Minggu, 19 Januari 2014

Prioritas Pria



Aku pamit dari bengkel Dharma, seorang teman lama yang ku kenal sejak aku masih duduk di kelas satu SMA. Dulu, ardan yang mengenalkannya pada seluruh astroboy. Dharma lah yang punya andil cukup besar dalam rangka menjadikan kami pelajar yang senang balapan liar di jalanan sepi di seluruh bandung waktu itu.
Beberapa waktu lalu, saat aku dan iras ke itali, aku menemukan sebuah velg racing dari ferarri dan ku lihat velg tersebut cocok juga untuk di pasang di si juke, sayang mobilku masih di Indonesia dan waktu itu aku memutuskan untuk tidak membelinya.  Karena ku pikir aku masih lama untuk pulang ke Indonesia.  Dan beberapa minggu ini aku pulang, ku temukan juga velg depan si juke mulai bengo, lalu aku menghubungi dharma berharap ia bisa membelikan velg tersebut.
Ternyata ia bisa dan hari ini barang pesananku sudah datang. Ia juga memasangkannya untukku. Aku, ardan dan yang lain memang hanya mempercayakan mobil kami kepadanya.  Bahkan untuk sekedar ganti oli ataupun steam mobil kami. tidak jarang, sebagai langganannya kami sering dapat diskon. Meski setahun belakangan ia mengaku merindukan kami semua nongkrong bareng di bengkelnya, karena kesibukan dan kami semua yang sekarang tidak lagi tinggal di Indonesia.
Aku dan iras kembali lagi ke bandung, setelah iras tidak bisa mengalahkan saran mama untuk terafis di sini. Mama menyarankan agar kami menempati rumah keluarga iras di ledeng.  Agar kami punya waktu lebih untuk kami berdua, menurut mama. Bagaimanapun kini kami sudah memiliki kehidupan sendiri dan kata mama juga sudah bukan saatnya lagi ia ikut campur untuk urusan kami berdua.  Sarannya untuk kesembuhan iras hanya sebatas keinganannya saja memberikan perhatian yang cukup.
Iras setuju akhirnya.  Ia mau menempati rumah yang sebenarnya jarang sekali ia kunjungi kalau lagi di bandung. Padahal menurutku rumah yang kami tempati sekarang jauh lebih menarik dan nyaman di tinggali.  Rumahnya besar dan berada di perbukitan.  Aku bahkan rasanya dapat menghirup aroma bunga dan segala macam daun yang dibawa angina dari lembang.
Inilah akhirnya kami, dua orang semi pengangguran, tanpa pekerjaan. Kuliah kami bukan cuti ataupun berhenti, kami tetap mengerjakan thesis kami walau di Indonesia. Aku tidak ingin samasekali kondisi ini malah mengacaukan segalanya, padahal iras jelas – jelas tidak mau kalau keadaan sakitnya merepotkan kami berdua.
Baik aku atau iras, kami berdua sama – sama belum tahu kapan akan kembali lagi ke paris atau mungkin kota lain di Negara lain. Bagaimanapun juga, bisnis kecil – kecilan yang kami mulai harus kami pertanggungjawabkan dengan melanjutkannya. Walau aku benci kota besar, namun hidup kami selanjutnya pasti berlabuh di salah satu sudut kota manhattan.
Aku sudah berjanji pada mama dan semua keluarga iras, aku akan merawatnya dengan baik hingga ia sembuh total dan bisa berjalan lagi seperti kondisi normal.  Ia kini sudah mampu berkeliling rumah, tanpa menggunakan bantuan tongkat dan yang lainnya.  Minggu depan, terafisnya bilang ia akan mulai mengajari iras naik tangga.
Ku pikir ia bisa melewatinya dengan mudah dan relative singkat, bagi orang kebanyakan, tidak seperti itu, mereka benar – benar membutuhkan waktu enam bulan bahkan hingga satu tahun untuk bisa berjalan normal lagi seperti biasa. Namun iras, memasuki bulan kedua ia bahkan sudah bisa duduk, berdiri, berjalan – jalan kecil hingga akhirnya terlentang di tempat tidur tanpa bantuan.
Terakhir aku membawanya ke dokter spesialis orthopedic, menunjukan bahwa penyambungan tulangnya seratus persen berhasil dan tidak ada kesalahan yang berarti, padahal sewaktu memasangnya aku takut sekali kalau sampai pen yang dipasang terlalu panjang atau terlalu pendek, itu bisa menyebabkan cacat permanen, yaitu tidak simeteris antara kaki kiri dan kaki kanannya.
Aku bertanggungjawab penuh untuk itu karena aku yang melakukan pembedahannya sendiri.  Dibalik ketakutanku pada kegagalan medis yang mungkin bisa dilakukan oleh dokter atau tenaga medis yang lain.
Ku turunkan semua barang belanjaanku daru bagasi mobil, kebanyakan persediaan makanan dan berbagai kebutuhan kami. mama mengutus seorang pembantu untuk membantu kami membersihkan rumah, untuk urusan masakan, kini setelah dua tahun tinggal bersama, iras tidak pernah mau memakan masakan orang lain.  Apapun buatanku pasti ia makan, tanpa pernah protes atau ngomel atau bilang tidak suka, kurang inilah, kurang itulah, apapun yang ku buat pasti iras makan.
Mama memang benar, aku membutuhkan bantuan orang lain untuk membersihkan rumah besar ini. Dan aku tidak pernah tertarik untuk merapikan ruangan lain selain tempat tidur dan ruangan tempatku dan iras bisa makan atau nonton televisi.
“inu pulang…” aku masuk ke dalam rumah, sambil menenteng belanjaanku, beberapa di antaranya tas kertas berisi buah dan sayur juga makanan lainnya yang berupa bahan – bahan organic. Bahan makanan yang sudah hampir setengah tahun ini mulai kami konsumsi, aku tidak mau membiarkan satupun bibit penyakit menghinggapiku atau orang – orang yang ku sayangi. Sebuah pola yang sebenarnya diajarkan mama juga, kebun bungannya di belakang rumah sekarang sudah berganti dengan beberapa tanaman sayuran dan buah – buahan.
“hay love..” iras yang sedang duduk menonton televisi menyambutku, ia menengadahkan kepalanya, untuk melihatku yang datang dari arah belakang tubuhnya.
Ku simpan barang – barang di dalam pelukan dan tanganku di samping iras.  Kemudian ku lingkarkan tanganku di lehernya, wajahnya menghadapku, aku tersenyum sebentar sebelum akhirnya kedua bibirku mencari bibirnya.
Ada rasa hangat yang mengalir, ketika kecupan demi kecupan berlangsung dari detik ke detik, ketika bibirku di kecup kian dalam dan mesra juga dalam kelembutan yang luar biasa, sampai aku lupa membuka mata, ketika ciuman iras membuatku terbang. Aku beralih, pindah ke bagian depan kursi. Ke hadapan iras.
Kami saling menatap selama beberapa detik, sebelum akhirnya aku melompat, menyilangkan kaki ku pada pinggang iras.  Tangannya mendekap punggungku, awalnya ia mengusapnya di balik kaos yang ku kenakan, sebelum akhirnya tangannya menulusup masuk dan mengelus seluruh permukaan punggungku. Bibir kami tidak berhenti, bahkan ketika mulai ku rasakan, lidah mungil iras pelan – pelan menelusuri seluruh isi rongga mulutku, rasanya menggelikan namun di beberapa detik kemudian, aku membalasnya, memasukan lidahku hingga akhirnya ia menghisap penuh dan membuatku kewalahan.
Tangan iras menarik kaos yang ku pakai, menanggalkannya dari tubuhku, aku menurut, mengangkat kepalaku dari kepalanya, ketika ia melapas kaosku kemudian melemparkannya.  Aku pun membantunya membuka switer hitam yang ia pakai.  Kami sama – sama bertelanjang dada sekarang.  Aku mengelus bahu dan pangkal lengan iras yang mulai menegang. Ia juga masih mengelus – elus punggungku.
Aku agak sedikit khawatir dengan kakinya yang terjuntai di lantai, makanya aku sebisa mungkin tidak banyak bergerak, hanya duduk di pangkuannya. Ku telungkupkan kedua tangannku di wajahnya. Ia malah bergerak ke kiri dan kanan berusaha mencium kedua punggung tanganku, wajahnya bergerak maju, kedua tanganku kini menelungkup di rambutnya. Iras menciumku lagi, lidahnya masuk lagi namun kemudian ia mengeluarkannya, lidahnya yang menggetarkan seluruh saraf yang bersembunyi di balik kulit ku, membuatku mengggelinjang ketika ujung lidahnya menyapu mulai dari dada, leher hingga kembali ke bibirku.
Aku terbang selama beberapa detik, aku menunduk, iras menggila, lidahnya semakin buas, ketika mulutnya meniup seluruh permukaan tengkuk ku, kemudian lidah berwarna merah mudah itu menyapunya hingga ke telinga. Aku hampir menjerit namun iras tahu kapan kedua bibirnya harus kembali mencium bibirku.
Entahlah, aku menjadi tidak sabar dengan benda tumpul yang aku duduki sejak tadi, kancing celana iras lepas, tidak kuat menahan kekuatan yang menyeruak dari dalam.  Begitu ku buka, patung liberty pun mencuat ke permukaan.  Kebiasaan kami berdua sejak lama, apabila di dalam rumah, tidak akan mengenakan pakaian dalam.
“arrggghhhh…” lolong iras, ketika ku tarik seluruh badan patung liberty miliknya dan meremasnya kuat – kuat. Aku tersenyum melihat ekspresinya. Tangannya kini yang bergerak lihat, berusaha membuka sabukku.
“sabuknya susah sayang…” iras mengeluh. Aku tersenyum, tidak ingin membantunya. Ia rupanya tetap berusaha, sampai sabukku lepas.  Tugasnya kini melepaskan kancing celana, kemudian menarik agak rendah kolor basket yang ku kenakan sebelum akhirnya melakukan hal yang sama pada brief yang ku pakai di bagian dalam. “gini nih kalau berlapis – lapis..”
Iras protes lagi, aku tersenyum cukup lebar kali ini sambil mencium bibirnya lagi.
“tanggal 10 februari mama ingin kita berdua ke Singapore, kalau bisa mama juga diajak, mama dan papa akan merayakan ulang tahun perak pernikahannya di sana..” kata iras, ia tidur di atas dadaku. Kami berdua masih di depan televisi walau sekarang sudah mengenakan pakaian lagi.
“tanggal 10? Mama dan papa menikah di tanggal sepuluh februari?” tanyaku pada iras “mirip banget sama tanggal jadian kita..”
“itu dia, itu berarti tanggal sepuluh bulan depan, kita tidak rayakan dulu lah ya, kita bisa numpang pesta di pestanya mama sama papa..”
Aku mengangguk, mengiyakan iras, membayangkan tanggal sepuluh bulan depan lewat begitu saja. Ini semua persoalan prioritas, mau sudah selama apapun iras bersamaku ia saat ini masih menjadi milik keluarganya.
“oke, tapi malamnya kita mungkin bisa kabur ke sentosa island atau belanja sepatu futsal di sana? Sepatu futsal inu rusak…” kataku sambil bangkit dari tempat duduk kami dan berjalan ke arah dapur, mencari sesuatu yang mungkin bisa kami makan berdua. “ya itu juga kalau iras mau…”
“gak usah mending ya, kita kan nanti di hotel, udah pasti itu di tempat ramenya di sana, jadi jalan – jalannya bisa disimpen ke besoknya..”
“he’em..” aku menjawab walau cenderung hanya sekedar bergumam. Seluruh belanjaan yang tadi sudah ku rapi kan, ku ambil lagi beberapa, kebanyakan buah – buahan, kami berdua bukan tipe pemakan kacang – kacangan. Ya kami tentu sangat tidak menyukai ‘kacang’ bukan. Hahaha
Hp di kantong celana ku berdentam.  Pemberitahuan dari fesbuk.  Ada orang lain yang ngajak main game. Ah masa – masa main konsol game, PES, Fifa, atau yang lainnya sudah lama lewat. Akhirnya aku malah menulis sebuah status di sana.
Prioritas pria itu: 1) keluarga 2) kerjaan 3) hobi 4) pacar
Mau jadi prioritas? Makanya nikah...
Biar jadi keluarga.
Kemudian aku jalan kaki dengan mangkok berisi potongan – potongan pisang dengan yoghurt. Iras masih duduk pada sofa di depan televisi. Aku duduk di sampingnya, mata kami tertuju pada layar televisi, iras asyik menonton berita mengani bursa saham. Satu – satu tayangan favoritnya yang ada di televisi.
Aku makan sendiri, iras bilang, satu sisir pisang yang hilang dari kulkas itu tadi ia yang menghabiskan sebelum aku pulang. jadi ia tidak mau makan ketika aku tawari. Tangan iras meraih ponsel raksasanya yang ia letakan tidak jauh dari tubuhnya.
“emang selama enam tahun ini ngerasa ada di no empat?” iras menatap lekat kepadaku. Kepalaku berputar ke arahnya, seketika aktifitas yang ada di mulutku berhenti. Aku rasa aku salah bicara kali ini “apakah sia – sia yang sudah iras lakukan, bahwa seluruh hidup iras itu hanya soal inu? Apa lagi yang perlu iras lakukan untuk bisa menegaskan itu lebih dalam lagi, sayang…”
Ada bunyi kekhawatiran di ujung kalimat yang barusan iras ucapkan.  Ku putar lagi kepalaku, kali ini lebih ke menunduk, sambil mengaduk – aduk tak jelas pisang dengan cairan yoghurt di tanganku.
“kamu hidup iras sayang dan iras tidak pernah memberikan nomor pada setiap hal yang iras lakukan dan iras pikir itu harus disusun berdasarkan prioritas..” mata iras menatapku semakin dalam dan semakin terasa menyayat. “kamu hidup iras, kamu hidup iras…”
“kamu hidup iras…” iras bahkan mengulang sampai ketiga kalinya kalimat yang sama.
“I know… yes, I really know…” kataku pelan.
“baiklah, kalau acara itu terasa cukup menganggu pikiran sayang, waktu kita, oke kita tidak perlu datang ke sana, iras bisa bilang kondisi iras belum cukup pulih, jadi kita berdua masih tetap bisa tinggal di bandung…”
“no no no…” aku menggeleng. Ku letakan mangkok di tanganku ke atas meja, kemudian ku peluk tubuh yang baru mendapatkan dua kilo lagi berat badannya. Sesuatu yang bagus untukku. Aku takut iras terlalu kurus. “I’m so sorry, I’m so selfish..”
Tangan iras mengusap punggung ku lembut, berkali – kali bibirnya mencium pipiku.
“iras sangat sayang inu, sangat sayang…”
….



Senin, 06 Januari 2014

Ulang Tahun dan Pulang



Langit yang hampir berwarna kelabu ku lihat masih melukis seluruh permukaan angkasa kota Paris.  Sebelum akhirnya ku tutup jendela, berharap iras segera bisa beristirahat. Meskipun ia begitu terlihat bosan, setelah sebulan lebih hanya terbaring di ruang perawatan rumah sakit.
Akhirnya, keputusanku sudah bulat. Kami berdua pulang ke Indonesia, tentu saja dengan menggagalkan berbagai rencana yang sebelumnya sudah kami buat. Termasuk tinggal di sini sampai kuliah kami selesai. Namun keadaan kini tak memungkinkan, satu bulan yang lalu kami berdua mengalami kecelakaan, iras tertabrak sebuah mobil, yang menyebabkan tulang keringnya patah.
Ia masuk rumah sakit, bahkan aku sendiri yang melakukan operasi penyambungan tulangnya.  Tidak mungkin aku membiarkan orang lain melakukan kelalaian terhadap orang yang paling ku sayang di dunia ini.  Dokter seniornya coba ku dekati, sampai ia mengijinkan ketika ku tunjukan sertifikat layak bedahku, yang sebenarnya ku dapatkan dari kakek ku sendiri.
Yang membuatku kuat melakukan operasi tersebut sebenarnya berasal dari kekuatan iras juga. Ia tidak pernah mencoba mengeluh sama sekali, bahkan mengeluarkan suara rintihan sedikitpun tidak.  Ia menelan semuanya, padahal aku tahu, nyeri dari patah tulang adalah nyeri paling akut yang tidak mudah siapapun mengatasinya.  Namun iras tidak, berkali – kali ia berkata kuat, malah berusaha menguatkanku dan mengatakan bahwa dia baik – baik saja.
Itu juga, yang menurutku membuat operasi berjalan lancar bahkan dalam waktu yang relatif singkat. Ketika pertama kali iras membuka mata seusai anatesi berhenti berpengaruh pada kesadarannya, ku tanyakan lagi apakah ia masih merasa sakit, sekali lagi ia menggeleng sambil tersenyum.
Aku menghela nafas, iras sedang berusaha menguatkan ku, yang sebenarnya begitu hancur melihatnya seperti ini hanya karena menyelamatkanku.
“buat iras, lebih baik iras yang merasakan semua sakitnya, dari pada harus melihat kamu yang kesakitan, itu bisa membuat iras mati pelan – pelan..” katanya, sambil tangannya menggenggam kuat tanganku ketika perjalanan keluar dari kamar operasi ke ruang peraawatan “sesuatu dalam tubuh iras pernah patah lebih parah dari ini dan iras berhasil bukan mengatasinya? Dengan menemukan kamu lagi, kali ini juga, asal inu selalu ada dan tidak kemana – mana, iras tidak akan rasakan sakitnya…”
Bahkan ketika ardan dan yang lain datang menjenguk, mereka pun mengatakan bahwa iras sudah rela mati untukku. Bukan lagi menangis, ketika aku berbuat kesalahan dari sesuatu yang dilarangnya. Iras mempertaruhkannya hidupnya untukku.
Ketika, aku seperti biasa dengan gegabahnya menyebrang jalan, tanpa lirik kiri kanan, kemudian sebuah sedan melaju kencang, iras menangkap tubuhku, hingga membuat tubuhnya yang mengenai moncong sedan tersebut. Yang kemudian membuat tulang kering di kakinya patah.
Aku hanya tergores sedikit di kepala, namun ketika ku lihat orang di sebelahku, menahan nafasnya, menahan sakitnya, seketika itupun rasanya nafasku juga berhenti.
“enjoy your trip sir..” kata kapten Rick, sambil ia dan co pilotnya berpamitan kembali ke cokpit, beberapa pramugari hilir mudik menyiapkan semua hal untuk kami berdua.
Ku pastikan iras tidur nyaman di sampingku, di dalam jet pribadi milik keluarganya. Mau tidak mau kami akhirnya harus bilang bahwa iras mengalami kecelakaan dan kami butuh pesawat untuk membawanya pulang ke Indonesia.
Iras memilih sukabumi, ia ingin beristirahat di sana, walau mama dan apih menganjurkan ke bandung dan kedua orang tua iras ingin iras dirawat di Singapore, namun iras kukuh sendiri, ia ingin tetap ke sukabumi.  Meskipun aku juga tidak faham kenapa harus sukabumi yang ia pilih.
“kita akan sampai dua belas jam lagi, iras tidurlah..” kataku sambil menarik selimut iras.
“maaf kalau akhirnya membuat rencana kita berdua berantakan…”
“lebih berantakan lagi kalau kita tetap di paris..” jawabku sambil tersenyum. “kuliah kamu bahkan bisa diselesaikan dari tempat tidur, kita tinggal mengerjakan thesis kita saja, dan itu bisa kita selesaikan dimanapun..”
“iras sudah sangat merepotkan inu” tangan iras mengusap ujung kepalaku “beberapa minggu ke belakang bahkan inu sampai gak tidur gara – gara ngurusin iras..”
“kamu tidak bisa melarang manusia yang melakukan sifat naluriahnya kepada orang yang dia sayang..” sahutku sambil membaringkan kepalaku di dalam dadanya, tangan iras terus mengusap lembut permukaan wajahku, beberpa kali memijit bagian pangkal hidungku, suatu kebiasaanya. “yang inu lakukan tidak ada apa – apanya, dibanding yang sudah kamu lakukan buat inu..”
“iras pasti cepatkan bisa jalan lagi?”
“iras akan mempelajarinya pelan – pelan, biasanya butuh waktu enam bulan untuk kembali ke kondisi semula..”
“tidak, iras sudah mematuhi semua yang dikatakan terafisnya, pasti dua bulan lagi iras sudah bisa lari ngejar kamu yang biasa ngeyel lagi..”
Aku tersenyum lebar, menyaksikan semangatnya untuk cepat pulih.
“gak, inu janji, setelah ini inu gak bakal ngeyel lagi, cukup ngeyel nya udahan sampai kemarin…”
“owww ayolah itu janji gak ngeyel yang keberapa juta sayang? Iras tau betul siapa pacar iras ini..” ia menyiksa hidungku lagi dengan memencet dan menggoyangkannya lagi.
“arghhh sakit, gak pokonya kali ini beneran inu janji, inu gak ngeyel lagi..”
“terserah, sudah tugas iras mencintai kamu dalam keadaan apapun, kalaupun inu tetap ngeyel, iras sudah sangat terbiasa sayang, kamu tidak usah khawatir, iras pasti lakukan apapun demi kamu tetap di sini, demi kita tetap menjadi kita sampai kapanpun…”
Ya aku tahu, iras selalu berhasil melakukan itu. Bahkan ia sudah menjadi kekasih yang paling baik, orang yang memiliki lautan kasih sayang yang tidak bisa ku temukan di siapapun. Orang yang tau mencintai adalah caranya untuk menunjukan kesungguhannya. Bukan untuk meminta balasan apapun dari orang yang dicintainya.
Aku berdiri di sebuah ruangan, yang mirip dengan bar atau pantry, ada beberapa pramugari membantuku bersiap. Sambil ku lingkarkan tanganku di dada, memandang jauh sebuah titik yang sebenarnya tidak ku tahu itu apa.  Aku hanya merasa sedang sampai di titik ini, titik yang membuat ku merasa bahwa semua yang ku lakukan pada iras tidak ada apa – apa nya dibandingkan apa yang telah ia lakukan.
Kepalaku memutar beberapa film ke belakang, iras yang terus mencintaiku walau kami sudah putus, ketika kami bersama lagi, ia yang datang kepada mama dan keluarga, mengatakan bahwa hubungan kami berdua sangat bisa dipertanggungjawabkan, memukul mundur semua orang yang mau menggangguku, melindungiku dari berbagai macam hal, hujan, badai, panas, orang iseng di facebook, penggemar – penggemar cewek di kampus, mantan – mantan sialan, bahkan rival bisnisku.  Iras melawan mereka semua, hanya untukku.
Dulu juga, sewaktu ia mendapat pesta ulang tahun dari papa nya dengan kado seorang tunangan yang cantik, aku kemudian memutuskan untuk mundur seketika itu juga dari hidupnya.  Namun iras tidak, ia berkali – kali mencoba mengunjungiku, mencoba berbagai hal untuk membujukku, sampai semua perjuangannya sia – sia karena tidak aku pedulikan. Ia akhirnya menghilang, ku pikir untuk pergi selamanya, namun tidak, ia justru menyiksa diri sendiri, meratapi kejadian sial untuk kami berdua itu, dengan mengutuk dirinya, sendirian.
Beberapa minggu yang lalu, rere mengirimkan sebuah foto yang diambil ketika iras kurus, ia benar – benar tidak terlihat seperti ia yang ku cintai, aku nyaris tidak mengenalinya. Rupanya pertunangan itu tidak hanya menghancurkan hidupku saja, tapi juga sebagian nyawanya.
“aku sudah ada di dalam tubuh kamu. Jadi kalau kamu sampai terluka, ada dua orang yang harus disembuhkan..” kata dia beberapa waktu lalu, ketika aku terus mengungkit semua hal di masa lalu yang menyakiti kami, menyakitiku. “selama mata iras tidak bisa melihat kamu langsung, kamu harus tahu, rasanya buta di dalam kegelapan itu seperti apa, ya kurang lebih seperti itu…”
“apa iras pernah jatuh cinta pada orang selain inu..” sebuah pertanyaan yang lama ku simpan dan tidak pernah berani ku tanyakan.  Karena, aku hanya percaya dengan apa yang iras katakan. Bahwa hanya aku yang membuatnya jatuh cinta. Aku memeluk tubuhnya..
“pernah…” ia menjawab mantap “pernah nu…” ia mengulanginya, meyakinkanku. “iras pernah jatuh cinta pada orang selain inu, pertama iras jatuh cinta pada anak baru yang nengil di tim basket, kedua pada sosok dingin di sukabumi, yang bahkan untuk nanya kabarpun iras sangat segan…”
Aku mengkerut di dalam pelukan iras, malu sendiri, bahkan ketika kejadian itu berselang, aku pernah singgah dan jatuh di beberapa pelukan yang sebenarnya terlalu beruntung bisa memeluk orang sepertiku.  Orang yang sangat disayangi oleh iras.
“kenapa iras bilang seperti itu, karena nyatanya setelah lama mengenal inu, inu itu gak tengil, malah care, punya leading yang kuat, pinter, ahli strategi, punya pemikiran empat dimensi yang bisa memikirkan apa yang tidak orang pikirkan, punya kemauan keras dan yang terakhir bisa membuat semua orang tertarik masuk ke dalam hidup inu kemudian memperjuangkannya. iras hanya merasa beruntung bisa menjadi orang yang bisa memenangkan perjuangan itu, bahkan di perjuangan yang kedua…”
“ya betul..” iras melanjutkan “memperjuangkan kamu di kesempatan kedua itu sangat sulit, iras bahkan hampir menyerah. Kamu berubah menjadi sosok yang lebih dingin, sulit disentuh, sulit ditebak, tidak tau maunya apa, padahal iras tahu, inu yang iras kenal itu, cukup dibeliin es krim sama ditemenin maen PS seharian juga udah cukup, udah bakal baikan lagi, tapi waktu itu iras tahu, sesuatu sudah merenggut inu nya iras. Dan iras tahu, perjuangan iras waktu itu untuk apa, mengembalikan inu menjadi inu nya iras lagi…”
Iras menarik nafas panjang, kemudian membuangnya.  Aku masih tidur di pelukannya, menikmati setiap belaiannya di kepalaku, dan beberapa kecupannnya di ujung ubun – ubunku.
“apa iras marah dan putus asa waktu itu?” kataku.
“ya, iras marah pada setiap orang yang sudah merebut inu dari iras, dan merubah inu. Dan iras hampir lelah meyakinkan inu bahwa keadaan bisa kembali pulih, bahwa semuanya bisa kembali baik asal kita bersama lagi. Karena bagi iras, tidak ada tempat yang sebaik iras disamping inu…”
Aku tertegun dengan kata – kata itu. Sampai beberapa detik kemudian air mataku meluncur sendiri, membasahi degupan – degupan yang terus menyebutkan nama ku dan namanya kepada tuhan agar bisa terus bersama selamanya.
“selamat ulang tahun sayang…” aku meletakan sebuah lilin di atas pie apel buatanku, yang sudah ku titipkan kepada pramugari sebelum kami naik pesawat.
“thank you love..” jawab iras sambil berusaha memelukku.  Aku mendekatkan tubuh ke tempat tidur, mengerti bahwa ia ingin sekali menciumku.
Ini adalah pesta paling sederhana yang ku buat untuk iras, sudah dua tahun dan aku masih belum mampu membuat pesta yang besar untuknya. Tahun kemarinpun, ulang tahunnya hanya kami habiskan di apartemen saja.
“sorry for the simple thing…” ketika ku pikir, di banding dengan pesta yang ia buatkan untukku waktu ulang tahun agustus lalu, ini bahkan tidak ada apa – apanya sama sekali. Aku menundukan kepala “you know, what Im still scary every im remember about your birthday..”
“husss husss husss please don’t cry love, you hurt me..” iras memelukku kuat.
“kamu tahu kan traumanya inu sama pesta ulang tahun kamu…” suaraku kian mengecil di dalam pelukan iras.  Tangisku agak mengeras.  Aku mencoba menahannya.
“iras tahu sayang iras tahu, kita sama – sama merasakan luka itu bukan? Bahkan kalau tidak kamu minta, iras sebenarnya tidak pernah mau mengampuni papa, karena sekaraang kenyataannya seperti ini, iras tidak ingin mengistimewakan tanggal ulang tahun iras, kalau setiap kali iras ulang tahun, kamu akan menangis dengan keras..”
Aku semakin tidak bisa menahan tangis ku di dalam pelukannya.  Air mataku tumpah semakin banyak. Betapa tiga tahun lalu, tepat di tanggal ini, aku kehilangannya. Sebuah pesta merenggutnya dariku. Dari hidupku.
“inu.. inu trauma pada pesta dengan kejutan mematikannya itu ras, di tanggal ini, inu punya pengalaman hampir mati, dan…” sejak saat itu, sejak kami bersama lagi, setiap kali papa iras menggelar pesta apapun, kami berdua tidak pernah hadir, komitmen iras padaku.  Ketika di tanggal 1 januari tahun 2012, aku malah menangis keras ketika membawa sebuah kue besar ke depan iras. Ketika iras tahu alasannya kenapa, sejak itu juga ia tidak pernah mau menghadiri pesta yang digelar papanya.
“tidak ada yang berhak memberikan iras pesta ulang tahun selain kamu sayangku..” iras menggosok punggungku, berusaha menenangkanku.
Di pikiranku sedang berenang berbagai kenangan buruk, ketika kejadian pahit merenggutnya dariku, aku harus menyaksikan sendiri film yang menunjukan, seseorang yang bahkan rela mati demiku sekarang waktu itu diberikan kepada orang lain.
Ku buka mata, pesawat sudah berhenti sejak lama rupanya.  Namun kru pesawat tidak ada yang membangunkan kami satupun. Iras masih pulas, tubuhnya tertutup selimut tebal dengan kaki kanannya yang mengacung ke atas. Dibalut gips dengan berbagai gambar dan tulisan yang ku buat dengan spidol di sana, ketika iseng dan hendak mengerjai iras.
Jendela pesawat terbuka, aku menatap keluar, di sana ada langit dengan awan yang putih bersih, tidak lagi kelabu dan jauh dari awan bersalju. Lalu sejenak ku rasakan, tubuhku yang gerah sendiri gara – gara dibalut oleh sweater yang berlapis – lapis. Aku mendekat ke jendela…
Ah benar sekali, suasana ini sudah lama ku rindukan. Suasana dengan anginnya yang lembut dan sinar matahari yang hangat.
Aku menggoyang tubuh iras, hendak membangunkannya.
“ras.. ras.. bangun, kita sudah sampai…” iras membuka matanya kemudian menatap ke arahku sebelum mengedarkan pandangannya ke luar jendela
“kita pulang, kita di Indonesia…”
Kami berpelukan, beberapa detik lamanya dengan cukup hangat, lalu menyelinap kegembiraan di sini, “we are home…”