Aku merapihkan
tumpukan-tumpukan kertas kompre ku, setelah tadi siang konsul ke bu rima, dia
masih ingin tinjauan teoritis terhadap pasien ku lebih lengkap. Entah bagaian mana yang ingin ia aku
lengkapi. Sudah empat kali konsul masih
saja bagian kebutuhan cairan yang ia permasalahkan.
Entahlah, masa
bodoh. Aku sedang tidak tertarik
mengerjakannya sekarang. Alhasil
kertas-kertas yang tadi ku konsulkan menumpuk di atas meja. Terakhir aku mematikan laptop ku dan
melipatnya. Meletakannya sejajar dengan
kertas-kertas tadi.
Suara mobil masuk
ke garasi. Iras. Aku melihat jam. Pukul 20. Lebih. Ia baru pulang.
Makan malam yang
tadi ku buat pun sepertinya sudah dingin, ingin pergi ke dapur dan
menghangatkannya. Tubuh ku malah
menyusut ke tengah sofa. Menatap layar
televisi yang menyajikan acara talkshow.
“sayaaaaang..”
suara iras memasuki rumah. Aku tidak
menyahut dan membiarkannya mencariku.
Tiba-tiba ia
menjatuhkan tubuhnya di dekatku, dan memaksa untuk tidur di belakangku. Tangannya berusaha memeluk sebagian tubuhku.
Akhirnya, kami berdua tiduran di lengan sofa sambil sama-sama memperhatikan
acara televisi.
“gimana tadi
konsulnya?” nada suaranya pelan sambil melepaskan kacamatanya, kemudian ia menyuruhku meletakannya di atas
meja. Bersama laptop dan draft-draft
kompre ku.
“masih harus
diperbaiki, masih ada yang salah”
jawabku, sambil memencet tombol di remote mencari program yang mungkin
lebih menarik.
“yang semangat ya,
iras yakin inu bisa, pacar iras kan pinter..” ia menciumi tengkuk ku berkali-kali.
Aku tak bergeming.
Aku menarik nafas
berkali-kali dan membuang semua nada berat dari sana. Aku tidak pernah menyesal hidup bersama iras,
namun aku merasa akhir-akhir ini seperti dua kali lipat membutuhhkan
kehadirannya di sini.
“Inu kangen Iras...”
ucapku kemudian.
Iras nampak kaget,
ia menahan nafasnya beberapa saat. Lalu
membuatnya memeluk ku lebih erat. aku
pun membalas dekapan lengannya. Aku mencari jari-jari tangannya.
“kita Cuma gak
ketemu 4 jam yank, dan inu udah bilang kangen??”
Aku melihat arah di
depanku, dengan kosong. Tanpa mengerti
apa sebenarnya yang ku lihat. Tapi
beberapa bayangan lewat selintas demi selintas.
Kemudian membuatku rindu pada detik-detik di masalalu.
“Inu kangen iras
yang dulu, inu kangen saat kita bolos kuliah, bolos sekolah, kemudian lari
nyari kafe, ngopi, terus kebtulan ada panggungnya dan alat band nya, iras maju
ke panggung, ngambil gitar, nyanyi This Love atau Lost..”
Aku masih
mencengkram kuat jari-jari tangan iras.
Ia menyimpan dagunya di sela-sela bahu dan leherku. Sehingga ronga-rongga dada ku merasakan
aliran nafasnya yang kini berubah menjadi berat.
“Inu kangen kita
main futsal bareng..” lanjutku. “atau kita nyasar ke komplek perumahan orang,
keluar dari mobil nemu lapang basket, kita main one by one sampai subuh, sampai
dikejar-kejar satpam kompleksnya karena inu berisik...”
“inu tidak meminta
banyak, tapi kadang waktu iras buat inu terasa kurang cukup..”
Aku membuang nafas,
merasa cukup lega. Setelah beberapa hari
ini, aku merasa cukup malas untuk mengatakan apa yang aku rasakan kepadanya.
Tangan iras meraih
sebelah pipiku, agar wajahku bisa menghadap mukanya. Aku mengikutinya, namun kemudian memejamkan
mata.
“iras enggak tahu,
kalau pacar iras bisa sekangen itu sama iras...”
Kemudian aliran
sejuk mendarat di keningku, kepalaku turun beberapa senti. Kemudian menelusup masuk dan terlentang di
dada iras. Aku ingin ia memeluk ku
semakin kuat.
“sayaaaang....”
lagi-lagi iras menghembuskan nafasnya. “hidup kita hari demi hari bergerak, mau
tidak mau kita harus mengikutinya, ada
bagian-bagian yang mungkin harus kita lewati, tapi ia akan membawa hal-hal baru
dalam hidup kita...”
“maaf sebelumnya,
tapi kita bukan lagi anak-anak SMA yang selamanya mabuk kepayang, bukan lagi
mahasiswa yang hanya memikirkan bagaimana caranya menghabiskan uang. Iras ingin inu tau, semua nya iras kerjain
buat inu. Semua ini sayang. Iras gak
mau, mama repot. Iras ingin semua hidup
inu sudah menjadi bagian hidup iras”
Aku mendongak dan
menatap wajahnya. Sedetik kemudian aku bangkit
dan menusuk kedua bola mata itu.
“inu faham ras, inu
sangat faham” aku menatap dalam mata yang tak berhenti mengalirkan udara sejuk dan suruhan-suruhan
untuk tetap berdiri bersamanya “inu sangat mendukung semua yang iras lakukan,
semua karir iras inu dukung, tapi...”
“tapi kenapa yank??
Kenapa??” ia pun kini bangkit dan mendekat.
“sebagai pacar apa
inu boleh protes??” mata iras nampak kaget, ia terbelalak beberapa saat.
“tentu sayang
tentu..” ia mengangguk berkali-kali sambil mengelus rambutku ke belakang.
“denger..” aku
menatap mata iras lagi. “inu sudah lama merasa kehilangan iras, iras berangkat
ke showroom jam 7 pagi dan pulang jam 9 kadang jam 10, kadang gak pulang
gara-gara datang baranglah, datang mobil barulah. Kita ketemu di tempat tidur doang,
itu juga kalau kebetulan inu kena insomnia.
Kalau pengen lebih lama, inu harus bangun subuh banget supaya bisa lebih
lama ngobrol sama iras sebelum solat subuh.
Bisa ketemu waktu siang, kalau enggak ada kuliah dan inu nyamperin ke
showroom, walaupun kesan nya inu ganggu iras kerja...”
Aku menunduk. Sebenarnya tidak cukup berani bicara seperti
ini kepadanya.
“hahahaa...”
tiba-tiba tawanya yang menyebalkan meledak di tengah-tengah kami berdua.
Aku menatap aneh,
kemudian kedua telapak tangannya mendekap dua sisi wajahku.
“akhirnya iras kena
complain pacar iras..” ia masih tersenyum-senyum beberapa kali. “tapi di bagian lainnya, iras merasa cukup
senang”
“kecuali inu nemuin
orang yang mirip sama iras, 99% lah, iras ngijinin inu boleh pacaran lagi, silahkan
iras tidak perlu melakukan perubahan apapun..”
Ia
tiba – tiba mencekik leherku.
“ulangi
yang barusan..”
Aku
tersenyum.
“semuanya
mungkin saja terjadi, coba kalau saja inu itu orang lain, sudah inu selingkuhin
berapa kali, tapi inu gak pernah kepikiran buat hal itu, yang inu pikirkan,
kamu dan perasaan kamu, juga kebahagaiaan inu bahwa kita sudah berdua lagi
sekarang..”
“kalau
sampai inu selingkuh, yang iras bunuh bukan salah satu nya tapi dua – duanya..”
Ia
misuh – misuh. Sambil menelungkupkan
wajahnya di pundakku.
…
Tidak ada komentar:
Posting Komentar