Selasa, 23 Juli 2013

7 : I hate him



Entahlah. Aku mendesah, menghembuskan nafas walau begitu terasa berat.  Aku ingin memejamkan mata, namun rasanya aku melotot semakin tajam. Ternyata tidak mudah, waktu yang tersisa hanya tinggal tiga puluh detik lagi. Kemampuan ku mengulur waktu, dan skor tipis tersebut bisa saja membuat tim kami kalah.
Kedua kaki ku menjejak kuat pada badan lapang, terdengar dentuman keras bola yang kemudian secara cepat ditangkap oleh tanganku.  Jika benar perhitunganku, kalau aku menembak dari sudut ini begitu bola masuk ke dalam keranjang maka berakhir pula lah pertandingan final kami.
Bismillahiramnirahim. Bisik hatiku. Kemudian bola ku lemparkan. Padahal beberapa orang teman memintaku untuk mengoperkan bola pada mereka.  Mungkin sudut ini terlalu jauh untuk melakukaan tembakan three point.
Namun hatiku memberontak, aku tetap melemparkan bola.  Begitu tubuhku kembali ke tembok lapangan. Seketika itu juga semua orang berhenti, tatapannya tertuju pada bola ku yang tengah melayang mengarah ke jarring bola.
“67 – 62 for Indonesian… Indonesian the winner….” Gemuruh suara penonton memenuhi soul dome sore itu. Tubuhku sudah diangkat teman – teman satu timku.  Kami juara, meraih medali emas untuk basket di bawah usia Sembilan belas tahun. 
Hamdalah bertaburan di hatiku.
Aku melihat kea rah kursi penonton. Amih dan apih berdiri. Juga kakek yang akhirnya mengalahlkan urusan bisnisnya agar bisa menonton sore ini.  Dan mama yang terus senyum sambil menangis.  Aku melambaikan tangan kea rah mereka. Ingin rasanya memeluk mereka semua.
Mataku selanjutnya mengarah pada supporter kami yang datang jauh – jauh dari bandung. Pasukan ku dari SMA.  Astroboy semuanya hadir lengkap.  Dan yang duduk di tengah – tengah, yang dari tadi duduk memangku tangan sambil terus tersenyum.  Pemimpin supporter sekaligus pelatih terhebatku.

Iras.  Tersenyum bangga.
Aku dan lima belas orang lainnya. Teman satu timku. Maju ke podium juara satu. Diikuti lawan berat yang baru saja kami kalahkah. Tim U-19 jepang.  Ada kebanggan.  Begitu mengingat mereka adalah tim yang begitu ditakuti oleh semua Negara. Namun aku menepuk dada kea rah mereka. Indonesia sore ini menang.
Di podium ke tiga diisi oleh kawan – kawan dari singapura yang katanya bermain habis – habisan melawan tim china.  Tiga Negara dengan perolehan medali di seagames terbanyak tahun ini kini berada di bawah kami.  Aku merasa cukup senang, akhirnya aku dapat memberikan sesuatu buat negaraku.
Mama segera berlari ke arahku, ketika acara penyerahan medali selesai.  Sebagai kapten, aku yang mendapatkan bukee bunga.  Tak ingin menyianyiakan moment ini, aku menyerahkan bukee bunga berukuran besar ini pada mama sambil berlutut dihadapannya.
Mama menutup mulutnya dengan sapu tangan. Di belakangnya tampak apih amih dan kakek yang tertawa geli melihat apa yang aku lakukan di tengah lapang diantara kerumunan banyak orang.
“youre so dam romantic son ohhh my boy….” Lolong mama panjang, tanpa sadar teriakannya mengundang banyak wartawan di sekitar kami untuk mengambil foto kami berdua.
Aku memeluk mama erat, kali ini aku berhasil membuatnya bangga.
“my great grand son..” kakek menepuk – nepuk punggungku. Aku tersenyum ke arahnya.
“what’s mr. antony he’s your grand son?” Tanya seorang wartawan jepang pada kakek. Tanpa ragu kakek menganggukan kepalanya. Dia sudah cukup terkenal di jepang.  Malah aku yakin tidak banyak orang yang menyangka bahwa dia orang Indonesia. Dari tadi kebanyakan wartawan mewawancarainya karena ia menjadi sponsor utama bagi asean basket league tahun ini.
asean basket league yang diikuti oleh cucu kesayangannya.
Akhirnya, kami berlima berjejar menghadapi pertanyaan dari semua wartawan yang kini mengerubungi kami.  Tanganku menggegam lekat mama.  Di sampingku kakek sedang mengeluarkan semua jurus bualannya membesar – besarkan kemenangan tim ku sore ini.
Mataku mencari – cari di sebuah sudut tujuh orang bebal pasukanku sibuk melambaik – lambaikan tangan berusaha mencuri perhatianku. Aku membalas lambaian tangan mereka.
Namun mataku mencari orang yang lain. Dimana iras.
Ia tengah menggiring teman – teman kami yang lain yang datang dari Indonesia keluar dari dome.  Dalam kondisi seperti ini pasti dia akan sangat sibuk.
“kami wartawan dari Indonesia, mochammad rifnu, apa pendapat anda tentang kemenangan anda sore ini? Tentu ini akan jadi berita besar cucu orang terkaya ke delapan di Asia membawa Indonesia merebut medali emas basket…”
Aku tersenyum mendengar pertanyaan wartawan perempuan tersebut. Tanpa melepaskan mama dari sampingku. Aku berusaha menjawab sebaik mungkin.
“kalian ngomongin kakek? What the hell..” aku berteriak diringi oleh tawa kakek dan seluruh keluarga ku. “selama ini aku tidak bangga dengan uang dan nomor ke berapa kekayaannya tersebut, tapi aku yakin hari ini dia sangat bangga padaku..”
Kakek tertawa lebar.
“dia cucu kesayangan saya, sejak kecil saya tau dia akan jadi hebat, dia sudah banyak berprestasi, betul kata dia, siapa saya, uang saya, tidak akan berpengaruh pada semua hal yang ia dapatkan, kami keluarga yang sangat sehat dan bahagia semua anak – anak kami sudah pasti akan sangat hebat…”
“mr rifnu mr rifnu…” dari keriuhan sebuah suara memanggil – manggil namaku. “where’s your father? He’s not join to the party…”
Aku mendesah lemah. Mama memeluk ku erat.
“he’s watching from heaven, dia pasti bangga sama anak laki – laki kesayangannya…”
Aku membuang muka, tiba – tiba saja dada ku rasanya sesak diisi oleh udara yang semakin lama semakin membuat dada ku terasa berat.
Akhirnya mama dan amih mempahku, membawaku keluar dari kerumunan wartawan tersebut. Kakek dan apih berusaha menenangkanku. Walaupun sebenarnya aku baik – baik saja.
“enggak ma, papa enggak akan pernah bangga..” tegas ku pada mama sambil mengepalkan tangan. “I hate him..” aku menjauh menuju loker room.
Tanpa diduga mama mengikutiku ke loker room. Dia menggenggam tanganku kuat.  Aku duduk pada sebuah bangku panjang bersamanya.
“sampai kapan mau benci sama papa? Sampai kapan mau berlaku tidak adil pada hidup kita sendiri nu? Sampai kapan inu mau menolak kenyataan?”
“I hate him..” aku menggumam.  Sekarang kenyataannya begini, semua yang berhasil aku buat seumur hidup tidak akan membuat laki – laki itu bangga. Andaikan ia dapat bercerita.
Seminggu setelah pulang dari korea usai menjadi duta Indonesia untuk menjadi salah satu atlet dari tim basket aku langsung berkutat dengan ujian akhir semester genap.  Aku piker aku cukup kesulitan, sebulan di korea tanpa fasilitas home schooling dan kemalasanku akhirnya aku tidak belajar di sana.
Jadinya ketika pulang ke Indonesia dan dihadapkan pada ujian semester yang banyak sekali tertinggal.  Seminggu mengumpulkan materi yang tercecer selama sebulan. Untung ada kiki yang bersedia mencatat semua materi pelajaran selama sebulan, dia tahu kalau aku pasti membutuhkannya. Malah ketika hendak ku pinjam ia sudah memfotokopikan semuanya.
Kalau saja tidak ada astroboy aku pasti tidak akan tertolong. Selama persiapan sebelum berangkat ke korea ku selalu menyempatkan untuk mengejar ketertinggalan di sekolah.  Mencari materi di internet ataupun berangkat sendiri ke ruang guru meminta materi tertinggal yang membuatku tidak hadir di kelasnya.
Ujian akhir semester berlalu seminggu yang lalu, aku dan astroboy duduk berderet di tempat duduk para murid.  Di depan kami sebuah podium besar tempat para tamu undangan dan orang tua – orang tua kami.  Aku melihat orang tua para astroboy pun duduk berderet bersama mama.  Akhirnya setelah satu semester kebersamaan kami, orang tua kami pun menjadi akrab.
Aku turun dari panggung. System ranking di sekolah kami cukup sulit.  Dimana tiga besar untuk ranking satu dua dan tiga tidak diambil berdasarkan kelas namun berdasarkan angkatan.
Apih masih berdiri menyambutku, ia akhirnya datang juga ke hari pembagian raportku.  Sejak SMP apih memang selalu datang di setiap acara bagi raport atau kenaikan kelasku, ia ingin selalu memantau pretasi belajarku agar kelak bisa lancer masuk fakultas kedokteran oxford seperti keinginannya.
Aku larut ke dalam dekapannya.  Semua orang menatap kea rah kami. Siapa yang tidak kenal apih, kepala rumah sakit hasan sadikin, rumah sakit terbesar kedua di Indonesia menjadi rujukan nasional.  Bahkan RSHS bisa seperti sekarang ini adalah hasil jerih payah apih selama lima belas tahun memimpinnya.
Amih dan mama yang berdiri di sampingnya tidak kalah bangga.  Hanya dalam waktu dua minggu aku berhasil membuat mereka bertiga tersenyum. Setelah membawa Indonesia menang medali emas di asean basket league hari ini aku berhasil jadi ranking satu.
Tiba – tiba di panggung pembawa acara yang merupakan guru kesenian kami sendiri mengumumkan sesuatu.
“baiklah bapak dan ibu sekalian, tiba lah waktunya kami untuk mengumukan siapa juara umum untuk semester ini, yang sekaligus mendapatkan beasiswa selama satu semester penuh dan bantuan dana untuk fasilitas pendidikan..” itu berarti siapapun juara umumnya. Selain dia gratis biaya sekolah ia akan mendapatkan berbagai bantuan. Menurut iras, beasiswa yang biasa didapat oleh juara umum bahkan bisa sampai kebeli motor sport jepang.
Apih sudah tersenyum menantikan. Akumulasi nilaiku ku rasa cukup besar, walau tadi aku tidak terlalu memperhatikan perolehan nilai dari angkatan iras.
“baiklah bapak dan ibu juara umum  kita semester ini jatuh kepada..” pak rianto menghentikan kata – katanya seakan ingin membuat kami penasaran. “Arian Khairul dari kelas XI 4 IPA…”
Gemuruh tepuk tangan menyadarkanku, bahwa bukan namaku yang disebut. Tiba – tiba apih bereaksi.
“lah bagaimana mereka ini, anak itu hanya memperoleh nilah dua ribu delapan ratus waktu tadi disebut jadi juara satu dari kelas kamu, inu tadi sampai tiga ribu tiga ratus lebih..” apih menatap tidak mengerti ke arahku.
Aku pun demikian rasanya kerongkonganku cukup pedas menerima kenyataan ini.  Tiba – tiba apih melambai kepada kepala sekolah yang duduk sejajar dengannya.  Aku duduk di samping mama, menantikan hasil perbicangan apih dan kepala sekolah.
Tangan apih melambai ke arahku. Ia meminta ku mengikutinya yang bergegas bersama kepala sekolah yang beranjak meninggalkan podium para tamu undangan.  Kami bertiga beriringan menuju ruangan kepala sekolah.
“mari pak silahkan duduk..” kepala sekolahku membukakan pintu kemudian mempersilahkan duduk pada sofa yang melingkar di sana.
Kemudian kepala sekolah membuka ponselnya menelpon guru yang lain untuk datang ke ruangan ini.
Aku duduk berdua dengan apih. Menunggu guru yang dimaksud untuk datang.
Seorang guru yang tidak ku kenal, mungkin karena ia tidak mengajar di kelasku jadi akhirnya aku tidak mengenalinya.
“duduk pak ari..” kata pak syafiq.
“baiklah begini pak, pertama saya akan jelaskan terlebih dahulu, kenapa rifnu tidak menjadi juara umum, ini dikarenakan rifnu masih duduk di kelas satu yang pelajarannya masih banyak, sedangkan arian di kelas dua dia sudah masuk dijurusan sehingga mata ajarnya sudah sesuai program yang dituju..”
“lah kan kalau nilai harusnya yang tertinggi, yang jadi juara..” kata apih lagi.
“begini sebenarnya, kami menyadari sejak awal bahwa ini bakal terjadi, pasti rifnu keberatan, namun kami memiliki pertimbangan lainnya pak, arian ini anak dari keluarga tidak mampu, kalau harus kami jelaskan kondisi keluarganya, kedua orang tuanya hanya pemulung, maka dari itu kami pikir kalau arian lebih membutuhkan beasiswa itu dari pada nak rifnu, karena seperti bapak ketahui sekolah kita tidak memiliki program beasiswa untuk siswa tidak mampu..”
Apih memandang kaku padaku.  Aku masih melihat riak keruh di permukaan matanya.  Bagiku sebenarnya beasiswa itu tidak masalah.  Hanya saja prestise.  Apa yang ku capai.  Atau mungkin ini hanya dampak dari keegoisanku yang merasa tidak pernah kalah sejak dulu.  Sejak aku pikir aku bisa mendapatkan apa yang aku mau. Aku pemenangnya dan tidak ada yang boleh mengalahkanku.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar