Selasa, 27 Agustus 2013

43 : tempat tinggal



aku dan iras sedang berjalan – jalan di dalam luasnya plaza Indonesia, sebelumnya akhirnya kami disadarkan oleh sebuah tatapan yang mengawasi kami berdua. Merasa keadaan cukup tidak aman, iras menggenggam erat tangan ku.  Kemudian ia menatap sekeliling dengan waspada.
“kalian berdua pasti inu dan iras..” ia menunjuk wajah kami berdua dengan jari mungilnya. “ah benar kan inu dan iras? Saya revi, pembaca setia blog kalian dan tentunya kisah so damn romantic kalian di facebook..”
Kepala iras berputar ke arah ku yang sudah tersenyum menyaksikan revi di depan kami.  Teman ku di facebook hampir lima ribu dan tentu saja kami berdua tidak akan hafal yang mana.
“hay revi, nice to meet you..” aku mengulurkan tangan.
“tentu, tentu saya justru yang sangat merasa senang memiliki kesempatan untuk bertemu kalian berdua, tentunya sebuah kesempatan langka yang tidak semua penggemar kalian dapatkan. Karena standar khusus yang diterapkan iras kalau ingin bertemu kalian berdua hahaha”
Aku dan iras ikut tertawa.  Kami bukan aktor, seniman atau hal lainnya tentu saja.
“boleh saya traktir makan atau sekedar ngopi, saya ingin sekali bicara banyak dengan kalian berdua, bertanya banyak hal dan tentunya mendapatkan kisah paling bagus di muka bumi dari sumbernya langsung…”
“its much over, kami tidak sehebat kedengarannya, lihatlah kami hanya orang biasa..” iras berusaha meredam suasana.
Namun revi tidak padam sama sekali. Ia masih tampak semangat.
“tidak, tidak, kalian bahkan sudah jadi motivator pribadi saya, status kalian di facebook setiap pagi, sore, malam selalu saya tunggu, di sana tidak hanya ada kisah romantis, terkadang kocak, namun yang paling saya rasakan kalian selalu berhasil memberikan pelajaran..”
“rev, bagaimana kalau ikut kami berdua makan, kebetulan di sini kami sedang cari makan, hayo ikut..” kataku.  Agak sungkan dengan nada suaranya yang tinggi di tengah – tengah mall begini.
“arrgghh saya ada janji mau bertemu klien sebenarnya..”
Aku nyengir sendiri. Mengingat ia yang tadi bilang ingin mentraktir dan ngobrol dengan kami berdua. Ia mungkin seperti penghuni sudirman dan thamrin lainnya, pekerja kantoran, terlihat dari rapi dan keformalan pakaiannya.
“ya sudah ajak juga klien kamunya, kami berdua tidak masalah asal kalian tidak masalah juga..” kata iras.
Aku mengangguk menyejutuinya.
“ah tidak bisa, saya dari sini baru ketemu klien sebelumnya harus bertemu klien lainnya di ancol sekaraang, ah kapan lagi bisa kebetulan berpapasan dengan kalian berdua begini…” revi tampak menyesalkan.
“insyaallah kita akan bertemu lagi dalam seminggu ini atau beberapa tahun lagi..” kataku sambil tersenyum lebar.
“yaaahh oh iya, kalian akan pergi ke paris kan?” ia tampak mengingat dan memastikan. “oh iya, saya ingin memastikan, kalian sebenarnya akan memberi nama kalian siapa, langit dan biru atau hansel, Gretel, popeye dan Rapunzel seperti di puisinya Inu…”
Aku kagum pada revi.  Ia bahkan memperhatikan sampai sedetail itu.  Padahal kadang – kadang, masalah biru, langit, hansel, Gretel, popeye, atau Rapunzel, atau nama – nama seperti udin, sapru, bedul atau yang lain – lainnya, kadang hanya melintas sekilas di kepalaku yang langsung ku tulis ke dalam apapun, atau ku sebut begitu saja.
“kami lebih suka membiarkan anak kami memilih nama apa yang mereka sukai nantinya, untuk sementara sebelum mereka memilih mungkin kami bisa memberikan nya nama rabu dan selasa kalau mereka lahir di hari yang berbeda..”
Tiba – tiba saja revi tergelak keras. Ia bahkan nyaris terpingkal – pingkal.
“betul dugaan ku, kalau ternyata inu ini orang yang bercanda dan kegokilannya tingkat dewa, salah besar yang bilang jutek dan songong, dan iras tidak sedingin tampangnya ternyata..”
Aku melirik iras, dia memang begitu. Tampangnya dari dulu sama, seperti es balok tukang es dungdung keliling.
“oh iya, apa boleh, aku minta berfoto dengan kalian sebagai kenang – kenangan?”
“tidak..” iras langsung menggeleng. “selain keluarga, teman dekat kami, tidak ada yang boleh, maaf tapi itu aturannya…”
“oke deh, gak apa – apa, yang penting aku akhirnya bertemu dengan orang yang selama ini banyak menginspirasiku..”
Revi akhirnya berpamitan dan pergi bergegas meninggalkan kami berdua menuju arah yang tentu hanya ada di dalam pikirannya.
“cinta yang bagai kanvas, kamu yang bagai kuas dan aku harus jadi catnya, sekarang liat berapa banyak yang ingin mencuri, merebut bahkan melelang lukisan kita berdua..” kata iras sambil memperat genggamannya.
“kamu yang bagai lukisan, aku yang menjadi paku dan cinta itu palunya, memukul aku, memukul aku..” aku menepuk – nepukan kepalan tanganku ke dadaku.  Kemudian dipukul terakhir aku perkeras sedikit seolah – olah bagai paku yang berhasil menancap dipukul palu “sampai aku benar – benar menancap kuat..”
“hahaha ekspresinya gitu banget yank..” kata iras, ia hampir menciumku sebelum ku sadarkan ia kalau kami berdua sedang ada di tengah – tengah keramian plaza Indonesia.
“jangan ngomong – ngomong ekspresi deh, kita berdua tahu siapa yang ekspresinya kayak boneka kucing di toko kelontongan cina..” kataku sambil tersenyum menggoda iras.
“ahhhhh jadi Cuma tangan kanan iras yang berfungsi..” iras memperagakan boneka ekspresi datar boneka kucing.
“hhahaha… batu kaya kamu ya jodohnya kembang api kaya aku..”
“matamu yang kembang api, tapi bibirmu adalah langit yang bisa membuat ku terbang kalau sudah dikecupnya, bahkan membuat ku tidak sadar kalau berhasil melumat habisnya..”
“eits..” aku mengelak. “ini bukan lagi di kamar kita bodoh..” aku hampir meninju kesal pada iras.
Ia hanya tertawa lebar.  Kami berdua melangkah masuk ke dalam restoran yang memang jadi tujuan kami sore ini.
Baru beberapa menit kami duduk di dalam restoran, seseorang tampak melambaikan tangan pada kami berdua. Bu marsalamah dan pak syafiq, guru dan kepala sekolah kami sewaktu SMA.  Entah apa yang sedang dilakukan sepasang merpati senja itu di Jakarta.
“assalamualaikum..” kami berdua menyalami kedua orang itu.
“hay Nu, Ras, ah masih sama – sama kalian, sehat kamu berdua..?” Tanya bu marsalamah yang membuat aku dan iras saling bertatapan, mungkinkah mereka tahu sejak lama.
“begitulah bu..” jawab iras agak rikuh.
“ayo duduk di sini, mau makan juga, kan?” pak syafiq mempersilahkan kami duduk.
Akhirnya kami berempat duduk melingkar. Ini artinya aku akan makan pakai tangan sendiri kali ini.
“lagi ngapain nih pak di Jakarta..” aku membuka percakapan baru, iras sibuk membuka menu memilih makanan apa yang hendak kami pesan.
“biasa lah jenguk cucu..” kata pak syafiq. “eh iya, bapak dengar dari apih mu, kalian ke paris tahun ini? Kuliah lagi? Dapat beasiswa?”
Aku mengangguk.
“minggu depan pak, kami minta do’a nya semoga kami berdua betah di sana..” jawabku.
“nah betul itu, yang paling utamanya kalian harus betah dulu, terserah kesananya mau ngapain juga..” jawab pak syafiq kemudian “tapi ingat, mau berapa lama pun kalian tinggal di sana, jangan lupa kembali ke Indonesia, untuk apa jadi raja di tanah orang..”
Kami berdua mengangguk – angguk. Pamali tidak mendengarkan sepuh bicara.
“mau berapa lama nu kalian di paris?” kini bu mar yang nanya.
“S2 kami sebenarnya bisa selesai dua tahun bu, semoga saja tepat waktu dan semoga kami ingin segera pulang ke Indonesia..”
Ini di luar rencana, yang ku katakana di luar rencana.
“yaaa itu sih terserah kalian, tapi ingat, seperti pesan bapak tadi, jangan lupa pulang ke Indonesia, masih banyak yang dibutuhkan Negara ini dari kalian berdua, terserah mau jalan – jalan kemanapun sampai kalian bosan keliling eropa atau dunia sekalipun, pesan dari ibu dan bapak, jangan lupa kembali ke Indonesia…”
Aku menatap iras, bola matanya yang bergerak di balik kacamatanya tampak mengerjap sesekali, mungkin ini juga yang hendak dikatakan oleh keluarga kami terhadap rencana kami berdua.  Namun pak sayfiq dan bu marsalamah punya bahasa yang lebih dimengerti.
Aku sedang menyetir, iras duduk di sampingku. Kami dalam perjalanan ke apartemen kami.  Setelah perbincangan kami berdua dengan bu marsalamah dan pak sayfiq tadi, sesuatu membentur – bentur di kepalaku.
Benarkah suatu saat kami berdua harus kembali ke Indonesia? Lantas apakah nantinya akan aman untuk ku dan keluargaku untuk tinggal di sini.  Aku memandang iras lagi.
Si patung masih sibuk dengan ipadnya sendiri.
Sejenak mungkin aku lupa, bahwa rencana yang paling nyata adalah rencana tuhan dan rencana manusia tidak akan selalu bekerja pada rencana tuhan. Membuatnya bekerja tentu bukan pekerjaan mudah walau tidak semua sulit.
Aku mengkaji lagi soal kami pindah ke paris kali ini, pindah. Itu artinya menatap dalam waktu yang lama.  Tidak hanya untuk menghabiskan masa kuliahku, itu berarti sebagian hidupku akan dihabiskan di sana.
Rencanaku dengan iras, begitu selesai kami kuliah.  Kami ingin sekali berkeliling eropa, atau sampai ke amerika.  Aku ingin sekali merasakan tinggal di berbagai kota yang selama ini ku baca, ku tonton atau hanya ku dengar dari pemandu wisata.  Setelah itu kami akan memilih sebuah kota di sana untuk kami jadikan tempat tinggal, untuk sementara kami sudah memilih zurich, Monaco atau Luxemburg.
Tidak ada alasan spesifik untuk ketiga kota tersebut, zurich mungkin karena merupakan kota teramah dan teraman di dunia. Monaco dan Luxemburg, entahlah kedua kata itu cukup menarik rasanya untuk dikunjungi. Namun intinya, kami ingin tinggal di sebuah Negara yang aman bagi keluarga kami nantinya. Indonesia? Kalau saja selama dua puluh tahun ke depan pemimpinnya sama dengan jokowi dan ahok, kami mau kembali ke Indonesia.
Tapi sore ini, aku sadar bahwa benar suatu saat kami harus kembali ke Indonesia. Tadinya, kehidupan yang sudah sangat modern dan global, bisa membuat kami bebas memilih mau tinggal di mana saja.  Untuk makan? Seperti yang suka iras katakan, uang yang mengalir dari segala investasi dan perusahaan kami berdua, tidak akan habis kalau diwariskan ke anak cucu bahkan cicit nanti.
Bukan impian kalau harus tinggal di Jakarta, iras tahu sejak lama aku benci Jakarta.  Dan melihat kenyataan bahwa pemerintah tidak bisa membuat kota lain menjadi seperti Jakarta, dan kepengecutan SBY untuk memindahkan ibu kota ke ujung pandang. Padahal hal ini sudah jadi wacana sejak soekarno berkuasa.
Lihat saja fenomena mudik, bukan salah masyarakat. Tapi salah pemerintah, kenapa tidak bisa menciptakan tempat seperti Jakarta.  Indonesia bukan Negara miskin, SBY yang senang menyebutnya Negara miskin, daya beli masyarakat sudah sangat tinggi. Bahkan pada keluarga paling miskin sekalipun, mereka sudah memiliki satu sepeda motor setidaknya, atau telpon celuller.
Baru ada gubernur seperti jokowi yang akhirnya mau membenahi wajah kotor ibu kota, sudah berapa tahun kita tidak bisa merasakan selancar sekarang kalau lewat ke tanah abang? Atau melihat pemandangan yang mulai sejuk di pluit.  Namun jokowi mulai mendapatkan rival, banyak orang yang tidak senang terhadap elektabilitasnya yang semakin meningkat.
Kalau kawan – kawan punya twitter silahkan cari akun @TM2000 di sana, akun ini hampir setiap hari menjelek – jelekkan jokowi. Lihat betapa kerennya jokowi, sampai kesalahannya dicari – cari. Hal sepele yang sekarang seringkali dibahas adalah ketika lebaran jokowi melarang konvoi takbiran, namun dalam beberapa hari ke depan dia menyatakan akan menonton metallica.  Sepele benar kan? Konvoi bisa menyebabkan kemacetan di tengah –tengah arus mudik, bisa menimbulkan masalah social, namun menonton metallica, kalau tidak suka ya tidak usah nonton, ribet bener jadi orang Indonesia.
Tapi sekeren – kerennya jokowi, idola ku tetap ahok. Tidak bisa dijelaskan, namun ku rasa kami memiliki beberapa kesamaan.
Bandung atau sukabumi, aku sepertinya tipe orang yang akan hidup berpindah – pindah sebelum masa tua memutuskan untukku memilih salah satu kota sebagai tempat tinggal. Namun tidak akan membuat kota yang perna ku tinggali untuk ku tinggali dua kali. Termasuk bandung dan sukabumi. Walau akan selalu ada alasan untuk pulang ke kota itu.
Pernah terpikir untuk tinggal di pedalaman Sulawesi atau bali, atau salah satu kota pedalaman di nusa tenggara. Namun aku membatalkannya, aku tidak bisa tinggal di tempat yang tidak ada mini market di sana. Tidak bisa. Spaghetti dan pasta favorit iras hanya bisa dibeli di mini market.
Beberapa bulan ke belakang, tak sengaja aku membuka agenda harian iras, yang menuliskan berbagai jadwal dan kegiatannya di kantor.  Namun di sebuah halaman aku melihat kata Forks di sana, ingat kota tempat Edward Cullen dan Isabella Swan tinggal? Ya kota itu, aku berpikir mungkinkah iras punya cita – cita tinggal di sana?
“ingat gak, kalau kita sempat nonton film itu, dan iras bilang kalau arsitektur rumah keluarga Cullen sangat menarik? Dulu iras terpikir untuk membuat rumah seperti itu, namun mungkin dengan menyisihkan tabungan kita, kita bisa membeli rumah itu dan menginap setiap akhir minggu di sana..”
Ini berarti iras punya harapan untuk tinggal di amerika. Dan seperti Jakarta, aku tidak mau tinggal di amerika. Aku seperti apih yang membenci amerika dan yahudi. Apakah ada yang tahu kalau tsunami di aceh tahun 2004 dikarenakan bom nuklir yang ditembakan oleh salah satu kapal selam amerika?
Namun buatku penting mendengarkan iras, ia punya 50% suara dalam menentukan hidup kami berdua.
“iras gak pernah punya cita – cita buat tinggal di amerika kan?” karena penasaran akhirnya aku menanyakan hal ini, untuk memastikan.
“kalau suatu saat perusahaan kita masuk ke wall street ya mungkin kita harus pindah ke new york..” jawabnya singkat, lalu kembali lagi ke ipadnya.
Baiklah, apapun tuhan yang akan terjadi, terjadilah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar