Setahun yang lalu selepas
idul fitri.
Matahari sore sukabumi baru
saja berkabung, ia dilalap maghrib hingga hari beranjak malam. Sebuah mobil boks besar menjulurkan tubuhnya
ke dalam garasi rumah baru kami. Rumah baru aku dan iras. Akhirnya aku kalah, setelah desakan iras
memenangkan perdebatan di antara kami berdua soal tinggal serumah.
Awalnya aku memang agak
keberatan untuk tinggal serumah, rasanya tidak ada jeda untuk merasakan kangen
seperti dulu. Apalagi kami baru bersama
lagi. Baru bisa bergandengan tangan
mesra lagi setelah lama sekali rasanya, waktu membawa ku bertualang,
menjauhkannya, memisahkan jarak antara kami berdua.
Alasan iras untuk tinggal
bersama cukup bisa diterima oleh akal.
Ia kini sudah lebih sibuk, pekerjaannya butuh perhatian lebih, apalagi
selama ini ia memang tidur di rumahku.
Aku sebenarnya menawarkan untuk tinggal di rumah ku saja di selabatu
tapi garasinya tidak cukup akhirnya ia beli juga sebuah rumah di dago yang
garasinya lebih besar.
Dengan jujur ia katakan, ia
ingin selama dua puluh sempat jam mengawasiku.
Menjagaku. Aku masih menolak
kemarin. Tapi ia minta ijin sendiri pada
mama, agar bisa mengajakku tinggal serumah.
Ia sampaikan juga apa maksudnya, mama terima malah ia kesenangan. Ia
tahu beberapa hobiku memang cukup mengkhawatirkan. Mama tetap mama, menganggapku sebagai anak
lelakinya yang lucu. Ia ingin iras
mengurangi hobi balapanku. Mereka berdua
menyebalkan dalam hal ini. Konspirasinya
tidak pernah terkalahkan.
Sebuah rumah yang cukup
manis, nama daerahnya sama – sama
dago. Sama dengan tempat tinggal ku di
bandung, namun dago ini lebih kecil dan
tidak sekeren di sana. Apabila malam
hanya ada abg – abg sukabumi yang maksa dandan necis.
Design minimalis dengan
sedikit halaman, namun memiliki pagar tembok yang tinggi. Menurut iras, rumah ini ditinggalkan
pemiliknya ke Singapore. Dijual dengan harga setengah dari harga pasaran, cukup
sepadan dengan uang kami saat ini.
Para tukang masih
memindahkan beberapa barangku yang kumasukan ke dalam berbagai kotak. Ternyata tinggal dua tahun di sini barang di
rumah ku banyak juga, hingga sampai butuh satu mobil boks untuk memindahkannya.
“kang ini yang terakhir,
ada lagi yang bisa kami bantu?” kata aji.
Sopir dari mobil boks yang kami sewa.
“tidak ada, makasih ji..”
aku menerima boks yang ada di tangan aji.
Ia berbalik menuju mobilnya.
Kemudian mobilnya keluar dari garasi kami.
Kotak – kotak kardus
berwarna coklat itu bertumpuk – tumpuk di ruang tamu. Aku tidak tahu sampai kapan akan selesai
merapihkan dan mengeluarkan isinya. Yang
membuat ku heran, kemana iras, tadi pamit sebentar ke dalam ia belum kembali.
“nyon, onyooon…” aku
berteriak ke dalam.
“ya sayang bentar..”
jawabnya dari dalam. Aku menyeret satu
kotak dus tempat aku menyimpan buku – buku referensi kuliahku.
Syukurlah kuliah ku tinggal
satu tahun lagi, walau aku tidak tahu nantinya harus ngapain. Aku ingin kuliah lagi, kuliah lagi, sampai
sudah tidak ada gelar yang bisa ku raih.
Kuliah iras tahun ini selesai, otaknya berhasil membuatnya menyelesaikan
sarjana hanya enam semester. Aku tahu
ini semacam motivasi untukku, sarjanaku harus selesai juga tahun ini.
Tiba – tiba iras kembali ke
ruang tamu, ia membawa sesuatu di tangannya.
“hot coffe for my warm
heart..” ia mengelus sedikit dadaku.
Aku tersenyum melihat
kelakuannya. Aku tahu, seumur hidunya
iras Cuma bisa masak mie instan, menyeduh kopi, dan membuat dapur berantakan.
…
Tidak ada komentar:
Posting Komentar