Iseng-iseng
buka akun email lama, yang kayanya udah mau karatan dan hampir di blokir. Baru bisa dibuka lagi setelah membackup nya
lagi, mengganti paswrodnya. Email
terakhir yang masukpun hampir satu tahun yang lalu. Tapi di sana ada satu email dari iras yang
belum dibuka.
Tanggal 14 februari 2011...
Sudah
cukup lama, aku membukanya.
Subject:
untuk kamu
“Nu, maaf sekali kalau iras terpaksa
nulis surat ini...
Hanya saja rasanya sulit dipercaya,
benarkah cerita kita sudah berakhir? Sudah berhari-hari mencoba menjawab tidak,
tapi iras kembali sadar. Kini tidak ada
lagi kita, yang ada hanya iras dan inu, juga kenangan kita yang sampai kapanpun
tidak akan pernah iras biarkan pergi begitu saja.
Beberapa hari yang lalu, orang dari
agen perjalanan datang ke rumah. Mengantarkan dua buah tiket, yang sudah kita
sama-sama pesan waktu itu. Iya waktu itu, waktu-waktu terbaik di mana inu
sepenuhnya masih milik iras.
Iras sudah membuang kedua tiket itu
bahkan hampir di bakar sama mama, tapi rere memberikan solusi, menurutnya iras
butuh liburan. Iras disuruh tetap
berangkat ke paris, siapa tahu iras bisa melupakan segalanya, dan meraih
kembali hidup iras, kata rere.
Rere tidak salah, perjalanan iras ke
paris memang benar-benar meraih kembali hidup iras, semuanya tentang kita
berdua bangkit begitu saja di sini.
Ketika dari jendela pesawat melihat hamparan luas kota paris, iras ingat
sebuah gambar di dekstop laptop inu, di sana ada pemandangan yang hampir mirip. Mirip sekali, pemandangan paris dari pesawat
seperti di dekstop inu waktu itu.
Benar kata inu, di sini bensin mahal,
dan orang paris memang benar-benar menyukai jalan kaki. Seperti kita berdua, bisa seharian
jalan-jalan di braga, hunting foto, beli es krim atau mengganggu orang lain. Dulu sering inu bayangkan, akan melewati
setiap jalan-jalan di paris dengan mendengarkan musik atau kata-kata yang inu
puisikan tanpa harus dituliskan.
Pada akhirnya, ketika iras berusaha
melupakan segalanya tentang kita, mereka dengan nakalnya muncul kembali. Menggoda, datang dengan wajah-wajah nakalnya.
Seperti Inu. Semakin iras berusaha lupa,
iras semakin tampak bodoh.
Sekarang tanggal 14 februari Nu, harusnya kita
merayakannya, perjalanan ini harusnya kita nikmati berdua. Seperti rencana awal
kita akan memperingatinya berdua di sini.
Tapi sekarang hanya ada iras di sini, menikmati kenangan-kenangan kita
yang tak akan pernah lekang dimakan waktu.
Iras yang tidak akan membiarkannya lewat begitu saja, mungkin suatu hari
akan ada kesempatan melanjutkannya lagi.
Bukan hal mudah ternyata, menerima
kenyataan yang tidak pernah kita harapkan.
Tapi, tangan inu rasanya masih menggenggam erat semua yang ada di hati
ini. Semuanya masih bernafas, menghirup
udara cinta yang sama.
Iras sekarang di sini, di rumahnya
juliet, sedang dipandang aneh oleh beberapa orang gadis ABG, kenapa ada pria di
sini, iras sedang menulis surat Nu, untuk semua yang telah lewat dan tak
mungkin kembali antara kita.
Mungkin inu ingin tahu isi suratnya
seperti apa:
“Inu disana harus bahagia...”
Ya, iras tahu, setelah semua kejadian
yang sudah membuat kita berdua tersinggung, bagaimanapun di sana inu harus
bahagia. Bagi iras, kebahagiaan inu
selalu yang terpenting, sampai kapanpun, bahkan sampai iras mati. Walaupun saat inu sedang bersama orang lain.
Benar-benar sebuah kesedihan yang
teramat dalam, kata orang-orang iras sudah berkabung terlalu lama, bagaimana
tidak sedih Nu, ketika harus terpisah dengan orang yang benar-benar kita
sayangi, begitu saja? Kenyataan tidak
semudah membalikan telapak tangan, tidak semudah orang berkata ‘lupakan’,
bagaimana mungkin iras bisa lupa dengan belahan jiwa sendiri?
Di sini, di bawah langit cerah kota
paris, masa depan tidak akan pernah seindah ini. Tidak akan pernah. Tanpa ada inu di sana. Maaf nu, maafkan iras. Iras bukan membujuk inu untuk kembali ke
sini, ke hati ini, iras hanya ingin inu ingat, sampai kapanpun ada cinta yang
begitu besar untuk inu. Selalu.
Hidup terlalu keras untuk dilewati
sendirian.
Maafkan iras,
Notes: kemarin sore iras sengaja
datang ke jembatan Pont Des Arts, sendirian.
Iras membeli dua buah kunci gembok di toko di dekat sana. Juga sebuah
spidol. Seperti yang suka inu bicarakan,
jika kita menulis nama kita dan pasangan di gemboknya lalu membuang kuncinya ke
sungai maka cinta kita akan abadi. Tidak, iras tidak akan lancang menuliskan
nama inu atau iras di kedua gembok itu.
Iras Cuma nulis Forever di gembok yang satu dan Everlast di gembok yang
satunya lagi, kemudian iras melemparkan kuncinya dengan harapan suatu hari arus
sungai, arus kehidupan membawa inu ke sini lagi. Iras hanya berdoa, suatu hari kita akan
melihat kedua gembok ini sama-sama. Iras hanya ingin inu ingat, bahwa kita
pernah sama-sama yakin pada kedua kata ini. Sorry for saying,
I miss you....
...
Aku
keluar dari kamar, segera menuju ruang kerja iras. Ia duduk di kursinya menghadap laptopnya yang
masih menyala, ia sedang mengetik sesuatu.
Tapi kemudian matanya beralih terkejut melihat kedatanganku.
“sayang..”
iras nampak kaget.
Aku
segera menjatuhkan tubuh di atas tubuh
iras yang masih duduk di kursi, kemudian sekencang mungkin memeluknya. Aku tahu iras masih tak mengerti, sore tadi
kami baru saja baikan, setelah seharian ia marah karena aku bawa motor sambil
hujan-hujanan.
“I miss
you too...”
....
Aku
masih segukan di pelukan iras, ia tidak berhenti menenangkanku. Kami berdua masih menatap layar laptop yang
menampilkan email dari iras tersebut. Kemudian tangan iras menutupnya, ia
mengusap-usap ujung kepalaku lembut.
“udahan
dong nangisnya, tau engga perasaan iras kaya gimana kalau lihat sayang
nangis..”
Aku
menarik nafas panjang, berusaha menghentikan segukan yang bisa jadi keras lagi
ketika mengingat setiap kata yang iras tulis di sana.
“jangan
sampai kaya gitu lagi ya, saat itu bukan hanya iras yang hancur, iras juga
harus tahu bagaimana kacaunya inu, ketika tahu iras tunangan dengan orang lain,
dan pasti akan menikah. Itu juga bukan
kenyataan yang mudah raaassss...” aku meremas tangan iras, sambil larut lagi ke
dalam pelukannya.
“hey,
kita sudah bahas ini ribuan kali. Dan kita
sudah sepakat untuk melupakannya, menganggapnya tidak ada dalam hidup kita
berdua..”
“inu
Cuma trauma, sakit yang timbul akibat kehilangan iras itu tidak bisa ditangani
dengan mudah..”
“kita
sudah sama-sama tahu kan bagaimana sakitnya itu, jadi selalu bantu iras ya agar
kejadian tersebut tidak terulang dua kali, tidak cukup mudah hidup sendirian
tanpa ada inu..”
Tanganku
semakin kuat menggenggam jari-jari tangan iras, ia sama sekali tidak
melepaskanku dari pelukannya. Tangan kirinya mengusap sisa-sisa air di
pipiku.
“yank,
sekarang malam jum’at loh...”
Seketika
aku bangkit. Dan menonjok perutnya
keras. Iras meringis, kemudian aku
meninggalkannya di kamar.
“dasar
perusak suasana..”
“hahaha...”
...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar