Kamis, 17 Oktober 2013

Sebuah Pengakuan



Malam baru saja tiba, iras menutup semua kunci dan jendela, kami berdua duduk di depan televisi dengan secangkir coklat panas di tangan masing – masing.  Iras masih meniup – niup asapnya yang mengepul.
“tidak baik sayang, jadinya carbondioksida dari mulut kamu terikat dengan zat yang ada di dalam coklat kamu, kamu jadinya meminum coklat dicampur dengan caarbondioksida yang siap membunuh kamu di tahun – tahun berikutnya..”
Iras mengangguk – angguk mendengarkan ucapanku, ia berhenti meniup kepulan asap coklatnya.  Kemudian ku lihat hidungnya mencium, menikmati aroma coklat panas miliknya. Kebiasaanya.
“maaf iras lupa, kalau iras sudah janji untuk terus hidup sehat, supaya kita bisa bersama lebih lama..”
Aku tersenyum pada iras, ia membalasnya dengan baik. Di kepalaku, bercerita banyak hal, tentang kegembiraanku, seusai melamarnya.   Kini kami benar – benar satu yang tidak dapat dipisahkan oleh hal apapun.
“inu lupa, kapan terakhir kita berantem, diem – dieman sampai berhari – hari dan…”
“sebelum lebaran? Di bandung?”
“oh itu tidak masuk hitungan…” sahut ku cepat, iras memperbaiki cara duduknya dan mendekat padaku. “masih ingat, seperti apa kita enam tahun yang lalu tanggal sepuluh oktober?” aku mencoba mengingat kejadian enam tahun yang lalu “enam tahun yang lalu, inu diculik ke situ patenggang, di sana dingin dan inu Cuma pakai jersey basket tanpa lengan, kamu ngasih inu jaket kamu, lalu kita jadian..”
Iras menatap mataku. Memintaku melanjutkan cerita.
“enam tahun yang lalu, malam – malam, aku keluar dari rumah, mencari sesuatu yang mungkin bisa jadi symbol bahwa kita jadian…” aku menghentikan ceritaku sebentar “bola basket..”
Tiba – tiba iras meletakan cangkir coklatnya.  Ia berlari ke lantai dua.  Kemudian kembali dengan bola basket pertama kami.
“ini dia, mascot jadian pertama kita..” katanya sambil tersenyum lebar.
Ia melemparkan bola tersebut padaku, sebuah bola yang selama dua tahun menjadi bola terbaik yang selalu dipakai tim basket sekolah kami.
“enam tahun yang lalu, mungkin jam segini, inu sedang gugup karena punya janji dengan seseorang keesokan harinya, seseorang yang kemudian menjadi salah satu orang terpenting dalam hidup inu. Sampai sekarang. Enam tahun yang lalu, pukul segini inu sedang jatuh cinta…”
“kamu mengingatnya…” kata iras pelan, kedua tangannya menangkap kedua belah wajahku, ia mengarahkan bibirnya pada bibirku, aku tersenyum, melihat redup matanya yang membuai ku terlarut dalam arus deras yang membawaku mabuk sampai saat ini.
Aku mencium bibir iras.  Mencium semua kenangan indah yang sudah bergulir bahkan hingga sejauh ini. Sampai kehidupan membawa kami hingga di titik ini.
“semua hal penting yang kita punya harus diingat, sepahit apapun itu, termasuk saat – saat inu kehilangan kamu…” tanganku melingkar di pinggang iras.
“ya…” iras mendesah lemah “kita bahkan tidak bisa membuang bagian paling menyebalkan itu, setidaknya bagian yang mentah dari seikat rambutan sudah kita makan, tinggal sekarang bagian – bagian manisnya yang masih banyak dan tidak akan pernah bisa kita habiskan…”
“setidaknya inu belajar bahwa hidup tanpa iras lebih sulit dijalani dengan mengalami itu, dari sana pula inu tahu apa arti memperjuangkan dan bagaimana perihnya hidup sendirian… jangan pernah tinggalkan inu lagi…”
“kan kata iras juga, apa perlu iras potong kedua kaki iras, supaya iras tidak bisa kemana – mana lagi…”
“cinta tidak semenyakitkan itu sayang…” aku mengusap punggung iras lembut “inu lebih suka ungkapan kamu yang bilang kalau cinta diantara kita mati, kamu akan keliling dunia untuk mengumpulkan dragon ball, untuk menghidupkannya lagi…”
“semua akan iras lakukan sayang…”
“tidak perlu, karena inu jamin hal itu tidak akan pernah terjadi…”
Iras mengangguk, ia mencium ku lagi, kemudian ia duduk kembali di sampingku, sambil satu tangannya memeluk tubuhku. Kepalaku menelusup masuk ke dalam pelukannya, aku menyandar di dada iras.
“bagaimana hadiahnya sayang?” Tanya iras, mengingatkan soal hadiah yang baru ku dapatkan tadi siang.
“inu suka, tapi kapan kita punya waktu buat make itu..” iras memberikanku sebuah yacht yang cukup mewah, kapal layar yang bisa kami pakai kapan saja.  Saat ini sedang jadi tren di eropa memiliki kapal layar, salah satunya sebagai investasi, sedangkan buat iras, dia menjadikannya sebuah hadiah.
“tiap akhir pekan kita bisa pakai ke italia misalnya…”
Aku menggeleng.
“lah kenapa?” iras menatapku heran.
“kita bisa kan pulang ke Indonesia pakai itu? Kamu ingat obsesi inu soal jadi bajak laut..” aku membuat sebuah pernyataan yang pasti tidak akan pernah disetujui iras, sampai kapanpun.
Kini iras yang menggeleng kuat.
“coba ide yang muncul dari kepala kamu itu bukan sesuatu yang bahaya sayang…”
Aku tersenyum lebar pada iras.  Tangannya mencari – cari jariku.  Kemudian menggenggamnya erat.
“inu pikir jadi dapat jet pribadi..”
Iras menatapku beberapa detik “iras pikir gak mau dapat itu, kemarin sayang menolak ide iras buat beli jet kan? Padahal cukup boeing yang kecil saja…”
“oh boeing yang kecil saja ya, itu hadiah yang kamu pengen dari inu buat hari jadi kita, kado dari pertunangan kita?”
Iras terlihat kaget, matanya menatapku lagi tambah lama kali ini.  Aku mencium matanya, karena iras hampir tidak berkedip sama sekali, hal ini membuatku gemas sekali. Bahkan ketika selesai menciumnya ia masih tidak berkedip menatapku.
“apa iras harus beli planet mars buat nanti hadiah pernikahan kita..” iras tergelak mengajak ku tertawa “kalau pesawat sudah kita beli, benda apalagi yang bisa iras jadikan hadiah, yang bisa iras berikan sebagai hadiah buat kamu.. bahkan kamu sudah tidak mau memakai mobil lagi..”
“cukup kamu setia sampai mati..” kataku memotong perkataan iras yang agak panjang.
“kamu meminta hal yang sudah pasti akan iras berikan…”
Aku mengingat sesuatu, besok pagi mama akan datang berkunjung dari Indonesia, ia ingat mengenai hari penting yang kami punya.  Bahkan aku sempat mengatakan pada mama, soal lamaranku pada iras.
“besok mama datang ke sini, pasti sampainya siang, dan inu ada jadwal bertemu professor..”
“diskusi tepatnya.. kamu kan kalau lagi kuliah kaya lagi debat bebas dengan professor, biar iras yang jemput mama..”
Aku mengangguk agak ragu, aku tidak tahu bagaimana kekalutanku besok sepanjang kuliah, karena pasti ingin segera sampai ke rumah dan bertemu mama.
“kangen mama ya..” iras mengusap pipi ku lembut, ia memang pandai membaca pikiranku. “tenanglah, kalian besok sudah bisa ketemu…”
“semoga mama tidak keberatan dengan apa yang sudah kita lakukan…” ku lihat wajah iras sebentar, kemarin mama diam cukup lama ketika aku bilang soal rencana ku melamar iras, aku tahu, jauh di kedalaman hati mama ada sesuatu yang protes dengan hal ini, walau di permukaan ia selalu menjadi pendukung terdepan bagi kami berdua.
“kalian berdua adalah manusia dengan hati yang benar – benar luar biasa, iras yakin mama tahu apa yang ia lakukan dan apa yang terbaik buat kita berdua…”
Aku mengangguk “semoga..”
“makan malam di luar yok, kangen suasana romantis paris kan?”
“no alcohol, no drunk, no kissing public, no…”
“memang kita melakukan itu semua?” iras hampir tertawa.
“yeeee biar sama kaya pasangan lainnya jelek…”
Kami berdua tertawa, sambil bersiap – siap, mengambil mantel dan bergegas dengan mobil menuju pusat paris.
Menjelang akhir musim gugur, paris jadi semakin sering diguyur hujan, udara semakin dingin, angin dan air di mana – mana. Bahkan iras khawatir, rumah kami yang di perbukitan akan terkena sebuah badai.
Mobil kami berhenti, iras melingkarkan lagi syal besar di leherku. Aku baru selesai kuliah menjelang petang. Kata iras, mama sudah tiba di paris sejak siang hari. Sementara kuliahku tidak bisa aku tinggalkan. Hal itu yang akhirnya membuatku segera lari tidak sabar dari dalam mobil.
Aku melanggar peraturan untuk tidak menerima tamu dari Indonesia, kami akhirnya menerima kunjungan dari mama. Mesikipun kami tidak memiliki telpon seluler, gara – gara ia punya teman di kedutaan, akhirnya alamat tempat tinggal kami ketahuan, dan mama menelpon ke kedutaan sewaktu kami solat jum’at di sana.  Ia bilang bahwa ia akan datang berkunjung.
Rinduku pada mama sudah sangat besar.  Itu yang membuatku tidak peduli pada apapun yang aku tinggalkan di dalam mobil.
“I’m home…” aku menubruk pintu sambil terus menuju ke dalam, melewati tangga dan aku tahu mama pasti sedang di dapur.
“waalaikumsalam…” jawab sebuah suara dari dapur.
Aku nyengir sendiri, hampir dua bulan di sini aku sudah melupakan itu. “whats you feeling, miss universe?” ku peluk wanita tercinta itu.  Ia balas merangkulku kuat.
“jahat bener kalian berdua…” kata mama sambil melepaskan pelukannya. Ia menatapku, lalu melihat iras yang baru saja muncul di pintu.
Iras tersenyum pada mama, ia menggantungkan mantel nya di dekat pintu.
“kalian sehat kan?” mama menatap mata kami bergilir lagi.
“ya ma kami berdua sehat, sebenarnya inu juga penasaran kabar mama sendiri gimana di Indonesia…”
Aku dan mama berjalan menuju ke ruang tengah, kami duduk berdua di sofa. Iras tampak berjalan menuju dapur.
“jadi apa kabar gembira yang harus mama dengar itu nu…” Tanya mama,sebelum matanya menemukan sebuah cincin melingkar di jari manisku. “oh my god…..”
Mama menutupkan kedua telapak tangannya pada sebagian wajahnya, matanya mengarah ke arahku.
“inu sudah tidak tahu cara apalagi yang harus inu lakukan untuk membuktikan cinta inu pada iras….. maafkan inu ma…”
Ingin aku memeluk mama, sebagai anak, aku tahu banyak hal dari ku yang mama harapkan normal dan baik – baik saja adanya. Namun jika pilihannya adalah hidup tanpa iras, aku ingin menawar segalanya padanya. Ia mamaku, perempuan mulia yang mencintai dan membesarkanku, yang tahu apa yang terbaik untukku.
“inu minta maaf buat apa? Mama hanya merasa tidak percaya, kalau inu bahkan sudah sedewasa ini, memutuskan semuanya sendiri, memilih pilihan yang tepat, hidup dan tentu siap mempertanggungjawabkannya juga bukan?”
Tangan lembut mama mengelus pipiku, di matanya yang teduh aku menyelami banyaknya cinta dan toleransi yang senantiasa mama ajarkan seumur hidupku.
Iras muncul, di tangannya ia membawa segelas susu hangat, ia duduk di sebelahku.
“tentu ma, di depan mama, inu tidak akan melakukan pembelaan apapun, mengatakan hal baik tentang kami berdua, hanya untuk menutupi dosa yang sudah kami lakukan…”
“nak, kalian berdua punya tempat paling aman buat berlindung dari segalanya, jangan merasa bersalah, kalian sudah memutuskan pilihan hidup kalian, tenang saja, ada mama, kalian sangat bisa mengandalkan kami untuk semua hal yang banyak orang pertanyakan mengenai kalian berdua, untuk menjawab pertanyaan mereka yang tidak pernah puas menganggap bahwa kalian salah…”
“dengar sayang, sudah tidak ada alasan apapun bagi kita untuk khawatir pada apa kata orang…” iras menyahut dari belakangku, tangannya kini menyentuh bagian lenganku, mengusapnya.
“kalian harus bahagia, itu intinya…” mama menatap mataku lagi, ia pun melakukan hal itu pada iras. Mama menepuk sofa yang kosong di sebelah kirinya, ia ingin iras duduk di sebelahnya juga.
Akhirnya aku menggeser dudukku, mama di tengah dan iras di ujung kiri, kami duduk berjajar bertiga menghimpit mama.
“oh iya mama belum ngasih selamat, happy anniversary ke enam dan selamat buat pertunangan kalian…” kedua tangan mama menggenggam tangan kiri ku dan tangan kanan iras.
“sebenarnya setahun yang lalu, iras pernah ngelamar inu juga ma, jadi kami tunangan sudah jalan setahun…”
“yah kok mama sampai gak tahu, kamu ya nu yang rahasiain ini dari mama…”
Aku tersenyum untuk menjawab pertanyaan mama.
“eh mama mau Tanya dong, kalian betah kan di sini?”
Aku dan iras mengangguk kompak. Kami sudah hampir dua bulan, aku rasa tidak banyak yang terlalu kami perdebatkan selama dua bulan ini.  Apalagi rumah memang sudah seperti yang ku harapkan.
“inu gak pernah minta yang aneh – aneh kan selama di sini, A?” kini mata mama hanya melihat ke arah iras..
“enggak ma, anak mama udah jauh dari dewasa sejak iras bawa ke sini, entah dulu mama ngidam apa waktu hamil dia, sampai bisa bikin iras sejatuh cinta ini…”
“hahaha a, kamu ini… dia gak pernah minta es kelapa malam – malam lagi kan? Aa harus pulang ke bandung kalau dia beneran minta…”
Aku tahu perbincangan mulai menyudutkanku.
“arggghhh mau jelek – jelekin inu? Okeh konspirasi kalian dari dulu memang tidak terkalahkan..” mengingat, iras selalu mengalahkanku dengan terlebih dahulu berkomplot dengan mama.
“tidak, tidak, lagipula, iras udah yang paling cocok buat kamu nu, orang nyusahin kayak kamu mah emang harus dapat yang sesabar iras lah…”
Mama dan iras tertawa. Ya betul, selama ini iras sudah sangat sabar buatku.  Aku juga setuju dengan mama, kalau Cuma iras yang bisa mengatasi semua sifat burukku.
“kalau iras ditakdirkan untuk mengatasi orang nyusahin, iras Cuma pengen ditakdirkan itu Cuma buat inu ma, gak mau kalau orang lain..”
“ya ya ya tentu mama tahu itu a…” tiba – tiba mata mama seperti berkeliling di dalam rumah, melihat rumah yang tertata rapih, berkat tangan iras. “mama mau nanya – nanya dong, kalau di rumah yang sering berantakin barang – barang, berantakin rumah siapa?”
Langsung saja jari telunjuk iras mengarah lurus ke arahku. Aku tertawa terbahak – bahak sembunyi pada mama.
“hahahaa soalnya dia rapi banget ma..” aku mengaku memang, aku yang kebanyakan menurunkan semua buku dari raknya, atau semua diktat – diktat kuliah yang ku biarkan berantakan di atas meja, aku tinggal tidur kemudian iras yang merapihkannya sendirian.
“tenang ma, kita belum sampai butuh helper buat itu..” iras menyahut.
“kebiasaan nak, dari kecil sampai sekarang, dulu ngerepotin papa, sekarang aa..” aku dan mama memang tipe yang sama, papa juga dulu sering sampai larut, hanya untuk membereskan alat – alat medis mama di ruang praktek, atau memberesken buku, laptop, bahkan panci yang nyasar ke ruangan kerja mama. “terus kalau yang nyiapin sarapan, makan siang, sama makan malam?”
Aku langsung menepuk dadaku, meski iras bisa masak, namun ia lebih senang duduk menunggu di ruangan ini sambil melihat harga saham atau berita – berita bisnis dan ekonomi
“kalau iras yang masak, mama harus siap – siap hipertensi atau minum air yang banyak, kalau gak asin, ya pait…”
Mama tertawa, di selingi iras yang hanya tersenyum lebar. Di luar langit semakin gelap, diiringi hujan dan sapuan angina yang dinginnya terasa sampai ke dalam rumah.
“tapi kamu bukan yang cari – cari masalah terus kan Nu? Kamu harus mulai memikirkan bagaimana iras juga, ketika mati – matian sabar sama kamu dan mencari solusi dari masalah yang kamu buat tersebut…”
“iras tidak keberatan ma, kalaupun harus melakukan itu selama iras hidup…”
Mama diam, namun ia menatap iras beberapa saat, sampai akhirnya mengalihkan pandangannya padaku.
“you’re lucky guy..” kini tangan mama mengelus pipiku lembut.
“banyak yang bilang gitu ma, tapi kalau sampai mama juga bilang gitu, inu benar – benar beruntung…”
“iras juga ma…” iras menyahut cepat, mama tersenyum tambah lebar, entah kenapa aku menangkap keharuan di wajahnya.
“sebenarnya mama nanya semua itu buat apa?”
Aku berusaha selembut mungkin, sesuatu sedang terjadi pada mama…
“kehangatan yang selalu kalian berdua ciptakan selalu berhasil membuat mama kangen papa kamu nu…” akhirnya mama jujur, itulah rupanya yang sedari tadi mengambang di kedua matanya.
“ma.. mama bukan kehilangan, ini hanya karena mama belum berhasil mengingat tanpa merasa terluka, suatu saat pasti mama bisa, mungkin nanti cucu dari iras dan inu bisa jadi obat buat itu…”
Mata mama terbuka lebar, ia Nampak kaget.  Namun kemudian ia memelukku, memeluk iras juga.
“pasti, ternyata kalian sudah memikirkannya sampai sejauh itu…”
“eh iya ma, duo tha – tha kenapa gak dibawa?” iras menanyakan dua keponakan ku yang lucu – lucu itu, mereka sudah lama tinggal di bandung dengan mama, gara – gara kedua orang tuanya pindah ke Washington.
“mereka sehat – sehat a, tadinya mama mau bawa mereka ke sini, tapi kasihan mereka masih kecil, udara di sini kaya gini juga…”
Aku mengangguk setuju pada mama.  Kerinduanku bertambah pada keduanya ketika mama memperlihatkan foto – foto thalia dan thanael di ponsel mama.
Ku tengok sebentar keluar jendela, mungkin seperti ini lah kehidupan. Hidup manusia, dia dikenalkan pada banyak orang, merasa kehilangan, kemudian merindukan orang – orang yang dicintainya.
Senin pagi, mama memutuskan untuk kembali ke Indonesia, apih berencana untuk membuat sebuah acara keluarga kecil – kecilan, pas idul adha.  Dengan sangat menyesal aku tidak mungkin pulang, bahkan ketika hari idul adha pun, aku terancam tidak ikut solat ied, gara – gara jadwal kuliahku. Namun aku mendapatkan kejutan lain, ardan dan yang lain memutuskan untuk mengunjungi kami ke paris, astroboy semuanya sepakat untuk bertemu di paris berkumpul secara lengkap.
Seperti biasa, jika aku bertemu dengan ketujuh temanku, iras akan pergi. Membiarkan aku menghabiskan waktu dengan mereka, sementara ia pergi ke toko buku, perpustakaan atau yang lebih gila ke bursa saham.  Sampai aku menelponnya meminta untuk menjemputku, ketika pertemuanku dengan astroboy selesai.
Tapi sepertinya malam ini, semua astroboy akan menginap di rumah. Aku sudah bilang pada iras, dan ia memperbolehkan, pasukan bandit itu menginspasi rumah kami.
Kunjungan astroboy kali ini, selain untuk mengetahui keadaan kami di paris, namun mereka ingin ikut merayakan pertunanganku dengan iras.  Lamaran tepatnya.
“jadi rencananya kalian akan menetap di paris, sampai mati nu?” dheka tampak penasaran ketika nollan membocorkan soal rencana ku dan iras untuk pindah kewarganegaraan.
“dulu gue pikir, prancis itu bagus buat tempat tinggal, tapi ya prancis memang cukup romantic, tapi kalau harus ngebesarin anak gue di sini, kayanya gue mikir – mikir lagi…”
“si bos emang gak tertarik buat pindah ke amerika, new york atau Washington nu?” dariz menebak.
“tepat, dia pengen pindah ke sana, dia pikir bagus buat bisnis gue sama dia kalau dibesarin di sana, tapi di sana gak bagus juga buat anak – anak gue..”
“halah anak – anak lu berdua kan perusahaan – perusahaan lu berdua…” Jordan memotong pembicaraanku.
Kiki, ardan, nollan, dan feddy mereka juga sama – sama menyimak. Tapi mereka berempat sudah tau lebih banyak dari dariz, Jordan dan dheka.
Aku tertawa mendengar perkataan Jordan, mengingat merekapun sekarang sudah mulai dengan bisnis mereka masing – masing.
“gue ngebayanginnya lucu nu, suatu hari, main ke rumah lu, dan nemuin dua laki – laki yang jago karate, lagi nyuapin anak – anak kecil mereka pake sereal di roda bayi, di halaman rumahnya…” cerocos nollan. Yang di sambut tawa yang lain.
“ya ya gue pasti ngelakuin itu kok sama iras lan..”
“padahal kaya baru kemarin liat kalian berantem gara – gara sama – sama masuk final di class meeting sekolah, sekarang kalian mau kawin nu, kawin…” teriak nollan. Pengunjung restoran yang lain menatap ke arah nollan, membuat kami mengangguk – angguk meminta maaf pada mereka.
Aku pun demikian, rasanya baru kemarin pula, kami adalah sekumpulan anak SMA yang baong dan tak bisa dikendalikan, tapi hari ini benar – benar sudah jadi pengendali ke kerajaan bisnis masing – masing.
“gue selalu salut sama lu berdua nu, kalian bahkan lebih dewasa dua kali dari usia kalian, merencakan segala sesuatu dengan baik, berani bertanggungjawab dan punya prinsip…”
“jangan – jangan lu ya yang pertama nikah di gerombolan kita ini…” kata feddy.
“eits kalau itu kayanya gue yang duluan deh..” tiba – tiba ardan memotong sambil mengacungkan salah satu tangannya. Menunjukan sesuatu yang melingkar di jari manisnya.
“maksud lu dan?” kataku spontan, kaget melihat ini, teman – temanku yang lain juga seperti shock. Don juan kami itu apa benar mau menikah? Atau dia tunangan.
“gue udah sebulan tunangan, januari gue nikah, gue pengen lu semua jadi pengiring gue..” ardan menatapku “gue cinta dia nu, meskipun dia bukan yang nomor satu, tapi nomor ke dua ratus tujuh lima…”
Kami semua tertawa, ardan hingga kini selalu menghitung dan memberikan nomor kepada setiap wanita yang pernah dikencaninya.
“no problem brother…”
Teman – temanku yang lain tertawa – tawa, nampaknya kaget mendengar kekonyolan ini.  Karena selama ini, kami sudah bisa memastikan bahwa ardan akan jadi yang paling terakhir menikah di antara kami.
“lu beneran mau nikah pan dan? Jangan sampai abis nikah, koleksi sama tuh nomor lu lanjutin…” kata nollan.
“enggak lah, kaleng botan. Gue beneran nikah, lagian gue pikir udah saatnya gue berhenti, gue harus hidup, gue harus punya cinta, gue harus punya keluarga, karena gue udah punya lu semua…”
Tiba – tiba saja kami semua seperti terpana dengan kata – kata ardan.  Mungkin ini yang benar dinamakan kedewasaan. Aku baru sadar, mungkin ini alasan sebenarnya kenapa ia ingin sekali kami berkumpul di paris. Kabar baik yang dibawanya, juga perayaan yang ia buat untukku.
“jadi mana calon nyonya ardan itu? Mana wanita beruntung itu…”
Ardan tidak segera menjawab. Ia seperti mempertimbangkan sesuatu.
“entar lah kalau dia punya waktu gue kenalin ke elu semua…”
Tangan nollan mulai jail, pelan – pelan ia mencuri ponsel ardan, kemudian ia mencari – cari sesuatu di sana.
Ekspresi wajah nollan berubah.
“hahahahaa dua ratus tujuh lima kan?” nollan menunjukan sesuatu yang didapatkannya pada feddy.
“hahahahahaa…” feddy ikutan tertawa. Beberapa saat kemudian, ketika ponsel ardan sudah berkeliling hingga di tangan kiki yang duduk di sebelahku mereka semua tertawa.
Kiki menyerahkan ponsel ardan padaku, aku masih menatap ardan tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi.
Tampak di layar besar ponsel ardan, seorang perempuan mirip dengan hall beryy, bahkan lebih hitam dari Rihanna.  Potongan tubuhnya seperti ibu – ibu yang kena dampak hormone kontrasepsi.
Aku juga tertawa….
“jangankan kata elu pada, menurut gue aja, cewek gue jelek…” ardan tampak cuek padahal kami semua masih menertawakannya, tidak sampai habis pikir kenapa don juan itu akhirnya menikahi hall berry.
Lalu, bagaimana nollan bisa dengan mudah menemukan cewek tersebut di ponsel ardan, karena ardan selalu menamai poto setiap gadis yang di kencaninya dengan nomor mereka.
“tapi bener kata lu nu, kita tidak mencari yang cantik, yang kaya, yang pinter, yang bisa segalanya, tapi kita nyari yang nyaman, yang membuat kita tidak bisa hidup tanpa dia..” ardan menatap ke arah di depannya lama, teman ku yang satu ini benar – benar sudah berubah, atau dia mulai menemukan kemana akhir tujuan hidupnya.
“selamat dan, gue udah gak sabar buat jadi pendamping pengantin lu, sama gak sabarnya gue buat cepet – cepet dapat ponakan dari lu..” aku menepuk bahu ardan.
“anak nu?” ardan seperti kaget dengan kata itu “iya bener juga ya, kalau gue nikah gue pasti punya anak..” ardan menepuk dahinya.
Kami semua tahu kalau ardan alergi dengan anak kecil. Membayangkannya suatu hari kerepotan dengan botol susu dan popok, pasti akan jadi sesuatu yang menyenangkan.
Teman – teman ku yang lain terus tertawa, mereka pasti kaget sendiri dengan hal ini. Aku menangkap di mata teman – temanku, bahwa ini masih berupa lelucon ardan. Namun aku tahu ardan, dia yang pemikirannya soal kehidupan dan pasangan selalu lebih maju dari kami dan ia lebih berpengalaman.  Makanya sering aku bertanya padanya apabila aku sedang bertengkar atau punya masalah dengan iras.
Di ujung perbincangan kami sore itu, kami memeluk dan memberikan selamat pada ardan.  Turut berbahagia dengan rencananya, aku pun mungkin sudah punya tanggal dengan iras.  Namun ardan berbeda, dia bisa mengambil keputusan dan ia tidak goyah sedikitpun.