Kamis, 01 Agustus 2013

35 : Mama



Matahari baru setengah naik, hari sudah beranjak siang.  Kedua keponakanku berlarian dipinggir pantai, merayakan keberhasilan mereka membuat istana pasir. Mulai dari menara, kastil, jembatan, saluran irigasi bahkan seekor monster laut. Nessi.
Mama yang dari tadi menjadi mandor untuk bangunan yang dibangun oleh keduanya tampak berteriak – teriak memanggil mereka yang kadang pergi ke tengah pantai dengan cukup mengkhawatirkan. Kaki – kaki kecil keduanya terlalu lincah untuk dapat mama kejar.
Aku memindahkan laptop dari pengkuan ku ke atas meja.  Kemudian memasang kacamata hitamku lagi.  Kulitku masih terasa lengket setelah dari tadi aku mengelilingi hampir seluruh bibir pantai berburu ombak, berselancar.
Disela liburan kami berlima, ada sebuah kekalutan yang terus menggangguku.  Ini terkait masa depanku, hidupku bersama iras dan terutama mama.  Agustus semakin dekat, kepindahan ku dengan iras ke paris sudah semakin matang.  Semua dokumen sudah siap, bahkan sampai rumah yang akan kami tempati kelak selama bertahun – tahun pun sudah ada.  Tanggal 28 agustus kami akan benar – benar pergi meninggalkan Indonesia. Untuk bertahun – tahun atau selamanya.
Sekilas menyenangkan, bahkan ketika aku bilang ke astroboy mereka malah bertanya dimana letak masalahnya. Masalahnya adalah kesendirian mama, tiga tahun ia aku tinggalkan untuk kuliah di sukabumi.  Kini untuk waktu yang akupun tidak tahu akan berakhir kapan aku akan meninggalkannya lagi.  Pergi satu minggu saja mama pasti menyuruh pulang apalagi ini bertahun – tahun dengan jarak yang bukan sebatas bandung – sukabumi.  Tapi dua benua yang berjauhan.
Pernah aku berusaha membujuk kak lili untuk pulang kembali ke bandung.  Dia bisa melanjutkan S3 nya di sana sambil tetap mengajar juga.  Namun jawabannya beberapa minggu lalu membuatku memukul kening.
“kayanya tahun depan kita mau lanjut kuliah di Washington Nu, aku sama mas gede udah positif tinggal di sana, thanael sama thalia mungkin gak aku bawa, aku titip sama mama di bandung, makanya aku sekarang sering banget ngirim mereka liburan ke bandung hehehe…”
Kak lili dan mas gede dua dosen UGM yang aku tahu mereka maniak sekali belajar. Targetnya mendapat gelar professor dari universitas besar di amerika atau eropa.  Dua keponakanku yang sudah masuk sekolah dasar tentu sudah cukup besar untuk ditinggalkan. Lagi pula keluarga besar kami pasti tidak akan setuju kalau dua bocah setan itu dibawa keluar neger, apalagi keluarga mas gede di bali.
Lalu tadi malam seusai aku berkeliling mencari sewaan papan selancar yang lebih bagus di pantai karang hawu aku membicarakan kemungkinan rencana lain mengenai mama pada iras.  Akhirnya iras setuju kalau mama akan ikut kami tinggal di paris. Thalia dan thanael bisa dikirim ke bali atau dibawa oleh orang tua nya ke Washington.
Mama berjalan dari pantai menuju beranda cottage, menghampiriku.  Kemudian iras keluar dari dalam cottage membawa beberapa gelas orange jus untuk kami berlima.
Hampir setahun yang lalu, ketika aku masih kuliah di sukabumi.  Satu – satunya tempat liburan membuang penat akhir pekan ya pantai palabuhan ratu.  Ketika kami berkeliling iras melihat tempat ini, cottage tua yang hampir tidak terurus, di pagarnya tertulis ‘dijual’ akhirnya tanpa pikir panjang ia beli kemudian ia renovasi.  Sehingga jadilah cottage pribadi kami yang bagus di teluk palabuhan ratu dibawah bukit puncak habibi.
“makasih a, kalian ini makanya mama suruh bawa pembantu biar kita gak kerepotan di sini..” mama manerima salah satu gelas yang disodorkan iras. Kami duduk pada dua buah kursi panjang yang menghadap pantai.
Iras meletakan bakinya, kemudiaan ia menyusul duduk di sebelahku.  Usai memberikan satu gelas orange jus yang dibawanya tadi.
“ada yang mau inu bicarain sama mama..” aku menatap iras sebentar kemudian mama.  “mengenai rencana kita ke paris, inu tau berat buat mama awalnya, berat juga buat kita ninggalin mama di bandung sendirian, tapi ma kami punya rencana lain..”
Aku tidak melanjutkan perkataanku. Ketika thalia dan thanael rebut berebut minuman di atas meja.
“gimana kalau mama ikut kita ke paris?”
Aku menunggu reaksi mama, namun terlampau biasa untuk tampang terkejut.  Ia melepaskan topi pantainya kemudian menggeraikan rambut panjangnya yang diberi warna merah gelap tersebut.
Akhirnya mama tersenyum sambil menatap kami berdua.
“tidak Nu..” mama menggeleng lemah. “mama memang akan kesepian, mama juga pasti akan kangen kamu, khawatir kamu kenapa – kenapa, tapi kan sudah ada iras yang jagain Inu..”
Mendengar itu, aku memegang jari tangan iras kuat.
“mama sepertinya akan menerima usulan kak lili buat ngurus thalia sama thanael, apalagi kayanya mereka berdua sudah mengerti dan mau tinggal di bandung..”
Aku bangkit kemudian memeluk mama. Bukan karena ini semua terasa berat, namun aku merasa beruntung bangga pernah memiliki kesempatan menjadi anaknya.
“kita lagi liburan, gak boleh ada keharuan apapun, kalian punya hidup sendiri, kejar itu hidup kalian,kalian berhak memilih, yang paling penting kalian harus bahagia..”
Hening sesaat diantara kita bertiga. Iras yang duduk diampit oleh thalia dan thanael tampak sesekali main – main bersama keduanya.
“its time to lunch.. c’mon I was cooking to both of you..” tutur iras sambil tersenyum.
Keduanya terlonjak girang. Beberapa tahun belakangan memang iras belajar masak.  Dan selama dua hari liburan, ada beberapa masakannya yang disukai oleh thalia dan thanael. Akhirnya ketika tiba waktu makan mereka selalu meminta iras memasak.
Iras menggiring keduanya masuk ke dalam cottage, aku memandang mama sebentar. Sejurus kemudian ia mengajakku bangkit, entah masakan apa yang dibuat iras namun baunya memang sudah menggoda sejak tadi.
Jam empat sore lebih beberapa menit.  Aku baru bangun tidur, di sofa di sebelahku iras sedang mengerjakan tugas kantor dengan laptopnya. Ia tersenyum ketika melihatku membuka mata..
“bangun juga, iras kira bakalan tidur terus sampai malam, ini malam minggu sayang, mau kemana kita?”
Aku menatap heran.
“kita lagi di pantai, emang mau kemana lagi kita..” aku mengedikan bahu.
“keluar yok, di dekat sini ada sebuah vihara besar yang dibangun orang Thailand katanya kalau lihat matahari tenggelam di sana bagus..”
“belum mandi, mama dimana?”
“ada lagi nonton tv, mandi dulu nanti kita ke sana..” komando iras. Aku menggangguk sambil bangkit dari tempat tidur.
Kemudian dengan langkah sempoyongan aku keluar dari kamar.  Menuju ruang tengah cottage tempat mama nonton tv.
“hei Nu, mama baru sekarang liat acara ini, itu Liam yang dulu sering main ke rumah kan? Tuh tato ditangannya masih ada…”
Mama sedang menonton acara kompetisi masak di salah satu statsiun televisi.  Beberapa waktu lalu aku pernah melihat tayangan yang sama pada episode sebelumnya.  Iras sepanjang kami balikan sangat membenci segala hal yang berkaitan aku dengan mantan – mantan ku. Belakangan beberapa mantan ku eksis di televisi termasuk salah satunya Liam.
“tato?” iras melirik khawatir ke arahku.
Aku mengangguk.
“iya a, tuh liat tato di jari tangannya, itu bahasa Thailand kalau gak salah artinya Inu bantet ku, iya kan nu..?” jawab mama sambil tergelak.
Wajah iras bereaksi tidak suka, ia kemudian berjalan ke luar. Berbalik sebentarke arahku.
“mandinya cepet ya, iras mau bersihin mobil dulu tadi es krim thanael tumpah di jok belakang..”
Aku mengangguk padanya, yang berjalan keluar dari cottege.  Sudah pasti dia marah.  Beberapa minggu lalu, ketika aku tidak sengaja menonton televisi aku melihat liam di acara ini.  Di setiap tayangannya memunculkan alamat akun twitter pesertanya, kemudian aku mencoba menghubungi liam lewa twitter.
Dasar mantan. Dibaikin dikit selalu merasa diberikan banyak harapan. Ketika aku mengucapkan selamat karena dia berhasil menang pada salah satu innovation test, ia malah mengira aku ingin bertemu dan ia janji akan memasakanku makanan kesukaanku.
Beberapa waktu kemudian iras membongkar akun twitterku.  Ia menemukan pesan tersebut, kelunakanku pada liam membuatnya berang. Ia marah besar, bahkan aku sempat dicuekan sampai tiga hari lamanya.
Sejak saat itu aku dilarang melihat chanel televisi tersebut di jam – jam acara masak tersebut tayang. Aku menurut, tapi mama sore ini menonton acara tersebut. Dan berhasil menguak luka tiga minggu yang lalu.
“mau kemana kalian?” Tanya mama ketika aku duduk di sampingnya.
“kata iras ada vihara deket sini, kami mau liat sunset di sana..” aku merebahkan tubuhku yang masih lemas karena baru bangun tidur.  “mama udah berhasil bikin muka iras ditekuk kaya gitu..”
“lah emang kenapa?” Saut mama.
“iras gak pernah bisa akur dengan mantan – mantan inu” aku menguap akan sangat percuma bilang seperti ini pada mama. Iras sudah keburu asem mukanya.
Aku menurunkan kaca jendela mobil.  Melihat keluar, permukaan laut yang tenang dan langitnya yang mulai menguning. Iras menyetir di sampingku, sejak berangkat dari cottage ia tidak bicara sedikitpun.  Mukanya ditekuk, disembunyikan lewat kacamata hitamnya.
“rasanya kita sudah sering  bahas hal kaya gini, kita udah terlalu gede buat diem – dieman kaya gini ras, gimana masalah mau selesai kalau gak dibicarain..”
“kan gak ada masalaha apa – apa “ sahutnya pelan.
“terus kenapa dari tadi di cottage sampai sekarang gak ngomong – ngomong, biasanya juga bawel nya gak ketulungan..” aku menatap heran ke arahnya.
Ia mendehem beberapa kali, tidak segera menjawab.
“iras tidak pernah bisa berhenti cemburu pada apapun yang sempat mengambil inu dari iras, bahkan kalau mama sudah mengenal baik seperti itu.  Iras cemburu juga, mama bisa baik sama sayangnya ke dia sama dengan  sayangnya mama  ke iras.  Maaf kalau hal ini bikini nu jengkel, tapi mungkin iras memang akan menua dengan semua sifat cemburu iras…”
Aku tidak menjawab.  Kemudian membiarkan jari – jari tangannya menggenggam tanganku kuat – kuat.   Dia selalu merasa cemburu, aku akan selalu merasa jengkel dan beruntung karena begitu dicintai olehnya.
“mungkin selama itu juga, buat iras inu selalu bisa berkhianat sama iras, padahal dibandingkan apapun iras akan terus jadi hal terpenting dalam hidup inu..” aku menatap lurus ke depan. “iras lihat, kenapa kaca jendela depan mobil kita lebih besar dibandingkan dengan spion? Bahkan besarnya jauh berbeda..”
Iras menggeleng dan menantikan jawabanku berikutnya.
“itu karena pandangan kita ke depan lebih penting dibandingkan dengan tatapan kita ke belakang. Iras masa depan inu, kenapa kita harus sibuk memperhatikan masa lalu?”
Iras mengangguk – angguk faham, aku mulai melihat ketenangan di wajahnya bahkan kini ia sudah mulai tersenyum lagi.
“apa iras perlu ditato juga?” Tanya nya tiba – tiba.
“hah? Tato?”
“di tangannya dia ada nama inu, masa iras bisa kalah sama mantan. Suatu saat iras harus nemuin dia, minta ngehapus tatonya. Berapapun biaya nya iras bakal bayarin dia” iras tampak serius dengan apa yang diucapkannya. “lagi pula apa – apaan dia ngaku inuku segala, ditambahin apa? Bantet? Kok mau disebut bantet..”
Aku tergelak, tertawa terpingkal – pingkal. Tidak menyangka iras berpikir sejauh itu hanya dalam beberapa saat.
“jadi gini ceritanya, dia pernah bikin kue di rumah sama mama, kuenya bantet, tapi kue itu habis inu makan, makanya nyebut inu bantet..” jelasku singkat.
“tapi kok bantet, panggilan macam apa itu..” iras menghakimi lagi.
“lah iras emang pernah gitu manggil inu yang panggilannya keren dikit, si bandel lah, si ngeyel lah, si gak sabaran, si keras kepala..”
Iras senyum cengengesan.
“yang penting iras sayang inu..”  kata iras sambil menghentikan mobil. Kami sudah sampai.
Aku tidak memperdulikan iras, malah segera cepat – cepat keluar. Menaiki tangga vihara, seperti yang dikatakan sebuah situs di interenet apabila sampai dipuncak vihara pemandangannya akan keren sekali.
Dikejauhan ku lihat iras menyusul ku.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar