Aku segera ikut berbaris dengan
model-model lain. Tinggal dua kali walk
lagi, setelah ini tinggal pemberian bukee saja. Maka fashion show bridal ini segera
berakhir. Aku sedang membantu tanteku,
ia yang meminta menjadi model di peragaan busana pernikahan karyanya untuk
edisi tahun ini.
Aku sih senang-senang saja,
tante anne langsung meminta ijin ke iras.
kalau sudah begini, iras tidak akan bisa menolak. Pantang baginya untuk menolak permohonan baik
dari keluarga nya atau keluargaku.
Dua minggu sebelumnya tante
anne menelponnya langsung, meminta ijin inu buat ikutan di peragaan
busananya. Akhirnya dengan sedikit
meringis iras mengiyakan. Kalau saja
tawaran seperti ini datang saat bertahun-tahun yang lalu, aku pasti akan merasa
sangat senang sekali. Tapi hari ini,
setelah semua larangan dari iras, setelah semua pengalaman mengabdikan diri
pada pasien-pasien itu, setelah terasa menjadi perawat bisa memberikan sedikit
manfaat, datang kesempatan seperti itu hanya bagai selingan sekilas. Kali ini
pun, aku hanya ingin membantu tante anne saja karena ia kekurangan model.
Kami berdiri di belakang
panggung berbaris ke belakang, yang terakhir ini khusus busana pengantin
pria. Setelah coordinator selesai
memberikan aba-aba maka satu persatu dari kamipun keluar, berjalan menuju
panggung lurus. Yang cukup ramping,
namun itu yang membuat kami berjalan lebih teratur.
Langkah-langkahku, diselingi
musik, dan tatapan semua orang rasanya seperti kembali ke beberapa tahun ke
belakang. Dimana rasanya semua ini
bagaikan mimpi dan impian-impian yang harus dikejar. Ketika menjadi seorang yang berbakat,
ditemukan seorang produser akhirnya menjadi bintang besar. Tapi semua itu hanya obsesi-obsesi masa
remaja. Hanya obsesi.
Aku mengedarkan pandangan,
sambil berdiri di tengah-tengah panggung.
Sedikit meberikan act sebelum kembali ke belakang. Iras masih duduk di sana. Di jajaran paling depan bersama
penonton-penonton yang lain. Ia tampak
mengobrol dengan beberapa orang gadis di sekitarnya. Sampai tertawa-tawa, seakan yang ada di atas
panggung itu orang lain bukan pacarnya.
Aku kembali ke belakang
panggung, tante anne tersenyum
menyambutku. Ia memberikan kecupan
kecilnya di pipiku.
“nanti kamu ya yang ngasih
bukee ke auntie..” aku lupa dia paling anti disebut tante.
“iya aunt inu ke belakang dulu
ya, istirahat satu menit..” tante anne mengangguk, kemudian ia segera sibuk
menghampiri model-model yang lain.
Aku berjalan tergesa-gesa ke
ruangan di sebelah ruang make up, di sana ruangan tempat tante anne
beristirahat. Aku melonggarkan kancing
kemeja ku, rasanya suhu udara di sini sedikit naik.
Pintu terbuka, di sana muncul
wajah iras.
Mataku mencari ke sekeliling
mencari apa saja yang ada, sesuatu yang
bisa membuatku mengusirnya.
“praaaang..” tanganku
melemparkan vas bunga di atas meja ke arahnya.
Meleset, iras bisa menghindar dengan baik dengan tampang terkejutnya.
“ngapain lu ke sini, kenapa
gak terusin aja ketawa-ketawanya di sana..” aku mencari benda lain yang bisa ku
jadikan senjata.
Iras mempercepat langkahnya,
ia menghampiriku. Kemudian menggenggam kedua tanganku.
“sayaang, hey hey tenang..”
katanya sambil mencoba mengekangku.
“sayang sayang lu pikir enak
apa liat lu ketawa sama orang lain..”
“ya tuhan sayang, mereka Cuma
ngajak ngobrol doang” iras masih berusaha keras menahanku, sementara aku
semakin liar mencoba memberontak.
“iya dan lu layanin, gua
berdiri di depan lu tapi gak diliat sama sekali, pacar macam apa...” karena
kesal akhirnya aku menendang kaki iras.
ia tampak meringis, tapi hebatnya dia, ia tidak sedikitpun membiarkan ku
lepas dari cengkaramannya.
“terserah sayang mau ngomong
apa, yang penting iras gak ngelakuin yang kaya gitu..”
“iya terserah, terserah gimana
lu aja, urus hidup lu..” rasanya emosiku semakin memuncak dan dia masih terlihat dengan wajah yang
tidak berdosa seperti itu.
Tiba-tiba pintu terbuka,
coordinator kami, ia membawa sebuah bukee.
“maaf, tapi kita harus segera
ke panggung waktunya penyerahan bukee..”
Akhirnya iras melepaskan
genggamannya. Aku sedikit merapihkan jas
pengantin yang ku pakai. Kemudian mengambil bukee bunga yang tergeletak di atas
meja. Tanpa sekalipun berbalik melihat
iras, aku berjalan keluar meninggalkannya sendirian di sana.
...
“sayang masih ngambek..” suara
iras pelan sambil menatapku, ia menarik rem tangan, dan memastikan mobil sudah
di parkir dengan baik.
Aku diam, tidak menjawab
sedikitpun. Indra memberitahuku soal keadaan di kampus, minggu depan kami
praktek di rumah sakit jiwa di ci mahi.
“sayang, iras lagi ngomong
loh, kok gak didengerin..” iras merendahkan kepalanya, mencari tatapan mataku.
Aku melemparkan hpku, kemudian
membuka safe belt
dan keluar dari dalam mobil. Sambil
tidak bicara sedikitpun, aku berjalan menuju lift. Iras masih di dalam mobil, sehingga aku
sendirian naik lift menuju apartemen kami.
Begitu sampai di apartemen,
aku langsung menuju kamar. Di atas
tempat tidur, iPad milik iras tergeletak, mungkin ia tidak membawanya
tadi. Aku mengambilnya, kemudian membuka
facebook.
Di sana ada beberapa orang
teman yang menanyakan perihal Chaos yang sedang terjadi antara aku dengan
iras. beberapa orang yang sangat
perhatian dan selalu menanyakan perkembangan hubungan kami, mereka juga tampak khawatir dengan konflik
kecil yang terjadi ini.
“yank cemberutnya udahan dong”
status facebook iras.
Aku hanya tersenyum sebentar,
aku sebenarnya sudah tidak ngambek hanya lagi malas bicara saja. Mungkin ini bisa juga untuk ngerjain iras.
Terdengar pintu terbuka, iras
baru sampai. Tapi ia tidak segera
menyusul ke kamar. Aku melanjutkan
perbincangan dengan beberapa orang teman di facebook menjelaskan bahwa aku hanya
sedang ngerjain iras.
Tapi aku rasa, cemburu itu
kadang di perlukan, agar kita tidak bosan sekaligus me refresh cinta antara dua
orang yang semakin hari usianya semakin bertambah. Aku cemburu karena aku takut ras, ada orang
lain yang bisa membuat iras ketawa lebih pandai dari cara yang biasa inu
lakukan untuk membuat iras tertawa.
Sebenarnya bukan sekali ini
saja kejadian seperti ini, aku sudah terlalu sering diam dan tidak bicara
sedikitpun pada iras. tujuannya jelas,
karena setiap kali selesai marah iras akan berusaha keras untuk meminta maaf. Meskipun sebenarnya dia terlalu salah dan
setelah itu, keadaan berubah menjadi berkali lipat romantis.
Aku hanya ingin merasakan
manisnya itu, untuk kali ini. Suasana
apartemen kami yang menghadap laut dan langit gelap jakarta akan memberikan
nafas bagi pelukan kami berdua. Tidak
hanya sekedar perasaan hangat, namun aroma musim semi di paris yang selalu kami
rindukan.
Bayangan iras masuk ke dalam
kamar, aku membalikan tubuh. Iras duduk
di tepi tempat tidur di belakangku, aku
masih membuka beberapa pesan di iPad Iras.
hanya pesan-pesan dari sekertarisnya tentang semua agenda pekerjaannya.
“maafkan iras sayang, udah
bikin inu bahkan gak mau ngomong sama iras kaya gini, maaf...”
aku tidak mendengar iras
melanjutkan kata-katanya. Namun beberapa
detik kemudian keluar suara tangisan dari belakang tubuhku. Apa iras menangis? Aku membalikan badan,
tubuh iras yang membelakangiku tampak segukan berkali-kali. Oh tuhan iras menangis, aku sama sekali
tidak berniat membuatnya menangis.
“sampai kapanpun iras tidak
akan bisa menjadi seorang pacar yang baik, iras yang selalu menuntut inu untuk
tidak dekat dengan orang lain tapi iras sendiri melakukannya, pacar macam apa
iras ini, iras terlalu banyak melarang inu melakukan banyak hal, tapi iras
sendiri bahkan paling pandai melakukan hal-hal yang bisa membuat inu terluka..”
Aku diam. Sebetulnya bukan keadaan seperti ini yang aku
inginkan. Biasanya ketika aku merajuk,
iras akan merayuku mati-matian.
Biasanya kalau sudah begitu, kami akan baikan sendiri. Tepatnya aku yang baikan.
“maaf, maaaaf...” iras semakin
merundukan tubuhnya, tangisnya terdengar semakin keras. Ia menutupi seluruh wajahnya.
Aku memeluk tubuh iras dari
belakang, melingkari pinggangnya dengan
kedua tanganku. Daguku bersandar di
bahunya.
“kok iras malah nangis...” aku
bingung harus mengatakan apalagi, sekarang aku malah merasa aku lah orang yang
paling brengsek. “sudah biasa kan kita seperti ini, inu yang suka ngambek
seperti ini, tapi kenapa sekarang iras malah nangis..”
“tidak sayang, iras sudah
terlalu sering membuat inu marah itu pasti karena inu kecewa. Iras sudah melakukan banyak hal mengecewakan
dan tidak bisa membuat inu bahagia..”
Klaim iras meruntuhkanku,
sudah terlalu banyak yang iras lakukan.
Semua hal baik bahkan segala semua yang terbaik selalu dia berikan. Aku merasa sifat egois dan kekanak-kanakan ku
sekarang sudah semakin keterlaluan. Iras
bahkan sampai menyerah seperti ini menghadapinya.
Tanganku semakin memeluk erat
tubuh iras. ia mendekap tanganku juga. Aku
mengambil iPad.
“bilang ceess ke kamera, biar
besok karyawan iras liat, wajah bosnya kalau lagi nangis..” aku menyalakan
video record di iPad.
Iras tampak kaget, spontan
tangisannya berhenti ia berusaha mengambil iPad nya yang sedang merekam
kejadian langka ini.
“sayang, jangan becanda ah,
ayo siniin ipad nya, kita matiin..” iras terus berusaha mengambil ipad yang ada
di tanganku.
“eiittsss, tidak bisa, langka
ini langka..” kataku lagi sambil terus menodongkan kamera ipad ke arah wajah
iras.
“sayang udah ahh..” telapak
tangan iras, berusaha menutupi lensa kamera.
Aku masih terus tertawa, kemudian tubuhku sampai tergolek di atas tempat
tidur. Tanpa berhenti tertawa dan
merekam wajah iras terus.
Tubuh iras menyergapku,
tanganya masih berusaha meraih ipad yang sore ini jadi senjata usilku. Aku terus mencoba mengelak. Tiba-tiba tangan
iras menggelitik pinggangku, sampai aku menggelinjang tanpa mau melepaskan ipad
tersebut.
Bibir iras akhirnya yang
bertindak, mendarat di pipiku, kemudian membungkan tawa ku pelan-pelan. Pelan-pelan menutup kedua bibirku, tidak
memberikan jalan nafas keluar melalui mulut.
Kedua tangannya melingkari tubuhku, lalu ia memejamkan mata. Sambil lidahnya berusaha berpetualang di
seluruh rongga mulutku. Aku dibawa ke
surga.
Aku masih tersenyum, sedetik
kemudian mata iras terbuka agak melotot, marah atas tindakanku. Tanpa melepaskan bibir iras yang masih
mengecup bibirku, aku tersenyum lagi.
Ingin sekali mengatakan bahwa dia terlihat cukup jelek barusan.
Tangan iras menyangga
kepalaku, tubuh kami sudah tidak memiliki jarak. Aku tidur di atas lengan iras. dan kepalanya menyandar di dadaku. Karena mungkin kecapean, akhirnya kami lelap
sampai pagi dalam keadaan seperti itu.
...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar