aku
dan iras sedang berjalan – jalan di dalam luasnya plaza Indonesia, sebelumnya
akhirnya kami disadarkan oleh sebuah tatapan yang mengawasi kami berdua. Merasa
keadaan cukup tidak aman, iras menggenggam erat tangan ku. Kemudian ia menatap sekeliling dengan
waspada.
“kalian berdua pasti inu
dan iras..” ia menunjuk wajah kami berdua dengan jari mungilnya. “ah benar kan
inu dan iras? Saya revi, pembaca setia blog kalian dan tentunya kisah so damn
romantic kalian di facebook..”
Kepala iras berputar ke
arah ku yang sudah tersenyum menyaksikan revi di depan kami. Teman ku di facebook hampir lima ribu dan
tentu saja kami berdua tidak akan hafal yang mana.
“hay revi, nice to meet
you..” aku mengulurkan tangan.
“tentu, tentu saya justru
yang sangat merasa senang memiliki kesempatan untuk bertemu kalian berdua,
tentunya sebuah kesempatan langka yang tidak semua penggemar kalian dapatkan.
Karena standar khusus yang diterapkan iras kalau ingin bertemu kalian berdua
hahaha”
Aku dan iras ikut
tertawa. Kami bukan aktor, seniman atau
hal lainnya tentu saja.
“boleh saya traktir makan
atau sekedar ngopi, saya ingin sekali bicara banyak dengan kalian berdua,
bertanya banyak hal dan tentunya mendapatkan kisah paling bagus di muka bumi
dari sumbernya langsung…”
“its much over, kami tidak
sehebat kedengarannya, lihatlah kami hanya orang biasa..” iras berusaha meredam
suasana.
Namun revi tidak padam sama
sekali. Ia masih tampak semangat.
“tidak, tidak, kalian
bahkan sudah jadi motivator pribadi saya, status kalian di facebook setiap
pagi, sore, malam selalu saya tunggu, di sana tidak hanya ada kisah romantis,
terkadang kocak, namun yang paling saya rasakan kalian selalu berhasil
memberikan pelajaran..”
“rev, bagaimana kalau ikut
kami berdua makan, kebetulan di sini kami sedang cari makan, hayo ikut..”
kataku. Agak sungkan dengan nada
suaranya yang tinggi di tengah – tengah mall begini.
“arrgghh saya ada janji mau
bertemu klien sebenarnya..”
Aku nyengir sendiri.
Mengingat ia yang tadi bilang ingin mentraktir dan ngobrol dengan kami berdua.
Ia mungkin seperti penghuni sudirman dan thamrin lainnya, pekerja kantoran,
terlihat dari rapi dan keformalan pakaiannya.
“ya sudah ajak juga klien
kamunya, kami berdua tidak masalah asal kalian tidak masalah juga..” kata iras.
Aku mengangguk
menyejutuinya.
“ah tidak bisa, saya dari
sini baru ketemu klien sebelumnya harus bertemu klien lainnya di ancol
sekaraang, ah kapan lagi bisa kebetulan berpapasan dengan kalian berdua
begini…” revi tampak menyesalkan.
“insyaallah kita akan bertemu
lagi dalam seminggu ini atau beberapa tahun lagi..” kataku sambil tersenyum
lebar.
“yaaahh oh iya, kalian akan
pergi ke paris kan?” ia tampak mengingat dan memastikan. “oh iya, saya ingin
memastikan, kalian sebenarnya akan memberi nama kalian siapa, langit dan biru
atau hansel, Gretel, popeye dan Rapunzel seperti di puisinya Inu…”
Aku kagum pada revi. Ia bahkan memperhatikan sampai sedetail
itu. Padahal kadang – kadang, masalah
biru, langit, hansel, Gretel, popeye, atau Rapunzel, atau nama – nama seperti
udin, sapru, bedul atau yang lain – lainnya, kadang hanya melintas sekilas di
kepalaku yang langsung ku tulis ke dalam apapun, atau ku sebut begitu saja.
“kami lebih suka membiarkan
anak kami memilih nama apa yang mereka sukai nantinya, untuk sementara sebelum
mereka memilih mungkin kami bisa memberikan nya nama rabu dan selasa kalau
mereka lahir di hari yang berbeda..”
Tiba – tiba saja revi
tergelak keras. Ia bahkan nyaris terpingkal – pingkal.
“betul dugaan ku, kalau
ternyata inu ini orang yang bercanda dan kegokilannya tingkat dewa, salah besar
yang bilang jutek dan songong, dan iras tidak sedingin tampangnya ternyata..”
Aku melirik iras, dia
memang begitu. Tampangnya dari dulu sama, seperti es balok tukang es dungdung
keliling.
“oh iya, apa boleh, aku
minta berfoto dengan kalian sebagai kenang – kenangan?”
“tidak..” iras langsung
menggeleng. “selain keluarga, teman dekat kami, tidak ada yang boleh, maaf tapi
itu aturannya…”
“oke deh, gak apa – apa,
yang penting aku akhirnya bertemu dengan orang yang selama ini banyak
menginspirasiku..”
Revi akhirnya berpamitan
dan pergi bergegas meninggalkan kami berdua menuju arah yang tentu hanya ada di
dalam pikirannya.
“cinta yang bagai kanvas,
kamu yang bagai kuas dan aku harus jadi catnya, sekarang liat berapa banyak
yang ingin mencuri, merebut bahkan melelang lukisan kita berdua..” kata iras
sambil memperat genggamannya.
“kamu yang bagai lukisan,
aku yang menjadi paku dan cinta itu palunya, memukul aku, memukul aku..” aku
menepuk – nepukan kepalan tanganku ke dadaku.
Kemudian dipukul terakhir aku perkeras sedikit seolah – olah bagai paku
yang berhasil menancap dipukul palu “sampai aku benar – benar menancap kuat..”
“hahaha ekspresinya gitu
banget yank..” kata iras, ia hampir menciumku sebelum ku sadarkan ia kalau kami
berdua sedang ada di tengah – tengah keramian plaza Indonesia.
“jangan ngomong – ngomong
ekspresi deh, kita berdua tahu siapa yang ekspresinya kayak boneka kucing di
toko kelontongan cina..” kataku sambil tersenyum menggoda iras.
“ahhhhh jadi Cuma tangan
kanan iras yang berfungsi..” iras memperagakan boneka ekspresi datar boneka
kucing.
“hhahaha… batu kaya kamu ya
jodohnya kembang api kaya aku..”
“matamu yang kembang api,
tapi bibirmu adalah langit yang bisa membuat ku terbang kalau sudah dikecupnya,
bahkan membuat ku tidak sadar kalau berhasil melumat habisnya..”
“eits..” aku mengelak. “ini
bukan lagi di kamar kita bodoh..” aku hampir meninju kesal pada iras.
Ia hanya tertawa
lebar. Kami berdua melangkah masuk ke
dalam restoran yang memang jadi tujuan kami sore ini.
…
Baru beberapa menit kami
duduk di dalam restoran, seseorang tampak melambaikan tangan pada kami berdua.
Bu marsalamah dan pak syafiq, guru dan kepala sekolah kami sewaktu SMA. Entah apa yang sedang dilakukan sepasang
merpati senja itu di Jakarta.
“assalamualaikum..” kami
berdua menyalami kedua orang itu.
“hay Nu, Ras, ah masih sama
– sama kalian, sehat kamu berdua..?” Tanya bu marsalamah yang membuat aku dan
iras saling bertatapan, mungkinkah mereka tahu sejak lama.
“begitulah bu..” jawab iras
agak rikuh.
“ayo duduk di sini, mau
makan juga, kan?” pak syafiq mempersilahkan kami duduk.
Akhirnya kami berempat
duduk melingkar. Ini artinya aku akan makan pakai tangan sendiri kali ini.
“lagi ngapain nih pak di
Jakarta..” aku membuka percakapan baru, iras sibuk membuka menu memilih makanan
apa yang hendak kami pesan.
“biasa lah jenguk cucu..”
kata pak syafiq. “eh iya, bapak dengar dari apih mu, kalian ke paris tahun ini?
Kuliah lagi? Dapat beasiswa?”
Aku mengangguk.
“minggu depan pak, kami minta
do’a nya semoga kami berdua betah di sana..” jawabku.
“nah betul itu, yang paling
utamanya kalian harus betah dulu, terserah kesananya mau ngapain juga..” jawab
pak syafiq kemudian “tapi ingat, mau berapa lama pun kalian tinggal di sana,
jangan lupa kembali ke Indonesia, untuk apa jadi raja di tanah orang..”
Kami berdua mengangguk –
angguk. Pamali tidak mendengarkan sepuh bicara.
“mau berapa lama nu kalian
di paris?” kini bu mar yang nanya.
“S2 kami sebenarnya bisa
selesai dua tahun bu, semoga saja tepat waktu dan semoga kami ingin segera
pulang ke Indonesia..”
Ini di luar rencana, yang
ku katakana di luar rencana.
“yaaa itu sih terserah
kalian, tapi ingat, seperti pesan bapak tadi, jangan lupa pulang ke Indonesia,
masih banyak yang dibutuhkan Negara ini dari kalian berdua, terserah mau jalan
– jalan kemanapun sampai kalian bosan keliling eropa atau dunia sekalipun,
pesan dari ibu dan bapak, jangan lupa kembali ke Indonesia…”
Aku menatap iras, bola
matanya yang bergerak di balik kacamatanya tampak mengerjap sesekali, mungkin
ini juga yang hendak dikatakan oleh keluarga kami terhadap rencana kami
berdua. Namun pak sayfiq dan bu
marsalamah punya bahasa yang lebih dimengerti.
…
Aku sedang menyetir, iras
duduk di sampingku. Kami dalam perjalanan ke apartemen kami. Setelah perbincangan kami berdua dengan bu
marsalamah dan pak sayfiq tadi, sesuatu membentur – bentur di kepalaku.
Benarkah suatu saat kami
berdua harus kembali ke Indonesia? Lantas apakah nantinya akan aman untuk ku
dan keluargaku untuk tinggal di sini.
Aku memandang iras lagi.
Si patung masih sibuk
dengan ipadnya sendiri.
Sejenak mungkin aku lupa,
bahwa rencana yang paling nyata adalah rencana tuhan dan rencana manusia tidak
akan selalu bekerja pada rencana tuhan. Membuatnya bekerja tentu bukan
pekerjaan mudah walau tidak semua sulit.
Aku mengkaji lagi soal kami
pindah ke paris kali ini, pindah. Itu artinya menatap dalam waktu yang
lama. Tidak hanya untuk menghabiskan
masa kuliahku, itu berarti sebagian hidupku akan dihabiskan di sana.
Rencanaku dengan iras,
begitu selesai kami kuliah. Kami ingin
sekali berkeliling eropa, atau sampai ke amerika. Aku ingin sekali merasakan tinggal di
berbagai kota yang selama ini ku baca, ku tonton atau hanya ku dengar dari
pemandu wisata. Setelah itu kami akan
memilih sebuah kota di sana untuk kami jadikan tempat tinggal, untuk sementara
kami sudah memilih zurich, Monaco atau Luxemburg.
Tidak ada alasan spesifik
untuk ketiga kota tersebut, zurich mungkin karena merupakan kota teramah dan
teraman di dunia. Monaco dan Luxemburg, entahlah kedua kata itu cukup menarik
rasanya untuk dikunjungi. Namun intinya, kami ingin tinggal di sebuah Negara
yang aman bagi keluarga kami nantinya. Indonesia? Kalau saja selama dua puluh
tahun ke depan pemimpinnya sama dengan jokowi dan ahok, kami mau kembali ke
Indonesia.
Tapi sore ini, aku sadar
bahwa benar suatu saat kami harus kembali ke Indonesia. Tadinya, kehidupan yang
sudah sangat modern dan global, bisa membuat kami bebas memilih mau tinggal di
mana saja. Untuk makan? Seperti yang
suka iras katakan, uang yang mengalir dari segala investasi dan perusahaan kami
berdua, tidak akan habis kalau diwariskan ke anak cucu bahkan cicit nanti.
Bukan impian kalau harus
tinggal di Jakarta, iras tahu sejak lama aku benci Jakarta. Dan melihat kenyataan bahwa pemerintah tidak
bisa membuat kota lain menjadi seperti Jakarta, dan kepengecutan SBY untuk
memindahkan ibu kota ke ujung pandang. Padahal hal ini sudah jadi wacana sejak
soekarno berkuasa.
Lihat saja fenomena mudik,
bukan salah masyarakat. Tapi salah pemerintah, kenapa tidak bisa menciptakan
tempat seperti Jakarta. Indonesia bukan
Negara miskin, SBY yang senang menyebutnya Negara miskin, daya beli masyarakat
sudah sangat tinggi. Bahkan pada keluarga paling miskin sekalipun, mereka sudah
memiliki satu sepeda motor setidaknya, atau telpon celuller.
Baru ada gubernur seperti
jokowi yang akhirnya mau membenahi wajah kotor ibu kota, sudah berapa tahun
kita tidak bisa merasakan selancar sekarang kalau lewat ke tanah abang? Atau
melihat pemandangan yang mulai sejuk di pluit.
Namun jokowi mulai mendapatkan rival, banyak orang yang tidak senang
terhadap elektabilitasnya yang semakin meningkat.
Kalau kawan – kawan punya
twitter silahkan cari akun @TM2000 di sana, akun ini hampir setiap hari menjelek
– jelekkan jokowi. Lihat betapa kerennya jokowi, sampai kesalahannya dicari –
cari. Hal sepele yang sekarang seringkali dibahas adalah ketika lebaran jokowi
melarang konvoi takbiran, namun dalam beberapa hari ke depan dia menyatakan
akan menonton metallica. Sepele benar
kan? Konvoi bisa menyebabkan kemacetan di tengah –tengah arus mudik, bisa
menimbulkan masalah social, namun menonton metallica, kalau tidak suka ya tidak
usah nonton, ribet bener jadi orang Indonesia.
Tapi sekeren – kerennya
jokowi, idola ku tetap ahok. Tidak bisa dijelaskan, namun ku rasa kami memiliki
beberapa kesamaan.
Bandung atau sukabumi, aku
sepertinya tipe orang yang akan hidup berpindah – pindah sebelum masa tua
memutuskan untukku memilih salah satu kota sebagai tempat tinggal. Namun tidak
akan membuat kota yang perna ku tinggali untuk ku tinggali dua kali. Termasuk
bandung dan sukabumi. Walau akan selalu ada alasan untuk pulang ke kota itu.
Pernah terpikir untuk
tinggal di pedalaman Sulawesi atau bali, atau salah satu kota pedalaman di nusa
tenggara. Namun aku membatalkannya, aku tidak bisa tinggal di tempat yang tidak
ada mini market di sana. Tidak bisa. Spaghetti dan pasta favorit iras hanya
bisa dibeli di mini market.
Beberapa bulan ke belakang,
tak sengaja aku membuka agenda harian iras, yang menuliskan berbagai jadwal dan
kegiatannya di kantor. Namun di sebuah
halaman aku melihat kata Forks di sana, ingat kota tempat Edward Cullen dan
Isabella Swan tinggal? Ya kota itu, aku berpikir mungkinkah iras punya cita –
cita tinggal di sana?
“ingat gak, kalau kita
sempat nonton film itu, dan iras bilang kalau arsitektur rumah keluarga Cullen
sangat menarik? Dulu iras terpikir untuk membuat rumah seperti itu, namun
mungkin dengan menyisihkan tabungan kita, kita bisa membeli rumah itu dan
menginap setiap akhir minggu di sana..”
Ini berarti iras punya
harapan untuk tinggal di amerika. Dan seperti Jakarta, aku tidak mau tinggal di
amerika. Aku seperti apih yang membenci amerika dan yahudi. Apakah ada yang
tahu kalau tsunami di aceh tahun 2004 dikarenakan bom nuklir yang ditembakan
oleh salah satu kapal selam amerika?
Namun buatku penting
mendengarkan iras, ia punya 50% suara dalam menentukan hidup kami berdua.
“iras gak pernah punya cita
– cita buat tinggal di amerika kan?” karena penasaran akhirnya aku menanyakan
hal ini, untuk memastikan.
“kalau suatu saat
perusahaan kita masuk ke wall street ya mungkin kita harus pindah ke new
york..” jawabnya singkat, lalu kembali lagi ke ipadnya.
Baiklah, apapun tuhan yang
akan terjadi, terjadilah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar