Aku menutup pintu mobil, iras di sampingku
dengan sunglasses besarnya mengemudikan mobil.
Kami hendak pulang ke bandung, baru senin pagi kembali lagi ke sini.
Sukabumi agak sedikit cerah kali ini, sehingga jalanan cukup ramai.
“gak ada nonton, gak ada nongkrong, gak ada
makan di luar, gak ada alibi beli buku atau…”
“dan gak pernah ada…” aku memotong perkataan
iras. Besok ia akan pergi ke semarang
untuk urusan bisnisnya. Sehingga penyakit paranoidnya muncul, ia pergi sedikit
saja kekhawatirannya bisa memberikan peraturan – peraturan yang tidak boleh aku
langgar.
“kan iras sayang inu, nurut ya bageur…” ia
banting stir, kami memasuki jalan RE martadinata.
“inu pengen milk shake atau minuman apa lah,
di depan berhenti dulu ya…” aku mencari hp ku lagi, karena akan segera turun.
“di depan dimana sayang?”
“MCD…” jawabku singkat.
Beberapa orang melihatku aneh, ketika turun
dari mobil. Mungkin efek dari singlet hitam tidak berlengan yang ku kenakan,
atau mereka mungkin heran karena bulu ketekku berkeliaran. Aku tidak perduli. Ketika topi ku balikan ke belakang. Dan berjalan cepat – cepat menuju mcd.
“selamat siang, mau pesan apa pak?”
Aku dipanggil bapak untuk kesekian kalinya di
restoran ini. Aku menunjuk gambar, pelayan tersebut mengangguk dan membuatkan
pesananku.
“koh…” koko inu, panggilan ku dari anak – anak
kampus, ketika mereka tahu kalau kakek ku seorang tiong hoa tulen.
“yap…” jawabku mencari asal suara, seorang
temannya berdiri tidak jauh dariku, ia membawa cup minuman di tangannya.
“gak sama si bos?” Tanya jep, walau tidak satu
kelas tapi aku mengenalnya cukup baik.
“tuh..” aku menunjuk pada iras yang baru saja
muncul di pintu, iras tersenyum pada jeff “lagi ngapain jeff? Si bintang
kemana?”
“si bintang dinas sore, dan gue jadi jomblo
dah malam minggu ini…”
“lu mau ikut ke bandung?” Tanya iras, aku
menatapnya, tumben sekali iras ngajak orang di mobil kami.
“ngapain?” Tanya jeff spontan.
“ya jalan – jalan lah, dari pada lu dianggurin
gitu sama pacar lu itu..” jawab iras lagi.
“hahaha si bos becanda nya bisaan, gue gak
pacaran kali sama dia…”
“whatever…” selaku, ketika pesananku sudah
muncul di meja kasir.
“gue pengen oleh – oleh dong dari bandung,
gentengnya gedung sate juga boleh…’ kata jeff ia menyeruput habis minuman cola
nya.
“gue
bawain pinus nya ciwalk, kalo gak abis, lu yang gue abisin…”
Iras tertawa mendengarkan becandaan kami
berdua.
“kalau lu gak bawa dari bandung tuh pinus,
jangan harap mobil lu aman di kampus…”
“oohh sayang. Lihat pacar kamu di ancam…” aku
menatap iras secara berlebihan, membelalakan mata sambil memegang tangannya.
“lu cari mati?” iras balik mengancam jeff
Tentu saja ia tidak takut, kamis udah sering
becanda seperti ini.
“sayang, inu pengen ke toilet..” aku berbalik
arah dan mencari toilet meninggalkan iras dan jeff.
“sayang, ada uang receh? Dompet iras di
mobil…” kata iras dari balik pintu toilet.
Aku berada di dalam kubikel toilet sendirian tentunya.
“ada…” jawabku dari dalam.
Aku membuka pintu toilet begitu selesai, iras
menyandar di dinding toilet. Aku
menghampirinya sambil tersenyum, ia tidak bisa jauh sedikitpun.
Sambil menggenggam tangannya kami berjalan
keluar, kembali ke parkiran. Kami harus
segera berangkat ke bandung sebelum hari semakin siang dan jalanan macet. Banyak waktu yang harus aku habiskan juga ku
manfaatkan sebaik mungkin dengan iras, sebelum besok ia ke semarang.
“besok iras ke semarang jangan lama – lama ya,
tahu kan kalau inu bakalan kangen berat selama iras di sana, sama bingung juga mau ngapain
kalau iras gak ada…”
“iras bakal usahain pulang cepet…” kata iras
sedikit menenangkanku.
Kami berdua berdiri di pintu masuk utama plaza
sukabumi. Hendak ke parkiran. Namun aku
melihat sebuah pemandangan mengejutkan di sana, jeff masuk ke dalam sebuah
mobil avanza. Aku mengenalinya, sewaktu
dinas di rumah sakit kemarin, seorang dokter muda membawa mobil itu juga.
Aku kebingungan, kalau dia jalan sama dokter
itu. Bagaimana dengan nasib si bintang? Ya walau mereka tidak memiliki komitmen
namun aku tahu keduanya, saling menyayangi satu sama lain.
Iras tidak menyadari hal itu, ia segera masuk
ke dalam mobil. Aku menyusulnya, ku
tatap orang di sebelahku. Setidaknya ada yang sangat aku syukuri begitu
mengingat perjalanan kami selama ini, iras yang terus mengajakku berjuang,
komitmen kami, kebahagiaan kami, membuatku merasa beruntung ketika ku lihat
orang lain yang membenturkan kebahagiaannya sendiri hanya karena ketidak
mungkinan.
Itu yang ku tahu dari jeff dan bintang
sehingga mereka tidak pernah saling bertemu pada sebuah keputusan, sehingga
bintang tetap lugu, dan jeff tidak berhenti bertualang. Ku harap mereka bisa
bertemu suatu saat di suatu tempat, ketika mereka berhasil belajar, berhasil
tahu apa itu cinta.
…
Aku memandang kekompakan jeff dan bintang
dalam beberapa hal, keakraban mereka, persahabatan dan kedekatan mereka semua
orang di kampus sangat tahu kedekatan mereka berdua. Hanya saja siapa yang
sangka kalau ada rahasia lain yang tidak diketahui banyak orang.
Selepas apel pagi, aku melihat bintang di
barisan lain. Kami kebetulan sama – sama kebagian shif pagi kali ini. Aku yang pernah naksir bintang beberapa bulan
lalu, membuat iras kadang melarang aku untuk dekat – dekat dengannya.
“be… lagi dinas dimana?” aku berusaha berjalan
sejajar dengan BB, alias bebe alias Bintang Benjamin.
“di OK nu, dinas di syaraf ya? Sama si jeff
gak? Dari minggu ngilang tuh anak…” firasatku menguat soal ada sesuatu antara
jeff dengan bebe, untuk apa dia mengkhawatirkan orang lain, lagi pula di sini
kami semua mahasiswa, teman satu sama lain, rasanya tidak perlu menanyakan
kabar atau keberadaan mahasiswa lain.
“bener kan lu berdua pacaran?” aku merendahkan
nada suaraku, aku tahu mereka berdua bukan aku dengan iras. Kalau pun mereka pacaran mereka pasti
menutupnya rapat – rapat.
Bebe diam sebentar, ia memandang ke
sekelilingnya, sebelum beralih padaku.
“kalau kita sayang, kita tidak perlu pacaran
kan? Cinta gue yakin urusan nya tidak sesingkat itu…”
Aku tahu, ada yang tengah kena hukum gantung
kali ini.
“tapi lu cinta sama si jeff gak?”
Bebe tidak menjawab, sampai kami akan berpisah
di lorong yang memisahkan antara stasi saraf dengan ruangan bedah. Bebe seperti
mempertimbangkan.
“sejak persaingan kami jadi ketua angkatan,
dia sudah bikin kesan pertama yang menarik…” bebe membuang pandangannya, sambil
menunduk dan masuk ke dalam ruangan bedah.
Pemilihan ketua angkatan itu berarti dua tahun
lalu ketika kami pertamakali masuk. Jeff sendiri sering curhat, kalau ia
menyukai bintang sejak lama. Aku pernah bertanya pada iras, apakah inisiatif
awalnya mencariku berasal dari kekaguman? Iras membenarkan hal itu, menurutnya
itu yang membuatnya mau memperjuangkanku.
Lalu ku pikir ini baik buat jeff dan bebe,
cinta yang besar itu bisa bermula dari sama – sama saling mengagumi. Sebelum
memutuskan untuk berjuang bersama – sama.
…
Tiara dan ervina, sedang sibuk, mempersiapkan
seminar untuk studi kasus kelompok kami, kami harus mempresentasikan kasus
kelolaan kami di statsi saraf. Kasus ku yang mereka putuskan untuk dijadikan
bahan seminar, walau seminarnya masih tiga minggu lagi namun kedua teman cewek
ku ini ingin waktu persiapan kami lebih banyak.
Aku ikut. Memang semua mahasiswa cewek
kelakuannya seperti itu dimanapun. Padahal kasus seperti itu semalam pun bisa
dibuat kalau hanya untuk bahan seminar.
“yang seminar minggu ini kelompok siapa?”
tanyaku pada dua cewek yang lagi serius di depan laptop ervina.
Tiara yang membacakan dan ervina yang mengetik
saking serius nya mereka tidak ada yang menjawabku.
“gue nanya nyonya – nyonya…”
“eh iya nu, kelompok nya si jeff, minggu
depannya lagi kelompok si bintang baru minggu ketiga kelompok kita…”
“oh begitu…” aku mengangguk – angguk
membayangkan bakal ada diskusi menarik antara dua kepala suku di kelas, si jeff
dengan si bintang. Jeff jadi pemateri,
sementara si bintang bakal jadi audience yang bakal memberikan banyak
pertanyaan.
Sayangnya, mungkin kalau saja aku dan iras
yang berdiskusi tersebut pasti ada selingan “sayang paham sama jawabannya..”
dan aku tahu jeff dan bintang tidak akan melakukan itu.
…
“ada yang ingin saya tanyakan, kenapa di
diagnose kedua kelompok anda mengangkat kelebihan volume cairan? Padahal dari
data objektif dan data subjektif yang ditampilkan jelas lebih mengarah pada
kekurangan volume cairan. Seperti, warna urine nya yang keruh, volume urine
nya, bahkan ibu klein sendiri mengatakan bahwa klien berkemih hanya sedikit…”
kata bintang dari arah kursi audience.
Wajah jeff memucat, seperti sadar bahwa ia sudah salah membuat diagnosa.
Namun aku tahu, tidak mungkin seorang jeff diam.
“ya betul, memang gejala yang kita lihat,
bahkan data yang kita ambil dari DS DO menunjukan kekurangan, tapi kita lihat
dari patofisiologis, perjalanan penyakit GNA ini, dimana glomerulus yang
terinfeksi bisa menebal dan menjebak cairan di sana, terjadi edema di ginjal,
dan terjadilah kelebihan volume cairan tersebut…” aku faham maksud jeff. Ia
memutuskan diagnosa berdasarkan teori yang ada, bukan pada apa yang ia temukan
di pasien. Tidak salah memang, karena di studi kasus seperti ini kebanyak
penguji menginginkan presentasi kasus berdasarkan teori yang sudah ada. Bukan
menemukan sebuah temuan baru.
“tapi apa edema di ginjal ini bisa dilihat
kasat mata? Mana tanda yang mengarah pada edema ginjal ini…” bintang semakin
sengit, walau ia masih terlihat kalem. Dan anehnya yang bisa mengalahkan jeff
di diskusi hanya bintang.
Aku menatap tian yang duduk di sebelahku, ia
menyikutku sambil tersenyum.
“ssssttt..” tian mencolek ku “nih orang
berdua, kalau pacaran nya kaya gini juga gak sih? Segala teori – teori mereka
bawa – bawa..” kemudian tian cekikikan.
Aku pun membayangkan lucu hal tersebut.
“tadi sudah saya tampilkan berapa nilai
hematocrit nya… 39u/l… itu lebih dari infeksi…”
“hasil lab yang lain? Ada USG ginjal? Atau
rongga abdomen?”
“saya baru tahu kalau perawat bisa baca USG..”
tiba – tiba saja celetuk jeff. Dokter, perawat senior, dosen kami dari kampus
dan teman – teman ku yang lain menatap ke arahnya. Memang betul USG hanya ada di area dokter,
hanya dokter yang mempelajari dan bisa membacanya, namun banyak juga perawat
yang mempelajarinya, untuk menambah bahan pertimbangan bagi kondisi pasiennya
dan tindakan perawatan apa yang harus diberikan.
Aku mengangkat tangan. Semakin tertarik dengan
diskusi antar dua sejoli ini.
“saya ingin menambahkan..” ajuku pada moderator.
Takdir yang bertindak sebagai moderator
mempersilahkanku. Aku berdiri, seseorang
memberikan ku mic.
“dir coba balik slide ke analisa data…” takdir
memindahkan slide ke bagian analisa data.
“jeff sebenarnya tidak ada yang salah dengan analisa data ini, diagnosa
nya juga bisa jadi ada dua, juga ada beberapa hal yang seharusnya tidak
dimasukan, kalau kalian mau mengangkat diagnosa kelebihan volume cairan,
seperti jumlah urine, karakter urine, dan saya rasa tidak salah kalau satu
pasien ada dua diganosa yang sebenarnya tidak boleh seperti ini, namun karena
tanda dan gejala yang mendukung, saya rasa mungkin saja membuat diagnosa
kekurangan dan kelebihan volume cairan pada pasien ini…”
Tampak jeff mempertimbangkan namun kemudian
mengangguk, aku menatap bintang ia juga tampak setuju dengan yang barusan aku
katakan.
…
Akhirnya selesai seminar aku, jeff dan bebe
makan siang bersama di kantin rumah sakit.
Tidak habis – habisnya aku menggoda jeff dan bebe, mereka masih agak
gondok – gondokan nampaknya.
“gak ada gunanya nanya kaya gitu be, bisa jadi
masalah, cara bagus buat gue dapat nilai seminar jelek…” kata jeff menggerutu.
“ya bukan begitu juga, kalau gak dilurusin
nanti terus salah sampai kemana – mana…”
“bilang aja gak ada bahan lagi buat nanya,
padahal kemarin kamu ikutan juga ngerjainnya kan?”
Aku terbelalak.
“hayooo ngerjain di mana lu berdua?” aku
menunjuk muka mereka berdua.
“di kostan lah Nu…” jawab jeff cepat.
“eh lu berdua sebenarnya jadian gak sih?”
begitu mendengar pertanyaanku tampang mereka berdua mendadak berubah memerah
dan jadi canggung seketika “eh biasa aja kali, sama gue mah buka – bukaan aja,
lagian kalian cocok kok…”
“iya cocok, gue yang bikin kasus dia yang
nyontek..” jeff cemberut lagi, mungkin dia masih kesala sama si bebe soal dia
dicecar banyak pertanyaan di ruang seminar tadi.
“udah dong, udahan ngambeknya, kan kemarin
udah jalan – jalan ama dokter..” bebe tersenyum jail pada jeff.
Hampir aku nanya elu tau be?
“Cuma nganter dia beli manisan buat ibu nya
kok, tenang aja, cemburu ya?” jeff membalas.
“engga, ngapain orang beli manisan doang
dicemburuin, ribet…” kata bebe.
Aku mulai bisa membaca, kedataran sifat bebe
yang jadi masalah, dan jeff yang selalu ingin mendapatkan kepastian. Bagaimanapun dua hal itu akan selalu jadi dua
rel yang berdampingan namun tidak pernah bertemu di satu tujuan.
“ya udah jadinya kan gak usah dibahas, lagian
kemarin kenapa gak ikut..” jeff nyemprot lagi.
“kan takut ganggu orang pacaran…” bebe tidak
kalah datar lagi.
“aku ke ruangan duluan deh, kalian lanjutin
aja berdua..” jeff bangkit dari kursi sambil bergegas membawa laptopnya.
Aku cengok sendiri, masih tidak mengerti apa
yang sebenarnya terjadi pada sejoli ini.
“ada apa sih be sebenarnya?”
Tidak ku duga bebe malah mengedikan bahu dan
menghisap sedotan padahal jus di gelasnya sendiri sudah habis.
“bahagia kan hak nya setiap orang nu.. biar
dia yang memutuskannya sendiri…”
…
Jam tujuh malam lewat beberapa menit, aku dan
iras sedang ada di dapur, membersihkan dapur, alat masak dan semua yang kami
pakai untuk makan malam. Iras pulang cepat hari ini, setelah aku protes gara –
gara dia betah di showroom.
“jadi kamu ke kosan si jeff?” kata iras sambil
menyusun piring – piring yang sudah bersih ke dalam rak.
Aku mengangguk.
“hu’um… inu perlu format presentasi buat
seminar punya kelompok dia..”
“okeh iras nyari kunci mobil dulu..” iras
berbalik hendak ke ruang tamu.
“kalau kamu capek, kamu bisa tunggu di rumah,
tadi juga kan inu bilang inu mau ke sana sendirian, kosan si jeff kan gak
jauh…”
“udah malam sayang, gak aman kamu keluar
sendirian..” iras mengenakan jaketnya, sambil membawa satu buah jaket
lagi. Kemudian ia kembali ke dapur,
memakaikanku jaket Barcelona miliknya.
“baru jam tujuh, jeleeekkk…” mataku beradu
persis dengan mata iras.
“kalau mulai gak nurut, iras suka mulai mikir
yang aneh – aneh tau yank…” ia menaikan relsluting jaketku. “otak iras, otak
orang biasa, curiga atau berpikir negative selalu bisa terjadi kapan saja…”
Ku pegang kepala iras, kedua tanganku
menangkap kedua sisi wajahnya. Ia mulai bawel mala mini.
“muaaccchhh…” ku tabrakan bibirku tepat di
bibirnya.
Tangannya pelan – pelan melingkar di
pinggangku, kedua matanya tertutup. Sementara kaki ku sampai jinjit segala,
menahan sesuatu yang sebenarnya bisa keluar begitu saja tanpa ditahan.
“okeh, iras gak bawel lagi…” iras tahu kalau
aku menciumnya itu tandanya aku ingin dia diam. “hayu berangkat…” ia
menggenggam tanganku.
Sambil tersenyum akhirnya aku mengikuti
langkah – langkah iras, keluar dari rumah, masuk ke dalam mobil, duduk di
sampingnya. Lalu pelan – pelan mobil pun meninggalkan rumah.
…
“yank, gak bisa masuk nih…” aku kaget tiba –
tiba iras ngomong kaya gitu.
“hah apaan yank?”
“itu ada mobil depan kosan si jeff, tumben
bener tuh anak diapelin mobil…”
Ku lihat memang ada sebuah mobil di depan
pintu kosan si jeff. Namun aku kenal
dengan mobil ini, mobil yang sabtu lalu menjemput si jeff di depan plaza
sukabumi.
“ya udah iras parkir di pinggir jalan aja ya,
inu masuk duluan…”
Iras setuju, aku pun turun duluan, menyebrang
jalan kemudian berjalan menuju deretan kosan jeff.
Sebelum sampai di depan pintu kosan jeff,
pintunya terbuka. Jeff keluar dari sana, membawa kantong plastic sampah.
“hay nu, ku pikir gak jadi… ayo masuk…” jeff
mengajak ku masuk ke dalam kosan nya.
“ada siapa jeff? Kaya nya ni mobil gue kenal…”
Aku menengok sebentar ke arah jalan, khawatir
karena iras tidak segera menyusulku.
Iras muncul di gerbang kos – kosan jeff. Aku pun masuk ke kosan jeff. Begitu sampai di pintu, seorang yang agak
china tengah asyik di depan televisi jeff main PS.
Indra, dokter yang menjemput jeff kemarin itu.
Dan itu memang mobilnya.
“indra…” ia mengulurkan tangan. Berkenalan,
kemudian tersenyum lebar.
“rifnu, panggil inu…” aku membalas jabatan
tangannya. Kosan jeff agak lebar, walau ada tv di sini, di bagian lain jeff
masih bisa selojoran sambil mengerjakan tugasnya.
Iras muncul di pintu.
“wuih ada PS nih, yank iras boleh main?”
Aku mengangguk tentu saja “gak usah lama –
lama, kita balik lagi…”
“santai aja kali nu, emang mau pada kemana?
Sini mana flasdisk nya..”
Ku berikan flasdisk ku pada jeff yang langsung
ia colokan di USB laptopnya. Sementara itu iras sudah larut dengan permainan PS
bersama dokter setengah china itu.
“udah lama pacaran ama si jeff dok?” tanyaku
asal.
Jeff salah tingkah, si dokter tidak kalah juga
begitu.
“Tanyain aja sama jeff nya sendiri..”
Aku memandang jeff “No…” ia menggeleng.
“kalau gak ada orang bilangnya ditambah yes
kok nu, oh yes oh no…” kata indra sambil berkelakar. Iras menatap aneh, mendengar hal begituan
buat iras, kaya kucing lihat air di gayung.
“laku juga lu jeff…” iras tambah merendahkan.
Jeff hanya senyum – senyum. Kemudian ia
mengambil sebuah hp yang menyala di sampingnya.
“nih Bianca…” jeff memberikan hp tersebut pada
indra.
Mendengar nama itu indra berdiri kemudian
keluar dari dalam kosan. Berjalan mondar mandir di luar. Sampai beberapa menit kemudian, ia kembali
dan hanya berdiri di pintu.
“aku nyamperin Bianca dulu, nanti pagi kita
gak bisa berangkat bareng kayanya, Bianca minta dianter ke puskesmas, gak apa –
apa kan?”
“iya gak apa – apa, ini PS gak dibawa…”
“gak usah lah, besok aja di rumah aku juga gak
ada yang nyentuh, di sini kan banyak yang maenin…” tampak indra merapihkan
penampilannya “bos – bos semua, saya pamit ya..”
Aku dan iras mengangguk, memperhatikan orang
tersebut sampai ia keluar bersama mobilnya.
“Bianca siapa jeff?” kataku sambil meloncat ke
samping iras, hendak melawannya main PES.
“pacarnya.. mungkin hampir tunangan, mereka
udah pacaran sejak SMP…”
“lah terus?”
“gak ada terusan…” jawab jeff dia sibuk terus
dengan laptopnya.
“lah kok mau pacaran ama dia…”
“gue gak pacaran, gue Cuma dapat jatah dari
senin sampai jumat sama dia, sabtu minggu dia sama ceweknya…”
“keren elu dong, dapat waktunya paling lama..”
iras menimpali.
“dalam memiliki seseorang kayanya gak ada
batasan ya bos, termasuk waktu..” suara jeff melemah.
“pantes lu gak mau gue sebut – sebutin ama si
bebe…” kataku mengingat waktu makan siang tadi kami bertiga.
“si bebe nya datar – datar gitu terus nu, aku
sayang sama dia, tapi dia gak pernah sedikitpun ngasih suatu action kalau dia
juga sayang …”
“sayang hujan…” iras menyela menatap khawatir.
“terus indra sayang lu? Lu sayang dia?”
“mungkin..” jeff mengedikan bahu.
“lah terus itu dapat jatah kalian sama – sama
dari senin sampai jum’at..” bagaimanapun aku agak semakin bingung dengan apa
yang si jeff pikirkan. Dan betapa rakusnya dia.
“gak tau nu, kalau sama indra aku selalu
merasa berjuang, berjuang untuk perhatiannya dia, memperjuangkan supaya akhir
pekan juga bisa sama dia, memilikinya seratus persen tanpa harus sabtu minggu
dia bilang gak bisa ketemu.. dan si bebe gak menimbulkan rasa itu sama sekali…”
Ku lihat iras menghembuskan nafas sambil
menggelengkan kepala.
“jadi intinya, lu cinta si indra karena lu
berjuang demi dia tapi lu sayang sama si bebe karena dia gak melakukan apapun
buat lu, gitu?” Tanya iras pada jeff.
“kurang lebih kaya gitu bos…”
Kemudian jeff sibuk dengan printer sedangkan
aku dan iras melanjutkan permainan PES kami.
seperti biasa, iras Barcelona aku real Madrid. Asyik bermain selama
beberapa menit dari sudut printer, printer dengan orangnya lagi menggerutu.
“sialan ih nih printer pas lagi dibutuhin aja
ngamuk…”
“ke rumah gue aja jeff…”
“jauh nu, males gue bolak balik nya, laporan
ini harus diprint sekalian dijilid juga malam ini, besok pagi harus ada di meja
dosen sama meja CI..”
“terus lu mau ke warnet? Nih bawa mobil gue…”
iras melemparkan kunci mobil pada jeff. Sama seperti melemparkan wiskash untuk
burung.
“telpon aja si indra tadi, dia kan pasti belum
jauh – jauh amat…”
“takut dia udah ama ceweknya.. lagian takut
ngerepotin…”
“telpon, lu kan harus nyoba dulu…” kataku
sambil tetap focus dengan layar tv.
“gak…” jeff kukuh.
“si bintang? Dia kan punya warnet, ada
fotocopyan juga kan deket rumahnya…”
Jeff tampak mempertimbangkan, ia menatap
laptop dan printernya yang kali ini tampak brengsek.
“dia abis pulang dines siang nu, takut
kecapean ah…” salah satu sisi positif
yang dimiliki jeff dia tidak pernah mau menyulitkan orang lain, merepotkan
orang – orang di sekitarnya, meskipun pekerjaaan kelompok, kadang kalau teman –
teman kelompoknya kabur akan dia kerjakan dengan senang hati sendirian. Sebagai
seorang teman dia memang cukup mampu diandalkan, namun kadang suka marah –
marah juga kalau tidak dapat bantuan.
“indra gak bisa diharepin, ya udah deh telpon
si bebe aja…” akhirnya jeff mengangkat telponnya. “hallo be… ini printer di
kosan gak jalan, bisa prinin dulu? He’eh… he’eh… iya harus dikumpulin besok
masalahnya, he’eh… besok dinas pagi soalnya, tapi di sini hujan… oh iya…”
Jeff selesai menelpon. Ia melemparkan hpnya.
“gimana jeff?” tanyaku lagi, skor ku dengan
iras sudah dua satu, padahal aku banyak sekali kecolongan gara – gara terus
ngobrol sama jeff.
“dia mau ke sini, gue disuruh ngirim laporan
gue ke emailnya dia, mau dia print sekalian dia jilid terus mau dia anterin ke
sini..”
Aku menghela nafas, iras sempat menghentikan
permainannya mendengar hal itu.
“jeff, lu bilang bebe datar? Sadar gak kalau
dia lagi memperjuangkan lu, dia mau datang ke sini…”
“orang mungkin akan memperjuangkan orang yang
dicintainya, tapi yang membuat bahagia adalah orang yang memperjuangkannya
jeff…” tiba – tiba sahut iras.
“sadar gak kalau lu salah jeff? Lu
memperjuangkan indra apa indra memperjuangkan lu?”
“dia ngasih waktu paling lama buat gue dari
senin sampai jumat?”
“lu puas bisa memiliki dia Cuma lima hari
selama seminggu? Si bebe kurang apa?”
Jeff diam, iras mengajak ku untuk kembali ke
permainan. Di luar hujan semakin deras, membuat aku dan iras malas pulang,
karena itu harus lari – lari menuju mobil sambil kehujanan di rumah harus mandi
dan ganti baju lagi.
Sampai sekitar satu jam kemudian, aku dan iras
masih asyik maen PES, sementara si jeff asyik sendiri dengan laptopnya. Sampai ia berdiri, mengambil payung di sudut
kamarnya. Kemudian ia lari keluar.
Tidak lama, ia muncul lagi di pintu bersama si
bebe.
“hey be..”
“hey.. jeung pak bos oge ning..” bebe
menyalami iras juga. Kemudian ia masuk
ke dalam kamar sambil menurunkan tas gendongnya. “ini sudah aku print semuanya,
sekalian aku jilid, dicopy tiga, sesuai pesanan…”
Jeff mengangguk – angguk “sama siapa ke sini?”
“sopir angkot…” jawab bebe sambil datar
seperti biasa, mungkin itu kelemahannya, dia ngomong kaya gimanapun tetap tanpa
ekspresi “ini batagor, kamu belum makan pan?”
Iras tersenyum melihat apa yang bebe lakukan.
Aku semakin kesal sendiri pada si jeff.
“emang lu besok gak dines be, mau balik jam
berapa dari sini?”
“besok dinas siang nu, jadi nyantai lah…” ia
menjawab sambil merapihkan jaketnya yang basah.
“oh gitu, tidur aja di sini, kosan si jeff
lega gini…”
“iya gak usah pulang lah, lagian hujannya gak
berhenti…”
…
Aku dan iras memutuskan pulang ketika hujan
hampir berhenti, suasana sehabis hujan tidak mungkin mengajak bebe pulang
juga. Jelas mereka punya banyak waktu
untuk memperbincangkan banyak hal yang terjadi di antara mereka.
“udah laporan di prinin, dijilid sekalian, di
copy, dianterin, dibeliin batagor juga, naek angkkot, hujan – hujanan, kalau
itu iras kamu mau ngapain?” Tanya iras di sampingku sambil menyetir pulang.
“inu bakal peluk kamu kenceng – kenceng gak
usah dilepasin..”
“tapi mungkin kita juga harus tahu apa alasan
kuat si jeff memilih si dokter itu..”
Aku menggeleng. Meragukan apapun yang ada di dalam kepala si
jeff.
“kenapa urusan berjuang harus berbeda buat
setiap orang?” kataku lebih seperti bertanya pada diri sendiri. Mataku berlari
keluar dari dalam mobil dan aku tau iras menatapku berkali – kali. “makasih
kamu mau memperjuangkan semua yang kita yakini sama – sama ras…”
“kalau tidak begitu iras bisa apalagi untuk
mempertahankan inu, kebahagiian inu segalanya buat iras, terutama hidup inu…”
“tapi kenapa orang yang benar – benar sudah
dicintai, diperjuangkan, sudah seberuntung itu masih tidak tahu diri…”
“jangan pernah samakan kisah orang lain dengan
milik kita berdua sayang, mereka punya cerita sendiri, mereka punya masalah, mereka
bisa menyelesaikannya sendiri…”
“mereka teman inu ras, masalah mereka masalah
inu juga..”
“tidak untuk urusan hati, kalau inu peduli
iras ingin lebih kamu perhatikan, hati iras masih butuh banyak perhatian kamu
untuk kamu cintai….”
Aku menatap lelaki yang membuat ku benar –
benar jatuh cinta ini. Entahlah di
matanya selalu mengalir berbagai hal yang selalu membuat ku tersanjung, di
balik semua kekuranganku ia selalu mengistimewakan semua hal yang aku punya
walau tak banyak.
“suatu hari, mungkin si jeff, si bebe, si
indra mereka akan menemukan bahagia dengan cara mereka sendiri bukan?”
“ya tentu..” iras mengangguk mantap.
Meyakinkanku.
…
Akhir pekan berikutnya, aku tidak pulang ke
bandung atau berlibur ke Jakarta seperti biasanya. Kami berdua, aku dan iras memutuskan tetap di
sukabumi karena ada tournament futsal yang diselenggarakan kampus kami.
Tim ku berhasil masuk semifinal, sehingga hari
minggu besok kami akan bertanding lagi. Permainanku rasanya sedang on fire
minggu ini, padahal aku dan tim ku harus pusing – pusing membagi waktu dengan
jadwal dinas. Mungkin karena dukungan
iras yang sangat kuat, ia selalu menyempatkan untuk hadir lima belas menit
sebelum pertandinganku dimulai, ia menungguiku di pinggir lapang walau di wajahnya
muncul rasa bosan sesekali, namun ia tidak menyerah, untuk setia di sana,
menyediakan air minum dan handuk untukku.
“oke teman – teman, kita ketemu lagi besok,
pertandingan semi final antara Ringer Laktat dan Natrium Clorida, di lapangan
ini jam delapan pagi, dan di lapang dua ada pertandingan antara Dektrose dan
Glukosa...” jeff membacakan jadwal pertandingan futsal untuk semi final
besok. Ia panitianya, seksi acara,
sehingga ia yang jadi operator untuk tournament kali ini.
Agak aneh, mendengar tim – tim futsal kampus
kami yang dinamai dengan nama – nama cairan infus. Tim kami sendiri memilih nama Ringer Laktat
karena kami pikir itu merupakan cairan juara yang bisa dipakai untuk
menyeimbangkan kondisi fisiologis pasien.
Untuk menang, sebuah tim selalu membutuhkan keseimbangan.
Seimbang antara yang bermain bagus dan bermain
baik. Seimbang antara menyerang dan bertahan seimbang antara siap menang dan
siap menerima kekalahan.
Semua yang hadir di GOR, penonton, pemain,
panitia semuanya bersiap – siap meninggalkan GOR. Iras mengajakku makan, GOR dekat kampus kami
memang memiliki cafe dengan menu yang cukup lengkap.
Tangan iras menuntunku, ia memegangnya erat,
kami berjalan beriringan ke dalam cafe. Begitu masuk ke dalam café, aku melihat
jeff sedang duduk di meja lain sambil mengutak atik handphonenya.
“duduk sana yok sama si jeff..” kata iras.
Aku mengangguk setuju pada iras. Kami berdua menghampiri jeff yang duduk
sendirian itu. Ia menengak kan kepala
menyadari kehadiran kami berdua.
“belum pulang lu jeff?” tanyaku.
“belum, masih jam segini ini..’
Jam tujuh malam kurang, ku lihat lewat jam
tangan iras. Iras memesankan makanan
untuk kami berdua, juga jeff. Karena
cukup iba ia hanya minum jus tomat.
“ini kan malam minggu, lu gak keluar? Main
kemana gitu.. tragis bener nasib lu..”
Iras mengusap kepalaku, tanda aku sudah
berkata kasar yang dilarang olehnya.
“mau main kemana emang nya di sukabumi? Terus
kan besok aku masih jadi panitia, lagian mau berangkat ama siapa…”
“si dokter..” sahutku langsung.
“ama ceweknya…”
“hahahaha bener – bener nasib lu jeff…” aku
benar – benar ingin memperolok jeff, apapun yang ia sekarang sedang rasakan
belum bisa sebanding dengan apa yang ia lakukan terhadap bebe. “lu kan bisa
jalan ama si bebe…’
Jeff tidak menjawab, ia tampak tidak antusias
ketika mendengar nama si bebe.
“dia nungguin warnet, gak mungkin lah ngajak
dia maen…”
“sebenarnya alasan lu apa sih jeff, kayanya
berat banget sama si dokter dari pada sama si bebe..” tiba – tiba iras
bergabung dalam obrolan kami. “atau lu emang rakus pengen sama kedua – dua
nya..”
Jeff tersenyum renyah.
“iya benar aku sayang mereka berdua, mungkin
benar aku memerlukan perjuangan agar bisa dekat dengan indra, tapi buatku
ketika dekat dengan si bebe, ada perasaan aneh yang muncul, perasaan pengen
jagain dia, tidak melakukan apapun, tidak melukainya, tidak merusak apapun dari
dia, bahkan untuk berani nyium dia saja, itu gak ada…”
“berarti lu sayang si bebe…” iras
menyimpulkan.
“tapi itu dia bos, ketika indra datang, aku
rasa, aku gak bakalan jatuh cinta sama dia, kalau benar – benar jatuh cinta
sama si bebe, kita tidak mungkin jatuh cinta pada orang yang pertama kalau saat
datang orang kedua dan kita mencintainya juga…”
“gini deh jeff, apa yang lu dapat dari si
bebe? Rasa nyaman kan? Apalagi…”
“rasa aman, senang – senang, diskusi banyak
hal, ngomongin pashion, semua hal lagi..”
“kalau dari si dokter…”
Jeff diam, ia tampak mempertimbangkan. Matanya berkali – kali lirik kiri kanan. Kemudian menatap gelas kosong di depannya.
“SEX….” Jawab jeff akhirnya, sebelum ia
menelungkupkan wajahnya pada permukaan meja.
Iras menatapku, genggaman tangannya menguat,
aku membalas tatapannya, bahwa aku tidak perlu ia khawatirkan.
“ini saatnya lu ikutin kata hati lu jeff, lu
perlu orang yang bisa membahagiakan lu, bukan orang yang datang Cuma sekedar
memenuhi kebutuhan lu dan kebutahannya dia…”
“emang itu beda Nu?”
“sangat beda…” aku berusaha meyakinkan jeff,
aku mendapatkan hal itu selama bertahun – tahun dari iras, pengalaman hidupku
sendiri, aku tidak membicarakan orang lain “untuk apa ngejar – ngejar orang
yang tidak peduli pada lu, sementara bebe dia selalu punya banyak waktu buat
lu..”
“gue ngerti jeff, lu milih dekat sama indra
karena gak mau nyakitin bebe, walau sebenarnya lu sedang membunuh dia pelan –
pelan, dan hebatnya bebe malah ngebalikin keputusan tetap ada di tangan lu.
Kalian memulainya sebagai teman dekat, sehingga masalah pun tidak kelihatan..”
giliran iras yang menasihati jeff “kalau ada masalah di masa lalu, lu harus
selesaikan dulu masalah itu, kalau ada yang belum lu maafkan, lu harus maafkan
hal itu dulu, lu bukan gak sayang bebe, lu bukan gak mau nyakitin dia jeff,
tapi lu takut komitmen kan?”
“hahaha ada berapa orang yang dulu nyia –
nyiain lu jeff? Ada berapa orang yang selingkuhin lu?” kataku tiba – tiba, iras
melotot.
“ya, mungkin aku Cuma tidak percaya bisa dekat
kemudian disayangi oleh mereka berdua, masa lalu? Semua yang berkaitan dengan
hal dari sana, semuanya bajingan…”
“lu mengalami krisis percaya diri, lu istimewa
di mata mereka berdua, sampai mereka berdua terus muter – muter di dekat lu,
dan lu tidak bisa memaafkan masa lalu yang akhirnya membuat lu tidak pernah
terbuka pada kehidupan di masa depan…”
Aku ingat, bahwa jeff berkali – kali
dikecewakan, ketidakmampuannya kini mengambil keputusan ternyata berkaitan
dengan hal itu. Mungkin ia hanya belum sadar bahwa ada yang lebih penting
daripada berlarut – larut dengan luka di masa lalu..
“saatnya mengambil pelajaran jeff, bukan hidup
dengan masa lalu itu, maafkan, relakan, gue rasa, bebe, atau indra, atau
siapapun yang lu pilih mereka lebih layak buat hidup lu sekarang…”
Tiba – tiba kepala jeff menggeleng.
“tidak, aku tidak akan pernah memacari mereka,
ya betul aku takut berkomitmen, tapi buatku memiliki teman banyak lebih penting…”
“terserah jeff, kita tidak berharap lu seperti
kita atau siapapun, tapi lu juga harus bahagia..” iras menambahkan lagi.
Tiba – tiba bebe muncul, kami tidak sadar
sampai ia duduk di samping jeff.
“keluar yuk, anter beli jersey tottenham
hotspur yang baru, nanti pulangnya ditraktir surabi deh…”
Aku dan iras tersenyum melihat hal itu. Mungkin benar, cinta tidak selalu terwujud
dalam genggaman tangan, dalam hal – hal manis, bahkan ketika harus berbagi pun
cinta bisa tetap tumbuh dengan baik.
Sampai kisah ini ditulis, ketiga orang ini
tetap seperti itu, aku selalu ingat ketika mereka cemburu satu sama lain tanpa
disadari, ketika mereka berusaha menahan marah ketika yang satu bisa bersama
tapi yang lain tidak. Untuk cemburu pun
tidak berhak bukan pada kondisi seperti itu?
Sampai kini, jeff tetap jeff, makhluk galau
paling abadi. Indra tetap pacaran dengan
Bianca meski ia pun tetap main ke kosan jeff, bebe tetap cemburu kalau jeff
dekat dengan indra, meskipun ia juga tetap lempeng.
…