Minggu, 19 Januari 2014

Prioritas Pria



Aku pamit dari bengkel Dharma, seorang teman lama yang ku kenal sejak aku masih duduk di kelas satu SMA. Dulu, ardan yang mengenalkannya pada seluruh astroboy. Dharma lah yang punya andil cukup besar dalam rangka menjadikan kami pelajar yang senang balapan liar di jalanan sepi di seluruh bandung waktu itu.
Beberapa waktu lalu, saat aku dan iras ke itali, aku menemukan sebuah velg racing dari ferarri dan ku lihat velg tersebut cocok juga untuk di pasang di si juke, sayang mobilku masih di Indonesia dan waktu itu aku memutuskan untuk tidak membelinya.  Karena ku pikir aku masih lama untuk pulang ke Indonesia.  Dan beberapa minggu ini aku pulang, ku temukan juga velg depan si juke mulai bengo, lalu aku menghubungi dharma berharap ia bisa membelikan velg tersebut.
Ternyata ia bisa dan hari ini barang pesananku sudah datang. Ia juga memasangkannya untukku. Aku, ardan dan yang lain memang hanya mempercayakan mobil kami kepadanya.  Bahkan untuk sekedar ganti oli ataupun steam mobil kami. tidak jarang, sebagai langganannya kami sering dapat diskon. Meski setahun belakangan ia mengaku merindukan kami semua nongkrong bareng di bengkelnya, karena kesibukan dan kami semua yang sekarang tidak lagi tinggal di Indonesia.
Aku dan iras kembali lagi ke bandung, setelah iras tidak bisa mengalahkan saran mama untuk terafis di sini. Mama menyarankan agar kami menempati rumah keluarga iras di ledeng.  Agar kami punya waktu lebih untuk kami berdua, menurut mama. Bagaimanapun kini kami sudah memiliki kehidupan sendiri dan kata mama juga sudah bukan saatnya lagi ia ikut campur untuk urusan kami berdua.  Sarannya untuk kesembuhan iras hanya sebatas keinganannya saja memberikan perhatian yang cukup.
Iras setuju akhirnya.  Ia mau menempati rumah yang sebenarnya jarang sekali ia kunjungi kalau lagi di bandung. Padahal menurutku rumah yang kami tempati sekarang jauh lebih menarik dan nyaman di tinggali.  Rumahnya besar dan berada di perbukitan.  Aku bahkan rasanya dapat menghirup aroma bunga dan segala macam daun yang dibawa angina dari lembang.
Inilah akhirnya kami, dua orang semi pengangguran, tanpa pekerjaan. Kuliah kami bukan cuti ataupun berhenti, kami tetap mengerjakan thesis kami walau di Indonesia. Aku tidak ingin samasekali kondisi ini malah mengacaukan segalanya, padahal iras jelas – jelas tidak mau kalau keadaan sakitnya merepotkan kami berdua.
Baik aku atau iras, kami berdua sama – sama belum tahu kapan akan kembali lagi ke paris atau mungkin kota lain di Negara lain. Bagaimanapun juga, bisnis kecil – kecilan yang kami mulai harus kami pertanggungjawabkan dengan melanjutkannya. Walau aku benci kota besar, namun hidup kami selanjutnya pasti berlabuh di salah satu sudut kota manhattan.
Aku sudah berjanji pada mama dan semua keluarga iras, aku akan merawatnya dengan baik hingga ia sembuh total dan bisa berjalan lagi seperti kondisi normal.  Ia kini sudah mampu berkeliling rumah, tanpa menggunakan bantuan tongkat dan yang lainnya.  Minggu depan, terafisnya bilang ia akan mulai mengajari iras naik tangga.
Ku pikir ia bisa melewatinya dengan mudah dan relative singkat, bagi orang kebanyakan, tidak seperti itu, mereka benar – benar membutuhkan waktu enam bulan bahkan hingga satu tahun untuk bisa berjalan normal lagi seperti biasa. Namun iras, memasuki bulan kedua ia bahkan sudah bisa duduk, berdiri, berjalan – jalan kecil hingga akhirnya terlentang di tempat tidur tanpa bantuan.
Terakhir aku membawanya ke dokter spesialis orthopedic, menunjukan bahwa penyambungan tulangnya seratus persen berhasil dan tidak ada kesalahan yang berarti, padahal sewaktu memasangnya aku takut sekali kalau sampai pen yang dipasang terlalu panjang atau terlalu pendek, itu bisa menyebabkan cacat permanen, yaitu tidak simeteris antara kaki kiri dan kaki kanannya.
Aku bertanggungjawab penuh untuk itu karena aku yang melakukan pembedahannya sendiri.  Dibalik ketakutanku pada kegagalan medis yang mungkin bisa dilakukan oleh dokter atau tenaga medis yang lain.
Ku turunkan semua barang belanjaanku daru bagasi mobil, kebanyakan persediaan makanan dan berbagai kebutuhan kami. mama mengutus seorang pembantu untuk membantu kami membersihkan rumah, untuk urusan masakan, kini setelah dua tahun tinggal bersama, iras tidak pernah mau memakan masakan orang lain.  Apapun buatanku pasti ia makan, tanpa pernah protes atau ngomel atau bilang tidak suka, kurang inilah, kurang itulah, apapun yang ku buat pasti iras makan.
Mama memang benar, aku membutuhkan bantuan orang lain untuk membersihkan rumah besar ini. Dan aku tidak pernah tertarik untuk merapikan ruangan lain selain tempat tidur dan ruangan tempatku dan iras bisa makan atau nonton televisi.
“inu pulang…” aku masuk ke dalam rumah, sambil menenteng belanjaanku, beberapa di antaranya tas kertas berisi buah dan sayur juga makanan lainnya yang berupa bahan – bahan organic. Bahan makanan yang sudah hampir setengah tahun ini mulai kami konsumsi, aku tidak mau membiarkan satupun bibit penyakit menghinggapiku atau orang – orang yang ku sayangi. Sebuah pola yang sebenarnya diajarkan mama juga, kebun bungannya di belakang rumah sekarang sudah berganti dengan beberapa tanaman sayuran dan buah – buahan.
“hay love..” iras yang sedang duduk menonton televisi menyambutku, ia menengadahkan kepalanya, untuk melihatku yang datang dari arah belakang tubuhnya.
Ku simpan barang – barang di dalam pelukan dan tanganku di samping iras.  Kemudian ku lingkarkan tanganku di lehernya, wajahnya menghadapku, aku tersenyum sebentar sebelum akhirnya kedua bibirku mencari bibirnya.
Ada rasa hangat yang mengalir, ketika kecupan demi kecupan berlangsung dari detik ke detik, ketika bibirku di kecup kian dalam dan mesra juga dalam kelembutan yang luar biasa, sampai aku lupa membuka mata, ketika ciuman iras membuatku terbang. Aku beralih, pindah ke bagian depan kursi. Ke hadapan iras.
Kami saling menatap selama beberapa detik, sebelum akhirnya aku melompat, menyilangkan kaki ku pada pinggang iras.  Tangannya mendekap punggungku, awalnya ia mengusapnya di balik kaos yang ku kenakan, sebelum akhirnya tangannya menulusup masuk dan mengelus seluruh permukaan punggungku. Bibir kami tidak berhenti, bahkan ketika mulai ku rasakan, lidah mungil iras pelan – pelan menelusuri seluruh isi rongga mulutku, rasanya menggelikan namun di beberapa detik kemudian, aku membalasnya, memasukan lidahku hingga akhirnya ia menghisap penuh dan membuatku kewalahan.
Tangan iras menarik kaos yang ku pakai, menanggalkannya dari tubuhku, aku menurut, mengangkat kepalaku dari kepalanya, ketika ia melapas kaosku kemudian melemparkannya.  Aku pun membantunya membuka switer hitam yang ia pakai.  Kami sama – sama bertelanjang dada sekarang.  Aku mengelus bahu dan pangkal lengan iras yang mulai menegang. Ia juga masih mengelus – elus punggungku.
Aku agak sedikit khawatir dengan kakinya yang terjuntai di lantai, makanya aku sebisa mungkin tidak banyak bergerak, hanya duduk di pangkuannya. Ku telungkupkan kedua tangannku di wajahnya. Ia malah bergerak ke kiri dan kanan berusaha mencium kedua punggung tanganku, wajahnya bergerak maju, kedua tanganku kini menelungkup di rambutnya. Iras menciumku lagi, lidahnya masuk lagi namun kemudian ia mengeluarkannya, lidahnya yang menggetarkan seluruh saraf yang bersembunyi di balik kulit ku, membuatku mengggelinjang ketika ujung lidahnya menyapu mulai dari dada, leher hingga kembali ke bibirku.
Aku terbang selama beberapa detik, aku menunduk, iras menggila, lidahnya semakin buas, ketika mulutnya meniup seluruh permukaan tengkuk ku, kemudian lidah berwarna merah mudah itu menyapunya hingga ke telinga. Aku hampir menjerit namun iras tahu kapan kedua bibirnya harus kembali mencium bibirku.
Entahlah, aku menjadi tidak sabar dengan benda tumpul yang aku duduki sejak tadi, kancing celana iras lepas, tidak kuat menahan kekuatan yang menyeruak dari dalam.  Begitu ku buka, patung liberty pun mencuat ke permukaan.  Kebiasaan kami berdua sejak lama, apabila di dalam rumah, tidak akan mengenakan pakaian dalam.
“arrggghhhh…” lolong iras, ketika ku tarik seluruh badan patung liberty miliknya dan meremasnya kuat – kuat. Aku tersenyum melihat ekspresinya. Tangannya kini yang bergerak lihat, berusaha membuka sabukku.
“sabuknya susah sayang…” iras mengeluh. Aku tersenyum, tidak ingin membantunya. Ia rupanya tetap berusaha, sampai sabukku lepas.  Tugasnya kini melepaskan kancing celana, kemudian menarik agak rendah kolor basket yang ku kenakan sebelum akhirnya melakukan hal yang sama pada brief yang ku pakai di bagian dalam. “gini nih kalau berlapis – lapis..”
Iras protes lagi, aku tersenyum cukup lebar kali ini sambil mencium bibirnya lagi.
“tanggal 10 februari mama ingin kita berdua ke Singapore, kalau bisa mama juga diajak, mama dan papa akan merayakan ulang tahun perak pernikahannya di sana..” kata iras, ia tidur di atas dadaku. Kami berdua masih di depan televisi walau sekarang sudah mengenakan pakaian lagi.
“tanggal 10? Mama dan papa menikah di tanggal sepuluh februari?” tanyaku pada iras “mirip banget sama tanggal jadian kita..”
“itu dia, itu berarti tanggal sepuluh bulan depan, kita tidak rayakan dulu lah ya, kita bisa numpang pesta di pestanya mama sama papa..”
Aku mengangguk, mengiyakan iras, membayangkan tanggal sepuluh bulan depan lewat begitu saja. Ini semua persoalan prioritas, mau sudah selama apapun iras bersamaku ia saat ini masih menjadi milik keluarganya.
“oke, tapi malamnya kita mungkin bisa kabur ke sentosa island atau belanja sepatu futsal di sana? Sepatu futsal inu rusak…” kataku sambil bangkit dari tempat duduk kami dan berjalan ke arah dapur, mencari sesuatu yang mungkin bisa kami makan berdua. “ya itu juga kalau iras mau…”
“gak usah mending ya, kita kan nanti di hotel, udah pasti itu di tempat ramenya di sana, jadi jalan – jalannya bisa disimpen ke besoknya..”
“he’em..” aku menjawab walau cenderung hanya sekedar bergumam. Seluruh belanjaan yang tadi sudah ku rapi kan, ku ambil lagi beberapa, kebanyakan buah – buahan, kami berdua bukan tipe pemakan kacang – kacangan. Ya kami tentu sangat tidak menyukai ‘kacang’ bukan. Hahaha
Hp di kantong celana ku berdentam.  Pemberitahuan dari fesbuk.  Ada orang lain yang ngajak main game. Ah masa – masa main konsol game, PES, Fifa, atau yang lainnya sudah lama lewat. Akhirnya aku malah menulis sebuah status di sana.
Prioritas pria itu: 1) keluarga 2) kerjaan 3) hobi 4) pacar
Mau jadi prioritas? Makanya nikah...
Biar jadi keluarga.
Kemudian aku jalan kaki dengan mangkok berisi potongan – potongan pisang dengan yoghurt. Iras masih duduk pada sofa di depan televisi. Aku duduk di sampingnya, mata kami tertuju pada layar televisi, iras asyik menonton berita mengani bursa saham. Satu – satu tayangan favoritnya yang ada di televisi.
Aku makan sendiri, iras bilang, satu sisir pisang yang hilang dari kulkas itu tadi ia yang menghabiskan sebelum aku pulang. jadi ia tidak mau makan ketika aku tawari. Tangan iras meraih ponsel raksasanya yang ia letakan tidak jauh dari tubuhnya.
“emang selama enam tahun ini ngerasa ada di no empat?” iras menatap lekat kepadaku. Kepalaku berputar ke arahnya, seketika aktifitas yang ada di mulutku berhenti. Aku rasa aku salah bicara kali ini “apakah sia – sia yang sudah iras lakukan, bahwa seluruh hidup iras itu hanya soal inu? Apa lagi yang perlu iras lakukan untuk bisa menegaskan itu lebih dalam lagi, sayang…”
Ada bunyi kekhawatiran di ujung kalimat yang barusan iras ucapkan.  Ku putar lagi kepalaku, kali ini lebih ke menunduk, sambil mengaduk – aduk tak jelas pisang dengan cairan yoghurt di tanganku.
“kamu hidup iras sayang dan iras tidak pernah memberikan nomor pada setiap hal yang iras lakukan dan iras pikir itu harus disusun berdasarkan prioritas..” mata iras menatapku semakin dalam dan semakin terasa menyayat. “kamu hidup iras, kamu hidup iras…”
“kamu hidup iras…” iras bahkan mengulang sampai ketiga kalinya kalimat yang sama.
“I know… yes, I really know…” kataku pelan.
“baiklah, kalau acara itu terasa cukup menganggu pikiran sayang, waktu kita, oke kita tidak perlu datang ke sana, iras bisa bilang kondisi iras belum cukup pulih, jadi kita berdua masih tetap bisa tinggal di bandung…”
“no no no…” aku menggeleng. Ku letakan mangkok di tanganku ke atas meja, kemudian ku peluk tubuh yang baru mendapatkan dua kilo lagi berat badannya. Sesuatu yang bagus untukku. Aku takut iras terlalu kurus. “I’m so sorry, I’m so selfish..”
Tangan iras mengusap punggung ku lembut, berkali – kali bibirnya mencium pipiku.
“iras sangat sayang inu, sangat sayang…”
….