Beberapa hari yang lalu,
seorang teman lama, dia seorang ustadz kini.
Setelah ia masuk islam.
Penggemarnya banyak di twitter.
Kata – katanya yang simple islami dan sangat remaja mungkin itu yang
akhirnya banyak diterima masyarakat.
Namun ia tidak mengomentari sedikitpun soal aku dan iras. Lagipula aku tidak sedang membahas hal itu.
Ia malah bertanya “pernah
gak membayangkan kalau suatu saat kita ditinggal orang yang sangat dekat dan
sangat kita sayang secara tiba – tiba? Pernah gak bersyukur dengan cara benar –
benar bersyukur selagi dia masih ada bersama kita??”
…
Aku tidak pernah
membayangkan ditinggal tiba – tiba oleh orang yang selama ini sudah hidup
bersama, sudah mengenal ku dengan baik, sudah mencintaiku dengan caranya yang
luar biasa. Aku tidak pernah tahu
bagaimana ngerinya menjalani hari – hari seperti itu. Seperti dulu kepergian papa.
Mengingat itu, aku menarik
tubuh iras lagi. Ia yang masih tertidur
pulas di sampingku. Menutupi sebagian
wajahnya dengan lengan kanannya sementara lengan kirinya ku jadikan
bantal. Atau ia yang menyimpan kepalaku
untuk tidur di sana.
Tubuhku tertelungkup. Kepalaku menyandar pada lengan iras, kedua
tanganku memeluk tubuhku sendiri. Sebuah
selimut besar menutupi tubuh kami berdua yang tidur tanpa memakai baju. Kebiasaan sejak beberapa tahun belakangan
kami tinggal bersama.
Mataku pelan – pelan
terbuka, kepalaku yang menghadap ke sebelah kiri langsung menatap dan
memperhatikan wajah iras dari setiap sudut dan titiknya. Ia benar – benar masih tertidur pulas. Kedua matanya terpejam kuat, mata yang selalu melotot kalau aku bertindak
sembarangan, atau sengaja memainkan ikan laut di supermarket padahal menciumnya
saja tubuhku bisa merah – merah, mata yang bisa menyipit kemudian tatapan
menghibanya memintaku berhenti menyetir di atas 100 km/jam. Mata yang ku butuhkan agar malamku bisa
menjadi pagi, agar aku bisa semangat melakukan berbagai hal…
Tiba – tiba mata itu
terbuka.
“morning..” kemudian kedua
bibirnya menguncup dan mencium bibirku.
Mataku terbuka lagi setelah
menikmati ciumannya dengan baik. “morning..” jawabku. Jam delapan siang dan
kami berdua baru bangun tidur. Solat subuh? Tentu saja absen. Sudah dua hari hutang ku pada tuhan gara –
gara tidak solat subuh.
Kini dua tangannya
memelukku. Hangat tubuhnya terasa begitu
semuanya melekat dengan kulitku.
“kemana kita hari ini..”
Tanya nya pelan.
“jam 10 inu ada janji
kumpul sama temen – temen SMA di kafenya Jordan..” aku mengingatkan hal itu
pada iras. Tadi malam kami sempat
membicarakannya.
“ini hari minggu ya? Besok
saham kita apa kabar ya?” ia nyengir hebat.
Dia tahu aku paling malas membahas masalah kantor di tempat tidur.
“jangan dulu balik ke
Jakarta deh, selasa atau rabu baru balik, males macetnya..” aku tidak ingin
membahas kantor. Membayangkan
kengeriannya saja malas.
“oke – oke…” kata iras.
Aku bangkit dari tempat
tidur, menyibakan selimut dan menumpukannya ke tubuh iras. Ku seret sandal tidur ku kea rah kamar
mandi. Lalu tanganku merampas handuk
yang tergantung di sudut kamar.
“sayang..” iras
memanggilku.
Aku berhenti kemudian
berbalik.
“ngeri ya kalau liat hot
dog ukuran raksasa pagi – pagi..” katanya seraya tertawa.
Handuk yang baru saja ku
ambil ku lemparkan ke arah mukanya.
…
Aku sedang menyetir, iras di sampingku
menggunakan ipad ia tengah mengechek berbagai hal dan semua janji untuk senin
besok. Ia tengah dibuat sibuk oleh
seorang korea mabok, yang ingin menjual pabrik sepatunya dengan harga yang tak
kunjung disepakatinya. Setidaknya ini
sudah memasuki bulan ketiga kami berdua membahas pembelian tiga pabrik sepatu
di sukabumi itu.
“turunkan gas yank..”
katanya tanpa beralih sedikitpun dari layar ipad nya.
“oke..” aku kira kalau ia
sedikit sibuk ia tidak akan peduli dengan balapanku.
Kacamatanya melorot berkali
– kali, berkali – kali juga tangannya membetulkan letaknya lagi. Hal itu yang selalu membuatku jatuh cinta
selain menatapnya pagi – pagi saat membuka mata. Entahlah aku bisa sangat tergila – gila pada
iras di saat bangun tidur. Maka jangan heran kalau banyak adegan baru bangun
tidur setiap kali aku blogging.
“besok kita ke Jakarta jam
delapan, semoga siang kita sudah sampai sana, sore iras ada janji ketemu si
korea..”
“oke oke.. chek jadwal inu
dong..” kataku pada iras.
“masih kosong..” iras
menunjukan agenda harian di tanggal 9 agustus.
“kalau gitu mulai isi..”
aku mengomando iras lagi. “jam 6 nyium iras, jam 7 nyium iras lagi, jam 8 nyium
iras lagi, jam 9 nyium iras lagi..”
“jam 10 iras yang nyium
duluan, jam 11 iras yang nyium duluan lagi, jam 12 iras yang nyium duluan
lagi..” kata iras memotong dan melanjutkan jadwal halusinasiku sebelum akhirnya
kami tertawa berdua.
Stir ku banting ke kiri,
langsung masuk ke halaman kafe milik Jordan.
Kami berdua turun di sana ada beberapa mobil yang sangat ku kenali. Rasanya tidak sabar bertemu dengan astroboy
lengkap, nollan dan dariz, mereka baru pulang ke bandung kemarin aku belum
sempat menemuinya.
“hay… mameeennn…” aku
menghambur ke tengah meja tempat mereka berkumpul. Jordan, ardan, dheka, nollan, dariz, kiki dan
feddy mereka semua hadir. Teman – teman
kami yang lain memenuhi meja yang lain di kafe Jordan.
Iras duduk di sebelahku, ia
menyalami ke tujuh temanku. Ia akan jadi
pendengar atau pemberi usul yang baik buat pembicaraan – pembicaraan tidak
bermutu kami.
“jadi kapan berangkat ke
paris nya boss?” Tanya nollan.
“tanggal 28 semoga berjalan
lancar, doakan saja..” jawab iras begitu nollan bertanya pada nya.
“wuih bentar lagi dong, mau
ngapain aja di sana? Jadi kacungnya si inu? Haduh pak bos mending pikir – pikir
lagi dah ni orang jangan disenengin mulu..”
Aku menoyor kepala
nollan.
“heh kalau sampe kawin
jangan lupa undang kita semua, ingat siapin cewek – cewek paris ya, jangan
cowok gue belum doyan..” serobot ardan kali ini.
Kami semua tertawa. Kalau
otak ardan di bedah aku yakin isinya adalah gulungan blue film yang antic –
antic.
“yang pasti gue pesta di
kebun atau di tengah kota, jadi di sana gak bakalan ada ranjang atau sutera..”
kataku berseloroh.
“wah wah parah si inu, gini
nu lu gak tau sense of sex sih, di kolong meja tamu atau di toilet umum juga
gampang lah…”
Kami semua tertawa lagi
mendengar jawaban ardan.
Aku melihat dari meja lain
farid melambaikan tangan. Ia dengan
randy dan fefeb juga ipang, anak – anak pecinta alam. Aku pamit pada iras dan teman – temanku
menghampiri mereka, bersama mereka aku pernah tersesat di gunung gede pangrango
waktu libur semester sebelum naik ke kelas tiga. Tiga hari kami keliling gunung, kesasar
sebelum akhirnya menemukan jalan pulang.
“hay sehat kalian..” aku
menyalami mereka satu – satu. Penempilan
mereka tetap begitu, pecinta alam sejati, topi hijau, kemeja kotak – kotak,
bahkan fefeb mengenakan jaket tebal mendakinya, randy malah mengenakan sepatu
boot. Ipang lain lagi ia membawa carrier
besar ke kafe di tengah kota begini.
Mereka kompak menjawab
sehat. Satu hal yang pasti berubah dari
mereka semua, kini mereka tambah hitam.
“abis naik gunung mana
lagi? Wah parah nih gue gak pernah diajak – ajak..”
“wah bisa dideportasi kita
dari bandung kalau bawa inu nyasar lagi di gunung…” kata farid. “kita abis dari
Himalaya nu, bulan kemarin dari kerinci…”
Aku geleng – geleng, mereka
memang petualang sejati.
“palang sama kujang
berkibar juga di Himalaya akhirnya?” tanyaku soal lambing dari regu pecinta
alam kami tersebut.
“wih pasti nu, tapi kaya
nya dia agak masuk angin makanya berkibarnya agak lemes gitu..”
“keren keren..” aku
menggeleng bangga, tiga tahun tidak bertemu yang pasti mereka semakin matang
dalam hal menaklukan gunung. “jadi kapan nih naik lagi? Ajak – ajak gue lah..”
Sebenarnya hal ini sebuah
basa – basi agar aku bisa mengakhiri perbincangan kami sebelum aku pamit
kembali ke meja ku.
“nah itu dia nu, kita
minggu depan mau ke ciremai di Cirebon, tapi butuh sponsor nih, mau jadi sponsor
gak? Atau sekalian ikut naek dah..” jelas randy.
Aku agak tertarik dengan
ide randy.
“ciremai? Wah keren tuh,
gampang lah kalau soal duit mah, berapa hari kita di sana? Medan nya bagus
gak?”
“masalah medan gak usah
Tanya lah, biarin itu nanti jadi kejutan buat kita saja di gunung, perjalanan dari bandung dan balik lagi ke
bandung paling Cuma empat hari nu..”
Aku pikir ini ide bagus,
untuk mengisi libur ku untuk mengatasi kejenuhan ku. Sebelum berangkat ke
paris, juga agar bisa mengelak masuk kantor dan menghindar dari kakek aku bisa
naik gunung.
“oke deh, gue minta nomor
lu ran, nanti gue kabarin..” ku ketik nomor hp randy di hpku.
“masalah sponsor gimana nih
nu?” Tanya randy lagi menatapku yang mulai bangkit berdiri.
“gampanglah, ntar kirim aja
rekening lu ya..” kataku sambil berlalu rencana bagus ini sangat harus
dibicarakan dengan iras. Ia juru acc
segala hal dalam hidupku.
Iras tengah berdiri di meja
pelayan, ia sedang memesan makanan apa yang hendak kami berdua makan.
“pasta dengan saus
spaghetinya barbeque ya, inget pas masaknya jangan di masak di wajan yang bekas
tuna..” iras menyadari kehadiranku, pandangannya beralih menatapku “ada apa
sayang?”
“minggu depan inu ikut naik
gunung sama randy, boleh ya?” kataku sambil menyeringai lebar.
Iras langsung menggelengkan
kepala keras.
“enggak, enggak, ntar
hilang lagi kamu…” iras berbalik lagi kea rah pelayan kafe “mbak double
porsinya gak jadi, single aja..”
“kamu mau kemana?” itu
artinya aku akan makan sendiri.
“ada saudara mama dari
ujung pandang mau ke rumah sekarang, inu makan sendiri ya..”
“oke gak apa – apa..” aku
tidak mau membuatnya khawatir dan semoga itu dapat membantunya membuat
keputusan bagus untuk acara naik gunungku.
“dan gak ada naik gunung…”
iras tampak membereskan hp dan dompetnya.
“hah ayolah Cuma naik
gunung, Cuma ciremai doang, Cirebon deketlah dari bandung..” kataku pada iras
lagi.
“sudahlah, iras berangkat
sekarang ke rumah pakai taksi, ingat jangan kebut – kebutan, jangan bikin iras
khawatir..” ia mencium pipi kanan ku sebentar “dan jangan naik gunung..”
Iras keluar dari dalam
kafe. Aku kembali ke mejaku bersama
teman – teman ku. Pertaanyaan hendak
memelihara hewan apa di rumah sepertinya kali ini akan terjawab, kalau saja aku
bisa memelihara macan kumbang di rumah mungkin setiap kelakuan iras ngeselin
kaya gini aku bisa melemparkannya ke dalam kandang.
…
Dalam banyak hal, iras
selalu melakukan yang terbaik. Aku tidak
pernah sekalipun meragukannya. Sejak
awal pacaran, dia adalah pendukung, manajer, sponsor, bagi semua kegiatan
kegemaranku. Selama hal itu bagus, dan
aku menyukainya iras akan mati – matian memberikan apapun yang ku butuhkan
untuk menunjang hobi – hobi ku tersebut.
Ia yang paling tahu kalau
aku hanya main setengah hati di basket dan ia tahu kegemaran ku yang mulai
menggila pada motor waktu itu, sehingga ia mengganti motornya dengan yang lebih
besar. Ketika aku mulai tertarik
fotografi ia dengan senang hati mengantarkanku ke berbagai tempat untuk hunting
foto. Walau dampaknya aku malah terjebak
di dunia modeling.
Ketika aku menggila pada
sosok Cristiano Ronaldo dan team Manchester united, ia membelikan banyak jersey
bahkan setiap kali keluar sepatu duplikat dari sepatunya cr7 yang harganya di
atas lima belas juta itu ia selalu belikan, bahkan sampai sekarang. Tahun kemarin ia janji akan membuatkan ku
sebuah tempat futsal, namun kami tak kunjung menemukan tanah dan bangunan yang
tepat.
Dalam hal memberi, iras
tidak termasuk ke dalam pacar pelit dan perhitungan. Namun hanya satu hobi ku yang tidak pernah ia
dukung.
Naik gunung.
Waktu itu, iras sedang
sibuk mengurus kuliahnya, ia baru diterima di prasetia mulya. Ia di Jakarta dan aku di bandung. Teman – teman pencinta alam ku ngajak naik
gunung. Aku yang memang memiliki dasar
pecinta alam akhirnya setuju, malah aku berangkat tanpa persetujuan iras. Rencananya kami akan naik ke gunung gede
pangrango di sukabumi. Dan aku baru
memberitahu iras di pos pertama ketika akan naik ke gunung.
Ia agak terdengar panic
waktu itu, namun aku meyakinnya bahwa semua akan baik – baik saja. Ternyata setengah hari mendaki, tim kami
mendapatkan sebuah musibah salah seorang teman kami jatuh ke jurang yang cukup
dalam. Kami semua memutuskan turun,
teman kami tersebut selamat, hanya beberapa bagian tubuhnya yang terluka, namun
dari sana bencana sebenarnya timbul, kami tersesat dan tidak menemukan jalan
kembali ke jalur pendakian.
Untunglah perbekalan yang
masih banyak membuat kami bisa mengelilingi gunung selama tiga hari dengan
selamat, bahkan selama tiga hari tersebut aku tidak pernah merasa kehabisan
tenaga, hanya sedikit kesal saja karena rasanya aku kembali lagi dan kembali
lagi ke tempat semula.
Baru di malam ketiga kami
mendengar suara sungai, insting ku mengatakan bahwa jika kami mengikuti alur
sungai ini mungkin bisa membawa kami keluar dari hutan. Ternyata benar saja setelah semalaman
mengikuti alur sungai kami berhasil sampai di atas sebuah air terjun bernama
curug ciberem.
Lokasi wisata sukabumi yang
cukup terkenal. Akhirnya kami berputar
dan menuruni air terjun melalui tempat yang agak landai. Karena air terjun ini merupakan sarana wisata
sehingga akses menuju tempat ini sangat mudah, jalannya lebar dan dipasang batu
koral dengan cukup baik. Kami mengikuti
jalurnya hingga akhirnya berhasil sampai ke pos awal kami berangkat.
Di sana kami disambut tim
sar gunung gede dan kota sukabumi.
Ternyata semua anggota keluarga ku sudah menyusul ke sukabumi, begitu
mereka diberitahu kalau aku selamat mereka langsung menyerbuku.
Namun di balik tubuh apih
dan mama aku melihat wajah sedih iras, aku memeluk mereka satu – satu. Lebih
lama untuk iras. Sejak saat itu ia tidak
pernah memberiku ijin untuk naik gunung lagi, ia tidak percaya lagi. Walau sebenarnya aku sudah berhasil dua kali
naik sampai ke puncak gunung di sumeru dan bromo.
Itu yang membuatnya sangat
tidak setuju saat aku katakana aku ingin naik gunung lagi di ciremai, itu juga
yang membuatnya hilang selama beberapa jam dan tidak ada kabar sampai sekarang.
Jurus pamungkasnya, kalau
ngambek pasti diam, dia tahu beradu argument denganku ia tidak akan pernah
menang, sedangkan jika dia diam dan menghilang maka aku yang akan kalah.
…
Aku membuka kulkas,
mengambil box orange juice kemudian menuangkannya ke dalam sebuah gelas
besar. Kemudian berjalan meninggalkan
dapur setelah meletakan box orange juice di tanganku ke dalam kulkas lagi.
Iras belum menampakan
dirinya sampai sekarang, padahal ia tahu kalau aku tidak pernah bisa tahan lama
– lama berjauhan seperti ini. Ingin
mencarinya keluar, aku juga tidak tahu ia ada di mana.
Kedua hp nya sama – sama
aktif, aku sudah telpon berkali – kali namun tidak ia angkat sama sekali.
Dikirim sms bahkan bbm, dia tetap tidak menyahut. Ada dua dugaan ku mengenai ini, bisa jadi ia
masih ngambek atau malah ketiduran.
“iras kemana?” Tanya mama
dari meja makan, ia sedang sibuk dengan laptop nya di sana.
Aku menggelengkan kepala
sambil meneguk sedikit orange juice di tanganku.
“iras lagi ngambek, gara –
gara inu bilang pengen naik gunung lagi..” aku meletakan gelas di tanganku ke
atas meja. Kemudian menyalakan tv.
“terus kamu naik?” Tanya
mama lagi, sambil terus focus pada laptopnya.
“enggak lah, mama tahu inu,
kalau iras udah bilang enggak, pasti enggak, tapi yang bikin iras ngambek, inu
rada keukeuh tadi sama dia..”
“keukeuh mau naik gunung?”
“mama sebenernya niat nanya
gak sih? Pertanyaan singkat – singkat gitu..”
“heh durhaka kamu ya,
ngatur – ngatur mama, mama kan harus analisa masalah kalian apa, biar bisa
kasih solusi apa enggak…”
Aku diam, sambil melihat
tayangan televisi. Iras sudah makan atau
belum jam segini, ia hanya akan makan jika aku juga makan. Mengkhawatirkan benar dia kalau sedang
seperti ini.
“mungkin karena kami dua
orang yang berbeda, jadinya walaupun sudah saling mengenal satu sama lain,
tetap saja ada yang tidak bisa kami berdua fahami, iras tidak faham, bahwa inu
pasti nurut dengan apapun kemauan dia walau di mulut inu membantah atau ngeyel
sama dia..”
Mama tampak mengangguk
beberapa kali.
“iras bukan cenayangan yang
bisa baca pikiran kamu, dalam anggapan iras kamu ya mau naik gunung, bukan kamu
yang nurut sama dia, itu dia kenapa kita kuliah diajari ilmu komunikasi di
setiap jurusan, selain karena kuliah itu mendewasakan pikiran, belajar
komunikasi di tujukan bahwa orang dewasa menyelesaikan masalah dengan
komunikasi..”
“berarti bego banget ya ma
pepatah yang bilang diam itu emas, diam kan berarti gak berkomunikasi..”
“enggak juga, dalam
beberapa hal diam diperlukan, misalnya anak yang lagi main petak umpet, kalau
mereka mau aman di persembunyian mereka, ya mereka harus diam, mungkin kamu
sama iras sekarang lagi main petak umpet..”
Analogi mama memang mudah
diterima oleh ku. Mama betul, orang dewasa sangat memerlukan komunikasi. Aku sudah egois kali ini. Menuntut iras untuk memahami ku tanpa harus
ku bilang padanya. Menggunakan cara
menuntut pun bahkan tanpa komunikasi.
Aku tidak sempat bilang kalau “kamu harus memahamiku tanpa perlu ku
minta..”
“assalamualaikum..”
Sontak aku dan mama mencari
arah suara. Iras masuk dari pintu, ia
berjalan menghampiri kami sambil membetulkan posisi kacamatanya.
“hey ras, dikangenin dari
tadi kamu..” kata mama.
Aku bangkit dari kursi,
kemudian bergegas berjalan agak cepat menghampiri lalu memeluk iras. Di wajahnya terlihat sedikit senyum.
“nhael sama lia mana?”
Tanya nya pelan di telingaku.
Di saat begini, yang
ditanyakan malah kedua keponakanku.
“udah tidur” jawabku “kamu
udah makan..” aku mengusap pipi dan kedua ujung matanya.
Ia menggelengkan kepala.
“ma.. mama masak apa?”
tanyaku pada mama.
“makan malam kita abis, ada
pasta di kulkas..” kata mama cuek, laptop nya memang tidak pernah bisa ia
tinggalkan, mereka seperti sepasang.
“makan di luar yuk..” kata
iras lagi.
Kami masih berdiri
berhadapan di antara ruang tamu dan ruangan televise yang bersebrangan dengan
meja makan tempat mama duduk menyelesaikan tugas – tugasnya.
“kamu seharian kemana?”
“ketiduran di rumah, tidur
iras pikir lebih menghemat energy dari pada harus dipake ngambek sama inu, tapi
iras tahu kalau inu sekarang pasti nurut, pasti ngerti kenapa iras gak bolehin
sayang naik gunung lagi..”
Aku meremas tangan
iras. Kemudian mengajaknya beranjak
keluar dari rumah.
“ma, kami cari makan dulu
keluar..” teriak ku pada mama sambil kami berdua terus melangkah menjauh.
“jangan pulang malam –
malam, tidur di sini..” balas mama dari dalam.
…
Mobil kami meluncur keluar
dari gerbang perumahan ku, ku nyalakan ipod ku, mencari – cari lagu milik
Justin timberlake yang beberapa hari ini sedang ku dengarkan. Bahkan beberapa
bagian liriknya sudah ku hafal. Begitu
ku temukan langsung ku sambungkan dengan docking station yang ada di mobil.
Mulutku berusaha menirukan
suara JT
Are
you something to admire
Cause
youre shine is something like a mirror
And
I cant help but notice
You
reflect in this heart of mine
Bukan kah sesederhana itu
untuk memuja orang yang kita sayangi. Kejujuran, seperti apa ia yang ada di
hati dan kepala kita. Bukan butir –
butir kata yang mungkin jauh dari kenyataan yang nantinya bisa menimbulkan kekecewaan.
“ada penggalan lagu ini yang
iras suka, kalau gak salah bagian yang ini “its like youre my mirror, my mirror
staring back at me”..” kata iras ia bernyanyi sedikit.
Aku mengangguk – angguk.
“kamu seperti cerminku,
cerminku yang membalas tatapanku.. artinya kaya gitu..” kataku.
Kini iras yang mengangguk.
“inu harusnya banyak
bersyukur kamu sudah seposseif ini sama inu, mungkin inu bisa saja pergi ke
gunung, mati di sana, kemudian tidak peduli siapapun yang inu tinggalkan” aku
menghempaskan badan ke punggung kursi “tapi kini inu punya iras kan? Inu harus
memikirkan bagaimana iras tanpa inu, bagaimana hati kita yang pasti kehilangan
pasangannya, mencegah agar iras tidak merasakan sedikitpun sakit baik secara
fisik atau kasat mata, adalah cara membuat iras bahagia tanpa perlu repot – repot..”
Iras yang masih menyetir,
tersenyum sesekali. Tangan kirinya sejak
tadi tidak pernah berusaha melepaskan genggamannya pada tanganku.
“mari kita berpikir seperti
ini, bahwa hidup kita setelah kita memiliki pasangan, adalah hidup yang sudah
menghidupi orang lain, hidup inu sudah menghidupi hidup iras dan hidup iras
menghidupi inu, berjanjilah untuk tidak pernah membuat ruang sedikitpun di
antara kita berdua, iras tidak pernah bisa setangguh yang inu bayangkan kalau
inu tidak ada…”
“ah memang kamu pikir inu
bisa apa kalau kamu tidak ada..”
Yesterday
is history
Tomorrow
a mistery
I
can see you looking backing at me
Keep
your eyes on me
Baby,
keep your eyes on me
Ku biarkan JT menyelesaikan
lagunya. Menghibur kami berdua. Mengiringi adegan berpegangan mesra tangan
kami berdua. Menjadi soundtrack kami
berdua.
Kesadaran dan puncak rasa
syukur adalah bukan karena ia setia dan kalian tidak pernah terpisahkan
melainkan, kalian ingat meski tidak pernah putus, tidak pernah bercerai, namun
kalian sama – sama titipan, kalian akan diambil lagi tuhan. Mungkin kalian tidak akan putus, tidak akan
bercerai, namun salah satu di antara kalian pasti akan meninggal duluan atau
kalau beruntung mungkin meninggal bersama – sama. Jadi, mau tidak mau, pada
kisah paling setia sekalipun, perpisahan akan selalu ada.
Berbahagialah semua orang
yang menanam cinta, kesetiaan, kesadaran dan lautan syukur di hatinya
…