Jumat, 11 Oktober 2013

We Belong Together (oleh:Iras)



10 oktober 2013…
Langit cerah London pagi ini seperti mendukung keberangkatan kami.  Ini kepulangan kami ke prancis setelah liburan beberapa hari di sini.  Setelah berbagai hal dan kejutan – kejutan luar biasa dari nya selama hidup akhirnya kami pikir tidak ada salahnya untuk liburan sebentar di balik kesibukan kuliah kami.
Kuliah kami berjalan sangat lancar, walau kami berbeda kampus dan itu sangat menyebalkan untukku, setidaknya selama empat belas jam aku tidak bisa bersama inu.  Kehidupan juga semakin bergulir lancar, begitu akuisisi kami terhadap sebuah perusahaan media berhasil. Diringin dengan bisnis lainnya.  Lalu ku pikir, bagaimana kalau kita membeli sebuah jet pribadi?
Inu menolak, ia ingin di kepulangannya yang pertama nanti, ia ingin merasakan sensasi mahasiswa yang baru pulang seusai kuliahnya selesai.  Ia ingin pergi dari bandara, dan dijemput oleh mama di bandara lagi.  Aku tahu dua orang itu akan saling memendam rindu selama hampir dua tahun ke depanm.
Rencana kami untuk tidak pulang sama sekali ke Indonesia dan tidak menerima satupun tamu dari Indonesia.  Kami tidak akan pernah pulang, tidak pernah memiliki perangkat seluler, tidak pernah mengetahui kabar apapun dari tanah air.
Sehingga, perasaan telah menyempurnakan kebahagiaanpun rasanya telah ku genapkan.
Lalu ku lirik jendela di sebelah ku, kami kini dua orang calon billioner eropa.  Tidak ada yang mengetahui hal ini di Indonesia.  Sebuah perusahaan hampir bangkrut yang kami selamatkan ku pikir akan membesarkan hidup kami berdua.  Perusahaan kami sudah menyebar ke seluruh eropa dan amerika.  Tinggal sekarang beberapa tahun ke depan harus ku jalankan misi menaklukan asia dan Australia.
Aku tidak menyangka bahwa rencana inu lebih gila dari sebelumnya, uang investasi perusahaan kami di asia yang membuatnya berani bertindak. Sampai akhirnya kami memiliki sebuah grup perusahaan besar eropa.
Aku tersenyum, cucu orang terkaya ke tujuh asia itu sebentar lagi akan masuk ke deretan orang terkaya eropa.  Membawa – bawa namaku juga.   Rumah kami tetap di pinggir paris, kami tetap mengidamkan ketenangan untuk hidup kami berdua.
Aku penasaran, bagaimana nanti orang – orang kaget akan apa yang telah kami berdua capai.
Walau hampir Sembilan puluh persen manajerial aku yang menjalankan, aku tidak keberatan sama sekali. Walau aku awalnya memberikan ide untuk mendirikan sebuah perusahaan baru.  Inu lebih banyak menghabiskan waktu dengan menulis beberapa cerita.  Beberapa cerpennya berhasil membuat ku bergetar ketika membacanya, cerpen -  cerpen yang inu analogikan dengan perjalanan kami berdua, baik di masa lalu ataupun masa depan.
Kehidupan inu memang seperti itu, kehidupan seorang penulis, aku bahkan pertamakali belajar menulis darinya.  Ia seorang sastrawan romantic yang ku miliki. Namun, lagi – lagi aku harus cemburu, ketika ia sibuk menulis, ia juga berhasil memberikan gagasan besar terhadap perusahaan, sebuah gagasan yang tidak pernah aku pikir sebelumnya, padahal kalau dilihat dari jam terbang, masalah memimpin perusahaan, aku lebih unggul dari pada inu.
Namun itu dia, kecerdasannya terbukti lagi.  Kini kami pemilik perusahaan media yang siap – siap membesar di eropa dan amerika. Ini janji kami: kami tidak akan pulang ke Indonesia, sampai perusahaan kami berhasil menguasai korea dan jepang.
Senin kemarin, aku dan inu sedang ada di bioskop. Seperti biasa sebelum film kami dimulai, ada beberapa trailer dari film lain. Yaitu trailer dari film – film yang akan diputar. Lalu, tepat setelah trailer film komedi yang bercerita tentang keluarga konyol Amerika, muncul trailer film asal Amerika lainnya. Masih tentang keluarga namun bedanya, film ini tidak terlihat konyol, jauh dari kesan humor.
Terlihat seorang pria yang berlarian bersama perempuan dan anaknya, menyelamatkan diri. Entah dari musuh apa, entah alien atau bencana.  Semua terlihat kacau, gedung hancur, tanah terbelah dan orang – orang berteriak dan berlari tak tentu arah.  Semua hanya peduli pada diri sendiri.
Dan beruntung, pria tadi berhasil menyelamatkan diri dan keluarganya. Meski keadaan di luar kacau, setidaknya mereka aman di penampungan.  Namun itu tak berlangsung lama, karena kemudian pria itu diminta untuk mengikuti misi penyelamatan melawan musuh yang entah apa, dan dia bersedia.
Tapi tidak dengan perempuannya.  Dia tidak memberi ijin.  Mereka berdebat, pria itu bilang, dia harus melakukan sesuatu untuk menghentikan semua. Dan memang hanya dia yang bisa menghentikan itu.  Sesaat setelah si pria menjelaskan, perempuannya menangis, dia bilang dia takut kehilangan.
Mereka berpelukan lama, lalu si pria tetap pergi.
Kami benar – benar menyimak trailer itu dan begitu trailer selesai laki – laki tampan yang serring tersenyum di sebelahku itu bertanya.
“kalau itu kita, kamu akan tetap pergi atau tidak?” tanyanya dengan senyum samar dan mimik muka yang cukup serius. Lalu ku jawab….
“kalau itu satu – satunya cara selamatkan dunia, iya aku pergi” jawabku sambil deg – degan. Lalu ia bertanya lagi
“kamu biarin aku sendirian?”
Dan aku baru sadar kalau jawabanku barusan terdengar konyol “hmm, nggak. Aku nggak mau tinggalin kamu dan anak – anak sendirian” kataku.
“aku mau ikut..” ujarnya
“eh jangan dong.. bahaya..” di titik ini aku sadar kalau percakapan ini mulai serius
“jadi gimana?” katanya lagi
Aku bingung harus jawab apa waktu itu, lalu ketika ia bertanya lagi film kami mulai.  Dan untuk sementara, aku selamat dari kewajiban harus menjawab.  Setelah film selesai, kita nggak bahas itu lagi.  Sampai hari ini. Tapi sekarang aku punya jawaban dari pertanyaan inu waktu itu.
Ku lihat lagi jam di tanganku, sudah hampir sepuluh menit inuku menghilang. Ia tadi pamit hendak membeli kopi.  Membuatku agak celingukan, tidak tahu ia ada di mana, tidak ada bayangan wajahnya sama sekali.
Ini membuatku agak panik, penerbangan hanya tinggal beberapa menit lagi.  Apakah inuku sakit, apakah ia ada di toilet sedang muntah – muntah, beberapa hari lalu dia sempat mengeluh masuk angin.
Aku menghubungi pihak keamanan dan meminta bantuan mereka untuk mencarinya. Ketika ku lihat di kedai kopi terdekat inu tidak ada.
Entahlah, tiba – tiba saja orang – orang di depanku, seperti memberi celah, mereka membelah kerumunan sambil tersenyum ke arahku.
Kacamataku melorot. Aku membetulkannya dulu.
“aku tidak mungkin pergi ke suatu tempat tanpa kamu ras…” tiba – tiba inu muncul di hadapanku dengan diiringi senyum orang – orang di belakangnya.
“dear, what’s going on?” aku agak tidak mengerti.
Tiba – tiba saja inu menjatuhkan tubunya, ia berlutut di depanku, meminta satu tanganku.  Kemudian ia menciumnya sebentar.
“kamu masih bertanya – Tanya bahagia itu apa?” katanya “aku sudah lama membungkam mulut untuk hal itu, aku sudah memiliki kamu untuk menjawab segalanya, semua hal pertanyaan di dunia ini aku jawab menggunakan nama kamu…”
“sayaang…” aku hendak menariknya berdiri namun inu menolak.
“kamu masih ingat ini?” dia mengeluarkan sesuatu dari saku kemeja nya.
Aku mengamati benda itu sebentar.
“hand band iras?”
“yap, kamu memakainya pas final class meeting kita dulu, kamu kalah terus buang hand band ini…” jawab inu “inu tahu, suatu saat benda ini akan jadi berguna, cukup sulit selama ini menyumbunyikannya dari kamu setelah enam tahun ini…”
Ia menatap hand ban tersebut beberapa detik.
“terimakasih ras, atas kesempatan kedua yang kamu bawa, atas kemauan kamu menyempatkan untuk datang lagi ke hidup inu, membawa segala hal, yang tidak mungkin bisa inu balas satu persatu, kecuali hari ini, inu memantapkan diri untuk menjaga iras selamanya, bukan tentang hari ini saja, tapi untuk selamanya, seperti janji kita…”
“forever and everlast…” aku memotongnya.
“ya, ternyata butuh waktu selama ini, untuk meyakinkan, bahwa Cuma iras satu – satunya dan benar – benar satu – satunya…” kedua matanya masih menatapku “kamu tahu sendiri, inu selalu tidak bisa bicara banyak yang manis – manis di depan kamu, langsung saja. Will you marry me??”
Inu mengangkat hand ban yang berada di dalam sebuah kotak jam tangan itu.
Aku terkesiap, mengingat hampir setahun lalu aku pernah melakukan hal ini dan waktu itu reaksi inu sangat biasa sekali.
“ayolah jawab, sudah terlalu banyak orang yang liatin kita, dan inu udah pegel banget setengah berdiri gini…”
Ucapan inu membuatku tersenyum, kemudian merangkul dan mengangkat tubuhnya. Membawanya ke dalam pelukanku, di dalam hatiku melebur berbagai perasaan yang tak akan mampu siapapun jelaskan.
“I will off course I will…” kataku sambil tersedu. Satu – satu air mata jatuh juga dari sudut mataku.
Inu mengambil tangan kananku, kemudian memasangkan hand ban yang sudah lama sekali tidak aku pakai bahkan aku hampir lupa pernah memakainya.
“pesawat kita bentar lagi berangkat, stop jangan nangis, banyak hal di masa depan yang akan kita hadapi, mungkin sebagiannya akan kita tangisi. Bukankah ini yang selama ini kita inginkan. Inu sudah jadi milik kamu selamanya, tanpa perlu takut akan hal apapun lagi…”
Aku mengangguk, memeluk kemudian mencium orang yang membuatku jatuh cinta setengah mati itu.
Kami berdua ada di pesawat yang akan mengantarkan kami pulang ke paris. Inu duduk di sebelahku sambil membaca sebuah buku.  Hobi lamanya, ketika kami melakukan perjalanan ia akan membawa sebuah buku, entah itu buku baru atau buku lama yang ia baca lagi. 
Tangan kirinya memegang handle kursi, aku mengusap punggung tangan itu, inu menatap ku sebentar sambil tersenyum. Seorang pramugari mengantarkan secangkir kopi pesananku.
“boleh iras ganggu sebentar?” kataku.
Ia mengangguk, setelah menandai halaman yang sedang dibacanya, ia menutup buku tersebut kemudian menyimpannya di pangkuannya.
“terkait pertanyaan inu di bioskop beberapa hari yang lalu..”
Inu seperti mengingat, bola matanya bergerak ke arah kanan, kemudian ia mengangguk, seperti berhasil mengingatnya.
“apa love?”
“iras punya jawabannya sekarang..” kataku sambil menarik nafas “aku bakal tetap pergi dan aku bawa kamu dan anak – anak. Setidaknya aku bisa selamatkan bumi dan melindungi kamu dengan tanganku..”
Kataku mantap pada inu. Ia tampak memperbaiki cara duduknya dan mendekat kepadaku.
“apakah iras gak kepikiran, bagaimana kalau salah satu di antara kita tetap di penampungan dan menjaga anak – anak kita? Sementara salah satunya lagi ikut berjuang dan menghentikan alien tersebut? Atau kita berdua tidak usah pergi, tidak perlu mengambil resiko, keluarga kita harusnya lebih penting dari apapun…”
“kalau dunia ini hancur kita sama keluarga kita mau tinggal di mana sayang?” tanyaku pada sosok yang selalu mengingatkanku bahwa cinta yang besar dan benar – benar bisa menjaga dengan baik itu ada.
Inu seperti menimbang hendak mengatakan apa berikutnya.
“biarkan iras yang berjuang, bagi iras, kamu lebih penting, lagi pula sepertinya urusan anak – anak inu lebih tahu…”
Inu menggeleng keras.
“no, kita akan berjuang sama – sama, kita akan jaga anak – anak sama – sama, iras harus tahu kalau film itu hanya pengandaian inu, tapi di kehidupan nyata, kita itu keluarga, anak – anak selalu butuh sosok kedua orang tuanya, inu tidak mau anak – anak kita nanti merasa cukup dengan memiliki inu saja atau iras saja.. berjanjilah, dalam keadaan apapun iras akan tetap baik – baik saja, dan rintangan sebesar apapun kita akan terus berjuang bersama – sama..”
Aku mengangguk pada inu, sebelum akhirnya menjatuhkan kepalaku ke dalam pelukannya. Tangannya mengusap lembut kepalaku.   Ku rasakan nafasnya dingin menyerbu seluruh permukaan kepalaku.
Kami mungkin memang belum berkeluarga, kami baru tinggal berdua, dan anak – anak baru akan hadir dua atau tiga tahun lagi.  Tapi aku tau, aku ada di dalam pelukan seseorang yang sangat mencintai keluarganya.
“I promise someday I will bring you to better place to watch the star…” kataku menutup perbincangan kami di pesawat waktu itu.