Minggu, 28 Juli 2013

19 : Cul De Sac

Aku berlari-lari kecil memutar arah, agar tubuhku dapat terhindar dari air yang masih pelan-pelan turun dari langit.  Sudah sejak siang mula hujan turun, dan mereka masih belum berhenti sampai saat ini. suasana dingin ini menambah pekat malam yang terus berjalan. Aku terus melangkah...
Warna hijau cat pintunya sudah terlihat.  Semoga saja dia belum tidur.  Aku semakin mempercepat langkahku dan menarik celanaku sampai sebatas lutut.  Ini kan pakaian tidur, jadi tidak mungkin ku biarkan kotor.
Maaf, jika waktuku telah lewat untuk merindukanmu.
Mungkin kedua kakiku bisa saja terus melangkah, tapi ingatanku sedang berenang ke beberapa puluh jam yang lalu. Saat hujan yang sama seperti ini, aku meninggalkan kamu.  Di bawah sebuah payung, yang kamu tujukan untuk menyambutku pulang agar tidak kebasahan, aku malah lari dengan orang lain. 
Tapi bagiku.  Tidak ada hari yang pernah bisa sebaik saat kita bersama.  Dan hujan sore tadi menyadarkanku, betapa kamulah yang selama ini tak pernah berhenti untuk memberikan semuanya.
Bahkan aku sudah tahu, kalau caraku menghindar beberapa waktu lalu itu salah.  Semenjak saat itu aku belajar, bahwa cinta dan rindu itu tidak selalu membahagiakan.   Namun aku sadar, tak ada yang sebaik kamu dalam hal mencintaiku. Aku berusaha mencari dalam keramaian, saat memejamkan mata dan telinga yang terdengar hanya suara kamu, dan rekaman semua kenangan indah yang terus melambaikan tanganya padaku.
“kamu lagi sibuk apa sekarang?? Kuliah kamu engga ada yang ketinggalan, kan??” kata kamu tadi sore sambil melihat-lihat seisi tasku.
Aku hanya menggeleng pelan sambil menikmati bakpau hangat yang kamu bawa itu.
Aku masih larut dengan bakpau hangat itu, kemudian mata kamu memperhatikan, tiga detik kemudian tangan kamu mengambilnya.
“ngambilnya kecil-kecil aja coba, kamu kan paling males ngunyah, ga kasihan sama lambung kamu bodoh??” kamu memilin-milin bakpau tersebut hingga ukurannya menjadi lebih kecil.  Dan satu persatu memasukannya ke dalam mulutku.
“kenapa kamu masih mau peduli sama aku, jelek..” aku mencoba meraih minuman soda yang ada di samping tubuh kamu.
Plak.  Tangannya memukul punggung tangan ku pelan.  Pasti karena minuman soda itu dingin, dan dia takut aku menggigil apabila meminumnya dalam kondisi hujan seperti ini.
“apakah dalam hidup kamu setiap tindakan harus ada alasanya? Termasuk yang aku lakukan sekarang??” tangannya menyodorkan lagi bakpau-bakpau itu.
Aku menatap ke arah lain.  Sambil mengunyah pelan roti china itu.  kemudian pelan-pelan menangkap tangannya.  Bukan apa-apa, aku hanya kedinginan saja.
...
Aku berdiri di muka pintu kostan nya, setelah mengetuk tiga kali aku menunggunya membuka pintu.  Biasanya ini tidak memerlukan waktu lebih dari setengah menit, dari suara musik yang mengalun di dalam jam seginipun dia pasti belum tidur.
Aku menengok sebentar ke jendela, sudah dapat ku kira, dia sedang berjalan keluar dari kamarnya. Bunyi ‘ckrek ckrek’ dipintu pertanda dia sedang membuka kuncinya, aku tidak sabar melihat wajahnya yang selalu hangat itu.
“Nu..” katanya tiba-tiba.
Aku melangkah masuk, seperti biasanya.  Dulu juga selalu begitu, tapi dia sudah lari duluan ke belakang.   Aku menatap ke sekeliling, masih tempat yang sama yang setiap malam ku datangi tujuh bulan yang lalu. Ah dia memang si rajin yang selalu rapih, semua barang tersimpan di tempatnya dan tidak pernah sekalipun dibiarkan berantakan.
Aku menengok ke kamar, laptopnya menyala mengalunkan nada-nada klasik kesukaanya.  Beberapa lembar buku berserakan, dan di samping tempat tidurnya mengepul kopi mocca yang nampak sudah dingin.
Dia muncul kembali di pintu, tanpa aba-aba apapun dia langsung menelungkupkan handuk ditangannya pada rambutku.  Ia mengucek-ngucek sebentar, kemudian melihatnya.
“kamu bisa sakit kepala bodoh..” katanya tanpa henti.
“aku lapar, kamu punya makanan??” dia diam sebentar, sambil terus mengeringkan rambutku.  Tangan kirinya meraba-raba pakaian ku yang lain.
“aku bikinin nasi goreng, ya! tapi janji kamu makan sama telornya” nadanya seedikit mengancam.
Aku mengangguk pelan, seraya mengambilalih handuk dari tangannya.  Dia segera berlalu menuju dapur. Akupun duduk di atas tempat tidurnya, dan meraih cangkir berisi moka itu.
Sudah sangat dingin, selalu begitu.  Kalau dia buat untuknya sendiri pasti tidak habis atau tidak dimakan sama sekali.  Tapi jika saja itu ia lakukan untuk orang lain, ia akan memaksanya mati-matian untuk segera dihabiskan.
Masih kamar yang sama,  Ada sebuah papan kecil yang menuliskan semua kegiatannya. Lemari yang berisi baju tidak lebih dari sepuluh stell, tapi sampai kapanpun dia adalah orang yang paling tau bagaimana cara berpakaian.
Aku sampai pada sudut itu, dimana dia menempelkan semua fotonya.  Dia sendirian, dengan teman-temannya ada juga yang denganku.  Tapi kenapa foto kami berdua begitu mendominasi ruangan ini.
Bahkan foto besar ketika ia mencekik ku di ketiaknya diletakan di atas meja belajarnya, itu menandakan agar ia mudah menemukannya.  Aku ternyata tidak menemukan satupun alasan untuk meninggalkan orang ini.  kenapa baru tadi sore aku tersadar, kalau dia begitu menyayangiku dan aku akan segera kehilangannya.
Aku menemukan sebuah amplop putih di atas mejanya.  Tangan ku mengambilnya sebelum akhirnya menyembunyikannya karena dia sudah selesai dan masuk ke kembali ke kamarnya.
“sini aku makan sendiri..” aku menyodorkan tangan hendak mengambil piring dan sendok itu darinya.
“sejak kapan kamu bisa makan sendiri..” ia menatap sejenak, sambil mengaduk-ngaduk nasi goreng yang masih mengepul itu “kamu kurusan, kan??”
Aku hanya diam, sambil menerima suapan pertama darinya.
“aku kangen kamu..”
“ehh jangan ngomong sambil makan, keselek nanti kamu..” tukasnya lagi, sepertinya dia tidak memperdulikan apa yang aku bicarakan.
“sini, biar aku makan sendiri aja, kamu masih banyak kerjaan, kan??” aku mengambil paksa piring dan sendok dari tangannya.  Ia kini menurut, kemudian sekejap menatap laptopnya.
Ia terus memperhatikan ku seakan takut kalau makanan ku tidak akan habis.
“kamu kenapa bisa sebaik ini, padahal aku lebih sering bertingkah buruk sama kamu..” nasi goreng terlejat yang tak akan pernah bisa mendapatkan saingan dimana pun.  Terakhir kali memakannya ketika aku ngamuk-ngamuk karena uang ku habis membeli chip game online.  Dan dia membuatkannya agar aku tetap bisa makan.
“aku masih pacar kamu, kan?” ia bicara pelan, dan membuatku mendongakkan kepala karena kaget mendengarnya. “seingatku, kamu belum sempat memutuskan aku..”
Aku tertohok sebentar sebelum melanjutkan makan malamku.  Menatap matanya yang memandang sejuk itu.  ia mengambil handuknya yang tergeletak di sebelahku.
“maafin aku ya..” aku pikir dengan meminta maaf, dia akan tahu kalau aku juga tidak akan pernah meninggalkannya lagi. “inu terlalu mengecewakan, dan malah belum sempat bikin kamu bahagia..”
“inu...” ia tiba-tiba duduk di depan ku sambil mengusap lembut di pipiku, matanya yang lembut itu menyapu semua pandangan agar hanya tertuju kepadanya “kita itu sepasang buku, yang saling kagum pada sampul karena tahu apa yang pada diri kita sendiri, bahkan kita ini buku yang saling menuliskan dan saling membaca, tanpa pernah tertukar-tukar halamannya...”
“aku gak tahu kamu itu siapa, terbuat dari apa.. yang aku tahu kamu itu satu, dan udah buat aku jatuh cinta..” sial, dua nasi hampir masuk ke tenggorokan ku akhirnya aku terbatuk-batuk beberapa kali “ohok ohok..”
Dia langsung lari ke luar dari kamar, sepertinya hendak mengambil air.
Karena terlalu banyak bergerak, akhirnya membuat amplop yang ku duduki sejak tadi mengeluarkan isinya. Masih sambil batuk sedikit-sedikit, aku memperhatikan kepala surat yang muncul dari mulut amplop itu.
Terdengar bunyi air keluar dari galon di dapur.
Aku semakin lekat memperhatikannya “CORNEL UNIVERSITY”
Terlalu mengeherankan jika tidak aku buka, tidak butuh waktu lama surat itu sudah terbuka lebar dan aku dapat membacanya dengan jelas.  Dibuat dalam versi bahasa indonesia dari kedutaan besar amerika.
“tesis anda berhasil diterima oleh semua profesor, saya harap anda segera mempersiapkan diri untuk ‘belajar di Cornel’ desember nanti, kami semua menunggu bergabungnya anda di sini”
Diterima, Cornel.. Amerika.. Desember. 
Tanganku gemetar menggengam surat itu.  piring ku simpan di atas meja.  Dan batuk yang tadi begitu mengganggu hilang seketika.  Aku gelagapan.  Dan berdiri.
Dia datang dari arah pintu dan mengangsurkan sebuah gelas berisi air penuh.  Aku menatapnya lekat.  Meminta penjelasan.
“apa ini, ras??” aku menunjukannya di depan wajahnya tepat.
Ia mengedikan bahu, sambil pelan-pelan mendekatiku.  Nafasku mulai memanas,  dadaku mendadak sesak.
“itu hanya sebuah surat..”
“isinya, yang inu maksud isinya...” suara ku pelan-pelan naik.
“bukannya inu yang selalu bilang ingin pergi keluar negeri, melanjutkan kuliah atau menetap di sana..” ia sedikit memiringkan kepalanya.
“ohh... jadi kamu mau pergi gitu aja, tanpa memikirkan apa yang kamu tinggalkan di sini, tanpa berpikir inu bakal kesepian di sini..”
“selama tujuh bulan ini, inu gak pernah kesepian kan?? Teman-teman, inu?? Orang-orang itu??”
Ia menatapku, seakan memojokanku karena sudah mengacuhkannya.
“KAMU BUKAN ORANG-ORANG ITU...!!!!” teriakku memecah malam yang terlalu sunyi ini.  aku ingin dia tahu, tidak mungkin melepaskan dia begitu saja.
“STOP, bertingkah seperti anak kecil, Nu!” ia hendak meraih tanganku, namun dengan kasar dan keras aku menepiskannya.
“tidak, Inu akan terus bertingkah kaya anak kecil supaya kamu tetap disini, supaya kamu tidak perlu pergi ke amerika, desember itu sebentar lagi.. Iraassss!!” air mata ku mulai berakumulasi, ada rasa sesak yang menyeruak dari dalam dada menyerbu ke seisi kepala kemudian keluar pelan-pelan melalui sudut-sudut mata.
Dia memeluk ku. Kedua tangannya, merangkul paksa hingga aku tidak bisa berontak.  Aku malah mendadak merasa lemas dalam pelukannya.  Air mataku mengalir deras.  Betapa tidak lama lagi akupun akan kehilangannya.  Jadi, wajar kan aku menangis?
Baru beberapa minggu yang lalu dia muncul sekarang akan menghilang lagi?
Desember tidak lama lagi.  dan otaknya yang hebat itu tentu saja beasiswa apapun pasti akan mudah didapatkan olehnya.  Tapi kenapa aku harus mengetahuinya sekarang.  Aku benar-benar tidak siap.
Aku lungrah ke lantai, meluapkan semua haruku,  berkali-kali ia mencium keningku. Dan mengusap pelan di punggungku.
“masa depan kita tidak pernah dituliskan nu, semua yang terjadi terdiri dari pilihan-pilihan yang kita buat sendiri..” bisiknya pelan di telingaku.
“kenapa inu harus ditinggalin hah??” aku memukul punggungnya.
“berharap itu menyedihkan Nu, membuat kita kadang berada pada dua pilihan, antara bertahan atau pelan-pelan melepaskannya..”
Suara petir menyambar terlalu menyakitkanku, kenapa baru kini aku sadar kalau tidak ada hal yang tidak mungkin ku lakukan bila dengannya.  Kenapa aku baru sadar, kalau suatu saat aku bisa saja jatuh dan kehilangan segalanya.
“putus dari kamu gak masalah, melupakan kamu juga mungkin gampang, tapi aku harus terima kenyataan, kalau kenangan kita terlalu berarti untuk ditinggalkan.. Nu, butuh hati yang kuat untuk mencintai seseorang, tapi kita membutuhkan hati yang lebih kuat lagi, untuk mencintai setelah disakiti..”
Kedua tanganku melingkar kuat dipinggangnya, dan wajahku menelungkup di atas dadanya.  Air mataku sudah jatuh ratusa kali, membasahi baju bolanya itu.
“tapi Nu, coba kamu pikir, kenapa kita sangat membutuhkan kerendahan hati di dunia ini??” ia menahan jawabannya sebentar, sambil terus mengusap punggungku. “selain untuk menolong sama, kita memerlukannya juga untuk memaafkan orang lain.  Tidak ada gunanya membenci anak kecil kaya kamu..”
Ia menarik tubuhku.  Kepalaku tertunduk kuat, tak mungkin mampu menatap langsung matanya itu.
“kamu akan baik-baik saja di sini, kan??” ia menatap seakan-akan aku ini memang benar-benar masih anak-anak.  Ia juga mengusap garis-garis air mata di pipiku dengan lengan bajunya yang panjang.
“Inu bakalan kangen banget sama kamu..” kata ku pelan hampir terputus-putus, suara ku terlalu parau untuk bersuara. “inu boleh minta sesuatu??”
“apa itu??” ia langsung menyahut terdengar antusias seperti biasa.
“ga usah ke Amerika..” mungkin tampang merajuk ku akan mencegahnya.
“semuanya sudah diatur Nu, tidak mungkin dibatalkan begitu saja..”
Aku menundukan kepala melanjutkan tangisanku.  Tanpa diduga, kepalanya melesak mengangkat daguku.  Bibir dan lidahnya menyeruak masuk mencari semua perasaan yang berhasil ditanamkannya di dalam jiwaku, aku membiarkan tubuhku dibawa olehnya kemanapun. Entah bagaimana lagi caranya, agar ia tahu aku sudah tidak bisa hidup tanpanya.  Bagaimana melewatkan waktu tanpanya.
“sesuatu yang sulit saat seorang yang kamu sayangi mulai mengabaikanmu, tapi akan lebih sulit lagi untuk berpura-pura bahwa kamu tidak peduli..”



Tidak ada komentar:

Posting Komentar