Musim hujan, air
sedang senang-senangnya untuk jatuh dari langit setiap waktu. Tak berhenti tak ada lelah. Seakan mereka memiliki galon-galon raksasa
yang bila terisi penuh dengan sendirinya air-airnya akan jatuh ke bumi. Membasahi semuanya, semua yang ia temui, dan
wangi pada tanah yang membekas setelah ia pergi.
Lalu kembali untuk
setia, seperti hujan yang menunggu datangnya pelangi...
Aku membuka jaket,
kemudian melangkahkan kaki ke dalam cismu
tempat makan kecil di dekat kampus namun nyaman. Apalagi dikunjungi setelah hujan seperti
ini. Teman-teman ku sedikit
melarang. Tapi aku tahu apa yang ku
lakukan.
“hay ayo duduk,
sebentar, kopi nya sepertinya belum selesai..” dia menarik sebuah kursi
untukku. Kemudian aku duduk persis di
depannya.
“kamu udah makan??” kataku sambil membetulkan
posisi duduk ku.
Ia menggeleng pelan
sambil sedikit tersenyum. “ini makan siang pertama kita, setelah setengah tahun
melewatkannya..” kedua alis matanya tertarik ke atas, seperti biasa senyum
hangatnya terlihat di wajahnya.
“jadi, kita mau
makan apa??” tanganku menarik buku menu dan melihat-lihat daftar menu yang
sebenarnya dari dulupun tidak pernah berubah. “ahh menunya tidak pernah
berubah..”
“yeah.. tidak perlu
berubah..” dia mengangguk sambil tersenyum berkali-kali.
“maksudnya??” aku
mengedikan bahu.
“karena semua ini
soal iras sayang sama inu, tidak ada yang perlu dirubah satupun..”
Aku terdiam,
kemudian melanjutkan membuka buku menu tersebut hingga tak sadar halaman
bukunya sudah habis dan aku kembali ke halaman awal. Selalu begitu sampai berulang-ulang.
“kamu tahu, melihat
kenyataan semalam, begitu semuanya usai, begitu desember berlalu beberapa
minggu lagi, kamu pergi, kamu tidak ada di sini, seharusnya tidak perlu datang
waktu seperti ini lagi, kita bersama lagi, kalau akhirnya....”
“kalau akhirnya
apa....??” ia menatapku dalam.
“hah sudahlah, inu
tidak berhak bicara apapun... kamu kuliah, kuliah saja di sana, tidak ada yang
perlu banyak dipertimbangkan, sudah saatnya kamu memikirkan masa depan...”
Sejenak tidak ada
yang bicara di antara kami berdua. Kami
sibuk menarik nafas dalam masing-masing.
Sementara mataku terus meneliti dengan baik menu makanan yang sebenarnya
tidak lebih dari 20 jenis makanan itu.
“sudahlah, iras mau
makan apa??”
“iras pikir inu
akan merasa kehilangan...”
Balas suaranya
cukup pelan. Kemudian pelan-pelan aku
mengangkat kepala dan melihat ke arah wajahnya.
Dia yang selalu memiliki mata penuh rasa bersalah itu. Kini seakan memunculkan kebiasaan lamanya.
“buat apa ras??
Kalau itu berguna, kalau itu bisa menahan kamu buat enggak pergi, berjuta kali
juga akan inu lakukan, tapi buat apa, rencana kamu sudah bicara lebih dulu..”
Aku menutup buku
menu, aku tahu hari ini kami tidak akan makan.
“mungkin kita bisa
merubahnya..” jelasnya gugup.
“kita??” aku
menatap lebih dalam lagi mata itu “kamu, semuanya rencana kamu, jangan
melibatkan inu... meski pada akhirnya inu tetap akan terlibat..”
Suara hujan, suara
musik yang mengalun-alun pelan. Hadir
menyusup di antara keheningan kami berdua.
Mungkin benar kata teman-teman ku yang lain. Aku tidak harus kembali, semuanya kini bisa
kembali ke arah yang sebenarnya dan seperti seharusnya.
“kenapa ya, iras
ternyata cukup enggak sanggup selama tujuh bulan ini...”
Aku mengedikan bahu
lagi.
“kenapa semuanya seperti
mudah bagi inu, tapi tidak buat iras..”
Lagi bahu ku naik.
“apa karena iras
yang terlalu jatuh, sementara inu tidak? Sekian kali mengetuk, tapi pintu hati
inu tidak pernah terbuka...”
“kapan Ras?” nada
suaraku agak meninggi. Dan rasanya bola mataku,
agak terdorong keluar. “kapan iras melakukan itu selama tujuh bulan ini?? Inu
tidak pernah merasakan sedikitpun keberadaan iras, kalau memang berat melihat
tangan orang lain menyuapi inu makan, kenapa iras tidak datang membawa piring
makanan iras sendiri??”
Kedua tanganku
mendekap buku menu itu. Sambil kedua
mataku berselancar di permukaan bening yang sesekali riak oleh ombak-ombaknya.
“kenapa tidak
menghampiri, Ras??” aku kini menyelam di matanya. “lalu masukan semua makanan
itu sekaligus...”
Iras diam. Kepalanya menunduk.
“iras takut
menganggu inu...” empat kata itu,
meluncur tersendat dari kedua bibirnya.
Seperti papan prosotan TK sehabis terkena hujan, tapi aku masih ingin
main di sana, sehingga aku tidak jatuh dengan sekali terjun. Harus berkali-kali menggerakan bokongku, agar
bisa terus meluncur.
Namun, ia, dan ke
empat kata itu. Mengingatkanku, betapa selama tujuh bulan ini aku ingin sekali
diganggu olehnya.
“maafkan Inu juga
ras, kalau inu tidak bisa datang begitu saja, mengetuk pintu hati iras, bertamu
di sana hendak meminta maaf, tapi tuan rumahnya tidak ada, entah dia sedang
diam di kamar atau sedang pergi keluar, atau mungkin....” aku memotong
kata-kataku “dia sedang membuat pasport untuk ke Amerika...”
Kepala iras
terangkat, beberapa detik ia menatapku.
Kemudian menatap arah lain.
Matanya kini berlomba-lomba lagi dengan semua pikirannya.
Mata yang paling
indah, hanya matamu...
“bisa saja tuan
rumahnya berdiri di balik dinding ruang tamu, takut menemui tamunya, takut
maksud kedatangan tamu itu tidak sesuai harapannya...”
“memangnya, harapan
iras, kalau inu datang bertamu ke hati iras bagaimana??”
“inu duduk di sana,
membawa semua kenangan kita, bingkisan-bingkisan yang tidak cukup mewah namun
itu jadi benda bersejarah bagi kita berdua, meminta iras mengambilkan air dari
segala harapan kita berdua yang sempat terputus, menyajikan semua yang tidak
sempat kita lewati, dan inu memberikan kesempatan iras untuk menunjukan sesisi
rumah, yang semuanya masih berisi tentang Inu...”
“to life in your
warming heart..”
“and always regard
it as home...”
Kutipan dari film
The Vow yang sangat kami sukai, dan sampai saat ini tulisannya maish ada di
dinding kostan ku.
“iras tidak akan
meminta inu untuk menjadi nomor satu lagi di hati iras..” deg suara jantungku.
“iras tidak akan meminta inu untuk jadi orang yang selalu iras pikirkan dan
iras khawatirkan lagi” deg. “iras tidak akan meminta agar inu bersedia
menempati seluruh ruangan di hati iras lagi...”
Deg deg deg deg deg
bunyi jantungku sudah makin tidak beraturan.
“karena, selama ini
inu terus melakukan itu semua pada iras, jadi kenapa iras harus memintanya??”
mata itu kini mengeluarkan air mancur dan kembang api melesat menuju ubun-ubun
dan syaraf oskivitalku. “tinggal sekarang
iras yang bertanya pada inu, masih mau inu menempati ruangan-ruangan itu...”
“inu benci ras, inu
benci melihat sebuah fakta, bahwa inu pernah begitu sakit, saat iras dengan
bodohnya, tidak mengetahui apa-apa tentang pertunangan iras sendiri. Inu benci
saat harus pulang dari pesta ulang tahun iras sendirian, di bus yang seumur
hidup tidak pernah inu alami. Yang
paling menyesakan, inu harus pulang karena mendapati kenyataan yang
menampar-nampar inu kalau iras waktu itu sudah tunangan. Dan yang paling buruknya, hal itu iras
lakukan, bukan dengan inu..”
“inu benci saat
iras, Cuma diam di tengah-tengah hujan melihat inu diantarkan oleh orang lain
ke kostan, inu tidak suka, saat iras tidak mencegah saat begitu banyak
orang-orang bodoh yang datang, ngajak makan, nonton, nongkrong...”
Tiba-tiba iras
memelukku. Membawa kepalaku ke dalam
pelukannya. Aku sebenarnya masih sangat
emosi, namun begitu telingaku mendengar isak kecil dari bibir iras. Aku pun
diam.
“maafkan sayang,
kalau iras membuat inu melewatkan banyak hal berat sendirian, iras sekarang di
sini, akan memperbaikinya, memberikan
semua yang inu inginkan tanpa perlu inu minta, menjaga inu lagi, menggosok
punggung inu lagi sebelum tidur, menyuapi inu setiap kali inu makan lagi,
melarang inu melakukan apapun tanpa iras....”
....
Cul De Sac.... ku
pikir, ini jalan buntu buat kita ras.
Ataukah, semua jalan buntu dalam hidup inu, semuanya berakhir di jalan
sempit di hati iras??
Tidak ada komentar:
Posting Komentar