ketika jam istirahat
makan siang kami berkumpul di McDenim, MCD nya sekolah kami. Kantin sekolah kami dalam arti sebenarnya. Tempatnya tidak
terlalu besar. Namun itu membuat
Astroboy nyaman berlama-lama ngobrol di sana.
Saat tidak ada guru yang masuk, atau saat ada gurupun kami sering
berpura-pura kencing, lalu satu-satu menyelinap ke sini.
Astroboy, akhirnya kami
sepakat memakai nama astroboy
untuk perkumpulan kami. Sesuai dengan nama kelompok kami sewaktu ospek. Aku
agak malas menyebutnya genk, seperti terlalu preman atau bahkan mungkin terlalu
alay.
Bagi beberapa orang
diantara kami, MCD
memang pilihan tepat. Terutama bagi dheka dan ribki,
letaknya yang dekat dengan mushola memudahkan mereka ketika datang waktu
solat. Sementara buat ku dan yang lain
duduk di sini ya karena hanya nyaman saja, apalagi mereka sering memutarkan musik-musik
yang ternyata tidak jauh berbeda dengan selera musik kami semua.
“gue hilang perjaka
kelas 6 SD” Ardan memulai. Kemudian ia
membentuk bulatan oleh jari-jarinya dan menggerak-gerakan nya dia atas
selangkangannya.
“coli??” tukas nollan, sambil sengaja
melorotkan kacamatanya. Sehingga
terlihat tampang menyelidiknya.
“kampret...” hampir
saja ardan menebas leher mora dengan tangannya. “buat gue, pantang main
manual..” kata ardan berikutnya.
Disambut gelak tawa kami berenam.
“lu ngasih nya ke
siapa??” kini feddy yang tampak penasaran.
“agak tua sih...”
ardan sengaja memotong pembicaraannya.
Dan menatap kami satu-persatu sehingga membuat kami tambah pensaran.
“guru Prakarya gue...”
“sialan...” nollan berteriak duluan.
“Shit..” jordan dan daris hampir
bersamaan. Sementara aku hanya
memperhatikan dari balik gelas jus jambu ku.
“eh eh eh jangan
pada kurang ajar ya, tanya feddy tanya, kaya apa guru prakarya kelas enam
gue... beuuuhh...” tangan ardan menggoyangkan bentuk huruf S yang mungkin ia
maksudkan menggambarkan sebuah bentuk tubuh.
“seksi sih..
kaya..” feddy tampak berpikir. Kini mata
kami semua beralih kepadanya. “happy salma lah..”
“hah tua banget,
jijik gue...”
“lah kok tua now??” aku kini yang
heran, happy salma mana yang dia pikirkan. Termasuk pandangan
ardan yang merasa sangat direndahkan oleh nollan.
“itu kan, yang suka
nyanyi lagu sunda itu kan?? Namanya happy salma..”
Kami berempat
berpikir cukup keras. Sejak kapan happy
salma nyanyi lagu sunda.
“hah kutu busuk itu
Hetty Kusendang..”
Teman-temanku yang
lain tertawa terbahak-bahak. Perasaan
jauh amat dari Happy salma nyasar ke Hetty Kusendang.
Dheka dan Ribki
mendorong pintu mcd, mereka berdua pasti
baru keluar dari mushola. Baru
selesai ssolat duha. Keduanya
memang muslim yang taat, dan biasanya yang paling rajin memberikan ceramah
kepadaku.
Ya karena diantara
kami semua hanya kami bertiga yang muslim. Ardan dan feddy Katolik makanya
mereka satu SD, Nollan
protestan (walau dia pengen Cuma dipanggil kristen doang), Jordan
nasrani, daris budha. Kami mengetahuinya ketika malam ketiga kami
ospek. Sewaktu berkumpul di rumahku, aku
pernah menyuruh mereka semua solat ternyata yang bergegas hanya ribki dan dheka saja.
Tapi walaupun
begitu, kami tetap berteman dan rukun
bagai power ranger sampai sekarang, yang
siap membasmi para monster yang berkeliaran di sekolah ini.
“udah pada mesen
makan belum??” kata ribki sambil duduk.
Kami semua sepakat
menggeleng. Sejak masuk ke sini kami
memang hanya mememsan beberapa minuman saja.
Kemudian dheka. Yang selalu perhatian dan tahu selera kami
satu persatu mulai memesan makanan untuk kami semua.
Untuk ku ia
memesankan sebuah cees burger. Rupanya
dia mulai tau ketidakmampuan ku
menggunakan sendok.
“pasta, anterin ke
meja no 8” kata sebuah suara, sebelum dheka
berhasil meneriakan satu persatu makanan pesanan kami.
Iras. Ketua tim basket. Salah satu pengurus osis. Yang kemarin jadi
tim tatib sewaktu ospek, ternyata dia makan di sini juga ya. Tapi sepertinya hari ini dia terlihat agak
jinak. Tidak seperti waktu kami ospek beberapa hari yang lalu. Dia salah satu panitia yang dihindari,
kecuali oleh kelompok kami. Astroboy.
Beberapa orang
temanku tampak menganggukkan kepala saat dia menatap kami satu-satu. Aku jujur saja, malas dengan semua panitia
ospek. Akhirnya aku hanya melihat hp ku,
dan menutup sebuah panggilan dari nomor tidak dikenal.
Namun selama kami
berkumpul di mcd, aku rasa ada sebuah tatapan yang terus memperhatikanku.
Ah mungkin, nomor
yang tidak dikenal.
...
Guru geografi kami
keluar kota. Sehingga kami yang memang
duduk satu baris, dan berurutan akhirnya keluar dari kelas dan segera menuju mcd. dheka
sudah membawa sebuah buku, sebelum keluar kota guru kami menitipkan tugas. Dan sekarang kami harus mengerjakannya,
dikumpulkan hari ini juga. Kami membawa
balpoin masing-maasing, jadi walaupun di mcd kami masih bisa mengerjakan tugas
tersebut. Kertasnya tentu saja minta ke dheka.
“ollaaa...” ardan
menggoda teman sebangkunya itu. “adiknya olla ramlan ya, seksi banget sih
pantat mu..” tidak diduga, ardan memukul pantat nollan.
“shuuuuttt jangan
di tempat rame gini dong babe, kan maluuu..” tampak nollan
berubah
menjadi agak kemayu.
“sialan, elu mah
doyan..” umpat ardan. Memang bagi kami
sangat sulit menyebutkan nama nollan. Tapi mungkin ‘olla’ yang tadi diucapkan ardan
bisa menjadi salah satu usul bagi kami untuk lebih mudah memanggilnya.
Dari
lorong muncul beberapa kakak kelas ku.
Mereka cowok semua, salah satunya iras. Kapten tim basket itu.
“hey
teman – teman boleh minta waktunya sebentar? Ada pengumuman penting..” katanya
ke hadapan kami.
Lalu
setelah saling bertatapan kami memutar arah dan kembali ke dalam kelas, di
dalam kelas yang tadinya riuh berubah menjadi sepi ketika iras dan rekan –
rekannya berdiri di depan.
“maaf
mengganggu waktunya sebentar, ada pengumuman dari tim basket sekolah, beberapa
bulan lagi kita mau menghadapi liga basket SMA sejawa barat, berhubung kita
sudah memasuki ajaran baru dan kebanyakan line up kita sudah lulus tahun kemarin
maka kami dari ekskul basket mengajak teman – teman dari kelas 1A ini untuk
ikut bergabung..” kata iras panjang lebar.
Lalu
seorang temannya berkeliling membagaikan selembar kertas. Aku memperhatikan
kertas yang mendarat di atas mejaku.
“itu
formulir, bagi rekan – rekan yang merasa mampu dalam basket atau pun yang baru
mau belajar kami tunggu keikut sertaan rekan – rekan..” aku memberikan formulir
di tanganku pada kiki. Tidak tertarik. Apalagi ada iras di sana, kelakuan
sengaknya selama MOS kemarin tidak mungkin harus ku hadapi lagi.
Ku
lihat beberapa teman kelas kami yang lain mengisi formulir tersebut dan
memberikannya pada seorang kakak kelas yang dari tadi berkeliling menawarkan
formulir dan hampir memaksa mengisinya.
“gue
ikutan ah, ya mungkin lumayan lah buat jadi tukang mungutin bola doang mah..”
kata kiki sambil mengisi formulir di tangannya.
Aku
berbalik menatap ardan yang mejanya berada persis di belakangku memberikan kode
kepadanya untuk keluar.
“kang
udah kan kang? Boleh keluar?” Tanya ardan pada rombongan bakset tersebut.
“oh
iya silahkan.. kami sudah selesai kok..”
Tanpa
komando aku dan ke tujuh temanku berdiri dan meninggalkan kelas. Sebelum keluar
kiki sempat menyerahkan formulirnya pada tim basket itu.
Di
kejauhan ku lihat ada beberapa anak juga yang sedang main basket di
lapangan. Sudah beberapa bulan ini
hasrat ku untuk main basket hilang.
Masuk
SMA tadinya ku pikir aku akan bisa main basket lagi, namun beberapa minggu
masuk, aku malah bergabung dengan tim majalah sekolah. Ekskul jurnalis.
…
Aku
menjadi yang paling duluan selesai solat dzuhur. Kemudian segera keluar dari mushola, duduk di
depan terasnya untuk mengenakan sepatu.
Dheka menyusul, ia duduk di sebelahku, meraih sepatunya lagi yang
tergeletak tidak jauh dari tempatnya.
“Nu..”
tiba – tiba kiki berteriak dari dalam mushola.
Aku
memutar kepala melihatnya. Beberapa
detik kemudian ia sudah duduk di sampingku.
“ada
apa??” tanyaku sambil mengikatkan sepatu.
“mau
ngajarin gue basket gak?” kata kiki mengagetkan aku. Ku pikir dia benar – benar mau ikut eksul
basket. “ternyata sebelum resmi diterima di ekskul kita di tes dulu, nah hasil
tes menentukan di posisi mana kita nantinya, dari SMP gue di cadangan terus
masa sekaraang SMA harus jadi tukang duduk lagi..”
“dheka
aja deh, gue gak jago – jago amat..” kataku mengelak.
“apalagi
gue, gue Cuma bisa megang bolanya doang..”
“tuh
kan si dheka mana mau, lagian waktu kemarin kita ke rumah lu, gue liat ko piala
– piala lu sama foto lu megang bola basket, udah pasti lu jago basket..” kata
kiki lagi, dia seperti sungguh – sungguh minta diajari.
“gue
bener gak jago ki, itu juga dapat piala waktu kelas dua SMP, udah lama jug ague
gak maen basket..” kami bertiga hampir selesai dan berdiri satu – satu bersiap
meninggalkan mushola.
“ayo
lah Nu.. Cuma tekhnik dasarnya doang ko..” kiki meraangkul setengah
bahuku. Tatapannya tampak memohon.
“ya
udah deh, ntar pulang sekolah, kita numpang latihan aja di sini gimana?” kataku
saat kami melewati lapang basket. “asal lapang basket ini kosong..”
“yeeee…
inu mau ngajarin gue..” kiki bersorak. “pasti kosong Nu, soalnya anak – anak
basket Cuma latian rabu sama sabtu doang..”
Aku
mengangguk. Kami berjalan beriringan ke
mcd. Di sana yang lain sudah menunggu kami bertiga.
…
“lu
jangan condong ke depan, coba tetap tegak di atas, walaupun ring ada di tempat
jauh, tapi dia tetap ada di atas, kalau lu semakin condong itu akan membuat
bola cepat jatuh dan tidak akan sampai ke ring..”
Aku
mengkoreksi cara kiki berdiri. Ia masih
memegang bola dan berdiri di titik three point.
“udah
bener belum nu..” kata kiki lagi ia membetulkan posisi berdirinya.
“kaki
yang di jinjit sebelah aja, ntar lu jatuh,,” kataku lagi.
Kiki
menapakan salah satu kakinya tanpa aba – aba ku. Ia melemparkan bola, karena
tubuhnya terlalu condong ke depan lagi akhirnya bola jatuh ke bawah ring. Dan menggelinding keluar lapang, tampak wajah
frustasi di wajah kiki.
“lempar
sini bolanya..” kataku sambil menggerakan kelima jariku meminta bola pada
kiki. Beberapa orang siswa dari lantai
dua tampak memperhatikan apa yang kami berdua sedaang lakukan.
Kiki
melemparkan bola bundar berwarna orange tersebut kepadaku. Tanganku dengan reflek menangkapnya, aku
menepuk bola beberapa kali pada lantai beton lapangan. Kemudian setelah memperlihatkan posisi yang
ku jelaskan pada kiki tadi, ku lemparkan bola dari sudut three point. Dan…
Bola
masuk. Masuk setelah ku lemparkan dari
jarak hampir setengah lapangan. Tiba – tiba saja para murid yang dari tadi
memperhatikan kami dari lantai dua bertepuk tangan riuh, aku kira itu bukan
untukku.
Kiki
menggeleng – gelengkan kepalanya. Ia
melemparkan kembali bola tersebut padaku.
Kali
ini, aku menderible bola sampai ke dekat ring.
Beberapa kali, kiki tampak berusaha menjegalku. Namun aku berhasil mengecohnya, sampai pada
ketukan ketiga bola pada lapang aku membawa bola ke ring.
Bola
masuk, sementara aku bergelantungan di ring basket.
“hahahaha…”
aku tertawa puas melihat kerut di wajah kiki.
“lu
benar – benar juara basket dah ah..” kata kiki lagi.
Aku
melompat turun dari ring basket.
Kemudian berjalan ke arahnya.
“intinya
kalau lu mau jago basket, lu harus punya bola, sepatu bagus, dan baju buat
latihan. Latihan di mana aja bisa, garasi, kolam renang, jalan depan rumah,
taman..”
“tunggu,
kolam renang Nu? Lu suka latihan basket di dalam air..”
“hahaha
bukanlah latihan di kolam renang kalau airnya lagi dikosongin sama tukang kebun
lu..” aku tergelak sambil menenteng task u yang tadinya tergelatk di bangku
beton dekat ring basket.
“yah
gue kirain..” kata kiki sambil berkacak pinggang.
“ki
gue pulang dulu ya, mama kayanya udah jemput, lu pasti lolos kok, apalagi
anggota basket mereka kan masih sedikit..”
“yah
mudah – mudahan bakat lu nular ke gue yah nu, kan kita sebangku..”
Aku
tertawa lagi mendengar perkataan kiki.
Ku lihat layar hpku. Beberapa panggilan dari mama.
“gue
pulang dulu ya kiki..” aku berbalik meninggalkan kiki.
“yap,
thanks nu..”
Aku
menjawab dengan mengacungkan jempol pada kiki, sambil terus berlaru dari
lapangan basket.
Ku
telpon mama.
“hallo
ma..” begitu mama menerima telpon dariku.
“hay
nu, mama di tukang mie ayam langganan mama di sebrang sekolah, kamu tunggu aja
di mobil..”
Ah
aku lupa, kalau mama lulusan dari sini juga.
Dan seperti yang selalu dia ceritakan tukang mie ayam depan sekolah
memang langganannya dari dulu.
…
Mama
masih sibuk di rak buku bagian masakan.
Kegilaannya pada masakan itali tidak ada yang bisa menghentikan. Di rumah, di perpustakaan kecil kami, koleksi
resep masakan itali mama hampir sama banyak dengan buku – buku
kesehatannya. Bahkan aku pernah
menemukan selembar resep pasta nyelip di buku besar Ilmu Penyakit Dalam.
Langkah
kaki ku beralih menuju bagian anime jepang.
Serial baru naruto sudah keluar ternyata, aku mengambil satu paket yang
terdiri dari beberapa manga yang mencantumkan beberapa puluh episode.
Aku
menghampiri mama, menyimpan manga naruto tersebut ke keranjang mama. Ia kini tengah asyik membolak – balikan
sebuah buku khusus lasagna.
“Maryamah
Karvov..” aku membaca banner yang berdiri di tengah – tengah gramedia. Serial ke empat dari tetralogy lascar
pelangi. Aku segera memburunya.
Semuanya
masih di segel, sehingga aku hanya mampu membaca synopsis yang ada di di bagian
belakang bukunya.
“gue
sebenernya gak bisa ngebiarin atlet basket, gak gabung ke tim basket sekolah..”
sebuah suara mendatangiku.
Aku
mengangkat kepala, melihat siapa yang bicara.
Ternyata kapten tim basket. Aku
tidak menghiraukannya malah beralih menuju novel – novel lain.
“okeh
gue akuin permainan lu tadi sore keren..”
“permainan
yang mana?” aku sebenarnya ingin segera mengusirnya dari sini. Tidak ada untungnya sama sekali ia ngajak
ngobrol kaya begini. Malah sedikit membuat keributan. Sampai kasir di sebrang
kami melirik beberapa kali.
“tadi
siang waktu lu latian di lapang basket kami…”
“whats?
Lapang basket kami?” aku menaikan tangan tanda tak mengerti sekaligus ingin
tertawa pada kekonyolannya.
“secara
fisik memang milik sekolah , namun dalam keadaan resmi lapangan hanya milik
anak – anak basket, sepak bola, takraw, bahkan cheerleader.. jadi kalau belum
masuk ke salah satu ekskul itu tandanya belum punya hak apa – apa di lapang..”
“okeh,
kalau gitu, semua murid yang upcara tiap senin itu Cuma numpang doang di
lapang? Its funny but more stupid..”
Aku
berlalu beberapa langkah. Mengabaikan
orang aneh ini.
“gua
tipe kapten tim yang maksa, lu pasti ikut basket kok..”
Ingin
rasanya aku melemparkan buku yang ku pegang ke kepalanya yang sengak itu. Namun ia berbalik dan berjalan keluar dari
gramedia.
…
Aku
sebenarnya tidak terlalu kenal siapa iras. Apa hebatnya dia, sebagai apa dia di
sekolah aku benar – benar tidak peduli.
Dari awal, ketika beberapa minggu lalu kami MOS dia memang jadi panitia
yang cukup sengak yang berani – beraninya memanggilku bodoh.
Kami
beda kelas, apalagi ia satu angkatan di atasku.
Sejak dulu, aku tidak pernah peduli pada orang – orang di sekolah. Bahkan sejak SMP orang yang ku kenal di
sekolah bisa ku hitung. Jarang kalau
yang ku kenal itu dari kakak kelas.
Tapi
kali ini, mahkluk bernama iras makki ini benar – benar cari masalah. Dia membuat pelatih tim basket yang juga guru
olah raga kami memncari – cariku.
Menyuruhku untuk bergabung ke tim basket, aku menolak secara halus. Namun ia mengancam tidak akan meluluskan ku
di pelajaran olah raga.
Begitu
keluar dari ruang guru, aku tergesa – gesa mencarinya ke seisi sekolah.
Sepengetahuanku kelas nya ada di lantai tiga, dia ada di jurusan IPA. Tanganku tidak berhenti mengepal.
“gue
nyari orang bernama iras makki..” kataku di pintu kelas pertama.
Beberapa
orang menunjukan jarinya kea rah kelas sebelah.
Di bawah, di lapang ku lihat ardan dan temanku yang lain berteriak
bertanya aku hendak kemana. Tidak ku jawab mereka sepertinya menyusulku.
Aku
sampai di pintu kelas berikutnya, ku edarkan pandanganku ke seisi kelas
tersebut ia ada di meja ketiga dari depan persis di tengah – tengah. Tanpa
menyadari bahwa ini kelas orang lain, aku melenggang masuk.
“apa
maksud lu ngelaporin gue ke guru olah raga segala, punya kepentingan apa lu
sampai mau ikut campur urusan orang..” semprotku di tengah kelas yang sedang
istirahat ini, beberapa orang menatap ke arahku.
Wajah
iras mendongak, ia menghentikan kegiatan menulisnya.
“seperti
kata gue, gue gak mungkin ngebiarin ada atelit basket yang gak masuk ke tim
basket sekolah,..”
“bukan
berarti lu harus ikut campur urusan orang, hidup gue..” kataku semakin
meninggi.
“lu
harus santai dulu, gue emang ngelaporin ada anak kelas satu yang basketnya
keren ke pelatih, tapi di abaca sendiri di tribun jabar kalau lu pernah jadi
juara liga basket SMP nasional, apalagi pelatih pernah liat permainan lu
langsung kok di final waktu itu…”
“shut
the fuck up..” teriak ku lagi. Kedua tanganku mengepal. Namun aku tidak mau
terjadi keributan.
Aku
berbalik, tidak berguna melanjutkan pertikaian dengan orang semacam ini. Teman
– teman yang menyusulku berjejal di pintu, ardan dan Jordan bahkan sudah masuk.
“gue
Cuma kasian ada orang yang berhenti main, hanya gara – gara ditinggalin papa
nya, Cuma gara – gara di final dia gak ditonton sama papa nya akhirnya bikin lu
berhenti main basket? Lu gak bisa gitu sama pertandingan lu sendiri. Mau sampai kapan berlarut – larut sedih tapi
bohong sama bakat diri sendiri..”
Seketika
aku berbalik lagi. Tanganku yang memang sudah mengepal dari tadi akhirnya
melayang. Telak di wajahnya. Yang akhirnya membuatnya tersungkur jatuh
dari kursinya.
Dia
benar – benar sudah kelewatan.
…
1
agustus 2007, dini hari…..
“ctrek..”
seseorang menyalakan lampu kamarku. Aku
mencoba mengerjapkan mata setengah pusing juga.
Namun
sebuah pelukan membangunkanku, mama. Dan
beberapa orang di belakang.
“selamat
ulang tahun…” teriak mereka.
Ku
lihat kak lili membawa sebuah kue berukuran sedang dengan lilin yang menyala di
atasnya. Ulang tahun ke lima belas
ku. Aku memang sudah meminta pada mama
supaya tidak merayakannya lagi tahun ini.
Sudah SMA, rasanya sudah terlalu tua untuk dibuatkan sebuah pesta.
Apih
dan amih berdiri di samping kak lili, tersenyum kepadaku.
“bangun
nak, ayo tiup lilin nya..” kata mama.
Aku
berusaha menyegarkan mata.
“berdoa
dulu mad, supaya ulang tahunnya berkah..” kata apih.
Aku
menundukan kepala, memanjatkan do’a. kemudian
meniup lilin di atas kue yang kak lili bawa. Setelah memberikan potongan
pertama pada mama, aku membaginya juga pada apih amih dan kak lili.
“hey
kak, kapan balik dari England kok gak bilang – bilang?” aku memeluk saudara
perempuan ku satu – satunya itu. Dia
sedang kuliah di England. Sudah hampir
setahun dia tidak pulang.
“sebenarnya
dari tadi pagi juga udah nyampe bandung, tapi ngumpet di rumah apih hehehe..”
kak lili cengengesan.
Aku
melepas pelukanku padanya. Kemudian
dengan cukup sadis aku mengoleskan cream kue di wajahnya.
“arrrgghhhkkkkk
inuuu..” kak lili berteriak, apalagi ketika cream menempel di wajahnya.
Lalu
tangannya menraup cream di atas kue banyak – banyak. Aku tahu ini akan terjadi,
aku melompat dan keluar dari kamar.
“dasar,
kalian ini kapan gedenya..” kata mama.
…
Mama
menghentikan mobilnya, aku mengambil tas yang ku simpan di bagian belakang
mobil.
“lusa
ke tempat papa ya, udah lama kamu gak nemuin dia..” kata mama pelan.
Aku
menatapnya sebentar, seharusnya ia tahu kalau aku tidak akan pernah menemui
orang itu lagi.
“inu
sekolah dulu” aku mencium pipi kiri dan kanan mama. Kemudian keluar dari dalam
mobil. Tidak akan selesai kalau harus
membahas hal ini.
Gerbang
masuk sekolah sudah mulai ramai, sebentar lagi pukul tujuh. Telat dari itu maka tidak akan masuk, pak
hamdun yang penjaga palang pintu sekolah tidak akan membiarkan siapapun masuk.
Ketika
aku melenggang masuk ke gerbang sekolah kebetulan berpapasan dengan mobil
kepala sekolah. Jendelanya sedikit
terbuka. Ternyata kepala ssekolah menyetir sendiri mobilnya.
“hey
rifnu..” katanya. Aku cukup kaget karena dia mengenaliku.
“ah
iya pak..” jawabku rikuh.
“ke
ruangan saya sekarang..”
Dug.
Apa ini, ada apa ini. Mobil kepala
sekolah meluncur ke tempat parkir, aku langsung menuju ruangan kepala sekolah
yang ada di lorong yang sejajar dengan ruang guru. Aku berdiri di depan pintunya.
Beberapa
menit menunggu, pak syafiq –nama kepala sekolah kami- datang dengan menenteng
tas nya. Ia membukakan pintu kantornya, kemudian memberikan komando agar aku
ikut masuk.
Ia
menyuruh ku duduk pada sebuah kursi di depan mejannya, di sebrang kursi tempat
ia duduk.
“kabar
pak hasan bagaimana rif?” pak syafiq membuka pembicaraan dengan menanyakan
apih.
“alhamdulilah
sehat pak..” jawabku.
“bagaimana
sekolah di sini, betah?” Tanya nya lagi, aku yakin kalau dia masih basa – basi.
Aku
mengangguk.
“begini,
sekolah kita sebentar lagi akan menghadapi liga basket SMA se jabar. Kita butuh pemain – pemain bagus untuk
memperkuat tim basket sekolah, saya tahu kemampuan kamu dalam basket, selain
apih kamu yang cerita, saya pelanggan tribun jabar dan Koran nasional lainnya,
saya sudah tahu banyak soal prestasi kamu, walaupun tidak hanya di basket..”
Aku
tersenyum rikuh. “saya sudah memutuskan pak, untuk tidak bergabung dengan tim
basket sekolah..”
“tidak
begitu rif, ini soal hidup mati sekolah, pemain bagus kita sudah lulus tahun
lalu, dia sudah kuliah sekarang, anggap ini permintaan pribadi saya agar rifnu
mau masuk ke tim basket sekolah…” kata pak syafiq. Kini muncul ketegasan dalam
nada bicaranya.
“nanti
siang, kamu harus ikut latihan dengan tim basket sekolah ya, saya akan
mengawasi..” katanya lagi.
Mau
tidak mau akhirnya aku mengangguk.
Apakah ini ulah iras lagi? Lihat saja nanti akan ku hajar habis –
habisan dia.
Kemudian
setelah berpamitan aku keluar dari ruangan kepala sekolah. Aku tidak tahu apa yang harus aku
lakukan. Kali ini paksaan datang dari
kepala sekolah, kalau pak irawan yang guru olah raga saja bisa mengancamku akan
tidak lulus di pelajaran olah raga apalagi orang ini.
…
Sebuah
kejutan memuakan di hari ulang tahun ku sendiri. Kepala sekolah memaksaku untuk
ikut bergabung dengan tim basket sekolah.
Masalah sebenarnya hanya sepele, sudah setahun ini aku tidak pernah main
lagi. Paling hanya main – main saja
dengan beberapa sepupuku di rumah.
Aku
juga hampir lupa tekhnik – tekhnik dalam bermain. Lagipula aku memutuskan untuk tidak main
basket lagi sejak waktu itu.
“baiklah
saya perkenalkan pemain baru kita yang akan langsung bergabung ke line up..”
Aku
keluar dari balik punggung pak irawan.
Di lapangan tampak beberapa orang sedang bersiap – siap untuk
latihan. Aku melihat kiki di sana. Ia
tampak tersenyum melihatku ada di lapang basket sore ini.
Riuh
tepuk tangan menyambutku. Kemudian kami
semua sama – sama melakukan pemanasan.
Selama warming up, ku lihat iras tersenyum kepadaku. Mungkin ia hendak menunjukan senyuman
kemenangannnya, akhirnya berhasil memaksaku masuk ke tim basket sekolah.
“baiklah,
sekarang, kita bagi dua tim, tim lama dengan seluruh anggota baru dari kelas
satu atau anak kelas dua yang baru bergabung menjadi dua, kita akan melakukan
pertandingan, yang menang akan ditraktir minum oleh yang kalah..”
Beberapa
teman ku yang dari kelas satu tampak mengeluh.
Melihat ukuran tinggi badan dan kemampuan, menurutku anak – anak kelas
dua itu masih payah. Apalagi melihat kaptennya yang sok nya kesablengan.
Sesuatu
membakar ku. Aku mulai menderible bola,
ketika berhasil mendapatkannya dari tangan pelatih ketika ia membagi bola. Bahkan tadi sempat ku panggang iras dengan
tatapan membunuhku.
Tubuh
– tubuh payah itu berhasil ku terobos, aku tidak berniat untuk mengoper bola
sama sekali. Semuanya berhasil aku
lewati. Kemudian begitu sampai di titik
one shot aku membawa bola sambil melompat. Bola masuk.
Riuh
anak – anak kelas satu berteriak. Mereka
mengerubungiku. Sebuah permulaan bagus
bagi kami. Lihat saja cungik – cungik sombong dari kelas dua akan memohon ampun
pada kami.
…
Pertandingan
selesai. Benar apa kataku, kami tim anak – anak baru akhirnya menang. Bahkan ribki berhasil mencetak three point.
Looker
room mulai agak sepi, tinggal beberapa tas lagi yang masih tergeletak di
lantainya. Aku duduk sendirian di atas bangku kecil yang di kelilingi loker –
loker berwarna coklat.
Mama
menyuruhku pulang sendiri naik taksi. Ia
ada rapat di rumah sakit. Hari pertama
bergabung aku sudah dapat loker sendiri di sini. Rupanya pelatih memang benar – benar aku
ingin bergabung dengan tim ini.
“selamat
ulang tahun..” sebuah suara dari belakang tubuhku. Ia mendorong tubuhku ke loker dan
memutarnya. Aku berbalik. Begitu berbalik ia mencengkram kuat kedua
pergelangan tanganku.
Dan
tiba – tiba sebuah ciuman mendarat di bibirku. Aku kaget setengah mati sampai
melotot kan mata. Aku melihat siapa yang melakukannya.
Iras.
Beberapa
detik, aku seperti patung atau orang yang kena serangan jantung. Namun tiba – tiba saja aku mendorong tubuh
itu. Ia tidak bergeming. Malah mendekatkan tubuhnya lagi.
“apa
– apaan lu..” teriakku padanya.
“be
my boyfriend..”
“suck..”
teriakku. Aku mengambil tas dari dalam loker.
Kemudian bergegas meninggalkan ruangan tersebut.
…
“I’ll
get you..” aku melemparkan hp, bergidik. Di sela – sela waktu ku ketika
mengerjakan PR bahasa inggris sebuah sms muncul dari sebuah nomor baru. Aku yakin dia orang itu.
Sudah
hampir empat jam aku tidak bisa berpikiran sehat. Sejak aku keluar dari looker room jam empat
tadi, sampai sekarang masih tidak habis pikir, bagaimana mungkin aku dicium
seorang laki – laki.
Aku
tidak ingin menceritakan hal ini pada siapapun, sebelum aku mendapatkan
penjelasan langsung dari nya. Kenapa ia
bisa melakukan hal itu.
Begitu
PR bahasa inggris ku selesai. Aku
menyalakan laptopku. Dan langsung
menyambungkannya dengan internet. Aku membuka
laman browsing. Kemudian tanganku
mengetik..
“laki
– laki mencium laki – laki..” ah tidak, aku menghapusnya “laki – laki suka laki
– laki..”
Setelah
beberapa detik, muncul hasil penelusuran. Bahkan di laman gambar aku melihat
gambar – gambar mengerikan. Tidak bisa
diceritakan.
“lelaki
penyuka sesame jenis disebut homoseks…” kata – kataku membacakan beberapa
laman. “atau disebut juga gay…”
Aku
tidak berhenti berpikir, apa betul dia seperti itu. Apakah dia hanya becanda saja denganku. Atau apakah itu hanya sebuah kecelakaan. Karena tadi jarak kami terlalu dekat. Namun mengapa ia harus mencengkram tanganku
kuat – kuat apakah karena aku supaya tidak kabur.
Apakah
iras sengaja? Apakah iras ‘gay’?
Aku
menutup laptop. Kemudian memutuskan
untuk pergi tidur.
…
Tidak ada komentar:
Posting Komentar