Kamis, 01 Agustus 2013

23 : hot coffe



Setahun yang lalu selepas idul fitri.
Matahari sore sukabumi baru saja berkabung, ia dilalap maghrib hingga hari beranjak malam.  Sebuah mobil boks besar menjulurkan tubuhnya ke dalam garasi rumah baru kami. Rumah baru aku dan iras.  Akhirnya aku kalah, setelah desakan iras memenangkan perdebatan di antara kami berdua soal tinggal serumah.
Awalnya aku memang agak keberatan untuk tinggal serumah, rasanya tidak ada jeda untuk merasakan kangen seperti dulu.  Apalagi kami baru bersama lagi.  Baru bisa bergandengan tangan mesra lagi setelah lama sekali rasanya, waktu membawa ku bertualang, menjauhkannya, memisahkan jarak antara kami berdua.
Alasan iras untuk tinggal bersama cukup bisa diterima oleh akal.  Ia kini sudah lebih sibuk, pekerjaannya butuh perhatian lebih, apalagi selama ini ia memang tidur di rumahku.  Aku sebenarnya menawarkan untuk tinggal di rumah ku saja di selabatu tapi garasinya tidak cukup akhirnya ia beli juga sebuah rumah di dago yang garasinya lebih besar.
Dengan jujur ia katakan, ia ingin selama dua puluh sempat jam mengawasiku.  Menjagaku.  Aku masih menolak kemarin.  Tapi ia minta ijin sendiri pada mama, agar bisa mengajakku tinggal serumah.  Ia sampaikan juga apa maksudnya, mama terima malah ia kesenangan. Ia tahu beberapa hobiku memang cukup mengkhawatirkan.  Mama tetap mama, menganggapku sebagai anak lelakinya yang lucu.  Ia ingin iras mengurangi hobi balapanku.  Mereka berdua menyebalkan dalam hal ini.  Konspirasinya tidak pernah terkalahkan.
Sebuah rumah yang cukup manis,  nama daerahnya sama – sama dago.  Sama dengan tempat tinggal ku di bandung,  namun dago ini lebih kecil dan tidak sekeren di sana.  Apabila malam hanya ada abg – abg sukabumi yang maksa dandan necis.
Design minimalis dengan sedikit halaman, namun memiliki pagar tembok yang tinggi.  Menurut iras, rumah ini ditinggalkan pemiliknya ke Singapore. Dijual dengan harga setengah dari harga pasaran, cukup sepadan dengan uang kami saat ini.
Para tukang masih memindahkan beberapa barangku yang kumasukan ke dalam berbagai kotak.  Ternyata tinggal dua tahun di sini barang di rumah ku banyak juga, hingga sampai butuh satu mobil boks untuk memindahkannya.
“kang ini yang terakhir, ada lagi yang bisa kami bantu?” kata aji.  Sopir dari mobil boks yang kami sewa.
“tidak ada, makasih ji..” aku menerima boks yang ada di tangan aji.  Ia berbalik menuju mobilnya.  Kemudian mobilnya keluar dari garasi kami.
Kotak – kotak kardus berwarna coklat itu bertumpuk – tumpuk di ruang tamu.  Aku tidak tahu sampai kapan akan selesai merapihkan dan mengeluarkan isinya.  Yang membuat ku heran, kemana iras, tadi pamit sebentar ke dalam ia belum kembali.
“nyon, onyooon…” aku berteriak ke dalam.
“ya sayang bentar..” jawabnya dari dalam.  Aku menyeret satu kotak dus tempat aku menyimpan buku – buku referensi kuliahku.
Syukurlah kuliah ku tinggal satu tahun lagi, walau aku tidak tahu nantinya harus ngapain.  Aku ingin kuliah lagi, kuliah lagi, sampai sudah tidak ada gelar yang bisa ku raih.  Kuliah iras tahun ini selesai, otaknya berhasil membuatnya menyelesaikan sarjana hanya enam semester.  Aku tahu ini semacam motivasi untukku, sarjanaku harus selesai juga tahun ini.
Tiba – tiba iras kembali ke ruang tamu, ia membawa sesuatu di tangannya.
“hot coffe for my warm heart..” ia mengelus sedikit dadaku.
Aku tersenyum melihat kelakuannya.  Aku tahu, seumur hidunya iras Cuma bisa masak mie instan, menyeduh kopi, dan membuat dapur berantakan.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar