Mungkin sepanjang saya menulis, menceritakan hidup saya,
berkali – kali pernah menyebutkan soal beberapa teman dan geng kebesaran saya
astroboy, mungkin selama ini juga saya banyak menceritakan soal petualangan
asmara ardan dan kegilaannya, namun kali ini tidak, saya punya cerita soal
teman saya yang lain, dia yang tekun berjuang dan tidak berhenti percaya bahwa
jika kita benar – benar ingin memiliki seseorang karena mencintainya, suatu
saat pasti akan mendapatkannya.
...
Aku mendapatkan sebuah panggilan dari sebuah nomor
interlokal, amerika, ku pikir. Aku
memutuskan untuk menerima telpon.
Berangkali jordan atau dheka.
“Nu, gue di Nebraska..” teriak sebuah suara lantang, dari
aksen tionghoanya yang kental aku tau dia siapa.
“heh kek, lagi ngapain di sana?” tanyaku agak sedikit heran,
yang aku tahu dia sedang kuliah di New York, berarti dia hampir melewati
setengah dari negara besar itu untuk sampai ke sana.
“seperti yang dulu gue bilang, gue gak bakal berhenti.” Ada
nada yang begitu yakin di dalam suaranya. “gue pasti nemuin fefey di sini,
doain..”
Aku tak banyak berkata, terhenyak mendengarnya. Cinta yang ku pikir hanya romansa SMA sesaat,
ternyata tumbuh menjalar dan membesar.
Bahkan sampai membuat Dheka yang penakut dan culun itu berani
mengelilingi amerika, hanya untuk menemukan ferica.
Dheka memutuskan sambungan telponnya, seusai aku ikut
mendoakannya dan memberinya semangat sepatutnya sahabat. Aku mematung sebentar di tempat tadi aku
menerima telpon. Rupanya selama ini
dheka tidak pernah berhenti.
Ardheka Irsan Datau, atau kami biasanya memanggilnya ‘Akek’
karena tampangnya yang terlalu china. Lebih china dariku yang sejak lama
dipanggil ‘koh’. Namun dia dipanggil begitu lebih karena ada alasan kuat
lainnya yaitu, karena kadar pikunnya yang melebihi kakek – kakek. Entahlah,
yang penting kami bertujuh sangat menyayanginya.
Terutama karena kisah percintaanya yang terlalu mengharukan.
Baiklah, mungkin tidak sedramatis yang kalian hendak bayangkan. Tapi memang, kalau meilhat dari rata – rata
cerita cinta diantara kami semua, aku pikir dheka yang paling banyak menderita.
Mengingat perjuangannya yang tidak cukup mudah.
Sore itu, aku dan teman – temanku yang lain, termasuk
dheka. Sedang berkumpul di rumah,
selepas istirahat kedua, guru biologi kami tidak masuk. Setelah berhasil menyuap satpam sekolah kami,
yang membuatnya membukakan gerbang sekolah, ardan mengusulkan untuk pergi ke
mall mengingat kekalahanku ditaruhan tempo hari sewaktu pensi, untuk nonton
film selama satu minggu full, diabaikan yang lain. Lalu aku mengajak mereka ke rumah. Meski ardan awalnya tidak setuju, namun
karena ia kalah oleh suara mayoritas, akhirnya ia ikut juga ke rumahku.
Begitu sampai di rumah, ardan, feddy dan nolan berenang di
belakang. Kiki numpang makan ke dapur, dariz dan jordan maen PS, sementara
dheka mengikutiku ke perpustakaan kecil punya keluarga kami, di tempat ini
biasanya aku mengerjakan PR, makalah, resume, paper, tugas – tugas mading atau
sekedar browsing di komputer.
Kali ini, aku terpaksa nongkrong di sini, gara – gara harus
mengerjakan makalah kewarganegaraan milik ardan dan nolan yang tidak satu
kelompok denganku. Sebagai ganti dari
gagal nonton di bioskop sore ini. Aku
pikir ini lebih baik, daripada harus menjawab pertanyaan mama lagi, gara – gara
uang jatahku bulan ini berkurang banyak terus menerus. Aku hanya tidak mau ia mengetahui kalau aku
kalah taruhan hanya gara – gara gagal bawa cewek ke pensi.
Bisa jadi lalapan segarnya dia. Setua – tuanya mama tetap
semangat kalau dalam upaya menindas anak – anaknya dengan cibiran.
“nu internet bisa nyari apa aja ya?” tanya dheka dari arah
belakang. Aku tidak tahu dia sedang apa, aku hanya sedang merasa pusing, karena
harus menyelesaikan tiga makalah sore ini.
“bisa, kemarin tetangga depan rumah, nemuin kucingnya yang
udah ilang seharian..” jawabku asal.
“ah yang bener nu? Polisi lalu lintas kalah dong?” aku
merasakan dheka mendekat.
“hahaha akek keplek, iyalah gampang ketemunya, tetangga
depan rumah si inu kan kakeknya, paling kalo kucingnya ilang gak bakalan jauh
dari rumah ini..” aku tergelak mendengar cemoohan jordan. Kepalaku menengok
sebentar ke arah dheka. Ia tertegun sebentar, seperti sedang berpikir, tapi
kebanyakan karena dia shock setelah jo boom barusan.
“emang lu mau nyari apaan kek? Sticker mobil lu? Si ardan
yang ngambil..” sahut daris, sambil tetap fokus dengan stik PS di tangannya.
Perpustakaan kecil ini, memang masih satu ruangan dengan
meja televisi yang menampung dvd player, juga PS yang sedang dimainkan oleh
daris dan jordan. Ini sebenarnya hanya
ruangan besar yang memberi jarak dari tangga ke pintu kamarku, karena kosong
terlalu lebar aku dan mama akhirnya berpikir untuk menggunakannya sebagai
tempat aku nonton televisi dan perpusatakaan kami.
“sticker gampanglah dicari lagi, tapi internet beneran bisa
nolongin kita kan nu?” kini dheka berdiri persis di sebelahku.
Aku menatapnya sebentar, sepertinya aku mendapatkan firasat
kalau tiga makalah yang menungguku, tidak akan selesai hari ini.
“tergantung lu mau nyari apa kek, gue juga gak terlalu ngerti
internet lebih banyak, tapi banyak hal yang bisa gue selesein pake internet,
termasuk makalah kalian..”
Dheka mematung sebentar, matanya menatap layar komputer di
depanku, ia seperti berharap dan ragu pada sesuatu di dalam pikirannya sendiri.
Butuh waktu lama sampai ia mau menyebutkan satu kata.
“Nebraska..” mulutnya mengatup, kemudian matanya menatapku
“lu bisa nyari nebraska itu dimana?”
Aku merasa seperti pernah mendengar kata itu, seperti sebuah
kota atau apapun, dulu papa seringkali menyebutkan banyak negara dan kota yang
akan ia singgahi atau ia lewati di dalam penerbangannya.
“itu di amerika ya kek..” aku menduga – duga. Kemudian
mataku beralih ke layar komputer, aku menutup window – window pekerjaanku,
kemudian membuka tab search baru, aku mengetik kata Nebraska di kolom search
wikipedia.
“amerika ya nu? Gue pernah ke washington sama papa, tapi di
washington gak ada nama toko kaya gitu...”
“cieeeee akek cieeee... memata – matai kekasih hati ya?”
tiba – tiba saja jordan berdiri di samping kami berdua sambil menggoda dheka.
“nah lo...” tanganku menunjuk wajah dheka yang kini mulai
memerah. “ada apa nih ada apa, kok gue gak tau?”
“Nu, kan si akek baru aja diputusin eh maksudnya ditinggalin
ceweknya ke amerika gara – gara ketauan papanya..” jordan menyabotase. “makanya
kek, mending kaya si inu aja gak usah bawa – bawa cewek ke pensi, elu sih
ngeyel, anak asrama lu samper juga..”
“ye bumbu dendeng, mana tau gue kejadiannya bakal kaya gini,
lagian cukup wajar lah anak SMA pacaran, itu bokapnya dia yang jiwanya
terganggu..”
Kami bertiga tergelak mendengarkan dheka. Tergambar jelas wajah putus asa dan patah
hatinya. Aku tidak tahu kalau pensi menyisakan bencana bukan untukku saja.
“terus hubungannya sama Nebraska apa kek?” tanyaku, tidak ingin
memperpanjang penderitaannya.
“paginya, abis pulang dari pensi, dia langsung dikeluarin
dari sekolahnya nu, dari info yang gue dapet tadi pagi, dia dibawa ke nebraska..”
Aku mengangguk – angguk mengerti. Kemudian beralih menatap layar komputer yang
sudah menunjukan hasil dari pencarianku soal nebraska.
“nih hasilnya udah keluar kek..” aku menatap dheka sebentar
sebelum kembali menatap layar “kayanya Cuma negara bagian dari amerika, negara
kecil pula, lihat kepadatan penduduknya juga rendah banget, lu gak pacaran sama
sapi kan? Sampai – sampai diasingkan ke daerah gurun gitu?”
“emang itu daerah gurun nu? Yah item donk pacar gue...”
keluh dheka terdengar jelas di telingaku.
Sontak daris dan jordan tertawa puas. Mereka sampai tidak
fokus dengan permainan PS mereka.
“ini info yang ada di wikipedianya sedikit, gue bahkan gak
tau, sejauh mana nebraska dari washington, yang pasti nebraska jauh banget dari
bandung.,.” aku menatap dheka. “emang siapa namanya kek? Gue kan gak kenalan
kemarin..”
“ferica..” jawabnya lemas. “sabar fey, suatu saat aku
bakalan jemput kamu ke sana..” kata dheka, lebih seperti bergumam pada dirinya
sendiri.
Aku bangkit dari kursiku, kemudian menepuk pundak dheka
sambil berkata kepadanya “sabar, jodoh gak bakal kemana, kalau dia jauh ya
memang tugas lu buat ngejar, lu ‘cowoknya’ kek..”
Dheka menatapku beberapa detik, sebelum ia mengangguk
mantap. Mama sudah pulang, aku akan
menemuinya di bawah. Aku membiarkan
dheka mencari sendiri soal nebraska di komputerku.
...
Rupanya sejak saat itu, pencarian dheka soal nebraska tidak
pernah berhenti, kami bertujuh bahkan tidak pernah menyadari keberadaan sebuah
tulisan di kaca belakang mobilnya ‘d nebraska’ adalah kode untuk semua
pencarianya soal ferica.
Dheka dan fey, bertemu ketika mereka SMP. Menurut penuturan dheka sendiri, dheka
mendapatkan fey bermula ketika ia mengantar salah seorang temannya untuk
ketemuan dengan fey. Namun apa boleh
buat, sejak saat itu, di belakang temannya, dheka yang tertarik pada fey mulai
melancarkan serangan tusukan dari belakang.
Dan ia tidak bertepuk sebelah tangan.
Sampai akhirnya, anak kecil yang belum genap akil baligh itu berpacaran.
Sewaktu dheka duduk di kelas tiga SMP, ia pernah main ke
rumah fey dengan niatan mengajaknya jalan ke mall bersama. Urusan jalannya memang tidak ada masalah,
namun sejak saat itu papa dan mama fey melarang dheka untuk main lagi ke rumah,
sekaligus untuk tidak menemui fey lagi.
Seperti alasan – alasan klasik orang tua lainnya, fey masih kecil, masih
harus sekolah, tidak boleh pacaran.
Tapi dheka tidak pernah menyerah, sampai mereka berdua masuk
SMA, mereka tetap kukuh pacaran. Orang
tua fey juga mengetahuinya, itu yang membuat fey akhirnya masuk sekolah asrama.
Dengan tujuan untuk menjauhkannya dari dheka.
Namun, manusia memang tidak pernah bisa memisahkan apa yang telah tuhan
satukan.
Sampai suatu hari, beberapa hari setelah pesta kelulusan
kami, kami berdelapan, membicarakan sebuah topik yang selama tiga tahun ini
tidak pernah kami coba bahas. Kami rasa bukan hal mudah kehilangan tujuh orang
yang sudah seperti sedarah dan sedaging sendiri. Banyak menanggung pahit dan asam bersama.
Yaitu, hendak kemana kami setelah SMA, apa yang akan kami masing – masing
lakukan. Selain janji untuk tetap
berkomunikasi dan rutin bertemu, kami saling menanyakan, apa yang akan kami
lakukan setelah masa SMA ini selesai.
Aku menjawab ke sukabumi dan membatalkan beasiswaku ke
sydney, demi mamaku. Mereka memang
menyayangkan. Namun akhirnya memberiku
semangat dan dorongan yang luar biasa. Nolan ke liverpool, dia memang sudah
sejak SD untuk tinggal di kota dari Tim kesayangannya. Jordan ke jerman, daris ke belanda, dan kiki
ke rusia. Aku yakin mereka berempat akan
sering ketemu nantinya. Feddy akan ikut dengan mamanya sementara di kanada,
sejak kecil mereka terpisah, dan kali ini feddy bilang tiba gilirannya untuk
mengalahkanku sebagai anak mami di dalam geng ini. Ardan ke las vegas, aku tahu apa yang ada di
dalam otaknya itu, meskipun aku tahu kuliahnya pun pasti akan berhasil. Lalu ketika pertanyaan tiba pada dheka, ia
menjawab..
“gue bakal ke new york, gue harus kuliah manajemen bisnis di
sana, tapi gue juga bakal ke..” dia menunjuk stiker besar di kaca belakang
mobilnya “Nebraska..” katanya yakin. “gue bakal jemput fey ke sana..”
Aku dan enam temanku yang lain tidak banyak bicara memang
saat itu, waktu itu, cinta yang ada di pikiran kami hanya cinta – cinta ala
anak SMA, yang akan menguap setelah masa remaja ini lewat. Namun saat itu juga aku salah, bahwa tangan
orang yang ku genggam saat inipun, telah aku pacari sejak SMA. Tangan iras...
...
Ini hari kedua setelah dheka menelpon, aku sengaja tidak
menceritakannya pada iras, aku sengaja agar ia mengetahuinya cukup dari membaca
blog ini saja. Karena jika aku ceritakan
secara utuh, sesuai dengan pandanganku tentang cinta di masa SMA, dia pasti
akan sangat tidak setuju. Karena aku
tahu, sejak lama ia berjuang sendiri, sebelum akhirnya aku sadar, bahwa selama
ini kebanyakan aku tidak melakukan apa – apa untuknya.
Aku sengaja tidak pernah jauh dari ponselku sendiri,
berharap pencarian dheka belum berhenti dan semoga berakhir baik.
Akhirnya setelah menunggu hampir seharian, sebuah nomor yang
sama, yang pernah menghubungiku beberapa hari yang lalu, tertera di layar hpku.
Aku mengangkatnya..
“hay nu.. dari yang sudah gue pelajari dari iras, bahwa di
kondisi seperti ini, gue harus teguh dengan pendirian gue, pendirian yang
selama ini gue yakini, bahwa fey masih tetap buat gue..”
“lu gak apa – apa kek..” aku sedikit mencemaskannya.
“ferica ternyata lebih cantik dari sewaktu dia SMA, tapi
memang cewek secantik itu pasti banyak yang mau, dan dia sudah punya pacar bule
nu, tapi jangan salah, gue punya ardan, yang bisa gue tanya soal tips – tips
merebut pacar orang, juga gue punya lu dan iras, yang bisa bantu gue ngejelasin
gimana pentingnya mempertahankan cinta yang sudah ada di hati...”
Aku menarik nafas, ternyata api cinta SMA itu sekalipun
tidak pernah padam. Mungkin saat ini, kisah ini belum bisa jadi sesuatu yang
terdengar indah. Namun suatu saat aku yakin, kebahagiaan dari cinta sejati
selalu bersama mereka yang tak berhenti berjuang.
...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar