Langit yang hampir berwarna kelabu ku
lihat masih melukis seluruh permukaan angkasa kota Paris. Sebelum akhirnya ku tutup jendela, berharap
iras segera bisa beristirahat. Meskipun ia begitu terlihat bosan, setelah
sebulan lebih hanya terbaring di ruang perawatan rumah sakit.
Akhirnya, keputusanku sudah bulat.
Kami berdua pulang ke Indonesia, tentu saja dengan menggagalkan berbagai
rencana yang sebelumnya sudah kami buat. Termasuk tinggal di sini sampai kuliah
kami selesai. Namun keadaan kini tak memungkinkan, satu bulan yang lalu kami
berdua mengalami kecelakaan, iras tertabrak sebuah mobil, yang menyebabkan
tulang keringnya patah.
Ia masuk rumah sakit, bahkan aku
sendiri yang melakukan operasi penyambungan tulangnya. Tidak mungkin aku membiarkan orang lain
melakukan kelalaian terhadap orang yang paling ku sayang di dunia ini. Dokter seniornya coba ku dekati, sampai ia
mengijinkan ketika ku tunjukan sertifikat layak bedahku, yang sebenarnya ku
dapatkan dari kakek ku sendiri.
Yang membuatku kuat melakukan operasi
tersebut sebenarnya berasal dari kekuatan iras juga. Ia tidak pernah mencoba
mengeluh sama sekali, bahkan mengeluarkan suara rintihan sedikitpun tidak. Ia menelan semuanya, padahal aku tahu, nyeri
dari patah tulang adalah nyeri paling akut yang tidak mudah siapapun
mengatasinya. Namun iras tidak, berkali
– kali ia berkata kuat, malah berusaha menguatkanku dan mengatakan bahwa dia
baik – baik saja.
Itu juga, yang menurutku membuat
operasi berjalan lancar bahkan dalam waktu yang relatif singkat. Ketika pertama
kali iras membuka mata seusai anatesi berhenti berpengaruh pada kesadarannya, ku
tanyakan lagi apakah ia masih merasa sakit, sekali lagi ia menggeleng sambil
tersenyum.
Aku menghela nafas, iras sedang
berusaha menguatkan ku, yang sebenarnya begitu hancur melihatnya seperti ini
hanya karena menyelamatkanku.
“buat iras, lebih baik iras yang
merasakan semua sakitnya, dari pada harus melihat kamu yang kesakitan, itu bisa
membuat iras mati pelan – pelan..” katanya, sambil tangannya menggenggam kuat
tanganku ketika perjalanan keluar dari kamar operasi ke ruang peraawatan
“sesuatu dalam tubuh iras pernah patah lebih parah dari ini dan iras berhasil
bukan mengatasinya? Dengan menemukan kamu lagi, kali ini juga, asal inu selalu
ada dan tidak kemana – mana, iras tidak akan rasakan sakitnya…”
Bahkan ketika ardan dan yang lain
datang menjenguk, mereka pun mengatakan bahwa iras sudah rela mati untukku.
Bukan lagi menangis, ketika aku berbuat kesalahan dari sesuatu yang
dilarangnya. Iras mempertaruhkannya hidupnya untukku.
Ketika, aku seperti biasa dengan
gegabahnya menyebrang jalan, tanpa lirik kiri kanan, kemudian sebuah sedan
melaju kencang, iras menangkap tubuhku, hingga membuat tubuhnya yang mengenai
moncong sedan tersebut. Yang kemudian membuat tulang kering di kakinya patah.
Aku hanya tergores sedikit di kepala,
namun ketika ku lihat orang di sebelahku, menahan nafasnya, menahan sakitnya,
seketika itupun rasanya nafasku juga berhenti.
…
“enjoy your trip sir..” kata kapten
Rick, sambil ia dan co pilotnya berpamitan kembali ke cokpit, beberapa
pramugari hilir mudik menyiapkan semua hal untuk kami berdua.
Ku pastikan iras tidur nyaman di
sampingku, di dalam jet pribadi milik keluarganya. Mau tidak mau kami akhirnya
harus bilang bahwa iras mengalami kecelakaan dan kami butuh pesawat untuk
membawanya pulang ke Indonesia.
Iras memilih sukabumi, ia ingin
beristirahat di sana, walau mama dan apih menganjurkan ke bandung dan kedua
orang tua iras ingin iras dirawat di Singapore, namun iras kukuh sendiri, ia
ingin tetap ke sukabumi. Meskipun aku
juga tidak faham kenapa harus sukabumi yang ia pilih.
“kita akan sampai dua belas jam lagi,
iras tidurlah..” kataku sambil menarik selimut iras.
“maaf kalau akhirnya membuat rencana
kita berdua berantakan…”
“lebih berantakan lagi kalau kita
tetap di paris..” jawabku sambil tersenyum. “kuliah kamu bahkan bisa
diselesaikan dari tempat tidur, kita tinggal mengerjakan thesis kita saja, dan
itu bisa kita selesaikan dimanapun..”
“iras sudah sangat merepotkan inu”
tangan iras mengusap ujung kepalaku “beberapa minggu ke belakang bahkan inu
sampai gak tidur gara – gara ngurusin iras..”
“kamu tidak bisa melarang manusia
yang melakukan sifat naluriahnya kepada orang yang dia sayang..” sahutku sambil
membaringkan kepalaku di dalam dadanya, tangan iras terus mengusap lembut permukaan
wajahku, beberpa kali memijit bagian pangkal hidungku, suatu kebiasaanya. “yang
inu lakukan tidak ada apa – apanya, dibanding yang sudah kamu lakukan buat
inu..”
“iras pasti cepatkan bisa jalan
lagi?”
“iras akan mempelajarinya pelan –
pelan, biasanya butuh waktu enam bulan untuk kembali ke kondisi semula..”
“tidak, iras sudah mematuhi semua
yang dikatakan terafisnya, pasti dua bulan lagi iras sudah bisa lari ngejar
kamu yang biasa ngeyel lagi..”
Aku tersenyum lebar, menyaksikan
semangatnya untuk cepat pulih.
“gak, inu janji, setelah ini inu gak
bakal ngeyel lagi, cukup ngeyel nya udahan sampai kemarin…”
“owww ayolah itu janji gak ngeyel
yang keberapa juta sayang? Iras tau betul siapa pacar iras ini..” ia menyiksa
hidungku lagi dengan memencet dan menggoyangkannya lagi.
“arghhh sakit, gak pokonya kali ini
beneran inu janji, inu gak ngeyel lagi..”
“terserah, sudah tugas iras mencintai
kamu dalam keadaan apapun, kalaupun inu tetap ngeyel, iras sudah sangat
terbiasa sayang, kamu tidak usah khawatir, iras pasti lakukan apapun demi kamu
tetap di sini, demi kita tetap menjadi kita sampai kapanpun…”
Ya aku tahu, iras selalu berhasil
melakukan itu. Bahkan ia sudah menjadi kekasih yang paling baik, orang yang
memiliki lautan kasih sayang yang tidak bisa ku temukan di siapapun. Orang yang
tau mencintai adalah caranya untuk menunjukan kesungguhannya. Bukan untuk
meminta balasan apapun dari orang yang dicintainya.
…
Aku berdiri di sebuah ruangan, yang
mirip dengan bar atau pantry, ada beberapa pramugari membantuku bersiap. Sambil
ku lingkarkan tanganku di dada, memandang jauh sebuah titik yang sebenarnya
tidak ku tahu itu apa. Aku hanya merasa
sedang sampai di titik ini, titik yang membuat ku merasa bahwa semua yang ku
lakukan pada iras tidak ada apa – apa nya dibandingkan apa yang telah ia
lakukan.
Kepalaku memutar beberapa film ke
belakang, iras yang terus mencintaiku walau kami sudah putus, ketika kami
bersama lagi, ia yang datang kepada mama dan keluarga, mengatakan bahwa
hubungan kami berdua sangat bisa dipertanggungjawabkan, memukul mundur semua
orang yang mau menggangguku, melindungiku dari berbagai macam hal, hujan, badai,
panas, orang iseng di facebook, penggemar – penggemar cewek di kampus, mantan –
mantan sialan, bahkan rival bisnisku.
Iras melawan mereka semua, hanya untukku.
Dulu juga, sewaktu ia mendapat pesta
ulang tahun dari papa nya dengan kado seorang tunangan yang cantik, aku
kemudian memutuskan untuk mundur seketika itu juga dari hidupnya. Namun iras tidak, ia berkali – kali mencoba
mengunjungiku, mencoba berbagai hal untuk membujukku, sampai semua
perjuangannya sia – sia karena tidak aku pedulikan. Ia akhirnya menghilang, ku
pikir untuk pergi selamanya, namun tidak, ia justru menyiksa diri sendiri,
meratapi kejadian sial untuk kami berdua itu, dengan mengutuk dirinya,
sendirian.
Beberapa minggu yang lalu, rere
mengirimkan sebuah foto yang diambil ketika iras kurus, ia benar – benar tidak
terlihat seperti ia yang ku cintai, aku nyaris tidak mengenalinya. Rupanya
pertunangan itu tidak hanya menghancurkan hidupku saja, tapi juga sebagian
nyawanya.
“aku sudah ada di dalam tubuh kamu.
Jadi kalau kamu sampai terluka, ada dua orang yang harus disembuhkan..” kata
dia beberapa waktu lalu, ketika aku terus mengungkit semua hal di masa lalu
yang menyakiti kami, menyakitiku. “selama mata iras tidak bisa melihat kamu
langsung, kamu harus tahu, rasanya buta di dalam kegelapan itu seperti apa, ya
kurang lebih seperti itu…”
“apa iras pernah jatuh cinta pada
orang selain inu..” sebuah pertanyaan yang lama ku simpan dan tidak pernah
berani ku tanyakan. Karena, aku hanya
percaya dengan apa yang iras katakan. Bahwa hanya aku yang membuatnya jatuh
cinta. Aku memeluk tubuhnya..
“pernah…” ia menjawab mantap “pernah
nu…” ia mengulanginya, meyakinkanku. “iras pernah jatuh cinta pada orang selain
inu, pertama iras jatuh cinta pada anak baru yang nengil di tim basket, kedua
pada sosok dingin di sukabumi, yang bahkan untuk nanya kabarpun iras sangat
segan…”
Aku mengkerut di dalam pelukan iras,
malu sendiri, bahkan ketika kejadian itu berselang, aku pernah singgah dan
jatuh di beberapa pelukan yang sebenarnya terlalu beruntung bisa memeluk orang
sepertiku. Orang yang sangat disayangi
oleh iras.
“kenapa iras bilang seperti itu,
karena nyatanya setelah lama mengenal inu, inu itu gak tengil, malah care,
punya leading yang kuat, pinter, ahli strategi, punya pemikiran empat dimensi
yang bisa memikirkan apa yang tidak orang pikirkan, punya kemauan keras dan
yang terakhir bisa membuat semua orang tertarik masuk ke dalam hidup inu
kemudian memperjuangkannya. iras hanya merasa beruntung bisa menjadi orang yang
bisa memenangkan perjuangan itu, bahkan di perjuangan yang kedua…”
“ya betul..” iras melanjutkan
“memperjuangkan kamu di kesempatan kedua itu sangat sulit, iras bahkan hampir
menyerah. Kamu berubah menjadi sosok yang lebih dingin, sulit disentuh, sulit
ditebak, tidak tau maunya apa, padahal iras tahu, inu yang iras kenal itu,
cukup dibeliin es krim sama ditemenin maen PS seharian juga udah cukup, udah
bakal baikan lagi, tapi waktu itu iras tahu, sesuatu sudah merenggut inu nya
iras. Dan iras tahu, perjuangan iras waktu itu untuk apa, mengembalikan inu
menjadi inu nya iras lagi…”
Iras menarik nafas panjang, kemudian
membuangnya. Aku masih tidur di
pelukannya, menikmati setiap belaiannya di kepalaku, dan beberapa kecupannnya
di ujung ubun – ubunku.
“apa iras marah dan putus asa waktu
itu?” kataku.
“ya, iras marah pada setiap orang
yang sudah merebut inu dari iras, dan merubah inu. Dan iras hampir lelah
meyakinkan inu bahwa keadaan bisa kembali pulih, bahwa semuanya bisa kembali
baik asal kita bersama lagi. Karena bagi iras, tidak ada tempat yang sebaik
iras disamping inu…”
Aku tertegun dengan kata – kata itu.
Sampai beberapa detik kemudian air mataku meluncur sendiri, membasahi degupan –
degupan yang terus menyebutkan nama ku dan namanya kepada tuhan agar bisa terus
bersama selamanya.
…
“selamat ulang tahun sayang…” aku
meletakan sebuah lilin di atas pie apel buatanku, yang sudah ku titipkan kepada
pramugari sebelum kami naik pesawat.
“thank you love..” jawab iras sambil
berusaha memelukku. Aku mendekatkan
tubuh ke tempat tidur, mengerti bahwa ia ingin sekali menciumku.
Ini adalah pesta paling sederhana
yang ku buat untuk iras, sudah dua tahun dan aku masih belum mampu membuat
pesta yang besar untuknya. Tahun kemarinpun, ulang tahunnya hanya kami habiskan
di apartemen saja.
“sorry for the simple thing…” ketika
ku pikir, di banding dengan pesta yang ia buatkan untukku waktu ulang tahun
agustus lalu, ini bahkan tidak ada apa – apanya sama sekali. Aku menundukan
kepala “you know, what Im still scary every im remember about your birthday..”
“husss husss husss please don’t cry
love, you hurt me..” iras memelukku kuat.
“kamu tahu kan traumanya inu sama
pesta ulang tahun kamu…” suaraku kian mengecil di dalam pelukan iras. Tangisku agak mengeras. Aku mencoba menahannya.
“iras tahu sayang iras tahu, kita sama
– sama merasakan luka itu bukan? Bahkan kalau tidak kamu minta, iras sebenarnya
tidak pernah mau mengampuni papa, karena sekaraang kenyataannya seperti ini,
iras tidak ingin mengistimewakan tanggal ulang tahun iras, kalau setiap kali
iras ulang tahun, kamu akan menangis dengan keras..”
Aku semakin tidak bisa menahan tangis
ku di dalam pelukannya. Air mataku
tumpah semakin banyak. Betapa tiga tahun lalu, tepat di tanggal ini, aku
kehilangannya. Sebuah pesta merenggutnya dariku. Dari hidupku.
“inu.. inu trauma pada pesta dengan
kejutan mematikannya itu ras, di tanggal ini, inu punya pengalaman hampir mati,
dan…” sejak saat itu, sejak kami bersama lagi, setiap kali papa iras menggelar
pesta apapun, kami berdua tidak pernah hadir, komitmen iras padaku. Ketika di tanggal 1 januari tahun 2012, aku
malah menangis keras ketika membawa sebuah kue besar ke depan iras. Ketika iras
tahu alasannya kenapa, sejak itu juga ia tidak pernah mau menghadiri pesta yang
digelar papanya.
“tidak ada yang berhak memberikan
iras pesta ulang tahun selain kamu sayangku..” iras menggosok punggungku,
berusaha menenangkanku.
Di pikiranku sedang berenang berbagai
kenangan buruk, ketika kejadian pahit merenggutnya dariku, aku harus
menyaksikan sendiri film yang menunjukan, seseorang yang bahkan rela mati
demiku sekarang waktu itu diberikan kepada orang lain.
…
Ku buka mata, pesawat sudah berhenti
sejak lama rupanya. Namun kru pesawat
tidak ada yang membangunkan kami satupun. Iras masih pulas, tubuhnya tertutup
selimut tebal dengan kaki kanannya yang mengacung ke atas. Dibalut gips dengan
berbagai gambar dan tulisan yang ku buat dengan spidol di sana, ketika iseng
dan hendak mengerjai iras.
Jendela pesawat terbuka, aku menatap
keluar, di sana ada langit dengan awan yang putih bersih, tidak lagi kelabu dan
jauh dari awan bersalju. Lalu sejenak ku rasakan, tubuhku yang gerah sendiri
gara – gara dibalut oleh sweater yang berlapis – lapis. Aku mendekat ke
jendela…
Ah benar sekali, suasana ini sudah
lama ku rindukan. Suasana dengan anginnya yang lembut dan sinar matahari yang
hangat.
Aku menggoyang tubuh iras, hendak
membangunkannya.
“ras.. ras.. bangun, kita sudah
sampai…” iras membuka matanya kemudian menatap ke arahku sebelum mengedarkan
pandangannya ke luar jendela
“kita pulang, kita di Indonesia…”
Kami berpelukan, beberapa detik
lamanya dengan cukup hangat, lalu menyelinap kegembiraan di sini, “we are
home…”
…