Selasa, 24 September 2013

Sudah Janji

rasanya baru kemarin mencintaimu dengan perasaan yang tak menentu
lalu hari ini, kamu membuat segalanya tak sekedar hidup
tak sekedar nasib baik yang harus ku penuhi

hidup kita sangat membuat sibuk bukan?
benar - benar sibuk, sampai kita mengabaikan banyak hal

banyak janji

Setelah sanggup menyentuh awan, ia ingin menyentuh bintang.
Setelah tiba di angkasa, ia rindu menjejakkan tanah.

aku tidak pernah ingin bagai begitu
aku tidak ingin jadi kapal yang lupa nakhoda
aku tidak ingin jadi bumi yang lupa gavitasi
ingat, kita tidak pernah dan tidak akan pernah benar - benar sampai ke sini
tanpa landasan pacu....

suatu sore, di rumah kita, kita pernah membahas ini
lalu kehidupan berhasil menguap kan nya
apa kita tengah mengantuk?
tidak bukan?

kita sudah janji ras, waktu itu...

jika kita berdua terbang terlalu jauh, siapa yang menjaga tubuh kita dari jatuh

selain Dia


Rabu, 18 September 2013

The Way To Our Wedding



Pagi ini, di bawah selangkangan Eiffel, di sela waktu menunggumu…
Ada sepasang seperti kita sedang mengucap janji setia
Rasanya menyenangkan, menjadi penglihat kebahagiaannya
Lalu mampir di kepalaku tentang masa di depan buat kita berdua
Buaian tentang angan – angan yang disebut pernikahan

Akankah

Membayangkan kita berdua yang gelagapan berdiri di atas altar
Pada hari yang tidak direncanakan, senantiasa menjadi si kecil harapan
Yang kita sendiri pun…
Tidak menyangka  hal itu akan datang
Hingga saatnya tiba
Hingga mati, kau dan aku, saling setia
Dan tak pernah lagi bertanya, bahagia itu apa

Haruskah secepat itu? Haruskah kita terburu – buru
Bukankah selama inipun kita telah bersama, sama – sama….

Aku kini, di balik rumpun pohon perdu, juga gugur demi gugur daun – daun berwarna coklat
Hendak memagarimu, menjagamu, melarang siapapun melintasinya
Untuk mendekat pada mu….

Bar macam apa kau ini, sehingga berhasil membuatku mabuk begini
Pertanyaan yang sama ketika di balik pakaian SMA
Kau membuatku jatuh cinta.

Kau yang paling setia, yang tidak bisa digantikan oleh satu, dua, ratusan bahkan ribuan

Pantas rasanya, jika di bawah sini aku melihat langit seakan memandang suatu hari nanti
Kau dan aku, juga dua buah hati kita, berlarian di sini, di taman ini
Membagikan roti pada sayap – sayap jelek merpati
Membagikan kopi untukmu untukku, membagikan susu bagi Langit dan Biru
Juga untuk anjing – anjing kita yang nakal dan lucu
Tanpa omong kosong apapun di masa lalu.

Aku tidak pernah membayangkannya, duduk di sini, di bangku dungu ini
Sendirian dengan laptop di atas selangakanganku membahayakan jutaan sel spermaku
Dengan langkah kakimu menghampiriku sembunyi – sembunyi
Untuk mengagetkanku?
Aku mencintai setiap kejutan sekecil apapun darimu….
Setiap harapan yang kau bawa ke sini, ke hidup ini..
Bahkan yang terjadi hari ini, adalah kejutan paling luar biasa yang pernah terjadi
Kamu merencanakannya dengan sangat baik Ras….

Aku mencintaimu, sangat mencintaimu
Menikahlah denganku.

Kamis, 12 September 2013

Titik Nol



Apapun yang saya tulis di sini, tidak sama sekali bermaksud membicarakan hal buruk dari orang lain, bahkan teman saya sendiri. melainkan kita berharap dapat memetik pelajaran dari berbagai kisah, cerita dan cuplikan hidup orang lain.
Iras berlalu ke arah kerumunan bapak – bapak yang duduk – duduk santai memakai kaos polo. Ia berpamitan untuk ngobrol dengan mereka, biasalah lobi – lobi soal bisnis. Mereka pemilik beberapa tempat basah lahan bisnis di sukabumi.  Aku sendiri tidak bisa lepas dari aroma sosis bakar berukuran besar dari arah rest area.
Aku tidak bilang pada iras aku hendak ke mana, sehingga matanya begitu memata – matai gerak gerikku.  aku tersenyum kepadanya, sambil menunjuk kubikel sosis bakar, ia mengangguk, tanda memperbolehkan.
“rasa sapi, lima…” tapi aku mengangkat dua jariku.
Ibu penjual di depanku tampak kebingungan.
“jadinya bikin berapa pak?” katanya, dengan raut muka sangat bingung.
“hahahaha..” aku mentertawakan kebingungannya “jadinya bikin lima yang pedes ya, cabe nya dua…”
Kini ibu penjual sosinya tertawa lebar.
“ah si bapak ini, pinter bener becandanya, nya atos ku ibu di pang bakarken lima, pedes nya pak..”
Aku tersenyum melihat kegesitan si ibu penjual sosis. Ku edarkan pandangan ke sekitar, banyak sekali pengunjung yang tampak mulai menikmati waterpark yang baru kami buka ini.  Sayang si kecil rizzy sedang sakit, padahal aku ingin sekali membawanya kemari hari ini.
Beberapa menit kemudian ketika kelima sosis berukuran besar itu selesai di panggang, tanganku langsung menyambarnya ketika si ibu penjual menyerahkan kemasannya.  Ia sendiri tampak kaget melihatku yang langsung menghabiskan satu buah sosis bakar ukuran raksasa itu Cuma satu menit selama masih ada di sana.
Aku berjalan, hendak kembali ke tempat iras berada. Matanya dari tadi terus memperhatikanku, aku tahu ia tidak bisa lama – lama ditinggal.
Tiba – tiba saja, dari satu arah, aku berpapasan dengan seorang teman ku di kampus, tian. Aku mengenalnya, aku juga kenal rico pacarnya, ia teman dekat iras.
“hey Nu..” tian duluan menyapaku.
“wey, lagi ngapain?” aku mengulurkan tangan, menyalaminya.
“rekreasi lah nu, sama iras?” tanyanya.
Aku mengangguk, tiba – tiba, seorang laki – laki yang usianya sepertinya sepuluh tahun lebih tua dari kami berdua menghampiri tian.
“aku duluan, aku tungguin di loker room..” ia bilang pada tian. Aku pikir mungkin om nya dan begitulah cara berkomunikasi di keluarganya menggunakan aku dan kamu. Sama kaya gue Lah, sama kakek sendiri aja suka nyapanya lu gueh.
Tian mengangguk sambil tersenyum lebar. Aku mendekat pada tian. Penasaran benarkah di keluarganya saling menyapa dengan menggunakan aku dan kamu.
“siapa, dot?” maksudnya dongdot, atau dodot, itu panggilan tian di kampus.
“om gue..” jawab tian sambil tersenyum. Aku curiga dengan maksud dari senyum dan ekspresi wajahnya. Seperti ada oncom di balik comro.
“om lu? Di rumah kalian nyapa pake aku kamu?” kataku menyelesaikan penasaranku.
“yaelah nu, lu sok lugu bener, lu ngerti lah maksud gue, om nu om..” tian membelalakan matanya.
Memang ini tujuanku, aku kenal betul siapa rico pacar tian, dan bagaimana sayangnya rico padanya lalu dia sekarang di sini bersama orang yang tidak sepantasnya, seorang lelaki yang kadaluarsa.
“terus rico apa kabarnya dot?”
“dia pasti lagi kerja jam segini..”
“dan lu di sini sama cowok yang kadaluarsa begitu..” aku menunjuk pada orang yang bayangannya belum hilang dari pandangan kami ini. “kurang apa rico dot?”
Ku gigit besar – besar sosis di genggamanku. Aku bahkan rasanya selalu ingin membunuh siapapun yang bermain – main dengan komitmennya, mengingat yang ku alami dengan iras demi mempertahankan itu sangat tidak mudah.
“ya cowok kadaluarsa itu, bisa ngasih ya gak bisa rico kasih, gue sayang rico, gue sayang banget sama dia, tapi ya lu tau rico lah…”
“maksud lu? Karena dia Cuma seorang teller bank gitu?” beberapa temen cewek di kampus malah pengen banget punya pacar teller bank.
“bukan nu, gini deh, singkatnya, lu tau sendiri, kelas nya temen – temen gue kaya gimana, termasuk lu sama iras, gue mahasiswa yang gak mungkin datang ke kampus dengan pakaian yang sama setiap hari, ketika ada gadget keluaran baru masa gue gak ganti, seenggaknya ada lah yang nganterin gue ke kampus…”
Aku menggeleng sambil tersenyum nyinyir.
“lu pikir pacaran itu apaan dot?”
“gak usah bilang yang aneh – aneh deh nu, gue yakin lu juga ngelakuin hal yang sama ke iras, gue tau kok apalagi yang lu minta sama iras suka aneh – aneh dan harus hari itu juga ada, seenggaknya gue gak gitu sama tuh cowok kadaluarsa..”
Aku berpikir apakah benar begitu, terakhir aku minta gehu isi buncis gak iras laksanain perasaan.
“lu gak bisa ngebandingin hidup lu sama orang lain…”
“diem nu, kan gue udah mutusin buat hidup di kelas mana dengan gaya yang seperti apa, silahkan protes, tapi gue juga kaya lu gak akan denger komen orang tentang hidup gue..”
Tian berjalan meninggalkanku kea rah loker room. Yang dapat aku lihat dari tempat ku berdiri sekarang, ia menghampiri cowok kadaluarsa itu mereka tampak bicara akrab dengan sedikit aksen mesra dalam ekspresi mereka. Aku bergidik, bagaimana mungkin tian bisa menikmati sebuah makanan a lot.
Tanpa ku duga iras sudah berdiri di sampingku.
“hey dicari – cari juga…” katanya ia ingin merebut salah satu sosis besar itu dari tanganku.
Lalu aku langsung saja berusaha memasukan seluruh sosis besar itu ke mulut iras.  Menyiksanya memang salah satu hobiku.
“emhhh emhh..” ia berusaha mengunyah semua sosis yang masuk ke dalam mulutnya. “itu bukannya tian ya sama siapa? Tampangnya kaya bandot tua gitu”
Aku mengangguk, menggigit sosis lain yang tinggal satu lagi itu.
“kamu gak usah bilangin soal ini sama rico, kasian dia, ingat soal prinsip kita buat gak ikut campur sama urusan orang lain..”
Iras mengangguk walau aku sadar dengan tadi sedikit menceramahi tian berarti aku sudah sedikit ikut campur.
Aku menggenggam tangan iras, kemudian mengajaknya pulang. aku tidak suka panas.
aku mulai berpikir bahwa setiap orang memiliki kecenderungan untuk mendua. Seperti dalam puisi presiden habibie untuk istrinya.  Semua orang adalah tukang serong yang ulung, namun ada yang menanganinya dengan baik dan tidak. Maka dari itu muncullah istilah pacar setia. Awalnya ku pikir bahwa setia adalah tidak pernah tertarik pada orang lain selain pacarku, tapi setia adalah saat kita merasa tertarik pada orang lain lalu pikiran alam sadar kita ingat bahwa pacar kita lebih baik dari siapapun. Tidak ada yang lebih baik darinya.
Contoh kasusnya seperti sekarang ini, aku jalan – jalan sendirian di pusat perbelanjaan dan melihat banyak pemandangan menarik. Kasir, SPB, orang lain yang sedang belanja, bahkan satpam berbadan tegap dengan matanya yang sejuk itu. Tapi kemudian di pikiranku, wajah iras muncul, tingkah lakunya, sifat pencemburunya, sifat possesif nya, semua hal yang ia lakukan untuk menunjukan rasa sayangnya yang besar, atau bahkan ketika ia mengecup bibirku hanya untuk membersihkan sisa es krim di dekat mulutku.
Tidak ada yang sebaik dan sesabar iras yang tuhan ciptakan untuk keburukan dan segala kecerobohanku. Ia yang paling pas yang sudah tuhan buat untukku, menggantinya dengan yang lain, mengatakan ada yang bisa sebaik atau bahkan lebih itu adalah cara bagus untuk membohongi diri sendiri.
Aku melihat rico, ia sedang melihat – lihat beberapa pakaian di toko three second.  Aku menghampirinya, ia berada di sini di jam kerja kantor.
“hay co..” aku menyapa rico.
Rico memutar badannya kemudian ia tersenyum begitu melihatku “hay nu, lagi ngapain?”
“mau beli baju juga di sini..” jawabku “lagi ngapain?”
“aku lagi nyari sesuatu yang mungkin akan disukai tian, besok kami merayakan anniv bulanan kami yang kelima, yaa konsepnya sih nyontek – nyontek acara anniv kamu sama iras, aku pikir mungkin tian akan suka dengan kaos atau topi yang ku beli, selama lima bulan pacaran aku belum ngasih dia apa – apa…”
Aku pikir, sudah menjadi naluri setiap orang ingin memberikan apapun buat pacarnya.  Lalu aku tersenyum, ketika kemarin tian bilang bahwa rico tidak bisa memberikannya apa – apa. Lalu sekarang, rico berpikir sebaliknya dan tian bukan seorang penerima yang baik. Lalu ku pikir mungkin itu yang membuat mereka cocok.
“jadi lu mau ngasih apa?” aku mulai penasaran dengan apa yang akan ia berikan.
“menurut kamu tian kira – kira bakalan suka topi ini gak?” rico menunjukan satu buah topi berwarna biru muda padaku.
“dia pasti suka co..” aku mengangguk berusaha meyakinkan rico “ingat yang penting itu anniv kalian, masalah hadiah itu bonus, masalah suka atau tidak resiko, tapi kalau gue jadi tian apapun yang lu kasih bakal gue suka lah, lu pacar gue..”
Rico menyunggingkan senyumnya.
“aku tau, iras selalu cerita banyak soal sifat kamu yang itu, dia memang sangat beruntung punya kamu..”
“sama seperti tian yang punya lu lah..”
“semoga memang seperti itu..” kata rico, ia memandangi topi di tangannya, dipikirannya mungkin sedang berenang bagaimana ekspresi tian saat melihatnya.
Aku tidak ingin bicara banyak lagi dengan rico ketika ia larut dengan hadiah untuk tian di tangannya.  Sementara deretan baju – baju di depan ku langsung menarik ku seketika.
Iras memberikan potongan roti bakar terakhir di atas piring kepadaku, roti yang tertusuk di ujung garpu langsung ku santap.  Ia mengambil tisu, membersihkan sisa selai nanas di dekat bibirku.
“hari ini di kampus sampe jam berapa?” ia mengamati bagian lain wajahku.
“gak tau, yang pasti kalau jam sebelas kosong inu pasti ke showroom..” ku lihat jam di tanganku jam delapan kurang lima belas cukup untuk berangkat sekarang “oya udah dapat manager baru buat showroom?”
Iras menggelengkan kepala. Ia tuangkan orange jus dari box nya ke dalam gelas yang ada di depannya.
“agak menarik kalau iras dapat manajer yang seumuran atau kenal sama kita, jadi di kantor bisa agak nyaman..”
Aku mengangguk mengiyakan.  Manajer showroom beberapa minggu yang lalu memutuskan resign, gara – gara jarak yang cukup jauh dengan rumahnya.  Tidak bisa jauh dengan keluarga, iras memakluminya.  Ia selalu bisa menghargai setiap orang yang mementingkan kehidupan keluarganya.
 Kami berdua sarapan di halaman belakang rumah kami.  Kami punya taman dengan sebuah kolam yang kecil.  Yang iras masukan banyak ikan – ikan yang kecil pula di sana, setidaknya suara gemericik air memberikan ketenangan dan menghilangkan stress kami sebelum beraktivitas.
“inu gak ngerti sama orang – orang yang sepertinya tidak mengerti apa itu komitmen…” mataku memandang jauh pada beberapa daun bunga kamboja yang jatuh di permukaan air kolam. “kenapa ya begitu mudahnya mereka buat selingkuh, main mata di belakang pasangannya, berperan sebagai jomblo di saat jauh…”
“kamu tidak akan mendapatkan hal seperti itu dari iras sayaang…” iras memegang tanganku. Ia memotong bicaraku dengan tatapan matanya yang tidak pernah bisa ku hindari menancap – nancap di sekitar jiwaku.
“inu bunuh kamu kalau sampai kaya gitu…” ku acak rambut iras, ia merapihkannya lagi sambil tersenyum lebar.
“apa kita gak sebaiknya bilang soal tian ke rico?”
Aku berpikir sebentar.
“jangan lah biar inu yang coba bicara lagi sama tian, semoga dia sadar…”
“ya semoga rico juga sabar kalau tahu soal ini..”
Kami berdua bangkit dari kursi dan berjalan keluar rumah. Menuju mobil iras, mobil dan motorku mungkin akan giliran menunggui rumah hari ini.  Lagipula aku lagi malas nyetir.
Beberapa menit kemudian, kami sudah ada di dalam mobil menuju kampusku. Meskipun kami memakai mobil iras, aku yang menyetir.  Pagi – pagi seperti ini iras harus membaca Koran, memantau harga saham, laju inflasi dan berbagai hal lainnya.
Juga semua berita mengenai bisnisnya.  Walau begitu, ia akan sangat hafal kalau aku menaikan kecepatan.
“turunkan ke enam puluh…”
Betul saja, padahal baru saja aku menaikan kecepatan di 100KM/jam. Aku menurut sebelum iras menjadi lebih berisik.
“kamu bisa loh baca berita di ipad…” ku lihat ipadnya masih tergeletak di jok belakang, merasa ngeri melihatnya membuka lembar demi lembar besar Koran di dalam mobil seperti ini.
“kamu pernah bilang kalau kamu suka aku yang sedang baca Koran, jadi ya selamat menikmati…” katanya masih tetap larut dengan korannya.
Aku mencium pipinya. Membuatnya agak terbelalak karena aku masih sedang menyetir.
“semua hal tentang kamu, meskipun kamu lagi ngeden di toilet tetep aku suka…”
Iras menyunggingkan senyum lebar.
“okeh kalau begitu iras gak bakalan tutup pintu toilet kalau lagi ngeden…”
Ku lemparkan sebuah Koran bekas dari atas dek mobil. Iras tergelak, jarak kampus ku tinggal beberapa meter lagi.  Begitu gerbangnya tampak aku langsung banting stir dan masuk ke halamannya.
“inu sampai…”  aku mematikan mesin mobil.
“hey sini dulu, ada apa itu di bibir kamu…” kata iras, ia agak menarik paksa wajahku.
“mana????” aku melirik kaca spion.
“muachh muaaacchh muacccchhh” ternyata itu hanya alasannya untuk menciumku.
“cukupkan itu buat tiga jam? ntar jemput inu ke sini”
Iras mengangguk sambil melipat korannya, aku turun dan iras mengikutiku, beberapa mahasiswa lain yang melewati parkiran memperhatikan kami berdua.
“jangan nakal, jangan bandel, jaga baik – baik matanya, jangan ngelakuin hal yang macem – macem..” dan deretan kata jangan berikutnya.
“iya iya bawel, jaga baik – baik diri kamu, ingat di sana..” aku menekan letak jantung iras “di salah satu di sudut kiri ini, ada tempat untuk aku berumah…”
“arggghhhhh…. Pengen nyium…”
Ku geplok kepala iras sambil meninggalkannya. Menuju kerumunan teman – temanku yang masih sibuk dengan jurnal dan laptop mereka.
Beberapa anggota kelompokku berpamitan, dosen mata kuliah keperawatan anak kami meminta membuat sebuah resume soal penyakit – penyakit di system syaraf.  Kami memilih syndrome guillan bare yang belum banyak dipelajari.  Resume kami selesai sehingga teman – temanku yang lain meminta segera meninggalkan perpustakaan.
Tinggal beberapa saja yang masih asyik dengan laptop mereka gara – gara free wifi di perpustakaan.  Termasuk salah satunya tian, ia memegang sebuah tablet yang baru hari ini aku lihat.
“dot, lu besok yang presentasi ya…” kata pada tian, kelompokku memintaku yang besok presentasi mengenai kasus yang baru saja kami selesaikan, namun aku sedang malas. Walau tepatnya aku memang selalu malas.
“ah enggak ah, mana bisa gue…” tian menolak.
“lu gak pernah nyobain presentasi, gimana lu bakal bisa…” tian tidak menghiraukan kata – kataku, aku tutup laptopku dan mulai merapihkannya “tablet baru? Ada game serunya? Nyobain gue…”
“halah tablet lu kan lebih bagus dari punya gue nu, lu ngeledeknya berlebihan.. gimana bagus gak? Dikasih cowok kadaluarsa yang kemarin itu…”
Aku jadi ingat dengan orang yang bersama tian di waterpark.
“jadi lu masih jalan ama tuh orang? Gue penasaran kok lu bisa ngelakuin hal kaya gitu sama rico, gue salut sama lu dot, bertahun – tahun dan gue gak bisa kaya gitu sama sekali ke iras…”
“hahaha cara licik buat muji diri sendiri lu nu..” tian meletakan tabletnya “ya gue sih jalan sama tuh orang Cuma buat dapat gadget baru, gue bisa ganti baju dan lu tau lah biar dompet gue gak tipis – tipis amat…”
“kenapa lu gak pacaran ama mesin atm dot?”
“kalau mesin atm hidup udah gue pacarin semuanya nu…”
Aku tidak tertawa aku hanya menggeleng.
“gue pengen nanya dot, kalau lu lagi sama tuh bandot, lu suka kepikiran rico gak? Pas lu dipegang – pegang sama tuh orang, di….” Aku bergidik, kadang saat mengendarai motor dan iras aku bonceng kemudian tangannya masuk ke dalam boxer ku rasanya ingin sekali melemparkannya ke jurang terdekat.
“gue sayang sama rico kaya lu sayang sama iras nu…” jawab tian tampak tegas kali ini. “sama kaya lu yang setia damping iras dari nol gue juga pengen jadi titik nol buat rico, mungkin sekarang belum nasibnya saja jadi lebih baik, bisa ngasih gue segala hal yang gue butuh…”
“kita tidak bisa memaksa seseorang untuk memberikan segala hal yang kita minta, kita itu orang – orang yang sama – sama berusaha membahagiakan satu sama lain…”
“gue sangat ngerti itu nu, tapi ya mungkin gue sekarang lagi berpetualang saja…”
“okeh mungkin konsep kita berdua berbeda, tapi menurut gue lu sih udah melakukan hal bodoh…”
“makasih nu, makasih juga lu udah kasih saran soal topi buat rico…”
Aku tidak ingin membahas lebih lanjut masalah ini dengan tian, sudah jam sebelas, sopir dari showroom sudah menjemputku untuk makan siang dengan iras.
Aku dan iras sama – sama menundukan kepala begitu melihat tian dan pacar barunya masuk ke dalam café tempat kami makan siang.  Iras tertawa, ia menyayangkan usia tian dan tampangnya yang lumayan jika harus bermesraan dengan sandal jepit seperti itu.
Aku tertawa sendiri menanggapi celotehan iras. Apa demikian aku juga. Hahahaa.
“kamu keterlaluan kalau terus ngebiarin hal ini yank…” kata iras kemudian. Ia mengaduk kopi di depannya kemudian meneguknya beberapa kali.
  “inu gak mau kita ikut campur sama masalah mereka…” aku tetap pada keyakinanku.
“bukan ikut campur sayang, tapi baik tian atau rico kali ini mereka sedang punya masalah, dengan kita memberitahu hal ini sama rico kita bisa membantu mereka menyelesaikan masalahnya…”
“itu artinya ikut campur tapi diperhalus..”
“bukan sayang, okelah, jangan bohong sama iras kalau inu gak mau ikut campur karena si tian temennya inu, tapi si rico juga teman iras, iras harus bantu juga teman iras sendiri…”
Aku diam, sebenarnya ini memang bukan tipeku. Ikut campur urusan orang lain demi alasan apapun, aku tidak ingin terlibat sama sekali kalau sampai mereka memiliki masalah.
Iras mengambil teleponnya.
“jangan langsung bilang kalau tian ada di sini, biairin saja kejadiannya terlihat alami…” kataku pada iras.
Ia mengangguk.
“hallo co… gue ada perlu nih sama lu, bisa ke salabintana bentar, gue lagi makan sama inu, lu ke sini ya..” iras menutup telpon begitu mengakhiri percakapannya dengan rico.
Aku melihat sendiri bagaimana tian mengobrol dengan lelaki yang wajarnya ia panggil om ataupun seumuran dengan omnya di rumah.  Aku tidak sama sekali memberikan batasan kepada siapapun dalam hal mencintai atau memberikan kasih sayang, tapi di sini tian sudah salah, mungkin apa yang aku lakukan dan iras lakukan hanya sebagian kecil dari cara mengingatkannya.
Karena kebetulan rico juga yang berada di sekitar tempat kami makan ia tidak membutuhkan waktu lama untuk datang kemari.  Aku dan iras menyaksikan bagaimana terkejutnya rico begitu melihat tian sedang bercengkrama begitu mesranya dengan seseorang yang bukan dia. Bukan rico.
Rico terbelalak, sementara tian tidak menunjukan penyesalan sama sekali. Aku dan iras tidak tahu jelas apa yang mereka bicarakan di antara kami ada sebuah dinding kaca yang membuat ku tidak bisa mendengar mereka. Akhirnya aku menghampiri mereka bertiga.
“begini saja, sekarang kita biarkan tian yang memilih dia memilih siapa?” kata orang kadaluarsa itu pada mereka berdua.
Iras berdiri di sampingku, aku hanya beberapa meter dari tempat rico berdiri.
“aku benar – benar gak ngerti sama semua ini, kenapa harus memilih kamu pacar aku bey..” kata rico pada tian.
Tian tak bergeming, aku bahkan tidak melihat raut penyesalan di wajahnya.
“mungkin kita harus break…” tiba – tiba tian mengangkat wajahnya dan menatap rico.
Entah kekuatan dari mana, tanganku langsung melayang, meninjukan sebuah pukulan tepat di wajah tian.
Iras menahanku, rico terbelalak, dan aku hampir saja meloncati meja ingin memakan bulat – bulat sandal jepit swallow itu.
“sayang!!!!” iras membentakku, kedua tangannya memeluk ku kuat, ia menahanku agar tidak menyerang lagi.
Aku benar – benar tidak bisa menahan amarahku.
“lu bahkan gak pantes buat jadi angka nol buat rico, lu gak pantes sama sekali dapet hal baik di dunia ini…” aku menunjuk wajah tian bahkan sampai tiga kali. Tangan iras terus menahan tubuhku.
Aku hanya mengingat bagaimana renyahnya tian mengatakan bahwa ia ingin sekali menjadi angka nol bagi rico dimana ia adalah titik awal buat rico memulai segalanya.
Seluruh café memperhatikan kami, aku beranjak dari tempatku. Iras mengajak rico berlalu, kami menuju mobil iras kemudian meninggalkan tempat itu.
Iras memesan tiga Loyang pizza dan aku hampir menghabiskan dua di antaranya, iras masih mencoba menenangkan rico, ia lebih banyak diam dari tadi. Sementara aku selain makan tentu menyumpah – nyumpahi si tian di sini.
“tuhan lagi pengen lu naik kelas co, lu berhak dapat yang terbaik, lu ataupun tian perlu mendapatkan ini, biar kalian sama – sama belajar…” kata iras.
Aku menarik piring spaghetti yang di depan rico, kemudian melahapnya lagi. Iras menggelengkan kepalanya sambil tersenyum lebar. Mubajir, daripada rico tidak memakannya.
“tian berhak kok melakukan itu, tapi aku harap mungkin dia sedang khilaf kali ini..” rico tentu saja dia tidak siap atau hampir tidak percaya kalau tian bisa melakukan ini padanya.  Aku bahkan sudah ceritakan bagaimana kelakuan tian selama ini pada rico namun ia tetap menganggap bahwa tian khilaf.
“lu berhak kok, bilang bahwa tian khilaf dan lu juga berhak kok ngasih maaf, tapi itu menunjukan kalau lu gak naik kelas…”
“sayang bukan itu maksud iras..” iras memiringkan kepalanya, tanda tidak setuju dengan apa yang barusan aku katakan.
Aku beralih pada spaghetti di depanku lagi. Aroma barbeque nya sangat menggoda. Iras dan rico itu tipe orang yang sama, itu yang mungkin membuat mereka bisa jadi sahabat karib.  Keduanya sama – sama hobi mengalah, tipe orang berhati lembut namun perkasa. Seperti iras yang banyak mengalah untukku, yang banyak memberikan maaf pada setiap sikap menjengkelkanku.
“aku gak nyangka kalau apa yang aku kasih selama ini ternyata tidak cukup untuk tian…”
“bukan, lu pasti udah ngasih yang terbaik, dia yang gak tau diri…” kataku lagi.
Iras melotot lagi. Aku mengabaikannya sambil menjulurkan lidah.
“kalau menurut lu, membelikan apapun kemauan tian, membelikan semuanya. Kurang lebih lu seperti begini, kakak ku lagi ke kondangan dan lu di rumah ketitipan anaknya yang lagi tidur, gak lama keponakan lu bangun, nangis kenceng. Jalan satu – satunya, supaya ponakan lu gak nangis ya di bawa ke warung, dia seenggaknya harus lu beliin premen, minuman, atau mainan…” aku menatap mata rico “lu gak lebih kaya gitu co, lu selama ini Cuma berusaha supaya tian gak nangis, bukan membahagiakan dia dengan cara yang benar…”
Iras melenguh, ia membuang nafas. Aku mengerti mungkin aku terlalu kasar dalam memberikan pengertian kepada rico.  Namun pasti iras juga faham, hanya tamparan yang paling keras lah yang paling bisa menyadarkan seseorang.
Aku dan iras keluar dari halaman parkir kampus, ia memintaku menemaninya di showroom.  Sampai sore ada yang harus ia kerjakan di sana.  Kebetulan kuliahku selesai, teman – teman futsalku juga sepertinya sedang menyimpan cadangan energy untuk akhir pekan. Kami sudah punya rencana pertandingan dengan tim futsal senior kami.
Kami baru saja selesai membahas tian, ia terlihat juga di parkiran, sedang memarkirkan motornya, beberapa hari ini kami tidak saling bicara.  Namun aku tahu kalau sekarang tian sudah tidak jalan dengan sandal jepit itu lagi.
Setidaknya kini ia sadar, lalu muncul sebuah ide di kepalaku.
“bukannya kamu lagi nyari manajer buat di showroom ya?”
Iras mengangguk.
“kenapa gak rico saja? Dia masih muda, dia tahu soal kita, dia belum menikah dan dia teman kamu…”
Mata iras berlarian kea rah depan, ia menatap lurus, tanda ia sedang berpikir.
“kenapa harus rico? Dia baru saja lulus, dia sekarang teller, pengalamannya tidak ada, tapi….”
“kamu bilang dia dapat A di kuliah marketing, itu artinya dia seorang ahli strategi yang bagus kan? Ayolah kamu lebih mengenal dia daripada inu…”
Iras kini memegang dagunya.  Sok keren.  Sok pura – pura mikir.
“sebutkan tujuan lain kenapa harus rico yang kamu pilih jadi manajer showroom? Ini showroom yank, kita gak bisa main – main, ini ujung tombak perusahaan kita….”
“ya betul, karena itulah kamu harus mempercayakannya pada orang yang sangat kamu kenal, beri rico gaji yang besar, usahakan supaya dia bisa membeli sebuah mobil bagus dengan gaji pertamanya, apa kamu lupa? Kalau ini salah satu cara kita membantu menyelesaikan masalah mereka? Inu Cuma pengen membuat si tian sadar, bahwa keadaan bisa berubah terbalik walau hanya dalam satu detik…”
Iras akhirnya setuju dengan ide dariku.  Di minggu berikutnya ia mulai mempekerjakan rico di showroom, showroom kecil itu di bulan pertamanya di pimpin bos baru mengalami peningkatan penjualan.
Tiga bulan kemudian…
Iras tadi pagi bilang bahwa dia akan bertanding basket dengan semua karyawan showroomnya, ini hari jum’at dan ia sengaja tutup sampai waktu solat jum’at tiba. Main basket memang sudah jadi kegemara iras sejak lama, bahkan sepanjang aku mengenalnya Cuma basket satu – satunya olah raga yang dia suka.
Dia memang bisa futsal, tapi hanya untuk melengkapi kekurangan pemain. Itu makanya kalau aku sedang main futsal ia hanya akan duduk di pinggir lapang, menyiapkan handuk dan air minum.
Itu juga yang ku lakukan kalau ia sedang bermain basket.
“heh nu, boleh minjem tablet lu bentar? Gue pengen chek email gue, ada revisian askep dari dosen…”
Aku memberikan tasku yang berisi ipad ku pada tian. Ia duduk hanya terhalang beberapa kursi dariku.
“tablet lu kemana?” sudah beberapa hari ini memang aku tidak melihat tabletnya itu.
“diambil sama yang punya nya…” jawab tian tanpa melihat ke arahku. “ternyata dia Cuma minjemin…”
“hah? Who dot?” aku sibuk merapihkan jurnal kuliahku dan tasku.
“yang lu bilang sandal jepit…”
Aku hampir tergelak.
“gue pikir kalian masih pacaran….”
Tian menggeleng. “udah enggak nu, sebenarnya pas kejadian di café juga kita udah gak ada apa – apa, sejak itu kita gak ada komunikasi, tapi minggu kemarin dia ke kostan dan minta gue balikin tabletnya…”
Aku terkekeh membayangkan buruknya nasib tian. Ia kini memang masih berhubungan baik dengan rico walau kini hanya sekedar menjadi teman.
“kenapa lu gak balikan aja sama rico…”
“gue gak yakin dia mau..” tian menatap layar tablet ku, ia seperti sedang membaca. “lagian gue udah cukup malu sama dia, bener kata lu dia berhak dapat yang lebih baik dari gue…”
Aku mengangguk, ingin sekali memperoloknya.
“akhirnya lu sadar juga….” Aku memang daredevil sejati, gaya becandaku yang seperti itu memang tidak disukai banyak orang “iras sama orang showroom lagi tanding basket di gor, lu mau nonton?”
“ada rico juga berarti kan? Enggak ah…”
“udah lu ikut, lu temenin gue ngobrol di pinggir, gue gak bakal ikutan maen soalnya…”
Akhirnya tian setuju dan mengikutiku.
Aku dan tian duduk di bangku yang harusnya jadi tempat duduk buat pemain cadangan.  Iras masih berlari – lari di tengah lapangan, memperebutkan bola orange dengan karyawan – karyawannya.  Ia tampak bersemangat sekali.
Rico menjadi lawannya kali ini, beberapa kali mereka saling berebut bola dan saling menghadang.  Aku turut senang, iras memang sangat butuh olah raga, seminggu penuh ia habiskan hanya untuk mengurus segala urusan bisnisnya yang menumpuk itu.
“lu beruntung ya Nu, dapatin iras, dapatin segalanya dan kayanya gak ada alasan apapun lagi buat lu gak bahagia…” tian memainkan sedotan di tangannya, ia mungkin mendapatiku sedang saling tersenyum dengan iras barusan.
“gue bukan beruntung, gue Cuma ngerasa cukup dengan dapetin iras doang, bertahun – tahun sebelumnya, iras juga kan Cuma anak ingusan kaya gue…”
Tian menatap lurus ke tengah lapangan.
“mungkin itu yang gak coba gue terapin pas nemu pacar sebaik rico…” tampak raut penyesalan dari wajah tian “eh nu, boleh kasih tahu resep lu apa biar bisa awet sama iras…”
Aku tersenyum mendengar pertanyaan tian, pertanyaan yang sebenarnya sudah terlampau sering muncul.
“gue gak pernah punya cara yang benar – benar jitu kenapa gue bisa menaklukan iras atau iras yang cinta setengah mati sama gue, bahkan bisa sampe punya resep segala, gue kan bukan koki…”
Kataku sambil terus memperhatikan iras, yang masih berlarian ke sana kemari, memburu bola.
“tapi gue selalu pengen buat gak lupa, buat gak ngasih atau memperhatikan hal – hal kecil buat iras, kaya nyuruh dia makan, nyuruh dia mandi, nyuruh dia sarapan, atau seperti sekarang, gue di sini nemenin dia, senyum pas dia liat gue…”
“kenapa nu? Apa iras gak pernah protes? Yang dia kasih kan banyak, kok lu Cuma ngasih perhatian biasa yang siapapun juga bisa ngelakuin itu…”
“karena gue ngerasain sendiri, pas gue dibentak – bentak sama iras gara – gara gak makan, gue ngerasa perhatian dia sudah lebih dari cukup. Walau Cuma hal sepele kaya diingetin makan, kebiasaan yang seharusnya gak usah diingetin buat dilakuin tapi menurut gue itu penting itu berarti, hal – hal kecil itu berarti.  Lu bayangin, kalau duit sejuta kurang seratus perak, itu duit gak bakalan pernah jadi sejuta sampai kapanpun tetap akan jadi Sembilan ratus Sembilan puluh Sembilan ribu Sembilan ratus rupiah…”
Aku memutar kepalaku dan menatap tian.
“gue selama ini mungkin Cuma jadi uang cepe buat iras, tapi dia sudah jadi uang Sembilan ratus itu buat gue. Menurut gue itu cukup. Dari pada lu, yang terus pengen rico jadi uang Sembilan ratus ribu buat lu tapi lu bahkan gak bisa jadi duit seratus perak buat dia…”
Tian diam mematung.  Aku tidak ingin kami sebenarnya lewat dari perbincangan santai ini, namun aku juga khawatir kalau tian sampai tersinggung.
“jadi point pentingnya hal – hal kecil itu ya nu…”
“bukan, hal itu Cuma berlaku buat gue sama iras, yang paling penting itu balas budi dot. Lu harus jadi pemberi dan pembalas budi yang baik. Lu harus jadi pemberi yang tanpa perlu diminta. Lu harus jadi bagian dari timbal balik yang baik di dalam hubungan lu sendiri.  Gue sadar, gue memang terlalu banyak menuntut pada iras, tapi gue juga melakukan usaha kecil – kecilan untuk membalas ia dengan baik. Contohnya sekarang gue di sini, nungguin dia main, nyediain dia minum sama handuk, pas nanti istirahat gue bisa ngasih dia minum dan ngelapin keringatnya dia, mungkin hal ini sepele, tapi iras sering ngelakuin hal ini ke gue dan gue seneng kalau dia lagi ngelakuin hal itu, gue juga pengen dia ngerasain hal seneng kaya yang selalu gue rasain kalau gue lagi futsal, jadi dalam sekali geprakan, gue seenggaknya udah ngelakuin dua hal sekaligus, jadi pemberi dan pembalas budi kan?”
Tian mengangguk, ia mungkin sedikit faham.
“udah telat gak ya nu kalau sekarang gue pengen jadi pemberi yang baik buat rico?”
Aku tersenyum, seperti mengingatkan aku pada sesuatu.
“kita semua pernah telat buat orang yang kita sayang, lu tahu sendiri gimana cerita gue sama iras, itu lah kita memang harus datang terlambat untuk orang yang kita sayang, agar ia juga bisa sabar menunggu orang yang tepat untuk dirinya sendiri…”
Tian mengangguk – angguk lagi.
“lu punya saran gak buat gue sekarang?”
“ke penjual minuman sana, lu beli mizone atau apa lah buat rico, terus ntar lu kasih ke rico pas dia istirahat…”
Tian diam, mungkin ia sedang mempertimbangkan. Aku lihat iras berhenti dan ia berjalan menghampiriku.
“kapan ya gue kaya lu sama iras, gue Cuma bisa ngasih minum doang, itu juga gue belum apa – apa, lah iras sampai ngasih waterpark sama lu…”
Aku terkekeh mendengar gerutu tian, ia akhirnya berjalan juga menuju tempat penjual minuman. Iras sudah ada di depanku.
“drink…” ku berikan satu buah botol susu murni dari sebuah penelitian, sehabis olah raga seorang atlit lebih butuh susu ketimbang minuman ion atau energy. “sini handukannya sama inu…”
Ku telungkupkan handuk di kepala iras, ia berjongkok di depanku yang duduk di atas bangku. Setengah tubuhnya memeluk pinggangku, matanya menatap ke arahku.
“bau lu ras…”
Ia hanya nyengir lebar. Rico menghampiri kami berdua. Ia menuju tasnya, mengambil air minumnya sendiri dan aku lihat tian sudah kembali ia juga membawa satu botol minuman.
“yah kamu, udah aku beliin juga…” kata tian pada rico.
“aku gak tau, kalau ada yang mau beliin minum..” jawab rico ia menggeser duduknya, mengharapkan tian duduk di sampingnya. Sambil membantu mengeringkan rambut iras, aku memperhatikan mereka berdua.
Tangan rico mengambil botol minuman dari tangan tian, ia membuka penutup kemasannya kemudian minum dari sana.
“kata si randi, kamu udah ngsms dia lagi, kamu sebenarnya pengen yang kaya gimana lagi sih? Kemarin katanya pengen yang baik, dikasih si randi yang anak rumahan, yang soleh dan alim ulama gitu malah kamu gak prospek…”
Iras mengangkat kepalanya mungkin ia juga tertarik dengan apa yang kami dengar dari mulut tian.
“aku tidak ingin yang baik, aku ingin kamu…” kata rico sambil menutup lagi botol minuman yang tadi di beli tian.
Tian menatapnya sebentar sebelum membuang muka lagi.
“aku yang belum pede buat balik lagi ke kamu, aku yang masih malu sama kamu gara – gara pernah bikin kamu kecewa…”
“kan sudah aku bilang, yang terbaik itu yang kita perbaiki berdua, tidak salah kan kalau aku ingin mengajak kamu memulainya lagi, dengan upaya saling memperbaiki, memang harus ada upaya memaafkan untuk orang yang kita sayangi, kita kan sudah belajar dari dua orang ini, mereka juga pernah saling memaafkan sebelum akhirnya mereka berdua saling memperbaiki diri…”
Aku dan iras yang sedang berpelukan tersenyum mendengarkan obrolan mereka berdua.
“hey, kan yang satu udah jujur kenapa yang satu masih gengsi gitu? Udah jelas kalian ini jadian lagi…” iras mendadak menjadi komentator untuk adegan tersebut.
“bos gue harus ngomong apalagi nih? Kasih masukan dong?” Tanya rico pada iras.
“say I love you PEAK”
“I Love You…” kata rico sebelum akhirnya tian memeluknya erat.
Kami akhirnya pulang berempat, aku bersama iras duduk di depan sementara rico dan tian di belakang.  Kami sudah membahas banyak hal dan memutuskan untuk bersantai sejenak di waterpark kami, aku ingat sosis raksasa di sana.
“kalian seharusnya jangan membatasi ruang social kalian, biar lebih banyak lagi pasangan yang belajar dari kalian berdua…” kata tian.
“iras yang larang dot..” jawabku “gue gak mungkin ngecewain orang keras kepala dan arogan ini, setelah semua yang dia kasih…” aku memperkuat genggaman tanganku dan iras sambil menatap kedua matanya.
Iras tersenyum mendengar perkataanku.
“termasuk waterpark ini? Bener dah lu ngeluarin duit gak tanggung – tanggung…” kata tian lagi.
“hah siapa bilang gue ngasih waterpark ini?” iras berbalik ke belakang padahal ia sedang menyetir “waterpark ini dibuat khusus sama inu, ini pakai uangnya inu full, dibuat buat ponakannya dia, Rizzy sama Zahra gara – gara di sukabumi gak ada tempat maen, waktu itu keponakannya ngamuk pengen ke bogor Cuma buat maen air…”
Gerbang waterpark sudah terlihat, satpam yang sudah mengenali mobil iras langsung membukakan pintu aku cepat – cepat masuk ke dalam. Kedua keponakanku juga sudah janjian untuk ketemu di sini sore ini. Yang pasti aku sudah tidak sabar bertemu dua hal itu, sosis raksasa dan dua keponakan ku yang luar biasa.