Minggu, 28 Juli 2013

16 : the waste of time

episode Tamtam



Hampir jam Sembilan malam, seharusnya sebentar lagi kami yang shif siang pulang. namun ajaib dalam beberapa menit puluhan pasien seperti sengaja di antarkan ke ruangan.  Aku sendirian memasang infus pada seorang ibu yang memiliki riwayat penyakit jantung.
Ku lihat lagi kepatenan jalan nafasnya, ia masih tampak ngos – ngosan.  Seperti orang kelelahan, denyut nadinya masih sangat cepat.  Hasil rekaman EKG nya menunjukan aritmia.
Aku keluar dari ruangan kelas tiga tempat pasien perempuan di rawat.  Mendorong troli peralatan.
“hey perawat pasang kateter buat bed 14 c atas nama pak Marwan..” thamrin melemparkan kateter ke dalam troliku.  Aku melemparkan alcohol swab ke arahnya.  Seenaknya saja menyuruh – nyuruh orang.
“terus lu mau kabur?” aku berkacak pinggang menatap ke arahnya.
Seperti biasa ia hanya tersenyum,  aku ragu dia ini dokter atau bukan, tidak mau sama sekali melakukan tindakan.
“enggak lah gue ikut..” katanya membantuku mendorong troli ke bangsal tempat para pasien laki – laki diraawat.
“pak kita pasang dulu kateter ke penis bapak ya sekarang turunkan celana anggota keluarga silahkan boleh mendampingi atau keluar…” kataku kepada paraa keluarga pasien di depanku.
Keluarga pasien itu semuanya bergerak menjauh namun mengawasiku, aku masih mengenakan sarung tangan.  Ku buka lebih dulu kemasan kateter.  Kemudian memberikan kode kepada thamrin agar menuangkan gel di tanganku.
“apa?” Tanya nya bodoh.
“gel..” kataku pada thamrin.
Ia pun mengerti kemudian menuangkan gel yang ku minta di telapak tanganku.  Tangan kanan ku melumasi selang kateter sementara tangan kiriku menggenggam penis pasien supaya tegak.
“jangan dihidupkan pak, nanti lebih sakit..”
Aku mulai memasukan selang yang kini terlihat berukuran besar ke dalam penis pasien yang aku sadari ia kekecilan untuk ukuran selang yang ada di tanganku, namun aku kepalang sudah memasukan aku mencoba memaksa.
“allaaaaaaaaaaahuakbaaaaaaaaaarrrrrrr…” tiba – tiba lolong si bapak, pasien di depanku aku kaget sendiri.
“tahan pak, sakitnya yang ditahan jangan dilawan, biar tidak terlalu sakit..” kataku.  Namun pasien terus berteriak teriak kesakitan aku curiga sesuatu.
Ku lihat ukuran selang yang terletak di bagian ujung. Sial ini ukuran no 18, penis segede gini mana mungkin muat.
“setan lu mau bunuh pasien, ngapain lu ngasih selang ukurannya segede gini..” aku berbisik pada thamrin yang dari tadi menunjukan tampang ngeri ketika aku memaksa selang itu masuk ke saluran kencing pasien di depanku.
“hah masa nu? Tadi gak gua chek, emang tadi nyuruhnya no 16..”
“ini no 18 onta, coba lu cari lagi yang bener, gak usah bilang – bilang buruan..”
Sepertinya di rumah sakit ini perawat yang bisa menyuruh – nyuruh dokter hanya aku saja. Aku melepas lagi selang dari penis pasien di depanku.  Ia menjerit tidak kalah heboh ketika ku lepaskan tersebut.
Thamrin tiba membawa selang kateter baru.  Ingin sekali rasanya aku memasukan selang yang tadi ke penisnya.
 aku mengusap uap air yang mulai menutupi jendela mobilku, menghalangi pandangan mataku keluar, menghalangi penglihatanku ke dalam restoran.  Kini aku mengambil selembar tisu dan membersihkannya lagi.  Benar, dia orang itu.
Ku hempaskan tubuhku ke badan jok, kedua tanganku menyangga kepala.  Aku menghirup nafas beberapa kali, kemudian membuangnya.
Aku memutar sebuah lagu...
...
Lihat, betapa malangnya kamu inu...
Kata seseorang yang wujudnya tidak terlihat olehku, mungkin bagian diriku yang selalu merindukan kedamaian dan hari-hari yang tidak dirasuki rasa marah.  Tidak bagai kini.
i remember years ago
someone told me i should take
caution when it comes to love
i did,
aku melakukannya, seperti saran ribki beberapa bulan yang lalu “jalan satu-satunya lu harus jatuh cinta lagi, harus pacaran lagi, sudah bukan saatnya terpuruk hanya karena seseorang” ribki, sahabat terbaikku, dia tidak mungkin memberikan saran yang salah. Tidak akan mungkin membiarkan temannya jatuh ke tangan seekor makhluk tidak tahu diri.
Dulu ia pernah jatuh cinta, namun gadis yang dicintai oleh ribki ternyata memilih untuk bersama orang lain. Ribki, dia orang yang pintar.  Dari pada mempertahankan orang bodoh ia mencari gadis lain, gadis yang tau ia beruntung bisa mendapatkan laki-laki sepertinya.
Laki-laki adalah makhluk pengguna logika dan akal sehat, sehingga ia lebih memilih melepaskan dari pada mempertahankan.  Untuk apa bersusah payah melarang orang yang ingin bunuh diri, melompat dari gedung tinggi di hati kita.
Akhirnya aku membuka pintu mobil dan masuk ke dalam restoran, mencari-cari tempat dokter bodoh itu duduk bersama teman kencannya sore ini.  Dia duduk hanya beberapa meja dari tempat kasir, aku berjalan menuju tempat itu.
Begitu sampai, aku berhenti tepat di hadapan keduanya, aku menatap si dokter yang dua hari lalu membuatku tergila-gila dan hampir meledakan isi kepalaku. ia gelagapan menatap balik ke arahku, aku tersenyum.
Melihat pasangan kencannya hari ini, seorang abg, anak alay, kurus yang memakai baju mencolok berwarna kuning, memakai jeans ketat berwarna merah dan topi murahannya yang dibeli di pinggir jalan tampak serasi dengan kacamata besarnya, serasi membuat wajahnya berantakan.  Yang membuat memalukan, aku harus bersaing dengan paku payung seperti ini.
Aku menatap kedua orang bodoh itu, dan memberikan isyarat “silahkan selesaikan dulu urusan kalian”
Kemudian, aku lebih memilih duduk dan memesan makan di kursi lain.  Tidak sampai lima detik, si dokter menyusul.
“aku bisa jelasin Nu, anak itu kok yang ngajakin aku ketemuan..”
Aku tidak menghiraukannya, bahkan sekalipun tidak berusaha mengenalinya.  Sungguh memalukan, bicara dengan dokter yang sudah kencan dengan botol limun.
“kamu gak marah kan? Kita masih tetap jadian..”
Selera makanku mendadak hilang, hanya saja kekuatan sudah berkumpul di ujung tanganku. Aku bangkit mengepalkan tinju ku. lalu 1, 2, 3
Brukkkk pukulanku menjatuhkan tubuh china itu dari atas kursi.
“lihat, betapa beruntungnya kamu bisa mendapatkan orang sepertiku
“Dan betapa malangnya aku..
“Bisa mau, menghabiskan waktu dengan orang sepertimu
Aku melangkah keluar, sedikit membuang waktuku saja. Aku kembali ke mobil dan melaju pelan-pelan lagi.  Langit sukabumi mulai hujan, aku melaju semakin pelan. Kemudian berhenti di tepi jalan, dan menyandarkan kepalaku pada batang setir.
“tell them i was happy
and my heart is broken
all my scars are open
rasanya hampir seperti patah hati, tapi aku berusaha menyembunyikannya.  Kenapa bisa, aku bertindak bodoh seperti ini.  Menjadi burung yang terperangkap di dalam jebakan bodoh anak-anak kampung. Tapi, sesuatu dalam hatiku mengatakan aku lelah.
Aku merindukannya...
Mungkin pilihan untuk melupakannya bukan suatu pilihan yang bisa membuatku terus hidup.  Berusaha menggantinya dengan sosok lain? Kebodohan macam apa itu? Tidak ada satupun orang yang bisa digantikan posisinya dengan orang lain di hati, otak bahkan tempat-tempat nyata yang ada di dunia.
Aku mencoba melupakan semua kenangan tentangnya, yang ku miliki dengannya, tapi semakin aku berusaha semuanya malah mengejekku, aku seperti seekor gajah yang mengalahkan satu koloni semut.
Mencoba memberikan tempatnya di hati kepada orang lain, tapi orang lain tidak bisa sepertinya, aku tidak bisa begitu bahagia seperti ketika ia mengamatiku dari ujung kepala ku kaki. Ia yang selalu memberikan sebuah senyuman hangat ketika aku membuatnya kecewa.
Aku harus kemana menemukannya lagi?
Tuhan, tidakkah kau ingin melihat kami berdua lagi? Ini sudah cukup lama, apakah kau menjawab setiap permintaanku untuk menjauhh darinya?
Ketika itu, dalam kemarahanku dalam kekhawatiranku, aku menginginkan menjauh dari kehidupannya.  Dari apapun yang bisa membuatnya dekat lagi padaku.  Berpura-pura seakan kuat hidup tanpanya, tanpa senyumnya, tanpa semua genggam tangannya.  Tanpa dia disampingku.
Aku berusaha membahagiakan hatiku lagi, agar aku bisa tersenyum, agar semua orang tau bahwa aku baik-baik saja.  Tapi kenyataannya tidak, aku tidak dalam kondisi baik, aku tidak bisa tersenyum dan hatiku tidak pernah bahagia.
Harapanku hanya sekecil itu tuhan. Tapi.
tell them what i hoped would be
impossible, impossible
impossible, impossible
tuhan, sekecil apapun harapan.  Ketika dulu ia pergi –tepatnya aku yang memintanya pergi- aku hanya ingin ia bahagia agar hidupkupun bahagia.  Seandainya saja, kebahagiaannya itu ada bersamaku kembalikan ia ke sini, jika tidak aku yang akan terima kenyataan pahit dan biarkan ia pergi sejauh mungkin dan jangan pertemukan kami lagi.
Kau tau tuhan, kau maha tau...
...
Aku selalu mengira tak akan bisa hidup tanpa cintanya.  Aku lupa, semua luka perlahan-lahan akan sembuh juga.  Biarkan saja waktu yang jadi obatnya.
Saat itu akan tiba, ketika aku benar-benar menerima kenyataan bahwa kini tak ada lagi ‘kita’.  Sekarang hanya aku, minus dirinya.  Dia pergi terlalu lama dan aku terlalu bodoh terus-terusan memikirkan dirinya.  Aku bisa hidup tanpa kenangan dan senyumanya. Kalau sebelum mengenal dia saja aku bisa bahagia, apa bedanya bahagia setelah tanpa dirinya?
Aku pasti akan jatuh cinta lagi.  Suatu hari nanti.. dan itu dengan yang lebih baik dari dirinya.
...
Aku berkeliling ke setiap ruangan, memeriksa keadaan setiap pasien. Sudah hampir pagi, kami harus membagikan obat, makan, air hangat untuk mandi dan mengganti sprei atau merapihkan tempat tidur mereka masing – masing.
Yeni mengikuti di belakangku.
“koh gue baru tau kalau kokoh udah gak sama ko-ass itu lagi..”
Aku mengangguk. Kami masuk ke ruangan pasien yang pertama.
“udah males ngebahas gituan, kemarin gue gap dia lagi kencan ama anak tongkrongan lapdek..” kataku setengah tertawa.
“hahaha masa? Gak nyangka tuh dokter seleranya…” yeni sampai geleng – geleng kepala.
Aku membuka tirai yang menutupi salah satu tempat tidur, seorang bapak yang baru saja melakukan bedah prostat, sudah empat hari aku rawat di sini.
“pagi pak, gimana hari ini?” aku menyapa si bapak yang sudah mulai duduk pagi ini.
“sehat pak..” balasnya memanggilku bapak. “kapan ya saya boleh pulang??”
Aku melihat statusnya, lukanya sudah kering, nilai trombosit sudah normal dan hasil lab yang lain pun tidak ada yang perlu dikhawatirkan.
“kalau saya jadi dokter, bapak sudah saya perbolehkan pulang, tapi tunggu nanti visit dokter jam delapan..” aku meyakinkan si bapak.
“oo begitu ya pak..” ia mengangguk – angguk.
“koh sini..” yeni kembali dari tempat tidur sebelah.
Aku menghampirinya, masuk ke dalam tempat tidur pasien kedua.  Terlentang seorang pasien laki – laki. Usia nya paling baru dua empat atau dua lima.  Dari perawakannya sepertinya ia seorang tentara atau polisi paling tidak.
“kenapa yen?”
“kokoh urus pasien yang ini deh, gak enak masih muda, dia kemarin siang abis post op apendik, sekarang harus dimandiin..” yeni memasang muka masam saat mengatakan kalimat mandi.
“ya udah mandiiin aja yen, jarang – jarang pan dapat tangkapan seger kaya gini..” aku terkekeh.
“gak usah becanda koh, aku si bapak yang sebelah deh lagian mandiin nya juga ada keluarganya, nah nih pasien Cuma sendirian dari kemarin..”
Aku menatap pasien di depanku. Sudah hampir jam enam dan dia masih tidur lelap.  Padahal suara ngobrol ku dengan yeni cukup keras.
“ya udah sini gue yang mandiin..”
Yeni kembali keluar dari tirai yang mengelilingi pasien di depan kami. Namanya melman, aku melihat papan pasien yang tertera di dinding.
“hey koh ini airnya..” yeni membawa sebaskom air yang masih mengepul.
“eh yen kelon dulu airnya, biar anget, emang nih pasien anak tiri kita mau disiram air panas..”
“hahaha..” yeni tergelak. Ia menghampiri westafel yang terletak di sudut ruangan. Setelah beberapa detik ia kembali dengan air hangat penuh di baskom nya. “jadi kokoh udah gak pacaran ama dokter thamrin, boleh aku gebet?” yeni cengengesan.
Aku menggelengkan kepala sambil tersenyum.
“ambil aja kalau dia doyan cewek..” kataku langsung.
“hahaha nanti kita rebutan lipstick lagi, emang gimana koh rasanya pacaran ama cowok lagi, terus diselingkuhin kaya gitu?”
Aku hampir shock dengan pertanyaan yeni.
“biasa aja, sama kaya pacaran ama cewek, tapi mereka lebih egois. Apalagi dokter, belagu bener kelakuannya..”
Ku chek lagi suhu air di dalam baskom. Lumayan lah.
“emang kokoh pernah pacaran ama cewek?” Tanya yeni lagi.
Aku mengangguk. Ku goyangkan bahu pasien di depanku, mencoba membangunkannya.
“pak..” ku goyangkan lagi. Dia tak bergeming. “pak saya mandikan dulu ya pak, mohon dibantu ya pak..”
Yeni tergelak lagi.
“sekarang gak mau pacaran ama cewek lagi koh?”
“gak ada yang mau, gak ada yang cocok juga, lagi males lah pacaran – pacaran, sekarang lagi sibuk macarin pasien. Udah bantuin buka bajunya nih pasien..”
Kami berdua membuka baju bagian atas pasien ini, dia tidur bagai bangkai. Padahal sudah lebih dari dua belas jam, apa mugnkin efek anastesi masih ada di tubuhnya.
“ini orang udah jadi mayat kali koh..”
Aku mengangguk sambil tersenyum. Sambil mulai membilas tubuh pasien dengan waslap basah.
“katanya mau mandiin pasien yang sebelah..” kataku pada yeni.
“biarin pak, biar ibu yang mandiin bapak..” sahut suara dari samping. Yeni tampak menghembuskan nafas lega.
“yes..” yeni mengangkat kepalan tangannya.
“dasar pemalas..” aku mulai melap tubuh pasien dengan waslap kering. Bagian atas sudah selesai. “yen mau bersihin area bawah, mau ikutan?”
Yeni bergidik. “enggak ah, aku ke ruangan lain deh..” yeni bergegas keluar dari ruangan.
Aku menatap pasien di depanku, setelah menutup tubuh bagian atasnya dengan handuk.  Mengeringkan tubuhnya aku memakaikannya baju lagi. Dia masih tak bergeming.  Bukan tidak professional, hanya saja aku takut pasien ini marah aku sudah berani membersihkan area genital nya.
“pak..” ku goyangkan lagi tubuh pasien di depanku. “pak melman..” nama yang aneh. Ku goyangkan lagi tubuhnya.
“bersihin aja pak, gak apa – apa kok..” sahutnya kali ini tanpa membuka mata.
Aku langsung beranjak, mengangkat selimut menumpuknya di bagian atas tubuh pasien. Kemudian membuka celananya. Memandikannya tanpa satu titik pun yang terlewat.
Begitu selesai dan pasien pun sudah rapih, aku berpamitan hendak ke ruangan yang lain membantu memandikan pasien yang lain.
Dinas malam kali ini membuat badanku hampir setengah remuk rasanya.  Pasien penuh dan para perawat yang berjaga merasa kesenangan sekali ada mahasiswa yang magang. Aku mengutuk mereka semua.

Setelah libur sehari aku kembali dinas pagi di rumah sakit.  Aku menyuruh bintang membawa stetoskop kami berdua akan melakukan cek tanda – tanda vital rutin.
Aku memasuki sebuah ruangan yang paling ujung.  Pasien yang kemarin aku mandikan, ia kini sudah bisa duduk dan membaca Koran.  Klasik sekali padahal usianya tidak jauh dariku.
“hey thanks ya, kemarin sudah mau mandiin saya..” katanya tiba – tiba.
Aku yang hampir agak kaget menjawabnya dengan menganggukan kepala ke arahnya.
“boleh saya kenalan..”
Aku menyentuh papan nama di dadaku. “rifnu..” kataku.
“saya melman.. bripda melman…”

Episode altar..
Aku mulai mengerjap – ngerjapkan mata.  Silau oleh sinar matahari yang sepertinya sudah mulai beranjak sore.  Aku melihat sekeliling, sebuah kamar yang keseluruhnnya berwarna putih. Dinding, lantai, jendela, bahkan tempat tidur yang ku tempati pun berwarna putih.
Aku mencoba beranjak, namun betapa kagetnya ketika sadar aku meniduri tubuh seseorang.
“selamat pagi..” kata sebuah suara lembut.
Ku coba menghindar namun kepalaku rasanya begitu berat.  Apa ini efek kegiatan di bar semalam. Ah dasar ardan kacau.
“dimana gue…” aku masih berusaha mengenali tempatku berada sekarang.
“tenang kamu aman di rumah saya..”
Ku coba membuka mata lebih lebar, seorang berwajah hampir sama dengan sepupu sepupu ku, maksudnya hampir china.  Namun ia memiliki nada bicara yang lembut dan sopan.  Tapi akal setengah mabukku belum mampu mengenali ia siapa.
Ku intip sebentar ke dalam selimut, aku telanjang.  Tanpa baju sedikitpun.
“gue gak diapa-apain kan semalam?”
Ia bangkit dari tempat tidur dan memberikanku sebuah bantal.  Ia juga tidak mengenakan pakaian sama sekali.  Ia berjalan menuju tempat ia menggantungkan jas mandinya.
“tepatnya kamu yang memperkosa saya..”
Aku hampir terlonjak kaget.  Namun apa daya, tenagaku habis aku tidak mampu bergerak sama sekali.  Aku tahu ini ulah ardan, tanganku mencoba meraih hp ku yang tergeletak di atas sebuah meja kecil di samping tempat tidur.
Cepat – cepat aku menelpon ardan.  Seingatku ia adalah orang yang terakhir bersamaku semalam.
“heh goblok lu kenapa gak bawa gue mantog..” aku langsung menceracau pada ardan.
“waduh pak bos akhirnya siuman, semalam bapak meludahi saya pak, orang lagi mabok gitu diludahin boro – boro pengen bawa pulang..”
Kebiasaanku, kalau mabok semua sisi setanku bisa keluar.
“ah sialan lu, sekarang gue gak tau ada di rumah siapa ini..”
“hahaha cewek apa cowok pak?” ardan tiba – tiba tertawa lebar di sana.
“cowok,..” tadinya aku mau bilang kalau aku sudah memperkosanya pada ardan, namun urung ku katakan.
“hahaha bapak ini keren – keren tapi Cuma laku sama cowok doang, udah deh pak ya saya mau masuk kuliah, nanti kalau ada perlu apa – apa telpon aja..”
Aku membiarkan hp ku lepas begitu saja dari tanganku,  aku sebenarnya sedang liburan di Jakarta. Di rumah kakek.  Di sini Cuma ardan yang ku kenal.  Kalau harus mencari teman – teman SD ku dulu, ada di mana mereka.
Tadi malam ardan mengajakku pergi keluar.  Ia tahu aku sangat butuh hiburan.  Aku tidak mengira kalau ia akan mengajaku ke sebuah bar.
“saya tahu kamu butuh sarapan, sudah saya buatkan..” pemilik rumah ini sudah kembali ke dalam kamar.  Ia membawa beberapa tumpuk roti di dalam baki yang digenggamnya.
“potong kecil – kecil gue malas ngunyah..” jawabku padanya.
Ia mengangguk kemudian menyuapi satu persatu roti tersebut ke dalam mulutku.
“semalam gue ngapain aja?” aku memang agak sedikit penasaran bagaimana aku bisa sampai ke sini.
“semalam kamu ditinggalin teman – teman kamu sendirian di bar, saya merasa kasihan kemudian membawa kamu ke sini, sampai di sini, saya bawa ke kamar, di sini lah kamu mulai menggila, kamu melepaskan semua pakaian, menyuruh saya melakukan hal yang sama kemudian….”
“sudah – sudah.. gue tau gimana kelanjutannya…”
“no no bukan itu yang ingin saya ceritakan..” ia memotongku “selama kamu melakukannya, kamu terus menyebut satu nama, bahkan sampai tiga ratus enam puluh delapan kali…”
“ini dua ribu sebelas dan saya masih menemukan ada orang yang memiliki cinta yang begitu besar pada orang yang disayanginya…”
Aku tidak menjawab.
Ia memperkanalkan diri bernama altar.  Ia seoraang pilot maskapai penerbangan international. Ia baik bahkan terlaalu baik mugnkin itu alasan yang membuatku tidak tahan dengannya.



Aku masih terjebak di Jakarta, pulang ke bandung males dan masuk kuliahpun masih lama.  Tidak terpikir untuk liburan ke bali atau Singapore.  Tidak ada teman, dan tidak ada yang bisa aku jadikan tujuan di sana.  Mobil ku masih ku ajak berputar – putar, menjelang sore nongkrong sambil minum kopi mungkin akan sedikit menyegarkan isi kepalaku.
“tunggu aku, aku akan pulang, akan menemui kamu..” sebuah pesan singkat dari altar.  Mati – matian aku berusaha menghindarinya. Dia terlalu baik.
Alasan klise.  Mungkin sebenarnya dia cukup membosankan untukku.  Apalagi instensitas waktu bertemu kami berdua yang jarang, salah satu hal yang tidak bisa ku atasi. Pacaran jarak jauh. aku selalu membutuhkan seseorang yang bersedia memberikan banyak waktunya untukku.
Akhirnya sebuah coffe shop yang memiliki halaman agak teduh menarik perhatianku.  Usai memarkirkan mobil aku duduk di salah satu kursi yang berada di luar.  Sambil menenteng laptopku, lumayan café ini memiliki wifi gratis.
Agak jarang bisa menemukan coffe shop yang homey begini di Jakarta.  Café ini hanya memiliki ruangan kecil tempat bar dan kasir nya di dalam.  Bangku pelanggan kebanyakan berada di luar, kompleks perkantoran dan pusat bisnis di sini, membuat tempat ini bersih, rapih dan jauh dari kebisingan kendaraan. Walau hanya café kecil, namun keberadaan nya bisa menjadi oase buat orang – orang pekerja kantoran yang bagai zombie itu.
Seorang pelayan. Ah tidak. Dia terlalu china untuk jadi seorang pelayan. Berjalan menghampiriku, tersenyum di balik kacamata besarnya.
“sore, mau pesan apa? Mocachino kami recomanded, atau pie apel nya mungkin..” ia menawarkan.
Aku mengetuk – ngetukan jariku di meja.  Melihat daftar menu yang diberikan padaku.
“perut gue suka begah kalau minum moca, gue pengen coffe milk panas aja, dan kasih cemilan yang enak tapi gak berbahan seafood dan no fat..”
Ia tersenyum sinis. “cmon life is too short to though worry what you eat, to burn some fat..”
Aku agak tertarik dengan apa yang diucapkannya.
“kalau gak perlu khawatir dengan apa yang kita makan apa kita juga bisa gak khawatir dengan penyakit apa yang bisa kita dapat?” tanyaku keyakinanku tentang diet dan menu sehat selama ini seperti sedang digoyahkan kali ini.
Dia tersenyum lagi.
“kayaknya lu harus banyak bergaul ama gue nih, udah deh diem di sini, gue bikinin makanan yang paling enak dan untuk hari ini lu gak perlu khawatir sama diet lu itu..”
Matanya tenggelam ketika dia tersenyum, namun aku mendapatkan kesombongan dari nada bicaranya.
Dia berlalu kemudian, ke dalam café nya.  Agak menarik. Aku sampai memperhatikan nya sampai ia hilang di balik kubikel dapur.
 Beberapa menit kemudian di depanku sudah terjasi beef teriyaki, spaghetti, coffe milk panas dan beberapa potong chiken rum.  Makanan penuh kalori yang setidaknya selalu aku usahakan untuk tidak ku makan terlalu banyak.
“makan semuanya ini baru makanan pembuka untuk perkenalan kita gue Liam..” dia mengulurkan tangan. “William Gozali..”
“muslim” aku agak kaget ketika mendengar nama gozali di belakang namanya. Dia benar – benar terlihat seperti orang china. “rifnu..” balasku.
“baba yang muslim, gue terlalu oriental ya buat jadi muslim, tapi nyokap budha..”
Aku mengangguk – angguk mulai mengambil satu persatu spaghetti darinya dengan tanganku.
“ini tempat punya lu?”
“no..” dia menggeleng sambil membuka efronnya. Sepertinya ia berniat ngobrol lama denganku. “ini café tante gue, lagian gue calon arsitek kali, lagi magang di kantor yang itu..”
Tangannya menunjuk sebuah gedung yang terletak di pojokan beberapa gedung besar.  Beberapa blok di belakangnya adalah kantor – kantor perusahaan kakek.
“lah kok jadi chef..” kepandaiannya memasak lebih menarik perhatianku. Dibandingkan sifat pamernya itu.
“dari kecil seneng masak, soalnya sewaktu masih di puket keluarga kami punya restoran sebelum akhirnya pindah ke Jakarta..”
“ngapain pindah?”
“biasalah masalah ekonomi, sebenarnya banyak opsi kota termasuk ke perth, tapi keluarga lebih milih Jakarta yang mungkin biaya hidupnya lebih terjangkau oleh kami waktu itu..”
Aku baru sadar kalau nama café ini adalah anak perusahaan dari sebuah hotel bintang lima di asia.  Harusnya dia terlalu kaya untuk bilang kolaps.
“oo masakan lu enak, kenapa gak buka restoran sendiri?” aku mencomot beef teriyaki nya lagi tanpa menggunakan sumpit yang ia sediakan.
“gue butuh banyak duit buat itu, gue pengen pake duit sendiri buat bikin restoran, gue baru kali ini liat orang makan teriyaki pake tangan, spaghetti juga..”
Aku tersenyum.
“kebiasaan dari kecil, gue gak bisa pakai sendok, sumpit, garfu bahkan pisau” jelasku “makanya kalau makan ya gue pake tangan..”
Dia agak kaget kemudian malah tertawa lebar.
“semakin lama lu semakin menarik juga..” katanya jujur.
“oh gue pikir gue doang yang lagi kena virus interesting sore ini, tapi jujur makanan lu emang enak..”
“gue bisa masak buat lu tiap hari, but be calm lu gak usah khawatir gendut..” dia tertawa lagi. “oh iya lu sengaja main – main ke sini..”
Aku menggeleng. “gue abis dari kantornya kakek gue..” tanganku menunjuk gedung yang paling tinggi.
Ia agak terbelalak mendengarku.
“si.. siapa? Anthony wang?”
Aku mengangguk mantap.
“sialan gue udah kurang ajar sama cucunya konglomerat..” ia menampilkan wajah cemas.
“hahaha biasa aja kali, gue kayanya bakalan sering – sering datang ke sini, biar bisa makan gratis..”
“dengan senang hati, sini gue suapin chiken rum, soup kaya gini gak mungkin dimakannya dicomot pakau tangan..”
“oke thanks..”
….
Hidup merupakan sebuah perjalanan. Yang kita alami setiap harinya adalah pelajaran yang benar – benar kita jadikan kaca. Bahwa kita hanya akan mendapatkan dari apa yang kita lakukan.  Setiap hari hanya merupakan bagian – bagian kecil dari menemukan dan mencari.  Bukan untuk mendapatkan sesauatu yang kekal bahkan apa yang kita inginkanpun setelah berhasil kita miliki bisa jadi hanya sekedar menjadi sesuatu yang sangat kita inginkan.
Aku putus asa dengan beberapa hal yang menyangkut kebahagiaan.  Mungkin benar aku menyalahkan kenangan dan kehilangan.  Maka dari itu hatiku terus berkelana. Mencari satu persatu pasangannya yang mungkin bisa menyembuhkannya. Bukankah setiap dari kita adalah obat dari pasangan yang menemukan kita?
Tidak ada yang abadi. Mungkin termasuk rasa kehilangan yang menyakitkan itu juga.  Waktu itu aku sangat merasa bahwa aku akan sembuh.  Tapi sampai saat ini, sampai petualangaku sejauh ini sayatannya masih terasa sama..
Seperti kata kunci itu, satu – satunya cara melupakan luka adalah dengan sembuh.  Sembuh.
“gue takut dimarahin mama lu, nanti dibilang bawa anaknya gak bener lagi..” kata liam dari pantry. Dia sedang masak.
“ah enggak lah..” jawabku sambil menyalakan televisi “lagian mama udah tau, gue udah cerita banyak, dia bilang makasih, setidaknya dia udah gak perlu khawatir soal apa yang gue makan..”
“jadi mama lu tau?”
Aku mengangguk. “sejak mantan yang pertama..” jawabku santai.
“kalau tante gue, yang punya coffee shop itu Cuma dia yang tau, faham banyak karyawannya juga yang senasib ama kita, tapi kalau keluarga besar, gue belum berani bilang..”
Harum masakannya tercium olehku.  Sejak kenal dengan liam beberapa minggu lalu sampai membuatku lancer membuat beberapa masakan.  Namun mengalahkannya, itu tidak mungkin.
“masak apa? Thailand ya?”
Dia menangguk. “janji pasti lu suka dan ini bukan seafood..”
“sebenarnya makanan favorit gue Cuma satu..” kataku sambil memindahkan chanel televise.
Tiba – tiba saja liam sudah duduk di sampingku. Dia tampak ingin tahu sekali.
“apa? Gue pasti bisa masakin kok..”
“rendang..” jawabku datar, aku tahu dia masih belum belajar banyak soal masakan Indonesia.  Dan lidahku mulai agak kaku memakan semua menu korea, jepang dan Thailand nya.
Ia memukul kening.
“sial, dari dulu gue pengen banget belajar masak itu, tapi gak pernah ada waktu. Coba kalau gue udah belajar pasti bikin rending doang mah gampang..”
“itu sih jadi tugas lu sekarang, gue udah bosen makan kimchi sama bimbimbap..” jawabku jujur.
Aku melangkah menuju dapur dan kompor yang menyala. Aku mencomot sedikit steak yang sedang dimasak nya.
Tiba – tiba aku merasa tangan liam memeluk dari belakang.
“huss..” aku menepuknya.
“kenapa? Gak boleh ya?” tanyanya.
“tangan lu kotor ah bekas kecap..” aku berjalan menjauh duduk pada kursi di depan bar pantry.
“oke deh makan malam siap” dia membawa satu buah piring berisi steak ke depanku.
“Cuma bikin satu?”
“kalau bikin dua ribet, gue tetep harus nyuapin lu jadi mending bikin satu..” ia mulai memotong steaknya dan menyuapiku makan. “kemarin malam pas lu tidur, ada yang nelpon, karena lu gak bangun – bangun gue cobain angkat, nanyain lu gue bilang lu udah tidur, nanya gue siapa, namanya altar…”
“oh dia…” jawabku sambil menyambut potongan steak darinya “nothing, bukan siapa – siapa..”
Liam mengangguk beberapa kali.
“semoga, biar usaha gue dapetin lu semakin lancer..”
Aku senang dengan liam karena ia bukan sosok yang pandai berbasa – basi atau melakukan hal – hal romantic. Segala hal mengenai urusan hatinya ia tuangkan melaalui masakan.
“sebenarnya kita bisa mulai pacaran kapan aja..” kataku.
“tapi sikap lu itu selalu bikin penasaran, misterius, malah gue gak ngerti apa yang sebenarnya ada di hati lu”
“hahahaa..” aku tertawa pelan “gue pikir bikin orang berjuang buat dapatin gue itu bikin gue jadi keliatan keren..”
“gawat, kita sama – sama keren gak baik kalau pacaran…” ia ikutan tertawa
Tiba – tiba saja tangan liam menangkap daguku, sekilas ia hendak membersihkan sisa saus di  dekat bibirku.  Namun tanpa aba – aba ia malah membersihkan menggunakan kedua bibirnya.
Hingga sekitar mulutku mulai terasa panas.

Cerita tentang liam hanya bertahan beberapa minggu. Jujur saja Cuma masakannya yang membuatku bertahan.  Aku sempat mendiamkannya ketika aku mulai merasa bosan.  Sebelum akhirnya berusaha membangun lagi komunikasi yang baik dengannya.
Memang selalu ku usahakan untuk membangun komunikasi dengan bekas – bekas pacar.  Lain ceritanya saat iras sudah kembali, ia tidak bisa berdamai dengan mereka satupun.  Baginya bersikap baik pada mantan sama saja dengan memberikan sebuah harapan bagi mereka.
Aku hanya bisa tersenyum mengingat salah satu peraturaan iras itu, bukan masalah aku dijauhi oleh mantan gara – gara sikap iras tersebut.  Namun sikapnya ini yang akhirnya membuatku sadar, bahwa iras tidak pernah main – main menggunakan rasa sayangnya..




Tidak ada komentar:

Posting Komentar