Aku pamit dari
bengkel Dharma, seorang teman lama yang ku kenal sejak aku masih duduk di kelas
satu SMA. Dulu, ardan yang mengenalkannya pada seluruh astroboy. Dharma lah
yang punya andil cukup besar dalam rangka menjadikan kami pelajar yang senang
balapan liar di jalanan sepi di seluruh bandung waktu itu.
Beberapa waktu lalu,
saat aku dan iras ke itali, aku menemukan sebuah velg racing dari ferarri dan
ku lihat velg tersebut cocok juga untuk di pasang di si juke, sayang mobilku
masih di Indonesia dan waktu itu aku memutuskan untuk tidak membelinya. Karena ku pikir aku masih lama untuk pulang
ke Indonesia. Dan beberapa minggu ini
aku pulang, ku temukan juga velg depan si juke mulai bengo, lalu aku
menghubungi dharma berharap ia bisa membelikan velg tersebut.
Ternyata ia bisa dan
hari ini barang pesananku sudah datang. Ia juga memasangkannya untukku. Aku,
ardan dan yang lain memang hanya mempercayakan mobil kami kepadanya. Bahkan untuk sekedar ganti oli ataupun steam
mobil kami. tidak jarang, sebagai langganannya kami sering dapat diskon. Meski
setahun belakangan ia mengaku merindukan kami semua nongkrong bareng di
bengkelnya, karena kesibukan dan kami semua yang sekarang tidak lagi tinggal di
Indonesia.
Aku dan iras kembali
lagi ke bandung, setelah iras tidak bisa mengalahkan saran mama untuk terafis
di sini. Mama menyarankan agar kami menempati rumah keluarga iras di
ledeng. Agar kami punya waktu lebih
untuk kami berdua, menurut mama. Bagaimanapun kini kami sudah memiliki
kehidupan sendiri dan kata mama juga sudah bukan saatnya lagi ia ikut campur
untuk urusan kami berdua. Sarannya untuk
kesembuhan iras hanya sebatas keinganannya saja memberikan perhatian yang
cukup.
Iras setuju
akhirnya. Ia mau menempati rumah yang
sebenarnya jarang sekali ia kunjungi kalau lagi di bandung. Padahal menurutku
rumah yang kami tempati sekarang jauh lebih menarik dan nyaman di
tinggali. Rumahnya besar dan berada di
perbukitan. Aku bahkan rasanya dapat
menghirup aroma bunga dan segala macam daun yang dibawa angina dari lembang.
Inilah akhirnya
kami, dua orang semi pengangguran, tanpa pekerjaan. Kuliah kami bukan cuti
ataupun berhenti, kami tetap mengerjakan thesis kami walau di Indonesia. Aku
tidak ingin samasekali kondisi ini malah mengacaukan segalanya, padahal iras
jelas – jelas tidak mau kalau keadaan sakitnya merepotkan kami berdua.
Baik aku atau iras,
kami berdua sama – sama belum tahu kapan akan kembali lagi ke paris atau
mungkin kota lain di Negara lain. Bagaimanapun juga, bisnis kecil – kecilan
yang kami mulai harus kami pertanggungjawabkan dengan melanjutkannya. Walau aku
benci kota besar, namun hidup kami selanjutnya pasti berlabuh di salah satu
sudut kota manhattan.
Aku sudah berjanji
pada mama dan semua keluarga iras, aku akan merawatnya dengan baik hingga ia
sembuh total dan bisa berjalan lagi seperti kondisi normal. Ia kini sudah mampu berkeliling rumah, tanpa
menggunakan bantuan tongkat dan yang lainnya.
Minggu depan, terafisnya bilang ia akan mulai mengajari iras naik
tangga.
Ku pikir ia bisa
melewatinya dengan mudah dan relative singkat, bagi orang kebanyakan, tidak
seperti itu, mereka benar – benar membutuhkan waktu enam bulan bahkan hingga
satu tahun untuk bisa berjalan normal lagi seperti biasa. Namun iras, memasuki
bulan kedua ia bahkan sudah bisa duduk, berdiri, berjalan – jalan kecil hingga
akhirnya terlentang di tempat tidur tanpa bantuan.
Terakhir aku
membawanya ke dokter spesialis orthopedic, menunjukan bahwa penyambungan
tulangnya seratus persen berhasil dan tidak ada kesalahan yang berarti, padahal
sewaktu memasangnya aku takut sekali kalau sampai pen yang dipasang terlalu
panjang atau terlalu pendek, itu bisa menyebabkan cacat permanen, yaitu tidak
simeteris antara kaki kiri dan kaki kanannya.
Aku bertanggungjawab
penuh untuk itu karena aku yang melakukan pembedahannya sendiri. Dibalik ketakutanku pada kegagalan medis yang
mungkin bisa dilakukan oleh dokter atau tenaga medis yang lain.
…
Ku turunkan semua
barang belanjaanku daru bagasi mobil, kebanyakan persediaan makanan dan
berbagai kebutuhan kami. mama mengutus seorang pembantu untuk membantu kami
membersihkan rumah, untuk urusan masakan, kini setelah dua tahun tinggal
bersama, iras tidak pernah mau memakan masakan orang lain. Apapun buatanku pasti ia makan, tanpa pernah
protes atau ngomel atau bilang tidak suka, kurang inilah, kurang itulah, apapun
yang ku buat pasti iras makan.
Mama memang benar,
aku membutuhkan bantuan orang lain untuk membersihkan rumah besar ini. Dan aku
tidak pernah tertarik untuk merapikan ruangan lain selain tempat tidur dan
ruangan tempatku dan iras bisa makan atau nonton televisi.
“inu pulang…” aku
masuk ke dalam rumah, sambil menenteng belanjaanku, beberapa di antaranya tas
kertas berisi buah dan sayur juga makanan lainnya yang berupa bahan – bahan
organic. Bahan makanan yang sudah hampir setengah tahun ini mulai kami
konsumsi, aku tidak mau membiarkan satupun bibit penyakit menghinggapiku atau
orang – orang yang ku sayangi. Sebuah pola yang sebenarnya diajarkan mama juga,
kebun bungannya di belakang rumah sekarang sudah berganti dengan beberapa
tanaman sayuran dan buah – buahan.
“hay love..” iras
yang sedang duduk menonton televisi menyambutku, ia menengadahkan kepalanya,
untuk melihatku yang datang dari arah belakang tubuhnya.
Ku simpan barang –
barang di dalam pelukan dan tanganku di samping iras. Kemudian ku lingkarkan tanganku di lehernya,
wajahnya menghadapku, aku tersenyum sebentar sebelum akhirnya kedua bibirku
mencari bibirnya.
Ada rasa hangat yang
mengalir, ketika kecupan demi kecupan berlangsung dari detik ke detik, ketika
bibirku di kecup kian dalam dan mesra juga dalam kelembutan yang luar biasa,
sampai aku lupa membuka mata, ketika ciuman iras membuatku terbang. Aku
beralih, pindah ke bagian depan kursi. Ke hadapan iras.
Kami saling menatap
selama beberapa detik, sebelum akhirnya aku melompat, menyilangkan kaki ku pada
pinggang iras. Tangannya mendekap
punggungku, awalnya ia mengusapnya di balik kaos yang ku kenakan, sebelum
akhirnya tangannya menulusup masuk dan mengelus seluruh permukaan punggungku.
Bibir kami tidak berhenti, bahkan ketika mulai ku rasakan, lidah mungil iras
pelan – pelan menelusuri seluruh isi rongga mulutku, rasanya menggelikan namun
di beberapa detik kemudian, aku membalasnya, memasukan lidahku hingga akhirnya
ia menghisap penuh dan membuatku kewalahan.
Tangan iras menarik
kaos yang ku pakai, menanggalkannya dari tubuhku, aku menurut, mengangkat
kepalaku dari kepalanya, ketika ia melapas kaosku kemudian melemparkannya. Aku pun membantunya membuka switer hitam yang
ia pakai. Kami sama – sama bertelanjang
dada sekarang. Aku mengelus bahu dan
pangkal lengan iras yang mulai menegang. Ia juga masih mengelus – elus
punggungku.
Aku agak sedikit
khawatir dengan kakinya yang terjuntai di lantai, makanya aku sebisa mungkin
tidak banyak bergerak, hanya duduk di pangkuannya. Ku telungkupkan kedua
tangannku di wajahnya. Ia malah bergerak ke kiri dan kanan berusaha mencium
kedua punggung tanganku, wajahnya bergerak maju, kedua tanganku kini
menelungkup di rambutnya. Iras menciumku lagi, lidahnya masuk lagi namun
kemudian ia mengeluarkannya, lidahnya yang menggetarkan seluruh saraf yang
bersembunyi di balik kulit ku, membuatku mengggelinjang ketika ujung lidahnya
menyapu mulai dari dada, leher hingga kembali ke bibirku.
Aku terbang selama
beberapa detik, aku menunduk, iras menggila, lidahnya semakin buas, ketika
mulutnya meniup seluruh permukaan tengkuk ku, kemudian lidah berwarna merah
mudah itu menyapunya hingga ke telinga. Aku hampir menjerit namun iras tahu
kapan kedua bibirnya harus kembali mencium bibirku.
Entahlah, aku
menjadi tidak sabar dengan benda tumpul yang aku duduki sejak tadi, kancing
celana iras lepas, tidak kuat menahan kekuatan yang menyeruak dari dalam. Begitu ku buka, patung liberty pun mencuat ke
permukaan. Kebiasaan kami berdua sejak
lama, apabila di dalam rumah, tidak akan mengenakan pakaian dalam.
“arrggghhhh…” lolong
iras, ketika ku tarik seluruh badan patung liberty miliknya dan meremasnya kuat
– kuat. Aku tersenyum melihat ekspresinya. Tangannya kini yang bergerak lihat,
berusaha membuka sabukku.
“sabuknya susah
sayang…” iras mengeluh. Aku tersenyum, tidak ingin membantunya. Ia rupanya
tetap berusaha, sampai sabukku lepas.
Tugasnya kini melepaskan kancing celana, kemudian menarik agak rendah
kolor basket yang ku kenakan sebelum akhirnya melakukan hal yang sama pada
brief yang ku pakai di bagian dalam. “gini nih kalau berlapis – lapis..”
Iras protes lagi,
aku tersenyum cukup lebar kali ini sambil mencium bibirnya lagi.
…
“tanggal 10 februari
mama ingin kita berdua ke Singapore, kalau bisa mama juga diajak, mama dan papa
akan merayakan ulang tahun perak pernikahannya di sana..” kata iras, ia tidur
di atas dadaku. Kami berdua masih di depan televisi walau sekarang sudah
mengenakan pakaian lagi.
“tanggal 10? Mama
dan papa menikah di tanggal sepuluh februari?” tanyaku pada iras “mirip banget
sama tanggal jadian kita..”
“itu dia, itu
berarti tanggal sepuluh bulan depan, kita tidak rayakan dulu lah ya, kita bisa
numpang pesta di pestanya mama sama papa..”
Aku mengangguk,
mengiyakan iras, membayangkan tanggal sepuluh bulan depan lewat begitu saja. Ini
semua persoalan prioritas, mau sudah selama apapun iras bersamaku ia saat ini
masih menjadi milik keluarganya.
“oke, tapi malamnya
kita mungkin bisa kabur ke sentosa island atau belanja sepatu futsal di sana? Sepatu
futsal inu rusak…” kataku sambil bangkit dari tempat duduk kami dan berjalan ke
arah dapur, mencari sesuatu yang mungkin bisa kami makan berdua. “ya itu juga
kalau iras mau…”
“gak usah mending
ya, kita kan nanti di hotel, udah pasti itu di tempat ramenya di sana, jadi
jalan – jalannya bisa disimpen ke besoknya..”
“he’em..” aku
menjawab walau cenderung hanya sekedar bergumam. Seluruh belanjaan yang tadi
sudah ku rapi kan, ku ambil lagi beberapa, kebanyakan buah – buahan, kami
berdua bukan tipe pemakan kacang – kacangan. Ya kami tentu sangat tidak
menyukai ‘kacang’ bukan. Hahaha
Hp di kantong celana
ku berdentam. Pemberitahuan dari
fesbuk. Ada orang lain yang ngajak main
game. Ah masa – masa main konsol game, PES, Fifa, atau yang lainnya sudah lama
lewat. Akhirnya aku malah menulis sebuah status di sana.
Prioritas pria itu: 1) keluarga 2)
kerjaan 3) hobi 4) pacar
Mau jadi prioritas? Makanya nikah...
Biar jadi keluarga.
Mau jadi prioritas? Makanya nikah...
Biar jadi keluarga.
Kemudian
aku jalan kaki dengan mangkok berisi potongan – potongan pisang dengan yoghurt.
Iras masih duduk pada sofa di depan televisi. Aku duduk di sampingnya, mata
kami tertuju pada layar televisi, iras asyik menonton berita mengani bursa
saham. Satu – satu tayangan favoritnya yang ada di televisi.
Aku makan
sendiri, iras bilang, satu sisir pisang yang hilang dari kulkas itu tadi ia
yang menghabiskan sebelum aku pulang. jadi ia tidak mau makan ketika aku
tawari. Tangan iras meraih ponsel raksasanya yang ia letakan tidak jauh dari
tubuhnya.
“emang
selama enam tahun ini ngerasa ada di no empat?” iras menatap lekat kepadaku. Kepalaku
berputar ke arahnya, seketika aktifitas yang ada di mulutku berhenti. Aku rasa
aku salah bicara kali ini “apakah sia – sia yang sudah iras lakukan, bahwa
seluruh hidup iras itu hanya soal inu? Apa lagi yang perlu iras lakukan untuk
bisa menegaskan itu lebih dalam lagi, sayang…”
Ada bunyi
kekhawatiran di ujung kalimat yang barusan iras ucapkan. Ku putar lagi kepalaku, kali ini lebih ke
menunduk, sambil mengaduk – aduk tak jelas pisang dengan cairan yoghurt di
tanganku.
“kamu
hidup iras sayang dan iras tidak pernah memberikan nomor pada setiap hal yang
iras lakukan dan iras pikir itu harus disusun berdasarkan prioritas..” mata
iras menatapku semakin dalam dan semakin terasa menyayat. “kamu hidup iras,
kamu hidup iras…”
“kamu
hidup iras…” iras bahkan mengulang sampai ketiga kalinya kalimat yang sama.
“I know…
yes, I really know…” kataku pelan.
“baiklah,
kalau acara itu terasa cukup menganggu pikiran sayang, waktu kita, oke kita
tidak perlu datang ke sana, iras bisa bilang kondisi iras belum cukup pulih,
jadi kita berdua masih tetap bisa tinggal di bandung…”
“no
no no…” aku menggeleng. Ku letakan mangkok di tanganku ke atas meja, kemudian
ku peluk tubuh yang baru mendapatkan dua kilo lagi berat badannya. Sesuatu yang
bagus untukku. Aku takut iras terlalu kurus. “I’m so sorry, I’m so selfish..”
Tangan
iras mengusap punggung ku lembut, berkali – kali bibirnya mencium pipiku.
“iras
sangat sayang inu, sangat sayang…”
….