Aku
akhirnya menutup laptop dan mengambil tas ku, masih agak sedikit dendam aku
melemparkan kertas pengumuman yang tadi diserahkan sekertaris osis itu
padaku. Aku yang memegang bagian
publikasi mading harus mengumumkan semua kegiatan atau segala pemberitahuan
yang ditujukan pada seluruh warga sekolah.
Persiapan pertandingan basket memasuki tahap akhir. Setelah
diseleksi secara ketat, terpilihlah dua tim yang akan mewakili sekolah. Dan
namaku… tidak masuk dalam tim! Lagi aku meninju tiang mading saat tau namaku
tidak tercantum. Kok bisa? Padahal selama latihan aku berusaha menunjukan yang
terbaik di depan pelatih.
“Kok belum pulang?” seseorang
masuk ke dalam ruangan mading sambil berusaha tersenyum dengan manis berjalan menghampiriku.
Aku tidak memperdulikannya dan membuang muka. Kemudian ku ambil lagi kertas yang tadi ku
lempar ke sudut ruangan dan membukakannya.
“kok gue gak masuk??” menunjukan kertas itu ke depan wajahnya.
Ia hanya tersenyum sekilas. “itu keputusan pelatih, gak bisa
ditolak Nu...”
Sontak aku meremas lagi kertas itu kemudian dengan keras
melemparkan gulungan kertas itu ke wajahnya.
“dengar bapak kapten yang terhormat, pasti lu di ajak berunding
kan?? Lu tau kemampuan gue kan?? Kenapa lu gak ngasih masukan?? Lagian ngapain juga kemarin hampir seisi sekolah maksa gue buat masuk
tim basket hah?”
Aku benar-benar marah kepadanya.
“kan sudah dibilang itu keputusan pelatih, Sayang...”
Aku bergidik, semakin sebal.
Kemudian tanpa aba-aba aku berjalan keluar meninggalkannya.
“hey mau ke mana??” tangannya menarik pergelangan tanganku.
Aku menepis melebarkan langkah-langkahku.
“hadeh ngambek...” suara nya keras sambil mengejarku.
Dia berjalan tergesa-gesa mengikutiku, sementara aku semakin
tidak memperdulikannya dan berjalan menelusuri tangga.
“Nu... jangan ngambek lah, ntar Iras jelasin masalahnya...”
Aku menghentikan langkahku.
Kemudian berbalik menatapnya.
seketika ia juga berhenti dan memperhatikanku dengan seksama.
“kalau aja lu bukan kapten, kalau aja lu gak duluan masuk
basket, udah pasti gue kok yang jadi kapten plus dipilih sama pelatih buat
pertandingan itu, itu karena gue punya bakat bukan Cuma jago ngomong doang..
sialnya karena gue adik kelas lu dan baru empat bulan masuk ke sini”
Dia diam memperhatikan ku bicara, karena tidak ada reaksi
apa-apa akhirnya aku melanjutkan langkahku rasanya ingin segera meninggalkan
sekolah.
“okeh kalau gitu, ntar malam kita tanding, di lapang basket deket
rumah inu aja, jam 8 malam..”
Aku tidak memperdulikan dan langsung meninggalkannya.
...
Aku melewatkan pertandingan one by one antara aku dan iras
dengan kekalahan, kemudian aku terlentang di lapang basket dekat rumah
itu. sebua bola menggelinding ke arahku,
aku menahhannya dengan tangan kananku sambil melihat sosok yang mendekat itu.
Kapten tim basket sekolah yang tersohor berhasil menghabisiku
20-0. Nafasku masih tak beraturan dan
kecapean.
“hah gimana mau masuk line up baru segitu aja udah
ngos-ngosan...” ia berjalan menghampiri.
Aku melemparkan bola ke arahnya. Namun Ia menangkap dengan cekatan kemudian
berbaring juga didekatku.
“Inu beneran mau masuk line up??”
Aku membuang pandangan dan tidak memperdulikannya. Ya karena aku masih marah.
“syaratnya ya itu, Inu jadi pacarnya Iras...”
“hoaah mending gak usah sekalian..” kataku sambil bangkit dan
membersihkan bagian belakang pakaian trainingku.
“Nuu....” katanya kemudian.
Aku berjalan menghampiri botol minumanku, ada sebutir apel merah
menggoda di sebelahnya. Itu jurusnya
lagi??
“Iras Cuma minta Inu jadi pacar iras kok, gak lebih..” katanya
seolah pacaran sesama lelaki itu hal sepele.
Mataku menatap kapten tim basket yang rasanya kali ini
berubah jadi bajingan paling brengsek di muka bumi.
“tidak ada alasan logis yang bias membenarkan cowok
sama cowok pacaran, lagian gue bukan salah satu anggota fans base lu kok..”
Ia tergelak beberapa saat. Kemudian tangannya
mengasongkan apel merah yang dari tadi duduk setia di sampingku.
“tentu saja ada, karena iras yakin, sejak pertama kali
liat inu, hati iras sudah bilang kalau orang ini yang bakalan hidup lama sama
gue..” tukasnya percaya diri.
Aku mencibir, tersenyum renyah menanggapinya.
“apa susahnya sih nu, iya bilang iya, enggak….” Ia
memotong kata – katanya sambil terus mengamatiku. “kalau enggak coba pikir –
pikir lagi..”
“enggak…” jawabku singkat sambil menegak minumanku.
“berarti itu jawabannya ‘inu pikirin dulu’..” tangan
iras mengasongkan apel itu lagi.
Kini tanganku menerimanya dan menggigit bagian paling
genit dari apel tersebut.
“nanti – nanti jangan nanya nanya lagi ya, soalnya
jawabannya pasti enggak..” mulut rakus ku mulai menghabiskan apel pemberian
iras.
“kamu kayak batu.. keras..”
“elu kaya anak kucing, kumincir, ngeleyed…”
“hahahaha..” iras tertawa lebar. Aku mengambil bola basketku yang masih
tergeletak membundar di tengah lapangan.
Ini sudah terlalu malam, apih atau mama pasti akan mencariku.
“udah ah, gue duluan..” aku berbalik hendak
meninggalkan lapangan.
“rumah inu rada lumayan jauh kan? Hayu iras anterin
dah sekalian..”
Aku menimbang.
“gerbang ada di utara, sedangkan rumah gua di selatan,
mending langsung pulang dah daripada entar repot harus muter balik..”
Iras tidak mendengarkan. Ia malah mendorong tubuhku
untuk masuk ke pintu depan mobilnya.
Beberapa detik kemudian kami meluncur menuju rumahku.
Iras membawa mobilnya melaju sangat pelan sekali.
“sebenarnya ada yang mau iras jelasin..” iras
memandang ke arahku sekilas.
Aku tidak menjawab. Sibuk membolak balik si bundar
yang duduk nyaman di pangkuanku.
“alasan kenapa inu tidak masuk line up di liga SMA,
karena iras yang minta sama pelatih..”
Kepalaku berputar menatap iras. Fakta baru. Tapi aku
akan membiarkaannya menyelesaikan pembicaraannya dulu sebelum nanti aku akan
menghajarnya habis – habisan.
“bulan depan, minggu kedua, ada seleksi buat ke ABL,
seluruh SMA terbaik seIndonesia diwajibkan mengirimkan atlet basket terbaiknya
untuk gabung di tim nas U – 19. Pelatih nyuruh iras buat milih siapa aja yang
layak ikut seleksi. Pelatih pengen ada
tiga sampai lima orang yang harus ikut. Yang ikut sengaja tidak diikut sertakan
di liga SMA biar ada persiapan buat seleksi ABL, peluangnya cukup kecil.
Kemungkinan dari tiap SMA di Bandung nantinya hanya diminta satu buat ikut
seleksi. Itu makanya iras gak masukin inu ke line up. Inu yang akan jadi
perwakilan sekolah ke ABL. Iras yang akan latih inu secara instens. Dan iras
yakin pasti lolos…”
Aku cukup
terkejut. Namun ingin rasanya membalas iras kali ini. Sehingga aku hanya
menampilkan mimik yang biasa saja.
“kenapa pelatih enggak ngasih coach yang rada bagus,
gimana gue mau lolos yang ngelatihnya beginian..”
Iras
menyunggingkan senyum, pintu gerbang rumahku sudah keliatan. Mobil iras semakin mendekat, hingga akhirnya
berhenti persis di sana.
Tanganku mencoba membuka pintu mobil iras, terkunci,
aku menariknya. Namun iras mengunci lagi. Aku berbalik ke arahnya.
Namun tanpa diduga, kepala iras maju dengan cepat ke
arahku. Dan plaaakkk
Bibirnya mendarat tepat di atas bibirku. Selama kurang
lebih lima detik, ia di sana sambil memejamkan kedua matanya. Aku sendiri diam tak bergoyah. Melihatnya yang mulai membuka mata dan
melepaskan ciumannya.
Entah karena capek atau bagaimana aku tidak ingin
marah sama sekali pada iras dan membiarkannya cengengesan karena canggung. Aku
menarik kunci pintu mobilnya lagi.
Kemudian keluar dari dalam mobil iras.
…
Aku berdiri di tepi jalan, memperhatikan mobil mama
sampai hilang di belokan. Sudah
kebiasaanku, ketika mama mengantarkanku ke sekolah begitu ia pergi aku akan
melihat mobilnya sampai hilang di sudut mataku.
Memastikan bahwa ia tidak akan kenapa-napa.
Pak satpam sekolah yang berdiri di samping pintu
gerbang tersenyum ke arahku, aku membalas senyumnya bersama beberapa siswa yang
lain aku melenggang masuk ke area sekolah.
Jam pertama pagi ini, ada pelajaran geografi. Walaupun
bukan salah satu mata ajar favoritku, namun passionku bagus di pelajaran satu
ini. Nilaiku dari kelas satu SMP tidak pernah jelek. Apalagi urusan menghafal ibu kota setiap Negara
silahkan Tanya, akan ku jawab dengan sangat baik.
Kelas ku ada di lantai empat, dua lantai setelah
ruangan redaksi majalah “Block Writer” yang ku ikuti. Di dalam tasku ada
beberapa artikel yang akan ku serahkan ke bagian editor. Minggu ini sudah masuk deadline, minggu depan
kami harus sudah mulai terbit lagi.
Aku membuka kunci pintu ruangan. Sepagi ini tentu saja belum ada awak media
itu yang hadir di sini. Meja raline yang
duduk menghadap pintu langsung ku tuju, kemudian ku letakan lembaran – lembaran
artikel itu di sana.
Tiba – tiba, seseorang menyergapku dari belakang.
Membuatku agak kaget dan sesegera mungkin membalikan badan. Iras.
Aku sepertinya sudah telat untuk mengelak, begitu
kepalaku berputar dengan cekatan kedua bibir iras menangkap kedua bibirku
seluruhnya. Hingga membuatku hamper
tidak bernafas. Iras menjadi sedikit
lebih gila, ia mencoba memasukan lidahnya ke dalam mulutku.
Entah setan dari mana, aku malah memejamkan mata
seolah – olah menikmati hal tersebut.
Kedua tangan iras mencengkram kuat tubuhku sehingga aku tidak dapat
mengelak sama sekali. Bahkan setelah dua menit lebih aku mulai membalas apa yang
dilakukan iras.
“good morning, selamat belajar..” iras tersenyum.
Kemudian ia mencium bibirku lagi.
Setelah itu ia merapihkan pakaiannya sebentar kemudian segera berlalu
dari ruangan tersebut.
Aku diam mematung di tempatku, menyentuh bibirku
sendiri. Kemudian menatap ke arah cermin besar yang menempel di dinding
ruangan. Aku baru saja di peluk oleh
seorang laki – laki lagi.
Hanya saja, aku tidak habis pikir kami yang dari awal
seperti bermusuhan hanya memerlukan waktu beberapa bulan akhirnya jadi sedekat
ini.
…
Kami duduk melingkar di mcd. Ardan dan feddy masih asyik membicarakan
escort girl yang mereka ajak main – main semalam. Sementara nollan masih sibuk dengan tugas
sejarahnya yang belum selesai.
“kampret bener dah tadi malam, gue udah mati – matian
ngerayu mereka biar mau dibawa maen, eh malah mabur… gue benci jadi anak SMA..”
gerutu ardan. Ia tampak masih sangat kesal, sejak di dalam kelas ia terus
menggeram seperti harimau yang tengah mengintai buruannya.
“lah kan tampang lu udah kaya bapak – bapak kok gak
berhasil..” tukasku cepat. Kalau ada
orang yang melihat ardan memang tampangnya tidak akan seperti anak SMA
kebanyakan. Tubuhnya bongsor, walaupun kami semua hamper memiliki tinggi badan
yang sama 170 cm, tapi karena bentuk badannya yang berisi dan sedikit gemuk
ardan jadinya terlihat lima tahun lebih tua dari kami apalagi kalau melihat
koleksi cambangnya.
“jangan sembarangan ngomong ya pak bos, itu sangat
menyiksa batin..” ardan mengeluh. “yang jadi sedihnya, bukan karena gue anak
SMA, tapi karena ledekan mereka, badan segede gini ternyata masih SMA…”
Kami semua tergelak bersama – sama.
“sebenarnya rencana kita gak bakalan kacau kacau amat
dan, kalau saja pengacaunya gak ikut tadi malam…”
Aku, dheka, dariz, jordan dan kiki saling
bertatapan. Mencari pelaku kekacauan
yang disebutkan feddy. Langsung saja mata kami berlima tertuju pada si culun
yang sedang menyelesaikan tugasnya.
“kyaaaaaa…” tiba – tiba nolla berteriak. Ia
melemparkan balpointnya ke atas tumpukan – tumpukan kertas dan buku yang ada di
depannya. “gue gugup tadi malam bias jadi malam terakhir gue jadi perjaka..
mana bias gue diperjakain sama begituan…” kini tampang nollan berubah menjadi
stress berat.
Belum selesai ketawa kami, kini sebuah lelucon baru
muncul. Akhirnya kami tertawa lagi. Aku
melihat kekalutan di wajah ardan semakin menjadi. Ia tampak sedang berduet
kekesalan dengan feddy pada nollan. Pantas saja sejak tadi di kelas nollan
tidak banyak bicara.
“gimana – gimana cerita dong lan cerita..” dariz
menepuk – nepuk punggung nollan. Walau tanpa henti ketawa.
“culun bener – bener nih anak, masa tuh cewek udah
duduk di pangkuan gue, eh dia teriak – teriak dari belakang “inget kita masih
SMA guys kita masih SMA” ya kabur tuh daging…” ardan Nampak melonjakan
kekesalannya sampai ia menepuk meja.
“bahkan gue udah ngerasain kutangnya gerak – gerak di
perut gue, eh gagal tayang…”
“beneran, semalam gue hamper aja liat bokep secara
live di mobilnya ardan…” nollan menggeleng – geleng, ia mulai memunguti
ballpoint dan kertas – kertas tugasnya. Rupanya itulah alasan kenapa semalam ia
tidak mengerjakan tugas sejarahnya, hingga tadi ia bersama dengan feddy dan
ardan disuruh lari keliling lapang sama pak wildan. Kalau feddy dan ardan, entahlah, aku tidak
yakin di rumahnya mereka punya meja belajar untuk mengerjakan tugas dan semua
pekerjaan rumah. Buku dan bal point saja mereka tidak punya.
Kami masih tertawa terbahak – bahak. Membayangkan anak
seculun nollan diajak main – mainan orang dewasa oleh ardan.
Pintu mcd terbuka. Tiga orang kakak kelas kami masuk
dari sana. Aku masih tertawa karena kelakuan nollan ketika tubuh iras lewat di
hadapanku.
“pssssttt Nu..” ardan mencolek pinggangku. “itu kan
kapten tim basket tengil yang gak masukin lu ke line up kan?” tatapan ardan
tampak serius menatap iras dan dua orang temannya yang juga sama – sama anggota
tim basket yang duduk tidak jauh dari meja kami.
“oo jadi itu” timpal dheka. “mau dikeryokin gak Nu?
Udah lama gue gak mukulin orang..”
Feddy tampak mengepal – ngepalkan tangannya.
“bener, sekalipun gue paling mentah sama basket, tapi
kalau liat gaya main lu sama gaya main nya dia, elu juara Nu, enak aja lu gak
masuk line up..”
“huss udah – udah.. gak usah bar – bar..” sergahku
segera. “gue tahu kok alasan kenapa gue gak masuk line up..” aku berusaha
menenangkan beberapa ekor buaya dan singa yang tengah lapar tersebut.
“apaaaaa???” mata tujuh orang tersebut menatap ke
arahku. Dengan reaksi seperti singa laut yang tak sabar ingin dilempari ikan
mentah.
“gue disuruh siap – siap buat ikut seleksi ABL,
makanya gue gak masuk line up liga SMA..” jelasku, tanpa berusaha panjang lebar
agar otak – otak peda ini mudah faham.
“ooooooooooo..” seru choor itu lagi. Mereka memang
selalu tampak bodoh.
Aku menatap ke arah iras. Walaupun sebenarnya yakin, iras bias habis
hanya dalam beberapa detik oleh pasukan ku ini. Tapi entahlah, dendam ku
padanya beberapa hari lalu rasanya sudah menguap. Sekarang, ada sudut di dekat
hatiku yang mengatakan khawatir dan tidak mau pasukanku melakukan apapun
padanya.
“selamaaaaattttttt…” mcd segera berubah menjadi riuh
oleh suara – suara serigala lapar di sekelilingku. Bergantian mereka merangkulku.
Sambil sedikit menyiksaku.
Ketika selesai, aku membuka sebuah pesan masuk di
hpku. Dari iras.
“ikutan ngucapin selamat ah, selamaattt.. selamat
makan siang juga..”
Aku segera membalasnya.
“usahakan, kalau gw lagi sama temen – temen gw, lu
jaga jarak ya, biar mereka gak tau bibir gw perna lu cium..” send. Aku
mengirimkan pesan tersebut. Tanpa menunggu reaksi iras.
Apalagi gerombolan ku sudah mengajak kami untuk
kembali ke kelas.
…
10 oktober 2007
Sudah beberapa minggu, iras menghilang. Seperti ada
yang aneh, biasanya bila ada kesempatan ia akan selalu datang dan menggangguku. Tapi beberapa minggu belakangan ia tidak ada,
tidak menghampiri ke mega block –sebutan ku untuk ruangan redaksi majalah
sekolah- tidak pernah terlihat latihan, tidak ada di mcd, perpus atau tempat
lain yang biasa ku datangi. Ia seperti sengaja menghindar.
Aku mengambil handuk dan air dari dalam tasku, setelah
selesai menyeka keringat aku membereskan semua perlengkapanku ke dalam
tas. Kemudian langkah kaki ku
meninggalkan lapangan basket sekolah juga teman – teman ku yang sedang serius
berlatih.
Liga SMA tinggal beberapa minggu lagi. Mereka sudah
berlatih cukup keras, bahkan mereka kini menambahkan jadwal latihannya. Asalnya hanya dua hari seminggu kini jadi
empat hari. Aku hanya datang satu atau dua hari dalam seminggu, untuk sekedar
ikut latihan dan menjaga kebugaranku. Namun itu tadi, rasanya ada yang kurang.
Tiba – tiba tanganku ditarik ke sebuah ruang kelas
yang menghadap ke lapang basket. Aku sudah tidak kuasa menahan tubuh iras yang
mendorong ku ke balik pintu. kedua
bibirnya sudah mendarat liar di atas kedua bibirku.
Aku kini tidak tinggal diam. Kedua tanganku memeluknya
kuat. Membuncahkan kerinduan yang
rasanya sudah terlalu dalam, tidak menemuinya seminggu ini. Aku mengalami
perang batin yang cukup hebat. Di satu sisi tidak ingin iras mendekatiku lagi
namun di sisi lain aku begitu merindukan semua gangguan darinya, bahkan setiap
rasa kesal yang selalu ia ciptakan.
Bibir kami berdua akhirnya berhenti berciuman,
menyadari begitu banyak orang di lapang sana, dan jendela kelas yang terbuka
terang dapat membuat siapapun melihat apa yang kami berdua lakukan.
“dasar bodoh, kemana elu hah? Seenaknya pergi tanpa
ngasih kabar..” aku menampar kecil pipi iras. Meluapkan kekesalan.
“lah bukannya inu yang bilang kita harus jaga jarak,
makanya iras ngasih jarak, lagian kan kita gak pacaran jadi gak ada hak buat
iras buat terus – terusan sama inu, banyak teman – teman inu yang biasanya
kemana – mana sama inu..”
Aku tidak menjawab, kebingungan, merasa perkataan iras
ada benarnya juga. Akhirnya aku menenteng tasku lagi dan pergi keluar dari
kelas tersebut.
Iras berjalan menyusul di belakangku.
“iras anterin pulang..” terdengar tidak seperti
tawaran. Tapi paksaan.
“gak usah, udah janjian kok sama mama, bentar lagi
kayanya dia bakalan jemput..” aku berjalan menelusuri halaman sekolah. Membiarkan
iras yang berlari menuju mobilnya di parkiran sebelah barat.
Beberapa detik kemudian mobilnya sudah menyusul,
melaju pelan di sampingku.
“ayooo lah, banyak yang bias kita bicarian di jalan
nanti…” kata iras menurunkan kaca mobilnya.
Aku melihat sekelilng. Semoga tidak ada yang
mengenaliku, atau tidak ada yang tahu kalau aku masuk ke mobil iras. Akhirnya
aku masuk juga ke dalam mobil iras.
Mobil pun perlahan mulai meninggalkan sekolah. Mataku
terus melihat sekeliling, memastikan bahwa kawananku semuanya sudah
pulang. Bias repot kalau mereka sampai
curiga.
“tenang, jam segini temen – temen inu udah pada
nyenyak tidur di rumah nya masing – masing..” kata iras sambil menatap jam
digital yang ada di desk mobilnya.
“jadi kapan kita mulai latihannya…” kataku berusaha
mengalihkan topic pembicaraan.
“kapanpun, iras siap, seleksinya tinggal tiga minggu
lagi kan?” iras menatapku sesekali sambil tetap berusaha focus pada jalan di
hadapannya.
Aku diam beberapa saat, sampai akhirnya sadar iras
tidak membawa mobilnya kea rah rumah ku. Berlawanan arah. Ini keluar kota.
“mau kemana kita? Rumah gue belok ke sana..” aku
menunjuk arah yang sebaliknya pada iras.
“tenang, nanti iras jelasin kalau kita sudah sampai di
tempat tujuan..”
Aku diam, kembali menyandarkan tubuh pada badan jok.
Aku juga diam, ketika pelan – pelan tangan iras mengenggam satu demi satu jari
tanganku.
…
“iya ma, sebelum makan malam pasti inu udah ada di
rumah, Cuma ke ciwidey doing ko..” aku berusaha menenangkan mama yang mulai
panic karena aku telat pulang.
“kamu gak lagi sama si ardan kan? Awas kamu jangan
sampai terlalu dekat sama dia, gak bagus dia pergaulannya…”
Aku terkekeh sebentar. Rupanya diam – diam mama suka
menguping pembicaraan kami semua kalau sedang berkumpul di kamar. Mama mulai khawatir pada ardan, memang dalam
segi pergaulan ardan sudah jauh di atas kami.
“enggak ma, inu lagi sama iras…”
Aku menatap orang yang sama – sama duduk di atas kap
mobilnya di sebelahku.
“iras? Iras itu yang mana?”
“itu ma, anak osis yang beberapa minggu lalu ngajakin
inu rapat..”
“ooo dia, nah kalau mau begaul tuh sama anak baik –
baik kaya dia…” aku tersenyum lebih lebar, mengingat apa yang sudah dilakukan
iras. Aku malah merasa efek pergaulan yang jauh lebih buruk apabila aku terus –
terusan bersama iras.
“he’eh ya udah, gitu aja kan ma? Inu janji sebelum
makan malam inu udah di rumah, masak yang enak yaaa…”
“oke, sudah ada beef teriyaki di meja makan..”
Aku hampir melonjak kegirangan. Menu favoritku.
Sebelum akhirnya menutup telpon. Telapak tanganku menggosok lengan bagian
atasku. Hawa dingin yang ditiupkan udara dari atas situ patenggang membuatku
kedinginan. Apalagi seragam basket ku
dibuat tak berlengan.
Iras kemudian berlari ke dalam mobilnya. Mataku
menatap pada sekeliling danau, langit yang mulai beranjak sore, daun – daun teh
yang Nampak polos, juga air danau yang tenang, tersibak sesekali oleh angina
dan udara dingin. Semuanya membuatku
begitu merasa sejuk. Cuaca yang agak sedikit mendung membuat ini sepi tanpa pengunjung
menyisakan kami berdua.
Tiba – tiba tangan iras melingkarkan sebuah jaket di
pundakku. Ia memaksaku memakainya.
Sebuah jaket berwarna merah menyala. Aku rasa sedikit
berguna di udara sedingin ini, aku menatap iras yang ia juga sepertinya sama –
sama menahan udara dingin ini.
“kamu bawa jaket yang lain?” tanyaku padanya yang kini
duduk lagi di sampingku. Ia menggeleng.
Kemeja SMA nya aku yakin tidak akan cukup kuat menahan udara dingin ini.
“kamu lebih butuh..” katanya singkat.
Aku pun tidak ingin mempermasalahkannya, semua
tayangan view point di depan ku ini rasanya tidak pantas untuk dilewatkan
sedikitpun.
“jadi alasan nya apa?” kataku sambil terus menatap
lurus ke depan. “kenapa kita harus pacaran..”
Kata – kataku menggantung di udara. Iras tidak
menjawabnya. Yang terdengar oleh ku hanya
giginya yang terkadang bergemulutuk menahan dingin.
“tidak ada alasan apapun, kecuali takdir yang membuat
iras menemukan inu dan terbit rasa sayang yang begitu besar ketika mata kita
pertama kali bertemu..”
Aku tidak menjawabnya.
Pun tidak akan berusaha membahasnya.
Sesuatu yang tersulit itu bukan perihal mengatakan ya dan tidak. Bukan
itu. Akan tetapi, mana bias saat mulut bicara tidak namun berkali – kali hati
mengatakan hal berbeda. Mungkin seperti apa katanya, ini semua sudah menjadi
takdir….
“mungkin…” kataku pelan. “mungkin saja, seperti yang
kamu katakan, ini semua sudah menjadi takdir..”
Angin mulai menelisik setiap pori – pori yang terbuka
di sekujur tubuhku. Membawa serpihan air yang telah menguap dari danau, mungkin
ia hendak mengantuk. Begini lah rasa dinginnya jika air mengantuk. Hawanya yang
terus menyentuh setiap pangkal syarafku, seakan mencuri setiap rasa hangat yang
disisakan pembuluh darah yang berusaha menstabilkan suhu, seperti jari – jari
tangan iras yang mencuri – curi kesempatan untuk memeluk tanganku mesra.
Aku tidak menepiskannya sama sekali. Menyadari bahwa
menggenggam tangannya sekarang mulai terasa lebih baik dari pada tidak
melihatnya sama sekali.
“untuk selamanya…” iras seperti tidak mampu membuat
kata yang lebih panjang. Hawa dingin
terlanjur membuat pendek kerongkongannya.
“kalau benar – benar, seharusnya waktu kita, bisa
lebih lama dari selamanya…” gugatku.
Dalam cinta, jika dia benar – benar cinta ia tidak akan membuat
perjanjian untuk jangka pendek. Cinta
sejati selalu membawa nafas hidup jangka panjang.
“to forever and everlast…” kata – kata iras tidak
selesai. Giginya keburu bergemulutuk hebat. Rasanya begitu kasian melihat nya
kedinginan seperti itu.
Kedua tanganku kemudian merangkul tubuh iras.
Membawanya ke dalam pelukanku. Semoga
saja bisa meredakan kedinginannya.
Ia Nampak terkejut namun kemudian wajahnya berubah
menjadi sedikit tenang, ketika wajah kami berhadapan hanya dengan jarak lima
senti. Kulit wajahku bahkan bisa meraasakan nafas dingin yang keluar dari
hidung dan mulutnya.
Untuk pertama kalinya, bibir kami bertemu tanpa
paksaan dari salah satu pihak. Kini rasanya aku bahkan mulai mengenali setiap
garis dari bibir iras. Mulai hafal
deretan giginya yang rapi yang selalu beradu dengan gigiku yang gingsul satu.
Atau lidahnya yang kadang serasa seperti menggelitik atap – atap mulutku.
Aku membuka mata, menatap kedalaman danau yang kini
beralih pada mata hitam iras.
“iras janji selama iras hidup, selama iras mampu, iras
jamin inu tidak akan pernah kecewa. Terimakasih, iras sudah mulai terasa hangat
sekarang” iras seperti akan menjauh.
Namun aku menariknya ke dalam pelukanku semakin dalam.
“jangan kemana – mana rasanya begini lebih baik..”
pintaku.
Iras tidak melawan. Tangannya pun melingkar di
pinggangku.
“mama inu bikin iras iri, dia begitu khawatir sama
anaknya yang sudah segede ini…”
Aku tersenyum. “ada banyak alasan kenapa mama begitu,
beberapa bulan yang lalu waktu inu masih kelas tiga SMP, pernah ada orang yang
nusuk inu..” aku memperlihatkan bekas luka di punggungku. “kemarin – kemarin di
depan rumah ada mobil yang sengaja mau nabrak…”
Mendengarkan penuturanku riak di mata iras berubah. Ia
seperti sedikit khawatir. Tangannya memeluk ku semakin erat.
“iras janji semampu iras akan jagain inu, kalau perlu
dalam kondisi bagaimanapun iras yang akan gantiiin inu..” mata iras terlihat
sungguh – sungguh ketika mengucakan hal tersebut. “to forever and everlast…”
Janji iras tersebut seperti menjadi titik awal dimana
begitu besarnya pengorbanan yang ia lakukan. Setiap perhatian yang ia berikan.
Segalanya. Bahkan sampai saat ini, aku tidak pernah mengenal orang lain yang
mampu menjaga janjinya seperti iras.
Dan kata – kata yang kami sama – sama ucapkan sore itu
sebatang forever and everlast memang tidak pernah selesai kami ucapkan. Udara
dingin sore itu membuat bibir kami tidak mampu menuntaskannya. Namun itu seperti harapan kecil bahwa sampai
kapanpun kisah kami tidak akan pernah tuntas, berharap tidak aka nada ujungnya.
Kami tidak selalu berharap banyak. Hanya sekedar lebih
lama dari selamanya.
“jangan pergi – pergi lagi bodoh, jangan menghilang
tanpa kabar begitu saja..”
…
Tidak ada komentar:
Posting Komentar