Kamis, 31 Oktober 2013

Aku Mencintainya Tuhan



Begitu menyelesaikan cerita soal jeff dan bintang, kemudian adik kami, mengirimkan sebuah bagian dari perjalanan kami berdua yang tersembunyi selama ini.  Aku tidak pernah mengetahui bahwa apa yang dialami iras begitu berat, ketika dengan luluasanya aku bertualang dari hari ke hari mengumpulkan kebahagiaan yang tidak kunjung lengkap. Sementara itu Iras meradang sendiri bersama kesakitannya.
Mama tidak pernah menceritakan kunjungannya dan bagaimana kondisi iras waktu itu, kebencianku pada keadaan yang memisahkan kami, tidak membuatku kunjung memaafkan semua hal yang terlibat di dalamnya.  Sampai waktu akhirnya membawa iras kembali, ketika pertamakali memeluknya setelah sekian lama, aku tidak pernah menyangka apa yang ia alami sangat begitu berat.
Aku membacakan kisah yang diposting rere sambil duduk di sofa berdua dengan iras. Iras hanya diam mendengarkan, tangannya mengusap menenangkanku.  Yang membuatku putus asa adalah, aku tidak mampu membaca cerita rere sampai selesai.  Kepalaku terkantuk beban berat membayangkan orang yang sangat aku cintai melewatkan hal itu sendirian.
Selama tujuh bulan itu, tentu aku sangat merindukan iras.  Bahkan apa yang ku rasa mati di dalam sebagian diriku adalah ketiadaannya lagi di hidupku waktu itu.  Ia telah mendarah daging menjadi sesuatu yang penting.
Yang membuatku tersenyum lucu adalah, bahwa waktu itu aku berusaha melupakan iras setengah mati dengan mencintai orang lain. Padahal sadar sendiri bahwa dia tidak bisa digantikan oleh orang lain. Oleh orang – orang yang tidak pernah benar – benar membawa kebahagiaan.
Beberapa paragraph terakhir dari cerita rere, iras bacakan, untuk menyelesaikan cerita. Sambil peluknya menenangkanku.  Namun mataku tidak berhenti membayangkan ia kesakitan, haus dan kelaparan sambil memanggil namaku, memanggilku yang tidak pernah mendengarkannya sekalipun.
“maafkan, kalau inu cukup ngeyel selama ini…” kepalaku tertelungkup di antara bahu dan leher iras.  Tangannya terus mengusap punggungku.
“tidak apa – apa, yang penting kita sudah melewati hal itu sama – sama…” katanya, sejuk nafasnya terasa mengalir di sela – sela penyesalanku sempat meninggalkannya waktu itu.
“kamu bahkan waktu itu hampir mati hanya untuk membalas rasa sakit yang sebenarnya tidak terlalu penting, inu menyesal malam itu lari dari kamu, kalau saja sewaktu di halte kita membicarakannya dengan baik, tanpa emosi, lalu sama – sama memulai perjuangan kita dari sana, mungkin yang kamu lewati tidak akan seberat itu…”
“dan kalau hal itu tidak terjadi, iras tidak akan mendapat pelukan seperti sekarang ini bukan?” mata iras tidak mengeluarkan air sama sekali.  Sampai saat ini, masih ada bekas – bekas sakitnya waktu itu, tulang rahang iras, dulu dan sekarang berbeda, sewaktu SMA dia tidak memiliki rahang yang menonjol, namun sekarang.  Aku jadi tahu, apa yang membuatnya sulit sekali kalau disuruh makan. “melewati hal itu setidaknya membuat iras tahu, untuk apa mati – matian jagain kamu, datang ke sukabumi jauh – jauh dengan rasa malu, hanya untuk menawarkan maaf dan janji sama inu, dan kalau mama tidak datang waktu itu, mungkin sampai sekarang iras tidak akan pernah membuat keputusan yang benar…”
Air mataku jatuh lagi.  Aku semakin erat memeluknya. Paris yang sudah memasuki awal musim dingin membawa suasana yang begitu menghanyutkan, tidak ku kira bahwa kunjungan rere kemarin membawa sebuah cerita yang tidak pernah aku ketahui selama ini.
“inu hanya berpikir bahwa kamu tidak peduli sama sekali waktu itu pada semua hal buruk yang terjadi pada inu, tanpa pernah inu ketahui bahwa yang kamu alami seburuk itu..”
“sudah sayang, hal itu sudah lama lewat, apakah ada gunanya kita membicarakannya lagi? Kita sekarang sudah ada di rumah ini, berdua, biar kita belajar dari setiap rasa sakit agar kita bisa tahu apa itu bahagia, kita belajar dari masa lalu agar tidak mengulanginya di masa depan, iras belajar bahwa kehilangan kamu sama dengan kehilangan nyawa yang tidak bisa dihidupkan lagi…”
“lalu kalau salah satu diantara kita meninggal lebih dulu atau inu meninggal duluan? Kalau inu yang terpaksa meninggal lebih dulu…”
Aku memotong perkataan panjang iras. Ia diam seketika, kemudian pandangan matanya jatuh jauh dari arahku. Namun pelukannya semakin kuat.
“setidaknya itu lebih baik, lebih baik iras yang sakit sendiri, daripada iras harus mati duluan, meninggalkan kamu. melihat kamu kesakitan itu lebih menyakitkan, dari pada iras yang harus merasakan sakitnya kehilangan…”
Pelukanku tidak mau lepas dari orang di sampingku, orang dengan cintanya yang begitu besar.  Yang ku yakini tidak akan pernah aku temukan di manapun, di siapapun. Hal itu lah yang membawanya kembali, yang menampar dan menyadarkanku bahwa hanya dia dan hanya dia yang bisa menghidupkan kembali apa yang telah mati dalam diriku.
“inu bahkan gak tau harus kaya gimana lagi, buat bilang terimakasih untuk semua hal yang telah kamu lakukan untuk semua…”
“iras tidak pernah mengharapkan apa – apa, memiliki kamu dalam hidup iras yang sekali ini, sudah lebih dari cukup…”
Ku tutup kedua mataku.  Ketika pelan – pelan kecupan hangat iras jatuh di dahiku.  Aku memeluknya, untuk kesekian kalinya, untuk ketakutanku kehilangannya, untuk ketidakrelaanku bahwa takdir atau nasib buruk suatu saat bisa saja merenggutnya.
Aku mencintainya, Tuhan. Aku sangat mencintainya.