Perjalanan terjauh yang
tidak akan pernah melelahkan, tentu menjalani hidup dengan kamu. Tidak ada alasan untuk merasa lelah, tidak
karena jauh, asal denganmu aku selalu ingin terus berada dalam sebuah
perjalanan.
Aku perlu teman, itu alasan
singkat kenapa harus kamu. Kenapa harus
kita yang diciptakan dengan baik untuk satu sama lainnya. Hati kita yang berpasangan, kita yang saling
mencari, kita yang pernah berlari, kita yang pernah saling membuang muka,
sebelum akhirnya merasa lelah bermain – main dan kembali ke hati tempatnya
berumah.
Ini hari kedua kami di
paris, dan iras sudah tidak ada. Ini
hari jum’at pagi, berarti sudah hari sabtu di Indonesia. Aku melihat ke luar jendela, hamparan kebun
anggur milik tetangga kami membentang seluas mataku dapat melihat. Memantulkan sinar matahari di kulit buahnya
yang membulat genit. Juga sensasi kesejukan yang ditimbulkan oleh warna hijau
daunnya.
Akhirnya inilah lembar baru
hidup kami berdua, mulai lusa kesibukan ku dan iras hanya akan terfokus di
kampus kami masing – masing yang ternyata kami tidak satu kampus walau dalam
satu almamater. Baiklah tidak apa – apa,
itu alasan kenapa ada dua ford warna hitam dan metalik di depan.
Rumah kami, sebuah rumah
bergaya eropa klasik. Yang ditinggalkan pemiliknya, kami membelinya dari anak
pemiliknya, orang tua mereka keduanya meninggal di sini, di waktu yang
sama. Mereka ditemukan meninggal sedang
dalam posisi berpelukan di atas ranjang ini, yang aku dan iras tiduri semalam.
Anak – anaknya sudah
dewasa, mereka memilih untuk tinggal di kota dan sebagian lainnya pindah ke
luar negeri. Sehingga memutuskan untuk
menjual rumah mereka, entah bagaimana caranya iras sampai mendapatkan rumah
ini. Namun aku tahu ia sudah memilih
rumah yang bagus. Rumah yang
berlantaikan kayu dari pohon maple dan masih memiliki sebuah perapian.
Kami tidur di kamar utama
di lantai satu, di lantai dua ada beberapa kamar untuk tamu atau anak – anak
kami nanti. Dan loteng untuk menyimpan
beberapa barang yang tidak akan lagi terpakai.
Namun yang paling ku suka
adalah, kami memiliki halaman yang luas.
Kami hampir berada di atas sebuah gundukan tanah yang menggunung. Sekeliling rumah tidak ditumbuhi bunga
satupun, namun dipenuhi oleh rumput yang hijau sekali. Kami tidak memiliki pagar, namun di tepian
jalan, rumah kami di kelilingi oleh deretan pohon maple yang kini daunnya
tampak mulai menguning, coklat, merah karena di paris tengah musim gugur.
Sebuah jalan kecil berbatu
menghubungkan garasi rumah kami dengan jalan besar. Sekitar 4 kilo meter ke
utara itu adalah jantung kota paris, di mana Eiffel berada. Ya kami tinggal di tepi kota paris, di bagian
luarnya, kami tidak memilih untuk tinggal di kota. Suasana pedesaan perancis memang yang kami
tuju dari dulu. Mengingatkan kami akan
lembang.
Sepanjang jalan ke rumah
kami berdua adalah hamparan perkebunan anggur, buah – buahan yang lain, bahkan
aku sempat melihat kebun lili, rose bahkan bunga matahari sewaktu berjalan –
jalan mencari sambal Indofood kemarin.
Melihatnya di waktu siang begini pasti akan lebih menyenangkan.
Di halaman belakang, kami
memiliki sebuah pohon maple yang berukuran lebih besar dengan sebuah ayunan
yang menggantung di salah satu dahannya. Di bawahnya adalah rumput – rumput
hijau juga guguran – guguran daun maple tua yang akan jadi menarik untuk kami
gelar tikar dan sedikit berpiknik untuk makan siang berdua di sana. Dengan pamandangan utamanya Eiffel Tower!
Hampir dari setiap jendela
di rumah kami, kami dapat melihat Eiffel, sosok yang selama ini telah menjadi
symbol bagi cinta ku dan iras. Untuk
kalimat forever dan everlast. Kenapa harus Eiffel, karena hampir lima tahun
sekali Eiffel dicat kembali agar ia tidak karatan.
Seperti itu juga cinta
kami, begitu masalah mengkerutkan kami, akan kami rapihkan lagi, kusutkan lagi
kami rapihkan lagi. Tidak ada akhir
perjuangan untuk cinta yang diinginkan oleh dua orang. Aku dan iras.
Menggambarkan kami bahagia.
Sudah sangat sulit. Kami benar – benar
pasangan yang sudah bahagia saat ini. Bahkan di balik dingin udara musim gugur
prancis hati kami masih menyala untuk menghangatkan satu sama lain. Ini yang
menjadikan alasanku memakai baju di dalam rumah, selama di Indonesia aku bisa
tahan seharian tidak berpakaian di dalam rumah, walau aku tidak tahu iras tahan
atau tidak.
Akhirnya ada betulnya kata
yang itu bahwa setiap dari kita pasti akan mengalami hal yang berat sebelum
bertemu dengan orang yang meringankan segalanya di sisa perjalanan. Ini sisa
perjalanan kami, perjalanan yang masih panjang dan tidak akan ku tekur
ujungnya. Inilah saat membuktikan bahwa
aku yang paling setia dan hanya aku yang paling layak untuk cinta iras.
Tidak ada satupun hati yang
bisa membuatku nyaman selain iras, ia yang dengan senyumnya menyabari setiap
amarahku, setiap sikap ke kanak – kanakanku, setiap diamku, setiap tawa, setiap
marah yang selalu ia dengar dengan baik.
Tidak ada yang bisa seperti itu selain iras. Tidak ada. Aku
mencintainya, sangat mencintainya.
Aku memutuskan pergi dari
tempat tidur, sebuah swuiter berlengan panjang namun kolor ku ke pendekan. Aku menyeret sliping bag ku, aku ingin kopi
atau coklat panas.
Dapur kami baru nampaknya,
iras mungkin yang memesannya. Namun kami
memiliki kitchen set yang benar – benar lengkap. Ku cari – cari di dalam kulkas coklat bubuk,
yang semuanya masih berasal dari Indonesia. Mungkin keadaan akan berubah dari
beberapa minggu ke depan dimana di dalam rumah kami semuanya serba prancis,
yang sulit untuk dibaca.
Mataku menembus keluar dari
jendela dapur, sambil mengaduk coklat di gelas.
Matahari bersinar sedikit pagi ini, sehingga menimbulkan cahaya redup di
sekitar rumah kami. Tubuhku masih cukup
lelah, mungkin mulai nanti sore atau besok kami akan pergi berkeliling, melihat
– lihat atau mencari barang yang kami perlukan di rumah.
Seperti sebuah sepeda, kalau
sedang begini aku kangen si ninja, si monster atau dua motor LGX kami di
bandung. Yang kini sudah beralih tangan
ke sepupu dan keponakanku, semoga saja mereka bisa menjaganya dengan baik.
Aku menghembuskan nafas,
hidupku sedang memulai sebuah perputaran baru.
Aku pada sampai pada fase take a rest. Bukan waktu untuk mencari lagi,
bukan untuk bertanya benarkah iras yang terakhir. Namun inilah waktuku untuk menjaga iras,
membahagiakannya, berhenti bersikap kekanak-kanakan dan mulai mencintainya
dengan aku yang dewasa.
Aku janji, akan mewujudkan
forever and everlast yang selalu kami sebutkan kapanpun. Ku lihat sekeliling,
rumah kami yang tertata rapih di buat berantakan dengan koper – koper kami yang
belum sempat dirapihkan. Namun koper tua
bermotif kuda sudah menganga lebar, aku penasaran kemana perginya warisan
keramat di dalamnya.
Keduanya seperti berjodoh,
koper dengan cobek itu.
Ku dapati cobek dan
ulekannya ada di dekat kompor. Tanganku
menyentuhnya, kemudian menciumnya sebentar, kurang lebih sudah tujuh Negara
yang disinggahi oleh warisan keramat ini.
Pertama waktu kakek membawanya ketika ia kuliah di Germany, anak
tertuanya yang kuliah di kanada, dua anaknya yang lain yang kuliah di itali,
mama yang di London dan terakhir benda keramat ini baru kembali dari Australia
sehabis lebaran kemarin.
Kini petualangannya ia
lanjutkan di prancis bersama kami berdua.
Ada aroma khas Indonesia begitu aku mencium permukaan cobek itu. Seketika, pikiranku berenang kea rah
Indonesia. Betapa banyak yang kami tinggalkan di sana, hampir sebagian hidup
kami, kami habiskan di sana. Entahlah,
keberadaan benda keramat ini mungkin sebagai pengingat akar kami, tempat dari
mana kami berasal.
Akan banyak sekali yang
kami rindukan dan kami butuhkan dari Indonesia.
Sangat banyak, meskipun tidak tahu kapan kami akan kembali, namun suatu
saat kami pasti akan kembali ke tanah leluhur kami itu. Mungkin dengan membawa serta jagoan – jagoan
kecil dan lucu milik kami berdua.
Pintu terbuka, iras berlari
di sana, dua makhluk kecil mengikutinya dari belakang.
Seekor golden retriever dan
husky Siberian dog berwarna abu – abu, tubuh – tubuh mungil mereka berputar –
putar di dekat kaki ku. Aku senyum
sendiri, bahkan tertawa geli melihat tingkah lucu keduanya, yang masih balita
dapat ku pastikan usianya tidak lebih dari tiga minggu.
“tenang, mereka iras
adopsi, keduanya lahir di hari yang sama dari pemilik yang sama, dan…” iras
sedikit menahan kata – katanya “keduanya laki – laki..”
“hahaha jenis kelamin tidak
ada pengaruhnya sama sekali..” kataku sambil mengangkat husky yang berwarna
abu. Iras mengikutiku, ia memangku si golden yang memiliki kulit coklat terang
“siapa nama mereka..” kata
iras mengikuti ku duduk di sofa, sambil membiarkan kedua anjing itu bermain –
main di dalam pelukan kami.
“jokowi..” aku menunjuk
anjing yang ada di pelukan iras “ahok..” kataku kemudian sambil mengelus – elus
bagian bawah mulut ahok.
“hahahahaha…” iras tertawa
lebar. Harus ada sesuatu yang baik yang
kami ingat dari Indonesia, alasannya singkat, anjing golden kami memiliki warna
kulit coklat seperti jokowi dan anjing husky kami selain abu ia memiliki
dominasi warna putih yang kuat, persis seperti ahok dulu ketika berkampanye
dengan kemeja kotak – kotaknya.
“kamu tahu bahagia macam
apa yang inu rasakan sekarang?” aku menatap iras. Di matanya mengambang
berbagai keceriaan yang juga tidak bisa aku jelaskan.
Iras menggeleng. “semoga
aku jawabannya..” katanya lugas.
Aku tersenyum kepadanya,
sambil melepaskan anjing kami berdua.
Membiarkan mereka berlarian di dalam rumah sesuka hati.
Tanganku menarik batang
leher iras, aku memiringkan kepalanya, kemudian mengecup pelan bibirnya, iras
membalas dengan baik, ia merapatkan tubuhnya sambil memejamkan kedua
matanya. Nafasnya terdengar lembut, kini
ia sudah pintar mengatur nafas dan kedua tangannya menelusup masuk ke dalam
switerku. Mengelus satu – satu otot di
punggung dan perutku.
Kami berdua berdiri, dan
kedua bibir kami tidak lepas sama sekali. Aku menyadari pintu rumah kami
terbuka, kami orang Indonesia dengan moral Indonesia tidak mungkin apa yang
kami lakukan jadi tontonan banyak orang.
“tutup pintu dulu..” kataku
sambil beranjak ke ruang depan, iras menungguku sambil tersenyum.
Begitu sampai di depan
pintu, aku menatap ke luar, kemudian ke bagian dalam tempat iras berada, lalu
kepada kalian yang sedang membaca blog ini sekarang.
Ini saatnya kami menutup
pintu rumah kami, menutup cerita kami.
Senang bisa mengenal kalian, bisa ada dalam ingatan kalian, kami merasakan
kehangatannya di sini.
Sampai bertemu di suatu
waktu yang tidak kita sama – sama tahu kapan. Kita akan berpisah sampai batas
waktu yang tidak ditentukan.
…