Minggu, 28 Juli 2013

20 : Buntu



Musim hujan, air sedang senang-senangnya untuk jatuh dari langit setiap waktu.  Tak berhenti tak ada lelah.  Seakan mereka memiliki galon-galon raksasa yang bila terisi penuh dengan sendirinya air-airnya akan jatuh ke bumi.  Membasahi semuanya, semua yang ia temui, dan wangi pada tanah yang membekas setelah ia pergi.
Lalu kembali untuk setia, seperti hujan yang menunggu datangnya pelangi...
Aku membuka jaket, kemudian melangkahkan kaki ke dalam cismu tempat makan kecil di dekat kampus namun nyaman.  Apalagi dikunjungi setelah hujan seperti ini.  Teman-teman ku sedikit melarang.  Tapi aku tahu apa yang ku lakukan.
“hay ayo duduk, sebentar, kopi nya sepertinya belum selesai..” dia menarik sebuah kursi untukku.  Kemudian aku duduk persis di depannya.
 “kamu udah makan??” kataku sambil membetulkan posisi duduk ku.
Ia menggeleng pelan sambil sedikit tersenyum. “ini makan siang pertama kita, setelah setengah tahun melewatkannya..” kedua alis matanya tertarik ke atas, seperti biasa senyum hangatnya terlihat di wajahnya.
“jadi, kita mau makan apa??” tanganku menarik buku menu dan melihat-lihat daftar menu yang sebenarnya dari dulupun tidak pernah berubah. “ahh menunya tidak pernah berubah..”
“yeah.. tidak perlu berubah..” dia mengangguk sambil tersenyum berkali-kali.
“maksudnya??” aku mengedikan bahu.
“karena semua ini soal iras sayang sama inu, tidak ada yang perlu dirubah satupun..”
Aku terdiam, kemudian melanjutkan membuka buku menu tersebut hingga tak sadar halaman bukunya sudah habis dan aku kembali ke halaman awal.  Selalu begitu sampai berulang-ulang.
“kamu tahu, melihat kenyataan semalam, begitu semuanya usai, begitu desember berlalu beberapa minggu lagi, kamu pergi, kamu tidak ada di sini, seharusnya tidak perlu datang waktu seperti ini lagi, kita bersama lagi, kalau akhirnya....”
“kalau akhirnya apa....??” ia menatapku dalam.
“hah sudahlah, inu tidak berhak bicara apapun... kamu kuliah, kuliah saja di sana, tidak ada yang perlu banyak dipertimbangkan, sudah saatnya kamu memikirkan masa depan...”
Sejenak tidak ada yang bicara di antara kami berdua.  Kami sibuk menarik nafas dalam masing-masing.  Sementara mataku terus meneliti dengan baik menu makanan yang sebenarnya tidak lebih dari 20 jenis makanan itu.
“sudahlah, iras mau makan apa??”
“iras pikir inu akan merasa kehilangan...”
Balas suaranya cukup pelan.  Kemudian pelan-pelan aku mengangkat kepala dan melihat ke arah wajahnya.  Dia yang selalu memiliki mata penuh rasa bersalah itu.  Kini seakan memunculkan kebiasaan lamanya.
“buat apa ras?? Kalau itu berguna, kalau itu bisa menahan kamu buat enggak pergi, berjuta kali juga akan inu lakukan, tapi buat apa, rencana kamu sudah bicara lebih dulu..”
Aku menutup buku menu, aku tahu hari ini kami tidak akan makan.
“mungkin kita bisa merubahnya..”  jelasnya gugup.
“kita??” aku menatap lebih dalam lagi mata itu “kamu, semuanya rencana kamu, jangan melibatkan inu... meski pada akhirnya inu tetap akan terlibat..”
Suara hujan, suara musik yang mengalun-alun pelan.  Hadir menyusup di antara keheningan kami berdua.  Mungkin benar kata teman-teman ku yang lain.  Aku tidak harus kembali, semuanya kini bisa kembali ke arah yang sebenarnya dan seperti seharusnya.
“kenapa ya, iras ternyata cukup enggak sanggup selama tujuh bulan ini...”
Aku mengedikan bahu lagi.
“kenapa semuanya seperti mudah bagi inu, tapi tidak buat iras..”
Lagi bahu ku naik.
“apa karena iras yang terlalu jatuh, sementara inu tidak? Sekian kali mengetuk, tapi pintu hati inu tidak pernah terbuka...”
“kapan Ras?” nada suaraku agak meninggi.  Dan rasanya bola mataku, agak terdorong keluar. “kapan iras melakukan itu selama tujuh bulan ini?? Inu tidak pernah merasakan sedikitpun keberadaan iras, kalau memang berat melihat tangan orang lain menyuapi inu makan, kenapa iras tidak datang membawa piring makanan iras sendiri??”
Kedua tanganku mendekap buku menu itu.  Sambil kedua mataku berselancar di permukaan bening yang sesekali riak oleh ombak-ombaknya.
“kenapa tidak menghampiri, Ras??” aku kini menyelam di matanya. “lalu masukan semua makanan itu sekaligus...”
Iras diam.  Kepalanya menunduk.
“iras takut menganggu inu...”  empat kata itu, meluncur tersendat dari kedua bibirnya.  Seperti papan prosotan TK sehabis terkena hujan, tapi aku masih ingin main di sana, sehingga aku tidak jatuh dengan sekali terjun.  Harus berkali-kali menggerakan bokongku, agar bisa terus meluncur.
Namun, ia, dan ke empat kata itu. Mengingatkanku, betapa selama tujuh bulan ini aku ingin sekali diganggu olehnya.
“maafkan Inu juga ras, kalau inu tidak bisa datang begitu saja, mengetuk pintu hati iras, bertamu di sana hendak meminta maaf, tapi tuan rumahnya tidak ada, entah dia sedang diam di kamar atau sedang pergi keluar, atau mungkin....” aku memotong kata-kataku “dia sedang membuat pasport untuk ke Amerika...”
Kepala iras terangkat, beberapa detik ia menatapku.  Kemudian menatap arah lain.  Matanya kini berlomba-lomba lagi dengan semua pikirannya.
Mata yang paling indah, hanya matamu...
“bisa saja tuan rumahnya berdiri di balik dinding ruang tamu, takut menemui tamunya, takut maksud kedatangan tamu itu tidak sesuai harapannya...”
“memangnya, harapan iras, kalau inu datang bertamu ke hati iras bagaimana??”
“inu duduk di sana, membawa semua kenangan kita, bingkisan-bingkisan yang tidak cukup mewah namun itu jadi benda bersejarah bagi kita berdua, meminta iras mengambilkan air dari segala harapan kita berdua yang sempat terputus, menyajikan semua yang tidak sempat kita lewati, dan inu memberikan kesempatan iras untuk menunjukan sesisi rumah, yang semuanya masih berisi tentang Inu...”
“to life in your warming heart..”
“and always regard it as home...”
Kutipan dari film The Vow yang sangat kami sukai, dan sampai saat ini tulisannya maish ada di dinding kostan ku.
“iras tidak akan meminta inu untuk menjadi nomor satu lagi di hati iras..” deg suara jantungku. “iras tidak akan meminta inu untuk jadi orang yang selalu iras pikirkan dan iras khawatirkan lagi” deg. “iras tidak akan meminta agar inu bersedia menempati seluruh ruangan di hati iras lagi...”
Deg deg deg deg deg bunyi jantungku sudah makin tidak beraturan.
“karena, selama ini inu terus melakukan itu semua pada iras, jadi kenapa iras harus memintanya??” mata itu kini mengeluarkan air mancur dan kembang api melesat menuju ubun-ubun dan syaraf oskivitalku.  “tinggal sekarang iras yang bertanya pada inu, masih mau inu menempati ruangan-ruangan itu...”
“inu benci ras, inu benci melihat sebuah fakta, bahwa inu pernah begitu sakit, saat iras dengan bodohnya, tidak mengetahui apa-apa tentang pertunangan iras sendiri. Inu benci saat harus pulang dari pesta ulang tahun iras sendirian, di bus yang seumur hidup tidak pernah inu alami.  Yang paling menyesakan, inu harus pulang karena mendapati kenyataan yang menampar-nampar inu kalau iras waktu itu sudah tunangan.  Dan yang paling buruknya, hal itu iras lakukan, bukan dengan inu..”
“inu benci saat iras, Cuma diam di tengah-tengah hujan melihat inu diantarkan oleh orang lain ke kostan, inu tidak suka, saat iras tidak mencegah saat begitu banyak orang-orang bodoh yang datang, ngajak makan, nonton, nongkrong...”
Tiba-tiba iras memelukku.  Membawa kepalaku ke dalam pelukannya.  Aku sebenarnya masih sangat emosi, namun begitu telingaku mendengar isak kecil dari bibir iras. Aku pun diam.
“maafkan sayang, kalau iras membuat inu melewatkan banyak hal berat sendirian, iras sekarang di sini, akan memperbaikinya,  memberikan semua yang inu inginkan tanpa perlu inu minta, menjaga inu lagi, menggosok punggung inu lagi sebelum tidur, menyuapi inu setiap kali inu makan lagi, melarang inu melakukan apapun tanpa iras....”
....
Cul De Sac.... ku pikir, ini jalan buntu buat kita ras.  Ataukah, semua jalan buntu dalam hidup inu, semuanya berakhir di jalan sempit di hati iras??


Tidak ada komentar:

Posting Komentar