Sabtu, 17 Mei 2014

What's your number?

            Paris malam ini, sedikit cerah, karena tidak ada hujan yang turun mendadak di pertengahan musim semi seperti ini.  Aku keluar dari dalam mobil, setelah berpamitan pada iras, ia kembali lagi ke rumah.  Tentu saja, akhir – akhir ini dia sangat banyak pekerjaan.  Aku membiarkannya menua sendirian di rumah, ketika tadi aku mengajaknya untuk ikut datang ke malam pertunangan maria, kakak perempuan ardan, ia mengatakan tidak bisa dan akupun tidak ingin memaksanya.
            Ia sudah menginjikan aku pergi saja sudah sebuah keajaiban untukku. Apalagi, ia selalu khawatir saat aku bersama the genk ku, astroboy. Memang reputasi kami, jika kebetulan lagi sama – sama selalu saja berakhir buruk.  Aku pikir menceritakan semua hal soal hidup kami berdua saat ini sudah bisa ku lakukan dengan baik, ketika aku sadar bahwa waktu membawa kami menjadi lebih dewasa.
Aku memasuki halaman rumah yang disewa oleh keluarga ardan, aku tidak tahu kalau kakak perempuannya selama ini tinggal di paris, apalagi kami tidak pernah bertemu atau saling kenal.  Ku pikir keluarga ardan semuanya di amerika, sepertinya.  Tapi ternyata kakaknya ada di sini. Ia malam ini bertunangan, ardan hadir dan mengundang kami semua ke sini. 
Tidak bisa ku bayangkan tujuh orang bebal itu memaksakan hadir ke sini demi orang yang belum kami kenal, bukan itu memang yang kami inginkan,  tapi kami selalu menikmati setiap kebersamaan kami, setiap kesempatan yang bisa saja mempersatukan kegilaan kami.
Ardan bilang bahwa acara ini tidak terlalu formal, namun ia meminta kami semua memakai setelan jas.  Aku sebenarnya agak membencinya, kalau saja pacarku bukan seorang boss, mungkin aku tidak akan bisa menemukan setelan jas bahkan tuksedo di rumah. Juga akhirnya karena ukuran baju kami yang sama, itu membuat ku bisa memakai setelan jasnya yang mana saja.
Aku datang ketika acara sudah mulai beberapa menit, di tengah – tengah ruangan kedua orang tua ardan sedang memberikan sambutan. Aku salah, acara sudah sampai di tengah, sepertinya aku melewatkan bagian di mana kedua pasangan yang bertunangan saling bertukar cincin dan berciuman.
Semua anggota genk ku berada di sudut, nolan, feddy, daris, kiki, dheka, jordan dan ardan duduk berhimpitan di sofa.  Aku menghampiri mereka semua,  namun aku pikir ada yang aneh dengan ardan, ia memegang satu botol besar sampanye dan aku tahu ia sedikit teler.  Teman – temanku menyambutku mereka memberikan tempat untukku duduk, ardan sampai menepuk bahuku, untuk bilang terimakasih karena aku sudah datang.
Aku memberinya isyarat minta maaf karena datang terlambat, ia memaklumi dengan menganggukan kepala yang aku tahu kalau itu adalah anggukan “ya gue bentar lagi mabok” aku dan teman – temanku yang lain hanya tersenyum sambil sedikit cekikan menahan tawa, tidak bisa membayangkan kalau kami memang tidak pernah beres, bahkan kini ardan dia mabuk di acara pertunangan kakaknya sendiri.
“dan, baiklah untuk sambutan terakhir sebelum kita memulai pesta ini, kita biarkan sang adik laki – laki maria untuk mengajak kita semua bersulang...” kata mama ardan mempersilahkannya sambil memandang ke sudut tempat kami berdelapan berkumpul.
Kami bertujuh menatap ke satu arah tempat dimana satu tubuh berlumuk karena hampir setengah mabuk. Aku tersenyum melihat ekspresinya yang sedikit agak kesal karena dipaksa berpidato oleh mamanya. Aku dan yang lain tahu bahwa kami akan melihat aksi stand up comedy paling menyebalkan malam ini.  Aku, daris, kiki, nolan dan dheka berdiri.  Fedy dan jo tetap di sofa, mereka masih asyik dengan gelas sampanye mereka.
“well well well..” ardan menyeruak ke tengah, tetap dengan botol sampanyenya, matanya terpicing berusaha melihat semua tamu undangan yang hadir.
“gue video ah, ini pasti bakalan mengagumkan..” nolan mengeluarkan ponselnya, sambil bersiap merekam.  Aku dan yang lain tertawa pelan, karena memang sudah tahu apa yang pasti akan terjadi.
“beberapa minggu yang lalu, gue cukup kaget karena kakak gue yang galak bahkan lebih laki – laki daripada halle barry, bilang ke gue “dek teteh pengen kawin”.. hahahahaha” ia tertawa lebar sendirian, ketika para tamu menatap aneh karena tidak mengerti dengan bahasa yang keluar dari mulut ardan.  Kecuali kami bertujuh.
“who? I asked her?” ardan menunjuk ke arah kakanya yang mulai geleng – geleng dan menutup wajah. “jammie.. he say.. oohh god, that son orang menyebalkan yang pernah lu bawa ke bandung dan dia muntah di rumah? Aku hampir tidak mempercayainya kecuali bahwa dia masih jammie yang sama, untuk kakakku dan tunangan gemuknya..” ardan mengangkat botol sampanyenya tinggi mengajak kami bersulang.
“for your sister and her fat beyonce...” teriak kami bertujuh yang diakhiri dengan tawa menggelegar.
...
“Dan, lu pernah nonton what your number? Tadi kekonyolan lu mirip banget sama Ally di film itu..” kata nollan.  Selesai acara kami mencari sebuah club, dan kini kami berada di club yang berada di tengah – tengah kota paris.  Berbaur dengan berbagai jenis bule yang tidak kami kenal.  Untunglah di antara kami ada jo dan ardan yang tampangnya tidak jauh dengan mereka.
“gue gak pernah nonton film cewek, baby..” jawab ardan, dari mata sayunya jelas ia masih teler.
“tapi emang lu persis cewek itu tadi, datang dan mengacaukan acara tunangan sodara lu..” kini daris ikut menambahkan pendapat, aku pun sebenarnya pernah nonton film itu.   Memang tingkah ardan tadi mirip seperti akting anna faris di film tersebut.
“lu berdua pernah nonton film yang sama?” ardan menunjuk nolan dan daris “jangan – jangan di balik kita semua lu berdua pacaran ya..”
Kami semua tertawa. Apalagi melihat ekspresi nolan dan daris yang saling bergidik ketika menatap satu sama lain.
“gue liat kakak lu itu bukan tipe cewek yang buru – buru pengen kawin dan pengen cepat punya anak, kenapa dia pengen tunangan sekarang..” tanya kiki.
“itu karena cewek si ardan sudah bunting...” jawab feddy cepat, kami semua diam dan langsung menatap feddy, tidak percaya pada apa yang kami dengar “beneran.. bunting..” feddy membuat bulatan di atas perutnya.
“selamaaaaatttt....” aku dan semua teman – temanku langsung mengeroyok ardan dengan tinju, tamparan hingga pelukan hampir tidak percaya bahwa dia sudah hampir jadi calon ayah.
“lu tau kan kalo ibu gue orang jawa asli?” ardan mengingatkan kami. Kami semua mengangguk padanya “dan dia gak mau kakak gue dilangkahin ama gue, dan dia juga gak mau dalam satu tahun ada dua anaknya yang kawin, makanya dia nyuruh kakak gue kawin duluan, gue baru taun depan, pas anak gue udah bisa maen bola ama gue.. hehehehe...”
Kami semua tertawa, rupanya itulah alasan kenapa dia mabuk malam ini. Beberapa bulan lalu memang kami pernah mendengarnya akan menikah, tapi aku tidak tahu kalau kejadiannya seperti ini.
“hebat, ada juga cewek yang bisa hamil sama sperma lu brad..” jo meninju pangkal lengan ardan.
Ardan hanya tersenyum sambil mengedikan bahu, sebuah ekspresi bangga.
“ngomong – ngomong soal tidur sama cewek, gue mau ngadain game nih, lu semua harus ikut..” kami semua menegapkan badan mendengarkan dheka. “jadi gini, terinspirasi dari film yang tadi diceritain si nolan sama si daris, iya game ini gue contek dari film itu..”
“ceilaaah lu nonton juga..” jo mencolek punggung dheka yang duduk di sampingnya “lu pasti ngeliatin tubuhnya chris evan kan bukan anna faris...”
“lah ko lu tau kalau chris evan maen di film itu, lu berarti nonton juga kan?” dheka menunjuk wajah jo, dan dia ketahuan.
“hahahaha...” nolan dan daris jadi yang tertawa paling keras karena senang bisa memperoloknya.
“game apaan kek?” tanya kiki
“lu semua tulis berapa jumlah cewek yang pernah lu tidurin, di kertas, tapi jangan di liatin, kita masukin gelas dan nanti giliran kita ngambil terus tebak itu punya siapa, ngerti?”
“si inu ikutan game ini gak?” tanya nolan “remember dia vegetarian...”
Aku dan yang lain tertawa, vegetarian memang julukan yang diberikan teman – teman untukku.  Aku tidak tersinggung sama sekali, karena sejak lama mereka memanggil ku begitu.
“ikutan, si inu ikutan..” kata feddy, sebelum aku angkat bicara “pas mabok berat, gue pernah ngerjain cowok, dan sampe ketiduran, itu diitung, karena gue tau si inu itu tipe ngerjain kok..”
“iiiiiii......” nolan dan daris bergidik mendengarkan feddy, namun ia malah mengajakku tos.
“oke buat game ini kita butuh gelas, kertas dan pulpen.. ntar gue minta sama pelayannya” dheka berjalan menuju meja kasir. 
Tidak berapa lama ia muncul membawa gelas, pulpen dan kertas. Aku tadinya merasa lega karena tidak harus menyebutkan angkaku berapa, tapi karena feddy memberikan aturan tambahan akhirnya akupun mulai menulis angka di kertas yang dibagikan dheka.  Kami melipatnya dan memasukan ke dalam gelas yang di letakan di tengah meja.
Ardan jadi yang terakhir memasukan kertasnya. Sepertinya ia membutuhkan waktu lama untuk mengingat seluruh angkanya ada berapa.
“oke, sekarang lu jo yang pertama ngambil..” dheka memberikan gelas pada jo.
Jo mengambil salah satu dari kertas yang terlipat itu.
“kalian tahu, kalau angka kalian melebihi dua puluh, lu gak bakalan kawin..” dheka menambahkan, sontak beberapa mata dan wajah menimbulkan ekspresi terkejut luar biasa.
“dua puluh tiga..” kata jo “ini gue, gue tidur dan ngewe sama dua puluh tiga cewek..”
“no, no, bukan gitu, pas angka keluar kita semua harus nebak itu punya siapa..” dheka agak sedikit ngotot, beberapa makhluk bebal di komplotan ini memang sulit faham.  Sehingga ia tampak kesal.
“anjir, pisang ambon lu masuk dua puluh tiga vagina berbeda? Kereen...” nolan mengangkat jempolnya.
Jo dan nolan tertawa, kini dheka memberikan gelas kepadaku. Akupun mengambil satu dari kertas – kertas tersebut.
“tiga sembilan..” angka yang tertulis di kertas begitu aku membukanya. Kami sudah tahu itu angka siapa, semua telunjuk mengarah pada satu orang yang tadi menulis paling lama. Tentu ardan.
“thanks thanks thanks tuan – tuan...” ardan berdiri sambil membungkukan badan. Memberi hormat, kami semua bertepuk tangan dan tertawa pada angkanya.
“sekarang giliran elu dan..” dheka memberikan gelas pada ardan. “gue agak kaget sebenarnya, angka lu Cuma segitu, soalnya seinget gue lu ngasih nomor buat cewek – cewek yang lu kencanin”
Dengan cukup malas ardan mengambil salah satu kertas, beberapa dari kami terlihat gusar karena angka kami tidak sebanyak itu. “gak semua cewek yang gue bawa, buat gue ewe juga geblek”
“gue tau ini angka siapa” kata ardan sebelum menyebutkan angka yang ada di kertasnya “dua delapan, my brother feddy..” ardan ngajak feddy tos. Ternyata feddy membalas tos ardan, rupanya itu benar miliknya.
“itu yang cowok dua diitung gak fed?” tanya daris “tiga puluh dong..”
“itu udah diitung..” jawab feddy. Kami semua masih tertawa – tawa dengan game ini.
“anjis lu bertiga, gue heran kok gak pernah kena herpes..” kata nolan, ia membantu dheka memberikan gelas pada feddy.
Feddy mengambil satu kertas kemudian membukanya.  Ia mengingat sebentar, kemudian dengan jarinya ia seperti menghitung “dokter, polisi, pilot... dan si bos, empat..” ia mengangkat kertas di tangannya “mochammad rifnu prihata..” aku mengacungkan jempol pada tebakan feddy.
“beneran Cuma empat orang lu koh?” kiki menyenggolku.
“beneran anjis, yang lain paling maen PS doang..”
“itu diitung inu..” kata nollan.
“enggak lah..” aku tidak ingin angkaku bertambah.
“PS itu phone sex kan?”
Beberapa bantal melayang ke arah wajahnya “play station goblog...” aku melemparkan bantal paling besar kepadanya.
“delapan..” kata kiki, sudah gilirannya mengambil “ada yang tau ini angka siapa?”
“ah geblek kalian juga gigolo ternyata gue pikir selain kita bertiga gak bakal ada yang ngelebihin angka si inu..” ardan tampak merendahkan orang – orang di depannya.
“daris..” tebak dheka. “tapi gue gak yakin angka lu sebanyak itu..”
“thats right itu angka gue, sini giliran gue yang ngambil...” daris tampak semangat mengambil satu dari tiga kertas yang tersisa, itu berarti tinggal punya nolan, kiki dan dheka. “son of bitch... delapan belas...”
Aku, ardan, jo, feddy, agak kaget mendengar angka sebanyak itu untuk tiga orang terakhir. Aku tahu reputasi setiap orangnya.
“kiki?” tebakku. Dan ia langsung nyengir lebar. “pelacuurrrrr....” aku hampir menoyor kepalanya, teman sebangkuku tiga tahun di SMA rupanya punya rekor sebanyak itu.
“haii friends...” jo, feddy dan ardan mengarahkan gelas anggurnya pada kiki.
“i love sex, i love love love sex so much..” kiki dengan bangganya menggosok – gosok bagian tengah selangkangannya.
Daris memberikan gelas kepadanya. Kiki mengambil salah satu dari dua kertas yang ada di sana. “duaaaaa.....” teriak kiki sambil tertawa lepas. Tidak mungkin dheka, aku tahu dia bahkan tidak akan punya angka sama sekali.
“elu ya kek..” nolan menunjuk wajah dheka.
“sorry brother, gue baru ketemu ferica bulan lalu dan angka gue nambah” tangan dheka mengambil satu kertas tersisa kemudian membukanya lebar – lebar kepada kami “empat..” dia mengajakku tos, aku pun mengepalkan tanganku dan meninjukannya pada tinju dheka.
“oke lah gue Cuma dua, karena gue anak baik – baik yang tidak mungkin melakukan aksi sembarangan...”
“gak gak, dua dari mana lu, gue tau yang satu Cuma hand job yang satu lagi lu keburu ejakulasi.. itu gak masuk dan gak diitung” kata ardan. Kami terbelalak hampir tak percaya, semua tatapan tertuju pada nolan.
“itu masuk kok, kepala gue masuk kok, berarti satu kan dan kalian harus tahu handjob kala dilakukan sama lawan jenis itu sexual activity kan?”
“enggak gembel, gue tahu kepala lu seukuran apa, Kalaupun masuk gue tahu ada sebarapa banyak ruangan tersisa di dalam vaginanya, jadi gak diitung”
Nolan yang awalnya berdiri kini terkulai lemah lagi di kursi, aku dan teman – temanku tertawa, melihat ekspresinya yang miris begitu.
“hand job itu Cuma tangan yang bekerja, dan game ini adalah siapa yang udah tidur sama lu, bukan siapa yang pernah grapa grepe gak jelas..” aku menjelaskan, sekaligus ingin ikut memojokan nolan.
“itu berarti kalau diitung, angka lu semua bisa lebih gembel dari itu..” desis nolan pelan, dan kami masih tertawa. Bahkan ku lihat daris sampai menahan perut karena geli.
...
Malam semakin larut, ardan sudah berhenti mabuk, ia mengajakku keluar dari dalam club.  Kami memang dari dulu biasa seperti ini, ketika enam orang gila lainnya semakin liar kami adalah yang akan keluar menuju garasi atau bahkan lantai paling atas dari club dan ngobrol berdua.  Memang di antara tujuh orang ini, Cuma ardan yang bisa aku ajak ngobrol mulai dari bahasan paling santai hingga serius sekalipun.
Kalau ada masalah dengan iras, dialah yang akan aku telpon paling dulu, pengalamannya menghadapi berbagai macam manusia dan cinta sudah sangat kental.  Semua hal pernah ia cicipi, bertepuk sebelah tangan, ditinggal tanpa alasan apapun, diberikan harapan sudah ia lahap semua.
Ia memang tidak benar – benar mabuk dari tadi, ia yang paling tangguh diantara kami, mau satu ember sekalipun minuman yang dia minum itu tidak akan benar – benar membuatnya teler.  Ia menewariku sebatang rokok, aku mengambil satu kemudian meminjam rokoknya yang sudah menyala, aku membutuhkan baranya untuk menyalakan rokok di tanganku.
“suatu saat lu bakal sampai di titik yang gue alami juga kok nu..” beberapa kepulan asap rokok melayang – layang keluar dari mulut ardan.  Ia menatap lurus ke depan.
Kedua tangan kami bertumpu pada pagar tempat parkir, kami berdua berdiri menghadap ke jalanan.  Aku memandangi ardan sebentar, mungkin ia ingin melanjutkan perkataannya. Namun ia malah berkali – kali lagi menghisap rokoknya.
“titik mana?” kataku, kemudian menghisap rokok di jari tanganku.  Terasa hangat melalui kerongkongan kemudian mengepul ke seluruh rongga dada.
“ya.. titik dimana, lu mutusin berhenti ‘udah stop’ sampai di sini saja” ardan lebih seperti bicara pada dirinya sendiri “lu merasa kalau lu udah terlalu dewasa buat semua petualangan lu, atau lu udah terlalu lelah buat melanjutkannya lagi...”
“gue gak bertualang dan, hidup gue dan iras itu sebuah perjalanan..” jawabku.
“terserah lu menyebutnya apa” ia membuang nafas lagi, kemudian melirik ke arahku “tapi memang, di antara kita semua, gue sama yang lain sudah banyak belajar dari lu berdua..”
“sorry dan, kalau misalkan gue sama iras sudah menyulitkan lu semua, lu tau iras kaya gimana..”
“gak, buat gue ketika ada orang yang sayang sama sahabat gue itu bagus, tapi kalau sampai ia Cuma jadi beban buat lu lu juga kudu mikir nu, tapi antara geng kita sama pacaran lu berdua kita kan punya umur yang sama, lu berhak bahagia dan berhak menentukan jalan lu sendiri...”
Aku memikirkan setiap kata yang ardan ucapkan.  Mungkin benar kalau selama ini sifat iras memang sudah banyak merepotkan mereka.  Iras terlalu pencemburu untuk setiap kedekatanku bersama teman – temanku.  Aku mengerti, banyak sekali yang ia cemaskan kalau kami sedang bersama.  Beberapa kebiasaan di kelompok ini memang tidak cukup bisa iras terima untukku.
Tapi aku sendiri faham, bahwa di usia kami sekarang kami sedang melakukan berbagai petualangan.   Banyak hal baru dan menyenangkan yang layak kami coba.  Seharusnya iras terlibat dengan petualangan kami, namun ia memang tidak pernah memiliki pemikiran yang sejalan.
Walau begitu, aku tetap menyayangi mereka semua. Tidak ada alasan apapun untuk meninggalkan salah satupun dari mereka. Baik iras, atau ketujuh temanku punya ruang dan tempat tersendiri.
“eh iya, gimana rasanya mau jadi bapak dan?” ku jentikan jari membuang abu rokok yang mulai memanjang di ujung batangnya.  Kemudian abu tersebut berhamburan ke udara di bawa angin.
“nothing..” jawabnya agak lemah, namun kemudian ia menatapku lekat “tapi saat ini, gue jadi semakin sayang sama jezz, dia jadi semakin lembut dan aku merasa cukup nyaman dengannya, kalau perasaan jadi seorang ayah, gue juga sebenarnya udah gak sabar buat liat tuh anak lahir ke dunia dan gue bilang “hey dude, I’m your jerk father” tapi gue yakin akan ada banyak kata lagi yang keluar nanti..”
Aku mengangguk, memahami apa yang dirasakan ardan.
“inilah yang gue bilang titik memutuskan, ketika jezz datang dan bilang dia hamil, gue bahkan meresponnya dengan biasa sekali,  gue pikir dia juga bakal sama dengan cewek lainnya yang pernah gue temuin, toh gue udah biasa kebobolan kaya gini tapi Cuma dia yang nggak mau aborsi dan bilang tanpa gue pun dia bisa ngurus tuh anak, tapi gue mikir nu, dia aja yang cewek punya tekad segede itu buat anaknya, kenapa gue bapaknya malah menyepelekan hal ini, dan saat itulah gue pikir buat berhenti..”
“dia bakalan bangga punya bapak kaya lu dan..”
“oh iya, kalau dia cowok gue mohon ijin buat ngasih nama dia Astro, entahlah gue seneng banget ngucapin nama itu..”
“tentu saja silahkan, toh dulu nama kita lu juga kan yang ngusulin ke panitia MOS, lu udah berbuat banyak dan memimpin kelompok ini dengan sangat baik Dan..”
“dan lu, udah ngasih banyak perhatian, kasih sayang, buat mereka, buat gue, buat orang – orang bebal di kelompok ini..”
Ia merangkul bahuku, aku membiarkannya sambil menikmati hisapan – hisapan terakhir rokok di tanganku.
“lu semua udah kaya sodara Dan..” beberapa abu dari rokokku terbang dan berjatuhan di jas dan sepatu yang ku kenakan “kalau gue lagi bingung, atau iras lagi kambuh penyakitnya, gue jadi tahu kemana gue harus lari..”
“be calm, lu punya tempat paling aman, karena lu tau sendirikan gimana galaknya anak – anak kalau iras udah nyakitin lu..”
Aku mengangguk, ketika ingatanku membawa beberapa kejadian dimana ketujuh temanku malah memaki bahkan tidak segan untuk memukul iras, ketika kesal kepadanya. Sesuatu yang membuatku tidak berhenti bersyukur pada tuhan, bahwa dia sudah mengirimkan banyak orang yang menyayangiku sangat tulus untuk hidup yang kadang masih aku sesali di sana sini.
“o iya, kapan lu balik ke bandung? Gue pengen banget balik ke sana, tapi susah nyari waktunya, apalagi sekarang” ardan membuang puntung rokoknya, matanya menerawang jauh, ternyata rindu itu bukan hanya milikku, yang baru beberapa bulan saja meninggalkan kota tersebut, tapi sepertinya jadi milik kami semua di sini.
“tau deh..” jawabku sambil sedikit tersenyum “lucu ya, dulu pas masih di bandung, kita masih SMA, yang kita bicarain pasti soal eropa, amerika, lah sekarang pas kita semua udah ada di sini, yang kita bicarain, yang kita kangenin malah bandung..”
Ardan ikut menyunggingkan senyumnya “iya bener juga, gue kangen kita masih kelayaban jam sebelas malem, bingung mau tidur dimana, padahal itu baru jam sebelas malem, dasar cupu..”
“hahaha inget waktu kita terakhir di tahan di polda? Gara – gara balapan liar, terus ardan sama daris pada mewek gara – gara takut diomelin emaknya mereka?”
“hahaha gue inget, gue inget, abis itu subuh – subuh di halaman polda, kita semua di suruh push up sama apih lu, seratus kali kan?”
Kami berdua tergelak, mengingat apih yang memang selalu jadi yang paling kesal pada kenakalan kami semua.  Ia pasti akan terkejut kalau bertemu dengan teman – temanku sekarang, mereka sudah bukan anak – anak SMA yang sama, mereka sekarang sudah punya kehidupan masing – masing dengan pencapaian yang luar biasa.
“barangkali semua hal gila, konyol, aneh itu tidak bisa kita ulang lagi, tapi sama kalian semua gue yakin bisa ngelakuin hal gila seumur hidup gue...”
“yoha nu..” ardan berdiri tegap, ia membersihkan bajunya dari debu – debu yang tadi menempel dari pagar “udah mau pagi, ayo jemput orang – orang bebal di dalam, gue takut mereka keburu overdosis”
Aku mengikuti langkah – langkah ardan kembali ke dalam club.
...
Aku memapah tubuh jangkung jordan masuk ke dalam rumah apartemen ardan, jordan mabuk berat, kini ia sudah tidur. Memapah tubuh jangkung dan berat itu dari lift sampai ke dalam apartemen bukan pekerjaan mudah, kiki dan ardan sudah membawa deka dan nolan, oleh kiki tubuh deka diletakan di sofa dan nolan di karpet.  Di samping kiri deka masih ada sebuah sofa, aku telentangkan tubuh jordan di sana, ia melenguh sebentar ketika aku agak sedikit keras ketika menjatuhkan tubuhnya di sana.
“tinggal daris sama feddy, gue aja yang ngangkut si feddy dari mobil, lu tidur duluan aja nu” kata ardan, kiki sudah terlebih dahulu kembali lagi ke tempat parkir menjemput tepatnya menggotong tubuh daris.
Aku mengangguk, ku lemparkan jasku ke atas rak majalah dan kumpulan piringan hitam ardan, beberapa benda jatuh di sana. Ketiga temanku yang sudah bergelimpangan, langsung mengorok lagi.  Mereka benar – benar sudah tidak sadarkan diri.  Kemudian ku jatuhkan tubuhku sendiri pada sebuah single sofa yang berada tepat di samping kanan sofa deka.
Agak lumayan pening, semalaman tidak tidur, apalagi ini hampir pagi. Ku pijat keningku sendiri. Pintu apartemen terbuka, kiki muncul sambil membopong daris, yang tidak berhenti meracau sejak dari club bahkan di dalam mobil.  Ia memang yang paling kacau kalau lagi mabuk, bisa – bisa sampai segala isi macam kitab suci dia sebutkan.
“heh lu sape? Lu sape?” tangannya menunjuk – nunjuk wajah kiki “hihihi liat muka lu lucu, kayak barong..”
“terserah elu jaka..” tampak kekesalan di wajah kiki.
“eh siapa jaka?” daris meracau lagi “elu kan temen gue kiki, kok nama lu jadi jaka, eh jak anterin gue ke toilet dong, gue subuh – subuh gini suka pengen beol..”
Belum habis kekesalan kiki, ia kini membawa tubuh daris ke kamar mandi, aku sedang mencoba memejamkan mata, aku benar – benar mengantuk.
Tidak lama kiki sudah kembali, ia tampak misuh – misuh. “si daris kenapa ki?”
“gak tau, dia dari dulu gitu, kalau mabok minta digebukin banget, masa tadi turun dari mobil gue diludahin..”
Aku tersenyum, kiki memang yang paling tulus ikhlas untuk urusan menangani daris, semejak dulu, sejak tahu bagaimana kelakuan daris kalau lagi mabuk aku dan ardan tidak pernah mau untuk mengurusnya, itu benar – benar pekerjaan kiki.
“hahaha bukannya udah biasa tuh anak kelakuannya gitu..”
“yoi, lu mau tidur di sini? Kalau lu mau tidur di sini gue yang tidur di kamar tamu, biar si ardan tidur di kamarnya sendiri..”
“iya gak apa – apa, gue tidur di sini aja, lu tidur sana..”
Kiki menurut, tanpa banyak kata ia masuk ke dalam kamar.  Dalam sekejap aku tidak mendengar suaranya lagi, mungkin ia langsung terlelap.  Pintu terbuka lagi, kini ardan membawa tubuh mabuk terakhir, tapi tampak feddy meracau dan marah – marah pada ardan.
“anjing lu dan, anjing.  Katanya lu temen gue tapi kelakuan lu kaya taek..”
“elu yang taek, taek..” ardan menjatuhkan tubuh feddy di sebelah nolan. Ia tampak menghitung “semuanya ada..” ia melihat ke arahku “eh nu barusan gue liat iras di parkiran, dia kayanya ngikutin gue dari belakang..”
“iras?” ia menyusulku rupanya “oke oke dia udah tahukan gue di sini..”
“kayanya gitu..” pintu yang memang belum dikunci terbuka lagi, kini muncul iras di sana. “hai ras..” sapa ardan pada iras, ia kemudian pergi ke kamar tamu.
“ki, kiki, bangun setan pindah sono, biar si inu sama iras yang tidur di sini..”
Iras menghampiriku. Kedua tanganku terangkat minta di peluk. Ia memburuku, sambil berusaha duduk dan memeluk tubuhku.
“kamu mabuk?” tanyanya sedikit khawatir, ia mengusap kepalaku berkali – kali, sambil mencium keningku.
Aku menggeleng “inu sadar, benar – benar sadar, tenang saja, iras ngapain ke sini kan inu bilang inu pasti nginep..” walau sebenarnya aku senang juga ia ada di sini.
“abis nomor kamu mati, yang lain gak ada yang bisa dihubungi, ini sudah subuh apalagi, iras gak tidur semalaman gara – gara mikirin kamu tau gak, reputasi kalian di club gak ada yang bagus..”
Ardan dan kiki yang muncul dari pintu kamar tamu mengacungkan jari salam damai pada iras “inu sama pak bos tidur di kamar tamu aja ya..” ardan mengangguk – angguk permisi pada iras, takut kena semprot.
“iya dan..” ku tarik tangan iras, aku benar – benar mengantuk dan ingin mengajaknya tidur.   Karena aku yakin ia juga belum tidur.
Iras mengikutiku, begitu sampai di kamar, aku mendorong tubuhnya hingga jatuh di tempat tidur kamar tamu.  Kemudian, ku jatuhkan juga tubuhku, di atas tubuhnya, aku menelungkup di atas tubuh iras.
“aw... ingat kamu itu tujuh puluh kilo sekarang..”
Aku mengabaikan perkataan iras “good night ras, i love you..” kataku sambil perlahan – lahan mulai tidak sadarkan diri.
“good night, sugar..” ia mencium kening kemudian memelukku.
...
Aku dan iras dalam perjalanan pulang, iras yang menyetir, sementara kepalaku masih terus terasa berat.  Efek begadang dan iras yang pagi – pagi sudah menyeretku pulang.  Ku turunkan kaca jendela mobil, tubuhku menggeliat, ada pegal dan nyaman sekaligus setelah tidur beberapa menit yang lalu.

Satu yang pasti, berapapun jumlah nomormu, yang paling penting adalah ketangguhan komitmenmu pada ia yang layak kamu pertahankan.

Nebraska

Mungkin sepanjang saya menulis, menceritakan hidup saya, berkali – kali pernah menyebutkan soal beberapa teman dan geng kebesaran saya astroboy, mungkin selama ini juga saya banyak menceritakan soal petualangan asmara ardan dan kegilaannya, namun kali ini tidak, saya punya cerita soal teman saya yang lain, dia yang tekun berjuang dan tidak berhenti percaya bahwa jika kita benar – benar ingin memiliki seseorang karena mencintainya, suatu saat pasti akan mendapatkannya.
...
Aku mendapatkan sebuah panggilan dari sebuah nomor interlokal, amerika, ku pikir.  Aku memutuskan untuk menerima telpon.  Berangkali jordan atau dheka.
“Nu, gue di Nebraska..” teriak sebuah suara lantang, dari aksen tionghoanya yang kental aku tau dia siapa.
“heh kek, lagi ngapain di sana?” tanyaku agak sedikit heran, yang aku tahu dia sedang kuliah di New York, berarti dia hampir melewati setengah dari negara besar itu untuk sampai ke sana.
“seperti yang dulu gue bilang, gue gak bakal berhenti.” Ada nada yang begitu yakin di dalam suaranya. “gue pasti nemuin fefey di sini, doain..”
Aku tak banyak berkata, terhenyak mendengarnya.  Cinta yang ku pikir hanya romansa SMA sesaat, ternyata tumbuh menjalar dan membesar.  Bahkan sampai membuat Dheka yang penakut dan culun itu berani mengelilingi amerika, hanya untuk menemukan ferica.
Dheka memutuskan sambungan telponnya, seusai aku ikut mendoakannya dan memberinya semangat sepatutnya sahabat.  Aku mematung sebentar di tempat tadi aku menerima telpon.  Rupanya selama ini dheka tidak pernah berhenti.
Ardheka Irsan Datau, atau kami biasanya memanggilnya ‘Akek’ karena tampangnya yang terlalu china. Lebih china dariku yang sejak lama dipanggil ‘koh’. Namun dia dipanggil begitu lebih karena ada alasan kuat lainnya yaitu, karena kadar pikunnya yang melebihi kakek – kakek. Entahlah, yang penting kami bertujuh sangat menyayanginya.
Terutama karena kisah percintaanya yang terlalu mengharukan. Baiklah, mungkin tidak sedramatis yang kalian hendak bayangkan.  Tapi memang, kalau meilhat dari rata – rata cerita cinta diantara kami semua, aku pikir dheka yang paling banyak menderita. Mengingat perjuangannya yang tidak cukup mudah.
Sore itu, aku dan teman – temanku yang lain, termasuk dheka.  Sedang berkumpul di rumah, selepas istirahat kedua, guru biologi kami tidak masuk.  Setelah berhasil menyuap satpam sekolah kami, yang membuatnya membukakan gerbang sekolah, ardan mengusulkan untuk pergi ke mall mengingat kekalahanku ditaruhan tempo hari sewaktu pensi, untuk nonton film selama satu minggu full, diabaikan yang lain.  Lalu aku mengajak mereka ke rumah.  Meski ardan awalnya tidak setuju, namun karena ia kalah oleh suara mayoritas, akhirnya ia ikut juga ke rumahku.
Begitu sampai di rumah, ardan, feddy dan nolan berenang di belakang. Kiki numpang makan ke dapur, dariz dan jordan maen PS, sementara dheka mengikutiku ke perpustakaan kecil punya keluarga kami, di tempat ini biasanya aku mengerjakan PR, makalah, resume, paper, tugas – tugas mading atau sekedar browsing di komputer.
Kali ini, aku terpaksa nongkrong di sini, gara – gara harus mengerjakan makalah kewarganegaraan milik ardan dan nolan yang tidak satu kelompok denganku.  Sebagai ganti dari gagal nonton di bioskop sore ini.  Aku pikir ini lebih baik, daripada harus menjawab pertanyaan mama lagi, gara – gara uang jatahku bulan ini berkurang banyak terus menerus.  Aku hanya tidak mau ia mengetahui kalau aku kalah taruhan hanya gara – gara gagal bawa cewek ke pensi.
Bisa jadi lalapan segarnya dia. Setua – tuanya mama tetap semangat kalau dalam upaya menindas anak – anaknya dengan cibiran.
“nu internet bisa nyari apa aja ya?” tanya dheka dari arah belakang. Aku tidak tahu dia sedang apa, aku hanya sedang merasa pusing, karena harus menyelesaikan tiga makalah sore ini.
“bisa, kemarin tetangga depan rumah, nemuin kucingnya yang udah ilang seharian..” jawabku asal.
“ah yang bener nu? Polisi lalu lintas kalah dong?” aku merasakan dheka mendekat.
“hahaha akek keplek, iyalah gampang ketemunya, tetangga depan rumah si inu kan kakeknya, paling kalo kucingnya ilang gak bakalan jauh dari rumah ini..” aku tergelak mendengar cemoohan jordan. Kepalaku menengok sebentar ke arah dheka. Ia tertegun sebentar, seperti sedang berpikir, tapi kebanyakan karena dia shock setelah jo boom barusan.
“emang lu mau nyari apaan kek? Sticker mobil lu? Si ardan yang ngambil..” sahut daris, sambil tetap fokus dengan stik PS di tangannya.
Perpustakaan kecil ini, memang masih satu ruangan dengan meja televisi yang menampung dvd player, juga PS yang sedang dimainkan oleh daris dan jordan.  Ini sebenarnya hanya ruangan besar yang memberi jarak dari tangga ke pintu kamarku, karena kosong terlalu lebar aku dan mama akhirnya berpikir untuk menggunakannya sebagai tempat aku nonton televisi dan perpusatakaan kami.
“sticker gampanglah dicari lagi, tapi internet beneran bisa nolongin kita kan nu?” kini dheka berdiri persis di sebelahku.
Aku menatapnya sebentar, sepertinya aku mendapatkan firasat kalau tiga makalah yang menungguku, tidak akan selesai hari ini.
“tergantung lu mau nyari apa kek, gue juga gak terlalu ngerti internet lebih banyak, tapi banyak hal yang bisa gue selesein pake internet, termasuk makalah kalian..”
Dheka mematung sebentar, matanya menatap layar komputer di depanku, ia seperti berharap dan ragu pada sesuatu di dalam pikirannya sendiri. Butuh waktu lama sampai ia mau menyebutkan satu kata.
“Nebraska..” mulutnya mengatup, kemudian matanya menatapku “lu bisa nyari nebraska itu dimana?”
Aku merasa seperti pernah mendengar kata itu, seperti sebuah kota atau apapun, dulu papa seringkali menyebutkan banyak negara dan kota yang akan ia singgahi atau ia lewati di dalam penerbangannya.
“itu di amerika ya kek..” aku menduga – duga. Kemudian mataku beralih ke layar komputer, aku menutup window – window pekerjaanku, kemudian membuka tab search baru, aku mengetik kata Nebraska di kolom search wikipedia.
“amerika ya nu? Gue pernah ke washington sama papa, tapi di washington gak ada nama toko kaya gitu...”
“cieeeee akek cieeee... memata – matai kekasih hati ya?” tiba – tiba saja jordan berdiri di samping kami berdua sambil menggoda dheka.
“nah lo...” tanganku menunjuk wajah dheka yang kini mulai memerah. “ada apa nih ada apa, kok gue gak tau?”
“Nu, kan si akek baru aja diputusin eh maksudnya ditinggalin ceweknya ke amerika gara – gara ketauan papanya..” jordan menyabotase. “makanya kek, mending kaya si inu aja gak usah bawa – bawa cewek ke pensi, elu sih ngeyel, anak asrama lu samper juga..”
“ye bumbu dendeng, mana tau gue kejadiannya bakal kaya gini, lagian cukup wajar lah anak SMA pacaran, itu bokapnya dia yang jiwanya terganggu..”
Kami bertiga tergelak mendengarkan dheka.  Tergambar jelas wajah putus asa dan patah hatinya. Aku tidak tahu kalau pensi menyisakan bencana bukan untukku saja. 
“terus hubungannya sama Nebraska apa kek?” tanyaku, tidak ingin memperpanjang penderitaannya.
“paginya, abis pulang dari pensi, dia langsung dikeluarin dari sekolahnya nu, dari info yang gue dapet tadi pagi, dia dibawa ke nebraska..”
Aku mengangguk – angguk mengerti.  Kemudian beralih menatap layar komputer yang sudah menunjukan hasil dari pencarianku soal nebraska.
“nih hasilnya udah keluar kek..” aku menatap dheka sebentar sebelum kembali menatap layar “kayanya Cuma negara bagian dari amerika, negara kecil pula, lihat kepadatan penduduknya juga rendah banget, lu gak pacaran sama sapi kan? Sampai – sampai diasingkan ke daerah gurun gitu?”
“emang itu daerah gurun nu? Yah item donk pacar gue...” keluh dheka terdengar jelas di telingaku.
Sontak daris dan jordan tertawa puas. Mereka sampai tidak fokus dengan permainan PS mereka.
“ini info yang ada di wikipedianya sedikit, gue bahkan gak tau, sejauh mana nebraska dari washington, yang pasti nebraska jauh banget dari bandung.,.” aku menatap dheka. “emang siapa namanya kek? Gue kan gak kenalan kemarin..”
“ferica..” jawabnya lemas. “sabar fey, suatu saat aku bakalan jemput kamu ke sana..” kata dheka, lebih seperti bergumam pada dirinya sendiri.
Aku bangkit dari kursiku, kemudian menepuk pundak dheka sambil berkata kepadanya “sabar, jodoh gak bakal kemana, kalau dia jauh ya memang tugas lu buat ngejar, lu ‘cowoknya’ kek..”
Dheka menatapku beberapa detik, sebelum ia mengangguk mantap.  Mama sudah pulang, aku akan menemuinya di bawah.  Aku membiarkan dheka mencari sendiri soal nebraska di komputerku.
...
Rupanya sejak saat itu, pencarian dheka soal nebraska tidak pernah berhenti, kami bertujuh bahkan tidak pernah menyadari keberadaan sebuah tulisan di kaca belakang mobilnya ‘d nebraska’ adalah kode untuk semua pencarianya soal ferica.
Dheka dan fey, bertemu ketika mereka SMP.  Menurut penuturan dheka sendiri, dheka mendapatkan fey bermula ketika ia mengantar salah seorang temannya untuk ketemuan dengan fey.  Namun apa boleh buat, sejak saat itu, di belakang temannya, dheka yang tertarik pada fey mulai melancarkan serangan tusukan dari belakang.  Dan ia tidak bertepuk sebelah tangan.  Sampai akhirnya, anak kecil yang belum genap akil baligh itu berpacaran.
Sewaktu dheka duduk di kelas tiga SMP, ia pernah main ke rumah fey dengan niatan mengajaknya jalan ke mall bersama.  Urusan jalannya memang tidak ada masalah, namun sejak saat itu papa dan mama fey melarang dheka untuk main lagi ke rumah, sekaligus untuk tidak menemui fey lagi.  Seperti alasan – alasan klasik orang tua lainnya, fey masih kecil, masih harus sekolah, tidak boleh pacaran.
Tapi dheka tidak pernah menyerah, sampai mereka berdua masuk SMA, mereka tetap kukuh pacaran.  Orang tua fey juga mengetahuinya, itu yang membuat fey akhirnya masuk sekolah asrama. Dengan tujuan untuk menjauhkannya dari dheka.  Namun, manusia memang tidak pernah bisa memisahkan apa yang telah tuhan satukan.
Sampai suatu hari, beberapa hari setelah pesta kelulusan kami, kami berdelapan, membicarakan sebuah topik yang selama tiga tahun ini tidak pernah kami coba bahas. Kami rasa bukan hal mudah kehilangan tujuh orang yang sudah seperti sedarah dan sedaging sendiri.  Banyak menanggung pahit dan asam bersama. Yaitu, hendak kemana kami setelah SMA, apa yang akan kami masing – masing lakukan.  Selain janji untuk tetap berkomunikasi dan rutin bertemu, kami saling menanyakan, apa yang akan kami lakukan setelah masa SMA ini selesai.
Aku menjawab ke sukabumi dan membatalkan beasiswaku ke sydney, demi mamaku.  Mereka memang menyayangkan.  Namun akhirnya memberiku semangat dan dorongan yang luar biasa. Nolan ke liverpool, dia memang sudah sejak SD untuk tinggal di kota dari Tim kesayangannya.  Jordan ke jerman, daris ke belanda, dan kiki ke rusia.  Aku yakin mereka berempat akan sering ketemu nantinya. Feddy akan ikut dengan mamanya sementara di kanada, sejak kecil mereka terpisah, dan kali ini feddy bilang tiba gilirannya untuk mengalahkanku sebagai anak mami di dalam geng ini.  Ardan ke las vegas, aku tahu apa yang ada di dalam otaknya itu, meskipun aku tahu kuliahnya pun pasti akan berhasil.  Lalu ketika pertanyaan tiba pada dheka, ia menjawab..
“gue bakal ke new york, gue harus kuliah manajemen bisnis di sana, tapi gue juga bakal ke..” dia menunjuk stiker besar di kaca belakang mobilnya “Nebraska..” katanya yakin. “gue bakal jemput fey ke sana..”
Aku dan enam temanku yang lain tidak banyak bicara memang saat itu, waktu itu, cinta yang ada di pikiran kami hanya cinta – cinta ala anak SMA, yang akan menguap setelah masa remaja ini lewat.  Namun saat itu juga aku salah, bahwa tangan orang yang ku genggam saat inipun, telah aku pacari sejak SMA. Tangan iras...
...
Ini hari kedua setelah dheka menelpon, aku sengaja tidak menceritakannya pada iras, aku sengaja agar ia mengetahuinya cukup dari membaca blog ini saja.  Karena jika aku ceritakan secara utuh, sesuai dengan pandanganku tentang cinta di masa SMA, dia pasti akan sangat tidak setuju.  Karena aku tahu, sejak lama ia berjuang sendiri, sebelum akhirnya aku sadar, bahwa selama ini kebanyakan aku tidak melakukan apa – apa untuknya.
Aku sengaja tidak pernah jauh dari ponselku sendiri, berharap pencarian dheka belum berhenti dan semoga berakhir baik.
Akhirnya setelah menunggu hampir seharian, sebuah nomor yang sama, yang pernah menghubungiku beberapa hari yang lalu, tertera di layar hpku. Aku mengangkatnya..
“hay nu.. dari yang sudah gue pelajari dari iras, bahwa di kondisi seperti ini, gue harus teguh dengan pendirian gue, pendirian yang selama ini gue yakini, bahwa fey masih tetap buat gue..”
“lu gak apa – apa kek..” aku sedikit mencemaskannya.
“ferica ternyata lebih cantik dari sewaktu dia SMA, tapi memang cewek secantik itu pasti banyak yang mau, dan dia sudah punya pacar bule nu, tapi jangan salah, gue punya ardan, yang bisa gue tanya soal tips – tips merebut pacar orang, juga gue punya lu dan iras, yang bisa bantu gue ngejelasin gimana pentingnya mempertahankan cinta yang sudah ada di hati...”
Aku menarik nafas, ternyata api cinta SMA itu sekalipun tidak pernah padam. Mungkin saat ini, kisah ini belum bisa jadi sesuatu yang terdengar indah. Namun suatu saat aku yakin, kebahagiaan dari cinta sejati selalu bersama mereka yang tak berhenti berjuang.
...