Selasa, 27 Agustus 2013

45 : Perjalanan



Landasan udara halim perdana kusuma agak sejuk pagi ini, pesawat jet milik opa sudah menanti kami berdua di landasan pacu.  Akhirnya altar yang menjadi pilot kami, akhirnya ia bisa berdamai dengan iras, dan nino pacarnya pun kini ikut serta dalam perjalanan kami berdua.
Iras masih sibuk dengan beberapa hal, aku memilih membuka laptop dan menulis beberapa hal yang membuatku agak sedikit gundah, hal biasa sebelum melakukan perjalan panjang.
Kurang lebih selama sepuluh jam ke depan aku akan berada di dalam pesawat dalam perjalanan kami ke paris.  Sebuah kota yang sudah lama kami impikan untuk menjadi tempat pacaran dan kencan terlama dalam sejarah.
Betapa tidak, selama di sana, kami hanya ingin kuliah, jalan – jalan dan pacaran.  Itu berarti selama kami berada di sana, selama itu lah kami pacaran.  Kami hanya berdua, tidak ada yang dikenal, tidak ada telpon seluller, tidak ada smartphone, tidak ada alamat email, tidak ada blackberry massanger, tidak ada facebook pokoknya tidak adapun satu akses menuju dunia luar.
Aku sudah membayangkan ini sebagai sesuatu yang menyenangkan.
Tidak usah panic, kami tidak akan menghapus blog kami juga, kami akan membiarkannya, dan untuk terakhir kali aku akan mengganti paswordnya dengan kalimat yang tidak akan aku ingat, sehingga aku tidak bisa membukannya lagi.
Kami akan tetap membiarkan blog kami tetap ada, karena mungkin ada orang yang membutuhkannya sebagai bahan bacaan, lebih keren lagi dijadikan referensi untuk beberapa hal.  Aku ragu akan hal itu.
Tapi aku janji, setelah kami di paris, aku akan memposting bagaimana hari pertama kami di sana. 
Semuanya ternyata tidak semudah yang dibayangkan, berbulan – bulan aku mempersiapkan diri untuk berpisah dengan keluarga, sahabat juga orang – orang terdekat yang lainnya.  Namun hal itu tidak ku lakukan pada teman – teman ku di facebook, teman – teman yang tidak sempat ku temui. Aku memanggil mereka seperti itu.
Kemarin ribki bilang begini padaku “ciyus bener hidup lu, gara – gara pindah ke paris doang sampai non aktifin facebook segala…”
Tapi ini sebuah kesepakatan dengan iras, aku tidak akan melanggarnya, meskipun iras menyuruhku untuk mempertimbangkannya lagi.
Selain itu, aku merasa bahwa tugasku di facebook sudah selesai, dulu aku tertarik membuat sebuah akun facebook saat mendengarkan curahan salah seorang temanku di kampus.  Tentang beberapa hal yang memberatkannya di facebook, juga media social lainnya.
Bahwa di media social adalah alam liar modern. Dimana hukum alam sangat berlaku.  Bahwa yang memegang kendali adalah orang yang memiliki tampang lumayan –tampan/cantik lah dalam hal ini- mau sebagus apapun status yang ia buat, selama tampangnya masih mirip dengan chris brown atau Rihanna mereka tidak layak untuk mendapatkan like lebih dari sepuluh.
Orang ganteng, bisa dengan leluasa memilih siapa saja yang bisa berinteraksi dengannya dan siapa saja yang bernasib hanya dibaca saja ketika mengirimkan pesan di inbox atau bahkan tidak pernah dibuka sama sekali. Ia bisa memilih sesuka hati oraang mana saja yang layak bertemu dengannya, dan mana saja yang ‘silahkan remove saja sendiri kalau tidak suka’
Media social adalah tempat pelacuran social paling terbuka.  Maaf, aku fans ahok maka aku pun hobi bicara jujur dan tegas.
Dimana orang yang sudah punya pasangan sekalipun, bisa dengan mudahnya dalam hitungan detik menemukan selingkuhan yang bisa diajak ketemu, having sex dan sudah. Padahal pasangannya galau setengah mati, merasa perjuangannya tidak dihargai. Menurutku, sebuah hubungan itu merupakan ajang berjuang, namun harus dua – duanya melakukan.  Kalau salah satu saja yang berjuang, berarti orang tersebut memperjuangkan orang yang salah. Berarti cinta orang tersebut bertepuk sebelah tangan.
Selalu ingat, bahwa rumah tangga di bangun oleh dua orang. Jika satu membangun dan satu hanya menempati, itu perumahan.
Betapa banyak orang – orang di media social yang melakukan hal tak berguna dalam hidupnya.  Hal yang bisa menyakiti hati orang lain.  Tidakkah terpikirkan bahwa orang lain juga punya hati?
Alasan ku membuat facebook untuk meluruskan hal itu, sengaja aku tidak pernah berteman dengan teman – teman di dunia nyata bahkan keluarga sendiri. Mengingat mama bahkan sudah punya lima ribu teman sejak bertahun – tahun yang lalu. Karena orang – orang sekitarku sudah mengetahui apa yang terjadi padaku dengan baik, mereka sudah menerimaku dengan sangat baik jadi tidak ada yang perlu aku lakukan lagi terhadap mereka selain membahagiakannya.
Aku ingin mengingatkan bahwa mereka yang diberikan kelebihanpun masih memiliki kekurangan.  Karena suatu kelebihan ditentukan oleh kekurangannya. Bagaimana mungkin pembeli beras bulog tahu kalau dia mendapatkan lebih satu liter beras, kalau saja dia tidak tahu berapa biasanya ia mendapatkan jatah beras.
Tidak semua orang cakep sombong, kalau benar begitu, tidak mungkin di grup – grup gay/jomblo/sejenisnya aku sering menemukan “halah omong doang, katanya fisik gak masalah, tapi setelah ketemu beda..” atau “halah tampang biasa saja ribet bener diajak ketemuan..”
Jadi, sombong tidak ditentukan tampang. Tapi bagaimana orang tersebut bersikap.  Dalam beberapa kasus yang dialami oleh orang cakep (berdasarkan pengalaman sendiri, uhuk uhuk) ketika banyak orang yang menyukai mereka, kemudian mulai terasa mengganggu maka senjata mereka adalah mengabaikan, yang kemudian ditanggapi oleh syaiton sebagai sikap sombong.
Dan faktanya orang cakep sering dapat inbox dan sering sekali diajak chating.
Contohnya begini. Kalau inu sedang sibuk atau agak malas membalas inbox.
Orang aneh (baca orang lain) : “hi”
Orang ganteng (baca inu)        : “ya”
Orang aneh                 : “lagi OL nih..”
Orang ganteng            : “ya”
Orang aneh                 : “sibuk ya?”
Orang ganteng            : “ya”
Orang aneh                 : “ganteng deh..”
Orang ganteng            : “yang lain juga bilang gitu..”
Orang aneh                 : “SOMBONG!”
Atau, kalau kita maksudnya becanda tapi ditanggapin nya beda:
KEPO-ers (baca yg ngirim inbox malem2)    : “PING!!!”
Si cakep (baca nya Inu lagi yaa)                    : “lu pikir lagi bbm-an…”
Kepo-ers         : “hehehe (mode autotext yang susah dibaca) lg apa nih..”
Si cakep          : “lagi ganteng kaya biasa…” (niatnya becanda ya, bukan sombong)
Kepo-ers         : hehehe (ngapain ya ini orang ketawa) iya tau kok keliatan, nak mana nih?
Si cakep          : “anak mama saya..”
Kepo-ers         : “hehehe (tetep) iyalah, masa anak tetangga..”
Menurut Lo hah!!
Kepo-ers         : “maksud aku kamu tinggal di mana?”
Si cakep          : “di rumah..”
Kepo-ers         : “hehehee iyalah di rumah, maksud aku kotanya dimana?”
Mulai curiga jangan – jangan nih orang bank keliling atau debt kolektor yang mau nagih tunggakan kartu kredit, makanya gue nanya gini:
Si cakep          : “maaf, emang ada perlu apa ya mas?”
Kepo-ers         : “pengen OL aja hehehehehehe (pake autotext kembali)
Yah jadi ni orang dari tadi perasaannya lagi off.
Ada yang perlu diluruskan dalam hal ini, OL atau on line itu berarti kita sedang aktif di jejaring social atau lagi browsing lah minimal.  Mungkin yang dimaksud si kepo, OL di sini adalah aktivitas chating yang sedang dilakukannya.  Ingat ya, atau bantuin orang – orang kaya si kepo ini untuk meluruskan bahwa OL itu bukan chating.
Jadi, mari kita simpulkan, semakin menarik seseorang maka akan semakin banyak orang yang tertarik. Tidak jarang orang yang tertarik ini malah jadi sebuah gangguan bagi orang yang menarik ini.  Apalagi kalau sudah seperti ini:
Syaiton            : “hey stay dimana nih..”
Orang waras   : “di kostan..”
Syaiton            : “oh boleh maen ke kostannya gak? Pengen deh nyobain tubuh kamu *** berikutnya kita sensor***
Pengalaman ku menghadapi orang seperti ini bukan hanya sekali, hampir setiap kali selesai mengkonfirmasi permintaan pertemanan atau sedang OL tengah malam.
Kita memang tidak bisa memaksakan orang lain untuk satu pemikiran dengan kita, namun setelah membaca tulisan ini saya harap beberapa orang bisa setidaknya tahu atau lebih kerennya mengambil pelajaran, bahwa sikap yang kita anggap benar tidak tentu menurut pikiran orang lain.
Yang paling menyebalkan kalau sudah dapat inbox semacam ini.
Kepo-ers         : lagi ngapain nih?
Si cakep          : lagi sama iras.
Kepo-ers         : iras itu siapa?
Nah kan, padahal status di facebook sudah sangat jelas gue lagi sama iras dan di profil pun sudah sangat terpampang dengan jelas kalau aku berpacaran dengan iras. Bukankah cukup bijak sebelum kita mengirim pesan pada orang yang belum kita kenal untuk melihat dulu isi profil atau kronologinya untuk menyelediki terlebih dahulu siapa dia, sedikit bekal untuk kepo yang lebih anggun terhadapnya.
Dan satu lagi, perihal tugas kami di facebook, aku dan iras ingin sekali memberitahukan kepada dunia, bahwa ada juga kok pasangan gay yang sangat positif terhadap hubungan mereka.  Kami tidak mau disebut memberikan contoh bahkan menginspirasi.  Tidak, tapi setidaknya hubungan kami yang kami go public kan, cukup untuk melakukan pembenaran dari kekeliruan pandangan banyak orang tentang gay, gay yang tidak baik lah, gay yang free sex lah, gay yang bodoh dan alay lah.
Dan hari ini kami rasa tugas kami sudah selesai, ketika begitu banyak orang yang membaca blog kami, ketika banyak ucapan terimakasih masuk ke pesan facebook kami.
Tugas kami sudah selesai, itu artinya waktu buat kami untuk berpamitan. Semua kisah kami sudah kami bagi dengan sangat jelas, ini saatnya untuk menikmati hidup berdua.  Kami tidak perlu dikenang, tapi berjanjilah, bahwa setiap dari kita akan berubah menjadi pribadi yang lebih baik.
pada akhirnya semua cerita harus menemukan sebuah penguhujung dan kata TAMAT bukan?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar