Matahari baru setengah
naik, hari sudah beranjak siang. Kedua
keponakanku berlarian dipinggir pantai, merayakan keberhasilan mereka membuat
istana pasir. Mulai dari menara, kastil, jembatan, saluran irigasi bahkan seekor
monster laut. Nessi.
Mama yang dari tadi menjadi
mandor untuk bangunan yang dibangun oleh keduanya tampak berteriak – teriak
memanggil mereka yang kadang pergi ke tengah pantai dengan cukup
mengkhawatirkan. Kaki – kaki kecil keduanya terlalu lincah untuk dapat mama
kejar.
Aku memindahkan laptop dari
pengkuan ku ke atas meja. Kemudian
memasang kacamata hitamku lagi. Kulitku
masih terasa lengket setelah dari tadi aku mengelilingi hampir seluruh bibir
pantai berburu ombak, berselancar.
Disela liburan kami
berlima, ada sebuah kekalutan yang terus menggangguku. Ini terkait masa depanku, hidupku bersama
iras dan terutama mama. Agustus semakin
dekat, kepindahan ku dengan iras ke paris sudah semakin matang. Semua dokumen sudah siap, bahkan sampai rumah
yang akan kami tempati kelak selama bertahun – tahun pun sudah ada. Tanggal 28 agustus kami akan benar – benar
pergi meninggalkan Indonesia. Untuk bertahun – tahun atau selamanya.
Sekilas menyenangkan,
bahkan ketika aku bilang ke astroboy mereka malah bertanya dimana letak
masalahnya. Masalahnya adalah kesendirian mama, tiga tahun ia aku tinggalkan
untuk kuliah di sukabumi. Kini untuk
waktu yang akupun tidak tahu akan berakhir kapan aku akan meninggalkannya
lagi. Pergi satu minggu saja mama pasti menyuruh
pulang apalagi ini bertahun – tahun dengan jarak yang bukan sebatas bandung –
sukabumi. Tapi dua benua yang berjauhan.
Pernah aku berusaha
membujuk kak lili untuk pulang kembali ke bandung. Dia bisa melanjutkan S3 nya di sana sambil
tetap mengajar juga. Namun jawabannya
beberapa minggu lalu membuatku memukul kening.
“kayanya tahun depan kita
mau lanjut kuliah di Washington Nu, aku sama mas gede udah positif tinggal di
sana, thanael sama thalia mungkin gak aku bawa, aku titip sama mama di bandung,
makanya aku sekarang sering banget ngirim mereka liburan ke bandung hehehe…”
Kak lili dan mas gede dua
dosen UGM yang aku tahu mereka maniak sekali belajar. Targetnya mendapat gelar
professor dari universitas besar di amerika atau eropa. Dua keponakanku yang sudah masuk sekolah
dasar tentu sudah cukup besar untuk ditinggalkan. Lagi pula keluarga besar kami
pasti tidak akan setuju kalau dua bocah setan itu dibawa keluar neger, apalagi
keluarga mas gede di bali.
Lalu tadi malam seusai aku
berkeliling mencari sewaan papan selancar yang lebih bagus di pantai karang
hawu aku membicarakan kemungkinan rencana lain mengenai mama pada iras. Akhirnya iras setuju kalau mama akan ikut
kami tinggal di paris. Thalia dan thanael bisa dikirim ke bali atau dibawa oleh
orang tua nya ke Washington.
Mama berjalan dari pantai
menuju beranda cottage, menghampiriku.
Kemudian iras keluar dari dalam cottage membawa beberapa gelas orange
jus untuk kami berlima.
Hampir setahun yang lalu,
ketika aku masih kuliah di sukabumi.
Satu – satunya tempat liburan membuang penat akhir pekan ya pantai
palabuhan ratu. Ketika kami berkeliling
iras melihat tempat ini, cottage tua yang hampir tidak terurus, di pagarnya
tertulis ‘dijual’ akhirnya tanpa pikir panjang ia beli kemudian ia renovasi. Sehingga jadilah cottage pribadi kami yang bagus
di teluk palabuhan ratu dibawah bukit puncak habibi.
“makasih a, kalian ini
makanya mama suruh bawa pembantu biar kita gak kerepotan di sini..” mama
manerima salah satu gelas yang disodorkan iras. Kami duduk pada dua buah kursi
panjang yang menghadap pantai.
Iras meletakan bakinya,
kemudiaan ia menyusul duduk di sebelahku.
Usai memberikan satu gelas orange jus yang dibawanya tadi.
“ada yang mau inu bicarain
sama mama..” aku menatap iras sebentar kemudian mama. “mengenai rencana kita ke paris, inu tau berat
buat mama awalnya, berat juga buat kita ninggalin mama di bandung sendirian,
tapi ma kami punya rencana lain..”
Aku tidak melanjutkan
perkataanku. Ketika thalia dan thanael rebut berebut minuman di atas meja.
“gimana kalau mama ikut
kita ke paris?”
Aku menunggu reaksi mama,
namun terlampau biasa untuk tampang terkejut.
Ia melepaskan topi pantainya kemudian menggeraikan rambut panjangnya
yang diberi warna merah gelap tersebut.
Akhirnya mama tersenyum
sambil menatap kami berdua.
“tidak Nu..” mama menggeleng
lemah. “mama memang akan kesepian, mama juga pasti akan kangen kamu, khawatir
kamu kenapa – kenapa, tapi kan sudah ada iras yang jagain Inu..”
Mendengar itu, aku memegang
jari tangan iras kuat.
“mama sepertinya akan
menerima usulan kak lili buat ngurus thalia sama thanael, apalagi kayanya
mereka berdua sudah mengerti dan mau tinggal di bandung..”
Aku bangkit kemudian
memeluk mama. Bukan karena ini semua terasa berat, namun aku merasa beruntung
bangga pernah memiliki kesempatan menjadi anaknya.
“kita lagi liburan, gak
boleh ada keharuan apapun, kalian punya hidup sendiri, kejar itu hidup kalian,kalian
berhak memilih, yang paling penting kalian harus bahagia..”
Hening sesaat diantara kita
bertiga. Iras yang duduk diampit oleh thalia dan thanael tampak sesekali main –
main bersama keduanya.
“its time to lunch.. c’mon
I was cooking to both of you..” tutur iras sambil tersenyum.
Keduanya terlonjak girang.
Beberapa tahun belakangan memang iras belajar masak. Dan selama dua hari liburan, ada beberapa
masakannya yang disukai oleh thalia dan thanael. Akhirnya ketika tiba waktu
makan mereka selalu meminta iras memasak.
Iras menggiring keduanya
masuk ke dalam cottage, aku memandang mama sebentar. Sejurus kemudian ia
mengajakku bangkit, entah masakan apa yang dibuat iras namun baunya memang
sudah menggoda sejak tadi.
…
Jam empat sore lebih
beberapa menit. Aku baru bangun tidur,
di sofa di sebelahku iras sedang mengerjakan tugas kantor dengan laptopnya. Ia
tersenyum ketika melihatku membuka mata..
“bangun juga, iras kira
bakalan tidur terus sampai malam, ini malam minggu sayang, mau kemana kita?”
Aku menatap heran.
“kita lagi di pantai, emang
mau kemana lagi kita..” aku mengedikan bahu.
“keluar yok, di dekat sini
ada sebuah vihara besar yang dibangun orang Thailand katanya kalau lihat
matahari tenggelam di sana bagus..”
“belum mandi, mama dimana?”
“ada lagi nonton tv, mandi
dulu nanti kita ke sana..” komando iras. Aku menggangguk sambil bangkit dari
tempat tidur.
Kemudian dengan langkah
sempoyongan aku keluar dari kamar.
Menuju ruang tengah cottage tempat mama nonton tv.
“hei Nu, mama baru sekarang
liat acara ini, itu Liam yang dulu sering main ke rumah kan? Tuh tato
ditangannya masih ada…”
Mama sedang menonton acara
kompetisi masak di salah satu statsiun televisi. Beberapa waktu lalu aku pernah melihat
tayangan yang sama pada episode sebelumnya.
Iras sepanjang kami balikan sangat membenci segala hal yang berkaitan
aku dengan mantan – mantan ku. Belakangan beberapa mantan ku eksis di televisi
termasuk salah satunya Liam.
“tato?” iras melirik
khawatir ke arahku.
Aku mengangguk.
“iya a, tuh liat tato di
jari tangannya, itu bahasa Thailand kalau gak salah artinya Inu bantet ku, iya
kan nu..?” jawab mama sambil tergelak.
Wajah iras bereaksi tidak
suka, ia kemudian berjalan ke luar. Berbalik sebentarke arahku.
“mandinya cepet ya, iras
mau bersihin mobil dulu tadi es krim thanael tumpah di jok belakang..”
Aku mengangguk padanya,
yang berjalan keluar dari cottege. Sudah
pasti dia marah. Beberapa minggu lalu,
ketika aku tidak sengaja menonton televisi aku melihat liam di acara ini. Di setiap tayangannya memunculkan alamat akun
twitter pesertanya, kemudian aku mencoba menghubungi liam lewa twitter.
Dasar mantan. Dibaikin dikit
selalu merasa diberikan banyak harapan. Ketika aku mengucapkan selamat karena
dia berhasil menang pada salah satu innovation test, ia malah mengira aku ingin
bertemu dan ia janji akan memasakanku makanan kesukaanku.
Beberapa waktu kemudian
iras membongkar akun twitterku. Ia
menemukan pesan tersebut, kelunakanku pada liam membuatnya berang. Ia marah
besar, bahkan aku sempat dicuekan sampai tiga hari lamanya.
Sejak saat itu aku dilarang
melihat chanel televisi tersebut di jam – jam acara masak tersebut tayang. Aku
menurut, tapi mama sore ini menonton acara tersebut. Dan berhasil menguak luka
tiga minggu yang lalu.
“mau kemana kalian?” Tanya
mama ketika aku duduk di sampingnya.
“kata iras ada vihara deket
sini, kami mau liat sunset di sana..” aku merebahkan tubuhku yang masih lemas
karena baru bangun tidur. “mama udah
berhasil bikin muka iras ditekuk kaya gitu..”
“lah emang kenapa?” Saut
mama.
“iras gak pernah bisa akur
dengan mantan – mantan inu” aku menguap akan sangat percuma bilang seperti ini
pada mama. Iras sudah keburu asem mukanya.
…
Aku menurunkan kaca jendela
mobil. Melihat keluar, permukaan laut
yang tenang dan langitnya yang mulai menguning. Iras menyetir di sampingku,
sejak berangkat dari cottage ia tidak bicara sedikitpun. Mukanya ditekuk, disembunyikan lewat kacamata
hitamnya.
“rasanya kita sudah
sering bahas hal kaya gini, kita udah
terlalu gede buat diem – dieman kaya gini ras, gimana masalah mau selesai kalau
gak dibicarain..”
“kan gak ada masalaha apa –
apa “ sahutnya pelan.
“terus kenapa dari tadi di
cottage sampai sekarang gak ngomong – ngomong, biasanya juga bawel nya gak
ketulungan..” aku menatap heran ke arahnya.
Ia mendehem beberapa kali,
tidak segera menjawab.
“iras tidak pernah bisa
berhenti cemburu pada apapun yang sempat mengambil inu dari iras, bahkan kalau
mama sudah mengenal baik seperti itu.
Iras cemburu juga, mama bisa baik sama sayangnya ke dia sama dengan sayangnya mama ke iras.
Maaf kalau hal ini bikini nu jengkel, tapi mungkin iras memang akan
menua dengan semua sifat cemburu iras…”
Aku tidak menjawab. Kemudian membiarkan jari – jari tangannya
menggenggam tanganku kuat – kuat. Dia
selalu merasa cemburu, aku akan selalu merasa jengkel dan beruntung karena begitu
dicintai olehnya.
“mungkin selama itu juga,
buat iras inu selalu bisa berkhianat sama iras, padahal dibandingkan apapun
iras akan terus jadi hal terpenting dalam hidup inu..” aku menatap lurus ke
depan. “iras lihat, kenapa kaca jendela depan mobil kita lebih besar
dibandingkan dengan spion? Bahkan besarnya jauh berbeda..”
Iras menggeleng dan
menantikan jawabanku berikutnya.
“itu karena pandangan kita
ke depan lebih penting dibandingkan dengan tatapan kita ke belakang. Iras masa
depan inu, kenapa kita harus sibuk memperhatikan masa lalu?”
Iras mengangguk – angguk
faham, aku mulai melihat ketenangan di wajahnya bahkan kini ia sudah mulai
tersenyum lagi.
“apa iras perlu ditato
juga?” Tanya nya tiba – tiba.
“hah? Tato?”
“di tangannya dia ada nama
inu, masa iras bisa kalah sama mantan. Suatu saat iras harus nemuin dia, minta
ngehapus tatonya. Berapapun biaya nya iras bakal bayarin dia” iras tampak
serius dengan apa yang diucapkannya. “lagi pula apa – apaan dia ngaku inuku
segala, ditambahin apa? Bantet? Kok mau disebut bantet..”
Aku tergelak, tertawa
terpingkal – pingkal. Tidak menyangka iras berpikir sejauh itu hanya dalam
beberapa saat.
“jadi gini ceritanya, dia
pernah bikin kue di rumah sama mama, kuenya bantet, tapi kue itu habis inu
makan, makanya nyebut inu bantet..” jelasku singkat.
“tapi kok bantet, panggilan
macam apa itu..” iras menghakimi lagi.
“lah iras emang pernah gitu
manggil inu yang panggilannya keren dikit, si bandel lah, si ngeyel lah, si gak
sabaran, si keras kepala..”
Iras senyum cengengesan.
“yang penting iras sayang
inu..” kata iras sambil menghentikan
mobil. Kami sudah sampai.
Aku tidak memperdulikan
iras, malah segera cepat – cepat keluar. Menaiki tangga vihara, seperti yang
dikatakan sebuah situs di interenet apabila sampai dipuncak vihara
pemandangannya akan keren sekali.
Dikejauhan ku lihat iras
menyusul ku.
…
Tidak ada komentar:
Posting Komentar