Minggu, 28 Juli 2013

20 : Buntu



Musim hujan, air sedang senang-senangnya untuk jatuh dari langit setiap waktu.  Tak berhenti tak ada lelah.  Seakan mereka memiliki galon-galon raksasa yang bila terisi penuh dengan sendirinya air-airnya akan jatuh ke bumi.  Membasahi semuanya, semua yang ia temui, dan wangi pada tanah yang membekas setelah ia pergi.
Lalu kembali untuk setia, seperti hujan yang menunggu datangnya pelangi...
Aku membuka jaket, kemudian melangkahkan kaki ke dalam cismu tempat makan kecil di dekat kampus namun nyaman.  Apalagi dikunjungi setelah hujan seperti ini.  Teman-teman ku sedikit melarang.  Tapi aku tahu apa yang ku lakukan.
“hay ayo duduk, sebentar, kopi nya sepertinya belum selesai..” dia menarik sebuah kursi untukku.  Kemudian aku duduk persis di depannya.
 “kamu udah makan??” kataku sambil membetulkan posisi duduk ku.
Ia menggeleng pelan sambil sedikit tersenyum. “ini makan siang pertama kita, setelah setengah tahun melewatkannya..” kedua alis matanya tertarik ke atas, seperti biasa senyum hangatnya terlihat di wajahnya.
“jadi, kita mau makan apa??” tanganku menarik buku menu dan melihat-lihat daftar menu yang sebenarnya dari dulupun tidak pernah berubah. “ahh menunya tidak pernah berubah..”
“yeah.. tidak perlu berubah..” dia mengangguk sambil tersenyum berkali-kali.
“maksudnya??” aku mengedikan bahu.
“karena semua ini soal iras sayang sama inu, tidak ada yang perlu dirubah satupun..”
Aku terdiam, kemudian melanjutkan membuka buku menu tersebut hingga tak sadar halaman bukunya sudah habis dan aku kembali ke halaman awal.  Selalu begitu sampai berulang-ulang.
“kamu tahu, melihat kenyataan semalam, begitu semuanya usai, begitu desember berlalu beberapa minggu lagi, kamu pergi, kamu tidak ada di sini, seharusnya tidak perlu datang waktu seperti ini lagi, kita bersama lagi, kalau akhirnya....”
“kalau akhirnya apa....??” ia menatapku dalam.
“hah sudahlah, inu tidak berhak bicara apapun... kamu kuliah, kuliah saja di sana, tidak ada yang perlu banyak dipertimbangkan, sudah saatnya kamu memikirkan masa depan...”
Sejenak tidak ada yang bicara di antara kami berdua.  Kami sibuk menarik nafas dalam masing-masing.  Sementara mataku terus meneliti dengan baik menu makanan yang sebenarnya tidak lebih dari 20 jenis makanan itu.
“sudahlah, iras mau makan apa??”
“iras pikir inu akan merasa kehilangan...”
Balas suaranya cukup pelan.  Kemudian pelan-pelan aku mengangkat kepala dan melihat ke arah wajahnya.  Dia yang selalu memiliki mata penuh rasa bersalah itu.  Kini seakan memunculkan kebiasaan lamanya.
“buat apa ras?? Kalau itu berguna, kalau itu bisa menahan kamu buat enggak pergi, berjuta kali juga akan inu lakukan, tapi buat apa, rencana kamu sudah bicara lebih dulu..”
Aku menutup buku menu, aku tahu hari ini kami tidak akan makan.
“mungkin kita bisa merubahnya..”  jelasnya gugup.
“kita??” aku menatap lebih dalam lagi mata itu “kamu, semuanya rencana kamu, jangan melibatkan inu... meski pada akhirnya inu tetap akan terlibat..”
Suara hujan, suara musik yang mengalun-alun pelan.  Hadir menyusup di antara keheningan kami berdua.  Mungkin benar kata teman-teman ku yang lain.  Aku tidak harus kembali, semuanya kini bisa kembali ke arah yang sebenarnya dan seperti seharusnya.
“kenapa ya, iras ternyata cukup enggak sanggup selama tujuh bulan ini...”
Aku mengedikan bahu lagi.
“kenapa semuanya seperti mudah bagi inu, tapi tidak buat iras..”
Lagi bahu ku naik.
“apa karena iras yang terlalu jatuh, sementara inu tidak? Sekian kali mengetuk, tapi pintu hati inu tidak pernah terbuka...”
“kapan Ras?” nada suaraku agak meninggi.  Dan rasanya bola mataku, agak terdorong keluar. “kapan iras melakukan itu selama tujuh bulan ini?? Inu tidak pernah merasakan sedikitpun keberadaan iras, kalau memang berat melihat tangan orang lain menyuapi inu makan, kenapa iras tidak datang membawa piring makanan iras sendiri??”
Kedua tanganku mendekap buku menu itu.  Sambil kedua mataku berselancar di permukaan bening yang sesekali riak oleh ombak-ombaknya.
“kenapa tidak menghampiri, Ras??” aku kini menyelam di matanya. “lalu masukan semua makanan itu sekaligus...”
Iras diam.  Kepalanya menunduk.
“iras takut menganggu inu...”  empat kata itu, meluncur tersendat dari kedua bibirnya.  Seperti papan prosotan TK sehabis terkena hujan, tapi aku masih ingin main di sana, sehingga aku tidak jatuh dengan sekali terjun.  Harus berkali-kali menggerakan bokongku, agar bisa terus meluncur.
Namun, ia, dan ke empat kata itu. Mengingatkanku, betapa selama tujuh bulan ini aku ingin sekali diganggu olehnya.
“maafkan Inu juga ras, kalau inu tidak bisa datang begitu saja, mengetuk pintu hati iras, bertamu di sana hendak meminta maaf, tapi tuan rumahnya tidak ada, entah dia sedang diam di kamar atau sedang pergi keluar, atau mungkin....” aku memotong kata-kataku “dia sedang membuat pasport untuk ke Amerika...”
Kepala iras terangkat, beberapa detik ia menatapku.  Kemudian menatap arah lain.  Matanya kini berlomba-lomba lagi dengan semua pikirannya.
Mata yang paling indah, hanya matamu...
“bisa saja tuan rumahnya berdiri di balik dinding ruang tamu, takut menemui tamunya, takut maksud kedatangan tamu itu tidak sesuai harapannya...”
“memangnya, harapan iras, kalau inu datang bertamu ke hati iras bagaimana??”
“inu duduk di sana, membawa semua kenangan kita, bingkisan-bingkisan yang tidak cukup mewah namun itu jadi benda bersejarah bagi kita berdua, meminta iras mengambilkan air dari segala harapan kita berdua yang sempat terputus, menyajikan semua yang tidak sempat kita lewati, dan inu memberikan kesempatan iras untuk menunjukan sesisi rumah, yang semuanya masih berisi tentang Inu...”
“to life in your warming heart..”
“and always regard it as home...”
Kutipan dari film The Vow yang sangat kami sukai, dan sampai saat ini tulisannya maish ada di dinding kostan ku.
“iras tidak akan meminta inu untuk menjadi nomor satu lagi di hati iras..” deg suara jantungku. “iras tidak akan meminta inu untuk jadi orang yang selalu iras pikirkan dan iras khawatirkan lagi” deg. “iras tidak akan meminta agar inu bersedia menempati seluruh ruangan di hati iras lagi...”
Deg deg deg deg deg bunyi jantungku sudah makin tidak beraturan.
“karena, selama ini inu terus melakukan itu semua pada iras, jadi kenapa iras harus memintanya??” mata itu kini mengeluarkan air mancur dan kembang api melesat menuju ubun-ubun dan syaraf oskivitalku.  “tinggal sekarang iras yang bertanya pada inu, masih mau inu menempati ruangan-ruangan itu...”
“inu benci ras, inu benci melihat sebuah fakta, bahwa inu pernah begitu sakit, saat iras dengan bodohnya, tidak mengetahui apa-apa tentang pertunangan iras sendiri. Inu benci saat harus pulang dari pesta ulang tahun iras sendirian, di bus yang seumur hidup tidak pernah inu alami.  Yang paling menyesakan, inu harus pulang karena mendapati kenyataan yang menampar-nampar inu kalau iras waktu itu sudah tunangan.  Dan yang paling buruknya, hal itu iras lakukan, bukan dengan inu..”
“inu benci saat iras, Cuma diam di tengah-tengah hujan melihat inu diantarkan oleh orang lain ke kostan, inu tidak suka, saat iras tidak mencegah saat begitu banyak orang-orang bodoh yang datang, ngajak makan, nonton, nongkrong...”
Tiba-tiba iras memelukku.  Membawa kepalaku ke dalam pelukannya.  Aku sebenarnya masih sangat emosi, namun begitu telingaku mendengar isak kecil dari bibir iras. Aku pun diam.
“maafkan sayang, kalau iras membuat inu melewatkan banyak hal berat sendirian, iras sekarang di sini, akan memperbaikinya,  memberikan semua yang inu inginkan tanpa perlu inu minta, menjaga inu lagi, menggosok punggung inu lagi sebelum tidur, menyuapi inu setiap kali inu makan lagi, melarang inu melakukan apapun tanpa iras....”
....
Cul De Sac.... ku pikir, ini jalan buntu buat kita ras.  Ataukah, semua jalan buntu dalam hidup inu, semuanya berakhir di jalan sempit di hati iras??


19 : Cul De Sac

Aku berlari-lari kecil memutar arah, agar tubuhku dapat terhindar dari air yang masih pelan-pelan turun dari langit.  Sudah sejak siang mula hujan turun, dan mereka masih belum berhenti sampai saat ini. suasana dingin ini menambah pekat malam yang terus berjalan. Aku terus melangkah...
Warna hijau cat pintunya sudah terlihat.  Semoga saja dia belum tidur.  Aku semakin mempercepat langkahku dan menarik celanaku sampai sebatas lutut.  Ini kan pakaian tidur, jadi tidak mungkin ku biarkan kotor.
Maaf, jika waktuku telah lewat untuk merindukanmu.
Mungkin kedua kakiku bisa saja terus melangkah, tapi ingatanku sedang berenang ke beberapa puluh jam yang lalu. Saat hujan yang sama seperti ini, aku meninggalkan kamu.  Di bawah sebuah payung, yang kamu tujukan untuk menyambutku pulang agar tidak kebasahan, aku malah lari dengan orang lain. 
Tapi bagiku.  Tidak ada hari yang pernah bisa sebaik saat kita bersama.  Dan hujan sore tadi menyadarkanku, betapa kamulah yang selama ini tak pernah berhenti untuk memberikan semuanya.
Bahkan aku sudah tahu, kalau caraku menghindar beberapa waktu lalu itu salah.  Semenjak saat itu aku belajar, bahwa cinta dan rindu itu tidak selalu membahagiakan.   Namun aku sadar, tak ada yang sebaik kamu dalam hal mencintaiku. Aku berusaha mencari dalam keramaian, saat memejamkan mata dan telinga yang terdengar hanya suara kamu, dan rekaman semua kenangan indah yang terus melambaikan tanganya padaku.
“kamu lagi sibuk apa sekarang?? Kuliah kamu engga ada yang ketinggalan, kan??” kata kamu tadi sore sambil melihat-lihat seisi tasku.
Aku hanya menggeleng pelan sambil menikmati bakpau hangat yang kamu bawa itu.
Aku masih larut dengan bakpau hangat itu, kemudian mata kamu memperhatikan, tiga detik kemudian tangan kamu mengambilnya.
“ngambilnya kecil-kecil aja coba, kamu kan paling males ngunyah, ga kasihan sama lambung kamu bodoh??” kamu memilin-milin bakpau tersebut hingga ukurannya menjadi lebih kecil.  Dan satu persatu memasukannya ke dalam mulutku.
“kenapa kamu masih mau peduli sama aku, jelek..” aku mencoba meraih minuman soda yang ada di samping tubuh kamu.
Plak.  Tangannya memukul punggung tangan ku pelan.  Pasti karena minuman soda itu dingin, dan dia takut aku menggigil apabila meminumnya dalam kondisi hujan seperti ini.
“apakah dalam hidup kamu setiap tindakan harus ada alasanya? Termasuk yang aku lakukan sekarang??” tangannya menyodorkan lagi bakpau-bakpau itu.
Aku menatap ke arah lain.  Sambil mengunyah pelan roti china itu.  kemudian pelan-pelan menangkap tangannya.  Bukan apa-apa, aku hanya kedinginan saja.
...
Aku berdiri di muka pintu kostan nya, setelah mengetuk tiga kali aku menunggunya membuka pintu.  Biasanya ini tidak memerlukan waktu lebih dari setengah menit, dari suara musik yang mengalun di dalam jam seginipun dia pasti belum tidur.
Aku menengok sebentar ke jendela, sudah dapat ku kira, dia sedang berjalan keluar dari kamarnya. Bunyi ‘ckrek ckrek’ dipintu pertanda dia sedang membuka kuncinya, aku tidak sabar melihat wajahnya yang selalu hangat itu.
“Nu..” katanya tiba-tiba.
Aku melangkah masuk, seperti biasanya.  Dulu juga selalu begitu, tapi dia sudah lari duluan ke belakang.   Aku menatap ke sekeliling, masih tempat yang sama yang setiap malam ku datangi tujuh bulan yang lalu. Ah dia memang si rajin yang selalu rapih, semua barang tersimpan di tempatnya dan tidak pernah sekalipun dibiarkan berantakan.
Aku menengok ke kamar, laptopnya menyala mengalunkan nada-nada klasik kesukaanya.  Beberapa lembar buku berserakan, dan di samping tempat tidurnya mengepul kopi mocca yang nampak sudah dingin.
Dia muncul kembali di pintu, tanpa aba-aba apapun dia langsung menelungkupkan handuk ditangannya pada rambutku.  Ia mengucek-ngucek sebentar, kemudian melihatnya.
“kamu bisa sakit kepala bodoh..” katanya tanpa henti.
“aku lapar, kamu punya makanan??” dia diam sebentar, sambil terus mengeringkan rambutku.  Tangan kirinya meraba-raba pakaian ku yang lain.
“aku bikinin nasi goreng, ya! tapi janji kamu makan sama telornya” nadanya seedikit mengancam.
Aku mengangguk pelan, seraya mengambilalih handuk dari tangannya.  Dia segera berlalu menuju dapur. Akupun duduk di atas tempat tidurnya, dan meraih cangkir berisi moka itu.
Sudah sangat dingin, selalu begitu.  Kalau dia buat untuknya sendiri pasti tidak habis atau tidak dimakan sama sekali.  Tapi jika saja itu ia lakukan untuk orang lain, ia akan memaksanya mati-matian untuk segera dihabiskan.
Masih kamar yang sama,  Ada sebuah papan kecil yang menuliskan semua kegiatannya. Lemari yang berisi baju tidak lebih dari sepuluh stell, tapi sampai kapanpun dia adalah orang yang paling tau bagaimana cara berpakaian.
Aku sampai pada sudut itu, dimana dia menempelkan semua fotonya.  Dia sendirian, dengan teman-temannya ada juga yang denganku.  Tapi kenapa foto kami berdua begitu mendominasi ruangan ini.
Bahkan foto besar ketika ia mencekik ku di ketiaknya diletakan di atas meja belajarnya, itu menandakan agar ia mudah menemukannya.  Aku ternyata tidak menemukan satupun alasan untuk meninggalkan orang ini.  kenapa baru tadi sore aku tersadar, kalau dia begitu menyayangiku dan aku akan segera kehilangannya.
Aku menemukan sebuah amplop putih di atas mejanya.  Tangan ku mengambilnya sebelum akhirnya menyembunyikannya karena dia sudah selesai dan masuk ke kembali ke kamarnya.
“sini aku makan sendiri..” aku menyodorkan tangan hendak mengambil piring dan sendok itu darinya.
“sejak kapan kamu bisa makan sendiri..” ia menatap sejenak, sambil mengaduk-ngaduk nasi goreng yang masih mengepul itu “kamu kurusan, kan??”
Aku hanya diam, sambil menerima suapan pertama darinya.
“aku kangen kamu..”
“ehh jangan ngomong sambil makan, keselek nanti kamu..” tukasnya lagi, sepertinya dia tidak memperdulikan apa yang aku bicarakan.
“sini, biar aku makan sendiri aja, kamu masih banyak kerjaan, kan??” aku mengambil paksa piring dan sendok dari tangannya.  Ia kini menurut, kemudian sekejap menatap laptopnya.
Ia terus memperhatikan ku seakan takut kalau makanan ku tidak akan habis.
“kamu kenapa bisa sebaik ini, padahal aku lebih sering bertingkah buruk sama kamu..” nasi goreng terlejat yang tak akan pernah bisa mendapatkan saingan dimana pun.  Terakhir kali memakannya ketika aku ngamuk-ngamuk karena uang ku habis membeli chip game online.  Dan dia membuatkannya agar aku tetap bisa makan.
“aku masih pacar kamu, kan?” ia bicara pelan, dan membuatku mendongakkan kepala karena kaget mendengarnya. “seingatku, kamu belum sempat memutuskan aku..”
Aku tertohok sebentar sebelum melanjutkan makan malamku.  Menatap matanya yang memandang sejuk itu.  ia mengambil handuknya yang tergeletak di sebelahku.
“maafin aku ya..” aku pikir dengan meminta maaf, dia akan tahu kalau aku juga tidak akan pernah meninggalkannya lagi. “inu terlalu mengecewakan, dan malah belum sempat bikin kamu bahagia..”
“inu...” ia tiba-tiba duduk di depan ku sambil mengusap lembut di pipiku, matanya yang lembut itu menyapu semua pandangan agar hanya tertuju kepadanya “kita itu sepasang buku, yang saling kagum pada sampul karena tahu apa yang pada diri kita sendiri, bahkan kita ini buku yang saling menuliskan dan saling membaca, tanpa pernah tertukar-tukar halamannya...”
“aku gak tahu kamu itu siapa, terbuat dari apa.. yang aku tahu kamu itu satu, dan udah buat aku jatuh cinta..” sial, dua nasi hampir masuk ke tenggorokan ku akhirnya aku terbatuk-batuk beberapa kali “ohok ohok..”
Dia langsung lari ke luar dari kamar, sepertinya hendak mengambil air.
Karena terlalu banyak bergerak, akhirnya membuat amplop yang ku duduki sejak tadi mengeluarkan isinya. Masih sambil batuk sedikit-sedikit, aku memperhatikan kepala surat yang muncul dari mulut amplop itu.
Terdengar bunyi air keluar dari galon di dapur.
Aku semakin lekat memperhatikannya “CORNEL UNIVERSITY”
Terlalu mengeherankan jika tidak aku buka, tidak butuh waktu lama surat itu sudah terbuka lebar dan aku dapat membacanya dengan jelas.  Dibuat dalam versi bahasa indonesia dari kedutaan besar amerika.
“tesis anda berhasil diterima oleh semua profesor, saya harap anda segera mempersiapkan diri untuk ‘belajar di Cornel’ desember nanti, kami semua menunggu bergabungnya anda di sini”
Diterima, Cornel.. Amerika.. Desember. 
Tanganku gemetar menggengam surat itu.  piring ku simpan di atas meja.  Dan batuk yang tadi begitu mengganggu hilang seketika.  Aku gelagapan.  Dan berdiri.
Dia datang dari arah pintu dan mengangsurkan sebuah gelas berisi air penuh.  Aku menatapnya lekat.  Meminta penjelasan.
“apa ini, ras??” aku menunjukannya di depan wajahnya tepat.
Ia mengedikan bahu, sambil pelan-pelan mendekatiku.  Nafasku mulai memanas,  dadaku mendadak sesak.
“itu hanya sebuah surat..”
“isinya, yang inu maksud isinya...” suara ku pelan-pelan naik.
“bukannya inu yang selalu bilang ingin pergi keluar negeri, melanjutkan kuliah atau menetap di sana..” ia sedikit memiringkan kepalanya.
“ohh... jadi kamu mau pergi gitu aja, tanpa memikirkan apa yang kamu tinggalkan di sini, tanpa berpikir inu bakal kesepian di sini..”
“selama tujuh bulan ini, inu gak pernah kesepian kan?? Teman-teman, inu?? Orang-orang itu??”
Ia menatapku, seakan memojokanku karena sudah mengacuhkannya.
“KAMU BUKAN ORANG-ORANG ITU...!!!!” teriakku memecah malam yang terlalu sunyi ini.  aku ingin dia tahu, tidak mungkin melepaskan dia begitu saja.
“STOP, bertingkah seperti anak kecil, Nu!” ia hendak meraih tanganku, namun dengan kasar dan keras aku menepiskannya.
“tidak, Inu akan terus bertingkah kaya anak kecil supaya kamu tetap disini, supaya kamu tidak perlu pergi ke amerika, desember itu sebentar lagi.. Iraassss!!” air mata ku mulai berakumulasi, ada rasa sesak yang menyeruak dari dalam dada menyerbu ke seisi kepala kemudian keluar pelan-pelan melalui sudut-sudut mata.
Dia memeluk ku. Kedua tangannya, merangkul paksa hingga aku tidak bisa berontak.  Aku malah mendadak merasa lemas dalam pelukannya.  Air mataku mengalir deras.  Betapa tidak lama lagi akupun akan kehilangannya.  Jadi, wajar kan aku menangis?
Baru beberapa minggu yang lalu dia muncul sekarang akan menghilang lagi?
Desember tidak lama lagi.  dan otaknya yang hebat itu tentu saja beasiswa apapun pasti akan mudah didapatkan olehnya.  Tapi kenapa aku harus mengetahuinya sekarang.  Aku benar-benar tidak siap.
Aku lungrah ke lantai, meluapkan semua haruku,  berkali-kali ia mencium keningku. Dan mengusap pelan di punggungku.
“masa depan kita tidak pernah dituliskan nu, semua yang terjadi terdiri dari pilihan-pilihan yang kita buat sendiri..” bisiknya pelan di telingaku.
“kenapa inu harus ditinggalin hah??” aku memukul punggungnya.
“berharap itu menyedihkan Nu, membuat kita kadang berada pada dua pilihan, antara bertahan atau pelan-pelan melepaskannya..”
Suara petir menyambar terlalu menyakitkanku, kenapa baru kini aku sadar kalau tidak ada hal yang tidak mungkin ku lakukan bila dengannya.  Kenapa aku baru sadar, kalau suatu saat aku bisa saja jatuh dan kehilangan segalanya.
“putus dari kamu gak masalah, melupakan kamu juga mungkin gampang, tapi aku harus terima kenyataan, kalau kenangan kita terlalu berarti untuk ditinggalkan.. Nu, butuh hati yang kuat untuk mencintai seseorang, tapi kita membutuhkan hati yang lebih kuat lagi, untuk mencintai setelah disakiti..”
Kedua tanganku melingkar kuat dipinggangnya, dan wajahku menelungkup di atas dadanya.  Air mataku sudah jatuh ratusa kali, membasahi baju bolanya itu.
“tapi Nu, coba kamu pikir, kenapa kita sangat membutuhkan kerendahan hati di dunia ini??” ia menahan jawabannya sebentar, sambil terus mengusap punggungku. “selain untuk menolong sama, kita memerlukannya juga untuk memaafkan orang lain.  Tidak ada gunanya membenci anak kecil kaya kamu..”
Ia menarik tubuhku.  Kepalaku tertunduk kuat, tak mungkin mampu menatap langsung matanya itu.
“kamu akan baik-baik saja di sini, kan??” ia menatap seakan-akan aku ini memang benar-benar masih anak-anak.  Ia juga mengusap garis-garis air mata di pipiku dengan lengan bajunya yang panjang.
“Inu bakalan kangen banget sama kamu..” kata ku pelan hampir terputus-putus, suara ku terlalu parau untuk bersuara. “inu boleh minta sesuatu??”
“apa itu??” ia langsung menyahut terdengar antusias seperti biasa.
“ga usah ke Amerika..” mungkin tampang merajuk ku akan mencegahnya.
“semuanya sudah diatur Nu, tidak mungkin dibatalkan begitu saja..”
Aku menundukan kepala melanjutkan tangisanku.  Tanpa diduga, kepalanya melesak mengangkat daguku.  Bibir dan lidahnya menyeruak masuk mencari semua perasaan yang berhasil ditanamkannya di dalam jiwaku, aku membiarkan tubuhku dibawa olehnya kemanapun. Entah bagaimana lagi caranya, agar ia tahu aku sudah tidak bisa hidup tanpanya.  Bagaimana melewatkan waktu tanpanya.
“sesuatu yang sulit saat seorang yang kamu sayangi mulai mengabaikanmu, tapi akan lebih sulit lagi untuk berpura-pura bahwa kamu tidak peduli..”



18 : bukankah harusnya terasa lebih baik?

“jadi, ketika kamu berusaha memasukan selangnya ke dalam penis, tahan sebentar jika ada tekanan, kemudian lanjutkan lagi..” kata dosenku memberikan penjelasan atas pertanyaanku. Kemudian ia menutup kuliah kami sore ini.
Aku membereskan file dan kartu daftar hadirku ke dalam tas, teman-teman satu kelasku mulai berhamburan keluar menuju tempat parkir yang berjarak hanya tiga meter dari ruangan kelas kami.  Beberapa orang teman meminta tumpangan untuk diantarkan ke tempat kost mereka yang memang tidak jauh dari sini.  Aku mengiyakan.
Hari ini senin, 26 agustus, aku baru pulang dari bandung tadi pagi. Kebetulan hanya ada satu jadwal kuliah di sore hari hingga akupun memilih untuk pulang senin pagi dari rumah.
Menjelang akhir semester perkuliahan kami mulai terasa lenggang, beberapa mata kuliah materinya sudah hampir selesai.  Sehingga jadwal kuliah kamipun sudah tidak terlalu padat.  Tinggal bulan depan masuk lab saja dan berkutat dengan praktikum.
“Nu, lewat jalan bhayangkara ya, terus ke sudirman, ada perlu dulu di ATM..” kata fitri yang duduk di belakang.  Aku mengangguk.
Di dalam mobil ada empat orang teman dekatku, kami biasa duduk berdekatan ketika sedang kuliah.  Indra, fitri, ana, dan takdir.  Yang lain, prioritasnya sama, akan berguna ketika ada tugas atau ketika akan futsal.  Tim futsal di kelas cukup terkenal di kampus, kelas kami memiliki pemain-pemain yang berkualitas.
Sudah hampir satu semester ini kami selalu bersama kemana-mana, kebetulan mobilku juga senang jalan-jalan seperti pemiliknya.
Cuaca sore ini, sukabumi agak enak buat dipakai nyetir, aku menikmatinya,  setiap deretan pohon bungur yang ditanam di sepanjang jalan bhayangkara dan arus kendaraan yang tidak terlalu ramai adalah dua hal yang aku favoritkan dari kota ini.  Trotoarnya yang cukup lebar juga, cukup aman dan nyaman untuk dijadikan jogging track kalau hari minggu tiba.
“di depan Nu” kata fitri.  Aku langsung merem mobilku.  Tepat di depan rumah sakit assyifa, fitri kemudian berjalan keluar menuju ATM.
Aku melihat beberapa meter dari tempat mobilu berhenti berjejar bukee bunga ucapan selamat.
“Nissan buka showroom baru ya di sukabumi..” kata indra.  Ia penyuka otomotif bahkan cita-citanya nanti membuka sebuah showroom mobil-mobil antik.
Aku tertarik pada ucapan indra, bukan karena showroom nissannya, tapi aku tahu siapa pemilik perusahaan mobil itu.  Aku menghidupkan mobil lagi, jika benar feelingku maka aku akan bertemu dia hari ini.
Mobilku maju beberapa meter mengintip di balik deretan bukee bunga-bunga itu. Aku menunggu beberapa saat, mungkin akan ada orang yang keluar dari dalam showroom.  Dia, orang yang beberapa kali datang dengan wajah tanpa dosa di mimpiku.
Pintu bagian belakang terbuka, fitri masuk ke dalam mobil.
“udah fit”
“udah, yok jalan..”
Mobil melaju, mungkin bukan waktunya untuk bisa menemuinya lagi. 
...
Tempat makan seafood, indra dan yang lain mengajakku kemari. Sehabis mengerjakan makalah di kostan takdir di sriwijaya kami akhirnya memenuhi undangan teman kami ke sini. Riza sedang berulang tahun.  Meskipun aku tidak makan seafood aku berusaha menghormati ketua angkatan kami itu, dan kini aku berada di tengah-tengah calon-calon perawat yang setengah gila.
Sepertinya bukan angkatan kami kalau tidak teriak-teriak dan membuat keributan di manapun, liverpool, tempat futsal langganan kami, semua pegawainya sudah mengenal reputasi tim futsal kami.  Beberapa tempat makan juga, bahkan sudah memaklumi dan faham bahwa gerombolan kami memang tidak bisa diam.
Aku duduk di sebelah indra, ia memesan cumi bakar, aku hanya memesan es jeruk.  Sehari ini aku tidak menemukan buah.  Cukuplah mungkin es jeruk memenuhi kebutuhan vitaminku hari ini.
“jadi bener, showroom yang itu punyanya iras Nu?” tanya indra sambil membetulkan letak piring berisi cumi bakarnya.
Aku mengedikan bahu, tanda tidak tahu.
“udah lama ya, tuh orang gak ngajak kita senang-senang..”
Aku tersenyum, betul, sudah lama juga dia tidak datang.  Sudah lama juga kami tidak bertemu.
“terus tahu kalau itu showroomnya dari mana?” tanya indra lagi.
“gak, kan dulu waktu masih di bandung seinget gue sih, pemilik perusahaan nissan tuh bapaknya iras, makanya gue kira showroom itu punya nya iras..”
“ooo gak mungkinlah kalau bapaknya pemilik gitu, masa anaknya Cuma dikasih showroom..”
Aku mengangguk, menyetujui pendapat indra.  Betul juga, mana mungkin iras yang calon pewaris utamanya kok hanya dikasih showroom.  Sebetulnya, permasalahannya bukan siapa pemilik showroomnya, hanya saja mungkin showroom itu bisa juga membawanya kemari.
“udah mau tujuh bulan ya Nu, tapi Inu udah banyak berubah, beda, kalau lihat tujuh bulan ke belakang, mana ada rifnu yang bisa ketawa-ketawa bahkan nongkrong gak jelas di tempat kaya gini” indra tersenyum mengejekku. “udah bukan rifnu yang semua orang kenal deehh..”
“masa inkubasi dra, now please welcome, Rifnu..” aku mengangkatkan gelas es jerukku.  Yang kemudian di sambut indra dengan ikut mengangkat gelas jus jambunya kemudian kami bersulang sambil tertawa.

“okeh, hatur nuhun ka saderek pasien-pasien sadayana..” riza berdiri di tengah-tengah kami memberikan sambutan ulang tahunnya. Beberapa orang melemparinya dengan tisu karena menyebut kami pasien. “mugia, do’a ti sadayana ikhlas ayana, mangga nyanggaken bade mesen naon wae ge” riza memandangi kami satu persatu “eh aya pak rifnu, pak rinfu tos mesen naon atuh??”
Aku tersenyum, sudah jadi kebiasaan ketika praktek di rumah sakit kami memanggil bapak ke satu sama lain.  Menirukan para perawat yang sudah senior di sana.
Aku mengangkat gelas es jeruk ku, menunjukannya pada riza.
“ah pak rifnu mah sok kitu, mesen atuh pak mesen..”
“gak usah makasih za, urang mah alergi seafood..”
“oh enya pak rifnu mah kan alerginya, pak rifnu tuang naon atuh..”
Aku menggeleng, tadi di kosan takdir aku makan banyak sekali martabak bangka yang dibeli indra, sehingga sekarang cukup kenyang.
Kemudian acarapun berlanjut, seorang gadis membawakan kue pada riza dengan beberapa lilinnya.  Setelah itu, bisa ditebak terjadilah serentetan adegan-adegan romantis.  Yang mendapat sorakan dari semua komunitas orang-orang setengah gila ini.
Aku berkumpul dengan beberapa orang teman, karjo, bintang, indra, takdir, dan jali baru saja ikut bergabung ia membawa satu toples peyek dari depan.
Tangan bintang menyerbunya dan mengambil beberapa, ia kemudian menghamburkannya di depan kami semua, sambil ngobrol, ngerokok dan banyak hal.
Karena keasyikan mengobrol, tadinya aku hanya memakan peyek kacang saja, tanpa sadar aku memakan dua peyek ikan teri dan satu potong lagi sudah hampir habis. 
“ini teri ya?” aku menunjuk peyek yang masih berserakan di atas meja.
Bintang yang ku tanya langsung mengangguk diikuti tatapan tidak mengerti dari yang lain. Aku menarik lengan jaketku, mengecek, benar kulitku sudah mulai memerah dan agak membengkak.  Gawatnya lagi, aku tidak membawa antihistamin dan obat inhalasi.
Aku mengangkat bajuku di bagian perutku benjolan lebar berwarna merah bermunculan, kemudian kini mulai terasa gatal. Teman-temanku mengerubungiku, aku berusaha tidak panik diantara teman-temanku yang nampak kebingungan.
Aku mulai merasakan udara mulai menipis, dan saluran pernafasanku mulai terasa menyempit.  Kepalaku mulai terasa pening dan pandanganku kabur, aku sudah tidak dapat jelas melihat.  Namun aku tahu kalau aku hampir saja jatuh dari kursi, tangan seseorang menyangga tubuhku dan memanggil-manggil namaku.
Mataku mencoba terbuka, aku berusaha sekuat tenaga untuk tetap sadar, diantara panas dan gatal yang mendera seluruh tubuhku.
Aku melihatnya, aku melihat dia, aku..
Tangan cekatannya membuka mulutku, kemudian ia memasukan udara melalui mulutnya.  Sehingga aku mulai merasakan udara kembali ke dalam dadaku.  Aku mencoba membuka mata lagi, terlalu lemah, namun aku tahu itu dia.
“Ras....”
Sebelum semuanya, akhirnya menjadi gelap.
...
Betul-betul menyebalkan, aku akhirnya terlentang di bangsal rumah sakit.  Beberapa orang temanku masih berkeliaran dan menungguiku di luar ruangan.  Mama dan apih sedang dalam perjalanan. Padahal aku sudah melarangnya, bandung-sukabumi bukan jarak yang dekat apalagi buat orang tua seperti mereka.
Menurut beberapa orang temanku, aku pingsan cukup lama sampai tiga puluh menit.  Herannya mereka para calon perawat malah suda beranggapan aku sudah gawat dan mereka dengan sok tahunya meminta petugas rumah sakit untuk membawaku ke ICU.
Aku hanya tersenyum mendengarkan cerita mereka semua.
“ndra, tadi yang kasih RJP siapa? Mouth to mouth gitu sama gue?” pasti nanti akan jadi bahan candaan, gara-gara ada yang udah ngasih nafas buatan padaku.  Walau hampir tidak sadar tapi aku tahu tadi ada yang menciumku dan memberikan nafas buatan.
“ntar Ko, kita panggil deh orangnya langsung..” aku menyuruh indra agak meninggikan bagian kepala tempat tidur sebelum ia pergi keluar.
Aku melihat sekeliling, handphone dan dompetku tergeletak di atas meja.  Tanganku mengambil handphone, hanya beberapa panggilan tidak terjawab dari mama dan sms darinya yang sepertinya tidak bisa berhenti untuk cemas.
Pintu ruangan terbuka, seseorang masuk di sana.
“dasar, ngeyelnya gak ilang-ilang, tau alergi masih aja makan peyek..”
Aku mengangkat kepala, suara itu.
Lampu neon ruangan yang menyala begitu terang sudah menampakan wujudnya dengan begitu jelas, ia berjalan beberapa langkah sambil tersenyum cukup lebar. Tangannya membetulkan letak kacamatanya yang melorot.
Ia berdiri di samping tempat tidurku. Aku menatapnya, sebelum akhirnya membuang muka.
“dasar anak kecil..” katanya lagi.
Ia kini memasukan kedua tangannya ke dalam saku celananya.  Rambut yang selalu rapi, tapi kini jersey bolanya berganti dengan kemeja putih bergaris-garis biru muda dengan celana baggy yang melancip ke bawah.  Dengan ikat pinggang dan sepatu yang mengkilap.
Bahkan ia kini mau mengenakan jam tangan.
“hay.. apa kabar..” kata-kata culun yang keluar dari mulutku.
Ia menggelengkan kepala. “tidak pernah baik..” kata dia sambil tersenyum lagi.
“mau baik gimana, pasti sibuk terus kan?” balasku lagi “kuliahnya gimana? Sekarang udah mau beres kan?”
“sudahlah, jangan terlalu banyak bicara, udah saatnya orang sakit istirahat, tidur ya..” tiba-tiba kedua tangannya menarik selimut dan menutupi hampir sebagian tubuhku.
Aku tidak menjawab, ia sibuk merapihkan ruanganku sebelum akhirnya melangkah keluar.  Mataku terus menatap bayangannya yang rasanya tidak mau pergi dari sini.
Mungkin ini, hadiah dari perdamaianku dengan waktu. Ia memberikan jawaban atas segalanya.
...
“kalau saja perawatannya bener, ngejamin kamu buat bisa sembuh lagi dalam dua hari, kita gak perlu pindah rumah sakit, atau sudah kita bawa kamu ke bandung langsung saja, apa-apaan perawatan kaya gini...” mama protes keras pada manajemen rumah sakit, ia mengeluhkan pelayanan perawatnya yang kurang ramah dan bahkan dengan gegabah memberikan aku ikan tongkol di menu sarapan pagi.
“maaf bu, tapi kami akan berusaha memperbaiki pelayanan di sini” manajer rumah sakit membungkuk-bungkuk di depan mama dan apih.
“puluhan tahun saya memimpin rumah sakit nasional, baru sekarang saya diledek sama rumah sakit swasta kaya begini, jelas-jelas cucu saya masuk ke sini karena alergi seafood ini malah ngasih makan tongkol, kalian mau membuat cucu saya mati..” apih sampai berkacak pinggang.  Aku sebenarnya mulai agak rikuh dengan suasana ini. Padahal akupun tidak jadi memakan menu makanan tersebut, dan aku juga sudah sarapan barusan sama mama.
Tapi bersuara ketika mama dan apih duet maut bukanlah pilihan bagus, bisa-bisa aku yang ikut kena semprot juga.
Tiba-tiba pintu ruangan terbuka, beberapa orang tampak masuk lagi.  Beberapa dari mereka sudah agak tua.
“maaf bapak, saya direktur dari rumah sakit ini, bagaimana kalau kita ngobrolnya di ruangan saya, kasihan yak pak nak rifnunya kalau kita bicara di sini..”
Apih menatap sebentar ke arahku dan mama yang duduk pada kursi di sebelahku. Ia kemudian mengangguk dan mengikuti rombongan direktur itu. Mama tidak ikut, ia mengambil lagi buah jeruk yang tadi sedang dikupasnya.
“ma, inu rasa kita gak perlu sampai kaya gini lah..”
“ehh gak bisa gitu nu, itu baru yang ketahuan aja, berarti pelayanan mereka ke pasien lain, yang tidak tahu yang tidak bisa menggunakan hak mereka dengan benar bisa lebih bobrok dari ini..” mama mengangsurkan satu potong jeruk padaku.
“tapi kan ma, sesama profesi harusnya saling ngertilah..”
“mama menuntut pelayanan yang sewajarnya kok, bukan yang benar-benar berkualitas, ini baru segini aja sampai direkturnya yang turun segala, dia gak tau kalau apih juga direktur rumah sakit..”
Aku diam, melanjutkan memakan jeruk dari tangan mama. Belum lagi nanti siang, semua saudara mama akan datang menjenguk.  Bahkan eyang, yang usianya sudah lebih dari udzur akan datang ke sini.
“Nu, tisunya habis ya? Kamu juga harus minum susu yang banyak, dari sini supermarket deket kan?” mama memberikan potongan jeruk terakhirnya.
Aku mengangguk, sambil memintanya mengambilkan air minum.
Tiba-tiba pintu diketuk.
“silahkan masuk..” kata mama.
“siang tante..”
“heyy...” mama menunjuk ke arahnya. “iras? apakabar nak, sehat?” mama bangkit berdiri dan mendekat pada iras yang menghampirinya.
“assalamualaikum..” iras mencium tangan mama. Kemudian beralih mencium pipi kiri dan kanannya. “alhamdulilah sehat tante, tante sendiri gimana?”
“tante sehat ras, lama gak liat kamu, makin kurus ya kamu..” mama memperhatikan iras dari kepala hingga kaki dengan seksama. “ayo duduk..”
Mama mengajak iras untuk duduk di sofa yang melingkar di sudut lain ruangan.
“ahaha.. kuliahku makin padat terus sekarang udah ikut-ikutan sama papa, jadi ya kaya gini lah tante..”
“oohh pastilah, anak rajin, malem kamu yang nolongin inu, makasih yah, dari dulu sampai sekarang masih aja sama..” mama tersenyum cukup lebar.
“iras bawa ini tan, iras simpen dimana nih?” iras memberikan keranjang berisi buah-buahan pada mama.
“halah kamu ini..” tapi mama malah mengambilnya dan menyimpannya di atas meja. “eh kebetulan kamu ke sini, kamu temenin inu bentar ya, tante mau ke supermarket dulu..”
“supermarket tan? Biar iras aja deh yang ke supermarketnya..”
“anak baik..” mama mengelus kepala iras “gak apa-apa, biar tante saja, kamu temenin inu ngobrol saja ya, kayanya ada yang kangen, lama banget gak ngobrol..” mata mama berkedip ke arahku, aku mendelik sebal.
Beberapa detik kemudian, setelah merapihkan rambut dan bajunya ia keluar dari ruangan dengan membawa tasnya. Dasar mama.
...
Sampai beberapa detik setelah mama pergi, belum ada satupun di antara kami yang buka suara.
“gak sibuk ya? Sampai nyempetin ke sini segala..”
“showroomnya baru buka nu, jadi belum terlalu sibuk lah..”
“oohh SPB ya? Pasti belum ada yang beli jadi belum ada kerjaan..”
Ia tergelak beberap saat, kemudian berjalan menghampiriku.
“masih rifnu ku yang dahulu, yang ngeyel, yang ngomongnya plas plos, yang agak jutek dan kekanak-kanakan..” ia duduk di tepi tempat tidur.
“rifnuku?” aku menatapnya sebentar, kemudian membuang pandangan. “sayangnya, inu gak pernah bisa ngaku yang sebaliknya, keburu diambil orang..”
Ini bisa jadi membongkar jahitan lama, atau menantang untuk operasi ulang. Aku merasakan sebuah pandangan yang tidak sekalipun mencoba mengalihkannya dariku. 
“diambil siapa?” ia mendekatkan tubuhnya beberapa centi. “ada yang ngambil, atau ada yang ngebiarin..”
“diambil masa lalu..” kataku kemudian.
Kini ia diam, sambil terus menatapku. “sudahlah, iras boleh minjem gitarnya?”
Aku tidak menyetujuinya, namun ia berjalan ke sudut ruangan dan mengambil gitar yang semalam ditinggalkan indra di sini, si pirang itu pasti lupa membawanya.
Iras duduk di atas sofa tempatnya tadi ngobrol dengan mama, ia mulai memetik gitar yang ada di pelukannya itu.  Dengan melodi-melodinya yang cukup pelan.  Iras tidak pernah bisa nyanyi, tapi aku tahu lagu ini.
Ku simpan masa demi masa tak mudah tuk terlupa
Saat kau masih di sisi hingga saat kau dengannya
Kadang ku menangis....
Bagian berikutnya aku pasti ikut menyanyi, ini lagu lama tapi dulu, sewaktu SMA lagu ini pernah populer lagi di sekolah, gara-gara satu-satunya band cewek menyanyikannya di acara prom kelas tiga.
Tataplah diriku di sini masih seperti yang dulu
Ku temui kau pun kembali tuk bersamaku lagi
Akupun mengerti..

Satu yang tak bisa lepas percayalah
Hanya kau yang mampu mencuri hatiku
Akupun tak mengerti

Satu yang bisa lepas
Bawalah kembali jiwa yang luka
Dan perasaan yang lemah ini...

Aku membiarkannya menyelesaikanya hingga akhir lagu, aku memutarkan tubuhku, menghindarinya, menghindari tatapannya yang mungkin bisa membuatku rindu.
“kamu tidak bisa pergi dan datang begitu saja ras...”
Tiba – tiba iras meletakan gitar di pangkuannya ke tempatnya semula. Aku mencoba memperhatikan acara tv yang nyala dari tadi namun tidak ada yang melihat.
“kenapa Nu?” iras duduk di sampingku di tempat tidur, kedua matanya berjalan pelan-pelan masuk ke dalam kedua bola mataku. “kenapa...”
“apanya yang kenapa?” aku memandangnya tak mengerti.
“kenapa semua ini terlihat begitu mudah buat inu, tapi tidak buat iras? Kita Cuma dipisahkan oleh waktu, tapi kenapa rasanya seakan tidak terjadi apa-apa diantara kita berdua..”
“kamu bicara apa..” aku berusaha mengalihkan topik, harusnya yang terjadi antara kami tidak perlu mendapatkan ruang lagi. “kamu, tidak perlu menatapku seperti itu..”
“bagaimana cara menatapku yang tidak kamu suka?” iras menyerang balik.
“kamu, berbeda..” kataku berikutnya.
“ya kita berbeda, iras tau saat kita bertemu lagi kita sudah pasti jadi dua orang yang berbeda..” ia tampak menghela nafas “entahlah...”
Kemudian iras mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan.  Sebelum ia menatapku lagi.
“iras tidak tahu kenapa iras harus ke sini, membawa semua bingkisan ini, kita bertemu dan bicara seperti ini, tanpa menganggap bahwa sesuatu pernah terjadi diantara kita. Tanpa ada seseorang yang mulai membicarakan..”
“membicarakan apa? Kamu pengen inu ngomong apa?” aku menatap telak matanya.
“kenapa tidak pernah menghubungi iras? Kenapa tidak sekali saja berusaha menelpon iras?” wajah iras menunjukan riak yang menyebutkan bahwa ia memiliki rindu itu juga.
“kenapa? Apa iras tidak berhak mendapatkan penjelasan? Apakah iras tidak pernah diampuni.. kenapa iras tidak diberi kesempatan untuk merubah pikiran inu? Yang diam, pergi tanpa perduli kaya gimana hancur nya iras.. apakah inu tidak merasa berhutang penjelasan pada iras?”
Aku membiarkan pertanyaan iras menggantung ke udara.  Tanpa berusaha memberikan respon terhadapnya.
“inu tidak bisa ras..” aku menggeleng sambil memperhatikan titik kecil di baju tidurku.
“kenapa? Kenapa tidak bisa?”
“inu tidak bisa ras..”
“iya kenapa tidak bisa? Kenapa tidak pernah memberikan penjelasan apapun? Inu tidak pernah memikirkan perasaan iras saat inu memilih menyerah dan...”
“inu gak bisa ras..” suara ku meninggi.
“gak bisa? Memberikan sekedar penjelasan kenapa kita harus menjauh..”
“ya inu gak bisa, karena hanya dengan mendengar suara iras saja, inu pasti berubah pikiran..” suaraku yang lumayan bernada tinggi akhirnya menghentikan iras.  Air mata mulai mengambang di permukaan kedua matanya.
Ia gelagapan hendak berkata-kata.
“jangan pikir iras saja yang terluka, buat inu waktu itu tidak mudah menerima kenyataan bahwa iras bisa saja jadi milik orang lain, melihat iras di tengah-tengah pesta pertunangan iras sendiri, itu merupakan luka yang tidak bisa sembuh dalam waktu yang sebentar, menghubungi iras hanya akan menambah parah luka tersebut..”
Iras tiba-tiba bangkit dan berjalan menjauh beberapa langkah.
“itukah yang ingin iras dengar? Datang jauh-jauh ke sini hanya untuk mendengar hal itu saja? Apakah iras tidak tahu kalau inu juga mengalami hari-hari yang buruk tanpa ada iras di sana, apa kamu pikir semuanya gampang? Menjalani hidup tanpa ada kamu di sana? Apakah kamu tidak berpikir bahwa yang ku jalani hanya deretan hari-hari yang buruk tanpa ada kamu...”
Tiba – tiba pintu terbuka, muncul wajah mama di sana. Ia menatap tak mengerti ke arah kami berdua.
“Ras.. Inu.. ada apa ini?”
Kami berdua gelagapan, tidak tau harus bicara apa, aku juga masih terbawa emosi. Namun kemudian iras mencium mama, ia pamitan lalu pergi meninggalkan kami berdua.
Sesaat setelah iras keluar, mama menatap ke arahku.  Mama mungkin melihat air mata yang jatuh pelan dari sudut mataku.  Hingga akhirnya ia menghampiri dan memeluk tubuhku.
“bukankah harusnya terasa lebih baik, karena iras sudah kembali?”
...
“woii Nu..” jali berteriak sambil mengover bola kepadaku.  Bola menggelinding, kaki ku dengan cepat menangkapnya, kemudian menggiringnya pelan, sambil mengelak dari serangan tubuh takdir dan bintang.
Aku berhasil mengecoh keduanya, dan melewati mereka berdua.  Gawang tinggal beberapa meter lagi, di sana tubuh tambun soleh sedang bersiap menghadangku.  Posisiku sudah lurus dari lobang gawang, sulit sekali mendapat kesempatan seperti ini.
“bismilahirahmaniraahim..” aku menendang bola keras.
“gooooooollllll....” teriak tim ku. aku berlari ke sudut lapangan, dikerubuti tubuh jali dan reza juga anggota tim ku yang lain.  Kami merayakan selebrasi gol ku dengan joged iwak peyek.
Baru setengah pertandingan, gara-gara tadi tidak pemanasan dulu aku sudah ngos-ngosan.  Aku meminta yogi menggantikanku, ia langsung masuk ke jaring lapang futsal dan aku sendiri keluar lapangan.
Aku menjatuhkan tubuhku di lantai, di antara tas dan sepatu teman-temanku yang berserakan. Beberapa di antaranya mengeluarkan aroma yang tidak sedap.  Bajuku tergulung ke atas, dan memperlihatkan perutku yang tidak sixpack-sixpack amat.  Keringat bercucuruan. Aku masih berusaha mengatur nafasku, sambil terus memperhatikan teman-temanku yang masih asyik bermain.
“ini..” seseorang menyandarkan handuk dan sebotol pocari sweat.
Aku menatap wajah pemilik tangan tersebut, kemeja dan celana baggynya menunjukan dia tidak datang ke sini untuk main futsal.
Aku menerima handuk dan pocari sweat darinya.  Kemudian menelungkupkan handuk tersebut ke kepalaku, untuk mengeringkan keringat sambil membuka pocari sweat tersebut.
“makin pinter aja main futsalnya, barusan gol nya keren..” katanya sambil duduk pada bangku tempatku bersandar.
“ngeledek apa lagi ngegombal..”  aku meminum beberapa teguk air pocari sweat di tanganku.
“ngegombal lah..” jawabnya jelas. “sini iras bantuin ngusapin keringatnya..” tangannya menggerakan handulk di kepalaku, mengeringkan keringat di rambutku. “emhh bau acem..”
“gak usah becanda deh, yang harum ya cowok yang mau kondangan lah gak mungkin orang yang lagi main futsal..”
“hahaha... temen inu yang itu keren deh..” ia menunjuk jali yang sedang menggiring bola ke arah gawang.
“dia normal tuan, silahkan paling nanti anda diulek habis-habisan..” aku meneguk kembali pocari sweat di tanganku, sambil bersiap kembali ke lapang.
“hahaha..” iras ketawa lagi. “gak bawa mobil, kan? Nanti iras anterin, iras bakalan nungguin di sini sampai inu selesai..” katanya sambil tersenyum.
Aku melemparkan handuk di kepalaku kepadanya lagi, kemudian botol pocari sweatnya menyusul. Aku tidak memperdulikannya lagi, kemudian masuk kembali ke lapang futsal.
...
Gerbang perumahan selabumi indah sudah terlihat, aku mengambil tas futsalku dari belakang.  Mobil terus maju lurus, tinggal beberapa meter lagi kami sampai.
Aku langsung keluar begitu mobil berhenti, dan berjalan menuju rumah kontrakanku.  Sudah hampir dua tahun aku menempati rumah ini.  Sebuah rumah yang mama sewa untukku selama kuliah di sukabumi.
“ma..” aku memanggil mama begitu membuka pintu, ia mungkin baru akan pulang jum’at sore esok, karena hari sabtunya ia ada acara di rumah sakit.
Sejak dua hari lalu, ketika aku baru keluar dari rumah sakit mama memutuskan untuk menemaniku selama beberapa hari di sini.
“baca salam bodoh..” kata mama keluar dari dapur.
“eh iya, assalamualaikum..” aku mencium tangan mama kemudian mencium jidatnya seperti biasa.
“waalaikumsalam..” ia balas mencium pipi kiri dan kananku. “dianterin siapa?” mata mama memandang ke arah di belakangku.
“assalamualaikum tan..” iras muncul di pintu.  Padahal aku sama sekali tidak mempersilahkannya masuk.
“waalaikumsalam, masuk ras..” mama berjalan menghampiri orang itu, aku sendiri berlalu ke dapur, mengintip apa yang sedang dimasak mama.
“belum pulang ke bandung tan...” iras menyalami mama, kemudian keduanya duduk di sofa ruang tamu.
“paling besok sore ras, syukurlah ada kamu, tante titip inu ya, dia masih kurang sehat..”
“halah kesenangan dia ma, mama pake nitipin inu segala..” aku menyahut dari dapur sambil mencicipi pie buatan mama.
“kamu emang enggak seneng gitu, halah ngaku..” mama memutar balikan fakta.  Dua orang di ruang tamu itu tertawa bersama-sama.
Ini salahnya, dari awal mereka memang sudah dekat. Bahkan sebelum mama berhasil menebak bahwa kami pacaran, iras sering datang main ke rumah dan merekapun jadi akrab.
Mama menyuruhku membawa pie buatannya ke ruang tamu untuk iras, aku menurutinya.  Sebagai tuan rumah yang baik memang harus menyuguhi orang yang datang bertamu.  Kemudian aku lari ke kamar, sudah hampir maghrib aku belum mandi dan tugas keperawatan medikal bedah sudah menungguku.  Aku tidak menghiraukan lagi kedua orang itu.
...
Aku mengambil tas, kemudian menggendongnya dan berjalan cepat – cepat menuju ruang makan.  Sudah ada mama di sana, menyiapkan sarapan untuk kami berdua.  Rencananya siang ini ia akan kembali ke bandung.
“mama jadi dijemput sopir kan?” kataku sambil duduk menghadap piring yang sudah berisi roti bakar.
“jadi, kamu mama tinggalin sendirian gak apa – apa kan?” mama balik bertanya.
“udah dua puluh kali mama nanyain itu dari malam,  mama santai aja lah, semuanya akan baik – baik saja, asal inu gak ketemu peyek udang kali ini..”
Mama tidak menanggapi, ia menaburkan madu pada roti panggangku. Madu selalu jadi pilihan mama, dibandingkan selai.  Selain menghindari glukosa, rasanya membuat cepat kenyang.
“eh malam altar ngeadd mama di facebook, terus mama confirm, eh dia langsung ngajak chating, nanyain kamu, tapi kamu udah tidur..”
“oh altar,  emang dia gak ada jadwal terbang gitu?”
“kaya nya gak ada, dia baik ya” mama menatap ke arahku “tapi kalau buat mama rankingnya masih jauh di bawah iras..”
Aku melihat ke arah mama, mama mulai membandingkan. Padahal ia baru bertemu iras lagi beberapa hari, sementara altar ia sudah mengenalnya sejak empat bulan yang lalu.
Sebuah mobil berhenti di depan rumah, aku melongok. Memang dari ruang makan ke ruang depan terlihat sangat jelas. Mobil iras, sejak kejadian malam itu dan beberapa hari ini mama ada di sini, ia pun sering muncul walau kadang sering kali aku abaikan.
“iras ya? Janjian mau jemput inu?”
Aku menggeleng. “inu bakal bawa motor..”
Mama nampak menghela nafas.
“iras berhak buat sekedar penjelasan nu, dia sangat berhak buat itu.  Apapun yang terjadi selalu butuh alasan. Bahkan menurut mama iras juga butuh kesempatan kedua, kalau papa masih ada pasti dia bakalan dapat itu dari mama.  Selalu ada kesempatan kedua buat orang yang kita sayang..”
Aku bangkit, kemudian mengambil kunci motor yang menggantung di dekat kulkas. Aku menghampiri mama, untuk mencium keningnya.
“sudahlah, iras bukan papa, kalau pun papa ada, papa gak bakalan ngelakuin hal kaya gitu, inu berangkat..”
“tapi keadaan jadi lebih baik kan dengan kembalinya iras?”
Aku bergegas meninggalkan mama dan keluar dari dalam rumah, di jalan depan rumah iras baru saja keluar dari dalam mobilnya.  Aku berjalan ke arah garasi, menuju motor besarku yang terparkir sendirian di sana.
Tanganku meraih helm yang ku letakan telungkup di badan si ninja. Aku bisa merasakan tatapan iras memperhatikanku.
Ia berjalan menghampiriku.
“hay, mama ada?”
Hah ternyata tujuannya untuk menemui mama.
“ada, masuk saja ke dalam..” balas ku dingin sambil mengenakan helm, kemudian menyalakan dan menancap kencang motorku.
..
Aku keluar dari kamar,  ini hari minggu dan aku baru bangun jam sepuluh pagi. Gara – gara ada suara mobil berhenti di depan rumah juga suara ketukan di pintu depan.  Cukup keras sampai aku mendengarnya padahal aku tidur di lantai dua.
Iras masih tidur di sofa ruang tamu, ia rupanya tidak bergeming sedikitpun dengan suara ketukan di pintu.  ternyata sifat bangke nya itu belum hilang juga. Semalam ia datang setelah indra mengajaknya kemari. 
Tadi malam ada pertandingan liga spanyol yang tidak bisa kami lewatkan, real Madrid melawan Barcelona.  Madrid menang kali ini.  Teman – temanku dari kampus datang.  Mereka tahu rumah ku bisa jadi tempat nonton bareng yang seru.
Iras dan indra datang ketika pertandingan memasuki babak kedua.  Karena ia sudah kenal dengan teman – temanku akhirnya ia ikut taruhan, ia kalah.  Dari dulu ia tetap penggemar berat Barcelona.  Karena kalah semalam ia mentraktir semua temanku dengan sepuluh boks pizza.
Ketika yang lain pulang, ia sudah lelap di atas sofa.  Tidak ada yang berinisiatif membangunkannya.  Tidak juga aku.  Keadaan ku, kepalaku yang mulai berputar – putar dan mata ngantukku membiarkannya tidur di sana sampai sekarang.
“hay..” kata sebuah suara begitu tanganku membuka pintu.
Ku lihat melman berdiri di sana.  Ia menengok sesekali ke dalam.
“hay man ada apa?” aku kaget, tanpa memberitahuku ia datang pagi ini.
“dari tadi aku telpon hp kamu tapi gak aktif, mau ikut futsal nanti sore?” alis mata melman naik “dengan teman – temanku dari polres..”
Aku menimbang sebentar.
“aku ikut ke mana?”
“boleh bawa teman – teman kamu..” kata melman lagi. “apa dia orang nya?”
Tatapan mata melman mengarah ke dalam rumah, aku ikut memperhatikan pandangannya tersebut.  Iras sudah bangun, ia kini duduk di sofa sambil memainkan hand phonenya.
Aku mengangguk pelan pelan pada melman.
“lucky guys..” kata melman sambil tersenyum. “sungguh sebuah ironi besar selama ini, kita bisa bersama seseorang yang bahkan di dalam pikirannya ada orang lain..”
“kamu mau bilang aku mirip sarden? Tubuh di dalam kaleng tapi kepala ada di laut?”
Aku mengumpamakan.
“aha tidak juga, thanks for your time, im glad.  Mau ya nanti futsal..”
Melman mengenakan topi polisinya kembali.  Seragamnya menunjukan ia baru saja mengawasi area car free day pagi ini.  Ini hari minggu dan pasti ia ditugaskan hanya untuk mengamankan car free day.
“oke, oya waktunya kapan?”
“jam tiga sore di Liverpool..” melman menyebutkan tempat futsal terkeren di sukabumi.  Ia tahu kalau di sana tempat futsal favoritku.
“sip..” kataku.
Melman kembali ke dalam mobilnya, ia menurunkan kaca mobilnya.  Setelah tersenyum dan mengangguk ia membawa mobilnya melaju dan meninggalkan pintu depan rumahku.
Aku kembali ke dalam rumah, aku sadar aku belum cuci muka dan gosok gigi.  Yang lainnya aku kelaparan.
“siapa dia..” kata sebuah suara dari ruang tamu.
Aku tidak segera menjawab.  Aku berdiri di depan tempat cuci piring di dapur, iras mengikuti ku.  Untunglah aku selalu menaruh sikat dan pasta gigi di sini dan aku pun bisa cuci muka menggunakan sabun pencuci piring.
Ketika selesai, iras masih berdiri di pintu dapur.  Rupanya ia menunggu jawabanku.
“mantan..” kataku tepat lima senti di depan wajah iras.
Aku tidak menunggu reaksi apapun dari iras, aku kembali ke kamar dan menghubungi satu persatu temanku.  Kami ada jadwal futsal penting sore ini.  Terdengar suara mobil dari garasi.  Mungkin iras sudah pergi.

Futsal selesai, kemenangan ada di pihakku. Pasukan bapak – bapak tua penghuni mapolres sukabumi itu kepayahan menghadapi serangan kami.  Bahkan aku lihat mereka mulai menyerah ketika memasuki babak kedua permainanku.
Teman – temanku mulai berpamitan satu persatu.  Padahal di luar hujan deras.  Ku lihat melman mendekat ke arahku.
“kamu bawa motor?” katanya.
Aku menggeleng sambil merapihkan sepatu dan handuk ku ke dalam tas futsalku.  Motorku masuk bengkel hari ini, tadi sewaktu menjemput teman – temanku mesinnya mati.  Daripada pusing sendiri aku menyuruh orang bengkel menjemputnya. Dan mobilku, aku sedang malas menggunakannya.
“aku antar pulang kalau begitu..”
Tanpa ku jawab aku mengikuti langkah – langkah melman menuju tempat parkir, ia membawa mobil Honda jazz metaliknya itu.  Mobil yang akrab dengan ku beberapa bulan ini.
Begitu duduk di dalam mobil aku melihat ke sudut lain tempat parkir.  Melman mulai menjalankan mobilnya dan kami pun keluar dari area parkir tempat futsal itu.  Namun mataku tetap di sudut lain.
Iras berlari ke arah tempat futsal.  Di tangannya ia menggenggam sebuah payung besar. Ia berhenti di depan salah seorang temanku, mereka tampak mengobrol sebentar sebelum akhirnya tatapan iras mengarah kepada mobil melman, kepadaku yang ada di dalamnya.
Ah..
Salahnya sendiri, kenapa tidak bilang mau menjemputku.

Baru jam delapan malam, di luar hujan masih turun.  Teman kuliahku tidak ada yang mengajak keluar atau mereka yang datang ke sini.  Malam ini tidak ada pertandingan bola.  Acara tv sangat membosankan.  Dan ku rasa malam lambat sekali berjalan.
Pikiranku masih berada di lahan parkir Liverpool tadi sore, saat pelan – pelan aku meninggalkan tempat tersebut dengan mobil melman dan mataku memperhatikan tatapan itu.  Kenapa hingga saat ini hal itu rasanya begitu menggangguku.
Mengapa rasanya seperti berbulan – bulan lalu, saat aku keluar tanpa minta ijin padanya, saat aku tidak mau menghabiskan makananku, saat lagi – lagi aku mengecewakannya.  Kenapa rasanya seperti itu.
Atau apa mungkin aku yang berekspetasi terlalu tinggi.  Bukankah keberadaannya beberapa hari ini hanya karena permintaan mama saja? Kenapa aku harus merasa bersalah begini?  Kenapa rasanya baru saja membuatnya kecewa.
Aku mencium lagi jersey Barcelona yang ku pakai, baju ini miliknya.  Hal yang sama yang ku lakukan selama tujuh bulan ini, apabila perasaan kangen itu muncul aku akan mengenakan apapun miliknya yang tersisa di sini.  Aku merindukannya kali ini.
Lalu ego ku menyalahkannya kali ini, kenapa ia tidak seperti dulu lagi.  Semua sikap posessifnya melarangku melakukan banyak hal mengingatkanku pada setiap hal yang mudah sekali akan aku langgar.  Kenapa ia tadi tidak menyuruhku turun dan ikut dengan mobilnya.
Apakah keadaan di antara kami belum membaik? Apakah karena kami masih putus?
Kita tidak benar – benar putus, kita hanya dipisahkan oleh satu kenangan pahit.
Mataku menatap layar hp, meilhat kontak atas nama nya.  Berkali – kali aku melihatnya kemudian menutupnya.  Melihatnya menutupnya lagi.  Ingin sekali rasanya mengundangnya ke sini mala mini, namun atas alasan apa dan kenapa dia harus ke sini.  Bukankah setiap malam juga ia datang sendiri tanpa perlu aku suruh.
Kenapa rasanya aku ingin sekali ia berada di sini. Walaupun kami tidak saling bicara, walaupun ia hanya diam di atas sofa namun aku tahu matanya mengintai semua gerak – gerikku.  Memperhatikan dalam cemasnya pada apapun yang ku lakukan.
Hp ku masukan ke dalam kantong celana kemudian tanganku meraih kunci mobil yang tergeletak di atas meja di sudut kamar.
Beberapa detik kemudian aku sudah membawa mobilku melaju di atas jalan yang masih licin karena hujan barusan.  Aku keluar dari perumahan tempat ku tinggal, belok kanan melaju hati – hati.
Aku tidak benar – benar tahu apa yang ku pikirkan namun mobil ku terus melaju hingga berada di atas jalan bayangkara.  Aku masuk ke salah satu jalan di kompleks brawijaya.   Di ujung jalan ini showroom miliknya.
Mobilku sudah berada di sebrang showroomnya.  Aku lihat juga mobilnya masih ada di tempat parkirnya.  Aku keluar dari dalam mobil kemudian menyebrang jalan.  Showroom nya masih buka.  Semakin aku berjalan mendekat, aku semakin bingung apa yang tengah aku lakukan.
Showroom ini sudah sepi, semua karyawan nya sudah pulang sepertinya.  Aku berdiri di tengah – tengah beberapa mobil, menatap kosong pada semua yang ada di depanku.  Tiba – tiba terdengar suara orang turun dari lantai atas. Ia muncul sambil membetulkan letak kacamatanya.
Beberapa detik kami hanya saling memandang tanpa mengeluarkan satupun suara.  Aku terus menatapnya, hingga ku putuskan untuk menghampirinya.
Begitu jarak kami sudah sangat dekat sekali, aku memeluknya.  Memeluknya.  Kedua tanganku mencengkram bahunya. Aku tidak berpikir apapun. Hanya ingin memeluknya saja, bahkan aku tidak mampu menjelaskan kepadanya kenapa aku harus melakukan ini.
Ku rasakan tangannya melingkar di pinggangku.  Inikah perasaan seorang buronan yang menyerah.  Inikah rasanya jujur pada perasaan sendiri.  Menjelaskan bahwa dengan memeluknya persoalan selesai.
“I miss you..” kataku pelan.
Kedua mataku masih belum mau terbuka.  Kepalaku masih menyandar di hangat bahunya. Sejujurnya aku ingin sekali meminta maaf padanya namun jauh ku pikirkan hendak meminta maaf untuk apa.
Aku melepaskan kedua tanganku.  Dengan tatapan canggung aku mundur beberapa langkah, berbalik arah meninggalkannya yang masih berdiri di tempatnya.
Tangannya menahanku, ia menggenggam kuat pergelangan tanganku.  Aku masih mencoba beranjak.  Namun ia terus menahanku.
Kini kedua tangannya yang memeluk ku dari belakang.  Ku rasakan aroma nafanya menyerbu seluruh permukaan leherku.
“seandainya inu tahu, selama ini, hampir setiap detik iras habiskan hanya untuk mengucapkan kalimat yang sama..”

17 : tak lekang oleh waktu

Mataku masih menari-nari pada lampu neon berwarna biru, yang menuliskan kata pemerintah kota bandung. Akhirnya aku kembali lagi ke kota ini.  Setelah hampir setengah tahun tidak pulang.  Kemarin,aku putuskan.  Ada beberapa bagian yang sangat aku rindukan darinya.

Ya, aku rindu pada beberapa hal dari kota ini.

“batagor nya habis, siomay aja ya..”

Aku tidak menjawab, dulu tidak ada kata tawar menawar seperti itu.  Semua yang aku inginkan pasti akan aku dapatkan. Saat ini bukannya aku tidak ingin memaksa, tapi rasanya beda.  Aku tidak bisa melakukan hal yang sama pada setiap orang.  Beberapa orang jadinya terasa sangat istimewa buatku.

“oke 99ers, buat kalian semua sebuah lagu yang mungkin akan mengantarkan kalian ke masa lalu...”

Masa lalu
Masa lalu, kapan? Beberapa tahun kebelakang? Beberapa bulan? Beberapa hari? Beberapa jam?  Mungkinkah sedetik lalupun bisa menjadi masalalu?

“bukalah mata hati..
“ku masih cumbui bayang dirimu di dalam mimpi
“yang mungkin takkan pernah
“membawamu digenggamku...”

Sebuah lagu di radio.  Aku seperti lautan dan langit yang tiba-tiba mendadak biru. Sebuah bayangan melintas, menyajikan beberapa episode yang terpaksa tayang ulang.  Karena aku merindukannya, menginginkan hal itu lagi. Dimana di setiap waktu, aku lah yang terpenting aku lah yang paling membuatnya khawatir.  Tidak sepertiini.  Hati, nomor ke berapa yang diinginkannya dariku.

Dia sudah kembali ke mobil, meletakan siomay yang dibelinya di sampingku, menyuruhku makan.  Mama saja tidak berani melakukan hal itu padaku.  Aku mengabaikannya.  Mataku sedang terbang, menyusuri langit malam bandung yang kali ini cemberut tanpa bintang.

“belok kiri..”  ucap mulutku, mobilpun belok kiri.

“ku coba memahami bimbangnya nurani...
“tuk pastikan semua
“tak akan ku ingkari, terlalu banyak cinta yang datang dan pergi
“namun tak pernah bisa, enyahkan mu dibenakku..”

Kenapa rasanya seperti buronan yang tidak pernah bisa lolos? Kenapa rasanya seperti terpaksa dideportasi bertahun-tahun namun tetap mencintai bangsa nya? Kenapa rasanya tidak pernahbisa menerima kenyataan.
Mobil berhenti, di depan pinturumah.  Aku tidak menyuruh mang mul membukakan pintu gerbang.  Walaupun dia sudah melihatku.

“bripda...” kataku, sambil tanganku menyentuh kunci pintu mobil. “besok tidak perlu ke sini lagi, kita putus...”
Aku keluar dari dalam mobil.  Berjalan menuju pintu kecil di samping gerbang besar rumahku.  Memberikan kode kepada mang mul untuk segera mengunci pintu dan melarangnya membukakkan pintu buat siapapun.

Polisi ke tiga yang mendekatiku selama tiga bulan ini.  Rasanya seperti petualangan yang tidak benar-benar serius. Aku merasa sesekali harus memiliki pacar seorang polisi agar ada yang menjagaku, memberikan rasa aman.  Tapi,mereka terlalu pandai mengatur lalu lintas. Sehingga aku bosan jika hanya mendengarkan larangan yang seperti bunyi sempritan saja.

Aku pacaran dengan pilot, mungkin dia bisa membuatku terbang ke langit ke tujuh. Tapi, pilot adalah profesi yang sering transit di banyak negara.  Hatiku bukan landasan pacu pesawat terbang.  Mungkin juga dengan memiliki pacar seorang dokter, sakitku akan sembuh. Tapi ini kenyataan yang paling tidak bisa terjadi.  Hatiku masih terus kena kanker selamabeberapa bulan ini.

Aku tidak bisa, pacaran dengan orangyang hanya ingin menyentuh isi celanaku saja, bukan menyentuh hatiku.  Kenapa aku tidak pacaran dengan celana dalamsaja? Atau mereka semua yang wajah nya seperti celana dalam.

Kaki ku berhenti di tengah-tengah halaman,  aku melihat ke sekeliling.  Pada ring basket di pinggir kolam renang.  Aku rindu, melihat sebuah senyuman yang terus menantangku bermain one by one sampai pagi di sana.

“dirimu di hatiku, tak lekang olehwaktu...” hatiku menyelesaikan lagu itu.
....
“kamu membuatku galau Nu, mana mungkin bisa seperti ini, could we talk..”
Mama membacakan sebuah pesan singkat di hpku, aku mengabaikannya.  Dan masih terus menikmati pie apel yang dibuat mama.
“larisnya anak mama, tapi sayang yang maunya laki-laki semua...”
“laki-laki aja udah pada suka, gimana lagi perempuan ma..” aku menolak argumen mama, agak tersinggung.
“enggak baik loh, matahin hati orang gitu aja, dzholim Nu..”
Aku menyipitkan mata, seperti mama tidak pernah melakukannya.  Dia janda tercantik di bandung yang terus menolak banyak pria, termasuk salah satu anggota DPR.
“mama engga gitu?”
“kalau mama kan, cintanya Cuma sama papa, mama enggak pernah bisa pindah ke lain hati Nu..” kata mama sambil memindahkan saluran ke televisi ke chanel yang lain.
“kok cinta bisa banget bikin mama gak ngerasa kesepian ya?”
“lah ada untungnya gitu mama galau seumur hidup, gak ada kan?”

Aku memperhatikan wanita superhero itu.  Di matanya, nyala cinta yang besar pada papa sekalipun tidak pernah padam, sering sekali aku menemukannya di ruang tengah sedang berbincang-bincang dengan foto papa, mengenaiku, saudara perempuanku, mengenai kerinduan mama atau hal-hal lain yang pernah terjadi dimasa lalu mereka.

“kalau boleh inu tau, apa yang membuat mama bertahan? Bisa saja kan Ma, cinta terputus begitu seseorang meninggal atau meninggalkan kita..”
“mungkin maksud pertanyaan kamu,kenapa mama tidak bunuh diri begitu papa meninggal, itu sangat mungkin nu buat wanita” mata mama mulai mengambang, dia mengapung ke masa lalu “tapi mama sadar, mama punya kamu, mama punya kak citra yang harus dihidupi, yang harus mama berikan kasih sayang,  sebagai wanita mama harus memperjuangkan hidup kalian..”
“bisa juga mama ngasih inu sama kak citra racun tikus, atau eutanasia sekalian..”
“hih kamu mah, bunuh dirinya murahan banget pake racun tikus..”
Aku tergelak. Mama selalu begitu. 
“dalam cinta, kita tidak akan perduli sejauh apapun seseorang meninggalkan kita, atau meninggal. Yang kita tahu hanya serangkaian cara yang tepat untuk menunggunya kembali” mama mengajakku membelah lautan di matanya “karena mama yakin, papa bukan meninggal atau meninggalkan kita, dia hanya pergi duluan, suatu saat mama, kamu, kak citra akan menyusulnya juga, dan kita bertemu lagi..”

“serangkaian cara yang tepat untukmenunggunya kembali ya ma..” aku mengucapkan itu, sambil sesuatu terasamelengos dari hatiku.
Mama mengangguk, senyumnya seperti menangkap sesuatu dari mataku.
“lagi kangen iras ya??”
Mama bertanya sambil tangannya menyentuh punggung tanganku, aku balas menatapnya.  Apakah mama bisa membaca segala hal tentang anaknya.
“mama masih mama kamu nu, jangan sesekali membodohi mama dengan mengatakan inu tidak pernah kangen iras, kalian sudah tumbuh sama-sama, mama tau rasanya tidak mudah kehilangan orang yang kita sayang begitu saja..”
Aku diam tertohok kata-kata mama,mungkinkah itu juga yang ingin dikatakan hatiku.  Mama menonton MTV.  Telingaku, mataku, setiap pancainderaku seperti sedang tertutup oleh sebuah kabut.
“mama lagi suka banget sama lagu kahitna yang ini nu..”  kami berdua menyaksikan kahitna bernyanyi.

“meskipun tak mungkin lagi tuk menjadi pasanganmu, namun ku yakini cinta, kau kekasih hati..”
...
Aku, hanya sinar yang melintas,sekedip.
Bagai kunang-kunang kecil
Dan engkau, sayap-sayap yang meranggas
Seusai, sekepak kau mengudara
Membawa hatiku semua...

Kita, ialah kata yang terlambat tercipta
Yang semestinya tak terjadi
Dan cinta, ialah rasa yang pertama dan terakhir
Tuk merangkum kerinduan, kepasrahan dan maafku...

Tuk semua yang terlambat ku lakukan
Tuk semua yang tak sanggup ku janjikan
Tuk semua....

Lama ku coba, memandang jejak kaki kita
Tanpa sesal, menerimamu tanpa aku mengerti
Indahnya arti hari ini, tanpa harapan tuk kembali...

Ke semua yang tak sempat ku ungkapkan
Ke semua yang tak tepat ku katakan
Yang tak usai ku jalani, yang tak ingin ku ingkari
Dan semua... dan semua... dan semua...
....
Aku memutar kembali lagu itu, sambil terus melanjutkan perjalananku.  Memecah satu-satu udara kotaku yang terasa sejuk di malam hari.  Beberapa cahaya lampu kota menari-nari di langitnya yang hitam, tertidur karena polusi dan udara-udara para pecinta seni yang tak pernah mati. 
Aku baru saja pulang dari pasar baru,membelikan oleh-oleh yang dipesan oleh teman-teman ku di kampus.  Beberapa souvenir dan buah tangan khas sikota kembang.  Besok aku kembali ke sukabumi. 

Ada beberapa hal dalam hidup yang tidak bisa kita hindari,  terutama sebuah kenangan.  Kita akan membiarkannya berlalu atau menjaganya agar tetap hidup, ketika begitu maka masa lalu rasanya tidak pernah bisa beranjak dari hidup kita atau kita yang tidak pernah bisa melepaskan tangan dari cengkraman mesin waktu itu.
Kita selalu berusaha mencari hati,agar tak kesepian.  Tapi menemukan sebuah hati yang tepat tidak semudah mama memasak muffin.  Ia bisa cepat memasak muffin karena terlalu sering membuatnya hingga itu cukup mudah buatnya.  Seharusnya begitu juga proses pencarian itu. 
Mencari yang baru, baru lagi, lagi atau kita sebenarnya sedang mencari barang kesayangan kita, kita lupa naruh di mana, sehingga kesulitan mencarinya. Cinta bukan barang.
Enam bulan, tiga orang dokter, yang satu bodoh, bahkan dia tidak tahu cara mendengarkan bunyi jantung dengan baik,yang dua lagi anak rumahan dan kutu buku. Satu orang pilot yang tidak bisa bahasa indonesia, yang semua menu makannya selama seminggu sudah ada di dalam kulkasnya. Tiga lagi, polisi-polisi pemalas yang tidak pernah benar-benar memiliki uang.
Buatku, merupakan hal memalukan membuang waktu hanya seminggu, tiga hari bahkan hanya beberapa jam dengan mereka.  Lebih baik menunggu, untuk orang yang tepat.
Untuk ia datang atau kembali.
Hp ku berdering, sebuah panggilanm asuk. Salah satu teman kampusku di sukabumi.
“hay Ndra, ada apa?” kataku sambil terus menyetir.
“iras udah ada lagi di sukabumi, kamu udah ketemu??”
...
Sejak awal, aku yakin.  Ini semua hanya masalah waktu, waktu yang memiliki jawaban atas segala pertanyaanku atau dia juga musuh bagi semua penantianku.