“jadi, ketika kamu berusaha memasukan selangnya ke dalam penis, tahan sebentar jika ada tekanan, kemudian lanjutkan lagi..” kata dosenku memberikan penjelasan atas pertanyaanku. Kemudian ia menutup kuliah kami sore ini.
Aku membereskan file dan kartu daftar hadirku ke dalam tas, teman-teman satu kelasku mulai berhamburan keluar menuju tempat parkir yang berjarak hanya tiga meter dari ruangan kelas kami. Beberapa orang teman meminta tumpangan untuk diantarkan ke tempat kost mereka yang memang tidak jauh dari sini. Aku mengiyakan.
Hari ini senin, 26 agustus, aku baru pulang dari bandung tadi pagi. Kebetulan hanya ada satu jadwal kuliah di sore hari hingga akupun memilih untuk pulang senin pagi dari rumah.
Menjelang akhir semester perkuliahan kami mulai terasa lenggang, beberapa mata kuliah materinya sudah hampir selesai. Sehingga jadwal kuliah kamipun sudah tidak terlalu padat. Tinggal bulan depan masuk lab saja dan berkutat dengan praktikum.
“Nu, lewat jalan bhayangkara ya, terus ke sudirman, ada perlu dulu di ATM..” kata fitri yang duduk di belakang. Aku mengangguk.
Di dalam mobil ada empat orang teman dekatku, kami biasa duduk berdekatan ketika sedang kuliah. Indra, fitri, ana, dan takdir. Yang lain, prioritasnya sama, akan berguna ketika ada tugas atau ketika akan futsal. Tim futsal di kelas cukup terkenal di kampus, kelas kami memiliki pemain-pemain yang berkualitas.
Sudah hampir satu semester ini kami selalu bersama kemana-mana, kebetulan mobilku juga senang jalan-jalan seperti pemiliknya.
Cuaca sore ini, sukabumi agak enak buat dipakai nyetir, aku menikmatinya, setiap deretan pohon bungur yang ditanam di sepanjang jalan bhayangkara dan arus kendaraan yang tidak terlalu ramai adalah dua hal yang aku favoritkan dari kota ini. Trotoarnya yang cukup lebar juga, cukup aman dan nyaman untuk dijadikan jogging track kalau hari minggu tiba.
“di depan Nu” kata fitri. Aku langsung merem mobilku. Tepat di depan rumah sakit assyifa, fitri kemudian berjalan keluar menuju ATM.
Aku melihat beberapa meter dari tempat mobilu berhenti berjejar bukee bunga ucapan selamat.
“Nissan buka showroom baru ya di sukabumi..” kata indra. Ia penyuka otomotif bahkan cita-citanya nanti membuka sebuah showroom mobil-mobil antik.
Aku tertarik pada ucapan indra, bukan karena showroom nissannya, tapi aku tahu siapa pemilik perusahaan mobil itu. Aku menghidupkan mobil lagi, jika benar feelingku maka aku akan bertemu dia hari ini.
Mobilku maju beberapa meter mengintip di balik deretan bukee bunga-bunga itu. Aku menunggu beberapa saat, mungkin akan ada orang yang keluar dari dalam showroom. Dia, orang yang beberapa kali datang dengan wajah tanpa dosa di mimpiku.
Pintu bagian belakang terbuka, fitri masuk ke dalam mobil.
“udah fit”
“udah, yok jalan..”
Mobil melaju, mungkin bukan waktunya untuk bisa menemuinya lagi.
...
Tempat makan seafood, indra dan yang lain mengajakku kemari. Sehabis mengerjakan makalah di kostan takdir di sriwijaya kami akhirnya memenuhi undangan teman kami ke sini. Riza sedang berulang tahun. Meskipun aku tidak makan seafood aku berusaha menghormati ketua angkatan kami itu, dan kini aku berada di tengah-tengah calon-calon perawat yang setengah gila.
Sepertinya bukan angkatan kami kalau tidak teriak-teriak dan membuat keributan di manapun, liverpool, tempat futsal langganan kami, semua pegawainya sudah mengenal reputasi tim futsal kami. Beberapa tempat makan juga, bahkan sudah memaklumi dan faham bahwa gerombolan kami memang tidak bisa diam.
Aku duduk di sebelah indra, ia memesan cumi bakar, aku hanya memesan es jeruk. Sehari ini aku tidak menemukan buah. Cukuplah mungkin es jeruk memenuhi kebutuhan vitaminku hari ini.
“jadi bener, showroom yang itu punyanya iras Nu?” tanya indra sambil membetulkan letak piring berisi cumi bakarnya.
Aku mengedikan bahu, tanda tidak tahu.
“udah lama ya, tuh orang gak ngajak kita senang-senang..”
Aku tersenyum, betul, sudah lama juga dia tidak datang. Sudah lama juga kami tidak bertemu.
“terus tahu kalau itu showroomnya dari mana?” tanya indra lagi.
“gak, kan dulu waktu masih di bandung seinget gue sih, pemilik perusahaan nissan tuh bapaknya iras, makanya gue kira showroom itu punya nya iras..”
“ooo gak mungkinlah kalau bapaknya pemilik gitu, masa anaknya Cuma dikasih showroom..”
Aku mengangguk, menyetujui pendapat indra. Betul juga, mana mungkin iras yang calon pewaris utamanya kok hanya dikasih showroom. Sebetulnya, permasalahannya bukan siapa pemilik showroomnya, hanya saja mungkin showroom itu bisa juga membawanya kemari.
“udah mau tujuh bulan ya Nu, tapi Inu udah banyak berubah, beda, kalau lihat tujuh bulan ke belakang, mana ada rifnu yang bisa ketawa-ketawa bahkan nongkrong gak jelas di tempat kaya gini” indra tersenyum mengejekku. “udah bukan rifnu yang semua orang kenal deehh..”
“masa inkubasi dra, now please welcome, Rifnu..” aku mengangkatkan gelas es jerukku. Yang kemudian di sambut indra dengan ikut mengangkat gelas jus jambunya kemudian kami bersulang sambil tertawa.
“okeh, hatur nuhun ka saderek pasien-pasien sadayana..” riza berdiri di tengah-tengah kami memberikan sambutan ulang tahunnya. Beberapa orang melemparinya dengan tisu karena menyebut kami pasien. “mugia, do’a ti sadayana ikhlas ayana, mangga nyanggaken bade mesen naon wae ge” riza memandangi kami satu persatu “eh aya pak rifnu, pak rinfu tos mesen naon atuh??”
Aku tersenyum, sudah jadi kebiasaan ketika praktek di rumah sakit kami memanggil bapak ke satu sama lain. Menirukan para perawat yang sudah senior di sana.
Aku mengangkat gelas es jeruk ku, menunjukannya pada riza.
“ah pak rifnu mah sok kitu, mesen atuh pak mesen..”
“gak usah makasih za, urang mah alergi seafood..”
“oh enya pak rifnu mah kan alerginya, pak rifnu tuang naon atuh..”
Aku menggeleng, tadi di kosan takdir aku makan banyak sekali martabak bangka yang dibeli indra, sehingga sekarang cukup kenyang.
Kemudian acarapun berlanjut, seorang gadis membawakan kue pada riza dengan beberapa lilinnya. Setelah itu, bisa ditebak terjadilah serentetan adegan-adegan romantis. Yang mendapat sorakan dari semua komunitas orang-orang setengah gila ini.
Aku berkumpul dengan beberapa orang teman, karjo, bintang, indra, takdir, dan jali baru saja ikut bergabung ia membawa satu toples peyek dari depan.
Tangan bintang menyerbunya dan mengambil beberapa, ia kemudian menghamburkannya di depan kami semua, sambil ngobrol, ngerokok dan banyak hal.
Karena keasyikan mengobrol, tadinya aku hanya memakan peyek kacang saja, tanpa sadar aku memakan dua peyek ikan teri dan satu potong lagi sudah hampir habis.
“ini teri ya?” aku menunjuk peyek yang masih berserakan di atas meja.
Bintang yang ku tanya langsung mengangguk diikuti tatapan tidak mengerti dari yang lain. Aku menarik lengan jaketku, mengecek, benar kulitku sudah mulai memerah dan agak membengkak. Gawatnya lagi, aku tidak membawa antihistamin dan obat inhalasi.
Aku mengangkat bajuku di bagian perutku benjolan lebar berwarna merah bermunculan, kemudian kini mulai terasa gatal. Teman-temanku mengerubungiku, aku berusaha tidak panik diantara teman-temanku yang nampak kebingungan.
Aku mulai merasakan udara mulai menipis, dan saluran pernafasanku mulai terasa menyempit. Kepalaku mulai terasa pening dan pandanganku kabur, aku sudah tidak dapat jelas melihat. Namun aku tahu kalau aku hampir saja jatuh dari kursi, tangan seseorang menyangga tubuhku dan memanggil-manggil namaku.
Mataku mencoba terbuka, aku berusaha sekuat tenaga untuk tetap sadar, diantara panas dan gatal yang mendera seluruh tubuhku.
Aku melihatnya, aku melihat dia, aku..
Tangan cekatannya membuka mulutku, kemudian ia memasukan udara melalui mulutnya. Sehingga aku mulai merasakan udara kembali ke dalam dadaku. Aku mencoba membuka mata lagi, terlalu lemah, namun aku tahu itu dia.
“Ras....”
Sebelum semuanya, akhirnya menjadi gelap.
...
Betul-betul menyebalkan, aku akhirnya terlentang di bangsal rumah sakit. Beberapa orang temanku masih berkeliaran dan menungguiku di luar ruangan. Mama dan apih sedang dalam perjalanan. Padahal aku sudah melarangnya, bandung-sukabumi bukan jarak yang dekat apalagi buat orang tua seperti mereka.
Menurut beberapa orang temanku, aku pingsan cukup lama sampai tiga puluh menit. Herannya mereka para calon perawat malah suda beranggapan aku sudah gawat dan mereka dengan sok tahunya meminta petugas rumah sakit untuk membawaku ke ICU.
Aku hanya tersenyum mendengarkan cerita mereka semua.
“ndra, tadi yang kasih RJP siapa? Mouth to mouth gitu sama gue?” pasti nanti akan jadi bahan candaan, gara-gara ada yang udah ngasih nafas buatan padaku. Walau hampir tidak sadar tapi aku tahu tadi ada yang menciumku dan memberikan nafas buatan.
“ntar Ko, kita panggil deh orangnya langsung..” aku menyuruh indra agak meninggikan bagian kepala tempat tidur sebelum ia pergi keluar.
Aku melihat sekeliling, handphone dan dompetku tergeletak di atas meja. Tanganku mengambil handphone, hanya beberapa panggilan tidak terjawab dari mama dan sms darinya yang sepertinya tidak bisa berhenti untuk cemas.
Pintu ruangan terbuka, seseorang masuk di sana.
“dasar, ngeyelnya gak ilang-ilang, tau alergi masih aja makan peyek..”
Aku mengangkat kepala, suara itu.
Lampu neon ruangan yang menyala begitu terang sudah menampakan wujudnya dengan begitu jelas, ia berjalan beberapa langkah sambil tersenyum cukup lebar. Tangannya membetulkan letak kacamatanya yang melorot.
Ia berdiri di samping tempat tidurku. Aku menatapnya, sebelum akhirnya membuang muka.
“dasar anak kecil..” katanya lagi.
Ia kini memasukan kedua tangannya ke dalam saku celananya. Rambut yang selalu rapi, tapi kini jersey bolanya berganti dengan kemeja putih bergaris-garis biru muda dengan celana baggy yang melancip ke bawah. Dengan ikat pinggang dan sepatu yang mengkilap.
Bahkan ia kini mau mengenakan jam tangan.
“hay.. apa kabar..” kata-kata culun yang keluar dari mulutku.
Ia menggelengkan kepala. “tidak pernah baik..” kata dia sambil tersenyum lagi.
“mau baik gimana, pasti sibuk terus kan?” balasku lagi “kuliahnya gimana? Sekarang udah mau beres kan?”
“sudahlah, jangan terlalu banyak bicara, udah saatnya orang sakit istirahat, tidur ya..” tiba-tiba kedua tangannya menarik selimut dan menutupi hampir sebagian tubuhku.
Aku tidak menjawab, ia sibuk merapihkan ruanganku sebelum akhirnya melangkah keluar. Mataku terus menatap bayangannya yang rasanya tidak mau pergi dari sini.
Mungkin ini, hadiah dari perdamaianku dengan waktu. Ia memberikan jawaban atas segalanya.
...
“kalau saja perawatannya bener, ngejamin kamu buat bisa sembuh lagi dalam dua hari, kita gak perlu pindah rumah sakit, atau sudah kita bawa kamu ke bandung langsung saja, apa-apaan perawatan kaya gini...” mama protes keras pada manajemen rumah sakit, ia mengeluhkan pelayanan perawatnya yang kurang ramah dan bahkan dengan gegabah memberikan aku ikan tongkol di menu sarapan pagi.
“maaf bu, tapi kami akan berusaha memperbaiki pelayanan di sini” manajer rumah sakit membungkuk-bungkuk di depan mama dan apih.
“puluhan tahun saya memimpin rumah sakit nasional, baru sekarang saya diledek sama rumah sakit swasta kaya begini, jelas-jelas cucu saya masuk ke sini karena alergi seafood ini malah ngasih makan tongkol, kalian mau membuat cucu saya mati..” apih sampai berkacak pinggang. Aku sebenarnya mulai agak rikuh dengan suasana ini. Padahal akupun tidak jadi memakan menu makanan tersebut, dan aku juga sudah sarapan barusan sama mama.
Tapi bersuara ketika mama dan apih duet maut bukanlah pilihan bagus, bisa-bisa aku yang ikut kena semprot juga.
Tiba-tiba pintu ruangan terbuka, beberapa orang tampak masuk lagi. Beberapa dari mereka sudah agak tua.
“maaf bapak, saya direktur dari rumah sakit ini, bagaimana kalau kita ngobrolnya di ruangan saya, kasihan yak pak nak rifnunya kalau kita bicara di sini..”
Apih menatap sebentar ke arahku dan mama yang duduk pada kursi di sebelahku. Ia kemudian mengangguk dan mengikuti rombongan direktur itu. Mama tidak ikut, ia mengambil lagi buah jeruk yang tadi sedang dikupasnya.
“ma, inu rasa kita gak perlu sampai kaya gini lah..”
“ehh gak bisa gitu nu, itu baru yang ketahuan aja, berarti pelayanan mereka ke pasien lain, yang tidak tahu yang tidak bisa menggunakan hak mereka dengan benar bisa lebih bobrok dari ini..” mama mengangsurkan satu potong jeruk padaku.
“tapi kan ma, sesama profesi harusnya saling ngertilah..”
“mama menuntut pelayanan yang sewajarnya kok, bukan yang benar-benar berkualitas, ini baru segini aja sampai direkturnya yang turun segala, dia gak tau kalau apih juga direktur rumah sakit..”
Aku diam, melanjutkan memakan jeruk dari tangan mama. Belum lagi nanti siang, semua saudara mama akan datang menjenguk. Bahkan eyang, yang usianya sudah lebih dari udzur akan datang ke sini.
“Nu, tisunya habis ya? Kamu juga harus minum susu yang banyak, dari sini supermarket deket kan?” mama memberikan potongan jeruk terakhirnya.
Aku mengangguk, sambil memintanya mengambilkan air minum.
Tiba-tiba pintu diketuk.
“silahkan masuk..” kata mama.
“siang tante..”
“heyy...” mama menunjuk ke arahnya. “iras? apakabar nak, sehat?” mama bangkit berdiri dan mendekat pada iras yang menghampirinya.
“assalamualaikum..” iras mencium tangan mama. Kemudian beralih mencium pipi kiri dan kanannya. “alhamdulilah sehat tante, tante sendiri gimana?”
“tante sehat ras, lama gak liat kamu, makin kurus ya kamu..” mama memperhatikan iras dari kepala hingga kaki dengan seksama. “ayo duduk..”
Mama mengajak iras untuk duduk di sofa yang melingkar di sudut lain ruangan.
“ahaha.. kuliahku makin padat terus sekarang udah ikut-ikutan sama papa, jadi ya kaya gini lah tante..”
“oohh pastilah, anak rajin, malem kamu yang nolongin inu, makasih yah, dari dulu sampai sekarang masih aja sama..” mama tersenyum cukup lebar.
“iras bawa ini tan, iras simpen dimana nih?” iras memberikan keranjang berisi buah-buahan pada mama.
“halah kamu ini..” tapi mama malah mengambilnya dan menyimpannya di atas meja. “eh kebetulan kamu ke sini, kamu temenin inu bentar ya, tante mau ke supermarket dulu..”
“supermarket tan? Biar iras aja deh yang ke supermarketnya..”
“anak baik..” mama mengelus kepala iras “gak apa-apa, biar tante saja, kamu temenin inu ngobrol saja ya, kayanya ada yang kangen, lama banget gak ngobrol..” mata mama berkedip ke arahku, aku mendelik sebal.
Beberapa detik kemudian, setelah merapihkan rambut dan bajunya ia keluar dari ruangan dengan membawa tasnya. Dasar mama.
...
Sampai beberapa detik setelah mama pergi, belum ada satupun di antara kami yang buka suara.
“gak sibuk ya? Sampai nyempetin ke sini segala..”
“showroomnya baru buka nu, jadi belum terlalu sibuk lah..”
“oohh SPB ya? Pasti belum ada yang beli jadi belum ada kerjaan..”
Ia tergelak beberap saat, kemudian berjalan menghampiriku.
“masih rifnu ku yang dahulu, yang ngeyel, yang ngomongnya plas plos, yang agak jutek dan kekanak-kanakan..” ia duduk di tepi tempat tidur.
“rifnuku?” aku menatapnya sebentar, kemudian membuang pandangan. “sayangnya, inu gak pernah bisa ngaku yang sebaliknya, keburu diambil orang..”
Ini bisa jadi membongkar jahitan lama, atau menantang untuk operasi ulang. Aku merasakan sebuah pandangan yang tidak sekalipun mencoba mengalihkannya dariku.
“diambil siapa?” ia mendekatkan tubuhnya beberapa centi. “ada yang ngambil, atau ada yang ngebiarin..”
“diambil masa lalu..” kataku kemudian.
Kini ia diam, sambil terus menatapku. “sudahlah, iras boleh minjem gitarnya?”
Aku tidak menyetujuinya, namun ia berjalan ke sudut ruangan dan mengambil gitar yang semalam ditinggalkan indra di sini, si pirang itu pasti lupa membawanya.
Iras duduk di atas sofa tempatnya tadi ngobrol dengan mama, ia mulai memetik gitar yang ada di pelukannya itu. Dengan melodi-melodinya yang cukup pelan. Iras tidak pernah bisa nyanyi, tapi aku tahu lagu ini.
Ku simpan masa demi masa tak mudah tuk terlupa
Saat kau masih di sisi hingga saat kau dengannya
Kadang ku menangis....
Bagian berikutnya aku pasti ikut menyanyi, ini lagu lama tapi dulu, sewaktu SMA lagu ini pernah populer lagi di sekolah, gara-gara satu-satunya band cewek menyanyikannya di acara prom kelas tiga.
Tataplah diriku di sini masih seperti yang dulu
Ku temui kau pun kembali tuk bersamaku lagi
Akupun mengerti..
Satu yang tak bisa lepas percayalah
Hanya kau yang mampu mencuri hatiku
Akupun tak mengerti
Satu yang bisa lepas
Bawalah kembali jiwa yang luka
Dan perasaan yang lemah ini...
Aku membiarkannya menyelesaikanya hingga akhir lagu, aku memutarkan tubuhku, menghindarinya, menghindari tatapannya yang mungkin bisa membuatku rindu.
“kamu tidak bisa pergi dan datang begitu saja ras...”
Tiba – tiba iras meletakan gitar di pangkuannya ke tempatnya semula. Aku mencoba memperhatikan acara tv yang nyala dari tadi namun tidak ada yang melihat.
“kenapa Nu?” iras duduk di sampingku di tempat tidur, kedua matanya berjalan pelan-pelan masuk ke dalam kedua bola mataku. “kenapa...”
“apanya yang kenapa?” aku memandangnya tak mengerti.
“kenapa semua ini terlihat begitu mudah buat inu, tapi tidak buat iras? Kita Cuma dipisahkan oleh waktu, tapi kenapa rasanya seakan tidak terjadi apa-apa diantara kita berdua..”
“kamu bicara apa..” aku berusaha mengalihkan topik, harusnya yang terjadi antara kami tidak perlu mendapatkan ruang lagi. “kamu, tidak perlu menatapku seperti itu..”
“bagaimana cara menatapku yang tidak kamu suka?” iras menyerang balik.
“kamu, berbeda..” kataku berikutnya.
“ya kita berbeda, iras tau saat kita bertemu lagi kita sudah pasti jadi dua orang yang berbeda..” ia tampak menghela nafas “entahlah...”
Kemudian iras mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan. Sebelum ia menatapku lagi.
“iras tidak tahu kenapa iras harus ke sini, membawa semua bingkisan ini, kita bertemu dan bicara seperti ini, tanpa menganggap bahwa sesuatu pernah terjadi diantara kita. Tanpa ada seseorang yang mulai membicarakan..”
“membicarakan apa? Kamu pengen inu ngomong apa?” aku menatap telak matanya.
“kenapa tidak pernah menghubungi iras? Kenapa tidak sekali saja berusaha menelpon iras?” wajah iras menunjukan riak yang menyebutkan bahwa ia memiliki rindu itu juga.
“kenapa? Apa iras tidak berhak mendapatkan penjelasan? Apakah iras tidak pernah diampuni.. kenapa iras tidak diberi kesempatan untuk merubah pikiran inu? Yang diam, pergi tanpa perduli kaya gimana hancur nya iras.. apakah inu tidak merasa berhutang penjelasan pada iras?”
Aku membiarkan pertanyaan iras menggantung ke udara. Tanpa berusaha memberikan respon terhadapnya.
“inu tidak bisa ras..” aku menggeleng sambil memperhatikan titik kecil di baju tidurku.
“kenapa? Kenapa tidak bisa?”
“inu tidak bisa ras..”
“iya kenapa tidak bisa? Kenapa tidak pernah memberikan penjelasan apapun? Inu tidak pernah memikirkan perasaan iras saat inu memilih menyerah dan...”
“inu gak bisa ras..” suara ku meninggi.
“gak bisa? Memberikan sekedar penjelasan kenapa kita harus menjauh..”
“ya inu gak bisa, karena hanya dengan mendengar suara iras saja, inu pasti berubah pikiran..” suaraku yang lumayan bernada tinggi akhirnya menghentikan iras. Air mata mulai mengambang di permukaan kedua matanya.
Ia gelagapan hendak berkata-kata.
“jangan pikir iras saja yang terluka, buat inu waktu itu tidak mudah menerima kenyataan bahwa iras bisa saja jadi milik orang lain, melihat iras di tengah-tengah pesta pertunangan iras sendiri, itu merupakan luka yang tidak bisa sembuh dalam waktu yang sebentar, menghubungi iras hanya akan menambah parah luka tersebut..”
Iras tiba-tiba bangkit dan berjalan menjauh beberapa langkah.
“itukah yang ingin iras dengar? Datang jauh-jauh ke sini hanya untuk mendengar hal itu saja? Apakah iras tidak tahu kalau inu juga mengalami hari-hari yang buruk tanpa ada iras di sana, apa kamu pikir semuanya gampang? Menjalani hidup tanpa ada kamu di sana? Apakah kamu tidak berpikir bahwa yang ku jalani hanya deretan hari-hari yang buruk tanpa ada kamu...”
Tiba – tiba pintu terbuka, muncul wajah mama di sana. Ia menatap tak mengerti ke arah kami berdua.
“Ras.. Inu.. ada apa ini?”
Kami berdua gelagapan, tidak tau harus bicara apa, aku juga masih terbawa emosi. Namun kemudian iras mencium mama, ia pamitan lalu pergi meninggalkan kami berdua.
Sesaat setelah iras keluar, mama menatap ke arahku. Mama mungkin melihat air mata yang jatuh pelan dari sudut mataku. Hingga akhirnya ia menghampiri dan memeluk tubuhku.
“bukankah harusnya terasa lebih baik, karena iras sudah kembali?”
...
“woii Nu..” jali berteriak sambil mengover bola kepadaku. Bola menggelinding, kaki ku dengan cepat menangkapnya, kemudian menggiringnya pelan, sambil mengelak dari serangan tubuh takdir dan bintang.
Aku berhasil mengecoh keduanya, dan melewati mereka berdua. Gawang tinggal beberapa meter lagi, di sana tubuh tambun soleh sedang bersiap menghadangku. Posisiku sudah lurus dari lobang gawang, sulit sekali mendapat kesempatan seperti ini.
“bismilahirahmaniraahim..” aku menendang bola keras.
“gooooooollllll....” teriak tim ku. aku berlari ke sudut lapangan, dikerubuti tubuh jali dan reza juga anggota tim ku yang lain. Kami merayakan selebrasi gol ku dengan joged iwak peyek.
Baru setengah pertandingan, gara-gara tadi tidak pemanasan dulu aku sudah ngos-ngosan. Aku meminta yogi menggantikanku, ia langsung masuk ke jaring lapang futsal dan aku sendiri keluar lapangan.
Aku menjatuhkan tubuhku di lantai, di antara tas dan sepatu teman-temanku yang berserakan. Beberapa di antaranya mengeluarkan aroma yang tidak sedap. Bajuku tergulung ke atas, dan memperlihatkan perutku yang tidak sixpack-sixpack amat. Keringat bercucuruan. Aku masih berusaha mengatur nafasku, sambil terus memperhatikan teman-temanku yang masih asyik bermain.
“ini..” seseorang menyandarkan handuk dan sebotol pocari sweat.
Aku menatap wajah pemilik tangan tersebut, kemeja dan celana baggynya menunjukan dia tidak datang ke sini untuk main futsal.
Aku menerima handuk dan pocari sweat darinya. Kemudian menelungkupkan handuk tersebut ke kepalaku, untuk mengeringkan keringat sambil membuka pocari sweat tersebut.
“makin pinter aja main futsalnya, barusan gol nya keren..” katanya sambil duduk pada bangku tempatku bersandar.
“ngeledek apa lagi ngegombal..” aku meminum beberapa teguk air pocari sweat di tanganku.
“ngegombal lah..” jawabnya jelas. “sini iras bantuin ngusapin keringatnya..” tangannya menggerakan handulk di kepalaku, mengeringkan keringat di rambutku. “emhh bau acem..”
“gak usah becanda deh, yang harum ya cowok yang mau kondangan lah gak mungkin orang yang lagi main futsal..”
“hahaha... temen inu yang itu keren deh..” ia menunjuk jali yang sedang menggiring bola ke arah gawang.
“dia normal tuan, silahkan paling nanti anda diulek habis-habisan..” aku meneguk kembali pocari sweat di tanganku, sambil bersiap kembali ke lapang.
“hahaha..” iras ketawa lagi. “gak bawa mobil, kan? Nanti iras anterin, iras bakalan nungguin di sini sampai inu selesai..” katanya sambil tersenyum.
Aku melemparkan handuk di kepalaku kepadanya lagi, kemudian botol pocari sweatnya menyusul. Aku tidak memperdulikannya lagi, kemudian masuk kembali ke lapang futsal.
...
Gerbang perumahan selabumi indah sudah terlihat, aku mengambil tas futsalku dari belakang. Mobil terus maju lurus, tinggal beberapa meter lagi kami sampai.
Aku langsung keluar begitu mobil berhenti, dan berjalan menuju rumah kontrakanku. Sudah hampir dua tahun aku menempati rumah ini. Sebuah rumah yang mama sewa untukku selama kuliah di sukabumi.
“ma..” aku memanggil mama begitu membuka pintu, ia mungkin baru akan pulang jum’at sore esok, karena hari sabtunya ia ada acara di rumah sakit.
Sejak dua hari lalu, ketika aku baru keluar dari rumah sakit mama memutuskan untuk menemaniku selama beberapa hari di sini.
“baca salam bodoh..” kata mama keluar dari dapur.
“eh iya, assalamualaikum..” aku mencium tangan mama kemudian mencium jidatnya seperti biasa.
“waalaikumsalam..” ia balas mencium pipi kiri dan kananku. “dianterin siapa?” mata mama memandang ke arah di belakangku.
“assalamualaikum tan..” iras muncul di pintu. Padahal aku sama sekali tidak mempersilahkannya masuk.
“waalaikumsalam, masuk ras..” mama berjalan menghampiri orang itu, aku sendiri berlalu ke dapur, mengintip apa yang sedang dimasak mama.
“belum pulang ke bandung tan...” iras menyalami mama, kemudian keduanya duduk di sofa ruang tamu.
“paling besok sore ras, syukurlah ada kamu, tante titip inu ya, dia masih kurang sehat..”
“halah kesenangan dia ma, mama pake nitipin inu segala..” aku menyahut dari dapur sambil mencicipi pie buatan mama.
“kamu emang enggak seneng gitu, halah ngaku..” mama memutar balikan fakta. Dua orang di ruang tamu itu tertawa bersama-sama.
Ini salahnya, dari awal mereka memang sudah dekat. Bahkan sebelum mama berhasil menebak bahwa kami pacaran, iras sering datang main ke rumah dan merekapun jadi akrab.
Mama menyuruhku membawa pie buatannya ke ruang tamu untuk iras, aku menurutinya. Sebagai tuan rumah yang baik memang harus menyuguhi orang yang datang bertamu. Kemudian aku lari ke kamar, sudah hampir maghrib aku belum mandi dan tugas keperawatan medikal bedah sudah menungguku. Aku tidak menghiraukan lagi kedua orang itu.
...
Aku mengambil tas, kemudian menggendongnya dan berjalan cepat – cepat menuju ruang makan. Sudah ada mama di sana, menyiapkan sarapan untuk kami berdua. Rencananya siang ini ia akan kembali ke bandung.
“mama jadi dijemput sopir kan?” kataku sambil duduk menghadap piring yang sudah berisi roti bakar.
“jadi, kamu mama tinggalin sendirian gak apa – apa kan?” mama balik bertanya.
“udah dua puluh kali mama nanyain itu dari malam, mama santai aja lah, semuanya akan baik – baik saja, asal inu gak ketemu peyek udang kali ini..”
Mama tidak menanggapi, ia menaburkan madu pada roti panggangku. Madu selalu jadi pilihan mama, dibandingkan selai. Selain menghindari glukosa, rasanya membuat cepat kenyang.
“eh malam altar ngeadd mama di facebook, terus mama confirm, eh dia langsung ngajak chating, nanyain kamu, tapi kamu udah tidur..”
“oh altar, emang dia gak ada jadwal terbang gitu?”
“kaya nya gak ada, dia baik ya” mama menatap ke arahku “tapi kalau buat mama rankingnya masih jauh di bawah iras..”
Aku melihat ke arah mama, mama mulai membandingkan. Padahal ia baru bertemu iras lagi beberapa hari, sementara altar ia sudah mengenalnya sejak empat bulan yang lalu.
Sebuah mobil berhenti di depan rumah, aku melongok. Memang dari ruang makan ke ruang depan terlihat sangat jelas. Mobil iras, sejak kejadian malam itu dan beberapa hari ini mama ada di sini, ia pun sering muncul walau kadang sering kali aku abaikan.
“iras ya? Janjian mau jemput inu?”
Aku menggeleng. “inu bakal bawa motor..”
Mama nampak menghela nafas.
“iras berhak buat sekedar penjelasan nu, dia sangat berhak buat itu. Apapun yang terjadi selalu butuh alasan. Bahkan menurut mama iras juga butuh kesempatan kedua, kalau papa masih ada pasti dia bakalan dapat itu dari mama. Selalu ada kesempatan kedua buat orang yang kita sayang..”
Aku bangkit, kemudian mengambil kunci motor yang menggantung di dekat kulkas. Aku menghampiri mama, untuk mencium keningnya.
“sudahlah, iras bukan papa, kalau pun papa ada, papa gak bakalan ngelakuin hal kaya gitu, inu berangkat..”
“tapi keadaan jadi lebih baik kan dengan kembalinya iras?”
Aku bergegas meninggalkan mama dan keluar dari dalam rumah, di jalan depan rumah iras baru saja keluar dari dalam mobilnya. Aku berjalan ke arah garasi, menuju motor besarku yang terparkir sendirian di sana.
Tanganku meraih helm yang ku letakan telungkup di badan si ninja. Aku bisa merasakan tatapan iras memperhatikanku.
Ia berjalan menghampiriku.
“hay, mama ada?”
Hah ternyata tujuannya untuk menemui mama.
“ada, masuk saja ke dalam..” balas ku dingin sambil mengenakan helm, kemudian menyalakan dan menancap kencang motorku.
..
Aku keluar dari kamar, ini hari minggu dan aku baru bangun jam sepuluh pagi. Gara – gara ada suara mobil berhenti di depan rumah juga suara ketukan di pintu depan. Cukup keras sampai aku mendengarnya padahal aku tidur di lantai dua.
Iras masih tidur di sofa ruang tamu, ia rupanya tidak bergeming sedikitpun dengan suara ketukan di pintu. ternyata sifat bangke nya itu belum hilang juga. Semalam ia datang setelah indra mengajaknya kemari.
Tadi malam ada pertandingan liga spanyol yang tidak bisa kami lewatkan, real Madrid melawan Barcelona. Madrid menang kali ini. Teman – temanku dari kampus datang. Mereka tahu rumah ku bisa jadi tempat nonton bareng yang seru.
Iras dan indra datang ketika pertandingan memasuki babak kedua. Karena ia sudah kenal dengan teman – temanku akhirnya ia ikut taruhan, ia kalah. Dari dulu ia tetap penggemar berat Barcelona. Karena kalah semalam ia mentraktir semua temanku dengan sepuluh boks pizza.
Ketika yang lain pulang, ia sudah lelap di atas sofa. Tidak ada yang berinisiatif membangunkannya. Tidak juga aku. Keadaan ku, kepalaku yang mulai berputar – putar dan mata ngantukku membiarkannya tidur di sana sampai sekarang.
“hay..” kata sebuah suara begitu tanganku membuka pintu.
Ku lihat melman berdiri di sana. Ia menengok sesekali ke dalam.
“hay man ada apa?” aku kaget, tanpa memberitahuku ia datang pagi ini.
“dari tadi aku telpon hp kamu tapi gak aktif, mau ikut futsal nanti sore?” alis mata melman naik “dengan teman – temanku dari polres..”
Aku menimbang sebentar.
“aku ikut ke mana?”
“boleh bawa teman – teman kamu..” kata melman lagi. “apa dia orang nya?”
Tatapan mata melman mengarah ke dalam rumah, aku ikut memperhatikan pandangannya tersebut. Iras sudah bangun, ia kini duduk di sofa sambil memainkan hand phonenya.
Aku mengangguk pelan pelan pada melman.
“lucky guys..” kata melman sambil tersenyum. “sungguh sebuah ironi besar selama ini, kita bisa bersama seseorang yang bahkan di dalam pikirannya ada orang lain..”
“kamu mau bilang aku mirip sarden? Tubuh di dalam kaleng tapi kepala ada di laut?”
Aku mengumpamakan.
“aha tidak juga, thanks for your time, im glad. Mau ya nanti futsal..”
Melman mengenakan topi polisinya kembali. Seragamnya menunjukan ia baru saja mengawasi area car free day pagi ini. Ini hari minggu dan pasti ia ditugaskan hanya untuk mengamankan car free day.
“oke, oya waktunya kapan?”
“jam tiga sore di Liverpool..” melman menyebutkan tempat futsal terkeren di sukabumi. Ia tahu kalau di sana tempat futsal favoritku.
“sip..” kataku.
Melman kembali ke dalam mobilnya, ia menurunkan kaca mobilnya. Setelah tersenyum dan mengangguk ia membawa mobilnya melaju dan meninggalkan pintu depan rumahku.
Aku kembali ke dalam rumah, aku sadar aku belum cuci muka dan gosok gigi. Yang lainnya aku kelaparan.
“siapa dia..” kata sebuah suara dari ruang tamu.
Aku tidak segera menjawab. Aku berdiri di depan tempat cuci piring di dapur, iras mengikuti ku. Untunglah aku selalu menaruh sikat dan pasta gigi di sini dan aku pun bisa cuci muka menggunakan sabun pencuci piring.
Ketika selesai, iras masih berdiri di pintu dapur. Rupanya ia menunggu jawabanku.
“mantan..” kataku tepat lima senti di depan wajah iras.
Aku tidak menunggu reaksi apapun dari iras, aku kembali ke kamar dan menghubungi satu persatu temanku. Kami ada jadwal futsal penting sore ini. Terdengar suara mobil dari garasi. Mungkin iras sudah pergi.
…
Futsal selesai, kemenangan ada di pihakku. Pasukan bapak – bapak tua penghuni mapolres sukabumi itu kepayahan menghadapi serangan kami. Bahkan aku lihat mereka mulai menyerah ketika memasuki babak kedua permainanku.
Teman – temanku mulai berpamitan satu persatu. Padahal di luar hujan deras. Ku lihat melman mendekat ke arahku.
“kamu bawa motor?” katanya.
Aku menggeleng sambil merapihkan sepatu dan handuk ku ke dalam tas futsalku. Motorku masuk bengkel hari ini, tadi sewaktu menjemput teman – temanku mesinnya mati. Daripada pusing sendiri aku menyuruh orang bengkel menjemputnya. Dan mobilku, aku sedang malas menggunakannya.
“aku antar pulang kalau begitu..”
Tanpa ku jawab aku mengikuti langkah – langkah melman menuju tempat parkir, ia membawa mobil Honda jazz metaliknya itu. Mobil yang akrab dengan ku beberapa bulan ini.
Begitu duduk di dalam mobil aku melihat ke sudut lain tempat parkir. Melman mulai menjalankan mobilnya dan kami pun keluar dari area parkir tempat futsal itu. Namun mataku tetap di sudut lain.
Iras berlari ke arah tempat futsal. Di tangannya ia menggenggam sebuah payung besar. Ia berhenti di depan salah seorang temanku, mereka tampak mengobrol sebentar sebelum akhirnya tatapan iras mengarah kepada mobil melman, kepadaku yang ada di dalamnya.
Ah..
Salahnya sendiri, kenapa tidak bilang mau menjemputku.
…
Baru jam delapan malam, di luar hujan masih turun. Teman kuliahku tidak ada yang mengajak keluar atau mereka yang datang ke sini. Malam ini tidak ada pertandingan bola. Acara tv sangat membosankan. Dan ku rasa malam lambat sekali berjalan.
Pikiranku masih berada di lahan parkir Liverpool tadi sore, saat pelan – pelan aku meninggalkan tempat tersebut dengan mobil melman dan mataku memperhatikan tatapan itu. Kenapa hingga saat ini hal itu rasanya begitu menggangguku.
Mengapa rasanya seperti berbulan – bulan lalu, saat aku keluar tanpa minta ijin padanya, saat aku tidak mau menghabiskan makananku, saat lagi – lagi aku mengecewakannya. Kenapa rasanya seperti itu.
Atau apa mungkin aku yang berekspetasi terlalu tinggi. Bukankah keberadaannya beberapa hari ini hanya karena permintaan mama saja? Kenapa aku harus merasa bersalah begini? Kenapa rasanya baru saja membuatnya kecewa.
Aku mencium lagi jersey Barcelona yang ku pakai, baju ini miliknya. Hal yang sama yang ku lakukan selama tujuh bulan ini, apabila perasaan kangen itu muncul aku akan mengenakan apapun miliknya yang tersisa di sini. Aku merindukannya kali ini.
Lalu ego ku menyalahkannya kali ini, kenapa ia tidak seperti dulu lagi. Semua sikap posessifnya melarangku melakukan banyak hal mengingatkanku pada setiap hal yang mudah sekali akan aku langgar. Kenapa ia tadi tidak menyuruhku turun dan ikut dengan mobilnya.
Apakah keadaan di antara kami belum membaik? Apakah karena kami masih putus?
Kita tidak benar – benar putus, kita hanya dipisahkan oleh satu kenangan pahit.
Mataku menatap layar hp, meilhat kontak atas nama nya. Berkali – kali aku melihatnya kemudian menutupnya. Melihatnya menutupnya lagi. Ingin sekali rasanya mengundangnya ke sini mala mini, namun atas alasan apa dan kenapa dia harus ke sini. Bukankah setiap malam juga ia datang sendiri tanpa perlu aku suruh.
Kenapa rasanya aku ingin sekali ia berada di sini. Walaupun kami tidak saling bicara, walaupun ia hanya diam di atas sofa namun aku tahu matanya mengintai semua gerak – gerikku. Memperhatikan dalam cemasnya pada apapun yang ku lakukan.
Hp ku masukan ke dalam kantong celana kemudian tanganku meraih kunci mobil yang tergeletak di atas meja di sudut kamar.
Beberapa detik kemudian aku sudah membawa mobilku melaju di atas jalan yang masih licin karena hujan barusan. Aku keluar dari perumahan tempat ku tinggal, belok kanan melaju hati – hati.
Aku tidak benar – benar tahu apa yang ku pikirkan namun mobil ku terus melaju hingga berada di atas jalan bayangkara. Aku masuk ke salah satu jalan di kompleks brawijaya. Di ujung jalan ini showroom miliknya.
Mobilku sudah berada di sebrang showroomnya. Aku lihat juga mobilnya masih ada di tempat parkirnya. Aku keluar dari dalam mobil kemudian menyebrang jalan. Showroom nya masih buka. Semakin aku berjalan mendekat, aku semakin bingung apa yang tengah aku lakukan.
Showroom ini sudah sepi, semua karyawan nya sudah pulang sepertinya. Aku berdiri di tengah – tengah beberapa mobil, menatap kosong pada semua yang ada di depanku. Tiba – tiba terdengar suara orang turun dari lantai atas. Ia muncul sambil membetulkan letak kacamatanya.
Beberapa detik kami hanya saling memandang tanpa mengeluarkan satupun suara. Aku terus menatapnya, hingga ku putuskan untuk menghampirinya.
Begitu jarak kami sudah sangat dekat sekali, aku memeluknya. Memeluknya. Kedua tanganku mencengkram bahunya. Aku tidak berpikir apapun. Hanya ingin memeluknya saja, bahkan aku tidak mampu menjelaskan kepadanya kenapa aku harus melakukan ini.
Ku rasakan tangannya melingkar di pinggangku. Inikah perasaan seorang buronan yang menyerah. Inikah rasanya jujur pada perasaan sendiri. Menjelaskan bahwa dengan memeluknya persoalan selesai.
“I miss you..” kataku pelan.
Kedua mataku masih belum mau terbuka. Kepalaku masih menyandar di hangat bahunya. Sejujurnya aku ingin sekali meminta maaf padanya namun jauh ku pikirkan hendak meminta maaf untuk apa.
Aku melepaskan kedua tanganku. Dengan tatapan canggung aku mundur beberapa langkah, berbalik arah meninggalkannya yang masih berdiri di tempatnya.
Tangannya menahanku, ia menggenggam kuat pergelangan tanganku. Aku masih mencoba beranjak. Namun ia terus menahanku.
Kini kedua tangannya yang memeluk ku dari belakang. Ku rasakan aroma nafanya menyerbu seluruh permukaan leherku.
“seandainya inu tahu, selama ini, hampir setiap detik iras habiskan hanya untuk mengucapkan kalimat yang sama..”
…
Tidak ada komentar:
Posting Komentar