Mata iras menatap jauh keluar
jendela, badai salju baru saja berhenti. Matahari, walau kelabu ia masih punya
nyali untuk menunjukan sinarnya. Di balik awan abu – abu yang membuat suasana
bertambah gimbal di dalam rumah kami berdua. Aku menyelinap lewat pintu
belakang.
Ku pakai sepatu bootku, membawanya
menapaki tumpukan – tumpukan salju yang sudah hampir setinggi lutut.
Sekelilingku hanya putih, tidak terlihat sedikitpun warna hijau ataupun warna
lain dari tumbuhan. Hanya ada bayangan – bayangan hitam kelam dari pohon –
pohon maple yang ikut membeku.
Kedua tangannku masuk ke dalam
kantong celana, untuk menghindari dingin. Cuma baju dan switer tebal yang ku
pakai, aku malas keluar dengan mantel dan syal lebarku. Atau paling tidak,
nanti, beberapa menit kemudian iras akan menyusulku.
Aku sedang lari menuju danau di
belakang kebun keluarga florian. Aku benar – benar penasaran bagaimana rupa
danau membeku. Dulu yang ku lihat hanya
lewat film atau animasi – animasi khas eropa sewaktuku kecil.
Usai menuruni sedikit bukit bekas
kebun anggur yang sudah di panen bulan lalu, dan melewati sebuah pohon oak yang
membeku. Aku melihat hamparan lautan berwarna putih, semi kelabu, dari danau
yang membeku. Beberapa binatang yang biasanya ku temui, kini tidak ada ada. Sedang dibuai oleh hibernasi yang membuat
mereka terlelap. Seperti jac dan hook, yang sekarang semakin bertambah gendut
dan lucu, juga malas, mereka berdua tidak pernah jauh dari perapian.
Aku tahu bahwa, walaupun air di
bagian atas membeku, namun di bagian bawah danau tetap cair, dan ikan – ikan di
sana tetap hidup. Aku berjongkok di
tepian danau, menyibakan beberapa tumpukan salju yang menutupi Kristal bening
permukaan danau yang membeku. Tanganku mengetuk beberapa kali, memastikan bahwa
ini benar – benar beku.
Terdengar pantulan dentuman keras
dari dalam, yang menandakan danau ini benar – benar beku. Kemudian ku coba memberanikan menjejakan kaki
ku di atasnya. Awalnya kaki kananku dulu yang tak gemetaran karena takut tercebur,
lalu ku susul dengan kaki kananku. Aku dapat berdiri tegap akhirnya, sebelum
akhirnya aku melompat – lompat dan danau tetap membeku.
Ku coba menjejaki lebih jauh, sampai
ke tengah danau, tempat yang biasanya harus dicapai dengan perahu, kini aku
bisa berlari – lari di atasnya. Aku sedang
berada persis di bagian tengah danau.
Beberapa tupai dan burung di atas pohon oak, tampak iri melihatku yang
berputar – putar seakan bermain ski es, dan memakai sweater tebal.
“guk guk guk…” suara anjing berlarian
ke arahku. Aku memutar badan, jac dengan langkah – langkah kecilnya
menghampiriku. Di belakangnya hook
menyusul.
“hai bud…” keduanya menyerbuku, naik
ke dadaku, membuatku terjatuh dan tertidur di atas danau. “hahahaha I know I know, I’m your father’s
guys…”
“sayang, lagi ngapain di sana, ayo ke
pinggir, kamu bisa tenggelam nanti..” iras berkacak pinggang di pinggir
danau. Matanya tampak khawatir, apalagi
melihat aku dan kedua anjingku asyik bermain – main di atas permukaan danau.
“norak, danaunya beku sayang, kamu
juga sini coba..”
“ayolaahh coba jangan membuat iras
khawatir, kalau es nya sampai pecah, kamu tenggelam, bisa hipotermi sayang…”
iras masih terlihat begitu cemas di tempatnya.
Seperti biasa, aku mengabaikan kata –
kata iras. Lalu sibuk lari – lari, berkejaran dengan kedua anjingku. Lalu tidak
ku sangka iras menyusul ke tengah danau, dengan langkah setengah gontainya.
“duk…” tangan iras melingkar di
leherku. Rasanya ia hampir mencekikku. “anak kecil emang harus dikerasin biar
nurut..”
Aku meronta.
“diem..!” aku berusaha lepas dari
seretan iras. “inu masih pengen maen…”
“tuhan… bahaya sayang, ini di tengah
danau, danaunya beku belum lama, kamu udah ngukur berapa ketebalan es nya?
Pecah, tenggelam, kamu gimana?” kening iras mengkerut, jelas ia tidak suka
dengan perlawananku.
“udah inu ukur dongo…”
“kapan? Pake apa? Iras gak liat kamu
bawa alat apapun..”
Aku diam, menarik nafas beberapa
saat. Kemudian “inu ketuk – ketuk tadi es nya, pentungannya keras, jadi pasti
es nya udah tebal…”
Tidak ku sangka, kini iras memeluk
pinggangku. Kemudian menyeret tubuhku ke
pinggir. Dua anjing kami berlarian.
“bukan kamu namanya kalau gak ngeyel,
kalau gak keras kepala, kita pulang sekarang…”
Aku terus memberontak, namun iras
juga tetap bersikeras. Aku tidak dilepaskan sama sekali olehnya. Padahal aku sudah
meracau banyak sekali, menghujatnya.
Karena jarang sekali aku bisa melihat danau beku seperti ini.
…
Kami berdua keluar dari museum
louvre, sehabis melihat lukisan davinci yang hilang lima ratus tahun dan baru
ditemukan di swiss. UNESCO memutuskan untuk menyitanya, kemudian membawanya ke
paris, untuk disatukan dengan lukisan – lukisan davinci yang lainnya.
Aku dan iras, kami memang bukan
penikmat seni lukis, kami tidak pernah memperdulikan lukisan siapa yang
menghiasa ruang tamu atau lobi kantor kami.
lukisan dari penjual di kaki lima pun kami beli, asal itu bisa masuk
dengan arsitektur ruangan kerja atau rumah kami. namun ku rasa, karya – karya davinci adalah
karya lukisan paling normal, yang membuat kita menerawang banyak hal lewat
setiap gambar yang dibuatnya. Itu karena aku benci sekali dengan aliran seni
lukis abstark, melihat karya karya Picasso misalnya, itu sama saja dengan
mengundang migraine akut.
Lukisan yang ku lihat adalah lukisan
seorang perawan dari kaum bangsa italia di jaman davinci hidup, dari
kesempurnaan lukisan dan cat minya yang digunakan, ini memang lukisan davinci.
Ada rumor yang mengatakan sebelumnya bahwa lukisan ini Cuma dibuat sketsanya
saja, namun ternyata davinci menyelesaikannya, lima ratus tahun kemudian,
lukisan ini ditemukan di bank, pada rekening sebuah keluarga kaya di swiss.
“iras mau es krim atau coklat
hangat?” tanyaku pada iras, sambil menggenggam tangannya.
“kita beli coklat hangat..” katanya.
Kami menuruni tangga museum setelah keluar dari piramida kaca ukuran raksasa.
“oke, iras beli coklat hangat, inu
beli es krim…”
“no…” ia menggeleng keras.
Sudah lama memang aku tidak makan es
krim, sejak salju di depan rumah bisa ku masukan ke dalam mangkok kemudian
menyiramnya dengan syrup strawberry, tentu saja tanpa sepengetahuan iras. Dan musim dingin pasti membuat es krim
menjadi hal yang langka. Dan iras tentu tidak akan mau membelikan atau
mengusahakan mendapatkan es krim, dia sudah seperti itu.
“es krim enak sayang..” aku menatap
iras, meyakinkannya kalau aku benar – benar ingin es krim.
“udara Cuma tujuh derajat celcius
sayang, kamu makan es krim bisa menggigil..”
“kan iras beli coklat panas, jadi
abis makan es krim bisa langsung minta coklatnya..”
“kamu sakit, urusan jadi tidak
sesingkat itu, iras Cuma orang biasa yang paling ingin kamu baik – baik saja…”
“inu baik – baik saja ras…”
Aku melihat di sebrang jalan, ada
sebuah café yang sepertinya menjual es krim dan coklat panas. Iras berjalan
beberapa langkah lebih lambat di belakangku, meskipun ku tahu ia tetap mengawasiku.
Aku lompat dari atas trotoar, hendak
menyebrang jalan. Tanpa melihat kiri dan kanan sebelumnya.
“inu..” sebuah teriakan singkat iras.
Sebelum tubuhku melayang di dalam pelukannya. Aku melihat langit di kejauhan,
kemudian tubuhku terjatuh, dengan kepala membentur permukaan aspal.
“dug…” lalu beberapa detik kemudian,
pandanganku mengabur dan hampir pandanganku di tutupi darah. Aku membersihkan
mata kiriku dari darah, ada luka robek di atas pelipisku.
Ku lihat tangan iras melingkar di
badanku, ku putar kepala ia memelukku dari belakang. Kami tertabrak mobil, aku
yang harusnya tertabrak mobil, namun iras menyelamatkanku.
“sayang baik – baik saja..” kata
iras, ku lihat tidak ada luka di wajahnya, namun nafasnya begitu tersengal –
sengal.
“arggghhh sakit..” ku usap sedikit
keningku, ada luka yang cukup luas di sana. Aku bangkit duduk menggapai tangan
iras. Ku lihat ia tidak terluka sedikitpun “iras tidak apa – apa kan? Ayo
bangun..”
“sayang…”
mata iras menatapku beberapa saat
“sepertinya kaki iras patah..”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar