Kamis, 01 Agustus 2013

25 : Inu Kangen Iras



Aku merapihkan tumpukan-tumpukan kertas kompre ku, setelah tadi siang konsul ke bu rima, dia masih ingin tinjauan teoritis terhadap pasien ku lebih lengkap.  Entah bagaian mana yang ingin ia aku lengkapi.  Sudah empat kali konsul masih saja bagian kebutuhan cairan yang ia permasalahkan.
Entahlah, masa bodoh.  Aku sedang tidak tertarik mengerjakannya sekarang.  Alhasil kertas-kertas yang tadi ku konsulkan menumpuk di atas meja.  Terakhir aku mematikan laptop ku dan melipatnya.  Meletakannya sejajar dengan kertas-kertas tadi.
Suara mobil masuk ke garasi.  Iras.  Aku melihat jam. Pukul 20. Lebih.  Ia baru pulang.
Makan malam yang tadi ku buat pun sepertinya sudah dingin, ingin pergi ke dapur dan menghangatkannya.  Tubuh ku malah menyusut ke tengah sofa.   Menatap layar televisi yang menyajikan acara talkshow.
“sayaaaaang..” suara iras memasuki rumah.  Aku tidak menyahut dan membiarkannya mencariku.
Tiba-tiba ia menjatuhkan tubuhnya di dekatku, dan memaksa untuk tidur di belakangku.  Tangannya berusaha memeluk sebagian tubuhku. Akhirnya, kami berdua tiduran di lengan sofa sambil sama-sama memperhatikan acara televisi.
“gimana tadi konsulnya?” nada suaranya pelan sambil melepaskan kacamatanya,  kemudian ia menyuruhku meletakannya di atas meja.  Bersama laptop dan draft-draft kompre ku.
“masih harus diperbaiki, masih ada yang salah”  jawabku, sambil memencet tombol di remote mencari program yang mungkin lebih menarik.
“yang semangat ya, iras yakin inu bisa, pacar iras kan pinter..” ia menciumi tengkuk ku berkali-kali. Aku tak bergeming.
Aku menarik nafas berkali-kali dan membuang semua nada berat dari sana.  Aku tidak pernah menyesal hidup bersama iras, namun aku merasa akhir-akhir ini seperti dua kali lipat membutuhhkan kehadirannya di sini.
“Inu kangen Iras...” ucapku kemudian.
Iras nampak kaget, ia menahan nafasnya beberapa saat.  Lalu membuatnya memeluk ku lebih erat.  aku pun membalas dekapan lengannya. Aku mencari jari-jari tangannya.
“kita Cuma gak ketemu 4 jam yank, dan inu udah bilang kangen??”
Aku melihat arah di depanku, dengan kosong.  Tanpa mengerti apa sebenarnya yang ku lihat.  Tapi beberapa bayangan lewat selintas demi selintas.  Kemudian membuatku rindu pada detik-detik di masalalu.
“Inu kangen iras yang dulu, inu kangen saat kita bolos kuliah, bolos sekolah, kemudian lari nyari kafe, ngopi, terus kebtulan ada panggungnya dan alat band nya, iras maju ke panggung, ngambil gitar, nyanyi This Love atau Lost..”
Aku masih mencengkram kuat jari-jari tangan iras.  Ia menyimpan dagunya di sela-sela bahu dan leherku.  Sehingga ronga-rongga dada ku merasakan aliran nafasnya yang kini berubah menjadi berat.
“Inu kangen kita main futsal bareng..” lanjutku. “atau kita nyasar ke komplek perumahan orang, keluar dari mobil nemu lapang basket, kita main one by one sampai subuh, sampai dikejar-kejar satpam kompleksnya karena inu berisik...”
“inu tidak meminta banyak, tapi kadang waktu iras buat inu terasa kurang cukup..”
Aku membuang nafas, merasa cukup lega.  Setelah beberapa hari ini, aku merasa cukup malas untuk mengatakan apa yang aku rasakan kepadanya.
Tangan iras meraih sebelah pipiku, agar wajahku bisa menghadap mukanya.  Aku mengikutinya, namun kemudian memejamkan mata.
“iras enggak tahu, kalau pacar iras bisa sekangen itu sama iras...”
Kemudian aliran sejuk mendarat di keningku, kepalaku turun beberapa senti.  Kemudian menelusup masuk dan terlentang di dada iras.  Aku ingin ia memeluk ku semakin kuat.
“sayaaaang....” lagi-lagi iras menghembuskan nafasnya. “hidup kita hari demi hari bergerak, mau tidak mau kita harus mengikutinya,  ada bagian-bagian yang mungkin harus kita lewati, tapi ia akan membawa hal-hal baru dalam hidup kita...”
“maaf sebelumnya, tapi kita bukan lagi anak-anak SMA yang selamanya mabuk kepayang, bukan lagi mahasiswa yang hanya memikirkan bagaimana caranya menghabiskan uang.  Iras ingin inu tau, semua nya iras kerjain buat inu.  Semua ini sayang. Iras gak mau, mama repot.  Iras ingin semua hidup inu sudah menjadi bagian hidup iras”
Aku mendongak dan menatap wajahnya.  Sedetik kemudian aku bangkit dan menusuk kedua bola mata itu.
“inu faham ras, inu sangat faham” aku menatap dalam mata yang tak berhenti  mengalirkan udara sejuk dan suruhan-suruhan untuk tetap berdiri bersamanya “inu sangat mendukung semua yang iras lakukan, semua karir iras inu dukung, tapi...”
“tapi kenapa yank?? Kenapa??” ia pun kini bangkit dan mendekat.
“sebagai pacar apa inu boleh protes??” mata iras nampak kaget, ia terbelalak beberapa saat.
“tentu sayang tentu..” ia mengangguk berkali-kali sambil mengelus rambutku ke belakang.
“denger..” aku menatap mata iras lagi. “inu sudah lama merasa kehilangan iras, iras berangkat ke showroom jam 7 pagi dan pulang jam 9 kadang jam 10, kadang gak pulang gara-gara datang baranglah, datang mobil barulah. Kita ketemu di tempat tidur doang, itu juga kalau kebetulan inu kena insomnia.  Kalau pengen lebih lama, inu harus bangun subuh banget supaya bisa lebih lama ngobrol sama iras sebelum solat subuh.  Bisa ketemu waktu siang, kalau enggak ada kuliah dan inu nyamperin ke showroom, walaupun kesan nya inu ganggu iras kerja...”
Aku menunduk.   Sebenarnya tidak cukup berani bicara seperti ini kepadanya.
“hahahaa...” tiba-tiba tawanya yang menyebalkan meledak di tengah-tengah kami berdua.
Aku menatap aneh, kemudian kedua telapak tangannya mendekap dua sisi wajahku.
“akhirnya iras kena complain pacar iras..” ia masih tersenyum-senyum beberapa kali.  “tapi di bagian lainnya, iras merasa cukup senang”
“kecuali inu nemuin orang yang mirip sama iras, 99% lah, iras ngijinin inu boleh pacaran lagi, silahkan iras tidak perlu melakukan perubahan apapun..”
Ia tiba – tiba mencekik leherku.
“ulangi yang barusan..”
Aku tersenyum.
“semuanya mungkin saja terjadi, coba kalau saja inu itu orang lain, sudah inu selingkuhin berapa kali, tapi inu gak pernah kepikiran buat hal itu, yang inu pikirkan, kamu dan perasaan kamu, juga kebahagaiaan inu bahwa kita sudah berdua lagi sekarang..”
“kalau sampai inu selingkuh, yang iras bunuh bukan salah satu nya tapi dua – duanya..”
Ia misuh – misuh.  Sambil menelungkupkan wajahnya di pundakku.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar