Minggu, 08 Desember 2013

Iras



Mata iras menatap jauh keluar jendela, badai salju baru saja berhenti. Matahari, walau kelabu ia masih punya nyali untuk menunjukan sinarnya. Di balik awan abu – abu yang membuat suasana bertambah gimbal di dalam rumah kami berdua. Aku menyelinap lewat pintu belakang.
Ku pakai sepatu bootku, membawanya menapaki tumpukan – tumpukan salju yang sudah hampir setinggi lutut. Sekelilingku hanya putih, tidak terlihat sedikitpun warna hijau ataupun warna lain dari tumbuhan. Hanya ada bayangan – bayangan hitam kelam dari pohon – pohon maple yang ikut membeku.
Kedua tangannku masuk ke dalam kantong celana, untuk menghindari dingin. Cuma baju dan switer tebal yang ku pakai, aku malas keluar dengan mantel dan syal lebarku. Atau paling tidak, nanti, beberapa menit kemudian iras akan menyusulku.
Aku sedang lari menuju danau di belakang kebun keluarga florian. Aku benar – benar penasaran bagaimana rupa danau membeku.  Dulu yang ku lihat hanya lewat film atau animasi – animasi khas eropa sewaktuku kecil.
Usai menuruni sedikit bukit bekas kebun anggur yang sudah di panen bulan lalu, dan melewati sebuah pohon oak yang membeku. Aku melihat hamparan lautan berwarna putih, semi kelabu, dari danau yang membeku. Beberapa binatang yang biasanya ku temui, kini tidak ada ada.  Sedang dibuai oleh hibernasi yang membuat mereka terlelap. Seperti jac dan hook, yang sekarang semakin bertambah gendut dan lucu, juga malas, mereka berdua tidak pernah jauh dari perapian.
Aku tahu bahwa, walaupun air di bagian atas membeku, namun di bagian bawah danau tetap cair, dan ikan – ikan di sana tetap hidup.  Aku berjongkok di tepian danau, menyibakan beberapa tumpukan salju yang menutupi Kristal bening permukaan danau yang membeku. Tanganku mengetuk beberapa kali, memastikan bahwa ini benar – benar beku.
Terdengar pantulan dentuman keras dari dalam, yang menandakan danau ini benar – benar beku.  Kemudian ku coba memberanikan menjejakan kaki ku di atasnya. Awalnya kaki kananku dulu yang tak gemetaran karena takut tercebur, lalu ku susul dengan kaki kananku. Aku dapat berdiri tegap akhirnya, sebelum akhirnya aku melompat – lompat dan danau tetap membeku.
Ku coba menjejaki lebih jauh, sampai ke tengah danau, tempat yang biasanya harus dicapai dengan perahu, kini aku bisa berlari – lari di atasnya.  Aku sedang berada persis di bagian tengah danau.  Beberapa tupai dan burung di atas pohon oak, tampak iri melihatku yang berputar – putar seakan bermain ski es, dan memakai sweater tebal.
“guk guk guk…” suara anjing berlarian ke arahku. Aku memutar badan, jac dengan langkah – langkah kecilnya menghampiriku.  Di belakangnya hook menyusul.
“hai bud…” keduanya menyerbuku, naik ke dadaku, membuatku terjatuh dan tertidur di atas danau.  “hahahaha I know I know, I’m your father’s guys…”
“sayang, lagi ngapain di sana, ayo ke pinggir, kamu bisa tenggelam nanti..” iras berkacak pinggang di pinggir danau.  Matanya tampak khawatir, apalagi melihat aku dan kedua anjingku asyik bermain – main di atas permukaan danau.
“norak, danaunya beku sayang, kamu juga sini coba..”
“ayolaahh coba jangan membuat iras khawatir, kalau es nya sampai pecah, kamu tenggelam, bisa hipotermi sayang…” iras masih terlihat begitu cemas di tempatnya.
Seperti biasa, aku mengabaikan kata – kata iras. Lalu sibuk lari – lari, berkejaran dengan kedua anjingku. Lalu tidak ku sangka iras menyusul ke tengah danau, dengan langkah setengah gontainya.
“duk…” tangan iras melingkar di leherku. Rasanya ia hampir mencekikku. “anak kecil emang harus dikerasin biar nurut..”
Aku meronta.
“diem..!” aku berusaha lepas dari seretan iras. “inu masih pengen maen…”
“tuhan… bahaya sayang, ini di tengah danau, danaunya beku belum lama, kamu udah ngukur berapa ketebalan es nya? Pecah, tenggelam, kamu gimana?” kening iras mengkerut, jelas ia tidak suka dengan perlawananku.
“udah inu ukur dongo…”
“kapan? Pake apa? Iras gak liat kamu bawa alat apapun..”
Aku diam, menarik nafas beberapa saat. Kemudian “inu ketuk – ketuk tadi es nya, pentungannya keras, jadi pasti es nya udah tebal…”
Tidak ku sangka, kini iras memeluk pinggangku.  Kemudian menyeret tubuhku ke pinggir. Dua anjing kami berlarian.
“bukan kamu namanya kalau gak ngeyel, kalau gak keras kepala, kita pulang sekarang…”
Aku terus memberontak, namun iras juga tetap bersikeras. Aku tidak dilepaskan sama sekali olehnya. Padahal aku sudah meracau banyak sekali, menghujatnya.   Karena jarang sekali aku bisa melihat danau beku seperti ini.
Kami berdua keluar dari museum louvre, sehabis melihat lukisan davinci yang hilang lima ratus tahun dan baru ditemukan di swiss. UNESCO memutuskan untuk menyitanya, kemudian membawanya ke paris, untuk disatukan dengan lukisan – lukisan davinci yang lainnya.
Aku dan iras, kami memang bukan penikmat seni lukis, kami tidak pernah memperdulikan lukisan siapa yang menghiasa ruang tamu atau lobi kantor kami.  lukisan dari penjual di kaki lima pun kami beli, asal itu bisa masuk dengan arsitektur ruangan kerja atau rumah kami.  namun ku rasa, karya – karya davinci adalah karya lukisan paling normal, yang membuat kita menerawang banyak hal lewat setiap gambar yang dibuatnya. Itu karena aku benci sekali dengan aliran seni lukis abstark, melihat karya karya Picasso misalnya, itu sama saja dengan mengundang migraine akut.
Lukisan yang ku lihat adalah lukisan seorang perawan dari kaum bangsa italia di jaman davinci hidup, dari kesempurnaan lukisan dan cat minya yang digunakan, ini memang lukisan davinci. Ada rumor yang mengatakan sebelumnya bahwa lukisan ini Cuma dibuat sketsanya saja, namun ternyata davinci menyelesaikannya, lima ratus tahun kemudian, lukisan ini ditemukan di bank, pada rekening sebuah keluarga kaya di swiss.
“iras mau es krim atau coklat hangat?” tanyaku pada iras, sambil menggenggam tangannya.
“kita beli coklat hangat..” katanya. Kami menuruni tangga museum setelah keluar dari piramida kaca ukuran raksasa.
“oke, iras beli coklat hangat, inu beli es krim…”
“no…” ia menggeleng keras.
Sudah lama memang aku tidak makan es krim, sejak salju di depan rumah bisa ku masukan ke dalam mangkok kemudian menyiramnya dengan syrup strawberry, tentu saja tanpa sepengetahuan iras.  Dan musim dingin pasti membuat es krim menjadi hal yang langka. Dan iras tentu tidak akan mau membelikan atau mengusahakan mendapatkan es krim, dia sudah seperti itu.
“es krim enak sayang..” aku menatap iras, meyakinkannya kalau aku benar – benar ingin es krim.
“udara Cuma tujuh derajat celcius sayang, kamu makan es krim bisa menggigil..”
“kan iras beli coklat panas, jadi abis makan es krim bisa langsung minta coklatnya..”
“kamu sakit, urusan jadi tidak sesingkat itu, iras Cuma orang biasa yang paling ingin kamu baik – baik saja…”
“inu baik – baik saja ras…”
Aku melihat di sebrang jalan, ada sebuah café yang sepertinya menjual es krim dan coklat panas. Iras berjalan beberapa langkah lebih lambat di belakangku, meskipun ku tahu ia tetap mengawasiku.
Aku lompat dari atas trotoar, hendak menyebrang jalan. Tanpa melihat kiri dan kanan sebelumnya.
“inu..” sebuah teriakan singkat iras. Sebelum tubuhku melayang di dalam pelukannya. Aku melihat langit di kejauhan, kemudian tubuhku terjatuh, dengan kepala membentur permukaan aspal.
“dug…” lalu beberapa detik kemudian, pandanganku mengabur dan hampir pandanganku di tutupi darah. Aku membersihkan mata kiriku dari darah, ada luka robek di atas pelipisku.
Ku lihat tangan iras melingkar di badanku, ku putar kepala ia memelukku dari belakang. Kami tertabrak mobil, aku yang harusnya tertabrak mobil, namun iras menyelamatkanku.
“sayang baik – baik saja..” kata iras, ku lihat tidak ada luka di wajahnya, namun nafasnya begitu tersengal – sengal.
“arggghhh sakit..” ku usap sedikit keningku, ada luka yang cukup luas di sana. Aku bangkit duduk menggapai tangan iras. Ku lihat ia tidak terluka sedikitpun “iras tidak apa – apa kan? Ayo bangun..”
“sayang…”
mata iras menatapku beberapa saat
“sepertinya kaki iras patah..”