Kamis, 01 Agustus 2013

37 : 31 Juli



31 juli 2013…
Memiliki iras bagiku merupakan keberuntungan hidup yang tidak mungkin akan aku dapatkan lagi.  Dibalik semua sifat menyebalkannya, aku malah habis – habisan menyayanginya.  Bukan karena kami pernah mengalami hal – hal yang sulit bersama.  Tapi aku tau dengan berada di sampingnya masa depan yang seperti apapun akan berhasil kami lewati.
Memiliki iras membuat segalanya jadi terlihat begitu mudah, semua jalan terlihat terang.  Bahkan melihatnya berbicara aku bisa melihat masa depan terbentang di depan mataku. Luas, sangat luas sekali.
Memiliki iras adalah segala hal yang membuatku tertawa, marah, menangis, ketakutan, gila dan mabuk yang tidak berhenti.  Ia menyayangiku dengan keseluruhan, tanpa pernah mengharapkan balasan apapun dariku, sulit menemukan orang yang sejatuh cinta itu di abad dua puluh satu ini.
Aku masih menggegam tangannya kuat, seharian aku tidak mengijinkannya pergi kemanapun.  Tanggal 31 juli, selama enam tahun terakhir selalu ia buat untuk membuat kejutan untuk ku dengan menghilang.  Kali ini aku tidak membiarkan hal itu terjadi, kelakuannya yang begitu tidak pernah ku sukai sejak dulu.
Jam 6 sore lewat…
Kami keluar dari arus macet jalan asia afrika di bandung, tujuan kami sebuah tempat makan di braga.  Aku sudah ijin kepada mama untuk buka puasa di luar.  Di dago memang banyak sekali tempat makan bagus, namun braga lebih banyak menyimpan kenangan bagi kami.  Setiap sudutnya bahkan.
Aku melirik sebentar pada orang di sampingku, ia yang sabar pada semua kelakuan nakal ku, selama hampir enam tahun ini ia yang lebih sering memarahiku gara – gara tindakan di luar batasku.  Seperti ketika aku mengempesi semua ban mobil anak kelas satu dulu waktu masih SMA.
Atau ketika aku berantem dengan geng lain di jalan.  Ia yang akan habis – habisan memarahiku sesudahnya meskipun tidak segan ia juga ikut turun tangan menyelesaikan masalah kami yang sebenarnya sepele.
Sekarang, aku bahkan tidak bisa makan kalau dia tidak ada.  Tidak bisa tidur jika tangannya tidak menggosok punggungku.  Tidak bisa keluar dari kamar mandi jika ia tidak mengantarkan anduk.  Aku tidak bisa hidup tanpa iras.
Tidak, aku sedang tidak ingin membahas sifat jeleknya.  Aku terlalu mencintainya bahkan setiap kekurangan yang ia miliki.  Bukankah itu sebuah keindahan yang bisa kita miliki, mencintai seseorang lengkap dengan segala kekurangannya.  Bahkan saat kita berusaha mati – matian menutupi hal itu dengan apa yang kita punya..
Iras manusia biasa, maka dari itu aku sangat mencintainya. 
“iras pasti makan steak, sayang mau makan apa?” ia memberhentikan mobil di depan sebuah rumah steak.  Tanpa perlu aku jawab ia tahu kalau aku hanya akan memakan apa yang ia makan.
“kamu selama puasa ini hampir tiap buka puasa atau sahur pasti makan steak..” aku keluar dari dalam mobil kemudian memburu tangannya lagi.  Ia tidak boleh pergi jauh – jauh.
Ia tersenyum sambil mengedikan bahu.
“abis kok ada makanan yang seenak itu..” jari – jari tangannya balas menggenggam tanganku kuat.
Kami berdua berjalan masuk ke dalam restoran, sudah penuh namun iras sudah booking sejak tadi.  Jadi kami tetap dapat kursi, apalagi di sini orang yang sudah langganan diutamakan.  Iras menjadi pelanggan tetap restoran ini bahkan sejak ia SMP.
Kami tidak melihat buku menu sama sekali, pelayan di restoran ini bahkan tau sendiri apa yang akan kami pesan. Sehingga sepuluh menit kami duduk, satu bongkah steak sirloin besar lengkap dengan es kelapa terhidang di meja kami.
Tangan iras dengan cekatan memotong - motong daging tersebut,  kemudian menyuapi ku makan.
“mungkin harus habis dulu batre hp kamu itu baru bisa memperhatikan iras..” iras melirik ke arah hp ku yang sedang asyik ku mainkan sambil makan.
Aku nyengir lebar.  Sambil mematikan hp ku dan meletakannya berjejar bersama dompet kami berdua.  Kalau lagi jalan berdua begini iras tidak akan membawa hp,  sudah hampir seminggu ini hpnya hanya di simpan di dalam mobil.
Baginya, hp adalah pihak ketiga yang sangat nyata di dalam hubungan kami berdua.
“inu pengen nonton..” kataku pada iras.
“nonton apa?” Tanya iras.
“La Tahzan..”
Iras mengerenyitkan kening. “itu film dari arab?”
Aku hampir tergelak.
“bukan film Indonesia, tapi baru akan tayang dua hari lagi, gimana pun caranya inu harus nonton film itu malam ini..”
Iras mengangguk, ia selalu tahu bagaimana caranya menyenangkanku menyanggupi setiap keinginanku.  Ia terus menyuapi ku makan.  Sebenarnya, ketika dulu terpisah jauh dari iras aku sudah belajar memakai sendok dan lancar.  Tapi kini iras kembali, tangan yang bertugas menyuapi ku makan sudah ada lagi.
Jam 9 malam lewat…
Tangan hangat iras terus menuntunku masuk ke dalam sebuah bioskop di tengah kota bandung.  Pemilik bioskop ini temannya sewaktu kuliah, mereka kenal baik.  Jadinya film yang baru akan tayang dua hari lagi bisa kami tonton malam ini.
Sebuah room bioskop, khusus ia bayar hanya untuk kami berdua.  Tidak ada penonton lain, aku bahkan bisa duduk di kursi manapun yang aku suka.
Aku memilih deretan kursi ketiga dari atas.  Di tempat ini kepalaku tidak akan mendongak terlalu tinggi.  Di tangannya iras membawa sekeranjang penuh pop corn.  Ia tahu selama nonton aku tidak akan berhenti makan.
“you doing everything for me..” kataku sambil tersenyum padanya.
Ia membalas senyumku.  Sambil membetulkan letak kacamatnya.  Aku mencari – cari tangannya lagi.
“kamu borgol seharian membuat iras tidak bisa bikin kejutan buat kamu, tidak bisa menyiapkan apa – apa..”  ia seperti setengah mengeluh.
Aku menggeleng.
“cukup kamu, tidak usah repot – repot..” film sudah dimulai, aku tahu kami berdua bukan penonton yang baik.  Sering di tengah – tengah film aku harus membungkam mulut iras yang mulai mengorok.
Atau kami berdua membuat jengkel orang lain karena ribut mendebatkan bagaimana ujung dari filmnya.  Tidak jarang kami akhirnya bertengkar kemudian saling berkejaran karena keluar dari dalam bioskop di tengah – tengah film.
“pengen hadiah apa tahun ini?” Tanya iras lagi.
Bahkan untuk pertanyaan ini aku tidak mempersiapkan jawaban apapun.  Aku sudah kehabisan akal. Makanya aku meminta nonton film ini tadinya aku anggap sebagai kado.  Namun iras menganggapnya hal biasa yang sudah sering ia lakukan.
Meminta dibelikan sesuatu berupa barang, aku sudah kehabisan ide pula ingin meminta apa.  Mobil, aku baru ganti mobil beberapa hari yang lalu. Motor, dua motor yang aku beli sebulan lalu belum sempat kami coba.  Apartemen, rumah, kami tinggal tiga minggu lagi di Indonesia siapa yang akan menempatinya.
Aku menggelengkan kepala kepada iras.
“maksudnya? Tumben sekali kalau gak minta apa – apa..” kata iras setengah terkejut.
“tidak perlu, otak inu lagi habis batre kayanya buat ngerjain kamu atau ngerjain dompet kamu..”
Ia tiba – tiba mencium bibirku.
“pacar iras udah makin gede..”
Aku mengabaikannya namun terus memegang tangannya.  Berpegangan tangan sejak tadi membuat tangan kami berdua basah karena keringat, namun aku tidak perduli.  Dari pada harus membiarkannya menghilang.
Film sudah sampai di ujung,  aku melirik sebelahku, tumben sekali ia tidak tidur menonton film Indonesia.
“Hayu pulang..”
Hampir tengah malam.  Kami tidak bisa masuk  rumah kalau satpam sudah tidur.
“wait..” kata iras.  Ia bangkit dari tempat duduknya, mengambil sesuatu dari kursi di belakang kami.
Lampu bioskop menyala.  Tidak ada orang lain, namun iras nampaknya sudah mempersiapkan ini dengan baik.
Di tangannya ia memikul sebuah kue black forest besar dengan lilin – lilin kecil yang menyala.  Aku tersenyum ke arahnya, di antara tidak ada satupun celah ia menyiapkan hal ini.  Pantas tadi ketika ia bilang akan ngobrol dengan temannya yang pemilik bioskop ini ia pergi lama sekali.
Ia sudah ada di depanku, sambil menyimpan kue besar itu.   Aku ingat tahun lalu, ketika kami merayakannya di apartemen kami di Singapore.  Ia muncul tengah malam dari pantry dengan seluruh tubuhnya dibalut cream putih.  Namun yang ku sukai adalah ketika menghabiskan cream tersebut.
“selamat ulang tahun pacarku yang belum berhenti bandel…”
Lilin – lilin di atas kue nya menggoyangkan api yang menyala lucu.  Aku melihat wajah iras lagi, tampak ia senang dengan hal ini.
“inu tiup nih..” kataku.
“engga, make a wish, tapi teriakin kenceng – kenceng biar iras tahu keinginan inu apa..”
Aku tidak berpikir panjang.
“for longlast life with you..”
Kemudian ku tiup lilin – lilin itu. Ia tersenyum, aku mendekatkan wajah kami, seperti biasa aku mengadukan hidung kami berdua.  Tampak ingin sekali iras menciumku, namun aku menghindar sambil tertawa.
Kami berdua keluar dari dalam bioskop, sudah mulai sepi, kami membeagikan kue yang di tangan iras kepada para karyawan yang masih bertugas.
Aku tidak meminta hadiah apapun pada iras tahun ini, biarlah ku simpan untuk puluhan tahun berikutnya di mana aku akan terus merayakan setiap ulang tahunku dengannya.
For longlast life with you, for our love, for our wish to forever and everlast…”


36 : Bandung



ku buka pintu kamar, tubuh iras masih bergelung di atas tempat tidur dengan selimut yang membalutnya dari dingin AC yang lupa tidak ia matikan semalam.  Sudah hampir jam empat, waktu imsak masih satu jam lagi.  Namun aku tidak ingin kami telat.
Iras meskipun ia cukup rewel kalau aku tidak makan, namun ia tidak pernah bisa masak sama sekali.  Beberapa menu masakan yang pernah ku pelajari dari liam atau mama cukup ampuh ternyata selama ini kami tinggal bersama, hingga aku bisa memasak kapan saja buat iras.
Memang hanya sekedar steak atau olahan daging yang lain, itu karena aku yang maniak sekali terhadap daging sayur atau buah itu hanya sekedaar pengingat tentang pentingnya vitamin dan mineral.  Alasan lainnya, aku alergi seafood sejak lama.
“sayang bangun..” aku mencium pipi iras lembut.  Kemudian ku letakan es balok di tanganku ke pipi bekas aku menciumnya tadi.
“arrrggghh dingin…” seketika iras membuka mata.
Aku tertawa melihat tingkahnya.  Percayalah kalau tidak begitu ia sulit sekali membuka mata.
“cepet sahur yok, udah mau jam empat..” iras bangkit dari tempat tidur, setelah memakai baju ia menggusur sandal mengikutiku ke pantry.
“steak lagi kah?” katanya sambil mengenakan kacamatanya.
Aku mengangguk.  Itu makanan favoritnya, dengan tingkat kematangan yang terserah padaku.  Pernah aku memberikannya daging mentah dan itu hampir ia makan.
“jangan tidur lagi ya, kita langsung ke bandung supaya jalanan gak macet..” ini hari jum’at itu artinya jadwal kami untuk pulang ke bandung dan nanti senin kembali lagi ke Jakarta.
Iras mengangguk mengerti.  Ia menyiapkan dua piring di atas meja pantry, apartemen kecil kami ini memang tidak memiliki dapur.  Ada dapur tapi kecil, kemudian ku sulap bentuknya menjadi lebih praaktis dapur dan pantry di satukan.  Malah langsung dengan mini bar kami.  Sehingga, dapur, pantry dan mini bar dalam satu tempat.
Iras sudah tahu tugasnya apa, ia membuka tutup panci kemudian mengeluarkan kentang yang ku rebus dari sana.  Tangannya dengan cekatan mengupas kentang – kentang tersebut dengan potongan ‘semaunya dia’ tidak ada bentuk khusus.  Pernah suatu kali ia ingin membuat kentang bentuk gunung hirosima malah jadi danau kelimutu.  Alias kentang yang dibuatnya hancur berantakan.
Iras mengupas empat kentang sekaligus dan meletakannya dalam satu piring, kemudian aku membawa teplon berisi dan potong steak raksasaku dan meletakannya di atas satu piring lainnya yang tadi iras siapkan.
Sejak tinggal bersama dua tahun belakangan kami tidak pernah makan dalam piring terpisah.  Paling seperti ini, satu piring untuk meletakan kentang atau nasi piring yang lain untuk menyimpan main course nya.
“this is it..” teriak iras. “the greatest sirloin steak ala chef my loving buddy..” gerakan cepat iras mencium pipiku hingga aku tidak bisa mengelak.
“norak..” aku membentak iras “duduk…”
Ia hanya nyengir kuda, kemudian duduk di kursi depan mini bar kami.  Ku siapkan dua buah gelas, kemudian dari kulkas ku ambil orange jus.  Tinggl itu minuman bervitamin yang kami punya.  Untuk persiapan menghadapi hari ini aku lebih suka melawan penyakit dengan vitamin.  Sehingga minum susu hanya sebelum tidur dan menu minum sahur dengan orange jus.
Aku membawa dua gelas orange jus di tanganku ke mini bar sekaligus meja makan kami.  Tempat yang seharusnya kami taruh meja makan sudah berganti dengan threadmill ku.  Tempat aku melakukan olah raga ringan pagi – pagi.
“di bandung iras tinggal di dago lagi aja ya, di ledeng mama papa kan udah gak ada..”
Aku mengangguk sambil duduk di sampingnya.  Tangannya mulai memotong – motong kecil steak yang ku buat sejak jam tiga tadi.  Kemudian ia mulai menyuapi ku makan.  Ingat inu tidak bisa memakai sendok.
“kalau sampai kamu tinggal di ledeng juga pasti mama ngamuk..” jawabku sambil mengunyah steak di mulutku.
Sejak kedua orang tua iras ke jerman minggu lalu, menemani rere yang kuliah di sana karena tidak bisa pulang sampai lebaran.  Mama memang menyuruh iras untuk tinggal di dago saja bersama kami kalau kami berdua pulang ke bandung.  Karena biasanya kalau pulang ke bandung aku dan iras tidak lagi bisa tinggal serumah.  Iras di ledeng di rumahnya aku di dago bersama mama.
“ayoo makan yang banyak, biar ndut ku ndut lagi….” Iras memasukan daging dan kentang berkali – kali ke dalam mulutku.  Hampir saja aku mencekiknya.
“berat badan inu udah turun dua kilo sekilo lagi lah cukup..”
Iras menggeleng apapun yang berkaitan dengan diet dia memang menentangku.  Ia selalu senang kalau aku makan banyak padahal ia sendiri tipe yang makannya sulit. 
“mau punya penampilan bagus buat diliatin ke siapa lagi? I’m your boyfriend budd..”
Mata iras tampak melotot dari balik kacamatanya.  Aku nyengir sambil merangkul tengkuk lehernya, kemudian mengadukan hidung kami.  Itu yang biasa ku lakukan kalau ia sudah mulai marah.
“maaf maaf.. ini bukan buat penampilan, tapi impian inu buat punya perut kotak – kotak..” kataku berseloroh.
“tempelin aja tahu di sana..” kata iras menepuk – nepuk perutku.
“hahaha garing..” iras bukan makhluk yang pandai bercanda dari dulu.
“mau bilang lucu gak?” ia menunjukan sebuah tinju ke arahku.
Aku menggeleng keras.
“bilang lucu, cium nih cium..” ia mengancam lagi.
Aku menggeleng lagi.
“arrggghhhhhh…” mulutnya yang masih belepotan saus steak mendarat telak di bibirku.  Aku merasakan panas dari pedas cabe dan merica kemudian mendorong lagi tubuhnya ke kursi lagi.
“gue olesin sambel nih ke tuh mata..”
“silahkan kan mataku ada pelindungnya, kacamata super..” iras membetulkan posisi kacamatanya.
“hahaha… kacamata super tapi sebulan sekali ganti gara – gara kedudukin terus di tempat tidur..”
Makanan kami sudah hampir habis, aku mengambil orange jus ku lalu meminumnya sampai habis.
“wiihh pacarku yang masak semalaman ke hausan rupanya, sampe kaya kuda nil gitu minumnya..”
“diam kau gajah afrika..” aku menyodorkan orange jus iras.
Tidak kalah semangat ia pun menghabiskan orange jusnya hanya dalam sekali teguk.  Aku balik meledeknya, sepertinya yang kuda nil sungguhan itu dia bukan aku.  Acara sahur kami tutup dengan mencuci piring bersama, kemudian merapihkan apartemen kami berdua.  Aku ingin saat senin kami kembali ke sini apartemen sudah dalam keadaan rapi.
Inilah hidup kami sekarang, setahun lalu iras baru menyelesaikan sarjananya dalam dua tahun setengah.  Aku tidak mau kalah kuliah ku di keperawatan gara – gara kalah taruhan dari mama akhirnya selesai dalam lima semester.  Bagiku mendapatkan beasiswa ke paris merupakan sebuah bonus, padahal thesisku tidak terlalu berat hanya membahas phenomena seksual pranikah di Indonesia yang memiliki budaya plural namun dengan angka muslim tertinggi.  Kemudian meninjaunya dari sudut fungsi keperawatan.
Tanggal 28 agustus kami berangkat.  Aku dan iras.  Akhirnya ia pun memilih paris untuk melanjutkan S2 bisnisnya.   Tentu aku senang, karena nanti kami di sana kemana – mana akan terus berdua.  Apalagi sebuah rencana bagus menanti kami di sana.
Target kami adalah menyelesaikan pendidikan S2 kami dalam dua tahun, kemudian waktu satu tahun lagi akan kami gunakan untuk keliling eropa.  Tinggal berpindah – pindah dari satu kota ke kota lain, dari perkotaan hingga pedesaan eropa selama dua belas bulan.  Selanjutnya belum ada rencana apakah kembali ke Indonesia atau menetap di sana.
Dan sebuah kesepatakan yang baru saja kami buat, selama di sana kami tidak akan menggunakan handphone, smartphone, paling hanya laptop untuk tugas kuliah kami.  Bahkan sudah kami pikirkan matang – matang akun facebook kami berdua akan kami tutup.
Aku pikir ini bagus, hampir dua tahun belakangan waktu kami tersita oleh kerjaan iras dan tumpukan tugas kuliahku.  Banyak sekali moment yang harus lewat gara – gara masalah itu.
Kuliah, jalan – jalan dan pacaran. Tiga hal, hanya tiga hal itu yang akan kami lakukan selama dua tahun di paris nanti.  Terlalu banyak hal yang menyita masa muda kami berdua.  Terutama dua bulan belakangan ini.
Kakek memintaku untuk bekerja sebagai wakilnya di perushaan.   Sarjana keperawatan memimpin perusahaan.  Aku tahu itu yang terus dibisik – bisikan oleh para dewan komisaris.  Sekarang rasanya ingin sekali melemparkan laporan bulanan perusahaan yang melaju kencang di bawah komandoku ke wajah – wajah tua mereka.  Aku rasa aku baru memenangkan pertempuran dan membungkan mulut – mulut yang meremehkan ku itu.
Iras lebih edan, perusahaan mobil papanya yang kini ditinggalkan ke jerman harus ia pimpin sendirian.  Tenaga kami benar – benar dikuras habis.  Untunglah setiap akhir pekan bisa pulang ke bandung, sekedar melepas lelah, di sana banyak keluarga, teman bahkan keponakan – keponakan kami yang lucu yang bisa membuat kami berdua tertawa dengan tingkah – tingkah mereka yang lucu.
Pulang ke bandung, menyisakan kegilaan yang ku gilai.  Aku bisa ikut dua pamanku atau apih menjadi asisten mereka di kamar bedah rumah sakit hasan sadikin.  Saat pelan – pelan menyileti kulit perut pasien – pasien itu menjadi sebuah pemacu adrenalin tersendiri untukku.
Semoga saja, akhir minggu mereka menyisakan sebuah jadwal operasi.  Aku sudah kangen sejak lama berkutat dengan organ – organ dalam manusia.
Langit sore bandung berubah semakin lembayung menuju maghrib, aku masih bermain – main dengan dua keponakanku di halaman belakang rumah.  Faiz dan chican antusias sekali aku ajari main base ball.  Walaupun jadinya kami hanya sekedar bermain lempar – lemparan bola. Keduanya tahu kalau setiap jum’at kami pasti pulang ke bandung sampai kata mama mereka berdua sudah ke sini sejak pagi.
Sampai di bandung, iras langsung ke dealer.  Ada masalah dengan penjualan mobilnya di bandung bulan ini.  Kalau soal urusan kerjaan aku tidak pernah bisa melarang.  Sehingga sudah seharian kami tidak bersama, iras di dealer aku di rumah.
“sehari gak berduaa terus membuat kalian jadi terlihat wajar kok nu..” kata mama.  Ia menyuruh kami bertiga segera masuk ke rumah.  Membantunya menyiapkan menu untuk berbuka puasa.
“ah mama gak ngerti sih..” kataku.  Aku menelpon iras.  Setelah barusan kami saling komen di facebook. “hallo iras di mana?” tanyaku.
“ini lagi nyari duren dulu, kan tadi sayang nyuruh beli duren..”
Tiba – tiba faiz mendekat. “omm petasan ooom..”
Sebelum iras berangkat ke dealer tadi mereka sempat bertemu.  Kelakuan iras memang kalau mau pergi kemana – mana pasti nanya mau pesan apa ke mereka.  Akhirnya faiz mesan beli petasan yang banyak, sesuatu yang dilarang keras oleh bundanya.
“iyaa aiz, aiz mau apalagi..” Tanya iras lagi.  Aku menempelkan hp ku di dekat kuping faiz, suara iras terdengar cukup nyaring di sana.
“emhh beli coklat yang banyak, kan the puput sama yang lain nanti makan duren nah aiz makan coklat atau es krim aja deh..” katanya mengomando iras.
“okee deh, kasih lagi coba hpnya ke om inu om iras mau ngobrol..”
Faiz bergegas pergi lagi ke ruang tv melanjutkan tontonan spongbob favoritnya. Favorit kami sebenarnya.
“hallo ras..” aku memanggil iras lagi.
“dasar ya, kalian ini kalau gak duren, coklat ya es krim..”
“ada kan? Bawa yang banyak” kataku lagi.
“siap komandan semuanya sudah masuk mobil, sampe ada anak kecil yang nangis gara – gara es krim di supermarket iras borong semua..”
Aku tertawa kemudian menutup telpon darinya. Maghrib sebentar lagi, aku khawatir iras akan buka puasa di jalan.
Mama membawa lari satu buah duren monthong berukuran besar.  Ia makan sendirian di meja makan, sementara aku, dak kurcaci – kurcaci ini tidak beranjak dari teras depan.  Begitu iras menurunkannya dari mobil kami langsung menyerangnya.
Bagasi mobil iras hampir penuh dengan duren dan kami adalah keluarga hama pemangsa buah beraroma sedap itu.  Di sekelilingku cican, putri dan chila, tangan mungil – mungil itu terus berebutan mengambil butir demi butir biji duren.  Iras sampai menepuk jidat menyaksikan kegilaanku.
“itu udah duren yang kelima yank, hati – hati..” iras duduk di kursi sambil memangku faiz.  Ia lagi makan, tadi di jalan katanya tidak sempat buka puasa.  Faiz sendiri karena ia tidak doyan duren sama sekali hingga ia hanya mengemil batangan coklat di pangkuan iras.
“buka lagi ooomm..” teriak kurcil kurcil itu.
Aku membuka duren ke enamku.  Dan tidak ada tanda – tanda bahwa kami akan segera selesai.  Duren yang dibawa iras terlalu enak.
“dasar hama…” kata iras.  Ku lihat sesekali ia menyuapi faiz makan, usianya baru empat tahun jadi ia belum mau puasa. 
“cobain sini yank satu aja, enak tahu..” aku menyodorkan satu biji duren itu ke depan wajah iras.  Ia mengelak beberapa senti.  Iras bukan tidak suka duren kadang – kadang ia makan juga, namun kalau saat ini dia sepertinya lebih tertarik dengan rendangnya mama.
“sayang udah makan?” Tanya iras ke arahku.
Itu pasti hal yang ia khawatirkan kalau ia tidak sempat makan bersamaku.  Aku mengangguk segera.
“tadi di suapin si bibi..” pembantuku.  Sejak kami tinggal di Jakarta sampai sekarang menetap di bandung ia ikut keluarga kami.  Hampir separuh hidupnya ia baktikan untuk mengurus aku, mama dan kakak ku.  Juga papa selagi dia masih ada dulu.
Iras mengangguk lega.  Kemudian begitu selesai makan ia mengajak faiz ke dalam mobilnya yang masih terparkir di depan teras hanya beberapa langkah dari tempat aku dan yang lainnya makan duren.
Dari belakang mobilnya iras mengeluarkan tabung – tabung panjang berwarna meraah yang memiliki berbagai gambar kartun. Ya betul mercon berukuran raksasa, aku bangkit tidak habis pikir masa mercon segede gini mau dikasih ke balita – balita ini.
“gak mikir kamu mereka kan masih segede paku paying gini..” aku berjalan menghampiri iras.  Bocah – bocah setan itu berhamburan, memperebutkan tabung – tabung tersebut.
“lah kan kita yang nyalain” kata iras santai.
Aku agak panic.  Apalagi faiz dan chican mulai saling rebutan, sama – sama menginginkan mercon yang bergambar power ranger.
“tuh kan masalah gambar aja anak – anak tuh harus disamain berantem kan..” aku tidak habis pikir pada kelakuan iras kali ini. Padahal sudah biasa sekali ia membeli sesuatu buat bocah setan ini.
“yang segede – segede gini udah gak ada lagi yank, tadi ya Cuma ini doang, anak – anak jangan ribut ya, ambil satu – satu kalau masih rebutan om jual lagi ke apih..”
Keempat bocah setan itu kompak diam, akhirnya cican mengambil mercon bergambar lain.  Mereka segera memboyongnya ke halaman.
Aku balik kanan.  Ingat duren ku masih belum habis.
Iras mulai menjajarkan rapi anak – anak di halaman depan.  Ia mengajak mang mul ikut serta satpam titisan hulk itu yang menyumbang korek api kepada mereka.  Aku dan iras, kami sudah mencoba berhenti merokok setahun belakang.  Sehingga tidak akan punya korek di dalam kantog celana.
Duren ku masih sisa satu kepala dari lima belas yang dibawa iras.  Ini tinggal satu lagi.  Giliranku menghabiskan sendirian.  Bocah – bocah itu sudah teralihkan dengan mercon yang dibawa iras.
“om sini…’ teriak putri.
Aku menggelengkan kepala sambil memasukan satu biji besar duren montong ku.  Melihat apa yang ada di tanganku putri berlari.   Aku bangkit berdiri mengangkat semua duren tersisa di depanku.
“jahanam turunkan duren itu, aku ingin makan..” kata putri menunjuk duren di tanganku
Aku menggeleng lagi sambil menggoda nya dengan berpura – pura menikmati kelejatan durian seperti iklan di tv.
“oooooommmm..” putri meronta – ronta.  Aku tertawa melihat tingkahnya kemudian menurunkan lagi duren di tanganku.
Kami berdua menghabiskan durian yang ada hingga hanya tersisa bongkahan – bongkahan kulitnya saja yang mengotori lantai.
Aku menggendong putri kemudian berlari ke arah iras dan yang lain berada.
“yank berani megang?” iras menyerahkan tabung mercon besar itu kepadaku.
Ia tahu reputasiku seperti apa, tanpa ragu aku menggenggam tabung mercon itu menggunakan kedua tanganku.
Tangan iras menyalakan korek, kemudian ia mulai menyunut ujung dari mercon berwarna merah yang ku pegang.  Seperti tahu apa tugasnya. Kedua tangan iras menutupi kupingku.  Sementara kupingnya sendiri ia biarkan.
“duaaarrr… duaaaaarrrrr…” cahaya kembang api mulai menerangi seisi halaman rumahku.  Keempat keponakanku mereka melompat – lompat kegirangan.
“ini buat lima belas tembakan..” teriak iras.
Aku memperkuat genggaman tanganku.  Kedua tangan iras terus menutupi kupingku.  Dalam hati aku terus menghitung, ini sudah memasuki ledakan ke berapa.  Aku ikut senang melihat keempat bocah setan itu tertawa dan bernyanyi senang.
Ini ledakan ke empat belas.  Berarti sekali lagi.  Aku lihat pintu gerbang rumah di buka.  Sosok putih, gendut bersorban, mirip haji muhidin berdiri di sana. Apih.
“Inuuuuu gandeng baong..” aku kaget melihat apih.  Hingga tanganku bergoyang dan tabung di tanganku tidak lagi tegak ia miring ke depan beberapa derajat.  Sudah keburu mau meledak, dan aku tahu ini awal sebuah bencana.
Mercon sudah meluncur dan ia menabrak salah satu jendela di lantai tiga rumah apih.  Aku nyengir ke arahnya begitu mendengar suara ledakan diiringi pecahan kaca di sebrang sana.
Mama yang dari tadi ikut menonton di teras, ia langsung masuk ke dalam rumah. 
“kabuuuuurrrrr…” kata empat biji kerambol itu.
Aku hanya nyengir lebar saja kea rah apih.
Baiklah, mungkin dari sekian banyak yang sudah saya posting kali ini saya ingin berbagi pandangan dengan teman – teman semua.  Silahkan simak, tidak perlu ditanggapi ini pandangan saya.  Tanya hati  masing – masing jika ingin berkomentar.
Jujur saja, saya tidak tahu bagaimana nasib akhir dari postingan saya ini.  Jika ia seperti sebuah novel maka harus ada ujung cerita dari novel tersebut.  Tapi ini bukan novel, ini kisah nyata dan kami para pelakunya masih hidup.  Cerita akan selalu terjadi, akan selalu ada karena kami pemerannya semuanya masih hidup.
Baiklah, bukan itu yang akan kita bahas tapi tentang hal lain.  Malam ini, malam ke lima kami di bandung.  Sengaja aku dan iras tidak pulang ke Jakarta.  Malas rasanya.  Pekerjaan bisa dihandel oleh bawahan kami.  Apalagi mendekati arus mudik, kalau harus ke Jakarta butuh perjalanan berapa jam dan nanti balik lagi ke bandung pasti akan memakan waktu lama.
Selepas shalat maghrib, iras ngajak nonton ke ciwalk.  Ia semangat sekali ingin nonton the conjuring, film horror baru dari Hollywood.  Jujur saja ini bukan genre film yang aku sukai.  Tapi sore ini diusahakan mau nonton horror, gara – gara yang tercinta mau sekali nonton.  Aku tidak pernah bisa mengecewakannya dalam bentuk apapun.
Ketika menunggu antrian dan film belum mulai, sebuah pesan masuk di akun facebook.  Namanya Handika Restu.  Tanpa basa – basi dia bilang seperti ini: “jangan terlalu dalam berhubungan dengan cowok nu, cewek memang tidak bisa memuaskan kita dalam sex, saya juga berhubungan dengan cowok dan saya puas secara sex dari mereka, tapi cewek juga penting…”
Emosiku naik.  Betapa bajingannya orang ini.  Dia sudah merendahkan laki – laki dan perempuan sekaligus.  Tidak ada satupun dalam perkataannya ini yang bisa disebut baik dan kita anggap masukan.  Yang lebih membuatku emosi, dia sudah merendahkan ku dan iras.  Dia pikir kami pasangan seperti apa.  Sudah jelas tertangkap maksud perkataannya.
Iras bahkan bilang remove saja, tapi tidak secepat itu.  Orang semacam ini harus diberikan pelajaran.
“terimakasih masukannya. Tapi ini hidup saya.  Maksud anda bicara sex apa? Jelas anda tidak tahu siapa saya, jangan samakan saya dengan kebanyakan orang yang anda kenal, terutama jangan samakan saya dengan anda..”
Aku marah.  Benar – benar marah.  Orang ini benar – benar sudah mengemukakan sebuah pandangan negative terhadap pasangan berkelamin sama seperti ku dan iras. 
Begini, sejak pacaran dengan iras enam tahun yang lalu, saya tidak pernah sekalipun mencoba bergaul dengan kalangan homoseksualitas di luar sana.  Putus dari iras, saya memang pernah pacaran dengan beberapa orang, beberapa dari mereka memang memiliki pergaulan dengan banyak orang gay.  Tapi sedapat mungkin saya menghindari mereka, ketika tahu bahwa di mata mereka dengan jadi gay berarti itu memudahkan mereka untuk melakukan hubungan seksual.
Singkatnya begini, kaum gay pasti dekat dengan hubungan seksual.  Menurut mereka munafik sekali kalau bilang tidak pada masalah seksual ini.
Ini yang membuat saya malas bertemu bahkan berteman dengan kaum homoseksualitas di Indonesia.  Terkait dengan apa yang saya jalani, saya hanya hidup dengan iras bergaul dengan teman – teman SMA dan teman – teman kampus.  Mereka semua normal.
Saya tahu, banyak dari mereka juga yang tidak berpendapat demikian.  Juga banyak yang memiliki pandangan seperti kami.  Tidak, saya tidak menutup komunikasi sama sekali dengan orang – orang di facebook, banyak dari mereka yang baik, yang melihat hubungan saya dengan iras lewat sisi positif.
Tapi orang semacam handika ini bukan Cuma satu dan mayoritas ada di friendlist saya.  Bagi pembaca perempuan, silahkan lihat friendlist laki – laki di akun facebook saya.  100% mereka semua gay. Tandai satu per satu, laki – laki semacam itu, yang berjanji bahwa suatu saat akan bertaubat dan memperbaiki diri dengan menikahi wanita.  Kalian bisa buktikan apabila merekaa sudah berhasil memberikan keturunan.
Karena kebanyakan laki – laki gay yang sudah menikahpun di luar rumah mereka tetap memiliki simpanan brondong atau anak alay.  Hati – hati dengan tipe laki – laki seperti ini, buat mereka perempuan itu layak disakiti seperti ketika bapaknya menyakiti ibunya.
Semoga kalian bisa mengartikan istilah di atas dengan baik.
Saya jelaskan pandangan saya dan iras mengenai hal ini satu persatu.  Pertama mengenai hubungan seksual.  Percayalah, saya atau iras bukan tipe orang agresif yang harus melakukan hubungan seksual di manapun tanpa kenal waktu.  Kami pacaran saja tuhan tidak suka apalagi harus melakukan hal itu, bahkan kalaupun kami menikah, kegiatan seksual kami tidak akan pernah jadi ibadah.  Itu pointnya.  Tidak munafik, dalam rentang waktu tertentu kami melakukan hal ini.
Dan pertanyaan lain suka muncul.  “siapa yang suka jadi bot dan topnya?”
Bagi yang tidak kenal dengan istilah ini, kedua istilah top dan bot ini adalah sebuah istilah biasa dalam hubungan percintaan kaum homoseksualitas.  Dimana si top ini berperan sebagai laki – lakinya dan si bot berperan sebagai wanitanya.
Sungguh menggelikan bukan? Di dalam hubungan antar sesama laki – laki tapi ada yang harus jadi wanita.  Kenapa mereka tidak pacaran dengan wanita saja kalau begitu.
Hal ini tidak berlaku dalam hubungan saya dengan iras.  Aku sangat sadar, inu laki – laki dan iras laki – laki.  Ketika berhubungan seksual tidak ada satupun yang berupaya meminta yang lain menjadi makhluk berjiwa lain.
Percayalah hal ini lebih menyenangkan dari pada harus bertindak bodoh seperti itu.  Buat saya, menerima dia seperti apa adanya dia itu harus.  Sebuah kewajiban.  iras seorang laki – laki maka dia harus menjadi laki – laki begitu juga saya.
Maka dari itu, melihat kelakuan gay di sekitar kami begitu kami tidak senang jika disebut gay, homo, penyuka sesame jenis.  Karena biasanya dengan disebut begitu maka semua sifat buruk itu akan ikut melekat.
Buat kami sebutan “cowok normal tapi pacaran” lebih enak di dengar.
Saya punya teman di kampus, dia gay.  Kelakuannya persis para gay di tv, kemayu dengan semua hasrat kewanitaannya.   Dia tidak pernah mau main dengan kami yang laki – laki normal, dia tidak bisa ikut futsal, tidak bisa mengendarai motor (supaya lebih laki motor koopling ya)  bahkan mobil.  Jelas dia gay tulen. 
Nah saya sendiri dan iras.  Sejak SMA kami berdua atlet basket, saya sendiri hobi balap dan arung jeram apalagi naik gunung.  Futsal sudah bukan hobi lagi tapi kewajiban tiap minggu harus main futsal.  Kata  teman – teman saya, kalian terlalu laki untuk pacaran.
Iya kami gay.  Kalau ada di antara kalian yang saat ini bilang “ini orang munafiknya keterlaluan”
Kami gay.  Iras dan inu memang gay.  Kami ulang sekali lagi.  Karena itu sebutan bagi laki – laki yang berpacaran dengan laki – laki lagi.  Namun sekali lagi kami tegaskan, kami tidak melakukan apa yang banyak kaum gay lakukan.
Rasanya membicarakan cinta dengan iras, membicarakan masa depan, membicarakan asyiknya bekerja, asyiknya futsal, nyari tempat makan baru, ngomongin film baru di bioskop lebih menyenangkan dari pada uring – uringan “hari ini kita belum ML..”
Oke lah, kalau teman – teman melihat bagaimana manisnya status – status saya di facebook.  Terutama yang saya tulis buat iras. Boleh lah dikatakan lebay tapi tolong jangan sampai itu dijadikan cap bahwa saya atau iras ‘ngondek’
Sungguh itu merupakan sebuah penghinaan yang besar.
Saya penyuka sastra dari dulu, kalau ada yang ingin tahu siapa sastrawan idola saya, saya punya banyak daftar mereka, pertama chairil anwar, pram atau pramoedya ananta toer, rendra, sapardi djoko darmono dan tentu saja chairil Gibran. 
Itu mungkin yang mendasari dari berbagai kalimat romantic yang bisa saya buatkan untuk iras, hal itu tidak bisa dipaksa, mereka keluar begitu saja dari salah satu sudut di hipotalamus dalam otak saya.  Saya mencintai iras, maka dari itu kata – kata romantic paling romantispun bisa saya buatkan.
Maaf teman – teman maaf sekali lagi, ingin rasanya memeluk kalian satu persatu yang penasaran dan sedikit – sedikit mulai memahami kami.  Beberapa mungkin jadi benci, jadi biasa saja, jadi kagum atau jadi ngefans #halah
Tapi ini lah kami, ini kejujuran kami.
Kita bahas yang kedua soal wanita, bagaimana pandangan saya dan iras mengenai wanita.
Januari 2011, tanpa sepengetahuan kami berdua iras dijodohkan oleh keluarganya dengan seorang gadis cantik sekali.  Tapi pertunangannya tidak pernah berjalan. Iras menolak.  Kejadian ini membuat kami terpisah tidak bicara sama sekali selama tujuh bulan, baru pada bulan agustus tahun itu kami bertemu lagi dan mulai pacaran lagi.
Teori banyak orang yang menyebutkan bahwa suatu saat hubungan gay harus diakhiri dan menikah dengan perempuan.
Ini yang ada di kepala saya waktu itu, mungkin sudah saatnya iras melakukan itu dan saya yang harus mulai belajar.  Saya coba terimakan, namun nyatanya rencana tuhan lain ia malah mengembalikan iras.
Saya tahu, dengan saya dan iras semakin tahun semakin dekat dan kami semakin serius, bahkan rencana menikah dan memiliki anak itu sudah benar – benar kami bahas dengan sangat baik.  Dengan begini kami akan bertindak dzalim pada dua wanita yang harusnya jadi jodoh kami berdua.
Kami tidak bisa berbuat apa – apa, kami berdua sangat mencintai wanita. Bahkan kami beberapa kali pernah pacaran dengan wanita.
Namun saya sendiri, tidak ingin munafik.  Tidak mau jika suatu saat saya harus menikah dengan seseorang yang bukan iras, namun hati saya ada di iras.  Bukankah itu lebih menyakiti jodoh saya dua kali? Di dunia dan kelak nanti di sana?
Semoga saja tuhan mau mengganti jodoh mereka berdua dengan jodoh yang lebih baik dari kami berdua.
Yang selalu jadi persoalan, banyak orang di facebook yang mencoba ceramah kepada kami berdua, tentang jangan terlalu terbuai dengan hubungan kalian berdua.
Keluarga kami berdua saja tidak mempermasalahkannya.  Kenapa mereka yang tidak kenal sama sekali dengan kami, yang tidak pernah bertemu, tidak perna bergaul, tidak pernah melihat langsung bagaimana saya memperlakukan iras dan iras memperlakukan saya, senang sekali memberikan berbagai ceramah tentang jalan hidup yang sebenarnya.
Bukankah jalan hidup itu adalah jalan yang kita pilih?
Kalau harus sesuai aturan manusia, sesuai aturan orang lain itu berarti jalan hidup orang lain.  Bukan jalan hidup kita.
Itu pandangan kami berdua yang ada di otak kami berdua.  Kami tidak bertanya pendapat teman – teman semua, bahkan kami melarang teman – teman posting komentar di kotak komentar.  Ini pandangan kami, bukan untuk berdebat panjang.
Percayalah kami yang menjalani sudah berusaha bertanggungjawab sebaik mungkin dengan pilihan yang kami buat.
Inu dan iras cinta kalian semua.