Aku merasakan hangat
matahari mengusap sebelah pipiku. Mataku
terbuka sedikit demi sedikit. Tangan ku
bergerak – gerak. Iras sudah tidak ada. Semalam sewaktu sahur ia bilang ada urusan di
dealer pagi ini. Mungkin ia sudah
berangkat ke sana.
tubuhku menggelinjang.
Sudah hampir jam Sembilan,
aku masih mengenakan jeans dan kaos putihku.
Pulang main semalam aku dan iras tidak sempat ganti baju malah langsung
tertidur, bahkan sehabis sahur karena masih mengantuk kami berdua tidur lagi.
Selesai acara peringatan
delapan tahun papa dan buka puasa di rumah aku dan iras keluar dari rumah,
teman – teman kami semua sudah kembali ke bandung jadinya semalaman kami
habiskan untuk nongkrong sana sini.
Ku nyalakan tv, acara biasa di hari minggu, chanel yang ku
tuju tentu indosiar. Banyak kartun
favorit yang ku tonton sejak SD yang masih tayang sampai sekarang. Tiba – tiba saja saat ku pindahkan ke mnctv
ada permainan sepak bola antara real Madrid dan everton. Sebagai madridista sejati aku ya langsung
nonton.
Pintu kamar terbuka, bibi
memunculkan kepalanya di sana.
“a, bibi nyandak anggoan
kotor..” si bibi permisi masuk segera menuju kamar mandi di kamarku.
“aya saha bi? Di luar asa
rame..” aku mendengar mama sedang tertawa – tawa dan ngobrol dengan seseorang
di bawah.
“itu a, rencangan aa, ti
Jakarta, altar..”
Aku langsung bilang ke iras
kalau altar lagi main ke rumah. Udara
dago yang agak dingin pagi ini membuatku menarik lagi selimutku, kalau aku
keluar dari kamar dan menemui altar bakal ribet urusannya dengan iras. Lagi pula iras mau ke sini, aku akan keluar
dari kamar kalau iras sudah kembali ke sini.
Sebulan yang lalu kami
sempat ketemu di Jakarta, pernah aku mau ikut dengan altar ke Singapore untuk
medical chek up, tapi dilarang iras.
Sekaligus iras melarangku dekat – dekat lagi dengannya. Kalau iras sudah bilang seperti itu, sudah
melarang begitu, aku tidak bisa protes apapun.
Ada kalimat “gak kapok tuh
orang” aku rasa ada suatu yang tidak beres di antara mereka.
Ronaldo, benzema, ozil,
mereka main semua pagi ini. Tentu
tontonan seru buatku. Tumben sekali ada
pertandingan sepakbola jam segini.
Ku angkat telpon dari iras.
“hay iras di mobil nih,
sini liat sepatunya sesuai gak..”
“iya inu turun sekarang”
Aku keluar dari kamar,
menuruni tangga menuju pintu depan.
Entahlah, sudah bertahun – tahun jadi penghuni rumah ini juga tapi iras
harus selalu aku jemput kalau mau masuk rumah.
Aku tahu rasa hormatnya terhadap mama begitu tinggi.
Mama dengan altar sedang
sibuk di belakang, entah apa yang mereka bicarakan. Ku lihat mobil iras masih terparkir di depan
pintu masuk.
“hey nu ada altar nih..”
mama melongokan kepalanya.
“hey ma ada iras nih..”
balasku sambil terus berlalu ke tanpa memperdulikan mama lagi.
Iras tersenyum melihatku,
ia membuka pintu belakang mobilnya, mengeluarkan sesuatu dari sana. Sebuah kotak sepatu.
“kalah taruhan..” katanya
seraya membetulkan letak kacamatanya.
Aku membuka kotak sepatu
yang diberikan iras. Nike seri paling
baru, duplikat asli miliknya cristiano Ronaldo.
Hanya beberapa menit yang lalu baru saja kami bicarakan tapi sudah ia
dapatkan.
“yah ini mah pasti agak
kecil, ini nomor 41..” kataku ketika melihat ukuran Indonesia nya dari sepatu
tersebut. Ukuran sepatuku memang nomor 41 atau 42. Tapi kalau untuk sepatu futsal dan sport biasa
ku pakai nomor 42, agar tidak terlalu sakit dan membuat kaki lecet kalau
dipakai lari cepat.
“wah kok bisa salah ukuran
gitu, nomor sepatu sport kamu biasanya 42 kan?” sebuah suara dari belakang
muncul membuat keruh di muka iras.
Aku menoleh sebentar, altar
berdiri sambil memasukan kedua tangannya ke saku celananya sambil mengamati
kami berdua.
“hay ras..” katanya menyapa
iras.
Iras hanya mengangguk
kecil.
“ya udah lah masih bisa inu
pake, futsal nya nanti sore soalnya, kalau harus kita tukerin ribet..” kataku
pada iras.
“beneran gak usah di
tuker?” Tanya iras.
Aku menggeleng tanda ia
tidak perlu melakukan hal itu. Iras
memberikan kunci mobilnya kepada mang mul agar memarkirkan mobilnya ke
garasi. Aku menggenggam tangan iras
kemudian menariknya masuk ke dalam rumah.
“jam berapa dari Jakarta
tar?” kami bertiga berjalan berdampingan ke dalam rumah.
“sebenarnya aku dari
kemarin di bandung, nengokin oma di panti, ntar malam mau balik lagi..”
katanya, sambil sesekali membetulkan lipatan kemeja denim biru mudanya yang ia
gulung sampai di lengan.
“bagus deh..” kata iras
pelan.
Aku memutar kepala sambil
tersenyum pada iras. Rupanya altar tidak
mendengar ucapan iras barusan.
“oh ya, kalian masih lama
di bandung?” Tanya altar kemudian.
“sampai kami berangkat ke
paris kami akan tetap di bandung kaya nya..” aku dan iras memang belum
berencana untuk kembali ke Jakarta setelah lebaran.
“oh gitu, ku dengar kalian
mau ke paris pakai jet pribadi, kalau butuh pilot kalian tahu bisa menghubungi
siapa, bahkan co pilot sekalian nya juga bisa..”
“jet pribadi..” aku menatap
iras, kami memang sampai saat ini bahkan
belum pesan tiket pesawat. Aku juga yang
tidak kepikiran, entahlah kalau iras yang berinisiatif pergi ke paris dengan
jet pribadi. Pantas ia tidak grasak
grusuk soal pesawat mana yang akan kami tumpangi.
Iras mengangguk kecil.
“pinjem punya kakek
sebenarnya..” kata iras. Tanpa sekalipun
ia melepaskan genggaman tangannya.
“oke mungkin nanti akan
kami pertimbangkan..” kata ku pada altar. “oh iya, kami tinggal dulu, lagi pula
sepertinya kamu punya urusan sama mama, aku harus mandi dulu dan iras harus
menunggui ku mandi, kami ke kamar dulu..”
Altar mengangguk
mengerti. Aku dan iras pergi ke kamar
ku.
…
Ku betulkan gulungan kaos
kaki futsalku. Di sebelahku, altar
tampak asyik menyaksikan nino yang sedang main futsal. Rupanya itu alasan tepatnya ia berada di
bandung, ia sedang menemani pacar sekaligus co pilot nya itu mudik. Tidak ku sangka, kalau pacar altar akan main
futsal di sini juga, mereka datang beberapa menit setelah aku bermain.
“sebenarnya keinginan
merebut kamu dari iras itu selalu ada…” kata altar. Ia yang duduk di sebelahku
sambil menyilangkan kedua tangannya. “bahkan sampai sekarang..”
“kalau begitu, pacar kamu
cukup tampan sebagai karma..”
Altar menyunggingkan
senyumnya.
“sejak awal kita ketemu,
saat malam itu kamu yang mabuk memperkosaku, sambil terus menyebut nama iras
berkali – kali, aku berpikir, bahwa tidak akan menemukan orang sesetia kamu di
dunia ini, meski aku tahu kamu masih mencintai seseorang, masih milik seseorang
namun aku tidak peduli, motivasi ku sejak itu sampai sekarang adalah memiliki
orang setia seperti kamu..”
Tanganku menunjuk tubuh
nino yang sedang berusaha mengover bola pada temannya.
“kamu pikir orang itu tidak
punya hati?”
Altar tersenyum lagi.
“tentu saja punya, itu
alasan kenapa aku harus menerimanya, tapi nu siapapun yang melihat kisah kamu
dan iras, yang melihat kamu saja, atau yang melihat iras saja, akan ada banyak
orang yang berebut kalau saja kalian putus, itu sebuah fakta yang tidak bisa
kalian hindari, bahkan kalau itu terjadi aku akan daftar jadi peserta no
satu..”
Aku celingukan mencari –
cari iras, tadi ia pamit hendak membeli air minum. Kini entah menghilang kemana.
“sayangnya harapan kamu
tidak akan pernah terjadi..”
“iya, aku dan semua orang
tahu itu, tapi suatu hari aku berharap menemukan kamu lagi yang sedang mabuk di
bar kemudian membawa kamu ke rumah, di kesempatan kedua itu aku akan pasrah
sepasrah – pasrahnya mau kamu apakan juga..”
Orang semacam altar bukan
tipe yang mudah di hadapi, dengan makhluk semacam ini aku lebih senang
menunjukan sebuah demo kepadanya.
“drink..” tiba – tiba
tangan iras menyodorkan sebuah botol minuman dingin. Ia sudah membukanya, aku langsung
meminumnya. Kemudian tangannya
menelungkupkan sebuah handuk kecil berwarna putih di kepalaku, mengeringkan
rambutku dari keringat.
“okeh gue ke sana dulu
ras..” kata altar pada iras.
Iras hanya mengangguk
kemudian membiarkannya berlalu.
“ngomong apa dia barusan..”
kata iras padaku.
“seperti biasa, usaha dia…”
“ngerebut kamu dari aku?”
potong iras. Kedua matanya menatapku
tajam. Aku mengangguk padanya. “dia
pikir gampang..”
Iras mengambil handuk di
kepalaku, kemudian ia merapihkannya, tangannya dengan cekatan mendekatkan jaket
dan tas sepatuku.
“kita akan terus bersama,
tidak ada kata pisah, sampai salah satu dari kita meninggal dunia…”
“ngomongnya jauh bener…”
kataku sambil membuka sepatu futsalku satu – satu.
“katakan tidak ada yang
sebaik iras dalam hal mencintai inu..” tangan iras mencengkram kuat pergelangan
tanganku, jelas di matanya tertangkap bayangan khawatir dan cemasnya. Aku
mengangguk, meyakinkan iras.
“untuk mencintai aku,
setiap orang harus menjadi kamu..”
Iras diam, ia terus
menatapku lekat. Ku ambil sendalku,
kemudian menuntunya menuju ruang ganti.
Ia berjalan mengikutiku.
Iras berdiri menggenggam t
shirt, jeans dan jaket ku. Di balik ruang
ganti aku melepaskan baju futsalku, jersey spurs kali ini yang ku pakai, satu –
satu tangan iras menyodorkan baju, celana dan jaket kepadaku. Matanya mengawasi
ku tanpa henti selama aku berganti pakaian.
“katakan kalau kenangan
dari mereka tidak ada artinya sama sekali..”
Aku memandangi mata pacarku
itu. Ia yang masih tegap berdiri di
depanku. Aku mengambil tas sepatuku yang
di tangannya, sementara ia mengambil tas karbon berisi pakaian kotorku.
“mereka hanya belokan –
belokan jalan, yang membawaku untuk sampai kepada kamu..”
Kami berdua keluar dari
ruang ganti. Tangan iras tidak sekalipun
berusaha melepaskan genggamnnya, aku membiarkan jari – jarinya itu meremas jari
– jari ku kuat.
Setelah berpamitan pada
teman – teman futsalku, kami berdua meninggalkan tempat futsal tersebut.
“iras Cuma takut, kamu akan
dikalahkan oleh masa lalu..”
Aku menggeleng sambil
tersenyum pada iras. Ia yang duduk
menyetir di sampingku. Di matanya
terkubur berbagai hal yang ia saksikan selama kami bersama, selama kami terus
menjadi kita. Sesuatu yang ditakutkan
iras, masa lalu, nyatanya tidak semenarik menebak bagaimana masa depan akan
terjadi.
…
Tidak ada komentar:
Posting Komentar