Rabu, 09 Oktober 2013

Liverpool



aku menatap iras yang duduk tertidur di sebelahku, kami dalam perjalanan menuju london sehabis menonton liga inggris di anfield, liverpool menang tiga satu melawan crystal palace.  aku akhirnya menonton tim yang disponsori salah satu perusahaan kakek itu. liverpool tidak seistimewa dulu memang, tim ini gagal masuk kualifikasi liga champion musim ini. namun tiket gratis dan jalan - jalan full service dari perusahaan tentu tidak bisa dilewatkan begitu saja.
bersama iras, kemarin pagi kami berangkat dari paris, lagi - lagi iras menawarkan untuk membeli jet pribadi saja.  atau menggunakan pesawat milik opa nya ataupun punya kakek.  tapi menurutku, perjalanan itu seperti sebuah petualangan, aku tidak ingin masa mudaku terlewat begitu saja.  ketika banyak orang seusiaku, di luar sana, tanpa memikirkan pendidikan, pekerjaan, penghasilan, mereka pergi sesuka hati ke berbagai tempat yang mereka impikan. tentu saja, tanpa jet pribadi ataupun kendaraan pribadi.
aku ingin seperti ini, hidup dengan rumah yang tidak terlalu besar, punya mobil hanya untuk keperluan mendadak dan gawat saja, dan kami kemana - mana menggunakan transfortasi publik. 
iras awalnya tidak setuju dengan gagasan ini, namun aku berusaha meyakinkannya, bahwa aku akan baik - baik saja. aku bilang begitu, karena semua hal yang tidak iras setujui adalah segala hal yang selalu berkaitan dengan keamanan dan keselamatanku. 
seperti pagi ini, kami naik sebuah kereta api ke london, iras tadinya ingin menyewa mobil saja, namun aku pesan tiket kereta duluan dan pergi ke stasiun.
memiliki iras, adalah memiliki pelindung dengan kekuatan penjagaan paling canggih sedunia.  aku selalu merasa sangat nyaman dengan semua upaya proteksi tingkat tinggi yang dilakukannya. ketika banyak orang yang mempertanyakan kenapa aku mau bertahan dengan kondisi yang mungkin tidak disukai sebagian orang, jawabannya tentu sangat mudah.  semua ini karena kebiasaan. kebiasaannya yang juga telah menjadi kebiasaanku juga.

ketika kemarin tiba di liverpool, pikiranku melayang ke nollan. ia kuliah di universitas of liverpool, setidaknya ia sudah hampir empat tahun ada di sini.  selepas lebaran ia sempat pulang, kebetulan waktu itu ia sedang libur musim panas.  sehingga ia memutuskan pulang ke bandung dan kamipun bertemu.
tapi, bertemu dengan teman senegara, di luar negeri bahkan itu teman sendiri, adalah sesuatu yang sangat menyenangkan. dimana aku bisa sesuka hati ngomong bahasa sunda dengan logat bandung yang sangat kental. meraacaukan kata - kata kasar khas sunda sebebas mungkin.  
karena selama sebulan lebih di paris, aksen prancis ku tidak keluar - keluar. kalah oleh iras, sewaktu TK ia pernah tinggal di Ontario, Canada. yang sebagian warganya menggunakan bahasa prancis untuk komunikasi sehari - hari, jadi wajar kalau iras seperti orang dejavu dengan bahasa prancis. dan aku sangat membencinya.  aksen prancis tidak cocok sama sekali dengan logat sunda ku yang kental.
tidak jarang aku berbincang dengan iras menggunakan bahasa sunda, walau ia balas menggunakan bahasa prancis. menurutnya suatu saat nanti juga, aku akan lancaar dengan aksen prancisku. tapi aku bersumpah, sampai aku kembali ke indonesia, logat ujung berung akan tetap ku pertahankan.

ada satu yang ingin ku bahas, sebagai penggemar berat liga inggris sejak lama, aku merasakan hal yang berbeda di sini, ketika beberapa pekan lalu, aku pergi ke london juga untuk menonton pertandingan arsenal, aku telat beberapa menit dari hotel gara - gara iras lupa menaruh kunci mobil. aku pikir aku sudah pasti akan kehabisan tiket dan melewatkan setengah pertandingan, karena pasti antrian akan sangat panjang.
namun dugaanku melenceng jauh, tidak ada antrian dan semua penonton sudah masuk di dalam stadion. dengan mudah kami juga mendapatkan tiket, lalu masuk dengan sangat mudah menuju kursi kami.  yang membuatku kaget, ketika keluar dari stadion, semua orang berdiri dan berjalan dengan tertib. tidak ada yang berdesakan, menerobos antrian, dan tidak ada kegaduhan padahal waktu itu hampir tengah malam.
tidak seperti ketika aku nonton persib di siliwangi atau nonton timnas di GBK.  untuk dapat ijin dari iras saja harus sampai puasa dan bertapa tujuh hari tujuh malam.  biasanya dia akan sangat rewel sekali kalau aku hendak pergi nonton sepakbola.
tapi, mengingat hal itu, aku jadi sangat rindu dengan teman - teman viking ku di bandung. semua hal gila yang sudah kami lakukan, BM dengan truk - truk besar supaya sampai ke siliwangi atau ke sijalak harupat. mengantongi batu di saku celana kala persib menghadapi persija. saling ejek dengan mereka, bahkan hampir tidak bisa pulang ke bandung gara - gara dikepung anak - anak the jack di GBK.
aku tersenyum mengingat itu semua, walau sesak di dadaku bertambah, ketika banyak hal dari indonesia yang terdengar buruk di sini.  ia tanah tumpah darahku, aku mencintainya mati - matian, di setiap gang yang ada di negara itu, setiap sekolah dari SD hingga kuliah, semuanya adalah tempat - tempat yang membentukku hingga mampu menjadi seperti sekarang ini.
beberapa hari ini, koran - koran besar di inggris dan prancis membicarakan berita seputar tindakan korupsi yang dilakukan mahkamah konstitusi indonesia.  beberapa kali juga aku diajak ngobrol seputar hal ini di kampus oleh beberapa orang teman - temanku.  mereka sangat prihatin, negara yang hampir sebesar amerika itu, dijatuhkan oleh pejabat - pejabatnya sendiri. padahal mereka baru saja terpesona dengan keindahan indonesia ketika diadakan acara miss world di sana, yang lebih menakjubkan, beberapa orang temanku, mengaku ingin ke indonesia dan bertemu dengan miss indonesia Vania Larissa, karena cantiknya berbeda dengan kebanyakan wanita - wanita di paris. kata mereka vania memiliki keanggunan yang sangat mencerminkan indonesia. aku tidak bicara banyak menanggapi mereka, mereka belum tahu saja bagaimana keadaan indonesia sebenarnya.
sama seperti ketika mereka heran, kenapa hanya ada aku peraawat yang melanjutkan S2 keperawatan di sini, padahal dari malaysia hampir ada sepuluh orang, aku bilang pada mereka bahwa orang indonesia bukan tidak pintar, bukan tidak ingin pintar, tapi kepintaran mereka lebih mereka gunakan untuk mencari makan.
lalu teman - temanku keheranan lagi, bukankah indonesia negara yang kaya? sepanjang pesisir pantainya adalah tempat wisata yang menyuguhkan berbagai keindahan? gunung - gunung tingginya, sungai - sungainya yang panjang, bukankah itu potensi setiap warga negara untuk mengelolanya?
lalu ku jawab, kalau saja yang duduk di sini bersama kalian ini lebih banyak, tidak hanya aku, mereka semua pasti berpikir begitu, tapi kalian tahu sendiri aku sendirian di sini.
mereka tersenyum, sambil berguyon bahwa suatu hari mereka ingin ke indonesia untuk membangun resort, sarana rekreasi, memanfaatkan potensi - potensi pariwisata di sana, dengan hanya membawa beberapa juta euro saja dari sini.
aku juga tersenyum, membayangkan suatu hari, semua pemilik uang di negaraku hanyalah bangsa asing.
 ...
aku menelpon nollan sebelum tiba di anfield, dia bilang dia juga akan menonton hari ini.  akhirnya aku menyuruhnya membelikan tiket dulu untukku dan iras.  nollan bersedia, dan kamipun menyusul.
kami duduk bertiga di jajaran kursi stadion anfield. Dengan nollan yang sudah menunggu sejak tadi, ia melambaikan tangan ketika tadi kami pertamakali masuk ke stadion.
“jadi, dalam rangka apa ini, keluarga bahagia ke UK?” kata nollan, sambil mengibas-ngibaskan sal Liverpool miliknya.
Iras tersenyum padaku, mendengar apa yang dikatakan nollan, kemudian tangannya memberikan kopi yang kami beli sebelum masuk stadion.
“mau jenguk lu, katanya kena malaria…” jawabku asal. 
Dibalas dengan tatapan membunuh dari nollan.
“kita di Liverpool, enak aja kena malaria, dasar popok tuyul..”
Aku tergelak. Biasanya kalau ada enam temanku yang lain, nollan ini sasaran empuk untuk dijadikan bahan becandaaan dari segala jenis kekejaman.
“lu berdua kenapa sih, gue bilang nginep aja di apartemen gue, ini malah di hotel…”
“biarin lu nonton gratis semua adegan mesra gue lan?” kepala ku menggeleng – geleng pada nollan. “gak akan…”
“hiiiiiii huek huek…” nollan berakting seakan – akan dia muntah.  “yang ada gue bakalan pura – pura buta, gak ada tontonan yang berkualitas apa..”
“eits jangan salah lan, banyak malah bahkan ribuan yang pengen liat gimana car ague nyium inu…” jawab iras cepat.
Aku tersenyum mendengar jawaban iras.
Nollan bergidik lagi, meskipun ia tidak ada riwayat bahwa dia pernah memiliki pacar, namun aku tahu nollan masih suka cewek, jadi wajar kalau reaksinya seperti itu mendengar apa yang kami berdua katakan.
“sumpah gue mah berarti yang ke seribu satunya deh, pernah ngintip lu berdua di ruang ganti aja udah bikin gue enek…”
Aku dan iras kompak menatap nollan.
“maksud lu? Gue bisa bunuh lu sekarang juga lan..” aku mencekik kuduk nollan.
“yaaaaaaaa gue keceplosan…” nollan berupaya menghindar. “gue emang ngintip waktu itu, tapi rame – rame kok sama anak – anak..”
Aku lihat wajah iras memerah, ruang ganti berarti itu sewaaktu kami masih SMA, padahal biasanya kami melakukan apapun seaman mungkin. Bagaimana waktu itu bisa sampai diintip para ondel – ondel itu.
“sialan lu semua liat apa aja waktu itu?” aku semakin kuat mencekik kuduk nollan, ia terus berusaha menghindar.
“eh nu lu kalau mau ngambek sama si ardan, beneran, dia yang ngajak, lu kan tahu gue mah Cuma ikut – ikutan doang…”
Aku melihat iras hanya senyum – senyum saja, walaupun wajahnya masih merah. Ia malah mengambil kamera dan memotret kami berdua.
“pantes pas di prom lu semua kaya yang gak kaget tau gue pacaran ama iras…”
“hehehe padahal kita semua tau udah lama, Cuma ngikutin apa kata kiki aja, nunggu sampai lu berdua jujur sama kita semua…” nollan berdiri ia ikut bersorak dengan penonton lain ketika semua pemain LFC keluar dari sarangnya.
Iras masih sibuk memotret, aku mendekatkan cangkir kopinya.
“ras, masih ingat waktu kita duduk berdua di bangkunya tukang mie ayam depan sekolah, waktu inu masih di majalah sekolah…” kataku pada iras.
Iras mengalihkan lensa kameranya kepadaku, kemudian meletakan kamera itu di tangan kanannya.
Iras mengangguk. “sore – sore hujan, iras bawa motor dan inu waktu itu gak bawa mobil…”
“inu jadi merasa diingatkan, waktu itu inu bilang “suatu saat aku akan keliling dunia, tangan kanan ku memegang kamera dan tangan kiriku, memegang tangan kamu” inu pikir kita baru saja memulai itu dari paris dan sekarang di sini…”
“iras ingat sayang, iras sangat ingat..” iras memegang tanganku. “kita akan memulai dan tidak akan mengakhirinya, ini bukan janji, jadi iras gak bakal ingkar…”
Aku tersenyum pada apa yang barusan iras katakan. Bertahun – tahun bersama, aku tidak pernah sekalipun mendengar iras tidak setuju dengan apa yang aku katakan. Ia pendengar yang baik, pemberi masukan, motivator, dan pasangan paling setia.
“meskipun inu sudah tua, gendut, pikun, nyebelin?” aku mendekatkan kepala ku pada iras.
“lah kan sekarang sudah…”
Dengan sangat keras, aku memukul pangkal lengan iras. Ia tampak meringis sambil mengelus – elus lengannya.
“oke oke diet inu emang gak berhasil, tapi bukan berarti bisa kamu ejek – ejek ya…”
“siapa yang ngejek sayang, iras kan sayang…” iras senyum – senyum menjengkelkan.
“walau nyebelin, yang penting disayang sama kamu..” aku meneguk kopi ku.
“nah itu tau…” tiba – tiba bibir iras mendarat di pipiku.
Aku terlambat mengelak, ini tempat umum, beberapa penonton di belakangku melihat apa yang baru saja iras lakukan padaku.
“thanks for everything, for a love, for…”
“iras tidak sekedar ingin, tapi iras berjuang, makanya iras sangat begitu sayang…”
Ingin rasanya aku mencium bibir iras. Tapi aku tahan sampai nanti kami ada di hotel atau di dalam kereta setidaknya.
“pacaran mulu lu berdua ah, sini nu gue minjem hp lu bentar..” kata nollan, ia sudah kembali duduk ketika permainan sudah dimulai.
Aku memberikan hp ku pada nollan, sementara itu ku ambil kamera dari tangan iras. Ia ikut bersorak dengan penonton yang lain, tanganku asyik memotret semua pemain Liverpool malam ini.
“gue bisa bunuh lu loh lan…” tiba – tiba kata iras pada nollan.
Iras tampak sedang mengutak – atik hpnya.  Dua hp kami, dari dulu memiliki nomor yang sama, apalagi semua media social kami online di kedua hp tersebut.
“hahahah….” Nollan tertawa lebar.
Aku agak curiga, ku lihat hp di tangan iras. Di status facebookku tertulis “woy jangan pake gigi woy!! Lu pikir rudal gue sosis apa??”
Aku hampir saja menghajar nollan habis – habisan. Iras menghapus status tersebut, kemudian ia menulis sebuah status baru yang menyebutkan bahwa bukan aku yang menulis hal itu.
“setaan lu, hancur kredebilitas gue..” aku misuh – misuh kesal pada nollan.
“just have fun, boss…”
“yang begituan bukan have fun, comro..” sahut iras.
Nollan masih tertawa terpingkal – pingkal sementara aku dan iras memperbaiki apa yang terjadi dengan facebookku, hanya beberapa detik dan sudah dilike banyak orang.  Ingin aku cekik nollan.
Begitu pertandingan berakhir, kami bertiga segera bangkit berdiri, iras sedang menerima sebuah telpon. Sehingga aku yang membawa sampah dari makanan dan minuman yang sudah kami habiskan. Nollan mengikutiku dari belakang.
Iras sepertinya agak ribet dengan seseorang yang menelponnya, entah urusan apa.  Setahuku, soal kuliah kami belum sampai pada titik meribetkan dan memberatkan.  Aku beursaha menyimak dengan baik perbincangan iras.
“damm…” iras mengumpat, ia menyimpan ponsel nya lagi ke dalam saku dalam mantelnya, ia membuang bekas kopi dan makanan di tanganku, sebelum akhirnya tangannya itu menggenggam erat tanganku.
“ada apa yank?” tanyaku agak heran.
“kita tidak bisa ke hotel sekarang sepertinya, salah satu agen dari pemerintah pengen ketemu kita..” iras menghela nafas “iras saja tepatnya…”
“jam sepuluh malam begini?” tanyaku sambil melihat jam tanganku.
Iras mengangguk lemah.
“kalau bisa diatasi sama elu bos, inu nginep aja di apartemen gue, daripada dia sendirian di hotel..”
Iras diam tidak menjawab, ia berjalan paling depan, aku tidak bisa melihat wajahnya namun tangannya menggenggam kuat.
“ya udah iras batalin janji ketemunya..” kata iras, menatapku sebentar sebelum melanjutkan langkah – langkah kakinya.
Aku menahan tangan iras, ia berbalik sambil menatapku. “mungkin lain kali orang dari uni eropa tidak akan punya waktu lagi, bagaimana kalau mereka hanya punya waktu sekarang..”
“gue ke toilet dulu ya..” nollan melongokan kepalanya di antara kami berdua, kemudian ia segera berlalu.
“kalau tumbalnya harus biarin kamu sendirian di hotel, sama dianter ngebut sama nollan, lebih baik itu dibatalkan..” akhirnya iras jujur soal yang membuatnya khawatir.
“kamu baru aja nuduh nollan yang enggak – enggak..”
“dulu dia, kamu sama geng kamu itu ditangkap polisi gara – gara kebut – kebutan sama ikut balapan liar, bahkan ardan sama nollan sudah lima kali bukan di tangkap polisi?” kini air muka iras berubah, kekhawatirannya memang gampang sekali menjadi sebuah kemarahan.
“sengebut – ngebutnya nollan, dia gak mungkin biarin mobilnya sendiri celaka, apalagi ada inu di dalamnya..”
“jangan berdebat, pertemuan dengan agen dari uni eropa kita batalin..”
“ini bukan Indonesia ras, yang segala sesuatunya bisa diurus lain kali, bukannya kamu bilang ini demi masa depan kita? Segala keputusan apapun, sekecil apapun, akan memberikan dampak besar buat kita di kemudian hari..”
Iras berhenti di tempatnya, ia memandangku dengan tatapan yang sangat mempertimbangkan.  Aku tahu ini sulit baginya, bisa jadi ia pulang ke hotel tengah malam. Dan ia selalu tidak mau meninggalkanku sendirian.
“berhenti tidak percaya pada orang lain..” kataku kemudian, sadar kalau apa yang baru saja ku katakan bisa jadi malah mempersulitnya.
“iras tidak akan pernah percaya pada apapun yang dilakukan orang lain buat kamu, iras sudah janji buat jagain kamu selama iras hidup..”
Aku akhirnya menyunggingkan senyum.  Memahami sikapnya yang satu ini selama bertahun – tahun, memberikanku banyak sekali pelajaran. Dan aku sama sekali tidak keberatan, namun badan ku yang mulai tidak enak, perjalanan kami besok ke London, sangat membuatku mempertimbangkan untuk istirahat duluan.
Tapi di balik itu, memang aku ingin sekali sedikit bersenang – senang dengan nollan di Liverpool malam ini. Walau kemungkinan itu sepertinya tidak ada sekarang.
“ya inu tau..” ku pegang kedua tangan iras “inu sangat tau..” kataku mengulang untuk meyakinkannya “inu sangat tahu itu, tidak ada yang sebaik kamu dalam menjaga inu, kamu bahkan sudah melakukan semua yang terbaik, tapi ini lah waktunya buat inu buat jaga percaya kamu, bahwa kamu harus percaya inu akan baik – baik saja walau pergi sama nollan, inu gak bakalan mampir kemana – mana, Cuma apartemen nollan, sampai kamu menjemput pulang ke hotel atau kita berdua numpang tidur di tempatnya nollan…”
“can you be safe?” tanyanya dengan nada mata yang tak berhenti khawatir, aku tahu ini tidak mudah buatnya.
“kamu bisa percaya inu walau kamu tidak bisa mempercayai nollan…”
Iras tidak mengangguk, ia melihat kembali ponselnya, sepertinya dari pihak uni eropa ingin segera menemuinya.
Nollan sudah kembali dari toilet, ia menghampiri kami berdua lagi.
“sini lan..” kata iras pada nollan.
Nollan berdiri tepat di depan iras.
“inget kata – kata gue baik – baik, inu bakal pulang ke tempat lu, sampai nanti gue jemput buat pulang ke hotel, lu boleh nyetir tapi gak lebih dari 40 kilo meter perjam, lu gak boleh sama sekali ngasih kunci mobil lu ke pacar gue, gak boleh ada alcohol, kalau sampai gue nyium bau alcohol di apartemen lu, gue bunuh lu, satu lagi, gak mampir ke club malam atau modus ke restoran..” iras beralih kepadaku “untuk kali ini saja, sayang boleh makan mcd atau kfc yang ada di sini..”
Aku mengangguk sambil tersenyum pada iras. Nollan sendiri mengumpat – umpat, sudah sangat sering iras melakukan ini pada teman – temanku, tidak hanya pada nollan saja.
“asal makannya di tempat nollan, inu tau..” kataku mendahului iras.
“nah itu pinter.. awas ya lan, berani lu langgar, jangan ngarep lu besok masih bisa hidup..” ancam iras pada nollan.
“siap jenderal..” nollan memberikan hormat pada iras.
Iras mengambil lagi kedua tanganku, ia menciumnya sebentar, aku mendahuluinya, mencium pipi dan keningnya. Sebelum akhirnya kedua bibir kami bertemu.
“hueekk.. ini tempat umum woy…” kata nollan, aku tersenyum, melepaskan iras menuju mobil yang kami bawa dari hotel.
Kami akhirnya berpisah di parking lot stadion anfield.  Iras bergegas, sebenarnya kami sudah melakukan janji dengan agen pemerintahan uni eropa sejak minggu lalu, namun mereka baru memberikan kabar malam ini.
Semua ini berkaitan dengan akuisisi kami berdua pada sebuah perusahaan media international yang hampir saja bangkrut, iras yang awalnya memberikan gagasan untuk mendirikan sebuah perusahaan baru, namun aku larang, memulai sebuah perusahaan baru dengan modal sedikit tidak akan membuahkan hasil apapun, makanya aku menyarankan akuisisi.
Semoga nasib baik memang berpihak pada kami.
….
Iras masih benar – benar tidur, ia rupanya kelelahan, semalam, selepas jam dua malam ia baru kembali, kami balik ke hotel tempat kami menginap. Dan jam Sembilan dengan menggunakan kereta kami menuju stasiun untuk kembali ke London.
Aku ingat perbincanganku semalam di mobil ketika dalam perjalanan ke apartemen dengan nollan. Ia cerita soal pacarnya yang mengajaknya untuk segera menikah.  Namun karena nollan merasa belum cukup umur juga hal lainnya, akhirnya ia memutuskan untuk mengakhiri hubungannya dengan wanita tersebut.
Awalnya aku tidak percaya nollan punya pacar, namun setelah ia menunjukan foto bersama dengan pacarnya itu akhirnya aku memutuskan untuk percaya.
“gue salut sama lu berdua nu, lu berdua udah enam tahun sama – sama, dan sampai sekarang masih dalam kondisi yang sama kaya dulu, kalian rukun, nurut satu sama lain, pasangan yang bahkan pasangan normal sekalipun bisa iri liat kalian berdua..”
“gue dan iras normal lan..” aku protes.
“oke lu berdua udah bikin iri semua pasangan heteroseksual di dunia..” nollan memperbaiki perkataannya. “tapi lu berdua punya apa yang orang lain gak punya..”
“misalnya?”
“misalnya gini, lu berdua itu, pasangan yang menurut gue klop satu sama lain, kaya lu yang nemuin versi diri lu yang lain di iras, atau iras yang nemuin versi dia dari elu, tanpa lu sadari lu punya sikap cuek iras, padahal sebelumnya lu itu gak cuek – cuek amat, atau iras yang jadi bisa punya banyak banyolan gara – gara kenal lu, dan semakin lama, cara ngomong, cara senyum kalian berdua itu sama..”
“tapi selain itu, yang gue senengin, dengan kalian sama – sama selama itu, kalian mempersiapkan segala sesuatunya dengan baik, kalian memikirkan masa depan, memulai sebuah usaha, menyelesaikan kuliah, lah gue nu, gue belum tuh mikir buat buka usaha walau gue yakin perusahaan bokap bakal jatuh ke gue semua, gue kan anak tunggal, tapi lu berdua yang harta gak bakalan habis dibagi sama orang sejakarta, tetap aja mikir buat buka usaha baru, kalian berdua itu selalu saling mengingatkan saling memberi dukungan…”
“makanya lu harus cepet punya pasangan lan..” aku memotong perkataan nollan. “supaya lu tahu buat siapa lu berjuang..”
“tahu siapa dia pasangan kita? Lu ngerti maksud gue nu?” nollan menatapku lama, aku mengangguk tanda faham.
“seseorang yang lu gak bisa hidup tanpanya, saat lu nemuin seseorang yang lu sayang, coba lu Tanya diri sendiri, Tanya lu masih bisa hidup gak tanpa dia, kalau tanpa dia lu baik – baik saja, berarti dia…”
“bukan pasangan gue, bukan jodoh gue.. oke gue ngerti nu..”
Aku menatap keluar jendela, membayangkan iras di luar sana bersama dengan agen – agen dari pemerintah. Ini bukti dari apa saja yang ku katakan, bahwa iras tidak bisa jika tanpaku, aku pun demikian tidak pernah baik – baik saja tanpanya di sini sekarang.  Bahkan selama ini hampir tidak ada satupun detik dalam hidup kami yang tidak kami lewatkan bersama.
Aku ingin selalu orang mengatakan di mana ada aku, di situ lah iras. Atau sebaliknya, kemanapun iras pergi aku ikut.  Arti dari kata tidak terpisahkan adalah seperti itu seharusnya.
Kami pernah menonton sebuah film bersama – sama, judulnya brokeback mountain, cerita tentang jake dan ennis, dua orang coboi normal yang akhirnya menjalin cinta sepasang gay ketika mereka sama – sama menjadi pengembala kambing di pegunungan brokeback.
Ketika masa kerja mereka habis, keduanya harus kembali ke kehidupan mereka masing – masing, empat tahun kemudian, mereka berdua sudah sama – sama menikahi seorang perempuan dan memiliki anak, namun kerinduan yang akhirnya membuat mereka bertemu dan mereka bersama – sama lagi sampai beberapa hari.
Itu lah yang selalu mereka lakukan setiap hampir empat tahun sekali, berkirim surat, jake yang dari texas mengunjungi ennis dan mereka berkemah di brokeback mountain selama beberapa hari.  Mereka bersama – sama sebagai sepasang gay.
Alur ceritanya bagus, bahkan ketika film sudah sampai di cerita ennis bercerai dan jake mengajak untuk tinggal bersama, memiliki kehidupan berdua, namun ennis menolak, ketika ia pun berencana untuk menikahi seorang perempuan lagi.  Jake meradang, ketika semua harapannya yang ia simpan selama dua puluh tahun untuk memiliki ennis sepenuhnya tidak dapat ia capai.
Mereka memutuskan untuk tetap dengan kehidupan mereka masing – masing, sampai akhirnya jake meninggal dan film hanya menyisakan ennis dan penyesalannya yang sebesar namun tak seindah deretan pegunungan brokeback.
Seusai menonton film tersebut iras bilang “untung waktu itu iras memutuskan untuk memperjuangkan inu, memperjuangkan segalanya…”
Aku mengangguk setuju pada iras. Kalau saja waktu itu kami mundur, kami tetap sama – sama menipu diri bahwa bisa hidup tanpa satu sama lain. Mungkin kami tidak akan sebahagia ini sekarang.
Kalau kami tetap berusaha senormal mungkin hanya demi status di masyarakat waktu itu, kami hanya akan jadi seonggok daging yang memiliki tulang, yang dapat berjalan dan bicara. Selebihnya kami hanya pecundang yang hidup. 
Ya, bagiku, orang yang tidak pernah mau mengakui dirinya siapa, tidak mau mengakui bahwa ia menyukai laki – laki juga, menyukai perempuan lagi, atau hal lainnya. Ia tidak lebih dari seonggok tulang yang diliputi daging yang hidup.
Kalau hanya sekedar hidup, babi juga hidup.
Hidup terlalu singkat, benar sekali. Kita hidup hanya sekali, waktu sekali dibuang hanya untuk menolak kebahagiaan hanya karena perduli dan khawatir dengan apa kata orang?
Sebaiknya jangan pernah minta untuk dilahirkan.
Aku mengusap pelan pipi pacarku yang sedang tidur di sampingku, darinya aku belajar banyak hal, darinya aku selalu berusaha jujur pada diri sendiri, bahwa mungkin kehidupan akan lebih baik tanpanya, seperti kata orang.  Namun aku yang dengannya, aku yang aku, bukan orang lain.  Seburuk apapun keadaanya, aku tidak perduli, asal aku dengan iras, maka aku baik – baik saja.
Inti nya siapa yang mau berjuang demi kebahagiaannya, dia lah yang akan bahagia.