Kamis, 06 Februari 2014

Romansa SMA



Tanganku masih berusaha mempertahankan bola, agar tidak lepas dan bagaimana caranya agar terhindar dari hukuman three second. Ku intip papan score, tinggal satu menit lebih beberapa detik. apa yang tim ku lakukan sekarang di lapangan, tidak lebih hanya untuk mengulur waktu, melihat score dari tim lawan yang tertinggal jauh oleh kami.
Timku sedang melawan sebuah tim basket yang sepertinya tidak benar – benar tim basket di sekolahnya, mereka terlalu kemayu sebagai atlet.  Bahkan untuk drible bola yang benar saja mereka sepertinya harus belajar dulu pada keponakanku yang sekarang duduk di kelas tiga SD.  Mencetak angka 45 – 12, gampang sangat, saat yang kami hadapi hanyalah sekumpulan teletubies.
Yak, betul, teletubies, karena mereka hobi sekali berpelukan. Atau ku beri gelar lebih keren sedikit, rajin sekali blocking, karena terlalu rajinnya mereka melakukan blocking sampai aku merasa bukan lagi di block oleh mereka. Namun lebih terasa hampir dipeluk dan di ‘keukeuseuk’.
Ada satu pemain yang sepertinya diutus oleh pelatihnya untuk menjaga dan memblock seluruh pergerakanku.  Orangnya tidak terlalu tinggi, namun agak gempal dan berkulit cukup gelap.  Sekarangpun ia sedang berkutat di dekatku, dari tampangnya aku tau ia bernafsu sekali untuk merebut bola dari tanganku. Biar mudah, aku akan memberinya nama badigul cau, karena ia sangat membuat jengkel dan hampir menghalangi langkah dan pandanganku.
Ku lihat dengan sudut mata, ring tidak jauh dari tubuhku, harusnya dengan sekali berputar kemudian melakukan slam dunk, aku bisa mencetak angka lagi.  Namun ketika aku hendak melakukan sebuah putaran, sebuah tangan melesat ke dekat kepalaku, hampir menebasnya. Tangan si badigul cau. Aku mengelak ke bawah, mencari ruang untuk melangkah, agar dapat melakukan sebuah putaran yang bagus lalu meloncat ke ring.
“bruuuukkk..” aku terjatuh, bola menggelinding ke tempat lain.  Sementara orang yang membuatku jatuh pun, ia seperti kehilangan keseimbangan dan sedang berusaha berdiri tegak lagi, setelah barusan kakinya menginjak sepatuku ketika hendak memblock gerakanku.
Permainan yang hampir di ujung quarter ke empat, stress dan tekanan, juga kelelahan yang ku rasakan, dan kejadian barusan membuat emosiku terpancing.  Aku sudah tidak memperdulikan permainan. Aku berdiri, sementara wasit masih berusaha mencerna keadaan.
“badigul cau... setaaannnnn....” tanganku meraih kerah jersey orang tersebut. Semua yang ada di lapangan beralih menatapku. Dapat. Aku mendapatkan kerah bajunya, kemudian tangan kananku meremasnya. Hampir saja tangan kiriku menyusul untuk melayangkan tinju.
Aku kesal, kalau saja kaki ku tidak ia injak, mungkin satu point lagi sudah berhasil aku cetak.  Tangan wasit mengusirku dari lapang bersama peluitnya. Pelatih berteriak ke arahku, setelah ia menunjuk iras, agar menggantikanku. Aku melihat ke arah kursi tempat duduk para pemain yang menunggu giliran bermain, iras membuang handuknya ia hendak menggantikanku. Aku berjalan kalah keluar dari lapang.
Mataku menatap iras, ia membuang pandangan, kemudian menggeleng.  Aku tidak peduli, ku jatuhkan tubuhku di lantai, terserah, pelatih atau iras mau memarahiku nanti, namun point empat puluh lima itu hampir separuhnya aku yang cetak.
...
“tadi itu yang dinamakan arogan, kapten..” kata iras, tapi ia tahu aku tidak akan memperdulikannya. Aku menutup seluruh wajahku dengan handuk, kami akhirnya tetap menang score akhirnya menjadi 50 – 12, setelah iras berhasil mencetak  dua point lewat pools dan didi three point.
“mainnya udahan kan? Kita sekarang udah menang juga kan? Ini lagi jalan mau pulang kan?” ku lemparkan handuk ke atas dasbor. Tanganku meraih botol minum yang tadi mama masukan ke dalam backpackku, susu coklat manis.  Bagus untuk memulihkan energi setelah olah raga seperti sekarang.
“masih ada dua pertandingan lagi, semifinal dan kalau lolos” iras menahan kata – katanya “ralat, pasti lolos, kita akan menghadapi musuh bebuyutan kita di final...”
“oh SMA yang tahun lalu kamu bahas juga? Tahun lalu kita menang bukan ya? Berarti tahun ini kita juga akan menang...”
Iras mengangguk, ia sudah tidak mau mungkin berurusan adu argumen denganku. “baiklah, tidak ada salahnya memang kita bersikap optimis, iras dengar mereka punya shooter baru yang bagus, namun lemah di belakang..”
“berarti semua penyerang kita harus yang paling bagus, ingat strategi yang kemarin kita coba?”
Iras mengangguk.
“nanti malam astroboy ada acara?”
Mulai... desisku dalam hati.
“tidak, sepertinya inu butuh istirahat di rumah, besok sore kita akan bertanding lagi bukan, inu yakin butuh energi banyak untuk itu..”
“nuynuy nya lagi nurut euy...” iras mengucek rambut di kepala bagian depanku “nanti juga kalau udah menang, pestanya pasti meriah sekali kan? Iras yang teraktir deh..”
“deal..” aku mengulurkan tangan.
“deal..” iras membalasnya, melepaskan tangan kananya dari kemudi beberapa detik. aku tersenyum lebar, membayangkan sebuah pesta besar di depan mata. Aku menengok ke arah jok belakang, ku mencari sesuatu yang sebenarnya tidak tau juga aku mencari apa.  Namun sebuah map berwarna hijau menarik perhatianku.
Sebuah map dari sebuah lemabaga bimbingan belajar terkenal.
“iras ikut bimbel?”
“ya..” kata iras “beberapa bulan lagi iras ujian nasional, bukan? Iras pikir ini penting..”
Namun aku tidak melihat di dalam formulir yang ada di dalam, iras tidak hanya mengisi untuk bimbel UN saja, namun juga sebuah persiapan menghadapi seleksi masuk perguruan tinggi.
“iras bimbel SMPTN?”
“mirip dengan itu, iras ingin masuk prasetya mulya dengan mudah..”
“tidak terdengar seperti universitas di amerika atau jerman..”
“iya, itu di BSD, tangerang..” iras tersenyum lebar.
“oohh di indonesia..” kataku singkat, tidak terlalu berminat.
...
Tim basket kami sedang menjalani sebuah liga yang memang sudah rutin diselenggarakan tiap tahun di bandung, sudah dua tahun berturut – turut tim ini menang. Tahun lalu, aku berhasil menjadi top scorer dan mister three point. Dan iras mendapatkan predikat pemain dan kapten tim terbaik. Melihat hal itu, sekolah, pelatih dan semua orang sangat menginginkan  kami akan jadi juara lagi tahun ini.
Melihat hasil jerih payah kami sampai saat ini, trofi juara satu tidak akan jauh jatuhnya selain ke sekolah kami lagi. Namun memang ada sebuah masalah yang cukup pelik, aku tidak bisa menghilangkan sikap premanismeku di lapang, seperti kemarin.  Sejak babak penyisihan dimulai, aku sudah diusir keluar lapang oleh wasit empat kali, memecahkan rekor tahun lalu yang Cuma dua kali.
“ada yang bilang, kemarin ada yang diusir lagi dari lapang..” mama memutari meja, ia menghidangkan sebuah lasagna di depanku, padahal aku belum selesai menghabiskan sup macaroni di piringku.
“mama kebanyakan denger gossip di tukang sayur depan kalau pagi – pagi, jadinya gitu...” entah tukang sayur mana yang ku ceritakan, mengingat di kompleks perumahan dengan keamanan super ketat ini, aku tidak yakin seekor ngengatpun berhasil melewati pintu satpam di depan.
Mama kembali lagi dari dapur, dengan tempat minum biasa yang suka ia isi dengan coklat panas, yang nanti bisa aku minum setelah usai bertanding. Pertandingan semi finalku sore ini.
“papa dulu tipe cowok yang lemah lembut loh nu, makanya fansnya banyak, ya kecuali mama, dan kamu lebih cakep dari papa, masa mau menyia-nyiakan kesempatan ini, kamu udah takabur loh sama rezeki dari tuhan..” kata mama sambil tangannya memasukan botol minuman itu ke dalam backpackku, sebuah tas khusus yang memuat segala macam keperluan basketku, jersey yang baru dicuci, sepatu, handuk, sebuah bola cadangan, baju ganti, handuk dan sebuah botol minuman bekal dari mama.
“tenang aja deh ma, inu belum sampai taraf melukai orang lain...”
“yoi, secara fisik tidak. Tapi kamu sudah melukai orang secara halus, kamu panggil apa yang kemarin? Badigul cau?” mama mengerenyitkan dahi, aku tidak tahu siapa yang memberitahunya, namun aku yakin memang, kemarin, seisi GOR mendengar aku mengucapkan hal itu ketika melakukan sumpah serapah. “lagi main juga, sempet aja ya bikin nama panggilan aneh buat orang..”
Dua buah piring yang tadi berisi sup macaroni dan lasagna, kini kosong.  Tanganku mengaduk gelas panjang berisi jus apel dengan wortel itu.
“sore tante, mau jemput inu..” iras berdiri di ruang tamu. Mama tersenyum ke arahnya.
“oh berangkat sama iras, hati – hati ya ras bawa mobilnya..” mama berteriak pada iras.
“baik tante..” tandanya iras tidak akan membawa mobilnya melebihi kecepatan di atas 60km/jam.
“oke ma, inu berangkat..” aku mengangkat tas besar di sampingku itu.  Sambil berdiri, mama mendekat, tangannya sudah mengacung di udara, hendak meraih kedua sisi kepalaku. Aku berusaha menghindar.
Namun mama mendapatkannya. Ia mendaratkan sebuah ciuman mesra di keningku, ku lihat melalui sudut mata. Iras tersenyum lebar di sana.
...
Waktu tersisa hanya dua puluh detik lagi, tim kami tertinggal dua point dari lawan.  Aku tidak mengira bahwa lawan kami di semi final jauh dari perkiraan, aku memang tidak pernah menonton pertandingan mereka, sehingga aku tidak tahu bagaiman strategi atau cara mereka bermain, bahkan pemain mana yang perlu di khawatirkan.  Aku berusaha tenang dan berpikir baik dengan cepat.
“jalan satu – satunya three point..” bisik iras ketika melintas di dekatku.  Aku menghembuskan nafas panjang, aku cukup kelelahan, meminta diganti bukan ide bagus, kami harus menang.
Aku mengangguk pada iras. “sprint three point..” aku agak ragu, meski kami belum mencobanya, namun aku ingin berhasil yakin pada kemampuanku dan kemampuan iras.  Bahkan aku sendiri yang menamakan starategi ini. Bola masih di tanganku, beberapa pemain lawan berlari menuju ke arahku, hendak merebut bola, iras berlari ke arah kanan lapang. Aku melempar bola kepadanya.
Beberapa pemain lawan, kini memburu iras, namun ia melesat cukup jauh, berlari sambil menderible bola.  Pemain dengan sprint dan kelihaian drible terbaik yang kami punya.  aku segera berlari ke sisi sebelah kiri lapangan. Sampai aku berada di area three point lawan.
“ras...” aku beteriak. Tiga orang pemain lawan berlarian ke dekat iras, dua di dekat ring dan satu lagi entah di mana.
Mata iras menangkapku, ia melemparkan bola, aku memastikan di dekatku tidak ada siapapun, iras sudah melemparkan bola, dan aku pikir ini sudah ada di posisi three point teramanku. Aku melihat bola melayang ke arahku.
Kedua tanganku langsung menangkapnya, ku drible sekali, agar tidak lebih dari lima detik bola berada di tanganku. Semua pemain lawan jauh dariku, beberapa orang teman satu tim ku yang ada di sekitar ring minta agar aku memberikan passing kepada mereka.
Namun tidak kali ini, aku melompat sambil tanganku melemparkan bola, bola terbang di udara selama beberapa detik, sebelum akhirnya ia bersarang pas di ring lawan.
“yeeeeeeeeeeeeeeeee....” sorakan dari kursi penonton bergemuruh. Three point ku berhasil lagi.
Iras berlari ke arahku. Ia hampir memelukku sebelum aku mengangkat kedua tangan untuk melakukan high five.
Pelatih mengacungkan dua jempolnya pada kami berdua.
Wasit selesai membagi bola namun didi berhasil mengambilnya dari tangan lawan yang tadi menyambutnya dari tangan wasit.  Aku berdiri di belakang, bahkan terlalu belakang, ketika aku tadi kembali dari area three point lawan.
“ke inu di..” teriak iras.  Iras ingin sprint three point lagi. Aku mengerti, didi memutar badannya  ke arahku.  Ia melemparkan bola lagi.  Aku berlari beberapa langkah sambil menderible bola, seorang pemain lawan berusaha menjegalku.  Ia memberikan blocking yang agak memusingkan, aku memutar badan sambil memegang bola, aku berputar lagi, mencari keberadaan iras.
Iras sudah berada di sisi kanan lapang, jaraknya tidak cukup jauh, aku melemparkan bola kepadanya. Iras menerima dengan baik, pemain lawan yang di dekatku, ikut menatap ke arah iras, ia berlari, aku menghindar agak jauh darinya, aku masih berada di dalam lapanganku.  Iras sudah agak jauh di depan, ku coba menambahkan kecepatan lariku.
Iras sudah berbalik, ia mencariku, ia dihadang tiga orang sekaligus, tidak ada pilihan lain, aku harus mengambil bola. Iras juga semakin tidak bisa menahannya sendiri.  Aku berusaha berlari lagi, aku kini berada di hampir setengah lapangan.  Area three point lawan Cuma beberapa langkah di depanku.
“nuynuy...” iras melempar bola. Aku lompat dan menangkapnya, ku coba menambah beberapa langkah, waktu yang hampir habis, dan lawan yang semakin dekat, membuat ku berpikir inilah saatnya, ku tumpukan kekuatan di ujung sepatu dan lenganku. Semoga aku berhasil lagi kali ini.
Bismilahirahmanirrahim... aku melempar bola ke arah ring lawan.
“daaannnn pemain bernomor punggung sebelas, mencetak three point lagi, 45 – 39...”
tim kami unggul.  Beberapa orang teman merangkulku, iras berdiri sambil tersenyum di sisi lain lapang.
“tiiiiiiiiiiiiiiittttttttttttttttttttttt...” bunyi peluit panjang wasit.  Tim kami masuk final.  Teman – teman ku yang masih mengerubungiku bersorak, diikuti sorakan seluruh penonton, hampir saja aku diangakat ke udara oleh mereka.
...
Beberapa teman, bergelimpangan di banch, pelatih masih bertepuk tangan dengan menatap kami satu – satu dengan bangga.  Aku menghampiri tas, kemudian mencari botol minumku. Iras berdiri di pinggir lapang, beberapa orang masih membahas hasil pertandingan barusan.
“kita ke final hari sabtu, jam delapan malam di sini, setelah final putri dan tingkat SMP..” kata pelatih kami. “itu berarti ada libur satu hari, sebelum hari kamis sore kita berkumpul di sekolah untuk latihan terakhir, sebelum tutup musim..” ia menambahkan kalimat tutup musim yang membuat beberapa dari tim kami tertawa.
“siramkan beer untuk bintang kita hari ini, master three point..” didi menyemprotkan seisi aqua gelas kepadaku, aku mengelak, berusaha menghindarinya, namun ia menggila.
“good job nu..” kata pelatih ia mengacungkan salah satu jempolnya.
Kiki menepuk pundakku, seakan ia ikut bangga.  Sementara aku masih meminum seisi botol minumanku, cokelat panasku yang kini mulai turun suhunya.
“pertahankan sampai ke final..” sambungnya lagi, ia menyimpan boardcoachnya “tim kalian semua hebat kali ini, dan untuk Shooting Guard juga Point Guard kita, Inu dan Iras, kalian siapkan kejutan berikutnya di final..”
“ah tidak coach, ada yang ingin saya sampaikan..” iras menyela, ia mengacungkan tangan, tanda interupsi “mulai hari sabtu saya akan mengikuti bimbel untuk SMPTN dan UN, jadwalnya berakhir sebelum babak pertama selesai, saya tidak bisa ikut di final, ini pertandingan terakhir saya di tim basket sekolah, karena mulai saat ini saya memutuskan resign...”
Aku yang awalnya mengabaikan perkataan iras, kini mengangkat kepala dan aku tahu kalau kini mulutku hampir menganga. Tidak percaya dengan apa yang barusan ku dengar.
Didi bangkit, dia dan iras adalah dua siswa kelas tiga yang tersisa di tim ini.  Namun aku tahu didi, ia tidak pernah serius memperhatikan pelajarannya, sementara buat iras, UN dan SMPTN pasti sesuatu yang sangat penting.
“gak asik lu cuy, kenapa gak bilang – bilang dulu..”didi mendekat ke arah iras, namun iras malah membalas tatapan didi dengan satu senyuman saja.
“bapak kira kamu becanda ras, oke tidak apa – apa..” pelatih menarik nafas panjang “kiki persiapkan diri, hari sabtu kamu yang akan di posisi iras..”
Tidak berhenti keterkejutan kiki, aku langsung menariknya berdiri, aku pamit duluan pada pelatih, bilang kalau aku dan kiki ada tugas kimia yang harus segera di selesaikan. Aku berlalu, dari timku, aku sadar aku tidak bawa mobil, makanya aku menyeret kiki.
Aku tidak mengerti jalan pikiran iras, apakah dia tidak mengerti kalau posisinya begitu penting di tim ini. Apakah ia tidak tahu, kalau keberadaannya adalah alasanku untuk tetap bermain di tim ini.
...
Langit mulai berubah warna, ada angin menyibakan setiap helai daun dari pohon trembesi yang tumbuh di sekeliling lapangan tempat aku bermain.  Senja mulai datang, ditandai dengan aroma dari hawa dingin yang menjalar di sekujur permukaan beton yang ku pijak.
Aku menderible bola, sambil tetap berusaha agar iras tidak sampai merebutnya dariku.  Keringat bercucuran dari kepalanya, membasahi wajahnya yang mengkilap, bekas keringat yang keluar sejak dua jam tadi, ketika aku menantangnya untuk bertanding one by one.
“mungkin inu juga resign kalau begitu..” kalimat pertama yang keluar setelah aku mendiamkan iras dari kemarin, tidak menjawab telponnya ataupun membalas smsnya, sampai tadi sepulang sekolah ia datang ke rumah dan aku mengajaknya ke sini. “percuma inu bertahan di tim, sementara inu gak punya partner..”
Iras berhenti, ia berdiri sambil menyimpan kedua tangannya di pinggang, membiarkanku yang melesat melakukan slam dunk ke ring.
“yeeeee.... empat puluh – tiga satu..” aku menyebutkan score kami.
“itu berarti sebuah pernyataan bahwa kita sudah secara tulus ikhlas menyerahkan piala gubernur sama musuh bebuyutan kita..”
Aku diam, membiarkan bola menggelinding keluar dari lapang. Langkah kakiku mendekat ke arah laki – laki yang kini telah merubah hampir seluruh hidupku.
“inu tidak pernah main hanya untuk sebuah piala, inu main basket karena inu suka basket, bukan karena sebuah piala atau gelar juara...”
“juga bisa bukan karena iras juga kan?” iras membalikan sebuah pertanyaan yang membuatku tidak bisa menjawabnya langsung.
Aku membuang pandangan, aku mengingat – ingat kejadian hampir satu tahun setengah yang lalu, bagaimana konspirasi antara dia, pelatih dan kepala sekolah yang memberiku tekanan agar bergabung di tim basket. Kini ia bicara seperti itu.
“kalau mau begini, seharusnya dulu kamu gak usah maksa inu buat masuk ke tim, pake nyuruh coach buat blokir nilai olahraga inu, maksa kepala sekolah buat ngancam inu segala, kamu seharusnya waktu itu tidak perlu repot – repot..”
“kalau saja jadwal bimbel iras tidak bentrok mungkin iras tetap bisa main atau kalau saja kehadiran pertama di bimbel itu tidak wajib mungkin iras masih bisa...”
“iras lagi bohong kan?” aku menatap telak matanya “ingat waktu coach bilang “bapak pikir kamu becanda” itu artinya kamu sudah membicarakan resign kamu dulu kan sama dia?”
Iras membuang nafas, tidak bisa kalau kebohongannya aku bongkar.
“iras berhenti karena iras tau, kalian, tim, kamu, bisa walau tanpa iras, walau iras gak ada di lapang, walau iras Cuma duduk di banch, kamu masih tetap bisa cetak three point nu..”
Aku berbalik, tidak lagi peduli pada apa yang dia katakan, aku tahu iras pasti datang dan pasti akan bermain  lagi di final, ini final terakhirnya, ini juga yang mungkin akan jadi kemenangan terakhirnya. Aku ingin dia tetap bermain. Ku ambil bolaku, lalu tanganku meraih jaket yang ku simpan pada bangku semen di pinggir lapangan.
“iya, Cuma sesederhana itu ras, walaupun kamu Cuma duduk di banch bagi inu itu penting, karena ada orang yang sangat mengharapkan inu untuk bisa bermain bagus...”
Hening.
Aku meninggalkan lapang, meninggalkan iras sendirian.
...
Kedua tanganku masih bergiliran menderible bola, timer di dinding GOR menunjukan sudah hampir memasuki akhir dari quarter kedua. Dan yang paling menyatikan, kami tertinggal.  37 – 27.  Belum satu jam dan aku sudah kehilangan konsentrasi, frustasi dan tidak tahu siapa yang dapat ku percaya di lapangan.  Aku membuang nafas.
Didi berdiri tidak jauh di depanku, aku tidak mungkin mengulur waktu, dalam dua quarter ke depan, kami harus menang, jerit batinku yang juga masih merasa tertekan.  Didi meminta bola, lalu tanpa pikir panjang ku lemparkan bola kepadanya. Didi melesat, namun dua orang pemain lawan berhasil menjegalnya dan menggiring bola menuju ring kami.
Shooter guard mereka hampir saja memasukan bola lewat one shotnya, namun bola malah menggelinding di sekitar ring kemudian jatuh ke  permukaan lapang. Aku menghela nafas, setidaknya mereka tidak mencetak angka lagi dan kami tidak tertinggal semakin jauh.  Mengingat point yang kami dapatkan segini juga hanya karena pools.
“priiiiiitttttt...” bunyi pluit wasit memecah pertandingan. Sekaligus menyelamatkan kami, menyelamatkanku.
Aku melangkah keluar dari lapangan, menuju banch kami, selang beberapa kursi di atasku mama melambaikan tangan sambil memberikan semangat.  Apih dan amih juga datang.  Ini pertandingan final, mama mengetahuinya, hingga sejak pagi ia sudah mempersiapkan banyak hal untuk datang ke sini termasuk mencari cheerleader lainnya, yaitu apih dan amih.
“kita masih bisa mengejar kan coach..” kata didi, hampir ada putus asa dalam kalimatnya.
Aku duduk sendirian pada bagian paling sisi dari banch, kiki duduk tidak jauh dari tempat pelatih berdiri, ia melap setiap keringat yang meluncur ke wajahnya.  Aku tahu kiki kelelahan, ia baru  tiga bulan berlatih bermain di posisi ini.  Siapapun tidak bisa menyalahkannya karena hal ini. Dua teman ku yang juga sedang istirahat, tidak bisa benar – benar diandalkan.
“nu, coba pancing untuk buat fools sebanyak mungkin, semoga kita bisa menyusul di quarter ini..” pelatih menatapku beberapa saat, meyakinkanku, aku mendengus, menyuruhku berbuat curang. Sesuatu yang sangat berat.
“di, rebut bola sebanyak mungkin kamu juga ki, kita pasti menang..”
“pasti coach..” kiki mengacungkan tangannya spontan, aku tahu, meskipun di satu sisi kiki gugup namun ia juga semangat, namun ini juga pertandingan final pertamanya. Membuatku sadar, mungkin kiki bisa diandalkan.
“ki sini..” aku mengajaknya untuk mendekat, kiki menggeser duduknya, mendekatiku “lu kemarin perhatiin gue sama iras?”
“kalian nyetak banyak angka?” kiki malah balik nanya.
“bukan, pas gue maen, gimana gue sama iras kerja sama..”
“emhh yang iras tiap ngasih bola ke elu? Gitu?” kalau saja dia bukan teman sebangkuku dan kalau saja saat ini aku tidak sedang membutuhkannya, sudah ku toyor kepalanya dalam – dalam.
“bukan ki, okelah itu bagian dari rencananya emang, gue sama iras udah lama latian strategi ini sebenarnya,  tapi baru dicoba kemaren..”
“eh elu mah gitu ya nu, latian sama iras gak pernah ngajak – ngajak, gak mau aja punya temen maen nya keren..”
“dengerin dulu monkey, bukan gitu, lu mau gak punya jasa dibalik banyak cetak angka gue...” aku mulai tidak yakin kalau kiki bisa berhasil dengan strategi ini.
Tiba – tiba dia mengangguk, namun belum cukup meyakinkanku.
“oke gini rencananya, lu ama gue bakal ada di sisi kiri sama kanan, lu yang dikanan, gue dikiri..”
“gue kan kidal nu..”
Aku menepuk jidat, mengingat itu sering jadi masalah kami kalau duduk sebangku, tulisanku jadi sering acak – acakan gara – gara siku kami yang sering diadu.
“oke deh gue pindah ke kanan, tapi intinya gini, begitu lu dapet bola, lu lari yang kenceng sambil drible sampe ke deket ring, terus lu puter balik badan, siap – siap ngelempar bola yang jauh, oper bola ke gue, gue di three point, jadi kita bisa cetak three point, kalau ini berhasil, empat kali strategi ini, kita bisa nyusul mereka...”
“oke nu, gue ngerti, gue harus dapat bola, lari sampe deket ring, puter badan dan over bola ke elu..”
Aku mengangguk, menjawab pertanyaannya, “gue bisa ngandelin lu kan?”
“bisa nu, yakin..”
Anggukan kiki disusul oleh bunyi tanda quarter ketiga dimulai, kami semua dengan semangat yang sengaja digelorakan pelatih kembali bergegas ke lapang, bagaimanapun kami harus mengulangi final tahun kemarin, kami harus menang.
Meskipun tanpa lu ras. Kecamku dalam hati.

Ternyata agak susah mengajak kiki kerja sama, pertama  kali aku mengover bola, ia membawanya berlari, drible cepat namun berhasil dijegat lawan, kemudian bola direbut.  Didi berhasil menambah sedikit point lewat empat kali fools, dan lawan juga berhasil mencetak angka.
Kedua kali aku memberikan umpan pada kiki, ia berhasil membawa bola sampai ke titik ujung three point lawan, namun ketika hendak berputar ia malah menabrak pemain lawan yang berusaha memberikan block terhadapnya.
Aku atau kiki, aku bisa melihatnya ia bersungguh – sungguh, bahwa kami bisa sukses menjalankan strategi ini.
Aku berusaha percaya pada kiki, aku ingin mencobanya lagi.  Steve, merebut bola dari lawan yang berniat mencetak angka lagi, kami segera berlari ke arah berlawanan. Steve kebingungan, hendak membagi bola pada siapa, ku lihat di ujung, hampir di setengah lapangan, kiki melambai meminta bola. Steve menoleh ke arahku.
“kiki, steve. Kiki..” aku menunjuk kiki.  Mungkin karena beberapa kali kiki selalu berhasil dijegal pemain tim lawan, yang membuat steve agak ragu untuk memberikan bola kepadanya.  Beberapa kali steve melihat ke arahku yang masih berada di belakangnya, aku tidak mungkin berlari terlalu cepat, kecuali aku melewati area three point tim lawan, aku harap kali ini berhasil.
Steve akhirnya setuju, ia melempar bola ke arah kiki, tanpa bergoyang dulu atau sempoyongan, kiki menerima bola, tidak ada satupun pemain lawan yang berada di dekatnya sehingga ia bebas berlari.  Tiga tim lawan sekaligus mengejarnya.  Namun menurut perkiraanku, ini akan cukup.
“ki.. over..” aku berada di line tengah lapang, dan area three point tinggal beberapa langkah lagi.
Kiki berbalik, tiga pemain lawan masih cukup jauh darinya, entah karena panik atau apa, sehingga tubuhnya agak berguncang ketika hendak melemparkan bola. Aku rasa, lemparannya tidak cukup kuat dan aku khawatir tidak akan bisa sampai.
Benar, lemparan kiki melambung tidak terlalu tinggi, pemain Center point lawan berhasil meriahnya ketika melompat, jalan satu – satunya aku harus merebut. Aku mendekatinya, kami berhadapan, ia hendak memberikan passing pada temannya.  Namun, aku juga mau bola tersebut, kami sudah berhadapan, tanganku langsung meraih bola itu, dan ia tentu tidak mau melepaskannya, ia sampai berbalik, namun aku punya satu trik, ku bengkokan sikut tanganku, ke pinggangnnya, ia lebih tinggi dariku, ini akan menguntungkan.
Strategiku berhasil, ia kaget, bola lepas, dan aku merebutnya. Siapapun akan melepaskan apa yang dipegangnya ketika kaget karena digelitik.
Aku memutar, keluar dari area three second, aku tahu ini posisi yang tepat untukku melakukan shoot, aku memejamkan mata sambil memegang bola kuat – kuat.  Mengingat kata – kata papa. “saat akan cetak three point, yang kata orang sulit, kamu jangan pernah menganggap keberadaan tim lawan, secepat apapun mereka berlari ke arah kamu, kekuatan kaki, tangan dan pikiran kamu bisa lebih cepat dari mereka, ingat sebut nama papa, mama dan bismilah...”
“bismilahirahhmanirahim..” teriakku sambil melemparkan bola. 
Bola melambung ke arah ring, agak tidak akurat, ia jatuh di sisi ring, pada besi bulatnya, ia bergelinding, memutari permukaan ring yang bulat, sebelum akhirnya terhempas masuk ke dalam jaring. Dan....
Aku menambah tiga point. Kami segera kembali ke posisi, wasit akan membagi bola.
Kiki mendekat “nu, lagi?”
“yoha..” jawabku.
“gimana kalau lemparan gue gak tepat lagi kaya tadi, atau bola direbut sama orang..” aku jadi ingat strategi ku barusan.
“gue yakin, lu bisa lempar dengan bener, inget lu udah senior di tim basket. Dan kalau urusan direbut, cara mudah buat ngerebut lagi pemainnya, coba lu..” aku menghela nafas “leketek...”
Kiki melongok sebentar sebelum tertawa lebar, menyeringaikan gigi – giginya yang tidak rata. “hahaha oke – oke nu..”
“sip..” aku menepuk bahu kiki, kami kembali ke posisi kami sendiri.
Bola dilempar wasit ke pemain lawan, kiki langsung berlari, steve, didi dan okan berusaha merebut bola dan aku mencoba mencari posisi yang pas.  Berkali – kali kami gagal merebt bola dan aku juga kiki belum berhasil melakukan strategi kami lagi.  Aku berharap banyak sebelum quarter ketiga berakhir.
Akhirnya kiki berhasil merebut bola. “lari ki..” teriakku. Ada salah seorang pemain lawan yang mendengar teriakanku. Ia juga melihat aku yang mulai memasang kuda – kuda.  Ia berlari ke arahku hendak memblock sepertinya.
“kutu kupret..” desisku pelan. Kiki berlari sambil menderible bola, beberapa pemain lawan mulai terpancing mengikuti bola, termasuk dia yang akan memblockku, tiga orang pemain lawan, bahkan empat mulai mengerubungi kiki, okan dan didi membantu kiki.  Namun. Bola berhasil direbut shooting guard lawan.  Aku harap..
Terlihat kiki berusaha merebut bola lagi. Ia berhadapan dengan pemain yang tadi mengambil bola dari tangannya, ku lihat tangan kiki menyelinap ke arah pinggang orang itu. Aku hempir tergelak, melihatnya, ia benar – benar menggelitik pemain lawan menggunakan jari tangannya.
Bola terlepas dan kiki dapat merebut bolanya lagi. Ia tersenyum lebar, aku juga belum bisa berhenti tersenyum gara – gara taktik konyol kami berdua barusan. Kini taktik itu jadi milik kami berdua, setelah kiki berhasil melakukannya juga.
Tanganku menangkap bola yang dilemparkan kiki, tidak ada pemain lawan di sekitarku, itu artinya..
“shooott...” teriakan mama dari kursi penonton terdengar sampai ke tengah lapang, aku tahu aku akan berhasil lagi.
Tanpa menggelinding, tanpa kesana kemari lagi, bola langsung masuk ke dalam jaring laba – laba yang menggelayuti seluruh sisi ring.
Mama, apih, amih ku lihat sampai berdiri untuk memberikan tepuk tangan dan sorakan,  kami sudah bisa semakin menyusul.  Bahkan karena aku melihat senyum di wajah mereka itu, selanjutnya aku mencetak angka beberapa kali lagi, sampai kami akhirnya dapat menyusul.
Menjelang permainan quarter ketiga berakhir, aku menangkap dari lobang besar pintu GOR muncul orang yang menyebalkan itu. Iras.
Ia tidak datang dengan tas backpacknya, melenggang santai ke arah kursi penonton yang kosong di belakang banch kami, ia tampak puas dengan ketika melihat papan score.  Tanpa diketahuinya, bahwa kami sangat bekerja keras untuk hal ini.
Terlihat steve mendapat bola, “steve...” aku berteriak pada steve.
Steve berbalik, ia langsung melemparkan bolanya padaku.  Aku berada di sisi lapang yang berlawanan dengan tempat duduk iras. Ia tampak sedang mengobrol, didi berdiri sejajar dengan tepat duduk iras.  Namun aku yakin ia tidak menyangka bahwa aku akan memberikan bolaku padanya.
“di..” aku melempar bola, namun didi terlanjur melesat, dan bola tidak terlempar ke arahnya. Memang bukan itu tujuanku, bukan didi, bola terus melayang jauh keluar dari lapangan. Terus, sampai mengenai sisi kepala iras. Ia sampai terjerembab di tempat duduknya.
Ia bangkit, beberapa penonton yang duduk di dekatnya tertawa melihat hal itu, ia mengusap keningnya kemudian menatapku, mungkin tidak menyangka akan mendapatkan serangan seperti itu. Ku acungkan jari telunjukku ke arahnya.  Ku lipat, kemudian jari tengahku mengacung.
Iras malah tersenyum, penuh cinta.
...
Break quarter ketiga, itu artinya permainan hanya tinggal separuhnya lagi. Aku duduk di banch, mama datang menghampiri, ia menyodorkan botol minumannya.  Aku menerimanya sambil tersenyum lebar. Bagiku mama adalah suporter nomor satuku setelah papa.  Makanya, ketika banyak yang melihat dengan tatapan aneh padaku dan mama, aku tidak peduli sama sekali. Ini aku, dan mamaku.
Iras mendekat, atau mungkin ia memang sengaja duduk di sana agar bisa bicara denganku. Ia datang menggunakan kemeja flanel berwarna hijau yang memiliki garis – garis abu dan blue navy, juga jeans yang sangat terkesan santai.  bukan penampilan untuk bermain basket.
“lemparan yang bagus..” bisiknya sambil tersenyum.
“kami memimpin...”
“sudah iras bilang..”
“you don’t say anything..”
Iras terdiam, sampai akhirnya kembali ke lapangan, keberadaan mama, apih, amih yang sejak kami mulai bermain berdiri, berteriak, bertepuk tangan atau bahkan marah – marah ketika tim lawan berhasil menjegal atau membuatku jatuh, memberikan semangat yang luar biasa untukku.  Juga keberadaan iras, yang memecutku, membuatku tetap sadar dan aku bisa walau dia tidak ada di lapangan bersamaku.
Kami sudah memasuki setengah dari quarter ke empat dan kami memimpin, 47 – 42. Tiba – tiba di tengah quarter keempat ini iras berdiri dari duduknya.  Membuka lebar sebuah karton yang sepertinya ia tulis sendiri.
“YANG PENTING MAIN BAGUS, BUKAN MENANG. KAMU BISA..” diakhiri dengan sebuah emot senyum, ingin rasanya melempar bola lagi seperti tadi kepadanya.
Karena lengah, tim lawan mencetak three point lagi, 45 – 47. Aku tahu, hanya tinggal ada dua cara, mengulur waktu atau cetak angka lagi.  Namun, aku melihat kondisi teman – temanku, sebagian dari mereka sudah kelelahan dan mulai strees, kecuali kiki, ia masih berlari lincah kesana kemari. Benar – benar ingin bermain bagus nampaknya dia kali ini.
Aku mendapat bola, kiki berada di area three point, “ki...” ku lempar bola pada kiki, ia kaget ketika mendapatkannya.
“shooottt shooottt..” teriakku,.
Tampak kiki menelan ludah, lalu menatapku lagi. Aku mengangguk meyakinkannya. Ia memejamkan mata beberapa saat, sebelum akhirnya memutuskan melemparkan bola di tangannya.
Bola masuk.  Penonton bersorak. Peluit wasit melantun panjang. Kami menang...
...
Itu kira – kira kejadian lima tahun yang lalu, sewaktu aku dan iras masih jadi yang terkeren di tim basket sekolah. Hualaaaah...
Memang akhirnya sejak itu iras tidak pernah main di tim basket sekolah lagi, kecuali datang menjemput atau mengantarku ketika berlatih. Ia akan ikut sekedar pemanasan atau memberikan arahan pada junior kami.  Tidak lama setelah itu, paling hanya terselang beberapa bulan, aku juga memutuskan berhenti.
Tidak mungkin tetap bermain jika alasanku untuk main saja tidak ada.  Terutama setelah iras meninggalkan sekolah dan kuliah, basket jadi tidak begitu menarik lagi.  Aku tidak pernah menyesal meninggalkan sesuatu yang mungkin bisa saja mengantarku pada sebuah pencapaian yang tidak bisa semua orang capai.  Tidak samasekali.
Aku lebih baik tidak pernah meraih hal itu, jika harus menebusnya dengan menemukan bayangan papa di setiap arena, tempat aku bertanding.  Ia dengan senyum dan lambaian dari topi berwarna birunya itu, terasa selalu duduk di salah sudut lalu menyemangatiku. Aku tidak sekuat itu, semua hal tentang papa selalu terasa menyesakan untuk dikenang.
Mungkin karena kedekatan kami, karena kami yang bahkan tidak pernah terpisahkan, kenangan yang ku miliki dengannya yang hanya sedikit, membuat semua ini terasa semakin sakit begitu terjadi.  Papa. Hal terindah yang pernah terjadi di dalam hidupku, kami pernah begitu dekat, sebelum tuhan yang lebih menyayanginya mengambilnya lebih dulu.
Itu alasanku tidak pernah menyentuh bola basket lagi sampai sekarang. Iras sering menyayangkan, ia kerapkali menyuruhku untuk bergabung dengan tim basket kampus atau tim basket profesional.  Aku tidak pernah bisa menurutinya.  Sampai suatu saat ia mengerti.
Kami baru saja pulang menonton sebuah pertandingan basket liga SMA, sebuah liga yang dulu sering kami ikuti juga.  Terdengar kabar, setelah kami berdua tidak lagi bermain di tim basket sekolah, sekolah kami tidak pernah juara lagi.  Iras sampai menggerutu apa perlu ia datang ke sekolahan kami dulu dan memberikan coaching clinic, aku tersenyum mendengar omelannya.
Iras berada di dapur dengan amih, membantunya menyiapkan makan malam.  Mama sedang di ruang baca, ruangan yang menyisakan semua benda dari ruangan dan tempat kerja papa di bandara.  Mama tidak sedang membedah sebuah buku bedah anak kali ini, namun sebuah album dari foto – foto lama keluarga kami.
“hay love..” aku mencium pipi lembut mama.
“hay..” katanya mengelus tengkuk leherku. “can you see?” tangannya menunjuk sebuah foto, ketika aku duduk di kelas Grand Child sewaktu tinggal di Moskow dulu, aku baru saja memenangkan sebuah turnamen bela diri, taekwondo, seni beladiri yang memang papa ikuti juga, ia sendiri pelatihku. Melihat piala yang bahkan lebih besar dari ukuran tubuhku itu, aku tersenyum, apalagi ada papa yang ikut berfoto di sampingku.  Banyak sekali foto serupa, ketika aku SD di jakarta, sampai terakhir ketika aku SMP, sewaktu menjuarai olimpiade Astronomi dan Liga basket dibawah dua belas tahun tingkat nasional.  Semua piala dan medali, pasti aku akan difoto dengan papa.
“kalau papa masih ada pasti dia akan ngomong “sudah aku bilang, dia pasti jadi orang hebat” rasanya papa memang benar soal kamu nu, mama bisa lihat sekarang...”
“I’m nothing without you mom..” aku memeluknya dari belakang.
“tidak, kamu hebat karena kamu sendiri, ada hal yang sangat membuat mama sedih, tahun depan saat wisuda S2 kamu di paris, mama hanya akan berdiri sendirian, bilang bangga, tanpa papa, padahal sejak kamu masih di dalam perut mama, ia ingin sekali melakukan itu... i miss him”
Aku membantu mama menutup album tersebut.  Kemudian membiarkannya tergeletak di atas meja. Karena aku tahu, mama, juga aku kali ini sangat merindukan pelukan laki – laki itu.
...
NB: “pah, kemarin malam, inu mimpi ketemu papa lagi, papa senyum di sana, sepertinya papa baik – baik saja ya di sana, inu rindu papa..”