Malam baru saja tiba, iras menutup semua kunci dan
jendela, kami berdua duduk di depan televisi dengan secangkir coklat panas di
tangan masing – masing. Iras masih
meniup – niup asapnya yang mengepul.
“tidak baik sayang, jadinya carbondioksida dari mulut
kamu terikat dengan zat yang ada di dalam coklat kamu, kamu jadinya meminum
coklat dicampur dengan caarbondioksida yang siap membunuh kamu di tahun – tahun
berikutnya..”
Iras mengangguk – angguk mendengarkan ucapanku, ia
berhenti meniup kepulan asap coklatnya.
Kemudian ku lihat hidungnya mencium, menikmati aroma coklat panas
miliknya. Kebiasaanya.
“maaf iras lupa, kalau iras sudah janji untuk terus hidup
sehat, supaya kita bisa bersama lebih lama..”
Aku tersenyum pada iras, ia membalasnya dengan baik. Di
kepalaku, bercerita banyak hal, tentang kegembiraanku, seusai melamarnya. Kini kami benar – benar satu yang tidak
dapat dipisahkan oleh hal apapun.
“inu lupa, kapan terakhir kita berantem, diem – dieman sampai
berhari – hari dan…”
“sebelum lebaran? Di bandung?”
“oh itu tidak masuk hitungan…” sahut ku cepat, iras
memperbaiki cara duduknya dan mendekat padaku. “masih ingat, seperti apa kita
enam tahun yang lalu tanggal sepuluh oktober?” aku mencoba mengingat kejadian
enam tahun yang lalu “enam tahun yang lalu, inu diculik ke situ patenggang, di
sana dingin dan inu Cuma pakai jersey basket tanpa lengan, kamu ngasih inu
jaket kamu, lalu kita jadian..”
Iras menatap mataku. Memintaku melanjutkan cerita.
“enam tahun yang lalu, malam – malam, aku keluar dari
rumah, mencari sesuatu yang mungkin bisa jadi symbol bahwa kita jadian…” aku
menghentikan ceritaku sebentar “bola basket..”
Tiba – tiba iras meletakan cangkir coklatnya. Ia berlari ke lantai dua. Kemudian kembali dengan bola basket pertama
kami.
“ini dia, mascot jadian pertama kita..” katanya sambil
tersenyum lebar.
Ia melemparkan bola tersebut padaku, sebuah bola yang
selama dua tahun menjadi bola terbaik yang selalu dipakai tim basket sekolah
kami.
“enam tahun yang lalu, mungkin jam segini, inu sedang
gugup karena punya janji dengan seseorang keesokan harinya, seseorang yang
kemudian menjadi salah satu orang terpenting dalam hidup inu. Sampai sekarang.
Enam tahun yang lalu, pukul segini inu sedang jatuh cinta…”
“kamu mengingatnya…” kata iras pelan, kedua tangannya
menangkap kedua belah wajahku, ia mengarahkan bibirnya pada bibirku, aku
tersenyum, melihat redup matanya yang membuai ku terlarut dalam arus deras yang
membawaku mabuk sampai saat ini.
Aku mencium bibir iras.
Mencium semua kenangan indah yang sudah bergulir bahkan hingga sejauh
ini. Sampai kehidupan membawa kami hingga di titik ini.
“semua hal penting yang kita punya harus diingat, sepahit
apapun itu, termasuk saat – saat inu kehilangan kamu…” tanganku melingkar di
pinggang iras.
“ya…” iras mendesah lemah “kita bahkan tidak bisa
membuang bagian paling menyebalkan itu, setidaknya bagian yang mentah dari
seikat rambutan sudah kita makan, tinggal sekarang bagian – bagian manisnya
yang masih banyak dan tidak akan pernah bisa kita habiskan…”
“setidaknya inu belajar bahwa hidup tanpa iras lebih
sulit dijalani dengan mengalami itu, dari sana pula inu tahu apa arti
memperjuangkan dan bagaimana perihnya hidup sendirian… jangan pernah tinggalkan
inu lagi…”
“kan kata iras juga, apa perlu iras potong kedua kaki
iras, supaya iras tidak bisa kemana – mana lagi…”
“cinta tidak semenyakitkan itu sayang…” aku mengusap
punggung iras lembut “inu lebih suka ungkapan kamu yang bilang kalau cinta
diantara kita mati, kamu akan keliling dunia untuk mengumpulkan dragon ball,
untuk menghidupkannya lagi…”
“semua akan iras lakukan sayang…”
“tidak perlu, karena inu jamin hal itu tidak akan pernah
terjadi…”
Iras mengangguk, ia mencium ku lagi, kemudian ia duduk
kembali di sampingku, sambil satu tangannya memeluk tubuhku. Kepalaku menelusup
masuk ke dalam pelukannya, aku menyandar di dada iras.
“bagaimana hadiahnya sayang?” Tanya iras, mengingatkan
soal hadiah yang baru ku dapatkan tadi siang.
“inu suka, tapi kapan kita punya waktu buat make itu..”
iras memberikanku sebuah yacht yang cukup mewah, kapal layar yang bisa kami
pakai kapan saja. Saat ini sedang jadi
tren di eropa memiliki kapal layar, salah satunya sebagai investasi, sedangkan
buat iras, dia menjadikannya sebuah hadiah.
“tiap akhir pekan kita bisa pakai ke italia misalnya…”
Aku menggeleng.
“lah kenapa?” iras menatapku heran.
“kita bisa kan pulang ke Indonesia pakai itu? Kamu ingat
obsesi inu soal jadi bajak laut..” aku membuat sebuah pernyataan yang pasti
tidak akan pernah disetujui iras, sampai kapanpun.
Kini iras yang menggeleng kuat.
“coba ide yang muncul dari kepala kamu itu bukan sesuatu
yang bahaya sayang…”
Aku tersenyum lebar pada iras. Tangannya mencari – cari jariku. Kemudian menggenggamnya erat.
“inu pikir jadi dapat jet pribadi..”
Iras menatapku beberapa detik “iras pikir gak mau dapat
itu, kemarin sayang menolak ide iras buat beli jet kan? Padahal cukup boeing
yang kecil saja…”
“oh boeing yang kecil saja ya, itu hadiah yang kamu
pengen dari inu buat hari jadi kita, kado dari pertunangan kita?”
Iras terlihat kaget, matanya menatapku lagi tambah lama
kali ini. Aku mencium matanya, karena
iras hampir tidak berkedip sama sekali, hal ini membuatku gemas sekali. Bahkan
ketika selesai menciumnya ia masih tidak berkedip menatapku.
“apa iras harus beli planet mars buat nanti hadiah
pernikahan kita..” iras tergelak mengajak ku tertawa “kalau pesawat sudah kita
beli, benda apalagi yang bisa iras jadikan hadiah, yang bisa iras berikan
sebagai hadiah buat kamu.. bahkan kamu sudah tidak mau memakai mobil lagi..”
“cukup kamu setia sampai mati..” kataku memotong
perkataan iras yang agak panjang.
“kamu meminta hal yang sudah pasti akan iras berikan…”
Aku mengingat sesuatu, besok pagi mama akan datang
berkunjung dari Indonesia, ia ingat mengenai hari penting yang kami punya. Bahkan aku sempat mengatakan pada mama, soal
lamaranku pada iras.
“besok mama datang ke sini, pasti sampainya siang, dan
inu ada jadwal bertemu professor..”
“diskusi tepatnya.. kamu kan kalau lagi kuliah kaya lagi
debat bebas dengan professor, biar iras yang jemput mama..”
Aku mengangguk agak ragu, aku tidak tahu bagaimana
kekalutanku besok sepanjang kuliah, karena pasti ingin segera sampai ke rumah dan
bertemu mama.
“kangen mama ya..” iras mengusap pipi ku lembut, ia
memang pandai membaca pikiranku. “tenanglah, kalian besok sudah bisa ketemu…”
“semoga mama tidak keberatan dengan apa yang sudah kita
lakukan…” ku lihat wajah iras sebentar, kemarin mama diam cukup lama ketika aku
bilang soal rencana ku melamar iras, aku tahu, jauh di kedalaman hati mama ada
sesuatu yang protes dengan hal ini, walau di permukaan ia selalu menjadi
pendukung terdepan bagi kami berdua.
“kalian berdua adalah manusia dengan hati yang benar –
benar luar biasa, iras yakin mama tahu apa yang ia lakukan dan apa yang terbaik
buat kita berdua…”
Aku mengangguk “semoga..”
“makan malam di luar yok, kangen suasana romantis paris
kan?”
“no alcohol, no drunk, no kissing public, no…”
“memang kita melakukan itu semua?” iras hampir tertawa.
“yeeee biar sama kaya pasangan lainnya jelek…”
Kami berdua tertawa, sambil bersiap – siap, mengambil
mantel dan bergegas dengan mobil menuju pusat paris.
…
Menjelang akhir musim gugur, paris jadi semakin sering
diguyur hujan, udara semakin dingin, angin dan air di mana – mana. Bahkan iras
khawatir, rumah kami yang di perbukitan akan terkena sebuah badai.
Mobil kami berhenti, iras melingkarkan lagi syal besar di
leherku. Aku baru selesai kuliah menjelang petang. Kata iras, mama sudah tiba
di paris sejak siang hari. Sementara kuliahku tidak bisa aku tinggalkan. Hal
itu yang akhirnya membuatku segera lari tidak sabar dari dalam mobil.
Aku melanggar peraturan untuk tidak menerima tamu dari
Indonesia, kami akhirnya menerima kunjungan dari mama. Mesikipun kami tidak
memiliki telpon seluler, gara – gara ia punya teman di kedutaan, akhirnya
alamat tempat tinggal kami ketahuan, dan mama menelpon ke kedutaan sewaktu kami
solat jum’at di sana. Ia bilang bahwa ia
akan datang berkunjung.
Rinduku pada mama sudah sangat besar. Itu yang membuatku tidak peduli pada apapun
yang aku tinggalkan di dalam mobil.
“I’m home…” aku menubruk pintu sambil terus menuju ke
dalam, melewati tangga dan aku tahu mama pasti sedang di dapur.
“waalaikumsalam…” jawab sebuah suara dari dapur.
Aku nyengir sendiri, hampir dua bulan di sini aku sudah
melupakan itu. “whats you feeling, miss universe?” ku peluk wanita tercinta
itu. Ia balas merangkulku kuat.
“jahat bener kalian berdua…” kata mama sambil melepaskan
pelukannya. Ia menatapku, lalu melihat iras yang baru saja muncul di pintu.
Iras tersenyum pada mama, ia menggantungkan mantel nya di
dekat pintu.
“kalian sehat kan?” mama menatap mata kami bergilir lagi.
“ya ma kami berdua sehat, sebenarnya inu juga penasaran
kabar mama sendiri gimana di Indonesia…”
Aku dan mama berjalan menuju ke ruang tengah, kami duduk
berdua di sofa. Iras tampak berjalan menuju dapur.
“jadi apa kabar gembira yang harus mama dengar itu nu…”
Tanya mama,sebelum matanya menemukan sebuah cincin melingkar di jari manisku.
“oh my god…..”
Mama menutupkan kedua telapak tangannya pada sebagian
wajahnya, matanya mengarah ke arahku.
“inu sudah tidak tahu cara apalagi yang harus inu lakukan
untuk membuktikan cinta inu pada iras….. maafkan inu ma…”
Ingin aku memeluk mama, sebagai anak, aku tahu banyak hal
dari ku yang mama harapkan normal dan baik – baik saja adanya. Namun jika
pilihannya adalah hidup tanpa iras, aku ingin menawar segalanya padanya. Ia
mamaku, perempuan mulia yang mencintai dan membesarkanku, yang tahu apa yang
terbaik untukku.
“inu minta maaf buat apa? Mama hanya merasa tidak
percaya, kalau inu bahkan sudah sedewasa ini, memutuskan semuanya sendiri,
memilih pilihan yang tepat, hidup dan tentu siap mempertanggungjawabkannya juga
bukan?”
Tangan lembut mama mengelus pipiku, di matanya yang teduh
aku menyelami banyaknya cinta dan toleransi yang senantiasa mama ajarkan seumur
hidupku.
Iras muncul, di tangannya ia membawa segelas susu hangat,
ia duduk di sebelahku.
“tentu ma, di depan mama, inu tidak akan melakukan
pembelaan apapun, mengatakan hal baik tentang kami berdua, hanya untuk menutupi
dosa yang sudah kami lakukan…”
“nak, kalian berdua punya tempat paling aman buat
berlindung dari segalanya, jangan merasa bersalah, kalian sudah memutuskan
pilihan hidup kalian, tenang saja, ada mama, kalian sangat bisa mengandalkan
kami untuk semua hal yang banyak orang pertanyakan mengenai kalian berdua,
untuk menjawab pertanyaan mereka yang tidak pernah puas menganggap bahwa kalian
salah…”
“dengar sayang, sudah tidak ada alasan apapun bagi kita
untuk khawatir pada apa kata orang…” iras menyahut dari belakangku, tangannya
kini menyentuh bagian lenganku, mengusapnya.
“kalian harus bahagia, itu intinya…” mama menatap mataku
lagi, ia pun melakukan hal itu pada iras. Mama menepuk sofa yang kosong di
sebelah kirinya, ia ingin iras duduk di sebelahnya juga.
Akhirnya aku menggeser dudukku, mama di tengah dan iras
di ujung kiri, kami duduk berjajar bertiga menghimpit mama.
“oh iya mama belum ngasih selamat, happy anniversary ke
enam dan selamat buat pertunangan kalian…” kedua tangan mama menggenggam tangan
kiri ku dan tangan kanan iras.
“sebenarnya setahun yang lalu, iras pernah ngelamar inu
juga ma, jadi kami tunangan sudah jalan setahun…”
“yah kok mama sampai gak tahu, kamu ya nu yang rahasiain
ini dari mama…”
Aku tersenyum untuk menjawab pertanyaan mama.
“eh mama mau Tanya dong, kalian betah kan di sini?”
Aku dan iras mengangguk kompak. Kami sudah hampir dua
bulan, aku rasa tidak banyak yang terlalu kami perdebatkan selama dua bulan
ini. Apalagi rumah memang sudah seperti
yang ku harapkan.
“inu gak pernah minta yang aneh – aneh kan selama di
sini, A?” kini mata mama hanya melihat ke arah iras..
“enggak ma, anak mama udah jauh dari dewasa sejak iras
bawa ke sini, entah dulu mama ngidam apa waktu hamil dia, sampai bisa bikin
iras sejatuh cinta ini…”
“hahaha a, kamu ini… dia gak pernah minta es kelapa malam
– malam lagi kan? Aa harus pulang ke bandung kalau dia beneran minta…”
Aku tahu perbincangan mulai menyudutkanku.
“arggghhh mau jelek – jelekin inu? Okeh konspirasi kalian
dari dulu memang tidak terkalahkan..” mengingat, iras selalu mengalahkanku
dengan terlebih dahulu berkomplot dengan mama.
“tidak, tidak, lagipula, iras udah yang paling cocok buat
kamu nu, orang nyusahin kayak kamu mah emang harus dapat yang sesabar iras
lah…”
Mama dan iras tertawa. Ya betul, selama ini iras sudah
sangat sabar buatku. Aku juga setuju
dengan mama, kalau Cuma iras yang bisa mengatasi semua sifat burukku.
“kalau iras ditakdirkan untuk mengatasi orang nyusahin,
iras Cuma pengen ditakdirkan itu Cuma buat inu ma, gak mau kalau orang lain..”
“ya ya ya tentu mama tahu itu a…” tiba – tiba mata mama
seperti berkeliling di dalam rumah, melihat rumah yang tertata rapih, berkat
tangan iras. “mama mau nanya – nanya dong, kalau di rumah yang sering
berantakin barang – barang, berantakin rumah siapa?”
Langsung saja jari telunjuk iras mengarah lurus ke
arahku. Aku tertawa terbahak – bahak sembunyi pada mama.
“hahahaa soalnya dia rapi banget ma..” aku mengaku
memang, aku yang kebanyakan menurunkan semua buku dari raknya, atau semua
diktat – diktat kuliah yang ku biarkan berantakan di atas meja, aku tinggal
tidur kemudian iras yang merapihkannya sendirian.
“tenang ma, kita belum sampai butuh helper buat itu..”
iras menyahut.
“kebiasaan nak, dari kecil sampai sekarang, dulu
ngerepotin papa, sekarang aa..” aku dan mama memang tipe yang sama, papa juga
dulu sering sampai larut, hanya untuk membereskan alat – alat medis mama di
ruang praktek, atau memberesken buku, laptop, bahkan panci yang nyasar ke
ruangan kerja mama. “terus kalau yang nyiapin sarapan, makan siang, sama makan
malam?”
Aku langsung menepuk dadaku, meski iras bisa masak, namun
ia lebih senang duduk menunggu di ruangan ini sambil melihat harga saham atau
berita – berita bisnis dan ekonomi
“kalau iras yang masak, mama harus siap – siap hipertensi
atau minum air yang banyak, kalau gak asin, ya pait…”
Mama tertawa, di selingi iras yang hanya tersenyum lebar.
Di luar langit semakin gelap, diiringi hujan dan sapuan angina yang dinginnya
terasa sampai ke dalam rumah.
“tapi kamu bukan yang cari – cari masalah terus kan Nu?
Kamu harus mulai memikirkan bagaimana iras juga, ketika mati – matian sabar
sama kamu dan mencari solusi dari masalah yang kamu buat tersebut…”
“iras tidak keberatan ma, kalaupun harus melakukan itu
selama iras hidup…”
Mama diam, namun ia menatap iras beberapa saat, sampai
akhirnya mengalihkan pandangannya padaku.
“you’re lucky guy..” kini tangan mama mengelus pipiku
lembut.
“banyak yang bilang gitu ma, tapi kalau sampai mama juga
bilang gitu, inu benar – benar beruntung…”
“iras juga ma…” iras menyahut cepat, mama tersenyum
tambah lebar, entah kenapa aku menangkap keharuan di wajahnya.
“sebenarnya mama nanya semua itu buat apa?”
Aku berusaha selembut mungkin, sesuatu sedang terjadi
pada mama…
“kehangatan yang selalu kalian berdua ciptakan selalu
berhasil membuat mama kangen papa kamu nu…” akhirnya mama jujur, itulah rupanya
yang sedari tadi mengambang di kedua matanya.
“ma.. mama bukan kehilangan, ini hanya karena mama belum
berhasil mengingat tanpa merasa terluka, suatu saat pasti mama bisa, mungkin
nanti cucu dari iras dan inu bisa jadi obat buat itu…”
Mata mama terbuka lebar, ia Nampak kaget. Namun kemudian ia memelukku, memeluk iras
juga.
“pasti, ternyata kalian sudah memikirkannya sampai sejauh
itu…”
“eh iya ma, duo tha – tha kenapa gak dibawa?” iras
menanyakan dua keponakan ku yang lucu – lucu itu, mereka sudah lama tinggal di
bandung dengan mama, gara – gara kedua orang tuanya pindah ke Washington.
“mereka sehat – sehat a, tadinya mama mau bawa mereka ke
sini, tapi kasihan mereka masih kecil, udara di sini kaya gini juga…”
Aku mengangguk setuju pada mama. Kerinduanku bertambah pada keduanya ketika
mama memperlihatkan foto – foto thalia dan thanael di ponsel mama.
Ku tengok sebentar keluar jendela, mungkin seperti ini
lah kehidupan. Hidup manusia, dia dikenalkan pada banyak orang, merasa
kehilangan, kemudian merindukan orang – orang yang dicintainya.
…
Senin pagi, mama memutuskan untuk kembali ke Indonesia,
apih berencana untuk membuat sebuah acara keluarga kecil – kecilan, pas idul
adha. Dengan sangat menyesal aku tidak
mungkin pulang, bahkan ketika hari idul adha pun, aku terancam tidak ikut solat
ied, gara – gara jadwal kuliahku. Namun aku mendapatkan kejutan lain, ardan dan
yang lain memutuskan untuk mengunjungi kami ke paris, astroboy semuanya sepakat
untuk bertemu di paris berkumpul secara lengkap.
Seperti biasa, jika aku bertemu dengan ketujuh temanku,
iras akan pergi. Membiarkan aku menghabiskan waktu dengan mereka, sementara ia
pergi ke toko buku, perpustakaan atau yang lebih gila ke bursa saham. Sampai aku menelponnya meminta untuk
menjemputku, ketika pertemuanku dengan astroboy selesai.
Tapi sepertinya malam ini, semua astroboy akan menginap
di rumah. Aku sudah bilang pada iras, dan ia memperbolehkan, pasukan bandit itu
menginspasi rumah kami.
Kunjungan astroboy kali ini, selain untuk mengetahui
keadaan kami di paris, namun mereka ingin ikut merayakan pertunanganku dengan
iras. Lamaran tepatnya.
“jadi rencananya kalian akan menetap di paris, sampai
mati nu?” dheka tampak penasaran ketika nollan membocorkan soal rencana ku dan
iras untuk pindah kewarganegaraan.
“dulu gue pikir, prancis itu bagus buat tempat tinggal,
tapi ya prancis memang cukup romantic, tapi kalau harus ngebesarin anak gue di
sini, kayanya gue mikir – mikir lagi…”
“si bos emang gak tertarik buat pindah ke amerika, new
york atau Washington nu?” dariz menebak.
“tepat, dia pengen pindah ke sana, dia pikir bagus buat
bisnis gue sama dia kalau dibesarin di sana, tapi di sana gak bagus juga buat
anak – anak gue..”
“halah anak – anak lu berdua kan perusahaan – perusahaan lu
berdua…” Jordan memotong pembicaraanku.
Kiki, ardan, nollan, dan feddy mereka juga sama – sama
menyimak. Tapi mereka berempat sudah tau lebih banyak dari dariz, Jordan dan
dheka.
Aku tertawa mendengar perkataan Jordan, mengingat
merekapun sekarang sudah mulai dengan bisnis mereka masing – masing.
“gue ngebayanginnya lucu nu, suatu hari, main ke rumah
lu, dan nemuin dua laki – laki yang jago karate, lagi nyuapin anak – anak kecil
mereka pake sereal di roda bayi, di halaman rumahnya…” cerocos nollan. Yang di
sambut tawa yang lain.
“ya ya gue pasti ngelakuin itu kok sama iras lan..”
“padahal kaya baru kemarin liat kalian berantem gara –
gara sama – sama masuk final di class meeting sekolah, sekarang kalian mau
kawin nu, kawin…” teriak nollan. Pengunjung restoran yang lain menatap ke arah
nollan, membuat kami mengangguk – angguk meminta maaf pada mereka.
Aku pun demikian, rasanya baru kemarin pula, kami adalah
sekumpulan anak SMA yang baong dan tak bisa dikendalikan, tapi hari ini benar –
benar sudah jadi pengendali ke kerajaan bisnis masing – masing.
“gue selalu salut sama lu berdua nu, kalian bahkan lebih
dewasa dua kali dari usia kalian, merencakan segala sesuatu dengan baik, berani
bertanggungjawab dan punya prinsip…”
“jangan – jangan lu ya yang pertama nikah di gerombolan
kita ini…” kata feddy.
“eits kalau itu kayanya gue yang duluan deh..” tiba –
tiba ardan memotong sambil mengacungkan salah satu tangannya. Menunjukan
sesuatu yang melingkar di jari manisnya.
“maksud lu dan?” kataku spontan, kaget melihat ini, teman
– temanku yang lain juga seperti shock. Don juan kami itu apa benar mau
menikah? Atau dia tunangan.
“gue udah sebulan tunangan, januari gue nikah, gue pengen
lu semua jadi pengiring gue..” ardan menatapku “gue cinta dia nu, meskipun dia
bukan yang nomor satu, tapi nomor ke dua ratus tujuh lima…”
Kami semua tertawa, ardan hingga kini selalu menghitung
dan memberikan nomor kepada setiap wanita yang pernah dikencaninya.
“no problem brother…”
Teman – temanku yang lain tertawa – tawa, nampaknya kaget
mendengar kekonyolan ini. Karena selama
ini, kami sudah bisa memastikan bahwa ardan akan jadi yang paling terakhir
menikah di antara kami.
“lu beneran mau nikah pan dan? Jangan sampai abis nikah,
koleksi sama tuh nomor lu lanjutin…” kata nollan.
“enggak lah, kaleng botan. Gue beneran nikah, lagian gue
pikir udah saatnya gue berhenti, gue harus hidup, gue harus punya cinta, gue
harus punya keluarga, karena gue udah punya lu semua…”
Tiba – tiba saja kami semua seperti terpana dengan kata –
kata ardan. Mungkin ini yang benar
dinamakan kedewasaan. Aku baru sadar, mungkin ini alasan sebenarnya kenapa ia
ingin sekali kami berkumpul di paris. Kabar baik yang dibawanya, juga perayaan
yang ia buat untukku.
“jadi mana calon nyonya ardan itu? Mana wanita beruntung
itu…”
Ardan tidak segera menjawab. Ia seperti mempertimbangkan
sesuatu.
“entar lah kalau dia punya waktu gue kenalin ke elu
semua…”
Tangan nollan mulai jail, pelan – pelan ia mencuri ponsel
ardan, kemudian ia mencari – cari sesuatu di sana.
Ekspresi wajah nollan berubah.
“hahahahaa dua ratus tujuh lima kan?” nollan menunjukan
sesuatu yang didapatkannya pada feddy.
“hahahahahaa…” feddy ikutan tertawa. Beberapa saat
kemudian, ketika ponsel ardan sudah berkeliling hingga di tangan kiki yang
duduk di sebelahku mereka semua tertawa.
Kiki menyerahkan ponsel ardan padaku, aku masih menatap
ardan tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi.
Tampak di layar besar ponsel ardan, seorang perempuan
mirip dengan hall beryy, bahkan lebih hitam dari Rihanna. Potongan tubuhnya seperti ibu – ibu yang kena
dampak hormone kontrasepsi.
Aku juga tertawa….
“jangankan kata elu pada, menurut gue aja, cewek gue
jelek…” ardan tampak cuek padahal kami semua masih menertawakannya, tidak
sampai habis pikir kenapa don juan itu akhirnya menikahi hall berry.
Lalu, bagaimana nollan bisa dengan mudah menemukan cewek
tersebut di ponsel ardan, karena ardan selalu menamai poto setiap gadis yang di
kencaninya dengan nomor mereka.
“tapi bener kata lu nu, kita tidak mencari yang cantik,
yang kaya, yang pinter, yang bisa segalanya, tapi kita nyari yang nyaman, yang
membuat kita tidak bisa hidup tanpa dia..” ardan menatap ke arah di depannya
lama, teman ku yang satu ini benar – benar sudah berubah, atau dia mulai menemukan
kemana akhir tujuan hidupnya.
“selamat dan, gue udah gak sabar buat jadi pendamping
pengantin lu, sama gak sabarnya gue buat cepet – cepet dapat ponakan dari lu..”
aku menepuk bahu ardan.
“anak nu?” ardan seperti kaget dengan kata itu “iya bener
juga ya, kalau gue nikah gue pasti punya anak..” ardan menepuk dahinya.
Kami semua tahu kalau ardan alergi dengan anak kecil.
Membayangkannya suatu hari kerepotan dengan botol susu dan popok, pasti akan
jadi sesuatu yang menyenangkan.
Teman – teman ku yang lain terus tertawa, mereka pasti
kaget sendiri dengan hal ini. Aku menangkap di mata teman – temanku, bahwa ini
masih berupa lelucon ardan. Namun aku tahu ardan, dia yang pemikirannya soal
kehidupan dan pasangan selalu lebih maju dari kami dan ia lebih berpengalaman. Makanya sering aku bertanya padanya apabila
aku sedang bertengkar atau punya masalah dengan iras.
Di ujung perbincangan kami sore itu, kami memeluk dan
memberikan selamat pada ardan. Turut
berbahagia dengan rencananya, aku pun mungkin sudah punya tanggal dengan
iras. Namun ardan berbeda, dia bisa
mengambil keputusan dan ia tidak goyah sedikitpun.
…