Selasa, 23 Juli 2013

6 : Iras? Iras itu yang mana?”



Aku akhirnya menutup laptop dan mengambil tas ku, masih agak sedikit dendam aku melemparkan kertas pengumuman yang tadi diserahkan sekertaris osis itu padaku.   Aku yang memegang bagian publikasi mading harus mengumumkan semua kegiatan atau segala pemberitahuan yang ditujukan pada seluruh warga sekolah.
Persiapan pertandingan basket memasuki tahap akhir. Setelah diseleksi secara ketat, terpilihlah dua tim yang akan mewakili sekolah. Dan namaku… tidak masuk dalam tim! Lagi aku meninju tiang mading saat tau namaku tidak tercantum. Kok bisa? Padahal selama latihan aku berusaha menunjukan yang terbaik di depan pelatih.
 “Kok belum pulang?” seseorang masuk ke dalam ruangan mading sambil berusaha tersenyum dengan manis berjalan menghampiriku.
Aku tidak memperdulikannya dan membuang muka.  Kemudian ku ambil lagi kertas yang tadi ku lempar ke sudut ruangan dan membukakannya.
“kok gue gak masuk??” menunjukan kertas itu ke depan wajahnya.
Ia hanya tersenyum sekilas. “itu keputusan pelatih, gak bisa ditolak Nu...”
Sontak aku meremas lagi kertas itu kemudian dengan keras melemparkan gulungan kertas itu ke wajahnya.
“dengar bapak kapten yang terhormat, pasti lu di ajak berunding kan?? Lu tau kemampuan gue kan?? Kenapa lu gak ngasih masukan?? Lagian ngapain juga kemarin hampir seisi sekolah maksa gue buat masuk tim basket hah?
Aku benar-benar marah kepadanya.
“kan sudah dibilang itu keputusan pelatih, Sayang...”
Aku bergidik, semakin sebal.  Kemudian tanpa aba-aba aku berjalan keluar meninggalkannya.
“hey mau ke mana??” tangannya menarik pergelangan tanganku.
Aku menepis melebarkan langkah-langkahku.
“hadeh ngambek...” suara nya keras sambil mengejarku.
Dia berjalan tergesa-gesa mengikutiku, sementara aku semakin tidak memperdulikannya dan berjalan menelusuri tangga.
“Nu... jangan ngambek lah, ntar Iras jelasin masalahnya...”
Aku menghentikan langkahku.  Kemudian berbalik menatapnya.  seketika ia juga berhenti dan memperhatikanku dengan seksama.
“kalau aja lu bukan kapten, kalau aja lu gak duluan masuk basket, udah pasti gue kok yang jadi kapten plus dipilih sama pelatih buat pertandingan itu, itu karena gue punya bakat bukan Cuma jago ngomong doang.. sialnya karena gue adik kelas lu dan baru empat bulan masuk ke sini”
Dia diam memperhatikan ku bicara, karena tidak ada reaksi apa-apa akhirnya aku melanjutkan langkahku rasanya ingin segera meninggalkan sekolah.
“okeh kalau gitu, ntar malam kita tanding, di lapang basket deket rumah inu aja, jam 8 malam..”
Aku tidak memperdulikan dan langsung meninggalkannya.
...
Aku melewatkan pertandingan one by one antara aku dan iras dengan kekalahan, kemudian aku terlentang di lapang basket dekat rumah itu.  sebua bola menggelinding ke arahku, aku menahhannya dengan tangan kananku sambil melihat sosok yang mendekat itu.
Kapten tim basket sekolah yang tersohor berhasil menghabisiku 20-0.  Nafasku masih tak beraturan dan kecapean.
“hah gimana mau masuk line up baru segitu aja udah ngos-ngosan...”  ia berjalan menghampiri.
Aku melemparkan bola ke arahnya. Namun  Ia menangkap dengan cekatan kemudian berbaring juga didekatku.
“Inu beneran mau masuk line up??”
Aku membuang pandangan dan tidak memperdulikannya.  Ya karena aku masih marah.
“syaratnya ya itu, Inu jadi pacarnya Iras...”
“hoaah mending gak usah sekalian..” kataku sambil bangkit dan membersihkan bagian belakang pakaian trainingku.
“Nuu....” katanya kemudian.
Aku berjalan menghampiri botol minumanku, ada sebutir apel merah menggoda di sebelahnya.  Itu jurusnya lagi??
“Iras Cuma minta Inu jadi pacar iras kok, gak lebih..” katanya seolah pacaran sesama lelaki itu hal sepele.
Mataku menatap kapten tim basket yang rasanya kali ini berubah jadi bajingan paling brengsek di muka bumi.
“tidak ada alasan logis yang bias membenarkan cowok sama cowok pacaran, lagian gue bukan salah satu anggota fans base lu kok..”
Ia tergelak beberapa saat. Kemudian tangannya mengasongkan apel merah yang dari tadi duduk setia di sampingku.
“tentu saja ada, karena iras yakin, sejak pertama kali liat inu, hati iras sudah bilang kalau orang ini yang bakalan hidup lama sama gue..” tukasnya percaya diri.
Aku mencibir, tersenyum renyah menanggapinya.
“apa susahnya sih nu, iya bilang iya, enggak….” Ia memotong kata – katanya sambil terus mengamatiku. “kalau enggak coba pikir – pikir lagi..”
“enggak…” jawabku singkat sambil menegak minumanku.
“berarti itu jawabannya ‘inu pikirin dulu’..” tangan iras mengasongkan apel itu lagi.
Kini tanganku menerimanya dan menggigit bagian paling genit dari apel tersebut.
“nanti – nanti jangan nanya nanya lagi ya, soalnya jawabannya pasti enggak..” mulut rakus ku mulai menghabiskan apel pemberian iras.
“kamu kayak batu.. keras..”
“elu kaya anak kucing, kumincir, ngeleyed…”
“hahahaha..” iras tertawa lebar.  Aku mengambil bola basketku yang masih tergeletak membundar di tengah lapangan.  Ini sudah terlalu malam, apih atau mama pasti akan mencariku.
“udah ah, gue duluan..” aku berbalik hendak meninggalkan lapangan.
“rumah inu rada lumayan jauh kan? Hayu iras anterin dah sekalian..”
Aku menimbang.
“gerbang ada di utara, sedangkan rumah gua di selatan, mending langsung pulang dah daripada entar repot harus muter balik..”
Iras tidak mendengarkan. Ia malah mendorong tubuhku untuk masuk ke pintu depan mobilnya.
Beberapa detik kemudian kami meluncur menuju rumahku. Iras membawa mobilnya melaju sangat pelan sekali.
“sebenarnya ada yang mau iras jelasin..” iras memandang ke arahku sekilas.
Aku tidak menjawab. Sibuk membolak balik si bundar yang duduk nyaman di pangkuanku.
“alasan kenapa inu tidak masuk line up di liga SMA, karena iras yang minta sama pelatih..”
Kepalaku berputar menatap iras. Fakta baru. Tapi aku akan membiarkaannya menyelesaikan pembicaraannya dulu sebelum nanti aku akan menghajarnya habis – habisan.
“bulan depan, minggu kedua, ada seleksi buat ke ABL, seluruh SMA terbaik seIndonesia diwajibkan mengirimkan atlet basket terbaiknya untuk gabung di tim nas U – 19. Pelatih nyuruh iras buat milih siapa aja yang layak ikut seleksi.  Pelatih pengen ada tiga sampai lima orang yang harus ikut. Yang ikut sengaja tidak diikut sertakan di liga SMA biar ada persiapan buat seleksi ABL, peluangnya cukup kecil. Kemungkinan dari tiap SMA di Bandung nantinya hanya diminta satu buat ikut seleksi. Itu makanya iras gak masukin inu ke line up. Inu yang akan jadi perwakilan sekolah ke ABL. Iras yang akan latih inu secara instens. Dan iras yakin pasti lolos…”
Aku  cukup terkejut. Namun ingin rasanya membalas iras kali ini. Sehingga aku hanya menampilkan mimik yang biasa saja.
“kenapa pelatih enggak ngasih coach yang rada bagus, gimana gue mau lolos yang ngelatihnya beginian..”
Iras  menyunggingkan senyum, pintu gerbang rumahku sudah keliatan.  Mobil iras semakin mendekat, hingga akhirnya berhenti persis di sana.
Tanganku mencoba membuka pintu mobil iras, terkunci, aku menariknya. Namun iras mengunci lagi. Aku berbalik ke arahnya.
Namun tanpa diduga, kepala iras maju dengan cepat ke arahku. Dan plaaakkk
Bibirnya mendarat tepat di atas bibirku. Selama kurang lebih lima detik, ia di sana sambil memejamkan kedua matanya.  Aku sendiri diam tak bergoyah.  Melihatnya yang mulai membuka mata dan melepaskan ciumannya.
Entah karena capek atau bagaimana aku tidak ingin marah sama sekali pada iras dan membiarkannya cengengesan karena canggung. Aku menarik kunci pintu mobilnya lagi.  Kemudian keluar dari dalam mobil iras.
Aku berdiri di tepi jalan, memperhatikan mobil mama sampai hilang di belokan.  Sudah kebiasaanku, ketika mama mengantarkanku ke sekolah begitu ia pergi aku akan melihat mobilnya sampai hilang di sudut mataku.  Memastikan bahwa ia tidak akan kenapa-napa.
Pak satpam sekolah yang berdiri di samping pintu gerbang tersenyum ke arahku, aku membalas senyumnya bersama beberapa siswa yang lain aku melenggang masuk ke area sekolah.
Jam pertama pagi ini, ada pelajaran geografi. Walaupun bukan salah satu mata ajar favoritku, namun passionku bagus di pelajaran satu ini. Nilaiku dari kelas satu SMP tidak pernah jelek.  Apalagi urusan menghafal ibu kota setiap Negara silahkan Tanya, akan ku jawab dengan sangat baik.
Kelas ku ada di lantai empat, dua lantai setelah ruangan redaksi majalah “Block Writer” yang ku ikuti. Di dalam tasku ada beberapa artikel yang akan ku serahkan ke bagian editor.  Minggu ini sudah masuk deadline, minggu depan kami harus sudah mulai terbit lagi.
Aku membuka kunci pintu ruangan.  Sepagi ini tentu saja belum ada awak media itu yang hadir di sini.  Meja raline yang duduk menghadap pintu langsung ku tuju, kemudian ku letakan lembaran – lembaran artikel itu di sana.
Tiba – tiba, seseorang menyergapku dari belakang. Membuatku agak kaget dan sesegera mungkin membalikan badan. Iras.
Aku sepertinya sudah telat untuk mengelak, begitu kepalaku berputar dengan cekatan kedua bibir iras menangkap kedua bibirku seluruhnya.  Hingga membuatku hamper tidak bernafas.  Iras menjadi sedikit lebih gila, ia mencoba memasukan lidahnya ke dalam mulutku.
Entah setan dari mana, aku malah memejamkan mata seolah – olah menikmati hal tersebut.  Kedua tangan iras mencengkram kuat tubuhku sehingga aku tidak dapat mengelak sama sekali. Bahkan setelah dua menit lebih aku mulai membalas apa yang dilakukan iras.
“good morning, selamat belajar..” iras tersenyum. Kemudian ia mencium bibirku lagi.  Setelah itu ia merapihkan pakaiannya sebentar kemudian segera berlalu dari ruangan tersebut.
Aku diam mematung di tempatku, menyentuh bibirku sendiri. Kemudian menatap ke arah cermin besar yang menempel di dinding ruangan.  Aku baru saja di peluk oleh seorang laki – laki lagi.
Hanya saja, aku tidak habis pikir kami yang dari awal seperti bermusuhan hanya memerlukan waktu beberapa bulan akhirnya jadi sedekat ini.
Kami duduk melingkar di mcd.  Ardan dan feddy masih asyik membicarakan escort girl yang mereka ajak main – main semalam.  Sementara nollan masih sibuk dengan tugas sejarahnya yang belum selesai.
“kampret bener dah tadi malam, gue udah mati – matian ngerayu mereka biar mau dibawa maen, eh malah mabur… gue benci jadi anak SMA..” gerutu ardan. Ia tampak masih sangat kesal, sejak di dalam kelas ia terus menggeram seperti harimau yang tengah mengintai buruannya.
“lah kan tampang lu udah kaya bapak – bapak kok gak berhasil..” tukasku cepat.  Kalau ada orang yang melihat ardan memang tampangnya tidak akan seperti anak SMA kebanyakan. Tubuhnya bongsor, walaupun kami semua hamper memiliki tinggi badan yang sama 170 cm, tapi karena bentuk badannya yang berisi dan sedikit gemuk ardan jadinya terlihat lima tahun lebih tua dari kami apalagi kalau melihat koleksi cambangnya.
“jangan sembarangan ngomong ya pak bos, itu sangat menyiksa batin..” ardan mengeluh. “yang jadi sedihnya, bukan karena gue anak SMA, tapi karena ledekan mereka, badan segede gini ternyata masih SMA…”
Kami semua tergelak bersama – sama.
“sebenarnya rencana kita gak bakalan kacau kacau amat dan, kalau saja pengacaunya gak ikut tadi malam…”
Aku, dheka, dariz, jordan dan kiki saling bertatapan.  Mencari pelaku kekacauan yang disebutkan feddy. Langsung saja mata kami berlima tertuju pada si culun yang sedang menyelesaikan tugasnya.
“kyaaaaaa…” tiba – tiba nolla berteriak. Ia melemparkan balpointnya ke atas tumpukan – tumpukan kertas dan buku yang ada di depannya. “gue gugup tadi malam bias jadi malam terakhir gue jadi perjaka.. mana bias gue diperjakain sama begituan…” kini tampang nollan berubah menjadi stress berat.
Belum selesai ketawa kami, kini sebuah lelucon baru muncul. Akhirnya kami tertawa lagi.  Aku melihat kekalutan di wajah ardan semakin menjadi. Ia tampak sedang berduet kekesalan dengan feddy pada nollan. Pantas saja sejak tadi di kelas nollan tidak banyak bicara.
“gimana – gimana cerita dong lan cerita..” dariz menepuk – nepuk punggung nollan. Walau tanpa henti ketawa.
“culun bener – bener nih anak, masa tuh cewek udah duduk di pangkuan gue, eh dia teriak – teriak dari belakang “inget kita masih SMA guys kita masih SMA” ya kabur tuh daging…” ardan Nampak melonjakan kekesalannya sampai ia menepuk meja.
“bahkan gue udah ngerasain kutangnya gerak – gerak di perut gue, eh gagal tayang…”
“beneran, semalam gue hamper aja liat bokep secara live di mobilnya ardan…” nollan menggeleng – geleng, ia mulai memunguti ballpoint dan kertas – kertas tugasnya. Rupanya itulah alasan kenapa semalam ia tidak mengerjakan tugas sejarahnya, hingga tadi ia bersama dengan feddy dan ardan disuruh lari keliling lapang sama pak wildan.  Kalau feddy dan ardan, entahlah, aku tidak yakin di rumahnya mereka punya meja belajar untuk mengerjakan tugas dan semua pekerjaan rumah. Buku dan bal point saja mereka tidak punya.
Kami masih tertawa terbahak – bahak. Membayangkan anak seculun nollan diajak main – mainan orang dewasa oleh ardan.
Pintu mcd terbuka. Tiga orang kakak kelas kami masuk dari sana. Aku masih tertawa karena kelakuan nollan ketika tubuh iras lewat di hadapanku.
“pssssttt Nu..” ardan mencolek pinggangku. “itu kan kapten tim basket tengil yang gak masukin lu ke line up kan?” tatapan ardan tampak serius menatap iras dan dua orang temannya yang juga sama – sama anggota tim basket yang duduk tidak jauh dari meja kami.
“oo jadi itu” timpal dheka. “mau dikeryokin gak Nu? Udah lama gue gak mukulin orang..”
Feddy tampak mengepal – ngepalkan tangannya.
“bener, sekalipun gue paling mentah sama basket, tapi kalau liat gaya main lu sama gaya main nya dia, elu juara Nu, enak aja lu gak masuk line up..”
“huss udah – udah.. gak usah bar – bar..” sergahku segera. “gue tahu kok alasan kenapa gue gak masuk line up..” aku berusaha menenangkan beberapa ekor buaya dan singa yang tengah lapar tersebut.
“apaaaaa???” mata tujuh orang tersebut menatap ke arahku. Dengan reaksi seperti singa laut yang tak sabar ingin dilempari ikan mentah.
“gue disuruh siap – siap buat ikut seleksi ABL, makanya gue gak masuk line up liga SMA..” jelasku, tanpa berusaha panjang lebar agar otak – otak peda ini mudah faham.
“ooooooooooo..” seru choor itu lagi. Mereka memang selalu tampak bodoh.
Aku menatap ke arah iras.  Walaupun sebenarnya yakin, iras bias habis hanya dalam beberapa detik oleh pasukan ku ini. Tapi entahlah, dendam ku padanya beberapa hari lalu rasanya sudah menguap. Sekarang, ada sudut di dekat hatiku yang mengatakan khawatir dan tidak mau pasukanku melakukan apapun padanya.
“selamaaaaattttttt…” mcd segera berubah menjadi riuh oleh suara – suara serigala lapar di sekelilingku. Bergantian mereka merangkulku. Sambil sedikit menyiksaku.
Ketika selesai, aku membuka sebuah pesan masuk di hpku. Dari iras.
“ikutan ngucapin selamat ah, selamaattt.. selamat makan siang juga..”
Aku segera membalasnya.
“usahakan, kalau gw lagi sama temen – temen gw, lu jaga jarak ya, biar mereka gak tau bibir gw perna lu cium..” send. Aku mengirimkan pesan tersebut. Tanpa menunggu reaksi iras.
Apalagi gerombolan ku sudah mengajak kami untuk kembali ke kelas.
10 oktober 2007
Sudah beberapa minggu, iras menghilang. Seperti ada yang aneh, biasanya bila ada kesempatan ia akan selalu datang dan menggangguku.  Tapi beberapa minggu belakangan ia tidak ada, tidak menghampiri ke mega block –sebutan ku untuk ruangan redaksi majalah sekolah- tidak pernah terlihat latihan, tidak ada di mcd, perpus atau tempat lain yang biasa ku datangi. Ia seperti sengaja menghindar.
Aku mengambil handuk dan air dari dalam tasku, setelah selesai menyeka keringat aku membereskan semua perlengkapanku ke dalam tas.  Kemudian langkah kaki ku meninggalkan lapangan basket sekolah juga teman – teman ku yang sedang serius berlatih.
Liga SMA tinggal beberapa minggu lagi. Mereka sudah berlatih cukup keras, bahkan mereka kini menambahkan jadwal latihannya.  Asalnya hanya dua hari seminggu kini jadi empat hari. Aku hanya datang satu atau dua hari dalam seminggu, untuk sekedar ikut latihan dan menjaga kebugaranku. Namun itu tadi, rasanya ada yang kurang.
Tiba – tiba tanganku ditarik ke sebuah ruang kelas yang menghadap ke lapang basket. Aku sudah tidak kuasa menahan tubuh iras yang mendorong ku ke balik pintu.  kedua bibirnya sudah mendarat liar di atas kedua bibirku.
Aku kini tidak tinggal diam. Kedua tanganku memeluknya kuat.  Membuncahkan kerinduan yang rasanya sudah terlalu dalam, tidak menemuinya seminggu ini. Aku mengalami perang batin yang cukup hebat. Di satu sisi tidak ingin iras mendekatiku lagi namun di sisi lain aku begitu merindukan semua gangguan darinya, bahkan setiap rasa kesal yang selalu ia ciptakan.
Bibir kami berdua akhirnya berhenti berciuman, menyadari begitu banyak orang di lapang sana, dan jendela kelas yang terbuka terang dapat membuat siapapun melihat apa yang kami berdua lakukan.
“dasar bodoh, kemana elu hah? Seenaknya pergi tanpa ngasih kabar..” aku menampar kecil pipi iras. Meluapkan kekesalan.
“lah bukannya inu yang bilang kita harus jaga jarak, makanya iras ngasih jarak, lagian kan kita gak pacaran jadi gak ada hak buat iras buat terus – terusan sama inu, banyak teman – teman inu yang biasanya kemana – mana sama inu..”
Aku tidak menjawab, kebingungan, merasa perkataan iras ada benarnya juga. Akhirnya aku menenteng tasku lagi dan pergi keluar dari kelas tersebut.
Iras berjalan menyusul di belakangku.
“iras anterin pulang..” terdengar tidak seperti tawaran. Tapi paksaan.
“gak usah, udah janjian kok sama mama, bentar lagi kayanya dia bakalan jemput..” aku berjalan menelusuri halaman sekolah. Membiarkan iras yang berlari menuju mobilnya di parkiran sebelah barat.
Beberapa detik kemudian mobilnya sudah menyusul, melaju pelan di sampingku.
“ayooo lah, banyak yang bias kita bicarian di jalan nanti…” kata iras menurunkan kaca mobilnya.
Aku melihat sekelilng. Semoga tidak ada yang mengenaliku, atau tidak ada yang tahu kalau aku masuk ke mobil iras. Akhirnya aku masuk juga ke dalam mobil iras.
Mobil pun perlahan mulai meninggalkan sekolah. Mataku terus melihat sekeliling, memastikan bahwa kawananku semuanya sudah pulang.  Bias repot kalau mereka sampai curiga.
“tenang, jam segini temen – temen inu udah pada nyenyak tidur di rumah nya masing – masing..” kata iras sambil menatap jam digital yang ada di desk mobilnya.
“jadi kapan kita mulai latihannya…” kataku berusaha mengalihkan topic pembicaraan.
“kapanpun, iras siap, seleksinya tinggal tiga minggu lagi kan?” iras menatapku sesekali sambil tetap berusaha focus pada jalan di hadapannya.
Aku diam beberapa saat, sampai akhirnya sadar iras tidak membawa mobilnya kea rah rumah ku. Berlawanan arah. Ini keluar kota.
“mau kemana kita? Rumah gue belok ke sana..” aku menunjuk arah yang sebaliknya pada iras.
“tenang, nanti iras jelasin kalau kita sudah sampai di tempat tujuan..”
Aku diam, kembali menyandarkan tubuh pada badan jok. Aku juga diam, ketika pelan – pelan tangan iras mengenggam satu demi satu jari tanganku.
“iya ma, sebelum makan malam pasti inu udah ada di rumah, Cuma ke ciwidey doing ko..” aku berusaha menenangkan mama yang mulai panic karena aku telat pulang.
“kamu gak lagi sama si ardan kan? Awas kamu jangan sampai terlalu dekat sama dia, gak bagus dia pergaulannya…”
Aku terkekeh sebentar. Rupanya diam – diam mama suka menguping pembicaraan kami semua kalau sedang berkumpul di kamar.  Mama mulai khawatir pada ardan, memang dalam segi pergaulan ardan sudah jauh di atas kami.
“enggak ma, inu lagi sama iras…”
Aku menatap orang yang sama – sama duduk di atas kap mobilnya di sebelahku.
“iras? Iras itu yang mana?”
“itu ma, anak osis yang beberapa minggu lalu ngajakin inu rapat..”
“ooo dia, nah kalau mau begaul tuh sama anak baik – baik kaya dia…” aku tersenyum lebih lebar, mengingat apa yang sudah dilakukan iras. Aku malah merasa efek pergaulan yang jauh lebih buruk apabila aku terus – terusan bersama iras.
“he’eh ya udah, gitu aja kan ma? Inu janji sebelum makan malam inu udah di rumah, masak yang enak yaaa…”
“oke, sudah ada beef teriyaki di meja makan..”
Aku hampir melonjak kegirangan. Menu favoritku. Sebelum akhirnya menutup telpon. Telapak tanganku menggosok lengan bagian atasku. Hawa dingin yang ditiupkan udara dari atas situ patenggang membuatku kedinginan.  Apalagi seragam basket ku dibuat tak berlengan.
Iras kemudian berlari ke dalam mobilnya. Mataku menatap pada sekeliling danau, langit yang mulai beranjak sore, daun – daun teh yang Nampak polos, juga air danau yang tenang, tersibak sesekali oleh angina dan udara dingin.  Semuanya membuatku begitu merasa sejuk. Cuaca yang agak sedikit mendung membuat ini sepi tanpa pengunjung menyisakan kami berdua.
Tiba – tiba tangan iras melingkarkan sebuah jaket di pundakku. Ia memaksaku memakainya.
Sebuah jaket berwarna merah menyala. Aku rasa sedikit berguna di udara sedingin ini, aku menatap iras yang ia juga sepertinya sama – sama menahan udara dingin ini.
“kamu bawa jaket yang lain?” tanyaku padanya yang kini duduk lagi di sampingku. Ia menggeleng.  Kemeja SMA nya aku yakin tidak akan cukup kuat menahan udara dingin ini.
“kamu lebih butuh..” katanya singkat.
Aku pun tidak ingin mempermasalahkannya, semua tayangan view point di depan ku ini rasanya tidak pantas untuk dilewatkan sedikitpun.
“jadi alasan nya apa?” kataku sambil terus menatap lurus ke depan. “kenapa kita harus pacaran..”
Kata – kataku menggantung di udara. Iras tidak menjawabnya.  Yang terdengar oleh ku hanya giginya yang terkadang bergemulutuk menahan dingin.
“tidak ada alasan apapun, kecuali takdir yang membuat iras menemukan inu dan terbit rasa sayang yang begitu besar ketika mata kita pertama kali bertemu..”
Aku tidak menjawabnya.  Pun tidak akan berusaha membahasnya.  Sesuatu yang tersulit itu bukan perihal mengatakan ya dan tidak. Bukan itu. Akan tetapi, mana bias saat mulut bicara tidak namun berkali – kali hati mengatakan hal berbeda. Mungkin seperti apa katanya, ini semua sudah menjadi takdir….
“mungkin…” kataku pelan. “mungkin saja, seperti yang kamu katakan, ini semua sudah menjadi takdir..”
Angin mulai menelisik setiap pori – pori yang terbuka di sekujur tubuhku. Membawa serpihan air yang telah menguap dari danau, mungkin ia hendak mengantuk. Begini lah rasa dinginnya jika air mengantuk. Hawanya yang terus menyentuh setiap pangkal syarafku, seakan mencuri setiap rasa hangat yang disisakan pembuluh darah yang berusaha menstabilkan suhu, seperti jari – jari tangan iras yang mencuri – curi kesempatan untuk memeluk tanganku mesra.
Aku tidak menepiskannya sama sekali. Menyadari bahwa menggenggam tangannya sekarang mulai terasa lebih baik dari pada tidak melihatnya sama sekali.
“untuk selamanya…” iras seperti tidak mampu membuat kata yang lebih panjang.  Hawa dingin terlanjur membuat pendek kerongkongannya.
“kalau benar – benar, seharusnya waktu kita, bisa lebih lama dari selamanya…” gugatku.  Dalam cinta, jika dia benar – benar cinta ia tidak akan membuat perjanjian untuk jangka pendek.  Cinta sejati selalu membawa nafas hidup jangka panjang.
“to forever and everlast…” kata – kata iras tidak selesai. Giginya keburu bergemulutuk hebat. Rasanya begitu kasian melihat nya kedinginan seperti itu.
Kedua tanganku kemudian merangkul tubuh iras. Membawanya ke dalam pelukanku.  Semoga saja bisa meredakan kedinginannya.
Ia Nampak terkejut namun kemudian wajahnya berubah menjadi sedikit tenang, ketika wajah kami berhadapan hanya dengan jarak lima senti. Kulit wajahku bahkan bisa meraasakan nafas dingin yang keluar dari hidung dan mulutnya.
Untuk pertama kalinya, bibir kami bertemu tanpa paksaan dari salah satu pihak. Kini rasanya aku bahkan mulai mengenali setiap garis dari bibir iras.  Mulai hafal deretan giginya yang rapi yang selalu beradu dengan gigiku yang gingsul satu. Atau lidahnya yang kadang serasa seperti menggelitik atap – atap mulutku.
Aku membuka mata, menatap kedalaman danau yang kini beralih pada mata hitam iras.
“iras janji selama iras hidup, selama iras mampu, iras jamin inu tidak akan pernah kecewa. Terimakasih, iras sudah mulai terasa hangat sekarang” iras seperti akan menjauh.
Namun aku menariknya ke dalam pelukanku semakin dalam.
“jangan kemana – mana rasanya begini lebih baik..” pintaku.
Iras tidak melawan. Tangannya pun melingkar di pinggangku.
“mama inu bikin iras iri, dia begitu khawatir sama anaknya yang sudah segede ini…”
Aku tersenyum. “ada banyak alasan kenapa mama begitu, beberapa bulan yang lalu waktu inu masih kelas tiga SMP, pernah ada orang yang nusuk inu..” aku memperlihatkan bekas luka di punggungku. “kemarin – kemarin di depan rumah ada mobil yang sengaja mau nabrak…”
Mendengarkan penuturanku riak di mata iras berubah. Ia seperti sedikit khawatir. Tangannya memeluk ku semakin erat.
“iras janji semampu iras akan jagain inu, kalau perlu dalam kondisi bagaimanapun iras yang akan gantiiin inu..” mata iras terlihat sungguh – sungguh ketika mengucakan hal tersebut. “to forever and everlast…”
Janji iras tersebut seperti menjadi titik awal dimana begitu besarnya pengorbanan yang ia lakukan. Setiap perhatian yang ia berikan. Segalanya. Bahkan sampai saat ini, aku tidak pernah mengenal orang lain yang mampu menjaga janjinya seperti iras.
Dan kata – kata yang kami sama – sama ucapkan sore itu sebatang forever and everlast memang tidak pernah selesai kami ucapkan. Udara dingin sore itu membuat bibir kami tidak mampu menuntaskannya.  Namun itu seperti harapan kecil bahwa sampai kapanpun kisah kami tidak akan pernah tuntas, berharap tidak aka nada ujungnya.
Kami tidak selalu berharap banyak. Hanya sekedar lebih lama dari selamanya.
“jangan pergi – pergi lagi bodoh, jangan menghilang tanpa kabar begitu saja..”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar