Aku membuka pintu rumah,
mama akhirnya sampai juga di Jakarta. Ia sudah merencakan cuti sejak jauh hari
untuk beberapa hari ini, membantuku mempersiapkan segala hal untuk
keberangkatan ku ke paris, atau mengantarku hingga ke halim.
“Nu, tuperware mama yang
waktu itu kamu bawa dari bandung di mana? YANG WARNA IJOOO..” suaranya meninggi
di bagian ini “jangan sampe kamu bawa ke paris..”
Baiklah kawan – kawan,
jangan pernah main – main sama tuperware mama kalian. Pernah iras memberikan makan kucing peliharaan
amih di rumah menggunakan salah satu tuperware mama, alhasil seminggu ia
diomelin, kalau iras seharian ada di rumah, maka sehari itu mama ceramah.
Mama memang possesif sama
tupperwarenya. Buktinya, sampai ke rumah anak sendiri yang ditanyain malah tupperawernya.
“mama cari di dapur, waktu
itu inu bawa ke apartemen, tapi sekarang semua yang dari apartemen sudah dibawa
ke sini..” kataku. Sudah hampir sore dan
iras sedang di luar, ia menjemput mamanya juga ke bandara.
“aaaaarrrkkkkkk adaaaaaa..”
mama berteriak dari dapur. Aku tahu
berarti barang kesayangannya.
Baikalah teman – teman, ku
deskripsikan sebentar seperti apa mamaku ini, usianya lima delapan tahun ini.
Dan ia belum menopause. Itu yang
membuatku takut jika ia menikah, ia bisa saja mempunyai anak lagi. Kalau kalian melihat penampilannya, Julia
perez atau nikita mirzani mah lewat.
Mama ku punya rambut yang
tergerai panjang berwarna merah, tubuh yang ramping gara – gara aerobic, bally
dance, senam di rumah sakit, kardio bahkan yoga. Masalah dandan, jangan Tanya lagi. Pakaian? Sudahlah, tidak usah dibahas, susah
dijelaskan rasanya.
Mungkin sikap nya inilah
yang akhirnya membuat kami sangat dekat, ia sangat berpikiran maju dan muda.
Dibalik kebawelannya, ia adalah seorang ibu yang hangat, dibalik hoby dandan
dan cara mati – matiannya menjaga bentuk badan, ia tetap setia pada papa dan
tidak mau menikah lagi.
Ia akan seharian memainkan
game zunga di laptopnya, kalau sore – sore dia menghilang, itu berarti dia
sedang pergi karokean bersama perawat asistennya atau teman – teman dokternya
yang lain. Dan mama bukan penyuka
dangdut sama sekali, ia hafal betul semua lagu whitney Houston.
“koper yang itu jangan lupa
bawa..” mama menunjuk sebuah koper di sudut ruang tengah yang baru saja
diletakan oleh sopir di sana.
“apa nih ma isi nya?”
tanyaku penasaran sambil membuka koper tersebut.
Aku hampir terbelalak,
sebelum akhirnya ketawa.
“awas kalau tidak kamu
bawa, pamali etah, udah warisan turun temurun sejak apih tinggal di luar
negeri, eta jimat kudu di bawa…”
Aku tidak berhenti tertawa,
mengingat benda tersebut telah menjadi warisan mascot di keluarga kami.
….
Iras sudah kembali ke
rumah, ia sedang mandi, sementara aku bertiga bersama kedua mama ku menyiapkan
makan malam. Tentu yang memasak kali ini mereka, aku hanya membantu menyiapkan
menghidangkan ke meja makan.
Iras muncul dari tangga,
sambil mengeringkan rambutnya dengan sebuah handuk kecil, rupanya matanya
tertarik pada sebuah koper tua, bermotif kuda – kuda kecil di ruang tengah yang
tadi dibawa mama dari bandung.
Ia membuka koper tersebut,
keningnya seperti berkerut, mungkin ia butuh sedikit penerangan untuk melihat
lebih jelas lagi benda apa yang ada di dalamnnya. Ia sampai menggusur koper
tersebut ke tempat yang lebih terang.
“ini apa yank?” ia menatap
penuh Tanya kepadaku.
“shuuutt… kata mama benda
keramat, warisan turun temurun, harus dibawa kalau mau tinggal lama di luar
negeri..”
Tangan iras mengambil benda
yang tersembunyi di dalam koper, kemudian ia mengangkatnya tinggi – tinggi.
“coet? (cobek dalam bahasa
jawa) sama ulekannya?” kening iras mengerenyit sebelum akhirnya tertawa.
Aku mengangguk – angguk."kata mama, ini pernah mama bawa juga pas kuliah di London"
Tangan iras merapihkan lagi
koper tersebut, begitu selesai ia menghampiriku, menciumku sebentar. Wangi sabun dan shampoo di rambutnya menyerbu
indra penciumku.
“mochammad rifnu prihata,
bersediakah engkau untuk menjadi yang pertama saat aku membuka mata? Menjadi
satu – satunya? Menjadi yang sehidup semati bagi iras makki atmadja?
Bersediakah engkau..?”
Aku tersenyum mendengarkan
iras, kedua tangannya melingkar di pinggangku.
Dan kedua tanganku melingkar di pundaknya.
“wooyyy… wooyyyy… makan –
makan…” mama memukul – mukul meja makan.
Seketika aku melepas
pelukanku pada iras, kemudian membimbingnya ke meja makan.
“ini yang membuat iras
pengen cepat – cepat pindah ke paris..”
Aku tersenyum menanggapi
iras.
…
Tidak ada komentar:
Posting Komentar