Selasa, 27 Agustus 2013

44 : Warisan Keramat



Aku membuka pintu rumah, mama akhirnya sampai juga di Jakarta. Ia sudah merencakan cuti sejak jauh hari untuk beberapa hari ini, membantuku mempersiapkan segala hal untuk keberangkatan ku ke paris, atau mengantarku hingga ke halim.
“Nu, tuperware mama yang waktu itu kamu bawa dari bandung di mana? YANG WARNA IJOOO..” suaranya meninggi di bagian ini “jangan sampe kamu bawa ke paris..”
Baiklah kawan – kawan, jangan pernah main – main sama tuperware mama kalian.  Pernah iras memberikan makan kucing peliharaan amih di rumah menggunakan salah satu tuperware mama, alhasil seminggu ia diomelin, kalau iras seharian ada di rumah, maka sehari itu mama ceramah.
Mama memang possesif sama tupperwarenya. Buktinya, sampai ke rumah anak sendiri yang ditanyain malah tupperawernya.
“mama cari di dapur, waktu itu inu bawa ke apartemen, tapi sekarang semua yang dari apartemen sudah dibawa ke sini..” kataku.  Sudah hampir sore dan iras sedang di luar, ia menjemput mamanya juga ke bandara.
“aaaaarrrkkkkkk adaaaaaa..” mama berteriak dari dapur.  Aku tahu berarti barang kesayangannya.
Baikalah teman – teman, ku deskripsikan sebentar seperti apa mamaku ini, usianya lima delapan tahun ini. Dan ia belum menopause.  Itu yang membuatku takut jika ia menikah, ia bisa saja mempunyai anak lagi.  Kalau kalian melihat penampilannya, Julia perez atau nikita mirzani mah lewat. 
Mama ku punya rambut yang tergerai panjang berwarna merah, tubuh yang ramping gara – gara aerobic, bally dance, senam di rumah sakit, kardio bahkan yoga.  Masalah dandan, jangan Tanya lagi.  Pakaian? Sudahlah, tidak usah dibahas, susah dijelaskan rasanya.
Mungkin sikap nya inilah yang akhirnya membuat kami sangat dekat, ia sangat berpikiran maju dan muda. Dibalik kebawelannya, ia adalah seorang ibu yang hangat, dibalik hoby dandan dan cara mati – matiannya menjaga bentuk badan, ia tetap setia pada papa dan tidak mau menikah lagi.
Ia akan seharian memainkan game zunga di laptopnya, kalau sore – sore dia menghilang, itu berarti dia sedang pergi karokean bersama perawat asistennya atau teman – teman dokternya yang lain.  Dan mama bukan penyuka dangdut sama sekali, ia hafal betul semua lagu whitney Houston.
“koper yang itu jangan lupa bawa..” mama menunjuk sebuah koper di sudut ruang tengah yang baru saja diletakan oleh sopir di sana.
“apa nih ma isi nya?” tanyaku penasaran sambil membuka koper tersebut.
Aku hampir terbelalak, sebelum akhirnya ketawa.
“awas kalau tidak kamu bawa, pamali etah, udah warisan turun temurun sejak apih tinggal di luar negeri, eta jimat kudu di bawa…”
Aku tidak berhenti tertawa, mengingat benda tersebut telah menjadi warisan mascot di keluarga kami.
….
Iras sudah kembali ke rumah, ia sedang mandi, sementara aku bertiga bersama kedua mama ku menyiapkan makan malam. Tentu yang memasak kali ini mereka, aku hanya membantu menyiapkan menghidangkan ke meja makan.
Iras muncul dari tangga, sambil mengeringkan rambutnya dengan sebuah handuk kecil, rupanya matanya tertarik pada sebuah koper tua, bermotif kuda – kuda kecil di ruang tengah yang tadi dibawa mama dari bandung.
Ia membuka koper tersebut, keningnya seperti berkerut, mungkin ia butuh sedikit penerangan untuk melihat lebih jelas lagi benda apa yang ada di dalamnnya. Ia sampai menggusur koper tersebut ke tempat yang lebih terang.
“ini apa yank?” ia menatap penuh Tanya kepadaku.
“shuuutt… kata mama benda keramat, warisan turun temurun, harus dibawa kalau mau tinggal lama di luar negeri..”
Tangan iras mengambil benda yang tersembunyi di dalam koper, kemudian ia mengangkatnya tinggi – tinggi.
“coet? (cobek dalam bahasa jawa) sama ulekannya?” kening iras mengerenyit sebelum akhirnya tertawa.
Aku mengangguk – angguk."kata mama, ini pernah mama bawa juga pas kuliah di London"
Tangan iras merapihkan lagi koper tersebut, begitu selesai ia menghampiriku, menciumku sebentar.  Wangi sabun dan shampoo di rambutnya menyerbu indra penciumku.
“mochammad rifnu prihata, bersediakah engkau untuk menjadi yang pertama saat aku membuka mata? Menjadi satu – satunya? Menjadi yang sehidup semati bagi iras makki atmadja? Bersediakah engkau..?”
Aku tersenyum mendengarkan iras, kedua tangannya melingkar di pinggangku.  Dan kedua tanganku melingkar di pundaknya.
“wooyyy… wooyyyy… makan – makan…” mama memukul – mukul meja makan.
Seketika aku melepas pelukanku pada iras, kemudian membimbingnya ke meja makan.
“ini yang membuat iras pengen cepat – cepat pindah ke paris..”
Aku tersenyum menanggapi iras.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar