Tanganku reflek membetulkan letak kaca mata minus nol koma lima yang merosot dari tempatnya di pangkal hidungku, aku masih asyik dengan laptop dan segelas smoothie mama yang aku curi dari dalam kulkas. Bukan mengerjakan pekerjaan dari kantor, bukan sibuk dengan media sosial, juga tidak sedang menyelesaikan tugas kuliah. Kuliahku hanya tinggal menunggu wisuda, sore ini aku hanya sedang sibuk dengan....
Online shop!
Kebiasaan ku membeli segala hal lewat online shop, belakangan ini sepertinya memasuki keadaan darurat. Gawat, karena aku mulai membeli barang – barang yang tidak aku butuhkan. Seperti tadi pagi, tiba – tiba ada kurir yang mengantarkan paket berisi kostum zebra. Mama, ponakan-ponakanku, bahkan iras sampai keheranan. Untuk apa aku membeli baju belang – belang itu.
Jangankan mereka, aku sendiripun tidak tahu.
“jadi kapan?” pertanyaan mama yang tiba – tiba mengagetkanku, ketika dia bertanya disertai dengan tangannya yang meletakan sebuah cangkir besar berisi jus pome pesananku. Yang membuat kaget tidak hanya suaranya yang muncul tiba – tiba, tapi ia seperti sengaja menjatuhkan gelas ke atas meja makan tempat aku duduk, hingga menimbulkan suara bruk yang agak kasar.
Aku mengedikan bahu, ku buat mukaku seekspersip mungkin bertanya balik. Tidak mengerti apa yang sedang ia tanyakan. “apanya yang kapan?”
Mama mendelik sebal, ia menyeruput teh camomile yang ada di tangannya. Ia berdiri menyender pada meja makan. “kalian...”
“me and who?” aku masih bertanya balik pada mama, otakku benar – benar butuh sinyal penuh untuk sikapnya yang mengejutkan sekali sore ini.
“you and him...” mama menunjuk iras yang sedang tertawa – tawa dengan dua keponakan kami di pinggir kolam renang.
“yes, me and him and what, girls?”
Mama meletakan cangkir di tangannya ke atas meja. Ia kemudian melipat kedua tangannya di dadanya. “nikah...” mama menghela nafas. “tepatnya, menikah...” mama kini membuang nafasnya.
Aku hampir menyemburkan kopi yang baru saja aku teguk. Antara kaget dan ingin tertawa, pacaran hampir delapan tahun rasanya aku tidak pernah mendapati mama seserius ini menanyakan soal itu.
“kamu jangan ketawa, pertanyaan mama ini serius, bukan lawakan, Mochammad Rifnu Prihata..” mama memalingkan mukanya, sambil ngeloyor pergi ke ruangan di dekat televisi.
“aku ketawa bukan karena soal pertanyaannya mah.. tapi selama delapan tahun kenapa sekarang mama kaya yang kesel gitu nanyanya..”
Mama duduk di atas bantal meditasinya, ia sepertinya hendak memulai sesi pemanasan yoganya.
“ya emang nunggu apalagi Nu?” mama bertanya lagi tanpa membuka matanya. Ia sudah duduk khusuk di atas bantal berwarna kelabu itu. “kuliah udah beres, kerjaan, bisnis kalian udah jalan, uang tiap hari lancar, taun kemarin kalian ngeles karena kuliah belum beres oke mama bisa terima, tapi jangan harap mama ngasih kelonggaran yang sama taun ini..”
Mama tampak tenang, meskipun mulutnya tidak berhenti mengeluarkan kata – kata. Nafasnya teratur, meski ia masih bicara panjang lebar kenapa aku dan iras masih menunda hari besar itu.
“tapi kan nikah tidak hanya soal itu mama sayang..” aku kembali ke layar laptopku.
“terus apalagi?” mama melototkan matanya.
“we are young, masih banyak yang belum kita capai, masih banyak tempat yang belum kami datangi..” kataku sambil tetap sibuk dengan laptopku.
Mama tidak menjawab, ia mulai dengan beberapa pose yoganya. Di luar rumah, iras masih asyik berenang bersama lia dan nhael.
“a, sarapannya sudah siap..” kata salah satu ART mama.
“oh iya bawa sini aja bik..” ku lipat laptopku, kemudian menyimpannya di meja yang lain. Sementara itu para ART menyiapkan, roti bakar, berbagai macam selai, buah, jus orange dan susu di atas meja makan. Aku berjalan menuju bagian sisi lain dari rumah.
Tanganku menggeser pintu kaca yang membatasi ruangan keluarga dengan halaman samping, iras dengan kedua keponakan kami tengah asyik berenang. “guys breakfast time..” kataku, sambil menyender pada muka pintu.
“coming sugar..” ia mulai berenang ke pinggir kolam, sambil mencoba meraih tangan lia dan nhael yang juga mulai menepi. Lia yang pertama keluar dari air berlari-lari kecil ke arahku, ku ambil salah satu handuk yang menumpuk di atas meja tidak jauh dariku. Kemudian menelungkupkannya di tubuh lia untuk mengeringkan badannya.
“cepat masuk sana, sudah ditunggu nana di meja makan..” ku ambil sebuah kimono berbahan wol untuk melindungi tubuh lia dari dingin. Begitu selesai, ia pun berlari ke dalam rumah.
Iras dan nhael berjalan menghampiriku, ku ambil handuk yang lain dan mengeringkan tubuh nhael. Ia menyusul adiknya, ketika aku selesai memakaikan kimono lainnya di tubuhnya. Kemudian, aku mengambil handuk yang berukuran lebih besar. Iras berdiri tidak jauh, dengan tubuhnya yang masih sangat basah.
Ku berikan handuk di tanganku kepadanya.
“kirain mau dikeringin kaya nhael...” ucap iras begitu menerima handuk dari tanganku. Aku menatapnya dengan tatapan geli.
“kamu masih tujuh tahun?” kataku sambil tersenyum.
“am i your baby right?” ia mendekatkan tubuhnya kepadaku. Aku mengambil kaos berwarna mysty grey yang tadi ia kenakan sebelum nyebur ke kolam renang.
“right, tapi bukan berarti harus diperlakukan sama kaya bayi kan?” aku mendorong tubuhnya, ketika aku tahu bahwa ia hendak menciumku. Ini di rumah mama dan masih banyak orang yang ada di sini.
“no kiss morning?” matanya merajuk, manja sekali.
Ku lemparkan kimono besar di dekatku ke arah wajahnya, ia hanya tergelak sambil menerima kimono tersebut.
...
Aku dan iras duduk bersebelahan di meja makan, di depan iras ada lia yang sedang mengoleskan selai strawberry di atas roti bakarnya sendiri. Di samping kiriku, ada mama yang sedang membantu nhael. Ia selalu belepotan dan piringnya tidak akan pernah rapi.
“nana, aku boleh nanya?” kata nhael tangannya sudah memegang garpu dan pisau untuk memotong – motong roti yang masih mama olesi dengan selai coklat.
“nanya apa sayang?” jawab mama.
“aku sama lia kok bobo nya misah, kamarnya juga misah?” nhael menatap mama sambil memanyunkan bibirnya, mata mama menatapnya tidak mengerti. “tapi om inu sama om iras satu kamar dan bobonya bareng?”
“uhuuukk..” di sebelahku, iras tersedak. Aku hampir saja tertawa mendengarkan pertanyaan nhael barusan dan mama memukul keningnya dengan tangannya, pelan.
Aku memberikan satu gelas air putih pada iras, ia masih belum bisa menyembunyikan senyumnya. Sementara mama menatapku tajam.
“you see?” kata mama padaku, aku mengangguk tanpa berhenti tersenyum. “karena nhael sama lia, gak boleh satu kamar, nanti kalau udah gede, masa nhael mau ngajak temen – temen cowok ael yang cowok main di kamar yang ada lia nya juga, apalagi kalau lia bawa temen juga..”
“tapi kan nana, temen ael temennya lia juga..”
Mama menghembuskan nafas panjang. Sama sepertiku, mama pasti kesulitan menemukan jawaban untuk pertanyaan nhael. “i can handle it mom..” kataku sambil tersenyum pada mama. “emang ael gak mau punya kamar sendiri? Dulu aja waktu di jogja bunda selalu misahin kamar tidurnya ael sama lia kan?”
“iya sih om, tapi kan aku bobonya pengen ada temennya, kalau bobo sama om inu dan om iras, pasti pagi nya aku udah ada di kamar aku lagi..”
Iras menahan tawa lagi. Aku sampai mencubit pahanya. Mama yang duduk di sebelah lia sudah tidak ingin menghiraukan pertanyaan nhael lagi. Pagi sudah semakin siang, ia pasti sudah harus ke rumah sakit.
“karena tempat tidur di kamar om inu kan gak muat buat pertiga...”
“bohong, bilang aja om inu pengennya meluk om iras aja kalau bobo, bukan meluk aku..” aku benar – benar kehabisan kata menghadapi nhael. Apalagi, memang selalu aku yang memindahkan nhael ke kamarnya kalau dia tidak sengaja tertidur di kamarku.
“nah itu ael tahu, karena orang dewasa membutuhkan waktu untuk sesama orang dewasa el, yang di mana anak kecil gak boleh ikutan..” nhael agak mengerungkan keningnya. “nanti, sepuluh tahun dari sekarang, pas ael udah dewasa, ael pasti ngerti deh..”
Nhael tampak menghitung di kelima jarinya. “berarti pas aku umur tujuh belas aku udah tahu ya kenapa om iras sama om inu bobo nya harus bareng..”
Aku mengangguk, nhael tidak bertanya lagi. Ia lalu sibuk dengan roti dan susunya sendiri.
...
Iras duduk di sebelahku, menyetir. Kami menelusuri jalan setiabudi, sore ini ardan mengundang kami ke rumahnya. Ia sudah ada di bandung sejak dua hari yang lalu, membawa perusahaanya di Konfrensi Asia Afrika yang sedang berlangsung. Rupanya ia kemari dengan membawa serta jezz dan astro –anaknya- yang belum sempat aku jenguk sejak kelahirannya beberapa bulan lalu.
Jarak paris – california kan tidak dekat. begitu beberapa hari lalu aku mendapatkan info kalau ia pulang ke bandung, maka aku pastikan kalau aku akan menemuinya.
Iras menghentikan mobilnya di depan sebuah rumah dengan pagarnya yang berwarna kelabu. Masih rumah tua yang tidak akan pernah direnovasi. Menurut penuturan ardan dulu, rumah ini adalah warisan dari kakek pihak ibunya. Diwariskan kepada ibunya sewaktu kakek ardan meninggal. Mungkin karena terlalu menyimpan banyak kenangan sehingga rumah ini tidak pernah direnovasi. Hanya sekedar diganti saja semua yang lapuk atau dinding – dinding berjamur yang dicat ulang.
Aku turun dari mobil dengan satu buah kado besar yang tadi siang sengaja aku beli dari gift store. Iras menyusul di belakangku. Pintu depan rumah terbuka. Hari yang menjelang malam, justru menghidupkan suasana sekitar rumah yang temaram oleh lampu taman. Menyinari semua jenis bunga yang terawat sempurna. Tidak mungkin pekerjaan ardan atau orang tuanya, mereka sudah lama tinggal di amerika.
“tok tok tok..” aku mengetuk pintu. Namun tak urung, kaki ku melenggang masuk ke dalam ruang tamu yang seisinya, bahkan pada ruangan – ruangan selanjutnya, selalu membuatku jatuh cinta, Thema shaby chic yang menghias seisi rumah. Mengingatkanku pada London di era victoria. Lembut dan menyiratkan sisi romantis dari dalam rumah.
“hai uncle inu and his husband..” ardan muncul sambil menggendong bayi bule di tangannya. Ia masih mengenakan kolor dan t-shirt lusuh. Tidak tampak, sebagai seorang CEO yang akan mempromosikan perusahaannya pada semua kepala negara di KAA.
“hai boys..” tanganku langsung tertuju pada bayi gempal di tangan ardan, ia mewarisi mata hitam bapaknya, namun rambut, kulit, hidung semuanya ia dapatkan dari gen jezz. Setelah ku letakan kado di tanganku ke atas meja ruang tamu, aku mengambil astro dari tangan ardan. “dia bisa ngomong basa sunda gak?”
“hahaha udah gue ajarin yang kasar – kasarnya, meungpeung indung na teu ngartien..” kata ardan, sambil menyinggung jezz yang belum keliatan dari tadi.
Iras muncul di pintu, ia dan ardan saling berjabat tangan sebelum akhirnya saling merangkul satu sama lain. “hai dan..” sapa iras.
“sehat lu bos..” tanya ardan “dari mukanya kayaknya makin sabar aja nih ngadepin torantula satu ini..”
Aku tidak mengubris perkataan ardan, aku sedang khusyuk selfie dengan kamera ponselku bersama astro yang duduk anteung di pangkuanku.
“bukan torantula, tapi patrick the staaar..” kata iras sambil duduk di sampingku.
Aku baru saja memposting foto selfieku dengan astro ke path, dengan mentag enam temanku yang lain.
“hai mr. Crub si penggila kerja, liatkan dia punya cakar kaya kepiting..” kataku menggoda astro sambil memperolok iras balik. Bayi berumur tujuh bulan itu anteng bermain di pangkuanku.
“acaranya gimana dan?” iras bertanya pada ardan, setelah ia barusan sempat menjawil pipi gempal astro.
“so far.. lancar – lancar aja sih, hari gini gak ada negara yang bakalan nolak investasi, dan keuntungan buat kita ya asia – afrika ini gaji tenaga – tenaga buruhnya lumayan murah, kan?” jelas ardan pada iras “perusahaan kalian? Gimana?”
“ngapain dipikirin? Ngapain lu gaji orang kalau lu harus campur tangan soal ginian doang?” aku ikut menyela. “jadi bos cemen banget sih...”
Tampang wajah ardan yang mendadak berubah, aku tahu kalau ia kesal. “setan lu nu ah..” ia kemudian tertawa. Diantara kami tidak ada yang namanya benar – benar ledakan untuk menjatuhkan. “ya sekalian balik aja sih, jezz sama astro kan belum tahu bandung...”
“eh iya mana jezz, kok gue gak liat?” semenjak kami tiba beberapa menit yang lalu, aku memang tidak melihat si pirang satu itu.
“jezzy, come here sweaty, youve get guests..” teriak ardan ke arah dalam rumahnya. “dia lagi nyiapin makan malam, lu berdua makan malam di sini ya..”
“kalau gitu jezz gak usah disuruh ke sini, biar dia masak yang enak aja..”
“sayaaang..” iras menggelengkan kepalanya, ketika mendengarku barusan. Aku mengedikan bahu kepadanya.
“hahaha otak lu ya nu isinya Cuma makanan doang..” ardan mengambil astro dari pangkuanku. Terdengar derap langkah kaki dari dalam rumah, jezz sepertinya.
Benar saja, seorang perempuan berambut pirang panjang yang diikat ke belakang dengan apron yang masih melekat di tubuhnya muncul di ruang tamu. Ia tersenyum ramah menyapa aku dan iras. “hi guys.. whats up?”
Ia duduk pada lengan kursi di sebelah ardan.
“horrible great” jawabku.
“anyway congratulation for yours seven years relation’s...” kata jezz lagi sambil membelalakan mata, sebuah ekspresi yang nyaris tidak percaya. “cant believe both of you can survive as long as that years..”
Iras mencium keningku, aku menatapnya sambil membalas senyum yang ia lengkungkan pada kedua bibirnya. Satu lagi orang yang rela memberikan penghargaan pada perjuangan kami berdua.
“thanks jezz..” jawab iras. “congrat for Astro and your home: family..” iras tahu sekali dari ceritaku kalau jezz adalah satu dari sedikit perempuan amerika yang mendambakan sebuah keluarga yang benar – benar keluarga, dengan sebuah landasan bernama pernikahan atas nama cinta. Itulah, mengapa ia dulu tidak menganggap lamaran ardan padanya, mungkin ia sudah terlalu sering bertemu lelaki macam ardan. Hingga membuatnya tak begitu percaya pada janji membahagiakannya. Tapi hari ini aku dan iras melihat rumah ini, keluarga ini, jauh sekali dari apa yang jezz bayangkan setahun yang lalu.
“yeah i know, i was wrong with him, but now i’m a lucky girl with a great husband and a little angel..” kata jezz, sambil memekikan suaranya di ujung kalimat. Sebuah tanda jika ia sangat bahagia berada di sini dengan ardan dan malaikatnya itu.
“i love you honey..” ardan menatap lembut perempuan di sampingnya, membuat pipi jezz bersemu merah mudah.
“i love you too..” balas jezz, dalam lima detik adegan penuh kemesraan itu terpampang di depan wajahku dan iras. Membuat iras mengeratkan pelukannya, aku pun menatapnya dengan penuh senyum. Aroma bahagia, menyebar keseisi ruangan dengan dinding yang dipenuhi warna – warna lembut ini.
“selesaikan masakanmu dan bawa astro tidur, ini sudah malam..” komando ardan berikutnya, jezz menurutinya. Ia mengambil alih astro dan kembali ke dalam rumah. Ardan kembali beralih padaku yang larut dalam dekapan iras, jujur saja ada iri melihat kehangatan yang dimiliki ardan dan keluarganya.
“lu bener – bener udah jadi laki-laki sekarang..” kataku. Tanpa sedikitpun melepaskan pelukan iras di tubuhku.
“hahaha..” ardan tertawa pelan. “bukan nu, inget obrolan kita di parkiran bar waktu di paris?”
Aku mengangguk, mengiyakannya.
“inilah titik merasa cukup itu, merasa lelah itu, sejauh apapun kita bertualang ya kita butuh seseorang yang kita jadikan rumah, buat gue ya jezz orangnya..”
“bahkan yang gemar bertualang sekalipun butuh tempat untuk pulang..” iras menimpali. Aku mengangguk, iras benar. Seorang seperti ardan yang dulu tidak pernah ku pikirkan akan menikah dan mempunyai sebuah komitmen, kini menjadi orang yang paling berbahagia dengan pernikahnnya. Pernikahan pertama astroboy.
“hehehe seharusnya gue gak sok retoris gini di depan sejoli yang paling tau apa itu pulang, dan menjadikan seseorang sebagai rumah bukan?”
“gue ngiri lagi sama rumah dan komitmen lu dan..” kataku memotongnya.
Ia menggeleng. “gue, juga anak – anak yang lain, belajar dari lu berdua kali..”
Ardan menutup pembicaraan kami, ketika jezz memberitahu kalau makan malam sudah siap. Kami bertiga berjalan menuju ruang makan dan melihat iga sapi bergeletakan di atas meja. Iga bakar dengan saus barbeque, tomat dan mayonaise, amerika sekali.
...
Selesai makan malam, aku menemani iras duduk di halaman belakang. Ia membakar dan menghisap sebatang rokok. Aku lagi – lagi dibuat kaget, ardan mulai berhenti merokok demi anaknya yang harus tumbuh sehat. Aku tahu jezz adalah perempuan amerika kebanyakan, dia juga pasti berhenti merokok demi anaknya. Anak yang sampai – sampai mendapat komen “si ardan bener – bener perbaikan keturunan” dari feddy di path.
“eh mama lu apa kabar nu? Kangen gue sama masakan atau kue – kue nya..” kata ardan membuka obrolan lagi.
“baik, dia lagi sibuk ngurus dua ponakan gue yang bandel – bandel..” aku duduk di pangkuan iras.
“satu lagi, dia lagi pusing mikirin anaknya yang gak kawin – kawin..” tambah iras, selepas kejadian tadi pagi aku memberitahunya kalau mama sempat menanyakan soal pernikahan padaku.
Aku tertawa mendengarnya, tentu saja untuk sekarang ini pernikahan masih tak jadi sesuatu yang ada di bagian paling atas dalam list kehidupan kami berdua.
“Tuhan memang selalu ngajarin kita banyak hal dalam setiap kejadian, tapi kalau lu berdua mau belajar dari kejadian yang gue alamin, jangan sampai buru – buru memutuskan sesuatu tanpa alasan yang bisa kalian terima..” ardan mulai memasang wajah serius “untuk pernikahan misalnya..”
Aku dan iras tidak langsung menanggapi perkataan ardan, aku membiarkan ia melanjutkan pembicaraannya dulu.
“gue tahu, salah satu alasan gue nikah adalah jezz sudah hamil dan kalau kalian mau nikah siapa diantara kalian yang mau hamilnya?” mata ardan menatap kami bergiliran. “nikmati masa – masa ini, masa – masa pacaran sebelum hidup membawa kalian pada hal yang lebih serius, aku mengenal jezz hanya beberapa minggu saja sebelum akhirnya ia mengandung astro dan hingga kini kami belum benar – benar bisa menghabiskan waktu hanya berdua, setiap kali mau jalan keluar rumah, ngabisin waktu buat pacaran yang belum sempat kita lakukan dulu, setiap beberapa meter kita selalu balik lagi, gak pernah bisa ninggalin astro sendirian di rumah..”
Aku menatap iras sebentar, ia tampak sedang berpikir. Mencerna baik – baik apa yang sedang ardan bicarakan.
“gue tahu, lu berdua tipe manusia yang seperti apa, lewat apapun caranya nanti, si inu pasti mendesak buat punya anak dengan gen kalian sendiri..” ardan meneguk orange jus di tangannya sebelum melanjutkan pembicaraannya lagi. “di luar dari itu semua, kehidupan setelah pernikahan memang akan berbeda dari masa sebelum kita melakukannya, dibutuhkan lebih dari sekedar dewasa untuk menjalaninya...”
“gue gak nikah – nikah apa karena gue belum siap ya dan sama semua yang udah lu sebutin tadi..”
“bisa jadi, tapi suatu hari nanti, saat hati lu bilang ini saatnya, maka lu akan nikah juga, mungkin dengan iras mungkin juga dengan orang lain..” iras agak mengeratkan pelukannya ketika mendengar hal itu. “ya tapi kalau dilihat, lu emang bakalan kawin sama iras, gue yakin..” kata ardan sambil tertawa lebar. Ia juga pasti melihat reaksi di wajah iras.
...
Kami sampai di rumah hampir tengah malam, lampu kamar mama sudah mati mungkin ia sudah tidur. Nhael dan lia juga sepertinya sudah lelap di kamarnya masing – masing. Kami berdua langsung masuk kamar dan mandi. Aku tidak mungkin bisa tidur jika tidak mandi.
Aku selesai mandi lebih dulu, iras memintaku membuatnya segelas susu hangat. Aku turun lagi ke dapur dan menghangatkan sebotol susu dari kulkas, meminum segelas susu hangat sebelum tidur selalu berhasil membuat tidur iras lebih nyenyak dan mengurangi kebiasaan mengoroknya. Aku pernah mengikuti kebiasaannya, namun setelah tiga hari aku menghentikanya. Ketika melihat timbangan, berat badanku naik satu kilo.
Ku tuangkan susu hangat dari panci ke dalam sebuah gelas. Kemudian membawanya kembali ke kamar.
“Inu..” suara nhael menghentikan langkahku ketika hendak menginjak anak tangga menuju kamarku, ia berdiri di depan pintu kamarnya dengan baju tidur yang bergambar ultraman sambil menggosok kelopak matanya. “aku gak bisa tidur, boleh ya tidurnya di kamar om inu..”
“ayo...”
Ia berjalan menghampirku, mengambil tanganku untuk ia genggam dan ikut berjalan menelusuri tangga menuju kamarku.
“itu susunya buat siapa?” tanya nhael di ujung anak tangga, melihat susu di tanganku.
“buat om iras..” kataku, aku menggiringnya masuk ke dalam kamar yang sudah temaram, iras rupanya sudah menggantinya dengan lampu tidur.
“aku boleh minta?” tanya nhael lagi, sambil naik ke tempat tidur.
Ku berikan gelas di tanganku kepadanya, aku membiarkannya merapikan dirinya sendiri di tempat tidur. Sementara itu ku kunci semua jendela dan menutupkan gordennya. Nhael meletakan gelas kosong di tangannya ke atas meja.
“loh kok susu om irasnya di abisin?” tanyaku, sambil duduk di sebelahnya.
“aku gak sengaja Inu, susunya masuk semuanya ke mulut ael..” aku tergelak mendengar jawabannya. Sambil ku usap ujung kepalanya, kemudian ku acak – acak rambutnya.
“nanti minta maaf ya sama om iras, karena susunya udah kamu abisin..”
Ia mengangguk lembut, iras masih di kamar mandi. Ia tentu tidak akan marah, jika tahu susunya dihabiskan nhael.
“om Inu, mau mendongeng buat aku?” tiba – tiba mata penuh rayuan dan rajukan itu mengajukan permintaan ajaibnya lagi. Ia malah menyandarkan kepalanya di lenganku, sambil memelukku. Benar – benar posisi yang siap mendengarkan sebuah dongeng.
“dongeng apa el?” beberapa kali memang aku sempat membacakan atau mengarang dongeng sebelum nhael tidur, cerita yang biasanya aku sadur dari cerita nabi atau dongeng – dongeng disney.
“apa saja, tapi jangan soal kancil, buaya, panda, atau nabi yang ditelan paus lagi..” ia mulai memanyunkan bibirnya.
Aku berpikir sejenak, aku kehabisan stok cerita. Sosok, kancil, buaya, panda, itu adalah tokoh – tokoh yang memang paling sering aku dongengkan. Dan protes nhael soal cerita nabi yunus jelas – jelas menunjukan kalau ia juga bosan dengan cerita nabi.
“emmm om inu pernah cerita soal anak harimau yang berani tidur sendirian?” aku mendapatkan sebuah ide.
Nhael tidak segera menjawab, ia berpikir sebentar. Kemudian menggelengkan kepala “belum, gimana ceritanya, kok dia berani tidur sendirian?”
“awalnya anak harimau juga tidak pernah berani tidur sendirian, selalu tidur dengan ayah ibunya”
“jadi gini..” nhael merapatkan tubuhnya, kepala kecilnya ia sandarkan di dadaku. “di sebuah savana yang luas bernama padang savana baluran di ujung jawa tinggallah satu keluarga harimau, ayah harimau, ibu harimau dan anak harimau mereka tinggal di dalam goa yang ditutupi oleh satu batang pohon yang rindang, pohon trembesi namanya. Mereka hidup bahagia, rumah yang nyaman, hutan yang menyediakan banyak makanan dan keluarga yang menyayangi satu sama lain juga seekor gagak yang biasa mengasuh anak mereka sampai suatu hari malapetaka itu datang”
Mata nhael mengarah kepadaku, ia benar – benar serius kali ini mendengarkan ceritaku. “hah? Malapetakan om? Malapetaka apa?”
“ael tahu, harimau itu hewan carnivora yang memakan apa?”
“daging kan?” jawab nhael, sambil meyakinkan dirinya sendiri. “terus malapetakanya apa om inu?” tanya dia lagi.
Aku mengangguk. “ya betul, tiba – tiba saja di hutan yang lebat itu tidak ada daging sama sekali” aku menatap mata nhael tajam, ingin meyakinkannya jika di hutan sudah tidak ada daging berarti itu merupakan sebuah masalah yang besar.
“pedagang daging di hutan emang pada kemana om?” pertanyaan lugu lagi muncul.
Aku membuang tawa dengan menahan nafas kemudian menghembuskannya. “di hutan tidak ada pedagang daging el, di hutan tidak ada pasar, ayah dan ibu harimau mendapatkan daging dengan berburu hewan yang lebih kecil, seperti kancil, rusa, kelinci, bahkan ayam hutan.. Nhael mengangguk – angguk dia mengerti.
“tapi masalahnya adalah, di hutan sudah tidak ada daging, itu artinya sudah tidak ada hewan yang bisa diburu, hanya tinggal mereka yang tersisa kecuali satu, seekor buaya besar yang tinggal di sungai tidak jauh dari rumah mereka dan gagak yang biasa mengasuh anak harimau juga menghilang. sementara itu, ayah dan ibu harimau tau kalau keluarga mereka harus makan, apalagi anak mereka yang sedang dalam masa pertumbuhan, anak – anak harus banyak makan bukan supaya bisa tumbuh besar?”
Kini nhael diam, ia mulai serius mendengarkan.
“dan masalah lainnya adalah, ayah dan ibu harimau tidak bisa pergi berburu sendirian, mereka berdua bisa jadi sepasang pemburu yang hebat jika mereka berburu berdua, mereka kebingungan tidak mungkin membawa anak mereka yang masih untuk berburu atau meninggalkannya di rumah sendirian. Ayah dan ibu harimau masih curiga pada buaya yang tinggal di sungai, soal menghilangnya banyak hewan dan gagak pengasuh.. sementara daging hanya terdapat di sebrang savana baluran yang luas, jika mereka berangkat sore hari, mereka pasti akan kembali pada tengah malam ke rumah”
“apakah gagak dimakan buaya om inu?” tanya nhael.
Aku menggeleng. “entahlah, ayah dan ibu harimau tidak pernah tahu apa yang terjadi pada gagak sebenarnya.. om inu boleh lanjut cerita?”
Nhael mengangguk.
“di tengah kebingungan itu, orang tua harimau sadar bahwa mereka harus bergegas, hari semakin siang dan mereka bertiga semakin kelaparan, akhirnya ibu harimau itu berbicara pada anaknya sambil memangkunya..” aku melingkarkan tangan di tubuh nhael sambil memeluknya lebih erat lagi.
“nak, apakah kamu lapar? Kamu ingin makan steak atau iga bakar lagi seperti kemarin malam?” nhael mengangguk – angguk, membayangkan seakan – akan ia anak harimaunya. “iya ibu, jawab anak harimaunya. Kemudian ibu harimau melanjutkan, tapi untuk mendapatkan daging kami harus berburu yang jauh, melintasi pada savana baluran, kau tahukan savana itu luasnya seperti apa? anak harimau mengangguk. Sore ini ibu dan ayah akan pergi berburu, dan pulangnya menjelang tengah malam atau kalau buruan kami ternyata lari agak jauh, kemungkinan kami akan pulang pagi. Itu artinya kau harus siap tidur sendiri di rumah..”
“Anak harimau menggeleng, selama ini ia tidak pernah tidur sendirian. Setidaknya ia selalu di temani si bibi gagak, tapi sekarang bibi gagak juga menghilang dari rumah. Kemudian ibu harimau melanjutkan, kamu itu anak yang kuat nak, kamu pasti akan berani tidur sendiri, tidak ada bahaya yang akan berani mendekatimu bahkan buaya yang tinggal di sungai. Rumah ini adalah rumah teraman di dunia, dinding gua ini terbuat dari tanah dan batu, unsur alam paling kuat di bumi. Dengan pintunya yang tertutup oleh beraneka jenis tanaman rambat, yang bisa dengan rapi menyembunyikan tubuhmu dari ancaman yang datang dari luar.. tapi jika ancaman itu semakin dekat dan kau merasa dinding batu ini tak cukup lagi melindungimu, naiklah ke batang paling tinggi dari pohon trembesi, kau yang telah bersahabat dengannya dari kecil pasti tahu ia akan jadi tameng paling kuat yang melindungimu ketika kau terancam bahaya, tidurlah di antara dahan-dahan dan daunya yang bisa kamu jadikan selimut malam ini, menggantikan bulu – bulu milik ibu. Kalau ada angin, anggap saja itu nyanyian nina bobo ibu yang biasa ibu nyanyikan sebelum kau tertidur... tapi jika matamu tak kunjung tertidur lihatlah ke langit, kau pasti akan menemukannya.. menemukan apa ibu? Tanya anak harimau penasaran, namun sang ibu tidak menjawab ia menyuruh anaknya menemukan sendiri jawabannya, dan anaknya pun mengangguk setuju. Selesai memberikan perintah apa yang harus dilakukan anaknya, ayah dan ibu harimaupun lekas pergi berburu. Meninggalkan anak harimau sendirian di rumah..”
Aku menarik dan menghembuskan nafas berkali – kali, mata nhael masih menatap ke arah wajahku. Ia masih menungguku melanjutkan bercerita.
“kemudian malampun tiba, dan sebentar lagi jam tidur juga tiba, anak harimau mendekat ke arah pintu yang terbuat dari tanaman rambat dan mengintip keadaan di luar, ternyata ia melihat sesuatu di sebrang halaman rumahnya, bahaya!”
Nhael agak kaget, ketika aku menyebutkan kata bahaya. “ada apa om inu?”
“ia melihat ujung ekor buaya melambai – lambai di atas pagar halaman rumahnya...”
“lari harimau lari..” tiba – tiba nhael ribut sendiri.
“anak harimaupun lari ke dalam rumah, ia ingat apa kata ibunya jika ada bahaya, ia keluar dari rumah lewat pintu belakang dan mulai naik ke atas pohon trembesi tapi..” aku menahan kata – kataku. “ternyata buaya melihat kalau anak harimau sedang berusaha naik ke pohon trembesi..”
“anak harimaunya bisa naik pohon kan om?”
“tentu saja, dia punya kuku yang tajam dan empat kaki yang panjang... ia mulai menapaki satu persatu dahan pohon trembesi dengan kukunya. Sementara buaya semakin mendekat, sedangkan dahan terkahir masih jauh, tapi anak harimau tidak pernah menyerah, ia terus naik tidak kenal putus asa, ia tahu meski masih kecil ia bisa, akhirnya anak harimau tiba di dahan terakhir yang nyaris menyentuh awan sedangkan buaya memutuskan menunggu di bawah, karena ia tidak bisa memanjat pohon. Malam semakin larut, anak harimau mulai mengantuk tapi ia tetap tidak bisa tidur. Pelan – pelan diingatnya lagi apa yang tadi sore diajarkan ibunya, ia mulai mendengarkan angin yang ia anggap sebagai nyanyian nina bobo ibunya, tapi ia gagal lagi, ia masih tidak bisa tidur meskipun ia mengantuk. Anak harimau ingat pesan ibunya yang terakhir, ia harus melihat ke atas, ke langit, ke sesuatu yang membuatnya penasaran sejak tadi sore. Akhirnya kepala harimau kecil melihat ke atas, ia menemukan ribuan benda seperti lampu yang suka dinyalakan ayahnya ketika malam di sekelilingnya. Ia ternyata melihat bintang – bintang. Bintang – bintang yang membentuk senyum dan wajah ayah dan ibunya, ayah dan ibunya yang dirindukannya yang membuatnya tidak bisa tidur. Anak harimau membalas senyum ayah dan ibunya yang dikirim lewat bintang – bintang... yang membuatnya tertidur pulas hingga pagi hari, hingga ayah dan ibunya pulang dengan buruannya yang banyak.. banyaaaak sekali, termasuk daging buaya...”
Tidak ada respon apa – apa, aku melihat nhael lagi. Ia sudah lelap di pangkuanku. “oh little monster..”
Ku ambil salah satu bantal, kemudian memindahkannya. “good night my tiger baby..” ku kecup pelan keningnya, ia melenguh sebentar sebelum kembali nyenyak di atas bental tebal itu.
Iras muncul dari pintu kamar mandi “sejak kapan dia masuk ke sini?”
“sejak tadi..” jawabku pelan, tidak ingin membangunkanya. Iras sudah mengganti pakaiannya dengan kaos dan celana boxernya. “bahkan inu sampai mendongeng satu cerita sampai selesai..” ku tarik selimut untuk menutup tubuh nhael “susunya diabisin nhael..”
Ia mengangguk sambil mendekat ke tempat tidur “tidak apa – apa nanti iras bikin lagi..” iras naik ke tempat tidur dan berbaring di sebelah nhael.
“inu pindahin nhael ke kamarnya dulu..” kataku. Ketika hendak mengambil tubuh nhael, aku tercenung pada sesuatu. Pada perkataan ardan tadi di rumahnya.
“are you okay Sugar?” tanya iras, ketika melihatku tiba – tiba berhenti dan malah menyelimuti tubuh nhael lagi dengan selimut kami.
“gak, gak ada apa – apa, Cuma inu kepikiran sesuatu aja..” aku membaringkan tubuhku di samping nhael sambil memperhatikannya, dari sini aku masih bisa melihat iras yang juga berbaring di sebrang ku.
“apa sayang?” tanyanya lembut.
“kita ternyata belum siap menikah, dari hal ini saja, kita ketahuan belum siap, kita bahkan belum rela berbagi tempat tidur dengan anak sekecil ini..” iras menyangga kepalanya dengan satu tangannya dan melihat ke arahku. Aku tersenyum kepadanya.
“memangnya kita akan nikah sekarang – sekarang yank?”
“enggak” jawabku cepat. “tapi mama, yang lainnya juga, mulai penasaran kapan kita akan mulai membicarakan serius tanggal itu..” aku mengingatkan. “tapi inu yakin, pernikahan tidak hanya soal itu, tidak juga karena sudah lamanya masa pacaran kita...”
“iras kaget, sayang mau dengerin omongan orang, biasanya juga gak pernah dengerin mama..”
Aku mengangguk menyetujuinya. Kami sudah sepakat soal pernikahan, dan itu bukan sebuah rencana yang harus kami lakukan dalam tahun – tahun ini.
“lagian, kalau kita nikah terus nyari ibu pengganti buat hamil, kemudian punya anak, nikah – bikin anak – nikah – bikin anak masalah populasi manusia gak bakalan berkurang sampai air laut gak asin lagi juga..”
Aku tertawa pelan mendengar jawaban iras.
“iya kan, kita nikah ya karena kita ingin nikah, bukan karena ingin orang lain mendapatkan jawaban ketika mereka bertanya kepada kita kapan nikah?”
Iras mengangguk setuju. “here give me a kiss..” aku mendekat kepadanya.
Ia menciumku di bibir, diselingi ucapan selamat malam darinya. Kami berdua jatuh tertidur, dengan tubuh nhael yang berbaring di antara peluk kami berdua. Peluk orang yang mencintaiku, karena dia mencintaiku, bukan karena ingin menikahiku atau sah secara hukum memilikiku. Dia mencintaiku.
...
forever and everlas..
kalian yang hebat, kami hanya bercerita
Minggu, 19 April 2015
Pernikahan
Selasa, 14 April 2015
Nasi Liwet
Aku melangkah pelan – pelan keluar dari kamar, tak ingin derap kaki ku menimbulkan suara ribut dan membangunkan iras yang masih tertidur. Pukul lima sore lewat, rumah dalam keadaan sepi. Mama dan dua keponakanku sedang jalan – jalan dengan mama, entah kemana. Mama pamitan ketika aku masih berusaha sadar dari tidur siangku.
Kami, aku dan iras. Sudah berada di bandung sejak hari jumat lalu, pekerjaan di kantor yang selalu aku ingatkan pada iras agar selalu selesai di hari kamis, mau ia terima dengan baik. Sehingga hari jumaat pagi kami sudah bisa pulang ke bandung. Sering juga kami pulang di kamis petang, memburu udara malam dan lampu – lampu jalan di bandung yang akan tampak berbeda ketika malam datang.
Sepanjang hari sabtu, thanael dan thalia yang sekolahnya sudah libur meminta jatah ditemani jalan – jalan. Untungnya iras tak pernah keberatan soal akhir pekan yang dihabiskan untuk ‘ngasuh’ dua anak kakak perempuanku itu. Malahan sepertinya ia mulai ketagihan untuk mengajak mereka makan di luar, nonton, bahkan nongkrong di kafe donat dengan kami berdua.
Seharian kami habiskan waktu di taman bermain, aku tidak cukup faham bagaimana mungkin anak kelas dua SD itu mampu menaiki semua wahana untuk orang dewasa. Tidak ada takutnya sama sekali. Bahkan ketika di bioskop aku tawari menonton film Home, keduanya setuju untuk menonton film Furious 7. Iras hanya geleng – geleng menanggapinya.
jam sepuluh malam lewat, kami baru sampai di rumah. Setelah mama hampir saja menelpon polisi, karena tak ada satupun dari kami yang bisa dihubungi. Aku dan iras sama – sama kena marah, sewaktu menggendong dua segala biang kekacauan di rumah itu yang ketiduran dari dalam mobil.
Tadi pagi, dua telapak tangan kecil itu menggedor pintu kamar. Aku dan iras hanya menahan tawa saja dari dalam, pura – pura tidur dengan tidak menjawab setiap teriakan yang mengajak pergi lagi itu. Seharian mengikuti langkah – langkah keduanya bukan pekerjaan gampang, lebih melelahkan dari mengejar copet yang dulu sering sekali aku temui di jalanan paris. Sehingga, hari minggu ini aku dan iras hanya menghabiskannya di tempat tidur. Di kamar kami, di lantai dua rumah mama.
“sebenarnya kalau mau lihat gimana kelakuan kamu sama kakak kamu sewaktu kecil ya lihat saja mereka berdua..” kata mama tadi malam, ketika aku membaringkan nhael di tempat tidur. “nhael persis kamu banget kalau lagi marah, pasti mogok makan...”
“tapi aku gak pernah minta soft drink sampe harus dibeli sama kulkasnya ma..”
“pernah...” mata mama menatap tajam ke arahku. “di bandara internasional Rusia, kamu baru tujuh tahun dan waktu itu kita mau main ke sini..” mama merapihkan selimut yang menutupi tubuh nhael. “papa sampe kleyengan sama kemauan kamu itu...”
Aku hanya tersenyum lebar menanggapi mama, tanganku merangkul pinggangnya sambil menggiringnya keluar dari kamar nhael.
“iya dia itu mirip kamu banget, pokoknya kalau lagi pengen apapun pasti kukuh, gak ada acara tawar menawar, dikejar sampe dapat..”
“emang ini gitu banget?” kataku, balik bertanya.
Mama mengangguk. “tapi kamu pernah menyerah pada satu hal yang sebenarnya kamu inginkan dan waktu itu kamu berhenti berjuang dan nyaris kehilangannya..”
Ku hentikan langkahku, sambil menatap mama. Kami berdua berdiri di depan pintu kamar lia. Ku ikuti pandangan mama yang sedang memperhatikan iras di dalam, ia yang menggendong lia hingga ke tempat tidurnya.
“kamu pernah berhenti mengharapkan dia, orang yang sampai saat ini selalu jadi yang paling depan buat ngasih semua yang kamu mau..” mata kami berdua memperhatikan ia yang tengah sibuk dengan selimut dan beberapa boneka yang ia letakan di sekeliling tubuh lia.
Iras menatap tersenyum ke arah kami, begitu menyadari kehadiran kami berdua di sana. Aku mengangguk pada mama, membetulkan ceritanya.
“untunglah keadaan waktu itu berpihak dengan baik pada inu ma..” tanganku masih tak melepaskan pelukanku di pinggang wanita yang kecantikannya tak kunjung sirna di usianya yang hampir setengah abad itu.
“bukan..” mama menggeleng. “waktu yang berpihak padanya..” mata mama masih menatap iras yang sedang mematikan lampu kamar lia dan menggantinya dengan lampu tidur yang lebih redup. “berjanjilah, untuk selalu membahagiakan dia, membahagiakan orang yang tak pernah berhenti berupaya agar kamu bahagia..”
Aku mengangguk kemudian sedikit merunduk ketika menerima kecupan dari mama.
...
Aku mengambil satu buah gelas besar dan mengisinya dengan air putih penuh. Kemudian ku tarik satu buah kursi tinggi di depan mini bar dapur mama. Aku duduk di atasnya. Ku eratkan kimono dari bahan woll tipis yang membalut tubuhku, udara sore ini agak dingin dan rumah benar – benar sepi.
Dua orang pengasuh lia dan nhael, yang biasa merawat mereka ketika berada di rumah pasti dibawa jalan – jalan keluar oleh mama. Sementara hampir selusin lagi asisten rumah tangga yang lainnya pasti tengah menikmati waktu senggang mereka di lantai bawah. Aku benar – benar menikmati waktu – waktu seperti ini, di mana hanya ada aku dan iras di rumah. Kami bisa melakukan banyak hal. Banyak sekali.
Ku tarik sebuah apel besar dari keranjang di depanku. Aku menggigitnya.
“cup...” sebuah ciuman mendarat di tengkuk. Disusul dengan sebuah pelukan dari belakang. Iras menyandarkan dagunya di bahuku. “what are you doing?”
Aku mengangkat apel di tanganku ke udara. Memberikan kepadanya, siapa tau ia juga ingin memakannya. Kelaparan setelah hampir seharian ini hanya kami habiskan berdua di dalam kamar.
“no..” ia menggeleng. “iras lapar, ada makanan apa di pantry?”
Aku melihat pantry kosong dan di atas meja makan tidak ada apa – apa. meski aku yakin kulkas mama penuh dengan segala jenis bahan makanan. Aku bisa saja menyuruh ART dibelakang memasak makanan untuk kami, tapi urung ku lakukan. Aku punya ide lain..
Aku turun dari kursiku. Membiarkan iras yang ganti duduk di sana. Aku berjalan ke dapur, mencari pisau dan keranjang.
“sayang, mau kemana?” iras agak kaget melihatku dengan pisau dan sebuah keranjang besar di tanganku. “kok bawa keranjang pasar gitu...”
“kamu mau ikut gak?” ku buka pintu belakang. Tanpa mempedulikannya aku melanjutkan langkah – langkahku menuju pekarangan belakang rumah yang telah mama jadikan kebun mininya ini. “lets go shopiiiiing..”
Kataku, ketika melihat iras berdiri dengan mimik kebingungan di depan pintu.
“aaaaah i see..” ia yang masih mengenakan kimono woll juga berjalan menghampiriku. Ia ikut memperhatikan apa saja bahan makanan yang mungkin bisa kami ambil di sini.
Mama benar – benar ahli berkebun yang hebat, dulu sewaktu aku dan kakakku masih kecil ia senang sekali menanam berbagai bunga. Mawar, tulip, anggrek, melati, aster sampai ia pernah berminat membeli raflesia arnoldi dari seorang penyelundup. Aku dan kakakku jelas tidak setuju, pertama siapa yang akan membelikan ku tamiya jika mama di penjara. Kedua, kalian juga tidak mungkin kan akan membiarkan bau bangkai di belakang rumah kalian?
Meski bunga – bunga mama masih terpelihara dengan baik di halaman belakang ini, tapi kini tanaman yang tumbuh di sini tidak hanya bunga. Mama mengikuti sebuah kampanye yang diserukan wali kota soal bandung berkebun, hingga akhirnya mama menanam berbagai jenis buah dan sayuran yang cepat di panen di sini.
Di kebun seluas rumah kami ini, tumbuh berbagai macam sayuran dan buah. Sawi, bit, wortel, kentang, pare, timun, strawberry, cabai, tomat, lobak, selada hingga brokoli semuanya ada. Bahkan di ujung kebun aku melihat, semangka, melon, dan labu sudah mulai berbuah. Aku mengambil beberapa biji buah-buahan dan beberapa daun sayur – sayuran.
“perasaan baru kemaren kita ikutan sama mama tabur benih eh sekarang udah banyak yang bisa dipanen ya yank..” kata iras, ia memetik satu buah lemon dari pohonnya yang ditanam di dalam pot. “kamu mau masak apa?”
“gak mau nunggu aja, sambil nebak inu masak apa?” aku menggodanya.
Jarak kami yang hanya beberapa senti memudahkannya untuk segera mencium pipiku ketika aku enggan menjawab pertanyaannya.
“mama, nhael sama lia kemana?” iras celingukan. Apa ia baru sadar bahwa sejak tadi rumah begitu sepi.
“kayanya nonton, atau nemenin mama yoga atau aerobik...” iras mengangguk – angguk.
“tadi iras salah denger gak ya, kaya ada yang gedar gedorin pintu, minta jalan – jalan.. apa Cuma mimpi?”
“gak kok, kamu gak mimpi, mereka kaya mahasiswa lagi demo minta bbm turun tadi di depan kamar..” aku melanjutkan memetik beberapa biji strawberry dan memasukannya ke dalam keranjang di tanganku.
“hahaha padahal tadi malem, bilangnya sudah puas banget jalan – jalannya..” iras berjalan menuju deretan pohon timun yang dirembetkan ke dinding pagar rumah. “mereka persis kaya kamu banget kan..”
Aku menatap iras, ia dengan tangannya masih sibuk memakan buah timun yang ditemukannya, tanpa dicuci.
“apanya yang persis?” tanyaku pada iras. “soalnya tadi malam mama juga bilang gitu kok..”
Iras menatapku sebentar, kemudian ia beralih pada timun – timun lagi. “nhael itu kaya kamu banget kok... gak pernah puas, gak pernah bisa berhenti ketika mengejar sesuatu yang dipengen..” iras mengangguk mantap, seakan begitu yakin yang tadi ia katakan adalah bagaimana aku di matanya.
Aku tidak menanggapi perkataan iras, malah melanjutkan memetik beberapa butir cabe yang masih hijau.
“memangnya mama bilang apa?” tanya iras.
Aku menggeleng. Dalam hati aku ragu sendiri, apakah dulu iras pernah merasa kecewa. Jika pandangannya soalku pernah sama dengan mama, apakah ia dulu pernah menyesalkan ketika aku hampir menyerah untuknya.
Ada angin yang mulai berhembus agak dingin, diikuti oleh rintik hujan yang jatuh satu – satu. Iras berlari ke arahku, membuka kimononya kemudian menelungkupkannya di kepalaku.
“yok masuk, hujan nih..” kami berdua berlari kecil di atas pijakan batu berbentuk bulat dengan tekstur menyerupai belahan kayu yang ditanam di antara rumput – rumput hijau pekarangan. Tak ingin tubuh kami kebasahan oleh air hujan.
...
Iras selesai dengan smoothie nya, ia mencampur wortel, strawberry, apel dan bit dengan juicer mama. Ia memasukannya ke dalam dua buah gelas besar dan menyimpannya di dalam kulkas. Itu untuk desert kami, karena makan malam kami kali ini tidak terlalu banyak mengandung nutrisi.
Aroma wangi dari serai dan daun salam mulai tercium dari dalam panci. Aku membuka tutupnya, kemudian mengangkat pucuk daun labu yang aku kukus dari sana. Iras berdiri di sebelahku dengan wajah kurang sabarnya, aku senang sudah setahun ini nafsu makannya kembali. Walau belum sepenuhnya, sejak aku berusaha belajar menggunakan sendok dan garpu sendiri. Sehingga tak perlu lagi memintanya untuk menyuapiku makan lagi.
Hidung iras megap – megap, menangkap aroma yang mengepul dari nasi di dalam panci. Aku tersenyum melihatnya.
“duh siga na bakalan edun yeuh liwet na yank..”
Aku mengambil sendok, dan mengambil sedikit dari nasi di dalam panci hendak mencicipinya. Aku menawarkan pada iras, ia mencomot sedikit nasi yang ada di sana.
“tuh kan, mantaaaaap...” bisa ditebak, usai bilang demikian ia langsung mencium pipiku.
“bantuin bikin sambel, sementara inu goreng peda nya..”
“bumbuin yank, iras yang ludeknya aja..”
Aku mengangguk, memasukan tomat, cabai, bawang merah, sedikit serai, dan jeruk nipis. Tidak lupa garam dan sedikit gula. Kemudian ku biarkan iras meludek sambelnya.
Ya, kami sedang memasak nasi liwet. Ngaliwet, dalam bahasa sunda. Sebuah resep yang aku dapatkan dari teman-teman semasa kuliahku di sukabumi. Selama di bandung aku tidak pernah menemukannya, begitu menemukan menu ini di kostan salah satu teman sekelasku. Aku langsung menuntutnya menjelaskan resepnya padaku. Benar – benar bumbu yang sederhana. Dan waktu pertama kali membuatnya, iras yang mencicipi waktu itu, sepakat bahwa ia juga menyukainya.
Jangan pernah masukan daging, sosis, ikan atau makanan berat lainnya ke dalam menu ini. Cukup sambal cabai dan ikan asin saja, meski untuk menghadapinya aku harus minum antihistamin sebelum dan sesudahnya. Alergi seafood.
Aku memasukan dua ikan peda besar ke dalam wajan panas, kemudian apinya aku kecilkan. Agar matang sempurna. Sementara ku perhatikan iras membuat sambal. Ia masih berusaha melumatkan semuanya, dengan alu di tangannya.
“itu sambelnya, pedesnya, inu yakin bakalan maknyus jika ditutup dengan ciuman yang pake lidah..”
Iras menghentikan ludekannya. “apa?” aku tahu kalau iras hanya berpura – pura tidak mendengarkan apa yang barusan aku katakan.
Aku tidak menjawab malah tertawa padanya.
“apaaaaa?” iras mendekatkan permukaan alunya ke dekat bibirku, tak mau kalah, ku sodorkan wajan panas kepadanya. Membuatnya lompat beberapa langkah dariku.
Kami sudah sering melakukan hal ini, hampir setiap pagi dan malam hari. Sarapan dan makan malam selalu kami buat berdua, dengan memasaknya di dapur apartemen ataupun rumah kami sendiri. Apalagi, aku atau iras tidak pernah mau mempekerjakan orang di rumah atau apartemen kami. Selama kami masih bisa masak sendiri dan mengantarkan baju kami ke laundry.
Menjelang matang, aku menambahkan potongan bawang merah dan tomat ke dalam gorengan ikan peda ku. Kalian yang baca tidak perlu banyak tanya, kalau sempat dapat menangkap, cobain saja menu sederhana ini. Kalian bisa berterimakasih lain kali padaku.
...
Menjelang adzan isya, kami selesai makan. Jika dulu aku pernah bilang kalau makanan yang paling enak itu adalah makanan yang makannya disuapin pacar, kali ini aku akan bilang jika makanan yang dimasak berdua sama pacar itu jauh lebih enak.
Kami berdua merapihkan dapur dan semua bekas makan kami. Iras membawa dua buah gelas berisi smoothie yang tadi dibuatnya. Aku menunggunya di sofa di ruang televisi. Tidak ada rokok, mama bisa – bisa keluar tanduknya kalau mencium ada bau asap rokok di rumahnya.
“tengkyu..” aku menerima salah satu gelas dari tangannya.
Iras duduk di sampingku, menelusupkan tangannya di antara pundak dan bahuku. Aku menyandarkan kepala di lengannya.
“makan malam nya benar – benar mantap sayang..” ia mencium ujung kepalaku. “untung ada mama nyediain pedanya nya..”
“hahaha... tadikan sebelumnya inu ubek – ubek dulu, jadi tau apa yang mau dimasak, eh nemu peda..”
Iras tersenyum mendengarku. “besok mau ikut ketemu yang jual tanah tea yank?”
Aku mendongak menatap wajah iras, mengingat-ingat apa kami ada janji dengan makelar tanah atau tidak.
“yang jual tanah apaan?” aku sepertinya lupa kalau kami mau beli tanah.
“yang di kalimantan..” jawab iras sambil meletakan gelasnya di atas meja.
“lah kita mau bikin rumah di kalimantan? Sejak kapan?” aku masih berusaha mengingat. “inu gak tahu kalau kamu pengen punya rumah tengah hutan..”
“bukan buat bikin rumah sayang” iras meraih bahuku lagi. “kebun sawit... investasi...”
Aku ingat, akhirnya. “tidak, inu bilang nggak ya enggak...” seharusnya ia tahu apa jawabanku untuk yang satu ini.
“kenapa enggak? Kan bagus buat investasi kita, lagian suatu saat kita bisa jual lagi..”
Aku menggeleng.
“dipertimbangkan lagi yank, harga minyak sawit masih tinggi dan ini bukan energi fosil, ramah lingkungan kan?”
“ramah lingkungan?” aku bertanya balik pada iras, meski tak sepenuhnya hal itu berupa pertanyaan. Kami sudah membahas hal ini beberapa hari yang lalu. Saat seorang pengusaha yang terlilit hutang dari kalimantan menawari kami perkebunan sawitnya. “apanya yang ramah lingkungan...”
“kita tidak mengeskploitasi apapun” jawab iras. “sawit itu murni hasil tanam yang dipanen, tidak ada satupun dari alam yang kita ambil, setidaknya tidak terlalu berbahaya, kita tidak mengebor laut atau tanah demi mengambil minyak fosil...”
“tapi kita mengambil rumah...”
“orang utan?” tebak iras. Aku mengangguk. Tebakannya benar. Tidak hanya orang utan, tapi habitat hewan – hewan endemik pulau borneo. “tapi yank...”
“tapi apa?” aku mengambil gelasnya yang sudah kosong di atas meja dan milikku kemudian membawanya ke wastafel dapur.
“kita kan gak membuka hutan lagi, kita Cuma lanjutin apa yang sudah orang kerjain selama ini..”
“iya hal itu memang benar..” aku menatapnya dari balik meja bar. “tapi itu juga tetap salah, lagian kenapa gak sekalian beli kilang minyak yang di Abu Dhabi?” aku menantangnya.
“habis lah uang kita..” iras mengedikan bahu.
“uang mati kita, aset, aset bergerak dan tidak bergerak masih ada,. Begitu kita membeli kilang minyaknya, keesokan harinya uang kita udah balik kok..”
Iras memijat keningnya, aku tahu ia tidak sakit kepala sama sekali.
“tapi yank, stop dulu soal abu dhabi, kita yang pasti – pasti aja, iras yakin kalau perkebunan itu sudah beroperasi sejak lama, jadi mungkin udah gak ada gangguan dari orang utan lagi...”
“Ada.. inu baca beberapa artikel lusa kemarin, di dekat perkebunan itu beberapa karyawan perkebunan membakar dua ekor orang utan..” aku duduk di dekat iras lagi, sambil menatapnya lekat. “sepasang ibu dan anak...”
“mereka orang awam, tidak mengerti soal apa itu menjaga kelestarian, yang mereka tahu itu hanya hama, kaya orang – orang di jawa yang memburu babi hutan..”
“ya dan itu yang akan dilakukan karyawan – karyawan kamu suatu hari” aku mengambil remote tv, mencari acara yang mudah diterima oleh akal. “lagian populasi babi hutan di jawa meningkat karena orang – orang di jawa lebih dulu memburu harimau jawa yang jadi konsumen babi hutan sampai akhirnya punah..”
“yank, kita Cuma ngomongin investasi yank, buat nyimpen uang kita kenapa harus nyasar ke babi hutan sampai harimau jawa...”
“karena kamu tunangan denganku orang yang tidak akan melakukan segalanya Cuma demi uang..”
Iras terdiam, ia mengelus – elus lembut tanganku. “mungkin inu akan pertimbangkan..”
Mata iras berbinar.
“dengan syarat tentunya...”
“apaan?”
“beli itu kebon, babat habis sawit – sawitnya, kita tanami pohon lagi, jati, mahoni, damar, semua pohon – pohon hutan..”
Iras membuang nafas. “tidak mungkin sayang, meski iras inget dulu kamu pernah ngelepasin semua burung di pasar hewan..”
Aku tidak menanggapi iras, masih menyandarkan kepalaku di bahunya sambil menonton sebuah acara di televisi.
“tapi apa gak sayang yank, lumayan juga hasilnya, dan kenapa kita harus seaware itu? Itu Cuma orang utan dan mereka pasti sudah punya habitatnya sendiri..”
Aku menatap mata iras lagi, aku sebenarnya ingin sekali marah, tapi marah pada iras hanya akan memancing emosinya saja.
“iya betul, karena mereka Cuma orang utan yank.. karena mereka Cuma orang utan yang gak bisa ngelawan kita sebagai manusia, mereka gak punya otak buat ngasih perlawanan sama kita yang sudah ngerebut habitat mereka, rumah mereka, kita sebagai manusia yang mengaku punya otak dan hati tega ngambil itu dari mereka?”
Iras tak bergeming.
“orang sudah salah dengan membuka hutan demi kepentingan mereka, mereka sudah diteriak – diteriaki goblog oleh semua manusia dimuka bumi, mau kamu jadi kaya mereka? Kita ikut berdosa jika pada akhirnya mengambil alih perkebunan itu dan melanjutkannya... betul orang sudah kepalang dengan membuka hutan lebih dulu, tapi kita gak usah ikutan salah dengan jadi bagian dari mereka...”
“tadinya iras Cuma mau niru sifat kamu, sifat nhael yang selalu kukuh kalau udah punya kemauan...”
Aku bangkit, sambil tersenyum. “hahaha malah harusnya kamu inget, saking kukuhnya, susah buat ngerubah pendapat inu kan?”
Ia mengangguk, tak banyak berkata lagi. Aku memeluknya lebih dulu, aku sangat tahu bahwa iras selalu menggebu – gebu soal semua investasi dan menghasilkan lebih banyak uang lagi. Meski kadang ia tak pernah memikirkan hal lain, sekitarnya, ketika membuat keputusan. Aku mencium bibir iras, menenangkannya di penghujung akhir pekan di pertengahan bulan ini.
...