10 oktober 2013…
Langit cerah London pagi
ini seperti mendukung keberangkatan kami.
Ini kepulangan kami ke prancis setelah liburan beberapa hari di sini. Setelah berbagai hal dan kejutan – kejutan
luar biasa dari nya selama hidup akhirnya kami pikir tidak ada salahnya untuk liburan
sebentar di balik kesibukan kuliah kami.
Kuliah kami berjalan sangat
lancar, walau kami berbeda kampus dan itu sangat menyebalkan untukku,
setidaknya selama empat belas jam aku tidak bisa bersama inu. Kehidupan juga semakin bergulir lancar,
begitu akuisisi kami terhadap sebuah perusahaan media berhasil. Diringin dengan
bisnis lainnya. Lalu ku pikir, bagaimana
kalau kita membeli sebuah jet pribadi?
Inu menolak, ia ingin di
kepulangannya yang pertama nanti, ia ingin merasakan sensasi mahasiswa yang
baru pulang seusai kuliahnya selesai. Ia
ingin pergi dari bandara, dan dijemput oleh mama di bandara lagi. Aku tahu dua orang itu akan saling memendam rindu
selama hampir dua tahun ke depanm.
Rencana kami untuk tidak
pulang sama sekali ke Indonesia dan tidak menerima satupun tamu dari Indonesia. Kami tidak akan pernah pulang, tidak pernah
memiliki perangkat seluler, tidak pernah mengetahui kabar apapun dari tanah
air.
Sehingga, perasaan telah
menyempurnakan kebahagiaanpun rasanya telah ku genapkan.
Lalu ku lirik jendela di
sebelah ku, kami kini dua orang calon billioner eropa. Tidak ada yang mengetahui hal ini di
Indonesia. Sebuah perusahaan hampir
bangkrut yang kami selamatkan ku pikir akan membesarkan hidup kami berdua. Perusahaan kami sudah menyebar ke seluruh
eropa dan amerika. Tinggal sekarang beberapa
tahun ke depan harus ku jalankan misi menaklukan asia dan Australia.
Aku tidak menyangka bahwa
rencana inu lebih gila dari sebelumnya, uang investasi perusahaan kami di asia
yang membuatnya berani bertindak. Sampai akhirnya kami memiliki sebuah grup
perusahaan besar eropa.
Aku tersenyum, cucu orang
terkaya ke tujuh asia itu sebentar lagi akan masuk ke deretan orang terkaya
eropa. Membawa – bawa namaku juga. Rumah kami tetap di pinggir paris, kami tetap
mengidamkan ketenangan untuk hidup kami berdua.
Aku penasaran, bagaimana
nanti orang – orang kaget akan apa yang telah kami berdua capai.
Walau hampir Sembilan puluh
persen manajerial aku yang menjalankan, aku tidak keberatan sama sekali. Walau
aku awalnya memberikan ide untuk mendirikan sebuah perusahaan baru. Inu lebih banyak menghabiskan waktu dengan
menulis beberapa cerita. Beberapa
cerpennya berhasil membuat ku bergetar ketika membacanya, cerpen - cerpen yang inu analogikan dengan perjalanan
kami berdua, baik di masa lalu ataupun masa depan.
Kehidupan inu memang
seperti itu, kehidupan seorang penulis, aku bahkan pertamakali belajar menulis
darinya. Ia seorang sastrawan romantic
yang ku miliki. Namun, lagi – lagi aku harus cemburu, ketika ia sibuk menulis,
ia juga berhasil memberikan gagasan besar terhadap perusahaan, sebuah gagasan yang
tidak pernah aku pikir sebelumnya, padahal kalau dilihat dari jam terbang,
masalah memimpin perusahaan, aku lebih unggul dari pada inu.
Namun itu dia,
kecerdasannya terbukti lagi. Kini kami
pemilik perusahaan media yang siap – siap membesar di eropa dan amerika. Ini
janji kami: kami tidak akan pulang ke Indonesia, sampai perusahaan kami
berhasil menguasai korea dan jepang.
Senin kemarin, aku dan inu
sedang ada di bioskop. Seperti biasa sebelum film kami dimulai, ada beberapa
trailer dari film lain. Yaitu trailer dari film – film yang akan diputar. Lalu,
tepat setelah trailer film komedi yang bercerita tentang keluarga konyol
Amerika, muncul trailer film asal Amerika lainnya. Masih tentang keluarga namun
bedanya, film ini tidak terlihat konyol, jauh dari kesan humor.
Terlihat seorang pria yang
berlarian bersama perempuan dan anaknya, menyelamatkan diri. Entah dari musuh
apa, entah alien atau bencana. Semua
terlihat kacau, gedung hancur, tanah terbelah dan orang – orang berteriak dan
berlari tak tentu arah. Semua hanya
peduli pada diri sendiri.
Dan beruntung, pria tadi
berhasil menyelamatkan diri dan keluarganya. Meski keadaan di luar kacau,
setidaknya mereka aman di penampungan.
Namun itu tak berlangsung lama, karena kemudian pria itu diminta untuk
mengikuti misi penyelamatan melawan musuh yang entah apa, dan dia bersedia.
Tapi tidak dengan
perempuannya. Dia tidak memberi
ijin. Mereka berdebat, pria itu bilang,
dia harus melakukan sesuatu untuk menghentikan semua. Dan memang hanya dia yang
bisa menghentikan itu. Sesaat setelah si
pria menjelaskan, perempuannya menangis, dia bilang dia takut kehilangan.
Mereka berpelukan lama,
lalu si pria tetap pergi.
Kami benar – benar menyimak
trailer itu dan begitu trailer selesai laki – laki tampan yang serring
tersenyum di sebelahku itu bertanya.
“kalau itu kita, kamu akan
tetap pergi atau tidak?” tanyanya dengan senyum samar dan mimik muka yang cukup
serius. Lalu ku jawab….
“kalau itu satu – satunya
cara selamatkan dunia, iya aku pergi” jawabku sambil deg – degan. Lalu ia
bertanya lagi
“kamu biarin aku
sendirian?”
Dan aku baru sadar kalau
jawabanku barusan terdengar konyol “hmm, nggak. Aku nggak mau tinggalin kamu
dan anak – anak sendirian” kataku.
“aku mau ikut..” ujarnya
“eh jangan dong.. bahaya..”
di titik ini aku sadar kalau percakapan ini mulai serius
“jadi gimana?” katanya lagi
Aku bingung harus jawab apa
waktu itu, lalu ketika ia bertanya lagi film kami mulai. Dan untuk sementara, aku selamat dari
kewajiban harus menjawab. Setelah film
selesai, kita nggak bahas itu lagi.
Sampai hari ini. Tapi sekarang aku punya jawaban dari pertanyaan inu
waktu itu.
Ku lihat lagi jam di
tanganku, sudah hampir sepuluh menit inuku menghilang. Ia tadi pamit hendak
membeli kopi. Membuatku agak celingukan,
tidak tahu ia ada di mana, tidak ada bayangan wajahnya sama sekali.
Ini membuatku agak panik,
penerbangan hanya tinggal beberapa menit lagi.
Apakah inuku sakit, apakah ia ada di toilet sedang muntah – muntah,
beberapa hari lalu dia sempat mengeluh masuk angin.
Aku menghubungi pihak
keamanan dan meminta bantuan mereka untuk mencarinya. Ketika ku lihat di kedai
kopi terdekat inu tidak ada.
Entahlah, tiba – tiba saja
orang – orang di depanku, seperti memberi celah, mereka membelah kerumunan
sambil tersenyum ke arahku.
Kacamataku melorot. Aku
membetulkannya dulu.
“aku tidak mungkin pergi ke
suatu tempat tanpa kamu ras…” tiba – tiba inu muncul di hadapanku dengan
diiringi senyum orang – orang di belakangnya.
“dear, what’s going on?”
aku agak tidak mengerti.
Tiba – tiba saja inu
menjatuhkan tubunya, ia berlutut di depanku, meminta satu tanganku. Kemudian ia menciumnya sebentar.
“kamu masih bertanya –
Tanya bahagia itu apa?” katanya “aku sudah lama membungkam mulut untuk hal itu,
aku sudah memiliki kamu untuk menjawab segalanya, semua hal pertanyaan di dunia
ini aku jawab menggunakan nama kamu…”
“sayaang…” aku hendak
menariknya berdiri namun inu menolak.
“kamu masih ingat ini?” dia
mengeluarkan sesuatu dari saku kemeja nya.
Aku mengamati benda itu
sebentar.
“hand band iras?”
“yap, kamu memakainya pas
final class meeting kita dulu, kamu kalah terus buang hand band ini…” jawab inu
“inu tahu, suatu saat benda ini akan jadi berguna, cukup sulit selama ini
menyumbunyikannya dari kamu setelah enam tahun ini…”
Ia menatap hand ban
tersebut beberapa detik.
“terimakasih ras, atas
kesempatan kedua yang kamu bawa, atas kemauan kamu menyempatkan untuk datang
lagi ke hidup inu, membawa segala hal, yang tidak mungkin bisa inu balas satu
persatu, kecuali hari ini, inu memantapkan diri untuk menjaga iras selamanya,
bukan tentang hari ini saja, tapi untuk selamanya, seperti janji kita…”
“forever and everlast…” aku
memotongnya.
“ya, ternyata butuh waktu
selama ini, untuk meyakinkan, bahwa Cuma iras satu – satunya dan benar – benar
satu – satunya…” kedua matanya masih menatapku “kamu tahu sendiri, inu selalu
tidak bisa bicara banyak yang manis – manis di depan kamu, langsung saja. Will
you marry me??”
Inu mengangkat hand ban
yang berada di dalam sebuah kotak jam tangan itu.
Aku terkesiap, mengingat
hampir setahun lalu aku pernah melakukan hal ini dan waktu itu reaksi inu
sangat biasa sekali.
“ayolah jawab, sudah
terlalu banyak orang yang liatin kita, dan inu udah pegel banget setengah
berdiri gini…”
Ucapan inu membuatku
tersenyum, kemudian merangkul dan mengangkat tubuhnya. Membawanya ke dalam
pelukanku, di dalam hatiku melebur berbagai perasaan yang tak akan mampu
siapapun jelaskan.
“I will off course I will…”
kataku sambil tersedu. Satu – satu air mata jatuh juga dari sudut mataku.
Inu mengambil tangan
kananku, kemudian memasangkan hand ban yang sudah lama sekali tidak aku pakai
bahkan aku hampir lupa pernah memakainya.
“pesawat kita bentar lagi
berangkat, stop jangan nangis, banyak hal di masa depan yang akan kita hadapi,
mungkin sebagiannya akan kita tangisi. Bukankah ini yang selama ini kita
inginkan. Inu sudah jadi milik kamu selamanya, tanpa perlu takut akan hal
apapun lagi…”
Aku mengangguk, memeluk
kemudian mencium orang yang membuatku jatuh cinta setengah mati itu.
…
Kami berdua ada di pesawat
yang akan mengantarkan kami pulang ke paris. Inu duduk di sebelahku sambil
membaca sebuah buku. Hobi lamanya,
ketika kami melakukan perjalanan ia akan membawa sebuah buku, entah itu buku
baru atau buku lama yang ia baca lagi.
Tangan kirinya memegang
handle kursi, aku mengusap punggung tangan itu, inu menatap ku sebentar sambil
tersenyum. Seorang pramugari mengantarkan secangkir kopi pesananku.
“boleh iras ganggu
sebentar?” kataku.
Ia mengangguk, setelah
menandai halaman yang sedang dibacanya, ia menutup buku tersebut kemudian
menyimpannya di pangkuannya.
“terkait pertanyaan inu di
bioskop beberapa hari yang lalu..”
Inu seperti mengingat, bola
matanya bergerak ke arah kanan, kemudian ia mengangguk, seperti berhasil
mengingatnya.
“apa love?”
“iras punya jawabannya
sekarang..” kataku sambil menarik nafas “aku bakal tetap pergi dan aku bawa
kamu dan anak – anak. Setidaknya aku bisa selamatkan bumi dan melindungi kamu
dengan tanganku..”
Kataku mantap pada inu. Ia
tampak memperbaiki cara duduknya dan mendekat kepadaku.
“apakah iras gak kepikiran,
bagaimana kalau salah satu di antara kita tetap di penampungan dan menjaga anak
– anak kita? Sementara salah satunya lagi ikut berjuang dan menghentikan alien
tersebut? Atau kita berdua tidak usah pergi, tidak perlu mengambil resiko,
keluarga kita harusnya lebih penting dari apapun…”
“kalau dunia ini hancur
kita sama keluarga kita mau tinggal di mana sayang?” tanyaku pada sosok yang
selalu mengingatkanku bahwa cinta yang besar dan benar – benar bisa menjaga
dengan baik itu ada.
Inu seperti menimbang
hendak mengatakan apa berikutnya.
“biarkan iras yang
berjuang, bagi iras, kamu lebih penting, lagi pula sepertinya urusan anak –
anak inu lebih tahu…”
Inu menggeleng keras.
“no, kita akan berjuang
sama – sama, kita akan jaga anak – anak sama – sama, iras harus tahu kalau film
itu hanya pengandaian inu, tapi di kehidupan nyata, kita itu keluarga, anak –
anak selalu butuh sosok kedua orang tuanya, inu tidak mau anak – anak kita
nanti merasa cukup dengan memiliki inu saja atau iras saja.. berjanjilah, dalam
keadaan apapun iras akan tetap baik – baik saja, dan rintangan sebesar apapun
kita akan terus berjuang bersama – sama..”
Aku mengangguk pada inu,
sebelum akhirnya menjatuhkan kepalaku ke dalam pelukannya. Tangannya mengusap
lembut kepalaku. Ku rasakan nafasnya
dingin menyerbu seluruh permukaan kepalaku.
Kami mungkin memang belum
berkeluarga, kami baru tinggal berdua, dan anak – anak baru akan hadir dua atau
tiga tahun lagi. Tapi aku tau, aku ada
di dalam pelukan seseorang yang sangat mencintai keluarganya.
“I promise someday I will
bring you to better place to watch the star…” kataku menutup perbincangan kami
di pesawat waktu itu.
…