Entahlah. Aku mendesah,
menghembuskan nafas walau begitu terasa berat.
Aku ingin memejamkan mata, namun rasanya aku melotot semakin tajam.
Ternyata tidak mudah, waktu yang tersisa hanya tinggal tiga puluh detik lagi.
Kemampuan ku mengulur waktu, dan skor tipis tersebut bisa saja membuat tim kami
kalah.
Kedua kaki ku menjejak kuat
pada badan lapang, terdengar dentuman keras bola yang kemudian secara cepat
ditangkap oleh tanganku. Jika benar
perhitunganku, kalau aku menembak dari sudut ini begitu bola masuk ke dalam
keranjang maka berakhir pula lah pertandingan final kami.
Bismillahiramnirahim. Bisik
hatiku. Kemudian bola ku lemparkan. Padahal beberapa orang teman memintaku
untuk mengoperkan bola pada mereka.
Mungkin sudut ini terlalu jauh untuk melakukaan tembakan three point.
Namun hatiku memberontak,
aku tetap melemparkan bola. Begitu
tubuhku kembali ke tembok lapangan. Seketika itu juga semua orang berhenti,
tatapannya tertuju pada bola ku yang tengah melayang mengarah ke jarring bola.
“67 – 62 for Indonesian…
Indonesian the winner….” Gemuruh suara penonton memenuhi soul dome sore itu.
Tubuhku sudah diangkat teman – teman satu timku. Kami juara, meraih medali emas untuk basket
di bawah usia Sembilan belas tahun.
Hamdalah bertaburan di
hatiku.
Aku melihat kea rah kursi
penonton. Amih dan apih berdiri. Juga kakek yang akhirnya mengalahlkan urusan
bisnisnya agar bisa menonton sore ini.
Dan mama yang terus senyum sambil menangis. Aku melambaikan tangan kea rah mereka. Ingin
rasanya memeluk mereka semua.
Mataku selanjutnya mengarah
pada supporter kami yang datang jauh – jauh dari bandung. Pasukan ku dari
SMA. Astroboy semuanya hadir
lengkap. Dan yang duduk di tengah –
tengah, yang dari tadi duduk memangku tangan sambil terus tersenyum. Pemimpin supporter sekaligus pelatih
terhebatku.
Iras. Tersenyum bangga.
Aku dan lima belas orang
lainnya. Teman satu timku. Maju ke podium juara satu. Diikuti lawan berat yang
baru saja kami kalahkah. Tim U-19 jepang.
Ada kebanggan. Begitu mengingat
mereka adalah tim yang begitu ditakuti oleh semua Negara. Namun aku menepuk
dada kea rah mereka. Indonesia sore ini menang.
Di podium ke tiga diisi
oleh kawan – kawan dari singapura yang katanya bermain habis – habisan melawan
tim china. Tiga Negara dengan perolehan
medali di seagames terbanyak tahun ini kini berada di bawah kami. Aku merasa cukup senang, akhirnya aku dapat
memberikan sesuatu buat negaraku.
Mama segera berlari ke
arahku, ketika acara penyerahan medali selesai.
Sebagai kapten, aku yang mendapatkan bukee bunga. Tak ingin menyianyiakan moment ini, aku
menyerahkan bukee bunga berukuran besar ini pada mama sambil berlutut
dihadapannya.
Mama menutup mulutnya
dengan sapu tangan. Di belakangnya tampak apih amih dan kakek yang tertawa geli
melihat apa yang aku lakukan di tengah lapang diantara kerumunan banyak orang.
“youre so dam romantic son
ohhh my boy….” Lolong mama panjang, tanpa sadar teriakannya mengundang banyak
wartawan di sekitar kami untuk mengambil foto kami berdua.
Aku memeluk mama erat, kali
ini aku berhasil membuatnya bangga.
“my great grand son..”
kakek menepuk – nepuk punggungku. Aku tersenyum ke arahnya.
“what’s mr. antony he’s
your grand son?” Tanya seorang wartawan jepang pada kakek. Tanpa ragu kakek
menganggukan kepalanya. Dia sudah cukup terkenal di jepang. Malah aku yakin tidak banyak orang yang
menyangka bahwa dia orang Indonesia. Dari tadi kebanyakan wartawan
mewawancarainya karena ia menjadi sponsor utama bagi asean basket league tahun
ini.
asean basket league yang
diikuti oleh cucu kesayangannya.
Akhirnya, kami berlima
berjejar menghadapi pertanyaan dari semua wartawan yang kini mengerubungi
kami. Tanganku menggegam lekat
mama. Di sampingku kakek sedang
mengeluarkan semua jurus bualannya membesar – besarkan kemenangan tim ku sore
ini.
Mataku mencari – cari di
sebuah sudut tujuh orang bebal pasukanku sibuk melambaik – lambaikan tangan
berusaha mencuri perhatianku. Aku membalas lambaian tangan mereka.
Namun mataku mencari orang
yang lain. Dimana iras.
Ia tengah menggiring teman
– teman kami yang lain yang datang dari Indonesia keluar dari dome. Dalam kondisi seperti ini pasti dia akan
sangat sibuk.
“kami wartawan dari
Indonesia, mochammad rifnu, apa pendapat anda tentang kemenangan anda sore ini?
Tentu ini akan jadi berita besar cucu orang terkaya ke delapan di Asia membawa
Indonesia merebut medali emas basket…”
Aku tersenyum mendengar
pertanyaan wartawan perempuan tersebut. Tanpa melepaskan mama dari sampingku.
Aku berusaha menjawab sebaik mungkin.
“kalian ngomongin kakek?
What the hell..” aku berteriak diringi oleh tawa kakek dan seluruh keluarga ku.
“selama ini aku tidak bangga dengan uang dan nomor ke berapa kekayaannya
tersebut, tapi aku yakin hari ini dia sangat bangga padaku..”
Kakek tertawa lebar.
“dia cucu kesayangan saya,
sejak kecil saya tau dia akan jadi hebat, dia sudah banyak berprestasi, betul
kata dia, siapa saya, uang saya, tidak akan berpengaruh pada semua hal yang ia
dapatkan, kami keluarga yang sangat sehat dan bahagia semua anak – anak kami
sudah pasti akan sangat hebat…”
“mr rifnu mr rifnu…” dari
keriuhan sebuah suara memanggil – manggil namaku. “where’s your father? He’s
not join to the party…”
Aku mendesah lemah. Mama
memeluk ku erat.
“he’s watching from heaven,
dia pasti bangga sama anak laki – laki kesayangannya…”
Aku membuang muka, tiba –
tiba saja dada ku rasanya sesak diisi oleh udara yang semakin lama semakin
membuat dada ku terasa berat.
Akhirnya mama dan amih
mempahku, membawaku keluar dari kerumunan wartawan tersebut. Kakek dan apih
berusaha menenangkanku. Walaupun sebenarnya aku baik – baik saja.
“enggak ma, papa enggak
akan pernah bangga..” tegas ku pada mama sambil mengepalkan tangan. “I hate
him..” aku menjauh menuju loker room.
Tanpa diduga mama
mengikutiku ke loker room. Dia menggenggam tanganku kuat. Aku duduk pada sebuah bangku panjang
bersamanya.
“sampai kapan mau benci
sama papa? Sampai kapan mau berlaku tidak adil pada hidup kita sendiri nu?
Sampai kapan inu mau menolak kenyataan?”
“I hate him..” aku
menggumam. Sekarang kenyataannya begini,
semua yang berhasil aku buat seumur hidup tidak akan membuat laki – laki itu
bangga. Andaikan ia dapat bercerita.
…
Seminggu setelah pulang
dari korea usai menjadi duta Indonesia untuk menjadi salah satu atlet dari tim
basket aku langsung berkutat dengan ujian akhir semester genap. Aku piker aku cukup kesulitan, sebulan di korea
tanpa fasilitas home schooling dan kemalasanku akhirnya aku tidak belajar di
sana.
Jadinya ketika pulang ke Indonesia
dan dihadapkan pada ujian semester yang banyak sekali tertinggal. Seminggu mengumpulkan materi yang tercecer
selama sebulan. Untung ada kiki yang bersedia mencatat semua materi pelajaran
selama sebulan, dia tahu kalau aku pasti membutuhkannya. Malah ketika hendak ku
pinjam ia sudah memfotokopikan semuanya.
Kalau saja tidak ada
astroboy aku pasti tidak akan tertolong. Selama persiapan sebelum berangkat ke
korea ku selalu menyempatkan untuk mengejar ketertinggalan di sekolah. Mencari materi di internet ataupun berangkat
sendiri ke ruang guru meminta materi tertinggal yang membuatku tidak hadir di
kelasnya.
Ujian akhir semester
berlalu seminggu yang lalu, aku dan astroboy duduk berderet di tempat duduk
para murid. Di depan kami sebuah podium
besar tempat para tamu undangan dan orang tua – orang tua kami. Aku melihat orang tua para astroboy pun duduk
berderet bersama mama. Akhirnya setelah
satu semester kebersamaan kami, orang tua kami pun menjadi akrab.
…
Aku turun dari panggung.
System ranking di sekolah kami cukup sulit.
Dimana tiga besar untuk ranking satu dua dan tiga tidak diambil
berdasarkan kelas namun berdasarkan angkatan.
Apih masih berdiri
menyambutku, ia akhirnya datang juga ke hari pembagian raportku. Sejak SMP apih memang selalu datang di setiap
acara bagi raport atau kenaikan kelasku, ia ingin selalu memantau pretasi
belajarku agar kelak bisa lancer masuk fakultas kedokteran oxford seperti
keinginannya.
Aku larut ke dalam
dekapannya. Semua orang menatap kea rah
kami. Siapa yang tidak kenal apih, kepala rumah sakit hasan sadikin, rumah
sakit terbesar kedua di Indonesia menjadi rujukan nasional. Bahkan RSHS bisa seperti sekarang ini adalah
hasil jerih payah apih selama lima belas tahun memimpinnya.
Amih dan mama yang berdiri
di sampingnya tidak kalah bangga. Hanya
dalam waktu dua minggu aku berhasil membuat mereka bertiga tersenyum. Setelah
membawa Indonesia menang medali emas di asean basket league hari ini aku
berhasil jadi ranking satu.
Tiba – tiba di panggung
pembawa acara yang merupakan guru kesenian kami sendiri mengumumkan sesuatu.
“baiklah bapak dan ibu
sekalian, tiba lah waktunya kami untuk mengumukan siapa juara umum untuk
semester ini, yang sekaligus mendapatkan beasiswa selama satu semester penuh
dan bantuan dana untuk fasilitas pendidikan..” itu berarti siapapun juara
umumnya. Selain dia gratis biaya sekolah ia akan mendapatkan berbagai bantuan.
Menurut iras, beasiswa yang biasa didapat oleh juara umum bahkan bisa sampai
kebeli motor sport jepang.
Apih sudah tersenyum menantikan.
Akumulasi nilaiku ku rasa cukup besar, walau tadi aku tidak terlalu
memperhatikan perolehan nilai dari angkatan iras.
“baiklah bapak dan ibu
juara umum kita semester ini jatuh
kepada..” pak rianto menghentikan kata – katanya seakan ingin membuat kami
penasaran. “Arian Khairul dari kelas XI 4 IPA…”
Gemuruh tepuk tangan
menyadarkanku, bahwa bukan namaku yang disebut. Tiba – tiba apih bereaksi.
“lah bagaimana mereka ini,
anak itu hanya memperoleh nilah dua ribu delapan ratus waktu tadi disebut jadi
juara satu dari kelas kamu, inu tadi sampai tiga ribu tiga ratus lebih..” apih
menatap tidak mengerti ke arahku.
Aku pun demikian rasanya
kerongkonganku cukup pedas menerima kenyataan ini. Tiba – tiba apih melambai kepada kepala
sekolah yang duduk sejajar dengannya.
Aku duduk di samping mama, menantikan hasil perbicangan apih dan kepala
sekolah.
Tangan apih melambai ke
arahku. Ia meminta ku mengikutinya yang bergegas bersama kepala sekolah yang
beranjak meninggalkan podium para tamu undangan. Kami bertiga beriringan menuju ruangan kepala
sekolah.
“mari pak silahkan duduk..”
kepala sekolahku membukakan pintu kemudian mempersilahkan duduk pada sofa yang
melingkar di sana.
Kemudian kepala sekolah
membuka ponselnya menelpon guru yang lain untuk datang ke ruangan ini.
Aku duduk berdua dengan
apih. Menunggu guru yang dimaksud untuk datang.
Seorang guru yang tidak ku
kenal, mungkin karena ia tidak mengajar di kelasku jadi akhirnya aku tidak
mengenalinya.
“duduk pak ari..” kata pak
syafiq.
“baiklah begini pak, pertama
saya akan jelaskan terlebih dahulu, kenapa rifnu tidak menjadi juara umum, ini
dikarenakan rifnu masih duduk di kelas satu yang pelajarannya masih banyak,
sedangkan arian di kelas dua dia sudah masuk dijurusan sehingga mata ajarnya
sudah sesuai program yang dituju..”
“lah kan kalau nilai
harusnya yang tertinggi, yang jadi juara..” kata apih lagi.
“begini sebenarnya, kami
menyadari sejak awal bahwa ini bakal terjadi, pasti rifnu keberatan, namun kami
memiliki pertimbangan lainnya pak, arian ini anak dari keluarga tidak mampu,
kalau harus kami jelaskan kondisi keluarganya, kedua orang tuanya hanya
pemulung, maka dari itu kami pikir kalau arian lebih membutuhkan beasiswa itu
dari pada nak rifnu, karena seperti bapak ketahui sekolah kita tidak memiliki
program beasiswa untuk siswa tidak mampu..”
Apih memandang kaku
padaku. Aku masih melihat riak keruh di
permukaan matanya. Bagiku sebenarnya
beasiswa itu tidak masalah. Hanya saja prestise. Apa yang ku capai. Atau mungkin ini hanya dampak dari
keegoisanku yang merasa tidak pernah kalah sejak dulu. Sejak aku pikir aku bisa mendapatkan apa yang
aku mau. Aku pemenangnya dan tidak ada yang boleh mengalahkanku.
…
Tidak ada komentar:
Posting Komentar