Landasan udara halim
perdana kusuma agak sejuk pagi ini, pesawat jet milik opa sudah menanti kami
berdua di landasan pacu. Akhirnya altar
yang menjadi pilot kami, akhirnya ia bisa berdamai dengan iras, dan nino
pacarnya pun kini ikut serta dalam perjalanan kami berdua.
Iras masih sibuk dengan
beberapa hal, aku memilih membuka laptop dan menulis beberapa hal yang
membuatku agak sedikit gundah, hal biasa sebelum melakukan perjalan panjang.
Kurang lebih selama sepuluh
jam ke depan aku akan berada di dalam pesawat dalam perjalanan kami ke
paris. Sebuah kota yang sudah lama kami
impikan untuk menjadi tempat pacaran dan kencan terlama dalam sejarah.
Betapa tidak, selama di
sana, kami hanya ingin kuliah, jalan – jalan dan pacaran. Itu berarti selama kami berada di sana,
selama itu lah kami pacaran. Kami hanya
berdua, tidak ada yang dikenal, tidak ada telpon seluller, tidak ada
smartphone, tidak ada alamat email, tidak ada blackberry massanger, tidak ada
facebook pokoknya tidak adapun satu akses menuju dunia luar.
Aku sudah membayangkan ini
sebagai sesuatu yang menyenangkan.
Tidak usah panic, kami
tidak akan menghapus blog kami juga, kami akan membiarkannya, dan untuk
terakhir kali aku akan mengganti paswordnya dengan kalimat yang tidak akan aku
ingat, sehingga aku tidak bisa membukannya lagi.
Kami akan tetap membiarkan
blog kami tetap ada, karena mungkin ada orang yang membutuhkannya sebagai bahan
bacaan, lebih keren lagi dijadikan referensi untuk beberapa hal. Aku ragu akan hal itu.
Tapi aku janji, setelah
kami di paris, aku akan memposting bagaimana hari pertama kami di sana.
Semuanya ternyata tidak
semudah yang dibayangkan, berbulan – bulan aku mempersiapkan diri untuk
berpisah dengan keluarga, sahabat juga orang – orang terdekat yang
lainnya. Namun hal itu tidak ku lakukan
pada teman – teman ku di facebook, teman – teman yang tidak sempat ku temui.
Aku memanggil mereka seperti itu.
Kemarin ribki bilang begini
padaku “ciyus bener hidup lu, gara – gara pindah ke paris doang sampai non
aktifin facebook segala…”
Tapi ini sebuah kesepakatan
dengan iras, aku tidak akan melanggarnya, meskipun iras menyuruhku untuk
mempertimbangkannya lagi.
Selain itu, aku merasa
bahwa tugasku di facebook sudah selesai, dulu aku tertarik membuat sebuah akun
facebook saat mendengarkan curahan salah seorang temanku di kampus. Tentang beberapa hal yang memberatkannya di
facebook, juga media social lainnya.
Bahwa di media social
adalah alam liar modern. Dimana hukum alam sangat berlaku. Bahwa yang memegang kendali adalah orang yang
memiliki tampang lumayan –tampan/cantik lah dalam hal ini- mau sebagus apapun
status yang ia buat, selama tampangnya masih mirip dengan chris brown atau
Rihanna mereka tidak layak untuk mendapatkan like lebih dari sepuluh.
Orang ganteng, bisa dengan
leluasa memilih siapa saja yang bisa berinteraksi dengannya dan siapa saja yang
bernasib hanya dibaca saja ketika mengirimkan pesan di inbox atau bahkan tidak
pernah dibuka sama sekali. Ia bisa memilih sesuka hati oraang mana saja yang
layak bertemu dengannya, dan mana saja yang ‘silahkan remove saja sendiri kalau
tidak suka’
Media social adalah tempat
pelacuran social paling terbuka. Maaf,
aku fans ahok maka aku pun hobi bicara jujur dan tegas.
Dimana orang yang sudah
punya pasangan sekalipun, bisa dengan mudahnya dalam hitungan detik menemukan
selingkuhan yang bisa diajak ketemu, having sex dan sudah. Padahal pasangannya
galau setengah mati, merasa perjuangannya tidak dihargai. Menurutku, sebuah
hubungan itu merupakan ajang berjuang, namun harus dua – duanya melakukan. Kalau salah satu saja yang berjuang, berarti
orang tersebut memperjuangkan orang yang salah. Berarti cinta orang tersebut
bertepuk sebelah tangan.
Selalu ingat, bahwa rumah
tangga di bangun oleh dua orang. Jika satu membangun dan satu hanya menempati,
itu perumahan.
Betapa banyak orang – orang
di media social yang melakukan hal tak berguna dalam hidupnya. Hal yang bisa menyakiti hati orang lain. Tidakkah terpikirkan bahwa orang lain juga
punya hati?
Alasan ku membuat facebook
untuk meluruskan hal itu, sengaja aku tidak pernah berteman dengan teman –
teman di dunia nyata bahkan keluarga sendiri. Mengingat mama bahkan sudah punya
lima ribu teman sejak bertahun – tahun yang lalu. Karena orang – orang
sekitarku sudah mengetahui apa yang terjadi padaku dengan baik, mereka sudah
menerimaku dengan sangat baik jadi tidak ada yang perlu aku lakukan lagi
terhadap mereka selain membahagiakannya.
Aku ingin mengingatkan
bahwa mereka yang diberikan kelebihanpun masih memiliki kekurangan. Karena suatu kelebihan ditentukan oleh
kekurangannya. Bagaimana mungkin pembeli beras bulog tahu kalau dia mendapatkan
lebih satu liter beras, kalau saja dia tidak tahu berapa biasanya ia
mendapatkan jatah beras.
Tidak semua orang cakep
sombong, kalau benar begitu, tidak mungkin di grup – grup gay/jomblo/sejenisnya
aku sering menemukan “halah omong doang, katanya fisik gak masalah, tapi
setelah ketemu beda..” atau “halah tampang biasa saja ribet bener diajak
ketemuan..”
Jadi, sombong tidak
ditentukan tampang. Tapi bagaimana orang tersebut bersikap. Dalam beberapa kasus yang dialami oleh orang
cakep (berdasarkan pengalaman sendiri, uhuk uhuk) ketika banyak orang yang
menyukai mereka, kemudian mulai terasa mengganggu maka senjata mereka adalah
mengabaikan, yang kemudian ditanggapi oleh syaiton sebagai sikap sombong.
Dan faktanya orang cakep
sering dapat inbox dan sering sekali diajak chating.
Contohnya begini. Kalau inu
sedang sibuk atau agak malas membalas inbox.
Orang aneh (baca orang
lain) : “hi”
Orang ganteng (baca inu) :
“ya”
Orang aneh : “lagi OL nih..”
Orang ganteng : “ya”
Orang aneh : “sibuk ya?”
Orang ganteng : “ya”
Orang aneh : “ganteng deh..”
Orang ganteng : “yang lain juga bilang gitu..”
Orang aneh : “SOMBONG!”
Atau, kalau kita maksudnya
becanda tapi ditanggapin nya beda:
KEPO-ers (baca yg ngirim
inbox malem2) : “PING!!!”
Si cakep (baca nya Inu lagi
yaa) : “lu pikir lagi
bbm-an…”
Kepo-ers : “hehehe (mode autotext yang susah
dibaca) lg apa nih..”
Si cakep : “lagi ganteng kaya biasa…” (niatnya
becanda ya, bukan sombong)
Kepo-ers : hehehe (ngapain ya ini orang ketawa)
iya tau kok keliatan, nak mana nih?
Si cakep : “anak mama saya..”
Kepo-ers : “hehehe (tetep) iyalah, masa anak
tetangga..”
Menurut Lo hah!!
Kepo-ers : “maksud aku kamu tinggal di mana?”
Si cakep : “di rumah..”
Kepo-ers : “hehehee iyalah di rumah, maksud aku kotanya
dimana?”
Mulai curiga jangan –
jangan nih orang bank keliling atau debt kolektor yang mau nagih tunggakan
kartu kredit, makanya gue nanya gini:
Si cakep : “maaf, emang ada perlu apa ya mas?”
Kepo-ers : “pengen OL aja hehehehehehe (pake
autotext kembali)
Yah jadi ni orang dari tadi
perasaannya lagi off.
Ada yang perlu diluruskan
dalam hal ini, OL atau on line itu berarti kita sedang aktif di jejaring social
atau lagi browsing lah minimal. Mungkin
yang dimaksud si kepo, OL di sini adalah aktivitas chating yang sedang
dilakukannya. Ingat ya, atau bantuin
orang – orang kaya si kepo ini untuk meluruskan bahwa OL itu bukan chating.
Jadi, mari kita simpulkan,
semakin menarik seseorang maka akan semakin banyak orang yang tertarik. Tidak
jarang orang yang tertarik ini malah jadi sebuah gangguan bagi orang yang
menarik ini. Apalagi kalau sudah seperti
ini:
Syaiton : “hey stay dimana nih..”
Orang waras : “di kostan..”
Syaiton : “oh boleh maen ke kostannya gak?
Pengen deh nyobain tubuh kamu *** berikutnya kita sensor***
Pengalaman ku menghadapi
orang seperti ini bukan hanya sekali, hampir setiap kali selesai mengkonfirmasi
permintaan pertemanan atau sedang OL tengah malam.
Kita memang tidak bisa
memaksakan orang lain untuk satu pemikiran dengan kita, namun setelah membaca
tulisan ini saya harap beberapa orang bisa setidaknya tahu atau lebih kerennya
mengambil pelajaran, bahwa sikap yang kita anggap benar tidak tentu menurut
pikiran orang lain.
Yang paling menyebalkan
kalau sudah dapat inbox semacam ini.
Kepo-ers : lagi ngapain nih?
Si cakep : lagi sama iras.
Kepo-ers : iras itu siapa?
Nah kan, padahal status di
facebook sudah sangat jelas gue lagi sama iras dan di profil pun sudah sangat
terpampang dengan jelas kalau aku berpacaran dengan iras. Bukankah cukup bijak
sebelum kita mengirim pesan pada orang yang belum kita kenal untuk melihat dulu
isi profil atau kronologinya untuk menyelediki terlebih dahulu siapa dia,
sedikit bekal untuk kepo yang lebih anggun terhadapnya.
Dan satu lagi, perihal
tugas kami di facebook, aku dan iras ingin sekali memberitahukan kepada dunia,
bahwa ada juga kok pasangan gay yang sangat positif terhadap hubungan
mereka. Kami tidak mau disebut
memberikan contoh bahkan menginspirasi.
Tidak, tapi setidaknya hubungan kami yang kami go public kan, cukup
untuk melakukan pembenaran dari kekeliruan pandangan banyak orang tentang gay,
gay yang tidak baik lah, gay yang free sex lah, gay yang bodoh dan alay lah.
Dan hari ini kami rasa
tugas kami sudah selesai, ketika begitu banyak orang yang membaca blog kami,
ketika banyak ucapan terimakasih masuk ke pesan facebook kami.
Tugas kami sudah selesai,
itu artinya waktu buat kami untuk berpamitan. Semua kisah kami sudah kami bagi
dengan sangat jelas, ini saatnya untuk menikmati hidup berdua. Kami tidak perlu dikenang, tapi berjanjilah,
bahwa setiap dari kita akan berubah menjadi pribadi yang lebih baik.
…
pada akhirnya semua cerita harus menemukan sebuah penguhujung dan kata TAMAT bukan?