Hari ketiga aku dirawat, aku
mendapatkan sebuah kunjungan yang manis menurutku. Mama dan amih datang dari
Indonesia. Buat dua wanita itu, sejak
dulu, kalau aku masuk rumah sakit itu bukan hal bagus, sehingga mereka cepat –
cepat kemari. Ulah iras. Aku sudah meyakinkannya kalau tidak perlu
memberitahu keluarga di Indonesia kalau aku masuk rumah sakit, namun karena
alasan bahwa dia tidak bisa menjagaku dua puluh empat jam dan tanpa meminta
pendapatku lagi, akhirnya mau tidak mau aku setuju mama dan semuanya
diberitahu.
Amih datang membawa brownies
buatannya, brwonies nomor dua favoritku di seluruh dunia setelah brownies
buatan mama. Aku bahkan baru memiliki
hasrat untuk makan lagi setelah memakan brownies tersebut. Rasanya tidak pernah berubah sejak dulu,
sejak apih dan amih biasa menjenguk ku ke Jakarta setiap akhir pekan selama aku
papa mama dan kak lili masih tinggal di Jakarta. Bahkan setelah pindah ke bandung, setiap
akhir pekan brownies buatan amih selalu tersaji di meja makan sebagai camilan
sore ku di rumah.
Baik aku atau iras, belum bisa
menjawab dan memberikan alasan tepat pada mama dan yang lain kenapa aku bisa
sampai ada di newyork padahal kami sedang ada di paris. Perihal bisnis yang kami mulai aku tidak bisa
mengatakan hal itu dulu pada mama. Ia
akan mengelus dada, kemudian menceramahiku panjang lebar, soal intrik, soal
uang, soal ketamakan, dan yang lainnya yang membuatnya sangat khawatir.
Kami hanya beralasan sedang berlibur
dan ada sedikit urusan dengan bakal thesis ku nanti. Mama mencoba percaya,
walau ia masih menatap curiga. Namun
akhirnya kecurigaan mama teredam ketika, rere, mama dan papanya iras
datang. Selang beberapa jam setelah
rombongan mama dan amih datang, giliran mereka yang datang.
Rere dengan centilnya memperkenalkan
pacar barunya yang sesama mahasiswa Indonesia, namanya Niko. Anak yang cukup sopan dan mau berbaur dengan
kami semua. Akhirnya adik kami itu tumbuh besar juga, meskipun masih cukup
canggung rupanya membawa niko ke tengah – tengah kami.
“jadi sebenarnya sakit apa nu..” papa
mendekat, mama berdiri di sampingnya.
“Cuma typus pa, seharusnya besok juga
udah boleh pulang…”
“pulang ke paris?” mama yang berdiri
di samping papa tampak kaget.
“ahh jangan siah inu..” mama tiba –
tiba berdiri dari tempat duduknya dan menghampiriku “tunggu sampai bener –
bener sembuh baru balik ke paris..”
“iya ma.. enggaklah, tapi kan kuliah
inu juga gak bisa ditinggalin gitu aja..”
“lah ini malah jalan – jalan ke sini,
jauh – jauh, buat apa coba?” aku sudah salah bicara, mama memang masih curiga
sepertinya.
“ya refreshing aja ma, tapi kan batas
waktunya juga, tadinya pengen liburan tau tau malah kena typus kaya gini..”
“yah itu mah penyakit kamu we, naik
kapal sedikit mabok, kaya yang keracunan..” aku tahu mama mulai melecehkanku.
Semua yang ada di dalam ruangan
tertawa mendengar mama. Melihat aku yang
terpojok juga Cuma bisa tidur terlentang di atas tempat tidur.
“kuliah kalian berdua baik – baik
saja kan?” Tanya papa sambil memandang bergantian padaku dan iras.
Iras mengangguk.
“semuanya masih bisa dikendalikan dan
bisa diatasi…” kataku pada papa “ternyata S2 itu gak sesulit yang dibayangkan,
bahkan dua jurusan sekaligus, inu punya rencana buat tambah jurusan…” kataku
berguyon, padahal hampir setengah mati aku kuliah setiap hari mengejar setiap
mata kuliah.
“kalian bikin ngiri aja deh, pokonya
rere nanti S2 harus dua jurusan juga, malahan harus lebih, biar bisa ngalahin
kalian..” kata rere menimpali. Iras yang
berdiri tidak jauh dari dekatnya menepuk ujung kepalanya, kemudian mengusapnya
berkali – kali, sambil tersenyum lebar.
“iya dong, motivasi kamu harus bagus,
kalahin nih kakak – kakak kamu..” kata papa pada rere.
“ah anak manja sama culun gini mana
bisa ngalahin kakak nya…” kata iras.
“yeeeee enak aja ngomong sembarangan
gitu..” wajah rere memerah, rupanya ia agak keki juga diperolok seperti itu di
depan pacarnya sendiri.
“katanya ada yang minta bantuan mama
buat minta maaf..” kata mama iras tiba – tiba, kami semua yang ada di dalam
ruangan diam seketika. Dan mata setiap
orang langsung tertuju pada iras.
Iras mendadak terlihat rikuh, ia
kemudian berjalan ke dekat mamanya.
Sambil mengelus – elus tengkuknya sendiri.
“ada masalah apalagi nu? Pasti kamu
ya yang duluan?” tuduh mama padaku.
“oh enggak ma, inu kan lagi sakit
mana bisa ngapa – ngapain..”
“ah justru kalau lagi sakit kamu
malah suka macem – macem…”
“enggak ma, iras kok yang salah sama
inu, iras yang udah mikirnya macem – macem..” jelas iras pada mama, ia berdiri
tidak jauh dari tempat tidur, tidak jauh juga dari papa dan mama.
“ayo dong kakak minta maaf sama inu,
kalau kakak yang salah..” mama agak mendorong tubuh anaknya itu. Iras menekuk kepalanya sambil tersenyum. Aku sendiri memang agak geli dan senang
melihat hal ini. Selalu ada saja upaya
iras untuk meluluhkanku, padahal sebenarnya kami sudah tidak dalam keadaan
chaos.
Rere berdiri bersama niko di sudut
ruangan. Amih duduk di sofa, mama di sampingku.
Dan iras berdiri di dekat kedua orang tuanya. Aku masihy terus tersenyum memperhatikannya.
Jarang – jarang aku melihat iras
dalam kondisi setengah gugup seperti ini.
Bahkan sepertinya gugup, ia benar – benar gugup. Padahal sehari – hari,
dimana hanya ada kami berdua luncuran kata – kata biasa mengalir deras keluar
dari mulutnya.
“love…” kata iras pelan, bahkan
hampir malu – malu.
“what?” kataku “gak kedengeran…” aku
menggoda iras, semua keluarga kami tampak tersenyum.
“hah…” iras membuang nafas, ia
mengangkat kepalanya, kemudian menatap kedua mataku. Aku tahu ia sedang berusaha mengusir semua orang yang ada di dalam ruangan ini
dengan menganggapnya tidak ada. “mungkin ini bukan yang pertama iras minta maaf
sama inu dengan bantuan mama iras, mama inu, amih bahkan rere, tapi iras harap
inu tidak pernah bosan mendengarkan permintaan maaf iras, mau memaafkannya atau
tidak itu selalu jadi hak inu sampai kapanpun…”
Iras mulai menggenggam tanganku,
semua orang masih berdiri di tempatnya, menanti iras menyelesaikan
perkataannya.
“iras sudah terlalu banyak bersikap
buruk sama inu, bahkan kali ini, iras sudah sangat meremehkan inu, soal
kecemasan, ketakutan, segala hal yang bisa mengambil inu dari iras. Iras tahu ini yang terburuk, sekalanya
semakin membesar dan semakin memburuk, karena iras yang tidak pernah berhasil
lepas dari trauma waktu dulu saat sesuatu yang bahkan lebih buruk memisahkan
kita..” keadaan sudah semakin sunyi, semuanya terkunci lewat kata – kata iras
“selayaknya inu tahu, bahwa iras hanya tidak bisa hidup tanpa inu, walau
sesederhana itu namun jadinya begitu menyulitkan saat semua ketakutan itu
muncul bertubi – tubi, saat orang – orang bertanya lagi dan lagi kenapa iras
bisa sesayang ini, ini semua karena inu yang pandai sekali membuat siapapun
begitu mudahnya mencintai inu…”
“I’m so sorry, iras minta maaf sekali
lagi…”
Langsung saja, ciuman iras mendarat
di keningku. Rupanya ia berhasil
menganggap bahwa tidak ada satupun orang di sini.
…
Papa dan mama iras, jadi yang
pertamakali meninggalkan kami di new york.
Rere dan niko memutuskan untuk berkeliling dulu di sini, sekedar liburan
singkat katanya. Lalu memutuskan untuk
kembali ke berlin besok. Sementara itu,
kak lili dan mas gede baru datang ketika malam, mereka bilang hanya akan
berkunjung sebentar, karena kuliah mereka yang tidak bisa ditinggalkan.
Aku sangat begitu senang dengan
kedatangan mereka, apalagi kakak ku itu, dia adalah orang paling memahamiku
selama ini, bahkan lebih dari mama. Ia
bahkan banyak sekali bertanya soal kemajuan hubunganku dan iras, dan betapa
terkejutnya ia ketika mengetahui kami telah bertunangan.
“akhirnya adek kecilku, yang nakal,
yang doyan bikin mama ketar ketir sudah jadi lelaki dewasa yang sangat dewasa…”
katanya sambil melepaskan pelukannya.
“makasih kak, gue kangen lari –
larian di rumah sama lu, merebutin makanan atau mainan, dulu kan lu mainnya
mobil – mobilan juga…”
“sialan..” ia menjitak kepalaku.
Hingga aku mengerang kesakitan.
“hehehe…” aku senang melihat wajah
kesalnya lagi, dulu aku dia dan papa adalah tim yang solid dalam permainan
baseball dan basket, kak lili juga sempat jadi kapten tim basket saat SMP dan
menjadi kapten cheers begitu SMA, dia memang makhluk hermaprodit yang terbaik
di dunia. “eh kapan kasih gue keponakan lagi, lagian duo tha – tha udah pada
gede tuh…”
“lu gak tau ya kalau gue gak pake KB,
apa daya sperma tak kunjung membuahi..” katanya polos sambil merampok semua
buah – buahan milikku di atas meja.
“kasian ih… lu nya kali yang gak
pinter – pinter…”
Segerombolan kulit jeruk yang baru
dikupas meluncur ke wajahku dari lemparan kak lili. Membuatku menepisnya berkali – kali sambil
tertawa.
“mas gede tipe yang liar di kasur,
kalo gue juga pinter, lu gak bisa bayangin keadaan kamar gue kaya gimana…”
Aku tergelak lagi. Kakak ku memang tipe yang ‘menceritakan
segalanya’ apalagi soal kehidupan keluarganya.
Yang membuatku kaget, mengetahui mas gede yang santun itu ternyata diluar
dugaan ku selama ini.
“eh nanti, setahun dua tahun kedepan,
kalau tha – tha tinggal sama gue ama iras, di paris atau everywhere, setuju gak
kak?”
Kak lili menatapku beberapa detik,
sambil terus berusaha memasukan seluruh kangkot jeruk di tangannya.
“lu gak bakalan nyuruh thanael buat
macarin temen satu klub sepakbola nya kan ntar?”
“astagfirullah kak, lu secara gak
langsung udah ngedoain nhael buat kaya gue…”
“hahahah gue becanda dodol garut…” ia
loncat dan memelukku. “tentu gue seneng banget nu, mereka berdua bener – bener
perlu mencontoh beberapa hal dari lu dan iras..”
“tapi gue masih mikir kapan moment
yang pas, gue gak pengen gak punya waktu buat mereka berdua, lu udah tau kan
segimana sayangnya gue ama mereka berdua…”
“yeah I know, aku sangat tahu itu
nu..” ia memelukku lagi.
Mas gede dan iras muncul di pintu,
tadi mereka berdua memutuskan untuk mencari kopi. Kak lili menghampiri mas gede
ketika iras berjalan ke arahku.
“hy love..” seperti biasa, mau pisah
berapa lamapun, berapa menitpun kalau kami bertemu iras akan menciumku, tidak
peduli di dahi, di tangan, di pipi, di mata, atau di bibir. Kali ini ia mencium keningku lagi, kak lili
loncat ke pangkuan mas gede yang duduk di sofa.
Ia rupanya tidak melihat kalau sofa itu masih lebar dan ia memilih duduk
di pangkuan suaminya itu.
“hih kak gak tau malu banget lu, itu
kan sofa masih lebar, ngapain lu duduknya di sana, yang ada di depan lu tuh
anak di bawah umur semua…” kataku sambil membiarkan iras duduk di sebelahku.
“suka – suka gue bontot, lagian gue
kan udah nikah, syah – syah aja dong, apalagi ini new york, gak ada FPI…”
Aku, iras dan mas gede tertawa
mendengarkan celotehannya. Mas gede
bahkan mencium pipinya, sejak mereka pacaran pas kuliah sampai sekarang,
mesranya masih sama. Bahkan menurut pengakuan
kak lili, Cuma mas gede yang bener – bener udah ngambil hati dia. Kutu buku dan
anak rumahan itu yang bisa bikin dia bertekuk lutut dan minta dinikahi, padahal
ia adalah seorang playgirl ulung yang setiap akhir pekan berganti teman kencan.
“kita juga cepet – cepet nikah ya, biar
mesranya makin awet kaya mereka..” kataku pada iras.
“lu pikir nikah itu apaan, hah?” kak
lili bangkit dari pangkuan mas gede kemudian berkacak pinggang. “lu bener –
bener udah siap jadiin dia bagian dari hidup lu, hah? Apa lu bisa jagain janji
yang lu ucapin sekali tapi harus lu jaga seumur hidup…”
‘janji yang diucapkan sekali tapi
harus dijaga seumur hidup’ aku tertarik dengan kata – kata master psikologi
itu.
“kami terus belajar kak, ini bukan
masalah siap atau tidak, tapi kewajiban, dia sudah melakukannya dengan baik…”
tiba – tiba sahut iras. Tangannya sudah
mulai memegang jari – jariku kuat, sesuatu yang tidak bisa tidak ia lakukan
jika kami sedang berdekatan.
“oke fine, melawan kisah romantis
kalian memang susah..” kakak ku duduk lagi setelah mendengar sanggahan
iras. Namun kini ia lebih memilih duduk
di sebelah mas gede, tidak di pangkuannya lagi.
“tapi memang kalau melihat kalian
berdua sekarng, mas yakin menikah bukan persoalan yang sulit bagi kalian
berdua, apalagi semua keluarga sudah saling tahu, tenang saja, pernikahan tidak
sesulit yang banyak orang katakan, tidak perlu sok tahu sama apa yang bakal
tuhan rencanakan, yang penting kalian
tidak pernah mencoba untuk menyakiti antara satu sama lain…”
Aku dan iras diam mendengarkan
perkataan mas gede yang lumayan panjang, aku melihat orang di sampingku, di
wajahnya terlihat senyum yang melengkung optimis, iras pendengar yang baik dan
ia selalu percaya pada apa yang dikatakan pengalaman orang lain.
“you hear that?” kataku pada iras.
“yes, I’am..” jawabnya pelan.
Satu hal yang ku yakini adalah, aku
tidak pernah takut mendapat masa depan yang seperti apapun asalkan itu dengan
iras.
…
Menjelang malam, di dalam ruangan
hanya tinggal aku dan amih, ia baru selesai menyuapiku makan. Mengantikan tugas iras, yang harus ke airport
mengantarkan rere, niko, kak lili dan mas gede yang harus pulang malam ini
juga. Mama sedang berbincang dengan
dokter – dokter lainnya di ruangan dokter, untuk mengetahui keadaan ku yang sebenarnya.
“nu, amih bawa ini dari bandung…” ia
mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya, sebuah barang yang sepertinya sangat
pribadi bagi kami berdua, sampai amih ingin menyerahkannya ketika hanya tinggal
kami berdua.
Aku mengambil sesuatu yang amih
berikan itu, ia membungkusnya rapi dengan kertas berwarna kuning pucat.
“apa ini mih..” tanyaku hampir
kebingungan. Bentuknya yang persegi, dan
memiliki permukaan kaca di balik kemasannya, aku tahu kalau ini sebuah foto,
sebuah foto di dalam sebuah figura.
“bukalah…” kata amih.
Aku merobek kemasannya, kemasan yang
aku tahu sudah susah – susah amih buatkan dan ia upayakan serapih mungkin,
hingga aku pun sangat hati – hati membukanya.
Betul dugaanku, sebuah figura, dengan
potoku dan papa di dalamnya. Sebuah foto
lama.
“amih pikir inu akan sangat membutuhkan
itu…”
Aku mengabaikan perkataan amih, di
dalam foto itu, aku di pangku oleh ayah, seusai menjuarai liga basket anak –
anak pertamaku di Singapore. Ia mengangkatku tinggi, dengan memakai topi yang
selalu dipakainya setiap kali kami menonton sebuah pertandingan atau ia yang
menonton pertandinganku. Waktu itu mama yang memotretnya, melalui kamera
kesayangannya. Aku baru sadar
kecintaanku pada fotografi ternyata menurun dari mama
Aku ingat, ia mencetak jadi dua foto
ini, satu ia simpan di ruangan kerja mama di rumah satu lagi ia panjang di
kantornya di bandara.
“kamu idola papa mulai saat ini…”
katanya waktu itu sambil menatapku bangga, ketika memperlihatkan hasil cetakan
foto yang baru ia ambil dari studio “kamu akan jadi atlit basket masa depan
yang hebat, main di NBA dengan trofi yang akan kamu kasih ke papa…” kata dia
sambil mengucek – ucek kepalaku, kepala anak SD kelas empat.
“bagaimana kalau inu tidak akan
bermain basket lagi pa…” kataku sambil mengintipnya dari sebrang meja makan,
menghabiskan sereal sarapanku.
Ia menatapku sebentar. Kemudian duduk di sebelahku.
“walaupun kamu akan jadi atlet yang
hebat sekali, tapi kalau kamu tidak mau tidak apa – apa. Jadilah apapun, jadilah anak yang berguna,
dan ingat jangan kecewakan mama…” katanya ia merebut beberapa butir sereal ku.
“mama? Mama kan cerewet pa, pasti inu
bakal dimarahin mama terus sampe gede..”
“itu kan yang membuat kita semua
sayang sama dia, pokoknya jangan pernah kecewakan mama ya, kalau papa, kamu
sudah sangat membuat papa bangga, remember I’m your big fans sir..”
Katanya sambil mengangkat tubuhku,
membawanya melayang – melayang sampai ke ruang depan. Ia janji akan mengantarkanku ke sekolah pagi
ini.
“hahaha…” aku cukup geli dan senang
papa perlakukan seperti itu “apa inu sebelum ke sekolah boleh ke mcd dulu? Beli
cola sama burger?”
“tentu kid, ini waktunya kita berdua,
tanpa mama…”
Kami berdua tertawa lagi. Hingga
masuk mobil dan pergi ke sekolah, seperti janjinya pagi itu aku boleh beli cola
dan burger sebelum berangkat ke sekolah.
Sesuatu yang sangat dilarang mama untuk dijadikan bekal makan siangku di
sekolah. Tapi bersama papa, itu berarti
hari kebebasan dan malamnya, ia akan dimarahi mama habis – habisan.
Seperti waktu itu, ketika malam tiba,
mama menemukan kemasan burger di tasku, lalu dia menginterogasiku, aku dan
papa, kami adalah partner hebat, sehingga aku bilang kalau itu adalah kemasan
bekas minggu lalu ketika kami berakhir pekan, namun mama tidak percaya lalu dia
bertanya pada papa.
Entah apa yang dikatakan papa, sampai
ia ketahuan dan kedoknya terbongkar.
Lalu kami berdua seperti pesakitan dimarahi habis – habisan di ruangan
televisi.
Namun setelahnya, papa malah
mengajakku untuk melarikan diri dari rumah dan mencari restoran yang menjual
pizza. Bagiku, papa adalah pemandu
petualangan dan idola terbesarku, selain ia juga yang mengidolakanku.
Aku menatap foto itu lagi, di
dalamnya hanya ada kami berdua yang tersenyum lebar dan bahagia. Untunglah aku
menyimpan banyak sekali foto ku bersama papa, karena kalau tidak, aku takut,
semakin tahun, ingatanku tidak mampu lagi kenal bagaimana senyumnya, caranya
tertawa, suaranya atau apapun yang terkait dengannya. Ini hal terburuk
kehilangan seseorang bahwa untuk mendengarnya memanggil nama kita saja kita
sudah lupa.
Tangan amih mengusap pipiku yang
basah. Aku menatapnya. Aku sudah janji sejak lama untuk tidak pernah
menangisi apapun soal papa, namun dia hebat, kenangan kami yang hanya ada
sedikit, membuatnya begitu kuat untuk terus ku ingat dan ku ingat lagi, bahkan rasa duka dan kehilangan semakin tahun
bukan semakin hilang, justru bertambah.
“papa marah gak ya mih sama inu?”
kataku sambil terlentang dalam pelukan amih.
“inu ingat tidak, kalau papa adalah
orang yang selalu duluan untuk memuji apapun yang inu lakukan, prestasi apapun
yang inu raih, juara basket, juara taekwondo, festival music, ingat betapa dia
yang tidak pernah duduk selama menyaksikan inu bermain biola dan piano? Atau
ketika inu menjuarai pidato bahasa inggris dan lomba sains antariksa, ingatkan
papa sampai teriak – teriak “that’s my boy that’s my boy..” di tengah – tengah
penonton..” kata amih mengingatkan.
“ya mih, inu ingat semua…” kataku
sambil terus berusaha menyembunyikan perasaan haru. Sewaktu pindah dari Jakarta ke paris, aku
tidak sempat membawa satupun foto papa, atau foto ketika kami berdua. Aku tidak sadar, bahwa dimanapun aku akan
selalu merindukannya.
“jangan bilang papa akan marah, dia
akan sangat sayang sama inu sampai kapanpun…”
Pintu terbuka, mama muncul di
sana. Ia melihat kami berdua yang tengah
berpelukan. Dan menengok sebentar pada
benda yang ku pegang.
“sampai sekarang, mama selalu saja
merasa orang itu masih ada sama kita, dia memang luar biasa bisa membuat mama
jatuh cinta sampai seperti ini…” tangan mama mengambil figura foto di tanganku
“ah bahkan senyum kalian sama..” katanya sambil mulai terisak “kalian begitu
mirip…” mama menelungkupkan foto tersebut ke dalam dekapannya, kini amih
menghampirinya sambil memeluknya juga.
Aku tahu, alasan kenapa iras begitu
mati – matiannya menjagaku.
…
Sudah beberapa malam, tidurku nyenyak
sekali walaupun sedang sakit. Kehadiran
orang – orang yang menyayangiku jadi alasan lainnya, mereka semua di sini. Amih dan mama memutuskan untuk pulang ke
Indonesia nanti sore dan dokter sebenarnya sudah memperbolehkanku pulang namun
iras ingin aku tetap di sini sampai aku benar – benar pulih.
Aku dibangunkan oleh seorang suster
pagi ini, iras yang tidur di sofa bangkit ketika suster tersebut berdiri di
dekat tempat tidurku.
“what are you doing?” Tanya iras pada
suster yang tampak sedang menyiapkan perlengkapan mandi.
“dia harus mandi, saya akan
membantunya mandi…” jawab suster tersebut.
“baiklah biar saya yang melakukan,
tidak apa – apa, biar saya saja..” kata iras, dengan nada suara agak mengusir
suster tersebut.
Akhirnya suster yang tampak seperti
orang india itu keluar dari ruangan, iras mengechek lagi air dan perlengkapan
lainnya. Ia memeras waslap dengan air, kemudian menyerahkannya kepadaku.
“terlalu panas gak love?” katanya
sambil menempelkan waslap tersebut di keningku.
“oke gak apa – apa…” jawabku sambil
berusaha duduk.
“shuttt shuttt…” iras melarang “jangan
duduk dulu, kita mandiin inu sambil tidur saja, tenang iras masih ingat cara yang
inu ajarin…”
Aku tersenyum melihat kesigapannya. Ia
mulai menyiapkan tiga buah waslap, satu untuk membasahi satu untuk sabun satu
lagi untuk mengeringkan. Iras memang jarang sekali mau dirawat di rumah sakit
kalau jatuh sakit, namun jika di rumah dan ia harus istirahat total, aku yang
merawatnya seringkali memandikannya di tempat tidur. Sempat ku lakukan berkali – kali, sampai dia
bilang ia ingat caranya.
“yang harus iras lakuin pertama apa?”
ia tampak mengingat – ingat, bertanya tapi tidak mengharapkan jawabanku.
“mulai dari wajah sayang…” kataku
padanya.
“oh iya..” ia mengambil waslap yang
basah pertama kali, kemudian membasahi satu persatu bagian wajahku. Tangannya dengan
hati – hati, membersihkan permukaan kelopak mataku, dahi, hidung hingga ke
bibir.
“muach…” ia malah mencium bibirku
yang baru saja dibasahinya.
“itu sabunnya bukan?” kataku sambil
tersenyum lebar.
“itu yang barusan obatnya sayang…” ia
mengambil waslap yang kering kemudian mengeringkan seluruh permukaan wajahku. “pasti
bakalan cepat sembuh..”
“sekarang buka baju inu, dan tubuh
bagian bawah tutup sama selimut…” komandoku, mengingatkan aku pada beberapa
pasien dulu yang sering ku mandikan.
Tangan iras membuka baju tidurku, ia
menyimpannya di samping tempat tidur. Hingga
aku bertelanjang dada. Ia mengambil waslap yang basah dan membersihkan tubuhku
bagian depan. Ia menggantinya dengan
waslap yang berasal dari air sabun, sehingga tubuhku agak sedikit harum
sekarang.
Iras kemudian membasuhnya dengan
waslap basah lagi sebelum mengeringkannya. Ia mengambil handuk, untuk mengeringkan
tubuhku.
“sekarang sayang tidurnya menyamping
kita harus membersihkan punggungnya..” komando iras.
Aku berguling ke arahnya setelah
permukaan dada dan perutku sudah terasa kering.
Tanganku memeluk tubuh iras. Ketika ia membasahi, menggosokan waslap
yang bersabun, sampai kemudian mengeringkannya.
“padahal sebenarnya ini pekerjaan
suster ras, kamu bisa saja tidur lagi dan tinggal melihatnya…” kataku.
“untuk mencintai kamu, menjaga kamu,
semua hal harus iras lakukan, lagipula lihat, iras harus rela ada orang lain
yang melihat tubuh kami seperti ini? Menyentuhnya? Iras rela tarung sampai mati
sama orang yang melakukan itu…”
Aku terlentang kembali, iras tiba –
tiba mengangkat selimutku.
“mau ngapain kamu?”
“mandi bagian bawah sayang..”
“tangan inu dulu bersihin..” kataku
sambil tersenyum lebar “bagian situ aja seneng, buru – buru…”
“hahahaha iya iras lupa..” ia menutup
pinggang hingga kaki ku dengan selimut lagi, kemudian tangannya membersihkan
mulai dari pangkal lengan hingga ujung – ujung jari tanganku.
“nah sekarang baru buka selimutnya,
bukain juga celananya…”
Tangannku meraih selimut tebal yang
menutupi bagian bawah tubuhku, kemudian menutupi seluruh permukaan tubuhku
bagian atas. Iras sudah membuka celanaku, namun ia malah berkacak pinggang
tampak kebingungan.
“jangan bilang kamu bengong gitu Cuma
karena inu gak pake boxer…”
“hahaha..” ia malah tergelak “bukan
sayang iras bingung harus ngapain dulu, lagian ada tiga kaki di sini…”
Hampir aku menendangnya. Dia pikir gajah, yang alat kelaminnya bisa
dijadikan kaki ke lima ketika mereka berenang.
“bersihkan kaki dulu, bagian favorit
kamu nanti terakhir, bodoooohhh…”
Entahlah, iras bergegas ke arah
baskom – baskom itu sambil terlihat senang. Ia mulai membersihkan kakiku satu –
satu, mulai dari pangkal paha hingga ke ujung – ujung jari kakinya.
“suatu saat, kalau kita tua nanti,
salah satu dari kita sakit, tidak bisa kemana – mana, dan harus terus di tempat
tidur, kita pasti akan sering melakukan ini bukan?” kataku sambil memperhatikan
wajahnya yang tampak sungguh – sungguh dengan pekerjaannya.
Matanya beralih menatapku.
“tentu sayang, iras ingin belajar
menjadi pasangan yang paling baik dalam melakukan hal itu.. meskipun iras tidak
pernah mau terjadi apa – apa sama kamu..”
Iras selesai, ia membantuku berganti
pakaian yang baru, juga membantuku berdiri, aku sudah mulai bosan terus
berbaring di tempat tidur. Beberapa orang
suster merapihkan tempat tidurku, mengganti sprei dan sarung bantalnya dengan
yang baru. Aku berdiri menghadap
jendela, menyaksikan jalanan kota boston yang selalu ramai.
Iras memelukku dari belakang, berkali
– kali ia mencium pundakku, sampai akhirnya menyandarkan kepalanya di sana.
“kamu selalu berupaya menjadi kekasih
yang sebaik mungkin, padahal kamu sudah jadi yang terbaik..”
Aku memegang tangannya yang melingkar
di pinggangku.
“iras baik buat inu, padahal itu
semua karena inu yang sangat baik pada iras, tidak usah membahas hal – hal yang
tidak perlu dibahas, seperti yang iras bilang, selama iras hidup, menjaga
sayang adalah apa yang iras hirup dan iras hembuskan, kamu hidup dan mati iras,
ingat?”
Aku mengangguk, menyetujuinya. Ia memasangkan
handsfree bagian kiri di telingaku dan bagian kanan di telinganya. Ia mengajakku mendengarkan sebuah lagu
soundtrack lama kami.
“satu yang tak bisa lepas percayalah
hanya kau yang mampu mencuri hatiku, aku pun tak mengerti, satu yang tak bisa
lepas, bawalah kembali jiwa yang luka.. dan perasaan yang lemah ini, menyentuh
sendiriku…”
Kami berpegangan semakin kuat, bahwa
dalam hidup tidak ada satupun jaminan, siapa yang hari ini datang dan besok
akan pergi.
…
Tidak ada komentar:
Posting Komentar