Selasa, 27 Agustus 2013

Blue (oleh: Iras Makki)



Blue..
Oleh Iras
Sore ini, di sebelah tubuh inu yang tidur kecapean gara – gara seharian kami keliling bandung berdua.  Saya terpikir untuk menulis sesuatu tentangnya, tentang betapa hebatnya ia betapa beruntungnya saya bisa mendapatkannya.
Bertemu inu, mengenalnya bahkan kini bisa memilikinya adalah sesuatu yang lebih dari sekedar keajaiban.  Bagaimana tidak, awal pertemuan kami tidak berjalan mulus, beberapa ulahku berhasil membuatnya murka. kami gagal di pandangan pertama.  Bahkan ku ingat sekali ketika ia datang ke kelas mencariku, tanpa basa – basi apapun ia mencengkram leher kemeja ku dan menantang berkelahi.
Namun, namun setelah beberapa hari aku sadar sesuatu dari matanya menembus jauh ke sudut dada.  Cinta.  Merupakan penjelasan yang cukup logis untuk hal ini, ketika tanpa akal sehat aku memaksanya untuk ikutan tim basket hanya karena ingin lebih dekat dengannya.
Ketika kami berhasil jadian, ketika hatinya benar – benar luluh, aku sadar, aku baru saja menjadi pacar seorang yang hebat dengan luka cukup besar di hatinya.  Papa inu seorang pilot, meninggal dalam sebuah kecelakaan pesawatnya di srilangka ketika ia SMP.  Kecelakaan tersebut terjadi satu hari sebelum ia final pertandingan liga basket nasional U-15.
Aku mengetahui hal ini diam – diam dari sepupunya yang waktu itu kebetulan pengurus osis juga di SMA. Sejak kejadian tersebut inu memutuskan untuk tidak main basket lagi.  Aku tahu bahkan bisa merasakan lukanya tersebut, apalagi kami adalah dua orang yang benar – benar mencintai basket.
Dibawah tekanan pelatih tim kami dan kepala sekolah akhirnya inu mau bergabung dengan tim basket sekolah waktu itu, di bandung sekolah kami berhasil menjuarai liga basket kota bandung.  Ia memasukan banyak bola waktu itu.  Beberapa bulan kemudian, ia berhasil menjadi salah satu atlet yang membawa tim basket Indonesia mendapat juara satu di liga basket tingkat asia.
Yang mengejutkan adalah prestasi sekolahnya, nilainya selalu di atas rata – rata, walau ia cuek dan terkesan malas – malasan belajar, tidak jarang PR – PR nya aku yang mengerjakan di sela – sela makan siang atau ketika kami nongkrong.  Ia berhasil menjadi juara umum setiap tahun.
Ketika ia kalah taruhan oleh mamanya, dan harus mengambil kuliah keperawatan, sesuaatu yang tidak pernah masuk ke dalam rencananya.  Namun dengan enteng dia bilang “gampang lah pasti beres empat semester..”
Semua orang dibuat kaget dengan hal itu.  Walau pada akhirnya dia menyelesaikan sarjana keperawatannya harus lima semester.  Aku pernah Tanya mama, kenapa inu harus dipaksa masuk keperawatan.  Jawabannya sederhana, inu tidak tertarik menjadi pengusaha dan mama tidak mengijinkannya.  Rupanya kecelakaan pesawat papa berkaitan dengan persaingan bisnis dan perebutan kekuasaan di perusahaan kakeknya.
Aku faham akhirnya.  Ini juga alasan kenapa beberapa kali inu hampir celaka, antara disengaja atau tidak ada orang yang selalu berupaya mencelakainya bahkan mengancam nyawanya.
Yang mengejutkan berikutnya adalah, di balik ketidaksukaan inu pada dunia bisnis yang selalu ia tunjukan apabila aku mulai sibuk mengurusi bisnis keluargaku.  Ia malah ditunjuk oleh kakeknya di Jakarta untuk menjadi wakil presiden direktur di perusahaannya.  Kakeknya meminta inu melakukan hal itu setidaknya dua bulan sebelum keberangkatan kami ke paris.
Waktu itu aku dapat melihat jelas kekalutan di wajahnya, namun esok paginya ketika bangun tidur dengan stelan rapi ia siap berangkat ke kantor di pusat bisnis Jakarta.  Sudirman city.
Aku tahu, di dewan komisaris perusahaannya banyak sekali yang memandang sebelah mata kemampuannya.  Ia sarjana keperawatan bukan seseorang dengan latar belakang pendidikan bisnis atau ekonomi, mereka semua meragukannya.
Namun aku tahu siapa pacarku, dia seseorang dengan IQ 156.  Hampir sama dengan Einstein. Tidak heran jika mama pernah mengatakan bahwa inu lancar membaca buku dongeng di usia tiga tahun.
Beberapa minggu inu ku memimpin perusahaan, harga saham perusahaan naik, aku tahu perusahaan yang kini dipegangnya mengalami untung besar.  Namun dibalik senyumnya, ketika perhitungan penghasilan, ia bilang:
“uang inu bulan ini, kita tabung buat di paris, sebagian lagi jangan kamu tanyain..”
Aku bingung, uang kami berdua yang kami kumpulkan untuk nanti selama tinggal di paris bertambah bahkan tiga kali lipat.  Uang sebanyak itu ia kemanakan.  Ia tidak mau bilang sama sekali, inisiatif ku berbicara. Aku menelpon sekertarisnya.
Mulutku tidak berhenti menaburkan hamdalah dan takbir, ketika mengetahui uang tiga milyar itu ia sumbangkan untuk membantu menangani perawatan pasien anak – anak di seluruh rumah sakit di Kalimantan dan papua. Sisanya ia sumbangkan ke rumah sakit di sukabumi tempat dulu ia banyak belajar sewaktu kuliah.
Ketika banyak hal yang harusnya ia pikirkan di usia mudanya, ia malah memikirkan kehidupan banyak orang.  Ketika aku Tanya, apakah ia tidak khawatir uangnya berkurang atau perusahaan tiba – tiba kolaps uang sebanyak itu ia berikan begitu saja.
Ia hanya menjawab dengan senyum “gak ada yang mustahil buat tuhan, ia mau membalasnya sepuluh kali lipat, kenapa harus khawatir dengan hal sepele seperti uang..”
Kurang lebih enam bulan lalu, sewaktu kami berdua liburan di Malaysia. Kami kedatangan tamu dari sebuah yayasan di Singapore yang berbasis di California. Mereka adalah LSM yang memperjuangkan legalitas kaum LGBT. Mereka ingin meminta bantuan, soal perjuangan kaum LGBT di Negara kami Indonesia.
Jiwa social pacarku pasti tidak akan menolak, begitu pikirku waktu itu.  Namun pernyataanku salah.  Inu menolak keras. Ia malah enggan memberikan uang sepeserpun.  Aku menawarkan, namun ia marah dan menahanku.
“iya betul ini perjuangan mereka memperjuangkan hak mereka, jadi biarkan mereka sendiri yang berjuang, kalau saja yang datang ke sini dari yayasan anak sekalipun palsu inu tidak akan perhitungan..”
Mungkin ia ingin setiap orang berjuang seperti kami, tidak pernah meminta bantuan lembaga manapun untuk memperjuangkan hubungan kami berdua.  Aku mencoba memahaminya, meskipun masih tidak habis pikir. Dimana jiwa solidaritas pacarku kali ini.
Di kemudian hari aku mengerti soal pandangannya terhadap hal ini, hidup kami berdua hanya terbuka sedikit pada dunia luar selain dari keluarga dan teman – teman kami.  Sebagian kecil hanya kami bagi di media social facebook.  Suatu saat ia bilang bahwa, apa yang ia lakukan di facebook, yang aku ia ikut sertakan di sana adalah untuk menunjukan pada sebagian orang yang mengerti bahwa aku dan inu mewakili orang – orang seperti kami, inilah saatnya kita tidak dilecehkan oleh pandangan terhadap diri sendiri.  Bukan oleh orang lain.
Terkadang, ada orang yang merasa tidak mungkin mengakui bahwa ia seorang laki – laki mencintai laki – laki.  Atau seorang perempuan yang begitu.  Atau pun kita yang memiliki tujuan cinta yang tak sama dengan orang kebanyakan.  Masalah bukan pada pandangan orang lain terhadap cinta yang kita miliki, namun kita sendiri yang terlalu meremehkan cinta yang ada pada diri sendiri bahwa tidak mungkin seorang laki – laki mencintai laki – laki lagi, tidak mungkin seorang perempuan mencintai perempuan lagi.
Ini sama sekali bukan demo atau upaya provokasi agar semua orang di Negara ini turun ke jalan menyuarakan hak kaum kita, tidak sama sekali.  Kami adalah orang yang cinta damai.  Bagaimanapun kesantunan yang bangsa kita punya, nilai agamanya yang kuat, norma nya yang luar biasa, adalah hal – hal yang harus kita jaga.
Yang paling gampang dari kesimpulan ini adalah, saat Negara tidak mungkin memberikan yang kita perlu, maka ada dua pilihan, jangan memintanya yang kedua cari Negara lain yang bisa memberikannya.
Mungkin ini juga yang membuat kami akhirnya memilih paris, semata – mata bukan karena di sana hokum tentang gay sudah dilegalkan, tidak sama sekali.  Atau tentang mewujudkan impian – impian lugu tentang pernikahan, tidak juga.  Pernikahan sama sekali bukan tujuan utama kami (aku dan inu) dalam hidup.  Tujuan hidup kami hanya ingin bahagia.  Pernikahan hanya salah satu rencananya.  Terwujud atau tidak kami hanya ingin menyerahkannya pada waktu.
Kami butuh identitas. Itu saja.  Tidak kami tutupi bahwa keberangkatan kami ke paris nanti adalah untuk menetap kemudian pindah kewarganegaraan, agar semua yang kami lakukan menjadi sangat aman. Sebagai manusia hidup rasanya kami sangat memerlukan hal itu.  Suatu saat, mungkin orang akan bertanya – Tanya, kami yang tidak memiliki hubungan darah apapun tinggal dalam satu rumah.  Untuk menjawab hal ini, kami memerlukan sesuatu yang disebut pernikahan.
Mungkin ini sedikit gila, tapi begitulah, alasan kami hanya memerlukan setengah dari kesakralan pernikahan biar inu yang jawab.  Ia punya alasan kuat untuk hal ini.   Bagiku, menikah atau tidak, asal terus bersama inu itu sudah lebih dari cukup.
inuku, ia adalah seseorang dengan cinta yang besar terhadap anak – anak.  Tidak aneh jika keponakan – keponakannya begitu dengannya. Ia penyayang binatang, ia bahkan pernah mengganti rugi pedagang burung di pasar burung di sukabumi gara – gara melepaskan seluruh burung dari kandang yang sedang di jajakannya.
Aku tidak memuji, atau mebesar – besarkan siapa pacarku.  Namun aku sedang bicara pada diri sendiri betapa beruntungnya memiliki dia.
Seseorang yang sering disebut sombong di facebook gara – gara tidak pernah mau membalas pesan masuk atau pun komentar dari orang lain, kini aku tahu ia melakukan itu hanya untuk menjaga perasaanku.
Ya betul aku biasa marah dan tidak bisa menahan emosi kalau melihatnya akrab dengan orang lain, tidak hanya di facebook juga di dunia nyata.
Orang yang kemarin di bilang tidak sensitif oleh seorang friendlistnya di facebook, malah mati – matian menjaga perasaan pasangannya.
Jadi bukan karena ia cuek tidak mau mendengar masukan orang lain, yang penting baginya adalah menjaga perasaan orang yang dicintainya.
seseorang yang banyak dibilang sombong, malah memberikan setengah penghasilannya untuk membantu pasien anak – anak? Orang yang tidak segan memberikan uang seratus ribuan kepada pengemis? Ia yang bahkan tidak segan melakukan apapun apabila mendengar temannya kesusahan?
Pernah, seseorang yang dikenal baik olehnya di facebook, sekalipun mereka tidak pernah bertemu, mengirim pesan di akun facebook ku meminta bantuan agar bisa bekerja di perusahaanku, kebetulan pesan tersebut di baca inu.
Saya bilang: “jangan yank, kecuali dia normal silahkan, selama mereka gay iras selalu merasa mereka memiliki peluang mendekati dan merebut sayang..”
Rupanya ia memegang kata – kata tersebut dengan baik. Sampai sekarang ia tidak pernah ingin mengulurkan tangan begitu saja kepada siapapun yang tidak begitu ia kenal atau tidak pernah ia temui sebelumnya, hanya karena kata – kataku itu.
Ia adalah seorang pemegang janji dan penjaga perasaan yang baik, terlalu baik malah.
Lalu, yang banyak sekali mempesona banyak orang, apalagi selain kehalusan kata – katanya. Setiap kalimat romantic yang ia buat di status facebooknya yang tentu saja ia tujukan untukku, membuat banyak orang mengangguminya.  Bahkan tidak jarang orang – orang sering mengajaknya jadian dan selingkuh dariku.
Lalu dengan tegas ia bilang “gue udah punya iras yang keren, ngapain macarin yang begituan..” pedas bukan? Namun percayalah, orang yang pandai merangkai kata – kata manis, pintar juga merangkai kata dengan rasa yang lain.
Tidak jarang, status tidak romantisnya pun muncul, kadang kocak, bijak, marah, mengutuk atau hal – hal yang tidak penting seperti “gak tau kenapa kalau masuk ke minimarket itu malah suka dorong pintu yang tarik dan tarik yang pintu dorong ppfftt..”
Ia adalah sastrawan modern menurutku, penggemar berat kahlil Gibran, khairil anwar, rendra dan pram.  Aku bahkan bisa melihat sesuatu yang ditulisnya walaupun tidak penting namun tetap berkualitas.
Jika kebetulan kami lagi sama – sama, ia akan memikirkan betul kata – kata apa yang kira – kira pantas ia tulis sekalipun ia menulis status kocak.  Maka status kocaknya akan benar – benar kocak.  Walau tidak jarang status yang ia buat lucu awalnya malah ditanggapi serius.  Dinamika manusia bukan?
Namun satu yang pasti, ia tidak pernah memberikan tombol like di status orang lain atau ribut – ribut mengomentari status orang lain.  Alasan sederhananya adalah, ngapain ngurusin urusan orang bukannya orang yang nulis status di facebook itu karena punya urusan? Facebook ku, Cuma soal aku, kamu, kegiatan pacaran kita dan orang – orang yang mau baik sama kita..”
Dia memang sastrawan sejati.  Kegilaannya pada sastra membuatnya pintar sangat pintar merangkai kata yang tidak mungkin dikalahkan orang lain.  Dibalik itu, ia adalah orang dengan otak yang tidak biasa.
Ini hanya bentuk kekagumanku pada pacar sendiri.
Bagian terbaik dari mimpi adalah kita bisa melakukan semua hal menyenangkan tanpa satupun batas.  Memiliki inu rasanya kurang lebih seperti itu.  Seperti mimpi, sebuah mimpi yang jika sedang tidur aku memilih tidak akan bangun selamanya.  Namun inu nyata, ia nyata, ada di sampingku, membuat segala hal menjadi sebuah kemungkinan yang nyata.  Semangat dari senyumnya yang terus membuatku percaya bahwa hidup terbaik tidak dilakukan sendirian.  Jika mau jadi orang hebat, kita harus punya seseorang yang tangguh di samping kita.
Tidak, aku tidak pernah mau menyebut inu berada di belakang semua keberhasilan yang ku capai.  Karena ia setia di sampingku, memang seperti itu seharusnya yang dilakukan setiap pasangan di manapun, siapapun, normal atau tidak sekalipun.  Kita tidak bisa menjadi bagian kecil dari kesuksesannya, namun kita lah yang menentukan bagian besar keberhasilannya.
Di suatu sore, kami pernah berangkat ke sebuah bioskop, inu adalah pemburu film – film baru, ia penggemar film fiksi, romantis, dan comedi.  Film action hanya akan ia tonton apabila butuh sesuatu untuk meningkatkan adernalinnya. Waktu itu di bioskop sedang diputar sekuel dari film batman “Batman the dark rises” alasannya menonton karena di sana ada anna hateway dan joseph Gordon levit.  Keduanya pemain film yang sangat ia sukai, sebagian kecil dari aktor – aktor keren Hollywood lainnya yang ia jadikan panutan, bahkan terkadang beberapa karakter dari film yang dibintangi oleh aktor – aktor favoritnya ia jadikan karakter dalam cerpen – cerpen yang sering ia buat.
Dengan agak cemburu sore itu saya berangkat menemaninya menonton, sepanjang film inu konsentrasi penuh, menikmati berbagai adegan aksi di film tersebut.  Namun yang membuat ku terperanjat adalah di tengah – tengah film ia menangis.  Ia bahkan memeluk ku erat.
Waktu itu tepat film tepat menampilkan adegan di mana ayah pengurus panti asuhan robin mengumpulkan anak – anaknya di tengah jembatan dan mengajak mereka semua menunduk ketika tahu bahwa bom akan segera meledak.
Aku tahu, setiap film yang menampilkan sosok ‘kindess’ seorang ayah maka inu akan sangat terhanyut dalam adegan tersebut, rupanya rasa kehilangan itu tidak menguap sama sekali.  Aku sangat tahu, rasa rindu pada papa nya sangat besar. 
Hal ini yang membuatku semakin mencintainya, rasa cintanya rasa memilikinya yang besar, membuatku tidak mungkin mau kehilangan orang yang memiliki cinta seperti ini. Papanya sudah berlalu cukup jauh namun inu masih mencintainya dengan luar biasa.
 pernah kehilangan inu adalah sebuah kesalahan besar yang pernah aku lakukan. ya, kehilangan yang disengaja akibat ketidak hati - hatianku.  aku menjalani serangkaian hari - hari yang buruk yang tak kunjung membaik saat ia tidak ada. 
namun, begitu mengetahui inu pun tidak begitu baik ketika aku tidak ada kesedihan begitu menjalariku. ketika pertama kali kami bertemu lagi setelah beberapa bulan berpisah, inu kurus, sedang sakit, bahkan aku menemukannya ketika hampir pingsan gara - gara alergi.
hal itu yang membuatku tidak akan sanggup jika harus kehilangannya lagi.

Senin sore, aku datang ke kantor inu. Ia hendak pamitan dengan seluruh bawahannya, ku pikir hal ini tidak akan lama, inu hanya dua bulan berada di sana.  Namun yang ku dapati adalah hal yang berbeda, hampir semua bawahannya menundukan kepala dan beberapa terisak saat inu menyampaikan bahwa dia akan pergi dan mungkin tidak akan kembali ke Indonesia dalam waktu yang dekat.
Aku tidak perlu bertanya satu – satu pada mereka rasanya, aku sendiri bisa menyimpulkan hal ini.Selama ini, aku telah dicintai oleh seseorang yang dicintai oleh banyak orang.Ya betul, seseorang berhati hangat yang mencintai siapapun dan apapun tanpa kenal pamrih.
ia tidak menunjukan bahwa ia pun hendak menangis, namun ketika kembali ke dalam kantornya ia memeluk ku cukup lama sambil sedikit terisak.  Sebelum aku berhasil mengusap air matanya, ia sudah merapihkan wajahnya sambil tersenyum
“perpisahan, kesedihan yang menarik bukan…” katanya sambil tersenyum lebih lebar lagi.
Aku menggenggam tangannya.  Aku tidak berusaha mencari tahu apapun yang telah ia lakukan pada orang – orang di dalam gedung ini, hal itu hanya akan semakin membesarkan kepalaku.
Ku bilang padanya bahwa rencana kami bisa dirubah, namun ia menggeleng.
Ia menyerahkan satu bok kecil yang memuat beberapa benda miliknya di dalam kantor, ini hari terakhir kami untuk membawa semua barang kami.  Bahkan kami sudah mengosongkan apartemen dan tinggal di rumah kami di PIK.  Besok mama ku, mama nya inu, akan datang, hendak mengantarkan kami nanti.
“inu sudah gak sabar rasanya, tiap hari kita ngebut di jalan – jalan kota paris, sambil berusaha agar kopi kita tidak sampai tumpah di dalam mobil, jalan – jalan hanya dengan menggunakan kaos, jeans belel dan snicker, pacaran di manapun, melihat pemandangan Eiffel di mana pun, ngomong basa sunda pada setiap bule yang kita temui, dan… kangen pada semua yang ada di Indonesia…”
Matanya menatap ke dinding atas lift yang membawa kami berdua.
“mereka yang ada di sini? Juga mereka yang ada di facebook?”
“tentu saja, ingat doa dari setiap kalimat “langgeng ya” dari mereka, kita bahkan punya kewajiban untuk menjawab setiap do’a mereka tersebut..”
Aku mengangguk, dia adalah pemberi balas budi terbaik.
“iras penasaran dengan rumah kita di paris…” kataku memancing, meskipun aku sudah tahu dengan sangat detail mengenai tempat yang akan kami huni tersebut.
“inu penasaran bagaimana kita akan dikenang..” matanya tetap menatap kosong.  Belum sampai membuatnya sadar.
“baik dan buruk kita pasti akan diingat, sayang tidak usah khawatir..”
Ia mengangguk.  Lift terbuka, ia memandang sekeliling.
“mungkin inu akan kembali ngantor di sini, setelah nanti kita membawa jago – jagoan kecil kita, bosan tinggal di zurich, dan kamu sedang berusia empat puluhan..” mata nakalnya menatap ku “kamu pasti akan terlihat seksi saat itu..”
“ah iras tidak sangka, ternyata pacar iras odipus kompleks..”
“dug” ia menginjak kaki ku dan membuatku meringis.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar