Jumat, 30 Agustus 2013

46 : Jokowi dan Ahok



Perjalanan terjauh yang tidak akan pernah melelahkan, tentu menjalani hidup dengan kamu.  Tidak ada alasan untuk merasa lelah, tidak karena jauh, asal denganmu aku selalu ingin terus berada dalam sebuah perjalanan. 
Aku perlu teman, itu alasan singkat kenapa harus kamu.  Kenapa harus kita yang diciptakan dengan baik untuk satu sama lainnya.  Hati kita yang berpasangan, kita yang saling mencari, kita yang pernah berlari, kita yang pernah saling membuang muka, sebelum akhirnya merasa lelah bermain – main dan kembali ke hati tempatnya berumah.
Ini hari kedua kami di paris, dan iras sudah tidak ada.  Ini hari jum’at pagi, berarti sudah hari sabtu di Indonesia.  Aku melihat ke luar jendela, hamparan kebun anggur milik tetangga kami membentang seluas mataku dapat melihat.  Memantulkan sinar matahari di kulit buahnya yang membulat genit. Juga sensasi kesejukan yang ditimbulkan oleh warna hijau daunnya.
Akhirnya inilah lembar baru hidup kami berdua, mulai lusa kesibukan ku dan iras hanya akan terfokus di kampus kami masing – masing yang ternyata kami tidak satu kampus walau dalam satu almamater.  Baiklah tidak apa – apa, itu alasan kenapa ada dua ford warna hitam dan metalik di depan.
Rumah kami, sebuah rumah bergaya eropa klasik. Yang ditinggalkan pemiliknya, kami membelinya dari anak pemiliknya, orang tua mereka keduanya meninggal di sini, di waktu yang sama.  Mereka ditemukan meninggal sedang dalam posisi berpelukan di atas ranjang ini, yang aku dan iras tiduri semalam.
Anak – anaknya sudah dewasa, mereka memilih untuk tinggal di kota dan sebagian lainnya pindah ke luar negeri.  Sehingga memutuskan untuk menjual rumah mereka, entah bagaimana caranya iras sampai mendapatkan rumah ini.  Namun aku tahu ia sudah memilih rumah yang bagus.  Rumah yang berlantaikan kayu dari pohon maple dan masih memiliki sebuah perapian.
Kami tidur di kamar utama di lantai satu, di lantai dua ada beberapa kamar untuk tamu atau anak – anak kami nanti.  Dan loteng untuk menyimpan beberapa barang yang tidak akan lagi terpakai. 
Namun yang paling ku suka adalah, kami memiliki halaman yang luas.  Kami hampir berada di atas sebuah gundukan tanah yang menggunung.  Sekeliling rumah tidak ditumbuhi bunga satupun, namun dipenuhi oleh rumput yang hijau sekali.  Kami tidak memiliki pagar, namun di tepian jalan, rumah kami di kelilingi oleh deretan pohon maple yang kini daunnya tampak mulai menguning, coklat, merah karena di paris tengah musim gugur.
Sebuah jalan kecil berbatu menghubungkan garasi rumah kami dengan jalan besar. Sekitar 4 kilo meter ke utara itu adalah jantung kota paris, di mana Eiffel berada.  Ya kami tinggal di tepi kota paris, di bagian luarnya, kami tidak memilih untuk tinggal di kota.  Suasana pedesaan perancis memang yang kami tuju dari dulu.  Mengingatkan kami akan lembang.
Sepanjang jalan ke rumah kami berdua adalah hamparan perkebunan anggur, buah – buahan yang lain, bahkan aku sempat melihat kebun lili, rose bahkan bunga matahari sewaktu berjalan – jalan mencari sambal Indofood kemarin.  Melihatnya di waktu siang begini pasti akan lebih menyenangkan.
Di halaman belakang, kami memiliki sebuah pohon maple yang berukuran lebih besar dengan sebuah ayunan yang menggantung di salah satu dahannya. Di bawahnya adalah rumput – rumput hijau juga guguran – guguran daun maple tua yang akan jadi menarik untuk kami gelar tikar dan sedikit berpiknik untuk makan siang berdua di sana.  Dengan pamandangan utamanya Eiffel Tower!
Hampir dari setiap jendela di rumah kami, kami dapat melihat Eiffel, sosok yang selama ini telah menjadi symbol bagi cinta ku dan iras.  Untuk kalimat forever dan everlast. Kenapa harus Eiffel, karena hampir lima tahun sekali Eiffel dicat kembali agar ia tidak karatan.
Seperti itu juga cinta kami, begitu masalah mengkerutkan kami, akan kami rapihkan lagi, kusutkan lagi kami rapihkan lagi.  Tidak ada akhir perjuangan untuk cinta yang diinginkan oleh dua orang. Aku dan iras.
Menggambarkan kami bahagia. Sudah sangat sulit.  Kami benar – benar pasangan yang sudah bahagia saat ini. Bahkan di balik dingin udara musim gugur prancis hati kami masih menyala untuk menghangatkan satu sama lain. Ini yang menjadikan alasanku memakai baju di dalam rumah, selama di Indonesia aku bisa tahan seharian tidak berpakaian di dalam rumah, walau aku tidak tahu iras tahan atau tidak.
Akhirnya ada betulnya kata yang itu bahwa setiap dari kita pasti akan mengalami hal yang berat sebelum bertemu dengan orang yang meringankan segalanya di sisa perjalanan. Ini sisa perjalanan kami, perjalanan yang masih panjang dan tidak akan ku tekur ujungnya.  Inilah saat membuktikan bahwa aku yang paling setia dan hanya aku yang paling layak untuk cinta iras.
Tidak ada satupun hati yang bisa membuatku nyaman selain iras, ia yang dengan senyumnya menyabari setiap amarahku, setiap sikap ke kanak – kanakanku, setiap diamku, setiap tawa, setiap marah yang selalu ia dengar dengan baik.  Tidak ada yang bisa seperti itu selain iras. Tidak ada. Aku mencintainya, sangat mencintainya.
Aku memutuskan pergi dari tempat tidur, sebuah swuiter berlengan panjang namun kolor ku ke pendekan.  Aku menyeret sliping bag ku, aku ingin kopi atau coklat panas.
Dapur kami baru nampaknya, iras mungkin yang memesannya.  Namun kami memiliki kitchen set yang benar – benar lengkap.  Ku cari – cari di dalam kulkas coklat bubuk, yang semuanya masih berasal dari Indonesia. Mungkin keadaan akan berubah dari beberapa minggu ke depan dimana di dalam rumah kami semuanya serba prancis, yang sulit untuk dibaca.
Mataku menembus keluar dari jendela dapur, sambil mengaduk coklat di gelas.  Matahari bersinar sedikit pagi ini, sehingga menimbulkan cahaya redup di sekitar rumah kami.  Tubuhku masih cukup lelah, mungkin mulai nanti sore atau besok kami akan pergi berkeliling, melihat – lihat atau mencari barang yang kami perlukan di rumah.
Seperti sebuah sepeda, kalau sedang begini aku kangen si ninja, si monster atau dua motor LGX kami di bandung.  Yang kini sudah beralih tangan ke sepupu dan keponakanku, semoga saja mereka bisa menjaganya dengan baik.
Aku menghembuskan nafas, hidupku sedang memulai sebuah perputaran baru.  Aku pada sampai pada fase take a rest. Bukan waktu untuk mencari lagi, bukan untuk bertanya benarkah iras yang terakhir.  Namun inilah waktuku untuk menjaga iras, membahagiakannya, berhenti bersikap kekanak-kanakan dan mulai mencintainya dengan aku yang dewasa. 
Aku janji, akan mewujudkan forever and everlast yang selalu kami sebutkan kapanpun. Ku lihat sekeliling, rumah kami yang tertata rapih di buat berantakan dengan koper – koper kami yang belum sempat dirapihkan.  Namun koper tua bermotif kuda sudah menganga lebar, aku penasaran kemana perginya warisan keramat di dalamnya.
Keduanya seperti berjodoh, koper dengan cobek itu.
Ku dapati cobek dan ulekannya ada di dekat kompor.  Tanganku menyentuhnya, kemudian menciumnya sebentar, kurang lebih sudah tujuh Negara yang disinggahi oleh warisan keramat ini.  Pertama waktu kakek membawanya ketika ia kuliah di Germany, anak tertuanya yang kuliah di kanada, dua anaknya yang lain yang kuliah di itali, mama yang di London dan terakhir benda keramat ini baru kembali dari Australia sehabis lebaran kemarin.
Kini petualangannya ia lanjutkan di prancis bersama kami berdua.  Ada aroma khas Indonesia begitu aku mencium permukaan cobek itu.  Seketika, pikiranku berenang kea rah Indonesia. Betapa banyak yang kami tinggalkan di sana, hampir sebagian hidup kami, kami habiskan di sana.  Entahlah, keberadaan benda keramat ini mungkin sebagai pengingat akar kami, tempat dari mana kami berasal.
Akan banyak sekali yang kami rindukan dan kami butuhkan dari Indonesia.  Sangat banyak, meskipun tidak tahu kapan kami akan kembali, namun suatu saat kami pasti akan kembali ke tanah leluhur kami itu.  Mungkin dengan membawa serta jagoan – jagoan kecil dan lucu milik kami berdua.
Pintu terbuka, iras berlari di sana, dua makhluk kecil mengikutinya dari belakang.
Seekor golden retriever dan husky Siberian dog berwarna abu – abu, tubuh – tubuh mungil mereka berputar – putar di dekat kaki ku.  Aku senyum sendiri, bahkan tertawa geli melihat tingkah lucu keduanya, yang masih balita dapat ku pastikan usianya tidak lebih dari tiga minggu.
“tenang, mereka iras adopsi, keduanya lahir di hari yang sama dari pemilik yang sama, dan…” iras sedikit menahan kata – katanya “keduanya laki – laki..”
“hahaha jenis kelamin tidak ada pengaruhnya sama sekali..” kataku sambil mengangkat husky yang berwarna abu. Iras mengikutiku, ia memangku si golden yang memiliki kulit coklat terang
“siapa nama mereka..” kata iras mengikuti ku duduk di sofa, sambil membiarkan kedua anjing itu bermain – main di dalam pelukan kami.
“jokowi..” aku menunjuk anjing yang ada di pelukan iras “ahok..” kataku kemudian sambil mengelus – elus bagian bawah mulut ahok.
“hahahahaha…” iras tertawa lebar.  Harus ada sesuatu yang baik yang kami ingat dari Indonesia, alasannya singkat, anjing golden kami memiliki warna kulit coklat seperti jokowi dan anjing husky kami selain abu ia memiliki dominasi warna putih yang kuat, persis seperti ahok dulu ketika berkampanye dengan kemeja kotak – kotaknya.
“kamu tahu bahagia macam apa yang inu rasakan sekarang?” aku menatap iras. Di matanya mengambang berbagai keceriaan yang juga tidak bisa aku jelaskan.
Iras menggeleng. “semoga aku jawabannya..” katanya lugas.
Aku tersenyum kepadanya, sambil melepaskan anjing kami berdua.  Membiarkan mereka berlarian di dalam rumah sesuka hati.
Tanganku menarik batang leher iras, aku memiringkan kepalanya, kemudian mengecup pelan bibirnya, iras membalas dengan baik, ia merapatkan tubuhnya sambil memejamkan kedua matanya.  Nafasnya terdengar lembut, kini ia sudah pintar mengatur nafas dan kedua tangannya menelusup masuk ke dalam switerku.  Mengelus satu – satu otot di punggung dan perutku.
Kami berdua berdiri, dan kedua bibir kami tidak lepas sama sekali. Aku menyadari pintu rumah kami terbuka, kami orang Indonesia dengan moral Indonesia tidak mungkin apa yang kami lakukan jadi tontonan banyak orang.
“tutup pintu dulu..” kataku sambil beranjak ke ruang depan, iras menungguku sambil tersenyum.
Begitu sampai di depan pintu, aku menatap ke luar, kemudian ke bagian dalam tempat iras berada, lalu kepada kalian yang sedang membaca blog ini sekarang.
Ini saatnya kami menutup pintu rumah kami, menutup cerita kami.  Senang bisa mengenal kalian, bisa ada dalam ingatan kalian, kami merasakan kehangatannya di sini.
Sampai bertemu di suatu waktu yang tidak kita sama – sama tahu kapan. Kita akan berpisah sampai batas waktu yang tidak ditentukan.


Selasa, 27 Agustus 2013

45 : Perjalanan



Landasan udara halim perdana kusuma agak sejuk pagi ini, pesawat jet milik opa sudah menanti kami berdua di landasan pacu.  Akhirnya altar yang menjadi pilot kami, akhirnya ia bisa berdamai dengan iras, dan nino pacarnya pun kini ikut serta dalam perjalanan kami berdua.
Iras masih sibuk dengan beberapa hal, aku memilih membuka laptop dan menulis beberapa hal yang membuatku agak sedikit gundah, hal biasa sebelum melakukan perjalan panjang.
Kurang lebih selama sepuluh jam ke depan aku akan berada di dalam pesawat dalam perjalanan kami ke paris.  Sebuah kota yang sudah lama kami impikan untuk menjadi tempat pacaran dan kencan terlama dalam sejarah.
Betapa tidak, selama di sana, kami hanya ingin kuliah, jalan – jalan dan pacaran.  Itu berarti selama kami berada di sana, selama itu lah kami pacaran.  Kami hanya berdua, tidak ada yang dikenal, tidak ada telpon seluller, tidak ada smartphone, tidak ada alamat email, tidak ada blackberry massanger, tidak ada facebook pokoknya tidak adapun satu akses menuju dunia luar.
Aku sudah membayangkan ini sebagai sesuatu yang menyenangkan.
Tidak usah panic, kami tidak akan menghapus blog kami juga, kami akan membiarkannya, dan untuk terakhir kali aku akan mengganti paswordnya dengan kalimat yang tidak akan aku ingat, sehingga aku tidak bisa membukannya lagi.
Kami akan tetap membiarkan blog kami tetap ada, karena mungkin ada orang yang membutuhkannya sebagai bahan bacaan, lebih keren lagi dijadikan referensi untuk beberapa hal.  Aku ragu akan hal itu.
Tapi aku janji, setelah kami di paris, aku akan memposting bagaimana hari pertama kami di sana. 
Semuanya ternyata tidak semudah yang dibayangkan, berbulan – bulan aku mempersiapkan diri untuk berpisah dengan keluarga, sahabat juga orang – orang terdekat yang lainnya.  Namun hal itu tidak ku lakukan pada teman – teman ku di facebook, teman – teman yang tidak sempat ku temui. Aku memanggil mereka seperti itu.
Kemarin ribki bilang begini padaku “ciyus bener hidup lu, gara – gara pindah ke paris doang sampai non aktifin facebook segala…”
Tapi ini sebuah kesepakatan dengan iras, aku tidak akan melanggarnya, meskipun iras menyuruhku untuk mempertimbangkannya lagi.
Selain itu, aku merasa bahwa tugasku di facebook sudah selesai, dulu aku tertarik membuat sebuah akun facebook saat mendengarkan curahan salah seorang temanku di kampus.  Tentang beberapa hal yang memberatkannya di facebook, juga media social lainnya.
Bahwa di media social adalah alam liar modern. Dimana hukum alam sangat berlaku.  Bahwa yang memegang kendali adalah orang yang memiliki tampang lumayan –tampan/cantik lah dalam hal ini- mau sebagus apapun status yang ia buat, selama tampangnya masih mirip dengan chris brown atau Rihanna mereka tidak layak untuk mendapatkan like lebih dari sepuluh.
Orang ganteng, bisa dengan leluasa memilih siapa saja yang bisa berinteraksi dengannya dan siapa saja yang bernasib hanya dibaca saja ketika mengirimkan pesan di inbox atau bahkan tidak pernah dibuka sama sekali. Ia bisa memilih sesuka hati oraang mana saja yang layak bertemu dengannya, dan mana saja yang ‘silahkan remove saja sendiri kalau tidak suka’
Media social adalah tempat pelacuran social paling terbuka.  Maaf, aku fans ahok maka aku pun hobi bicara jujur dan tegas.
Dimana orang yang sudah punya pasangan sekalipun, bisa dengan mudahnya dalam hitungan detik menemukan selingkuhan yang bisa diajak ketemu, having sex dan sudah. Padahal pasangannya galau setengah mati, merasa perjuangannya tidak dihargai. Menurutku, sebuah hubungan itu merupakan ajang berjuang, namun harus dua – duanya melakukan.  Kalau salah satu saja yang berjuang, berarti orang tersebut memperjuangkan orang yang salah. Berarti cinta orang tersebut bertepuk sebelah tangan.
Selalu ingat, bahwa rumah tangga di bangun oleh dua orang. Jika satu membangun dan satu hanya menempati, itu perumahan.
Betapa banyak orang – orang di media social yang melakukan hal tak berguna dalam hidupnya.  Hal yang bisa menyakiti hati orang lain.  Tidakkah terpikirkan bahwa orang lain juga punya hati?
Alasan ku membuat facebook untuk meluruskan hal itu, sengaja aku tidak pernah berteman dengan teman – teman di dunia nyata bahkan keluarga sendiri. Mengingat mama bahkan sudah punya lima ribu teman sejak bertahun – tahun yang lalu. Karena orang – orang sekitarku sudah mengetahui apa yang terjadi padaku dengan baik, mereka sudah menerimaku dengan sangat baik jadi tidak ada yang perlu aku lakukan lagi terhadap mereka selain membahagiakannya.
Aku ingin mengingatkan bahwa mereka yang diberikan kelebihanpun masih memiliki kekurangan.  Karena suatu kelebihan ditentukan oleh kekurangannya. Bagaimana mungkin pembeli beras bulog tahu kalau dia mendapatkan lebih satu liter beras, kalau saja dia tidak tahu berapa biasanya ia mendapatkan jatah beras.
Tidak semua orang cakep sombong, kalau benar begitu, tidak mungkin di grup – grup gay/jomblo/sejenisnya aku sering menemukan “halah omong doang, katanya fisik gak masalah, tapi setelah ketemu beda..” atau “halah tampang biasa saja ribet bener diajak ketemuan..”
Jadi, sombong tidak ditentukan tampang. Tapi bagaimana orang tersebut bersikap.  Dalam beberapa kasus yang dialami oleh orang cakep (berdasarkan pengalaman sendiri, uhuk uhuk) ketika banyak orang yang menyukai mereka, kemudian mulai terasa mengganggu maka senjata mereka adalah mengabaikan, yang kemudian ditanggapi oleh syaiton sebagai sikap sombong.
Dan faktanya orang cakep sering dapat inbox dan sering sekali diajak chating.
Contohnya begini. Kalau inu sedang sibuk atau agak malas membalas inbox.
Orang aneh (baca orang lain) : “hi”
Orang ganteng (baca inu)        : “ya”
Orang aneh                 : “lagi OL nih..”
Orang ganteng            : “ya”
Orang aneh                 : “sibuk ya?”
Orang ganteng            : “ya”
Orang aneh                 : “ganteng deh..”
Orang ganteng            : “yang lain juga bilang gitu..”
Orang aneh                 : “SOMBONG!”
Atau, kalau kita maksudnya becanda tapi ditanggapin nya beda:
KEPO-ers (baca yg ngirim inbox malem2)    : “PING!!!”
Si cakep (baca nya Inu lagi yaa)                    : “lu pikir lagi bbm-an…”
Kepo-ers         : “hehehe (mode autotext yang susah dibaca) lg apa nih..”
Si cakep          : “lagi ganteng kaya biasa…” (niatnya becanda ya, bukan sombong)
Kepo-ers         : hehehe (ngapain ya ini orang ketawa) iya tau kok keliatan, nak mana nih?
Si cakep          : “anak mama saya..”
Kepo-ers         : “hehehe (tetep) iyalah, masa anak tetangga..”
Menurut Lo hah!!
Kepo-ers         : “maksud aku kamu tinggal di mana?”
Si cakep          : “di rumah..”
Kepo-ers         : “hehehee iyalah di rumah, maksud aku kotanya dimana?”
Mulai curiga jangan – jangan nih orang bank keliling atau debt kolektor yang mau nagih tunggakan kartu kredit, makanya gue nanya gini:
Si cakep          : “maaf, emang ada perlu apa ya mas?”
Kepo-ers         : “pengen OL aja hehehehehehe (pake autotext kembali)
Yah jadi ni orang dari tadi perasaannya lagi off.
Ada yang perlu diluruskan dalam hal ini, OL atau on line itu berarti kita sedang aktif di jejaring social atau lagi browsing lah minimal.  Mungkin yang dimaksud si kepo, OL di sini adalah aktivitas chating yang sedang dilakukannya.  Ingat ya, atau bantuin orang – orang kaya si kepo ini untuk meluruskan bahwa OL itu bukan chating.
Jadi, mari kita simpulkan, semakin menarik seseorang maka akan semakin banyak orang yang tertarik. Tidak jarang orang yang tertarik ini malah jadi sebuah gangguan bagi orang yang menarik ini.  Apalagi kalau sudah seperti ini:
Syaiton            : “hey stay dimana nih..”
Orang waras   : “di kostan..”
Syaiton            : “oh boleh maen ke kostannya gak? Pengen deh nyobain tubuh kamu *** berikutnya kita sensor***
Pengalaman ku menghadapi orang seperti ini bukan hanya sekali, hampir setiap kali selesai mengkonfirmasi permintaan pertemanan atau sedang OL tengah malam.
Kita memang tidak bisa memaksakan orang lain untuk satu pemikiran dengan kita, namun setelah membaca tulisan ini saya harap beberapa orang bisa setidaknya tahu atau lebih kerennya mengambil pelajaran, bahwa sikap yang kita anggap benar tidak tentu menurut pikiran orang lain.
Yang paling menyebalkan kalau sudah dapat inbox semacam ini.
Kepo-ers         : lagi ngapain nih?
Si cakep          : lagi sama iras.
Kepo-ers         : iras itu siapa?
Nah kan, padahal status di facebook sudah sangat jelas gue lagi sama iras dan di profil pun sudah sangat terpampang dengan jelas kalau aku berpacaran dengan iras. Bukankah cukup bijak sebelum kita mengirim pesan pada orang yang belum kita kenal untuk melihat dulu isi profil atau kronologinya untuk menyelediki terlebih dahulu siapa dia, sedikit bekal untuk kepo yang lebih anggun terhadapnya.
Dan satu lagi, perihal tugas kami di facebook, aku dan iras ingin sekali memberitahukan kepada dunia, bahwa ada juga kok pasangan gay yang sangat positif terhadap hubungan mereka.  Kami tidak mau disebut memberikan contoh bahkan menginspirasi.  Tidak, tapi setidaknya hubungan kami yang kami go public kan, cukup untuk melakukan pembenaran dari kekeliruan pandangan banyak orang tentang gay, gay yang tidak baik lah, gay yang free sex lah, gay yang bodoh dan alay lah.
Dan hari ini kami rasa tugas kami sudah selesai, ketika begitu banyak orang yang membaca blog kami, ketika banyak ucapan terimakasih masuk ke pesan facebook kami.
Tugas kami sudah selesai, itu artinya waktu buat kami untuk berpamitan. Semua kisah kami sudah kami bagi dengan sangat jelas, ini saatnya untuk menikmati hidup berdua.  Kami tidak perlu dikenang, tapi berjanjilah, bahwa setiap dari kita akan berubah menjadi pribadi yang lebih baik.
pada akhirnya semua cerita harus menemukan sebuah penguhujung dan kata TAMAT bukan?

44 : Warisan Keramat



Aku membuka pintu rumah, mama akhirnya sampai juga di Jakarta. Ia sudah merencakan cuti sejak jauh hari untuk beberapa hari ini, membantuku mempersiapkan segala hal untuk keberangkatan ku ke paris, atau mengantarku hingga ke halim.
“Nu, tuperware mama yang waktu itu kamu bawa dari bandung di mana? YANG WARNA IJOOO..” suaranya meninggi di bagian ini “jangan sampe kamu bawa ke paris..”
Baiklah kawan – kawan, jangan pernah main – main sama tuperware mama kalian.  Pernah iras memberikan makan kucing peliharaan amih di rumah menggunakan salah satu tuperware mama, alhasil seminggu ia diomelin, kalau iras seharian ada di rumah, maka sehari itu mama ceramah.
Mama memang possesif sama tupperwarenya. Buktinya, sampai ke rumah anak sendiri yang ditanyain malah tupperawernya.
“mama cari di dapur, waktu itu inu bawa ke apartemen, tapi sekarang semua yang dari apartemen sudah dibawa ke sini..” kataku.  Sudah hampir sore dan iras sedang di luar, ia menjemput mamanya juga ke bandara.
“aaaaarrrkkkkkk adaaaaaa..” mama berteriak dari dapur.  Aku tahu berarti barang kesayangannya.
Baikalah teman – teman, ku deskripsikan sebentar seperti apa mamaku ini, usianya lima delapan tahun ini. Dan ia belum menopause.  Itu yang membuatku takut jika ia menikah, ia bisa saja mempunyai anak lagi.  Kalau kalian melihat penampilannya, Julia perez atau nikita mirzani mah lewat. 
Mama ku punya rambut yang tergerai panjang berwarna merah, tubuh yang ramping gara – gara aerobic, bally dance, senam di rumah sakit, kardio bahkan yoga.  Masalah dandan, jangan Tanya lagi.  Pakaian? Sudahlah, tidak usah dibahas, susah dijelaskan rasanya.
Mungkin sikap nya inilah yang akhirnya membuat kami sangat dekat, ia sangat berpikiran maju dan muda. Dibalik kebawelannya, ia adalah seorang ibu yang hangat, dibalik hoby dandan dan cara mati – matiannya menjaga bentuk badan, ia tetap setia pada papa dan tidak mau menikah lagi.
Ia akan seharian memainkan game zunga di laptopnya, kalau sore – sore dia menghilang, itu berarti dia sedang pergi karokean bersama perawat asistennya atau teman – teman dokternya yang lain.  Dan mama bukan penyuka dangdut sama sekali, ia hafal betul semua lagu whitney Houston.
“koper yang itu jangan lupa bawa..” mama menunjuk sebuah koper di sudut ruang tengah yang baru saja diletakan oleh sopir di sana.
“apa nih ma isi nya?” tanyaku penasaran sambil membuka koper tersebut.
Aku hampir terbelalak, sebelum akhirnya ketawa.
“awas kalau tidak kamu bawa, pamali etah, udah warisan turun temurun sejak apih tinggal di luar negeri, eta jimat kudu di bawa…”
Aku tidak berhenti tertawa, mengingat benda tersebut telah menjadi warisan mascot di keluarga kami.
….
Iras sudah kembali ke rumah, ia sedang mandi, sementara aku bertiga bersama kedua mama ku menyiapkan makan malam. Tentu yang memasak kali ini mereka, aku hanya membantu menyiapkan menghidangkan ke meja makan.
Iras muncul dari tangga, sambil mengeringkan rambutnya dengan sebuah handuk kecil, rupanya matanya tertarik pada sebuah koper tua, bermotif kuda – kuda kecil di ruang tengah yang tadi dibawa mama dari bandung.
Ia membuka koper tersebut, keningnya seperti berkerut, mungkin ia butuh sedikit penerangan untuk melihat lebih jelas lagi benda apa yang ada di dalamnnya. Ia sampai menggusur koper tersebut ke tempat yang lebih terang.
“ini apa yank?” ia menatap penuh Tanya kepadaku.
“shuuutt… kata mama benda keramat, warisan turun temurun, harus dibawa kalau mau tinggal lama di luar negeri..”
Tangan iras mengambil benda yang tersembunyi di dalam koper, kemudian ia mengangkatnya tinggi – tinggi.
“coet? (cobek dalam bahasa jawa) sama ulekannya?” kening iras mengerenyit sebelum akhirnya tertawa.
Aku mengangguk – angguk."kata mama, ini pernah mama bawa juga pas kuliah di London"
Tangan iras merapihkan lagi koper tersebut, begitu selesai ia menghampiriku, menciumku sebentar.  Wangi sabun dan shampoo di rambutnya menyerbu indra penciumku.
“mochammad rifnu prihata, bersediakah engkau untuk menjadi yang pertama saat aku membuka mata? Menjadi satu – satunya? Menjadi yang sehidup semati bagi iras makki atmadja? Bersediakah engkau..?”
Aku tersenyum mendengarkan iras, kedua tangannya melingkar di pinggangku.  Dan kedua tanganku melingkar di pundaknya.
“wooyyy… wooyyyy… makan – makan…” mama memukul – mukul meja makan.
Seketika aku melepas pelukanku pada iras, kemudian membimbingnya ke meja makan.
“ini yang membuat iras pengen cepat – cepat pindah ke paris..”
Aku tersenyum menanggapi iras.