Senin, 19 Agustus 2013

38 : untuk mencintai aku, harus menjadi kamu



Aku merasakan hangat matahari mengusap sebelah pipiku.  Mataku terbuka sedikit demi sedikit.  Tangan ku bergerak – gerak.  Iras sudah tidak ada.  Semalam sewaktu sahur ia bilang ada urusan di dealer pagi ini.  Mungkin ia sudah berangkat ke sana.
tubuhku menggelinjang.
Sudah hampir jam Sembilan, aku masih mengenakan jeans dan kaos putihku.  Pulang main semalam aku dan iras tidak sempat ganti baju malah langsung tertidur, bahkan sehabis sahur karena masih mengantuk kami berdua tidur lagi.
Selesai acara peringatan delapan tahun papa dan buka puasa di rumah aku dan iras keluar dari rumah, teman – teman kami semua sudah kembali ke bandung jadinya semalaman kami habiskan untuk nongkrong sana sini.
Ku nyalakan tv,  acara biasa di hari minggu, chanel yang ku tuju tentu indosiar.  Banyak kartun favorit yang ku tonton sejak SD yang masih tayang sampai sekarang.  Tiba – tiba saja saat ku pindahkan ke mnctv ada permainan sepak bola antara real Madrid dan everton.  Sebagai madridista sejati aku ya langsung nonton.
Pintu kamar terbuka, bibi memunculkan kepalanya di sana.
“a, bibi nyandak anggoan kotor..” si bibi permisi masuk segera menuju kamar mandi di kamarku.
“aya saha bi? Di luar asa rame..” aku mendengar mama sedang tertawa – tawa dan ngobrol dengan seseorang di bawah.
“itu a, rencangan aa, ti Jakarta, altar..”
Aku langsung bilang ke iras kalau altar lagi main ke rumah.  Udara dago yang agak dingin pagi ini membuatku menarik lagi selimutku, kalau aku keluar dari kamar dan menemui altar bakal ribet urusannya dengan iras.  Lagi pula iras mau ke sini, aku akan keluar dari kamar kalau iras sudah kembali ke sini.
Sebulan yang lalu kami sempat ketemu di Jakarta, pernah aku mau ikut dengan altar ke Singapore untuk medical chek up, tapi dilarang iras.  Sekaligus iras melarangku dekat – dekat lagi dengannya.  Kalau iras sudah bilang seperti itu, sudah melarang begitu, aku tidak bisa protes apapun.
Ada kalimat “gak kapok tuh orang” aku rasa ada suatu yang tidak beres di antara mereka.
Ronaldo, benzema, ozil, mereka main semua pagi ini.  Tentu tontonan seru buatku.  Tumben sekali ada pertandingan sepakbola jam segini.
Ku angkat telpon dari iras.
“hay iras di mobil nih, sini liat sepatunya sesuai gak..”
“iya inu turun sekarang”
Aku keluar dari kamar, menuruni tangga menuju pintu depan.  Entahlah, sudah bertahun – tahun jadi penghuni rumah ini juga tapi iras harus selalu aku jemput kalau mau masuk rumah.  Aku tahu rasa hormatnya terhadap mama begitu tinggi.
Mama dengan altar sedang sibuk di belakang, entah apa yang mereka bicarakan.  Ku lihat mobil iras masih terparkir di depan pintu masuk.
“hey nu ada altar nih..” mama melongokan kepalanya.
“hey ma ada iras nih..” balasku sambil terus berlalu ke tanpa memperdulikan mama lagi.
Iras tersenyum melihatku, ia membuka pintu belakang mobilnya, mengeluarkan sesuatu dari sana.  Sebuah kotak sepatu.
“kalah taruhan..” katanya seraya membetulkan letak kacamatanya.
Aku membuka kotak sepatu yang diberikan iras.  Nike seri paling baru, duplikat asli miliknya cristiano Ronaldo.  Hanya beberapa menit yang lalu baru saja kami bicarakan tapi sudah ia dapatkan.
“yah ini mah pasti agak kecil, ini nomor 41..” kataku ketika melihat ukuran Indonesia nya dari sepatu tersebut. Ukuran sepatuku memang nomor 41 atau 42.  Tapi kalau untuk sepatu futsal dan sport biasa ku pakai nomor 42, agar tidak terlalu sakit dan membuat kaki lecet kalau dipakai lari cepat.
“wah kok bisa salah ukuran gitu, nomor sepatu sport kamu biasanya 42 kan?” sebuah suara dari belakang muncul membuat keruh di muka iras.
Aku menoleh sebentar, altar berdiri sambil memasukan kedua tangannya ke saku celananya sambil mengamati kami berdua.
“hay ras..” katanya menyapa iras.
Iras hanya mengangguk kecil.
“ya udah lah masih bisa inu pake, futsal nya nanti sore soalnya, kalau harus kita tukerin ribet..” kataku pada iras.
“beneran gak usah di tuker?” Tanya iras.
Aku menggeleng tanda ia tidak perlu melakukan hal itu.  Iras memberikan kunci mobilnya kepada mang mul agar memarkirkan mobilnya ke garasi.  Aku menggenggam tangan iras kemudian menariknya masuk ke dalam rumah.
“jam berapa dari Jakarta tar?” kami bertiga berjalan berdampingan ke dalam rumah.
“sebenarnya aku dari kemarin di bandung, nengokin oma di panti, ntar malam mau balik lagi..” katanya, sambil sesekali membetulkan lipatan kemeja denim biru mudanya yang ia gulung sampai di lengan.
“bagus deh..” kata iras pelan.
Aku memutar kepala sambil tersenyum pada iras.  Rupanya altar tidak mendengar ucapan iras barusan.
“oh ya, kalian masih lama di bandung?” Tanya altar kemudian.
“sampai kami berangkat ke paris kami akan tetap di bandung kaya nya..” aku dan iras memang belum berencana untuk kembali ke Jakarta setelah lebaran.
“oh gitu, ku dengar kalian mau ke paris pakai jet pribadi, kalau butuh pilot kalian tahu bisa menghubungi siapa, bahkan co pilot sekalian nya juga bisa..”
“jet pribadi..” aku menatap iras,  kami memang sampai saat ini bahkan belum pesan tiket pesawat.  Aku juga yang tidak kepikiran, entahlah kalau iras yang berinisiatif pergi ke paris dengan jet pribadi.  Pantas ia tidak grasak grusuk soal pesawat mana yang akan kami tumpangi.
Iras mengangguk kecil.
“pinjem punya kakek sebenarnya..” kata iras.  Tanpa sekalipun ia melepaskan genggaman tangannya.
“oke mungkin nanti akan kami pertimbangkan..” kata ku pada altar. “oh iya, kami tinggal dulu, lagi pula sepertinya kamu punya urusan sama mama, aku harus mandi dulu dan iras harus menunggui ku mandi, kami ke kamar dulu..”
Altar mengangguk mengerti.  Aku dan iras pergi ke kamar ku.
Ku betulkan gulungan kaos kaki futsalku.  Di sebelahku, altar tampak asyik menyaksikan nino yang sedang main futsal.  Rupanya itu alasan tepatnya ia berada di bandung, ia sedang menemani pacar sekaligus co pilot nya itu mudik.  Tidak ku sangka, kalau pacar altar akan main futsal di sini juga, mereka datang beberapa menit setelah aku bermain.
“sebenarnya keinginan merebut kamu dari iras itu selalu ada…” kata altar. Ia yang duduk di sebelahku sambil menyilangkan kedua tangannya. “bahkan sampai sekarang..”
“kalau begitu, pacar kamu cukup tampan sebagai karma..”
Altar menyunggingkan senyumnya.
“sejak awal kita ketemu, saat malam itu kamu yang mabuk memperkosaku, sambil terus menyebut nama iras berkali – kali, aku berpikir, bahwa tidak akan menemukan orang sesetia kamu di dunia ini, meski aku tahu kamu masih mencintai seseorang, masih milik seseorang namun aku tidak peduli, motivasi ku sejak itu sampai sekarang adalah memiliki orang setia seperti kamu..”
Tanganku menunjuk tubuh nino yang sedang berusaha mengover bola pada temannya.
“kamu pikir orang itu tidak punya hati?”
Altar tersenyum lagi.
“tentu saja punya, itu alasan kenapa aku harus menerimanya, tapi nu siapapun yang melihat kisah kamu dan iras, yang melihat kamu saja, atau yang melihat iras saja, akan ada banyak orang yang berebut kalau saja kalian putus, itu sebuah fakta yang tidak bisa kalian hindari, bahkan kalau itu terjadi aku akan daftar jadi peserta no satu..”
Aku celingukan mencari – cari iras, tadi ia pamit hendak membeli air minum.  Kini entah menghilang kemana.
“sayangnya harapan kamu tidak akan pernah terjadi..”
“iya, aku dan semua orang tahu itu, tapi suatu hari aku berharap menemukan kamu lagi yang sedang mabuk di bar kemudian membawa kamu ke rumah, di kesempatan kedua itu aku akan pasrah sepasrah – pasrahnya mau kamu apakan juga..”
Orang semacam altar bukan tipe yang mudah di hadapi, dengan makhluk semacam ini aku lebih senang menunjukan sebuah demo kepadanya.
“drink..” tiba – tiba tangan iras menyodorkan sebuah botol minuman dingin.  Ia sudah membukanya, aku langsung meminumnya.  Kemudian tangannya menelungkupkan sebuah handuk kecil berwarna putih di kepalaku, mengeringkan rambutku dari keringat.
“okeh gue ke sana dulu ras..” kata altar pada iras.
Iras hanya mengangguk kemudian membiarkannya berlalu.
“ngomong apa dia barusan..” kata iras padaku.
“seperti biasa, usaha dia…”
“ngerebut kamu dari aku?” potong iras.  Kedua matanya menatapku tajam.  Aku mengangguk padanya. “dia pikir gampang..”
Iras mengambil handuk di kepalaku, kemudian ia merapihkannya, tangannya dengan cekatan mendekatkan jaket dan tas sepatuku.
“kita akan terus bersama, tidak ada kata pisah, sampai salah satu dari kita meninggal dunia…”
“ngomongnya jauh bener…” kataku sambil membuka sepatu futsalku satu – satu.
“katakan tidak ada yang sebaik iras dalam hal mencintai inu..” tangan iras mencengkram kuat pergelangan tanganku, jelas di matanya tertangkap bayangan khawatir dan cemasnya. Aku mengangguk, meyakinkan iras.
“untuk mencintai aku, setiap orang harus menjadi kamu..”
Iras diam, ia terus menatapku lekat.  Ku ambil sendalku, kemudian menuntunya menuju ruang ganti.  Ia berjalan mengikutiku.
Iras berdiri menggenggam t shirt, jeans dan jaket ku.  Di balik ruang ganti aku melepaskan baju futsalku, jersey spurs kali ini yang ku pakai, satu – satu tangan iras menyodorkan baju, celana dan jaket kepadaku. Matanya mengawasi ku tanpa henti selama aku berganti pakaian.
“katakan kalau kenangan dari mereka tidak ada artinya sama sekali..”
Aku memandangi mata pacarku itu.  Ia yang masih tegap berdiri di depanku.  Aku mengambil tas sepatuku yang di tangannya, sementara ia mengambil tas karbon berisi pakaian kotorku.
“mereka hanya belokan – belokan jalan, yang membawaku untuk sampai kepada kamu..”
Kami berdua keluar dari ruang ganti.  Tangan iras tidak sekalipun berusaha melepaskan genggamnnya, aku membiarkan jari – jarinya itu meremas jari – jari ku kuat.
Setelah berpamitan pada teman – teman futsalku, kami berdua meninggalkan tempat futsal tersebut.
“iras Cuma takut, kamu akan dikalahkan oleh masa lalu..”
Aku menggeleng sambil tersenyum pada iras.  Ia yang duduk menyetir di sampingku.  Di matanya terkubur berbagai hal yang ia saksikan selama kami bersama, selama kami terus menjadi kita.  Sesuatu yang ditakutkan iras, masa lalu, nyatanya tidak semenarik menebak bagaimana masa depan akan terjadi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar