Tanganku kembali mencekik
kerah kemeja Ronald. Di sampingku ardan tampak bersungut – sungut ia jadi yang
paling kesal siang ini. Sementara feddy
dan dheka ikut mengelilingi tubuh Ronald yang disekap olehku dan ardan. Di pintu toilet berdiri Jordan dan dariz
berdiri berjaga – jaga. Di ujung lorong
kiki yang memantau, mengkondisikan siapapun yang akan masuk toilet harus
berbalik.
Dan…
Satu makhluk mirip
setrikaan tidak bisa diam terus bolak – balik terus mencemaskan kalau suatu
waktu guru, satpam, atau anggota keamanan sekolah datang ke sini memergoki
kami. Nollan..
“guys udah lah, kita
lepasin aja nih ayam kate, gimana kalau kita sampai ketauan guru..”
“gak peduli..” sahut ardan
singkat tanpa melepaskan cengkramannya.
Kepalan tangannya barusan berhasil membuat mata kirri Ronald lebam dan
ujung bibirnya sobek sehingga mengalirkan darah yang cukup deras.
“kalau anggota keamanan
sekolah..” nollan berusaha nongolin kepalanya diantara ku dengan ardan.
“gue bisa bikin mereka kaya
gini satu – satu..” ardan melirik pada nollan melalui ujung matanya.
“tapi guys..” bisik nollan
lagi.
“elu semua kalau emang pada
berani jangan pada bacot doing donk..” tiba – tiba suara roland memecahkan
kekhawatiran nollan.
“jedug..” tanpa alasan
apapun aku melayangkan tinjuku. Hingga
kini lebam di wajah Ronald bertambah.
Ardan tampak terkejut
dengan apa yang aku lakukan. Aku hanya merasa taekwondo yang ku pelajari bisa
berguna pada kondisi seperti ini.
Nollan dan yang lain ikut
menatapku, Ronald tersenyum sinis lagi.
Spontan aku memukul sudut mulutnya yang satu lagi. Tanpa banyak bicara,
tanpa melepaskan cengkraman tanganku di kerah bajunya.
“nah luh sakit kan luh?
Jangan macam – macam ama genk kita makanya..” nollan mencibir pada Ronald.
Sementara Ronald kini tidak
bicara, sepertinya pukulan ku di ujung bibirnya cukup keras sehingga dia tidak
mau bicara lagi kini.
“halah pukulan anak mami
kaya kalian buat gue Cuma kaya dielus sama kueh apem..” tanpa diduga Ronald
meludah. Aku berhasil mengelak, namun air ludahnya mengenai ardan dan nollan.
Sontak. Tangan ku memburu
bahkan nollan mulai menendang – nendang.
Aku tidak tinggal diam. Aku, ardan dan nollan segera mengkeroyoknya.
Pukulanku di beberapa titik tubuh Ronald membuatnya tersungkur di lantai toilet
sekolah. Feddy, dheka, Dariz dan Jordan
ikut bergabung. Ardan yang dari tadi
memang yang sangat bernafsu sampai menampar – namparkan sepatunya yang lepas di
wajah Ronald.
Kami bertujuh menikung
tubuh Ronald yang terkoyak tidak berdaya di lantai kamar mandi. Sampai teriakan kiki dari lorong yang membuat
kami berhenti.
“woy ada pasukan keamanan
sekolah, hayo bubar..”
Akhirnya kami lari kea rah
belakang sekolah menjauh dari para pasukan kemanan sekolah, setelah mengancam
Ronald agar tidak membocorkan siapa pelaku yang telah membuat tubuhnya seperti
ayam penyet begitu.
Sebenarnya masalah kami
dengan Ronald sepele. Bahkan Ronald di sekolah tidak memiliki teman atau
bergank seperti kami. Awalnya kami tidak ingin terlihat pengecut sekali dengan
mengeroyok Ronald. Hanya saja sikap belagunya membuat kami terganggu.
Mulai dari tengil di kelas,
merasa jadi juara kelas, sok berkuasa karena sebangku dengan ketua kelas dan
kenal dengan beberapa seleb sekolah dari kakak kelas. Kemudian beberapa cara liciknya yang berhasil
kami cium membuat kami sengak. Yang terakhir, ia disuruh menyampaikan ke seisi
kelas oleh guru kimia kami tentang tugas kimia yang harus dikumpulkan hari
ini. Dia hanya memberi tahu kepada teman
– teman satu baris bangkunya saja dan bilang ke mereka kalau sudah mengumumkan
nya pula pada anak yang lainnya.
Akhirnya, pagi tadi kami
yang tidak kebagian pengumuman Ronald dihukum pak jeff menghormat bendera di
lapangan sekolah selama dua jam. Yang membuat ardan memuncak emosinya, ternyata
cewek yang tidak berhasil ia ajak nonton malam minggu kemarin membatalkan janji
gara – gara dihasut Ronald untuk tidak pergi dengan bilang bahwa ardan
menderita herpes.
Maka pada saat jam
istirahat tiba, kami menyeret curut tersebut ke toilet. Aku merasa muak, karena tugas pak jeff
ternyata termasuk point di nilai semester.
Bagiku, di sekolah ini tidak ada satupun hal yang boleh mengacak – acak
nilaiku.
…
Aku menggigit roti bread co
yang dibawa iras. Mencincang keju yang muncul dari dalamnya. Menyisakan bagian lain yang beraroma vanilla
kesukaan iras. Kemudian memasukan roti tersebut ke mulut iras.
Ku serahkan susu kedelai
pada iras, ia tampak kesulitan mencerna roti yang dimakannya. Kami tengah makan malam berdua di depan
lapang gasibu.
“iras denger dari anak –
anak paspam tadi pagi ada anak kelas satu yang dikeroyok, sayang tau siapa yang
ngeroyok?” kata iras sambil menghabiskan tegukan terakhir susunya.
Aku menggeleng polos.
“mata kamu itu gak pernah
bisa bohong tau..” iras menyeledik.
“inu gak suka kalau ada
tukang pamer di kelas, bahkan kalau ada mafia kaya begituan..” jawabku dingin,
sambil membuka kemasan roti yang lain.
“kan ada osis, ada paspam,
gak baik loh kaya gitu kalau ketauan ancamannya dikeluarin dari sekolah
sayang..” kata iras sambil membetulkan kemeja hitam anehnya yang berlogokan
sebuah ban besar.
Beberapa orang yang lalu
lalang di sekitar kami, tampak memalingkan wajahnya kea rah kami berdua ketika
iras menyebut kata sayang dengan tekanan yang sedikit agak keras. Aku menyenggol
pundak iras dia hanya tersenyum bodoh seperti biasa.
“kan pacaran ama pengurus
osis..” kataku sambil cengengesan.
“dasar bandel, balik yok
udah malem..”
Aku meloncat dari kap mobil
iras kemudian berjalan ke dalam mobil duduk di samping iras yang akan menyetir. Dalam hitungan beberapa detik, kami keluar
dari lapangan gasibu.
…
Mobil iras berlalu belum
jauh, sengaja aku minta berhenti di mini market yang terletak di sebrang
gerbang kompleks perumahanku. Tubuhku
mendorong pintu yang bertulis tarik dan menarik pintu yang bergagang dorong.
Kebiasaanku.
“selamat malam, selama
datang di alfamart..” kata seorang kasir pria yang berdiri di belakang meja
kasir.
Aku berlalu tanpa
menghiraukannya, mencari pembalut wanita yang dipesan mama.
“yang wings apa yang biasa
ya?” gumamku sambil berdiri di depan rak yang menjejarkan berbagai macam
pembalut bahkan sampai popok bayi.
Aku lupa apa pesanan
mama. Kemudian tanganku mengodok saku di
dekat lutut celana sontogku.
Hp ku tidak ada, aku
mencari pada kantong yang lain. Tetap sama., hp ku tidak ada. Aku baru ingat, tadi di dalam mobil iras
memeriksa hpku. Sepertinya ia lupa
mengembalikan. Akhirnya akupun mengambil
satu boks besar pembalut wanita tanpa perduli apa yang ku ambil.
Untunglah dompetku masih
ada. Aku membawa satu kemasan pembalut
tersebut ke meja kasir.
“djarum black satu..” aku
menunjuk pad arak di belakang punggung kasir.
Kasir tersebut mengambil
pesanan rokok yang ku minta. Kemudian ia menjajarkan rokok tersebut bersama
pembalut pesanan mama.
“ada lagi a?” kata kasir
laki – laki tersebut sambil senyum – senyum tidak jelas.
“gak ada lagi mas, jadi gak
perlu senyum – senyum sok manis segala, itung semuanya berapa..” kata ku
jengkel. Apa aku ini memang tipe cowok yang ditaksir cowok juga? What the hell.
Kasir tersebut membuang
muka sebal. Aku tidak peduli, aku agak sedikit jengkel kenapa hpku harus
tertinggal di mobil iras segala.
Setelah membayar rokok dan
pembalut mama aku keluar. Mendorong
pintu tarik dan menarik pintu dorong.
“rifnu ya..” tiba – tiba
beberapa orang mengerubungiku begitu tubuhku berada di luar pintu minimarket.
Di bagian paling belakang
rombongan orchestra tersebut muncul muka lebam Ronald. Aku tersenyum sinis,
mungkin ia bermaksud balas dendam.
“iya betul, nama gue
ternyata cukup terkenal juga sampai tukang ngamen tau segala..” mulut pedasku
bereaksi.
“shit..” kata orang yang
berdiri paling dekatku sambil membuang ludah.
“halah orang ujung berung
sok – sokan pake bahasa inggris segala..”
“gini ya bos, gue gak
peduli lu anaknya siapa, tapi lu udah ngusik ketenangan adik gue, jangan kira
kita bakal tinggal diam…” kata yang paling tua sambil menggemulutukan giginya.
“ oh curut itu adek lu
pantes mirip, sekeluarga tikus semua..” mulutku semakin tidak tertahan. Walaupun aku tidak tahu bagaimana caranya
menghadapi mereka yang hampir saja berjumlah lima belas orang ini.
Beberapa bersandar di
belakang mobilnya masing – masing yang memenuhi halaman parkir minimarket ini.
“jaga tuh mulut anak muda…’
dia semakin mendekat.
Tiba – tiba sebuah mobil
melaju kencang. Menyeruak ke halaman
parkir minimarket juga. Aku melihat iras
keluar dari sana.
Iras mendobrak beberapa
tubuh yang berjejar menghalangiku. Anehnya hanya dengan menatap iras mereka
mundur beberapa langkah. Iras berdiri membelakangiku.
“sorry ada urusan apa?
Soalnya urusan dia urusan gue juga..”
“gue apog..” orang yang
tadi ngaku kakaknya Ronald itu memperkenalkan diri pada iras. Lagi, matanya
tertuju pada kemeja iras. “gue sebenarnya gak nyari urusan apapun, tapi temen
lu udah main payah sama temen gue..”
“main payah kaya gimana? Lu
gak nyoba nanya temen lu dulu kenapa dia sampai digebukin kaya gitu?” iras
menunjuk kea rah Ronald.
“oke gue sebenarnya lagi
gak mau cari masalah, gua juga bakalan nanya kok temen gue, oke lah gue pergi
dulu..”
Tidak lama rombongan sirkus
tersebut meninggalkan kami berdua. Aku
sendiri cengok, seperti melihat kawanan hyna yang pergi tunggang langgang
setelah diberikan auman besar oleh singa bernama iras makki.
Tangan iras mengucek – ucek
ujung kepalaku. Tampak kekhawatiran yang cukup besar di matanya.
Aku digiring ke dalam
mobil, rencana semula aku tidak akan diantarkan ke rumah akhirnya diantar juga
olehnya ke rumah.
“untung coba iras kepikiran
buat balikin hp..” iras tampak menyesalkan keputusannya meninggalkan ku
sendirian di minimarket.
“kok mereka bisa takut gitu
sama iras?” aku masih tak mengerti kenapa tadi mereka lari tunggang langgang
ketika melihat iras.
“mereka kayanya liat kemeja
iras, sama logo block di mobil, iras ikutan komunitas ini sejak SMP, komunitas
mobil terbesar di bandung, yang ikutan kebanyakan orang – orang yang punya
duit, bos, bahkan sampai preman – preman besar di bandung sama Jakarta, makanya
mereka jadi pada keder begitu liat logo block sama kemeja iras..”
Aku mengangguk – angguk
persis ayam yang lagi sarapan.
“pacar gue gangster juga
ternyata..” gumamku pelan
Iras menghentikan mobil di
depan gerbang rumahku.
“be safe ya, iras gak
bakalan bisa ngawasin inu 24 jam terus menerus, jangan sampai ngedeketin hal –
hal bahaya lagi, ini bukan SMP lagi yang urusan bisa diselesaikan Cuma antar
geng di kelas, tapi udah banyak anak – anak SMA yang ikutan sama geng besar di
jalanan. Inget kalau ada apa – apa langsung telpon iras..”
Aku tidak terlalu memperhatikan
perkataan iras. Kemudian keluar dari dalam mobil setelah mengecup di bibir
bawelnya.
…
Jam istirahat sudah lewat
beberapa menit yang lalu. Kami delapan
orang atroboy berjalan beriringin ke dalam kelas kami yang ada di lantai empat.
Tinggal satu tangga lagi.
“kalau gitu untung ya ada
ketua osis itu..” kata dheka.
Ardan mengangguk. “gue udah
salah kira sama tuh orang, gue pikir dia anaknya sok diplomatis gitu, kaku,
atau apalah taunya ikutan geng gede gitu..”
Aku tidak menyaut. Sejak tadi pagi aku menceritakan kejadian
semalam mereka mulai meributkan soal iras. Mereka mulai mengira kami dekat gara
– gara satu tim di basket. Padahal lebih dari itu kami berdua pacaran.
“bukannya kemarin – kemarin
kalian berdua pernah rebut?” Tanya nollan.
“kalian berdua siapa?”
sahut dheka.
“inu sama iras..” jelas
nollan lagi. Sambil menunjuk wajahku.
“itu awalnya, sebelum gue
sadar gue salah faham, kalau gue gak masuk line up, gara – gara gue harus masuk
seleksi seagames..” aku seperti diingatkan kejadian beberapa bulan lalu, ketika
iras mengerjaiku, dengan tidak memasukanku di line up liga SMA malah memasukan
ku di seleksi sea games.
“lah emang dia gak bilang
dari awal gitu nu kalau lu jadi kandidat ke seagames, malah kesannya kaya
ngerjain lu dulu kaya buat ngasih kejutan sama lu..”
Kompak semua mata tertuju
pada kiki kemudian ke arahku. Pertanyaan kiki membuatku tertohok. Cukup dalam. Aku bahkan kebingungan hendak
menjawab apa.
“ya mungkin kan seagames
acara penting, pelatih pengen ngasih gue sureprise kaya kata lo..” kataku
gelagapan.
“hey kalian yang masih
ngumpul di sana ayo masuk…” pak jeff yang kemarin bermasalah dengan kami
menyentak dari belakang. Teman – teman
kami yang lain semuanya memang sudah ada di kelas. Kecuali kami semua.
Rebutan kami masuk ke dalam
kelas. Beberapa mata tampak mendelik
sebal karena gara – gara ulah kamilah akhirnya pembelajaran terlambat. Aku melihat kursi di sebelah bintang kosong,
Ronald tidak masuk. Dia sakit. Dan ku
pikir di rumah dia bisa belajar banyak.
…
Aku seperti maling ayam
yang digiring keluar dari polsek buah batu.
Tujuh temanku yang lain sudah dijemput juga oleh orang tua mereka masing
– masing. Bahkan mobil kami semua sudah
dibawa oleh sopir yang ikut bersama mobil orang tua kami semua.
Aku melihat nollan sedang
dimarahi habis – habisan di dalam mobilnya oleh mamanya yang batak itu.
“hidup kamu gak bakalan
tenang selama sebulan anak muda..” ancam mama.
“udah nuy udah, udah malam
si inu mau istirahat bukannya malah diancam – ancam kaya gitu..”
Aku larut lagi ke dalam pelukan
amih, Cuma dia satu – satunya yang mengerti aku saat ini. Aku bersembunyi dari
serangan berikutnya yang mungkin akan lebih kejam. Apih. Dia masih ngobrol di
depan polsek bersama kapolsek yang dikenalnya dengan sangat baik itu. Bahkan beberapa kali ia sempat ke rumah,
pernah juga bertemu denganku.
Makanya ketika tadi
digiring sama anak buah – anak buahnya ke polsek ia langsung mengenaliku.
Mengenali teman – temanku juga yang lain. Yang kebanyakan anak – anak orang
penting juga di bandung, jawa barat, bahkan di Negara ini.
Apih masuk ke dalam mobil.
Ia yang nyetir. Sopirnya membawa mobil mama yang semalam ku pakai.
“haduh ahmaaaddd.. baong
siah maneh, he’eh..” lolong apih ketika masuk mobil dan duduk di belakang
kemudi.
“siapa yang bilang inu
baong? Tanya pak hendarko siapa yang nyerang duluan..” sahutku dari belakang.
Dari semua cucunya, bahkan cicitnya, hanya aku satu – satu nya yang bisa
menyaut, bahkan balik marah kalau apih sedang marah.
“he’eh apih ge apal, tapi
incu apih mah eweh nu main preman – premanan siga kitu..” sergah apih lagi
sambil menyalakan mobil.
“kamu udah malu – maluin,
kalau kaya gitu lawan pakai otak bukan malah ribut – ribut..” mama menambah
kayu dionggokan api unggun yang tengah dinyalakan apih.
“yang penting inu menang…”
“repeh siah maneh preman..”
apih membentak lagi. “terus saacan na ngoroyok deih nyah di sakola? Aduh nu
kumaha ye the sakola the..”
Mama terbelalak mendengar
apa yang dikatakan apih. Aku semakin larut di dalam pelukan amih.
Aku tidak menjawab. Kena
aku kali ini.
“siapa yang mukul duluan?
Siapa ketua nya?”
“inu ma…” tanyaku lemah.
“anu te nyangka mah, itu
rencang kamu the anak na kepala dinas kesehatan provinsi? Anak na diplomat oge?
Anak na pa Indofood oge?”
Aku mengangguk ke arah
apih. Mungkin maksud apih kiki yang anak kepala dinas kesehatan provinsi apih
pasti akan kenal baik mengingat ia kepala rumah sakit nasional. Ardan yang papa nya seorang diplomat yang
baru tahun ini kembali ke Indonesia dan tinggal di bandung dan anak dari bos
Indofood Jordan. Dan mereka semua
bertemu di polsek barusan.
“aduh nu, kalau apih
hokum….” Apih berteriak lagi.
“atos apih atos, karunya
incu amih, atos isuk we isuk engke mamagahan na..” bela amih memotong teriakan
apih. Aku tidak dilepaskannya sama sekali..
“ulah sok diolo wae gera
budak the, jadi na kitu tah..”
Mobil mulai melaju pelan.
Kami sebentar lagi sampai, apapun konsekuensinya yang pasti hukuman berat
menantiku esok pagi.
…
Aku masih celingukan di
lobi tempat kerja kakek. Sebuah kantor yang terletak di ketinggian seribu kaki,
lantai empat puluh delapan. Menghabiskan berbagai snack dan premen. Ini
hukumanku, aku terpaksa tidak masuk sekolah sampai hari senin. Mama mengasingkan ku ke sini, ke tempat yang
dua tahun belakangan mulai jarang aku kunjungi.
Sebenarnya aku bukan tidak
mau datang ke sini. Tapi kakek terlalu
membosankan walaupun cintanya begitu besar terhadapku atau kak lili. Ia pasti akan memeberkan banyak hal, bagaimana
ia memulai sebuah perusahaan yang sudah bangkrut yang diwariskan oleh kakeknya.
Juga bagaimana ia mati-matian membesarkan perusahaannya ini.
Dan yang agak sedikit
menyentuhku, adalah besarnya cintanya pada papa. Bagi kakek papa selalu jadi anaknya yang
membanggakan.
Rupanya kami mempunyai
kesamaan dalam hal ini terhadap orang itu.
“mas maaf, di sana ada
tempat sampah, bekas premen atau bekas makanan ringannya bisa dibuang ke sana
dan tidak membuat berantakan lobi kami..”
Seorang receptionist tiba –
tiba berdiri dari balik mejanya.
Aku melepaskan headphone
yang sedang ku kenakan.
“ngomong ama gue?” aku
menunjuk wajahku dengan jari tanganku sendiri. “sejak kapan ada aturan yang
ngelarang gue gak boleh makan sama tiduran di sini hah?”
“ssstttt..” tiba – tiba
seorang satpam yang asalnya berdiri di dekat lift mendekat pada perempuan
tersebut. “cari mati kamu, dia cucu nya pak antony..”
Aku memperhatikan, wajah
gadis tersebut yang tiba – tiba memerah.
“urusan kita belum beres..”
ku lemparkan gulungan kertas yang tadi membungkus roti prancis yang ku beli.
Sambil berlalu ke dalam ruang kerja kakek.
Setelah satpam membukakan
ruangan kerja kakek aku melenggang masuk dengan lancer, masih ruangan kerja
yang sama. Yang sejak TK selalu aku kunjungi bersama papa, atau ketika papa dan
mama sama – sama sibuk mereka akan menitipkan ku ke sini.
“my son..” teriak sebuah
suara yang sangat ku kenal.
“hay..” sapaku datar sambil
membalas pelukannya.
“udah lama di sini nak?”
Aku mengangguk. Sambil
menggerutu. “hampir kering, kenapa gak bilang kalau kakek rapatnya ngebahas isi
belanjaan mama, itu gak bakalan habis kalau di bahas..”
Kakek tergelak.
“begini nu, kakek
sebenarnya ini masih rapat, tapi ingat kamu sedang ada di sini, sekarang ayo
ikut kakek ke atas..”
“hah mau ngapain?” tanyaku
tak mengerti.
“sudahlah..” kakek
menatapku yakin. Kami berdua beriringan keluar dari ruang kerja kakek.
“pecat dia..” kataku pada
kakek sambil kami berlalu di depan meja receptionist.
Kakek mengayunkan
tangannya. Mengusir gadis yang tadi mengusik ketenangannku. Sebuah kesombongan
yang memberikanku pelajaran besar di kemudian hari.
Aku dibawa masuk ke dalam
lift oleh kakek. Naik beberapa lantai, kemudian pintu lift terbuka kami berdua
bergegas keluar. Aku masih mengikuti
langkah – langkah kakek, sampai tiba di satu pintu kakek mengajak ku masuk.
Di dalam nya terdapat
sebuah meja bundar yang cukup lebar, di kelilingi oleh kursi – kursi yang
dipenuhi oleh para anggota dewan komisaris.
Ada satu om ku yang ku kenal duduk di sana. Dia saudara tua papa.
“hadirin sekalian mari saya
perkenalkan, cucu saya tercinta, rifnu prihata, penerus tahta antony group,
dalam beberapa tahun kemudian dia pasti sudah siap untuk jadi presdir
menggantikan kakeknya yang ingin pension, lihatlah ganteng kakek memang tidak
akan jauh menurun kemana selaain ke cucu sendiri..”
Beberapa dari dewan
komisaris tersebut tertawat mendengar lelucon kakek. Aku hanya tersenyum
rikuh. Mungkinkah ini maksud dari
hukuman untuk ku dari kakek yang semalam di sampaikan mama.
“ayo nak, cukup sekarang
kakek punya satu mainan lagi buat kamu..” kata kakek berikutnya, ia mengajak ku
keluar lagi.
Kami naik lift dan langsung
menuju lobi utama. Entah apalagi.
Mungkin kali ini dia akan memperkenalkanku dengan satpam.
“mana pram? Suruh bawa ke
sini..” komando kakek pada beberapa asistennya.
Kami berdua berdiri di luar
lobi utama, aku memandam tak mengerti pada ulah kakek yang membuat beberapa
anak buahnya mondar – mandir.
Tiba – tiba saja sebuah
mobil mazda 2 berwaran putih berhenti di hadapan kami.
“kakek pikir cukuplah buat
kamu pergi ke sekolah..”
Aku melonjak seketika,
memeluk kakek. Kesenangan luar biasa.
“thanks kek, bener – benar
dah..”
“semalam mama kamu nelpon,
kamu pergi pake mobilnya dia kan? Jadi kakek pikir kamu butuh mobil sendiri…”
Seperti biasa, kakek selalu
gagal faham. Yang ku yakini pasti mama
mengeluh karena kelaakuan ku. Ia mungkin mengadu bahwa aku sudah nakal dengan
memakai mobilnya untuk main semalaman.
Malah ditanggapi oleh kakek mama memintanya membelikaan ku mobil.
Dalam beberapa detik aku
sudah ada di dalam mobil baruku, kakek tersenyum lebar di depan lobi.
“belajar yang bener, kalau
tahun ini bisa sampai juara satu, kakek kasih yang lebih bagus..” kata kakek
sambil menepuk nepuk pintu mobil.
“ini juga udah bagus kek,
thanks ya..”
“ya belum mahal lah, buat
anak SMA jangan yang mahal – mahal dulu deh..”
Aku mengangguk, sambil
mencoba menyalakan kemudian melaju kencang di area perkantoran kakek. Kali ini, aku bisa pulang ke bandung dengan
mobil sendiri. Dan astroboy pasti kegirangan kini kendaraan kami bertambah satu.
…
“haduh kakek kamu mah lier
da, mama nyuruh ke sana supaya kamu dihukum bukannya malah dikasih mobil, mana
konci na nu?” tangan mama nemprak dia tidak habis pikir kakek malah
memberikanku mobil.
“No, kata kakek juga ini
mobilnya inu, Cuma inu yang boleh megang kuncinya..” aku menggeleng pada mama,
menduga hal ini akan terjadi sejak tiba dari Jakarta kunci sudah ku simpan
dengan baik.
“dibejaken siah ka apih..”
“manga..” kata ku santai.
Kalau sudah begini apih pun tidak akan bisa berbuat banyak.
Apih memang panjang umur.
Dia muncul di pintu bersama amih di belakangnya. Aku tetap tiduran di sofa. Sambil nyengir kea rah nya yang mengerutkan
kening sambil memburu ku.
“incu amih te kunanaon
nyalira ti Jakarta?” amih menyusul langkah apih, kemudian ia menyergapku. Aku menelusup masuk ke dalam pelukan amih.
Apih duduk pada sofa di
sebelah mama. Dia terus menatapku.
“kakek kamu mah nyeta sok
sarua na, awas lamun eta mobil dianggo te bener..” ancam apih. “sebagai
hukuman, saminggu asistenan apih di kamar bedah..”
“NOOOOOOO…” aku berteriak. Pernah tahun lalu aku menemaninya mengoperasi
kepala seorang pasien, waktu itu aku sampai muntah beberapa kali ngeri melihat
isi kepala yang dikeluarkaan dari batoknya itu.
“tidak ada tawar menawar.
Kamu harus jadi dokter anu hebat engke na..”
Aku memasang wajah memelas
pada amih. Ia mengusap pipiku beberapa
kali.
“mih batalin hukumannya..”
racau ku manja pada amih.
“te tiasa, eta ges
keputusan apih..” sergah apih cepat.
Aku menatap mama. Tidak ada
harapan. Kekecewaan masih tergambar jelas di wajahnya.
“sabar ya cu sabar, apih
mah sok bakat, tong kudu di waro sadaya na..”
Amih mencoba
menenangkanku. Aku termangu sendiri,
membayangkan nasib ku yang bergelimangan darah seminggu di ruang bedah.
…
Mobilku berhenti di halaman
parkir sekolah, pagi ini akhirnya aku mengendarai mobil ku sendiri. Sengaja aku tidak memberitahu dulu astroboy,
bahkan iras. Rasanya ingin sekali
memberikan kejutan kepada mereka semua.
Lagi pula selama beberapa hari hp ku disita mama, sehingga aku tidak
bisa menghubungi mereka.
Ini hari selasa, itu
berarti empat hari dengan minggu aku tidak bertemu dengan mereka. Sejak kejadian malam jum’at lalu kami
diasingkan oleh keluarga masing – masing.
Udara setiabudhi cukup dingin pagi ini, itu lah alasan kenapa aku
tunggang langgang menuju toilet.
Toilet yang saban hari kami
jadikan lokasi ‘penganiayayan’ terhadap Ronald yang akhirnya berbuntut
panjang. Termasuk hukuman pembuanganku
ke Jakarta. Maksud mama ingin kakek memberikanku
pelajaran, malah memberikan ku sebuah kendaraan.
Alasan kenapa kami murid
SMA 2 Bandung senang berlama – lama di toilet sekolah, dan rajin berkunjung ke
sini karena toilet kami bersih, tidak kalah lah dengan bersih nya toilet XXI.
Seseorang menabrak ku dan
mendorong ku masuk lagi ke dalam toilet ketika hendak keluar. Ia segera mengunci pintunya.
“iras kangen tau..” kata
iras sambil melepaskan ciumannya di bibirku. Aku masih setengah kaget.
“biasa aja deh..” balasku
sambil tersenyum “sampai asem gitu mukanya..”
“empat hari kamu enggak ada
kabar..” iras menggeram kesal.
Aku tersenyum lagi.
“ya udah keluar yok, nanti
disangka yang aneh – aneh ama orang, kan nyium nya udah..” kataku mendorong
tubuh iras keluar dari bilik toilet.
Ketika kami berdua sudah
berada di lingkungan toilet beberapa orang tampak kaget melihat kami berdua
keluar dari bilik toilet yang sama.
“tadi bawa mobil siapa?”
Tanya iras.
“mobil inu, bahkan belum
ada nomor platnya, bagus gak?”
“bagus, hilang kesempatan
iras buat antar jemput kamu ke sekolah..”
Aku tersenyum mendengar
jawabannya. Kami berpisah di tangga yang
mengantarkan kami ke kelas masing – masing. Kelas iras di lantai tiga dan kelas
ku di lantai empat.
“bos rifnuuuuuu…” tiba –
tiba segerombolan bajak laut berteriak dari arah gerbang mereka rupanya baru
datang.
Spontan aku berlari menaiki
tangga, membiarkan mereka mengejarku. Aku melihat ke belakang, ketujuh orang
itu mengejarku semakin heboh. Aku baru
melihat deretan kelas dua, sehingga aku naik tangga lagi.
Aku baru berhenti pada
balkon sekolah yang menghadap ke tempat parkir, kelas kami ada di ujung
lorong. Entahlah kelas 1a malah dimulai
dari ujung.
“si bos tengil kemarin
kemana bos?” tubuh – tubuh itu mengelilingiku.
“kemarin jemput itu tuh..”
aku menunjuk ke sudut tempat parkir, ternyata mobilku terparkir bersebelahan
dengan mobil dheka dan ardan. Mobil Jordan terparkir beberapa meter lagi
darinya.
“asyikkk kita punya
inventaris baru..” nollan berteriak – teriak. Memang dalam beberapa kesempatan
kami sering kali berdesak – desakan dalam satu mobil Chevrolet Jordan yang memang
paling luas dari pada mobil deka dan ardan.
“tapi kok city car lagi
bos?” protes ardan, yang memang sering menganjurkan untuk membeli mobil yang
agak gede kalau ada salah satu di antara kami akan membeli mobil.
“kakek ngasihnya begituan,
masa gue balikin..” aku membela diri.
“sip – sip seenggaknya gue
gak duduk di pahanya feddy lagi..” teriak nollan.
Kami sontak tertawa, waktu
kami main ke subang, dan kami hanya bawa satu mobil Jordan kami bertumpuk –
tumpuk di dalam mobilnya dan feddy yang memiliki tubuh paling besar akhirnya
terpaksa memangku nollan. Paku payungnya
kami.
“eh emang mobil kalian gak
pada disita ya?”
“itu lah pentingnya
menyimpan kunci duplikat…” teriak ardan dan dheka.
Kami semua tertawa.
…
“kalau kalian masih ingin
mempelajarinya, silahkan buka internet dan pelajari sendiri..” kata bu marsalamah. Guru biologi kami yang muslimah.
Harusnya hari ini kami
membahas tentang organ reproduksi manusia.
Namun ia membatalkannya, gara – gara ia anggap jika ia memberikan
pelajaran ini maka ia akan memberikan sesuatu yang tidak pantas buat kami. Namun aku dan beberapa temanku protes.
Ia lupa, di awal semester
ia membagikan silabus dan jauh hari sebelum pelajaran di mulai hari ini kami
sudah mempelajarinya.
“memang kalau guru yang
berasal dari abad pertengahan pasti akan begini..” bisik kiki yang duduk di
sebelahku.
“saya mohon ibu tetap
professional, bagaimanapun kami berhak mendapatkan pelajaran mengenai organ
reproduksi ini..” kata liliana, ia ketua kelas kami.
“tidak, ibu punya prinsip,
muslim tidak mengajarkan hal – hal berbau porno aksi begitu..” sanggah bu marsalamah
lagi. “pendidikan seksual, sejak awal kurikulum ini dibuat saya sudah tidak
setuju, ini memberikan peluang besar kepada pihak barat memberikan doktrin
liberal di Negara kita, kaum muda kita..”
“pihak barat mana yang ibu
maksud? Bahkan di kelas mereka tayangan seksual sudah ditayangkan, ini
berkaitan dengan kejadian seksual pranikah di Negara – Negara tersebut..”
Jordan membantah.
“nah apalagi begitu, mana
mungkin sekolah mengajarkan kegiatan seksual kepada muridnya..” kata bu
marsalamah lagi.
Aku tidak mengatakan salah
perbuatan bu marsalamah, hanya saja pemikirannya yang kolot yang tidak ku
sukai.
Aku langsung saja berdiri,
menggulung buku biologiku sambil menentengnya ke depan.
“ibu kalau ibu berkenan,
silahkan ibu menunggu di kelas, namun kalau keberatan saya mengajak diskusi
kawan – kawan sekelas mengenai pendidikan seksual dan perkembangan organ
reproduksi, silahkan ibu yang keluar, ini hak kami dan kelas kami..” kataku.
Tanpa memperdulikannya lagi
aku mengedarkan pandangan ke seisi kelas.
“baiklah rekan – rekan,
diskusi kali ini kita awali dengan apa tujuan dan pentingnya kita mengerti
tentang seksualitas.. mengapa remaja perlu mempelajarinya..” kataku menghela
nafas. “tahukan rekan – rekan bahwa aktivitas di mulai bahkan sejak kita lahir,
bayi menangis, adalah aktivitas seksual, di usia enam bulan bayi mengejan
adalah aktivitas seksualnya, memasuki usia toddler, memasukan segela sesuatu ke
dalam mulutnya merupakan sebuah kepuasan seksual bagi seorang bayi, secara
bertahap kebutuhan seksual setiap individu berbeda..”
“kalau pada masa usia kita,
keingin tahuan yang besar terhadap seksual adalah wajar, seiring dengan
perkembangan bio dan psikologis usia kita yang remaja, namun rasa keingintahuan
dan perlunya mencoba harus didasari dengan kesadaran dan tanggung jawab..”
“tanggung jawab? Kalau
sudah mencoba itu memang harus dipertanggungjawabkan..” sanggah sebuah suara
dari pojok kelas.
“oh kurang tepat, begini,
memasuki usia remaja organ reproduksi kita semakin matang, itu artinya sudah
siap untuk dibuahi dan membuahi, nah arti tanggung jawab di sini, kita harus
pintar – pintar menjaga, agar kita terhindar dari bahaya mencoba, tanggung
jawab pada apapun yang hendak kita perbuat atau apapun yang telah kita
perbuat..”
“pendidikan seksual
diperlukan untuk meluruskan beberapa pandangan yang salah dianatara kita,
dimana banyak remaja yang menganggap bahwa melakukan hubungan seksual sekali
tidak akan hamil padahal kalau sang wanita sedang mengalami masa subur bisa
saja sekali berhubungan seksual bisa langsung hamil, nah berarti kita perlu
juga mengetahui kapan saja masa subur wanita, selain itu untuk mencegah
kehamilan, maka kita harus tahu juga kegunaan alat kontrasepsi, bayangkan dalam
satu kasus saja ada tiga point penting yang harus kita pelajari…”
“tapi Nu, apa kita harus
begitu saja menerobos norma dan agama, kan tadi sudah jelas gimana ribet nya
agama sama prinsip..”
Aku melirik bu marsalamah
dengan sudut mataku. Sudah jelas maksud
ardan bu marsalamah.
“begini dan, di sini lah
perlunya kita membuka pemikiran kita, menjadikan hal – hal baru, hal – hal tabu
sekalipun sebagai sebuah ilmu, bukan sebuah pantangan untuk kita pelajari,
memangnya apa yang bisa dilakukan ‘katak dalam tempurung’ jadi, selama itu bisa
menambah ilmu dan pengetahuan kenapa tidak? Sebagai orang berpendidikan tentu
kita tidak akan menelannya bulat – bulat bahkan mentah – mentah, bukannya untuk
itu fungsi belajar, sekolah dan pendidikan?”
Entahlah tiba – tiba seisi
kelas riuh oleh tepuk tangan untukku.
Aku memutar badan kea rah bu marsalamah.
“saya rasa bantuan dari
saya cukup untuk ibu, mungkin itu bisa dijadikan sebuah pembukaan yang sulit,
namun sekarang ibu bisa langsung mengajar ke hal – hal yang lebih mudah
disampaikan, semoga saya bisa membantu ibu..”
Aku pamit mundur kembali ke
bangku ku. Ku lihat riak tidak nyaman di
wajah guru kami tersebut.
“baiklah, saya beri kalian
tugas, mengenai apa yang kita diskusikan hari ini, bagaimana pendapat kalian
pribadi, lalu hasilnya di posting ke blog, kemudian alamat blognya kirim ke
e-mail saya, alamatnya nanti saya berikan kepada ketua kelas..”
Setelah itu, bu marsalamah
segera keluar dari kelas. Rasanya aku baru saja memenangkan sebuah pertarungan.
“excellent..” kata nollan
sambil mengacungkan dua jempolnya.
…