalu jadi
mantan seperti itu? Itu karena inu selalu maksa mereka buat seperti kamu,
semirip mungkin, mereka menolak, keberatan yang akhirnya mereka pun berlalu…”
Iras
menghembuskan nafasnya yang terdengar berat.
“kita
sudah enam tahun, dua tahun juga dari kejadian itu…”
“banyak
orang yang kalah oleh masa lalu…”
“ya,
inu tahu, inu salah satu buktinya, beberapa tahun ke belakang inu tidak bisa
hidup tanpa orang dari masa lalu, tanpa kamu waktu itu, lalu kamu datang, dan
benar bukan inu dikalahkan masa lalu…” aku mencengkram kuat wajah iras, ingin
bicara meyakinkannya “kalau ada bagian dari masa lalu inu yang penting, itu
semua Cuma soal kamu…”
Iras
diam, kedua matanya menyempit, kegalauan masih menyelimuti kedua permukaannya.
Aku mendekat, tanganku mengusap lembut kedua belah pipinya lembut.Sampai aku
mengalihkan tubuhku ke atas dada iras.
Mata
iras terpejam, sambil ia membuka sedikit mulutnya. Kedua bibirku seakan tahu
dimana pasangannya, ia meluncur mendarat di permukaan bibir iras yang meminta
kemesraannya. Tanganku beralih memutari
tubuhnya.
Langit
yang mendung, angin yang bertiup pelan – pelan.Juga di atas rumput – rumput
yang tumbuh malu – malu menyaksikan dua manusia bergulat hebat, aku mencium
iras.Menciumnya lebih dahsyat, untuk menyatakan bahwa benar aku untuknya.Bahwa
benar tak ada satupun pengecualian yang bisa menghalanginya untuk memilikiku
sepenuhnya.
Aku
membiarkan iras membawaku ke dalam peluknya yang erat, membawaku kemanapun ia
pergi. Karena tulang rusuk tidak bisa jauh dari tubuh yang harus menguatkannya.
…
Aku
jadi berpikir, selama satu bulan kami di sini, iras selalu bertanya apakah ada
yang aku rindukan dari Indonesia. Ia selalu bertanya makanan Indonesia apa yang
ingin aku makan, kebiasaan mana di Indonesia yang aku rindukan. Pertanyaan
pertanyaan darinya membuaku berpikir jangan – jangan ia yang sedang merindukan
Indonesia.
Dari
banyak perbincangan kami di rumah, di jalan menuju kampus, yang iras bahas
lebih banyak tentang Indonesia. Meskipun aku tidak tahu betul apa yang ia
rindukan, adik iras rere, ia baru masuk kuliah juga di jerman, kedua orang
tuanya di Singapore, di Indonesia dia Cuma punya sanak family yang sebenarnya
tidak terlalu dekat. Yang lainnya
mungkin teman – teman lamanya di bandung dan Jakarta.
Jac
dan Hook berlarian di dekat kakiku, mungkin keduanya lapar. Ku tuangkan susu di
masing – masiang tempat minum keduanya.
Mereka berlarian memperebutkan itu.
Iras
turun dari tangga, ia baru selesai, pakaiannya sudah rapi. Kami berdua sama –
sama ada jadwal kuliah pagi ini.
“emhh
pancakenya mengunggah selera..” kata irass, sambil duduk di salah satu kursi di
depan meja makan.Ia memperhatikan Jac dan Hook yang kelihatan rakus sekali
dengan susu mereka.
Aku
meletakan pancake yang baru saja matang ke atas piring di depan iras. Aku
membuat yang agak besar setiap pagi, karena kami hanya akan memakan satu
pancake berdua.
“iras
gak lagi kangen Indonesia kan?” kataku, sambil meletakan celemek yang ku pakai
pada kursi di sebelahku.
Iras
mengangkat wajahnya, ia Nampak kaget dengan pertanyaannyaku, setidaknya
pertanyaanku membuat tangannya berhenti memotong pancake di depan kami.
Ia
menggeleng. Sambil menatapku.
“enggak…
kok nanya gitu..” suara iras nyaris datar.
“seenggaknya,
banyak sekali pertanyaan iras “kamu kangen Indonesia gak” yang ditujukan ke
inu, bahasan iras juga hampir selalu soal Indonesia, sementara gak ada alasan
apapun buat iras buat kangen Indonesia, rere di jerman, papa mama di Singapore,
tapi ini membuat inu sedikit khawatir, yang kangen Indonesia itu iras bukan
inu…”
Kini
iras tersenyum mendengarkanku, ia mengangguk – angguk sambil melanjutkan
memotong motong lagi pancake di depannya.
“aaaaaaa….”
Ia menyodorkan pancake yang sudah tertancap di garpu kepadaku “ini semua soal
kamu yank, iras khawatir kalau ada banyak yang inu rindukan dari Indonesia di
sini, iras nyoba aja mengerti kalau ada yang inu kangenin dari Indonesia..ini
semua soal kamu, iras mencoba jadi pembaca pikiran, perasaan, kamu… karena
kalau kamu merasa banyak yang dirindukan dari Indonesia, itu berarti tugas iras
juga buat bikin kamu supaya gak kangen Indonesia”
Aku
menghembuskan nafas lega.Ada orang yang iri atau yang ingin punya pacar seperti
iras di sini???
Sayang,
iras Cuma ada satu.
Aku
kembali larut dalam perlakuan iras, ia sangat mengharapkan ia bisa berarti
buatku. Ia adalah pemaham paling mengerti soalku. Ia sibuk bertanya apakah aku
kangen Indonesia, hanya untuk meyakinnya kalau aku baik – baik saja. Hal
sekecil itupun tak luput dari perhatiannya.
“percuma
inu ke Indonesia juga kalau kamu di sini, inu bakal bisa apa?” aku menggenggam
kedua sisi wajah iras. Lalu mendekatkan kedua wajah kami.Sambil menempelken
setiap ujung hidung kami berdua. “ini rumah kita sekarang, ini tempat tinggal
kita sekarang, jadi jangan mikir – mikir lagi tentang Indonesia, soal apa yang
inu makan, kebiasaan yang inu lakukan, kayanya makanan di sini mulai bisa
bersahabat sama lidah inu, kalau kebiasaan, semua nya sudah sering sama – sama
kita lakukan, jadi jangan khawatir, inu adalah orang yang gampang
beraadabtasi..”
Iras
memejamkan mata kemudian membukanya, memejamkan kemudian ia buka lagi. Tanda ia
mengerti.
Ku
cium bibir iras sebentar.Nafasnya yang masih wangi pasta gigi tercium hingga ke
dasar saluran pernafasanku.
“ini
waktunya buat kita berkembang bukan? Untuk memiliki hidup sendiri kan?” Tanya
iras.
Aku
mengangguk.
“mari
kumpulkan niat dan mental, kita akuisisi beberapa perusahaan, kembangkan,
kuasai dunia, lalu baru kembali ke Indonesia…”
Aku
memeluknya kali ini. Rencana iras memang
begitu, untuk membangun sebuah perusahaan baru di eropa tidak mudah. Maka jalan
pintas paling mudah adalah, membeli perusahaan – perusahaan yang hampir colaps
kemudian mengembangkannya.
“resiko?”
Tanya iras.
“jangan
jadi pengusaha kalau tidak mau ambil resiko..” selogan kakek yang cukup ampuh.
Bukankah biasa bagi siapapun untuk gagal, mengambil pelajaran, mencoba lagi,
dan terus belajar sampai ia mati. Kesuksesan bukan kita yang mengukur, biar
orang lain yang membicarakan.
Kini
iras yang menciumku terlebih dahulu. Aku larut lagi di matanya.Ia seakan ingin
bicara banyak, seperti aku yang ingin sekali saat ini membuatkan banyak puisi
untuknya.
…
Aku
menggosok ujung lenganku pada kaos yang berada di balik jaket tebalku.Aku agak
kedinginan.Musim gugur sudah memasuki penghujung dan keadaan sudah semakin
dingin.Masalah besar bagi makhluk Negara tropis seperti ku dan iras.Mungkin
kalau saja ada libur musim dingin, ingin sekali menghabiskannya di karibia atau
mediterania.Tapi kuliah kami baru saja dimulai.
Sudah
jam tujuh malam lewat, kuliah ku hari ini baru selesai, professor tua yang
menerangkan sejarah bedah dunia sudah bosa sepertinya berada di dalam kelasku.
Kelas yang sama sekali tidak ku kenal.
Orang
– orangnya maksudku, iras melarangku untuk kenal dengan siapapun di sini.
Mungkin kami memang semacam enemy public di Sorbonne, tapi buatku mengikuti
aturan iras adalah sebaik – baiknya hidup. Kami di sini memang mencari di kelas
mana professor hari ini mengajar, untuk itu kenal dengan orang lain tidak
terlalu penting. Dalam satu bulan sudah sudah tiga kali aku dan iras sekelas.
Aku
memang sangat menikmati dunia pendidikan.
Aku menggilai larut dalam banyak buku, memburunya di perpustakaan atau
memperbincangkan soal penemuan baru dengan mahasiswa yang lain. Apalagi soal medis, yang memang sangat ku
kuasai saat ini.Namun di balik itu, kejenuhan juga menyentuhku.
Aku
di sini tidak punya teman satu tim ataupun orang yang bisa ku jadikan lawan
untuk futsal. Prancis tidak mengenal futsal, Cuma sebagian masyrakatnya yang
menyukai sepakbola. Basket apalagi,
orang – orang di Negara ini, paris terutama adalah orang – orang penuh cinta
yang memang gombal semua. Sehingga tidak
punya waktu buat olah raga.
Iras
beberapa kali mengajakku bermain basket, ia menyarankan juga agar aku ikut pada
salah satu tim basket kampus. Namun aku
urung, basket sudah tidak semenarik dulu.Mungkin aku memang menyukai apabila
iras sedang main basket, melihatnya berkeringat, memperebutkan bola, aku sangat
menggilai pemandangan itu.
Olah
raga beregu yang mungkin bisa ku lakukan adalah sepakbola di lapang besar. Namun untuk itu minimal aku harus terdaftar
pada sebuah akademi sepakbola di tim local. Sulit buatku menerima jika suatu
hari aku menjadi pemain sepakbola professional eropa. Hahaha
Ku
simpan ballpoint ke saku mantel, beserta tiga lembar kertas yang ku bawa dari
rumah.Aku memang tidak membawa buku seperti dulu sewaktu kuliah di sukabumi.Aku
hanya ingin mencatat bagian yang tidak ku mengerti, untuk ku bahas, untuk ku
tanyakan pada professor atau kalau tidak sempat nantinya untuk ku cari sendiri.
Sehingga,
pergi ke kampus aku tidak pernah apa – apa, kecuali ballpoint dan kertas yang
bersembunyi di balik jaketku.
Aku
menelusuri track di pinggir taman kampusku, di jalanan besar paris. Beberapa
mobil terparkir di sana. Udara semakin
dingin, sehingga akupun memasukan kedua tanganku ke dalam saku jaket.
“eheemmm…”
seseorang mendehem ketika aku lewat di depannya.
Aku
melirik ke arah orang yang sedang menyandarkan tubuhnya ke badan mobilnya.Mobil
yang seharusnya aku hafal, bagaimana tidak mobil tersebut terparkir setiap hari
di garasi rumahku.
Iras
berdiri di sana, ia memakai jas, dengan rompi berwarna abu tua, dan jasnya yang
berwarna senada dengan dasinya yang berwarna merah. Sebuah mantel tebal membungkus tubuhnya, juga
yang tidak kalah menyita perhatian, rambut klimisnya yang seperti orang baru
saja ketumpahan selai nanas yang mengkilap.
Aku
hampir tidak mengenalinya, kalau saja ia tidak mendehem barusan.
“hahahaa
look at you…” aku menghampirinya. Kedua
tanganku melingkari pinggangnya.Kemudian menciumnya.
“you
like this?” katanya sambil tersenyum lebar.
“of
course..” jawabku, meskipun tidak tahu entah dalam rangka apa sehingga ia
memutuskan berpakaian rapi begini. “lihat kamu begitu berbeda mala mini, inu
sampai hampir gak kenal…”
“you’ll
take me to home…” kata iras semakin nakal.
“hahaha..
ayopergi, sebelum pacarku mengetahui ini, bisa bahaya…” kataku sambil meremas
tangannya, berpura – pura seakan iras ini orang lain yang hendak ku ajak
kencan, dan takut ketahuan oleh iras sendiri.
Karena
malam ini iras begitu berbeda, apalagi aroma parfumnya yang menggodaku. Membuatku hampir sepanjang jalan tidak
melepaskan ciumanku sama sekali padanya.
…