Senin, 21 Oktober 2013

Tragedi Jo dan Alfa



Kematian adalah cara paling bagus untuk belajar tentang tata cara melakukan ikhlas.  Mungkin itu pendapat murahan yang bisa didapatkan dari siapapun. Aku muak, benar – benar muak kali ini, salah satu tanda aku tidak sibuk –waktu ku terbuang percuma- aku bisa duduk santai di depan laptopku, menyelesaikan sebuah cerita, dan aku benar – benar membenci hal ini.

Jo, memutar satu slot whisky di tangannya.  Minuman yang tidak kunjung ia habiskan sejak tadi ia duduk di bar ini, mungkin karena tidak timbul niat sama sekali untuk minum.  Atau mungkin ia sudah bosan mabok – mabokan dan pulang ke apartemen diantarkan satpam.
Lalu ia mengintip ke balik lengan kemejanya, sudah larut malam.  Bahkan hampir pagi, namun orang di bar ini malah semakin banyak dan semakin ramai. Sesuatu yang sangat dibencinya.
Ia ingat perjalanannya ke quebec minggu lalu, kota yang selama masa SMA nya menjadi sarang baginya dan tempatnya pacaran dengan drew kini tidak menyisakan apa – apa kecuali kehampaan.  Sebuah agency film Hollywood tertarik merekrut drew menjadi salah satu artisnya.
Jo bersyukur setidaknya mantannya itu bisa hidup bahagia kini sesuai dengan apa yang ia inginkan. Kehidupan teater memang itu yang ia harapkan dari dulu, sehingga hidupnya penuh dengan drama. Salah satu episode terbaiknya adalah pura – pura harus mengurus bisnis orang tuanya di Nevada.  Tapi jo tahu, papa nya drew hanya seorang diplomatic kecil di Negara itu.
Kembali ke Indonesia, menemui mama, keluarga satu – satunya milikinya di sini adalah alasan pelarian jo. Seandainya ada istilah lain yang bisa mewakilinya ia rela mengadaptasinya, jo ingin benar – benar sembuh dari penyakit yang ditimbulkan drew selama dua tahun ini.
Kehidupan di margonda adalah lakon sitcom terlucu yang jo jalani saat ini, ia hanya bicara pada sebagian kecil dengan bahasa Indonesia nya yang terpingkal – pingkal bahkan ia kadang harus ikut tersenyum pada guyonan orang yang tidak terlalu ia fahami.
It's not over tonight
Just give me one more chance to make it right
I may not make it through the night
I won't go home without you
Jo memalingkan muka pada penyanyi yang ia yakin di awal keberadaannya di sini ia berdiri di belakang meja DJ. Ia tadi seorang DJ. Kemudian kini ia tampil di atas panggung sebagai seorang penyanyi.
Penampilan rapi, dengan style british nya mengingatkan jo pada sosok ramah di quebec. Bahkan jo pikir ia seorang lain yang sengaja melakukan operasi plastic hanya supaya mirip dengan flo. Cinta yang ia abaikan hanya gegara disilaukan oleh bayang – bayang drew yang tegap itu.
“I want go home with you…” kata jo mendekat pada penyanyi yang baru saja turun dari panggungnya.
“oops anda salah lirik bung, itu tadi I wont go home without you…” sahutnya. Sambil tercenung sebentar sebelum akhirnya sadar tertawa sendiri. Ia sedang mengajak seseorang untuk pulang ke rumahnya malam ini.
Jo hanya tersenyum, jebakannya berhasil.
“baiklah, asrama ku tidak jauh dari sini, mari ikut…”
Mereka berduapun akhirnya meninggalkan tempat itu. Bar yang tidak berhenti ramai.
Dia bernama alfa. Sebuah nama yang sangat jo sukai untuk ia ucapkan, usianya empat tahun di bawah jo.  Namun dalam segi pemikiran sepertinya jo tertinggal jauh. Alfa baru kelas dua SMA, namun ia sudah bisa mencari dan membiyai kehidupannya sendiri.
Jo kalah telak, selama ini ia hanya bisa jadi perampok untuk uang – uang papa yang kadang kala sampai tidak tersisa satu sen pun untuk diambil.
Alfa baik, ia ramah, ia bicara lebih banyak dari jo. Di matanya melingkar berbagai pelangi yang tidak pernah bisa pupus hanya karena sinar terang dan tidak perlu menunggu hujan datang hanya untuk bisa terlihat.  Alfa, mesin tawa dan gas cerita yang selalu meledak – ledak itu begitu menarik hati jo, melupakan niat cinta satu malamnya kali ini.
Jo menyayanginya, bahkan ia akan benar – benar menyayanginya.
Ia tidak sedang berjanji, ia tidak ingin membuat sebuah bualan yang bisa dilanggar kapan saja.
“kalau ibu asramaku nanya, jawab saja jo saudaranya alfa yang baru pindah ke margonda…”
Jo mengangguk diiringi senyumnya yang melebar, melihat tingkah lucu Winnie the pooh yang ditemukannya malam ini.
“silahkan masuk, tidak usah protes karena tempatnya kecil, ini asrama bukan apartemen…”
Jo memberikan sebuah kunci kepada alfa.
“apa ini jo?” Tanya alfa tidak mengerti.
“tadi kamu bilang apartemen, mulai besok kamu boleh tinggal di sana…”
“hahaha mungkin karena kamu sudah memakan terlalu banyak, akhirnya hanya menyisakan sedikit…”
Sebuah kalimat sederhana namun mengena di hati jo.  Kata – kata dari anak yatim piatu itu menggedor bangunan di hatinya keras.
“kenapa kamu membuat dirimu begitu mudah untuk dicintai?” Tanya jo pada alfa yang sedang melepaskan satu persatu pakaiannya. Ia hendak mandi, namun tangan jo segera menangkap tubuh berkulit putih bersih itu, mulus tanpa bulu.
“ah tidak, kamu yang terlalu mudah jatuh cinta, silahkan istirahat Al mandi dulu…”
Jo ditinggalkan ke kamar mandi, ia duduk persis di depan pintu kamar mandi. Ia ingin memastikan kalau anak ini, yang sudah mengunci hatinya kini, tidak akan lari kemana – mana.
Jo pelan – pelan membuka matanya, di pangkal lengannya tertidur pulas kepala alfa.  Keduanya masih telanjang, hanya ditutupi oleh selimut yang tidak terlalu tebal. Udara Jakarta yang semakin hari semakin memanas, membuat mereka tidur tanpa memakai baju. Sehabis pertarungan cinta  mereka semalam.
Kedaannya sama persis dengan tiga tahun lalu, ketika mereka pertamakali bertemu, pertamakali terjebak di dalam tempat tidur bersama.  Hanya saja ruangannya yang jauh lebih mungil waktu itu.
Alfa masih sangat pulas, terlihat jelas kelelahan di wajahnya.  Pelan – pelan jo mencium keningnya, agar tidak ketahuan ia semakin memelankan ciumannya. Namun menambahkan durasinya.
“jo jangan kemana – mana ya hari ini, tidak usah ke kampus, tidak usah ke perpustakaan, toko buku, hunting foto, pokonya hari ini jo Cuma boleh sama alfa…” alfa menggumam begitu merasakan hangat bibir jo mencium keningnya.
“ini hari minggu sayang, tentu aku hanya akan menghabiskannya dengan kamu…”
Alfa tidak menjawab. Ia hanya mendusel – duselkan kepalanya semakin dalam ke dada jo.  Tangan kecilnya berkalana liar ke bagian selangkangan jo, yang pagi ini pasti sangat merdeka untuk mengacung ke langit – langit kamar.
“jo, jangan nakal…”
Kata alfa, ketika jo berusaha menggerayangi seluruh tubuhnya. Jo hanya tersenyum, ia mencium lagi kening pacar semata wayangnya itu, ia tahu mungkin pacarnya masih mengantuk. Akhirnya mereka melanjutkan tidur mereka lagi.
“sayang sabuknya dipakai…” kata jo lagi, ia tidak akan bosan mengingatkan pacarnya itu mengenakan sabuk pengaman.
“emhh emmhhh emhhh…” alfa malah semakin asyik menikmati cup cakenya.
Hujan deras mengguyur depok sejak pagi, sudah hampir dua belas jam kota ini basah dan jalan – jalannya menjadi licin. Bahkan pembersih air di permukaan jendela mobil jo tidak cukup mengusirnya.
Jo berusaha membawa laju mobilnya dalam batas normal dan aman untuknya dan alfa.  Rencananya malam ini mereka akan ke kalibata, melihat apartemen baru jo. Yang ia beli khusus untuk alfa, agar memudahkannya bepergian ke tempat – tempat pekerjaannya.
Alfa semakin sibuk, ia kini sudah punya album dan banyak orang yang ingin mengundangnya.  Jo senang, akhirnya keinginan pacarnya itu dapat terwujud.  Selama ini kehidupannya hanya untuk alfa.  Kebahagiaan alfa berarti kebahagiaannya juga.
Di jalan yang lurus, di bawah sebuah traffic light, jo me-rem mobilnya ketika mendadak lampu berubah warna menjadi merah.  Alfa menatap kaget ke arahnya.
“bruuuukkkk…” suara benda menabrak benda lainnya. Diiringi oleh suara ledakan lainnya.
Kepala jo terbentur pada stir, sebuah mobil besar menabraknya dari belakang. Namun, karena lupa tidak mengenakan sabuk pengaman, tubuh alfa, terdorong hingga mampu menembus jendela depan mobil jo. Ia terlempar ke jalan, jo berusaha memanggilnya, sampai ia sendiri kehilangan kesadaran.
Kematian merupakan sebuah kepastian yang tidak pasti. Sampai kita merasa tengah benar – benar dekat denganya.  Demikan pikir jo, sampai ia ingat, ia belum melihat kondisi alfa sama sekali.  Padahal di kepalanya barusan, ia baru saja seperti bertemu dengan alfa yang dengan wajah cerianya tersenyum sambil bilang “semuanya baik – baik saja…”
Jo duduk di atas tempat tidur, beberapa orang perawat menghampirinya, bilang supaya jangan dulu banyak bergerak.  Di tangannya menancap sebuah selang infus beserta aliran cair dalam selangnya. Ia menggumam pelan, kecelakaan itu yang membawanya kemari.
Alfa, jo ingat alfa. Ia tidak tahu bagaimana kondisinya sekaarang, melihat di sekitarnya tidak ditemukan alfa.
“suster, dimana orang yang satu mobil dengan saya? Dimana pacar saya?”
Suster itu mengerenyitkan dahi, heran apakah benar yang dimaksudkan pacar oleh jo adalah korban pria yang satu mobil dengannya juga. Sampai si perawat dapat membaca hal tersebut dari bahasa tubuh jo. Bahasa seorang yang begitu mengkhawatirkan orang yang sangat disayanginya.
“tenang pak tenang, teman bapak sudah dirawat secara intensive, sekarang bapak istirahat dulu, nanti saya ijinkan bapak untuk melihat teman bapak…”
Keadaan jadi tidak sederhana bagi jo, mendengar ruang intensive dan mengingat adegan di mana tubuh alfa terbang menembus kaca depan mobilnya.  Namun efek obat sedative yang disuntikan oleh suster membuatnya tertidur kembali.
Sekarang di sinilah jo, di balik dinding kaca yang membatasinya dengan alfa.  Si bawel itu kini hanya terlentang di atas tempat tidur. Diam. Tanpa gerakan sedikitpun.  Bahkan alfa benar – benar hanya diam.  Cuma suara mengerikan dari berbagai mesin yang membantunya bertahan hidup yang terdengar.
Perawat memperbolehkannya masuk ke dalam ruang ICU, sebagai satu – satunya orang yang bertanggungjawab pada alfa saat ini.  Jo meraba luka di permukaan kulit lengannya, tidak parah, bisa sembuh dalam satu dua minggu ke depan. Namun alfa…
Jo menghampiri tubuh itu, setengah kepalanya dibalut oleh kain kassa mungkin untuk menahan pendarahannya.  Sebuah selang untuk oksigen diselipkan pada mulutnya.
“pasien sudah mengalami mati batang otak, pusat pengaturan okisgen, kesadaran, semuanya sudah tidak berfungsi…” kata perawat di depan jo.
“itu kondisi yang tentu bisa disembuhkan bukan sus?” jo yakin, bahwa alfa masih ditakdirkan untuk bersamanya.
“butuh lebih dari sekedar keajaiban untuk hal itu, kita tinggal menunggu waktu…”
Tiba – tiba saja tangan marah jo menyeret tubuh suster itu  ke dinding, ia mencekiknya.
“jangan sembarangan, jangan sok tahu…’ kata jo meronta – ronta di dalam sergapan petugas keamanan.
Dokter menggelengkan kepala, seiring layar pemantau tanda – tanda vital menunjukan semua garis lurus.  Saturasi oksigen berkurang bahkan hingga angka nol.  Tidak ada aktivitas apapun di dalam listrik jantung.  Kedua pupil mata alfa membesar dan tidak bergerak.
Para perawat langsung mencabut semua mesin yang tadinya membantu upaya menghidupkan kembali alfa. Bahkan di saat, resusitasi dilakukanpun alfa tidak merespon sedikitpun.  Wajah tenangnya baru saja berlalu, dari dunia. Dari dunia jo tepatnya.
Apakah kehidupan hanya sebatas ini? Batin jo. Kita bersusah payah untuk panjang umur, hidup sehat, begitu kecelakaan, masuk ICU kemudian hidup tergantung pada mesin. Nafas oleh mesin, denyut nadi oleh mesin, makan dan minum oleh mesin. Hanya mesin.  Jo mengeram semakin keras.
Tidak, ia tidak menyesali kepergian alfa, ia hanya membenci dirinya sendiri yang gagal untuk menjaga alfa dengan baik.  Padahal ia sudah berjanji, menjadi satu – satunya yang bisa alfa andalkan sampai kapanpun.
Sampai kapanpun…
Padahal jo yakin, bahwa ia akan mampu menunaikan janjinya dengan baik. Ketika bahkan ia bilang pada dirinya sendiri, bahwa seluruh hidupnya hanya soal alfa. Sekarang alfa tiada, jo harus kemana? Tanyanya pada bayangannya yang tak lagi jatuh di mata alfa.
“jo, jo harus tetap bahagia….” Bisik sebuah suara, sedetik sebelum bara dari korek menyentuh sebuah titik yang terdiri dari lumuran bensin di tubuh jo.