Selasa, 27 Agustus 2013

45 : Perjalanan



Landasan udara halim perdana kusuma agak sejuk pagi ini, pesawat jet milik opa sudah menanti kami berdua di landasan pacu.  Akhirnya altar yang menjadi pilot kami, akhirnya ia bisa berdamai dengan iras, dan nino pacarnya pun kini ikut serta dalam perjalanan kami berdua.
Iras masih sibuk dengan beberapa hal, aku memilih membuka laptop dan menulis beberapa hal yang membuatku agak sedikit gundah, hal biasa sebelum melakukan perjalan panjang.
Kurang lebih selama sepuluh jam ke depan aku akan berada di dalam pesawat dalam perjalanan kami ke paris.  Sebuah kota yang sudah lama kami impikan untuk menjadi tempat pacaran dan kencan terlama dalam sejarah.
Betapa tidak, selama di sana, kami hanya ingin kuliah, jalan – jalan dan pacaran.  Itu berarti selama kami berada di sana, selama itu lah kami pacaran.  Kami hanya berdua, tidak ada yang dikenal, tidak ada telpon seluller, tidak ada smartphone, tidak ada alamat email, tidak ada blackberry massanger, tidak ada facebook pokoknya tidak adapun satu akses menuju dunia luar.
Aku sudah membayangkan ini sebagai sesuatu yang menyenangkan.
Tidak usah panic, kami tidak akan menghapus blog kami juga, kami akan membiarkannya, dan untuk terakhir kali aku akan mengganti paswordnya dengan kalimat yang tidak akan aku ingat, sehingga aku tidak bisa membukannya lagi.
Kami akan tetap membiarkan blog kami tetap ada, karena mungkin ada orang yang membutuhkannya sebagai bahan bacaan, lebih keren lagi dijadikan referensi untuk beberapa hal.  Aku ragu akan hal itu.
Tapi aku janji, setelah kami di paris, aku akan memposting bagaimana hari pertama kami di sana. 
Semuanya ternyata tidak semudah yang dibayangkan, berbulan – bulan aku mempersiapkan diri untuk berpisah dengan keluarga, sahabat juga orang – orang terdekat yang lainnya.  Namun hal itu tidak ku lakukan pada teman – teman ku di facebook, teman – teman yang tidak sempat ku temui. Aku memanggil mereka seperti itu.
Kemarin ribki bilang begini padaku “ciyus bener hidup lu, gara – gara pindah ke paris doang sampai non aktifin facebook segala…”
Tapi ini sebuah kesepakatan dengan iras, aku tidak akan melanggarnya, meskipun iras menyuruhku untuk mempertimbangkannya lagi.
Selain itu, aku merasa bahwa tugasku di facebook sudah selesai, dulu aku tertarik membuat sebuah akun facebook saat mendengarkan curahan salah seorang temanku di kampus.  Tentang beberapa hal yang memberatkannya di facebook, juga media social lainnya.
Bahwa di media social adalah alam liar modern. Dimana hukum alam sangat berlaku.  Bahwa yang memegang kendali adalah orang yang memiliki tampang lumayan –tampan/cantik lah dalam hal ini- mau sebagus apapun status yang ia buat, selama tampangnya masih mirip dengan chris brown atau Rihanna mereka tidak layak untuk mendapatkan like lebih dari sepuluh.
Orang ganteng, bisa dengan leluasa memilih siapa saja yang bisa berinteraksi dengannya dan siapa saja yang bernasib hanya dibaca saja ketika mengirimkan pesan di inbox atau bahkan tidak pernah dibuka sama sekali. Ia bisa memilih sesuka hati oraang mana saja yang layak bertemu dengannya, dan mana saja yang ‘silahkan remove saja sendiri kalau tidak suka’
Media social adalah tempat pelacuran social paling terbuka.  Maaf, aku fans ahok maka aku pun hobi bicara jujur dan tegas.
Dimana orang yang sudah punya pasangan sekalipun, bisa dengan mudahnya dalam hitungan detik menemukan selingkuhan yang bisa diajak ketemu, having sex dan sudah. Padahal pasangannya galau setengah mati, merasa perjuangannya tidak dihargai. Menurutku, sebuah hubungan itu merupakan ajang berjuang, namun harus dua – duanya melakukan.  Kalau salah satu saja yang berjuang, berarti orang tersebut memperjuangkan orang yang salah. Berarti cinta orang tersebut bertepuk sebelah tangan.
Selalu ingat, bahwa rumah tangga di bangun oleh dua orang. Jika satu membangun dan satu hanya menempati, itu perumahan.
Betapa banyak orang – orang di media social yang melakukan hal tak berguna dalam hidupnya.  Hal yang bisa menyakiti hati orang lain.  Tidakkah terpikirkan bahwa orang lain juga punya hati?
Alasan ku membuat facebook untuk meluruskan hal itu, sengaja aku tidak pernah berteman dengan teman – teman di dunia nyata bahkan keluarga sendiri. Mengingat mama bahkan sudah punya lima ribu teman sejak bertahun – tahun yang lalu. Karena orang – orang sekitarku sudah mengetahui apa yang terjadi padaku dengan baik, mereka sudah menerimaku dengan sangat baik jadi tidak ada yang perlu aku lakukan lagi terhadap mereka selain membahagiakannya.
Aku ingin mengingatkan bahwa mereka yang diberikan kelebihanpun masih memiliki kekurangan.  Karena suatu kelebihan ditentukan oleh kekurangannya. Bagaimana mungkin pembeli beras bulog tahu kalau dia mendapatkan lebih satu liter beras, kalau saja dia tidak tahu berapa biasanya ia mendapatkan jatah beras.
Tidak semua orang cakep sombong, kalau benar begitu, tidak mungkin di grup – grup gay/jomblo/sejenisnya aku sering menemukan “halah omong doang, katanya fisik gak masalah, tapi setelah ketemu beda..” atau “halah tampang biasa saja ribet bener diajak ketemuan..”
Jadi, sombong tidak ditentukan tampang. Tapi bagaimana orang tersebut bersikap.  Dalam beberapa kasus yang dialami oleh orang cakep (berdasarkan pengalaman sendiri, uhuk uhuk) ketika banyak orang yang menyukai mereka, kemudian mulai terasa mengganggu maka senjata mereka adalah mengabaikan, yang kemudian ditanggapi oleh syaiton sebagai sikap sombong.
Dan faktanya orang cakep sering dapat inbox dan sering sekali diajak chating.
Contohnya begini. Kalau inu sedang sibuk atau agak malas membalas inbox.
Orang aneh (baca orang lain) : “hi”
Orang ganteng (baca inu)        : “ya”
Orang aneh                 : “lagi OL nih..”
Orang ganteng            : “ya”
Orang aneh                 : “sibuk ya?”
Orang ganteng            : “ya”
Orang aneh                 : “ganteng deh..”
Orang ganteng            : “yang lain juga bilang gitu..”
Orang aneh                 : “SOMBONG!”
Atau, kalau kita maksudnya becanda tapi ditanggapin nya beda:
KEPO-ers (baca yg ngirim inbox malem2)    : “PING!!!”
Si cakep (baca nya Inu lagi yaa)                    : “lu pikir lagi bbm-an…”
Kepo-ers         : “hehehe (mode autotext yang susah dibaca) lg apa nih..”
Si cakep          : “lagi ganteng kaya biasa…” (niatnya becanda ya, bukan sombong)
Kepo-ers         : hehehe (ngapain ya ini orang ketawa) iya tau kok keliatan, nak mana nih?
Si cakep          : “anak mama saya..”
Kepo-ers         : “hehehe (tetep) iyalah, masa anak tetangga..”
Menurut Lo hah!!
Kepo-ers         : “maksud aku kamu tinggal di mana?”
Si cakep          : “di rumah..”
Kepo-ers         : “hehehee iyalah di rumah, maksud aku kotanya dimana?”
Mulai curiga jangan – jangan nih orang bank keliling atau debt kolektor yang mau nagih tunggakan kartu kredit, makanya gue nanya gini:
Si cakep          : “maaf, emang ada perlu apa ya mas?”
Kepo-ers         : “pengen OL aja hehehehehehe (pake autotext kembali)
Yah jadi ni orang dari tadi perasaannya lagi off.
Ada yang perlu diluruskan dalam hal ini, OL atau on line itu berarti kita sedang aktif di jejaring social atau lagi browsing lah minimal.  Mungkin yang dimaksud si kepo, OL di sini adalah aktivitas chating yang sedang dilakukannya.  Ingat ya, atau bantuin orang – orang kaya si kepo ini untuk meluruskan bahwa OL itu bukan chating.
Jadi, mari kita simpulkan, semakin menarik seseorang maka akan semakin banyak orang yang tertarik. Tidak jarang orang yang tertarik ini malah jadi sebuah gangguan bagi orang yang menarik ini.  Apalagi kalau sudah seperti ini:
Syaiton            : “hey stay dimana nih..”
Orang waras   : “di kostan..”
Syaiton            : “oh boleh maen ke kostannya gak? Pengen deh nyobain tubuh kamu *** berikutnya kita sensor***
Pengalaman ku menghadapi orang seperti ini bukan hanya sekali, hampir setiap kali selesai mengkonfirmasi permintaan pertemanan atau sedang OL tengah malam.
Kita memang tidak bisa memaksakan orang lain untuk satu pemikiran dengan kita, namun setelah membaca tulisan ini saya harap beberapa orang bisa setidaknya tahu atau lebih kerennya mengambil pelajaran, bahwa sikap yang kita anggap benar tidak tentu menurut pikiran orang lain.
Yang paling menyebalkan kalau sudah dapat inbox semacam ini.
Kepo-ers         : lagi ngapain nih?
Si cakep          : lagi sama iras.
Kepo-ers         : iras itu siapa?
Nah kan, padahal status di facebook sudah sangat jelas gue lagi sama iras dan di profil pun sudah sangat terpampang dengan jelas kalau aku berpacaran dengan iras. Bukankah cukup bijak sebelum kita mengirim pesan pada orang yang belum kita kenal untuk melihat dulu isi profil atau kronologinya untuk menyelediki terlebih dahulu siapa dia, sedikit bekal untuk kepo yang lebih anggun terhadapnya.
Dan satu lagi, perihal tugas kami di facebook, aku dan iras ingin sekali memberitahukan kepada dunia, bahwa ada juga kok pasangan gay yang sangat positif terhadap hubungan mereka.  Kami tidak mau disebut memberikan contoh bahkan menginspirasi.  Tidak, tapi setidaknya hubungan kami yang kami go public kan, cukup untuk melakukan pembenaran dari kekeliruan pandangan banyak orang tentang gay, gay yang tidak baik lah, gay yang free sex lah, gay yang bodoh dan alay lah.
Dan hari ini kami rasa tugas kami sudah selesai, ketika begitu banyak orang yang membaca blog kami, ketika banyak ucapan terimakasih masuk ke pesan facebook kami.
Tugas kami sudah selesai, itu artinya waktu buat kami untuk berpamitan. Semua kisah kami sudah kami bagi dengan sangat jelas, ini saatnya untuk menikmati hidup berdua.  Kami tidak perlu dikenang, tapi berjanjilah, bahwa setiap dari kita akan berubah menjadi pribadi yang lebih baik.
pada akhirnya semua cerita harus menemukan sebuah penguhujung dan kata TAMAT bukan?

44 : Warisan Keramat



Aku membuka pintu rumah, mama akhirnya sampai juga di Jakarta. Ia sudah merencakan cuti sejak jauh hari untuk beberapa hari ini, membantuku mempersiapkan segala hal untuk keberangkatan ku ke paris, atau mengantarku hingga ke halim.
“Nu, tuperware mama yang waktu itu kamu bawa dari bandung di mana? YANG WARNA IJOOO..” suaranya meninggi di bagian ini “jangan sampe kamu bawa ke paris..”
Baiklah kawan – kawan, jangan pernah main – main sama tuperware mama kalian.  Pernah iras memberikan makan kucing peliharaan amih di rumah menggunakan salah satu tuperware mama, alhasil seminggu ia diomelin, kalau iras seharian ada di rumah, maka sehari itu mama ceramah.
Mama memang possesif sama tupperwarenya. Buktinya, sampai ke rumah anak sendiri yang ditanyain malah tupperawernya.
“mama cari di dapur, waktu itu inu bawa ke apartemen, tapi sekarang semua yang dari apartemen sudah dibawa ke sini..” kataku.  Sudah hampir sore dan iras sedang di luar, ia menjemput mamanya juga ke bandara.
“aaaaarrrkkkkkk adaaaaaa..” mama berteriak dari dapur.  Aku tahu berarti barang kesayangannya.
Baikalah teman – teman, ku deskripsikan sebentar seperti apa mamaku ini, usianya lima delapan tahun ini. Dan ia belum menopause.  Itu yang membuatku takut jika ia menikah, ia bisa saja mempunyai anak lagi.  Kalau kalian melihat penampilannya, Julia perez atau nikita mirzani mah lewat. 
Mama ku punya rambut yang tergerai panjang berwarna merah, tubuh yang ramping gara – gara aerobic, bally dance, senam di rumah sakit, kardio bahkan yoga.  Masalah dandan, jangan Tanya lagi.  Pakaian? Sudahlah, tidak usah dibahas, susah dijelaskan rasanya.
Mungkin sikap nya inilah yang akhirnya membuat kami sangat dekat, ia sangat berpikiran maju dan muda. Dibalik kebawelannya, ia adalah seorang ibu yang hangat, dibalik hoby dandan dan cara mati – matiannya menjaga bentuk badan, ia tetap setia pada papa dan tidak mau menikah lagi.
Ia akan seharian memainkan game zunga di laptopnya, kalau sore – sore dia menghilang, itu berarti dia sedang pergi karokean bersama perawat asistennya atau teman – teman dokternya yang lain.  Dan mama bukan penyuka dangdut sama sekali, ia hafal betul semua lagu whitney Houston.
“koper yang itu jangan lupa bawa..” mama menunjuk sebuah koper di sudut ruang tengah yang baru saja diletakan oleh sopir di sana.
“apa nih ma isi nya?” tanyaku penasaran sambil membuka koper tersebut.
Aku hampir terbelalak, sebelum akhirnya ketawa.
“awas kalau tidak kamu bawa, pamali etah, udah warisan turun temurun sejak apih tinggal di luar negeri, eta jimat kudu di bawa…”
Aku tidak berhenti tertawa, mengingat benda tersebut telah menjadi warisan mascot di keluarga kami.
….
Iras sudah kembali ke rumah, ia sedang mandi, sementara aku bertiga bersama kedua mama ku menyiapkan makan malam. Tentu yang memasak kali ini mereka, aku hanya membantu menyiapkan menghidangkan ke meja makan.
Iras muncul dari tangga, sambil mengeringkan rambutnya dengan sebuah handuk kecil, rupanya matanya tertarik pada sebuah koper tua, bermotif kuda – kuda kecil di ruang tengah yang tadi dibawa mama dari bandung.
Ia membuka koper tersebut, keningnya seperti berkerut, mungkin ia butuh sedikit penerangan untuk melihat lebih jelas lagi benda apa yang ada di dalamnnya. Ia sampai menggusur koper tersebut ke tempat yang lebih terang.
“ini apa yank?” ia menatap penuh Tanya kepadaku.
“shuuutt… kata mama benda keramat, warisan turun temurun, harus dibawa kalau mau tinggal lama di luar negeri..”
Tangan iras mengambil benda yang tersembunyi di dalam koper, kemudian ia mengangkatnya tinggi – tinggi.
“coet? (cobek dalam bahasa jawa) sama ulekannya?” kening iras mengerenyit sebelum akhirnya tertawa.
Aku mengangguk – angguk."kata mama, ini pernah mama bawa juga pas kuliah di London"
Tangan iras merapihkan lagi koper tersebut, begitu selesai ia menghampiriku, menciumku sebentar.  Wangi sabun dan shampoo di rambutnya menyerbu indra penciumku.
“mochammad rifnu prihata, bersediakah engkau untuk menjadi yang pertama saat aku membuka mata? Menjadi satu – satunya? Menjadi yang sehidup semati bagi iras makki atmadja? Bersediakah engkau..?”
Aku tersenyum mendengarkan iras, kedua tangannya melingkar di pinggangku.  Dan kedua tanganku melingkar di pundaknya.
“wooyyy… wooyyyy… makan – makan…” mama memukul – mukul meja makan.
Seketika aku melepas pelukanku pada iras, kemudian membimbingnya ke meja makan.
“ini yang membuat iras pengen cepat – cepat pindah ke paris..”
Aku tersenyum menanggapi iras.

43 : tempat tinggal



aku dan iras sedang berjalan – jalan di dalam luasnya plaza Indonesia, sebelumnya akhirnya kami disadarkan oleh sebuah tatapan yang mengawasi kami berdua. Merasa keadaan cukup tidak aman, iras menggenggam erat tangan ku.  Kemudian ia menatap sekeliling dengan waspada.
“kalian berdua pasti inu dan iras..” ia menunjuk wajah kami berdua dengan jari mungilnya. “ah benar kan inu dan iras? Saya revi, pembaca setia blog kalian dan tentunya kisah so damn romantic kalian di facebook..”
Kepala iras berputar ke arah ku yang sudah tersenyum menyaksikan revi di depan kami.  Teman ku di facebook hampir lima ribu dan tentu saja kami berdua tidak akan hafal yang mana.
“hay revi, nice to meet you..” aku mengulurkan tangan.
“tentu, tentu saya justru yang sangat merasa senang memiliki kesempatan untuk bertemu kalian berdua, tentunya sebuah kesempatan langka yang tidak semua penggemar kalian dapatkan. Karena standar khusus yang diterapkan iras kalau ingin bertemu kalian berdua hahaha”
Aku dan iras ikut tertawa.  Kami bukan aktor, seniman atau hal lainnya tentu saja.
“boleh saya traktir makan atau sekedar ngopi, saya ingin sekali bicara banyak dengan kalian berdua, bertanya banyak hal dan tentunya mendapatkan kisah paling bagus di muka bumi dari sumbernya langsung…”
“its much over, kami tidak sehebat kedengarannya, lihatlah kami hanya orang biasa..” iras berusaha meredam suasana.
Namun revi tidak padam sama sekali. Ia masih tampak semangat.
“tidak, tidak, kalian bahkan sudah jadi motivator pribadi saya, status kalian di facebook setiap pagi, sore, malam selalu saya tunggu, di sana tidak hanya ada kisah romantis, terkadang kocak, namun yang paling saya rasakan kalian selalu berhasil memberikan pelajaran..”
“rev, bagaimana kalau ikut kami berdua makan, kebetulan di sini kami sedang cari makan, hayo ikut..” kataku.  Agak sungkan dengan nada suaranya yang tinggi di tengah – tengah mall begini.
“arrgghh saya ada janji mau bertemu klien sebenarnya..”
Aku nyengir sendiri. Mengingat ia yang tadi bilang ingin mentraktir dan ngobrol dengan kami berdua. Ia mungkin seperti penghuni sudirman dan thamrin lainnya, pekerja kantoran, terlihat dari rapi dan keformalan pakaiannya.
“ya sudah ajak juga klien kamunya, kami berdua tidak masalah asal kalian tidak masalah juga..” kata iras.
Aku mengangguk menyejutuinya.
“ah tidak bisa, saya dari sini baru ketemu klien sebelumnya harus bertemu klien lainnya di ancol sekaraang, ah kapan lagi bisa kebetulan berpapasan dengan kalian berdua begini…” revi tampak menyesalkan.
“insyaallah kita akan bertemu lagi dalam seminggu ini atau beberapa tahun lagi..” kataku sambil tersenyum lebar.
“yaaahh oh iya, kalian akan pergi ke paris kan?” ia tampak mengingat dan memastikan. “oh iya, saya ingin memastikan, kalian sebenarnya akan memberi nama kalian siapa, langit dan biru atau hansel, Gretel, popeye dan Rapunzel seperti di puisinya Inu…”
Aku kagum pada revi.  Ia bahkan memperhatikan sampai sedetail itu.  Padahal kadang – kadang, masalah biru, langit, hansel, Gretel, popeye, atau Rapunzel, atau nama – nama seperti udin, sapru, bedul atau yang lain – lainnya, kadang hanya melintas sekilas di kepalaku yang langsung ku tulis ke dalam apapun, atau ku sebut begitu saja.
“kami lebih suka membiarkan anak kami memilih nama apa yang mereka sukai nantinya, untuk sementara sebelum mereka memilih mungkin kami bisa memberikan nya nama rabu dan selasa kalau mereka lahir di hari yang berbeda..”
Tiba – tiba saja revi tergelak keras. Ia bahkan nyaris terpingkal – pingkal.
“betul dugaan ku, kalau ternyata inu ini orang yang bercanda dan kegokilannya tingkat dewa, salah besar yang bilang jutek dan songong, dan iras tidak sedingin tampangnya ternyata..”
Aku melirik iras, dia memang begitu. Tampangnya dari dulu sama, seperti es balok tukang es dungdung keliling.
“oh iya, apa boleh, aku minta berfoto dengan kalian sebagai kenang – kenangan?”
“tidak..” iras langsung menggeleng. “selain keluarga, teman dekat kami, tidak ada yang boleh, maaf tapi itu aturannya…”
“oke deh, gak apa – apa, yang penting aku akhirnya bertemu dengan orang yang selama ini banyak menginspirasiku..”
Revi akhirnya berpamitan dan pergi bergegas meninggalkan kami berdua menuju arah yang tentu hanya ada di dalam pikirannya.
“cinta yang bagai kanvas, kamu yang bagai kuas dan aku harus jadi catnya, sekarang liat berapa banyak yang ingin mencuri, merebut bahkan melelang lukisan kita berdua..” kata iras sambil memperat genggamannya.
“kamu yang bagai lukisan, aku yang menjadi paku dan cinta itu palunya, memukul aku, memukul aku..” aku menepuk – nepukan kepalan tanganku ke dadaku.  Kemudian dipukul terakhir aku perkeras sedikit seolah – olah bagai paku yang berhasil menancap dipukul palu “sampai aku benar – benar menancap kuat..”
“hahaha ekspresinya gitu banget yank..” kata iras, ia hampir menciumku sebelum ku sadarkan ia kalau kami berdua sedang ada di tengah – tengah keramian plaza Indonesia.
“jangan ngomong – ngomong ekspresi deh, kita berdua tahu siapa yang ekspresinya kayak boneka kucing di toko kelontongan cina..” kataku sambil tersenyum menggoda iras.
“ahhhhh jadi Cuma tangan kanan iras yang berfungsi..” iras memperagakan boneka ekspresi datar boneka kucing.
“hhahaha… batu kaya kamu ya jodohnya kembang api kaya aku..”
“matamu yang kembang api, tapi bibirmu adalah langit yang bisa membuat ku terbang kalau sudah dikecupnya, bahkan membuat ku tidak sadar kalau berhasil melumat habisnya..”
“eits..” aku mengelak. “ini bukan lagi di kamar kita bodoh..” aku hampir meninju kesal pada iras.
Ia hanya tertawa lebar.  Kami berdua melangkah masuk ke dalam restoran yang memang jadi tujuan kami sore ini.
Baru beberapa menit kami duduk di dalam restoran, seseorang tampak melambaikan tangan pada kami berdua. Bu marsalamah dan pak syafiq, guru dan kepala sekolah kami sewaktu SMA.  Entah apa yang sedang dilakukan sepasang merpati senja itu di Jakarta.
“assalamualaikum..” kami berdua menyalami kedua orang itu.
“hay Nu, Ras, ah masih sama – sama kalian, sehat kamu berdua..?” Tanya bu marsalamah yang membuat aku dan iras saling bertatapan, mungkinkah mereka tahu sejak lama.
“begitulah bu..” jawab iras agak rikuh.
“ayo duduk di sini, mau makan juga, kan?” pak syafiq mempersilahkan kami duduk.
Akhirnya kami berempat duduk melingkar. Ini artinya aku akan makan pakai tangan sendiri kali ini.
“lagi ngapain nih pak di Jakarta..” aku membuka percakapan baru, iras sibuk membuka menu memilih makanan apa yang hendak kami pesan.
“biasa lah jenguk cucu..” kata pak syafiq. “eh iya, bapak dengar dari apih mu, kalian ke paris tahun ini? Kuliah lagi? Dapat beasiswa?”
Aku mengangguk.
“minggu depan pak, kami minta do’a nya semoga kami berdua betah di sana..” jawabku.
“nah betul itu, yang paling utamanya kalian harus betah dulu, terserah kesananya mau ngapain juga..” jawab pak syafiq kemudian “tapi ingat, mau berapa lama pun kalian tinggal di sana, jangan lupa kembali ke Indonesia, untuk apa jadi raja di tanah orang..”
Kami berdua mengangguk – angguk. Pamali tidak mendengarkan sepuh bicara.
“mau berapa lama nu kalian di paris?” kini bu mar yang nanya.
“S2 kami sebenarnya bisa selesai dua tahun bu, semoga saja tepat waktu dan semoga kami ingin segera pulang ke Indonesia..”
Ini di luar rencana, yang ku katakana di luar rencana.
“yaaa itu sih terserah kalian, tapi ingat, seperti pesan bapak tadi, jangan lupa pulang ke Indonesia, masih banyak yang dibutuhkan Negara ini dari kalian berdua, terserah mau jalan – jalan kemanapun sampai kalian bosan keliling eropa atau dunia sekalipun, pesan dari ibu dan bapak, jangan lupa kembali ke Indonesia…”
Aku menatap iras, bola matanya yang bergerak di balik kacamatanya tampak mengerjap sesekali, mungkin ini juga yang hendak dikatakan oleh keluarga kami terhadap rencana kami berdua.  Namun pak sayfiq dan bu marsalamah punya bahasa yang lebih dimengerti.
Aku sedang menyetir, iras duduk di sampingku. Kami dalam perjalanan ke apartemen kami.  Setelah perbincangan kami berdua dengan bu marsalamah dan pak sayfiq tadi, sesuatu membentur – bentur di kepalaku.
Benarkah suatu saat kami berdua harus kembali ke Indonesia? Lantas apakah nantinya akan aman untuk ku dan keluargaku untuk tinggal di sini.  Aku memandang iras lagi.
Si patung masih sibuk dengan ipadnya sendiri.
Sejenak mungkin aku lupa, bahwa rencana yang paling nyata adalah rencana tuhan dan rencana manusia tidak akan selalu bekerja pada rencana tuhan. Membuatnya bekerja tentu bukan pekerjaan mudah walau tidak semua sulit.
Aku mengkaji lagi soal kami pindah ke paris kali ini, pindah. Itu artinya menatap dalam waktu yang lama.  Tidak hanya untuk menghabiskan masa kuliahku, itu berarti sebagian hidupku akan dihabiskan di sana.
Rencanaku dengan iras, begitu selesai kami kuliah.  Kami ingin sekali berkeliling eropa, atau sampai ke amerika.  Aku ingin sekali merasakan tinggal di berbagai kota yang selama ini ku baca, ku tonton atau hanya ku dengar dari pemandu wisata.  Setelah itu kami akan memilih sebuah kota di sana untuk kami jadikan tempat tinggal, untuk sementara kami sudah memilih zurich, Monaco atau Luxemburg.
Tidak ada alasan spesifik untuk ketiga kota tersebut, zurich mungkin karena merupakan kota teramah dan teraman di dunia. Monaco dan Luxemburg, entahlah kedua kata itu cukup menarik rasanya untuk dikunjungi. Namun intinya, kami ingin tinggal di sebuah Negara yang aman bagi keluarga kami nantinya. Indonesia? Kalau saja selama dua puluh tahun ke depan pemimpinnya sama dengan jokowi dan ahok, kami mau kembali ke Indonesia.
Tapi sore ini, aku sadar bahwa benar suatu saat kami harus kembali ke Indonesia. Tadinya, kehidupan yang sudah sangat modern dan global, bisa membuat kami bebas memilih mau tinggal di mana saja.  Untuk makan? Seperti yang suka iras katakan, uang yang mengalir dari segala investasi dan perusahaan kami berdua, tidak akan habis kalau diwariskan ke anak cucu bahkan cicit nanti.
Bukan impian kalau harus tinggal di Jakarta, iras tahu sejak lama aku benci Jakarta.  Dan melihat kenyataan bahwa pemerintah tidak bisa membuat kota lain menjadi seperti Jakarta, dan kepengecutan SBY untuk memindahkan ibu kota ke ujung pandang. Padahal hal ini sudah jadi wacana sejak soekarno berkuasa.
Lihat saja fenomena mudik, bukan salah masyarakat. Tapi salah pemerintah, kenapa tidak bisa menciptakan tempat seperti Jakarta.  Indonesia bukan Negara miskin, SBY yang senang menyebutnya Negara miskin, daya beli masyarakat sudah sangat tinggi. Bahkan pada keluarga paling miskin sekalipun, mereka sudah memiliki satu sepeda motor setidaknya, atau telpon celuller.
Baru ada gubernur seperti jokowi yang akhirnya mau membenahi wajah kotor ibu kota, sudah berapa tahun kita tidak bisa merasakan selancar sekarang kalau lewat ke tanah abang? Atau melihat pemandangan yang mulai sejuk di pluit.  Namun jokowi mulai mendapatkan rival, banyak orang yang tidak senang terhadap elektabilitasnya yang semakin meningkat.
Kalau kawan – kawan punya twitter silahkan cari akun @TM2000 di sana, akun ini hampir setiap hari menjelek – jelekkan jokowi. Lihat betapa kerennya jokowi, sampai kesalahannya dicari – cari. Hal sepele yang sekarang seringkali dibahas adalah ketika lebaran jokowi melarang konvoi takbiran, namun dalam beberapa hari ke depan dia menyatakan akan menonton metallica.  Sepele benar kan? Konvoi bisa menyebabkan kemacetan di tengah –tengah arus mudik, bisa menimbulkan masalah social, namun menonton metallica, kalau tidak suka ya tidak usah nonton, ribet bener jadi orang Indonesia.
Tapi sekeren – kerennya jokowi, idola ku tetap ahok. Tidak bisa dijelaskan, namun ku rasa kami memiliki beberapa kesamaan.
Bandung atau sukabumi, aku sepertinya tipe orang yang akan hidup berpindah – pindah sebelum masa tua memutuskan untukku memilih salah satu kota sebagai tempat tinggal. Namun tidak akan membuat kota yang perna ku tinggali untuk ku tinggali dua kali. Termasuk bandung dan sukabumi. Walau akan selalu ada alasan untuk pulang ke kota itu.
Pernah terpikir untuk tinggal di pedalaman Sulawesi atau bali, atau salah satu kota pedalaman di nusa tenggara. Namun aku membatalkannya, aku tidak bisa tinggal di tempat yang tidak ada mini market di sana. Tidak bisa. Spaghetti dan pasta favorit iras hanya bisa dibeli di mini market.
Beberapa bulan ke belakang, tak sengaja aku membuka agenda harian iras, yang menuliskan berbagai jadwal dan kegiatannya di kantor.  Namun di sebuah halaman aku melihat kata Forks di sana, ingat kota tempat Edward Cullen dan Isabella Swan tinggal? Ya kota itu, aku berpikir mungkinkah iras punya cita – cita tinggal di sana?
“ingat gak, kalau kita sempat nonton film itu, dan iras bilang kalau arsitektur rumah keluarga Cullen sangat menarik? Dulu iras terpikir untuk membuat rumah seperti itu, namun mungkin dengan menyisihkan tabungan kita, kita bisa membeli rumah itu dan menginap setiap akhir minggu di sana..”
Ini berarti iras punya harapan untuk tinggal di amerika. Dan seperti Jakarta, aku tidak mau tinggal di amerika. Aku seperti apih yang membenci amerika dan yahudi. Apakah ada yang tahu kalau tsunami di aceh tahun 2004 dikarenakan bom nuklir yang ditembakan oleh salah satu kapal selam amerika?
Namun buatku penting mendengarkan iras, ia punya 50% suara dalam menentukan hidup kami berdua.
“iras gak pernah punya cita – cita buat tinggal di amerika kan?” karena penasaran akhirnya aku menanyakan hal ini, untuk memastikan.
“kalau suatu saat perusahaan kita masuk ke wall street ya mungkin kita harus pindah ke new york..” jawabnya singkat, lalu kembali lagi ke ipadnya.
Baiklah, apapun tuhan yang akan terjadi, terjadilah.