Kamis, 01 Agustus 2013

29 : Pont De Art



Iseng-iseng buka akun email lama, yang kayanya udah mau karatan dan hampir di blokir.  Baru bisa dibuka lagi setelah membackup nya lagi, mengganti paswrodnya.  Email terakhir yang masukpun hampir satu tahun yang lalu.  Tapi di sana ada satu email dari iras yang belum dibuka.
Tanggal 14 februari 2011...
Sudah cukup lama, aku membukanya.
Subject: untuk kamu
Nu, maaf sekali kalau iras terpaksa nulis surat ini...
Hanya saja rasanya sulit dipercaya, benarkah cerita kita sudah berakhir? Sudah berhari-hari mencoba menjawab tidak, tapi iras kembali sadar.  Kini tidak ada lagi kita, yang ada hanya iras dan inu, juga kenangan kita yang sampai kapanpun tidak akan pernah iras biarkan pergi begitu saja.
Beberapa hari yang lalu, orang dari agen perjalanan datang ke rumah. Mengantarkan dua buah tiket, yang sudah kita sama-sama pesan waktu itu. Iya waktu itu, waktu-waktu terbaik di mana inu sepenuhnya masih milik iras.
Iras sudah membuang kedua tiket itu bahkan hampir di bakar sama mama, tapi rere memberikan solusi, menurutnya iras butuh liburan.  Iras disuruh tetap berangkat ke paris, siapa tahu iras bisa melupakan segalanya, dan meraih kembali hidup iras, kata rere.
Rere tidak salah, perjalanan iras ke paris memang benar-benar meraih kembali hidup iras, semuanya tentang kita berdua bangkit begitu saja di sini.  Ketika dari jendela pesawat melihat hamparan luas kota paris, iras ingat sebuah gambar di dekstop laptop inu, di sana ada pemandangan yang hampir mirip.  Mirip sekali, pemandangan paris dari pesawat seperti di dekstop inu waktu itu.
Benar kata inu, di sini bensin mahal, dan orang paris memang benar-benar menyukai jalan kaki.  Seperti kita berdua, bisa seharian jalan-jalan di braga, hunting foto, beli es krim atau mengganggu orang lain.  Dulu sering inu bayangkan, akan melewati setiap jalan-jalan di paris dengan mendengarkan musik atau kata-kata yang inu puisikan tanpa harus dituliskan.
Pada akhirnya, ketika iras berusaha melupakan segalanya tentang kita, mereka dengan nakalnya muncul kembali.  Menggoda, datang dengan wajah-wajah nakalnya. Seperti Inu.  Semakin iras berusaha lupa, iras semakin tampak bodoh.
Sekarang tanggal 14 februari  Nu, harusnya kita merayakannya, perjalanan ini harusnya kita nikmati berdua. Seperti rencana awal kita akan memperingatinya berdua di sini.  Tapi sekarang hanya ada iras di sini, menikmati kenangan-kenangan kita yang tak akan pernah lekang dimakan waktu.  Iras yang tidak akan membiarkannya lewat begitu saja, mungkin suatu hari akan ada kesempatan melanjutkannya lagi.
Bukan hal mudah ternyata, menerima kenyataan yang tidak pernah kita harapkan.  Tapi, tangan inu rasanya masih menggenggam erat semua yang ada di hati ini.  Semuanya masih bernafas, menghirup udara cinta yang sama.
Iras sekarang di sini, di rumahnya juliet, sedang dipandang aneh oleh beberapa orang gadis ABG, kenapa ada pria di sini, iras sedang menulis surat Nu, untuk semua yang telah lewat dan tak mungkin kembali antara kita.
Mungkin inu ingin tahu isi suratnya seperti apa:
“Inu disana harus bahagia...”
Ya, iras tahu, setelah semua kejadian yang sudah membuat kita berdua tersinggung, bagaimanapun di sana inu harus bahagia.  Bagi iras, kebahagiaan inu selalu yang terpenting, sampai kapanpun, bahkan sampai iras mati.  Walaupun saat inu sedang bersama orang lain.
Benar-benar sebuah kesedihan yang teramat dalam, kata orang-orang iras sudah berkabung terlalu lama, bagaimana tidak sedih Nu, ketika harus terpisah dengan orang yang benar-benar kita sayangi, begitu saja?  Kenyataan tidak semudah membalikan telapak tangan, tidak semudah orang berkata ‘lupakan’, bagaimana mungkin iras bisa lupa dengan belahan jiwa sendiri?
Di sini, di bawah langit cerah kota paris, masa depan tidak akan pernah seindah ini.  Tidak akan pernah.  Tanpa ada inu di sana.  Maaf nu, maafkan iras.  Iras bukan membujuk inu untuk kembali ke sini, ke hati ini, iras hanya ingin inu ingat, sampai kapanpun ada cinta yang begitu besar untuk inu. Selalu.
Hidup terlalu keras untuk dilewati sendirian.
Maafkan iras,

Notes: kemarin sore iras sengaja datang ke jembatan Pont Des Arts, sendirian.  Iras membeli dua buah kunci gembok di toko di dekat sana. Juga sebuah spidol.  Seperti yang suka inu bicarakan, jika kita menulis nama kita dan pasangan di gemboknya lalu membuang kuncinya ke sungai maka cinta kita akan abadi. Tidak, iras tidak akan lancang menuliskan nama inu atau iras di kedua gembok itu.  Iras Cuma nulis Forever di gembok yang satu dan Everlast di gembok yang satunya lagi, kemudian iras melemparkan kuncinya dengan harapan suatu hari arus sungai, arus kehidupan membawa inu ke sini lagi.  Iras hanya berdoa, suatu hari kita akan melihat kedua gembok ini sama-sama. Iras hanya ingin inu ingat, bahwa kita pernah sama-sama yakin pada kedua kata ini. Sorry for saying,
I miss you....
...
Aku keluar dari kamar, segera menuju ruang kerja iras.  Ia duduk di kursinya menghadap laptopnya yang masih menyala, ia sedang mengetik sesuatu.  Tapi kemudian matanya beralih terkejut melihat kedatanganku.
“sayang..” iras nampak kaget.
Aku segera menjatuhkan  tubuh di atas tubuh iras yang masih duduk di kursi, kemudian sekencang mungkin memeluknya.  Aku tahu iras masih tak mengerti, sore tadi kami baru saja baikan, setelah seharian ia marah karena aku bawa motor sambil hujan-hujanan.
“I miss you too...”
....
Aku masih segukan di pelukan iras, ia tidak berhenti menenangkanku.  Kami berdua masih menatap layar laptop yang menampilkan email dari iras tersebut. Kemudian tangan iras menutupnya, ia mengusap-usap ujung kepalaku lembut.
“udahan dong nangisnya, tau engga perasaan iras kaya gimana kalau lihat sayang nangis..”
Aku menarik nafas panjang, berusaha menghentikan segukan yang bisa jadi keras lagi ketika mengingat setiap kata yang iras tulis di sana.
“jangan sampai kaya gitu lagi ya, saat itu bukan hanya iras yang hancur, iras juga harus tahu bagaimana kacaunya inu, ketika tahu iras tunangan dengan orang lain, dan pasti akan menikah.  Itu juga bukan kenyataan yang mudah raaassss...” aku meremas tangan iras, sambil larut lagi ke dalam pelukannya.
“hey, kita sudah bahas ini ribuan kali.  Dan kita sudah sepakat untuk melupakannya, menganggapnya tidak ada dalam hidup kita berdua..”
“inu Cuma trauma, sakit yang timbul akibat kehilangan iras itu tidak bisa ditangani dengan mudah..”
“kita sudah sama-sama tahu kan bagaimana sakitnya itu, jadi selalu bantu iras ya agar kejadian tersebut tidak terulang dua kali, tidak cukup mudah hidup sendirian tanpa ada inu..”
Tanganku semakin kuat menggenggam jari-jari tangan iras, ia sama sekali tidak melepaskanku dari pelukannya. Tangan kirinya mengusap sisa-sisa air di pipiku. 
“yank, sekarang malam jum’at loh...”
Seketika aku bangkit.  Dan menonjok perutnya keras.  Iras meringis, kemudian aku meninggalkannya di kamar.
“dasar perusak suasana..”
“hahaha...”
...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar