Selasa, 23 Juli 2013

8 : urusan dia urusan gue juga



Tanganku kembali mencekik kerah kemeja Ronald. Di sampingku ardan tampak bersungut – sungut ia jadi yang paling kesal siang ini.  Sementara feddy dan dheka ikut mengelilingi tubuh Ronald yang disekap olehku dan ardan.  Di pintu toilet berdiri Jordan dan dariz berdiri berjaga – jaga.  Di ujung lorong kiki yang memantau, mengkondisikan siapapun yang akan masuk toilet harus berbalik.
Dan…
Satu makhluk mirip setrikaan tidak bisa diam terus bolak – balik terus mencemaskan kalau suatu waktu guru, satpam, atau anggota keamanan sekolah datang ke sini memergoki kami. Nollan..
“guys udah lah, kita lepasin aja nih ayam kate, gimana kalau kita sampai ketauan guru..”
“gak peduli..” sahut ardan singkat tanpa melepaskan cengkramannya.  Kepalan tangannya barusan berhasil membuat mata kirri Ronald lebam dan ujung bibirnya sobek sehingga mengalirkan darah yang cukup deras.
“kalau anggota keamanan sekolah..” nollan berusaha nongolin kepalanya diantara ku dengan ardan.
“gue bisa bikin mereka kaya gini satu – satu..” ardan melirik pada nollan melalui ujung matanya.
“tapi guys..” bisik nollan lagi.
“elu semua kalau emang pada berani jangan pada bacot doing donk..” tiba – tiba suara roland memecahkan kekhawatiran nollan.
“jedug..” tanpa alasan apapun aku melayangkan tinjuku.  Hingga kini lebam di wajah Ronald bertambah.
Ardan tampak terkejut dengan apa yang aku lakukan. Aku hanya merasa taekwondo yang ku pelajari bisa berguna pada kondisi seperti ini.
Nollan dan yang lain ikut menatapku, Ronald tersenyum sinis lagi.  Spontan aku memukul sudut mulutnya yang satu lagi. Tanpa banyak bicara, tanpa melepaskan cengkraman tanganku di kerah bajunya.
“nah luh sakit kan luh? Jangan macam – macam ama genk kita makanya..” nollan mencibir pada Ronald.
Sementara Ronald kini tidak bicara, sepertinya pukulan ku di ujung bibirnya cukup keras sehingga dia tidak mau bicara lagi kini.
“halah pukulan anak mami kaya kalian buat gue Cuma kaya dielus sama kueh apem..” tanpa diduga Ronald meludah. Aku berhasil mengelak, namun air ludahnya mengenai ardan dan nollan.
Sontak. Tangan ku memburu bahkan nollan mulai menendang – nendang.  Aku tidak tinggal diam. Aku, ardan dan nollan segera mengkeroyoknya. Pukulanku di beberapa titik tubuh Ronald membuatnya tersungkur di lantai toilet sekolah.  Feddy, dheka, Dariz dan Jordan ikut bergabung.  Ardan yang dari tadi memang yang sangat bernafsu sampai menampar – namparkan sepatunya yang lepas di wajah Ronald.
Kami bertujuh menikung tubuh Ronald yang terkoyak tidak berdaya di lantai kamar mandi.  Sampai teriakan kiki dari lorong yang membuat kami berhenti.
“woy ada pasukan keamanan sekolah, hayo bubar..”
Akhirnya kami lari kea rah belakang sekolah menjauh dari para pasukan kemanan sekolah, setelah mengancam Ronald agar tidak membocorkan siapa pelaku yang telah membuat tubuhnya seperti ayam penyet begitu.
Sebenarnya masalah kami dengan Ronald sepele. Bahkan Ronald di sekolah tidak memiliki teman atau bergank seperti kami. Awalnya kami tidak ingin terlihat pengecut sekali dengan mengeroyok Ronald. Hanya saja sikap belagunya membuat kami terganggu.
Mulai dari tengil di kelas, merasa jadi juara kelas, sok berkuasa karena sebangku dengan ketua kelas dan kenal dengan beberapa seleb sekolah dari kakak kelas.  Kemudian beberapa cara liciknya yang berhasil kami cium membuat kami sengak. Yang terakhir, ia disuruh menyampaikan ke seisi kelas oleh guru kimia kami tentang tugas kimia yang harus dikumpulkan hari ini.  Dia hanya memberi tahu kepada teman – teman satu baris bangkunya saja dan bilang ke mereka kalau sudah mengumumkan nya pula pada anak yang lainnya.
Akhirnya, pagi tadi kami yang tidak kebagian pengumuman Ronald dihukum pak jeff menghormat bendera di lapangan sekolah selama dua jam. Yang membuat ardan memuncak emosinya, ternyata cewek yang tidak berhasil ia ajak nonton malam minggu kemarin membatalkan janji gara – gara dihasut Ronald untuk tidak pergi dengan bilang bahwa ardan menderita herpes.
Maka pada saat jam istirahat tiba, kami menyeret curut tersebut ke toilet.  Aku merasa muak, karena tugas pak jeff ternyata termasuk point di nilai semester.  Bagiku, di sekolah ini tidak ada satupun hal yang boleh mengacak – acak nilaiku.
Aku menggigit roti bread co yang dibawa iras. Mencincang keju yang muncul dari dalamnya.  Menyisakan bagian lain yang beraroma vanilla kesukaan iras. Kemudian memasukan roti tersebut ke mulut iras.
Ku serahkan susu kedelai pada iras, ia tampak kesulitan mencerna roti yang dimakannya.   Kami tengah makan malam berdua di depan lapang gasibu.
“iras denger dari anak – anak paspam tadi pagi ada anak kelas satu yang dikeroyok, sayang tau siapa yang ngeroyok?” kata iras sambil menghabiskan tegukan terakhir susunya.
Aku menggeleng polos.
“mata kamu itu gak pernah bisa bohong tau..” iras menyeledik.
“inu gak suka kalau ada tukang pamer di kelas, bahkan kalau ada mafia kaya begituan..” jawabku dingin, sambil membuka kemasan roti yang lain.
“kan ada osis, ada paspam, gak baik loh kaya gitu kalau ketauan ancamannya dikeluarin dari sekolah sayang..” kata iras sambil membetulkan kemeja hitam anehnya yang berlogokan sebuah ban besar.
Beberapa orang yang lalu lalang di sekitar kami, tampak memalingkan wajahnya kea rah kami berdua ketika iras menyebut kata sayang dengan tekanan yang sedikit agak keras. Aku menyenggol pundak iras dia hanya tersenyum bodoh seperti biasa.
“kan pacaran ama pengurus osis..” kataku sambil cengengesan.
“dasar bandel, balik yok udah malem..”
Aku meloncat dari kap mobil iras kemudian berjalan ke dalam mobil duduk di samping iras yang akan menyetir.  Dalam hitungan beberapa detik, kami keluar dari lapangan gasibu.
Mobil iras berlalu belum jauh, sengaja aku minta berhenti di mini market yang terletak di sebrang gerbang kompleks perumahanku.   Tubuhku mendorong pintu yang bertulis tarik dan menarik pintu yang bergagang dorong. Kebiasaanku.
“selamat malam, selama datang di alfamart..” kata seorang kasir pria yang berdiri di belakang meja kasir.
Aku berlalu tanpa menghiraukannya, mencari pembalut wanita yang dipesan mama.
“yang wings apa yang biasa ya?” gumamku sambil berdiri di depan rak yang menjejarkan berbagai macam pembalut bahkan sampai popok bayi.
Aku lupa apa pesanan mama.  Kemudian tanganku mengodok saku di dekat lutut celana sontogku.
Hp ku tidak ada, aku mencari pada kantong yang lain. Tetap sama., hp ku tidak ada.  Aku baru ingat, tadi di dalam mobil iras memeriksa hpku.  Sepertinya ia lupa mengembalikan.  Akhirnya akupun mengambil satu boks besar pembalut wanita tanpa perduli apa yang ku ambil.
Untunglah dompetku masih ada.  Aku membawa satu kemasan pembalut tersebut ke meja kasir.
“djarum black satu..” aku menunjuk pad arak di belakang punggung kasir.
Kasir tersebut mengambil pesanan rokok yang ku minta. Kemudian ia menjajarkan rokok tersebut bersama pembalut pesanan mama.
“ada lagi a?” kata kasir laki – laki tersebut sambil senyum – senyum tidak jelas.
“gak ada lagi mas, jadi gak perlu senyum – senyum sok manis segala, itung semuanya berapa..” kata ku jengkel. Apa aku ini memang tipe cowok yang ditaksir cowok juga? What the hell.
Kasir tersebut membuang muka sebal. Aku tidak peduli, aku agak sedikit jengkel kenapa hpku harus tertinggal di mobil iras segala.
Setelah membayar rokok dan pembalut mama aku keluar.  Mendorong pintu tarik dan menarik pintu dorong.
“rifnu ya..” tiba – tiba beberapa orang mengerubungiku begitu tubuhku berada di luar pintu minimarket.
Di bagian paling belakang rombongan orchestra tersebut muncul muka lebam Ronald. Aku tersenyum sinis, mungkin ia bermaksud balas dendam.
“iya betul, nama gue ternyata cukup terkenal juga sampai tukang ngamen tau segala..” mulut pedasku bereaksi.
“shit..” kata orang yang berdiri paling dekatku sambil membuang ludah.
“halah orang ujung berung sok – sokan pake bahasa inggris segala..”
“gini ya bos, gue gak peduli lu anaknya siapa, tapi lu udah ngusik ketenangan adik gue, jangan kira kita bakal tinggal diam…” kata yang paling tua sambil menggemulutukan giginya.
“ oh curut itu adek lu pantes mirip, sekeluarga tikus semua..” mulutku semakin tidak tertahan.  Walaupun aku tidak tahu bagaimana caranya menghadapi mereka yang hampir saja berjumlah lima belas orang ini.
Beberapa bersandar di belakang mobilnya masing – masing yang memenuhi halaman parkir minimarket ini.
“jaga tuh mulut anak muda…’ dia semakin mendekat.
Tiba – tiba sebuah mobil melaju kencang.  Menyeruak ke halaman parkir minimarket juga.  Aku melihat iras keluar dari sana.
Iras mendobrak beberapa tubuh yang berjejar menghalangiku. Anehnya hanya dengan menatap iras mereka mundur beberapa langkah. Iras berdiri membelakangiku.
“sorry ada urusan apa? Soalnya urusan dia urusan gue juga..”
“gue apog..” orang yang tadi ngaku kakaknya Ronald itu memperkenalkan diri pada iras. Lagi, matanya tertuju pada kemeja iras. “gue sebenarnya gak nyari urusan apapun, tapi temen lu udah main payah sama temen gue..”
“main payah kaya gimana? Lu gak nyoba nanya temen lu dulu kenapa dia sampai digebukin kaya gitu?” iras menunjuk kea rah Ronald.
“oke gue sebenarnya lagi gak mau cari masalah, gua juga bakalan nanya kok temen gue, oke lah gue pergi dulu..”
Tidak lama rombongan sirkus tersebut meninggalkan kami berdua.  Aku sendiri cengok, seperti melihat kawanan hyna yang pergi tunggang langgang setelah diberikan auman besar oleh singa bernama iras makki.
Tangan iras mengucek – ucek ujung kepalaku. Tampak kekhawatiran yang cukup besar di matanya.
Aku digiring ke dalam mobil, rencana semula aku tidak akan diantarkan ke rumah akhirnya diantar juga olehnya ke rumah.
“untung coba iras kepikiran buat balikin hp..” iras tampak menyesalkan keputusannya meninggalkan ku sendirian di minimarket.
“kok mereka bisa takut gitu sama iras?” aku masih tak mengerti kenapa tadi mereka lari tunggang langgang ketika melihat iras.
“mereka kayanya liat kemeja iras, sama logo block di mobil, iras ikutan komunitas ini sejak SMP, komunitas mobil terbesar di bandung, yang ikutan kebanyakan orang – orang yang punya duit, bos, bahkan sampai preman – preman besar di bandung sama Jakarta, makanya mereka jadi pada keder begitu liat logo block sama kemeja iras..”
Aku mengangguk – angguk persis ayam yang lagi sarapan.
“pacar gue gangster juga ternyata..” gumamku pelan
Iras menghentikan mobil di depan gerbang rumahku. 
“be safe ya, iras gak bakalan bisa ngawasin inu 24 jam terus menerus, jangan sampai ngedeketin hal – hal bahaya lagi, ini bukan SMP lagi yang urusan bisa diselesaikan Cuma antar geng di kelas, tapi udah banyak anak – anak SMA yang ikutan sama geng besar di jalanan. Inget kalau ada apa – apa langsung telpon iras..”
Aku tidak terlalu memperhatikan perkataan iras. Kemudian keluar dari dalam mobil setelah mengecup di bibir bawelnya.
Jam istirahat sudah lewat beberapa menit yang lalu.  Kami delapan orang atroboy berjalan beriringin ke dalam kelas kami yang ada di lantai empat. Tinggal satu tangga lagi.
“kalau gitu untung ya ada ketua osis itu..” kata dheka.
Ardan mengangguk. “gue udah salah kira sama tuh orang, gue pikir dia anaknya sok diplomatis gitu, kaku, atau apalah taunya ikutan geng gede gitu..”
Aku tidak menyaut.  Sejak tadi pagi aku menceritakan kejadian semalam mereka mulai meributkan soal iras. Mereka mulai mengira kami dekat gara – gara satu tim di basket. Padahal lebih dari itu kami berdua pacaran.
“bukannya kemarin – kemarin kalian berdua pernah rebut?” Tanya nollan.
“kalian berdua siapa?” sahut dheka.
“inu sama iras..” jelas nollan lagi. Sambil menunjuk wajahku.
“itu awalnya, sebelum gue sadar gue salah faham, kalau gue gak masuk line up, gara – gara gue harus masuk seleksi seagames..” aku seperti diingatkan kejadian beberapa bulan lalu, ketika iras mengerjaiku, dengan tidak memasukanku di line up liga SMA malah memasukan ku di seleksi sea games.
“lah emang dia gak bilang dari awal gitu nu kalau lu jadi kandidat ke seagames, malah kesannya kaya ngerjain lu dulu kaya buat ngasih kejutan sama lu..”
Kompak semua mata tertuju pada kiki kemudian ke arahku. Pertanyaan kiki membuatku tertohok.  Cukup dalam. Aku bahkan kebingungan hendak menjawab apa.
“ya mungkin kan seagames acara penting, pelatih pengen ngasih gue sureprise kaya kata lo..” kataku gelagapan.
“hey kalian yang masih ngumpul di sana ayo masuk…” pak jeff yang kemarin bermasalah dengan kami menyentak dari belakang.  Teman – teman kami yang lain semuanya memang sudah ada di kelas. Kecuali kami semua.
Rebutan kami masuk ke dalam kelas.  Beberapa mata tampak mendelik sebal karena gara – gara ulah kamilah akhirnya pembelajaran terlambat.  Aku melihat kursi di sebelah bintang kosong, Ronald tidak masuk. Dia sakit.  Dan ku pikir di rumah dia bisa belajar banyak.
Aku seperti maling ayam yang digiring keluar dari polsek buah batu.  Tujuh temanku yang lain sudah dijemput juga oleh orang tua mereka masing – masing.  Bahkan mobil kami semua sudah dibawa oleh sopir yang ikut bersama mobil orang tua kami semua.
Aku melihat nollan sedang dimarahi habis – habisan di dalam mobilnya oleh mamanya yang batak itu.
“hidup kamu gak bakalan tenang selama sebulan anak muda..” ancam mama.
“udah nuy udah, udah malam si inu mau istirahat bukannya malah diancam – ancam kaya gitu..”
Aku larut lagi ke dalam pelukan amih, Cuma dia satu – satunya yang mengerti aku saat ini. Aku bersembunyi dari serangan berikutnya yang mungkin akan lebih kejam. Apih. Dia masih ngobrol di depan polsek bersama kapolsek yang dikenalnya dengan sangat baik itu.  Bahkan beberapa kali ia sempat ke rumah, pernah juga bertemu denganku.
Makanya ketika tadi digiring sama anak buah – anak buahnya ke polsek ia langsung mengenaliku. Mengenali teman – temanku juga yang lain. Yang kebanyakan anak – anak orang penting juga di bandung, jawa barat, bahkan di Negara ini.
Apih masuk ke dalam mobil. Ia yang nyetir. Sopirnya membawa mobil mama yang semalam ku pakai.
“haduh ahmaaaddd.. baong siah maneh, he’eh..” lolong apih ketika masuk mobil dan duduk di belakang kemudi.
“siapa yang bilang inu baong? Tanya pak hendarko siapa yang nyerang duluan..” sahutku dari belakang. Dari semua cucunya, bahkan cicitnya, hanya aku satu – satu nya yang bisa menyaut, bahkan balik marah kalau apih sedang marah.
“he’eh apih ge apal, tapi incu apih mah eweh nu main preman – premanan siga kitu..” sergah apih lagi sambil menyalakan mobil.
“kamu udah malu – maluin, kalau kaya gitu lawan pakai otak bukan malah ribut – ribut..” mama menambah kayu dionggokan api unggun yang tengah dinyalakan apih.
“yang penting inu menang…”
“repeh siah maneh preman..” apih membentak lagi. “terus saacan na ngoroyok deih nyah di sakola? Aduh nu kumaha ye the sakola the..”
Mama terbelalak mendengar apa yang dikatakan apih. Aku semakin larut di dalam pelukan amih.
Aku tidak menjawab. Kena aku kali ini.
“siapa yang mukul duluan? Siapa ketua nya?”
“inu ma…” tanyaku lemah.
“anu te nyangka mah, itu rencang kamu the anak na kepala dinas kesehatan provinsi? Anak na diplomat oge? Anak na pa Indofood oge?”
Aku mengangguk ke arah apih. Mungkin maksud apih kiki yang anak kepala dinas kesehatan provinsi apih pasti akan kenal baik mengingat ia kepala rumah sakit nasional.  Ardan yang papa nya seorang diplomat yang baru tahun ini kembali ke Indonesia dan tinggal di bandung dan anak dari bos Indofood Jordan.  Dan mereka semua bertemu di polsek barusan.
“aduh nu, kalau apih hokum….” Apih berteriak lagi.
“atos apih atos, karunya incu amih, atos isuk we isuk engke mamagahan na..” bela amih memotong teriakan apih.  Aku tidak dilepaskannya sama sekali..
“ulah sok diolo wae gera budak the, jadi na kitu tah..”
Mobil mulai melaju pelan. Kami sebentar lagi sampai, apapun konsekuensinya yang pasti hukuman berat menantiku esok pagi.
Aku masih celingukan di lobi tempat kerja kakek. Sebuah kantor yang terletak di ketinggian seribu kaki, lantai empat puluh delapan. Menghabiskan berbagai snack dan premen. Ini hukumanku, aku terpaksa tidak masuk sekolah sampai hari senin.  Mama mengasingkan ku ke sini, ke tempat yang dua tahun belakangan mulai jarang aku kunjungi.
Sebenarnya aku bukan tidak mau datang ke sini.  Tapi kakek terlalu membosankan walaupun cintanya begitu besar terhadapku atau kak lili.  Ia pasti akan memeberkan banyak hal, bagaimana ia memulai sebuah perusahaan yang sudah bangkrut yang diwariskan oleh kakeknya. Juga bagaimana ia mati-matian membesarkan perusahaannya ini.
Dan yang agak sedikit menyentuhku, adalah besarnya cintanya pada papa.  Bagi kakek papa selalu jadi anaknya yang membanggakan. 
Rupanya kami mempunyai kesamaan dalam hal ini terhadap orang itu.
“mas maaf, di sana ada tempat sampah, bekas premen atau bekas makanan ringannya bisa dibuang ke sana dan tidak membuat berantakan lobi kami..”
Seorang receptionist tiba – tiba berdiri dari balik mejanya.
Aku melepaskan headphone yang sedang ku kenakan.
“ngomong ama gue?” aku menunjuk wajahku dengan jari tanganku sendiri. “sejak kapan ada aturan yang ngelarang gue gak boleh makan sama tiduran di sini hah?”
“ssstttt..” tiba – tiba seorang satpam yang asalnya berdiri di dekat lift mendekat pada perempuan tersebut. “cari mati kamu, dia cucu nya pak antony..”
Aku memperhatikan, wajah gadis tersebut yang tiba – tiba memerah.
“urusan kita belum beres..” ku lemparkan gulungan kertas yang tadi membungkus roti prancis yang ku beli. Sambil berlalu ke dalam ruang kerja kakek.
Setelah satpam membukakan ruangan kerja kakek aku melenggang masuk dengan lancer, masih ruangan kerja yang sama. Yang sejak TK selalu aku kunjungi bersama papa, atau ketika papa dan mama sama – sama sibuk mereka akan menitipkan ku ke sini.
“my son..” teriak sebuah suara yang sangat ku kenal.
“hay..” sapaku datar sambil membalas pelukannya.
“udah lama di sini nak?”
Aku mengangguk. Sambil menggerutu. “hampir kering, kenapa gak bilang kalau kakek rapatnya ngebahas isi belanjaan mama, itu gak bakalan habis kalau di bahas..”
Kakek tergelak.
“begini nu, kakek sebenarnya ini masih rapat, tapi ingat kamu sedang ada di sini, sekarang ayo ikut kakek ke atas..”
“hah mau ngapain?” tanyaku tak mengerti.
“sudahlah..” kakek menatapku yakin. Kami berdua beriringan keluar dari ruang kerja kakek.
“pecat dia..” kataku pada kakek sambil kami berlalu di depan meja receptionist.
Kakek mengayunkan tangannya. Mengusir gadis yang tadi mengusik ketenangannku. Sebuah kesombongan yang memberikanku pelajaran besar di kemudian hari.
Aku dibawa masuk ke dalam lift oleh kakek. Naik beberapa lantai, kemudian pintu lift terbuka kami berdua bergegas keluar.  Aku masih mengikuti langkah – langkah kakek, sampai tiba di satu pintu kakek mengajak ku masuk.
Di dalam nya terdapat sebuah meja bundar yang cukup lebar, di kelilingi oleh kursi – kursi yang dipenuhi oleh para anggota dewan komisaris.  Ada satu om ku yang ku kenal duduk di sana.  Dia saudara tua papa.
“hadirin sekalian mari saya perkenalkan, cucu saya tercinta, rifnu prihata, penerus tahta antony group, dalam beberapa tahun kemudian dia pasti sudah siap untuk jadi presdir menggantikan kakeknya yang ingin pension, lihatlah ganteng kakek memang tidak akan jauh menurun kemana selaain ke cucu sendiri..”
Beberapa dari dewan komisaris tersebut tertawat mendengar lelucon kakek. Aku hanya tersenyum rikuh.  Mungkinkah ini maksud dari hukuman untuk ku dari kakek yang semalam di sampaikan mama.
“ayo nak, cukup sekarang kakek punya satu mainan lagi buat kamu..” kata kakek berikutnya, ia mengajak ku keluar lagi.
Kami naik lift dan langsung menuju lobi utama.  Entah apalagi. Mungkin kali ini dia akan memperkenalkanku dengan satpam.
“mana pram? Suruh bawa ke sini..” komando kakek pada beberapa asistennya.
Kami berdua berdiri di luar lobi utama, aku memandam tak mengerti pada ulah kakek yang membuat beberapa anak buahnya mondar – mandir.
Tiba – tiba saja sebuah mobil mazda 2 berwaran putih berhenti di hadapan kami.
“kakek pikir cukuplah buat kamu pergi ke sekolah..”
Aku melonjak seketika, memeluk kakek.  Kesenangan luar biasa.
“thanks kek, bener – benar dah..”
“semalam mama kamu nelpon, kamu pergi pake mobilnya dia kan? Jadi kakek pikir kamu butuh mobil sendiri…”
Seperti biasa, kakek selalu gagal faham.  Yang ku yakini pasti mama mengeluh karena kelaakuan ku. Ia mungkin mengadu bahwa aku sudah nakal dengan memakai mobilnya untuk main semalaman.  Malah ditanggapi oleh kakek mama memintanya membelikaan ku mobil.
Dalam beberapa detik aku sudah ada di dalam mobil baruku, kakek tersenyum lebar di depan lobi.
“belajar yang bener, kalau tahun ini bisa sampai juara satu, kakek kasih yang lebih bagus..” kata kakek sambil menepuk nepuk pintu mobil.
“ini juga udah bagus kek, thanks ya..”
“ya belum mahal lah, buat anak SMA jangan yang mahal – mahal dulu deh..”
Aku mengangguk, sambil mencoba menyalakan kemudian melaju kencang di area perkantoran kakek.  Kali ini, aku bisa pulang ke bandung dengan mobil sendiri. Dan astroboy pasti kegirangan kini kendaraan kami bertambah satu.
“haduh kakek kamu mah lier da, mama nyuruh ke sana supaya kamu dihukum bukannya malah dikasih mobil, mana konci na nu?” tangan mama nemprak dia tidak habis pikir kakek malah memberikanku mobil.
“No, kata kakek juga ini mobilnya inu, Cuma inu yang boleh megang kuncinya..” aku menggeleng pada mama, menduga hal ini akan terjadi sejak tiba dari Jakarta kunci sudah ku simpan dengan baik.
“dibejaken siah ka apih..”
“manga..” kata ku santai. Kalau sudah begini apih pun tidak akan bisa berbuat banyak.
Apih memang panjang umur. Dia muncul di pintu bersama amih di belakangnya.  Aku tetap tiduran di sofa.  Sambil nyengir kea rah nya yang mengerutkan kening sambil memburu ku.
“incu amih te kunanaon nyalira ti Jakarta?” amih menyusul langkah apih, kemudian ia menyergapku.  Aku menelusup masuk ke dalam pelukan amih.
Apih duduk pada sofa di sebelah mama.  Dia terus menatapku.
“kakek kamu mah nyeta sok sarua na, awas lamun eta mobil dianggo te bener..” ancam apih. “sebagai hukuman, saminggu asistenan apih di kamar bedah..”
“NOOOOOOO…” aku berteriak.  Pernah tahun lalu aku menemaninya mengoperasi kepala seorang pasien, waktu itu aku sampai muntah beberapa kali ngeri melihat isi kepala yang dikeluarkaan dari batoknya itu.
“tidak ada tawar menawar. Kamu harus jadi dokter anu hebat engke na..”
Aku memasang wajah memelas pada amih.  Ia mengusap pipiku beberapa kali.
“mih batalin hukumannya..” racau ku manja pada amih.
“te tiasa, eta ges keputusan apih..” sergah apih cepat.
Aku menatap mama. Tidak ada harapan. Kekecewaan masih tergambar jelas di wajahnya.
“sabar ya cu sabar, apih mah sok bakat, tong kudu di waro sadaya na..”
Amih mencoba menenangkanku.  Aku termangu sendiri, membayangkan nasib ku yang bergelimangan darah seminggu di ruang bedah.
Mobilku berhenti di halaman parkir sekolah, pagi ini akhirnya aku mengendarai mobil ku sendiri.  Sengaja aku tidak memberitahu dulu astroboy, bahkan iras.  Rasanya ingin sekali memberikan kejutan kepada mereka semua.  Lagi pula selama beberapa hari hp ku disita mama, sehingga aku tidak bisa menghubungi mereka.
Ini hari selasa, itu berarti empat hari dengan minggu aku tidak bertemu dengan mereka.  Sejak kejadian malam jum’at lalu kami diasingkan oleh keluarga masing – masing.  Udara setiabudhi cukup dingin pagi ini, itu lah alasan kenapa aku tunggang langgang menuju toilet.
Toilet yang saban hari kami jadikan lokasi ‘penganiayayan’ terhadap Ronald yang akhirnya berbuntut panjang.  Termasuk hukuman pembuanganku ke Jakarta.  Maksud mama ingin kakek memberikanku pelajaran, malah memberikan ku sebuah kendaraan.
Alasan kenapa kami murid SMA 2 Bandung senang berlama – lama di toilet sekolah, dan rajin berkunjung ke sini karena toilet kami bersih, tidak kalah lah dengan bersih nya toilet XXI.
Seseorang menabrak ku dan mendorong ku masuk lagi ke dalam toilet ketika hendak keluar.  Ia segera mengunci pintunya.
“iras kangen tau..” kata iras sambil melepaskan ciumannya di bibirku. Aku masih setengah kaget.
“biasa aja deh..” balasku sambil tersenyum “sampai asem gitu mukanya..”
“empat hari kamu enggak ada kabar..” iras menggeram kesal.
Aku tersenyum lagi.
“ya udah keluar yok, nanti disangka yang aneh – aneh ama orang, kan nyium nya udah..” kataku mendorong tubuh iras keluar dari bilik toilet.
Ketika kami berdua sudah berada di lingkungan toilet beberapa orang tampak kaget melihat kami berdua keluar dari bilik toilet yang sama.
“tadi bawa mobil siapa?” Tanya iras.
“mobil inu, bahkan belum ada nomor platnya, bagus gak?”
“bagus, hilang kesempatan iras buat antar jemput kamu ke sekolah..”
Aku tersenyum mendengar jawabannya.  Kami berpisah di tangga yang mengantarkan kami ke kelas masing – masing. Kelas iras di lantai tiga dan kelas ku di lantai empat.
“bos rifnuuuuuu…” tiba – tiba segerombolan bajak laut berteriak dari arah gerbang mereka rupanya baru datang.
Spontan aku berlari menaiki tangga, membiarkan mereka mengejarku. Aku melihat ke belakang, ketujuh orang itu mengejarku semakin heboh.  Aku baru melihat deretan kelas dua, sehingga aku naik tangga lagi.
Aku baru berhenti pada balkon sekolah yang menghadap ke tempat parkir, kelas kami ada di ujung lorong.  Entahlah kelas 1a malah dimulai dari ujung.
“si bos tengil kemarin kemana bos?” tubuh – tubuh itu mengelilingiku.
“kemarin jemput itu tuh..” aku menunjuk ke sudut tempat parkir, ternyata mobilku terparkir bersebelahan dengan mobil dheka dan ardan. Mobil Jordan terparkir beberapa meter lagi darinya.
“asyikkk kita punya inventaris baru..” nollan berteriak – teriak. Memang dalam beberapa kesempatan kami sering kali berdesak – desakan dalam satu mobil Chevrolet Jordan yang memang paling luas dari pada mobil deka dan ardan.
“tapi kok city car lagi bos?” protes ardan, yang memang sering menganjurkan untuk membeli mobil yang agak gede kalau ada salah satu di antara kami akan membeli mobil.
“kakek ngasihnya begituan, masa gue balikin..” aku membela diri.
“sip – sip seenggaknya gue gak duduk di pahanya feddy lagi..” teriak nollan. 
Kami sontak tertawa, waktu kami main ke subang, dan kami hanya bawa satu mobil Jordan kami bertumpuk – tumpuk di dalam mobilnya dan feddy yang memiliki tubuh paling besar akhirnya terpaksa memangku nollan.  Paku payungnya kami.
“eh emang mobil kalian gak pada disita ya?”
“itu lah pentingnya menyimpan kunci duplikat…” teriak ardan dan dheka.
Kami semua tertawa.
“kalau kalian masih ingin mempelajarinya, silahkan buka internet dan pelajari sendiri..” kata bu marsalamah.  Guru biologi kami yang muslimah.
Harusnya hari ini kami membahas tentang organ reproduksi manusia.  Namun ia membatalkannya, gara – gara ia anggap jika ia memberikan pelajaran ini maka ia akan memberikan sesuatu yang tidak pantas buat kami.  Namun aku dan beberapa temanku protes.
Ia lupa, di awal semester ia membagikan silabus dan jauh hari sebelum pelajaran di mulai hari ini kami sudah mempelajarinya.
“memang kalau guru yang berasal dari abad pertengahan pasti akan begini..” bisik kiki yang duduk di sebelahku.
“saya mohon ibu tetap professional, bagaimanapun kami berhak mendapatkan pelajaran mengenai organ reproduksi ini..” kata liliana, ia ketua kelas kami.
“tidak, ibu punya prinsip, muslim tidak mengajarkan hal – hal berbau porno aksi begitu..” sanggah bu marsalamah lagi. “pendidikan seksual, sejak awal kurikulum ini dibuat saya sudah tidak setuju, ini memberikan peluang besar kepada pihak barat memberikan doktrin liberal di Negara kita, kaum muda kita..”
“pihak barat mana yang ibu maksud? Bahkan di kelas mereka tayangan seksual sudah ditayangkan, ini berkaitan dengan kejadian seksual pranikah di Negara – Negara tersebut..” Jordan membantah.
“nah apalagi begitu, mana mungkin sekolah mengajarkan kegiatan seksual kepada muridnya..” kata bu marsalamah lagi.
Aku tidak mengatakan salah perbuatan bu marsalamah, hanya saja pemikirannya yang kolot yang tidak ku sukai.
Aku langsung saja berdiri, menggulung buku biologiku sambil menentengnya ke depan.
“ibu kalau ibu berkenan, silahkan ibu menunggu di kelas, namun kalau keberatan saya mengajak diskusi kawan – kawan sekelas mengenai pendidikan seksual dan perkembangan organ reproduksi, silahkan ibu yang keluar, ini hak kami dan kelas kami..” kataku.
Tanpa memperdulikannya lagi aku mengedarkan pandangan ke seisi kelas.
“baiklah rekan – rekan, diskusi kali ini kita awali dengan apa tujuan dan pentingnya kita mengerti tentang seksualitas.. mengapa remaja perlu mempelajarinya..” kataku menghela nafas. “tahukan rekan – rekan bahwa aktivitas di mulai bahkan sejak kita lahir, bayi menangis, adalah aktivitas seksual, di usia enam bulan bayi mengejan adalah aktivitas seksualnya, memasuki usia toddler, memasukan segela sesuatu ke dalam mulutnya merupakan sebuah kepuasan seksual bagi seorang bayi, secara bertahap kebutuhan seksual setiap individu berbeda..”
“kalau pada masa usia kita, keingin tahuan yang besar terhadap seksual adalah wajar, seiring dengan perkembangan bio dan psikologis usia kita yang remaja, namun rasa keingintahuan dan perlunya mencoba harus didasari dengan kesadaran dan tanggung jawab..”
“tanggung jawab? Kalau sudah mencoba itu memang harus dipertanggungjawabkan..” sanggah sebuah suara dari pojok kelas.
“oh kurang tepat, begini, memasuki usia remaja organ reproduksi kita semakin matang, itu artinya sudah siap untuk dibuahi dan membuahi, nah arti tanggung jawab di sini, kita harus pintar – pintar menjaga, agar kita terhindar dari bahaya mencoba, tanggung jawab pada apapun yang hendak kita perbuat atau apapun yang telah kita perbuat..”
“pendidikan seksual diperlukan untuk meluruskan beberapa pandangan yang salah dianatara kita, dimana banyak remaja yang menganggap bahwa melakukan hubungan seksual sekali tidak akan hamil padahal kalau sang wanita sedang mengalami masa subur bisa saja sekali berhubungan seksual bisa langsung hamil, nah berarti kita perlu juga mengetahui kapan saja masa subur wanita, selain itu untuk mencegah kehamilan, maka kita harus tahu juga kegunaan alat kontrasepsi, bayangkan dalam satu kasus saja ada tiga point penting yang harus kita pelajari…”
“tapi Nu, apa kita harus begitu saja menerobos norma dan agama, kan tadi sudah jelas gimana ribet nya agama sama prinsip..”
Aku melirik bu marsalamah dengan sudut mataku.  Sudah jelas maksud ardan bu marsalamah.
“begini dan, di sini lah perlunya kita membuka pemikiran kita, menjadikan hal – hal baru, hal – hal tabu sekalipun sebagai sebuah ilmu, bukan sebuah pantangan untuk kita pelajari, memangnya apa yang bisa dilakukan ‘katak dalam tempurung’ jadi, selama itu bisa menambah ilmu dan pengetahuan kenapa tidak? Sebagai orang berpendidikan tentu kita tidak akan menelannya bulat – bulat bahkan mentah – mentah, bukannya untuk itu fungsi belajar, sekolah dan pendidikan?”
Entahlah tiba – tiba seisi kelas riuh oleh tepuk tangan untukku.  Aku memutar badan kea rah bu marsalamah.
“saya rasa bantuan dari saya cukup untuk ibu, mungkin itu bisa dijadikan sebuah pembukaan yang sulit, namun sekarang ibu bisa langsung mengajar ke hal – hal yang lebih mudah disampaikan, semoga saya bisa membantu ibu..”
Aku pamit mundur kembali ke bangku ku.  Ku lihat riak tidak nyaman di wajah guru kami tersebut.
“baiklah, saya beri kalian tugas, mengenai apa yang kita diskusikan hari ini, bagaimana pendapat kalian pribadi, lalu hasilnya di posting ke blog, kemudian alamat blognya kirim ke e-mail saya, alamatnya nanti saya berikan kepada ketua kelas..”
Setelah itu, bu marsalamah segera keluar dari kelas. Rasanya aku baru saja memenangkan sebuah pertarungan.
“excellent..” kata nollan sambil mengacungkan dua jempolnya.






7 : I hate him



Entahlah. Aku mendesah, menghembuskan nafas walau begitu terasa berat.  Aku ingin memejamkan mata, namun rasanya aku melotot semakin tajam. Ternyata tidak mudah, waktu yang tersisa hanya tinggal tiga puluh detik lagi. Kemampuan ku mengulur waktu, dan skor tipis tersebut bisa saja membuat tim kami kalah.
Kedua kaki ku menjejak kuat pada badan lapang, terdengar dentuman keras bola yang kemudian secara cepat ditangkap oleh tanganku.  Jika benar perhitunganku, kalau aku menembak dari sudut ini begitu bola masuk ke dalam keranjang maka berakhir pula lah pertandingan final kami.
Bismillahiramnirahim. Bisik hatiku. Kemudian bola ku lemparkan. Padahal beberapa orang teman memintaku untuk mengoperkan bola pada mereka.  Mungkin sudut ini terlalu jauh untuk melakukaan tembakan three point.
Namun hatiku memberontak, aku tetap melemparkan bola.  Begitu tubuhku kembali ke tembok lapangan. Seketika itu juga semua orang berhenti, tatapannya tertuju pada bola ku yang tengah melayang mengarah ke jarring bola.
“67 – 62 for Indonesian… Indonesian the winner….” Gemuruh suara penonton memenuhi soul dome sore itu. Tubuhku sudah diangkat teman – teman satu timku.  Kami juara, meraih medali emas untuk basket di bawah usia Sembilan belas tahun. 
Hamdalah bertaburan di hatiku.
Aku melihat kea rah kursi penonton. Amih dan apih berdiri. Juga kakek yang akhirnya mengalahlkan urusan bisnisnya agar bisa menonton sore ini.  Dan mama yang terus senyum sambil menangis.  Aku melambaikan tangan kea rah mereka. Ingin rasanya memeluk mereka semua.
Mataku selanjutnya mengarah pada supporter kami yang datang jauh – jauh dari bandung. Pasukan ku dari SMA.  Astroboy semuanya hadir lengkap.  Dan yang duduk di tengah – tengah, yang dari tadi duduk memangku tangan sambil terus tersenyum.  Pemimpin supporter sekaligus pelatih terhebatku.

Iras.  Tersenyum bangga.
Aku dan lima belas orang lainnya. Teman satu timku. Maju ke podium juara satu. Diikuti lawan berat yang baru saja kami kalahkah. Tim U-19 jepang.  Ada kebanggan.  Begitu mengingat mereka adalah tim yang begitu ditakuti oleh semua Negara. Namun aku menepuk dada kea rah mereka. Indonesia sore ini menang.
Di podium ke tiga diisi oleh kawan – kawan dari singapura yang katanya bermain habis – habisan melawan tim china.  Tiga Negara dengan perolehan medali di seagames terbanyak tahun ini kini berada di bawah kami.  Aku merasa cukup senang, akhirnya aku dapat memberikan sesuatu buat negaraku.
Mama segera berlari ke arahku, ketika acara penyerahan medali selesai.  Sebagai kapten, aku yang mendapatkan bukee bunga.  Tak ingin menyianyiakan moment ini, aku menyerahkan bukee bunga berukuran besar ini pada mama sambil berlutut dihadapannya.
Mama menutup mulutnya dengan sapu tangan. Di belakangnya tampak apih amih dan kakek yang tertawa geli melihat apa yang aku lakukan di tengah lapang diantara kerumunan banyak orang.
“youre so dam romantic son ohhh my boy….” Lolong mama panjang, tanpa sadar teriakannya mengundang banyak wartawan di sekitar kami untuk mengambil foto kami berdua.
Aku memeluk mama erat, kali ini aku berhasil membuatnya bangga.
“my great grand son..” kakek menepuk – nepuk punggungku. Aku tersenyum ke arahnya.
“what’s mr. antony he’s your grand son?” Tanya seorang wartawan jepang pada kakek. Tanpa ragu kakek menganggukan kepalanya. Dia sudah cukup terkenal di jepang.  Malah aku yakin tidak banyak orang yang menyangka bahwa dia orang Indonesia. Dari tadi kebanyakan wartawan mewawancarainya karena ia menjadi sponsor utama bagi asean basket league tahun ini.
asean basket league yang diikuti oleh cucu kesayangannya.
Akhirnya, kami berlima berjejar menghadapi pertanyaan dari semua wartawan yang kini mengerubungi kami.  Tanganku menggegam lekat mama.  Di sampingku kakek sedang mengeluarkan semua jurus bualannya membesar – besarkan kemenangan tim ku sore ini.
Mataku mencari – cari di sebuah sudut tujuh orang bebal pasukanku sibuk melambaik – lambaikan tangan berusaha mencuri perhatianku. Aku membalas lambaian tangan mereka.
Namun mataku mencari orang yang lain. Dimana iras.
Ia tengah menggiring teman – teman kami yang lain yang datang dari Indonesia keluar dari dome.  Dalam kondisi seperti ini pasti dia akan sangat sibuk.
“kami wartawan dari Indonesia, mochammad rifnu, apa pendapat anda tentang kemenangan anda sore ini? Tentu ini akan jadi berita besar cucu orang terkaya ke delapan di Asia membawa Indonesia merebut medali emas basket…”
Aku tersenyum mendengar pertanyaan wartawan perempuan tersebut. Tanpa melepaskan mama dari sampingku. Aku berusaha menjawab sebaik mungkin.
“kalian ngomongin kakek? What the hell..” aku berteriak diringi oleh tawa kakek dan seluruh keluarga ku. “selama ini aku tidak bangga dengan uang dan nomor ke berapa kekayaannya tersebut, tapi aku yakin hari ini dia sangat bangga padaku..”
Kakek tertawa lebar.
“dia cucu kesayangan saya, sejak kecil saya tau dia akan jadi hebat, dia sudah banyak berprestasi, betul kata dia, siapa saya, uang saya, tidak akan berpengaruh pada semua hal yang ia dapatkan, kami keluarga yang sangat sehat dan bahagia semua anak – anak kami sudah pasti akan sangat hebat…”
“mr rifnu mr rifnu…” dari keriuhan sebuah suara memanggil – manggil namaku. “where’s your father? He’s not join to the party…”
Aku mendesah lemah. Mama memeluk ku erat.
“he’s watching from heaven, dia pasti bangga sama anak laki – laki kesayangannya…”
Aku membuang muka, tiba – tiba saja dada ku rasanya sesak diisi oleh udara yang semakin lama semakin membuat dada ku terasa berat.
Akhirnya mama dan amih mempahku, membawaku keluar dari kerumunan wartawan tersebut. Kakek dan apih berusaha menenangkanku. Walaupun sebenarnya aku baik – baik saja.
“enggak ma, papa enggak akan pernah bangga..” tegas ku pada mama sambil mengepalkan tangan. “I hate him..” aku menjauh menuju loker room.
Tanpa diduga mama mengikutiku ke loker room. Dia menggenggam tanganku kuat.  Aku duduk pada sebuah bangku panjang bersamanya.
“sampai kapan mau benci sama papa? Sampai kapan mau berlaku tidak adil pada hidup kita sendiri nu? Sampai kapan inu mau menolak kenyataan?”
“I hate him..” aku menggumam.  Sekarang kenyataannya begini, semua yang berhasil aku buat seumur hidup tidak akan membuat laki – laki itu bangga. Andaikan ia dapat bercerita.
Seminggu setelah pulang dari korea usai menjadi duta Indonesia untuk menjadi salah satu atlet dari tim basket aku langsung berkutat dengan ujian akhir semester genap.  Aku piker aku cukup kesulitan, sebulan di korea tanpa fasilitas home schooling dan kemalasanku akhirnya aku tidak belajar di sana.
Jadinya ketika pulang ke Indonesia dan dihadapkan pada ujian semester yang banyak sekali tertinggal.  Seminggu mengumpulkan materi yang tercecer selama sebulan. Untung ada kiki yang bersedia mencatat semua materi pelajaran selama sebulan, dia tahu kalau aku pasti membutuhkannya. Malah ketika hendak ku pinjam ia sudah memfotokopikan semuanya.
Kalau saja tidak ada astroboy aku pasti tidak akan tertolong. Selama persiapan sebelum berangkat ke korea ku selalu menyempatkan untuk mengejar ketertinggalan di sekolah.  Mencari materi di internet ataupun berangkat sendiri ke ruang guru meminta materi tertinggal yang membuatku tidak hadir di kelasnya.
Ujian akhir semester berlalu seminggu yang lalu, aku dan astroboy duduk berderet di tempat duduk para murid.  Di depan kami sebuah podium besar tempat para tamu undangan dan orang tua – orang tua kami.  Aku melihat orang tua para astroboy pun duduk berderet bersama mama.  Akhirnya setelah satu semester kebersamaan kami, orang tua kami pun menjadi akrab.
Aku turun dari panggung. System ranking di sekolah kami cukup sulit.  Dimana tiga besar untuk ranking satu dua dan tiga tidak diambil berdasarkan kelas namun berdasarkan angkatan.
Apih masih berdiri menyambutku, ia akhirnya datang juga ke hari pembagian raportku.  Sejak SMP apih memang selalu datang di setiap acara bagi raport atau kenaikan kelasku, ia ingin selalu memantau pretasi belajarku agar kelak bisa lancer masuk fakultas kedokteran oxford seperti keinginannya.
Aku larut ke dalam dekapannya.  Semua orang menatap kea rah kami. Siapa yang tidak kenal apih, kepala rumah sakit hasan sadikin, rumah sakit terbesar kedua di Indonesia menjadi rujukan nasional.  Bahkan RSHS bisa seperti sekarang ini adalah hasil jerih payah apih selama lima belas tahun memimpinnya.
Amih dan mama yang berdiri di sampingnya tidak kalah bangga.  Hanya dalam waktu dua minggu aku berhasil membuat mereka bertiga tersenyum. Setelah membawa Indonesia menang medali emas di asean basket league hari ini aku berhasil jadi ranking satu.
Tiba – tiba di panggung pembawa acara yang merupakan guru kesenian kami sendiri mengumumkan sesuatu.
“baiklah bapak dan ibu sekalian, tiba lah waktunya kami untuk mengumukan siapa juara umum untuk semester ini, yang sekaligus mendapatkan beasiswa selama satu semester penuh dan bantuan dana untuk fasilitas pendidikan..” itu berarti siapapun juara umumnya. Selain dia gratis biaya sekolah ia akan mendapatkan berbagai bantuan. Menurut iras, beasiswa yang biasa didapat oleh juara umum bahkan bisa sampai kebeli motor sport jepang.
Apih sudah tersenyum menantikan. Akumulasi nilaiku ku rasa cukup besar, walau tadi aku tidak terlalu memperhatikan perolehan nilai dari angkatan iras.
“baiklah bapak dan ibu juara umum  kita semester ini jatuh kepada..” pak rianto menghentikan kata – katanya seakan ingin membuat kami penasaran. “Arian Khairul dari kelas XI 4 IPA…”
Gemuruh tepuk tangan menyadarkanku, bahwa bukan namaku yang disebut. Tiba – tiba apih bereaksi.
“lah bagaimana mereka ini, anak itu hanya memperoleh nilah dua ribu delapan ratus waktu tadi disebut jadi juara satu dari kelas kamu, inu tadi sampai tiga ribu tiga ratus lebih..” apih menatap tidak mengerti ke arahku.
Aku pun demikian rasanya kerongkonganku cukup pedas menerima kenyataan ini.  Tiba – tiba apih melambai kepada kepala sekolah yang duduk sejajar dengannya.  Aku duduk di samping mama, menantikan hasil perbicangan apih dan kepala sekolah.
Tangan apih melambai ke arahku. Ia meminta ku mengikutinya yang bergegas bersama kepala sekolah yang beranjak meninggalkan podium para tamu undangan.  Kami bertiga beriringan menuju ruangan kepala sekolah.
“mari pak silahkan duduk..” kepala sekolahku membukakan pintu kemudian mempersilahkan duduk pada sofa yang melingkar di sana.
Kemudian kepala sekolah membuka ponselnya menelpon guru yang lain untuk datang ke ruangan ini.
Aku duduk berdua dengan apih. Menunggu guru yang dimaksud untuk datang.
Seorang guru yang tidak ku kenal, mungkin karena ia tidak mengajar di kelasku jadi akhirnya aku tidak mengenalinya.
“duduk pak ari..” kata pak syafiq.
“baiklah begini pak, pertama saya akan jelaskan terlebih dahulu, kenapa rifnu tidak menjadi juara umum, ini dikarenakan rifnu masih duduk di kelas satu yang pelajarannya masih banyak, sedangkan arian di kelas dua dia sudah masuk dijurusan sehingga mata ajarnya sudah sesuai program yang dituju..”
“lah kan kalau nilai harusnya yang tertinggi, yang jadi juara..” kata apih lagi.
“begini sebenarnya, kami menyadari sejak awal bahwa ini bakal terjadi, pasti rifnu keberatan, namun kami memiliki pertimbangan lainnya pak, arian ini anak dari keluarga tidak mampu, kalau harus kami jelaskan kondisi keluarganya, kedua orang tuanya hanya pemulung, maka dari itu kami pikir kalau arian lebih membutuhkan beasiswa itu dari pada nak rifnu, karena seperti bapak ketahui sekolah kita tidak memiliki program beasiswa untuk siswa tidak mampu..”
Apih memandang kaku padaku.  Aku masih melihat riak keruh di permukaan matanya.  Bagiku sebenarnya beasiswa itu tidak masalah.  Hanya saja prestise.  Apa yang ku capai.  Atau mungkin ini hanya dampak dari keegoisanku yang merasa tidak pernah kalah sejak dulu.  Sejak aku pikir aku bisa mendapatkan apa yang aku mau. Aku pemenangnya dan tidak ada yang boleh mengalahkanku.