Tanganku masih berusaha
mempertahankan bola, agar tidak lepas dan bagaimana caranya agar terhindar dari
hukuman three second. Ku intip papan score, tinggal satu menit lebih beberapa
detik. apa yang tim ku lakukan sekarang di lapangan, tidak lebih hanya untuk
mengulur waktu, melihat score dari tim lawan yang tertinggal jauh oleh kami.
Timku sedang melawan sebuah tim
basket yang sepertinya tidak benar – benar tim basket di sekolahnya, mereka
terlalu kemayu sebagai atlet. Bahkan
untuk drible bola yang benar saja mereka sepertinya harus belajar dulu pada
keponakanku yang sekarang duduk di kelas tiga SD. Mencetak angka 45 – 12, gampang sangat, saat
yang kami hadapi hanyalah sekumpulan teletubies.
Yak, betul, teletubies, karena
mereka hobi sekali berpelukan. Atau ku beri gelar lebih keren sedikit, rajin
sekali blocking, karena terlalu rajinnya mereka melakukan blocking sampai aku
merasa bukan lagi di block oleh mereka. Namun lebih terasa hampir dipeluk dan
di ‘keukeuseuk’.
Ada satu pemain yang sepertinya
diutus oleh pelatihnya untuk menjaga dan memblock seluruh pergerakanku. Orangnya tidak terlalu tinggi, namun agak
gempal dan berkulit cukup gelap.
Sekarangpun ia sedang berkutat di dekatku, dari tampangnya aku tau ia
bernafsu sekali untuk merebut bola dari tanganku. Biar mudah, aku akan
memberinya nama badigul cau, karena ia sangat membuat jengkel dan hampir
menghalangi langkah dan pandanganku.
Ku lihat dengan sudut mata, ring
tidak jauh dari tubuhku, harusnya dengan sekali berputar kemudian melakukan
slam dunk, aku bisa mencetak angka lagi.
Namun ketika aku hendak melakukan sebuah putaran, sebuah tangan melesat
ke dekat kepalaku, hampir menebasnya. Tangan si badigul cau. Aku mengelak ke
bawah, mencari ruang untuk melangkah, agar dapat melakukan sebuah putaran yang
bagus lalu meloncat ke ring.
“bruuuukkk..” aku terjatuh, bola
menggelinding ke tempat lain. Sementara
orang yang membuatku jatuh pun, ia seperti kehilangan keseimbangan dan sedang
berusaha berdiri tegak lagi, setelah barusan kakinya menginjak sepatuku ketika
hendak memblock gerakanku.
Permainan yang hampir di ujung
quarter ke empat, stress dan tekanan, juga kelelahan yang ku rasakan, dan
kejadian barusan membuat emosiku terpancing.
Aku sudah tidak memperdulikan permainan. Aku berdiri, sementara wasit
masih berusaha mencerna keadaan.
“badigul cau... setaaannnnn....”
tanganku meraih kerah jersey orang tersebut. Semua yang ada di lapangan beralih
menatapku. Dapat. Aku mendapatkan kerah bajunya, kemudian tangan kananku
meremasnya. Hampir saja tangan kiriku menyusul untuk melayangkan tinju.
Aku kesal, kalau saja kaki ku tidak
ia injak, mungkin satu point lagi sudah berhasil aku cetak. Tangan wasit mengusirku dari lapang bersama
peluitnya. Pelatih berteriak ke arahku, setelah ia menunjuk iras, agar menggantikanku.
Aku melihat ke arah kursi tempat duduk para pemain yang menunggu giliran
bermain, iras membuang handuknya ia hendak menggantikanku. Aku berjalan kalah
keluar dari lapang.
Mataku menatap iras, ia membuang
pandangan, kemudian menggeleng. Aku
tidak peduli, ku jatuhkan tubuhku di lantai, terserah, pelatih atau iras mau
memarahiku nanti, namun point empat puluh lima itu hampir separuhnya aku yang
cetak.
...
“tadi itu yang dinamakan arogan,
kapten..” kata iras, tapi ia tahu aku tidak akan memperdulikannya. Aku menutup
seluruh wajahku dengan handuk, kami akhirnya tetap menang score akhirnya
menjadi 50 – 12, setelah iras berhasil mencetak
dua point lewat pools dan didi three point.
“mainnya udahan kan? Kita sekarang
udah menang juga kan? Ini lagi jalan mau pulang kan?” ku lemparkan handuk ke
atas dasbor. Tanganku meraih botol minum yang tadi mama masukan ke dalam
backpackku, susu coklat manis. Bagus
untuk memulihkan energi setelah olah raga seperti sekarang.
“masih ada dua pertandingan lagi,
semifinal dan kalau lolos” iras menahan kata – katanya “ralat, pasti lolos,
kita akan menghadapi musuh bebuyutan kita di final...”
“oh SMA yang tahun lalu kamu bahas
juga? Tahun lalu kita menang bukan ya? Berarti tahun ini kita juga akan
menang...”
Iras mengangguk, ia sudah tidak mau
mungkin berurusan adu argumen denganku. “baiklah, tidak ada salahnya memang
kita bersikap optimis, iras dengar mereka punya shooter baru yang bagus, namun
lemah di belakang..”
“berarti semua penyerang kita harus
yang paling bagus, ingat strategi yang kemarin kita coba?”
Iras mengangguk.
“nanti malam astroboy ada acara?”
Mulai... desisku dalam hati.
“tidak, sepertinya inu butuh
istirahat di rumah, besok sore kita akan bertanding lagi bukan, inu yakin butuh
energi banyak untuk itu..”
“nuynuy nya lagi nurut euy...” iras
mengucek rambut di kepala bagian depanku “nanti juga kalau udah menang,
pestanya pasti meriah sekali kan? Iras yang teraktir deh..”
“deal..” aku mengulurkan tangan.
“deal..” iras membalasnya,
melepaskan tangan kananya dari kemudi beberapa detik. aku tersenyum lebar,
membayangkan sebuah pesta besar di depan mata. Aku menengok ke arah jok
belakang, ku mencari sesuatu yang sebenarnya tidak tau juga aku mencari
apa. Namun sebuah map berwarna hijau
menarik perhatianku.
Sebuah map dari sebuah lemabaga
bimbingan belajar terkenal.
“iras ikut bimbel?”
“ya..” kata iras “beberapa bulan
lagi iras ujian nasional, bukan? Iras pikir ini penting..”
Namun aku tidak melihat di dalam
formulir yang ada di dalam, iras tidak hanya mengisi untuk bimbel UN saja,
namun juga sebuah persiapan menghadapi seleksi masuk perguruan tinggi.
“iras bimbel SMPTN?”
“mirip dengan itu, iras ingin masuk
prasetya mulya dengan mudah..”
“tidak terdengar seperti universitas
di amerika atau jerman..”
“iya, itu di BSD, tangerang..” iras
tersenyum lebar.
“oohh di indonesia..” kataku
singkat, tidak terlalu berminat.
...
Tim basket kami sedang menjalani
sebuah liga yang memang sudah rutin diselenggarakan tiap tahun di bandung,
sudah dua tahun berturut – turut tim ini menang. Tahun lalu, aku berhasil
menjadi top scorer dan mister three point. Dan iras mendapatkan predikat pemain
dan kapten tim terbaik. Melihat hal itu, sekolah, pelatih dan semua orang
sangat menginginkan kami akan jadi juara
lagi tahun ini.
Melihat hasil jerih payah kami
sampai saat ini, trofi juara satu tidak akan jauh jatuhnya selain ke sekolah
kami lagi. Namun memang ada sebuah masalah yang cukup pelik, aku tidak bisa
menghilangkan sikap premanismeku di lapang, seperti kemarin. Sejak babak penyisihan dimulai, aku sudah
diusir keluar lapang oleh wasit empat kali, memecahkan rekor tahun lalu yang
Cuma dua kali.
“ada yang bilang, kemarin ada yang
diusir lagi dari lapang..” mama memutari meja, ia menghidangkan sebuah lasagna
di depanku, padahal aku belum selesai menghabiskan sup macaroni di piringku.
“mama kebanyakan denger gossip di
tukang sayur depan kalau pagi – pagi, jadinya gitu...” entah tukang sayur mana
yang ku ceritakan, mengingat di kompleks perumahan dengan keamanan super ketat
ini, aku tidak yakin seekor ngengatpun berhasil melewati pintu satpam di depan.
Mama kembali lagi dari dapur, dengan
tempat minum biasa yang suka ia isi dengan coklat panas, yang nanti bisa aku
minum setelah usai bertanding. Pertandingan semi finalku sore ini.
“papa dulu tipe cowok yang lemah
lembut loh nu, makanya fansnya banyak, ya kecuali mama, dan kamu lebih cakep
dari papa, masa mau menyia-nyiakan kesempatan ini, kamu udah takabur loh sama
rezeki dari tuhan..” kata mama sambil tangannya memasukan botol minuman itu ke
dalam backpackku, sebuah tas khusus yang memuat segala macam keperluan
basketku, jersey yang baru dicuci, sepatu, handuk, sebuah bola cadangan, baju
ganti, handuk dan sebuah botol minuman bekal dari mama.
“tenang aja deh ma, inu belum sampai
taraf melukai orang lain...”
“yoi, secara fisik tidak. Tapi kamu
sudah melukai orang secara halus, kamu panggil apa yang kemarin? Badigul cau?”
mama mengerenyitkan dahi, aku tidak tahu siapa yang memberitahunya, namun aku
yakin memang, kemarin, seisi GOR mendengar aku mengucapkan hal itu ketika
melakukan sumpah serapah. “lagi main juga, sempet aja ya bikin nama panggilan
aneh buat orang..”
Dua buah piring yang tadi berisi sup
macaroni dan lasagna, kini kosong.
Tanganku mengaduk gelas panjang berisi jus apel dengan wortel itu.
“sore tante, mau jemput inu..” iras
berdiri di ruang tamu. Mama tersenyum ke arahnya.
“oh berangkat sama iras, hati – hati
ya ras bawa mobilnya..” mama berteriak pada iras.
“baik tante..” tandanya iras tidak
akan membawa mobilnya melebihi kecepatan di atas 60km/jam.
“oke ma, inu berangkat..” aku
mengangkat tas besar di sampingku itu.
Sambil berdiri, mama mendekat, tangannya sudah mengacung di udara,
hendak meraih kedua sisi kepalaku. Aku berusaha menghindar.
Namun mama mendapatkannya. Ia
mendaratkan sebuah ciuman mesra di keningku, ku lihat melalui sudut mata. Iras
tersenyum lebar di sana.
...
Waktu tersisa hanya dua puluh detik
lagi, tim kami tertinggal dua point dari lawan.
Aku tidak mengira bahwa lawan kami di semi final jauh dari perkiraan,
aku memang tidak pernah menonton pertandingan mereka, sehingga aku tidak tahu
bagaiman strategi atau cara mereka bermain, bahkan pemain mana yang perlu di
khawatirkan. Aku berusaha tenang dan
berpikir baik dengan cepat.
“jalan satu – satunya three point..”
bisik iras ketika melintas di dekatku.
Aku menghembuskan nafas panjang, aku cukup kelelahan, meminta diganti
bukan ide bagus, kami harus menang.
Aku mengangguk pada iras. “sprint
three point..” aku agak ragu, meski kami belum mencobanya, namun aku ingin
berhasil yakin pada kemampuanku dan kemampuan iras. Bahkan aku sendiri yang menamakan starategi
ini. Bola masih di tanganku, beberapa pemain lawan berlari menuju ke arahku,
hendak merebut bola, iras berlari ke arah kanan lapang. Aku melempar bola
kepadanya.
Beberapa pemain lawan, kini memburu
iras, namun ia melesat cukup jauh, berlari sambil menderible bola. Pemain dengan sprint dan kelihaian drible
terbaik yang kami punya. aku segera
berlari ke sisi sebelah kiri lapangan. Sampai aku berada di area three point
lawan.
“ras...” aku beteriak. Tiga orang
pemain lawan berlarian ke dekat iras, dua di dekat ring dan satu lagi entah di
mana.
Mata iras menangkapku, ia
melemparkan bola, aku memastikan di dekatku tidak ada siapapun, iras sudah
melemparkan bola, dan aku pikir ini sudah ada di posisi three point teramanku.
Aku melihat bola melayang ke arahku.
Kedua tanganku langsung
menangkapnya, ku drible sekali, agar tidak lebih dari lima detik bola berada di
tanganku. Semua pemain lawan jauh dariku, beberapa orang teman satu tim ku yang
ada di sekitar ring minta agar aku memberikan passing kepada mereka.
Namun tidak kali ini, aku melompat
sambil tanganku melemparkan bola, bola terbang di udara selama beberapa detik,
sebelum akhirnya ia bersarang pas di ring lawan.
“yeeeeeeeeeeeeeeeee....” sorakan
dari kursi penonton bergemuruh. Three point ku berhasil lagi.
Iras berlari ke arahku. Ia hampir
memelukku sebelum aku mengangkat kedua tangan untuk melakukan high five.
Pelatih mengacungkan dua jempolnya
pada kami berdua.
Wasit selesai membagi bola namun
didi berhasil mengambilnya dari tangan lawan yang tadi menyambutnya dari tangan
wasit. Aku berdiri di belakang, bahkan
terlalu belakang, ketika aku tadi kembali dari area three point lawan.
“ke inu di..” teriak iras. Iras ingin sprint three point lagi. Aku
mengerti, didi memutar badannya ke
arahku. Ia melemparkan bola lagi. Aku berlari beberapa langkah sambil
menderible bola, seorang pemain lawan berusaha menjegalku. Ia memberikan blocking yang agak memusingkan,
aku memutar badan sambil memegang bola, aku berputar lagi, mencari keberadaan
iras.
Iras sudah berada di sisi kanan
lapang, jaraknya tidak cukup jauh, aku melemparkan bola kepadanya. Iras
menerima dengan baik, pemain lawan yang di dekatku, ikut menatap ke arah iras,
ia berlari, aku menghindar agak jauh darinya, aku masih berada di dalam
lapanganku. Iras sudah agak jauh di
depan, ku coba menambahkan kecepatan lariku.
Iras sudah berbalik, ia mencariku,
ia dihadang tiga orang sekaligus, tidak ada pilihan lain, aku harus mengambil
bola. Iras juga semakin tidak bisa menahannya sendiri. Aku berusaha berlari lagi, aku kini berada di
hampir setengah lapangan. Area three
point lawan Cuma beberapa langkah di depanku.
“nuynuy...” iras melempar bola. Aku
lompat dan menangkapnya, ku coba menambah beberapa langkah, waktu yang hampir
habis, dan lawan yang semakin dekat, membuat ku berpikir inilah saatnya, ku
tumpukan kekuatan di ujung sepatu dan lenganku. Semoga aku berhasil lagi kali
ini.
Bismilahirahmanirrahim... aku
melempar bola ke arah ring lawan.
“daaannnn pemain bernomor punggung
sebelas, mencetak three point lagi, 45 – 39...”
tim kami unggul. Beberapa orang teman merangkulku, iras berdiri sambil tersenyum di sisi lain lapang.
tim kami unggul. Beberapa orang teman merangkulku, iras berdiri sambil tersenyum di sisi lain lapang.
“tiiiiiiiiiiiiiiittttttttttttttttttttttt...”
bunyi peluit panjang wasit. Tim kami
masuk final. Teman – teman ku yang masih
mengerubungiku bersorak, diikuti sorakan seluruh penonton, hampir saja aku
diangakat ke udara oleh mereka.
...
Beberapa teman, bergelimpangan di
banch, pelatih masih bertepuk tangan dengan menatap kami satu – satu dengan
bangga. Aku menghampiri tas, kemudian
mencari botol minumku. Iras berdiri di pinggir lapang, beberapa orang masih
membahas hasil pertandingan barusan.
“kita ke final hari sabtu, jam
delapan malam di sini, setelah final putri dan tingkat SMP..” kata pelatih
kami. “itu berarti ada libur satu hari, sebelum hari kamis sore kita berkumpul
di sekolah untuk latihan terakhir, sebelum tutup musim..” ia menambahkan
kalimat tutup musim yang membuat beberapa dari tim kami tertawa.
“siramkan beer untuk bintang kita
hari ini, master three point..” didi menyemprotkan seisi aqua gelas kepadaku,
aku mengelak, berusaha menghindarinya, namun ia menggila.
“good job nu..” kata pelatih ia
mengacungkan salah satu jempolnya.
Kiki menepuk pundakku, seakan ia
ikut bangga. Sementara aku masih meminum
seisi botol minumanku, cokelat panasku yang kini mulai turun suhunya.
“pertahankan sampai ke final..”
sambungnya lagi, ia menyimpan boardcoachnya “tim kalian semua hebat kali ini,
dan untuk Shooting Guard juga Point Guard kita, Inu dan Iras, kalian
siapkan kejutan berikutnya di final..”
“ah tidak coach, ada yang ingin saya
sampaikan..” iras menyela, ia mengacungkan tangan, tanda interupsi “mulai hari
sabtu saya akan mengikuti bimbel untuk SMPTN dan UN, jadwalnya berakhir sebelum
babak pertama selesai, saya tidak bisa ikut di final, ini pertandingan terakhir
saya di tim basket sekolah, karena mulai saat ini saya memutuskan resign...”
Aku yang awalnya mengabaikan
perkataan iras, kini mengangkat kepala dan aku tahu kalau kini mulutku hampir
menganga. Tidak percaya dengan apa yang barusan ku dengar.
Didi bangkit, dia dan iras adalah
dua siswa kelas tiga yang tersisa di tim ini.
Namun aku tahu didi, ia tidak pernah serius memperhatikan pelajarannya,
sementara buat iras, UN dan SMPTN pasti sesuatu yang sangat penting.
“gak asik lu cuy, kenapa gak bilang
– bilang dulu..”didi mendekat ke arah iras, namun iras malah membalas tatapan
didi dengan satu senyuman saja.
“bapak kira kamu becanda ras, oke
tidak apa – apa..” pelatih menarik nafas panjang “kiki persiapkan diri, hari
sabtu kamu yang akan di posisi iras..”
Tidak berhenti keterkejutan kiki,
aku langsung menariknya berdiri, aku pamit duluan pada pelatih, bilang kalau
aku dan kiki ada tugas kimia yang harus segera di selesaikan. Aku berlalu, dari
timku, aku sadar aku tidak bawa mobil, makanya aku menyeret kiki.
Aku tidak mengerti jalan pikiran
iras, apakah dia tidak mengerti kalau posisinya begitu penting di tim ini.
Apakah ia tidak tahu, kalau keberadaannya adalah alasanku untuk tetap bermain
di tim ini.
...
Langit mulai berubah warna, ada
angin menyibakan setiap helai daun dari pohon trembesi yang tumbuh di
sekeliling lapangan tempat aku bermain.
Senja mulai datang, ditandai dengan aroma dari hawa dingin yang menjalar
di sekujur permukaan beton yang ku pijak.
Aku menderible bola, sambil tetap
berusaha agar iras tidak sampai merebutnya dariku. Keringat bercucuran dari kepalanya, membasahi
wajahnya yang mengkilap, bekas keringat yang keluar sejak dua jam tadi, ketika
aku menantangnya untuk bertanding one by one.
“mungkin inu juga resign kalau
begitu..” kalimat pertama yang keluar setelah aku mendiamkan iras dari kemarin,
tidak menjawab telponnya ataupun membalas smsnya, sampai tadi sepulang sekolah
ia datang ke rumah dan aku mengajaknya ke sini. “percuma inu bertahan di tim,
sementara inu gak punya partner..”
Iras berhenti, ia berdiri sambil
menyimpan kedua tangannya di pinggang, membiarkanku yang melesat melakukan slam
dunk ke ring.
“yeeeee.... empat puluh – tiga
satu..” aku menyebutkan score kami.
“itu berarti sebuah pernyataan bahwa
kita sudah secara tulus ikhlas menyerahkan piala gubernur sama musuh bebuyutan
kita..”
Aku diam, membiarkan bola
menggelinding keluar dari lapang. Langkah kakiku mendekat ke arah laki – laki
yang kini telah merubah hampir seluruh hidupku.
“inu tidak pernah main hanya untuk
sebuah piala, inu main basket karena inu suka basket, bukan karena sebuah piala
atau gelar juara...”
“juga bisa bukan karena iras juga
kan?” iras membalikan sebuah pertanyaan yang membuatku tidak bisa menjawabnya
langsung.
Aku membuang pandangan, aku
mengingat – ingat kejadian hampir satu tahun setengah yang lalu, bagaimana
konspirasi antara dia, pelatih dan kepala sekolah yang memberiku tekanan agar
bergabung di tim basket. Kini ia bicara seperti itu.
“kalau mau begini, seharusnya dulu
kamu gak usah maksa inu buat masuk ke tim, pake nyuruh coach buat blokir nilai
olahraga inu, maksa kepala sekolah buat ngancam inu segala, kamu seharusnya
waktu itu tidak perlu repot – repot..”
“kalau saja jadwal bimbel iras tidak
bentrok mungkin iras tetap bisa main atau kalau saja kehadiran pertama di
bimbel itu tidak wajib mungkin iras masih bisa...”
“iras lagi bohong kan?” aku menatap
telak matanya “ingat waktu coach bilang “bapak pikir kamu becanda” itu artinya
kamu sudah membicarakan resign kamu dulu kan sama dia?”
Iras membuang nafas, tidak bisa
kalau kebohongannya aku bongkar.
“iras berhenti karena iras tau,
kalian, tim, kamu, bisa walau tanpa iras, walau iras gak ada di lapang, walau
iras Cuma duduk di banch, kamu masih tetap bisa cetak three point nu..”
Aku berbalik, tidak lagi peduli pada
apa yang dia katakan, aku tahu iras pasti datang dan pasti akan bermain lagi di final, ini final terakhirnya, ini
juga yang mungkin akan jadi kemenangan terakhirnya. Aku ingin dia tetap
bermain. Ku ambil bolaku, lalu tanganku meraih jaket yang ku simpan pada bangku
semen di pinggir lapangan.
“iya, Cuma sesederhana itu ras,
walaupun kamu Cuma duduk di banch bagi inu itu penting, karena ada orang yang
sangat mengharapkan inu untuk bisa bermain bagus...”
Hening.
Aku meninggalkan lapang,
meninggalkan iras sendirian.
...
Kedua tanganku masih bergiliran
menderible bola, timer di dinding GOR menunjukan sudah hampir memasuki akhir
dari quarter kedua. Dan yang paling menyatikan, kami tertinggal. 37 – 27.
Belum satu jam dan aku sudah kehilangan konsentrasi, frustasi dan tidak
tahu siapa yang dapat ku percaya di lapangan.
Aku membuang nafas.
Didi berdiri tidak jauh di depanku,
aku tidak mungkin mengulur waktu, dalam dua quarter ke depan, kami harus
menang, jerit batinku yang juga masih merasa tertekan. Didi meminta bola, lalu tanpa pikir panjang
ku lemparkan bola kepadanya. Didi melesat, namun dua orang pemain lawan
berhasil menjegalnya dan menggiring bola menuju ring kami.
Shooter guard mereka hampir saja
memasukan bola lewat one shotnya, namun bola malah menggelinding di sekitar
ring kemudian jatuh ke permukaan lapang.
Aku menghela nafas, setidaknya mereka tidak mencetak angka lagi dan kami tidak
tertinggal semakin jauh. Mengingat point
yang kami dapatkan segini juga hanya karena pools.
“priiiiiitttttt...” bunyi pluit
wasit memecah pertandingan. Sekaligus menyelamatkan kami, menyelamatkanku.
Aku melangkah keluar dari lapangan,
menuju banch kami, selang beberapa kursi di atasku mama melambaikan tangan
sambil memberikan semangat. Apih dan
amih juga datang. Ini pertandingan
final, mama mengetahuinya, hingga sejak pagi ia sudah mempersiapkan banyak hal
untuk datang ke sini termasuk mencari cheerleader lainnya, yaitu apih dan amih.
“kita masih bisa mengejar kan
coach..” kata didi, hampir ada putus asa dalam kalimatnya.
Aku duduk sendirian pada bagian
paling sisi dari banch, kiki duduk tidak jauh dari tempat pelatih berdiri, ia
melap setiap keringat yang meluncur ke wajahnya. Aku tahu kiki kelelahan, ia baru tiga bulan berlatih bermain di posisi ini. Siapapun tidak bisa menyalahkannya karena hal
ini. Dua teman ku yang juga sedang istirahat, tidak bisa benar – benar
diandalkan.
“nu, coba pancing untuk buat fools
sebanyak mungkin, semoga kita bisa menyusul di quarter ini..” pelatih menatapku
beberapa saat, meyakinkanku, aku mendengus, menyuruhku berbuat curang. Sesuatu
yang sangat berat.
“di, rebut bola sebanyak mungkin
kamu juga ki, kita pasti menang..”
“pasti coach..” kiki mengacungkan
tangannya spontan, aku tahu, meskipun di satu sisi kiki gugup namun ia juga
semangat, namun ini juga pertandingan final pertamanya. Membuatku sadar,
mungkin kiki bisa diandalkan.
“ki sini..” aku mengajaknya untuk
mendekat, kiki menggeser duduknya, mendekatiku “lu kemarin perhatiin gue sama
iras?”
“kalian nyetak banyak angka?” kiki
malah balik nanya.
“bukan, pas gue maen, gimana gue
sama iras kerja sama..”
“emhh yang iras tiap ngasih bola ke
elu? Gitu?” kalau saja dia bukan teman sebangkuku dan kalau saja saat ini aku
tidak sedang membutuhkannya, sudah ku toyor kepalanya dalam – dalam.
“bukan ki, okelah itu bagian dari
rencananya emang, gue sama iras udah lama latian strategi ini sebenarnya, tapi baru dicoba kemaren..”
“eh elu mah gitu ya nu, latian sama
iras gak pernah ngajak – ngajak, gak mau aja punya temen maen nya keren..”
“dengerin dulu monkey, bukan gitu,
lu mau gak punya jasa dibalik banyak cetak angka gue...” aku mulai tidak yakin
kalau kiki bisa berhasil dengan strategi ini.
Tiba – tiba dia mengangguk, namun
belum cukup meyakinkanku.
“oke gini rencananya, lu ama gue
bakal ada di sisi kiri sama kanan, lu yang dikanan, gue dikiri..”
“gue kan kidal nu..”
Aku menepuk jidat, mengingat itu
sering jadi masalah kami kalau duduk sebangku, tulisanku jadi sering acak –
acakan gara – gara siku kami yang sering diadu.
“oke deh gue pindah ke kanan, tapi
intinya gini, begitu lu dapet bola, lu lari yang kenceng sambil drible sampe ke
deket ring, terus lu puter balik badan, siap – siap ngelempar bola yang jauh,
oper bola ke gue, gue di three point, jadi kita bisa cetak three point, kalau
ini berhasil, empat kali strategi ini, kita bisa nyusul mereka...”
“oke nu, gue ngerti, gue harus dapat
bola, lari sampe deket ring, puter badan dan over bola ke elu..”
Aku mengangguk, menjawab
pertanyaannya, “gue bisa ngandelin lu kan?”
“bisa nu, yakin..”
Anggukan kiki disusul oleh bunyi
tanda quarter ketiga dimulai, kami semua dengan semangat yang sengaja
digelorakan pelatih kembali bergegas ke lapang, bagaimanapun kami harus
mengulangi final tahun kemarin, kami harus menang.
Meskipun tanpa lu ras. Kecamku dalam
hati.
Ternyata agak susah mengajak kiki
kerja sama, pertama kali aku mengover bola,
ia membawanya berlari, drible cepat namun berhasil dijegat lawan, kemudian bola
direbut. Didi berhasil menambah sedikit
point lewat empat kali fools, dan lawan juga berhasil mencetak angka.
Kedua kali aku memberikan umpan pada
kiki, ia berhasil membawa bola sampai ke titik ujung three point lawan, namun
ketika hendak berputar ia malah menabrak pemain lawan yang berusaha memberikan
block terhadapnya.
Aku atau kiki, aku bisa melihatnya
ia bersungguh – sungguh, bahwa kami bisa sukses menjalankan strategi ini.
Aku berusaha percaya pada kiki, aku
ingin mencobanya lagi. Steve, merebut
bola dari lawan yang berniat mencetak angka lagi, kami segera berlari ke arah
berlawanan. Steve kebingungan, hendak membagi bola pada siapa, ku lihat di
ujung, hampir di setengah lapangan, kiki melambai meminta bola. Steve menoleh
ke arahku.
“kiki, steve. Kiki..” aku menunjuk
kiki. Mungkin karena beberapa kali kiki
selalu berhasil dijegal pemain tim lawan, yang membuat steve agak ragu untuk
memberikan bola kepadanya. Beberapa kali
steve melihat ke arahku yang masih berada di belakangnya, aku tidak mungkin
berlari terlalu cepat, kecuali aku melewati area three point tim lawan, aku
harap kali ini berhasil.
Steve akhirnya setuju, ia melempar
bola ke arah kiki, tanpa bergoyang dulu atau sempoyongan, kiki menerima bola,
tidak ada satupun pemain lawan yang berada di dekatnya sehingga ia bebas
berlari. Tiga tim lawan sekaligus mengejarnya. Namun menurut perkiraanku, ini akan cukup.
“ki.. over..” aku berada di line
tengah lapang, dan area three point tinggal beberapa langkah lagi.
Kiki berbalik, tiga pemain lawan
masih cukup jauh darinya, entah karena panik atau apa, sehingga tubuhnya agak
berguncang ketika hendak melemparkan bola. Aku rasa, lemparannya tidak cukup
kuat dan aku khawatir tidak akan bisa sampai.
Benar, lemparan kiki melambung tidak
terlalu tinggi, pemain Center point lawan berhasil meriahnya ketika melompat,
jalan satu – satunya aku harus merebut. Aku mendekatinya, kami berhadapan, ia
hendak memberikan passing pada temannya.
Namun, aku juga mau bola tersebut, kami sudah berhadapan, tanganku
langsung meraih bola itu, dan ia tentu tidak mau melepaskannya, ia sampai
berbalik, namun aku punya satu trik, ku bengkokan sikut tanganku, ke
pinggangnnya, ia lebih tinggi dariku, ini akan menguntungkan.
Strategiku berhasil, ia kaget, bola
lepas, dan aku merebutnya. Siapapun akan melepaskan apa yang dipegangnya ketika
kaget karena digelitik.
Aku memutar, keluar dari area three
second, aku tahu ini posisi yang tepat untukku melakukan shoot, aku memejamkan
mata sambil memegang bola kuat – kuat.
Mengingat kata – kata papa. “saat akan cetak three point, yang kata
orang sulit, kamu jangan pernah menganggap keberadaan tim lawan, secepat apapun
mereka berlari ke arah kamu, kekuatan kaki, tangan dan pikiran kamu bisa lebih
cepat dari mereka, ingat sebut nama papa, mama dan bismilah...”
“bismilahirahhmanirahim..” teriakku
sambil melemparkan bola.
Bola melambung ke arah ring, agak tidak
akurat, ia jatuh di sisi ring, pada besi bulatnya, ia bergelinding, memutari
permukaan ring yang bulat, sebelum akhirnya terhempas masuk ke dalam jaring.
Dan....
Aku menambah tiga point. Kami segera
kembali ke posisi, wasit akan membagi bola.
Kiki mendekat “nu, lagi?”
“yoha..” jawabku.
“gimana kalau lemparan gue gak tepat
lagi kaya tadi, atau bola direbut sama orang..” aku jadi ingat strategi ku
barusan.
“gue yakin, lu bisa lempar dengan
bener, inget lu udah senior di tim basket. Dan kalau urusan direbut, cara mudah
buat ngerebut lagi pemainnya, coba lu..” aku menghela nafas “leketek...”
Kiki melongok sebentar sebelum
tertawa lebar, menyeringaikan gigi – giginya yang tidak rata. “hahaha oke – oke
nu..”
“sip..” aku menepuk bahu kiki, kami
kembali ke posisi kami sendiri.
Bola dilempar wasit ke pemain lawan,
kiki langsung berlari, steve, didi dan okan berusaha merebut bola dan aku
mencoba mencari posisi yang pas. Berkali
– kali kami gagal merebt bola dan aku juga kiki belum berhasil melakukan
strategi kami lagi. Aku berharap banyak
sebelum quarter ketiga berakhir.
Akhirnya kiki berhasil merebut bola.
“lari ki..” teriakku. Ada salah seorang pemain lawan yang mendengar teriakanku.
Ia juga melihat aku yang mulai memasang kuda – kuda. Ia berlari ke arahku hendak memblock
sepertinya.
“kutu kupret..” desisku pelan. Kiki
berlari sambil menderible bola, beberapa pemain lawan mulai terpancing
mengikuti bola, termasuk dia yang akan memblockku, tiga orang pemain lawan,
bahkan empat mulai mengerubungi kiki, okan dan didi membantu kiki. Namun. Bola berhasil direbut shooting guard
lawan. Aku harap..
Terlihat kiki berusaha merebut bola
lagi. Ia berhadapan dengan pemain yang tadi mengambil bola dari tangannya, ku
lihat tangan kiki menyelinap ke arah pinggang orang itu. Aku hempir tergelak,
melihatnya, ia benar – benar menggelitik pemain lawan menggunakan jari
tangannya.
Bola terlepas dan kiki dapat merebut
bolanya lagi. Ia tersenyum lebar, aku juga belum bisa berhenti tersenyum gara –
gara taktik konyol kami berdua barusan. Kini taktik itu jadi milik kami berdua,
setelah kiki berhasil melakukannya juga.
Tanganku menangkap bola yang
dilemparkan kiki, tidak ada pemain lawan di sekitarku, itu artinya..
“shooott...” teriakan mama dari
kursi penonton terdengar sampai ke tengah lapang, aku tahu aku akan berhasil
lagi.
Tanpa menggelinding, tanpa kesana
kemari lagi, bola langsung masuk ke dalam jaring laba – laba yang menggelayuti
seluruh sisi ring.
Mama, apih, amih ku lihat sampai
berdiri untuk memberikan tepuk tangan dan sorakan, kami sudah bisa semakin menyusul. Bahkan karena aku melihat senyum di wajah
mereka itu, selanjutnya aku mencetak angka beberapa kali lagi, sampai kami
akhirnya dapat menyusul.
Menjelang permainan quarter ketiga
berakhir, aku menangkap dari lobang besar pintu GOR muncul orang yang
menyebalkan itu. Iras.
Ia tidak datang dengan tas
backpacknya, melenggang santai ke arah kursi penonton yang kosong di belakang
banch kami, ia tampak puas dengan ketika melihat papan score. Tanpa diketahuinya, bahwa kami sangat bekerja
keras untuk hal ini.
Terlihat steve mendapat bola,
“steve...” aku berteriak pada steve.
Steve berbalik, ia langsung
melemparkan bolanya padaku. Aku berada
di sisi lapang yang berlawanan dengan tempat duduk iras. Ia tampak sedang
mengobrol, didi berdiri sejajar dengan tepat duduk iras. Namun aku yakin ia tidak menyangka bahwa aku
akan memberikan bolaku padanya.
“di..” aku melempar bola, namun didi
terlanjur melesat, dan bola tidak terlempar ke arahnya. Memang bukan itu
tujuanku, bukan didi, bola terus melayang jauh keluar dari lapangan. Terus,
sampai mengenai sisi kepala iras. Ia sampai terjerembab di tempat duduknya.
Ia bangkit, beberapa penonton yang
duduk di dekatnya tertawa melihat hal itu, ia mengusap keningnya kemudian
menatapku, mungkin tidak menyangka akan mendapatkan serangan seperti itu. Ku
acungkan jari telunjukku ke arahnya. Ku
lipat, kemudian jari tengahku mengacung.
Iras malah tersenyum, penuh cinta.
...
Break quarter ketiga, itu artinya
permainan hanya tinggal separuhnya lagi. Aku duduk di banch, mama datang
menghampiri, ia menyodorkan botol minumannya.
Aku menerimanya sambil tersenyum lebar. Bagiku mama adalah suporter
nomor satuku setelah papa. Makanya,
ketika banyak yang melihat dengan tatapan aneh padaku dan mama, aku tidak
peduli sama sekali. Ini aku, dan mamaku.
Iras mendekat, atau mungkin ia
memang sengaja duduk di sana agar bisa bicara denganku. Ia datang menggunakan
kemeja flanel berwarna hijau yang memiliki garis – garis abu dan blue navy,
juga jeans yang sangat terkesan santai.
bukan penampilan untuk bermain basket.
“lemparan yang bagus..” bisiknya
sambil tersenyum.
“kami memimpin...”
“sudah iras bilang..”
“you don’t say anything..”
Iras terdiam, sampai akhirnya
kembali ke lapangan, keberadaan mama, apih, amih yang sejak kami mulai bermain
berdiri, berteriak, bertepuk tangan atau bahkan marah – marah ketika tim lawan
berhasil menjegal atau membuatku jatuh, memberikan semangat yang luar biasa
untukku. Juga keberadaan iras, yang
memecutku, membuatku tetap sadar dan aku bisa walau dia tidak ada di lapangan
bersamaku.
Kami sudah memasuki setengah dari
quarter ke empat dan kami memimpin, 47 – 42. Tiba – tiba di tengah quarter
keempat ini iras berdiri dari duduknya.
Membuka lebar sebuah karton yang sepertinya ia tulis sendiri.
“YANG PENTING MAIN BAGUS, BUKAN
MENANG. KAMU BISA..” diakhiri dengan sebuah emot senyum, ingin rasanya melempar
bola lagi seperti tadi kepadanya.
Karena lengah, tim lawan mencetak
three point lagi, 45 – 47. Aku tahu, hanya tinggal ada dua cara, mengulur waktu
atau cetak angka lagi. Namun, aku
melihat kondisi teman – temanku, sebagian dari mereka sudah kelelahan dan mulai
strees, kecuali kiki, ia masih berlari lincah kesana kemari. Benar – benar
ingin bermain bagus nampaknya dia kali ini.
Aku mendapat bola, kiki berada di
area three point, “ki...” ku lempar bola pada kiki, ia kaget ketika
mendapatkannya.
“shooottt shooottt..” teriakku,.
Tampak kiki menelan ludah, lalu
menatapku lagi. Aku mengangguk meyakinkannya. Ia memejamkan mata beberapa saat,
sebelum akhirnya memutuskan melemparkan bola di tangannya.
Bola masuk. Penonton bersorak. Peluit wasit melantun
panjang. Kami menang...
...
Itu kira – kira kejadian lima tahun
yang lalu, sewaktu aku dan iras masih jadi yang terkeren di tim basket sekolah.
Hualaaaah...
Memang akhirnya sejak itu iras tidak
pernah main di tim basket sekolah lagi, kecuali datang menjemput atau
mengantarku ketika berlatih. Ia akan ikut sekedar pemanasan atau memberikan
arahan pada junior kami. Tidak lama
setelah itu, paling hanya terselang beberapa bulan, aku juga memutuskan
berhenti.
Tidak mungkin tetap bermain jika
alasanku untuk main saja tidak ada.
Terutama setelah iras meninggalkan sekolah dan kuliah, basket jadi tidak
begitu menarik lagi. Aku tidak pernah
menyesal meninggalkan sesuatu yang mungkin bisa saja mengantarku pada sebuah
pencapaian yang tidak bisa semua orang capai.
Tidak samasekali.
Aku lebih baik tidak pernah meraih
hal itu, jika harus menebusnya dengan menemukan bayangan papa di setiap arena,
tempat aku bertanding. Ia dengan senyum
dan lambaian dari topi berwarna birunya itu, terasa selalu duduk di salah sudut
lalu menyemangatiku. Aku tidak sekuat itu, semua hal tentang papa selalu terasa
menyesakan untuk dikenang.
Mungkin karena kedekatan kami,
karena kami yang bahkan tidak pernah terpisahkan, kenangan yang ku miliki
dengannya yang hanya sedikit, membuat semua ini terasa semakin sakit begitu
terjadi. Papa. Hal terindah yang pernah
terjadi di dalam hidupku, kami pernah begitu dekat, sebelum tuhan yang lebih
menyayanginya mengambilnya lebih dulu.
Itu alasanku tidak pernah menyentuh
bola basket lagi sampai sekarang. Iras sering menyayangkan, ia kerapkali
menyuruhku untuk bergabung dengan tim basket kampus atau tim basket
profesional. Aku tidak pernah bisa
menurutinya. Sampai suatu saat ia
mengerti.
Kami baru saja pulang menonton
sebuah pertandingan basket liga SMA, sebuah liga yang dulu sering kami ikuti
juga. Terdengar kabar, setelah kami
berdua tidak lagi bermain di tim basket sekolah, sekolah kami tidak pernah
juara lagi. Iras sampai menggerutu apa
perlu ia datang ke sekolahan kami dulu dan memberikan coaching clinic, aku
tersenyum mendengar omelannya.
Iras berada di dapur dengan amih,
membantunya menyiapkan makan malam. Mama
sedang di ruang baca, ruangan yang menyisakan semua benda dari ruangan dan
tempat kerja papa di bandara. Mama tidak
sedang membedah sebuah buku bedah anak kali ini, namun sebuah album dari foto –
foto lama keluarga kami.
“hay love..” aku mencium pipi lembut
mama.
“hay..” katanya mengelus tengkuk
leherku. “can you see?” tangannya menunjuk sebuah foto, ketika aku duduk di
kelas Grand Child sewaktu tinggal di Moskow dulu, aku baru saja memenangkan
sebuah turnamen bela diri, taekwondo, seni beladiri yang memang papa ikuti
juga, ia sendiri pelatihku. Melihat piala yang bahkan lebih besar dari ukuran
tubuhku itu, aku tersenyum, apalagi ada papa yang ikut berfoto di
sampingku. Banyak sekali foto serupa,
ketika aku SD di jakarta, sampai terakhir ketika aku SMP, sewaktu menjuarai olimpiade
Astronomi dan Liga basket dibawah dua belas tahun tingkat nasional. Semua piala dan medali, pasti aku akan difoto
dengan papa.
“kalau papa masih ada pasti dia akan
ngomong “sudah aku bilang, dia pasti jadi orang hebat” rasanya papa memang
benar soal kamu nu, mama bisa lihat sekarang...”
“I’m nothing without you mom..” aku
memeluknya dari belakang.
“tidak, kamu hebat karena kamu
sendiri, ada hal yang sangat membuat mama sedih, tahun depan saat wisuda S2
kamu di paris, mama hanya akan berdiri sendirian, bilang bangga, tanpa papa,
padahal sejak kamu masih di dalam perut mama, ia ingin sekali melakukan itu...
i miss him”
Aku membantu mama menutup album
tersebut. Kemudian membiarkannya
tergeletak di atas meja. Karena aku tahu, mama, juga aku kali ini sangat
merindukan pelukan laki – laki itu.
...
NB: “pah, kemarin malam, inu mimpi
ketemu papa lagi, papa senyum di sana, sepertinya papa baik – baik saja ya di
sana, inu rindu papa..”