Selasa, 23 Juli 2013

4 : “whats? Lapang basket kami?”



ketika jam istirahat makan siang kami berkumpul di McDenim, MCD nya sekolah kami.  Kantin sekolah kami dalam arti sebenarnya. Tempatnya tidak terlalu besar.  Namun itu membuat Astroboy nyaman berlama-lama ngobrol di sana.  Saat tidak ada guru yang masuk, atau saat ada gurupun kami sering berpura-pura kencing, lalu satu-satu menyelinap ke sini.
Astroboy, akhirnya kami sepakat memakai nama astroboy untuk perkumpulan kami. Sesuai dengan nama kelompok kami sewaktu ospek. Aku agak malas menyebutnya genk, seperti terlalu preman atau bahkan mungkin terlalu alay. 
Bagi beberapa orang diantara kami, MCD memang pilihan tepat.  Terutama bagi dheka dan ribki, letaknya yang dekat dengan mushola memudahkan mereka ketika datang waktu solat.  Sementara buat ku dan yang lain duduk di sini ya karena hanya nyaman saja,  apalagi mereka sering memutarkan musik-musik yang ternyata tidak jauh berbeda dengan selera musik kami semua.
“gue hilang perjaka kelas 6 SD” Ardan memulai.  Kemudian ia membentuk bulatan oleh jari-jarinya dan menggerak-gerakan nya dia atas selangkangannya.
“coli??” tukas nollan, sambil sengaja melorotkan kacamatanya.  Sehingga terlihat tampang menyelidiknya.
“kampret...” hampir saja ardan menebas leher mora dengan tangannya. “buat gue, pantang main manual..” kata ardan berikutnya.  Disambut gelak tawa kami berenam.
“lu ngasih nya ke siapa??” kini feddy yang tampak penasaran.
“agak tua sih...” ardan sengaja memotong pembicaraannya.  Dan menatap kami satu-persatu sehingga membuat kami tambah pensaran. “guru Prakarya gue...”
“sialan...” nollan berteriak duluan.
“Shit..” jordan dan daris hampir bersamaan.  Sementara aku hanya memperhatikan dari balik gelas jus jambu ku.
“eh eh eh jangan pada kurang ajar ya, tanya feddy tanya, kaya apa guru prakarya kelas enam gue... beuuuhh...” tangan ardan menggoyangkan bentuk huruf S yang mungkin ia maksudkan menggambarkan sebuah bentuk tubuh.
“seksi sih.. kaya..” feddy tampak berpikir.  Kini mata kami semua beralih kepadanya. “happy salma lah..”
“hah tua banget, jijik gue...”
“lah kok tua now??” aku kini yang heran, happy salma mana yang dia pikirkan. Termasuk pandangan ardan yang merasa sangat direndahkan oleh nollan.
“itu kan, yang suka nyanyi lagu sunda itu kan?? Namanya happy salma..”
Kami berempat berpikir cukup keras.  Sejak kapan happy salma nyanyi lagu sunda.
“hah kutu busuk itu Hetty Kusendang..”
Teman-temanku yang lain tertawa terbahak-bahak.  Perasaan jauh amat dari Happy salma nyasar ke Hetty Kusendang.
Dheka dan Ribki mendorong pintu mcd,  mereka berdua pasti baru keluar dari mushola.  Baru selesai ssolat duha. Keduanya memang muslim yang taat, dan biasanya yang paling rajin memberikan ceramah kepadaku.
Ya karena diantara kami semua hanya kami bertiga yang muslim. Ardan dan feddy Katolik makanya mereka satu SD, Nollan protestan (walau dia pengen Cuma dipanggil kristen doang), Jordan  nasrani, daris budha.  Kami mengetahuinya ketika malam ketiga kami ospek.  Sewaktu berkumpul di rumahku, aku pernah menyuruh mereka semua solat ternyata yang bergegas hanya ribki dan dheka saja.
Tapi walaupun begitu,  kami tetap berteman dan rukun bagai power ranger sampai sekarang,  yang siap membasmi para monster yang berkeliaran di sekolah ini.
“udah pada mesen makan belum??” kata ribki sambil duduk.
Kami semua sepakat menggeleng.  Sejak masuk ke sini kami memang hanya mememsan beberapa minuman saja.  Kemudian dheka.  Yang selalu perhatian dan tahu selera kami satu persatu mulai memesan makanan untuk kami semua.
Untuk ku ia memesankan sebuah cees burger.  Rupanya dia mulai tau ketidakmampuan ku menggunakan sendok.
“pasta, anterin ke meja no 8” kata sebuah suara, sebelum dheka berhasil meneriakan satu persatu makanan pesanan kami.
Iras.  Ketua tim basket.  Salah satu pengurus osis. Yang kemarin jadi tim tatib sewaktu ospek, ternyata dia makan di sini juga ya.  Tapi sepertinya hari ini dia terlihat agak jinak. Tidak seperti waktu kami ospek beberapa hari yang lalu.  Dia salah satu panitia yang dihindari, kecuali oleh kelompok kami. Astroboy.
Beberapa orang temanku tampak menganggukkan kepala saat dia menatap kami satu-satu.  Aku jujur saja, malas dengan semua panitia ospek.  Akhirnya aku hanya melihat hp ku, dan menutup sebuah panggilan dari nomor tidak dikenal.
Namun selama kami berkumpul di mcd, aku rasa ada sebuah tatapan yang terus memperhatikanku. 
Ah mungkin, nomor yang tidak dikenal.
...
Guru geografi kami keluar kota.  Sehingga kami yang memang duduk satu baris, dan berurutan akhirnya keluar dari kelas  dan segera menuju mcd.  dheka sudah membawa sebuah buku, sebelum keluar kota guru kami menitipkan tugas.  Dan sekarang kami harus mengerjakannya, dikumpulkan hari ini juga.  Kami membawa balpoin masing-maasing, jadi walaupun di mcd kami masih bisa mengerjakan tugas tersebut.  Kertasnya tentu saja minta ke dheka.
“ollaaa...” ardan menggoda teman sebangkunya itu. “adiknya olla ramlan ya, seksi banget sih pantat mu..” tidak diduga, ardan memukul pantat nollan.
“shuuuuttt jangan di tempat rame gini dong babe, kan maluuu..” tampak nollan berubah menjadi agak kemayu.
“sialan, elu mah doyan..” umpat ardan.  Memang bagi kami sangat sulit menyebutkan nama nollan.  Tapi mungkin ‘olla’ yang tadi diucapkan ardan bisa menjadi salah satu usul bagi kami untuk lebih mudah memanggilnya.
Dari lorong muncul beberapa kakak kelas ku.  Mereka cowok semua, salah satunya iras. Kapten tim basket itu.
“hey teman – teman boleh minta waktunya sebentar? Ada pengumuman penting..” katanya ke hadapan kami.
Lalu setelah saling bertatapan kami memutar arah dan kembali ke dalam kelas, di dalam kelas yang tadinya riuh berubah menjadi sepi ketika iras dan rekan – rekannya berdiri di depan.
“maaf mengganggu waktunya sebentar, ada pengumuman dari tim basket sekolah, beberapa bulan lagi kita mau menghadapi liga basket SMA sejawa barat, berhubung kita sudah memasuki ajaran baru dan kebanyakan line up kita sudah lulus tahun kemarin maka kami dari ekskul basket mengajak teman – teman dari kelas 1A ini untuk ikut bergabung..” kata iras panjang lebar.
Lalu seorang temannya berkeliling membagaikan selembar kertas. Aku memperhatikan kertas yang mendarat di atas mejaku.
“itu formulir, bagi rekan – rekan yang merasa mampu dalam basket atau pun yang baru mau belajar kami tunggu keikut sertaan rekan – rekan..” aku memberikan formulir di tanganku pada kiki. Tidak tertarik. Apalagi ada iras di sana, kelakuan sengaknya selama MOS kemarin tidak mungkin harus ku hadapi lagi. 
Ku lihat beberapa teman kelas kami yang lain mengisi formulir tersebut dan memberikannya pada seorang kakak kelas yang dari tadi berkeliling menawarkan formulir dan hampir memaksa mengisinya.
“gue ikutan ah, ya mungkin lumayan lah buat jadi tukang mungutin bola doang mah..” kata kiki sambil mengisi formulir di tangannya.
Aku berbalik menatap ardan yang mejanya berada persis di belakangku memberikan kode kepadanya untuk keluar.
“kang udah kan kang? Boleh keluar?” Tanya ardan pada rombongan bakset tersebut.
“oh iya silahkan.. kami sudah selesai kok..”
Tanpa komando aku dan ke tujuh temanku berdiri dan meninggalkan kelas. Sebelum keluar kiki sempat menyerahkan formulirnya pada tim basket itu.
Di kejauhan ku lihat ada beberapa anak juga yang sedang main basket di lapangan.  Sudah beberapa bulan ini hasrat ku untuk main basket hilang.
Masuk SMA tadinya ku pikir aku akan bisa main basket lagi, namun beberapa minggu masuk, aku malah bergabung dengan tim majalah sekolah. Ekskul jurnalis.
Aku menjadi yang paling duluan selesai solat dzuhur.  Kemudian segera keluar dari mushola, duduk di depan terasnya untuk mengenakan sepatu.  Dheka menyusul, ia duduk di sebelahku, meraih sepatunya lagi yang tergeletak tidak jauh dari tempatnya.
“Nu..” tiba – tiba kiki berteriak dari dalam mushola.
Aku memutar kepala melihatnya.  Beberapa detik kemudian ia sudah duduk di sampingku.
“ada apa??” tanyaku sambil mengikatkan sepatu.
“mau ngajarin gue basket gak?” kata kiki mengagetkan aku.  Ku pikir dia benar – benar mau ikut eksul basket. “ternyata sebelum resmi diterima di ekskul kita di tes dulu, nah hasil tes menentukan di posisi mana kita nantinya, dari SMP gue di cadangan terus masa sekaraang SMA harus jadi tukang duduk lagi..”
“dheka aja deh, gue gak jago – jago amat..” kataku mengelak.
“apalagi gue, gue Cuma bisa megang bolanya doang..”
“tuh kan si dheka mana mau, lagian waktu kemarin kita ke rumah lu, gue liat ko piala – piala lu sama foto lu megang bola basket, udah pasti lu jago basket..” kata kiki lagi, dia seperti sungguh – sungguh minta diajari.
“gue bener gak jago ki, itu juga dapat piala waktu kelas dua SMP, udah lama jug ague gak maen basket..” kami bertiga hampir selesai dan berdiri satu – satu bersiap meninggalkan mushola.
“ayo lah Nu.. Cuma tekhnik dasarnya doang ko..” kiki meraangkul setengah bahuku.  Tatapannya tampak memohon.
“ya udah deh, ntar pulang sekolah, kita numpang latihan aja di sini gimana?” kataku saat kami melewati lapang basket. “asal lapang basket ini kosong..”
“yeeee… inu mau ngajarin gue..” kiki bersorak. “pasti kosong Nu, soalnya anak – anak basket Cuma latian rabu sama sabtu doang..”
Aku mengangguk.  Kami berjalan beriringan ke mcd. Di sana yang lain sudah menunggu kami bertiga.
“lu jangan condong ke depan, coba tetap tegak di atas, walaupun ring ada di tempat jauh, tapi dia tetap ada di atas, kalau lu semakin condong itu akan membuat bola cepat jatuh dan tidak akan sampai ke ring..”
Aku mengkoreksi cara kiki berdiri.  Ia masih memegang bola dan berdiri di titik three point.
“udah bener belum nu..” kata kiki lagi ia membetulkan posisi berdirinya.
“kaki yang di jinjit sebelah aja, ntar lu jatuh,,” kataku lagi.
Kiki menapakan salah satu kakinya tanpa aba – aba ku. Ia melemparkan bola, karena tubuhnya terlalu condong ke depan lagi akhirnya bola jatuh ke bawah ring.  Dan menggelinding keluar lapang, tampak wajah frustasi di wajah kiki.
“lempar sini bolanya..” kataku sambil menggerakan kelima jariku meminta bola pada kiki.  Beberapa orang siswa dari lantai dua tampak memperhatikan apa yang kami berdua sedaang lakukan.
Kiki melemparkan bola bundar berwarna orange tersebut kepadaku.  Tanganku dengan reflek menangkapnya, aku menepuk bola beberapa kali pada lantai beton lapangan.  Kemudian setelah memperlihatkan posisi yang ku jelaskan pada kiki tadi, ku lemparkan bola dari sudut three point. Dan…
Bola masuk.  Masuk setelah ku lemparkan dari jarak hampir setengah lapangan. Tiba – tiba saja para murid yang dari tadi memperhatikan kami dari lantai dua bertepuk tangan riuh, aku kira itu bukan untukku.
Kiki menggeleng – gelengkan kepalanya.  Ia melemparkan kembali bola tersebut padaku.
Kali ini, aku menderible bola sampai ke dekat ring.  Beberapa kali, kiki tampak berusaha menjegalku.  Namun aku berhasil mengecohnya, sampai pada ketukan ketiga bola pada lapang aku membawa bola ke ring.
Bola masuk, sementara aku bergelantungan di ring basket.
“hahahaha…” aku tertawa puas melihat kerut di wajah kiki.
“lu benar – benar juara basket dah ah..” kata kiki lagi.
Aku melompat turun dari ring basket.  Kemudian berjalan ke arahnya.
“intinya kalau lu mau jago basket, lu harus punya bola, sepatu bagus, dan baju buat latihan. Latihan di mana aja bisa, garasi, kolam renang, jalan depan rumah, taman..”
“tunggu, kolam renang Nu? Lu suka latihan basket di dalam air..”
“hahaha bukanlah latihan di kolam renang kalau airnya lagi dikosongin sama tukang kebun lu..” aku tergelak sambil menenteng task u yang tadinya tergelatk di bangku beton dekat ring basket.
“yah gue kirain..” kata kiki sambil berkacak pinggang.
“ki gue pulang dulu ya, mama kayanya udah jemput, lu pasti lolos kok, apalagi anggota basket mereka kan masih sedikit..”
“yah mudah – mudahan bakat lu nular ke gue yah nu, kan kita sebangku..”
Aku tertawa lagi mendengar perkataan kiki.  Ku lihat layar hpku. Beberapa panggilan dari mama.
“gue pulang dulu ya kiki..” aku berbalik meninggalkan kiki.
“yap, thanks nu..”
Aku menjawab dengan mengacungkan jempol pada kiki, sambil terus berlaru dari lapangan basket.
Ku telpon mama.
“hallo ma..” begitu mama menerima telpon dariku.
“hay nu, mama di tukang mie ayam langganan mama di sebrang sekolah, kamu tunggu aja di mobil..”
Ah aku lupa, kalau mama lulusan dari sini juga.  Dan seperti yang selalu dia ceritakan tukang mie ayam depan sekolah memang langganannya dari dulu.
Mama masih sibuk di rak buku bagian masakan.  Kegilaannya pada masakan itali tidak ada yang bisa menghentikan.  Di rumah, di perpustakaan kecil kami, koleksi resep masakan itali mama hampir sama banyak dengan buku – buku kesehatannya.  Bahkan aku pernah menemukan selembar resep pasta nyelip di buku besar Ilmu Penyakit Dalam.
Langkah kaki ku beralih menuju bagian anime jepang.  Serial baru naruto sudah keluar ternyata, aku mengambil satu paket yang terdiri dari beberapa manga yang mencantumkan beberapa puluh episode. 
Aku menghampiri mama, menyimpan manga naruto tersebut ke keranjang mama.  Ia kini tengah asyik membolak – balikan sebuah buku khusus lasagna.
“Maryamah Karvov..” aku membaca banner yang berdiri di tengah – tengah gramedia.  Serial ke empat dari tetralogy lascar pelangi.  Aku segera memburunya.
Semuanya masih di segel, sehingga aku hanya mampu membaca synopsis yang ada di di bagian belakang bukunya.
“gue sebenernya gak bisa ngebiarin atlet basket, gak gabung ke tim basket sekolah..” sebuah suara mendatangiku.
Aku mengangkat kepala, melihat siapa yang bicara.  Ternyata kapten tim basket.  Aku tidak menghiraukannya malah beralih menuju novel – novel lain.
“okeh gue akuin permainan lu tadi sore keren..”
“permainan yang mana?” aku sebenarnya ingin segera mengusirnya dari sini.  Tidak ada untungnya sama sekali ia ngajak ngobrol kaya begini. Malah sedikit membuat keributan. Sampai kasir di sebrang kami melirik beberapa kali.
“tadi siang waktu lu latian di lapang basket kami…”
“whats? Lapang basket kami?” aku menaikan tangan tanda tak mengerti sekaligus ingin tertawa pada kekonyolannya.
“secara fisik memang milik sekolah , namun dalam keadaan resmi lapangan hanya milik anak – anak basket, sepak bola, takraw, bahkan cheerleader.. jadi kalau belum masuk ke salah satu ekskul itu tandanya belum punya hak apa – apa di lapang..”
“okeh, kalau gitu, semua murid yang upcara tiap senin itu Cuma numpang doang di lapang? Its funny but more stupid..”
Aku berlalu beberapa langkah.  Mengabaikan orang aneh ini.
“gua tipe kapten tim yang maksa, lu pasti ikut basket kok..”
Ingin rasanya aku melemparkan buku yang ku pegang ke kepalanya yang sengak itu.  Namun ia berbalik dan berjalan keluar dari gramedia.
Aku sebenarnya tidak terlalu kenal siapa iras. Apa hebatnya dia, sebagai apa dia di sekolah aku benar – benar tidak peduli.  Dari awal, ketika beberapa minggu lalu kami MOS dia memang jadi panitia yang cukup sengak yang berani – beraninya memanggilku bodoh.
Kami beda kelas, apalagi ia satu angkatan di atasku.  Sejak dulu, aku tidak pernah peduli pada orang – orang di sekolah.  Bahkan sejak SMP orang yang ku kenal di sekolah bisa ku hitung.  Jarang kalau yang ku kenal itu dari kakak kelas.
Tapi kali ini, mahkluk bernama iras makki ini benar – benar cari masalah.  Dia membuat pelatih tim basket yang juga guru olah raga kami memncari – cariku.  Menyuruhku untuk bergabung ke tim basket, aku menolak secara halus.  Namun ia mengancam tidak akan meluluskan ku di pelajaran olah raga.
Begitu keluar dari ruang guru, aku tergesa – gesa mencarinya ke seisi sekolah. Sepengetahuanku kelas nya ada di lantai tiga, dia ada di jurusan IPA.  Tanganku tidak berhenti mengepal.
“gue nyari orang bernama iras makki..” kataku di pintu kelas pertama.
Beberapa orang menunjukan jarinya kea rah kelas sebelah.  Di bawah, di lapang ku lihat ardan dan temanku yang lain berteriak bertanya aku hendak kemana. Tidak ku jawab mereka sepertinya menyusulku.
Aku sampai di pintu kelas berikutnya, ku edarkan pandanganku ke seisi kelas tersebut ia ada di meja ketiga dari depan persis di tengah – tengah. Tanpa menyadari bahwa ini kelas orang lain, aku melenggang masuk.
“apa maksud lu ngelaporin gue ke guru olah raga segala, punya kepentingan apa lu sampai mau ikut campur urusan orang..” semprotku di tengah kelas yang sedang istirahat ini, beberapa orang menatap ke arahku.
Wajah iras mendongak, ia menghentikan kegiatan menulisnya.
“seperti kata gue, gue gak mungkin ngebiarin ada atelit basket yang gak masuk ke tim basket sekolah,..”
“bukan berarti lu harus ikut campur urusan orang, hidup gue..” kataku semakin meninggi.
“lu harus santai dulu, gue emang ngelaporin ada anak kelas satu yang basketnya keren ke pelatih, tapi di abaca sendiri di tribun jabar kalau lu pernah jadi juara liga basket SMP nasional, apalagi pelatih pernah liat permainan lu langsung kok di final waktu itu…”
“shut the fuck up..” teriak ku lagi. Kedua tanganku mengepal. Namun aku tidak mau terjadi keributan.
Aku berbalik, tidak berguna melanjutkan pertikaian dengan orang semacam ini. Teman – teman yang menyusulku berjejal di pintu, ardan dan Jordan bahkan sudah masuk.
“gue Cuma kasian ada orang yang berhenti main, hanya gara – gara ditinggalin papa nya, Cuma gara – gara di final dia gak ditonton sama papa nya akhirnya bikin lu berhenti main basket? Lu gak bisa gitu sama pertandingan lu sendiri.  Mau sampai kapan berlarut – larut sedih tapi bohong sama bakat diri sendiri..”
Seketika aku berbalik lagi. Tanganku yang memang sudah mengepal dari tadi akhirnya melayang.  Telak di wajahnya.  Yang akhirnya membuatnya tersungkur jatuh dari kursinya.
Dia benar – benar sudah kelewatan.
1 agustus 2007, dini hari…..
“ctrek..” seseorang menyalakan lampu kamarku.  Aku mencoba mengerjapkan mata setengah pusing juga.
Namun sebuah pelukan membangunkanku, mama.  Dan beberapa orang di belakang.
“selamat ulang tahun…” teriak mereka.
Ku lihat kak lili membawa sebuah kue berukuran sedang dengan lilin yang menyala di atasnya.  Ulang tahun ke lima belas ku.  Aku memang sudah meminta pada mama supaya tidak merayakannya lagi tahun ini.  Sudah SMA, rasanya sudah terlalu tua untuk dibuatkan sebuah pesta.
Apih dan amih berdiri di samping kak lili, tersenyum kepadaku.
“bangun nak, ayo tiup lilin nya..” kata mama.
Aku berusaha menyegarkan mata.
“berdoa dulu mad, supaya ulang tahunnya berkah..” kata apih.
Aku menundukan kepala, memanjatkan do’a.  kemudian meniup lilin di atas kue yang kak lili bawa. Setelah memberikan potongan pertama pada mama, aku membaginya juga pada apih amih dan kak lili.
“hey kak, kapan balik dari England kok gak bilang – bilang?” aku memeluk saudara perempuan ku satu – satunya itu.  Dia sedang kuliah di England.  Sudah hampir setahun dia tidak pulang.
“sebenarnya dari tadi pagi juga udah nyampe bandung, tapi ngumpet di rumah apih hehehe..” kak lili cengengesan.
Aku melepas pelukanku padanya.  Kemudian dengan cukup sadis aku mengoleskan cream kue di wajahnya.
“arrrgghhhkkkkk inuuu..” kak lili berteriak, apalagi ketika cream menempel di wajahnya.
Lalu tangannya menraup cream di atas kue banyak – banyak. Aku tahu ini akan terjadi, aku melompat dan keluar dari kamar.
“dasar, kalian ini kapan gedenya..” kata mama.
Mama menghentikan mobilnya, aku mengambil tas yang ku simpan di bagian belakang mobil.
“lusa ke tempat papa ya, udah lama kamu gak nemuin dia..” kata mama pelan.
Aku menatapnya sebentar, seharusnya ia tahu kalau aku tidak akan pernah menemui orang itu lagi.
“inu sekolah dulu” aku mencium pipi kiri dan kanan mama. Kemudian keluar dari dalam mobil.  Tidak akan selesai kalau harus membahas hal ini.
Gerbang masuk sekolah sudah mulai ramai, sebentar lagi pukul tujuh.  Telat dari itu maka tidak akan masuk, pak hamdun yang penjaga palang pintu sekolah tidak akan membiarkan siapapun masuk.
Ketika aku melenggang masuk ke gerbang sekolah kebetulan berpapasan dengan mobil kepala sekolah.  Jendelanya sedikit terbuka. Ternyata kepala ssekolah menyetir sendiri mobilnya.
“hey rifnu..” katanya. Aku cukup kaget karena dia mengenaliku.
“ah iya pak..” jawabku rikuh.
“ke ruangan saya sekarang..”
Dug. Apa ini, ada apa ini.  Mobil kepala sekolah meluncur ke tempat parkir, aku langsung menuju ruangan kepala sekolah yang ada di lorong yang sejajar dengan ruang guru.  Aku berdiri di depan pintunya.
Beberapa menit menunggu, pak syafiq –nama kepala sekolah kami- datang dengan menenteng tas nya. Ia membukakan pintu kantornya, kemudian memberikan komando agar aku ikut masuk.
Ia menyuruh ku duduk pada sebuah kursi di depan mejannya, di sebrang kursi tempat ia duduk.
“kabar pak hasan bagaimana rif?” pak syafiq membuka pembicaraan dengan menanyakan apih.
“alhamdulilah sehat pak..” jawabku.
“bagaimana sekolah di sini, betah?” Tanya nya lagi, aku yakin kalau dia masih basa – basi.
Aku mengangguk.
“begini, sekolah kita sebentar lagi akan menghadapi liga basket SMA se jabar.  Kita butuh pemain – pemain bagus untuk memperkuat tim basket sekolah, saya tahu kemampuan kamu dalam basket, selain apih kamu yang cerita, saya pelanggan tribun jabar dan Koran nasional lainnya, saya sudah tahu banyak soal prestasi kamu, walaupun tidak hanya di basket..”
Aku tersenyum rikuh. “saya sudah memutuskan pak, untuk tidak bergabung dengan tim basket sekolah..”
“tidak begitu rif, ini soal hidup mati sekolah, pemain bagus kita sudah lulus tahun lalu, dia sudah kuliah sekarang, anggap ini permintaan pribadi saya agar rifnu mau masuk ke tim basket sekolah…” kata pak syafiq. Kini muncul ketegasan dalam nada bicaranya.
“nanti siang, kamu harus ikut latihan dengan tim basket sekolah ya, saya akan mengawasi..” katanya lagi.
Mau tidak mau akhirnya aku mengangguk.  Apakah ini ulah iras lagi? Lihat saja nanti akan ku hajar habis – habisan dia.
Kemudian setelah berpamitan aku keluar dari ruangan kepala sekolah.  Aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan.   Kali ini paksaan datang dari kepala sekolah, kalau pak irawan yang guru olah raga saja bisa mengancamku akan tidak lulus di pelajaran olah raga apalagi orang ini.
Sebuah kejutan memuakan di hari ulang tahun ku sendiri. Kepala sekolah memaksaku untuk ikut bergabung dengan tim basket sekolah.  Masalah sebenarnya hanya sepele, sudah setahun ini aku tidak pernah main lagi.  Paling hanya main – main saja dengan beberapa sepupuku di rumah.
Aku juga hampir lupa tekhnik – tekhnik dalam bermain.  Lagipula aku memutuskan untuk tidak main basket lagi sejak waktu itu.
“baiklah saya perkenalkan pemain baru kita yang akan langsung bergabung ke line up..”
Aku keluar dari balik punggung pak irawan.  Di lapangan tampak beberapa orang sedang bersiap – siap untuk latihan.  Aku melihat kiki di sana. Ia tampak tersenyum melihatku ada di lapang basket sore ini.
Riuh tepuk tangan menyambutku.  Kemudian kami semua sama – sama melakukan pemanasan.  Selama warming up, ku lihat iras tersenyum kepadaku.  Mungkin ia hendak menunjukan senyuman kemenangannnya, akhirnya berhasil memaksaku masuk ke tim basket sekolah.
“baiklah, sekarang, kita bagi dua tim, tim lama dengan seluruh anggota baru dari kelas satu atau anak kelas dua yang baru bergabung menjadi dua, kita akan melakukan pertandingan, yang menang akan ditraktir minum oleh yang kalah..”
Beberapa teman ku yang dari kelas satu tampak mengeluh.  Melihat ukuran tinggi badan dan kemampuan, menurutku anak – anak kelas dua itu masih payah. Apalagi melihat kaptennya yang sok nya kesablengan.
Sesuatu membakar ku.  Aku mulai menderible bola, ketika berhasil mendapatkannya dari tangan pelatih ketika ia membagi bola.  Bahkan tadi sempat ku panggang iras dengan tatapan membunuhku.
Tubuh – tubuh payah itu berhasil ku terobos, aku tidak berniat untuk mengoper bola sama sekali.  Semuanya berhasil aku lewati.  Kemudian begitu sampai di titik one shot aku membawa bola sambil melompat. Bola masuk.
Riuh anak – anak kelas satu berteriak.  Mereka mengerubungiku.  Sebuah permulaan bagus bagi kami. Lihat saja cungik – cungik sombong dari kelas dua akan memohon ampun pada kami.
Pertandingan selesai. Benar apa kataku, kami tim anak – anak baru akhirnya menang.  Bahkan ribki berhasil mencetak three point.
Looker room mulai agak sepi, tinggal beberapa tas lagi yang masih tergeletak di lantainya. Aku duduk sendirian di atas bangku kecil yang di kelilingi loker – loker berwarna coklat.
Mama menyuruhku pulang sendiri naik taksi.  Ia ada rapat di rumah sakit.  Hari pertama bergabung aku sudah dapat loker sendiri di sini.  Rupanya pelatih memang benar – benar aku ingin bergabung dengan tim ini.
“selamat ulang tahun..” sebuah suara dari belakang tubuhku.  Ia mendorong tubuhku ke loker dan memutarnya.  Aku berbalik.  Begitu berbalik ia mencengkram kuat kedua pergelangan tanganku.
Dan tiba – tiba sebuah ciuman mendarat di bibirku. Aku kaget setengah mati sampai melotot kan mata. Aku melihat siapa yang melakukannya.
Iras.
Beberapa detik, aku seperti patung atau orang yang kena serangan jantung.  Namun tiba – tiba saja aku mendorong tubuh itu.  Ia tidak bergeming.  Malah mendekatkan tubuhnya lagi.
“apa – apaan lu..” teriakku padanya.
“be my boyfriend..”
“suck..” teriakku. Aku mengambil tas dari dalam loker.  Kemudian bergegas meninggalkan ruangan tersebut.
“I’ll get you..” aku melemparkan hp, bergidik. Di sela – sela waktu ku ketika mengerjakan PR bahasa inggris sebuah sms muncul dari sebuah nomor baru.  Aku yakin dia orang itu.
Sudah hampir empat jam aku tidak bisa berpikiran sehat.  Sejak aku keluar dari looker room jam empat tadi, sampai sekarang masih tidak habis pikir, bagaimana mungkin aku dicium seorang laki – laki.
Aku tidak ingin menceritakan hal ini pada siapapun, sebelum aku mendapatkan penjelasan langsung dari nya.  Kenapa ia bisa melakukan hal itu.
Begitu PR bahasa inggris ku selesai.  Aku menyalakan laptopku.  Dan langsung menyambungkannya dengan internet.   Aku membuka laman browsing.  Kemudian tanganku mengetik..
“laki – laki mencium laki – laki..” ah tidak, aku menghapusnya “laki – laki suka laki – laki..”
Setelah beberapa detik, muncul hasil penelusuran. Bahkan di laman gambar aku melihat gambar – gambar mengerikan.  Tidak bisa diceritakan.
“lelaki penyuka sesame jenis disebut homoseks…” kata – kataku membacakan beberapa laman. “atau disebut juga gay…”
Aku tidak berhenti berpikir, apa betul dia seperti itu.  Apakah dia hanya becanda saja denganku.  Atau apakah itu hanya sebuah kecelakaan.  Karena tadi jarak kami terlalu dekat.  Namun mengapa ia harus mencengkram tanganku kuat – kuat apakah karena aku supaya tidak kabur.
Apakah iras sengaja? Apakah iras ‘gay’?
Aku menutup laptop.  Kemudian memutuskan untuk pergi tidur.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar