Blue..
Oleh
Iras
Sore ini, di sebelah tubuh
inu yang tidur kecapean gara – gara seharian kami keliling bandung berdua. Saya terpikir untuk menulis sesuatu
tentangnya, tentang betapa hebatnya ia betapa beruntungnya saya bisa mendapatkannya.
Bertemu inu, mengenalnya
bahkan kini bisa memilikinya adalah sesuatu yang lebih dari sekedar
keajaiban. Bagaimana tidak, awal
pertemuan kami tidak berjalan mulus, beberapa ulahku berhasil membuatnya murka. kami gagal di pandangan pertama. Bahkan ku ingat sekali ketika ia datang ke
kelas mencariku, tanpa basa – basi apapun ia mencengkram leher kemeja ku dan
menantang berkelahi.
Namun, namun setelah beberapa hari aku sadar
sesuatu dari matanya menembus jauh ke sudut dada. Cinta.
Merupakan penjelasan yang cukup logis untuk hal ini, ketika tanpa akal
sehat aku memaksanya untuk ikutan tim basket hanya karena ingin lebih dekat
dengannya.
Ketika kami berhasil
jadian, ketika hatinya benar – benar luluh, aku sadar, aku baru saja menjadi
pacar seorang yang hebat dengan luka cukup besar di hatinya. Papa inu seorang pilot, meninggal dalam
sebuah kecelakaan pesawatnya di srilangka ketika ia SMP. Kecelakaan tersebut terjadi satu hari sebelum
ia final pertandingan liga basket nasional U-15.
Aku mengetahui hal ini diam
– diam dari sepupunya yang waktu itu kebetulan pengurus osis juga di SMA. Sejak
kejadian tersebut inu memutuskan untuk tidak main basket lagi. Aku tahu bahkan bisa merasakan lukanya
tersebut, apalagi kami adalah dua orang yang benar – benar mencintai basket.
Dibawah tekanan pelatih tim
kami dan kepala sekolah akhirnya inu mau bergabung dengan tim basket sekolah
waktu itu, di bandung sekolah kami berhasil menjuarai liga basket kota
bandung. Ia memasukan banyak bola waktu
itu. Beberapa bulan kemudian, ia
berhasil menjadi salah satu atlet yang membawa tim basket Indonesia mendapat
juara satu di liga basket tingkat asia.
Yang mengejutkan adalah
prestasi sekolahnya, nilainya selalu di atas rata – rata, walau ia cuek dan
terkesan malas – malasan belajar, tidak jarang PR – PR nya aku yang mengerjakan
di sela – sela makan siang atau ketika kami nongkrong. Ia berhasil menjadi juara umum setiap tahun.
Ketika ia kalah taruhan
oleh mamanya, dan harus mengambil kuliah keperawatan, sesuaatu yang tidak
pernah masuk ke dalam rencananya. Namun
dengan enteng dia bilang “gampang lah pasti beres empat semester..”
Semua orang dibuat kaget
dengan hal itu. Walau pada akhirnya dia
menyelesaikan sarjana keperawatannya harus lima semester. Aku pernah Tanya mama, kenapa inu harus
dipaksa masuk keperawatan. Jawabannya
sederhana, inu tidak tertarik menjadi pengusaha dan mama tidak
mengijinkannya. Rupanya kecelakaan
pesawat papa berkaitan dengan persaingan bisnis dan perebutan kekuasaan di
perusahaan kakeknya.
Aku faham akhirnya. Ini juga alasan kenapa beberapa kali inu
hampir celaka, antara disengaja atau tidak ada orang yang selalu berupaya
mencelakainya bahkan mengancam nyawanya.
Yang mengejutkan berikutnya
adalah, di balik ketidaksukaan inu pada dunia bisnis yang selalu ia tunjukan
apabila aku mulai sibuk mengurusi bisnis keluargaku. Ia malah ditunjuk oleh kakeknya di Jakarta
untuk menjadi wakil presiden direktur di perusahaannya. Kakeknya meminta inu melakukan hal itu
setidaknya dua bulan sebelum keberangkatan kami ke paris.
Waktu itu aku dapat melihat
jelas kekalutan di wajahnya, namun esok paginya ketika bangun tidur dengan
stelan rapi ia siap berangkat ke kantor di pusat bisnis Jakarta. Sudirman city.
Aku tahu, di dewan
komisaris perusahaannya banyak sekali yang memandang sebelah mata
kemampuannya. Ia sarjana keperawatan
bukan seseorang dengan latar belakang pendidikan bisnis atau ekonomi, mereka
semua meragukannya.
Namun aku tahu siapa
pacarku, dia seseorang dengan IQ 156.
Hampir sama dengan Einstein. Tidak heran jika mama pernah mengatakan
bahwa inu lancar membaca buku dongeng di usia tiga tahun.
Beberapa minggu inu ku
memimpin perusahaan, harga saham perusahaan naik, aku tahu perusahaan yang kini
dipegangnya mengalami untung besar.
Namun dibalik senyumnya, ketika perhitungan penghasilan, ia bilang:
“uang inu bulan ini, kita
tabung buat di paris, sebagian lagi jangan kamu tanyain..”
Aku bingung, uang kami
berdua yang kami kumpulkan untuk nanti selama tinggal di paris bertambah bahkan
tiga kali lipat. Uang sebanyak itu ia
kemanakan. Ia tidak mau bilang sama
sekali, inisiatif ku berbicara. Aku menelpon sekertarisnya.
Mulutku tidak berhenti
menaburkan hamdalah dan takbir, ketika mengetahui uang tiga milyar itu ia
sumbangkan untuk membantu menangani perawatan pasien anak – anak di seluruh
rumah sakit di Kalimantan dan papua. Sisanya ia sumbangkan ke rumah sakit di
sukabumi tempat dulu ia banyak belajar sewaktu kuliah.
Ketika banyak hal yang
harusnya ia pikirkan di usia mudanya, ia malah memikirkan kehidupan banyak
orang. Ketika aku Tanya, apakah ia tidak
khawatir uangnya berkurang atau perusahaan tiba – tiba kolaps uang sebanyak itu
ia berikan begitu saja.
Ia hanya menjawab dengan
senyum “gak ada yang mustahil buat tuhan, ia mau membalasnya sepuluh kali
lipat, kenapa harus khawatir dengan hal sepele seperti uang..”
Kurang lebih enam bulan
lalu, sewaktu kami berdua liburan di Malaysia. Kami kedatangan tamu dari sebuah
yayasan di Singapore yang berbasis di California. Mereka adalah LSM yang
memperjuangkan legalitas kaum LGBT. Mereka ingin meminta bantuan, soal
perjuangan kaum LGBT di Negara kami Indonesia.
Jiwa social pacarku pasti
tidak akan menolak, begitu pikirku waktu itu.
Namun pernyataanku salah. Inu
menolak keras. Ia malah enggan memberikan uang sepeserpun. Aku menawarkan, namun ia marah dan menahanku.
“iya betul ini perjuangan mereka
memperjuangkan hak mereka, jadi biarkan mereka sendiri yang berjuang, kalau
saja yang datang ke sini dari yayasan anak sekalipun palsu inu tidak akan
perhitungan..”
Mungkin ia ingin setiap
orang berjuang seperti kami, tidak pernah meminta bantuan lembaga manapun untuk
memperjuangkan hubungan kami berdua. Aku
mencoba memahaminya, meskipun masih tidak habis pikir. Dimana jiwa solidaritas
pacarku kali ini.
Di kemudian hari aku
mengerti soal pandangannya terhadap hal ini, hidup kami berdua hanya terbuka
sedikit pada dunia luar selain dari keluarga dan teman – teman kami. Sebagian kecil hanya kami bagi di media
social facebook. Suatu saat ia bilang
bahwa, apa yang ia lakukan di facebook, yang aku ia ikut sertakan di sana
adalah untuk menunjukan pada sebagian orang yang mengerti bahwa aku dan inu
mewakili orang – orang seperti kami, inilah saatnya kita tidak dilecehkan oleh
pandangan terhadap diri sendiri. Bukan
oleh orang lain.
Terkadang, ada orang yang
merasa tidak mungkin mengakui bahwa ia seorang laki – laki mencintai laki –
laki. Atau seorang perempuan yang
begitu. Atau pun kita yang memiliki
tujuan cinta yang tak sama dengan orang kebanyakan. Masalah bukan pada pandangan orang lain
terhadap cinta yang kita miliki, namun kita sendiri yang terlalu meremehkan
cinta yang ada pada diri sendiri bahwa tidak mungkin seorang laki – laki
mencintai laki – laki lagi, tidak mungkin seorang perempuan mencintai perempuan
lagi.
Ini sama sekali bukan demo
atau upaya provokasi agar semua orang di Negara ini turun ke jalan menyuarakan
hak kaum kita, tidak sama sekali. Kami
adalah orang yang cinta damai.
Bagaimanapun kesantunan yang bangsa kita punya, nilai agamanya yang
kuat, norma nya yang luar biasa, adalah hal – hal yang harus kita jaga.
Yang paling gampang dari
kesimpulan ini adalah, saat Negara tidak mungkin memberikan yang kita perlu,
maka ada dua pilihan, jangan memintanya yang kedua cari Negara lain yang bisa
memberikannya.
Mungkin ini juga yang
membuat kami akhirnya memilih paris, semata – mata bukan karena di sana hokum
tentang gay sudah dilegalkan, tidak sama sekali. Atau tentang mewujudkan impian – impian lugu
tentang pernikahan, tidak juga.
Pernikahan sama sekali bukan tujuan utama kami (aku dan inu) dalam
hidup. Tujuan hidup kami hanya ingin
bahagia. Pernikahan hanya salah satu
rencananya. Terwujud atau tidak kami
hanya ingin menyerahkannya pada waktu.
Kami butuh identitas. Itu
saja. Tidak kami tutupi bahwa
keberangkatan kami ke paris nanti adalah untuk menetap kemudian pindah kewarganegaraan,
agar semua yang kami lakukan menjadi sangat aman. Sebagai manusia hidup rasanya
kami sangat memerlukan hal itu. Suatu
saat, mungkin orang akan bertanya – Tanya, kami yang tidak memiliki hubungan
darah apapun tinggal dalam satu rumah.
Untuk menjawab hal ini, kami memerlukan sesuatu yang disebut pernikahan.
Mungkin ini sedikit gila,
tapi begitulah, alasan kami hanya memerlukan setengah dari kesakralan
pernikahan biar inu yang jawab. Ia punya
alasan kuat untuk hal ini. Bagiku,
menikah atau tidak, asal terus bersama inu itu sudah lebih dari cukup.
inuku, ia adalah seseorang
dengan cinta yang besar terhadap anak – anak.
Tidak aneh jika keponakan – keponakannya begitu dengannya. Ia penyayang
binatang, ia bahkan pernah mengganti rugi pedagang burung di pasar burung di
sukabumi gara – gara melepaskan seluruh burung dari kandang yang sedang di
jajakannya.
Aku tidak memuji, atau
mebesar – besarkan siapa pacarku. Namun
aku sedang bicara pada diri sendiri betapa beruntungnya memiliki dia.
Seseorang yang sering
disebut sombong di facebook gara – gara tidak pernah mau membalas pesan masuk
atau pun komentar dari orang lain, kini aku tahu ia melakukan itu hanya untuk
menjaga perasaanku.
Ya betul aku biasa marah
dan tidak bisa menahan emosi kalau melihatnya akrab dengan orang lain, tidak
hanya di facebook juga di dunia nyata.
Orang yang kemarin di
bilang tidak sensitif oleh seorang friendlistnya di facebook, malah mati –
matian menjaga perasaan pasangannya.
Jadi bukan karena ia cuek
tidak mau mendengar masukan orang lain, yang penting baginya adalah menjaga
perasaan orang yang dicintainya.
seseorang yang banyak
dibilang sombong, malah memberikan setengah penghasilannya untuk membantu
pasien anak – anak? Orang yang tidak segan memberikan uang seratus ribuan
kepada pengemis? Ia yang bahkan tidak segan melakukan apapun apabila mendengar
temannya kesusahan?
Pernah, seseorang yang
dikenal baik olehnya di facebook, sekalipun mereka tidak pernah bertemu,
mengirim pesan di akun facebook ku meminta bantuan agar bisa bekerja di
perusahaanku, kebetulan pesan tersebut di baca inu.
Saya bilang: “jangan yank,
kecuali dia normal silahkan, selama mereka gay iras selalu merasa mereka
memiliki peluang mendekati dan merebut sayang..”
Rupanya ia memegang kata –
kata tersebut dengan baik. Sampai sekarang ia tidak pernah ingin mengulurkan
tangan begitu saja kepada siapapun yang tidak begitu ia kenal atau tidak pernah
ia temui sebelumnya, hanya karena kata – kataku itu.
Ia adalah seorang pemegang
janji dan penjaga perasaan yang baik, terlalu baik malah.
Lalu, yang banyak sekali
mempesona banyak orang, apalagi selain kehalusan kata – katanya. Setiap kalimat
romantic yang ia buat di status facebooknya yang tentu saja ia tujukan untukku,
membuat banyak orang mengangguminya.
Bahkan tidak jarang orang – orang sering mengajaknya jadian dan
selingkuh dariku.
Lalu dengan tegas ia bilang
“gue udah punya iras yang keren, ngapain macarin yang begituan..” pedas bukan?
Namun percayalah, orang yang pandai merangkai kata – kata manis, pintar juga
merangkai kata dengan rasa yang lain.
Tidak jarang, status tidak
romantisnya pun muncul, kadang kocak, bijak, marah, mengutuk atau hal – hal
yang tidak penting seperti “gak tau kenapa kalau masuk ke minimarket itu malah
suka dorong pintu yang tarik dan tarik yang pintu dorong ppfftt..”
Ia adalah sastrawan modern
menurutku, penggemar berat kahlil Gibran, khairil anwar, rendra dan pram. Aku bahkan bisa melihat sesuatu yang
ditulisnya walaupun tidak penting namun tetap berkualitas.
Jika kebetulan kami lagi
sama – sama, ia akan memikirkan betul kata – kata apa yang kira – kira pantas
ia tulis sekalipun ia menulis status kocak.
Maka status kocaknya akan benar – benar kocak. Walau tidak jarang status yang ia buat lucu
awalnya malah ditanggapi serius.
Dinamika manusia bukan?
Namun satu yang pasti, ia
tidak pernah memberikan tombol like di status orang lain atau ribut – ribut
mengomentari status orang lain. Alasan
sederhananya adalah, ngapain ngurusin urusan orang bukannya orang yang nulis
status di facebook itu karena punya urusan? Facebook ku, Cuma soal aku, kamu,
kegiatan pacaran kita dan orang – orang yang mau baik sama kita..”
Dia memang sastrawan
sejati. Kegilaannya pada sastra
membuatnya pintar sangat pintar merangkai kata yang tidak mungkin dikalahkan
orang lain. Dibalik itu, ia adalah orang
dengan otak yang tidak biasa.
Ini hanya bentuk
kekagumanku pada pacar sendiri.
…
Bagian terbaik dari mimpi
adalah kita bisa melakukan semua hal menyenangkan tanpa satupun batas. Memiliki inu rasanya kurang lebih seperti itu. Seperti mimpi, sebuah mimpi yang jika sedang
tidur aku memilih tidak akan bangun selamanya.
Namun inu nyata, ia nyata, ada di sampingku, membuat segala hal menjadi
sebuah kemungkinan yang nyata. Semangat
dari senyumnya yang terus membuatku percaya bahwa hidup terbaik tidak dilakukan
sendirian. Jika mau jadi orang hebat,
kita harus punya seseorang yang tangguh di samping kita.
Tidak, aku tidak pernah mau
menyebut inu berada di belakang semua keberhasilan yang ku capai. Karena ia setia di sampingku, memang seperti
itu seharusnya yang dilakukan setiap pasangan di manapun, siapapun, normal atau
tidak sekalipun. Kita tidak bisa menjadi
bagian kecil dari kesuksesannya, namun kita lah yang menentukan bagian besar keberhasilannya.
Di suatu sore, kami pernah
berangkat ke sebuah bioskop, inu adalah pemburu film – film baru, ia penggemar
film fiksi, romantis, dan comedi. Film
action hanya akan ia tonton apabila butuh sesuatu untuk meningkatkan adernalinnya.
Waktu itu di bioskop sedang diputar sekuel dari film batman “Batman the dark
rises” alasannya menonton karena di sana ada anna hateway dan joseph Gordon
levit. Keduanya pemain film yang sangat
ia sukai, sebagian kecil dari aktor – aktor keren Hollywood lainnya yang ia
jadikan panutan, bahkan terkadang beberapa karakter dari film yang dibintangi
oleh aktor – aktor favoritnya ia jadikan karakter dalam cerpen – cerpen yang
sering ia buat.
Dengan agak cemburu sore
itu saya berangkat menemaninya menonton, sepanjang film inu konsentrasi penuh,
menikmati berbagai adegan aksi di film tersebut. Namun yang membuat ku terperanjat adalah di
tengah – tengah film ia menangis. Ia
bahkan memeluk ku erat.
Waktu itu tepat film tepat
menampilkan adegan di mana ayah pengurus panti asuhan robin mengumpulkan anak –
anaknya di tengah jembatan dan mengajak mereka semua menunduk ketika tahu bahwa
bom akan segera meledak.
Aku tahu, setiap film yang
menampilkan sosok ‘kindess’ seorang ayah maka inu akan sangat terhanyut dalam
adegan tersebut, rupanya rasa kehilangan itu tidak menguap sama sekali. Aku sangat tahu, rasa rindu pada papa nya
sangat besar.
Hal ini yang membuatku
semakin mencintainya, rasa cintanya rasa memilikinya yang besar, membuatku
tidak mungkin mau kehilangan orang yang memiliki cinta seperti ini. Papanya
sudah berlalu cukup jauh namun inu masih mencintainya dengan luar biasa.
…
pernah kehilangan inu adalah sebuah kesalahan besar yang pernah aku lakukan. ya, kehilangan yang disengaja akibat ketidak hati - hatianku. aku menjalani serangkaian hari - hari yang buruk yang tak kunjung membaik saat ia tidak ada.
namun, begitu mengetahui inu pun tidak begitu baik ketika aku tidak ada kesedihan begitu menjalariku. ketika pertama kali kami bertemu lagi setelah beberapa bulan berpisah, inu kurus, sedang sakit, bahkan aku menemukannya ketika hampir pingsan gara - gara alergi.
hal itu yang membuatku tidak akan sanggup jika harus kehilangannya lagi.
Senin sore, aku
datang ke kantor inu. Ia hendak pamitan dengan seluruh bawahannya, ku pikir hal
ini tidak akan lama, inu hanya dua bulan berada di sana. Namun yang ku dapati adalah hal yang berbeda,
hampir semua bawahannya menundukan kepala dan beberapa terisak saat inu
menyampaikan bahwa dia akan pergi dan mungkin tidak akan kembali ke Indonesia
dalam waktu yang dekat.
Aku tidak perlu
bertanya satu – satu pada mereka rasanya, aku sendiri bisa menyimpulkan hal
ini.Selama ini, aku telah dicintai oleh seseorang yang dicintai oleh banyak
orang.Ya betul, seseorang berhati hangat yang mencintai siapapun dan apapun
tanpa kenal pamrih.
ia tidak
menunjukan bahwa ia pun hendak menangis, namun ketika kembali ke dalam
kantornya ia memeluk ku cukup lama sambil sedikit terisak. Sebelum aku berhasil mengusap air matanya, ia
sudah merapihkan wajahnya sambil tersenyum
“perpisahan,
kesedihan yang menarik bukan…” katanya sambil tersenyum lebih lebar lagi.
Aku menggenggam
tangannya. Aku tidak berusaha mencari
tahu apapun yang telah ia lakukan pada orang – orang di dalam gedung ini, hal
itu hanya akan semakin membesarkan kepalaku.
Ku bilang
padanya bahwa rencana kami bisa dirubah, namun ia menggeleng.
Ia menyerahkan
satu bok kecil yang memuat beberapa benda miliknya di dalam kantor, ini hari
terakhir kami untuk membawa semua barang kami.
Bahkan kami sudah mengosongkan apartemen dan tinggal di rumah kami di
PIK. Besok mama ku, mama nya inu, akan
datang, hendak mengantarkan kami nanti.
“inu sudah gak
sabar rasanya, tiap hari kita ngebut di jalan – jalan kota paris, sambil
berusaha agar kopi kita tidak sampai tumpah di dalam mobil, jalan – jalan hanya
dengan menggunakan kaos, jeans belel dan snicker, pacaran di manapun, melihat
pemandangan Eiffel di mana pun, ngomong basa sunda pada setiap bule yang kita
temui, dan… kangen pada semua yang ada di Indonesia…”
Matanya menatap
ke dinding atas lift yang membawa kami berdua.
“mereka yang ada
di sini? Juga mereka yang ada di facebook?”
“tentu saja,
ingat doa dari setiap kalimat “langgeng ya” dari mereka, kita bahkan punya
kewajiban untuk menjawab setiap do’a mereka tersebut..”
Aku mengangguk,
dia adalah pemberi balas budi terbaik.
“iras penasaran
dengan rumah kita di paris…” kataku memancing, meskipun aku sudah tahu dengan
sangat detail mengenai tempat yang akan kami huni tersebut.
“inu penasaran
bagaimana kita akan dikenang..” matanya tetap menatap kosong. Belum sampai membuatnya sadar.
“baik dan buruk
kita pasti akan diingat, sayang tidak usah khawatir..”
Ia
mengangguk. Lift terbuka, ia memandang
sekeliling.
“mungkin inu
akan kembali ngantor di sini, setelah nanti kita membawa jago – jagoan kecil
kita, bosan tinggal di zurich, dan kamu sedang berusia empat puluhan..” mata
nakalnya menatap ku “kamu pasti akan terlihat seksi saat itu..”
“ah iras tidak
sangka, ternyata pacar iras odipus kompleks..”
“dug” ia
menginjak kaki ku dan membuatku meringis.
…
Tidak ada komentar:
Posting Komentar