Kamis, 01 Agustus 2013

30 : a model



   Aku segera ikut berbaris dengan model-model lain.  Tinggal dua kali walk lagi, setelah ini tinggal pemberian bukee saja.  Maka fashion show bridal ini segera berakhir.  Aku sedang membantu tanteku, ia yang meminta menjadi model di peragaan busana pernikahan karyanya untuk edisi tahun ini.
Aku sih senang-senang saja, tante anne langsung meminta ijin ke iras.  kalau sudah begini, iras tidak akan bisa menolak.  Pantang baginya untuk menolak permohonan baik dari keluarga nya atau keluargaku.
Dua minggu sebelumnya tante anne menelponnya langsung, meminta ijin inu buat ikutan di peragaan busananya.  Akhirnya dengan sedikit meringis iras mengiyakan.  Kalau saja tawaran seperti ini datang saat bertahun-tahun yang lalu, aku pasti akan merasa sangat senang sekali.  Tapi hari ini, setelah semua larangan dari iras, setelah semua pengalaman mengabdikan diri pada pasien-pasien itu, setelah terasa menjadi perawat bisa memberikan sedikit manfaat, datang kesempatan seperti itu hanya bagai selingan sekilas. Kali ini pun, aku hanya ingin membantu tante anne saja karena ia kekurangan model.
Kami berdiri di belakang panggung berbaris ke belakang, yang terakhir ini khusus busana pengantin pria.  Setelah coordinator selesai memberikan aba-aba maka satu persatu dari kamipun keluar, berjalan menuju panggung lurus.  Yang cukup ramping, namun itu yang membuat kami berjalan lebih teratur.
Langkah-langkahku, diselingi musik, dan tatapan semua orang rasanya seperti kembali ke beberapa tahun ke belakang.  Dimana rasanya semua ini bagaikan mimpi dan impian-impian yang harus dikejar.  Ketika menjadi seorang yang berbakat, ditemukan seorang produser akhirnya menjadi bintang besar.  Tapi semua itu hanya obsesi-obsesi masa remaja.  Hanya obsesi.
Aku mengedarkan pandangan, sambil berdiri di tengah-tengah panggung.  Sedikit meberikan act sebelum kembali ke belakang.  Iras masih duduk di sana.  Di jajaran paling depan bersama penonton-penonton yang lain.  Ia tampak mengobrol dengan beberapa orang gadis di sekitarnya.  Sampai tertawa-tawa, seakan yang ada di atas panggung itu orang lain bukan pacarnya.
Aku kembali ke belakang panggung,  tante anne tersenyum menyambutku.  Ia memberikan kecupan kecilnya di pipiku.
“nanti kamu ya yang ngasih bukee ke auntie..” aku lupa dia paling anti disebut tante.
“iya aunt inu ke belakang dulu ya, istirahat satu menit..” tante anne mengangguk, kemudian ia segera sibuk menghampiri model-model yang lain.
Aku berjalan tergesa-gesa ke ruangan di sebelah ruang make up, di sana ruangan tempat tante anne beristirahat.  Aku melonggarkan kancing kemeja ku, rasanya suhu udara di sini sedikit naik.
Pintu terbuka, di sana muncul wajah iras.
Mataku mencari ke sekeliling mencari apa saja  yang ada, sesuatu yang bisa membuatku mengusirnya.
“praaaang..” tanganku melemparkan vas bunga di atas meja ke arahnya.  Meleset, iras bisa menghindar dengan baik dengan tampang terkejutnya.
“ngapain lu ke sini, kenapa gak terusin aja ketawa-ketawanya di sana..” aku mencari benda lain yang bisa ku jadikan senjata.
Iras mempercepat langkahnya, ia menghampiriku. Kemudian menggenggam kedua tanganku.
“sayaang, hey hey tenang..” katanya sambil mencoba mengekangku.
“sayang sayang lu pikir enak apa liat lu ketawa sama orang lain..”
“ya tuhan sayang, mereka Cuma ngajak ngobrol doang” iras masih berusaha keras menahanku, sementara aku semakin liar mencoba memberontak.
“iya dan lu layanin, gua berdiri di depan lu tapi gak diliat sama sekali, pacar macam apa...” karena kesal akhirnya aku menendang kaki iras.  ia tampak meringis, tapi hebatnya dia, ia tidak sedikitpun membiarkan ku lepas dari cengkaramannya.
“terserah sayang mau ngomong apa, yang penting iras gak ngelakuin yang kaya gitu..”
“iya terserah, terserah gimana lu aja, urus hidup lu..” rasanya emosiku semakin memuncak  dan dia masih terlihat dengan wajah yang tidak berdosa seperti itu.
Tiba-tiba pintu terbuka, coordinator kami, ia membawa sebuah bukee.
“maaf, tapi kita harus segera ke panggung waktunya penyerahan bukee..”
Akhirnya iras melepaskan genggamannya.  Aku sedikit merapihkan jas pengantin yang ku pakai. Kemudian mengambil bukee bunga yang tergeletak di atas meja.  Tanpa sekalipun berbalik melihat iras, aku berjalan keluar meninggalkannya sendirian di sana.
...
“sayang masih ngambek..” suara iras pelan sambil menatapku, ia menarik rem tangan, dan memastikan mobil sudah di parkir dengan baik.
Aku diam, tidak menjawab sedikitpun. Indra memberitahuku soal keadaan di kampus, minggu depan kami praktek di rumah sakit jiwa di ci mahi.
“sayang, iras lagi ngomong loh, kok gak didengerin..” iras merendahkan kepalanya, mencari tatapan mataku.
Aku melemparkan hpku, kemudian membuka safe belt dan keluar dari dalam mobil.  Sambil tidak bicara sedikitpun, aku berjalan menuju lift.  Iras masih di dalam mobil, sehingga aku sendirian naik lift menuju apartemen kami.
Begitu sampai di apartemen, aku langsung menuju kamar.  Di atas tempat tidur, iPad milik iras tergeletak, mungkin ia tidak membawanya tadi.  Aku mengambilnya, kemudian membuka facebook.
Di sana ada beberapa orang teman yang menanyakan perihal Chaos yang sedang terjadi antara aku dengan iras.  beberapa orang yang sangat perhatian dan selalu menanyakan perkembangan hubungan kami,  mereka juga tampak khawatir dengan konflik kecil yang terjadi ini.
“yank cemberutnya udahan dong” status facebook iras.
Aku hanya tersenyum sebentar, aku sebenarnya sudah tidak ngambek hanya lagi malas bicara saja.  Mungkin ini bisa juga untuk ngerjain iras.
Terdengar pintu terbuka, iras baru sampai.  Tapi ia tidak segera menyusul ke kamar.  Aku melanjutkan perbincangan dengan beberapa orang teman di facebook menjelaskan bahwa aku hanya sedang ngerjain iras.
Tapi aku rasa, cemburu itu kadang di perlukan, agar kita tidak bosan sekaligus me refresh cinta antara dua orang yang semakin hari usianya semakin bertambah.  Aku cemburu karena aku takut ras, ada orang lain yang bisa membuat iras ketawa lebih pandai dari cara yang biasa inu lakukan untuk membuat iras tertawa.
Sebenarnya bukan sekali ini saja kejadian seperti ini, aku sudah terlalu sering diam dan tidak bicara sedikitpun pada iras.  tujuannya jelas, karena setiap kali selesai marah iras akan berusaha keras untuk meminta maaf.  Meskipun sebenarnya dia terlalu salah dan setelah itu, keadaan berubah menjadi berkali lipat romantis.
Aku hanya ingin merasakan manisnya itu, untuk kali ini.  Suasana apartemen kami yang menghadap laut dan langit gelap jakarta akan memberikan nafas bagi pelukan kami berdua.  Tidak hanya sekedar perasaan hangat, namun aroma musim semi di paris yang selalu kami rindukan.
Bayangan iras masuk ke dalam kamar, aku membalikan tubuh.  Iras duduk di tepi tempat tidur di belakangku,  aku masih membuka beberapa pesan di iPad Iras.  hanya pesan-pesan dari sekertarisnya tentang semua agenda pekerjaannya.
“maafkan iras sayang, udah bikin inu bahkan gak mau ngomong sama iras kaya gini, maaf...”
aku tidak mendengar iras melanjutkan kata-katanya.  Namun beberapa detik kemudian keluar suara tangisan dari belakang tubuhku.  Apa iras menangis? Aku membalikan badan, tubuh iras yang membelakangiku tampak segukan berkali-kali.   Oh tuhan iras menangis, aku sama sekali tidak berniat membuatnya menangis.
“sampai kapanpun iras tidak akan bisa menjadi seorang pacar yang baik, iras yang selalu menuntut inu untuk tidak dekat dengan orang lain tapi iras sendiri melakukannya, pacar macam apa iras ini, iras terlalu banyak melarang inu melakukan banyak hal, tapi iras sendiri bahkan paling pandai melakukan hal-hal yang bisa membuat inu terluka..”
Aku diam.  Sebetulnya bukan keadaan seperti ini yang aku inginkan.  Biasanya ketika aku merajuk, iras akan merayuku mati-matian.   Biasanya kalau sudah begitu, kami akan baikan sendiri.  Tepatnya aku yang baikan.
“maaf, maaaaf...” iras semakin merundukan tubuhnya, tangisnya terdengar semakin keras.  Ia menutupi seluruh wajahnya.
Aku memeluk tubuh iras dari belakang,  melingkari pinggangnya dengan kedua tanganku.  Daguku bersandar di bahunya. 
“kok iras malah nangis...” aku bingung harus mengatakan apalagi, sekarang aku malah merasa aku lah orang yang paling brengsek. “sudah biasa kan kita seperti ini, inu yang suka ngambek seperti ini, tapi kenapa sekarang iras malah nangis..”
“tidak sayang, iras sudah terlalu sering membuat inu marah itu pasti karena inu kecewa.  Iras sudah melakukan banyak hal mengecewakan dan tidak bisa membuat inu bahagia..”
Klaim iras meruntuhkanku, sudah terlalu banyak yang iras lakukan.  Semua hal baik bahkan segala semua yang terbaik selalu dia berikan.  Aku merasa sifat egois dan kekanak-kanakan ku sekarang sudah semakin keterlaluan.  Iras bahkan sampai menyerah seperti ini menghadapinya.
Tanganku semakin memeluk erat tubuh iras.  ia mendekap tanganku juga. Aku mengambil iPad.
“bilang ceess ke kamera, biar besok karyawan iras liat, wajah bosnya kalau lagi nangis..” aku menyalakan video record di iPad.
Iras tampak kaget, spontan tangisannya berhenti ia berusaha mengambil iPad nya yang sedang merekam kejadian langka ini.
“sayang, jangan becanda ah, ayo siniin ipad nya, kita matiin..” iras terus berusaha mengambil ipad yang ada di tanganku.
“eiittsss, tidak bisa, langka ini langka..” kataku lagi sambil terus menodongkan kamera ipad ke arah wajah iras.
“sayang udah ahh..” telapak tangan iras, berusaha menutupi lensa kamera.  Aku masih terus tertawa, kemudian tubuhku sampai tergolek di atas tempat tidur.  Tanpa berhenti tertawa dan merekam wajah iras terus.
Tubuh iras menyergapku, tanganya masih berusaha meraih ipad yang sore ini jadi senjata usilku.  Aku terus mencoba mengelak. Tiba-tiba tangan iras menggelitik pinggangku, sampai aku menggelinjang tanpa mau melepaskan ipad tersebut.
Bibir iras akhirnya yang bertindak, mendarat di pipiku, kemudian membungkan tawa ku pelan-pelan.  Pelan-pelan menutup kedua bibirku, tidak memberikan jalan nafas keluar melalui mulut.  Kedua tangannya melingkari tubuhku, lalu ia memejamkan mata.  Sambil lidahnya berusaha berpetualang di seluruh rongga mulutku.  Aku dibawa ke surga.
Aku masih tersenyum, sedetik kemudian mata iras terbuka agak melotot, marah atas tindakanku.  Tanpa melepaskan bibir iras yang masih mengecup bibirku, aku tersenyum lagi.  Ingin sekali mengatakan bahwa dia terlihat cukup jelek barusan.
Tangan iras menyangga kepalaku, tubuh kami sudah tidak memiliki jarak.  Aku tidur di atas lengan iras.  dan kepalanya menyandar di dadaku.  Karena mungkin kecapean, akhirnya kami lelap sampai pagi dalam keadaan seperti itu.
...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar